Cerpen

Musim yang Rumit

Cerpen Ranang Aji SP

Memasuki musim hujan tahun ini, bagi Armando, adalah waktu di mana ia harus mempersiapkan dirinya lebih kuat untuk menghadapi kenangan yang tak ubahnya badai yang mengancam. Musim yang memberinya ingatan buruk atas hilangnya rasa ceria pada kehidupan yang seharusnya ia miliki. Bertahun-tahun lampau dan bertahun-tahun kemudian, kenangan itu datang bagaikan teror bersama turunnya air hujan sepanjang hari dan juga banjir yang menggenang kecokelatan di kotanya.

Setelah mengunci pintu rumahnya, Armando berjalan menuju toko, tempat di mana semua barang seperti mantel dan payung dijual. Ia menyapa pemilik toko, seorang pria bernama Lee. Bercakap-cakap sebentar, sebelum kemudian memilih-milih payung yang berwarna-warni dan  berjajar di atas tatakan besar. Ia ingin payung yang besar dan berwarna kuning dan ia mendapatkannya. Setelah membayarnya, ia berkata pada Lee bahwa waktu berlari seperti buroq. Waktu yang seolah tak memberinya kesempatan untuk beristirahat dari kenangan yang menikam.

“Ah, lupakanlah,” kata Lee pendek. Matanya yang kecil bersinar perihatin.

Armando menatap sejenak wajah Lee dan tersenyum lemah. Ia mengatakan akan ke tempat Clara.

***

Sepuluh tahun lalu, ia mengenal Lee di toko ini. Mereka selalu bercakap-cakap di antara waktu senggang Lee. Pemilik toko itu kemudian memperkenalkannya pada seorang perempuan bernama Clara, sepupu Lee. Armando juga kemudian berkenalan dengan seorang pria bernama Bruno dan Johan. Keduanya adalah teman Clara. Dalam beberapa waktu, mereka menjadi teman bicara di toko Lee. Ketika tak ada pelanggan Lee ikut bersama untuk mengobrol di teras toko bersama rokok dan bir. Mereka bicara apa saja tentang semua kejadian di kota mereka. Juga tentang cinta yang misterius.

Ketika Armando disangka jatuh cinta pada seorang gadis bernama Sofia, teman-temannya mulai membicarakannya. Mereka mempertanyakan siapa Sofia. Clara bahkan memintanya untuk memperkenalkan gadis itu pada mereka. Kata Clara, lebih baik mengajaknya berkumpul agar menjadi bagian dari mereka. Dengan demikian, Armando bisa tetap berkumpul bersama mereka di teras toko Lee. Semua setuju dengan pendapat itu. Armando pun setuju, dan begitulah akhirnya, Sofia berkenalan dan menjadi bagian kelompok itu.

Pada setiap minggu Sofia datang untuk ikut berkumpul, bahkan tak perlu lagi Armando menjemput. Sofia gadis yang supel dan mudah sekali akrab dengan teman-teman barunya. Terutama dengan Bruno. Setiap kali Bruno tak muncul, Sofia tampak terlihat resah dan murung. Sementara Armando melihat semua itu dan berpikir bahwa Sofia menyukai Bruno. Tapi ia hanya mengamati dan menunggu. Clara sendiri mengamati sikap Armando yang tenang seperti permukaan air yang dalam. Dan bagi Lee, semua itu tak terlihat sebagai apapun. Lee lebih menikmati perbincangan yang membuatnya melupakan waktu yang membosankan.

Suatu waktu, Clara bertanya pada Armando ketika berada di rumahnya –tentang desas-desusnya.

“Benarkah kau menyukai Sofia?”

Armando tak kaget dengan pertanyaan itu. Ia sudah tahu semua orang menyangkanya menyukai Sofia. Dengan suara pasti, Armando mengatakan tidak. Jawaban itu justru membuat Clara terkejut. Lebih kaget lagi ketika Armando mengatakan bahwa dirinya menyukai Clara. Clara tampak suka dengan jawaban itu, tapi ia hanya diam. Ruangan itu menjadi sunyi. Malam itu, tiba-tiba, Armando dengan keberanian seekor singa jantan mendekati Clara yang duduk terdiam di sofa. Merengkuh perempuan itu, dan tiba-tiba mereka bercinta begitu saja, sebagaimana waktu yang datang tanpa disadari. Armando mengira Clara dalam kekuasaan cintanya. Tetapi ia salah. Clara menggeleng setelah semua usai. Clara mengatakan melakukan itu hanya karena ia menginginkan, bukan karena perasaan.

