Curhat

Seorang Penerjemah Gabut dan Wallpaper yang Menatap Balik

Curhat Erna Surya

Hari itu seharusnya jadi hari yang damai. Tidak ada pekerjaan, tidak ada tenggat, tidak ada drama hidup yang bikin kepala berat. Hanya saya, kasur, kipas angin, dan kesunyian yang terasa manis di lima menit pertama, lalu berubah jadi sepi yang menyebalkan di menit ke enam. Saya sudah memandangi langit-langit kamar cukup lama. Saya sudah menatap ponsel sampai mata rasanya seperti diperban notifikasi. Saya membuka semua aplikasi yang bisa dibuka, dari TikTok sampai Kalkulator, hanya untuk memastikan tidak ada keajaiban digital yang tiba-tiba menyelamatkan hari saya. Tapi tidak ada apa-apa. Dunia tetap datar, hidup tetap gabut, dan saya masih di posisi yang sama: berbaring di kasur sambil memikirkan kenapa manusia diciptakan dengan rasa bosan.

Akhirnya, di tengah kekosongan itu, muncul ide yang terdengar sangat mulia di kepala saya: “Aha! Menerjemahkan cerpen berbahasa Inggris!” Rasanya seperti pencerahan. Mungkin ini cara saya untuk sedikit produktif, menajamkan otak, dan menipu diri sendiri bahwa saya masih berguna untuk peradaban. Jadi, saya buka laptop, mengetik di Google: “short story in Gutenberg.” Lalu muncullah sederet judul, sebagian terlihat keren. Dan ada satu judul yang langsung menarik perhatian saya: The Yellow Wallpaper karya Charlotte Perkins Gilman.

Saya tidak tahu siapa Charlotte itu, tapi judulnya terdengar tidak mengancam. Wallpaper kuning, pikir saya, mungkin ini kisah lucu tentang interior rumah atau cat tembok yang gagal matching dengan sofa. Jadi, dengan penuh semangat palsu khas orang gabut, saya klik tautannya, membuka teks, dan mulai menerjemahkan kalimat pertama. Awalnya biasa saja. Ceritanya tentang seorang perempuan yang katanya sedang sakit dan disuruh istirahat oleh suaminya, yang kebetulan seorang dokter. Saya membaca sambil santai. Si tokoh utama ini tinggal di rumah besar, istirahat di kamar atas, dilarang melakukan apa pun karena “demi kesehatannya.”

Beberapa paragraf pertama terasa ringan. Saya bahkan sempat berpikir ini mungkin kisah romansa atau sedikit drama domestik. Tapi semakin saya baca, semakin muncul rasa aneh. Tokoh perempuan itu mulai bercerita soal dinding kamarnya yang dilapisi wallpaper warna kuning. Katanya, motifnya aneh. Tidak enak dilihat. Seperti ada sesuatu yang bergerak di dalamnya. Saya berhenti sebentar, menatap dinding kamar saya sendiri. Warnanya biru muda. Aman. Tidak ada yang bergerak, kecuali nyamuk yang sedang uji nyali. Saya lanjut membaca.

Paragraf demi paragraf berjalan. Si tokoh makin sering menyebut wallpaper itu. Katanya, “pola itu bergerak.” Saya mengetik hasil terjemahan: “The pattern moves, sometimes” menjadi “Pola itu kadang bergerak.” Lalu saya berhenti lagi. Pola yang bergerak? Dalam hati saya berkata, “Mbak, kamu ngantuk ya?” Tapi rasa penasaran membuat saya terus lanjut. Makin ke tengah cerita, suasananya berubah. Ada kalimat-kalimat yang terasa seperti bisikan dari ruang gelap kepala seseorang. Si tokoh yakin ada sosok perempuan di balik wallpaper itu. Perempuan yang bersembunyi, merangkak, berusaha keluar.

Saya yang awalnya santai, mulai tidak tenang. Otak saya membayangkan wallpaper kuning yang berdenyut pelan, seperti kulit makhluk hidup yang bernapas. Saya menatap dinding kamar saya lagi. Biru muda itu entah kenapa terasa agak kekuningan malam itu. Saya menarik napas dalam-dalam. “Tenang,” saya menenangkan diri. “Ini cuma cerpen, bukan film horor.” Tapi tentu saja imajinasi tidak bisa diajak logika. Di kepala saya, mulai muncul adegan absurd: perempuan dengan wajah pucat keluar dari dinding sambil berkata, “Tolong, wallpaper aku kusut.”

Saya lanjut membaca sambil menahan tawa karena mulai takut dengan diri sendiri. Tapi semakin dalam saya membaca, semakin saya merasa aneh. Saya mulai bertanya-tanya: apakah tokoh ini benar-benar gila? Atau jangan-jangan orang-orang di sekitarnya yang gila karena tidak mau memahami dia? Suaminya, yang dokter itu, melarang dia menulis, melarang dia bekerja, bahkan melarang dia merasa. Semua dengan alasan “ini demi kesehatanmu.” Saya tiba-tiba merasa relate. Bukan karena saya punya suami, tapi karena saya tahu rasanya ketika orang bilang, “Udah, jangan dipikirin, nanti juga hilang,” padahal justru itu yang bikin kepala makin sesak.

Saya berhenti menerjemahkan. Kopi saya sudah dingin, tapi saya masih terpaku pada kalimat si tokoh. Ada kalimat yang bilang dia ingin menulis tapi tidak boleh. Saya terdiam lama. Mungkin kegilaan memang sering lahir bukan dari pikiran yang rusak, tapi dari dunia yang tidak memberi ruang untuk kita bernapas. Dari situ saya mulai simpati. Saya ingin masuk ke dalam ceritanya, mengetuk pintu kamar si tokoh, dan bilang, “Mbak, aku bawa laptop, mau nulis bareng?” Tapi tentu saja saya cuma bisa duduk di depan layar, melanjutkan terjemahan, sambil merasa sedikit tidak stabil secara emosional.

Lalu tibalah saya di bagian akhir. Bagian yang bikin jantung saya berhenti sepersekian detik. Si tokoh benar-benar percaya ada perempuan di balik wallpaper itu. Ia mulai mengintip, mengamati, menunggu momen yang tepat. Dan akhirnya, ia merobek wallpaper itu. Ia ingin membebaskan perempuan yang terjebak di dalamnya. Saya menahan napas waktu membaca paragraf terakhir. Dan di sana tertulis bahwa perempuan yang ia lihat di balik dinding itu… ternyata dirinya sendiri.

Saya membeku. Saya menatap layar laptop seperti baru menemukan rahasia hidup yang tidak saya minta. Jadi selama ini, tokoh itu merasa dirinya sendiri terjebak di balik wallpaper itu? Saya merinding. Bukan karena seram, tapi karena rasanya saya juga pernah di posisi itu — terjebak di antara hal-hal yang saya tidak tahu bagaimana harus keluar. Bedanya, saya tidak punya wallpaper kuning, hanya tembok yang sudah kusam, tapi maknanya sama: kadang kita semua merasa terkurung di ruang kita sendiri.

Malam itu, setelah selesai menerjemahkan, saya tidak bisa tidur. Saya menatap tembok kamar. Semakin lama saya menatap, semakin saya merasa warna biru itu berubah jadi kuning pucat. Saya tahu ini efek sugesti, tapi tetap saja bulu kuduk saya berdiri. Saya akhirnya menyalakan lampu, membuka YouTube, mencari video kucing lucu untuk menetralkan suasana. Tapi tetap tidak bisa. Otak saya masih penuh bayangan perempuan merangkak di balik wallpaper.

Saya mulai sadar bahwa setiap orang sebenarnya punya “wallpaper kuning” masing-masing. Lapisan tipis yang menutupi hal-hal yang tidak ingin kita perlihatkan. Ada yang menutupinya dengan keceriaan palsu di media sosial. Ada yang menutupinya dengan kerja tanpa henti. Ada yang menutupinya dengan candaan setiap kali ditanya “kamu kenapa.” Dan saya mungkin menutupinya dengan terjemahan cerpen ini, seolah saya sibuk, padahal saya sedang lari dari rasa bosan dan cemas saya sendiri.

Saya menatap hasil terjemahan saya keesokan paginya. Tidak terlalu bagus, beberapa kalimat bahkan terasa kaku, tapi saya tersenyum. Karena di balik terjemahan itu, saya tahu ada sesuatu yang lebih dalam. Saya tidak cuma menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, tapi juga menerjemahkan kegilaan tokoh itu ke dalam kewarasan saya sendiri. Saya seperti ikut merobek wallpaper di kepala saya—lapisan tipis yang memisahkan antara “aku yang diam” dan “aku yang ingin bicara.”

Dan lucunya, dari semua hal yang saya pelajari hari itu, kesimpulan paling jujur justru sederhana: jangan membaca karya sastra psikologis waktu kamu lagi gabut sendirian. Apalagi kalau kamu punya imajinasi yang aktif tapi stok keberanian terbatas. Jangan juga menatap dinding terlalu lama. Kadang yang menatap balik bukan setan, tapi pikiranmu sendiri. Dan kalau kamu ingin merasa produktif, mungkin lebih aman mencuci piring daripada menerjemahkan cerpen abad ke-19 tentang kegilaan.

Tapi tetap, saya bersyukur sudah melakukannya. Karena dari kegabutan hari itu, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga: bahwa cerita bisa jadi cermin. Kadang yang kita kira cuma kisah orang lain, ternyata sedang memantulkan wajah kita sendiri. Saya menutup laptop, mematikan lampu, dan sebelum tidur saya sempat berkata pelan ke dinding kamar, “Terima kasih ya, sudah diam saja malam ini.”

Dan oh ya, sebagai puncak semangat (dan sedikit keberanian), saya akhirnya mengirimkan hasil terjemahan itu ke sebuah media yang katanya menerima karya terjemahan sastra. Sampai sekarang saya masih menunggu kabar, entah dimuat atau tidak. Kalau dimuat, mungkin saya akan pamer dengan tenang dan menulis status penuh kebijaksanaan di Instagram. Kalau tidak, ya… mungkin saya akan menyalahkan wallpaper kuning itu lagi. Jadi, doakan saja ya—semoga dimuat. Kalau tidak, minimal doakan supaya saya tidak menerjemahkan hal-hal berpotensi mengganggu lagi waktu gabut berikutnya.
___________________

Erna Surya. Penulis dan penerjemah sastra.

