Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.

Puisi

Puisi Agus Widiey

Surat yang Kehilangan Alamatnya

Maafkan kerinduanku, dik.

Bila kau harus kuberi tahu

Kota ini menyimpan kesunyianku,

Dan entah kesunyianmu jugakah?

Kini tinggal sisa-sisa kenangan.

Setelah jarak yang katanya hanya dapat diraba angan

Pelan-pelan menebas harapan demi harapan.

Atau barangkali masih ada,

Hal-hal lain yang berharga untuk kita jadikan alamat,

Agar kita bisa kembali pada keselamatan takdir

Meski masa lalu akan melahirkan banjir kerinduan

Dan masa depan menyimpan beragam kegelisahan.

Yogyakarta, 2023


Sebuah Bencana di Masa Lalu

     –Nabi Nuh AS

Telah ia tumpahkan banjir melebihi air mata perempuan

Yang bertahun-tahun menyimpan kesunyian juga kerinduan.

Bagi mereka yang bertuhan pada sosok berhala

Yang mereka cipta dan menganggapnya maha atas segala.

Tiba-tiba Nuh datang

Berbekal sebuah kapal

Dengan niat membawa

Mereka dari duka peristiwa.

“Bismillahi Majreha Wa Mursaha”

Tapi mereka yang mencari Tuhannya sendiri

Tanpa mengikuti catatan nabi,

Bahkan putranya yang bernama Kan’an

Hanyut diantara kesesatan

Karena menolak suatu ajaran

Yang telah dititahkan tuhan

Hingga akhirnya tenggelam

Dalam maut kesedihan.

Tuhan, apakah iman yang ilmiah

Masih kalah ketimbang yang alamiah?

Yogyakarta, 2023


Falsafah Waktu

Demi waktu yang tak pernah tertata dengan rapi

Aku menolak, bila ia hanya diukur dengan angka-angka

Sebab kerangka jam yang kita pandang

Dalam hidup nyaris tak akan pernah sama.

Misal kita berjalan di atas bumi Malioboro

Berbekal cinta dan rindu yang meluap di dada

Sungguh pertemuan adalah kebahagiaan tak terhingga

Bahkan mengutuk waktu yang terasa cepat berlalu

Apabila waktu harus menuntut kita jadi masalalu.

Sebaliknya, misal kita tak sengaja bertemu lagi di Vredeburg

Sebagai mantan kekasih yang saling memendam rasa dendam

Sungguh satu jam akan terasa seperti satu abad lamanya.

Maka, tak ada waktu yang menyimpan kebahagiaan

Kecuali napas kita sedang menghirup peristiwa istimewa

Juga tak ada waktu yang menyimpan malapetaka

Kecuali napas kita sedang menghembuskan peristiwa duka.

Yogyakarta, Desember, 2023


Selamat Membaca, Ibu

; Minatun

Minggu lalu puisiku dimuat

Orang-orang mengucapkan selamat

Tapi aku akan merasa lebih bahagia

Jika ibu jadi pembaca pertama.

Sering kali aku teringat

Pada kecerobohanku sendiri

Dan ibulah yang kerap mengajari

Agar memilih sesuatu dengan cermat.

–Sebagaimana ketika ibu membelikan baju

Dengan ukuran pas, dan sesuai warna kesukaanku–

Maka dari itu,

Aku belajar memilih kata

Dengan hemat dan cermat

Agar pengamat ikut merasa nikmat.

Selamat membaca, ibu

Kutulis puisi ini untukmu.

Yogyakarta, 2023


Falsafah Tuhan

Sebab mata  

Yang terlihat di hadapan kaca

Hanya mampu

Menatap yang ada di hadapanku.

Sedang hati

Yang nyaris tak kuketahui

Mampu menatap dan merasakan

Yang ada di luar nalar pikiran.

Mata yang di luar

Dekat cara ia menatap

Hati yang di dalam

Jauh cara ia menatap.

;begitulah cara kerja mata dan hati, kekasih.

Yogyakarta, 2024


Agus Widiey, Lahir di Sumenep, 17 Mei. Menulis Puisi, Cerpen, Cernak, Cermis, dan Resensi. Tulisannya tersebar di pelbagai media baik lokal maupun nasional. Sekarang tercatat sebagai mahasiswa Prodi Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Pernah memenangkan lomba cipta puisi yang diselenggarakan Majelis Sastra Bandung (2021). Anggota di komunitas Damar Korong(Sumenep).

