Puisi

Puisi Joe Hasan

Liang yang Mengalir di Matamu

terlalu deras liang yang mengalir di matamu

kau tahan sepanjang perjalanan mengantar

memasuki hutan

dan pada setiap langkah, kau ingin selalu berhenti

supaya tidak menuju pulang

kita bertemu lagi kali ini

sebentar di panggung rumah,

sebentar di kolong rumah

perasaan-perasaan yang terus berekor

terus memanjang

memenuhi langit

kau berusaha sembunyikan rasa yang tertancap di dada

terlalu sesak

dan semakin dalam liang yang mengalir di matamu

sudahlah sampai kita pada akhir pengantaran

ikatan telah dibuka

kain itu bernyanyi sesaat

siapa yang kan menemani?

tak bisakah lebih lama lagi kita melihat matahari?

deras yang kau tahan

memang untuk sembunyikan perih

kita menyadari hari

waktu  yang tiada henti

kita menunggu giliran siapa lagi besok

atau besoknya lagi

baiklah, alirkan saja rasa itu

kesedihan di puncak rambut

peluk doa selekat jarak mata dan bulunya

ada jalan yang harus terus dijalari

di matamu, sekali lagi kusentuh sedih yang menderas

(Bau-Bau,  Juni 2021)


Anak Timur

kemarilah, duduk bersandar di bale-bale

terpaan angin siang tak sabar menelusuri masa lalu

tolong ajari saya bagaimana bercerita soal susah yang tak padam

soal mengapa harus berdoa

bukankah tuhan sudah mengerti maksud hati

tanpa harus didoakan

saya hanya rindu akan gelagat tawa usai gulungan topan dulu

menghambur batu segala arah

rasa yang tiba-tiba kehilangan tuan puan

untunglah ada satu dua uluran tangan-tangan kecil

kehilangan cara berucap ialah musibah kecil

menjadikannya sebuah kisah yang sulit

kami anak-anak timur yang sering dikira terbelakang oleh mereka

nyatanya punya ambisi di ujung langit

hari ini sinyal internet tidak terlalu susah

roh-roh terdahulu mudah saja menjadi kompas

mengisi hati supaya hari tidak hilang arti

air mata timur bukanlah milik satu

tapi semua

mari ingat kembali semboyan-semboyan nenek moyang

wahai, yang berdedikasi

marilah duduk bersandar di bale-bale

temani cerita yang tak kunjung berujung

kami mencari mata tuhan

ajari kami menyimpan air mata

menunggu cerita-cerita luar biasa membelah angin

ajari kami menulis surat untuk tuhan

bagaimana cara melihat surganya

yang menurut cerita-cerita orang tua tak bisa digambarkan indahnya

ah, saya lupa

kau bahkan tak mengenal siapa tuhanmu

(Bau-Bau,  Juni 2021)


Berkunjung ke Kolowa

pukul tiga sore

waktu untuk berangkat

kapal akan menyeberang ke kolowa

hati sedang berantakan

berusaha tenang bagai laut ini

orang-orang membaca ikan

di tubuh laut

daratan hanya khayalan

android di tangan tidak lepas

mata membujur ke gunung lepas

bahasa-bahasa sudah bermain

sejak menanti di awal keberangkatan

dan ada yang mengingat seseorang

kadang kita sengaja pandai

sembunyi di balik masker

agar tak ada apa-apa

seperti sebuah catatan perjalanan

namun hanya perjalanan, tanpa ada catatan apa–apa

kampung kolowa masih begitu tenang

seperti tahun-tahun dulu

masih terasa dingin yang asri

menusuk tulang yang penat bergerak sepanjang hari

gerhana bulan muncul malu-malu

kami sama-sama tahu ada banyak kerjaan menanti

ini bukan kunjungan untuk menyelami permandian

maka cepatlah…

cepat-cepatlah untuk kembali pulang

kita tunduk seketika

gerhana mulai redup

dan kita benar-benar telah pulang

menyalami tangan yang dulu sempat berkenalan

(Bau-Bau,  Mei 2021)


Gadis dalam Gelas

di antara bebatuan laut

seperti ada suara memanggil

gadis yang terperangkap dalam gelas

sepotong hatinya hilang

menuai hangat pembawa berita

bunyi-bunyi yang tidak kukenal

membunuh setiap hewan melintas

hingga tak mampu bersanding lagi

doa yang tengah tengadah

dari mulut gadis kecil

meminta tahun yang berbunga

di sini hanya sebilah gelas

yang dengan dabar menerima nasib

(Bau-Bau, Mei 2021)


Live Instagram

pada bibir-bibir yang basah

saya mencari sebuah makna

celoteh pemuda pengembara

di live instagram

yang sedikit-sedikit menyeruput surya

membentuk asap di ruang sendiri

malam bermukim di matamu

sekadar bertanya apa yang sedang dikerjakan

merangkai setiap komentar penonton

menjawab malu-malu

atau diantara menjelma padi berilmu

yang barangkali sembunyikan kebolehan

menorehkan kata pada angin

kita sempat tertawa

tanpa pernah melihat bagaimana rupaku

lalu kau menyudahinya

dengan sepatah karya

tugu pahlawan tegak temaram

kehilangan tenaga diantara persimpangan

masih kau cari-cari penyebutan kota

tempat kau bertandang

dan saya tertawa lagi sendiri

sembari menyodorkan tanya

puisimu yang tajam melukai garis tangan

“siapa suruh dibaca.”

ujarmu saat live hari berikutnya

apalah daya

daya tarik dalam puisimu lebih menggoda

dari hanya sekadar luka nganga sebab kau

(Bau-Bau,  April 2021)


Pertemuan Semalam

sebab pertemuan semalam

kita menjelma kata

sabda yang tak habis di nyanyikan

berkunjung ke rimah hujan

memetik satu demi satu

bait-bait terpencil

seperti dosa di bibirku

yang kerap menunjukkan arah

hilang tak pulang-pulang

ini berbaris merenungi makna

siapa saja yang akan datang

tubuh –tubuh pucat

suara sumbang

daun merana

kehilangan surga

katanya mata ibu adalah rumah

namun tak beratap

bapak berpayung matahari

siapa yang lagi yang tersesat

pikiran terlalu pandai menipu

sebab pertemuan semalam

keindahanku menjadi singkat

bila esok bertemu lagi

bolehkah kita mencuri diri masing-masing

(Bau-Bau,  Februari 2021)


Buku Tua

buku tua pada rumah tua

mengambang seketika pengunjung bertitik

menanti gerhana bulan di padang karang

malam itu

mungkin bulan mengalah pada langit

atau mungkin sebaliknya

mereka saling membiarkan

sebab kampung masih bernyawa sepi

telah berbeda memang

namun keasrian itu abadi

dingin yang terus menusuk tulang

tak sampai remuk

cukup membuat lekuk badan

di bawah selimut tua

buku tua pada kampung tua

menghiasi lemari tua

bersama foto-foto tua

dan kaset-kaset tua

waktu tak pernah tua

hanya kita yang terlalu laju berlari

menulis kisah pada buku tua

yang kemudian mengungkap sejarah

(Bau-Bau, Mei 2021)


Pendosa

pendosa mana yang mau disahabati Tuhan

Tuhan pun memilih hambanya

waktu kian melaju

tak pandang pelakon

telah tercatat di semua ayat

petunjuk-petunjuk tuk mendekatiNya

namun kita memang terlalu abai

kaca oppo, vivo, samsung, dan kawan-kawannya

adalah jembata tak jauh

ah, kesadaran ini sungguh terlambat

Tuhan membuka pintu

selalu,

dengan cahaya jutaan watt

tinggal kita yang mencari kunci

lewat kitab-kitab malam

pastikan kita bersih

suci dalam tidur

dan mengunjungi rumahNya

mimpi kan menuntun

saat itu Tuhan tak lagi memilih

hanya saja setan yang terlalu pandai

membangun jarak. mendekati mati tanpa amal

pendosa juga punya tempat di rumahNya.

mungkinkah?

