Puisi

Puisi Khanafi

Mimipi di Kamar Sempit

kalau pagi hari memesan mimpimu seperti meletakkan kau

di sebuah ranjang yang asing, biarkan orang-orang tiba

sebagai pelayat atau sebagai pendusta yang pura-pura berduka

padahal sebelumnya tak pernah mengenalmu, atau waktu belah

kena gugur daun-daun mangga yang semalam habis dihajar cuaca

lalu datanglah kembali jalan-jalan asing yang pernah kau lalui itu,

membawa langkah rekaman dari gelisah yang sebelumnya pergi

menyusuri daerah-daerah tanpa wajah, tak pernah kau temukan

senyum juga ucapan yang tulus ramah, sepertinya itu akan jadi tepi

sebuah ruang berhenti ketika kau mimpi di kamar sempit yang

belum kau lunasi dan masih menunggu seperti lambaian tangan

2022


Penghuni Kota

kota kami dikawal oleh kecemasan, jalan-jalan kadang

merebahkan kenangan di hatimu, yang kembali memutar ingatan,

menyusunnya menjadi kesepian. kamu telah susah payah

belajar menulisnya, menyusuri kembali saat-saat suram

di tiap hari yang gelap, ketika doa tak lagi terbang bersama burung

ketika mimpi hanya mengarak rasa murung keliling kota

dan langit rupanya menunggu sambil mengucap kalimat beku

gedung-gedung pun menunggu gerak yang membelah waktu

inikah lagi daerah paling asing dalam hidup, tanah yang tak dimiliki,

ruang yang disewa, jalan memanjang membuat kami terlempar jauh

mungkin esok pagi kami telah kehilangan tubuh, sementara

mimpi ketakutan untuk kembali menjalani rutinitas tanpa henti

2022


Perantau

dengan bus yang asing kami dibawa ke kota asing, rumah-rumah

ditinggalkan musim. kami melangkah ke hari baru yang menumbuhi

kepala sepanjang jalan dengan harapan dan ketakutan, hingga pada

lampu-lampu jalan yang hampa kami terhisap sebagai bayang-bayang,

kami akan mencari tempat tinggal, jika tak ada kami akan berkelebat

seperti hantu di gang-gang, di jalan sepanjang tak ada rumah-rumah

dan kami ditumbuhi lagi oleh begitu luas dan lengangnya ketakpedulian

waktu bersama embusan angin seperti bahaya yang bisa membuat lupa

apakah kami telah memilih meninggalkan desa untuk menjadi terlunta?

2022


Hujan yang Baik

tak seperti pagi-pagi biasanya, hujan turun dengan ramah

setelah kumandang subuh surut pada pelantang bangun itu

jam-jam seperti meninggalkan jarumnya di mimpi untuk

melanjutkan tidur, suara membentur di atap begitu merdu,

seperti sayatan yang berkelebat saat pertama kali kauingat

pada sepi yang suka berdiri sendiri di tanggul ladang padi

ketika hujan yang sama mengajakmu bermain dengannya

kau tak perlu banyak bicara sekarang, berbaringlah sejenak

istirahatkan kakimu yang begitu ramah menyapa jalan-jalan

yang bernama-nama asing itu, mereka akan mengingatmu

bahwa di hari itu, pukul pagi yang sedikit ngilu, kau absen,

karena hujan yang baik ingin meninggalkan sesuatu dari

masalalu untuk kau pungut esok sebelum bertemu si maut

2022


Taman Awal Tahun

orang datang dan orang pergi, bunga-bunga mekar

pohon tumbuh sendiri, burung buat sarang di cabang

dengan ranting daun kering dan warnanya yang bunuh diri

kemarin sepasang kekasih berjanji ketemu di bangku situ

tapi di hari itu waktu begitu padat, nomor berjejal tumpat

halaman hanya cukup untuk empat capung dan seekor sepi

langit menjadi seperti bentangan pada bajumu, orang berlalu

seorang petugas kebersihan menambah personil baru, di sini

masih berkeliaran ribuan bekas napas yang bertukar-tukar di

bawah lampu, setelah pukul malam dan sehabis pagi masih

terkumpul sebagai guguran daun, beberapa potong sampah dan

selongsong kembang api yang terbakar mulutnya, juga sunyi

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi dan cerpen tersiar di beberapa media massa baik daring maupun cetak, serta terikut dalam berbagai buku antologi bersama. Penulis berkhidmat di Forum Penulis Solitude (FPS). Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas dan penjual buku lawas. Buku kumpulan puisi pertamanya bertajuk Akar Hening Di Kota Kering (SIP Publishing: 2021). Sekarang bolak-balik Purwokerto-Yogyakarta sembari merampungkan novelnya dan sebuah buku kumpulan cerpen. Penulis bisa dihubungi melalui email : [email protected].

Cerpen

“…. Tapi, Bagaimana Kalau Kita Tidak Benar-Benar Ada?”

Cerpen Daruz Armedian

“…. tapi bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada?”

Sayup-sayup kudengar dua orang, laki-laki dan perempuan, membicarakan sesuatu yang menarik bagiku. Mereka berhadap-hadapan. Apakah mereka sepasang kekasih, tentu saja aku tak tahu, dan ya, itu kurasa juga kurang perlu kutahu.