Ragam

DI BAWAH JAM DINDING

Perempuan berkerudung merah di serambi masjid. Baju pun merah. Sosok yang indah. Aku melihatnya tanpa terpaan purnama. Lampu di situ temaram. Ia tetap merah, yang menyalakan malam.

Aku menyapanya sebelum raga masuk ke masjid. Kedatangan untuk ibadah dan obrolan buku.

Yang mengejutkan: buku dan pertanyaan. Pada saat masuk pintu gerbang dan berurusan pemeriksaan barang, petugas tampak curiga dan bingung. Aku membawa kantong plastik warna putih berukuran besar. Petugas mengangkatnya berat. Tangan membuka dan mulut bertanya: “untuk apa?” Ia bingung menemukan penjelasan buku dan masjid. Aku menyatakan bakal menghadiri obrolan buku di ruang perpustakaan. Masjid itu memang menyediakan perpustakaan: di ketinggian dan kecil. Petugas masih bingung saat aku menerangkan buku yang berat akan dibawa ke perpustakaan.

Yang kubawa: Sam Kok. Buku berukuran besar dan tebal, 5 jilid. Tanganku saat membawanya merasakan kesakitan. Kedatanganku membawa Sam Kok, yang nantinya diserahkan kepada pengarang terkenal. Padahal, malam itu obrolan buku bukan mengenai Sam Kok tapi Indonesia. Sekian langkah meninggalkan petugas pemeriksaan barang, aku tersenyum agak jengkel. Dugaanku: buku mau ditahan. Pikiran buruk terbuang setelah melihat “perempuan merah.”

Tas dan lima jilid Sam Kok naik ke perpustakaan. Aku menaruhnya di karpet, meninggalkan tanpa keraguan. Urusanku menyambut azan. Dari rumah, aku sudah berniat ingin shalat isya berjamaah di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo. Di atas karpet tebal, aku berhasil menunaikan ibadah sambil mata jelalatan.

Kembali ke perpustakaan yang tinggi. Duduk sejenak, menghampiri sosok yang berasal dari jauh: Liston P Siregar. Aku dikenalkan oleh Sanie B Kuncoro. Nama sudah aku ketahui sejak lama, sebelum bertemu dan salaman. Bergeser ke karpet kubu pria, kami bercakap tentang pers, politik, indonesianis, surat, dan lain-lain. Percakapan yang hangat, melampaui kehangatan teh.

Percakapan yang diselingi salaman dan sapaan dengan teman-teman yang berdatangan. Aku merasa akrab saat percakapan. Liston yang supel dan bergairah saat omong. Ia sempat mendakwa nasibku: “Istrimu suka marah?” Aku menjawab: “Marah besar”. Pertanyaan dan jawaban muncul setelah aku bercerita mengoleksi ribuan majalah lama: mempelajari dan membuat kliping.

Ruangan segera penuh. Namun, mataku mungkin salah melihat orang-orang yang duduk di karpet. Aku melihat beberapa orang berseragam petugas keamanan. Beberapa lagi mengenakan seragam yang mengartikan bekerja di masjid. Mengapa mereka ikut duduk di karpet? Aku belum mau melanjutkan pertanyaan-pertanyaan.

Acara sudah dimulai saat aku harus melawan kantuk. Malam makin terlihat meski lampu-lampu menyala. Kejutan tampak di depanku. Lelaki di bawah jam dinding. Ia berada di situ untuk omong. Kata-kata yang terucap jelas dan keras. Ia membawakan diri yang luwes dan cakap dalam menjelaskan buku berjudul Indonesia Kami (2023).

Ucapan-ucapan tanpa mikrofon. Ia sengaja tak mau menggunakan mikrofon. Benda yang telantar di meja. Mikrofon bersama piring dan buah-buahan. Di kepalaku, muncul sederet kata buatan Afrizal Malna: “yang berdiam dalam mikrofon”. Judul puisi dari masa 1980-an. Liston Siregar malah seolah membuat kalimat: “yang berpisah dari mikrofon”. Telingaku menikmati suara Liston. Keberuntungan ketimbang suaranya masuk mikrofon.

Yang teringat, ia omong Indonesia Kami, mengajak orang-orang berpikir “milik” atau “punya”. Deretan argumentasi disampaikan, yang membuat sangkaan orang-orang bisa meleset. Yang mengunci: “kami”. Pada suatu masa, Nurcholis Madjid mengeluarkan risalah berjudul Indonesia Kita. Tulisan yang berkaitan demokrasi dan nasib Indonesia setelah kejatuhan rezim Orde Baru. Dua judul yang pantas dipikirkan bersamaan tapi menghasilkan makna berbeda. Indonesia Kami memuat 15 tulisan dari serial belajar bersama yang dikelola Liston. Indonesia Kita itu pemikiran dan pernyataan untuk demokratisasi di Indonesia.

