Dunia Buku, Dunia Menulis

Kembali ke Buku, Kembali ke Diri

Ada masa-masa ketika kita tidak sedang berada di tempat ibadah, melainkan ke rak buku yang berdebu. Di sanalah, di antara halaman-halaman yang telah menguning dan penuh lipatan, kita menemukan sesuatu yang lebih sunyi dari doa dan lebih jujur dari nasihat orang bijak. Bukan karena kita tidak percaya Tuhan, tapi karena kadang, sebelum berlutut berdoa, seseorang hanya butuh duduk, membaca kembali sesuatu yang dulu pernah menyentuh hati dan berkata, “Aku ingin jadi orang yang lebih baik.”

Kita sering mengira tobat itu urusan besar. Harus ada air mata, malam panjang, atau suara petir. Padahal kadang cuma butuh satu sore, satu buku, dan satu kalimat yang entah kenapa kali itu terasa lebih menusuk dibanding dulu. Mungkin karena kita sedang rapuh. Atau justru lebih jujur.

Dulu saat membaca Orang-Orang Bloomington, kita mengira kesepian hanya milik para tokoh yang tinggal di kota asing. Tapi kini, setelah berkali-kali merasa terasing bahkan di tengah keramaian, kita tahu bahwa kesendirian itu bukan soal tempat, melainkan perasaan yang pelan-pelan tumbuh dari ketidakberartian hidup. Dan saat membacanya ulang, kita tak cuma melihat tokoh-tokoh ganjil itu, kita melihat diri sendiri yang selama ini tak pernah sempat disapa.

Dulu saat membaca Ronggeng Dukuh Paruk, kita mungkin hanya terpaku pada kisah cinta Srintil. Kini, ketika membacanya ulang, kita sadar bahwa menjadi manusia baik di tengah tekanan, stigma struktural adalah bentuk perjuangan paling sunyi. Tobat bisa muncul bukan dari dosa besar, tapi dari kesadaran bahwa kita pernah diam saat seseorang dilenyapkan karena sistem yang tak memberi ruang bagi kemanusiaan.

Kita, terutama yang paling suka menyembunyikan keresahan  sering merasa rendah diri saat menyadari betapa jauh diri kita dari apa yang dulu kita yakini. Ada semacam pengkhianatan halus yang dirasakan. Dulu yakin tentang kebaikan, kini lebih sering mengutuk hidup. Dulu percaya pada perubahan, sekarang lebih sering menyeletuk, “Ngapain jadi orang baik, toh yang licik yang menang.”

Tapi di balik itu semua, sebenarnya kita hanya ingin kembali. Kembali ke titik jernih yang dulu pernah membuat kita, memilih menulis, membaca, dan berharap. Hanya saja, seperti pulang ke rumah yang sudah lama tak ditinggali, kadang kita takut mendapati diri sendiri sudah terlalu asing.

Ironinya, dunia buku yang katanya menenangkan, kadang justru jadi sumber tekanan. Penulis merasa harus jadi suci, pembaca merasa harus tampak cerdas, padahal niat awalnya hanya ingin merasa lebih utuh. Tidak semua yang membaca  Ronggeng Dukuh Paruk  ingin jadi pribadi yang kuat. Kadang orang hanya ingin tahu bahwa hidupnya yang kacau itu tidak sendirian. Tidak semua yang membaca Saman ingin memberontak. Bisa jadi, mereka hanya ingin tahu bahwa diam juga bisa jadi bentuk perlawanan.

Satirenya, dunia buku kini seperti panggung opera. Semua tampil ingin tampak megah. Orang membaca supaya bisa pamer. Menulis supaya bisa disorot. Padahal sesekali, kita butuh seseorang yang menulis hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Membaca hanya untuk menangisi dosa yang tak bisa diungkapkan dalam status. Kita butuh buku yang tidak jadi barang dagangan, tapi jadi ruang pengakuan.

Ada satu kenangan yang mungkin banyak orang alami. Saat beres-beres kamar, kita menemukan buku lama yang pernah membuat kita yakin sesuatu. Kita buka pelan. Ada coretan di pinggir halaman, tulisan tangan kita sendiri: Ingat ini. Jangan jadi brengsek. Dan di saat itu juga, rasanya ingin menampar wajah sendiri. Karena kita tahu, entah sejak kapan, kita mulai membiarkan kebrengsekan merayap pelan dan jadi kebiasaan harian.

Membaca ulang buku lama bukan saja perihal nostalgia. Ia kadang bentuk paling jujur dari tobat. Karena tak semua orang punya nyali untuk bilang, “Aku salah.” Tapi membuka kembali buku yang pernah mengajari kita jadi manusia yang lebih baik, itu sama artinya dengan menyalakan lilin kecil di lorong gelap hati kita.

Dan lucunya, lilin itu sering kali hanya menyala untuk kita. Tak tampak dari luar. Tidak viral. Tidak disorak. Tidak dikomentari dengan emoji peluk. Tapi itulah cahaya yang paling tulus, yang hanya dinikmati oleh si pemilik gelap.

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba tampak saleh, tapi lupa cara menjadi baik. Zaman ketika kata tobat jadi trending saat ada artis tertangkap, tapi tak lagi menggugah ketika seorang biasa duduk diam membaca ulang Catatan Seorang Demonstran dengan mata basah. Kita lupa bahwa kebaikan kadang tidak butuh pengakuan. Ia hanya perlu tekad yang tak henti.

Menjadi benar, di tengah dunia yang riuh, adalah keputusan sunyi. Sama sunyinya dengan membaca ulang buku yang dulu kita anggap remeh. Sama sunyinya dengan menuliskan kalimat: Aku ingin mulai lagi, dari halaman pertama.

Tulisan ini bukan ingin membuat sedih. Justru sebaliknya. Aku ingin kita tersenyum kecil. Ingat betapa dulu kita begitu yakin bisa jadi orang baik. Dan sekarang kita masih bisa. Tidak perlu pengumuman. Cukup satu keputusan: kembali ke buku, kembali ke diri.

Jadi jika malam ini kita merasa letih, bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa, cobalah buka buku yang dulu pernah kita peluk setelah putus cinta atau masa-masa terpuruk. Jangan buru-buru cari bab akhir. Mulailah dari halaman yang paling sering kita lipat. Di situ mungkin ada satu kalimat yang tidak kita sadari sedang menunggu kita kembali.

Dan jika besok pagi kita merasa ingin jadi orang baik, jangan buru-buru pasang kutipan motivasi. Duduklah. Diamlah. Bacalah. Karena kadang, suara hati tidak terdengar di tengah kebisingan niat-niat baik. Tapi bisa terdengar jelas di antara bisikan lembar-lembar yang kita balik dengan penuh kesadaran. Tidak perlu mengutuk dengan apa yang telah terjadi, cukup permohonan yang baik.

Di dunia ini, barangkali hanya ada dua jenis orang yang tidak malu mengaku salah: anak kecil yang ketahuan curang, dan orang dewasa yang menemukan kembali dirinya. Dan semua orang tahu, kita tidak bisa kembali menjadi anak kecil. Tapi kita bisa jadi orang dewasa yang tidak malu untuk kembali. [] Redaksi

Dunia Buku

Penipu

Dalam dunia buku, seperti dunia yang banyak orang anggap fana ini, sama-sama tak pernah lepas dari dunia tipu-tipu. Sama halnya seperti reaksi kita saat ada teman mau utang. Di satu waktu, kita bisa sibuk menjadi seorang penyidik dengan embel-embel pertanyaan:  

“Buat apa?”

“Keluargamu pada ke mana?”

“Kapan dibalikin?”