“Jangan salah sangka,” kata Clara lirih.

Armando kecewa dengan jawaban itu. Tapi ia berusaha tak peduli. Matanya yang hitam menatap wajah Clara yang halus. Mencoba mencari apa yang tersembunyi di antara jasad dan hatinya. Tapi ia tak mampu menemukan apapun kecuali kecantikannya. Setelah peristiwa itu, Armando merasakan dirinya seperti tertahan dalam sebuah perasaan yang tak dimengerti oleh dirinya sendiri. Setiap waktu seolah-olah dirinya terpenjara dalam kurungan sempit yang menahannya. Hingga akhirnya Armando sadar, bahwa Clara telah begitu berkuasa atas dirinya.

Ketika Clara datang, seluruh hidupya luruh sepenuhnya pada keinginan perempuan itu. Ia merasakan betapa damai bersamanya. Jiwa Armando menjadi seperti belalang sembah jantan yang rela mati untuk pasangannya dengan membiarkan otaknya dimakan sang betina ketika bercinta. Seluruh hidupnya seolah akan dipersembahkan hanya untuk Clara. Namun, sepupu Lee itu tak mudah percaya. Dia mengatakan bahwa jika benar Armando mencintainya, maka semua harus dibuktikan dengan ketundukan tanpa menuntut apapun kepadanya. Armando menerimanya.

Sekian waktu, Armando mengikuti apa yang diinginkan Clara, meski hubungan mereka tak pernah seperti yang ia inginkan, yaitu menjadi pasangan yang berkomitmen dan diketahui semua orang. Hingga pada akhirnya, ia merasa tak kuat dan mencoba memohon pada Clara sekali lagi, agar hubungan mereka diresmikan hingga taraf pengakuan. Tapi Clara menolak dengan alasan tak siap dengan sebuah hubungan yang mengikat. Kecewa dengan penolakan itu, Armando mengerahkan dirinya untuk mencoba menerima kenyataan dan memilih merayu perempuan lain. Maka ia mencoba mendekati Sofia, tapi, hanya demi membuat Clara cemburu.

Ketika Armando mendekati Sofia, persoalan menjadi semakin rumit. Sofia tiba-tiba membencinya dan selalu bersikap kasar, seolah Armando adalah mimpi buruk baginya. Sikap itu membuat Armando bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apa salahnya hingga Sofia begitu membencinya. Karena tak menemukan jawaban, Armando akhirnya bertanya pada Clara dengan harapan mendapatkan jawaban. Namun, ketika ia mencoba menanyakan itu, perempuan itu justru marah dan memakinya sebagai laki-laki tak punya rasa setia. Armando bingung. Otaknya tak mampu mencerna apa keinginan Clara sesungguhnya.

Suatu malam, ketika hujan mengguyur kota, Armando menuju toko Lee. Ia datang ketika Johan dan Bruno tengah berbincang, sementara Lee melayani pelanggannya. Ia tak melihat Clara dan Sofia di sana. Ia hanya menemukan mata Bruno yang berbinar saat Armando bergabung. Tangan Bruno menarik lengan Armando agar duduk di sebelahnya. Sebelum kemudian berbincang tentang hujan dan sebagian kota yang terancam banjir. Beberapa saat kemudian, Sofia datang bersama Clara. Namun, begitu melihat Armando duduk bersebelahan dengan Bruno, Sofia tiba-tiba berteriak histeris dan melempar sepatu ke wajah Armando.

“Kalian bajingan haram jadah!: Suara Sofia terdengar seperti geledek hingga membuat orang-orang di sekitar toko memperhatikan.

Armando yang tak mengira menjadi sasaran kemarahan kaget setengah mati. Ada apa ini? Tanyanya dengan suara gagap. Semetara Lee yang tengah melayani pelanggan, segera mendatangi dan mencegah Sofia yang telah menjadi gila menyerang Armando yang berdiri panik dan kebingungan. Melihat kejadian yang tak disangka itu, Clara dengan wajah setengah panik meminta Armando menjauh dan mengikutinya.