Aku jadi salah tingkah memikirkan dua buku. Beberapa tahun yang lalu, aku khatam Indonesia Kita. Malam itu aku belum memegang Indonesia Kami. Buku yang tak sampai tanganku. Buku tak pernah dalam pangkuanku. Aku bukan pembaca tapi sekadar mengetahui judul dan rupa buku di media sosial. Malam yang membuatku minder saat mengetahui para penulis dalam Indonesia Kami hadir dan urun omongan.

Rabu, 6 Maret 2024, hari yang menghangatkan bagiku setelah bertemu teman-teman dan hadir dalam obrolan buku. Pemandu obrolan itu Indah Darmastuti, yang terlihat olehku sebagai “perempuan merah”. Yang memberi penjelasan dan petunjuk dalam penulisan reportase: Liston. Ia pun berperan sebagai editor untuk pernerbitan Indonsia Kami. Belajar bersama dan buku yang mewujud atas sokomgam besar “mysaniefoundation”. Penanggap dalam obrolan buku: Bagus Sigit Setiawan. Di masjid, ia menjadi sosok penting dalam pembuat kebijakan-kebijakan bagi jamaah. Malam itu ikut cuap-cuap reportase meski condong dalam penjelasan berlatar Islam.

Aku tidak betah bersila di karpet. Akhirnya, ragaku bergeser di kursi, yang semula digunakan panitia dalam meladeni pengunjung saat membutuhkan teh dan beragam rebusan: ketela, singkong, jagung, dan kacang. Duduk di situ, aku melihat tiga nampan sudah habis, tersisa satu. Pengunjung tampak menikmati minuman dan makanan sederhana. Malam itu aku ingin kopi tapi tiada. Dugaanku: panitia sengaja tak memberi kopi agar malam tidak pahit.

Detik-detik di jam dinding berputar. Di bawah, Liston menggerakkan kata-kata yang mengarahkan orang-orang serius memikirkan reportase. Sekian kata terpenting: jujur, faktual, dan benar. Dulu, Liston pernah bekerja di majalah Tempo. Pergi di negara asing, ia masih berurusan jurnalistik. Di ruang perpustakaan, ia berulang mengatakan bahwa reportase bukan cuma dalam jurnalistik. Reportase itu keseharian dan bermunculan di media sosial.

Duduk sambil melawan kantuk, aku mendengar dua pemuda bertanya. Yang satu memasalahkan bahasa dan peran editor dalam Indonesia Kami. Liston memberi jawaban yang mengena: tulisan itu karakter. Editor bekerja tapi tanpa kebablasan. Pemuda yang satu menyebut nama-nama besar dalam kesusastraan dan pers di dunia. Liston menanggapinya dengan menyebut nama-nama yang berbeda. Aku mengenali nama-nama dan beberapa buku yang disebutkan. Di obrolan buku, aku merasa tidak terpencil. Aku agak mengerti reportase.

Selain urusan buku, aku terkejut melihat kerudung. Perempuan berdiri di belakang sedang memotret. Aku melihatnya sejenak. Sosok yang aku mengenalinya, lama tidak bertemu. Kami berpandangan dan tersenyum. Pertemuan tanpa janjian. Aku mengulurkan tangan: bersalaman.

Mataku melihat penampilannya yang berbeda: berkerudung. Ia bercerita: kerudung itu baru, dibeli di depan masjid seharga 30 ribu rupiah. Petugas memintanya mengenakan kerudung jika masuk ke masjid. Aku mulai melihat lagi teman-teman yang kesehariannya tanpa kerudung. Malam itu mereka duduk bersama mengenakan kerudung yang kadang jatuh atau minta selalu dirapikan. Mereka tidak sedang membuat gerakan “kerudung kami”. Mereka hadir untuk Indonesia Kami.

Jam dinding di atas Liston sudah mengabarkan 10 malam. Aku ingin segera pulang. Tubuhku harus segera tidur, sebelum dini hari menonton Real Madrid. Di pinggir jalan depan masjid, sebelum aku membonceng Ahmad untuk pulang ke rumah, seorang lelaki datang menyalamiku. Salaman tak biasa. Aku mengenalinya, berdoa untuknya yang berbuat baik saat masjid perlahan sepi.

