Puisi

Puisi Galuh Ayara

Noise Teatrikal

kau void

dan melankolik

setiap waktu aku menyaksikanmu merasakan sebuah dejavu

seakan aku berada di kursi paling depan

sebuah pertunjukan teater yang blur

lalu masa lalu dan masa depan saling membunuh

di dunia kita semua warna menyala seperti neon

sedang kau tidak

tubuhmu redup

seringkali kau tak dilihat

tapi aku selalu berusaha melihatmu dan

ingin berlama-lama menyaksikan segala keredupan itu

aku menyimpanmu

dalam sebuah memori yang kuat dan menyala

tapi

satu persatu peristiwa pergi dari kepalaku

dan kusaksikan teater itu ditutup

dengan penuh kecewa

aku tak mau beranjak dari kursi lalu–

kau kabur

tak meninggalkan pesan apapun bahkan sekelebat bayangan

2023


Buku Mewarnai

bayangkan maut memiliki warna merah muda

malaikat adalah makhluk yang buta warna

dan kau adalah buku dengan sampul kusut dan gelap

maut itu menyelinap ke lembar-lembar dirimu yang putih

kau menjadi buku yang merah muda

lalu engkau berubah menjadi sosok yang gembira luar biasa

tapi orang-orang malah berduka

kau dianggap tiada lalu

terlupa begitu saja

2023


Pengampunan

tubuhku terbelah-

belah jadi seribu

dalam warna hitam yang kental

mirip seperti gumpalan darah

lalu segalanya menjadi persis

masa lalu melintas;

suara bising merenggut segalanya

jadi rasa asing

tubuhku tabah

lenyap dalam

‘sleeping through my fingers’

lalu lahir lagi dari

sepasang tangan yang terbakar

pada sebuah pigura putih;

kosong

bagaimana bisa aku tak mengingkari realitas?

perjalanan menghadiahiku

wajah penuh lebam

tetapi di dunia ini

tidak ada perih yang terlalu sakit

bahkan jika kematian adalah pengampunan

maka bertahan hidup tetap keberuntungan

2023


Maleficent

suatu ketika ia pernah bilang,

‘ibu kamu cantik sekali. beri ia hadiah yang mekar.”

tapi ibuku tak suka bunga

ia suka nonton sirkus dan membiarkan lututnya gemetar setiap kali pertunjukan itu seakan mengingatkannya pada sebuah tragedi.

ia juga mengajarkanku bagaimana cara menikmati gelisah yang menjadi-jadi

“kapan ibu kamu ulang tahun?”

tidak pernah

2023


Setubuh Kesenangan

kepada teman saya; morgot kidder

kepulan-kepulan asap di kepalamu seumpama awan mendung abu atau hitam kelam

o betapa kau tidak perlu pedulikan bunyi-bunyi petir yang acap membuatmu duduk gemetar berpangku tangan di sudut tempat tidur

kau hitung hari ke depan dengan umur tubuhmu yang kian letih

apa yang kau butuh hari ini?

;adalah setubuh kesenangan,

aroma kopi robusta

sebatang rokok kretek, bunyi kampanye-kampanye busuk parade politik yang berputar di instagram

nikmati apa pun yang disediakan dunia

teman saya, morgot kidder

lupakan beban deritamu

kau adalah dewi bulan yang agung

yang sedang bersiap pergi ke langit

dengan seseorang yang sedang setia menunggu cerita-cerita kecilmu berikutnya.

2023


Galuh Ayara, penulis kelahiran Jawa Barat. Karyanya dimuat di berbagai media.

Cerpen

Denting

Cerpen Yeni Kartikasari

Hari belum sepenuhnya pagi, tapi kau sudah berada di Olivia, berjalan ke lantai tiga, menghampiri meja di dekat jendela kaca, duduk termenung menunggu seseorang yang kau tahu tak akan pernah datang lagi. Seperti biasa, seorang barista bertubuh jangkung dengan vest hitam dan apron cokelat menghampirimu—meminta izin menyeduh kopi panas yang tadi kau pesan.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?” tawarnya.

Kau menggeleng pelan. Barista itu pergi meninggalkan kau bersama secangkir mochaccino berlukis bunga. Kopi itu kau tatap sebentar. Di luar, hujan sangat deras. Pandangan yang semula kau lemparkan ke lampu-lampu kota mengabur bersama rintik yang disertai angin kencang. Jika hari-hari sebelumnya kau hanya menitihkan air mata, kini tangismu semakin panjang.

