Esai M. Ghaniey Al Rasyid

Pramoedya Ananta Toer telah menjadi mite. Namanya dikenang sebagai tokoh penting dalam epos republik ini. Mengenai Mite, Kata James Danandjaja mite ialah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empu penceritanya, nyaris tanpa penyangkalan.
Agaknya pernyataan ini beraroma hiperbola, bila dikaitakan kepada Pram. Namun, narasi itu sering menyembul, saat mereka (pembaca Pramoedya) mengenang Pram, begitu pula dengan karya-karyanya, sebagai seorang pengkliping, penulis dan penyigi sejarah republik.
Pramoedya memberi sudut pandang lain menilik Arok dan Dedes. Syahdan, tafsir menyoal dua tokoh itu, mewarnai geliat pembacaan sejarah Nusantara yang lekat dengan keajaiban magis. Keris, tumpah darah, birahi dan kesucian. Novel Pramoedya menggebrak pembaca. Ia bukan hanya menilik Arok dan Dedes sebagai entitas yang mentereng sebagai anak turun Brahma, akan tetapi Pram membeberkannya dengan suguhan pertautan perebutan kuasa, haus darah.
Sehari sebelum Natal pada 1976, naskah Arok Dedes berhasil diselesaikan, setelah beberapa kertas-kertas yang di tulis di Pulau Buru berhasil Pram selundupkan. Tepat dua tahun kemudian di tahun 1979, Pram menghirup nikmatnya angin bebas setelah dituduh sebagai kriminal, menyaksikan kertas-kertas kumal yang bakal menjadi Novel Arok Dedes itu menggetarkan pembaca.
Membaca ‘Arok Dedes’ tidaklah mudah, maksudnya tak enteng mendapatkannya. Kini ‘Arok Dedes’, telah menjadi harta karun. Mafhum, para pembaca telah mendengar, kesaksian Pram. Pram menyebut novel-novelnya sebagai ‘anak’ buah pikirnya. Mereka lahir dan bertumbuh, ada pula yang harus mampus sebelum bertumbuh.
Begitu pula dengan ‘Arok Dedes’. Pram menuliskannya saat mendekam di Pulau Buru. Ia mengingat lamat-lamat Singasari dan Arok. Agaknya Pram punya pandangan berbeda dengan para penilik lainnya. Bernarnd H. M Vlekke ataupun Dhaniel Dhakidae. Mereka punya tafsir sendir menyoal Arok.
Di Majalah D&R 20-26 Desember 1999, disitu tersirat wawancara Pram. Genap dua puluh tiga tahun setelah Novel lahir, Pram berujar –Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat.
Perkara tafsir semakin membikin Arok lekat dalam perdebatan. Pram berpendapat, Arok adalah Bandit. Ia sempat menjadi pemerkosa, pembunuh, penjudi dan menjadi pemenang saat mengkudeta kuasa Tunggul Ametung. Tak hanya itu, ia pun menggondol Dedes. Menang Telak!
Dari korok penuh kebusukan, nanar mata Arok menghipnotis siapapun. ‘Jagad Pramudita!’ begitulah yang tersirat dalam novel Arok Dedes, saat siapapun memandangi air muka Arok. Para peniliknya seakan terbuai oleh imaji magis, bahwa arok adalah titisan mahadewa. Mereka terpana, sampai-sampai Dedes pun terpaksa luluh meski terpaksa di mana, sebelumnya Dedes menyaksikan suaminya Tunggul Ametung yang tewas dari keris Mpu Gandring.
“Dia dianggap sebagai anak Brahma, Wisnu, Syiwa sekaligus. Arok itu menurut saya, bajingan yang menjadi juru selamat pada masanya,” ujar Pram.
Daniel Dhakidae turut menilik Arok dan Pram. Dalam buku Menerjang Badai Kekuasaan (Penerbit Kompas, 2015), Daniel meyitir Pram yang menafsir Arok Dedes. Usaha menafsir membutuhkan pertanggungjawaban, begitu pula dalam membaca Serat Pararaton Atawa Katuturing Ken Angrok.
Kata Daniel, untuk membaca serat yang menggunakan bahasa Jawa Kuno/Kawi perlu memiliki kepiawaian dengan dibuktikan pada nilai nan unggul.
Serat Pararathon dan Negarakertagama membeberkan sepak terjang Arok/Angrok saat berkecipak dalam perebutan kekuasaan di Tumapel. Di situ, Daniel mengapresiasi langkah Pram, saat mengisahkan Arok Dedes ke dalam bentuk roman. Meski demikian, ada yang sedikit terkikis saat Arok Dedes, menjadi roman. Adalah ambisi historis berdasarkan fakta-fakta yang pernah sesungguhnya terjadi yang rentan tak tersirat lengkap.