(Bau-Bau,  Mei 2021) 


Kasturi

aku masih ingat liuk namamu

sewangi kasturi beberapa tahun silam

entah kau di mana saat ini

kita pernah bersepakat untuk membangun kebohongan

mencuri tipis-tipis

“bos juga suka mencuri” lirihmu pelan

untuk menutupi opname yang sebentar lagi terselenggara

ah, kau tahu kita terlahir dari cinta kasih

bukan dari kebohongan nafsu dan birahi semata

namun ajakanmu ada benarnya

kita perlu membalas orang-orang curang

yang sering tersenyum bahagia atas hasil mencuri

atas hasil pembohongan, pembodohan.

sayangnya aku telah melupakan cerita itu

menuju cerita baru membangun rumah sendiri

namun wangi kasturimu

bagai taman yang tumbuh dalam dirimu

melekat menguntitku

dan pagi ini ingatan lumpuh terpaksa keluar

jumpai sepotong sinar di atap rumah

tenang saja, aku tak lupa namamu

juga matamu

kasturimu abadi di mataku

kita perlu sedikit siraman rohani

mengobati cacat hati

yang bertahun-tahun masih tertawa

(Bau-Bau, Mei 2021)


Obrolan Malam

kita bahkan menikmatinya lebih dari tengah malam

obrolan malam seorang peri di danau susu

keluar dari kahyangan

mencari tumbal lelaki haus

sedikit kenakalan manusia dewasa

ah, jam berdenting terlalu cepat

suara kita tanpa sengaja mengetuk pintu keluar

‘jangan sampai ada yang terbangun’

bisikmu lirih

napasmu yang datang satu-satu

mengundang tawa para pengikutmu

hari ini lelahnya terbayar lunas

kita mengulanginya

obrolan malam di layar android

sambil menunggu pagi

sambil tengadah

berharap setiap waktu dapat lepas

mirip burung yang tengah terbang

(Bau-Bau,  Mei 2020)


Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya pernah dimuat di media cetak dan online.

Cerpen

Pemanah

Cerpen Rumadi

Apa yang ia takutkan telah menjadi kenyataan. Tangannya menggenggam kuat dengan tangis yang berusaha ditahan sejadi-jadinya. Ia abaikan amis darah yang menguar memenuhi udara. Ia usap berkali-kali kandungan di dalam perutnya yang semakin membesar. Ia selalu mengajaknya berbicara setiap hari tanpa henti, diiringi doa-doa, supaya kelak anak yang sedang dikandungnya akan memiliki nasib yang lebih baik dari sang ayah. Ia hanya duduk di samping suaminya yang sudah terbaring dengan anak panah yang masih menancap di tenggorokannya. Bukan anak panah milik seorang ksatria. Namun, panah itu milik seorang pengecut yang dielu-elukan di seberang sana. Berkali-kali petugas pengobatan ingin mengangkut jenazah suaminya, tetapi ia masih ingin membersamai suaminya meski sudah tak bernyawa lagi. Ia pandangi lekat-lekat mata suaminya yang telah memejam. Ia raba tubuhnya. Luka itu masih ada. Ia cemburu pada brahmana tua yang meminta baju zirahnya. Baru kali ini ia meraba dada suaminya sendiri yang semasa hidupnya senantiasa tertutupi baju zirah yang melekat dalam tubuh itu sejak dilahirkan. Ia masih mengingat, malam pertama di hari pernikahan, hingga hari-hari sebelum kematiannya, ia belum pernah merabai kulit dada suaminya secara langsung. Ada kelegaan saat ia menyentuhnya. Tetapi juga kecemburuan. Ia yang pertama menjadi istrinya, menemaninya hingga akhir hayatnya, tetapi ia tidak pernah bisa memenangkan perasaan hati suaminya yang dipenuhi misteri.

Semua ini seharusnya tak perlu terjadi kalau saja suaminya mendengar dan menuruti Krisna dan Dewi Kunti. Namun suaminya yang sudah memendam terlalu banyak kekecewaan terhadap Dewi Kunti dan kelima anaknya—terutama Arjuna—tidak akan pernah memihak mereka. Ia mengintip dari biliknya ketika Dewi Kunti datang hampir tengah malam. Karna yang tampak gelisah tak bergegas memejam, membuka pintu dengan sedikit enggan ketika pintu diketuk. Mereka bertanya-tanya siapa gerangan yang hendak bertamu tengah malam begini.

Karna terperanjat melihat siapa yang datang. Wrusali yang hanya mengintip dari dalam bilik menyimak dengan sedikit merapatkan kuping ke arah pintu. Ia melihat sorot mata suaminya yang terluka.

“Mengapa baru sekarang mengatakannya wahai Ibu? Ke mana ibu selama ini? Ibu macam apa yang tega membuang anaknya? Ke mana ibu waktu saya diludahi Guru Durna? Ke mana Ibu ketika Arjuna mengatakan tidak akan pernah mau bertanding dengan anak seorang kusir kereta? Saya ditertawai seluruh penduduk Hastina kecuali Suyudana. Dia bahkan mengangkat saya menjadi seorang raja. Ke mana Ibu waktu Drupadi menghina anak kusir ini? Aku tidak akan menikah dengan anak seorang kusir kereta! Kata-katanya melukai setiap aliran darah saya Ibu.”

Wrusali melihat perempuan di depan suaminya teramat sedih. Bahkan meski ditahan sedemikian rupa, tangisnya memecah malam. Perempuan itu berdiri hendak merengkuh anak lelaki yang pernah dibuangnya. Di luar dugaan Karna menghindar.

“Tubuh seorang anak kusir ini akan mencemari tubuh Ibu, oh tidak, maaafkan kelancangan saya, maksud saya, Mahadewi Kunti.” Karna memandang ke arah lain. Melihat ke arah pintu yang sengaja ia buka lebar-lebar. Angin malam menghempas dingin.

Tangis Dewi Kunti terdengar lebih memilukan. Lebih menggema dan air matanya semakin deras.

“Hastina akan jadi milikmu, Nak. Jika kamu kembali ke pangkuan Ibu bersama adik-adikmu. Kamu putra sulungku.” Iba Dewi Kunti dengan suara yang agak serak.

“Drama macam apa lagi yang hendak Dewi Kunti mainkan? Saya anak kusir kereta Adhirata dan ibu saya Radha. Tak selayaknya kusir kereta bermimpi menjadi raja. Lagipula saya tidak mungkin meninggalkan Suyudana. Seseorang yang sudah memberikan saya kedudukan. Seseorang yang membuat saya tidak lagi dilecehkan ketika anak-anak Dewi mencemooh saya.”

Ingin rasanya ia keluar dari bilik dan membujuk suaminya agar mau memberikan maaf kepada Dewi Kunti.

“Jika itu ketetapanmu Nak, berjanjilah pada Ibu untuk tidak membunuh adik-adikmu.” Dewi Kunti sudah terlihat putus asa.

Karna menghela napas, memainkan jarinya di meja.

“Anakmu ada lima, Ibu. Dan akan tetap ada lima selesai perang nanti. Saya tidak akan membunuh anak-anakmu kecuali Arjuna. Entah saya atau dia yang mati.”

“Bagaimana dengan Drupadi? Bukankah kau mengharapkannya lebih dari apa pun? Kau pun berhak mendapatkannya sebagaimana adik-adikmu.”

Licik. Batin Wrusali. Dan tentu saja perkataan Dewi Kunti yang terakhir membuat hatinya sakit. Namun ia masih menunggu dengan harap cemas.

“Pelacur itu? Tidak. Tidak. Saya pernah mengharapkannya, tetapi tidak lagi. Perempuan itu pernah menghina saya habis-habisan. Saya tidak akan merubah pendirian saya wahai Ibu. Sudah malam. Saya hendak istirahat. Ibu hendaknya juga segera istirahat. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan.”

Pembicaraan itu tidak akan menemui titik temu. Suaminya memihak Kurawa, yang artinya ia akan berhadapan dengan adik-adiknya sendiri. Namun hari pertama di medan perang, ia tersenyum. Karna pulang dengan wajah tertunduk lesu. Karna langsung menghambur ke dalam pelukannya dan mengelus kandungan istrinya. Bisma, senopati agung Kurawa tidak menghendaki anak kusir kereta seperti dirinya berada di medan perang. Ada rasa bahagia di dalam dadanya. Suaminya masih menjadi miliknya. Meski tidak dengan hatinya.

Rasa cemburu itu takkan bisa dilupakan dan dihilangkan. Ia membersamai suaminya ketika mereka hendak mengikuti sayembara di kerajaan Pancala. Ia tidak berada satu kereta dengan suaminya. Ia tahu kedudukannya. Ia tidak pernah ingin mempermalukan suaminya di depan umum. Ia memilih berada di barisan paling belakang dengan kereta tanpa hiasan sama sekali, meski pun ia adalah istri seorang Raja Angga. Ia yang meminta kepada suaminya untuk tidak menghias keretanya. Semula Karna ingin memintanya untuk satu kereta dengannya, tetapi ia menolak. Bukan tempatnya. Namun ia mengiringi suaminya dari belakang untuk memenangkan sayembara kerajaan itu.

Meski dari jauh, ia mampu melihat putri Raja Pancala yang memang memiliki kecantikannya sendiri. Ia menatap suaminya dari kejauhan. Baru kali itu ia melihat suaminya tak berkedip melihat seorang perempuan. Bahkan ia sangat iri dengan tatapan itu. Ia tidak pernah ditatap suaminya semacam itu. Matanya berkaca-kaca dengan menyimpan kecemburuan yang mendalam.