Kau tak bisa lupa, setahun lalu, sejak Habsa pergi, kau benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, melainkan dia telah pergi selamanya. Perpisahan yang kau rasakan, bukan lagi seperti kau melepas teman-temanmu yang menerima Awardee LPDP ke negeri kincir angin, atau saat kau harus melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatmu yang pulang ke kampung halaman setelah lulus kuliah, namun perpisahan yang membuatmu kehilangan segala-galanya, bahkan separuh dirimu yang selama ini kau pertahankan untuk hidup.

Habsa adalah orang terdekatmu, lebih dekat dari saudara dan ayah ibumu, sebab kau memang tak pernah merasa memiliki keluarga. Dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi temanmu bercerita usai terlilit masalah di Savario.  Kau masih ingat setelah pendidikan magister Fashion Designmu tuntas, kau mencoba bekerja di Savario sebagai staff pembuat pola busana. Keberhasilanmu masuk ke butik bergaya Eropa Style yang bertempat di gedung bekas kolonialisme itu membuatmu sangat bangga. Selain karena megah dan terkenal, Savario sering disebut-sebut dosenmu sebagai tempat orang-orang ahli di bidang fashion.

Namun sayangnya kebangganmu tak bertahan lama. Gaun yang akan dipakai seorang artis untuk menerima penghargaan penyanyi pop terbaik tak muat dikenakan saat fitting. Bagian penghias menyalahkan penjahit, bagian penjahit menyalahkan pemotong kain, dan bagian pemotong kain menyalahkanmu sebagai pembuat dan pengambil ukuran badan. Kau yang pada saat itu tak mau disalahkan, kemudian mempertanyakan suatu hal; mengapa para pemotong dan penjahit tidak mengecek ulang ukuran? Tapi Habsa—staff sewing yang menjahit bagian badan menimpali bahwa orang-orang di Savario tak bekerja di luar tanggung jawabnya. Kau yang tersudut akhirnya ingin mengganti gaun itu, namun sudah tidak ada waktu. Pelanggan itu marah-marah. Bosmu lebih tersungut-sungut. Kau dimaki-maki sebelum dikeluarkan tanpa pesangon.

Usai hari itu kau sangat kecewa. Karena kau tak lagi memiliki pekerjaan, atau lebih tepatnya telah enggan mencari lowongan kembali, waktu senggangmu kau habiskan untuk berdiam di kafe-kafe. Setelah berkelana cukup lama, pengembaraanmu berhenti di Olivia—kafe yang letaknya tak jauh dari bekas bandara. Tepat di lantai tiga, di dekat jendela kaca di mana kau bisa melihat jalan raya dari kejauhan, kau benar-benar merasakan ketenangan yang selama ini kau cari.

Kau sengaja memilih kafe yang tak terlalu ramai dengan nuansa klasik di setiap dekorasinya. Di Olivia, kau mengeluarkan secarik kertas dan mulai menggambar desain slip dress yang pernah popular di tahun 90-an. Demi hiburan, begitulah tujuanmu melakukan hal itu. Masih teringat jelas di pikiranmu, bagaimana kau membuat lekuk tubuh dan detail gaun hingga kau tak menyangka dapat bertemu Habsa dalam keadaan serba tanda tanya.

Suara Habsa lirih menyapamu kala itu.

Gugup. Kau menyingkirkan tas jinjingmu supaya Habsa dapat duduk di hadapanmu. Di awali sapaan tentang kabar, percakapanmu dengan Habsa berlanjut canggung.

“Sekarang kerja di mana?”

Kau berkelakar. Kau katakan pada Habsa bahwa pekerjaanmu adalah pelanggan rutin Olivia—penikmat kopi yang sesekali mendesain busana masa lalu. Tapi, Habsa tak percaya itu. Kau dianggap menyembunyikan pekerjaanmu yang telah mapan, melebihi reputasi pembuat pola busana. Habsa bahkan menyebut JJ Bride, Oura Kebaya, dan QZM Boutique, tempat-tempat terkenal lain di Jakarta. Kau hanya tersenyum. Usiamu yang beranjak berkepala tiga, membuatmu mengerti bahwa tak semua keadaan bisa kau jelaskan terhadap perempuan.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, sekitar pukul empat pagi, Habsa kerap merencanakan pertemuan denganmu. Tidak lagi membahas tentang pekerjaan, atau lika liku hidup yang tiada habisnya, perempuan berpipi bakpao yang kemerah-merahan itu mulai bercengkerama terhadap hal-hal sepele; menertawakan penampilan pengunjung, menerka pikiran orang melamun, dan sesekali mengacaukan karya desainmu.

“Gak pengen keluar Indonesia?” tanya Habsa suatu kali.

