Puisi

Puisi Ian Hasan

Menara Api

aku pernah bersumpah

atas darah jalang si Dursasana

bara api yang telanjur menyala

menanam nyeri di rahim luka

sejak kehormatanku dipertaruhkan

dan kebenaran berdiri bungkam

di mulut para ksatria

wahai Sang Guru Drona

akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya

wahai Bhisma yang Agung

akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung

wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru

adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?

kebenaran hanya omong kosong

dan melaksanakannya bukan lagi darma

karena kebungkaman telah menjelma iblis

yang menelanjangi kepalsuan kalian

seraya kontan memakan korban

orang kalah sepertiku

jika perempuan selalu menjadi tumbal

dan kesuciannya gampang disingkap paksa

adakah lelaki yang bisa dipercaya?

selamanya akan kuingat

segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan

dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan

agar kelima Pandawa bisa berkata,

“dia kini menjadi milik kami.”

selamanya tak pernah kulupa

Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa

supaya terlindung di balik tirai darma

seraya tertawa di antara mereka,

“dia kini menjadi milik kita!”

maka izinkan kubangun menara ini

kelak berdiri di tengah padang Kurusetra

adakah sumpah ini kalian terima?

Karanganyar, 2023


Mantra Ulu-Ilir

kuikuti arah datangnya air

bening menyusuri hulu sungai

yang terjepit di antara dua tebing

kaki mendaki pundak bukit telanjang

yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang

seraya tampak berserakan di sana-sini

tumpukan botol bekas kemasan pestisida

dan jejak luka yang kerap menguap

dari wajah para petani tanpa dosa

penghujan datang

dan mata air adalah gadis perawan

yang ditinggal pergi kekasihnya

bumi telah mencatat silsilah ketamakan

yang tekun mengabadikan kabar kehilangan

cacing, humus, burung, serangga, ikan

batu logam amblas, gunung bukit dikepras

sedang sampah dan racun kian mengendap

di mimbar dan meja orang-orang beradab

kemarau datang

dan mata air adalah ingatan buram

yang menguning disengat penyesalan

rindu kali ini bermuara pagi

serupa hujan pertama disengat matahari

menguar bersama keharuman tanah basah

di halaman senja yang masih menyala

aromanya melambung di langit-langit

kepala dan sebagian darinya membatu

di ujung cangkul dan pena

Karanganyar, 2023


Selawat Bumi

riwayatmu adalah ibu

yang kini terbaring murung

dengan tangan menggenggam zikir

dan senja mengapung di bola mata

maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir

satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian

penutur kata membubuhkan tanda baca

kelangkaan air

kekacauan musim

kerusakan genetik

kemandulan fertil

kepunahan spesies

kelanjutan hidup

aku butuh separuh lembaran langit

untuk menghapus garis ajalmu

setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana

berisi ramuan limabelas macam bumbu:

luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,

hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,

serta pada seduhan terakhir

—setetes nyali kutambahkan

sebelum kiamat benar-benar menjemput

di hari keberangkatan kata sekarat

aku tetap berkhidmat pada kesembuhan

dan berharap kekuatan seorang diri

mendapati sekawanan burung kenari

menumpahkan rindu yang menghijau,

menyiramkan kasih yang membiru

melukis harmoni serupa pelangi

dan kasih manusia terajut sebagai  helai kapas

selembut udara memenuhi rongga dada

—setiap makhluk ciptaan-Nya

karena tuhan mengangkat khalifah

bukan sebagai izin untuk menjarah

menghancurkan atau sekadar mengambil

tanpa memberi imbal balik yang adil

Karanganyar, 2023


Kado Pengantin

: Rasih M. Hilmy

andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru

nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku

air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur

awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur

sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua

merayakan takdir demi segenggam bahagia

seiring sejalan kalian saling menerima

semua kenyataan apa pun adanya

“denganmu, kesialan macam apa

yang membuat derita?”

tandasmu padanya

jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar

pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar

setelah melewati satu episode petualangan gamang

detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang

dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran

atas kebebalan yang direstui semesta raya

puisi yang kalian terima tanpa pilihan

hanya kasih sayang, tiada penyesalan

“tanpamu, keindahan macam apa

yang bisa kunikmati?”

tegasmu padanya

aku menyaksikan langit tergelar di dadamu

dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi

pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu

mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu

adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun

setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian

dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah

untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu

Karanganyar, 2023


Menjala Angin

kita telah lama belajar terbang

membuntuti angin dari negeri tanpa musim

lesap tanah dan air diserobot maling

dan kota-kota di permulaan pagi,

melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah

masa depan berpinak dari rahim hologram ladah

arus tinggi informasi

laju kemajuan teknologi

pesat kembangnya industri

dan waktu adalah panggung perayaan

senjakala kemenangan

mimpi-mimpi di meja makan,

tak peduli gizi dihidangkan setengah matang

menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya

layanan medis ahli

kemujaraban farmasi

kepastian polis asuransi

dan rumahsakit-rumahsakit makin subur

ragam penyakit menjamur

kita agaknya terbiasa patuh dan tabah

menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah

kalut menghafal larik mantra dan rajah

kita pun sejatinya kerap lalai menghitung

jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung

dan langit lebih murung ketimbang resah gunung

Karanganyar, 2023


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan

Cerpen

Makan Pagi Paling Indah

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Sepiringnasi goreng iga bakar disajikan Ratih. Sepasang mata Pak Jo terbelalak. Rasa lapar dan  selera makannya bangkit. Tak terkendali seperti masa kanak-kanak. Di restoran hotel itu Ratih duduk menghadap meja kayu jati, berseberangan dengan Pak Jo. Semua orang menyapa Pak Jo. Ia  seorang guru besar, pembicara dalam forum seminar. Lelaki setengah baya itu  hanya memperhatikan Ratih, perempuan beralis tebal, dengan rambut sebahu, berkacamata minus setengah. Di hadapan Pak Jo, perempuan  itu menjaga kesopanan.   

“Kau suka masak nasi goreng?” tanya Pak Jo pada Ratih, seorang dosen muda, kandidat doktor.

Ratih memandangi Pak Jo, promotor disertasinya, dengan jenaka.

Lelaki setengah baya itu iseng bertanya tentang makan pagi kesukaan Ratih. Ia selalu memasak nasi goreng pada pagi hari, tetapi tak pernah memenuhi seleranya, Anak  gadisnya, Sekar, sebelum menikah, kadang memasak nasi goreng untuknya, tetapi terlalu banyak sayur.  

“Saya sering masak nasi goreng untuk sarapan suami,” kata Ratih.

“Apa suamimu bersyukur?” Pak Jo merasa perlu mengajukan pertanyaan ini. Ia masih ingat akan perangai  Sekar,  yang selalu menuntutnya mengucapkan rasa terimakasih ketika menyajikan sepiring nasi goreng yang penuh sayur dan cenderung hambar.   

“Ia pandai memuji masakan istri,”  kata Ratih, tenang.

“Apa dia tak pernah meminta sarapan lain, selain nasi goreng?”

“Sesekali ia minta nasi goreng pete,” kata Ratih. Ia mengingat perilaku suaminya yang jenaka saat makan nasi goreng pete. “Aroma pete membuatnya lahap makan.”

“Istriku dulu suka masak nasi goreng babat gongso. Tak seorang pun bisa menandingi kelezatannya. Nasi  goreng iga bakar yang kita makan ini, kalah lezat dengan masakan istriku.”

Berceritalah Pak Jo  pada Ratih mengenai kelezatan  nasi goreng sapi, nasi goreng kambing, nasi goreng ikan asin, nasi goreng kornet, nasi goreng sambal cumi pete, nasi goreng udang, nasi goreng magelangan, nasi goreng padang, dan nasi goreng thailand. Mereka bertukar cerita, dan tak ingin diganggu siapa pun. Orang-orang yang mengenal Pak Jo menyapa, tetapi tak pernah berani bergabung ke mejanya. Lelaki setengah baya itu menikmati makan pagi yang lezat, setelah sepuluh tahun tak pernah merasakannya, sejak istrinya meninggal.  Sepasang mata Ratih menampakkan cahaya ketakjuban selama sarapan, dan lelaki setengah baya itu merasa nikmat tiap sendok nasi goreng iga bakar. Tiap teguk kopi terasa lezat dalam cecapan ujung lidahnya.  