Curhat

Ayam Tidak Membaca Buku

Curhat Durjana

Setahun lebih, ratusan buku aku taruh dekat kandang ayam. Tindakan yang biadab dan konyol. Aku tidak bermaksud agar ayam-ayam itu membaca buku saat memiliki waktu senggang. Aku malah ikhlas bila ayam+ayam sangat lapar sehingga memakan huruf-huruf atau kertas -kertas. Konon, buku itu memuat ilmu. Aku pikir ayam yang terpaksa makan buku bakal menjadi ayam yang suka seminar ketimbang bikin ribut tiap pagi dan menciptakan onar gara-gara bertelur. Bayangkan ayam itu mengeluarkan telek berwujud huruf-huruf yang berserakan dengan bau menyengat. Aku yakin bahwa ayam tidak membaca buku. Manusia saja tidak membaca buku, memilih makan ayam goreng, telur dadar, atau menyantap brutu. Manusia yang hanya ketagihan makan daging dan telur ayam tapi tidak pernah membaca buku boleh kita lempari dengan telek ayam. Tindakan yang makin biadab.

Sebenarnya, yang biadab itu aku. Selama belasan tahun tidak mampu menata dan merapikan ribuan buku. Yang dilakukan hanya membaca dan bikin berantakan rumah. Usahanya sebagai pedagang buku cuma menghasilkan tumpukan buku yang sulit laku. Pada tahun-tahun yang sulit dan pelit, orang-orang bersalah jika menyerahkan uang untuk membeli buku: baru atau bekas. Aku paham bahwa buku tidak memberi janji agar orang selalu girang setiap hari. Sebaliknya, uang terjadi adalah tubuh yang gering setelah mati-matian memikirkan isi buku. Orang pun murung bila yang dibaca adalah buku-buku bermazhab picisan, cengeng, dan brengsek. Buku sangat sulit menyelamatkan hidup. Pengecualian adalah orang-orang yang mendapat mukjizat sebagai pembaca buku yang mulia, berpahala, dan berhikmah.

Aku adalah pembaca buku yang garang, tidak punya rem dan bergerak tanpa peta. Buku-buku yang sudah dibaca menjadi tumpukan yang memberatkan hidup. Jangan bertanya tentang pembaca yang diberkati. Aku adalah pembaca yang menjadi gembala dusta dan khianat atas pengetahuan dan imajinasi.

Maka, yang aku lakukan: mengantar ratusan buku kepada ayam-ayam. Pada akhirnya, buku bukan bacaan. Buku menjadi tempat bertelur dan bercengkrama ayam-ayam yang sedang kasmaran. Aku merasa tidak terlalu bersalah saat memikirkan nasib ayam dan buku. Keputusanku memang tidak menggunakan argumentasi yang bermutu. Artinya, pikiranku tentang buku lebih buruk dan rendah dibanding telek ayam.

Bulan-bulan berlalu, ada beberapa buku yang rusak, berjatuhan, dan berserakan. Pelakunya tidak ayam-ayam saja. Pada malam hari, jamaah tikus senang bermain dan istirahat di kerumunan buku. Yang menyedihkan, beberapa buku menjadi sasaran kebrutalan tikus.

Pada situasi berbeda, aku kadang melihat burung-burung menclok di tumpukan buku saat pagi atau jelang siang. Kandang ayam memang dekat dengan kebun-kebun tetangga yang memiliki banyak pohon besar. Apakah burung-burung itu membaca buku. Namun, aku mendapatkan keindahan atau secuil puisi saat melihat burung-burung di atas buku-buku.

Yang membuatku makin biadab adalah membiarkan ratusan buku dihajar sinar matahari yang panas. Risikonya sampul buku-buku tampak lusuh dan warnanya memudar. Kertas-kertas juga tersiksa panas matahari. Kertas-kertas itu terpaksa berubah wajah dan bentuk.

Aku tidak tahu bila buku-buku itu melihat bulan purnama atau sabit. Malam, kandang ayam dan buku-buku dalam gelap. Mereka mungkin mencicipi bahagia saat bulan memberi senyum atau bisikan yang romantis.

Senin, 13 Oktober 2025,  beberapa buku aku bersihkan untuk dibawa ke gedung yang memiliki tiga lapangan biasa digunakan jamaah badminton. Pikirku, menaruh buku di situ agak mengurangi kebiadaban. Aku tidak berharap buku-buku itu bakal dilihat, disentuh, atau dibaca. Pada suatu hari, aku menanti ada orang yang terpikat buku-buku di pojokan. Ia bakal bercakap denganku di sela menyapu dan mengepel lapangan. Kupingku ingin mendengar ia menyukai buku. Janjiku: buku yang ia pegang atau dilihat dengan melotot akan aku berikan sebagai hadiah. Inginku buku itu mendapat tempat terhormat di kamar atau rumahnya. Aku menunggu buku-buku itu habis saat bertemu para pembaca yang sanggup memberi kasih dan berdoa mendapat pengetahuan. Buku tetap berguna. Aku saja yang sia-sia.

Curhat

Penuntun dan Penyapu

Curhat Durjana

Malam bertambah malam. Kalimat itu selalu mengingatkan Putu Wijaya meski harus ditambahi “bila”. Aku sengaja menghilangkan “bila”. Di GOR Badminton Blulukan (Colomadu), malam itu keramain dan keringat. Orang-orang bermain bulutangkis di tiga lapangan. Aku cuma penonton sekaligus melayani mereka.

Jumat, 5 September 2025, mau berakhir. Yang bermain tinggal satu lapangan di tengah. Aku menyapu dan mengepel lapangan utara dan selatan diselingi melihat teman-teman yang sedang bermain di tengah. Mereka biasanya datang ke GOR Badminton Blulukan untuk obrolan bersamaku. Sebulan ini, mereka menambahi peristiwa kebersamaan dengan berkeringat dan berteriak. Di tangan mereka adalah raket. Aku yang melayani untuk para pemain yang menginginkan minuman: dari es teh sampai es Torabika. Imbuhan adalah masak mie instan.

Pada saat menyapu dan mengepel, aku sengaja memutar lagu-lagu pop Indonesia, yang bertema asmara dan merayu. Aku tidak malu menyapu sambil ikut bersenandung. Lelah bisa ditanggulangi dengan imajinasi asmara picisan.

Pukul 11 malam lebih, teman-teman pamitan. Aku menutup kebersamaan dengan omelan-omelan Homicide dalam suara yang keras. Akhirnya, kami berpisah. Aku pulang mengendarai sepeda motor yang mau rontok. Di tengah perjalanan, sepeda motor itu berhenti. Kehabisan bensin. Aku menuntun sambil menikmati payah setelah sejak siang sampai malam menjadi tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Keringat terus mengalir. Di dekat perbatasan desa, ada sepeda motor yang berhenti di dekatku. Lelaki itu bertanya mengenai sepeda motorku. Lelaki yang tidak dikenal bersikap baik. Ia menawarkan mendorong sepeda motorku sampai rumah.

Sabtu, 6 September 2025, jadwal pengguna GOR Badminton Blulukan adalah murid-murid SD (Solo). Mereka mau latihan drumband pukul 8 pagi. Aku berangkat sambil menuntun sepeda motor ke warung tetangga untuk beli bensin. Di sepeda motor, ada kresek berisi sarapan (nasi, pecek, tempe, bakwan, dan rambak). Dua kresek besar berisi buku-buku. Di atas, ada laptop. Aku jadikan GOR Badminton Blulukan sebagai tempat untuk membaca buku dan gawe tulisan-tulisan.

Aku berencana ke kios koran dulu. Perjalanan sekian menit. Sepeda motor berhenti lagi. Aku pastikan tidak kehabisan bensin, sudah beli sebotol dengan harga 12 ribu rupiah. Kakiku menggenjot berkali-kali. Gagal. Dugaanku ada masalah dengan busi. Pagi, aku menjadi penuntun lagi sepeda motor dengan bawaan tiga kresek, kepala berhelm, dan tubuhku yang berjaket membawa tas ransel. Adegan astronot yang tersesat di Bumi.

Bersyukur setelah hampir 1 km menemukan bengkel. Tukang bengkel sedang bermain layangan bareng cucu. Ia bilang kehabisan busi baru. Yang dilakukan adalah membersihkan busi dan mengusahakan agar hidup lagi. Menit-menit yang kurang menjanjikan sambil kepikiran telat sampai GOR Badminton Blulukan. Akhirnya, pembersihan berulang kali dan meniup busi membuat sepeda motor bisa hidup dan bergerak lagi. Aku menyerahkan 10 ribu rupiah. Uang untuk terima kasih, bukan penggantian busi.

Perjalanan agak ngebut melintasi sawah. Berhasil sampai kios koran. Kompas dan Jawa Pos dibeli dengan menyerahkan uang yang cukup untuk menikmati mie ayam, es jeruk, dan rambak. Pagi itu sengaja membeli koran agar hidup agak beradab. Percakapan sebentar bareng pedagang koran yang mengeluhkan situasi dan surutnya pendapatan dari penjualan koran, tabloid, dan majalah. Aku mengangguk dan berbagi cerita bahwa pagi itu aku pun bakal mencari rezeki.

Di GOR Badminton Blulukan, seratusan anak dan ibu sudah menguasai lapangan. Mereka latihan drumband. Aku sejenak duduk di kantin membuka Jawa Pos. Di situ, ada esaiku berjudul “Sejarah dan Rumah”, yang berada di bawah esai buatan Saras Dewi. Esai itu aku garap sekian hari lalu saat senja di kantin saat lelah dan keringat bikin tubuh kecut setelah seharian menyapu, mengepel, dan menjadi pelayan kantin. Beberapa hari yang lalu, aku pun mengabarkan ke teman tentang episode aku menikmati buku berisi puisi-puisi gubahan Saras Dewi. Puisi itu cukup mengesankan, sebelum Saras Dewi rajin mempersembahkan esai-esai di Kompas dan Jawa Pos.

Di lembaran berbeda, ada cerpen gubahan Agus Dermawan T. Pagi itu aku mengabarinya. Aku berteman dengannya sejak lama. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat kiriman buku barunya yang diterbitkan KPG. Yang membuat kami dekat adalah urusan seni rupa dan dokumentasi kebudayaan.