Dan berbagai pertanyaan lain yang ujung-ujungnya justru kasih transfer wejangan, bukan uang. Atau tipikal yang kedua, tanpa banyak ba bi bu, langsung tembak dengan kalimat: “Butuh berapa? Aku transfer ya.” Wah, ada ya orang sebaik itu.

Sebut saja buku adalah topeng bermuka dua. Di satu sisi ia bicara perihal data, fakta, riset, bukti dan saksi. Sedangkan di sisi lain, ia bisa meramu adegan serta narasi agar orang percaya itu adalah sebuah kenyataan: kenyataan palsu.

Aku pernah membaca sebuah kalimat dari seorang penulis, bukan seorang sastrawan, melainkan orang biasa yang sering menulis di story WhatsApp, Facebook dan Instagram. Meski begitu, aku merasa justru kalimatnya terbaca apa adanya. Kalimat itu kurang lebih begini: Baca cerpen dan novel itu bisa menggagalkan aksi bunuh diri. Atau ada juga yang bilang: Sesadar-sadarnya orang membaca, tidak ada yang punya kesadaran lebih dari rasa penerimaan dikibuli.

Kita tahu bahwa kalimat based on true story yang sering muncul di awal atau akhir kisah, entah itu di halaman paling awal atau belakang, sebenarnya hanya sebuah simbol yang tak lebih dari sekadar pengakuan absurd. Pada dasarnya tidak ada kisah nyata yang benar-benar istimewa, kecuali sudah melewati proses meracik dan memasak (red: dibumbui)

Kenapa masih banyak orang terhibur nonton film, drama, bahkan sinetron? Padahal sudah tahu pemainnya adalah aktor dan aktris yang sering berganti peran. Novel dan kumcer pun punya penggemarnya sendiri. Mereka tahu jika hampir semua cerita yang dibaca hanyalah karangan semata. Dan entah sebuah karunia atau musibah, jika saat membaca kisahnya, mereka dibuat masuk terlalu jauh dalam cerita. Seolah-olah merekalah pemilik kisah.

Tapi percaya atau tidak, kisah fiksi justru dianggap paling membumi karena bisa menjadi penyelamat hidup di kala bosan menunggu jam istirahat tiba. Atau barangkali, justru bisa memeluk satu nyawa yang hampir terbang dan menghilang, karena menganggap ceritanya begitu persis dengan hidupnya.

Tak bisa dipungkiri, banyak orang terlena dengan muslihat. Sudah tahu dibohongi, tapi tetap bertahan dan menikmati. Sudah tahu fiksi, tapi tetap lanjut membaca, sampai ending pula. Yah, bagaimana ya, namanya juga cinta. Ada yang bilang bisa ngalah-ngalahin logika. Tidak apa-apa dibohongi asal terus bersama. Tidak apa-apa kecewa asal jangan sampai hilang dari cerita.

Buku fiksi itu menyenangkan. Ada banyak topeng yang bisa dikenakan. Jiwa-jiwa melankolis mendadak merasa jadi pahlawan saat tokoh aku dalam novel berhasil menumpas tikus-tikus yang bersembunyi di dalam loker dan sudut ranjang Istana. Atau mendadak menjadi mesin penghasil air mata, padahal sebelumnya pemilik slogan: Pria nggak banyak bicara, tapi banyak polahnya. Atau: Jika menangis ibarat celengan kodok dari tanah liat, maka setiap hari ia akan pecah saking banyaknya koin yang tumpah.

Maka, novel, dongeng, fabel dan cerita fiksi lainnya tetap bisa menjadi primadona. Tak peduli seberapa aneh cerita yang tak masuk di akal, atau seberapa sadis dan dramatis nasib tokoh di dalamnya, semua bisa saja memeluk hati pembacanya. Bahkan, semakin dibaca, maka semakin terbuai dibuatnya. Jangan-jangan, ternyata kamu salah satunya, ya? [] Redaksi

Dunia Buku

Kurir Tanpa Pesanan

Di zaman serba instan seperti saat ini, bukan hal sulit untuk memperoleh sesuatu. Mulai dari makanan, baju, sepatu, skincare, alat-alat rumah tangga, barang elektronik, bahkan asesoris dan benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, semua transaksi bisa dilakukan melalui scroll dan klik di gawai. Sebegitu mudahnya akses, seolah jarak dan waktu bisa dibayar tunai dan kredit. Macam akad nikah, atau akad jual beli tanah.

Jasa antar paket jadi semakin beragam. Dulu, yang mungkin proses pengantaran butuh waktu berhari-hari, bahkan seminggu lebih. Kini, banyak jasa pengiriman menawarkan opsi Esok Pasti Datang, juga Paket Sehari Sampai. Saking mudahnya transaksi, saking cepatnya kegiatan “menunggu” usai, maka semakin dekat pula jarak antar kurir satu dengan kurir yang lain bertandang ke rumah. Jika perlu, dalam seminggu, satu kurir bisa mengantar paket ke rumah yang sama hampir setiap hari.

Fenomena itu membuatku ingin menarik mundur waktu, bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi hanya mengenang sesuatu. Aku ingat saat masih remaja, teman sebangku pernah menyelipkan secarik kertas bertuliskan “Semoga kamu menyadari betapa aku rela terluka saat berani memutuskan mencintaimu” untuk teman sekelasku yang lain, pada sebuah buku puisi tipis, yang dua hari sebelumnya ia beli di toko buku bekas dekat lapangan badminton, tak jauh dari sekolah.

Buku itu ia masukkan secara diam-diam ke dalam tas teman perempuan sekelas kami di jam istirahat. Tiga hari setelahnya, heboh kabar jika teman perempuan sekelas kami itu jadian dengan teman sekelas kami yang lain, yang sialnya, bukan teman sebangkuku itu. Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan? Teman sebangku yang sengaja tak menorehkan namanya? Teman sekelasku yang lain yang mengaku-ngaku tulisan di secarik kertas di buku puisi itu adalah miliknya? Atau justru bukunya, yang hanya mampu menjadi saksi bisu munculnya tragedi asmara tiga teman sekelas?

Sesungguhnya, tidak ada yang patut disalahkan. Anggap saja semesta sedang bermain-main dengan perasaan-perasaan mereka. Buku itu unik. Bisa dibilang, zaman dulu buku lebih sering menjadi kurir. Entah untuk menyampaikan contekan ke teman, ajakan untuk merokok di lorong belakang sekolah, atau sekadar menyelipkan selembar tiket nonton bioskop pada gebetan. Apa pun alasannya, mungkin jika setiap buku bisa bicara, setidaknya ada tiga reaksi yang akan mereka tunjukkan.

Reaksi pertama, ngomel: “Bagaimana bisa bocah ingusan itu melibatkanku untuk menyampaikan perasaan, sementara aku belum pernah ia baca.”

Reaksi kedua: cuek. Buku tak peduli akan diperlakukan bagaimana. Buku puisi cinta tak marah saat diselipkan kertas bertuliskan ajakan duel akibat tak sengaja bersenggolan saat keluar dari kamar kecil. Buku panduan mengerjakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi, tak merasa kecil saat pada akhirnya berpindah-pindah inang dan berakhir sebagai bungkus gorengan (ini sih bukan cuek lagi, tapi sudah pasrah namanya).

Reaksi ketiga: bahagia. Aku membayangkan buku semacam ini adalah seseorang yang mencintai tanpa pamrih. Ia tidak sedih, apalagi kecewa, saat dirinya masih bertahan di rak diskon paling bawah. Kalaupun berhasil ada tangan menyentuhnya, membolak-balik, lalu membelinya, tapi belum sempat terbaca, ia tetap bahagia. Bukankah cinta paling tulus semacam keikhlasan untuk mau tetap tinggal dalam penantian panjang, sampai akhirnya waktu berpihak dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan intim (red: membaca dan dibaca).