Aku duduk di sini dan mereka menempati tempat duduk yang lain, yang ada di depanku. Si laki-laki, kalau tidak ada perempuan di depannya, bisa dikatakan ia sedang berhadapan denganku. Sementara si perempuan memunggungiku. Awalnya aku tak peduli dengan pembicaraan mereka, tapi ketika sampai pada kalimat itu, yang sudah kutulis di awal paragraf cerita ini, aku mulai ikut menyimak.

“Benar juga, ya. Bagaimana kalau kita di sini malah cuma dalam bentuk bayang-bayang?”

“Astaga, jangan-jangan pula, kita adalah ilusi, atau bahkan hasil dari imajinasi seseorang, atau katakanlah sesuatu yang jauh, yang tak terjangkau.”

Ini menarik, kataku dalam hati. Di depanku ada laptop terbuka dan aku tidak peduli dengannya. Kubiarkan ia menyodorkan Microsoft Word yang cuma berisi satu paragraf tentang cerita yang absurd, yang aku sendiri enggan untuk meneruskannya.

“Kurasa pembicaraan kita terlalu jauh. Hahaha.” Si perempuan menertawakan pembahasannya sendiri. Tidak, tidak, kataku, itu tidak terlalu jauh, aku suka ada orang nongkrong di kafe dan membahas soal beginian. Jarang-jarang ada yang seperti itu. Apalagi jika itu sepasang kekasih. Tahu sendirilah apa yang dibicarakan orang-orang yang tengah berpacaran? Atau jangan-jangan mereka sedang dalam masa pendekatan? Sehingga bahasannya rumit. Bukan lagi soal kangen atau tidak kangen, soal pertanyaan lagi apa, sudah makan belum, dan sebagainya.

“Iya, ya, ngapain kita bahas begituan. Yang berguna dan yang paling dekat dengan kita sekarang kan masalah keuangan. Percuma rasanya kita bahas begituan kalo kita masih kere, ke warkop cuma pesan agm (maksudnya adalah kopi hitam agak manis yang harganya 5.000), dan saldo rekening tidak lebih dari 50.000.”

Tapi kalau kulihat-lihat, mereka tidak pesan agm. Mereka memesan jus alpukat dan cokelat panas dan dua mangkok mie goreng. Tampilan yang perempuan juga modis, sebagaimana yang laki-laki juga modis. Si perempuan memakai hoodie warna abu-abu, celana levis pendek, dan sandal yang agaknya harganya kisaran jutaan. Si laki-laki pun begitu, pakai kemeja putih keren dan jam tangan. Ia bukan tampang orang miskin.

“Hahaha. Iya bener.” Si perempuan menanggapi pendek.

Mereka tertawa lagi. Memang betul, keuangan sangat perlu kupikirkan. Terlebih ketika usiaku sudah 25 tahunan. Aku juga harus memikirkan tabungan untuk biaya pernikahan kelak, biaya berumah tangga. Aku ke sini, ke kafe ini jalan kaki, dan sampai sini hanya pesan kopi. Padahal, ada lebih dari 40 menu yang lain. Dan…

“Aku pernah benar-benar miskin. Dulu, untuk ngopi saja aku butuh mikir dua kali. Sebelum ngopi, pasti aku mikir, baiknya uangku untuk makan saja.” Si laki-laki menarik napas dalam, dan meneruskan pembicaraannya, “Tapi ini bahasan yang nggak menarik. Hahaha.”

“Kamu sudah sering cerita soal itu.”

Kemudian mereka sama-sama diam. Masing-masing sibuk dengan hapenya. Aku juga kembali memandangi laptopku. Iya, ya, untuk apa juga aku menulis yang rumit-rumit begini, yang membingungkan kepalaku sendiri, yang kalau dibaca orang lain pun pasti tidak ada faedahnya. Asu memang kehidupan begini. Harusnya aku kerja baik-baik, jadi PNS kalau perlu, biar nanti kalau tua dapat uang pensiunan. Tidak perlu membaca banyak buku, tidak perlu menulis inilah, itulah, hashhhh, taiklah. Kebutuhan dasar manusia kan makan, atau katakanlah pegang uang.

Jadi untuk apa ya Darwin mikirin manusia itu berasal dari kera, untuk apa Socrates bela-belain mati karena mempertahankan pemikirannya, untuk apa para filsuf memikirkan awal mula semesta, untuk apa sih, kalau pada dasarnya yang mereka butuhkan sebenarnya cuma melanjutkan hidup dengan makan, kerja, kalau capek ya istirahat, tidur, merenggangkan ototnya?

Tidak lama, si laki-laki teriak (ya sebenarnya tidak teriak-teriak amat sih).

“Woooooh, orang Amerika menemukan gambaran black hole.”

“Iyakah, siapa?”

“Bouman, eh, sebentar.”

“Hmmm.”

“Iya bener. Bouman. Katie Bouman. Katherine Louise Bouman. Anjiiiirrr keren.”

“Nah, kan. Apa kubilang. Orang-orang luar negeri sudah jauh pemikirannya. Mereka sudah sampai ke luar angkasa. Lah, kita? Masih sibuk ngurusin hoaks terus. Bahkan ngurus got saja masih keteteran. Masalahnya pelik memang. Kalau kamu mau jadi ilmuwan di sini, atau katakanlah kamu mau meneliti sesuatu di sini, ya kamu akan tetap kelaparan. Tidak ada dukungan apa pun dari pemerintah soal penelitianmu. Ya, mungkin kamu bisa membuat proposal, minta bantuan ini-itu, tapi itu susahnya minta ampun, yang kurasa itu tanda kalau pemerintah nggak serius ngurusin beginian.”