Sabtu yang seru. Aku masih percaya dapat membuat tulisan-tulisan bermutu meski sadar mengalami kutukan-kutukan kebodohan. Sehari-hari, aku tetap menjadi pekerja berkeringat bersenjata sapu. Sekian menit berlalu, aku sudah harus berdiri di kantin meladeni 50-an anak yang menyerbu. Mereka mendapat istirahat 10 menit. Maka, mereka bersaing minta dibuatkan es teh, es jeruk, es susu, es macam-macam. Bagiku itu peristiwa fantastis dengan segala ketegangan dan tawa saat meladeni omongan bocah-bocah yang berdesak-desakan.

Hari menjelang siang, tiba saatnya makan nasi, pecel, tempe, bakwan, rambak disempurnakan segelas es teh. Hari yang bakal panjang, dimulai dengan anak-anak SD. Nanti berakhir pukul 23.00, edisi para mahasiswa ATMI (Solo) yang mengadakan turname. Para penyewa lapangan badminton tampak penuh di jadwal: pagi, siang, sore, dan malam.

Curhat

Hujan, Nala, dan Sepotong Kangen

Curhat Septi Rusdiyana

Jumat, 29 November 2024.

Sejak pagi, Yogyakarta cerah. Ada rasa percaya diri untuk mengisi daftar hadir ke pertemuan rutin Kamar Kata. Sudah beberapa pekan, setiap sore, di hari yang sama, Negar (anak pertamaku) kerap bertanya, “Ibuk nggak ke Kamar Kata?”

Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya selalu ingin mendapat jawaban tidak dariku. Tapi sore ini, ketika melihatku mengisi list, ia hanya bilang, “Inget ya, Buk, besok aku ikut jemput ke stasiun. Jadi jangan ke mana-mana sebelum aku nyampek.”

Aku menjawab dengan anggukan. Tentu saja aku cukup kaget karena itu kali pertama ia memberi respons begitu. Biasanya, aku harus menggunakan trik dan ritual khusus sebelum meninggalkan anak-anak. Dan syarat untukku mendapat izin dari suami pastilah soal anak-anak.

“Asal anak-anak aman (red: tidak rewel),” jawab suamiku.

Semua terlihat lancar. Sampai menjelang jam 7 malam, gerimis mulai turun. Nala (anak keduaku) sudah panik. Ia yang sebelumnya bermain di rumah utinya, berlari masuk ke rumah. Gegas ditutup semua pintu dan jendela. Saat hujan menderas, ia berteriak, “Ibuk tolong.” Nala mendekat dan mengajakku masuk ke kamar. “Gimana doanya biar nggak jadi hujan?” katanya lagi. Ia sudah hampir menangis.

Aku menuntunnya membaca doa yang kubisa. Nala mengikuti. Saat hujan tak juga reda, ia menangis. Aku berusaha menenangkannya. Ya, tantanganku selama musim hujan 2 tahun terakhir adalah mendampingi Nala. Aku tidak tahu apa yang membuatnya takut hujan. Padahal sejak kecil, aku sering membiarkannya bermain hujan di depan rumah bersama Negar. Jika tahun lalu ia hanya ingin dipeluk dan dikeloni hingga tertidur. Reaksinya kali ini berubah. Agresif dan sangat ketakutan. Terlebih jika ada aku di rumah. Sepertinya di depan orang lain (kakung utinya) ia masih bisa bertahan. Karenanya, aku akhirnya kembali izin di grup untuk tidak berangkat.

Sering aku memberi sugesti pada Nala dengan mengatakan beberapa kalimat baik terkait hujan. Hujan adalah anugerah dari Tuhan. Jika tidak ada hujan maka manusia, tumbuhan dan binatang bisa mati kehausan. Juga, hujan itu bukan sesuatu yang buruk hingga harus dihindari. Tapi Nala tak pernah merespons. Jika aku beruntung, ia bisa lekas tenang lalu tertidur. Tapi malam ini ia sepertinya belum terlalu mengantuk. Jadi aku membiarkannya meluapkan kecemasannya hingga tangisnya berhenti.

“Mbak Nala kenapa takut hujan?” tanyaku usai anak itu kembali tenang. Aku menyerahkan sekotak susu vanila yang baru saja kuambil dari kulkas. Di luar menyisakan gerimis.

“Aku pernah ketemu iblis,” jawab Nala sambil duduk dan meraih susu dari tanganku. “Iblisnya bilang gini: Aku datang pas hujan. Ayo temenan sama aku! Aku kan nggak mau. Makanya aku kunci pintu sama jendela biar iblis nggak bisa masuk,” sambungnya.

Aku bertanya padanya kapan iblis itu menemuinya, namun tidak mendapat jawaban. Ia sibuk menghabiskan minumannya.

“Hujan itu temennya iblis.” Nala bangkit dan menuju jendela ruang tamu. Ia mengatakan kalau gerimis itu baik, jadi ia akan kembali bermain ke rumah utinya.

Nala memang agak lain dari Negar. Meski sama-sama kelebihan energi, pikiran dan imajinasi Nala lebih terbuka. Jika Negar mudah diberi pengertian akan sesuatu, Nala lebih suka protes. Ia juga tidak suka diberi semangat saat melakukan sesuatu. Ia cenderung melakukan apa yang disenanginya dengan suka-suka.

Aku akan memberitahu beberapa kerandoman Nala yang sering membuatku geleng-geleng kepala. Ia pernah sembunyi-sembunyi naik ke lantai 2 rumah. Memanjat balkon dan bersandar pada pojokan pagar. Aku mengetahuinya saat utinya tiba-tiba berteriak memanggilku, “Ya Allah, Ti. Anakmu gandulan neng pager (Ya Allah, Ti. Anakmu gelantungan di pagar).”

Gegas aku mematikan kompor dan berlari ke atas menyusul Nala. Aku meraih tubuhnya, lalu menangis. Rasanya jantungku seperti ketinggalan di bawah. Lututku lemas.

“Maaf ya, Buk. Kalau aku jatuh, nanti kepalaku berdarah-darah ya, Buk. Lalu hatiku putus. Lalu aku meninggoy,” jelas Nala panjang lebar.

Ia juga melanjutkan, kalau saat itu ia mendapat telepon dari Tuhan, disuruh naik ke balkon karena akan diberi mainan. Jadi ia menunggunya di sana.

Pernah juga, saat aku menemaninya tidur siang, sebelumnya dia bertanya padaku, “Ibuk mau meninggal ya?”

“Semua orang pasti akan meninggal, tapi nggak tahu kapan,” jawabku.

“Aku juga mau meninggal?”

“Kenapa kok kamu tanya begitu?”

“Nggak papa, kalau Ibuk meninggal aku mau ikut. Aku anterin naik pesawat ke rumah Allah.”

“Kok naik pesawat?”

“Rumah Allah kan jauh. Di langit. Aku pernah diajak main ke sana. Dikasih duren sama susu cokelat. Tapi aku nggak mau, aku kan sukanya susu putih.”

Dan yang belum lama terjadi, entah apa yang baru dilihat olehnya. Nala yang baru saja mahir naik sepeda roda 2, meletakkan begitu saja sepedanya dan berlari mendekatiku yang saat itu santai di ayunan depan rumah.

“Buk, kenapa kamu menikah sama ayah?” tanya Nala.

Belum sempat aku memikirkan sebuah jawaban, ia melanjutkan bicaranya. “Aku nggak mau menikah. Aku mau jomblo aja. Anak kecil kan nggak boleh pacaran.”

“Memang. Tapi kalau nanti kamu sudah besar, boleh menikah dong,” komentarku.

“Ibuk sedih kalau aku jomblo?”

“Enggak.”

“Kalau gitu aku mau jomblo aja.”

Nala kembali bermain sepeda dan meninggalkanku sendirian. Kadang aku khawatir salah menjawab. Nala tidak suka dibuat menunggu. Jadi setiap saat aku seperti dituntut harus berpikir cepat dan cerdas dalam menghadapinya.

Nala telah kembali pulang dan memintaku menemaninya tidur. Tak lama ia sudah terlelap. Sedang mataku, masih jernih. Jujur aku berharap dalam waktu dekat Kamar Kata mengadakan acara lagi. Aku kangen berada di sekitar orang-orang keren. Masing-masing telah memberikan kesannya sendiri di mataku. Pak Yudi dengan suara besarnya. Mbak Erna dengan semangat menulisnya. Mas Panji yang sempat kaget saat pertama kali tahu aku sudah tua (bersuami dan beranak 2) hingga membuat lidahnya tergigit saat makan gatot. Mas Rudi yang selalu bersemangat. Mas Beri dengan logat bicara dan suara tawanya yang khas. Mas Deni yang cool. Mas Kesit yang sangat cantik saat rambutnya digerai. Mas Andri yang sempat percaya aku merokok. Mas Ian yang (sepertinya) kalem. Bu Yayuk yang baik hati dan gemar nraktir. Mas Yuan yang serius. Hasna yang awalnya anak anteng, sekarang jadi anak aktif. Yusna yang lembut dan tertata saat bicara. Lintang yang cantik. Yulita yang sampai dia kembali ke kampung, belum sempat keretaan bareng. Mas Ruly yang slengekan tapi kalau komentar bab karya, pedas. Mas Eko yang belum lama menikah. Mas Nafi yang kalau ngomong suaranya ganteng (maksudnya gimana ini ya?). Mbak Siti yang manis. Mas Bejo yang gayeng. Mas Allan yang suaranya keren. Mas Fadli yang pernah goncengin aku pas acara Sastra di Gunung. Serta teman-teman lain yang barangkali belum kesebut. Bukan berarti tidak berkesan, hanya terlupa belum meninggalkan kesan saja.

Bagi orang lain, bisa jadi aku dianggap wong selo yang belum berhasil menghasilkan karya apa pun sejak memutuskan belajar di komunitas. Tapi sesungguhnya, untuk diriku pribadi, aku merasa telah berhasil menemukan lingkungan yang membuatku merasa nyaman. Jika sebelumnya, kasur adalah tempat yang paling menenangkan untukku. Maka sekarang, meski healing terbaik tetap rebahan seharian, namun bisa KRL-an Yogya-Palur setiap Jumat juga menjadi salah satu alternatif liburanmenyenangkan. Bagiku, berbahagia di antara teman-teman yang mau menerima apa adanya, adalah sebuah pencapaian juga. Selain belajar tentang menulis, sastra, dan kehidupan tentunya.***

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogyakarta

Curhat

Secangkir Kopi di Malam Gerimis

Curhat Linzie

Aku baru saja bangun dari tidur soreku. Tubuhku terasa masih lengket di kasur, karenanya aku meraih ponsel dan membuka Youtube. Setelah bosan menonton short video, aku mengetik ‘film pendek Indonesia’ pada kolom pencarian. Pilihan randomku jatuh pada judul ‘Pick Me’.