Di jalan, aku dan Ahmad melanjutkan obrolan bertema pers dan sastra, sambungan dari obrolan saat berangkat ke masjid. Obrolan di jalan, tidak jauh berbeda dengan obrolan di perpustakaan yang tinggi.[] Kabut

Cerpen

Seribu Ekor Tikus

Cerpen Erwin Setia

Semuanya dimulai dari kamar, ketika ia melihat seekor tikus berderap cepat di sela rak buku. Tikus itu gesit sekali, lekas lenyap dari pandangan sebelum ia benar-benar melihat keseluruhan wujud si tikus. Yang jelas tikus itu besar dan hitam. Dua keterangan itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti kejijikan sekaligus kemuakan macam apa yang ditanggungnya. Dengan mata mendelik, melangkah hati-hati menuju rak buku, ia menggebrak-gebrak rak seraya memperhatikan sekeliling kamar. Tikus itu tidak kelihatan di mana pun. Hanya dari atap kamarnya yang punya banyak celah (dari sanalah tikus-tikus keluar-masuk) ia mendengar samar-samar cericit tikus. Ia kembali ke kursi, mengempaskan bokongnya sambil tetap memendam kekesalan kepada si tikus, dan ia terlompat dari tempat duduk saat mendapati si tikus sedang melata di atas meja kerjanya, meniti lembaran kertas catatannya tanpa rasa bersalah, lalu melesat ke kolong meja, dan kembali lenyap dari pandangan. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia tidak mematahkan punggung kursinya.

Jika kau berpikir itu adalah satu-satunya hari Eriko mengalami nasib sial macam itu, kau keliru. Tapi jika kau berpikir pengalaman semacam itu mengubah hidupnya, kau agak benar. Sebab sejak itulah ia menjalani hidup dengan lebih hati-hati dan mawas diri. Ia tidak lagi sembarangan berjalan lurus tanpa menengok kanan-kiri-atas-bawah. Ia tidak lagi mengabaikan dunia seperti sebelumnya. Ia kini begitu peduli pada dunia, pada hal-hal di sekelilingnya. Dan karena ia terlalu peduli pada dunia ia jadi tahu hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Misalnya fakta bahwa di area tempatnya tinggal yang terdiri atas 300 rumah, setidaknya ada 1.000 ekor tikus! Dari mana ia tahu soal itu? Tentu saja dari pengamatannya pada dunia.

Ketika ia pergi ke luar rumah, dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor, matanya ia gunakan lebih maksimal daripada yang sudah-sudah. Ia melihat banyak orang asing. Ia melihat tanaman-tanaman yang tak ia ketahui namanya, tapi ia kagumi bentuknya. Ia melihat rumah-rumah berderet, rumah-rumah yang sejak bertahun-tahun lalu tetap di situ-situ saja, padahal para penghuninya berpindah-pindah. Saat melihat rumah-rumah inilah, Eriko memperhatikan dinding luar rumah dan tempat sempah beton yang biasanya terletak di tepi luar pagar. Di salah satu rumah yang dindingnya dirambati oleh tanaman keriting dengan tata letak berantakan ia melihat seekor tikus besar dan hitam merambat di dinding seperti atlet panjat tebing. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke sebuah tempat sampah di rumah seberangnya. Kali ini muncul seekor tikus besar dan hitam (lagi-lagi besar dan hitam) sedang menggerogoti sesuatu di dalam tempat sampah. Segera ia memalingkan matanya ke arah lain, tapi ke mana pun matanya menuju, yang ia lihat adalah tikus-tikus! Tikus-tikus yang ia lihat memang tidak berkumpul berombongan seperti sekumpulan tentara sedang berbaris. Ia hanya melihat tikus itu satu per satu, tapi di berbagai tempat, di semua tempat yang dicapai matanya. Ia yakin tikus-tikus yang ia lihat itu—walaupun bentuk dan ukurannya mirip—adalah tikus-tikus yang berbeda. Ia menaksir dalam sebuah rumah pasti ada setidaknya 3-4 ekor tikus yang menetap. Jika dikalikan 300 (yaitu jumlah rumah di area perumahan ini), berarti ada sekurangnya 1.000 ekor tikus di area tempatnya tinggal! Pemikiran itu membuatnya bergidik. Waktu itu ia bergegas kembali ke rumah dengan kepala menunduk dan sesekali memejamkan mata. Tapi tetap saja, sebelum tiba di rumah, ia sempat melihat beberapa ekor tikus melintas di jalanan atau menclok di tembok sebuah rumah yang tak sengaja ia lihat.