Juga, sukarela menjadi penolong bagi jiwa-jiwa introvert. Kadang diselipi setangkai mawar berduri hingga mengering dan menghapus kalimat-kalimat penting di halaman tujuh puluh dua. Kadang ada halaman sengaja dirobek dan diremas-remas tanpa ampun untuk nimpuk orang. Ada lagi, buku sekadar menjadi kurir tanpa pesanan yang begitu tersampaikan secara diam-diam, malah berakhir masuk ke gudang, bahkan dibuang karena dianggap tak penting.

Buku sejatinya seperti manusia dengan banyak perasaan. Hanya saja, buku tidak punya pilihan kecuali menunggu. Entah itu menunggu seseorang yang benar-benar mau membacanya, atau menunggu untuk sering dipindahtangankan: bisa sebagai kurir dengan pesan khusus, atau justru sebagai kurir tanpa pesanan.

Jadi, apakah kamu pernah menyelipkan sesuatu di novel yang belum pernah dibaca? Atau kamu justru mencorat-coret isi buku puisi lalu setelahnya kauberikan pada seseorang? [] Redaksi

Dunia Buku

Drabuk

 Ini tentang hobi. Atau kecintaan. Bisa juga merupakan jalan tikus menuju pelarian sekadar mengisi kekosongan. Atau, rasa kecanduan yang sulit lepas macam asap nikotin. Apa pun alasannya, bagi sebagian kecil orang, buku bisa menjadi jamuan paling nikmat untuk membunuh sepi. Ya, sepi. Bukankah kesepian memang hanya bisa diobati melalui jalan sunyi? Perjalanan tanpa suara yang mampu meramaikan isi kepala dengan pemikiran, serta menyulut percikan rasa di hati yang hampir padam.

Aku punya seorang teman yang katanya hobi berkhayal. Bahkan, baginya, mengkhayal sudah dianggap aktivitas seperti halnya bekerja. Ada jatah waktu. Ada jeda istirahat. Bahkan ada juga masa libur. Temanku pernah bilang: “Aku merasa justru lebih hidup di rumah khayal. Akulah sang pengendali. Tidak ada satu pun peran kecil di setiap tokoh dan adegan yang kuciptakan. Seperti sebuah drama yang menjadikanku seorang penulis skenario, sekaligus sutradara.”

Lalu apa kaitan khayal dengan buku? Drabuk, begitu jawab temanku tadi. Sama halnya dengan drakor, jika durasi filmnya hanya satu hingga dua jam saja, maka drabuk yang dinikmati ibarat cerpen. Namun, jika drakor sudah punya banyak series, yang mungkin tidak bisa selesai dalam satu kali dua puluh empat jam, maka drabuk sudah selayak novel panjang.

Sampai di sini, aku yakin kamu masih belum menemukan hubungan aktivitas mengkhayal, drakor dan drabuk. Mari sejenak kita duduk bersila, boleh sembari ngopi, ngeteh atau makan camilan hangat diiringi lagu-lagu puisi yang mungkin hanya punya pendengar segelintir orang saja.

Sudah siap? Mari kita mulai. Melamun adalah anak turunan langsung dari menghkayal. Jika mengkhayal butuh energi untuk membayangkan, entah itu tokoh, alur, adegan dan suasana. Sedangkan melamun, itu sebuah jeda. Semacam hari tenang sebelum pemilu, mengheningkan cipta saat upacara, atau rehat sembari merokok tanpa memikirkan apa-apa. Melamun bisa dikatakan sebuah jembatan. Jembatan lengang yang bisa memberi ruang bagi pejalannya untuk tidak tergesa-gesa sampai ke tujuan.

Pernahkah kamu menonton serial hingga mata benar-benar lelah sampai tak kuasa lanjut meski hasrat menuntaskan tak bisa dibendung? Lalu kamu memilih hengkang ke kamar mandi: cuci muka. Atau menuju kulkas untuk mengambil sebotol soda. Atau mungkin malah masuk ke kamar sekadar rebahan tanpa melakukan apa-apa, termasuk tidur. Tapi, entah disadari atau tidak, di saat jeda itu, tanpa sengaja sekelebat bayang-bayang datang memenuhi kepala seolah meneruskan cerita. Bisa alur maju, alur mundur, atau bisa juga alur maju mundur. Meski memang hanya sebatas tebak menebak, atau mereka ulang peristiwa.

Begitu pun terjadi saat membaca novel panjang. Saat kita memutuskan meletakkan pembatas buku pada halaman tertentu, maka bersiap-siaplah pikiranmu berkelana. Mungkin saat sedang memasak, teringat adegan ciuman sepasang kekasih yang keduanya lupa menutup pintu ruang tamu hingga anak tetangga nyelonong masuk tanpa permisi. Atau mungkin saat mandi, teringat aksi kejar mengejar antara pencuri ternak dan hansip gadungan di pematang sawah. Bukan soal ceritanya, tapi lebih kepada hasrat ingin segera menyelesaikannya. Apakah punya akhir yang membagongkan? Atau justru malah memunculkan kalimat: “Oh, rupanya begini doang.”

Drabuk tidak selalu happy ending, sad ending, atau so so. Sesungguhnya bukan perkara ending, melainkan tentang rasa cemas, bingung, takut, bahkan perasaan-perasaan menyiksa lainnya yang menggiring raga untuk terus terjaga. Membuka halaman demi halaman buku, lalu menuntaskannya. Setidaknya, jika benar kamu sampai harus terus melamun hanya karena sebuah buku yang belum selesai kamu baca, anggap saja itu hukuman atas penundaan. Tak perlu minta maaf pada buku, karena buku tak pernah suka drama. Mereka bahkan tidak menagih janji yang pernah terucap dari pembacanya.

Jadi, apakah kamu berhasil tetap merasa baik-baik saja ketika mengambil jeda saat membaca buku? Atau justru terus melamun setelah menyelesaikan sebuah buku? [] Redaksi

Dunia Buku

Luka Kecil dari Halaman yang Terlupa

Ada rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Bukan rasa bersalah karena lupa ulang tahun pacar, bukan karena tak balas pesan ibu, bukan juga karena telat bayar utang ke teman. Tapi ini: rasa bersalah karena tidak menyelesaikan membaca buku. Iya, hanya itu, tapi rasanya seperti habis ninggalin orang yang sedang bercerita dengan mata berbinar, lalu kita berdiri dan bilang, “Maaf ya, aku mau beli cilok dulu.” Dan tidak pernah kembali.

Buku itu tetap diam di rak, di meja kerja, di dalam tas, atau di tab digital, dengan penanda halaman menggantung, seperti cinta tak sampai. Awalnya kita menyambutnya penuh gairah, memotret sampulnya, memuji kalimat-kalimat pembukanya, bahkan tak jarang mengutip sebaris kalimat dan mengunggahnya dengan caption puitis. Tapi setelah bab dua atau tiga, hidup kita mendadak penuh alasan. Sibuk, capek, banyak kerjaan, banyak pikiran, sinyal wifi lemah. Padahal waktu buat scroll TikTok dua jam sehari tetap tersedia. Dan lucunya, kita masih sempat nonton serial tiga musim habis dalam seminggu. Jadi mari jujur: bukan waktunya yang hilang, tapi niatnya yang lelah.

Lucunya lagi, kita sering lebih fasih bicara soal buku yang belum kita tuntaskan, daripada buku yang benar-benar kita pahami. Kita puja-puji isinya padahal baru baca prolog. Kita bahas gagasannya dengan percaya diri meski isi bukunya sendiri belum kita jamah lebih dari 30 halaman. Ironi paling lucu? Kita bahkan beli buku berikutnya, padahal yang sebelumnya masih terengah-engah. Ini bukan membaca, ini koleksi rasa bersalah.