Film itu menceritakan perjalanan asmara seorang perempuan populer bernama Alifvia. Banyak teman lelaki di sekolah yang menyukainya. Salah satu lelaki yang tak pernah menyerah adalah Surya. Berulang kali Surya menyatakan cinta, berulang kali juga Alifvia menolaknya.

Suatu hari, saat Alifvia ngobrol di kafe bersama dengan dua temannya, Didi dan Salsa, terjadilah kesepakatan antara Didi dan Alifvia. Jika Alifvia berhasil menaklukan seorang barista bernama Rayyan di kafe itu, maka ia berhak mendapat 1 tiket konser Raisa.

Demi melancarkan aksi pendekatan pada Rayyan, Alifvia selalu datang ke kafe itu dengan modus memesan jenis minuman yang sama. Singkat cerita, keduanya akhirnya dekat. Alifvia yang sebelumnya tak pernah merasakan perasaan tertarik pada lelaki, mulai merasa nyaman dan jatuh cinta pada Rayyan. Namun, saat Alifvia hendak menyatakan cintanya, seorang perempuan bernama Renata tiba-tiba datang. Rupanya perempuaan itu adalah tunangan dari Rayyan. Alifvia kecewa, ia merasa patah hati dan mulai menangis. Namun, sekian detik kemudian, Alifvia teringat ucapan Rayyan perihal memori ikan mas. Ia mengaku bahwa dirinya sama dengan ikan mas, yang hanya memiliki ingatan selama 10 detik saja. Karenanya, Alifvia bangkit dan kembali ke dunianya yang populer. Tak pernah sakit hati karena cinta, luka akan hilang sebab memorinya segera terganti.

Tanpa Alifvia ketahui, rupanya Rayyan hanyalah orang suruhan Surya. Ia dendam pada Alifvia karena terus menolak cintanya. Sehingga muncul keinginan dirinya untuk membalas sakit hatinya dengan membuat Alifvia merasakan cinta sekaligus patah hati yang sama.

Cerita sederhana, relate-lah dengan masa-masa sekolah. Tapi 1 hal yang cukup menarik perhatianku: pernyataan Rayyan kepada Alifvia mengenai ikan mas dan memorinya. Menurutku itu cukup menggelitik. Entah benar atau tidak, aku tak berminat mencari tahu. Tapi jika itu memang benar, maka setiap 10 detik hidupnya adalah sebuah kelahiran yang akan memiliki pengalaman baru. Apakah itu hal menyenangkan? Bisa ya, bisa juga tidak.

Bagiku, jika ada hal yang mampu kuubah, aku tak pernah berniat mengubah apa pun. Karena aku yakin, pertemuanku dengan Zavier, El, Varo, dan Noe, telah mengantarkanku pada pengalaman hidup bersama Saka, pria yang hingga detik ini sangat kucintai.

Saka memang bukan satu-satunya pria yang pernah dekat denganku, tapi bisa kupastikan bahwa ia adalah satu-satunya pria yang sanggup mengubah cara pandangku pada kehidupan itu sendiri.

“Jika warna kulitku menimbulkan keraguan, sampaikan pada papamu kalau sejak awal aku diciptakan tak bisa memilih dari rahim siapa aku akan lahir. Lalu katakan juga pada mamamu, meski aku tak menyembah pada Tuhan yang sama denganmu, aku tetap percaya jika Tuhan itu 1, Sang Maha Pengasih. Apa lagi yang perlu diperdebatkan?” jelas Saka kala itu.

Aku memandang takjub pada dirinya. Meski aku sering menganggap ia hanya membual, ia termasuk the one and only yang dengan nekat mendekatiku. Ia tak pernah menutupi jati dirinya. Ia bangga akan asal usulnya. Bahkan, ia juga sempat mengatakan padaku: biarlah hasil akhir tetap menjadi misteri, selama apa yang kulakukan hari ini bisa masuk sebagai caraku memperjuangkanmu.

2 tahun aku menjalanipacaran dengan Saka. Papa tak pernah bicara dengannya. Dan mama, tak pernah mengizinkan Saka masuk lebih dalam kecuali di teras rumah. Aku merasa tak enak pada Saka. Sering aku memintanya untuk menemuiku di luar saja, taman atau kafe.

“Pria sejati tak pernah sakit hati pada keadaan yang memang tak bisa diubah,” jawab Saka yang membuatku seperti sedang berhadapan dengan Dilan. Aku Milea-nya. Kalimat-kalimat yang terdengar angkuh, juga pernyataan-pernyataan tak biasa justru membuatku semakin menyukainya.

Saka sering ikut denganku ke klenteng. Ia bilang, berdoa bisa di mana pun. Agama adalah perihal keyakinan. Fanatisisme hakikatnya hanya 2 arah, hamba dan penciptanya. Tak boleh ada campur tangan orang lain. Bahkan, sekadar menuduh pun dianggap sudah merupakan sebuah pelanggaran. Pikiran adalah milik kita sendiri, lalu hati menyempurnakan pikiran itu. Tidak ada yang benar-benar tahu, apa isi hati dan pikiran orang lain. Karena yang nampak, sesungguhnya belum tentu apa yang terjadi di dalam keduanya.

Saka kini tak lagi bersamaku, tapi dirinya terasa tetap menyertaiku. Aroma kopi yang biasa dicecapnya setiap kali kami menikmati kebersamaan, membuatku selalu kangen. Di dalam cangkir putih, diseduh dengan air panas kompor yang baru saja mendidih, ditambah gula separuh sendok teh. Ya, aku ingat betul dengan caranya membuat kopi. Baginya, begitulah ia menikmati kopi. Tak peduli barista-barista atau para pecinta kopi akan menganggapnya tak tahu cara memperlakukan kopi dengan benar.

Aku tak pernah suka kopi. Teh menurutku lebih menenangkan. Sama-sama memiliki kafein. Ini hanya soal selera dan kebiasaan saja. Seperti caraku menulis dengan tangan kanan, lalu Saka dengan tangan kiri. Atau kebiasaanku makan nasi padang dengan sendok dan garpu, sedang Saka menggunakan tangannya. Bukan soal benar dan salah seperti apa yang kedua orangtuaku sampaikan. Bukan juga tentang kesetaraan yang juga mereka agung-agungkan.

Sebelum Saka meninggalkanku dengan sangat manis, ia sempat berkata padaku: “Jika kelak reinkarnasi itu benar ada, aku ingin tetap menjadi diriku. Tak peduli berapa kali fase reinkarnasi yang harus kulalui demi mendapatkan dirimu.”

Malam semakin larut. Gerimis mulai turun. Secangkir kopi ala Saka yang sengaja kubuat tadi telah dingin. Aromanya tak lagi tercium. Meski masih terasa berat untukku, tapi kenangan-kenagan bersama Saka adalah hal paling indah di hidupku. Aku tak ingin menjadi seperti ikan mas. Jika boleh, aku ingin terus mengingatnya. Bukan tak mau mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu, tapi sekadar berdamai dengan bagian dari hidupku.

Aku meraih ponsel, memandang kembali pada undangan pernikahan digital yang dua hari lalu Saka kirimkan padaku. Di pesan lain yang sempat juga dituliskannya untukku, Saka berkata: Jika kabar ini membuatmu bahagia, datanglah dan sampaikan selamat untukku. Aku akan berbahagia. Namun, jika aku hanya bisa membuatmu sedih, maka kutuklah aku menjadi kecoa seperti katamu dulu.

Terkadang aku merasa apa yang terjadi di hidupku hanyalah sebuah takdir yang buruk. Walau aku tahu, dunia tak selamanya akan berpihak padaku. Aku tak ingin benar-benar pasrah pada keadaan. Namun Saka, memilih menyerah pada keadaan. Apakah itu membuatku kecewa? Ya. Tentu saja aku sempat mengutuknya. Apa yang ia janjikan padaku seperti memang benar bualan belaka. Nyatanya ia tak pernah berani melawan kedua orangtuaku. Dulu, aku tak pernah sepakat dengan ucapannya. Namun kini, aku telah mengerti. Kebahagiaan sejati tak akan pernah benar-benar didapat jika kita melukai hati orang lain, terlebih kedua orangtua.

Aku belum memutuskan apakah aku akan datang atau tidak di acara pernikahan Saka. Tapi, seminggu mungkin cukup bagiku untuk memikirkannya. Dan yang pasti, seminggu adalah waktu yang cukup panjang untukku menikmati aroma kenangan pada setiap kopi yang coba kubuat menyerupai cara Saka membuatnya dulu. Setelah 7 hari, kupastikan aku tak akan pernah membuatnya lagi.***

Linzie

Perempuan yang ingin segera move on

Curhat

Bakpia

Curhat Nanda

Sama dengan Mbak Septi, aku juga tinggal di Yogyakarta, lebih tepatnya di dalam ringroad. Aku pernah beberapa kali ke Wonosari, tujuanku hanya 1, ke tempat wisata, karena aku tidak memiliki kerabat yang tinggal di sana. Puthul, aku penasaran seperti apa wujudnya. Jadi ketika aku membaca tulisan Mbak Septi, aku mencari tahu di laman google. Rupanya sejenis kumbang yang biasa menjadi hama tanaman pertanian. Aku pernah melihatnya, bedanya yang kulihat berwarna putih dan memiliki ukuran tubuh lebih besar (ampal, itu nama yang kutahu dan biasanya mereka muncul di malam hari). Binatang itu sama seperti belalang dan beberapa binatang lain yang sering dikonsumsi warga Gunungkidul sebagai lauk, namun bagi orang kebanyakan disebut makanan ekstrem.

Aku pernah menyantap belalang goreng. Rasanya enak kok, seperti udang. Kadang jika teman-teman dari luar daerah memintaku mengantar mereka berwisata, lalu penasaran ingin mencobanya, aku turut makan juga. Bagiku bentol-bentol kecil tak begitu mengganggu, selama gatalnya masih bisa kuatasi. Tapi jika ada pilihan makanan, tentu saja aku memilih yang lain. Setidaknya jika ditanya, aku benar memang sudah pernah mengonsumsinya.