Aku kembali mengabaikan laptop, atau sebenarnya mengabaikan pikiranku? Aku mendengarkan perbincangan mereka lagi. Sekarang temanya beda dari yang tadi.

“Ya, begitulah yang terjadi di sini. Mau gimana lagi.” Si laki-laki sudah tidak antusias lagi.

“Hmmm.”

Tiba-tiba aku yang merasa geram. Memang betul, banyak orang-orang yang berkompeten di negara ini, tapi selalu saja mereka disia-siakan. Mereka yang muncul di permukaan, yang mendapatkan penghargaan-penghargaan di luar negeri, adalah orang-orang yang disepelekan di sini. Aku tidak tahu akar masalah ini dari mana. Yang jelas, apasih yang jelas, ini saja tidak jelas. Aku sedang mikirin apa? Arrghhhh. Pusing sendiri aku memikirkan negara ini.

Mereka akhirnya diam lagi. Masing-masing sibuk dengan hapenya lagi.

“Pulang, yuk?” Si laki-laki memasukkan hape ke sakunya.

“Ayo. Tapi mampir beli pizza, ya.” Si perempuan berkata manja.

“Lho, ini tadi sudah makan mie goreng.”

“Aaaa. Pengen. Dari kemarin pengen.”

“Iya, iya, ayo.”

Mereka berdiri dan aku gelagapan, buru-buru fokus ke laptop lagi. Aneh rasanya kalau aku ketahuan menguping sejak tadi. Aku pura-pura mengetikkan sesuatu. Aku tulis kalimat bodoh, tidak teratur, yang penting jari-jariku bergerak di atas keyboard. Untuk keluar dari warung kopi ini, mereka harus melewati samping tempat dudukku.

“Lho, Saka, kamu di sini?”

Aku tersentak. Apa benar perempuan ini mengenaliku? Siapa dia? Aku pandangi agak lama, dan …

“Karin?” tanyaku agak ragu. Dalam pikiranku, Karin adalah mahasiswa filsafat yang pintar dan kritis. Dulu dia tampilannya tidak seperti ini. Hodie dan kacamata dan celana pendek telah mengubahnya menjadi sebegitu anggun.

“Iya.” Dia tersenyum. “Aku duluan, ya,” katanya buru-buru.

“Oke, siap, Rin.” Hati-hati, ya. Hampir saja hati-hati, ya, kuucapkan.

Si laki-laki hanya diam. Ya, karena dia tidak tahu apa-apa mengenai aku.

Bagaimana kalau kita tidak benar-benar ada, Saka?” Karin mengucapkan kalimat itu dengan nada yang lucu. Mimik mukanya tetap sama seperti dulu. Seperti mengejek. Seperti tingkah orang centil. Tapi aku tetap suka. Aku membalas perkataannya dengan tertawa kencang.

Karin berlalu sambil menggandeng tangan laki-laki itu. Mungkin itu pacarnya, mungkin itu tunangannya, mungkin itu malah suaminya. Mereka menuju ke mobil warna merah, yang sejak tadi terparkir di depan warung kopi ini. Dari jauh, masih kudengar sebuah rengekan; aaa, aku sudah pengen pizza dari kemarin, lho. Iya, kan, ini nanti mampir ke sana kan? Dan suara itu dibalas lembut; iya, iya, sayang. Buruan masuk. Gerimis.

Setelah mobil itu berlalu, aku baru sadar telah begitu khusuk melihat mereka. Posisi dudukku jadi membelakangi laptop. Aku keterlaluan melengos. Aku buru-buru kembali ke posisi semula. Microsoft Word kembali kubuka. Kupencet ctrl+N, dan jari-jariku dengan cepat mengetik; mungkin aku saja yang tak perlu benar-benar ada ….

Belum banyak aku mengetik, rasanya aku ingin segera menandaskan kopiku. Ada yang mengganjal di tenggorokanku. Belum banyak aku mengetik, rasanya mataku sudah terlalu lama memandangi layar laptop. Perih. **

Jogja, 2020-2021


Daruz Armedian, lahir di Tuban. Sekarang tinggal di Jogja. Tahun 2016 dan 2017 memenangi lomba penulisan cerpen se-DIY yang diadakan Balai Bahasa Yogyakarta. Tulisannya tayang di pelbagai media.

Cerpen

Kotak Pandora

Cerpen Kristophorus Divinanto

Tubuh sutradara dibiarkan menggantung dengan tambang yang melingkar di lehernya. Lampu sorot utama gedung pertunjukan menyoroti tubuhnya yang tergantung, seolah-olah sutradara itu tengah bermonolog tentang kematiannya sendiri. Belum ada yang berani menurunkan jenazah itu dari atas sana. Orang-orang masih menunggu produser datang. Seorang penata artistik duduk meringkuk di bibir panggung sebelah kanan. Seorang aktris terisak-isak di sebelah asisten sutradara yang sedari tadi tidak melepaskan rangkulannya dari bahu si aktris. Seorang pemain musik berjalan dari samping panggung mendekati jenazah sutradara yang tergantung tepat di tengah panggung sambil memainkan Wiegenlied Op. 49 No. 4 karya Johannes Brahms.