Ada semacam kesepakatan diam-diam di antara para pembaca masa kini, bahwa membeli buku adalah tindakan intelektual, walau membacanya bisa ditunda seumur hidup. Buku pun tak lebih dari pajangan estetik di meja kopi atau rak kayu minimalis yang jadi latar belakang video call. Kita pamer barisan punggung buku, bukan isi kepala. Dan saat seseorang bertanya, “Bagus bukunya?” kita jawab, “Wah, banget!” tanpa bisa menyebut satu tokoh pun dari cerita itu. Luar biasa. Pujian palsu yang nyaris religius.

Tapi jangan kira rasa bersalah itu tak punya kuasa. Ia hadir diam-diam. Saat kita membuka rak buku dan tatapan sampul itu seolah memelas. Saat penanda halaman yang masih setengah perjalanan itu menuding seperti hakim kecil. Saat kita mencoba baca buku lain, dan yang belum selesai seakan bersuara, “Loh, aku belum kelar, kamu udah main sama yang lain?” Astaga, selingkuh literasi!

Namun, tidak semua ketidakselesaian adalah bentuk pengabaian. Ada buku-buku yang justru terlalu menyentuh, terlalu dalam, hingga kita tak sanggup menuntaskannya. Kita tahu akan ada luka di akhir cerita, dan kita belum siap. Kita menunda bab terakhir karena tak ingin berpisah. Rasanya seperti menahan pelukan, takut kalau selesai, tak ada lagi yang bisa digenggam. Pembaca yang seperti ini bukan pelupa, melainkan pencinta yang gentar. Dan itu juga bentuk kesetiaan yang unik, meski menyakitkan.

Buku, tentu saja, tidak pernah menuntut. Ia diam, tidak seperti manusia yang ngambek kalau ditinggal chat. Tapi justru karena diam itulah, kita sering merasa disindir. Diam buku adalah cermin. Kita malu melihatnya. Kita tahu betapa sering kita kalah oleh gawai, oleh notifikasi, oleh distraksi, oleh malas yang kita bungkus dengan dalih “butuh waktu yang tenang untuk membaca.” Padahal kita tahu, waktu tenang itu hanyalah mitos. Yang tenang itu bukan waktunya, tapi niatnya.

Namun, di tengah rasa bersalah itu, mari beri sedikit kelonggaran pada diri sendiri. Tidak menyelesaikan buku bukanlah kejahatan budaya. Dunia tidak akan runtuh, pustakawan tidak akan mencabut gelar kita sebagai pembaca, dan Dewan Sastra Internasional pun tidak akan membuang nama kita. Kadang memang ada buku yang tidak cocok, ada yang momennya tidak tepat, ada yang bahasanya terlalu jauh, ada yang hati kita belum sampai. Itu bukan kegagalan, hanya ketidaksesuaian yang wajar. Bahkan manusia pun banyak yang tidak cocok meski sudah pacaran lima tahun.

Jika boleh jujur, bukankah hidup kita juga penuh dengan hal-hal yang tidak selesai? Surat cinta yang tak pernah dikirim. Lagu yang hanya kita dengarkan separuh. Percakapan yang menggantung. Perasaan yang tidak diucapkan. Maka, buku yang tak selesai pun tak perlu dipaksa ditamatkan. Biarkan ia jadi bagian dari jejak. Bahkan yang tak rampung pun bisa mengajarkan banyak hal.

Namun kalau kau sempat, kalau hatimu tenang, dan semesta memberi sedikit ruang, kembalilah. Duduklah kembali. Buka halaman itu. Lanjutkan membaca. Tak usah merasa harus paham semuanya. Tak perlu merasa wajib mengulasnya. Cukup selesaikan, dengan perasaan yang sama seperti menepati janji kecil: kepada diri sendiri, kepada kata-kata yang pernah membuatmu berhenti sejenak dari riuh dunia.

Jika pada akhirnya buku itu tetap tak selesai dibaca, setidaknya kau sudah mencobanya. Kau sudah pernah membuka lembar pertamanya, menatapnya dengan niat baik, dan memulai satu langkah kecil. Percayalah, hal itu sudah lebih dari cukup.[] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Ssssttttt

Ada begitu banyak hal yang masih menjadi misteri. Bukan hanya di muka bumi yang katanya penuh dengan panggung sandiwara, tapi juga di dasar samudera paling dalam, sedalam pikiran kotor yang lupa sudah berapa lama belum dilaundry. Atau, jangan-jangan ada banyak artefak menggantung di langit-langit angkasa yang lupa ditemukan hingga gagal menjadi sejarah.

Sesungguhnya, bukan tentang misterinya, melainkan pesan-pesan yang bisa jadi sengaja disembunyikan. Apa kalian tahu—sebenarnya aku yakin kalian sudah tahu—jika orang yang paling pandai berkamuflase adalah penulis? Ada satu buku lawas, yang ketika kubaca ulang, aliran ceritanya bisa terus bercabang ke mana-mana seperti anak sungai. Penulisnya pandai bernarasi. Ia tidak menciptakan plot yang menghanyutkan, melainkan membawa pembaca untuk terus berpikir dan memutuskan sendiri ke mana arah cerita itu akan berakhir.

Sayangnya, banyak orang justru merasa dijebak. Terlalu banyak ruang kosong yang pada akhirnya membuat pembaca kecewa, lalu mengeluh, Aku membaca untuk menikmati, bukan mencari-cari jawaban seperti sedang ujian nasional.

Padahal, buku yang dianggap penuh lubang jebakan itu justru memiliki nyawa. Ibarat seorang kekasih yang tak banyak bicara, namun selalu mendengar dan memperhatikan. Mungkin ia tidak membuat perasaanmu melayang-layang saking romantisnya. Tapi ia tahu kapan waktu yang tepat untuk memelukmu.

Jadi hal ini bukan soal misteri, ruang kosong, atau jebakan, tapi soal keterbukaan dan keikhlasan untuk menerima. Membuka hati dan pikiran agar tidak terjebak dalam monolog. Karena buku, bukan hanya bercerita tentang kisah-kisah relate kehidupan sehari-hari yang membuatmu merasa ke-ge er-an. Apalagi sampai tidak bisa tidur karena berpikir jika penulisnya sengaja membuatkan cerita khusus untukmu saja.

Ketahuilah, penulis tetaplah seorang manusia. Kadang ia menitipkan trauma pada tokoh anak kecil yang benci asap rokok sejak kehilangan sosok ayah. Atau mengukir sebuah kehidupan rumah tangga paling sempurna dengan memunculkan tokoh istri yang diam-diam selalu menyisihkan lauk paling lezat demi menyambut suaminya. Atau, bisa jadi ingin sejenak menjadi jahat, dengan menciptakan tokoh pembunuh bayaran yang tak berperasaan dalam menghabisi targetnya. Ssssstttttt, ini hanya rahasia yang tidak benar-benar bisa menjadi sebuah rahasia. Bisa nyata begitu, bisa juga tidak benar-benar seperti itu.