Ada banyak sekali makanan khas Yogya, dari camilan, makanan kecil hingga berat. Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang salah satu snack kesukaanku: bakpia. Setahuku, Pak Yuditeha juga menyukainya. Tapi aku sengaja mengangkatnya bukan semata berharap agar tulisanku dimuat, melainkan memang “bakpia” adalah hal yang pertama kali muncul di benakku. Terlebih saat ini aku memang sedang menyantapnya ditemani secangkir teh di pagi yang gerimis. Hhmm syahdu rasanya.

Hari ini aku izin tidak masuk kantor. Semalam aku jatuh dari tangga. Beruntung aku sempat meraih pegangan hingga tak sampai menggelinding ke bawah. Lemak-lemak di tubuhku akhirnya menjadi pahlawan. Meski sempat menimbulkan suara dentuman yang membuat seisi rumah kaget dan bergegas menghampiriku, aku jatuh elegan dengan posisi duduk. Bahkan handuk yang membungkus kepala masih bertengger manis. “Aman, aku rapopo,” kataku.

Aku baru saja pulang dari lab untuk melakukan rontgen. Hasilnya baru keluar nanti siang. Kata pacarku, jika hasilnya baik dan tidak ada tanda-tanda retak pada tulang, aku baru boleh pijat urut. Jadi hari ini aku berencana mengisi waktu libur dengan membaca, juga menulis cerita ini tentunya.

Aku ingat saat kecil dulu. Rumahku yang berada tak jauh dari pabrik yang memproduksi bakpia, membuatku terbiasa makan makanan itu. Ibu sering memintaku membelinya ketika ada tamu atau kerabat datang sebagai jamuan. Dengan mengendarai sepeda jengki milik kakakku, aku berangkat membawa selembar uang dan pulang dengan seplastik bakpia. Kadang, karena saking seringnya membeli, aku dibawakan juga bakpia kering sebagai bonus.

Tidak seperti sekarang yang banyak sekali varian rasa, bakpia yang dulu aku tahu hanya mempunyai 1 macam rasa: kacang hijau. Secara bentuk, aku juga hanya tahu 2 saja: basah dan kering. Kukatakan basah karena biasanya memang hanya bertahan 2-3 hari saja. Lalu ketika bakpia basah sudah tak layak konsumsi, maka akan masuk ke oven dan jadilah bakpia kering. Bagiku, aku lebih suka bakpia kering. Bau gosong serta tekstur renyah dan agak pahit menjadi sensasi rasa tersendiri untukku.

Saat aku beranjak remaja, aku sempat termakan omongan teman-teman mengenai rumor pabrik bakpia di dekat rumahku itu.

“Pemilik pabrik memelihara pocong sebagai pesugihan,” kata salah satu temanku.

“Iya, tetanggaku yang punya indera keenam pernah melihat ada pocong ngeces di kuali besar yang dipakai memasak isian bakpia waktu dia beli ke sana,” sahut temanku yang lain.

Sejak mendengar hal itu, aku sudah tak pernah mau lagi makan bakpia. Aku membayangkan, jika benar kata teman-temanku, berarti selama ini aku makan iler pocong dong. Jangankan makan, diminta tolong ibu sekadar membeli pun aku sudah tidak mau. Aku khawatir jika sepulang dari sana, ada pocong yang ikut gonceng sepeda dan turut pulang bersamaku. Aku bergidik ngeri mengingat hal itu.

“Pemiliknya jadi tumbal dari pocong peliharaannya sendiri. Beberapa hari sebelum meninggal, tetangga sekitar sering mendengar keributan seperti perang. Mungkin pemiliknya bertarung dengan pocong. Dan karena tidak ada kesepakatan, akhirnya pocongnya menghabisi tuannya sendiri,” jelas temanku suatu kali.

Sebenarnya aku bukan tak percaya hal-hal begitu, hanya saja ketakutanku lebih besar dari pikiran sehatku. Aku yang memang dasarnya penakut, selalu menelan mentah setiap cerita mistis yang dikisahkan padaku. Tentu saja hal itu yang sering membuatku tersiksa jika malam tiba. Aku menjadi takut ke kamar mandi sendirian. Apalagi, merasa sering diawasi saat berada di kamar seorang diri. Karenanya, aku selalu berusaha menghindar dari obrolan semacamnya.

Seiring berjalannya waktu, terdengar kabar kalau pabrik bakpia bangkrut karena masalah internal. Usaha bersama milik kakak beradik itu mulai koleps sejak keduanya sering bertengkar akibat penjualan yang semakin hari semakin menurun. Entah apa pun alasannya, sebenarnya aku tidak terlalu peduli. Hanya, sejak itu aku mulai menganggap bahwa tidak semua persoalan harus disangkutkan dengan hal-hal mistis.

Aku ingat, aku baru kembali makan bakpia sekitar 5 tahun lalu. Saat itu aku pulang kuliah. Mendapati 3 kotak bakpia di meja makan yang masing-masing hanya tinggal beberapa buah. Karena lapar, dan aku sepertinya sudah lupa dengan cerita masa kecil dulu, aku mencomot bakpia dan menghabiskannya sekaligus. Ada rasa keju, cokelat dan durian. Enak sekali. Kelezatannya seperti berkali-kali lipat dari bakpia yang kukenal dulu. Lebih mewah, lebih gurih, dan yang pasti saat aku memakannya, tak pernah terlintas di otakku bahwa pemiliknya mungkin saja memiliki pocong sebagai penglaris.

Aku agak menyesal, betapa kupernya aku selama ini. Kisah-kisah masa kecil dulu sempat membuatku ketinggalan zaman. Kini ada banyak sekali merk bakpia yang dijual di toko oleh-oleh, mungkin ada puluhan. Juga banyak otlet baru bermunculan dengan produk bakpia sebagai unggulan mereka. Aku telah melewatkan metamorfosis rasa bakpia. Padahal, jika ada teman atau saudara datang, bakpia selalu menjadi opsi pertama untuk diberikan kepada mereka sebagai buah tangan. Tak apa, selama bakpia belum punah dari peredaran, aku tetap masih beruntung bukan?***

Curhat

Alasan Sederhana

Curhat Fathia

Dua hari lalu, sahabat SMA-ku yang biasa kupanggil Nono, mengirim pesan bahwa ia akan ke Semarang dalam waktu dekat. Kakak lelakinya akan bertunangan, jadi ia akan ada di Semarang selama seminggu. Tentu aku senang. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku, jadi kami berjanji akan sering bertemu. Entah ia ke rumahku, atau sebaliknya. Dan pada kenyataannya, Nono yang selalu ingin ke rumahku.

“Masakan Ibu memang top,” puji Nono usai menyeruput sayur asem di depannya. Kedua jempol tangannya terangkat sembari menatap ibuku dengan wajah semringah.

Ibu hanya menanggapi dengan senyuman, lalu meminta kami untuk melanjutkan makan. Setelahnya, ibu kembali ke ruang tengah untuk meneruskan menjahit baju pesanan tetangga.

“Kayaknya aku bakalan betah di sini,” lanjut Nono.

“Kalau begitu sering-seringlah pulang kampung,” jawabku.

“Ah, kamu kan tahu sendiri tujuanku merantau. Kalau bukan karena kakakku, rasanya malas pulang.”

Nono dari keluarga broken home. Sejak kedua orangtuanya bercerai saat ia masih SD, ia dan kakaknya tinggal bersama ibunya di Semarang. Sedangkan ayahnya, ada di Lampung dan sudah menikah lagi. Nono pernah bercerita, kalau ibunya sibuk kerja dan mereka jarang berinteraksi kecuali untuk keperluan sekolah. Karena itu, saat SMA, hampir setiap hari ia main ke rumahku. Ibuku yang memang kesehariannya di rumah, ditambah suka cerita dan pintar memasak, membuat Nono betah. Ia bahkan sudah menganggap ibuku sebagai ibunya juga.

Aku mengambil secuil bandeng presto dan kuletakkan di piringnya. “Aku yang goreng tadi, khusus aku masuk ke dapur demi menyambut kedatanganmu,” kataku mengalihkan topik pembicaraan. Sejak dulu, aku memang tidak pandai bicara. Aku lebih senang mendengarkan. Menurutku, setiap cerita tidak harus mendapat reaksi. Meski begitu, bukan aku tak peduli. Aku baru akan memberi komentar atau masukan jika diminta. Dan untuk banyak kasus, orang curhat biasanya hanya butuh pelampiasan.

Aku dan Nono makan sembari mengobrol banyak hal. Tentang pekerjaan Nono, pacarnya, atau Bandung. Sesekali aku juga bercerita tentang pekerjaanku dan beberapa teman-teman SMA yang masih sering kontak denganku.

“Btw kok kamu bisa kerja di rumah sakit sih, bukannya dulu kamu phobia darah ya?” tanya Nono.

“Iya juga ya, kok bisa ya?” sahutku asal.

Nono menanggapi dengan menceritakan ulang saat dulu kami berdua jatuh dari sepeda motor. Ingatanku melayang pada kejadian itu. Aku duduk di depan, karenanya aku lebih siap saat merasa kendaraanku akan menyerempet sepeda motor lain. Karena tak sempat mengerem, aku banting stir ke kiri dan menabrak pohon sebelum akhirnya jatuh. Nono yang saat itu kugonceng, mengalami luka cukup parah. Darah tak berhenti keluar dari bibirnya karena membentur aspal. Aku yang saat itu sebenarnya hanya mengalami luka lecet di tangan, justru membuat banyak orang khawatir dan kami akhirnya dibawa ke UGD. Aku ingat, sesaat setelah aku melihat wajah Nono, perutku tiba-tiba mual, seiring dengan keringat dingin membasahi tubuhku. Aku merasa ada banyak sekali kunang-kunang di atas kepalaku. Dan setelahnya, pandanganku gelap. Aku masih bisa mendengar suara-suara di sekitarku, tapi tubuhku sudah tak berdaya.

“Nih, kenang-kenangan kejadian waktu itu.” Nono memonyongkan mulut. Memperlihatkan keloid yang ada di bawah bibirnya. “Untung nggak sampai mengurangi ketampananku,” lanjutnya lagi.

Dulu, aku sempat merasa sangat bersalah padanya. Hampir setiap hari selama seminggu penuh aku ke rumah Nono menenteng rantang berisi masakan ibu. Aku khawatir 4 jahitan yang nangkring di bawah bibirnya itu akan meninggalkan bekas luka. Meski murni kecelakaan yang tidak kusengaja, tapi aku merasa bertanggung jawab padanya.