Satu per satu para raja dan putra mahkota maju dan mengangkat busur pusaka kerajaan Pancala. Namun belum ada yang berhasil. Mereka yang berhasil mengangkat busur, yang melebihi berat badan mereka sendiri, tidak ada yang bisa memanah mata anak ikan yang berputar-putar di udara dengan tepat. Mereka diharuskan menghadap ke arah kolam, sementara panah harus diarahkan ke arah anak ikan yang berputar di udara. Ada salah seorang dari mereka yang ambruk setelah berhasil mengangkat busur pusaka yang mengundang gelak tawa para raja. Hingga tiba giliran suaminya. Entah mengapa, dadanya ikut bergemuruh ketika nama suaminya dipanggil. Karna memberi hormat kepada semua yang hadir.

Semua mata terdiam. Dengan mudahnya ia mengangkat busur pusaka itu. Semua orang tercengang, bahkan sebagian ternganga tak percaya melihatnya. Karna memejam sebentar seperti membaca doa. Ia mengambil satu anak panah yang berada di samping busur pusaka. Ia arahkan anak panahnya ke langit, di mana mata ikan yang menjadi sasarannya berputar-putar di udara. Ia melihat ke bawah sebagaimana yang menjadi syarat dalam perhelatan sayembara itu. Dengan satu bidikan pasti, dan dengan satu lesatan anak panah, dia berhasil tepat mengenai sasaran. Beberapa raja terkesiap tak percaya. Suyudana dan teman-temannya bersorak kegirangan.

Namun ia tertunduk. Setelah Supriya, kini dia harus membiarkan suaminya membagi perhatian kepada Drupadi. Kepada Supriya, ia tidak pernah merasa cemburu. Sikap Karna terhadap Supriya justru lebih dingin dibandingkan terhadapnya. Tetapi perempuan yang duduk di atas paseban itu, telah membuatnya cemburu sejak ia tiba di sini. Ia merasakan tatapan suaminya sebagaimana tatapannya terhadap Karna sejak dulu. Sorot mata jatuh cinta.

“Aku tidak akan pernah menikah dengan anak seorang kusir kereta!” suara Drupadi menghentikan sorak sorai Suyudana, sekaligus mengejutkan semua yang hadir.

Karna menunduk. Ia meletakkan begitu saja busur yang membuatnya dibicarakan banyak orang di perhelatan itu. Ia turun dari gelanggang seperti seorang yang kalah. Suyudana hampir saja mengangkat senjata, tetapi Karna menggenggam tangan sahabatnya.

“Kita pulang,” kata Karna lemah. Ia menarik tangan Suyudana dan meredam amarah sahabatnya itu tanpa kata-kata. Suyudana pasrah. Mereka meninggalkan gelanggang. Dan tak lama setelah mereka menaiki kereta, mereka mendengar sorak sorai. Karna berhenti sejenak di atas kereta. Ia melihat di kejauhan seorang brahmana berhasil mengenai sasaran sebagaimana dirinya.

“Saudara semuanya, ini adalah Arjuna. Seorang ksatria, putra yang mulia Maharaja Pandu. Ia telah selamat dari peristiwa kebakaran di Waranawata.”

Wrusali tak mendengar lagi apa yang diucapkan oleh Krisna di gelanggang itu. Kereta mulai melaju. Peristiwa ini tentu akan lebih melukai hati suaminya. Karna pernah dibuat patah semangat ketika hari kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima.

Saat Arjuna memasuki gelanggang, Guru Durna mengatakan kepada semua yang hadir, Arjuna adalah pemanah terbaik di antara ksatria lainnya. Saat hendak menunjukkan kebolehannya, tiba-tiba datang seorang pemuda berbadan gelap memasuki gelanggang. Debu mengepul. Arjuna tak terpengaruh dengan kedatangan pemuda itu. Ia tetap memanah sasaran yang telah dipasang Guru Durna. Namun setiap kali Arjuna hendak mengenai sasaran, ada anak panah lain yang menepis panah Arjuna, yang justru mengenai sasaran. Begitu seterusnya. Dan pemuda berbadan gelap itu mengelilingi gelanggang Arjuna. Memanah dengan tepat sarung tempat Arjuna menaruh anak panahnya hingga anak panahnya berceceran di tanah. Tak puas dengan itu, pemuda itu, memanah dengan tepat busur di tangan Arjuna hingga busur itu juga terlepas dari tangannya, karena Arjuna tidak terlalu kuat menggenggam busurnya. Ia masih terlalu kaget dengan kehadiran lelaki misterius tidak diundang.

Pemuda itu melompat dari atas pelana ke arah gelanggang. Berdiri di samping Arjuna. Kemudian duduk menghaturkan sembah kepada Raja Destarastra.

“Mohon maaf atas kelancangan hamba. Hamba hendak menantang Arjuna untuk membuktikan siapa pemanah terbaik di antara para ksatria.” Pemuda itu masih menunduk.

Semua orang masih terheran-heran, masih bingung dengan apa yang harus mereka lakukan. Hingga akhirnya Guru Krepa angkat bicara.

“Siapakah kau, Nak?”

“Nama hamba Karna.”

Belum lama peristiwa itu terjadi, Adhirata mendekat ke arah gelanggang. Seketika Karna turun gelanggang dan mendekati ayahnya tanpa ragu.

“Anakku! Anakku!”

Seketika semuanya tertawa.

“Ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria. Tidak layak seorang ksatria bertanding melawan anak seorang kusir kereta!” Arjuna dengan lantang berteriak menolak adu tanding memanah. Semuanya tertawa hingga tiba-tiba Suyudana ikut berdiri di atas gelanggang.

“Hendaknya kemampuan seseorang tidak dilihat dari kastanya. Siapa pun bisa menjadi ksatria. Bukankah nenek moyang kita adalah anak seorang nelayan?”

Semua orang diam menunggu apa yang akan dikatakan anak dari pemangku Hastinapura.

Suyudana menyembah Destarastra.

“Jika ksatria hanya boleh bertanding dengan ksatria, maka aku akan memberikan kerajaan Angga kepada Karna, yang kini menjadi sahabatku. Masihkah kau tidak mau bertanding layaknya ksatria wahai pengecut? Atau kau takut kalah? Kau malu ada seorang pemanah yang mampu menjatuhkan anak panah dan busurmu? Atau perlukah Karna menelanjangimu dengan anak-anak panahnya?” Suyudana tersenyum. Kali ini dia menang. Setelah di pertandingan sebelumnya dia hampir saja menjatuhkan Bima.

Namun Karna telanjur pergi. Ia telah pulang bersama ayahnya, Adhirata. Karna mengharap pengakuan Guru Durna, dan hinaan dari anak didik terkasihnya yang didapat. Wrusali melihat itu dengan geram. Tak selayaknya seorang pangeran menghina seseorang yang memiliki kemampuan yang lebih baik darinya, hanya karena ia anak seorang kusir. Ia tak suka melihat lelaki yang dicintainya dilukai.

Wrusali juga tak suka ketika mengatakan Drupadi seorang pelacur. Ia tahu, suaminya mengatakan demikian bukan untuk menghina putri dari Raja Pancala tersebut. Setelah sayembara itu, begitu Karna tahu seorang perempuan beristrikan lima orang, ia mengatainya pelacur. Seorang perempuan hanya boleh bersuamikan empat orang, itu yang sering dikatakan para brahmana. Tetapi Drupadi menikahi lima orang sekaligus. Hanya pelacur yang bisa melakukan demikian. Karna yang menyarankan kepada Sengkuni dan Suyudana dengan bisik-bisik agar Yudhistira mempertaruhkan istrinya ketika Pandawa tertua itu tidak memiliki apa-apa lagi. Demi mendapatkan kembali Indraprasta, mendapatkan kembali Hastinapura, dan yang terpenting mendapatkan kembali kemerdekaannya dan saudara-saudaranya, Yudhistira menyanggupi dengan mempertaruhkan istrinya.

“Lelaki bodoh,” umpat Karna, “lelaki macam apa yang mau mempertaruhkan istrinya di meja judi?”

Wrusali mendengar itu dengan sangat jelas. Karna menginginkan Drupadi lebih dari apa pun. Namun dia tahu, Karna tidak akan menikahi perempuan yang sudah telanjur menghinanya meski ia sangat menginginkannya.

Sebagaimana malam ketika Bisma gugur. Drupadi mendatangi perkemahan mereka dengan tangis berderai.

