
MENETAP PADA IMPIAN YANG SAMA
gumpalan rindu
bersarang di dinding ingatan
melekat bagian palung hati
mengalirkan doa-doa mesra
tentang merajut mahligai
sekian lama sendiri
berpacu dengan upaya
meraih pundi-pundi masa depan
membaca peluang tuk kembali
menjemput kasih yang belum usai
dari celah-celah percakapan
ada percikan asa yang mengudara
biarlah masa lalu
menjadi musim semi yang gigil
lalu kita bersenandung kenang
aroma parfum itu
dan berjajar lampu kota
kita disuguhi pesona renjana
menetap pada impian yang sama
tuk menua bersama
di altar paling bahagia
Subang, 17 Februari 2026
____________________
ANALOGI MUSIM
Sebagian kemarau hilang
Terkikis oleh hujan
Ia mendinginkan gersang ambisi
Yang menguasai isi kepala
Hingga berhamburan angkuh
Tetesan air dari sisa gerimis
Mengajarkan kelembutan jiwa
Bahwa tak ada yang menenangkan
Selain mendengar suara gemercik
Dijatuhkannya percik-percik paling perdu
Kemarau hanyalah anomali bumi
Namun panasnya mampu melalap syukur
Disana ia menjadi antagonis yang ulung
Tetapi semua akan berakhir
Setelah hujan mencuci kaki-kaki langit
Sepanjang jarak waktu
Keseimbangan semesta
Fotret perhitungan yang cermat
Kemarau dan hujan
Seperti dua mata pisau
Menjaga kewarasan manusia
Subang, 21 Februari 2026
____________________
LAGI-LAGI MAAFKAN AKU!
Pada sepasang bola mata yang basah
Tersimpan kilau mutiara kasih
Waktu menjadi saksi penerimaan
Duniamu berputar terbalik
Maafkan aku!
Pada wajah setiap pagi tersenyum
Setiap aku membuka mata
Tangan dan kaki tanpa alas
Menerbangkan ribuan harapan
Meski lara kau pikul di punggung itu
Maafkan aku!
Pada nada lisanmu nan merdu
Kau mengajarkan indahnya saling
Juga tentang hati selembut kapas
Menerjemahkan cinta tanpa tapi
Terus bertahan lewati nasib
Yang tak manusiawi
Maafkan aku!
Teruntuk pemilik hati ini
Kini jiwaku seperti rumput
Perlahan-lahan kering
Terjemur terik matahari
Lagi-lagi maafkan aku!
Subang, 11 April 2026
____________________
HINGGA TUTUP USIA
di rinai hujan
kau menjamah sketsa proses
menembus dinding waktu
semua tentang bulir tragedi
juga tentang juang
pada usia kita yang senja
titik pencapaian telah diraih
kau tetap menabur peduli
tak membedakan status
dirangkul dengan hangat
membuka rangkaian album
bergejolak dinamika hidup
aku yang masih papa hari ini
tak sedikit pun kau menjauh
dari perjalanan panjang
kita tetap
hujan kali ini
memberi kabar
menyesakkan dada
kau berpulang
meninggalkan harap
yang tak sempat terwujud
Subang, 2 September 2025
____________________
PENERIMAAN TINGKAT TINGGI
Takbir berkumandang
Tangis haru mengudara
Setelah sekian lama terpisah
Menjelajahi jalan kemapanan
Teruntuk keluarga
Kau membuka bahagia
Tentang pertemuan itu
Tanda maaf terpasang di dinding hati
Segenap rindu tumpah ruah
Suka cita merayakan mahabah
Hari raya saat ini
Aku bisa tersenyum
Menjadikannya pernik-pernik elegi
Berganti puisi-puisi tentang cinta
Sambut hari kedepan
Genggam kuat tiket optimis
Terima ketetapan Tuhan
Ialah cara bagaimana belajar menerima
Tingkat tinggi
Subang, 23 Maret 2026
____________________

Dewis Pramanas. Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati. Instagram: @dewispramanas