Akhinya, dengan diiringi suara caci maki Sofia, mereka berdua pergi. Setelah mengambil payung berwarna kuning, Clara mengajak Armando menuju parkiran dan meminta Armando menyetir mobil. Sementara itu dengan perasaan bingung atas yang menimpanya, Armando menuruti kemauan Clara. Sepanjang jalan yang basah oleh hujan itu, tak ada satu pun yang bicara. Armando masih merasa bingung dan tegang. Sementara Clara hanya termenung. Ketika mereka sampai di jalanan sunyi di antara pohon-pohon yang basah, tiba-tiba dengan suara getar, Clara mengatakan kata maafnya yang tak dipahami Armando untuk apa. Hingga kemudian perempuan mengakui bahwa semua itu terjadi karena salahnya. Sofia, lanjutnya, cemburu karena mendapatkan informasi darinya bahwa Bruno adalah pacar Armando.

“Maafkan aku,” katanya, “aku tak ingin kau dekat dengan Sofia.“

Pengakuan itu membuat Armando marah. Ia tak tahu apa maksud Clara berbuat seperti itu. Apa yang ia tahu, selama ini Clara menolaknya. Ia tak menyangka jika Clara melakukan itu. Emosinya menekan dadanya. Rasa sesak dan panas di dadanya membuat kakinya menginjak pedal gas tanpa kendali. Mobil melaju kencang. Clara panik. Ia meminta Armando berhenti. Permintaan itu ditanggapi Armando dengan menginjak pedal rem secara kuat. Mobil berhenti mendadak dengan suara berderit, hingga membuat tubuh mereka teranyun keras ke depan. Kepala Armando tiba-tiba terserang rasa sakit akibat benturan, dan matanya berkunang-kunang. Namun, ketika ia ingin menumpahkan rasa kesalnya pada Clara, Armando melihat perempuan yang selama ini ia puja tak bergerak dengan dahi berdarah.

“Lupakanlah,” ulang Lee. “Itu bukan salahmu.” Armando menatap mata cokelat Lee. Mata itu mengingatkannya pada Clara.****


Ranang Aji SP menulis fiksi dan nonfiksi. Karya-karyanya diterbitkan pelbagai media cetak dan digital. Dalang Publishing LLC USA menerjemahkan dua cerpennya ke dalam bahasa Inggris. Menjadi nominator dalam Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud. Buku Kumcernya “Mitoni Terakhir” diterbitkan penerbit Nyala (2021).

Puisi

Puisi Dzikron Rachmadi

Tragika Bala Trunajaya

: Sendang Drajat, Canggu

— di petirtaan keputren itulah, Tuan, muasal Tuan

bersikejar dengan prajurit Majapahit yang berang

akan perangai Tuan, akan perangai

yang tak diajarkan oleh Kebenaran

kepada Tuan sekalian!

/bata putih/

bata-bata itu mungkin tak ingin mengimajinasikan dirinya

sebagai gumpalan-gumpalan salju, tatkala Tuan Irapati

hantamkan kepada prajurit Majapahit yang terus menyerbu

tapi Tuan hanya bermaksud mendinginkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, barangkali

sedang di genggaman tangan Tuan, bongkahan bata

masihlah bersikeras mengeraskan dirinya;

ia tak mengerti mencairkan tubuh sendiri,

mencairkan hati prajurit apa lagi

tapi Tuan hanya bermaksud mencairkan murka prajurit,

“tak ada salju, bata pun jadi!” batin Tuan, berulangkali

hantam! hantam! hantam!

“toh, bata, kau juga berwarna putih, bukan?”

gumam Tuan tatkala kian digigilkan gamang

tatkala Tuan kian tersudut di ujung pengejaran

/kepung/

sungguh kami tak ‘kan pernah mampu

membayangkan, Tuan, tak ‘kan mampu,

gerangan apa kaki Tuan melaju ke situ:

ke tempat dialamatkannya mautmu itu!

sebab barang tentu, Tuan, barang tentu

tiada lagi haribaan paling lindung

setelah panas lelava cemas kadung menggunung

dalam dada Tuan yang kadung linglung

o Tuan yang linglung, Tuan Iramenggala yang teramat linglung

: adakah tulah paling pahit dari gerombol prajurit Majapahit

malainkan Tuan telah terkepung

melainkan Tuan telah terkepung?