“Seandainya aku tahu sejak awal. Seandainya aku tahu kau adalah putra Dewi Kunti. Perang ini tak perlu terjadi. Aku tak perlu menjadi suami dari lima orang. Maukah kau menerima cinta yang datang terlambat ini wahai Karna? Kau berhak atas cintaku. Kau berhak atas hidupku karena kau adalah Pandawa tertua.”

“Putri, kau mengharapkan pengandaian yang takkan pernah kembali. Kalau saja kau tak menghinaku karena putra seorang kusir kereta. Seandainya kau mau menetapkan aku sebagai pemenang. Seandainya kau melihat kemampuan seseorang bukan dari golongan kastanya. Namun semua sudah terjadi putri. Aku mengharapkanmu dan masih. Tetapi tidak berarti harus bersama. Semoga di kehidupan selanjutnya, kita dipertemukan sebagai sepasang kekasih.” Karna bahkan tak mau melihat wajah Drupadi.

Dan Wrusali mendengar semuanya dengan jelas. Ada rasa sakit yang lebih menusuk. Dan ia tetap memilih diam. Sebagaimana suaminya yang tak pernah kurang memberinya perhatian sebagai seorang suami. Bukan sebagai seorang kekasih. Ia menggenggam jemarinya sendiri, seolah itu adalah jemari suaminya.

Hari kelima belas Karna mengamuk begitu mendengar semua anaknya gugur dalam pertempuran. Tanpa rasa takut ia meminta Prabu Salya memasuki arena pertempuran Pandawa dengan beberapa pasukan. Sepuluh anak panah, dilesakkan bersamaan, dan ia berhasil membunuh setiap prajurit yang ditemuinya. Setiap kali ada pedang, tombak, atau anak panah yang hendak mengenainya, Prabu Salya dengan lihai membelokkan kereta. Sementara Karna dengan membabi buta menyerang semua pasukan yang ditemuinya. Ia berhasil mengenai bagian yang tak terlindung dari musuh-musuhnya. Yudhistira, Bima, Nakula, dan Sadewa telah berhasil ia lumpuhkan. Bima berhasil ia buat pingsan dengan melesatkan anak panah yang tidak tumpul di bagian tengkuknya. Karna memanahnya berkali-kali hingga Pandawa terkuat itu tak berdaya. Sebagaimana janji yang ia ucapkan kepada ibunya di malam sebelum ia berangkat berperang, ia tak akan membunuh adik-adiknya.

Prabu Salya mengamuk.

“Dasar bodoh! Kenapa kau tidak menghabisi mereka selagi bisa?”

“Bukankah Bisma sudah mengatakan tidak boleh menyerang musuh yang sudah tak berdaya, yang tak bersenjata, dan lawan yang sudah menyerah? Juga tak boleh menyerang perempuan. Aku menghormati tata cara perang sebagaimana Suyudana tidak mencederai perjanjian perang ini.”

“Bukankah Bisma dibunuh karena Arjuna menjadikan Srikandi sebagai tameng? Bukankah Guru Durna dibunuh dengan kebohongan? Bukankah Lesmanakumara dibunuh selagi tak bersenjata? Kau mau menjadi sok bijak sementara lawan sedemikian curang?” Prabu Salya tak bisa menahan kegeramannya lagi.

“Itu mereka. Bukan kita. Aku adalah ksatria yang menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria dan perjanjian peperangan.”

Prabu Salya hanya menanggapi dengan meludah ke tanah.

Karna melihat Arjuna yang berusaha berlari dari kejaran pasukan Kurawa, maka Karna menuding ke arah kereta Arjuna dengan Krisna yang menjadi sais kereta. Karna menunggu saat ini. Ia tidak menyesali telah melesatkan panah Kunta yang sebenarnya telah ia siapkan untuk membunuh Arjuna. Kemarin Gatotkaca begitu mengerikan. Ia mengamuk dan hampir saja menghampiri pertahanan terakhir Kurawa sebelum akhirnya Karna melesatkan panah itu tepat di pusarnya. Gatotkaca meregang nyawa. Dan ia melihat Krisna tersenyum. Rekan macam apa yang tersenyum melihat salah seorang dari anggotanya terbunuh?

Ia juga tak menyesali mengiris baju zirahnya kepada seorang brahmana tua. Ia sudah berjanji untuk memberikan apa saja kepada siapa pun yang meminta derma kepadanya. Dari brahmana itu pula ia memperolah senjata Kunta yang hanya bisa dipakai sekali saja.

Ia akan bertarung tanpa pelindung dan tanpa senjata mematikan itu. Lima belas anak panah ia bidik ke arah kereta Krisna. Tidak, ia tidak membidik Arjuna mau pun Krisna. Ia membidik roda-rodanya. Dalam sekali lesatan anak panah itu mengganjal roda Krisna yang melaju kencang dan membuatnya terguling. Sebagaimana yang ia lakukan di peristiwa kelulusan Pandawa dan Kurawa di Sokalima, Karna memanah tali yang menggantung di pundak Arjuna sehingga anak panah dari Pandawa ketiga itu tercecer. Ia membidik lagi. Jemari Arjuna. Meski mereka lari, Karna mampu membidik dengan tepat, sehingga busur Arjuna terlepas dari tangan. Karna tersenyum. Dua kali dia mempermalukan seseorang yang menghinanya bertahun-tahun silam. Arjuna dan Sri Krisna tak lagi bersenjata. Prabu Salya menarik tali kekangnya sehingga kereta mereka berhenti. Krisna dan Arjuna pasrah.

“Habisi dia selagi ada kesempatan!” hardik Prabu Salya.

“Aku seorang ksatria dan akan bertarung layaknya seorang ksatria.”

Krisna yang mendengar pertengkaran dua orang itu mencoba berbicara.

“Jika Tuan berkenan kami menaiki kereta kembali, dan membiarkan Arjuna mengambil busur dan anak-anak panahnya, maka kita akan bertarung selayaknya ksatria.”

Karna mengangguk tanda setuju. Krisna dan Arjuna membalikkan kereta mereka yang terguling dibantu beberapa pasukannya. Setelah mereka dalam kereta, tidak boleh seorang pun mencampuri pertempuran antara dua ksatria ini.

Krisna memacu kudanya. Begitu pun Prabu Salya, Karna belum lagi membidik anak panah, Arjuna sudah siap membidik dengan lima anak panah yang siap dilesatkan. Bukan Karna yang jadi sasaran tembakan. Namun Prabu Salya. Tidak adil batin Karna. Kereta Prabu Salya melaju tanpa arah karena dihujani anak panah tanpa henti.

“Kau teruskan sendiri pertarunganmu anak bodoh! Sudah kubilang habisi mereka selagi ada kesempatan!”

Prabu Salya melompat turun dari kereta membuat Karna kewalahan menghindari anak panah Arjuna. Kali ini ia sendirian. Tapi ia tidak menyerah, ia mengikat tali panahnya, ke pinggir tiang penyangga kereta. Ia memanah sesempatnya. Tetapi hanya tiga anak panah yang mampu ia lesatkan. Dengan arah bidikan sempurna, ia yakin Arjuna akan roboh dengan bidikannya kali ini. Kalau saja Krisna tidak membelokkan keretanya, Arjuna pasti tumbang oleh anak panahnya. Saat Karna sedang sibuk membidik, tanpa sengaja kudanya tersandung kaki gajah yang roboh, membuat ia terguling dan terjerembap. Krisna menarik tali kekangnya, membuat kereta berhenti. Karna berdiri. Sebagaimana yang ia lakukan terhadap Arjuna ketika tak berdaya, ia pun meminta hal yang sama.

“Tunggu aku membalikkan keretaku Arjuna.”

Karna berjalan mendekati keretanya, hendak mendirikannya kembali. Dibantu beberapa orang dari pasukannya. Tanpa disangka Krisna menarik tali kekangnya. Arjuna membidik. Semua orang yang hendak membantunya dipanah Arjuna satu per satu hingga tinggal Karna seorang.

Arjuna masih membidik. Karna yakin, Arjuna akan bersikap ksatria sebagaimana dirinya. Tidak akan membidik seseorang yang tidak bersenjata. Karna masih berusaha, untuk membalikkan keretanya. Ia masih ingat pernah menabrak sapi seorang brahmana, dan dikutuk keretanya terperosok di saat paling penting di dalam hidupnya. Dan ini adalah saat yang benar-benar genting.

Ia mencoba mengingat mantra penyelamat saat terdesak seperti saat ini. Beberapa kali sebelumnya ia pernah mencobanya dan berhasil. Saat ia kabur dari Parasurama karena dikira membodohinya. Parasurama mengutuknya, ia akan lupa terhadap semua yang diajarkan ketika menghadapi pertarungan antara hidup dan mati. Celakanya, Karna tidak mengingat sama sekali mantra yang pernah diajarkan Parasurama.