“Hei! Jangan sembarangan!” hardik asisten sutradara dari bangku penonton.

Pemain musik itu langsung menghentikan permainan biolanya.

“Maaf. Hanya berusaha mencairkan suasana. Lalu sekarang bagaimana?”

Asisten sutradara kini yang menundukkan kepalanya.

“Semuanya akan jelas ketika produser datang,” kata penata artistik.

Produser masuk ke gedung pertunjukan melalui pintu utama. Lima detik lamanya ia tidak bergerak memandang tubuh sutradara pementasannya tergantung di tengah panggung. Dua orang petugas dari rumah sakit ikut bersama produser dengan membawa tandu dan peralatan lainnya. Mereka berdua segera mendekat ke arah panggung untuk menurunkan jenazah. Produser menghampiri asisten sutradara dan memeluknya. Tangis asisten sutradara tidak terbendung. Penata artistik melompat dari bibir panggung dan mendekati produser. Aktris yang sedari tadi menangis masih tersedu di tempat duduknya. Pemain musik ikut mendekat ke produser sambil menenteng biolanya.

“Siapa yang menemukan jenazahnya pertama kali?” tanya produser.

“Dia,” jawab pemain musik menunjuk aktris yang masih menangis.

Produser menghampiri aktris dan duduk di sebelahnya.

“Kita semua berduka. Aku turut berduka atas kematian tunanganmu. Tapi bisakah kamu menceritakan kepada kami, bagaimana kamu menemukannya?” tanya produser.

Sutradara dan aktris memang menjalin hubungan asmara sejak lima tahun yang lalu. Keduanya bertemu dalam satu sanggar kesenian di Yogyakarta. Di tahun keempat mereka memutuskan bertunangan dan sejak saat itu sutradara memutuskan untuk membentuk kelompok teaternya sendiri.

Tiada yang menyangka kelompok teater besutan pasangan sutradara dan aktris ini berkembang pesat. Seluruh kursi gedung pertunjukan terjual habis pada pementasan pertama. Pujian demi pujian datang dari seniman, dosen seni, mahasiswa seni, hingga orang-orang awam yang tidak terlalu menikmati bahkan peduli tentang seni.

Kelompok teater mereka menancapkan bendera kesenian pertamanya dengan mementaskan naskah Mahkamah karya Asrul Sani. Pementasan perdana memperkuat pondasi keyakinan mereka untuk terus menekuni jalan kesenian. Orang-orang mulai berbondong-bondong bergabung ke kelompok teater tersebut. Anggota kelompok bertambah seiring bertambahnya donatur dan sponsor.

Pujian demi pujian datang di setiap pementasan selanjutnya, hingga tiba hari dinas kesenian mendatangi sutradara untuk menawarkan kerja sama. Dinas meminta almarhum sutradara untuk mementaskan sebuah lakon kisah cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah yang populer di pulau Kemaro. Almarhum sutradara langsung menerima tawaran tersebut.

Namun proyek tersebut ternyata memekarkan konflik antara almarhum dengan kekasihnya. Aktris merasa keberatan ketika diminta memerankan tokoh Siti Fatimah. Almarhum sutradara berang ketika kekasihnya menolak menjadi pemeran utama dalam pementasan penting ini.

Keduanya cukup sering adu mulut selama proses latihan. Beberapa kru dan anggota teater lain selalu tidak enak hati ketika mendengar pertengkaran para pendiri kelompok teater ini di atas maupun belakang panggung. Tidak ada yang pernah berani mencoba melerai pertengkaran mereka berdua. Semua orang memang mengetahui bahwa semangat kesenian aktris sudah melemah, sedangkan kekasihnya masih berapi-api untuk terus tekun di kesenian. Setiap orang yang melihat si aktris dapat menilai bahwa segala tindakannya dilakukan untuk memenuhi keinginan kekasihnya sebagai sutradara, bukan untuk membahagiakan dirinya sendiri.

“Kalau aku boleh memilih, aku ingin hidup di tempat yang lebih luas dari panggung pertunjukan yang hanya sejengkal,” begitu ucap si aktris ketika tengah mengobrol di sesi istirahat latihan pementasan Tan Bun An dan Siti Fatimah. Semua orang menaruh rasa iba, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Segala hal di kelompok teater, ditentukan oleh sutradara–tunangan si aktris itu sendiri. Pendengar keluh kesah aktris hanya anggota biasa bahkan anak magang yang tidak bisa berbuat banyak.

“Saya dan aktris yang menemukannya,” kata penata artistik.

“Kami berdua datang lebih awal. Almarhum meminta aktris datang lebih awal untuk olah rasa. Kebetulan saya harus datang lebih awal untuk menyelesaikan properti yang belum selesai dikerjakan. Kami berdua datang bersama dan ketika memasuki gedung, almarhum sudah tergantung seperti ini,” perkataan penata artistik kian melambat seiring tangis aktris yang terdengar kian menyayat.

Produser menghela napasnya yang berat. Ia menatap jenazah sutradara yang telah ditutup dan diangkut oleh dua orang petugas rumah sakit dengan tandu.

“Kita bawa dulu ke rumah sakit,” kata produser.

Asisten sutradara dan penata artistik memapah si aktris yang berjalan sempoyongan, mengikuti dua petugas yang membawa jenazah sutradara. Produser dan pemain musik yang berjalan paling belakang.