/bloran/

maka barangkali tidak ada seekor vertebrata paling setia

melainkan hanya Belo Anak Jaran yang sudi memberikan

punggungnya; untuk kemudian Tuan Gantarpati kendara

“tapi aku yakin,” batin Tuan, “Anak Jaran yang pintar

ialah yang tak membawa Tuannya ke mana pun, kecuali

menyerahkan kepada prajurit yang tengah mengejar!”

Anak Jaran yang pintar rupanya lebih memikirkan peradaban;

ia mengenyahkan Tuannya demi menyediakan dirinya

untuk sebuah dukuh dengan menjelma sebuah nama

dengan begitu ia akan selalu hidup & akan tetap hidup

sepanjang zaman & sepanjang peradaban

selamanya hidup sebagai Belo Anak Jaran

selamanya hidup sebagai nama Dukuh Bloran

/surawana/

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

sintru yang wingit menolak satru yang sengit

(pamali Tuan Irabuwana & prajurit Majapahit)

“maka tiada lagi persatruan musti diabadikan!”

di rahim belantara hutan Surabawana, Tuan,

Tuan membangun kerajaan dari kesunyian,

o meski tak semegah dalam benak sejarah—

sebagai sebuah markah Tuan pernah singgah

sedang Trunajaya memilih untuk menghilang:

melesat entah ke telatah liyan

melesat entah ke telatah liyan

Pare, 01-03-2023


Memorabilia Candi Surawana

: kerinduan pada Raja Hayam Wuruk

1.

pada Saka Tiga Badan &

Bulan (1283) Waisaka:

Raja Hayam Wuruk—

yang padanya rakyat

patuh & tunduk—tengah

melawati & melewati

sepanjang jangkauan kelana,

lalu mengantukkan

ujung jangkahnya di

telatah Surabawana,

demi membaringkan

kantuk, bermalam di

Candi Wishnubhawanapura,

sebelum kemudian

sinar fajar mengantar

Ia kembali ke istana

2.

(tibalah kemudian Raja

Hayam Wuruk di istana)

maka setelah itu, tiada lagi

malam semanis rembulan

madu, selain malam bersama

Raja Hayam Wuruk kala itu,

lantaran, malam-malam

setelahnya—bagi candi batu itu

—hanyalah malam-malam

bersama angin tajam

yang cuma paham

memahatkan

dingin kerinduan

paling candu; pada

dinding tubuh batunya

yang kian mengerang

& mengeras itu

sementara

kesepian malam,

kesepian malam masihlah

satu-satunya selimut

paling rawan; akan

tajam angin malam

yang memahatkan

dingin kerinduan,

sepanjang zaman

sepanjang peradaban—

hingga kini zaman kita datang!

“o adakah kini Hayam Wuruk

juga berkenan kembali datang?”

3.

kini, setelah abad-abad

lelah merengkuh waktu:

rindu yang begitu candu

telah membatu pada

tubuh candi batu itu,

hingga seluruh

tubuh candi batu itu

adalah rindu,

adalah rindu!

Pare, 07-03-2023


Candi Tegawangi Mengharumi Ingatan Kami

: Bhre Matahun

& orang-orang menamai Tegawangi, dahulu,

dahulu sekali, setelah tiga orang anak lahir dari rahim waktu

menimang hidupnya di telatah itu, lalu mengubah

segala yang beraroma sunyi menjadi wangi—

menjadi bakal singgasana bersemayamnya sebuah candi

maka pada Sraddha 12 Warsa Pendharmaan

Sri Ratu Matahun di Kusumapura:

alkisah, Tuhan sendirilah yang

memetik setangkai bunga dari Surgaloka

lalu dijatuhkannya ke dalam jagat

atman para pendiri candi sewangi tiga,

sewangi bunga, sewangi dupa,

sewangi api kremasi yang memandikan

daksha Sri Ratu dari segala dosha

sebelum kemudian ia bertakhta

di dalam tenteram kesuwungan moksha

& kini, masih ada yang dapat kami rasakan

serupa sesuatu yang tak letih mengulurkan tangan

ke dalam liang-liang kepala kami; serupa kisah

masa silam -yang tulus menaburkan

kelopak bunga mewangi—

adalah taburan kisah sejarah Candi Tegawangi, yang masih

setia mengharumi ingatan kami

setia mengharumi ingatan kami

masih

Pare, 05-03-2023


Binatang-binatang yang Masih Terkenang

di Pertigaan Patung Kuda Macan

: Tawang

/piton kembang & kera/

dukuh kami punya pesulap kondang, ia berumah

tepat di sudut tenggara pertigaan

pada suatu Pagelaran Agustusan, pernah ia

menyetrika sendiri punggung anak gadisnya yang masih belia

di atas panggung di depan sekalian pemirsa, namun

ia menganggap hal itu bukanlah suatu siksa, lantaran tiadanya

torehan luka bahkan rasa

& ia dapat mengeluarkan dari kotak pandora kosong miliknya

beberapa uang kertas serta logam

& berbagai macam jajan pasar: apem, lemper, bikang, pisang,

pakaian dalam, pembalut wanita,

& kemudian ia lempar-lempar ia bagikan ke sekalian pemirsa

di kotak pandora yang lain, ia memiliki seekor piton kembang,

terkadang ia kandangkan di depan rumah, & seringkali

membikin orang terhenyak ketakutan saat melintasi pertigaan,

di samping kandang itu, ia memelihara pula seekor kera jantan

yang ia ikatkan di pohon rambutan: kemudian

ia jadikan mereka berdua sepasang saudara saling menyayangi

& pesulap itu sangat menyayangi mereka, menyayangi

/sapi/

dulu, tetangga kami berduka, setelah seekor sapi

miliknya lolos dari kandang & berlarian melintasi pertigaan

lalu melanggar pengendara sepeda motor sehabis

mengambil air mujarab dari suatu sumur

di dukuh nun jauh

orang itu mencari sembuh, ia malah terjatuh,

sementara si sapi rubuh & orang-orang menuntunnya

ke bawah pohon mangga yang teduh di

sekitar pertigaan lantaran kakinya yang pincang

tiba malam mengguyur sekujur dukuh

sapi itu hanya merebah tubuh, kakinya yang pincang

tiada lagi bisa digunakan untuk berdiri

bahkan berjalan bahkan berlarian

malam meradang & membakar pertigaan,

orang-orang dukuh kami ramai-ramai berjuang menggotong

tubuh gempal sapi itu ke atas bak pick-up,

pemilik sapi menjualnya kepada penjagal

dengan separuh harga semula

& ia masih berduka

/burung & kucing/

pohon mangga sekitar pertigaan telah ditebang,

pemilik tanah itu mendirikan bangunan, lalu menyewakan,

lalu jadilah sebuah toko burung & kucing beserta pakannya

dari cerita Luis Sepúlveda yang kita baca, kita dapat mengetahui bahwa:

kucing yang baik hati mengajari anak burung untuk dapat terbang sebab

induk burung tidak lagi dapat mengajarinya setelah terbang & jatuh akibat

tumpahan minyak kapal tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, kucing-kucing begitu pemalu & tidak ada

pula burung terbang & jatuh akibat tumpahan minyak kapal

tanker di laut melengketkan bulu-bulu sayapnya

di situ, di toko itu, tidak ada burung-burung

yang boleh terbang bebas, tidak ada

semua pakan sudah tersedia

/kuda & macan/

beberapa tahun silam, di pertigaan itu,

seorang pematung menaruh sepasang

karyanya dalam wujud binatang:

sisi utara untuk kuda

sisi selatan untuk macan

tak lama si pematung pergi dari dukuh kami,

kami menduga, barangkali:

kedua patung itu adalah reinkarnasi dari

binatang-binatang pada gunungan wayang

di situ, di pertigaan itu, ia menaruhnya

sebagai penjaga dukuh kami yang purwa

Pare, 14-02-2023


Lampu-lampu Menggelantung & Bercahaya

di Sepanjang Jalan Dahlia

kita mulai dari selatan, memasuki mulut gang kecil yang

terbuka lebar, kita menyebut ini Jalan Dahlia ketika kita

membiarkan ini jalan terus menelan kita ke utara

sembari menyaksikan lampu-lampu yang

menggelantung & bercahaya

terkadang, aku suka membayangkan, lampu-lampu itu

seperti buah-buah yang menggelantung

di dada langit sana; bintang-bintang ranum yang mampu

menggelegakkan gairah para penujum kuna,

lalu penujum itu, penujum itu adalah kita,

adalah kita yang begitu mendamba nasib bahagia

senantiasa baka, o senantiasa baka

namun terkadang, aku juga suka membayangkan,

Jalan Dahlia tak ubahnya Taman Sorga

di tengah kota kecil kita, lalu lampu-lampu itu &

kabel-kabel itu: adalah sepasang Apel & Ular,

sedang tiang-tiangnya Pohon Kehidupan,

namun di sini, di sini tidak ada sepasang Hawa & Adam,

tidak ada, hanyalah ada berpasang-pasang mata

pedestrian juga pengayuh sepeda; mata yang

senantiasa memakan pijaran lampu-lampu bercahaya

o betapa lampu-lampu itu bercahaya kuning

begitu tulus mengecupkan cahayanya sampai ke kening

pada setiap pedestrian juga pengayuh sepeda,

sampai mereka tiada ingin berpaling

dari gang kecil di tengah kota Panglerenan kita—

dari gang kecil bernama Dahlia,

                                                            o bernama Dahlia

Pare, 10-02-2023


Dzikron Rachmadi, lahir dan berdomisili di Pare, Kabupaten Kediri. Pernah belajar di PAI FTIK Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri. IG: @_dzikroch.

Cerpen

Mereka yang Dijemput, lalu Bertemu Malaikat Maut

Cerpen Annisa Nur Utami

Bapak mati tanpa diadili. Kepalanya bolong diterjang peluru. Sepotong tali plastik melilit lehernya. Mayatnya dibuang di pinggir jalan tanpa busana, tanpa kain apa pun yang menutupinya. Tangannya diikat ke belakang. Jejak tebasan kelewang di bagian tubuhnya yang dirajah dengan tato naga dan kobra menganga, mengundang lalat untuk beranak. Bisikan orang-orang yang menonton mayatnya bisa kudengar dengan jelas, “Gali pantas mati.”

Usiaku 20 tahun saat Bapak mati. Aku paham dengan peristiwa jahanam yang menimpanya. Pemerintah durjana ingin negara aman dengan menghabisi bromocorah. Mereka memburu dan mencabut nyawa anggota gali, preman bertato yang mencari uang dengan memeras, menjambret, merampok atau mengutip uang keamanan dari toko, salah satunya Bapak.

Sebelum tubuh kakunya ditemukan, Bapak dijemput sekelompok orang bertubuh tegap dan berpakaian preman. Orang-orang itu memakai penutup kepala sehingga Ibu tidak mengenali mereka. Bapak diseret dan dipaksa naik ke jip Toyota Hardtop berwarna hitam. Ibu mendengar suara mengaduh ketika kepala Bapak dihantam gagang pistol. Tapi, Ibu hanya bergeming karena terlalu takut untuk melawan. Terlebih, Ibu diancam dengan todongan pistol saat hendak berteriak. Ibu menceritakan peristiwa itu kepadaku esoknya, tepat setelah aku bebas dari lapas gara-gara kasus perampasan. Pada hari yang sama, mayat Bapak ditemukan tergolek di kawasan terminal dan pertokoan tempat dia biasa meminta jatah keamanan.

“Asu!” Makian Panjul menyadarkanku dari lamunan. Dia melempar koran yang memuat foto dan berita kematian Bapak ke depanku. Lantas, dia menghempaskan punggungnya yang dirajah dengan tato bergambar kunci ke dinding dangau yang hanya setinggi bahu. Kemurkaan tergambar jelas di wajahnya.

Sahir hanya melirik sesaat. Tangannya sibuk melingkarkan perban di kaki. Untuk mengelabui petrus sekaligus agar tidak dianggap gali, dia nekat menghilangkan tato di kakinya dengan soda api. Akibat kebodohannya itu, lukanya infeksi dan bernanah. Bau busuk akan tercium sangat menyengat dan mengundang lalat jika lukanya tidak dibebat. Sementara aku memilih mengenakan celana dan kemeja panjang demi menutupi tato.

Aku tak berselera untuk menanggapi ucapan Panjul. Pikiranku dipenuhi cara agar bisa tetap hidup dan tidak berakhir seperti Bapak.

Pada petang di hari yang sama dengan penemuan mayat Bapak, Sahir memberi daftar gali di wilayah Kulonprogo. Namanya, namaku, dan Panjul ada dalam daftar gali di wilayah itu. Jika sudah masuk dalam daftar buronan Garnisun Kodim, hanya tinggal menghitung hari untuk bertatap muka dengan kematian.