Anak panah Arjuna telah dilepaskan. Senopati Kurawa lagi-lagi tumbang setelah Bisma dan Durna. Krisna lagi-lagi menyunggingkan senyumnya. Panah itu menembus tenggorokannya, bahkan saat Karna belum lagi mendirikan kereta, dan sedang tidak memegang senjata.

Wrusali masih memandang suaminya. Berharap ia ada sedikit saja menempati perasaan Karna. Tidak pernah selama menikah, Karna memanggilnya dengan sebutan kekasih. Karna selalu memanggilnya dengan namanya. Wrusali. Karna tak henti-hentinya membicarakan Drupadi setelah peristiwa sayembara. Dan kini ia gugur, di tangan salah seorang suaminya.

Saat ia terlarut dalam tangisnya yang tak terbendung, seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh. Mengangkat wajah. Seketika ia murka. Ia meraung hendak menyerang orang yang menepuk bahunya. Namun beberapa orang segera memegangnya, khawatir kandungannya terganggu.

“Maafkan salah seorang dari suamiku. Tak selayaknya dia berbuat semacam itu.”

Wrusali hanya tertunduk. Ia lemas tak berdaya. Air matanya semakin menderas. Satu-satunya orang yang berusaha ia senangkan seumur hidupnya, tetapi tidak pernah bisa ia ambil perhatiannya.

Drupadi mendekat. Menggenggam jemari Wrusali.

“Anak dalam kandunganmu, kelak akan lebih hebat dari ayahnya.” Wrusali rebah dalam pelukan orang yang pernah diharapkan suaminya itu. Ia memejamkan mata. Begitu teduh. Ia membayangkan seandainya saat ini tubuh yang dipeluknya adalah tubuh suaminya. Dan seandainya ia pernah memeluk suaminya tanpa baju zirahnya.

Ciputat, 30 April 2021


Rumadi, lahir di Pati, 1990. Menulis cerpen. Saat ini aktif di Forum Lingkar Pena cabang Ciputat dan komunitas cerpen Prosatujuh.

Cerpen

Tamagochi, Hantu, Burung, Sumur, Orang Bunuh Diri

Cerpen Kiki Sulistyo

Beberapa detik sebelum tubuh Ismael meluncur, ingatan di benaknya lebih dulu meluncur pada seekor burung yang meluncur cepat ke dalam rumahnya. Ismael sedang berbaring menghadap televisi. Beberapa detik sebelum melihat burung, dalam televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan. Pada detik yang sama ingatannya meluncur pada sesosok tubuh yang meluncur dari lantai tertinggi rumah susun, menimbulkan suara gedebuk yang pada saat nyaris bersamaan teriris suara teriakan.  

Burung itu menabrak tembok di atas televisi, membuat tubuhnya nyaris meluncur turun. Tetapi sebelum mencapai lantai, ia bisa kembali mengepakkan sayap dan terbang dengan susah payah. Sambil tetap berbaring, perhatian Ismael pindah dari televisi ke burung yang berputar-putar tak menemukan arah keluar. Ismael bangkit seraya terus memperhatikan burung. Orang-orang berdatangan. Satu per satu atau bergerombol. Sebagian di antaranya menutup muka atau berpaling, meski tak beranjak dari tempatnya berdiri. Beberapa detik sebelum tubuh itu berhenti berkejat-kejat, ingatan Ismael meluncur pada telapak tangan yang meluncur cepat menghantam pipinya. Telapak itu lebih besar dari pipinya. Itu telapak tangan pamannya. Meluncur oleh suatu amarah lantaran Ismael mengajak sepupunya bermain di belakang sebuah rumah di mana terdapat sumur tak terpakai yang kata beberapa orang dihuni oleh hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Perhatian Ismael teralihkan sebentar ketika penyiar berita mengabarkan kematian anak-anak akibat perang. Ketika Ismael menoleh, tak ada gambar anak-anak yang mati, hanya ada kerumunan orang di tengah puing-puing bangunan. Ismael kembali berpaling ke burung yang beberapa detik sebelum dia menoleh telah hinggap-susah payah berpegangan pada besi gorden. Ismael ingin menangkap burung itu. Sebelum polisi datang dan memasang pita kuning di sekitar kejadian perkara, Ismael melihat seorang perempuan tua berlari kencang dari lantai dasar rumah susun. Perempuan itu meraung-raung, sebagian polisi berusaha menenangkannya, sebagian yang lain menghalau orang-orang yang kian banyak berkumpul. Sayang sekali Ismael sedang sendirian, kalau saja dia sedang bersama sepupunya, dia bisa menyunggi anak itu dan memintanya menangkap burung.

Setelah tamparan pamannya, Ismael jadi jarang bertemu sepupunya. Padahal keduanya sangat dekat. Ibunya meraung-raung ketika mengetahui peristiwa penamparan itu. Ismael mengikuti ibunya saat perempuan itu mendatangi saudaranya lalu langsung mencaci maki. Mereka bertengkar seperti dua ekor kucing saling meninggikan suara, sampai para tetangga berdatangan. Bibinya juga datang. Juga sepupunya. Juga kawan-kawannya. Hanya bapaknya yang tidak datang; memang sudah  lama lelaki itu menghilang entah ke mana.

Di antara kawan-kawannya ada dua orang yang kemudian berlagak seolah-olah mereka reporter televisi. Satu orang pura-pura menyorot dengan kamera –menekuk tangannya dan menjadikan ujung siku sebagai kamera- satu orang lagi pura-pura berbicara sambil mendekatkan tangan kanannya yang menggenggam ke arah mulutnya.

“Sering saya dengar mereka bertengkar. Anaknya itu ndak punya kerjaan…” begitu kata seseorang pada reporter berita yang datang belakangan, ketika mayat orang bunuh diri sudah dibawa-beberapa detik sebelum Ismael meninggalkan kawasan tempat rumah susun itu berdiri. Ismael memikirkan bagaimana cara menangkap burung itu. Kalau berhasil menangkapnya, burung itu bisa dijual untuk melunasi utang pada Marlon, kawan sepermainannya. Ismael melihat meja dan kursi, mengira-ngira apakah kalau semua benda itu disusun, akan cukup menjangkau si burung. Lalu pelan-pelan digesernya meja, suara derit kaki meja di lantai mengiris suara penyiar televisi. Ismael menatap layar kaca dan melihat penyiar televisi seperti menatap padanya. Beberapa detik setelah itu ingatannya meluncur pada tangan pamannya, menabrak pipinya hingga terasa perih. Rasa perih yang sama yang dia bayangkan menimpa orang yang terjun dari rumah susun. Beberapa detik setelah itu, dia lihat burung itu terbang dan tanpa sengaja meluncur ke pintu, menemukan jalan keluar.

Ismael termangu. Sampai dengan hari yang sudah ditentukan dia belum bisa melunasi utang. Mainan Tamagochi milik Marlon tanpa sengaja jatuh ke dalam sumur tak terpakai ketika dia meminjamnya. Itu gara-gara sepupunya sibuk memintanya membantu mengikat rambut. Marlon menangis melihat mainannya lenyap di dalam sumur yang gelap itu. Marlon mengaku tidak berani pulang sampai kemudian Ismael berjanji untuk menggantinya. Ismael tak memberitahu ibunya soal peristiwa itu. Begitu juga Marlon. Itu rahasia mereka berdua, tapi sepertinya bukan rahasia bagi sepupu Ismael. Ismael juga tak pernah memberi tahu ibu dan bapaknya kalau dia melihat sendiri orang itu terjun dari lantai teratas rumah susun.

Ketika mendengar seorang tetangga bercerita pada ibunya perihal orang yang bunuh diri itu, Ismael ingin membantah keterangan si tetangga kalau orang itu kemungkinan didorong oleh ibunya sendiri hingga jatuh. Ismael melihat bagaimana orang itu melompat. Dia juga melihat bagaimana perempuan tua itu meraung-raung menangisi kematian anaknya. Karena itu dia juga meragukan keterangan si tetangga kalau orang yang bunuh diri itu baru saja pulang dari Afghanistan. Namun beberapa detik setelah mendengar keterangan si tetangga, ingatannya meluncur dan memancar kembali sebagai lintasan-lintasan berita perang di televisi yang tak pernah bosan mengabarkan jumlah orang yang mati.