***

Usaimenjadi pembicara di hotel, menjelang sore Pak Jo meninggalkan ruang seminar. Berlari-lari kecil Ratih mengajak  suaminya menemui Pak Jo di pelataran hotel, dekat air mancur, kolam ikan, dan taman. Seorang lelaki kurus, rambut gondrong, berkacamata tebal, menyalami Pak Jo.

“Ini suamiku,” kata Ratih, “seorang wartawan.”

Tercium  bau keringat dan rokok yang menyengat. Pak Jo teringat akan kesukaan lelaki ini makan nasi goreng pete.  Ia menahan senyum, tak bisa berbincang lama dengan Ratih dan suaminya.  Ia bergegas ke ruang parkir mobil. “Sampai besok, kita bertemu di ruang ujian promosi doktor!”

Meninggalkan hotel di pinggir kota, lelaki setengah baya itu memasuki pelataran rumah yang senyap. Tanaman-tanamannya layu, beberapa hari tak disiram. Ia membuka pintu rumah, dan seekor kucing berlarian mengikuti langkahnya.

Malam itu Pak Jo suntuk membaca disertasi Ratih.  Sebuah  taksi berhenti di depan rumah. Anak sulung dan istrinya, Alya,  datang dari ibu kota, meramaikan suasana rumah. Anak sulung datang untuk urusan kerja, dan Alya  ikut suami untuk jalan-jalan.  Alya  membawakan banyak makanan, dan terus-menerus mengajaknya ngobrol. 

Pak Jo mulai membandingkan Alya dengan Ratih. Ia sempat berpikir, kenapa Alya tak semenarik Ratih, yang akan diuji disertainya besok? Lelaki setengah baya itu mulai melihat penampilan Alya: alis, sepasang mata, dandanan, cara berpakaian, dan cara bicaranya. Alya tampil dengan gemerlap. Ratih tampil dengan apa adanya.  

“Bagaimana kalau Alya  memasak nasi goreng besok pagi?”

“Besok akan tersaji makan pagi paling indah bagi Ayah.”

Pak Jo berharap besok pagi akan menikmati nasi goreng, telur dadar, dan secangkir kopi yang memberinya keceriaan.  Ia juga memerlukan teman ngobrol seperti Ratih.   

***         

Lepas subuh, Pak Jo berjalan kaki mengitari gang-gang, mencapai taman bougenvile dan buru-buru pulang. Ia merasakan tubuhnya segar, duduk di teras, membaca koran, mandi, berdandan, dan menghampiri meja makan. Tetapi alangkah sepi meja makan itu. Alya dan anak sulungnya tidak  berada di hadapannya. Ia seorang diri, mencecap kopi yang hambar. Anak sulung dan menantunya bergegas menyalaminya, mohon diri. Anak sulungnya akan mengunjungi tempat kerja. Menantunya menemui seorang sahabat, dan mereka berjanji akan berjalan-jalan berdua.

Pak Jo mengambil nasi goreng masakan Alya. Ia  sarapan dalam senyap seorang diri. Dalam suapan pertama, lidahnya tersengat rasa pedas. Telur dadar yang dikunyahnya terasa asin. Ia bimbang, ingin meninggalkan sarapan nasi goreng yang sudah dibayangkan semalam akan lezat.

Terdiam, merenung seorang diri di meja makan, ia teringat akan godaan seorang teman, “Tunggu apa lagi? Kau perlu seseorang istri yang membuatkanmu sarapan nasi goreng!”

Pak Jo memaksakan diri untuk menyuap beberapa sendok nasi goreng yang terlalu pedas, mengunyah telor dadar yang asin, dan mencecap kopi yang hambar. Ia memberikan nasi goreng dan telor dadar pada kucing. Nasi  goreng itu cuma diendus-endus. Telur dadar itu yang dimakannya. Nasi goreng pedas itu diabaikan kucing.

Mencuci piring dan cangkir, Pak Jo kembali duduk menghadap meja makan. Memandangi lukisan besar di dinding. Istrinya tersenyum tipis, dengan kebaya dan rambut disanggul. Sepasang matanya bening, dan selalu ia ingat godaannya tiap pagi, “Nasi goreng babat gongso sudah matang. Ayo, dimakan, mumpung hangat!”

Mereka makan bersama. Selalu  Pak Jo merasakan kelezatan dalam tiap bulir nasi goreng babat gongso yang dimasak istrinya. Ada  senyum tipis dalam celah bibir itu, terpancar cahaya bening di balik kacamata. Dan Pak Jo, akan marah sekali setiap kali seorang teman membujuknya untuk kembali menikah dengan seorang janda yang diperkenalkan padanya. “Kau kira akan mudah bagiku untuk menerima istri baru?”

Pak Jo mengusir kucingnya keluar rumah, mengunci pintu, menghampiri garasi. Ia  mengendarai mobil pelan-pelan, berangkat ke kampus. Masih terlalu pagi. Ia mencapai kampus, menuju ruang tunggu dosen penguji disertasi. Berperangai  lembut, Ratih  menyambutnya,  menyuguhkan sepiring nasi goreng babat gongso dengan acar, taburan bawang goreng, dan kerupuk. Aroma nasi goreng itu persis yang disajikan istrinya tiap pagi di meja makan. Dalam suapan pertama, ia menikmati kelezatan nasi goreng itu. Lahap sekali ia menghabiskan nasi goreng babat gongso, dan menemukan seluruh kenikmatan makan pagi sepuluh tahun silam bersama istri.   

Pandana Merdeka, Januari 2024


          S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari. Menyelesaikan  program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Semenjak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005), dibukukan setelah lebih dari dua puluh tahun masa proses kreatifnya. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” dimuat dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Penyusup Larut Malam” dimuat dalam Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009 dan diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018).  Cerpen “Pengunyah Sirih” dimuat dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Novel yang terbit  Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017), Percumbuan Topeng (Cipta Prima Nusantara, 2022). Kumpulan cerpen Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020), nomine Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2021.  Kumpulan cerpen terbaru Ketakutan Memandang Kepala (Hyang Pustaka, 2022) dan Anak Panah Dewa (Penerbit Nomina, 2022).

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Merapal Getir Masa Lalu

[Aceh-26 Desember 2004]

di tanah kami

geladir palagan belum kering

dan suara rentetan api adalah memar

yang pecah dalam memori.

mata kami bersaksi, ihwal dosa-dosa

kerap menandak melewati betis kami

hingga dua pena yang dicangking Raqib-Atid

tampak patah

lantaran pundak kami bergoyang

sepanjang musim menghindari peluru.

di atas rumah-rumah nestapa

kami persilakan desir angin

membawa murka ke rahim laut

meminta peran malaikat maut;

yang memberi kematian

pada minggu paling tenang.

hari itu, Tuhan menyuguh kafan ke punggung lautan

debur ombak mengantar seribu cawan air mata

ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan

berjatuhan dari langit berlumpur

memenuhi ladang yang kami garap

bumi yang kami huni

sebagai neraka kecil.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Tamsil Peradaban

usai Hawa memetik hukum Tuhan

bumi menjadi tempat bagi Adam

menebus dosa-dosa

dan menggumbuk roda nasib.

tapi kini,

bumi hanya lautan merah tak bertepi

dan anak-anak Adam

menjala perkara haram di atas perahu emas

mengantarkan tanah leluhur

rumah para dulur

ke dermaga penuh abu.

nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal

rahim bumi akan mengandung seribu catatan

dan kita akan berlomba

mengarungi pulau-pulau sastra

menerjang ombak-ombak lini masa

menganju ajang pamer

pada sesuatu yang ciri

dengan beberapa cara.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Mengadu Nasib

: 19 tahun berlalu

dan ratusan ribu jisim

adalah bangkai tak bernisan

ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa

memanen perpisahan

menanak rasa sakit.

sedang di hari yang bukan Ramadan

kami berpuasa atas kerinduan

memeluk orang-orang yang hingga sekarang

tak pernah lunas kami temui

melainkan sekubit tulang

kulit dan daging hitam

berkelindan syair-syair gamang.

seraya mengadu nasib

kami menabur doa-doa paling ranum

di atas pusara yang tak lagi wangi

alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami

adalah air mata—yang selalu tumpah

namun entah ke jasad siapa!