Apakah ini adalah halusinasi? Apakah ini adalah mimpi? Eriko sempat menduganya demikian. Namun ia mengonfirmasi apa-apa yang dilihatnya kepada ibu, bapak, tetangga, dan anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumahnya.

“Kau tidak salah lihat, Eriko. Ibu juga belakangan ini lihat tikus di mana-mana.”

“Betul! Bapak juga lihat tikus setiap hari, bahkan di televisi! Ini bukan majas, Eriko. Bapak sungguh-sungguh lihat ada tikus lewat di atas TV waktu bapak nonton acara debat politik!”

“Ya, Mas Eriko. Saya bahkan langsung beli perangkap tikus ketika sadar ada banyak tikus mondar-mandir di dalam rumah. Percaya nggak, Mas Eriko, di malam pertama saya pasang perangkap tikus, saya langsung dapat tiga ekor tikus! Tiga ekor, Mas Eriko. Besar-besar dan hitam-hitam.”

“Aku juga liat tikus, Kak Eriko. Aku kejar tikus itu, terus tikus itu malah kabur. Aku pukul tikus itu pake sapu, tikus itu lari ketakutan. Aku ingin habisi tikus-tikus itu, Kak Eriko. Tapi tikus-tikus itu kok nggak abis-abis ya? Malah makin banyak.”

Tanggapan ibu, bapak, tetangga, dan anak kecil itu cuma membuat hati Eriko makin dongkol. Sebab semua itu menambah terang segalanya, menambah jelas kenyataan yang terhampar di hadapan Eriko. Ini bukan halusinasi. Ini bukan mimpi. Tikus-tikus itu benar ada. Semua orang menyadarinya. Semua orang mengetahuinya. Dan tikus-tikus itu ada dalam jumlah banyak. Bahkan kini Eriko merasa seribu adalah perkiraan jumlah yang terlampau sedikit. Namun ada satu hal yang mengganjal bagi Eriko. Kenapa orang-orang di sekitarnya tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran 1.000 ekor tikus (kemungkinan besar lebih dari itu) di area ini. Mereka tidak terlihat gelisah atau ketakutan dengan kenyataan itu. Mereka seakan-akan menganggap keberadaan tikus-tikus itu wajar belaka, sama wajarnya dengan matahari yang terbit tiap pagi. Padahal, bagi Eriko ini sama sekali bukan hal wajar. Seribu ekor tikus! Bagaimana mungkin itu bisa dianggap hal biasa?

Lantas muncullah sebuah gagasan di kepalanya. Eriko berpikir orang-orang di sekelilingnya tidak menganggap serius maraknya tikus karena mereka tidak mengetahui fakta sebenarnya. Ia yakin tak banyak di antara mereka yang sadar bahwa jumlah keseluruhan tikus yang ada di area ini mencapai 1.000 ekor, bahkan lebih. Soal jumlah, Eriko beberapa kali mendebat dirinya sendiri. Tidak mungkin sampai 1.000 ekor, sebab boleh jadi tikus yang dilihatnya di rumah-rumah yang berbeda adalah tikus yang sama. Katakanlah seekor tikus bisa menyatroni empat sampai lima rumah dalam sehari. Dengan total 300 rumah, jadi, paling banyak hanya ada 60-75 ekor tikus di area ini. Pikiran alternatif itu sempat membuat kengeriannya berkurang sampai suatu siang ia pergi ke luar rumah untuk membeli lauk pauk. Ia mengendarai sepeda motor. Ia terkejut saat mendapati tiga sampai empat ekor tikus berdiam seolah menontonnya di setiap muka rumah yang ia lewati. Meskipun untuk pergi ke warung makan ia hanya perlu melewati beberapa rumah, Eriko melewati semua rumah untuk memverifikasi pikiran buruknya. Dan di tiap muka rumah yang ia lewati, memang betul-betul ada tiga sampai empat ekor tikus! Ia memutari perumahan sampai dua kali dan menghitung ulang jumlah tikus yang ada di tiap muka rumah. Tidak salah lagi. Jumlahnya memang 1.000 ekor tikus!

Lantaran semua sudah jelas, ia melakukan gagasan itu: memberitahu orang-orang bahwa ada 1.000 ekor tikus di area ini.