Ismael tak jadi mengejar burung itu, sebagaimana dia tak jadi membantah tetangganya. Meski beberapa detik sebelumnya timbul suatu tekad dalam dirinya untuk tak membiarkan kesempatan membayar utang lenyap begitu saja. Ismael menjelaskan semuanya pada Marlon, namun kawannya itu seperti cuma punya satu tujuan ketika di hari yang sudah ditentukan mereka kembali bertemu di belakang rumah kosong itu; Marlon hanya ingin mendapatkan mainan tamagochinya kembali. Roman muka Marlon langsung murung setelah Ismael mengatakan kalau dia tak bisa mengganti mainan itu. Marlon bahkan mulai sesenggukan, mengusap-usap mukanya dengan kaus yang dipakainya. Beberapa detik kemudian ingatan Ismael meloncat lantas meluncur balik menampar pipinya hingga terasa perih. Dia bayangkan rasa perih yang sama di pipi kawannya itu saat satu telapak tangan yang lebih besar dari pipi itu sendiri mendarat.

Saat itu, sepupunya muncul dari tepi jalan, berlari-lari kecil. Anak itu terlongo melihat Ismael. Segera Ismael menyuruh sepupunya itu pulang. Ismael takut pamannya akan mengira dialah yang mengajak bocah itu ke belakang rumah tua tempat sebuah sumur tak terpakai dihuni hantu yang gemar menangkap dan menyembunyikan anak-anak.

Tetangganya lantas melanjutkan cerita. Dia bilang orang yang bunuh diri itu sudah berubah jadi hantu. Tetangganya itu mendengar cerita dari tetangga si perempuan tua yang ditinggal mati anaknya itu, bahwa beberapa malam setelah orang itu bunuh diri, seorang tetangga lain menjerit ketakutan. Setelah para tetangga menenangkannya, orang itu bercerita bahwa dia melihat hantu keluar dari televisi. Wujud hantu itu mirip orang yang bunuh diri, tubuhnya remuk dan berkelejatan, melangkah menghampirinya. Mulut hantu itu kian lama kian lebar, seperti sebuah lubang yang hendak menelannya. Di hari yang lain, kata tetangga itu lagi, yang mendengar cerita dari tetangga lain, orang bunuh diri itu berubah jadi burung. Berputar-putar di sekitar rumah susun dan kerap tiba-tiba masuk mengganggu salah satu penghuni.

Ismael tak percaya pada cerita itu, jadi ketika seekor burung masuk ke rumahnya dan di televisi dia melihat peluru-peluru kendali diluncurkan, ingatannya meluncur pada tubuh orang bunuh diri yang meluncur dari lantai teratas rumah susun, dan bukan pada cerita orang bunuh diri yang berubah jadi hantu. Di rumah kosong itu, Ismael juga tak pernah melihat hantu, apalagi saat itu, saat di hadapannya berdiri dua orang anak; Marlon dan sepupunya.

Apa yang dia lihat adalah dua roman muka yang berubah dari sedih menjadi marah. Tatapan yang menajam dan seperti meluncurkan peluru-peluru kendali ke arahnya. Sepupunya itu berteriak, berkata kalau dia jahat. Marlon juga berteriak, berkata kalau dia jahat. Seruan yang sama dengan seruan ibunya pada pamannya, dan seruan pamannya pada ibunya, ketika mereka bertengkar setelah peristiwa penamparan itu.

Sepupunya yang bertubuh kecil itu lantas meluncur bagai seekor burung ke arahnya. Ismael tak bisa menduga apa yang akan dilakukan bocah itu. Mungkin dia akan menangis sambil memeluk Ismael sebagaimana sering dilakukannya. Mungkin dia akan menunjuk-nunjuk muka Ismael sembari marah sebagaimana yang dilakukan ayahnya pada bibinya. Beberapa detik sebelum mencapai tubuh Ismael, kaki sepupunya tersandung. Tubuh bocah itu oleng, terjengkang ke depan, menabrak tubuh Ismael hingga dia kehilangan keseimbangan. Ismael berusaha berpegangan, tapi tak ada apa-apa di depannya. Sementara di belakang, lubang sumur tak terpakai itu menganga seperti mulut hantu. Tanpa bisa dicegah lagi Ismael terjatuh ke lubang itu.***

Mataram, 23 Mei 2021


Kiki Sulistyo,meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.

Puisi

Puisi Adnan Guntur

Sebuah Bintang Tertembak dari Matamu

ada sebuah bintang tertembak dari matamu, aku menggariskan sebuah virus dalam lobang tikus, sebuah benda yang mirip dengan matahari, terlebih dulu datang,  menyeret selembar demi selembar kesedihan dan jatuh menuju goa kelaparanmu

sepasang tuhan menaklukkan para pendongeng, menyelipkan mulutnya kedalam mulut demonstran dengan keadaan menganga, seekor laba-laba muncul, lalu kabut memantul dari jendela dan api menenggelamkan sakit dalam rimba peradabanku

aroma daun bersenandung menggelombangkan bunyi kedalam tubuhmu, sebuah gedung teater tua, dalam gerak sandiwara anak-anak muda yang terhanyut gairah, tapi, seluruh gedung telah melumat habis kalimat dan suara kita

kemana lagi gigil tepian warna yang mengkilat di langit dalam percakapan kita?

                                                                                                            Surabaya, 2021


Aku Menabur Hari

aku menabur hari, menyanyikan nyanyian sumbang di depan kubur, menumbangkan lelaki tawar yang menggonggong seperti anjing

sebuah ikan pernah mati sebagai manusia, disini, melalui tasbih di musim-musim yang melingkar, menyimpan geliat pada ceruk ember berwarna biru yang segalanya seperti wahyu

sebelum hari yang genap itu berakhir, kelak maut menjelma amarah tentang masa depan penuh polusi kata-kata, sekian tahun kemudian, orang mungkin tak tahu bahwa aku terangkat ke atas menara-menara yang memudar warna padi paling tua

                                                                                                        Surabaya, 2021


Dalam Jeruji Menara Tertinggi                                                      

;paranoia

tapi kau telah berubah, rerumputan liar tersesatbunga-bunga dalam selubung api, malam tahun kantorku menggelintir segala hal yang  disebut dengan telanjang

melalui jalan lurus kau melingkar di tepian pohon, membongkar kekuasaan, tiap hari yang dipancarkan fajar melalui panggilan ke bumi terdalam, ikuti aku, ilusi berbalon pekikan dalam detik jam suluk yang kapir

seluruh bintang berbunyi tepat di duniamu, menandai makhluk-makhluk dalam jeruji menara tertinggi, bergoyang maha dahsyat dalam lantunan gema nyanyianku, kau mengukir wajah melalui musim gugur, mengembus-hempaskan takdir dalam badai sembilu

dimana cemara melayang jauh, memanggil berwarna bangkai yang berkilauan, di hari yang tertutup, kita menerjemahkan tuhan dalam kabut

sebelum selesai dituliskan, kerja roda api mengepung bayang-bayang ke dasar jurang, membebaskan reruntuh nostalgia yang merampas ketidakmampuan

                                                                                                       Surabaya, 2021


Kabut yang Mengepungmu

kabut yang mengepungmu telah bernyanyi, memenuhi angin membakar trotoar, derau matanya mengggayut dalam deras segala kantuk, bersanding dengan dua lembah kehausan, penuduh kecupan yang dikuliti ranjangku

ke seluruh penjuru, kincir angin menjelma tangis yang mendung terpasang bulan dalam gerak spontan, dinginnya adalah butir keringat yang kerap mamasung ruhku dalam cahaya gelap, mengirim pada tunas serta kata-kata tenggelam mendahuluiku

pada gerbang ketujuh kau mengetuk nasib yang paling sial, menandai gerimis dalam hening khusyuk yang terserap lampu, membaui kematian yang memendaminya jengkal tiap jengkal

di situ lobangpori-pori merintik puing-puing dalam asin tubuhmu, menjilat-jilat tangis pada matahari, menghisap amis pikiranku dalam lorong kematian yang mengendus pilu kota, menggaungkan masa lalu

kita penuhi seluruh kolam dengan cerita-cerita para dewa, mengasingkan geliat wujud paling memilukan, memasukinya dengan tangan paling bersih, yang dihujani mawar-mawar berwarna kecemasan

keperihanku benar-benar menggeliat, memecahkan pekik paling tinggi dalam mendirikan api-api, mengenali segala diam kota-kota, mendendami dengan lekuk sendok yang berhambur belerang kesepian kita

                                                                                                            Surabaya, 2021


Di Siang Hari Puisi Bermimpi

aku berjalan menuju lorong-lorong, suara panjang terhempas pada kepedihan yang baru bangun, kita berkelinjangan, mengenali puisi dari mimpi di siang hari

meski saja kau menghindari kawanan sapi, tapi alunan listrik tersembunyi dalam darah yang mengalir di tubuh kita, menari-nari dengan setia, meniupi angin yang sunyi dalam mataku

kuberikan sepuluh embun paling sunyi di siang hari, beberapa hal yang memutih atau kegelapan melambai seperti bisik, meruntuhkan lenganku dalam ayunan bahasa kesia-siaan

berita-berita menyumbat huruf-huruf kecil, seluruh mata telah tertelan oleh running text, kapanpun kebodohan berkaca, televisi hanyalah pelengking kesedihan