Sejak kejadian itu, setiap kali aku melihat darah, reaksi tubuhku hampir sama. Aku hanya berusaha mengantisipasi dengan segera beristirahat, atau minum teh hangat. Jika berada di tempat yang tidak memungkinkan, setidaknya aku berusaha untuk segera mengalihkan pandangan atau pikiranku pada sesuatu yang menyenangkan. Dan sejauh ini, itu sangat membantu. Kalau dipikir-pikir, wajar Nono bertanya seperti tadi. Biasanya, orang cenderung menghindar pada hal-hal yang membuatnya tidak nyaman. Contoh kecil saja, Nono. Ia tidak suka pelajaran matematika. Karenanya dia memilih mengambil jurusan komunikasi, di luar kota pula, karena ia juga tidak nyaman tinggal bersama ibunya.

Sebenarnya, sangat mudah bagiku menjawab pertanyaan Nono. Ibu memang tidak pernah mengatur kedua kakakku dan aku ingin mengambil jurusan apa saat kuliah, tapi di setiap kesempatan, ibu berulang kali cerita mengenai keinginannya menjadi perawat. Ibu bahkan sempat menyesalkan kematian ayah. Kata ibu, jika saja saat itu tidak terlambat merespons keluhan ayah, mungkin saat ini ayah masih berada di tengah-tengah kami. Menurutnya, ketidaktahuan ibu-lah yang menjadi penyebab ayah meninggal. Terkadang, rasa bersalah pada orang yang sangat dicintai lebih berbahaya dibanding penyakit mematikan yang ada di dunia. Ibu pernah jatuh sakit selama beberapa minggu sejak kematian ayah. Seiring berjalannya waktu, ibu mulai bisa menerima kepergian ayah sebagai takdir yang tak terelakkan. Sejak itu, aku sering ketakutan saat ibu sakit. Aku selalu berpikir dan bertindak berlebihan. Kadang-kadang, saat ibu meriang karena flu, aku buru-buru ingin membawanya ke rumah sakit. Ibu bahkan kerap menertawakan tingkahku. Membuatnya harus berulang kali meyakinkanku bahwa dirinya memang baik-baik saja.

Aku sangat menyayangi ibu. Rasa takut akan kehilangan ibu membuatku sering memikirkan ucapannya. Aku tidak mau suatu saat mengalami rasa bersalah seperti yang ibu rasakan terhadap ayah. Apalagi, ibu adalah satu-satunya orangtua yang kumiliki. Karenanya, saat itu dengan mudah aku memutuskan masuk jurusan keperawatan setelah lulus SMA. Aku bahkan tidak menganggap phobia darah yang kumiliki bisa menjadi penghalang. Meski dalam perjalanannya, aku butuh energi ekstra untuk melawannya. Aku sering mual saat membaca teori atau menonton video perawatan pada luka. Belum lagi, beberapa kali aku mengalami keringat dingin saat praktik. Ada 1 kejadian paling berkesan di hidupku, yaitu saat aku mendapat shift malam di puskesmas dan diminta bidan senior untuk mendampinginya saat membantu seorang ibu menjalani proses persalinan. Usai bayi lelaki montok itu berhasil keluar dengan selamat, begitu pun ibunya, aku mohon izin pada bidan senior untuk ke ruang perawat. Segera aku merebahkan diri dan beristirahat. Beruntung saat itu aku tidak sampai pingsan.

Sejak pengalaman itu, aku mulai belajar mengendalikan pikiranku. Aku membayangkan ketika sedang merawat luka, darah yang keluar dari tubuh pasien adalah cat air berwarna merah yang tak sengaja tumpah. Jadi aku hanya perlu membersihkannya. Saat menjahit luka, aku membayangkan sedang menyulam bunga pada sweater. Kadang, meski sudah membayangkan hal-hal indah seperti itu, reaksi-reaksi tak nyaman dari tubuhku tetap saja muncul. Setidaknya, kini aku sudah bisa mengendalikannya. Bahkan sekarang, aku bisa fokus bekerja tanpa perlu khawatir lagi. Aku mulai menikmati pekerjaanku. Apa yang kulakukan pada pasien, dan penerimaan mereka terhadapku menjadi hal yang paling kunikmati.

“Apa aku boleh menghabiskan sayur asemnya?” pinta Nono membuyarkan lamunanku. Wajah memelasnya terlihat konyol sekali.

Aku tertawa. “Tentu saja. Jika masih kurang aku akan minta ibu memasakkan lagi untukmu,” sahutku.***

Fathia

Anak perempuan yang sangat menyayangi ibu.

Curhat

Tahi Kucing

Curhat Sekar

Sebelum aku menceritakan apa yang saat ini terjadi di hidupku, aku ingin memberi apresiasi pada M. A. Edpe, atas keberaniannya berbagi pengalaman saat menjadi ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa). Kurasa tidak banyak orang memiliki kelapangan hati serta jiwa yang besar untuk mau mengakui. Tentu tidak ada seorang pun berkeinginan menderita, baik itu karena sakit fisik atau mental. Kuharap, semakin ke sini, orang-orang tidak hanya melek teknologi, tapi juga melek kepedulian. Banyak kenakalan dan penyimpangan perilaku yang sebenarnya hanya disebabkan kurangnya perhatian dari lingkungan terkecil: keluarga.

Atas dasar membaca curhatan semacam itu, aku akhirnya berani turut menuliskan apa yang menjadi pengalamanku. Jika ada orang mengatakan: hal tersulit adalah berdamai dengan diri sendiri. Menurutku, tidak sepenuhnya benar. Justru diri sendiri itulah, sesuatu yang paling dekat dan mudah dikendalikan oleh kita sendiri. Pengalaman pengendalian diri itu yang akan sedikit aku bagi. Mungkin bukan kisahnya, karena aku yakin setelah membaca ceritaku nanti, bisa jadi kalian akan kecewa karena sangat biasa-biasa saja.

2 tahun lalu, meski dengan nilai pas-pasan, aku berhasil wisuda bersama sebagian besar adik tingkatku. Semua teman seangkatanku yang 1 jurusan, telah lebih dulu lulus. Jika bukan karena memikirkan biaya yang sudah terlanjur dikeluarkan orangtua, mungkin aku lebih memilih di-DO. Tapi, apa pun alasannya, akulah yang sejak awal ngotot untuk mengambil jurusan di kampus yang kujalani saat itu. Jadi, harga diriku tercambuk. Rasa ingin bertanggung jawab dan gengsi yang tinggi masih lebih kuat menguasai diriku. Seburuk apa pun hasilnya, sesulit apa pun prosesnya, aku harus mendapat gelar sarjanaku. Aku beruntung, meski sempat tertunda lama karena urusan hati, aku berhasil merampungkan apa yang sudah pernah kumulai.

Saat itu aku baru saja menyelesaikan PKL (Praktik Kerja Lapangan), ketika tiba-tiba aku harus putus dengan pacarku. Kami sudah menjalani pacaran hampir setahun. Belum lama memang, tapi lelaki itu berhasil memindahkan hingga hampir 100% gajiku saat menjalani kerja paruh waktu di McD, demi memenuhi kebutuhan hidupnya (meski masih memiliki keluarga, dia punya prinsip: jika sudah lulus kuliah, maka tanggung jawab orangtua sudah terlepas, baik itu belum atau sudah bekerja).

Pacarku telah lulus kuliah dan saat itu dalam pencarian kerja. Sebenarnya menurutku dia bukan pemalas, hanya terlalu kaku. Dia cuma mengajukan lamaran kerja ke perusahaan-perusahaan bonafit, atau yang menawarkan gaji cukup tinggi saja. Padahal, fresh graduate tetaplah fresh graduate. Apalagi dirinya, tidak pernah terlibat dalam kegiatan apa pun di kampus, dan belum pernah sama sekali bekerja. Dia bukan anak pengusaha, juga tidak punya koneksi di tempat-tempat strategis. Apa yang bisa dia harapkan? Tentu saja aku.

Ada orang bijak mengatakan: orang yang sedang mabuk cinta itu ibarat berada di fase tahi kucing berasa cokelat. Banyak teman-temanku memberi nasihat, entah membukakan mataku tentang betapa parasitnya pacarku. Atau terlalu dininya aku mengartikan kesetiaan dalam kondisi tersulit. Tapi yang namanya sedang mabuk, pikiran dan seluruh indera seakan tak berfungsi. Perasaan saja yang mendominasi. Saat itu yang kupikir adalah memberi dukungan padanya agar terus semangat mencari kerja. Dan aku, bukannya fokus pada kuliah, aku malah mencari tambahan 1 lagi kerja paruh waktu.

Sekitar 3 bulan kemudian, pacarku akhirnya mendapat panggilan interview dan diterima kerja di Jakarta. Tentu aku mendukungnya. Ketika itu, bagiku jarak bukanlah masalah. Kami masih sering berhubungan lewat telepon, bahkan hampir setiap hari kami intens memberi kabar. Pacarku bilang biaya hidup di Jakarta sangat tinggi. Gaji yang diperolehnya dengan status fresh graduate masih sangat mepet. Mendengar pacarku mengatakan begitu, terlebih di saat aku pegang tabungan hasil kerjaku, jelas aku tidak tega. Ada perasaan ingin menunjukkan kepadanya kalau aku adalah perempuan yang mau diajak berjuang dari bawah. Mendukung pasangan meraih kesuksesan demi masa depan. Bukankah kelak aku juga yang akan menerima hasilnya?

Oh iya, sampai di sini aku menjadi ingat. Sebelumnya aku juga sempat membaca curhatan yang ditulis Padmi. Dia mengatakan betapa bangsatnya rasa kangen. Kamu tidak sendirian, Padmi. Aku pun pernah merasakannya. Jarak ternyata benar-benar menyebalkan. Aku menganalogikannya dengan rasa gatal di bagian punggung yang aku tidak mampu menggaruknya. Pokoknya sangat menyiksa.

Secara bertahap, pacarku mulai jarang menghubungiku. Awal-awal aku masih bisa berpikir positif jika dia sibuk mengurus pekerjaan. Sampai akhirnya, menjelang lebaran aku bertanya padanya kapan dia pulang.

“Tahun ini aku belum dapat cuti, jadi aku tidak bisa pulang,” jawab pacarku di telepon.