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dermaga Masa Depan

atas nama leluhur

kami menanam kebaikan di ladang syukur

menanak seribu doa di dapur

yang tak pernah merugi.

pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam

hingga pemikiran kami berkobar matang

tanpa tungku arang.

di tanah yang kami cintai ini

secangkir literasi terhidang sepanjang malam

dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama

bahwa semangat kami enggan berbeda

meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu

menggisil perkara haram

yang sekali waktu

menjelma perkara hasai.

demi menulis peradaban

mendaras kehidupan

kami menatah perahu

mengantarkan generasi

ke dermaga masa depan

dan mengarungi

luasnya kebijaksanaan Tuhan.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dua Kubu

sekali waktu

aku lihat geliat ibu

bersujud runcing kepada Tuhan

dan ibu bersaksi;

bahwa dirinya kerap buta

menyayangi darah daging

melebihi yang Mencipta.

di lain waktu

ayah menyergah ingatanku:

puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak

kala desir angin menampar-nampar tubuhnya

ia berdansa penuh birahi

menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas

sampai terkulai lemas, menggelinjang

mengandung benih-benih sastra

pecah sebagai bahasa

menjelma satu puisi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Falsasah Seorang Ibu

ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati

direinkarnasi dengan doa-doa

sedang di dada anak piatu

merindukan ibu

adalah doa paling sakit.

kendati demikian

kebohongan ibu hanyalah jujur

yang dibungkam dalam waktu sementara

ibu berkata “silahkan berkelana”

meski aku tahu

bahwa kepulangan

adalah inginnya yang paling rahasia.

di tempat berbeda

aku menghitung hari-hari yang terkelupas

sembari mengingat masa kecil

yang dahulu:

ibu mencariku di antara adzan magrib

menyapih mataku di waktu subuh

menyulam nasibku yang masih setengah jadi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Anasir Kehidupan

mengislah mawar

sebab suamimu yang bernama langit

takkan pulang membawa hujan

dan tubuhmu itu

begitu hasai

haus keadilan.

pun tanah di sekelilingmu

kian merengek

ingin memeluk basah paling berkelas

dari ceruk matamu yang gegas

untuk merekah

rindu bersudah.

kau pun tahu, mawar

bahwa hidup bukan tembikar

yang semakin dibakar

meraup tawar-menawar

dari tangan seorang pembeli.

hidup; hanya bangku sekolah kedua

yang di atasnya

kita duduk mengernyitkan dahi

mampus berpikir

kapan ujian ini berakhir?

Bekasi, 29 Januari 2024.


Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.

Cerpen

Ngaji Bareng Simbah

Cerpen Septi Rusdiyana

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.

Tin tin

Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.

***

“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.

Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.

“Nadia, Mbah.”

Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.

Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.

“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”

“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.

Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.

Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.

Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”

Aku tidak membalas pesannya.

***

Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.

“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.

“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.

“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”

“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”

“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”

“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.

“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”

Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”

Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.

Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.

“Ya, Mas,” jawabku malas.

“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.

“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”

“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”

Hening.

“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.

“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.

Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.

***

Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.

Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.

“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.

Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.

“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

***

“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.

Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tidak?” tanyaku menirukannya.

“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.

“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”

“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”

“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”

Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.

“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.

“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.

Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.

“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.

***

Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.

“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.

“Kok sudah pulang?”

“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”

Mbah Diro tersenyum mengizinkan.

Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.

Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.

“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***


Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala

Puisi

Puisi Imam Khoironi

Fragmen Subuh

Ada dua gelap yang berdiri

di dekat tempat tidurmu

Mereka menunggumu bangun

Untuk mengentaskan rindu

Yang ditabur di sekeliling rumahmu

Sebongkah gelap melaju ke arah yang riuh

Meninggalkan rindu yang rapuh

Sebelum gemericik embun menetes

Di tanah basah tempat dibangkitkannya subuh

Kau akan membaca fragmen,

menguliti doa

dari sajak-sajak yang memanggilmu pulang

tak bisa kau temui ia

dalam buku-buku

tentang hari rindu diutus

Ada dua gelap, yang tidur

di dekat tempatmu berdiri

Mereka sedang menyiapkan

Fragmen-fragmen

Untuk kau baca dengan lirih

Sehingga rindu pulang

Ke pangkal petang

Bandar Lampung, November 2022


Kembara Malam

Aku seorang musafir

Pergi ke sudut malam yang layu

Dengan tubuh lunglai menghardik sunyi

Merapihkan kegelapan

Di ruang-ruang antara kau dan aku

Aku seorang musafir

Kembali menebar benih-benih

Di bawah pijakan kakimu

Menjelang pagi yang terhunjam gerimis

Mengosongkan suara-suara gaduh

di belakang mataku

Aku seorang musafir

Mengitari rindu di lekuk-lekuk waktu

Mengirim surat rahasia

Pada jam terakhir sebelum cahaya

Ke arah laut, ke tepi langit

Aku seorang musafir

Gelap aku tempuh menuju rumahmu

Adakah pulang paling rindu

bagi ruh dan jasad

Selain pada nuraniku

Bandar Lampung, November 2022


Antara Rindu dan Pulang Tidak Mengenal Batas

Aku memeram pagi

Hingga ia beranak pinak

Menjadi tumpukan jerami

Di bawah denting jam yang lirih

Dan memutar ke arah yang dianggap baik

Bagaimana dengan nasib cinta

Yang tertinggal di meja makan malam

Pada perbincangan lusuh itu

Kutebar pilu di bola mataku

Sepahit apa rindu, setelah lepas landas

Dari tubuhmu, kucium wangi dari ribuan

Mawar, sebelum ia mekar

Di kerut keningmu itu, kudaratkan api

Sebelum semuanya padam dan hangus

Hanya saja, subuh akan datang

Menjemputmu ke dalam luka yang sulit

Untuk diurai, sebab di batas itu

Kutaruh namamu, Safira

Tak ada sesiapa dapat menjamahnya

Kecuali jalan yang telah dibuat

Oleh doa-doaku

Bandar Lampung, November 2022


Tidak Ada Maya Hari Ini

Subuh tiba terlalu cepat

Alarm di ponsel masih pulas

Sketsa di mimpi liarmu

Masih berusaha membubarkan diri

Kalender membacakan agenda

Pukul 5 di timur cakrawala

Pagi membuka notifikasi di beranda

Tugas-tugas yang sudah tertunda

Saatnya berangkat kerja

Tidak ada maya hari ini

bayang-bayangmu telah melebur

di belakang hantu resesi

kita terlalu sering sarapan

dengan fyp tiktok

atau instastory

hingga lupa, ada realita yang harus kita hidupi

Tidak ada maya hari ini

kita akan menahan lapar dan haus

dari hidangan lezat di sosial media

kita akan mencoba merindukan

ributnya suasana di lorong “comment”

kita akan menyelami arus

yang lengang dan sunyi

sambil terus memandangi worksheet

atau menyeruput latte

Tidak ada maya hari ini

kita akan menyusuri diskusi

demi menjaga progresi

Bandar Lampung, 29 Oktober 2022


Seorang Milenial kepada Ibunya

Sore pergi begitu saja

sebelum aku sempat menyeruput senja

yang hilang memasuki lorong tanpa cahaya

di beranda rumah,

ada distorsi yang menyerang

dalam bilik-bilik kosong tanpa penjaga

di kepalaku

setelah lilin membakar diri sendiri

aku berbincang dengan Ibu

tentang pendar desa yang padam

dan jalanan bersuluh temaram

tak ada temerang selain cahya api

tak ada listrik selain bau minyak

peradaban kian maju bagi kami

semakin tak beradab bagi bumi

waktu menuju hilang

dan hidup ini semakin ricuh

apakah hanya kita

yang menyingkir dari semarak hari bumi?

kita yang selalu menidurkan daun-daun

dan mengemasi botol-botol

tidakkah pantas bagimu hadiah nobel?

Ibu, konon orang-orang kota

selalu mematikan lampu

satu jam dalam siklus kalender

untuk menghemat bumi

Bagaimana dengan kita,

yang tak bisa mengurai cahaya,

apakah ada pilar setrum di luar sana?

Bandar Lampung, 30 Oktober 2022


Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Cerpen

Kau adalah Anakku Sekarang

Cerpen Era Ari Astanto

Lelaki berotot besar berambut cepak dan berkumis melintang itu berhenti mencengkeramku ketika tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana yang sudah dipenuhi orang-orang, dan semuanya tidak ada yang kukenal. Dia mengempaskanku dengan kasar di halaman dan berkata dengan gusar, “Temanmu sudah mati.”

Aku tak berkomentar. Aku merasa di antara senang dan sedih. Senang karena kematian orang itu berarti kebebasanku lagi, sedih karena aku tahu bagaimana rasanya ditinggal mati orang tercinta. Sebelum aku merasakan lebih jauh, aku mendengar riuh tangis dari dalam rumah. Lelaki besar berotot itu menarikku masuk ke dalam rumah, lantas mendorongku hingga mendesak orang-orang yang berkerumun.