Setelah merasa berjarak agak jauh dengan rombongan yang ada di depan, pemain musik menahan lengan produser hingga keduanya berhenti melangkah.

“Sebentar, Pak!” ucap pemain musik.

Produser menghentikan langkahnya karena terkejut dengan sikap pemain musik.

“Ada apa?” tanya produser.

“Saya menduga sutradara dibunuh oleh salah satu dari mereka. Entah mbak aktris, mbak penata artistik, atau mbak asisten sutradara itu,” bisik penata musik.

“Ngawur kamu, Bung! Jangan sembarangan menuduh!” bentak produser dengan nada lirih, berharap agar percakapan mereka barusan tidak terdengar oleh rombongan yang ada di depan.

Weh, bapak itu, lho! Saya bilang men-du-ga. Bukan me-nu-duh. Saya menduga seperti itu karena skandal mereka di masa lalu.”

“Skandal? Skandal apa?”

“Bapak ini terlalu lama di kantor jadi tidak pernah tahu apa-apa. Almarhum sutradara itu suaminya penata artistik dulunya. Tapi mereka saling tutup mulut.”

Produser membalikkan posisi badannya, menatap pemain musik yang ada di belakangnya. Mata pemain musik tampak berbinar karena perkataannya berhasil menarik perhatian produser.

“Begini ceritanya, Pak. Penata artistik itu dan almarhum sutradara sudah menikah dua tahun sebelumnya. Tapi entah apa alasannya mereka cerai. Nah, lalu sutradara kasmaran sama aktris hingga mereka tunangan. Eh, usut punya usut, di acara tunangan sutradara dan asisten sutradara tepergok salah satu tamu undangan sedang berciuman di kamar mandi. Saya dulu diajak almarhum sutradara untuk mengurus uang tutup mulut, Pak.”

“Sembrono! Kebiasaan bercandamu ini sudah keterlaluan. Ceritamu terlalu ngawur!” hardik produser.

“Silakan bapak mau percaya atau tidak. Saya itu sudah kenal almarhum sutradara sejak SMA. Saya sangat paham dengan almarhum, apalagi urusan perempuan yang ditidurinya. Tidak ada yang lebih mengenal almarhum dibanding saya, Pak.”

Produser hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Omonganmu terlalu ngawur. Jangan sok tahu! Ada yang lebih penting dari memfitnah pembunuh atau mencari aib-aib yang almarhum punya semasa hidupnya. Kita harus berpikir cara agar pertunjukan ini tetap berjalan. Pemerintah sudah memberi uang banyak kepada kita. Pertunjukan ini harus tetap berjalan.”

Produser langsung bergegas menyusul rombongan di depan yang telah berada di luar gedung pertunjukan.

 “Ya sudah kalau nggak percaya,” gerutu pemain musik.

***

Malam hari sebelum sutradara tergantung di tengah panggung, desah dari sebuah kamar hotel tersamarkan suara televisi yang dinyalakan dengan volume lantang. Kamar hotel mewah di lantai 30 selalu memberikan ruang untuk cinta yang liar, namun sepadan dengan rahasia yang disembunyikan dengan rapat.

Sutradara terjatuh di pelukan produser. Mereka berdua saling menatap sebelum bibir keduanya saling melumat. Peluh dari kedua tubuh menyatu. Produser mengelus-elus rambut sutradara.

“Kapan kamu akan menceritakan semuanya?” tanya produser.

Mendengar pertanyaan itu, sutradara segera beranjak dari kasur. Selimut yang menutupi tubuh telanjang keduanya tersingkap. Sutradara mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan mulai mengenakannya satu per satu.

“Ini yang terakhir. Aku telah mencintai aktris itu. Seutuhnya,” kata sutradara.

Produser melotot ke arah sutradara.

“Kamu mau meninggalkanku? Katamu cinta tiada berbatas?”

“Maaf, kita harus berpisah. Cinta kita adalah sebuah kesalahan.”

Sambil berpakaian, sutradara menambah volume pada sebuah liputan tentang pernikahan sesama jenis yang ditayangkan salah satu stasiun TV.

Karena asyik menyimak ulasan tentang pro dan kontra pernikahan sesama jenis, sutradara tidak menyadari bahwa produser mendekatinya dari belakang dengan sabuk di tangan. Produser tidak memberikan sedikit saja kesempatan kepada sutradara untuk berteriak. Jerat sabuk di leher sutradara kian erat dan tubuhnya kian melemas hingga sama sekali tidak bergerak.

Sutradara sudah tidak mengetahui lagi alur cerita selanjutnya. Ia tidak mengetahui saat dirinya dimasukkan ke bagasi mobil, dibawa ke gedung tempat latihan. Digantung di tengah panggung dengan lampu utama yang menyoroti tubuhnya. Sutradara itu sama sekali tidak tahu.

Nyawanya sudah tidak mendiami tubuh itu.***

Madiun, 19 Februari 2021


Kristophorus Divinanto, lahir di Cilacap sebelum pindah ke Kutoarjo. Bekerja sebagai guru sekolah dasar. Memiliki kegemaran membaca manga dan masih setia menanti tamatnya manga One Piece. Pemilik akun Instagram @kristophorus.divinanto.