Jadi, jika saat membaca sebuah buku, kamu merasa kosong, itu bukan berarti penulisnya buruk, atau kamu yang tidak lekas memahami maksud penulisnya. Melainkan, kamu hanya belum benar-benar mau terbuka untuk mengenal dan memahami cerita. Pada dasarnya, tidak ada cerita yang sia-sia. Sama halnya dengan buku dan segala misterinya. Pada akhirnya, kamu akan mengerti, jika dalam setiap narasi dan kisah, selalu menyimpan sesuatu dari penulisnya. Entah itu sebuah kebenaran yang dianggap fiksi, atau kebohongan yang terlanjur dipercaya. [] Redaksi

Dunia Buku

Tak Harus Hobi

Ada yang aneh tapi nyata. kita hidup di zaman koneksi cepat, tapi pikiran di kepala justru makin lambat. Informasi berseliweran tak kenal jeda, tapi yang mampir di kepala cuma potongan tulisan dari akun gosip. Bukan karena tidak ada buku. Bukan karena sulit mengakses bacaan. Tapi karena anggapan orang dewasa merasa tak perlu membaca.

Ah, membaca. Kata yang terdengar begitu romantis bagi penggila literasi, tetapi terdengar seperti kutukan buat yang merasa sudah kenyang ilmu. Seolah membaca itu pekerjaan anak sekolah dan tukang tulis. Seakan kalau sudah dewasa, sudah kerja, sudah bercucu, otomatis jadi makhluk serbatahu, yang informasi bisa cukup didapat dari obrolan di warung kopi dan chat di grup WhatsApp.

Padahal, kegemaran membaca itu bukan bakat. Bukan warisan genetik. Dan sama sekali bukan cuma hobi yang cocok dipajang di bio Instagram. Itu kebiasaan. Yang bisa dibentuk. Yang bisa diasah. Dan bisa ditanam kapan saja, ke siapa saja, sepanjang hidup. Tapi sayangnya, sering ditinggal begitu saja.

Mari kita buka sedikit fakta menyebalkan tapi perlu, masih terlalu banyak orang dewasa yang merasa tidak punya waktu untuk membaca. “Sibuk, Bro. Mana sempat?” katanya, padahal tiap hari bisa nonton tiga episode drama Korea dan lima video prank dari YouTube.

Mereka ingin tahu sesuatu, tapi enggan mencari tahu. Maunya diberi tahu. Maunya instan. “Tanya aja langsung, lebih cepet,” katanya. Lalu ketika pengetahuan yang didapat mentah dan sesat, mereka marah-marah.

Ini bukan hanya ironi, ini sudah seperti lelucon yang tak lucu. Sebab bagaimana mengaku cerdas dan modern, jika enggan melakukan hal paling dasar dalam membangun kapasitas berpikir: membaca?

Kebiasaan membaca, jika sudah mendarah daging, punya efek luar biasa. Ia mengajarkan kita menunda kesimpulan, memperkaya perspektif, membuat kepala seperti ruang tamu yang siap menerima siapa saja, bukan ruang tahanan ego yang menolak semua ide selain miliknya sendiri.

Dan ada yang lebih menarik, membaca bisa menunda kepikunan. Ini bukan omong kosong dari motivator pagi yang berjas tapi pakai celana training. Ini fakta dari banyak studi. Membaca membuat otak aktif, memelihara daya ingat, dan melatih fokus. Membaca adalah senam otak. Tapi yang satu ini tak perlu alat bantu, cukup buku dan sedikit kemauan.

Bayangkan, ada yang sejak pensiun tidak pernah membaca lagi. Yang dibuka cuma grup WhatsApp, itu pun hanya untuk memastikan siapa yang meninggal minggu ini. Saat diajak bicara, jawabannya melantur. Bukan karena takdir, tapi karena membiarkan kepala jadi sarang debu. Tapi kenapa mereka tidak juga tertarik membaca?

Barangkali karena bacaan kadung dianggap beban, bukan teman. Kita mewarisi pola pikir membaca itu harus ada gunanya langsung, bisa diuji, bisa ditampilkan. Baca koran, harus bisa nyambung pas ngobrol politik. Baca novel, harus bisa bikin resensi. Kalau tidak, dianggap buang waktu.

Itu pola pikir warisan pendidikan lama, yang menjadikan membaca sebagai alat ukur nilai. Padahal, membaca itu baiknya seperti ngobrol dengan dunia. Kadang tidak perlu paham dulu, cukup penasaran, cukup terbuka. Kalau semua harus langsung paham dan menghasilkan, maka cinta pun tidak akan ada yang bertahan, karena siapa yang langsung ngerti pasangan seperti apa? Lalu, bagaimana menumbuhkan kebiasaan membaca bukan hanya pada anak, tetapi juga orang dewasa?

Jawabannya sederhana tapi bikin dahi berkerut, jangan didoktrin. Jangan dipaksa. Perkenalkan bacaan yang dekat, ringan, dan jenaka. Jangan langsung kasih Sapiens ke bapak-bapak pensiunan. Berikan dulu tulisan pendek menggugah. Cerita harian. Humor receh. Artikel menyentil. Biar mereka tahu, membaca tidak harus berat. Bisa menggelitik yang membuat senyum kecil sembari ngopi sore.

Juga, penting mengenalkan suasana membaca sebagai aktivitas santai. Tidak usah sakral. Tidak perlu pakai lilin dan instrumental klasik. Cukup dengan suasana nyaman dan buku yang tidak menakutkan.

Katakanlah, ada orang yang dulu sama sekali tak suka membaca. Baginya buku simbol trauma, tugas sekolah, ujian, nilai merah. Tapi ketika ia terkena insomnia dan mulai mencari bacaan pendek di ponsel, dia ketagihan. Mulai dari cerpen lucu, artikel ringan, hingga kini tak bisa tidur tanpa membaca dua puluh halaman novel setiap malam. Tak ada kata terlambat. Yang perlu cuma pintu yang pas.

Kita juga bisa membuat membaca jadi pengalaman bersama. Misalnya, satu keluarga membaca buku yang sama, lalu didiskusikan tiap akhir pekan. Bukan buat nilai, tapi buat berbagi tawa atau marah bareng. Atau di kantor, daripada meeting yang isinya saling menyalahkan, kenapa tidak ada satu sesi tukar kutipan minggu ini?

Kita bisa saling memperkenalkan bacaan seperti memperkenalkan makanan. “Nih, ada cerita lucu yang bikin aku ketawa sendiri tadi malam,” lalu kirim PDF atau tautannya. Itu lebih menyenangkan daripada menyebar video hoaks cara menyembuhkan asam urat dengen bersiul.

Membaca bukan cuma buat mereka yang kerja di dunia literasi. Sama seperti olahraga bukan cuma untuk atlet. Kita semua butuh gerak tubuh, sebagaimana kita butuh gerak otak. Tanpa membaca, pikiran kita jadi seperti sumur yang tak pernah ditimba. Diam. Berlumut. Dan lama-lama bau.

Seseorang yang terbiasa membaca bisa membedakan mana opini dan mana fakta. Ia tidak mudah tersulut hanya karena judul berita. Ia tahu bahwa tidak semua hal bisa ditangkap lewat satu video viral berdurasi satu menit. Ia bisa diam dalam percakapan tanpa merasa perlu selalu punya pendapat, karena ia tahu diam pun bagian dari memahami. Sebaliknya, yang tidak pernah membaca biasanya cepat kesal. Karena hanya hidup dari emosi, bukan dari informasi.

Seorang ibu tua datang setiap Rabu sore di perpustakaan desa. Ia tidak bisa membaca. Tapi ia minta dibacakan cerita. Ia tertawa ketika tokohnya lucu. Ia menangis ketika tokohnya kehilangan. Ia bilang, “Saya jadi merasa punya teman.” Dan begitulah adanya, membaca memberi kita teman, bahkan saat dunia sepi dan orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jadi, tidak ada alasan logis untuk menghindar dari membaca. Kecuali kalau memang lebih nyaman hidup dengan kepala kosong. Membaca tidak perlu alasan mulia. Tidak usah ditunggu pensiun atau dapat pencerahan spiritual. Cukup mulai dari mana saja, dan kapan saja.

Kalau hari ini bisa tertawa dari tulisan lucu, itu juga membaca. Kalau bisa menangis karena kisah dari orang yang tak kita kenal, itu juga membaca. Kalau bisa menghindari hoaks dan tidak mudah dibodohi, itu juga berkat membaca. Dan jika suatu hari, kita sudah terlalu tua untuk ingat jalan pulang, mungkin membaca bisa jadi pengingat kecil bahwa kita pernah hidup, dengan isi kepala yang tidak kosong-kosong amat.[] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Tentang Rasa yang Dirasa

Di antara orang yang baca tulisan: Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis, bertanya kepada saya terkait bagaimana cara membuat resensi buku cerita yang baik. Tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Ada sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan mulai diwariskan, menulis resensi buku cerpen dengan gaya buku pelajaran IPS kelas tiga. Mulai dari ringkasan cerita, tokoh, latar, amanat, sampai kesimpulan. Pokoknya kalau bukan kayak anak SD mengerjakan PR, belum sah disebut resensi. Bahkan ada pula yang memberi judul resensinya dengan gaya garing seperti: Kisah Haru Tentang Persahabatan dan Perjuangan. Hadeh. Membacanya seperti masuk ke lubang nostalgia sinetron 2003, penuh harapan, tapi isinya klise.

Mari kita tarik napas. Pelan-pelan. Lalu kita buang segala anggapan bahwa resensi adalah ringkasan. Bukan. Resensi yang baik tidak menceritakan ulang. Resensi yang baik memaknai. Bukan bicara apa ceritanya, tapi apa yang terjadi pada saya setelah membaca cerita itu.

Sama seperti kamu tidak butuh laporan lengkap tentang siapa mantan pacar gebetanmu, kamu hanya ingin tahu kenapa dia tidak bisa move on. Nah, resensi itu bukan laporan investigasi cerita, tapi pengakuan emosi pembaca.

Coba kita bayangkan begini. Ada satu buku cerpen berjudul: Dunia yang Terbakar oleh Luka Kecil. Isinya sepuluh cerpen, semua berkisah tentang luka-luka batin manusia. Nah, si A menulis resensi dengan cara menyebutkan satu per satu ceritanya: Cerpen pertama tentang seorang anak kecil yang trauma karena disiksa ayahnya. Cerpen kedua tentang perempuan yang tak bisa memaafkan ibunya. Cerpen ketiga dan seterusnya.

Lalu dia menutupnya dengan kalimat: Buku ini mengajarkan kita untuk tidak menyakiti orang lain. Wah. Betapa naif dan polosnya simpulan itu. Kita sedang membicarakan manusia yang berdarah dan berlumur konflik batin, tapi disimpulkan seperti pesan moral pada iklan sabun: Mari saling menyayangi.

Sebaliknya, bayangkan resensi penulis lain. Ia menulis:

Setelah membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, saya mendadak merasa canggung dengan keheningan di meja makan rumah saya. Saya teringat ibu saya yang selalu bilang: “makan jangan bersuara” seperti mantra, tapi saya tahu, itu hanya alasan untuk menyembunyikan tangis. Cerpen keempat, entah mengapa, membuat saya menyesal tidak pernah bertanya pada ibu, apakah ia bahagia?

Nah! Di situlah resensi menemukan rohnya. Bukan soal cerita, tapi soal bagaimana cerita itu mengguncang, menyenggol, menggoda, atau malah menampar pembaca. Kalau kita hanya mengulang isi cerita, buat apa ada banyak orang menulis resensi? Toh hasilnya akan seragam, isi-cerita-tokoh-latar-amanat. Ajaibnya, masih banyak redaktur media yang memuat tulisan seperti itu. Ironis, bukan?

Kita harus akui, ada pula penulis resensi yang sok keren. Dia pakai istilah semiotik, strukturalisme, dekonstruksi, dan teori-teori yang terdengar seperti nama penyakit. Resensinya tak lebih dari parade kutipan Derrida dan Barthes, tapi sayangnya ia lupa, pembaca ingin tahu rasa, bukan rumus.

Dia seperti orang yang sedang menceritakan makanan enak tapi hanya menyebutkan kandungan gizi, jumlah kalori, dan teori metabolisme, tanpa pernah mengatakan: “ini gurih banget, dan bikin kangen.” Maka resensinya pun hambar. Canggih, tapi tidak menggugah. Akhirnya jatuh ke kubangan narsisme intelektual, membahas buku hanya untuk memamerkan kecerdasan sendiri, bukan untuk mengajak orang ikut merasakan.

Misalnya sebuah resensi buku cerpen berjudul: Sajak yang Terselip di Celana Dalam (Judul-Judul cerpen dalam buku itu memang liar). Tapi si peresensi malah sibuk menganalisis gaya bahasa dengan cara formal:

Penulis menggunakan diksi vulgar untuk menarik perhatian pembaca, namun secara semantik hal ini menciptakan ambiguitas yang kontraproduktif terhadap nilai-nilai kultural.

Kita bisa mengelus dada. Kalau niatnya menulis esai akademik, silakan. Tapi ini kan resensi untuk umum, bukan abstrak skripsi. Sementara, kalau mau membahas kebrutalan diksi, kenapa tidak bilang saja:

Ketika saya membaca kata ‘celana dalam’, saya mendadak merasa diawasi. Buku ini seolah menyindir ruang privat yang paling rawan, pikiran liar yang disensor oleh sopan santun. Tapi hidup sehari-hari kita sepertinya memang begitu. Penuh yang tak terucap.

Nah, itu namanya mengajak pembaca masuk ke dalam perasaan, bukan cuma mengupas kulit luarnya.

Ada pula model resensi yang kebablasan spoiler. Bahkan dia ceritakan sampai ending-nya, lengkap dengan twist dan kejutan cerita. Saya membayangkan si penulis cerpennya sedang membaca resensi itu sambil berkata lirih, “Astaga, kamu kok tega!”

Kalau semua rahasia dibeberkan, lalu untuk apa pembaca membeli bukunya? Ini bukan pesta keluarga di mana semua orang harus tahu siapa selingkuh dengan siapa. Cerita butuh ruang kejut. Dan resensi yang baik justru menjaga letupan-letupan itu agar tetap hidup. Karena itu, resensi bukan mengisahkan kembali, tapi memantik rasa penasaran.

Contoh buruk:

Di akhir cerita, ternyata si tokoh utama adalah hantu. Wah, mengejutkan!

Contoh baik:

Cerpen ini membuat saya mempertanyakan batas antara hidup dan mati. Saya jadi curiga, jangan-jangan obrolan saya dengan kakek minggu lalu adalah percakapan dengan kenangan.

Lebih enak, kan? Kita tidak tahu ceritanya secara utuh, tapi kita tertarik.

Dalam dunia resensi, selera itu penting. Tapi bukan berarti selera pribadi dibela mati-matian seperti suporter klub bola. Kadang ada yang terlalu subjektif dan menjatuhkan:

Buku ini jelek. Ceritanya tidak jelas. Tokohnya aneh.Tidak layak disarankan.

Lalu kita cek profilnya, baru baca dua buku cerpen sepanjang hidup. Satu waktu disuruh guru, satu lagi karena suka sama penulisnya yang cakep. Nah, ini bukan resensi. Ini komentar iseng yang tersesat ke kolom budaya.

Menulis resensi harus jujur, tapi juga beradab. Kalau tak suka, sampaikan dengan argumen yang membuka kemungkinan tafsir, bukan vonis. Dan kalau suka, jangan hanya bilang “ceritanya bagus banget” lalu selesai. Itu pujian yang membuat pembaca hanya senyum basa-basi, bukan mengangguk tanda sepakat.

Ada kalanya pula, resensi membawa kita ke ruang kenangan. Kita membaca satu cerpen, lalu teringat masa kecil, atau pertengkaran dengan kekasih yang belum pulih. Dan itulah yang harus ditulis. Karena resensi adalah medan pertemuan antara teks dan pengalaman pembaca. Maka setiap orang akan menulisnya berbeda. Satu buku bisa lahir dalam seribu resensi, dan semua sah, semua layak dibaca, asal bukan ringkasan cerita yang dibungkus dengan kalimat manis, lalu disebar dengan bangga.

Misalnya resensi cerpen tentang seorang perempuan yang diam saja sepanjang cerita. Saya tak tahu nama tokohnya, tak tahu apa motivasinya. Tapi dari diamnya itu, saya merasa ditampar. Saya akan menulis:

Kadang, cerita terbaik adalah tentang orang yang tidak bicara. Karena diamnya memekakkan. Karena saya pun pernah diam, saat semestinya marah. Cerpen ini, anehnya, membalas diam saya sendiri.

Resensi seperti itulah yang saya inginkan. Yang bukan hanya bicara tentang buku, tapi juga tentang diri kita sendiri. Karena buku adalah cermin, dan resensi adalah pengakuan diam-diam yang kita buat di hadapan cermin itu.

Jadi, kalau hari ini kamu ingin menulis resensi cerpen, jangan mulai dengan: Buku ini terdiri dari sepuluh cerita yang semuanya menarik. Itu kalimat pembuka yang sudah pensiun sejak tahun 2002. Mulailah dengan rasa. Dengan tanya. Dengan bingung. Bahkan kalau perlu, dengan marah atau tawa kecil. Karena cerita yang baik, selalu membekas. Dan tugas peresensi adalah menunjukkan bekas itu, bukan membersihkannya.

Jangan takut membuat resensi yang tidak akademis. Yang penting jernih. Jangan takut menulis dengan jenaka. Yang penting tajam. Jangan malu memasukkan pengalaman pribadi, bahkan yang menyedihkan. Karena mungkin, ada yang membaca resensimu dan berkata: “Saya juga merasakan itu.”

Dan pada saat itulah, resensi berhenti menjadi sekadar tulisan. Ia menjadi jembatan. Ia menjadi pengakuan. Ia menjadi semacam bisikan pelan di antara dua pembaca yang tak saling kenal, tapi punya luka yang serupa. Tentang rasa yang dirasa. Dan bukankah itu tujuan membaca yang sesungguhnya? [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis

Ada semacam godaan abadi dalam dunia resensi buku, menempel pada nama besar, lalu berharap reputasi ikut mengalir, seperti aroma parfum mahal yang menempel di kerah baju setelah pelukan singkat. Kita tahu itu bukan dosa besar, tapi bukan juga kebajikan agung. Meresensi buku Pramoedya, Ayu Utami, Eka Kurniawan, atau Leila S. Chudori bisa jadi terasa seperti ritual wajib bagi yang ingin tampak serius di sastra. Tapi mari jujur, apakah kita membaca mereka karena memang benar ingin baca, atau karena ingin diakui sebagai pembaca keren?

“Wah, kamu resensi buku Eka ya? Keren banget!”

“Enggak juga sih, cuma biar dikira keren.”

“Lho, kok jujur?”

Ironi ini sering terjadi, buku dari penulis yang kita kenal secara pribadi, yang bahkan bisa kita sapa dengan emot senyum di WhatsApp, malah diabaikan. Padahal isinya tak kalah menggugah, tak kalah gatal di pikiran, kadang justru lebih segar karena lahir dari pergumulan yang masih mentah, berani, dan lepas dari pretensi.

Tapi siapa yang mau meresensi buku kawan sendiri? Nanti dikira tak objektif. Nanti dikira nyari muka. Nanti dikira ah, terlalu banyak dikira-dikira yang justru membunuh niat baik. Kita lebih suka menoleh ke arah nama-nama berlabel sudah mapan, atau buku-buku yang sudah jadi bahan diskusi nasional. Resensi, bagi sebagian orang, adalah panggung. Dan panggung tak butuh suara baru, hanya perlu nama besar yang sudah memancing tepuk tangan.

Coba kita renungkan. Seorang teman menerbitkan kumpulan cerpen indie, dengan dana pas-pasan, desain seadanya, tapi semangat sebesar Gunung Semeru. Ia mengirimkan satu eksemplar ke kita, berharap sebuah catatan kecil. Bukan pujian bombastis, cukup sepatah dua patah kesan. Tapi kita malah menyimpannya di rak, lalu memosting resensi setebal delapan paragraf tentang buku terbaru penulis kelas festival.

Ironi macam apa ini? Kita merayakan yang jauh, mengabaikan yang dekat.

Sebut saja penulis muda bernama Q, menerbitkan novel debutnya. Ceritanya soal cinta, patah hati, dan jalan-jalan ke Yogya. Biasa, kata orang. Tapi justru dari yang biasa itu terasa jujurnya. Q mengirim bukunya ke lima belas teman. Hanya dua yang membuat resensi, dan satunya lagi baru menulis setelah Q dapat penghargaan. Resensi dadakan yang lahir dari kewajiban sosial belaka.

Tentu, tidak ada yang mewajibkan kita menjadi promotor teman sendiri. Tapi tidakkah terasa aneh jika kita lebih cepat mengulas buku orang yang tak pernah tahu kita ada, daripada buku teman yang pernah meminjami kita payung saat hujan?

Sarkasme kecilnya begini, bahkan dalam dunia resensi, gengsi kadang lebih menentukan daripada isi. Kita sering lupa, bahwa resensi bukan soal siapa yang ditulis, tapi mengapa kita menulis. Jika alasannya hanya agar tampak pintar, relevan, atau terlibat dalam percakapan besar, maka tulisan kita hanya akan jadi gema kosong, bergema tapi tak pernah menyentuh.

Sebaliknya, saat kita menulis tentang buku kawan, dengan jujur, dengan kritis, tapi juga dengan cinta, maka tulisan itu punya denyut lain. Ia bukan hanya sekadar analisis, tapi juga apresiasi. Ia bukan hanya soal apa yang kurang, tapi juga apa yang layak dirayakan.

Saya pernah menulis resensi untuk buku puisi seorang teman. Bukunya tipis, dicetak terbatas, dengan cover yang seperti desain PowerPoint tahun 2005. Tapi isinya? Waduh, tiap bait seperti bisikan yang tak enak ditinggal tidur. Saya tulis resensinya, saya unggah ke blog pribadi. Tak viral, tentu. Tapi teman saya menangis. Katanya, itu lebih bermakna daripada lima bintang dari akun anonim di toko buku online.

Kadang yang kita perlukan bukan popularitas, tapi keberpihakan. Bukan tepuk tangan massa, tapi anggukan diam dari satu sahabat.

Resensi, jika kita jujur, bisa jadi bentuk cinta paling elegan. Kita membaca dengan sungguh-sungguh, menilai dengan adil, menyampaikan dengan lembut tapi tak mengurangi ketajaman. Dan ketika kita memilih buku teman sebagai objeknya, kita juga sedang berkata: “Aku melihatmu. Aku membaca perjuanganmu. Aku peduli.”

Tentu saja, tak semua resensi harus tentang teman. Tapi kalau semua resensi kita hanya tentang mereka yang sudah punya nama, apakah kita sedang benar-benar membaca, atau sekadar ingin ikut kecipratan tenar.

Sekali waktu, resensilah buku teman yang naskahnya masih bau tinta, atau yang bahkan belum masuk toko. Tulis betapa alurnya membingungkan, tapi idenya segar. Ungkapkan bahwa tokohnya kurang kuat, tapi ending-nya menyentak. Tunjukkan bahwa kita membaca bukan untuk memuja, tapi untuk menemani.