Semua orang menjeda tangisnya sebentar dan memberi jalan. Lalu, menutup jalan lagi dan mengelilingiku sambil melanjutkan tangisnya. “Jangan menangis di luar kewajaran, ya,” kata beberapa di antara mereka kepadaku dengan penuh perhatian.

Aku sebenarnya ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi rasanya sekarang tidak ada gunanya mengatakan hal-hal itu. Yang mampu kulakukan akhirnya hanyalah mengangguk dan memperlihatkan raut sedih.

Lalu, kerumunan menyibak sehingga tampak seorang wanita renta terhuyung ke arahku dan meraih tanganku. Air matanya mengalir di pipinya. “Anakku sudah mati,” isaknya.

“Aku tahu,” kataku. “Aku sangat sedih, semuanya terjadi begitu tiba-tiba.”

Kata-kataku yang sesederhana itu ternyata justru membuat air matanya mengalir lebih deras. Bahkan, ratapannya sekarang begitu menyayat, membuat bulu kudukku berdiri.

“Tolong jangan terlalu bersedih seperti ini, Bibi,” kataku.

Dia mendengar kata-kataku. Tangisnya sedikit mereda. Tanganku yang masih digenggamnya ditarik ke wajahnya, dan dengan punggung tanganku dia mengelap air matanya. Dia kemudian menatapku dengan masih terisak, dan berkata, “Kamu juga harus menerimanya dengan tabah.”

Aku mengangguk mantap. “Pasti, Bi. Tapi, jangan biarkan kesedihan menyakiti Bibi.”

Dia mengangguk, “Kamu pun harus menjaga kesehatan.” Katanya sambil mengelap air matanya dengan tanganku lagi. Jika tidak dipegang dengan erat, pasti aku sudah menariknya.

“Tentu, Bi—semua yang ada di sini pun harus melakukannya,” kataku. “Kesedihan ini harus kita ubah menjadi kekuatan.”

Dia mengangguk. “Kuharap kamu tidak menyalahkan putraku karena dia telah mengembuskan napas terakhir sebelum kamu sempat menemuinya.”

“Tidak, Bibi. Aku tidak akan pernah menyalahkannya,” kataku.

“Kuminta kamu tidak terlalu bersedih,” katanya dengan masih terisak.

“Aku hanya khawatir tidak dapat menahan air mataku, Bi.”

Dia tersedu lagi dan sekali lagi mengelap air matanya dengan punggung tanganku. “Dia satu-satunya orang yang kumiliki, tetapi kini dia pergi. Kau adalah anakku sekarang.”

Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Kini aku merasa air mataku menggenang. Kutarik tanganku dengan sedikit memaksa dan putus asa. Aku berhasil mendapatkan tanganku kembali setelah mengatakan bahwa aku membutuhkannya untuk menghapus air mataku sendiri. Lalu tanyaku, “Benarkah itu, Bibi?” Aku tak punya kata-kata lain, kecuali itu.

Entah apa yang dipikirkannya, tetapi setelah aku bertanya seperti itu, tangisnya kembali meledak beberapa lama. Setelah reda, dia menarik tanganku dan membawaku ke ruangan lain. Di dalam ruangan itu dia berkata, “Temanilah saudaramu sebentar.” Lalu, dia keluar.

Kukitarkan pandangan. Tidak ada siapa pun, kecuali sosok yang terbaring di atas dipan dan ditutupi dengan kain kafan putih. Ada sebuah kursi di sebelah dipan. Aku menggesernya sedikit, lalu duduk di sana.

Aku duduk diam di sana hingga beberapa lama dan hanya memandangi jasad tertutup kafan, jasad orang yang tidak pernah aku kenal. Sampai akhirnya aku merasa penasaran untuk melihat seperti apa wajah orang itu. Kuangkat kafan yang menutupinya. Sekilas kulihat wajah pucat, usianya masih muda. Aku benar-benar merasa tidak mengenalnya. Kututupkan kembali kafan itu dan berguman, “Jadi, inikah temanku?”

Pikiranku gelisah, menerka-nerka apa yang akan terjadi terhadapku setelah pemakaman orang ini. Lalu, kucoba mengingat dan merenungkan rentetan kejadian yang menyeretku hingga di sini.

Semuanya bermula pada pagi tadi, terjadi begitu saja dan sangat cepat.

Aku terbangun dan mendapati hujan yang turun sejak tengah malam tadi masih juga bertahan. Hawa dingin yang dibawanya membuatku malas bangkit dari kasur. Kuraih ponsel di meja kecil yang berimpitan dengan tempat tidur ini. Pukul 6.41. Jika bukan karena hujan itu, sinar matahari sudah menyusup melalui celah jendela dan membuatku tak betah tiduran seperti ini. Kuletakkan kembali ponsel di meja kecil, lalu kutuntun telunjuk kanan ke sudut mata kananku, menggosok gumpalan kotoran di sudutnya. Itu pasti terkumpul saat aku tidur, dan membiarkannya tetap di sana adalah tidak pantas. Aku tidak terburu-buru bangun, dan karena itu aku mencongkelnya dengan santai. Tiba-tiba sisi pahaku merasa dingin. Mungkin karena angin dingin yang menyusup melalui celah-celah jendela. Dan tangan kiriku yang menganggur menjadi berguna dengan merapatkan selimut. Aku baru menyadari bahwa kemarin sebelum tidur aku melepas baju dan celana panjangku. Udara begitu panas kemarin. Kipas angin kecil yang kubawa tidak memberi pengaruh apa-apa sehingga tidak memberiku pilihan lain kecuali melepas pakaian luar. Aku cari-cari di mana baju dan celanaku dengan memanfaatkan mata kiriku yang menganggur. Kulihat mereka ada di sebelah meja kecil, teronggok dan tampak kusut.

Terdengar suara pintu diketuk.

Aku mengabaikannya karena kukira itu ketukan di pintu rumah sebelah. Itu wajar, karena pintunya bersebelahan. Dinding pembatas rumah yang kusewa untuk beberapa bulan  ke depan ini memang serupa sekat antarkamar, satu dinding tembok dipakai untuk dua rumah. Rumah ini kecil: hanya memiliki satu kamar tidur, satu dapur kecil, dan satu kamar mandi sempit. Terletak di pinggiran kota, dekat dengan lingkungan kumuh. Aku sengaja menyewanya semata-mata agar dekat dengan masyarakat di lingkungan kumuh yang harus aku teliti sebagai prasyarat kelulusan kuliahku.

“Hei … temanmu sekarat, dan kau masih sempat tidur?” sebuah suara di sela-sela ketukan.

Aku mengernyit. Aku merasa tidak punya teman satu pun di sini. Aku di sini sendiri, tidak ada siapa pun yang aku kenal sebelumnya. Aku di sini baru tiga hari dan baru tiga orang yang aku kenal: Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu petugas hansip. Aku berpikir semua data diri sudah aku berikan kepada mereka secara lengkap dan uang sewa sudah aku lunasi di awal. Jadi, rasanya janggal jika di antara mereka bertiga datang sepagi ini menemuiku untuk urusan itu. Namun, ketukan itu memang untukku. Apakah kata-katanya hanya pancingan agar aku membuka pintu?

Aku berpikir, seseorang pasti telah salah mengetuk pintu. Jadi, aku tetap mengabaikannya dan melanjutkan membersihkan gumpalan di mataku. Namun, ketukan itu terus berlanjut. Ketukannya kini terdengar memaksa dan kasar. Siapa dia? Aku ingat tentang bagaimana kebiasaanku di rumah: setiap kali aku kembali setelah pergi, aku akan selalu mengetuk pintu dengan baik, dan menggunakan kunciku hanya ketika yakin tidak ada orang yang akan membukanya. Sekarang, ketukan itu menjelma gedoran. Orang di luar pasti melakukannya bukan dengan buku jari, tetapi dengan tinju tangannya atau kakinya. Gedoran itu terdengar semakin kasar dan keras. Aku ingin tetap mengabaikannya, tetapi aku berpikir, jika sampai pintu itu jebol maka aku yang harus bertanggung jawab karena memang begitu perjanjiannya dengan pemilik rumah. Sayang rasanya jika harus kugunakan uang untuk hal yang sebenarnya bisa kuhindari.

Aku segera bangkit, mengenakan celanaku dengan terburu-buru dan segera menuju pintu depan tanpa sempat mengenakan baju. Namun, sebelum aku mencapai pintu, terdengar benturan yang sangat keras. Pintu itu jebol, satu engselnya mencelat, dan terbanting sedemikian keras membentur dinding.

Aku terhenti, terkesima dengan pemandangan itu.