“Bagaimana kalau kita menyerahkan diri saja?” Pertanyaan konyol dan bernada putus asa itu meluncur dengan mulus dari mulut Sahir. Dia sudah selesai membalut lukanya. “Tosari, kamu setuju dengan ideku?”

Aku hendak menjawab pertanyaan Sahir, tapi Panjul lebih dulu memotong.

“Goblok! Kita sembunyi agar tidak mati! Di mana otakmu?” Panjul meninju alas dangau. Ada kilatan amarah pada tatapannya. Mata pria berusia setengah abad itu seakan-akan hendak menerkam dan mengoyak daging Sahir. “Jika kamu mau mati, mati saja sendiri. Tidak usah mengajakku, Bocah Asu.”

Sahir mengabaikan kemarahan Panjul. Dia mengambil koran yang tadi dilempar Panjul, lalu melebarkan lipatannya dan menunjukkan berita tentang Brindil, laki-laki yang menyangkal tuduhan bahwa dirinya anggota gali. “Kita bisa mencoba cara ini agar bisa selamat dan dihapus dari daftar target Garnisun.”

“Bagaimana jika gagal? Laki-laki itu memang terbukti bukan gali. Lah, kita? Pergi ke kodim sama saja dengan menyerahkan nyawa.” Aku mengeluarkan kalimat pesimis, “Lagi pula, Garnisun pasti punya banyak mata-mata. Kita bisa mati, bahkan sebelum mencapai tempat itu. Kalaupun sampai dengan selamat, kita tidak akan diampuni begitu saja. Banyak sopir bis dan pemilik toko yang sudah menjadi korban kita. Bukan tidak mungkin, mereka akan melaporkan kita.”

Sahir mengangguk. “Kamu benar. Itu sama saja dengan bunuh diri.” Dia terdiam sesaat, seperti sedang memikirkan sesuatu. “Aku punya teman di daerah Banyumas. Bagaimana jika kita tinggal di sana untuk sementara waktu sampai keadaan di sini aman?” Sahir menawarkan ide sambil menatap aku dan Panjul bergantian. Tanpa menunggu reaksi kami, dia bersuara lagi, “Ambil bekal secukupnya. Kita berkumpul lagi di sini sebelum fajar.”

***

Jam 3 pagi, aku dan Panjul menunggu kedatangan Sahir di dangau. Tempat itu dikelilingi sawah dengan rumpun batang padi yang mengering. Sepi sekali. Bahkan, tak kudengar denging nyamuk. Kemarau panjang tak memberi tempat basah bagi nyamuk-nyamuk untuk bertelur.

“Jika sudah sampai Banyumas, kita kerja apa?” Panjul mengembuskan asap rokok ke udara. Matanya menerawang jauh. “Masa, mau jadi garong lagi?”

Aku ingin tertawa, tapi kematian Bapak masih membayangiku. Pertanyaan itu sungguh menggelitik. Pendidikanku hanya sampai sekolah dasar. Itu pun tidak sampai lulus. Keahlian khusus pun tidak ada yang kukuasai, selain menjabret dan memeras pedagang. Jadi, jawaban untuk pertanyaan itu hampir membuatku terpingkal. “Ndak tahu, Mas. Mungkin jadi tukang parkir aja.”

Kelengangan terusik. Aku menoleh dan bangkit ketika mendengar sesuatu patah akibat terinjak. Naluriku langsung berkata ada bahaya saat melihat ke sekeliling dangau. Di bawah sorot remang cahaya bulan, aku melihat beberapa orang bergerak dengan mengendap-endap ke arahku. Cara bergerak yang mencurigakan itu membuatku yakin bahwa salah satu dari mereka bukan Sahir.

Setelah memastikan orang-orang itu berjalan ke arah aku dan Panjul, kami segera mengambil langkah seribu. Sahir menyuruh kami untuk tidak membawa senjata apa pun agar tidak dicurigai. Sialnya, kami menurut. Jadi, aku dan Panjul memilih lari karena kami tak punya alat apa pun yang bisa digunakan untuk melawan mereka. Tas lusuh kami yang hanya berisi pakaian kami tinggalkan di dangau.