                                                                                                            Surabaya,2020


Celementre

nanti, sekali lagi, kita akan melihat kota mengetiakkan lengan kita, berputus-putus waktu dalam borok, hampir seperti jampi,  jabar, anak bayi yang mengumpamakan kata bernada miring, darahmu mengelupas angin di detak langit. kemanakah arah kita berjalan?

hujan telah jadi asam lambung, mengubur kota-kota pada degup rampak dan bedug.

celementre, kutakatakan henyakan nada, menghabisi seluruh pertempuran. derap dan langkah, telah terarsir dengan serentak, lenyap dengan ketukan tigakalidelapan

aku memelukmu lalu jatuh ke jalan-jalan, menyarungkan pandangan kita ke dalam cahaya dan mengerang di setiap goncangan-goncangan. daun mengeripis nyala api dengan ritmis. menyapu sunyi, menelan matahari

                                                                                                            Ciamis, 2020


Umbilikus

tapi ia pernah dengar, suara yang memetik rapuh lengan uzurku, rimbun semak dan pohon-pohon membaui risau di lekuk sendok, jauh sebelum namaku berubah di ramai doa yang mengelilingi batuku

kemana kau mengenali kekosongan selagi gerak batinku menegur membentang masa lalu?

hanya melalui percakapan dan bayang-bayang hantu, pagi riuh menyimpan pusara jasad dan bayangku, sebab hanya dengan menunggumu pulang, kepakan sayapku akan habis menenggelamkan waktu pada selembar kulit yang mewujud sajadah akan tergelar, siapa saja hilang dan muncul, lagi dan lagi, mungkin sampai tak terkenali

sungguh, mendung, setelah gemeretakan buangan dari kaca jendela berembun, gelegak siasat mungkin tergerus kubur, makhluk terus muncul pada bunga beraroma sorga

                                                                                                 Ciamis, April 2020


Kemana Arah Angin

kemana arah angin menjatuhi rintikan airmata, ada suara yang menelurkan igau di setiap rambu-rambu, matahari makin tinggi, langit terpantulkan layar di setiap laporan stasiun televisi, dan penderitaan mengangkat pedang kegelapan pada seluruh ingatanku

kecemasan menyelubungi, arak-arakan membalik tiap ayat-ayat yang terwaris dan tertulis melalui jendela tanganku, jejak, ditiap percakapan kita menikahi bayangan sendiri; aku dengan bayangku, dan dirimu dengan bayangmu, tapi seteguk cahaya menetap diam-diam pada musim mataku

menatah jejak berulang-ulang kali, menghadirkan gelisah pada bintang yang berjatuhan, sepasang anak duduk, menangkup gelisah yang seliweran melalui mulut awan dan hantu-hantu

beratus malaikat sembunyi di belakang pintu, memaksa menumpahkan wiski pada ukiran batu, mematikan harap, tuhan telah tersebut dengan nama lain, dalam reklame bergambar

kemarilah, tiap kerutan di dahiku, mengalir-menemukan masa lalu, menghampar huruf-huruf mengepak ngeri bulu-bulu, tapi bahasa semakin dalam, sanggup mengubah raut wajahmu

kini tinggal panas terselip di dinding gereja, berenang-menggantung malam pada langit ketujuh, sunyi bermula, walau kini tidak akan pernah menemukanmu pada bau yang kau tinggali dahulu

                                                                                                            Ciamis, 2020


Behelit

sebuah kematian membuka daun-daun, jalanan semakin panjang membentuk lobang anusmu dari sepasang merpati yang terbang melalui jembatan layang dan pepohonan jatuh dari langit dadaku

dalam sebuah kampanye melalui gowesan pancal, kita terguyur hujan membau jarak yang dipenuhi cadas, menyulut memparadekan rembulan di atas kabut, betapa sunyi lepas di ketinggian sakratul mautku, mengubur jasad rindu

lidah embun memecah udara dan lampu taman hening, sampai di telingaku tulang-tulang merintih menemukan liur, ada bayang yang diam-diam keluar melalui sepatu, seriuh kobaran pikiranku

anggur kedua menetes, menjemukan kamar dan kota, sepasang jendela berebut mandi bintang dari barat rumahmu, di sana, kegelapan menyelinap hingar pada uzur lengan kurus yang dibelit behelit

kuinjak beribu mayat pada beratus peristiwa, sorga hanya sebentar, mengepaklah sayapku menuju langit keperempuananmu, basah burung keperakan yang kian lamur dengan cinta, semakin tinggi, semakin dalam, menuju impian kita yang seganas api neraka

                                                                                                            Ciamis, 2020


Adnan Guntur, lahir di Pandeglang pada tahun 1999. Saat ini sedang melanjutkan studi di Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga. Aktif berkegiatan di Teater Gapus Surabaya dan Bengkel Muda Surabaya.

Cerpen

Ketakutan Memandang Kepala

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Bangkrut sudah perusahaan Jendra. Habis kekayaannya. Tak tersisa. Tagihan utang mengalir. Kadang penagih begitu keras, kasar dan memaksa. Bahkan seorang penagih utang, kekar bertato, begitu kalap. Menghantam kepala Jendra. Seketika Jendra tergeletak. Tak terhindarkan kepalanya membentur lantai. Keras. Jendra tak sadarkan diri.

Sehari semalam lamanya Jendra pingsan. Tergeletak di rumahnya yang kosong. Istri dan kedua anaknya sudah lebih dulu kembali ke rumah mertua. Rumah megah yang ditempatinya itu pun disita bank. Jendra sudah tak memiliki semua hartanya. Tinggal dirinya sendiri, kebangkrutan, dan kepalanya yang memar nyeri.

Sungguh kaget Jendra. Dia melihat kepala keledai terpantul pada cermin itu. Lama Jendra terdiam, merenung, terheran-heran. Mestinya yang terpantul pada cermin itu kepalanya sendiri, bukan kepala keledai. Tangan Jendra mengepal. Menghantam cermin. Seketika cermin retak.

Masih saja yang terpantul dalam cermin retak itu kepala keledai. Jendra meraba-raba kepalanya. Masih seperti bentuk sediakala. Tapi kenapa yang dipandanginya dalam cermin, bukan kepala manusia?

“Kepala keparat!” kutuk Jendra. Dia sangsi, mungkin bukan kepalanya yang berubah bentuk. Tapi matanya yang tak dapat dipercaya. Toh dia merasa malu meninggalkan rumah pada siang hari. Takut bila mata orang juga salah memandang kepalanya sebagai kepala keledai.

Tak mungkin Jendra tinggal di rumah megahnya untuk beberapa hari. Rumah itu sudah disita bank, dan dia mesti segera pergi. Belum dimengerti, ke mana ia mesti pergi. Dia belum memiliki tempat tinggal baru.

Berlindung dalam gelap malam, Jendra meninggalkan rumah. Tanpa tujuan. Tanpa harapan. Terbersit keinginannya untuk mendatangi rumah bekas tukang kebun kantornya. Jendra bimbang. Betapa jauh perjalanan menuju rumah bekas tukang kebun itu. Asal mengayunkan langkah, Jendra meninggalkan rumah. Tanpa bekal, tanpa uang. Lewat rumah mertuanya, laki-laki itu sempat termangu. Istri dan kedua anaknya tinggal di rumah mewah itu. Dipandanginya seluruh jendela dan pintu yang tertutup, serta kelebukan malam yang menyelimutinya. Harga diri Jendra menahan langkahnya untuk memasuki pelataran rumah mertuanya. Dia bisa memohon maaf pada mertua dan minta perlindungan.

Teringat Jendra akan sepasang mata bapak mertuanya yang sinis, merendahkan, di saat menjelang perusahaannya bangkrut. Mata itu menindas. Jendra tak ingin menyelamatkan diri. Dia menanggung semua malapetaka sendirian.

Lama Jendra berdiri macam tonggak terpancang di tepi jalan depan rumah mertuanya. Ada yang membuatnya lebih malu lagi: mungkin mertua, istri dan kedua anaknya tak mengenali dirinya, lantaran mereka memandangnya berkepala keledai. Ia benar-benar gundah, belum bisa menerima pandangan matanya sendiri.