Kini tampak di depan pintu seorang pria besar berambut cepak dengan tubuh penuh otot besar menggelembung di sana-sini. “Kau ini keterlaluan. Temanmu sekarat dan kau malah santai-santai seperti ini?” Saat bicara, matanya melotot, kumis yang melintang membuatnya tampak makin garang.

Aku tidak paham apa yang dia katakan. Aku berpikir dia pasti salah orang. Kutenang-tenangkan diriku dan mencoba bicara. “Mungkin Anda datang ke alamat yang salah, Paman.”

“Temanmu yang sekarat kini membutuhkanmu dan kaupikir aku sedang buang-buang waktu dengan bermain-main alamat palsu?” Dia berkata keras, nyaris berteriak.

Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya atau nada suaranya. Keyakinannya yang membara mampu membuatku ragu terhadap diriku sendiri. Jangan-jangan kemarin aku yang terlalu lelah sehingga salah masuk rumah. Aku melompat ke luar, memeriksa nomor rumah di atas bingkai pintu. Ini memang rumah yang kusewa. Tapi, aku tak mengenal lelaki besar dengan kumis melintang ini. Aku yakin dia salah alamat.

“Ini rumah yang kusewa tiga hari lalu. Paman mungkin salah orang.” Kataku dengan sikap sangat percaya diri.

Melihat sikap percaya diriku, dia tampak bingung. “Kamu Wage, bukan?”

“Ya. Memang. Tapi, aku tak pernah mengenal Paman.”

Mendengar jawabanku dia mendengus, amarahnya menyala. “Hei dengar! Temanmu sekarat!”

“Tapi, aku tidak punya teman di sini. Hanya Pak Rt, pemilik rumah ini, dan satu hansip yang aku kenal di sini.”

“Omong kosong, dasar pencundang kecil!” Dia memelototiku.

“Aku mahasiswa yang melakukan riset lingkungan di dekat sini,” kataku. “Paman bisa melihat bukti-buktinya. Jika Paman mencoba untuk melepaskan orang itu padaku, aku benar-benar menolak, karena aku memang tidak pernah memiliki seorang teman pun di sini. Namun …,” Aku melembutkan nada bicaraku. “Namun, Paman tidak perlu khawatir, Paman bisa menyumbangkannya ke salah satu tetangga di sini. Mereka pastinya punya banyak teman dan menurutku salah satu dari mereka tidak akan keberatan, dan bahkan mungkin Paman bisa mengajak yang lain.”

“Tapi dia temanmu, berhentilah menyangkal!” Dia perlahan mendekatiku. Matanya tampak menyala, mulutnya sedikit menganga seolah bersiap melahapku.

“Sebenarnya, siapa orang yang Paman bicarakan ini?”

Dia menyebutkan sebuah nama yang terasa asing ditelingaku.

“Aku tak kenal nama itu!” Aku berteriak.

“Dasar pecundang! Masih berani menyangkal?!” Dia mengulurkan tangan sebesar betisku dan mencoba meraih leherku.

Refleks aku mundur hingga sampai di sudut tempat tidur. Aku tahu aku akan kalah jika berkelahi dengan orang ini. Tapi, aku mencoba menggertak dengan putus asa, “Aku mahasiswa yang sedang meriset lingkungan di sini. Aku punya bukti-buktinya. Jika kamu masih memaksaku, aku terpaksa harus mengusirmu dari sini.”

Dia menanggapi dengan mengulurkan tangannya yang kuat dan menjambak rambutku hingga aku kesakitan. Aku beberapa kali mencoba memukulnya, tapi sepertinya tidak berpengaruh apa pun baginya. Dia terus menyeretku dari sudut kasur dan mencampakkanku ke lantai seperti sampah. “Jangan banyak tingkah! Pakai bajumu! Cepat!” bentaknya. “Atau aku harus menyeretmu seperti tadi, hah?!”

Aku sadar, tidak ada gunanya berdebat atau berkelahi dengan orang ini. Dia setidaknya tiga kali lebih kuat dariku. Jika aku nekat, dia bisa melemparku ke pembuangan sampah yang tak jauh dari sini dengan sedikit usaha seperti dia akan membuang sekarung sampah ke selokan. Lalu, kataku, “Jika kehadiranku menyenangkan hati orang yang sedang sekarat, aku akan pergi melakukannya.” Aku bangkit perlahan dan meraih baju di samping meja kecil.

Begitu melihatku selesai mengenakan baju, dia segera menarikku dan mendorongku keluar. Di luar, hujan semalam masih menyisakan gerimis. Aku ragu melangkah. Namun, dia terus mendorongku dari belakang, membiarkan gerimis membasahiku. Dia sendiri membawa payung. Ketika aku minta sedikit ruang di bawah payungnya, dia mencengkeram lenganku dan melemparkanku ke depan. Sungguh pagi yang buruk, berbasah-basah dalam gerimis hanya untuk mengunjungi teman yang tidak pernah aku kenal.

Begitulah yang terjadi padaku.

Aku masih duduk di sini, di kursi di samping jasad itu, hingga beberapa lama sambil memandangi jasad yang sudah aku lupa wajahnya meski baru saja aku lihat. Aku ke sini bukan atas kemauanku, tapi agar terbebas dari teman yang tak kukenal ini. Namun, kematiannya ternyata tidak membebaskanku, karena seorang janda renta telah menggantikannya, memasukkan dirinya di dalam tanggung jawabku. Aku bisa saja pergi diam-diam. Tapi, kemanusiaanku mencegah. Tak tega rasanya membiarkan janda renta dan miskin tanpa penjagaan dan perawatan. Memercayakannya kepada yang berwenang sama saja membiarkannya hidup terlunta-lunta. Biarlah nanti aku yang merawatnya, memberikan tanganku sebagai sapu tangan, dan membersihkan kubur anaknya. Setidaknya sampai dia tutup usia.

Sekarang, yang terpenting menurutku, aku harus menemukan tukang kayu untuk memperbaiki pintu yang telah ditendang oleh lelaki besar itu. Itu tanggung jawabku atas kesepakatanku dengan pemilik rumah sewaan itu, selain juga untuk keamanan barang-barangku.


Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).

Cerpen

Munajat Penyesalan

Cerpen Latif Nur Janah

Malam telah sempurna jatuh. Kulihat kau masih setia dengan layar di depanmu. Beberapa teman sudah pulang sejak tadi. Gerimis mulai turun ketika aku beranjak ke pantry yang berseberangan dengan ruanganmu. Sengaja, tak kuseduhkan kopi untukmu karena pagi tadi kamu mengeluh jika perutmu mulas dan kepalamu agak pening. Tampaknya, dua serangan dalam tubuhmu itu berlanjut sampai malam ini. Ditambah, kau harus menyelesaikan banyak laporan seharian tadi.

Kantor kecil ini menjadi tempat persinggahan yang nyaman. Tentu, setelah semua penghuninya pulang. Kecuali satpam jaga yang bertugas di luar. Tapi, aku bisa katakan mereka bukan orang yang sulit. Dengan sebungkus rokok saja, semua aman. Gerimis awal Desember turun tak tentu waktu. Dari jendela di ruanganmu yang terbuka, aku melihat rambutmu teracak berantakan. Tapi, sungguh, itu justru membuatku semakin tak bisa berhenti menekuni wajahmu dari sini.

Seduhan teh pahit yang selesai kuracik, kubawa mendekat ke mejamu. Engkau mengembuskan napas panjang. Selalu begitu ketika kau selesai dengan pekerjaanmu. Aku mulai mencari kata-kata yang pas untuk menyibak kebisuan, untuk membuka malam. Kau mulai meminum teh buatanku. Kuseret kursi sejajar dengan kursimu.

“Maaf,” ucapmu pelan ketika lenganmu hampir saja menyenggol wajahku ketika kau menaruh gelas teh.

Aku tersenyum.

“Kenapa?” tanyamu kemudian.

Kusingkirkan lenganmu ketika hendak kaulingkarkan di pundakku, seperti yang selalu kaulakukan setiap kali kita menjebakkan diri pada suasana malam di kantor ini.

Dulu, kita selalu merasa malam habis begitu cepat. Angin yang kencang sekali pun tak pernah bisa mengusir keringat kita setelah lelah menyapu malam yang panas dan bergejolak. Kau akan selalu mengatakan kepada satpam jaga jika kau ketiduran di kantor karena kelelahan, meskipun nyata, ia sama sekali tak percaya dengan perkataanmu.

“Istriku ceroboh menuang minyak pagi tadi sehingga menciprat ke bajuku.” aku tak paham maksudmu pada awalnya. Namun, cepat-cepat kau melipat lengan bajumu. Sebercak noda minyak tergulung ke dalamnya.