Tak ada yang menganggap serius kata-kata Eriko. Bahkan saat Eriko menceritakan soal ia melihat tiga sampai empat ekor tikus berdiam di muka setiap rumah pada suatu siang, semua orang tertawa, menganggapnya sedang melontarkan lelucon. Ibu dan bapaknya juga tertawa, tawa mereka lebih keras dari orang-orang lain.

“Kau tidak perlu membawa cerita-cerita yang kautulis ke dalam kehidupan nyata, Eriko.”

“Betul! Sebaliknya, seharusnya kehidupan nyata inilah yang kaubawa ke dalam cerita-cerita yang kautulis, Eriko.”

Demikian ucapan ibu dan bapaknya kepada Eriko setelah tawa terbahak-bahak mereka berhenti.

Eriko ingin menyahuti ibu dan bapaknya, menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan bukanlah karangan, apalagi khayalan. Semua yang ia ceritakan adalah kenyataan, senyata dirinya dan benda-benda di sekelilingnya. Tapi tak mudah bagi Eriko untuk memberikan penjelasan semacam itu. Apalagi peristiwa tikus-tikus berdiam di depan muka setiap rumah cuma terjadi sekali dan anehnya saat itu tak ada orang yang menyadari kejadian itu selain dirinya sendiri. Seolah-olah pada siang itu semua orang disibukkan oleh perkara lain sehingga tak sempat menyaksikan keajaiban—atau tepatnya keanehan—itu.

Karena semua orang memilih untuk menertawakannya, Eriko tak mau merepotkan diri memaksa mereka untuk memercayai matematikanya, bahwa ada 1.000 ekor tikus (boleh jadi lebih, mengingat tikus-tikus itu lebih cepat beranak-pinak daripada mati) di area ini. Seandainya mereka mau setuju pada hitung-hitungan Eriko, pastilah mereka akan menjadi lebih hati-hati dan waspada. Mereka tidak akan menganggap sepele keberadaan tikus-tikus itu. Mereka tidak akan hanya sebatas memasang perangkap atau menyebar racun. Mereka akan melakukan lebih dari itu. Mungkin melakukan pemusnahan massal dengan alat penyemprot atau kerja bakti membersihkan lingkungan supaya tikus-tikus pergi ke tempat lain. Tapi kalaupun tikus-tikus itu berkurang, atau bahkan menghilang, lantas kenapa? Apa bedanya 1.000 ekor tikus dengan 100 ekor tikus atau 10 ekor tikus atau 1 ekor tikus atau tidak ada tikus?

Pikiran filosofis itu menggelayuti kepala Eriko malam ini, di tempat dari mana semuanya berawal. Ia sedang duduk di atas kursinya, menatap laptop yang baru saja dimatikan, dan kini matanya melirik ke arah rak buku yang berada di samping meja kerjanya. Apa itu benda hitam-besar yang bergerak-gerak di bawah rak? Apakah seekor tikus? Ia tidak mengeceknya. Ia memalingkan mata dan membayangkan bisa jadi itu cuma halusinasinya, atau perasaannya, atau mungkin itu cuma kaleng, sebuah bola, kantong plastik, seekor kucing, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa itu adalah… tiba-tiba Eriko terlonjak dari kursinya, dan kali ini punggung kursinya patah. Tentu saja Eriko telah melihat sesuatu melintas di atas meja kerjanya. Tapi sebaiknya kita tak perlu tahu itu apa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 16 November 2023


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Katalog

Suatu Hari setelah Kehilangan

Sebab aku percaya, luka tak selalu tentang bagaimana kita berjuang untuk menyembuhkannya, tetapi juga tentang bagaimana ia (luka) memberi sentuhan, dan membiarkan kita menikmatinya dalam setiap alur kesedihan itu, dan kita berhasil menamainya dalam satu bingkai kenangan. Mungkin kau salah satunya yang menerima ini.

Penulis: Obby Keban

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

111 halaman; 14 x 21 cm

ISBN:

Harga: Rp 65.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

Torifuji

Kisah seorang gadis hingga menjadi ibu. Kisah tentang bagaimana dia memperjuangkan cintanya. Kisah tentang bagaimana dia mengambil keputusan dalam setiap langkahnya, termasuk memperlakukan kejujuran dan menghadapi kemungkinan munculnya penyesalan. Kisah yang menguras perasaan.

Penulis: Rahmi C. Mangi

Cetakan: Pertama, Tahun 2024

Penerbit Nomina Ide Karya

173 halaman; 14 x 20 cm

ISBN:

Harga: Rp 65.000,-

Info Pemesanan: 085647226136