
Menara Api
aku pernah bersumpah
atas darah jalang si Dursasana
bara api yang telanjur menyala
menanam nyeri di rahim luka
sejak kehormatanku dipertaruhkan
dan kebenaran berdiri bungkam
di mulut para ksatria
wahai Sang Guru Drona
akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya
wahai Bhisma yang Agung
akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung
wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru
adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?
kebenaran hanya omong kosong
dan melaksanakannya bukan lagi darma
karena kebungkaman telah menjelma iblis
yang menelanjangi kepalsuan kalian
seraya kontan memakan korban
orang kalah sepertiku
jika perempuan selalu menjadi tumbal
dan kesuciannya gampang disingkap paksa
adakah lelaki yang bisa dipercaya?
selamanya akan kuingat
segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan
dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan
agar kelima Pandawa bisa berkata,
“dia kini menjadi milik kami.”
selamanya tak pernah kulupa
Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa
supaya terlindung di balik tirai darma
seraya tertawa di antara mereka,
“dia kini menjadi milik kita!”
maka izinkan kubangun menara ini
kelak berdiri di tengah padang Kurusetra
adakah sumpah ini kalian terima?
Karanganyar, 2023
Mantra Ulu-Ilir
kuikuti arah datangnya air
bening menyusuri hulu sungai
yang terjepit di antara dua tebing
kaki mendaki pundak bukit telanjang
yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang
seraya tampak berserakan di sana-sini
tumpukan botol bekas kemasan pestisida
dan jejak luka yang kerap menguap
dari wajah para petani tanpa dosa
penghujan datang
dan mata air adalah gadis perawan
yang ditinggal pergi kekasihnya
bumi telah mencatat silsilah ketamakan
yang tekun mengabadikan kabar kehilangan
cacing, humus, burung, serangga, ikan
batu logam amblas, gunung bukit dikepras
sedang sampah dan racun kian mengendap
di mimbar dan meja orang-orang beradab
kemarau datang
dan mata air adalah ingatan buram
yang menguning disengat penyesalan
rindu kali ini bermuara pagi
serupa hujan pertama disengat matahari
menguar bersama keharuman tanah basah
di halaman senja yang masih menyala
aromanya melambung di langit-langit
kepala dan sebagian darinya membatu
di ujung cangkul dan pena
Karanganyar, 2023
Selawat Bumi
riwayatmu adalah ibu
yang kini terbaring murung
dengan tangan menggenggam zikir
dan senja mengapung di bola mata
maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir
satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian
penutur kata membubuhkan tanda baca
kelangkaan air
kekacauan musim
kerusakan genetik
kemandulan fertil
kepunahan spesies
kelanjutan hidup
aku butuh separuh lembaran langit
untuk menghapus garis ajalmu
setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana
berisi ramuan limabelas macam bumbu:
luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,
hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,
serta pada seduhan terakhir
—setetes nyali kutambahkan
sebelum kiamat benar-benar menjemput
di hari keberangkatan kata sekarat
aku tetap berkhidmat pada kesembuhan
dan berharap kekuatan seorang diri
mendapati sekawanan burung kenari
menumpahkan rindu yang menghijau,
menyiramkan kasih yang membiru
melukis harmoni serupa pelangi
dan kasih manusia terajut sebagai helai kapas
selembut udara memenuhi rongga dada
—setiap makhluk ciptaan-Nya
karena tuhan mengangkat khalifah
bukan sebagai izin untuk menjarah
menghancurkan atau sekadar mengambil
tanpa memberi imbal balik yang adil
Karanganyar, 2023
Kado Pengantin
: Rasih M. Hilmy
andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru
nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku
air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur
awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur
sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua
merayakan takdir demi segenggam bahagia
seiring sejalan kalian saling menerima
semua kenyataan apa pun adanya
“denganmu, kesialan macam apa
yang membuat derita?”
tandasmu padanya
jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar
pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar
setelah melewati satu episode petualangan gamang
detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang
dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran
atas kebebalan yang direstui semesta raya
puisi yang kalian terima tanpa pilihan
hanya kasih sayang, tiada penyesalan
“tanpamu, keindahan macam apa
yang bisa kunikmati?”
tegasmu padanya
aku menyaksikan langit tergelar di dadamu
dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi
pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu
mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu
adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun
setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian
dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah
untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu
Karanganyar, 2023
Menjala Angin
kita telah lama belajar terbang
membuntuti angin dari negeri tanpa musim
lesap tanah dan air diserobot maling
dan kota-kota di permulaan pagi,
melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah
masa depan berpinak dari rahim hologram ladah
arus tinggi informasi
laju kemajuan teknologi
pesat kembangnya industri
dan waktu adalah panggung perayaan
senjakala kemenangan
mimpi-mimpi di meja makan,
tak peduli gizi dihidangkan setengah matang
menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya
layanan medis ahli
kemujaraban farmasi
kepastian polis asuransi
dan rumahsakit-rumahsakit makin subur
ragam penyakit menjamur
kita agaknya terbiasa patuh dan tabah
menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah
kalut menghafal larik mantra dan rajah
kita pun sejatinya kerap lalai menghitung
jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung
dan langit lebih murung ketimbang resah gunung
Karanganyar, 2023

Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan














