Puisi

Puisi Ian Hasan

Menara Api

aku pernah bersumpah

atas darah jalang si Dursasana

bara api yang telanjur menyala

menanam nyeri di rahim luka

sejak kehormatanku dipertaruhkan

dan kebenaran berdiri bungkam

di mulut para ksatria

wahai Sang Guru Drona

akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya

wahai Bhisma yang Agung

akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung

wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru

adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?

kebenaran hanya omong kosong

dan melaksanakannya bukan lagi darma

karena kebungkaman telah menjelma iblis

yang menelanjangi kepalsuan kalian

seraya kontan memakan korban

orang kalah sepertiku

jika perempuan selalu menjadi tumbal

dan kesuciannya gampang disingkap paksa

adakah lelaki yang bisa dipercaya?

selamanya akan kuingat

segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan

dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan

agar kelima Pandawa bisa berkata,

“dia kini menjadi milik kami.”

selamanya tak pernah kulupa

Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa

supaya terlindung di balik tirai darma

seraya tertawa di antara mereka,

“dia kini menjadi milik kita!”

maka izinkan kubangun menara ini

kelak berdiri di tengah padang Kurusetra

adakah sumpah ini kalian terima?

Karanganyar, 2023


Mantra Ulu-Ilir

kuikuti arah datangnya air

bening menyusuri hulu sungai

yang terjepit di antara dua tebing

kaki mendaki pundak bukit telanjang

yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang

seraya tampak berserakan di sana-sini

tumpukan botol bekas kemasan pestisida

dan jejak luka yang kerap menguap

dari wajah para petani tanpa dosa

penghujan datang

dan mata air adalah gadis perawan

yang ditinggal pergi kekasihnya

bumi telah mencatat silsilah ketamakan

yang tekun mengabadikan kabar kehilangan

cacing, humus, burung, serangga, ikan

batu logam amblas, gunung bukit dikepras

sedang sampah dan racun kian mengendap

di mimbar dan meja orang-orang beradab

kemarau datang

dan mata air adalah ingatan buram

yang menguning disengat penyesalan

rindu kali ini bermuara pagi

serupa hujan pertama disengat matahari

menguar bersama keharuman tanah basah

di halaman senja yang masih menyala

aromanya melambung di langit-langit

kepala dan sebagian darinya membatu

di ujung cangkul dan pena

Karanganyar, 2023


Selawat Bumi

riwayatmu adalah ibu

yang kini terbaring murung

dengan tangan menggenggam zikir

dan senja mengapung di bola mata

maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir

satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian

penutur kata membubuhkan tanda baca

kelangkaan air

kekacauan musim

kerusakan genetik

kemandulan fertil

kepunahan spesies

kelanjutan hidup

aku butuh separuh lembaran langit

untuk menghapus garis ajalmu

setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana

berisi ramuan limabelas macam bumbu:

luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,

hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,

serta pada seduhan terakhir

—setetes nyali kutambahkan

sebelum kiamat benar-benar menjemput

di hari keberangkatan kata sekarat

aku tetap berkhidmat pada kesembuhan

dan berharap kekuatan seorang diri

mendapati sekawanan burung kenari

menumpahkan rindu yang menghijau,

menyiramkan kasih yang membiru

melukis harmoni serupa pelangi

dan kasih manusia terajut sebagai  helai kapas

selembut udara memenuhi rongga dada

—setiap makhluk ciptaan-Nya

karena tuhan mengangkat khalifah

bukan sebagai izin untuk menjarah

menghancurkan atau sekadar mengambil

tanpa memberi imbal balik yang adil

Karanganyar, 2023


Kado Pengantin

: Rasih M. Hilmy

andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru

nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku

air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur

awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur

sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua

merayakan takdir demi segenggam bahagia

seiring sejalan kalian saling menerima

semua kenyataan apa pun adanya

“denganmu, kesialan macam apa

yang membuat derita?”

tandasmu padanya

jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar

pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar

setelah melewati satu episode petualangan gamang

detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang

dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran

atas kebebalan yang direstui semesta raya

puisi yang kalian terima tanpa pilihan

hanya kasih sayang, tiada penyesalan

“tanpamu, keindahan macam apa

yang bisa kunikmati?”

tegasmu padanya

aku menyaksikan langit tergelar di dadamu

dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi

pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu

mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu

adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun

setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian

dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah

untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu

Karanganyar, 2023


Menjala Angin

kita telah lama belajar terbang

membuntuti angin dari negeri tanpa musim

lesap tanah dan air diserobot maling

dan kota-kota di permulaan pagi,

melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah

masa depan berpinak dari rahim hologram ladah

arus tinggi informasi

laju kemajuan teknologi

pesat kembangnya industri

dan waktu adalah panggung perayaan

senjakala kemenangan

mimpi-mimpi di meja makan,

tak peduli gizi dihidangkan setengah matang

menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya

layanan medis ahli

kemujaraban farmasi

kepastian polis asuransi

dan rumahsakit-rumahsakit makin subur

ragam penyakit menjamur

kita agaknya terbiasa patuh dan tabah

menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah

kalut menghafal larik mantra dan rajah

kita pun sejatinya kerap lalai menghitung

jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung

dan langit lebih murung ketimbang resah gunung

Karanganyar, 2023


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan

Cerpen

Mengarang Cita-Cita

Cerpen Ian Hasan

Tak ada seorang pun yang pernah mengajariku perihal bagaimana sebaiknya seseorang bercita-cita. Atau setidaknya, seingatku belum ada pula orang yang pernah memberiku sedikit penjelasan mengapa cita-cita menjadi begitu penting seperti halnya nama.