“Buat apa?”

“Ya, Mengembara.”

“Kau sendiri gak ke sana?”

“Nggak ada teman.”

Lewat perbincangan itulah, kau teringat Galleria Vittorio Emanuele dan Louis Vuitton di Eropa yang sangat megah. Bangunan berlapis emas yang disorot ratusan lampu dengan puluhan butik gaun permata. Mendadak kau ingin ke sana—menjelajah negara-negara yang pernah membuat bangsamu sengsara. Kau ceritakan semua itu kepada Habsa. Dari rekah senyumnya, kau tahu dia bersuka cita. Impian masa depan kau rencanakan. Janji berkelana ke Eropa kau sepakati. Mula-mula kau hanya menganggap perempuan itu butuh hiburan, namun semakin lama kau merasa dirimu memang berharga dalam hidup seorang perempuan yang bahkan kepadanya kau belum pernah mengisahkan sejengkal kehidupanmu. Kau merasa berarti dan dibutuhkan dan itu sudah cukup bagimu.

Namun, ketika kau mencoba mendekatinya setelah dua bulan menjalin kebersamaan, dia mengatakan akan keluar dari Savario, pulang ke Surabaya untuk melangsungkan pernikahan. Dari caranya berbicara, kau tahu dia sangat bahagia, sebagaimana kau mengerti bahwa dia juga melihatmu bahagia. Meski kau hanya berpura-pura, senyum mengambang di bibirmu seiring rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh. Kau ingin menangis, tapi malu. Hatimu yang remuk semakin hancur ketika beberapa hari kemudian perempuan yang kau cintai itu dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal di tol Rawamangun.

Kenapa kau pergi? batinmu berulang kali sejak malaikat membawa ruh Habsa ke langit tertinggi, terus-menerus sampai kini di Olivia, untuk ratusan kali dalam setahun, ada yang begitu terkenang ketika kau menatap kursi kosong di hadapanmu. Setengah jam lalu, kau buru-buru memesan taxi karena langit sedang bergemuruh silih berganti. Sebenarnya kau tidak takut hujan, tapi kau khawatir tak dapat pergi dari kontrakan, sebab kesepian selalu melahapmu ketika jam sudah menunjukkan pukul lewat sepuluh malam.

Sudah setahun, batinmu. Kau baru datang dan sudah menangis. Bayanganmu tentang hari-hari setelah Habsa pergi adalah reka adegan yang membuatmu dirudung kesengsaraan.

Kau terus dibuntuti rasa penyesalan sebab perpisahanmu dengan Habsa tidak ditandai dengan ucapan selamat tinggal atau kata-kata sampai jumpa di lain waktu. Sering kau berpikir, akan lebih baik ketika perempuan itu masih terus hidup, menikah, dan memiliki bayi-bayi mungil, meski kau hanya dapat memandangnya lewat ponsel. Daripada kau harus menyaksikan fragmen mobil terbakar dan mayat sehitam arang dengan darah yang berlumuran disekujur tubuh. Kau ingin tak percaya bahwa tragedi itu nyata, tapi semuanya telah terjadi. Perpisahanmu dengan Habsa adalah sebuah akhir. Kau sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan untuk selamanya.

Kini di Olivia, kau menyadari sudah banyak waktu yang terbuang percuma; duduk di kafe meneguk kopi panas, mendengar album Gordon Lightfoot yang diputar berulang-ulang sambil membayangkan perempuan yang kau yakini masih hidup. Kau tak tahu seberapa lama lagi melakukan rutinitas itu. Kau tak bekerja dan entah sudah berapa lembar uang yang kau keluarkan. Belum lagi orang tua yang terus kau bohongi dan kau mintai jutaan nominal untuk alasan bertahan hidup.

Kau takut jika suatu saat nanti ada saudara-saudaramu atau pihak keluargamu tahu bahwa lelaki yang merantau demi kemapanan hidup akhirnya menggelandang dan menjadi pesakitan. Kau khawatir seandainya mamamu akan menempeleng kepalamu atau ayahmu akan mendaratkan pukulan di lengan dan kakimu, sebab kau tahu rasa sakitnya bukan berada di sana. Jelas kau tak ingin merasakan hal itu. Maka kau hanya bisa menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.

“Permisi,” Kau terkejut mendengar suara itu. Tangismu buyar. Seorang barista yang sama kembali ke mejamu, melayangkan tawaran, “Sorry, Sir. Sepertinya kopi Sir sudah dingin. Apar Sir mau menggantinya? atau mungkin hendak memesan camilan dan makanan?”