Kaupindah ke sisiku yang lain. Sigap, tangan kirimu, kini telah mendarat di pundakku. Gegas, kuturunkan lenganmu yang entah kenapa, kali ini terasa begitu berat.

Tumpahan minyak di bajumu. Ah, aku sama sekali tak mencium bau noda jika kau tak bilang. Namun, ucapanmu membuatku mulai merasa ada yang menancap-nancap di ulu hatiku. Seperti biasa, ada sesuatu yang membuatku semakin jatuh dan merasa kecil: istrimu. Wanita yang mengingatkanku pada Ibu.

Dua minggu yang lalu, sengaja aku mampir ke rumahmu sebelum berangkat. Meskipun jam masuk kantor masih jauh, kau sudah tampak rapi dengan kemeja panjang bergaris dan sepatu tali yang kubelikan beberapa bulan yang lalu. Kau dan istrimu sedang sarapan di meja makan yang letaknya lurus dengan pintu depan. Aku lantas teringat bagaimana kaukatakan bahwa kemeja itu adalah hadiah dari atasan kita karena kinerja tim kita yang bagus. Istrimu percaya begitu saja. Ya, tentu saja, sebab ia tak hanya menyerahkan kepercayaan penuh padamu, namun juga menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untukmu. Kau selalu mengatakan itu, meskipun membuat hatiku sedikit ngilu.

Senyum canggung yang melengkung di bibirmu, lekas terhapus oleh uluran tangan istrimu kepadaku. Kami bersalaman di depanmu. Aku mengatakan jika aku sengaja menjemputmu untuk bertemu kolega di arah yang berlawanan kantor demi menghemat waktu. Istrimu tersenyum. Murni senyuman seorang istri kepada rekan kerja suaminya. Aku bisa merasakan ketulusan di sana.

Namun, aku mendadak salah tingkah ketika tiba-tiba istrimu meraih tanganku, mengajakku ke meja makan.

“Mari, Bu, saya masak sayur asem banyak hari ini. Kebetulan, anak-anak berangkat pagi sekali dan nggak sempat sarapan.”

Aku tak mungkin menolak saat ia sudah menyeret sebuah kursi untukku.

Di meja makan itu, kau membisu. Tak pernah aku melihatmu sedemikian kaku di hadapanku. Istrimu lebih banyak bercerita ini-itu. Istrimu, yang senyumannya begitu teduh, mengambilkan sepiring nasi untukku, dua iris tempe, dan seiris ayam tepung.

Aku membisu di tempat dudukku serupa tawanan yang tak bisa melakukan apa pun selain menurut. Bahkan aku nyaris gemetar ketika tanganku meraih sendok. Denting antara piring dan sendokku terdengar melolong di pagi itu.

Suapan pertama sayur asem istrimu membawaku memasuki lorong-lorong masa kecilku. Ada senyum ibuku di sana. Ada tangan keriputnya yang beraroma bumbu dapur. Dulu, setiap Sabtu jika Bapak pulang mengajar, Ibu selalu memasak sayur asem dengan belimbing wuluh untuk kami. Bapak tak pernah mau jika belimbing wuluh itu diganti tomat atau asam jawa sekalipun.

Hidangan itu lekas kutandaskan, demi tak ingin melihatmu tercekik dalam kebersamaan yang ganjil.

***

“Kenapa?” tanyamu. Kini, kau telah sadar sepenuhnya bahwa tanganmu benar-benar kulepaskan.

“Cantikmu akan luntur jika murung begitu.” kau mulai merayu. Aku sama sekali tak bernafsu.

Pikiranku saat ini terisi penuh istrimu. Pertemuanku saat sarapan dua minggu yang lalu, membuatku harus berpikir dua kali untuk sekadar memelukmu sekalipun. Kebiasaan yang dulu selalu kulakukan sesaat setelah kantor sepi. Kelebat istrimu yang mengenakan daster di dapur ketika itu serupa magnet yang menarik sesuatu di sudut perasaanku. Apalagi ketika dengan senyum tulus, ia mengambilkan nasi untukku.

Mungkin kau tak bisa memahaminya. Namun, bahasa tubuh yang kuberikan setelah pertemuan itu, kukira lebih dari cukup dari sekadar kata-kata. Tetapi rupanya, kau terlalu buta untuk menerimanya.

Aku sempat melihat beberapa sudut rumahmu yang sederhana tetapi manis. Istrimu juga mengatakan ia menanam sendiri semua bunga di halaman belakang ketika kau mengambil tas ke kamar.

Buku-buku tertata di rak-rak kayu cokelat tua. Sebagian dilabeli nama istrimu. Ah, ya, kau pernah bilang jika istrimu gemar menulis. Sebuah foto terbingkai di atas rak buku itu, menampakkan senyum kalian yang teduh. Istrimu tengah hamil di foto itu. Rasa iri mulai menitik dalam hatiku. Hamil. Sesuatu yang tak bisa terjadi padaku, sampai kapan pun. Sebab sesuatu mengharuskanku merelakan rahimku.

Di saat itulah, tancapan di sudut perasaanku mulai ganas mengaduk-aduk. Aku berusaha merasa biasa saja. Menepisnya saat kita menghabiskan malam berdua di kantor. Tetapi, senyum istrimu hadir setiap kali aku hendak mendekatimu. Terasa semakin teduh manakala tanganku hendak melingkar di tubuhmu. Senyum istrimu itu membawa serta wajah ibuku.

Hingga malam ini datang, rupanya kau tak mampu mengartikan bahasa yang kusampaikan, sementara aku semakin tersiksa dan merasa bahwa kehadiranku dalam hidupmu benar-benar tak diperlukan.***


Latif Nur Janah, lahir 1990. Buku pertamanya, Suwung, adalah kumpulan cerita pendek berbahasa Jawa (Suryapustaka Ilmu, 2022). Menetap di Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.

Cerpen

Denting

Cerpen Yeni Kartikasari

Hari belum sepenuhnya pagi, tapi kau sudah berada di Olivia, berjalan ke lantai tiga, menghampiri meja di dekat jendela kaca, duduk termenung menunggu seseorang yang kau tahu tak akan pernah datang lagi. Seperti biasa, seorang barista bertubuh jangkung dengan vest hitam dan apron cokelat menghampirimu—meminta izin menyeduh kopi panas yang tadi kau pesan.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?” tawarnya.

Kau menggeleng pelan. Barista itu pergi meninggalkan kau bersama secangkir mochaccino berlukis bunga. Kopi itu kau tatap sebentar. Di luar, hujan sangat deras. Pandangan yang semula kau lemparkan ke lampu-lampu kota mengabur bersama rintik yang disertai angin kencang. Jika hari-hari sebelumnya kau hanya menitihkan air mata, kini tangismu semakin panjang.

Kau tak bisa lupa, setahun lalu, sejak Habsa pergi, kau benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, melainkan dia telah pergi selamanya. Perpisahan yang kau rasakan, bukan lagi seperti kau melepas teman-temanmu yang menerima Awardee LPDP ke negeri kincir angin, atau saat kau harus melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatmu yang pulang ke kampung halaman setelah lulus kuliah, namun perpisahan yang membuatmu kehilangan segala-galanya, bahkan separuh dirimu yang selama ini kau pertahankan untuk hidup.

Habsa adalah orang terdekatmu, lebih dekat dari saudara dan ayah ibumu, sebab kau memang tak pernah merasa memiliki keluarga. Dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi temanmu bercerita usai terlilit masalah di Savario.  Kau masih ingat setelah pendidikan magister Fashion Designmu tuntas, kau mencoba bekerja di Savario sebagai staff pembuat pola busana. Keberhasilanmu masuk ke butik bergaya Eropa Style yang bertempat di gedung bekas kolonialisme itu membuatmu sangat bangga. Selain karena megah dan terkenal, Savario sering disebut-sebut dosenmu sebagai tempat orang-orang ahli di bidang fashion.

Namun sayangnya kebangganmu tak bertahan lama. Gaun yang akan dipakai seorang artis untuk menerima penghargaan penyanyi pop terbaik tak muat dikenakan saat fitting. Bagian penghias menyalahkan penjahit, bagian penjahit menyalahkan pemotong kain, dan bagian pemotong kain menyalahkanmu sebagai pembuat dan pengambil ukuran badan. Kau yang pada saat itu tak mau disalahkan, kemudian mempertanyakan suatu hal; mengapa para pemotong dan penjahit tidak mengecek ulang ukuran? Tapi Habsa—staff sewing yang menjahit bagian badan menimpali bahwa orang-orang di Savario tak bekerja di luar tanggung jawabnya. Kau yang tersudut akhirnya ingin mengganti gaun itu, namun sudah tidak ada waktu. Pelanggan itu marah-marah. Bosmu lebih tersungut-sungut. Kau dimaki-maki sebelum dikeluarkan tanpa pesangon.