Aku kecewa. Hampir setahun kami tidak pernah bertemu, dan mungkin dia baru akan pulang lebaran tahun depan. Lagi-lagi aku pasrah. Mengatakan padanya untuk tetap semangat dan menjaga kesehatan. Tidak lupa aku bilang kalau aku sangat mencintainya. Dia pun membalas dengan ungkapan yang sama.

Lebaran hari pertama, sengaja aku berencana akan mengunjungi orangtua pacarku. Karena biasanya, aku sekeluarga akan ke Pekalongan di hari kedua. Selepas magrib, aku mengajak seorang temanku ke rumah pacarku. Ketika sampai, di halaman telah terparkir beberapa mobil dan di dalam tampak seperti sedang ada acara. Awalnya aku sempat ragu, takut mengganggu acara keluarga yang sepertinya masih berlangsung. Tapi pikirku, karena sudah sampai, dan lagi maksudku hanya ingin silaturahmi, jadi aku tetap mengetuk pintu.

Betapa terkejutnya aku. Saat pintu terbuka, nampak pacarku tengah berdiri dengan seorang perempuan berhijab di sebelahnya. Memperlihatkan  senyuman terbaik mereka, dengan tangan masing-masing terangkat setinggi dada. Tubuhku membeku. Pikiranku entah ke mana. Meski begitu, aku masih bisa merasakan genggaman erat temanku serta elusan tangannya yang lain di punggungku.

“Aku tidak menyangka kamu membohongiku,” ungkapku saat pacarku membawaku duduk agak jauh dari kerumunaan.

“Aku minta maaf. Aku terpaksa menuruti perjodohan ini,” jawab pacarku.

“Omong kosong!”

“Aku harap kamu bisa mengerti. Aku yakin kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dariku.”

“Tentu saja. Banyak lelaki brengsek di luar sana yang masih lebih baik darimu.”

Aku merasa menjadi wanita paling kuat malam itu. Aku tidak menangis. Aku ingat sebelum pamit pada orangtua pacarku, eh mantan pacarku, aku masih sempat mengucapkan selamat atas pertunangan itu. Bahkan, aku juga sempat bersalaman dengan perempuan berhijab merah jambu. Oh Tuhan, dilihat dari sisi mana pun, aku masih setingkat lebih cantik dari dirinya.

Setelahnya aku memutuskan tidur di rumah temanku. Menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Aku benar-benar kacau. Banyak hal berputar di otakku. Mencari di mana letak kesalahanku, hingga lelaki bangsat yang tak tahu diuntung itu lebih memilih perempuan lain. Semakin aku mencari tahu, maka aku semakin sadar betapa tidak beruntungnya aku. Membuang-buang waktu, tenaga, dan perasaan hanya demi lelaki yang tak pernah menghargaiku. Temanku sangat pengertian. Ia sama sekali tidak menasihatiku. Ia memberiku waktu dan tempat seluas-luasnya untuk menumpahkan kekecewaanku. Ia bahkan menemaniku hingga pagi. Mendengar ocehanku tanpa sedikit pun membalas. Malam itu, aku baru sadar, jika selama pacaran dengan lelaki parasit yang sempat begitu kucintai, rupanya setiap harinya aku makan tahi kucing.***

Sekar

Tidak ada keterangan.

Curhat

Masalah Perut, 1000 Hari Kematian, dan Dongeng Prajurit Sandi

Curhat Septi Rusdiyana

Rabu, 6 November 2024. Pagi yang cukup merepotkan untukku. Bukan tentang pekerjaan rumah tangga, anak yang sulit dibangunkan, atau teriakan keras dari ibuku agar kami lekas bersiap-siap. Melainkan, sejak subuh aku sudah mondar-mandir ke toilet akibat diare.

Hari itu kami sekeluarga akan ke Wonosari. Melihat kondisiku, aku berniat untuk tidak ikut saja. Namun setelah ibu bilang kalau adikku tidak jadi ikut karena baru pulang shift malam, rasanya kok tidak tega jika aku pun hanya rebahan di rumah. Aku memutuskan makan 2 pisang ambon dan menenggak segelas besar air putih. Kami (bapak, ibu, aku dan anakku yang paling kecil) akhirnya berangkat, sesaat setelah aku pamit pada suamiku yang akan mengantar anak pertama kami sekolah.

Sepanjang perjalanan, aku memilih tidur. Membiarkan anakku berceloteh dengan kakung dan utinya. Aku baru terbangun saat kendaraan berhenti di bahu jalan. Ibu turun untuk membeli kembang. Sejak itu, mataku sudah tak lagi bisa terpejam. Aku bersyukur, diareku sudah mampet, digantikan rasa mual yang tidak terlalu merepotkan. Kami mampir untuk nyekar ke makam simbah.

Di sepanjang jalan, tanaman trukecu tumbuh subur. Warga desa sering mengonsumsi sebagai lalapan bersama jangan lombok, atau sambelan (tiwul yang dicampur sambal bawang mentah, dimakan bersama-sama di cobek tanah liat). Benar saja, setelah kami selesai nyekar, seseorang menyapa ibu, menawari kami turut gabung untuk sambelan. Bukan dengan lalap daun trukecu, melainkan lauk puthul bacem. Ibu yang memang tidak memiliki masalah alergi, tentu saja tidak menolak saat seplastik puthul diserahkan untuk dibawa pulang. Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah siwo (sebutan untuk pakdhe atau budhe, sering disingkat dengan wo), tempat di mana akan diselenggarakan acara peringatan 1000 hari kematian wo kakung pada malam harinya.

Suasana rumah telah ramai. Banyak tetangga dan kerabat datang membantu mempersiapkan segala sesuatu. Kami, lebih tepatnya aku, agak beruntung karena tiba di saat pekerjaan sudah rampung. Bingkisan sudah siap dibagikan. Berbeda memang dengan yang biasa terjadi di kampung tempat tinggalku. Di sini, bingkisan dibagikan ke tetangga sekitar dan kerabat pada siang hari.

Selepas zuhur, Pak Kaum datang. Usai sebentar macit (minum teh atau kopi ditemani makanan kecil) seluruh kerabat berbondong pergi ke makam bersama Pak Kaum dengan berjalan kaki. Lagi-lagi, aku kembali beruntung, diminta agar tetap tinggal untuk menjaga rumah serta mengawasi anakku dan keponakan saja. Kedua bocah perempuan itu seperti tak kehabisan energi, setelah bosan bermain masak-masakan di dalam rumah, mereka pergi ke belakang untuk memberi makan sapi dan kambing. Sangat bertolak belakang denganku, rebahan di lantai ruang tamu dan sempat beberapa kali terlelap. Aku benar-benar terjaga saat ruang tamu sudah kembali ramai. Hidangan makan siang pun sudah tertata rapi. Aku seperti tamu tak tahu malu.

Kami makan bersama. Menyantap nikmatnya hidangan khas desa. Sejenak membuatku lupa dengan deraan mual dan pusing. Kuambil secentong nasi putih, jangan ndeso, oseng soun serta telur dadar. Kusantap lahap ditemani cerita wo P, wo S dan lik J yang sedang menceritakan kembali perihal pertunjukan ketoprak di lapangan balai desa beberapa hari sebelumnya.

“Aku yo, Ti. Nek mambu sekolah koyo mamakmu, aku yo enjoh dadi sinden (Aku ya, Ti. Kalau merasakan bisa sekolah seperti ibumu, aku juga bisa menjadi sinden),” terang wo P padaku usai menyanyikan dua baris langgam jawa yang aku tidak mengerti dengan suara yang memang khas pesinden.

Aku sempat membantah kalau menjadi sinden tidak perlu sekolah. Tapi wo P protes dengan suara keras, katanya zaman dulu untuk bisa belajar jadi sinden, harus sekolah. Aku akhirnya mengangguk saja. Kembali mencomot telur dadar dan mengambil secentong nasi lagi. Sepertinya nafsu makanku membaik.

Obrolan siwo dan bulik masih berlanjut. Meski kami duduk berdekatan, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka berbicara dengan suara keras, bahkan terasa sedang melihat pertengkaran. Aku pikir, hal itu mungkin karena terbiasa bertani di ladang, atau jarak antar rumah yang cukup jauh, sehingga agar bisa tetap ngobrol, mereka harus bicara dengan suara lantang. Tak heran, saat kecil dulu, setiap kali pergi ke rumah simbah dan menginap, aku selalu tidak bisa tidur saat malam tiba. Para siwo atau simbah pasti bercengkrama semalam suntuk. Ah, kadang aku jadi merindukan kembali saat-saat dulu.

“Aku mangkel tenan karo sing main kendang. Wetengku nganti mules leh ngenteni. Kudune wis wayahe kendang muni, lha kok ditunggu-tunggu ora muni-muni (Aku jengkel sekali sama pemain kendang. Perutku sampai mulas menunggu. Seharusnya sudah saatnya kendang dipukul, tapi ditunggu-tunggu tidak juga bunyi).” Wo P kembali mengomel. Setelahnya ia juga memperagakan betapa tidak cocoknya pemeran prameswari. Menurutnya, perempuan itu terlalu kurus, seperti pelepah pisang yang dipakaikan jarik lalu diikat stagen. Bahkan, wo P juga mengatakan kalau ia lebih cocok menjadi pemeran tokoh prameswari. Hal itu disambut tawa oleh wo S dan lik J, juga termasuk aku.

Lik J menimpali, kalau menurutnya pak Dukuh memerankan prajurit Sandi dengan sangat baik. Perawakan yang gagah, serta penghayatan pada lakon, membuat pertunjukan begitu menarik. Ditambah pak RT yang memerankan patih juga sangat cocok. Bahkan wo S menambahi, kalau anak sopir pickup kampung sebelah memerankan begawan dengan sempurna. Tubuhnya yang kekar, tinggi dan bersuara berat itu mampu menarik hatinya. Ketiganya masih lanjut menceritakan kembali kesan tokoh pada pertunjukan.

Aku mengakhiri makan siang nikmatku dengan hiburan yang sangat menyenangkan. Aku bahkan sempat mencari tahu cerita telik sandi yang diceritakan tadi melalui Youtube. Hanya sekadar ingin tahu tokoh-tokohnya saja. Mungkin nanti aku akan melihatnya secara penuh jika sudah ada waktu luang.

Malam akhirnya tiba, acara pengajian 1000 hari siwo diselenggarakan dengan membaca Yasin bersama-sama. Selesai acara, ibu sempat menawariku agar pulang esok hari. Tapi, karena kepalaku semakin sakit, aku menyampaikan untuk pulang sesuai rencana saja, supaya aku bisa istirahat dan tidur di rumah. Ibu mengerti. Kami akhirnya pulang.