Kau tersadar. Kopi asal Yaman beraroma wangi cokelat itu belum kau teguk. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara Gordon Lightfoot berganti alunan denting yang disusul kerlip lampu. Di luar jendela, hujan tak lagi memekakkan telingamu. Kau melihat barista itu dan dia pun melihat matamu yang sembab. Udara dingin. Pandanganmu kabur.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.

Ragam

Puisi, Tepuk Tangan, Mesin

Senja berlalu tanpa sempat melihat perubahan wajah langit. Malam itu datang saat jumlah lampu menyala makin bertambah. Ruangan-ruangan yang terang, yang menandakan gelaran berjudul malam.

Di atas sepeda motor, aku dan Ahmad meningalkan masjid megah di Solo. Jalanan cukup ramai. Di pinggir jalan, ratusan warung makan menantikan kedatangan kaum lapar. Kami tidak mampir, tak ada kewajiban makan. Malam dan makan yang membuat kota meriah dan penuh pemujaan selera. Kami bukan berpikiran makanan. Di jalan, obrolan kami bersinggung sejarah, tokoh, dan buku.

Di Mesen, Solo, kami berhenti di suatu tempat yang memiliki papan penuh logo. Di situ, logo pemerintah dan logo-logo mengartikan usaha-usaha besar di Indonesia. Aku berada di tempat yang diresmikan dengan logo-logo. Aku belum sempat memikirkannya, tidak ada keinginan memotret untuk suatu hari membuat tulisan mengenai pemerintah dan logo. Malam itu aku datang bukan untuk pembicaraan logo tapi puisi.

Kamis, 7 Desember 2023, hari untuk puisi. Kedatanganku dengan buku puisi berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2003). Beberapa hari lalu, buku itu dikhatamkan. Di tempat dengan lampu-lampu remang, aku duduk bersama tas berisi buku puisi dan kaki tanpa sandal atau sepatu. Aku menikmati malam dengan cekeran. Kaki yang lama terbiasa bersandal jepit merasakan sedikit sakit saat berjalan di atas kerikil-kerikil. Kaki yang manja, tibas saatnya bertelanjang untuk kembali mengenali tanah, tidak selalu lantai. Telapak kaki itu bertemu tanah dan rumput.

Obrolan sebentar bersama teman-teman: dari tema seni (tradisi) sampai sekolah. Salaman dan percakapan menandakan kami tidak ingin malam membisu atau sepi. Di atas meja, asbak digunakan teman-teman suka merokok. Mataku memandingi asap yang puitis. Suguhan kopi cukup nikmat meski tidak dilengkapi gorengan. Aku minum kopi dan bercakap sambil melihat kesibukan orang-orang mau mengadakan diskusi atau obrolan sastra.

Yang dinantikan datang: Saut Situmorang (Jogjakarta). Kedatangan saat malam bertambah malam. Lelaki gendut berambut panjang itu datang bersema Idrian Koto, bos JBS yang menerbitkan (ulang) saut kecil bicara pada tuhan (2023). Setahuku, dulu buku itu diterbitkan oleh Bentang. Aku membaca ketika masih kuliah, membuatku berani mengundang Saut Situmorang ke kampus (UMS) untuk diskusi sastra. Buku yang pernah ikut memberi pengaruh dalam pengenalan puisi-puisi abad XXI.

Pada malam yang  berasap oleh rokok-rokok beragam merek, aku mulai kembali ke puisi-puisi pernah terbaca, sekian tahun lalu. Kursi-kursi sudah diduduki beberapa orang. Empat kursi di depan masih kosong. Aku melihat belum ada tanda-tanda acara bakal dimulai. Angka 8 sudah terlewati. Malam yang bagi orang-orang belum perlu tergesa. Namun, aku memberanikan diri duduk di kursi tanpa ada panggilan dari panitia. Aku mengajak Indra Agusta untuk turut duduk di sampingku agar orang-orang mengetahui dikusi dimulai.

Pembaca acara memegang mikrofon, mengeluarkan kata-kata berkaitan diskusi dalam seri Tilikan. Kerja komunitas seni yang mengajak orang-orang bertemu dan bicara. Aku belum pernah ikut seri Tilikan. Malam itu bagiku kehormatan bisa hadir bersama mereka yang masih terus menggerakkan seni di Solo.

Di samping, perempuan berdiri membaca puisi. Ia terbiasa membaca puisi di panggung dan lomba. Di hadapan orang-orang, ia membaca puisi gubahan Saut Situmorang dengan apik. Ia diganjar tepuk tangan dan pemotretan.