Cerpen

Surealisme Indonesia dalam Cerpen Mata Terkutuk Karya Caligula Zaragyl

Cerpen Caligula Zaragyl

Bulan purnama menjadi tanda bahwa pesta para arwah dimulai. Satu demi satu arwah dari nuwa muri koo fai[1], ata mbupu[2], dan ata polo[3] keluar. Mereka berputar-putar di atas langit Danau Kelimutu. Seketika langit mulai berubah warna menjadi merah dan para arwah mulai bersatu membentuk kereta kematian. Kereta kematian yang terbuat dari susunan bola mata, bola mata yang berwarna merah, dan penuh dengan nanah. Yohanes Wato sebagai ketua adat mulai melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata[4]. Ia berdiri di tengah-tengah penari. Mereka mulai melakukan gerakan tari dengan entakan kaki, tongkat bambu dibunyikan mengikuti ritme entakan kaki, kaki kanan maju dua langkah, kemudian kaki kiri mundur dua langkah, dalam langkah kaki kedua diikuti lambaian tangan, dan giring yang terletak di pinggang terdengar nyaring mengikuti gerakan tubuh.       

Yohanes wato menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu: Ama lera, ina nini taka ekan, tobo moen teti kowa kelen tukan, pae mern lali tana nimun wato baya, moe yadi telu ratung, tao ile pulo getang, dewa woka lema gait, telung pesa lega ratung, yadi ihiken atadiken, gewak weaken belaon. Seiring dengan lantunan syair yang disenandungkan Yohanes Wato, kereta kematian perlahan turun, dari dalam kereta kematian keluar perempuan yang sedang menggendong bola mata seukuran bayi. Ia menatap semua warga yang sedang melangsungkan ritual pati ka dua bapu ata mata dan berjalan ke arah hutan. Yohanes Wato tak asing dengan perempuan itu, berlari sekencang mungkin untuk mengejarnya. Tak jauh darinya perempuan itu menimang-nimang bola mata, menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu. Tubuh Yohanes Wato bergetar,  masih ingat betul dengan logat suaranya, tubuh perempuan itu, dan semua tentang perempuan yang ada di hadapannya. Yohanes Wato menangkupkan kedua tangannya untuk menutupi wajahnya yang sedang menangis. Perempuan itu mendekati Yohanes Wato, membisikan sesuatu yang membuat tubuh Yohanes Wato bergetar.

Malam hari, semua orang berkumpul membicarakan apa yang telah terjadi. Ada yang ketakutan setengah mati, ada yang menganggap hal itu biasa, dan kebanyakan orang menganggap bahwa leluhur Danau Kelimutu marah. Alhasil para arwah mulai bergentayangan. Namun, yang pasti tak ada yang tahu siapa identitas perempuan yang menggendong bola mata. Yohanes Wato yang ditanya warga pun hanya membisu, seakan ada rahasia yang harus ditutup rapat-rapat. Mereka mulai bergegas pulang ke rumah masing-masing. Berdoa supaya tak hal buruk yang akan datang.

***

Perempuan misterius itu menimang-nimang bola mata. Seakan bola mata itu adalah bayinya. Ia menyenandungkan syair yang sangat merdu. Namun, ketika melihat desa di sekitar Danau Kelimutu mulai bersikap aneh, tatapannya penuh amarah, dan dari mulutnya keluar caci maki yang entah ditunjukkan kepada siapa. Ia membanting bola mata itu dan pecah menjadi ratusan bola mata yang berukuran seperti bola mata pada umumnya. Semua bola mata itu berputar-putar dan keluar dua kaki. Tangan perempuan itu menunjuk ke arah desa. Seketika ratusan bola itu berlari ke arah desa untuk menyebarkan kutukan.

Suasana gaib masih menyelimuti Danau Kelimutu. Semua orang tertidur pulas. Tak tahu akan ada bahaya yang sebentar lagi mengusik mereka. Ratusan bola mata itu menyusup ke dalam rumah warga dan mulai masuk ke dalam mulut orang yang sedang tertidur. Bola matanya mulai menyatu ke setiap orang. Bola mata itu serentak muncul di pipi kanan dan kiri.

Keesokan harinya, semua orang kalang kabut dengan mata yang ada di pipi kanan dan kiri. Mereka bercermin, melihat bola mata itu, bola mata itu seperti bola mata pada umumnya, tetapi terus mengeluarkan nanah yang menjijikkan. Beberapa kali dibersihkan tetap saja akan keluar lagi. Yosep yang tempramen berniat mencungkil bola mata itu. Tangan kanannya sudah memegang belati dan langsung menusuk bola mata itu, menariknya secara perlahan, dan bola mata itu keluar. Kemudian melakukan hal sama kepada bola mata terkutuk di pipi kanannya. Yosep merasakan sakit yang luar biasa. Mulutnya keluar darah. Jempao—istrinya menyuruh suaminya untuk membuka mulutnya dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dalam mulutnya ada bola mata yang bergerak-gerak, mempunyai dua tangan. Kedua tangan itu menjulur keluar dan mencekik leher Yosep.

Jempao berteriak meminta tolong dan semua warga berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tubuh Yosep bergetar dengan hebat dan tangan itu masih saja mencekik lehernya, meskipun beberapa orang berusaha menolongnya. Namun, nyawa Yosep tak tertolong. Seketika dua tangan yang mencekiknya mulai lemas, mengering, dan perlahan menjadi abu.