Mungkin tidak akan banyak yang baca resensi itu. Mungkin tidak akan di-repost penerbit besar. Tapi yakinlah, satu hati teman akan mengingat seumur hidupnya. Apakah hal itu tidak cukup?

Dan bukankah itu yang sebenarnya kita cari dalam dunia menulis? Bukan ketenaran instan, tapi hubungan yang hangat dan tulus. Bukan sanjungan sesaat, tapi jejak yang tinggal lama.

Jadi lain kali, saat kamu selesai baca buku dari temanmu yang menulis cerpen tentang perempuan penyapu jalanan atau novel remaja berbau fiksi ilmiah, jangan buru-buru menyimpannya. Tulis kesanmu. Tak usah takut dikira sok objektif atau malah terlalu subyektif. Bukankah kita semua menulis dari ketulusan yang selalu agak subyektif?

Kalau mau tetap keren, ya resensilah juga buku penulis besar. Tapi jangan jadikan itu satu-satunya. Dunia literasi kita tak akan tumbuh kalau semua orang hanya memuja yang sudah dipuja. Kita butuh lebih banyak ruang untuk suara-suara baru, dan salah satu caranya adalah dengan memberi perhatian lewat resensi, meski hanya di status Facebook, utas di Instagram, atau catatan blog yang sepi pengunjung.

Sebab sering kali, buku-buku kecil dari penulis yang masih biasa itu menyimpan ledakan yang tak terduga. Mereka hanya menunggu satu hal, dibaca dengan sungguh-sungguh, lalu dibicarakan dengan penuh hormat.

Dan siapa tahu, sepuluh tahun dari sekarang, nama temanmu itu justru yang akan kau cari di toko buku, sambil berharap: “Aku pernah meresensi bukunya dulu, waktu masih belum siapa-siapa.”

Lalu kalian bertemu lagi, bukan sebagai pembaca dan penulis, tapi sebagai dua orang yang pernah saling percaya di antara halaman-halaman yang nyaris tak terbaca. Terakhir, menangislah jika kamu ingin menangis setelah baca ini. Tidak perlu malu. [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Kumcer Tak Laku?

Kita mulai dari sebuah fakta kecil tapi menyayat, kumpulan cerpen seringkali seperti undangan pernikahan mantan, dicetak indah, dibagikan luas, tapi tak banyak yang peduli. Bukunya dipajang manis di toko, tapi yang datang cuma angin lewat. Yang ngelirik cuma lalat nyasar, dan yang baca paling banter si penulis sendiri. Kadang, bahkan si penulis pun tak yakin sudah membacanya sampai habis.

Lalu kenapa buku kumcer bisa begitu tragis nasibnya? Pertama-tama, mari kita hadapi satu ironi paling absurd dalam dunia perbukuan kita, cerpen adalah genre yang paling rajin dilombakan, tapi paling malas dibeli. Setiap bulan ada saja lomba cerpen tema hujan, tema mantan, tema luka masa kecil, tema ibu yang memasak sambil menangis. Penulis-penulis muda (dan tua yang muda semangatnya) berbondong-bondong ikut. Tapi setelah menang? Cerpennya dibukukan. Kumcer pun lahir. Dan di sinilah tragedi klasik dimulai, tak ada yang mau beli buku pemenang lomba yang mereka tak ikut.

Kenapa begitu? Karena banyak orang ingin menang, bukan membaca. Mau ikut pesta, tapi ogah cuci piring. Pembaca kita lebih suka jadi penulis. Dan penulis kita? Kadang lebih suka difoto bareng buku ketimbang dibaca bukunya.

Kedua, kita sering terjebak dalam kutukan ekspektasi. Penulis berharap buku pasti laku, isinya bagus, menang lomba pula. Penerbit berharap, minimal balik modal.  Pembaca berharap, Murah, tebal, full color, dan ending-nya bikin mewek! Tapi nyatanya? Bukunya jadi penghuni tetap kardus gudang. Diobral pun tak kunjung pindah tangan. Akhirnya dibagikan gratis. Ironisnya, saat gratis pun masih banyak yang jawab, “Nanti aja, lagi sibuk.”

Ada juga soal bentuk. Kumcer bukan novel. Ia seperti makanan pembuka, beragam, menggoda, tapi tak semua orang kenyang hanya dengan itu. Pembaca kita, sebagian besar, suka keterikatan emosional yang panjang. Mereka ingin jatuh cinta berlembar-lembar, bukan cuma digoda sepintas lalu. Cerpen itu seperti mantan gebetan yang cerdas tapi tak mau diajak nikah, mengesankan, tapi bikin frustrasi.

Lalu ada persoalan tampilan. Banyak buku kumcer tampil seadanya. Cover-nya seperti tugas seni rupa anak SD. Judulnya terlalu puitis sampai tak bisa dipahami. Blurb-nya? Entah menjelaskan isi atau justru menyesatkan. Misal, judulnya: Di Balik Embun yang Retak, tapi isinya tentang percakapan absurd antara kucing dan sandal jepit.

Belum lagi gaya penulisan. Beberapa cerpen memang bagus, tajam, dalam, memukau. Tapi tak sedikit juga yang terlalu ingin jadi sastra, padahal nyasar. Kalimatnya melingkar seperti benang kusut, padahal mau bilang: Aku kangen kamu. Jadi ditulis, Kesunyian malam yang menggema pada kenangan berbentuk siluet kerinduan. Lah? Pembaca bukan Google Translate.

Sementara itu, di sisi lain, penulis kumcer adalah makhluk paling tabah sejagat. Ia tahu bukunya tak laku, tapi tetap menulis. Ia tahu penerbitnya megap-megap jualan, tapi tetap berharap. Ia tahu pembacanya mungkin cuma dua,  dirinya sendiri dan redaktur koran minggu lalu. Tapi tetap semangat bikin status promosi pakai foto buku dan caption: Sudah baca cerpen terbaru saya? Belum, Kak. Maaf.

Tapi tunggu dulu. Ayo jangan terlalu getir. Ada pula sisi mengharukan dari dunia kumcer. Di balik penjualan yang sepi, ada tekad yang tetap menyala. Kumcer adalah bentuk cinta. Cinta yang tidak memaksa balasan. Cinta yang ditulis, dirakit, dan dikirim ke dunia, meski dunia sedang sibuk scroll TikTok.

Ada harapan juga, bahwa suatu hari, seseorang yang patah hati membaca cerpen tentang kehilangan dan merasa terobati. Bahwa di tengah tumpukan buku motivasi dan kisah cinta anak sultan, ada satu buku kumcer tipis yang membuat seseorang merasa dimengerti.

Mungkin itulah esensi kumcer, ia bukan untuk semua orang. Tapi untuk seseorang. Ia seperti hujan kecil di tengah musim kemarau. Tak cukup buat banjir, tapi cukup buat basahi hati yang kering.

Jadi, kenapa kumcer kita tak laku? Mungkin karena dunia terlalu cepat, dan cerpen terlalu pelan. Mungkin karena pasar suka cerita viral, bukan cerita yang mengendap. Atau mungkin, karena kita belum cukup sabar menjadikan buku cerpen bukan sekadar cetakan, tapi teman perjalanan.

Maka, kalau kau bertanya: “Apa kumcer masih perlu diterbitkan?” Aku jawab: ya. Dengan segala ironi, dengan segala tawa getirnya. Karena di antara banyak hal tak laku di dunia ini, kebaikan, kejujuran, dan cerpen adalah yang paling layak terus diperjuangkan. [] Redaksi