Bertahun-tahun aku mengarang cita-cita sejak pertama kali ditanya tentang hal itu, sekadar memungutnya dari siaran drama radio, selebaran film bioskop, atau bungkus pao-pao[1] bergambar superhero. Dan nyaris tak ada satupun dari cita-cita yang pernah kusebut—karena sejujurnya tak ada cita-cita yang menurutku abadi—telah aku pertimbangkan betul dalam memilihnya kecuali satu, cita-cita menjadi dukun.

Sekali waktu pernah aku nyatakan cita-citaku menjadi dukun itu saat pelajaran berlangsung di sekolah, karena guru menanyakannya. Sudah bisa kutebak, kebanyakan teman-temanku menyebutkan cita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau insinyur. Tapi aneh, jawabanku malah jadi bahan tertawaan teman-teman sekelas dan juga guru. Sampai di rumah aku masih menyimpan tanda tanya besar, apa sebetulnya maksud orang menanyakan cita-cita kalau hanya dijadikan bahan olok-olok seperti itu. Aku makin tak habis pikir ketika dua hari berikutnya ibu marah besar setelah mendengar pengakuan dari guru, saat ia—tidak seperti biasa—menjemputku ke sekolah.

“Katakan, siapa yang ngajarin Jalu bilang kayak gitu!” bentaknya, setiba kami di rumah.

“Jalu tahu, dukun itu apa?” tambahnya dengan wajah memerah.

Maksud ibu mungkin bertanya, tapi aku tahu saat itu bukan waktu yang tepat untuk menanggapinya. Kurelakan daun telingaku, dua-duanya jadi korban, bergantian dijewer tangan yang biasanya lembut dan penuh kasih sayang. Ada rasa sakit yang susah hilang, tapi bukan di situ tempatnya. Aku hanya terdiam dan hampir menangis—atau sudah, aku tak ingat betul. Seketika aku merasa amat bersalah karena telah berkata jujur sehingga membuat malu keluarga, terutama ibu yang kutahu sangat kecewa.

Aku lihat perubahan wajah dan sikap ibu sejak saat itu, seakan menular ke semua anggota keluarga. Berhari-hari aku tak diajak bicara, seakan mereka begitu menyesalkan cita-cita yang telanjur kukatakan sebenarnya.

***

Ingatanku tentang kemarau yang sedang menggila, sama saja dengan ingatanku tentang kegigihan kakek meladang. Aku tahu, kakek saban hari bekerja di ladang, tanpa pernah sekali saja menunjukkan kerisauan perihal kesulitan yang dihadapinya. Selain tentang pekerjaannya sebagai petani, sering pula aku perhatikan kebiasaan kakek menolong orang lain tanpa pamrih, sekalipun ia sendiri terkadang tidak sedang baik-baik saja. Mungkin karena itu, setiap warga desa dan kebanyakan orang Jatikuwung mengenal kakek. Tidak sedikit dari mereka yang pernah mendapatkan pertolongan kakek, mulai dari mengobati orang sakit, meredakan rewel bayi atau anak kecil, menentukan titik galian sumur, menanyakan hari baik—untuk mulai tanam, bangun rumah, hingga menikahkan anak, serta mengusir dan melindungi rumah dari gangguan makhluk halus. Bahkan sudah dua pekan ini ada orang yang tiap hari mengambil jatah makan siang untuk warga yang gugur gunung membuat jembatan.

Terkait kesibukannya itu, kakek tak pernah mengeluh dan selalu siap kapan pun dibutuhkan, asalkan bisa atau memang sedang berada di rumah. Orang datang juga tak kenal waktu sekalipun kakek sedang beristirahat, bisa tengah malam atau dini hari sebelum subuh.

“Kakek hanya tak ingin, kehampaan yang mereka bawa pulang,” begitu jawabnya ketika kutanya.

Bila kakek sedang pergi ke ladang atau mengajar ngaji di langgar depan rumah, biasanya orang-orang itu rela menunggu. Karena sudah pasti kakek hanya mau melayani permintaan mereka setelah menyelesaikan pekerjaannya itu. Sebetulnya aku juga tidak terlalu yakin dengan menyebut semua itu pekerjaan. Yang aku tahu, kakek hampir-hampir tak pernah mengecewakan orang-orang yang datang. Buktinya, mereka akan selalu kembali di waktu yang lain saat membutuhkan pertolongan lagi.

“Kakeknya Mas Jalu itu dukun sakti,” terang salah satu dari mereka, ketika saking penasarannya aku bertanya-tanya perihal pekerjaan kakek.