Beri Hanna berperan menjadi moderator. Di depan, Saut Situmorang pun sudah duduk. Kami tidak mengetahui situasi obrolan bakal seru atau sendu. Meja di depan kami agak penuh. Yang terlihat beberapa botol minuman bermineral. Ada tiga potong roti. Anggur di piring kecil. Yang menakjubkan ada botol-botol kecil berisi air bening. Aku yakin itu minuman istimewa. Di meja, ada juga beberapa buku Saut Situmorang yang menanti pembeli.

Indra Agusta mulai memberi kata-kata. Pembicaraan yang berat. Puisi-puisi Saut Siumorang berkaitan dengan hal-hal yang mengacu iman, adat, pengembaraan, dan lain-lain. Puisi-puisi yang berani dalam urusan bahasa. Hal terpenting adalah penulisan “Mu”. Penggunaan huruf kapital itu membuat pembaca sulit dalam kepastian dalam usaha mengerti manusia dan Tuhan. Saut Situmorang justru menulis “tuhan” menggunakan huruf kecil, bukan “T”.

Cara membaca puisi dan menafsirkan puisi belum tersuguhkan. Indra Agusta sekadar mengingatkan usaha pembaca yang jarang mudah dalam memasuki puisi. Ia menemukan kemampuan Saut Situmorang dalam penggunaan beragam (sumber) bahasa untuk turut masuk dalam puisi. Jadi, yang dinikmati pembaca adalah puisi-puisi berbahasa Indonesia tapi judul kadang berbahasa asing. Di puisi, kata atau istilah asing pun turut hadir selain berasal dari bahasa daerah.

Aku berharapan Indra Agusta membuat resensi untuk buku Saut Sittumorang untuk dikirimkan ke Jawa Pos. Dugaanku, ia mahir membaca buku, tak mau hanya rampung saja. Sosok itu memiliki kekuatan meresensi, yang tidak membiarkan buku tertutup dan berdiam di rak.

Di depan, aku ikut omong masalah buku Saut Situmorang. Aku cuma membicarakan masalah matahari dan bulan. Puluhan puisi melulu mencantumkan matahari dan bulan. Bintang kadang ikut tapi tidak dijanjikan selalu hadir. Aku belum kepikiran masalah “tuhan” atau “Tuhan”. Yang terbaca selama beberapa hari adalah kebiasaan Saut Situmorang menulis matahari dan bulan. Aku menduga ia (tidak) menyadari bahwa matahari dan bulan terlalu “menentukan” puisi-puisinya, digubah sejak masa 1980-an.

Selanjutnya, Saut Situmorang membicarakan diri, puisi, situasi sastra Indonesia. Ia berbagi biografi. Puisi-puisi itu berkaitan biografi. Beberapa omongannya mengejutkan meski beberapa hal aku sudah mendengarnya sejak lama. Dulu, aku membaca esai-esainya yang keras. Malam itu Saut Situmorang tampil agak kalem tapi tidak mengurangi kesombongannya. 

Malam yang diramaikan tepuk tangan. Pemicunya adalah Beri Hanna. Aku sering bingung dengan kebiasaan tepuk tangan dalam diskusi. Malam itu keseringan tepuk tangan. Berri Hanna yang menjadi moderator sengaja mementingkan tepuk tangan. Aku menunduk malu. Tepuk tangan mungkin mengusir sepi dan kemalasan. Aku tidak mau ikut tepuk tangan.

Aku telat mengetahui puisi-puisi gubahan Saut Situmorang itu akrab alam. Puisi-puisi yang religius ketimbang mengumbar lelucon atau “makian”. Di mataku, Saut Situmorang itu “pendakwah” yang menyamar. Ia fasih menyajikan kebijaksanaan-kebijaksaan melalui puisi. Hal berkebalikan dari kebiasannya membuat onar dan perdebatan. Malam itu aku menghormati Saut Situmorang yang sanggup menguak lakon bocah dan religiositas.

Yang membuatku sebal malam itu bukan tiga orang di sampingku yang menikmati air bening dalam botol-botol kecil. Aku terganggu dengan suara mesin air, yang terus bersuara saat kami bergantian omong. Mesin-mesin air berada di sebelah Beri Hanna. Kami bicara puisi bersaing dengan mesin air. Saut Situmorang tidak merasa terganggu mesin air tapi omong tentang mesin sebagai penyair atau penyair sebagai mesin. Aku tidak mengerti yang diomongkannya.

Obrolan perlahan bingung arah. Tepuk tangan tetap terdengar. Tubuhku mulai bermasalah. Aku sulit bertahan. Aku ingin pulang. Malam bertambah malam. Puisi selesai dulu. Aku ingin tidur.