***

Semua orang semakin ketakutan. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Mereka telah diteror mata terkutuk. Jempao menyarankan untuk pergi ke rumah Yohanes Wato. Mereka akhirnya berbondong-bondong ke sana. Yohanes Wato dalam posisi semadi dan mulutnya menyenandungkan syair kepada leluhur Danau Kelimutu.

Jempao yang melihat suaminya meninggal dengan cara yang tak wajar ketakutan, bersujud di kaki Yohanes Wato. “Tolonglah kami, Yohanes Wato.”

“Kutukan mata ini tak dapat dibiarkan. Tolonglah berbuat sesuatu,” ujar seseorang bertubuh gempal.

“Apa yang bisa aku lakukan? Aku juga terkena kutukan itu.” Yohanes Wato tak bersemangat hidup. Menganggap bahwa kutukan itu akan membuat semua orang mati bahkan dirinya.

Semua warga mulai bersujud di kaki Yohanes Wato. Mereka berharap Yohanes Wato melakukan sesuatu untuk menghilangkan mata terkutuk. “Kita perlu melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata untuk kedua kalinya.” Yohanes Wato memberikan saran dan semua orang setuju dengan saran itu.

Semua warga melakukan ritual pati ka dua bapu ata mata. Sesaji sudah dipersiapkan mulai dari kaki babi hutan, kaki rusa, daun sirih, ubi-ubian, kelapa, labu, padi dan jagung. Satu demi satu meletakkan sesaji, memanjatkan doa untuk saudara, leluhur, kerabat, dan orang terdekat yang sudah meninggal. Yohanes menyenandungkan syair untuk leluhur Danau Kelimutu. Ia mengambil abu dari cendana. Melemparkan abu itu ke udara. Semua orang seketika langsung merasakan gatal, panas disekujur tubuhnya, dan menggaruk mata terkutuk itu. Mata yang ada di tubuh mereka keluar tangan dan mencekik leher mereka. Mereka secara perlahan mati secara mengenaskan.

Perempuan misterius itu seketika datang dengan menggendong bola mata. Yohanes Wato mendekat ke perempuan itu. Mengambil bola mata itu, menimang-nimangnya, dan menciumnya. Ia mulai teringat dengan janjinya dengan perempuan misterius itu. Ingatanya menerawang jauh pada peristiwa ketika Yohanes Wato pergi ke acara ritual pati ka dua bapu ata mata bersama istrinya yang sedang hamil. Istrinya jatuh ke tiwu ata polo. Semua orang yang melihatnya hanya menertawakannya karena menganggapnya tak berhati-hati. Dan yang lebih menjengkelkan ialah olokan yang menganggap bahwa orang yang jatuh di tiwu ata polo adalah orang jahat. Yohanes Wato pun jijik melihat mata semua orang yang memandang istrinya sebagai orang jahat. Alhasil, Yohanes Wato membuat perjanjian dengan leluhur Danau Kelimutu untuk membalaskan dendamnya.**

                                                               Ruang Sang Hyang Wenang, 12 Febuari 2022.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Alumni PBSI di Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Penulis dapat dihubungi melalui Facebook dan Instagram: Nur Khafidhin Rezpector dan @Khafidhinur.


[1] tempat berkumpul arwah pemuda pemudi.

[2] tempat berkumpul arwah orang tua.

[3] Tempat berkumpul arwah orang jahat.

[4] Ritual memberikan sesaji kepada leluhur.

Puisi

Puisi Ruly R

di terminal ini

di terminal ini tak ada yang berbeda, kecuali kau yang salah naik bus dan dipaksa turun oleh waktu.

suara pengamen masih cempereng, membawa kenang-kenang, tak habis pikir akan salah keputusan tanpa tahu apa-apa.

apakah butuh kesalahan dalam hidup? setidaknya untukmu, agar segalanya mula-mula bisa diserapahi, lalu dikenang karena bus selanjutnya telah datang, hendak membawa ke arah pulang.


di taman sukowati

di taman sukowati, penjaga angkringan terkantuk, barangkali menunggu pelanggan lagi, atau menunggu kepulangan pelanggan yang telah di sana, tiga pemuda,  juga mereka yang berselingkuh.

Lampu merah berganti begitu pelan ke lain warna, tak pernah mencatat apapun, pada mereka yang berhenti atau lanjut, karena sebentar lagi waktu digigilkan subuh.

Ada yang harus pulang, namun tak semua mengerti waktu menuju pulang, hanya ada yang menunggu, agar besok berulang, dan mereka-mereka entah kembali atau tidak.


tenggat

bapak menggandeng tangan bocahnya, keluar dari surau, dan matahari menikam gelisah hari jumat,

lelaki muda hanya melihat dari angkringan seberang jalan, rokok diapitan jemari, obrolan membumbung tentang tenggat mengejar setoran, kudu lunas sebelum liburan dan lebaran yang tak mungkin mereka pulang, tawar seperti tahun lalu yang gugur di bawah aturan.

hidung tak akan menghidu rempah opor ayam ibu, tak ada cecapan rasa nastar di sela bualan kerja dan tukar kabar saudara. empat lebaran (dan liburan) pernah sama, meski hanya nyaris, dan jauh meninggalkan tebak di benak.

kali itu jumat tertular gelisah matahari, keputusan serupa daun gugur digilas roda waktu.


bagaimana jakarta?

Ibu,

apa benar tuhan ada di jakarta, tempat

di mana penuh harap, gegas, dan gemilang segala?