Semenjak itulah aku mendengar sebutan dukun, meski tak pernah kuketahui sejak kapan kakekku memulai pekerjaan menolong orang itu. Yang jelas sekarang, orang yang kali pertama datang untuk menemui kakekku tak mungkin tersesat bila mereka mau bertanya ke orang-orang yang ditemuinya di jalan. Aku pun tak jarang berjumpa dengan orang yang sedang mencari rumah kakek dan tentu saja—bila tidak sedang tak ada hal mendesak—aku akan langsung mengantar mereka sampai di depan rumah. Seperti halnya sore itu, ketika seorang laki-laki muda bersepeda motor menghentikan langkahku bersama teman-teman menuju lapangan desa. Ia bertanya setelah mematikan mesinnya.

“Kalian tahu rumah orang pintar di dekat sini?”

“Orang pintar?” tanyaku heran.

“Du… du… dukun, maksud saya,” timpalnya dengan terbata-bata.

Owalah, kalau itu tahu. Mari saya antar,” sambil kuberi isyarat kepada teman-teman untuk duluan.

“Maaf, bukan sekarang, karena saya masih ada keperluan lain.”

Sementara itu teman-temanku bergegas lari ke lapangan.

“Oh, ya sudah.”

Hampir saja aku beranjak lari menyusul teman-teman, “Boleh adik tunjukkan dulu tempatnya?” tanya lelaki itu sembari menatapku tajam.

“Itu sebelum perempatan, yang ada langgarnya.” Kutunjukkan arah menuju rumah kakek.

Lelaki itu mengangguk beberapa kali dan sejenak terlihat sedang berpikir. Lalu setelah mengucapkan terima kasih, ia malah pergi. Segera saja debu beterbangan dan asap dari knalpot menutupi pandangan. Kau pasti bisa mengerti, mengapa aku tak perlu menanyakan kapan waktunya kelak ia akan datang, seperti halnya tak perlu kita menduga-duga kepastian datangnya hujan saat kemarau panjang. Dan andai saja kakekku tahu perihal perjumpaanku dengan lelaki itu, tentu ia juga berharap kesulitan orang itu sudah bisa teratasi sebelum akhirnya benar-benar datang kembali untuk meminta tolong.

Keesokan harinya guruku memberikan pelajaran tentang macam-macam profesi. Aku baru tahu bahwa kelak jika dewasa seseorang akan bekerja sesuai profesinya. Guruku juga menambahkan, setiap pekerjaan yang bermanfaat buat banyak orang, sama baiknya untuk dijadikan profesi. Sayangnya, guru tidak menyebut profesi seperti yang dikerjakan kakek, kecuali petani tentu saja. Meski begitu aku tetap merasa bangga dengan pekerjaan kakek yang terbukti melegakan kepayahan banyak orang.

***

Mendung sejak sore tadi seolah menandakan kemarau panjang akan segera berakhir. Tidak ada tanda-tanda bahwa malam itu akan terjadi sesuatu yang kelak akan terus kuingat sampai aku dewasa. Malam sudah larut dan aku masih sempat melihat kakek sedang melayani seseorang di ruang depan, yang biasanya akan berlangsung lama. Melihat itu aku merasa tak perlu lagi memedulikan olok-olok guru dan teman-teman tempo hari sebelumnya. Siaran wayang kulit di radio membuai rasa kantukku hingga tertidur, tenggelam bersama kisah pertarungan ksatria Pandawa melawan kejahatan dan kelicikan.

Aku terbangun saat mendengar suara gaduh di depan, mengalahkan suara kemresek radio yang telah berhenti siaran. Karena merasakan sesuatu sedang tidak baik, aku segera meloncat dari amben. Mengetahui kemunculanku di ruangan depan, nenek segera menangkap serta membenamkan tubuh kecilku ke dalam dekapannya. Sempat tubuhku meronta dan entah mengapa aku pun meraung-raung, tanganku menggapai-gapai, saat melihat kepanikan di sana-sini.

Malam begitu pekat sehingga tak dapat kupastikan apa yang terjadi sebenarnya. Tak kulihat ibu, mungkin sedang bersama adik. Tubuh bapak tergeletak di depan pintu, babak bundas seperti baru saja dikeroyok dan dipukuli orang. Agak jauh dekat jalan, terlihat bayangan orang-orang berpakaian dan bertopeng hitam, sedang menghajar seonggok tubuh yang kuduga kakek. Suara petir menggelegar dan sebentar kemudian hujan benar-benar turun membungkam sunyi yang bercampur isak tangis, setelah orang-orang itu pergi membawa kakek.

Semenjak kejadian itu, aku tak pernah berjumpa kakek dan tak mau bertindak konyol hingga membuat ibu marah lagi. Tak ada orang lain—kecuali teman-temanku—yang tahu perihal pertemuanku dengan orang asing di dekat lapangan, termasuk ibu. Aku sekarang takut bercita-cita dan berharap tak ada lagi yang bertanya, karena aku tak ingin terpaksa mengarangnya. Kelak baru kutahu, ada masa di mana pekerjaan menolong orang dianggap berbahaya. ***


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022.


[1] Istilah lokal yang berarti makanan kecil untuk anak-anak