Usai hari itu kau sangat kecewa. Karena kau tak lagi memiliki pekerjaan, atau lebih tepatnya telah enggan mencari lowongan kembali, waktu senggangmu kau habiskan untuk berdiam di kafe-kafe. Setelah berkelana cukup lama, pengembaraanmu berhenti di Olivia—kafe yang letaknya tak jauh dari bekas bandara. Tepat di lantai tiga, di dekat jendela kaca di mana kau bisa melihat jalan raya dari kejauhan, kau benar-benar merasakan ketenangan yang selama ini kau cari.

Kau sengaja memilih kafe yang tak terlalu ramai dengan nuansa klasik di setiap dekorasinya. Di Olivia, kau mengeluarkan secarik kertas dan mulai menggambar desain slip dress yang pernah popular di tahun 90-an. Demi hiburan, begitulah tujuanmu melakukan hal itu. Masih teringat jelas di pikiranmu, bagaimana kau membuat lekuk tubuh dan detail gaun hingga kau tak menyangka dapat bertemu Habsa dalam keadaan serba tanda tanya.

Suara Habsa lirih menyapamu kala itu.

Gugup. Kau menyingkirkan tas jinjingmu supaya Habsa dapat duduk di hadapanmu. Di awali sapaan tentang kabar, percakapanmu dengan Habsa berlanjut canggung.

“Sekarang kerja di mana?”

Kau berkelakar. Kau katakan pada Habsa bahwa pekerjaanmu adalah pelanggan rutin Olivia—penikmat kopi yang sesekali mendesain busana masa lalu. Tapi, Habsa tak percaya itu. Kau dianggap menyembunyikan pekerjaanmu yang telah mapan, melebihi reputasi pembuat pola busana. Habsa bahkan menyebut JJ Bride, Oura Kebaya, dan QZM Boutique, tempat-tempat terkenal lain di Jakarta. Kau hanya tersenyum. Usiamu yang beranjak berkepala tiga, membuatmu mengerti bahwa tak semua keadaan bisa kau jelaskan terhadap perempuan.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, sekitar pukul empat pagi, Habsa kerap merencanakan pertemuan denganmu. Tidak lagi membahas tentang pekerjaan, atau lika liku hidup yang tiada habisnya, perempuan berpipi bakpao yang kemerah-merahan itu mulai bercengkerama terhadap hal-hal sepele; menertawakan penampilan pengunjung, menerka pikiran orang melamun, dan sesekali mengacaukan karya desainmu.

“Gak pengen keluar Indonesia?” tanya Habsa suatu kali.

“Buat apa?”

“Ya, Mengembara.”

“Kau sendiri gak ke sana?”

“Nggak ada teman.”

Lewat perbincangan itulah, kau teringat Galleria Vittorio Emanuele dan Louis Vuitton di Eropa yang sangat megah. Bangunan berlapis emas yang disorot ratusan lampu dengan puluhan butik gaun permata. Mendadak kau ingin ke sana—menjelajah negara-negara yang pernah membuat bangsamu sengsara. Kau ceritakan semua itu kepada Habsa. Dari rekah senyumnya, kau tahu dia bersuka cita. Impian masa depan kau rencanakan. Janji berkelana ke Eropa kau sepakati. Mula-mula kau hanya menganggap perempuan itu butuh hiburan, namun semakin lama kau merasa dirimu memang berharga dalam hidup seorang perempuan yang bahkan kepadanya kau belum pernah mengisahkan sejengkal kehidupanmu. Kau merasa berarti dan dibutuhkan dan itu sudah cukup bagimu.

Namun, ketika kau mencoba mendekatinya setelah dua bulan menjalin kebersamaan, dia mengatakan akan keluar dari Savario, pulang ke Surabaya untuk melangsungkan pernikahan. Dari caranya berbicara, kau tahu dia sangat bahagia, sebagaimana kau mengerti bahwa dia juga melihatmu bahagia. Meski kau hanya berpura-pura, senyum mengambang di bibirmu seiring rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh. Kau ingin menangis, tapi malu. Hatimu yang remuk semakin hancur ketika beberapa hari kemudian perempuan yang kau cintai itu dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal di tol Rawamangun.

Kenapa kau pergi? batinmu berulang kali sejak malaikat membawa ruh Habsa ke langit tertinggi, terus-menerus sampai kini di Olivia, untuk ratusan kali dalam setahun, ada yang begitu terkenang ketika kau menatap kursi kosong di hadapanmu. Setengah jam lalu, kau buru-buru memesan taxi karena langit sedang bergemuruh silih berganti. Sebenarnya kau tidak takut hujan, tapi kau khawatir tak dapat pergi dari kontrakan, sebab kesepian selalu melahapmu ketika jam sudah menunjukkan pukul lewat sepuluh malam.

Sudah setahun, batinmu. Kau baru datang dan sudah menangis. Bayanganmu tentang hari-hari setelah Habsa pergi adalah reka adegan yang membuatmu dirudung kesengsaraan.

Kau terus dibuntuti rasa penyesalan sebab perpisahanmu dengan Habsa tidak ditandai dengan ucapan selamat tinggal atau kata-kata sampai jumpa di lain waktu. Sering kau berpikir, akan lebih baik ketika perempuan itu masih terus hidup, menikah, dan memiliki bayi-bayi mungil, meski kau hanya dapat memandangnya lewat ponsel. Daripada kau harus menyaksikan fragmen mobil terbakar dan mayat sehitam arang dengan darah yang berlumuran disekujur tubuh. Kau ingin tak percaya bahwa tragedi itu nyata, tapi semuanya telah terjadi. Perpisahanmu dengan Habsa adalah sebuah akhir. Kau sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan untuk selamanya.

Kini di Olivia, kau menyadari sudah banyak waktu yang terbuang percuma; duduk di kafe meneguk kopi panas, mendengar album Gordon Lightfoot yang diputar berulang-ulang sambil membayangkan perempuan yang kau yakini masih hidup. Kau tak tahu seberapa lama lagi melakukan rutinitas itu. Kau tak bekerja dan entah sudah berapa lembar uang yang kau keluarkan. Belum lagi orang tua yang terus kau bohongi dan kau mintai jutaan nominal untuk alasan bertahan hidup.

Kau takut jika suatu saat nanti ada saudara-saudaramu atau pihak keluargamu tahu bahwa lelaki yang merantau demi kemapanan hidup akhirnya menggelandang dan menjadi pesakitan. Kau khawatir seandainya mamamu akan menempeleng kepalamu atau ayahmu akan mendaratkan pukulan di lengan dan kakimu, sebab kau tahu rasa sakitnya bukan berada di sana. Jelas kau tak ingin merasakan hal itu. Maka kau hanya bisa menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.

“Permisi,” Kau terkejut mendengar suara itu. Tangismu buyar. Seorang barista yang sama kembali ke mejamu, melayangkan tawaran, “Sorry, Sir. Sepertinya kopi Sir sudah dingin. Apar Sir mau menggantinya? atau mungkin hendak memesan camilan dan makanan?”

Kau tersadar. Kopi asal Yaman beraroma wangi cokelat itu belum kau teguk. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara Gordon Lightfoot berganti alunan denting yang disusul kerlip lampu. Di luar jendela, hujan tak lagi memekakkan telingamu. Kau melihat barista itu dan dia pun melihat matamu yang sembab. Udara dingin. Pandanganmu kabur.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Cerpen

X, Y, dan Z

Cerpen Ken Hanggara

Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.

“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.

Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.

Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.

Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.

Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.

Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.

Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.

“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.

Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.

Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.

Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.

Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.

Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”

Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.

X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.

Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.

“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.

Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.

Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.

Y benar-benar pusing memikirkan itu.

Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.

Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.

Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***

Gempol, 2019-2023


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.

Cerpen

Frans

Cerpen Erna Surya

Tikus-tikus kecil berlarian di atas kepala Frans. Mereka memakan rambut, lalu kulit kepala lelaki itu hingga lenyap seluruhnya.      Dua telinga Frans berpindah ke bawah ketiaknya, dan matanya kini ada di dada. Frans mulai ketakutan. Ia mendengar suara teriakan orang-orang. Frans tahu betul siapa mereka. Mata Frans menangkap sebuah bayangan.

It’s your turn,” bayangan itu bersuara.