“Sejarah perlu ditempatkan dalam tanda petik (“Sejarah”), karena seluruh buku itu adalah roman dengan pikiran paling utama bahwa semuanya fiksi. Dalam arti karya fiksi, maka mistifikasi yang terjadi dalam pararaton tidak banyak berbeda dengan imajinasi yang dikatakan dalam suatu roman.”
Pram berhasil menempatkan kisah Arok Dedes di bumi manusia. Pram membumikan dan membahasakannya, agar dapat ditilik oleh pembaca Indonesia. Kisah itu tak hanya dapat ditilik kalangan tertentu saja, akan tetapi siapapun berharap Arok Dedes hinggap ke seluruh kalangan.
Arok Dedes sebagai pengingat tentang kekuasaan dan ketamakan. Kisahnya yang culas, bengis dan licik itu nampaknya dirasakan Pram saat mendekap di Pulau Buru. Ia tahu dan bergeming, bahwa kebiadaban tak selalu berakhir tragis. Ia bisa seperti Arok yang bisa saja dipuja atau dielu-elukan.
Arok Dedes yang Lahir
Jika Monte Kristo oleh Alexandor Dumas membicarakan seorang tahanan yang berusaha melarikan diri, Pram berusaha untuk meloloskan kertas-kertas yang nantinya dikenal sebagai Novel sejarah Arok Dedes.
Di Majalah D&R (20-26 Desember 1999) Pram berujar, “Saya selundupkan. Waktu itu ada teman yang menjadi motoris atau pengemudi kapal motor. Dialah yang membawa makanan, dari tempat saya di pedalaman ke Pelabuhan Namlea.”
Pram menulis dan terus menulis. Ia mengirimkan kertas-kertas itu sebanyak lima atau enam kali –nyicil. Kertas-kertas diselundupkan. Pram menampik kertas berakhir berserakan atau terbakar di tengah-tengah bayang-bayang kebengisan. Pram membisiki pengemudi kapal motor itu, untuk menitipkan ke seorang Pastur, bernama Pastor Roovink, yang tinggal di sebuah gereja Katolik dekat pelabuhan Namlea.
Pastur itu sempat membisiki Pram, saat menjenguknya, agar ide-ide Pram yang tertulis di atar kertas kumal itu menjadi sebuah buku, agar karyanya dapat mengetuk pembaca dari belahan dunia manpun, dan waktu kapanpun.
Kertas-kertas itu ada pula yang tak beruntung. Kertas yang nantinya dihimpun menjadi sebuah Novel, itu berjudul Mata Pusaran yang mengisahkan perang Paregreg. Kertas itu hangus, hilang entah kemana. Ia mati sebelum bertumbuh, lenyap menjadi abu.
Arok Dedes dan Arus Balik selamat. Ia lahir dan tumbuh. Para pembaca menilik dan membacanya, bahkan beberapa pembaca gusar lantaran buku itu harganya terus naik.
Dalam wawancara itu, Pram berterima kasih kepada Pastor Roovink. Saat ia resmi keluar dari Pulau Buru, Arok Dedes sudah menemui pembaca di Eropa, Amerika Serikat.
Culas, bengis, haus darah dan gila kuasa, kurang lebih demikian Pram berhasil menuliskan Arok Dedes yang didapatkan dari nukilan-nukilan Serat Pararaton dan Negarakertagama itu. Kenyataan itu bukanlah aib, akan tetapi sebuah perenungan tentang kuasa dan tahta. Itu akan tetap menyelip selama manusia hidup, hampir miri dalam Homo Homini Lupusnya Thomas Hobbess.
Alkisah, Arok Dedes mengajak kita untuk merenung sejenak tentang yang silam sekitar abad ke-13. Mereka nyatanya telah terbiasa dengan intrik, taktik dan persekongkolan licin untuk merebut yang namanya kuasa dan pamor. Jauh hari sebelum Machiaveli membikin Il Principe dari perenungan di pengasingan, Arok telah mempraktikannya, dengan segala tabiat hasrat berkuasanya. Sekian.
Sumber:
Majalah D&R No.19/XXXI/20-26 Desember 1999. Pramoedya; Ken Arok itu Bajingan yang Jadi Juru Selamat. Hlm 38-39.
Dhakidae, Daniel. Badai Kekuasaan. Jakarta: Penerbit Kompas. 2015
_________________________

M. Ghaniey Al Rasyid. Penulis Lepas. Pengkliping dan penikmat sastra yang tinggal di Kota Surakarta.