Di akhir, aku ikut menjelaskan masalah sastra dan kelembangaan pendidikan di Indonesia, sejak masa kolonial sampai Orde Baru. Omongan sudah meninggalkan buku berjudul saut kecil bicara pada tuhan (2023). Aku tidak sanggup lagi bersama orang-orang merayakan malam dengan kata, kopi, buku, rokok, dan lain-lain.

Aku sengaja berpamitan dan minta maaf tidak bisa terus duduk di situ. Aku pulang setelah menganggap selesai omong tentang (buku) puisi. Malam itu aku mendapat kebaikan dan kejutan. Seorang teman memberikan bingkisan dalam kresek hitam. Ada teman memberikan buku puisi terbaru Afrizal Malna. Aku pulang tetap tanpa alas kaki tapi membawa hadiah-hadiah terindah.

Di rumah, aku membuka kresek. Isinya sarung yang berwarna kalem. Yang memberi hadiah mungkin menginginkan diriku rajin beribadah. Sarung bisa digunakan dalam beragam acara, tidak cuma untuk ibadah. Ia mungkin berpesan bahwa aku jarang berpenampilan menarik saat menghadiri acara-acara. Aku mengerti sarung itu tanda pertemanan dan “peringatan”.

Pada saat berbaring, aku mulai membuka halaman-halaman buku Afrizal Malna. Pemberian yang menjawab keinginanku beberapa hari lalu. Aku sempat mengajak teman-teman yang sering dolan ke rumah untuk memesan buku baru terbitan JBS. Buku baru itu malah datang duluan.

Aku sudah berpisah dari acara sastra di Solo. Di atas kasur, aku menjadi cengeng. Malam yang lelah tapi mengesankan. Aku tidak lagi ingat puisi-puisi Saut Situmorang. Kecengenganku untuk kebaikan dua teman yang memberi sarung dan buku. Sebelum mata terpejam, aku mengganti masalah matahari dan bulan dengan sarung dan buku. Malam itu airmata. [] Kabut

Ragam

Di Bumi Seribu Masalah

Siang belum tergusur, masih ada beberapa jam. Aku mencuci pakaian dengan jadwal berubah: memilih siang ketimbang sore. Siang yang mau berakhir inginku semua pekerjaan rampung. Mencuci pakaian dilanjutkan mencuci piring dan gelas. Akhirnya, semua selesai dengan acara penutup: menyapu. Yang membingungkan: mandi di akhir siang. Mandi yang rasanya sia-sia jika keringat mudah mengalir setelah handuk dijemur. Tubuh yang telah mandi tetap berada dalam siang yang berkeringat. Sejenak menaruh tubuhku di depan kipas angin.

Pada menit-menit menjelang sore, aku dan Ahmad ikut keramaian di jalan. Yang ingin kami datangi adalah masjid. Sore bukan untuk hiburan tapi kesadaran menuju tempat ibadah.

Kami berada di jalan menjelang azan terdengar. Beberapa menit yang kami rasakan dengan percakapan tentang sejarah Indonesia. Yang kami sebut adalah nama-nama asing: Kahin, Anderson, Holt, Feith, Liddle, dan lain-lain. Mereka menulis sejarah Indonesia. Kami yang membaca melalui buku-buku edisi terjemahan bahasa Indonesia. Perjalanan ke tempat ibadah di Solo tapi ketagihan omongan sejarah.

Kamis, 7 Desember 2023, bukan hari bersejarah dalam hidupku. Aku mengajak teman untuk berada di Masjid Sheikh Zayed (Solo). Di sana, ada diskusi yang aku ketahui dari pengumuman beredar di media sosial, dua hari sebelumnya. Kedatangan ke masjid mula-mula berhasil ikut shalat asar berjamaah, telat satu rekaat. Pengumuman diskusi terdengar dari mikrofon masjid. Diskusi yang mungkin penting setelah ibadah. Sore yang indah di masjid yang berlampu tidak terlalu terang, tidak seterang matahari yang berada di luar.

Kami menuju menara: naik tangga. Yang aku inginkan di pinggiran tangga adalah buku-buku. Di atas, perpustakaan. Seharusnya, sejak di bawah ada buku-buku atau gambar-gambar mengisahkan buku. Jadi, saat kaki naik tangga ada doa-doa perbukuan. Mata yang melihat buku-buku, mata yang akan melupakan lelah. Yang naik tangga akan berimajinasi naik ke menara buku.