Sedetik kemudian, aku mendengar suara pistol meletus berkali-kali. Tak lama setelah itu, aku merasa hawa panas menerjang belikat dan lututku. Seketika aku tersungkur di tanah berpasir. Aku berusaha meraup udara dengan rakus, tapi sulit. Seperti ada beban berat yang menekan tubuhku kuat-kuat. Mataku berkunang-kunang dengan kepala yang terasa pening.

Dalam kesadaran yang masih tersisa, aku melihat seorang pria menghampiri Panjul yang juga tersungkur di tanah. Pria itu menendang Panjul, seperti memastikan Panjul sudah mati. Pria lain menghampiri Panjul. Dia menarik rambut Panjul dan  membidik kepala Panjul tepat di tengah dahi. Bunyi pistol kembali menyalak.

Penembak Panjul menatapku. Kengerian pada sorot matanya membuatku yakin bahwa ajalku telah tiba. Aku berusaha memohon ampun, tapi yang keluar dari mulutku hanya suara lemah serupa rintihan. Darah segar mengucur dari hidungku. Rasa asin memenuhi indera perasaku. Lama-lama semuanya terasa ringan dan melayang. Kemudian, aku merasa larut dan lenyap.

***

Guyuran air di muka memaksa kesadaranku untuk kembali. Sosok pertama yang kulihat adalah bayangan samar orang-orang yang tidak kukenal. Rasa sakit pada belikat dan tangan yang terikat ke belakang membuatku tak leluasa untuk bergerak. Terlebih, lututku sulit untuk diluruskan. Aku hanya bisa meringkuk di lantai.

“Di mana Karto Kancil?” Pria dengan postur tubuh tegap menarik paksa rambutku. Dia menyebut nama salah satu pengurus gali di daerah Kulonprogo.

“Tidak tahu,” jawabku jujur. Sebelum ditahan di lapas, aku memang anak buah Karto Kancil. Tapi, setelah bebas, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi.

Tanpa melepas jambakan dari rambutku, pria itu menghantamkan bogem mentah ke wajahku, menghantarkan denyut rasa sakit yang menyengat. “Jawab!” Dia berteriak tepat di depan telingaku.

“Aku benar-benar tidak tahu!”

“Bapak dan anak sama saja!” Pria itu akhirnya melepaskan cengkeramnya setelah meludahi wajahku. Namun, sebelum menjauh, dia menendangku tepat di ulu hati. Aku kembali merintih. Pada detik itu, aku berharap untuk mati saja.

Dalam keremangan suara-suara yang tidak kukenal, aku menangkap bunyi yang tidak asing.

“Seandainya kamu mau kuajak untuk menyerahkan diri, nasibmu tidak akan seperti ini dan mungkin kita akan menjadi partner.”

Aku membuka mata. Seorang pria dengan langkah tertatih-tatih berjalan mendekat sembari menenteng sepucuk karabin. Wajah pria itu, yang semula samar, semakin jelas. Bau busuk menguar dari tubuhnya, seolah-olah mengaduk perutku untuk menyemburkan muntahan. “Sahir?”

Dia menyeringai serupa iblis.

Takdirku sudah digariskan. Aku mati tanpa diadili. Kepalaku bolong diterjang peluru. Sepotong tali plastik melilit leherku. Mayatku dibuang di pinggir jalan tanpa busana, tanpa kain apa pun yang menutupi tubuhku. Tanganku diikat ke belakang. Jejak tebasan kelewang di bagian tubuhku yang dirajah dengan tato naga dan kobra menganga, mengundang lalat untuk beranak. Bisikan orang-orang yang menonton mayatku bisa kudengar dengan jelas, “Gali pantas mati.”***

Samarinda, 10 Mei 2023


Kelengangan terusik. Aku menoleh dan bangkit ketika mendengar sesuatu patah akibat terinjak. Naluriku langsung berkata ada bahaya saat melihat ke sekeliling dangau. Di bawah sorot remang cahaya bulan, aku melihat beberapa orang bergerak dengan mengendap-endap ke arahku. Cara bergerak yang mencurigakan itu membuatku yakin bahwa salah satu dari mereka bukan Sahir.

Annisa Nur Utami, pengarang kelahiran Bandung ini sudah melahirkan novel berjudul Ibu untuk Airin. Beberapa tulisannya dimuat di media massa online dan media massa cetak.