Frans bangun dengan tubuh berkeringat.

***

Frans baru saja meniup lilin ulang tahunnya yang ke empat puluh bersama istri dan kedua putrinya ketika telepon berdering. Sebuah panggilan datang di waktu yang kurang tepat.  Frans sedikit menggerutu setelah mendengar suara dari seorang lelaki yang ia panggil ‘bos’ karena dua alasan: pertama,  ini adalah hari ulang tahunnya yang seharusnya ia habiskan untuk di rumah saja bersama keluarga tanpa harus diganggu dengan berbagai macam pekerjaan. Kedua,  ia sedang tidak siap untuk sebuah misi. Ini adalah hari istimewanya.

“Dia sudah membuat banyak perempuan kehilangan masa depannya,” ucap lelaki itu.  Frans diam sesaat,  kemudian mematikan telepon. Kepada istrinya,  Frans beralasan bahwa seorang pelanggan lama sedang mengalami masalah dengan mobil Chevrolet tuanya dan harus segera diperbaiki karena esok akan dibawa berkendara ke luar kota untuk sebuah urusan mendadak. Dan hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah ini.

“Adakah urusan yang lebih penting daripada merayakan ulang tahunmu, Sayang?” tanya istrinya dengan suara lembut, berharap suaminya akan berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya.  Frans berjanji akan segera kembali setelah semua selesai,  dan ia tak akan melewatkan jam makan malam keluarganya. 
Frans segera memacu mobil ke bengkelnya yang berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. 

Bengkel Frans berada di pinggiran kota, sebuah lokasi yang sangat strategis untuk sebuah usaha bengkel mobil di mana ia bisa mendapatkan harga sewa dengan sangat murah tetapi akses menuju kota pun sangat dekat.  Sedangkan untuk tempat tinggal,  Frans setuju untuk tinggal di sebuah desa kecil di mana istrinya punya lahan yang cukup untuk menanam bunga-bunga. Semenjak menikahi perempuan muda yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya itu,  hidup Frans seketika berubah.  Ia tak lagi senang dengan berbagai macam pesta yang menyuguhkan alkohol dan perempuan bersama teman-temannya. Frans juga lebih senang menyisihkan hasil kerjanya untuk amal.  Semua itu karena istrinya senang berbagi dengan orang-orang miskin.  Frans menemukan kedamaian bersama perempuan itu.  Dan kebahagiaan semakin berlipat ketika putri pertamanya lahir dan disusul putri keduanya dua tahun kemudian.

Ketika memasuki bengkel,  Frans tak menemukan siapa pun.  Semua pegawai sudah pulang.  Bau oli menyengat.  Frans segera menuju sebuah ruangan di sudut,  sebuah ruangan yang biasanya ia pakai untuk bersantai di waktu istirahat siang.  Frans segera menggeser posisi meja dengan gerakan sangat cepat.  Lalu ia angkat tiga deret keramik sehingga menimbulkan lubang.  Di tempat itulah tersimpan rahasia Frans.
Frans mengangkat sebuah tas kecil keluar dan segera membukanya. Sudah ada catatan untuknya.

‘Bos’ yang beberapa saat menelepon tadi telah lebih dulu masuk dengan cara rahasia, meletakkan tas itu,  dan pergi lagi dengan cara ajaib tanpa seorang pun tahu.
Sudah ada sebuah catatan tentang siapa yang akan ia eksekusi malam ini,  seorang dokter bedah syaraf yang membuka praktek sampai pukul sepuluh malam setiap harinya.  Bahkan di hari Minggu pun,  ia tak libur.  Berdasarkan catatan itu, Frans tahu bahwa dokter itu memanfaatkan pasien-pasiennya yang masih muda dan cantik untuk pelampiasan nafsunya. Dan semua itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.  Dokter itu tak menikah. Namun ia punya seorang putri yang kerap mengunjunginya di hari Minggu siang sekadar untuk mengantarkan makan siang. Tentu saja putrinya tak tertulis secara hukum negara.

Sedangkan tentang seseorang yang ia panggil ‘bos’ itu, Frans sendiri belum pernah bertemu dengannya. Entah dari mana,  lelaki itu tahu bahwa Frans pernah keluar masuk penjara sejak usianya remaja.  Banyak perkara.  Frans pernah memukul kepala tetangganya hingga gegar otak ketika mendapati lelaki itu di rumahnya dan ibunya berteriak-teriak minta tolong. Ibunya gagal diperkosa,  tapi Frans harus masuk penjara untuk beberapa saat.  Kasus lain masih ada.  Frans juga pernah mendapati dirinya tiba-tiba babak belur lantaran mencuri kalung emas di sebuah toko emas kecil di dekat pasar kota. Menjadi kurir narkoba pun pernah ia kerjakan.  Nasib baiknya,  ia belum pernah tertangkap.

‘Bos’ menggali segala informasi tentang Frans dan akhirnya merekrut lelaki itu menjadi timnya.  Frans awalnya menolak. Ia tak ingin kembali ke dalam penjara suatu saat nanti. Kedua putrinya yang menjadi alasan. Frans lebih menikmati kehidupan menjadi seorang montir yang membuka bengkel di pagi hari dan menutupnya di sore hari dengan penghasilan pas-pasan ketimbang berurusan dengan kriminal lagi. Itu sudah cukup asal ia punya banyak waktu untuk keluarganya. Namun semua pikiran itu seketika berubah ketika datang dua pilihan kepadanya: ikut bergabung atau istri dan kedua anaknya dibunuh. 

Frans resmi menjadi anggota tim eksekutor dengan bayaran sangat tinggi.  ‘Bos’ memiliki cukup banyak uang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya merusak tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Frans salah satu pembunuh bayaran yang paling ia senangi. Gerakan Frans cepat dan rapi.

Frans segera menuju ke sebuah alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil.  Ia akan bersembunyi di sebuah tempat rahasia di rumah sang dokter,  muncul ketika dokter itu masuk,  membunuhnya,  menghilangkan jejak,  kemudian pulang.  Ia merencanakan semua itu dengan sangat saksama tanpa menghabiskan banyak waktu.  Sepanjang perjalanan, Frans bernyanyi-nyanyi kecil.  Ia ingat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan ibunya waktu ia masih kanak-kanak.  Lagu itu pula yang ia nyanyikan untuk kedua putrinya setiap malam menjelang tidur. Frans sangat mencintai keduanya.

Tiba di rumah sang dokter, Frans tak menemukan siapa pun.  Frans semakin yakin bahwa misinya kali ini tak akan mendapatkan kesulitan yang berarti, juga akan memakan waktu singkat saja. Semua sudah ia pikirkan secara detail.  Dengan mengendap-endap,  Frans masuk ke rumah yang tak begitu besar itu.  Pertama, ia perhatian sudut-sudut  rumah tempat biasanya orang memasang CCTV.  Setelah merasa semua aman,  Frans memutuskan untuk bersembunyi di loteng.  Tak berapa lama, Frans mendengar suara mobil datang.  Ia bergerak pelan untuk mencari celah guna pengamatan. Dilihatnya seorang lelaki berjalan memasuki halaman,  teras,  lalu masuk ke rumah.  Frans segera menyiapkan senjatanya dan bersiap turun. Ia bergerak pelan sekali,  sampai tak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Frans bersembunyi di samping lemari besar. Ia melihat targetnya tengah menuang minuman ke dalam gelas.

Dooorrrrr….

Sebuah tembakan mengenai kepala Frans.  Seketika ia roboh. Frans masih bisa melihat darahnya sendiri mengalir dari kepala dan membuat lantai memerah. Tikus-tikus kecil datang lagi. Mereka muncul dari genangan darah lelaki sekarat itu. Frans merasakan kaki-kaki kecil mereka yang berjinjit menaiki hidung dan telinganya. Kini tikus itu tak hanya memakan kepala Frans, tapi semuanya. Suara-suara teriakan datang lagi. Satu per satu wajah-wajah itu muncul di kelopak matanya, dekat sekali. Frans tak sempat meminta ampun lantaran telah menghilangkann nyawa mereka.

Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya bernyanyi lagu masa kecilnya. Kemudian suara itu berubah menjadi suara putrinya.

“Tikus kecilmu sudah kulenyapkan, ” suara lelaki itu masih samar terdengar di telinga Frans bersama lagu yang hampir selesai dan akhirnya semuanya benar-benar gelap.

“Terimakasih.  Dia paling membahayakan, ” suara ‘Bos’ di ujung sana.


Erna Surya, suka dengan cerita-cerita dan kata-kata. Seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK. Berdomisili di Klaten.