Pintu itu terbuka. Perpustakaan terbuka untuk umum. Aku segera masuk ingin berada di depan rak-rak. Mataku tak sabar melihat buku-buku, yang dimulai dengan punggung-punggung buku. Beberapa detak saja kenikmatan di depan rak buku. Pejabat di masjid itu memanggilku. Ia memintaku masuk ke ruangan berkaca. Mengikuti perintah dan petunjuk meski gagal bersilahturahmi ke buku-buku.

Salaman dengan Yessita dan Afthonul Afif. Di Solo, aku masih sering bertemu dan bersama Yessita. Salaman yang berbeda dengan Afif. Lelaki ganteng dari kudus. Aku mengakuinya sebagai “manusia kudus” atau “manusia suci”. Artinya, salaman itu tidak biasa setelah sepuluhan tahun tak bertemu dan tiada percakapan. Dulu, kami pernah dekat dengan predikat penulis di Koran Tempo dan Kompas. Masa lalu yang memberi arah berbeda untuk ditempuhi. Pada suatu masa, ia menjadi intelektual penting di Indonesia. Aku hanya bergembira menjadi bapak rumah tangga.

Obrolan-obrolan cepat memberat. Sekali lagi, obrolan kami berkaitan sejarah di Jawa (Nusantara). Kami cuma bisa omong sepenggal-sepenggal tentang sejarah di Jawa, kolonialisme, Islam, sekolah, penerbitan, pesantren, kitab suci, pabrik gula, kebatinan, dan lain-lain. Di atas meja, aku memperoleh pisang dan anggur. Di menara, sejarah ingin dijatuhkan dari “ketinggian”. Obrolan yang tidak memungkinkan debat.

Diskusi bertema “Sehat Mental Ala Jawa” dimulai dengan kehadiran 20-an orang. Jumlah yang sedikit tapi membuat ruangan longgar. Ramai dan sesak mungkin tidak enak bagi mataku yang mulai mengantuk. Di depan, Yessita memberi awalan. Afif memberi keterangan panjang mengenai kesehatan mental.

Dua sosok yang menggunakan waktu untuk kata-kata. Yang terlihat: Afif mengenakan jam tangan di sebelah kiri dan Yessita mengenakan jam tangan di sebelah kanan. Di atas, aku tidak melihat jam dinding. Perpustakaan tidak memerlukan jam. Para pengunjung dianggap mudah mengerti tentang jam buka dan jam tutup. Mereka tidak menuntut adanya jam dinding.

Aku mendengarkan dengan berdebar. Banyak masalah-masalah ruwet masa sekarang, yang mengakibatkan depresi dan bunuh diri. Orang-orang yang meminta perhatian. Kegagalan mendapat pujian menimbulkan rasa bersalah. Akhirnya, pamrih-pamrih minta dikasihani malah diumumkan secara terbuka.

Aku menyimak omongan-omongan Afif sambil mengutuki diri. Diskusi yang bakal berisi masalah-masalah dan salah-salah. Contoh-contoh yang diajukan Afif menunjukkan manusia masa sekarang sulit “waras”. Mereka bernafsu bahagia tapi gagal. Mereka ketagihan dolan-dolan tanpa kepikiran jawaban atas masalah-masalah hidup. Yang merepotkan adalah pengalaman bahagia, bukan pengakuan yang manipulatif atau bermutu rendahan.

Mataku melihat dua rak buku yang menjadi batas panggung bagi moderator dan pembicara. Di situ, ada tempelan kertas dengan tulisan: “harap tenang”. Mengapa kertas itu tidak dilepas? Jika tidak dilepas mendingan kata-kata diganti menjadi “harap bahagia”. Aku malah tergoda “harap makan”. Di depanku, ada suguhan berupa panganan rebusan: jagung, ketela, kacang, singkong, dan lain-lain. Aku juga menikmati segelas teh hangat, tak lupa dua iris jadah.

Afif yang bicara lama mulai menyebut nama-nama dan masa. Aku lekas teringat buku-buku kesehatan mental garapan Zakiah Daradjat masa 1980-an. Dulu, masalah itu sudah melanda Indonesia tapi tidak segawat masa sekarang. Afif memilih menggunakan referensi-referensi asing dan mutakhir. Aku sedikit memahaminya. Namun, yang berbobot adalah pengutipan dari Ki Ageng Suryomentara,, yang lahir dan tumbuh di Jawa.

Afif telah menjelajah jauh dalam persoalan bahagia dan sehat mental. Ia menulis banyak buku. Yang terkeren adalah buku-buku mengenai Ki Ageng Suryomentaram. Di Indonesia, ia adalah pakar. Aku mengenalnya setelah membaca buku-buku kajian Ki Ageng Suryomentaram, terutama Psikologi Jawa yang ditulis Darmanto Jatman.