Kini berkembang rasa cemasnya menjadi rasa malu yang menikam. Ia malu dilihat orang. Kepercayaannya pada diri sendiri sudah hancur. Tak mungkin ia menampakkan diri sebagai manusia berkepala keledai, menjadi tontonan, dan takut diikuti orang-orang. Ia pernah mendengar dongeng tokoh manusia berkepala sapi dan manusia berkepala kerbau yang sakti, melawan dewa-dewa. Tapi manusia berkepala sapi dan manusia berkepala kerbau itu dihancurkan kepalanya, dengan jalan dibenturkan, hingga pecah—darah dan otak berhamburan. Yang membunuh pun manusia yang terkutuk menjadi seekor kera, lantaran kesalahan masa lalu.

Jendra pun merasakan keserakahan, dosa, dan ketamakan di masa lalu. Kini dia melihat kepalanya sendiri dengan keinginan memancungnya. Menjadi manusia berkepala keledai, sungguh memalukan. Sama sekali tak ada kewibawaan, kegarangan, dan kebanggaan.

Dalam gelap malam Jendra bergegas meninggalkan kota. Ia memutuskan untuk tinggal di desa yang sunyi di lereng gunung, menyepi, atau bahkan—kalau mungkin—bertapa.

Berhari-hari Jendra berjalan, menahan lapar juga haus. Dia takut bertemu manusia, dan tak bisa membaur dengan binatang. Bila rasa lapar datang, dia masih membayangkan nasi, dan bukan rumput, yang harus dimakan. Jendra cuma minum, meneguk air yang mengalir di sungai-sungai. Dalam pantulan air, bayangan kepalanya masih saja kepala keledai.

Ada ketakutan pada diri Jendra untuk meraba kepalanya sendiri. Takut bila kepalanya benar-benar kepala keledai. Berhari-hari bersembunyi agar tak bertemu manusia, membangkitkan kerinduan hati Jendra untuk bisa tersenyum, bertegur sapa, dan mengadukan suasana hatinya pada orang lain. Ia dicekam keinginan berbincang-bincang. Begitu sadar yang tertangkap pada cermin, kepalanya membentuk bayangan kepala keledai, Jendra berhenti berbincang-bincang. Ngeri rasanya mendengar suara seekor keledai dari mulutnya sendiri.

***

Di lereng sebuah gunung, pagi berkabut, Jendra menemukan desa bekas tukang kebunnya. Dia tak tahu persis letak rumah si tukang kebun. Lagi pula, kakinya sudah sangat letih. Tubuhnya gemetar, lapar, lemas, tanpa daya. Tergeletak.

Ketika siuman, Jendra melihat bekas tukang kebunnya tersenyum. Di sisi bekas tukang kebun itu seorang lelaki tua berjenggot putih.

“Kau berada di rumah guru saya,” kata bekas tukang kebun.

“Apa kepala saya jadi kepala keledai?”

“Yang berubah bukan kepalamu. Tapi pandanganmu,” balas guru berjenggot putih, meyakinkan.

“Apa pandangan saya bisa normal?”

“Butuh waktu, Nak,” sahut guru berjenggot putih. “Kau tinggal di lereng gunung ini beberapa waktu, menyepi. Tenteramkan dirimu. Kalau kau sudah melihat kepala sendiri seperti sediakala, boleh turun gunung.”

“Berapa lama, Guru?”

“Jangan pikirkan berapa lama tinggal di sini. Jalani saja!”

Saat Jendra bisa melihat kepalanya bukan lagi kepala keledai, ia sudah sangat kerasan tinggal di rumah guru berjenggot putih. Tak terhitung matahari muncul dan tenggelam, Jendra selalu mengikuti guru berjenggot putih menyepi di goa, di lereng gunung, menenteramkan hati. Dia telah akrab dengan hutan, kicau burung, desis ular, aroma kemarau yang menyengat, dan dingin kabut malam. Dia telah menjadi bagian kehidupan guru berjenggot putih dan bekas tukang kebun yang kembali bertani.

Telah terbiasa bagi Jendra mencangkul ladang sampai telapak tangannya lecet berdarah, tubuh bercucuran keringat. Tubuhnya yang semula gendut, kini ramping berotot. Wajahnya sejuk, menampakkan ketenteraman.

“Sudah saatnya kau meninggalkan lereng gunung ini, Nak,” kata guru berjenggot putih.

“Apa guru tak mau ketempatan saya lagi?”

“Bukan begitu, Nak. Bukan di sini tempatmu. Kembalilah ke kota.”

“Saya ingin tinggal di sini bersama guru.”

“Apa kau tak ingin melindungi istri?”

“Tidak.”

“Apa kau tak ingin melindungi anak-anak?”

Tak bisa menjawab, Jendra memandangi tatapan guru berjenggot putih. Kebimbangan hati Jendra makin menggoncang.            

“Anak-anakmu terlantar, butuh pertolongan.”

Memasuki kota, Jendra merasa bagai binatang purba yang tersesat, asing dan aneh. Tak seorang pun mengenalinya. Yang mula-mula dilakukannya, kembali bergulat dengan kehidupan kota, kebisingan dan kerakusannya. Tanpa tempat tinggal, kehilangan keluarga, kehilangan kekayaan dan bawahan, Jendra mencari kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan rumah kontrak.

Terbiasa mencangkul, bekerja pada terik matahari, Jendra menerima pekerjaan sebagai tukang kebun dan pesuruh. Tak terpikirkan, ini pekerjaan yang hina tak bermartabat. Sudah tak dihiraukannya lagi cemoohan orang.

Malam turun, Jendra berjalan meninggalkan kamarnya yang pengap di sudut kota. Berjalan menyusuri trotoar, sampailah ia di depan rumah mertuanya. Berdiri termangu di depan pagar besi, memandang ke dalam rumah. Malam larut, Jendra belum menemukan tanda-tanda kebenaran pesan guru berjenggot putih bahwa anak-anaknya terlantar.

Menjelang pagi, ketika angin mengembuskan embun, Jendra terperanjat. Sebuah mobil yang ditumpangi seorang bos dan istri Jendra, memasuki halaman rumah mertuanya. Jendra berlindung di balik rimbunan pohon asam.

Kedua orang itu turun dari mobil, tertawa-tawa, berangkulan. Jendra terkesiap melihat keduanya bermesraan. Aneh, selama beberapa detik, Jendra melihat keduanya berkepala kucing. Tak tahu malu, mereka persis kucing bercumbu. Tersipu-sipu sendiri, Jendra makin memasuki kegelapan naungan pohon asam. Ia terbiasa menahan diri untuk tak murka. Didengarnya suara kucing-kucing mengeong dan dua bocah—anak Jendra, lelaki yang sulung dan perempuan yang bungsu—tertawa tertahan di ambang jendela kamar.

Ditonton dua anaknya yang bersembunyi di balik tirai, istri Jendra bukannya surut, malah marah.

“Apa yang kaulihat!” hardik istri Jendra.

“Kuciiing!” seru dua anak itu.

Terperanjat, Jendra mendengar kedua anaknya menirukan suara-suara kucing, gaduh, bersahut-sahutan. Apa mereka—anak-anak itu—juga memandang ibunya berkepala kucing?

Malam berikutnya, Jendra kembali lagi berlindung dalam kegelapan pohon asam, menanti istrinya pulang. Turun dari mobil bersama seorang lelaki, tampak mereka berkepala anjing. Lagi-lagi dua anak Jendra menyalak-nyalak garang. Merinding ketakutan Jendra, setelah memandangi kenekatan istrinya bercumbu, dan keliaran anak-anaknya.

Dalam pandangan Jendra, tiap malam kepala istrinya berubah-ubah. Ia tak ingin mendekat, hanya memandangi istrinya bercumbu dengan laki-laki lain. Di kejauhan ia menanti suara anak-anaknya yang menirukan suara binatang. Kadang didengarnya suara serigala, kadang suara macan, kadang suara gajah.

Ketika istri Jendra pulang bersama seorang lelaki lain, tak ada suara apa pun yang terlontar dari mulut anak-anaknya di ambang jendela kamar. Dia merasa curiga. Diam-diam dia mendekati pohon asam, mengintip ke pelataran rumah. Tampak istrinya dan lelaki itu berkepala badak. Barangkali anak-anak tak bisa menirukan suara badak. Mereka membungkam. Ketakutan. Ngeri. Anak perempuan Jendra menjerit-jerit. Histeris. Anak lelakinya marah dan memberontak.

“Apa yang kamu lakukan? Pergi sana! Pergiii!” usir istri Jendra.   

Naluri Jendra mengusiknya untuk menenteramkan anak-anaknya. Dia menghambur ke pelataran, mengejutkan istrinya dan lelaki itu. Anak-anak memburu Jendra. Terutama anak perempuannya, memeluk, meminta gendong. Anak lelakinya dituntun. Mereka meninggalkan dua manusia yang tampak berkepala badak, sedang mabuk cumbu.**

Pandana Merdeka, Mei 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.