Dalam perjalanan, aku merasa terganggu dengan bau tidak sedap, awalnya kupikir anakku kentut, tapi kok terus-terusan. Hingga saat sampai di rest area bukit pathuk, aku tidak bisa menahan keinginan untuk muntah. Kami menepi dan aku mengeluarkan sebanyak-banyaknya isi perut di pinggir jalan. Saat itulah, bapak akhirnya mengaku, kalau di bagasi ia menyimpan sekarung kecil kotoran kambing kering untuk dibawa pulang sebagai pupuk. Aku tidak habis pikir, bukankah di rumah sudah cukup dengan pupuk dari kotoran ayam dan burung? Untuk apa bapak harus membawa pulang sekarung penuh kotoran kambing, padahal tanaman cabainya juga tidak luas.

Aku akhirnya pasrah. Bertukar tempat duduk dengan ibu yang sebelumnya di kursi depan, memakai masker, serta mengoleskan minyak kayu putih di masker itu. Kembali terulang seperti saat berangkat, aku memilih tidur sepanjang perjalanan hingga tiba di rumah dengan selamat.***

Septi Rusdiyana

Tinggal di Yogya

Curhat

Korek Api Itu Masih Menyala

Curhat: Dhatu Jenar

Kini aku telah resmi bertunangan dengan pacarku. Meski hanya dihadiri oleh dua keluarga, acara berjalan lancar dan penuh haru. Terlebih bagi mamaku. Matanya selalu basah dari awal hingga akhir acara. Aku satu-satunya anak perempuannya yang akan melepas masa lajang. Dua kakak lelakiku belum ingin menikah. Sedangkan adik lelakiku masih SMP.

Dulu, aku dan pacarku sepakat untuk langsung menikah saja. Tak perlu pakai acara tunangan segala. Tapi siapa sangka, bosnya mengirim pacarku untuk mengurus kantor cabang di Palembang selama sebulan. Karenanya, pacarku berubah pikiran. Agar terlihat serius dan romantis katanya.

Sebenarnya, bukan soal pertunanganku yang ingin kuceritakan, tapi soal R. Sebelumnya aku pernah mengatakan kalau akan menemuinya di kafe, sehari setelah perjumpaan awalku dengannya. Waktu itu aku sudah menunggu di kafe yang sama selama hampir sepuluh menit, hingga R mengirim pesan kalau mendadak ibunya masuk rumah sakit. Jadi terpaksa pertemuan itu gagal ia tepati. Aku tidak marah. Saat itu spontan aku khawatir dengan keadaan ibunya. Aku memutuskan menelepon.

Baru dering pertama, R langsung mengangkat panggilanku. Suaranya terdengar lesu.

“Ibu mendadak pingsan,” ujar R.

Aku turut prihatin. Tanpa sadar aku menawarkan diri menemaninya. Aku bahkan tidak membuang banyak waktuku untuk segera menyusul ke rumah sakit yang disebutkan.

Sesampainya di rumah sakit, aku menuju bangsal tempat ibu R dirawat. R terlihat sedang tidur di sofa panjang. Karena tidak ingin mengganggu, aku meletakkan kursi di samping ranjang ibunya. Kedua ibu anak itu terlelap. Bergantian aku memperhatikan mereka. Sejenak, aku ingat sesuatu.

Dulu, jika sedang bertengkar dengan R, aku sering menemui ibunya di rumah. Jika pasangan lain biasanya memilih saling menghindar, aku tidak begitu. Aku senang berdiam diri di belakang rumah bersama ibu R. Menyirami tanaman-tanaman yang ada di sana. Atau sekadar memotong daun-daun kering. Wanita yang dulu juga kupanggil dengan sebutan ibu itu, sangat hafal dengan kebiasanku tersebut. Tanpa berusaha mencari tahu, akulah yang malah lebih dulu bercerita mengenai apa yang menjadi penyebab pertengkaran kami. Meski aku tahu, kadang alasannya hal remeh temeh, tapi ibu tidak pernah memberi respons atau nasihat berlebihan. Kadang, ibu hanya tertawa.

“Kamu sudah lama datang? Kenapa tidak membangunkan aku?” tanya R membuatku agak terkejut. “Ngelamun ya?” lanjutnya.

Aku menggeleng. Refleks aku bangkit, mendekati R dan duduk di sebelahnya.

“Sepertinya kamu kurang tidur,” sahutku.

“Aku hanya butuh kopi.” Kemudian R mengajakku ke kantin rumah sakit. Awalnya aku ragu, mengingat ibu tidak ada yang menunggu. R adalah anak tunggal, dan ayahnya juga sudah meninggal. Bagaimana jika nanti tiba-tiba ibu bangun dan membutuhkan sesuatu, sedangkan kami tidak berada di sisinya. Namun R menjelaskan padaku kalau akan menitipkannya pada suster. Dan lagi, kami hanya pergi sebentar saja. Aku akhirnya menurut.

Di kantin, R memesan secangkir kopi panas dan sepotong donat. Aku hanya minum jus apel.

“Maaf ya, kamu jadi harus repot-repot kemari.” R tampak tidak begitu berselera makan. Ia sangat terlihat memaksakan diri. Sepertinya itu dilakukan sebab dia butuh sesuatu sekadar untuk mengganjal perutnya.

“Jangan begitu, ibumu jauh lebih penting,” ujarku.

“Kamu juga penting,” sahut R cepat.

Aku menatap R yang sedang menatapku juga. Sorot matanya lemah. Wajahnya terlihat lelah. Aku tidak berani membalas kalimatnya. Bukan karena takut salah menanggapi, tapi memang tidak tahu harus bagaimana membalasnya.

R mulai bercerita tentang masa lalu. Tentang apa yang dilakukannya setelah lulus SMA, juga mengapa ia meninggalkanku tanpa kabar. R hanya sempat menitipkan pesan pada ibunya, bahwa jika aku datang menemuinya, maka ibu diminta membertahuku bahwa kelak jika situasi sudah memungkinkan, R akan menghubungiku. Tapi kenyataannya, sampai pertemuan kami kemarin di kafe, dia tidak juga memberiku kabar.

“Aku memang salah. Tapi perlu kamu tahu, aku hanya tidak ingin melihatmu sedih waktu itu,” lanjut R.

Aku tersenyum sinis mendengarnya. Kurasa itu hanya alasan klise yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Aku pikir kalau R tidak benar-benar menganggap serius hubungan kami. Jadi baginya, tidak penting apakah aku setuju atau tidak dengan keputusannya. Toh kenyataannya R memang memilih pergi. Barangkali cintanya saat itu terhadapku dianggap sekadar cinta monyet.

Aku kesal. Entah apa yang membuatku malah merasakan lagi kekecewaan yang kurasakan dulu. Seolah aku kembali ke masa-masa di mana sejak saat itu, waktu seolah berhenti menceritakan kisah tentangku dan R.

“Aku minta maaf,” sesal R.

Aku dapat melihat kesungguhan pada ucapannya.

“Aku benar-benar hanya ingin bekerja dan mengumpulkan banyak uang,” lanjutnya lagi.

Sungguh, aku kembali kesal. Dia pikir aku akan dengan mudah memakluminya. Meski uang bisa berarti segalanya, tapi uang bisa dicari. Di mana pun, jika dia mau. Kenapa harus ke luar negeri? Lalu brengkseknya lagi, kenapa harus seperti penjahat yang melarikan diri.

Aku memilih tidak menanggapi ucapannya. Dan sepertinya, R juga tidak terlihat bersemangat untuk melanjutkan ucapannya. Bagiku, satu kata sudah terpatri di otakku. Kalau dia meninggalkanku karena uang. Dan itu sudah cukup membuatku mengerti.

Aku pulang larut dari rumah sakit. Aku bahkan menghubungi pacarku saat masih di jalan. Beruntung, dia tidak banyak bertanya. Hanya memintaku berhati-hati, dan mengatakan betapa tidak sabarnya ia bertunangan denganku. Aku sedikit lega. Setidaknya hal itu membuatku tidak harus membalas dengan berbohong.

Aku menyetir pelan. Kembali teringat kejadian saat aku masih berada di bangsal rumah sakit bersama R tadi. Sengaja waktu itu aku memberi tahunya soal rencanaku bertunangan. Menurutku itu perlu. Karena R terus saja membahas tentang perasaannya padaku. Juga perihal keinginannya untuk memperbaiki hubungan. Meski R bilang dia mengerti, lalu berkata jika ia menghargai keputusanku, kekecewaan di wajahnya tidak berhasil disembunyikan.

Sejenak aku merasa puas. Seolah telah berhasil menutup masa lalu dengan benar. Hingga saat aku pamit, sesaat sebelum tanganku menyentuh pintu, R menarik tubuhku mendekat ke arahnya. Bukan hanya itu saja, tanpa sempat aku menghindar, R telah meraih bibirku. Celakanya, aku membalasnya. Dan lagi, saat R mengatakan agar memintaku datang kembali keesokan harinya, aku pun menyetujui. Aku bahkan lupa jika esok aku memiliki janji akan menemani pacarku  ke rumah eyang.

Malam itu, aku benar-benar tidak bisa tidur. Memikirkan tentang bagaimana caraku untuk kembali beralasan pada pacarku. Ah, betapa rumitnya. Bukankah dengan mengatakan alasan sebenarnya kepada R, justru semua akan terasa lebih mudah. Kenapa aku malah jadi pusing sendiri.

Benar saja, esok harinya, aku kembali ke rumah sakit menemani R. Termasuk, keesokan harinya lagi. Aku tidak pernah menepati janjiku pada pacarku, hingga hari pertunanganku pun tiba.

Apakah kalian tahu, sepulang dari bandara untuk mengantar kepergian pacarku ke Palembang, aku sudah membuat janji dengan R untuk bertemu lagi. Kurasa, aku akan bisa berteman dengan mantanku itu. Ya, aku akan mencobanya. Sebelum hal itu bisa benar-benar terealisasi, aku akan tetap menyembunyikannya dari pacarku. Soal apakah perlu aku ceritakan sebelum menikah, baru akan kupikirkan nanti saja. Lagipula, pernikahanku masih sebulan lagi.***

Dhatu Jenar

Perempuan penyendiri yang suka buah duku.