Sore itu kami masih berada di bumi seribu masalah. Kami tidak bisa memesan bumi yang berbeda. Kami pun menantikan langit menurunkan jawaban-jawaban tapi bumi sedang gersang untuk menerimanya. 

Sore itu seharusnya dihadirkan satu pembicara lagi yang bisa omong tentang sastra atau film. Tentu berkaitan erat dengan kesehatan mental. Konon, penerbitan buku-buku dan film-film terbaru ada urusannya dengan kesehatan mental. Buku-buku berisi kutipan-kutipan pendek dan bergaya bijak sedang laris. Buku-buku filsafat klasik dijadikan pegangan bagi yang memburu bahagia.

Yang membuatku menantikan kehadiran orang omong sastra adalah terbitnya novel-novel terjemahan yang menceritakan masalah-masalah mental abad XXI. Aku ingat novel berjudul Vegetarian gubahan Han Kang. Aku pun pernah khatam novel Perpustakaan Malam (Matt Haig). Ada beberapa novel lagi yang membuatku sebagai pembaca mudah murung. Dunia sedang amburadul. Para tokoh dikutuk seribu masalah. Aku yang membaca juga memiliki salah-salah untuk memasuki cerita bergelimang masalah.

Di perpustakaan, aku mau mencari novel-novel yang membahagiakan agar diskusi tidak memberat. Namun, keinginan itu gagal diwujudkan. Tubuhku lungkrah dan mengantuk. Beruntung ada peserta-peserta mengajukan beragam pertanyaan yang mampu membuatku tidak menuruti nafsu tidur. Ikut berpikir lagi. Afin menjadi juru jawab yang sanggup menjelaskan mirip kiai tapi ia menolak disebut kiai.

Acara itu selesai. Di atas kepalaku, berputar novel-novel yang ikut merayakan pedih, depresi, bunuh diri, lara abad XXI. Yang menanggungkan masalah bukan cuma orang-orang Indonesia tapi sedunia. Aku tidak mengira bakal datang kiamat. Inginku menata novel-novel yang turtu “bertanggung jawab” dalam perayaan masalah-masalah yang menyedihkan, traumatik, dan menghancurkan. Aku ingin menebus salah-salah dengan khatam novel-novel. Persembahan fiksi yang melampaui kenyataan-kenyataan yang ditanggungkan. Pembaca novel-novel mutakhir bisa mudah menjadi yang bersalah atau menanggungkan salah di atas salah untuk hidupnya dan pergaulannya dengan orang lain.

Di jelang akhir diskusi, Yessita berulang mengucap terima kasih dan minta maaf. Pengulangan itu justru membuat aku sadar tema diskusi. Jika masalah terima kasih dan minta maaf diajukan sejak awal pasti diskusi bakal seru. Jadi, Yessita berperan ganda sebagai moderator dan pembicara. Dugaanku, ia mampu menjelaskan dua masalah itu berkaitan kesehatan mental. Aku berusaha mengerti terima kasih dan minta maaf yang menentukan kewarasan, kebahagiaan, dan kebersemaan, selain mengurangi siksa kesalahan dan kutukan hidup.

Rampung diskusi, aku ingin segera turun menghindari bayang-bayang buruk mengacu kesehatan mental. Keinginan yang gagal setelah ada lelaki yang menyapa. Kami mula-mula dalam tanya-jawab pendek. Akhirnya, kebablasan serius bercakap tema pendidikan. Tema yang agak menyelamatkanku dari sisa-sia diskusi.

Percakapan itu tetap mengingatkan novel, tidak sekadar kebijakan-kebijakan pemerintah dan usaha-usaha komunitas belajar. Aku malah tergoda lagi omong sejarah, dari masa kolonial sampai Orde Baru. Aku menambahi dengan perkamusan pendidikan beragam bahasa. 

Azan magrib terdengar, kami memutuskan turun dari perpustakaan. Kami ingin beribadah meski mengetahui telat tiga rekaat. Mikrofon digunakan imam sudah terdengar zikir dan doa setelah shalat. [] Kabut

Cerpen

X, Y, dan Z

Cerpen Ken Hanggara

Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.

“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.

Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.

Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.

Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.

Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.

Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.

Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.

“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.

Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.

Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.

Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.

Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.

Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”

Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.

X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.

Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.

“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.

Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.

Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.

Y benar-benar pusing memikirkan itu.

Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.

Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.

Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***

Gempol, 2019-2023


Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.