—tanyanya pada satu waktu, terlampau lirih, lama.

turunlah di Senen, di antara sebungkus pop mie, gemuruh kereta, bising klakson,

jubel manusia, temu kawan lama, nasi uduk depan stasiun, dan secangkir kopi gelas aqua,

di sana Jakarta.

tak ada yang dapat kau raba, Nak.

dia menyangsikan, sebagaimana hari-hari yang telah lampau,

jakarta diseret pada penghakiman. lepas-tangkap. kembali.


sebelum bapak pergi

pernah,

aku diajak ke toko sepatu bola yang kini jadi analta jaya,

“pilihlah saja, asal jangan terlalu mahal.”

hanya ada anggukan, di mana segala ingin kadang tak pernah terkabulkan

toko itu tak lagi ada, meski letaknya aku ingat—taman pancasila ke selatan, lalu 100 meter ke timur dalam lajur jalan satu arah menuju barat untuk pulang. ingatan dan kenangan mengerjap, menjadi bayang berkejaran karena pada kenyataan, detak waktu selalu pelan menjelang kepergian, meromantisirnya dalam firasat tentang darah yang keluar dari hidung.

dan, sekali lagi, sebelum pagi matang benar, tetes air infus selalu tak lebih deras dibanding airmata.


Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Bukunya terbarunya Gelanggang Maaf (Penerbit Bukuinti, 2021). Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo dan mengelola Rusamenjana Book Store & Club bersama teman. Surat-menyurat: [email protected]

Cerpen

Cara Pulang Paling Mematikan

Cerpen Yesi M.H.

Ada dua ambulance di parkiran. Aku disuruh masuk ke salah satunya. Masalahnya, aku tidak tahu mana yang akan membawaku pulang. Kupencet ponsel untuk menginterogasi orang yang memberi ide gila ini. Sumpah serapah dan umpatanku meluber, bahkan sebelum dia mengucap ‘halo’. 

“Sinting … tidak adakah cara lain?”

“Mau cara seperti apa yang kamu minta?”

“Ya bukan ambulance jenazah juga.”

“Itu yang terbaik yang bisa kulakukan. Surat-surat sudah beres. Tapi ya kamu tidak bisa duduk di sebelah sopir, karena pasti akan ketahuan.”

“Lalu?”

“Ya di dalam peti.”

“Haaa?” 

“Itu cara paling mudah untuk lolos.”

Aku diam mengurung amarah agar logikaku bisa menyulut keberanian, mungkin itu satu-satunya pengalihan dan mengusir rasa takut.

“Oke, jadi yang mana? Ini ada dua ambulance,” tanyaku kini lebih sabar sambil mengusap dada yang sedari tadi naik turun.

“Yang plat AG belakangnya T.”

Mataku mengincar salah satu yang berwarna putih dengan garis cat kuning berikut tulisan partai dan gambar entah siapa.

“Jadi aku masuk saja ke peti? Ada jenazahnya, Mat?”

“Kalau nggak ada jenazah, mana bisa ada surat jalannya, Ko. Malah makin mencurigakan.”

“Jadi aku disuruh tidur bareng sama mayat?”

“Tenang, mayatnya masih baru, fresh, bukan penyakit kudisan, bukan korban kecelakaan yang berdarah-darah, cuma orang tua kurus yang sakit jantung.”

Keringatku deras membasahi kaos oblong yang sudah tiga hari ini melekat. Apakah ini harga yang harus kubayar agar sampai di depan rumah Dik Marli. Memang kuakui belum ada ide lain yang cemerlang nan gila untuk bisa melewati perbatasan dan menjadi orang bebas. 

“Ingat, Ko. Kita akan pulang. Apapun akan kita lakukan. Persetan dengan halangan, kita pasti lawan.”

“Kita buang saja mayatnya.”

“Nambahin perkara, bodoh! Sudahlah tenang, nanti setelah perbatasan kamu akan aman. Kamu boleh keluar. Sebelum sampai di situ, tahan dulu. Percayalah padaku.”

Mau tidak mau aku harus percaya pada Samat. Bahkan saat aku jadi buron seperti ini, dia rela menjadi beking untuk diriku ini. Dia juga pastinya paham, kulakukan semua ini karena terpaksa. Dunia sudah menjadi kejam, tidak ada cara lain untuk bertahan hidup kecuali dengan menjadi kejam pula. Dia mau menolongku tanpa bertanya apa pun. Tanpa syarat apa pun. Dia ini bodoh atau memang sahabatku paling setia?

Kudekap tas yang isinya sangat berharga ini. Beberapa gepok uang jadi alasan aku melalui fase menjadi manusia tidak aman. Aku mulai menyelinap ketika suasana lengang. Derap langkah kubuat sesantai mungkin agar meminimalkan kecurigaan. Lalu dengan mudah aku masuk pintu belakang ambulance. Sebuah peti tertutup kain hijau dengan tulisan arab membuatku bergidik. 

“Tuhan, ampuni aku, ampuni aku, jangan hidupkan dia,” bisikku melirik pada peti. Tidak lama ponsel bergetar di saku celana, hingga membuatku berjingkat karena selangkanganku terasa disengat listrik. Sebuah pesan dari Samat menyebutkan bahwa dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia menambahkan lagi, sudah menyiapkan kain putih untukku.

Pakai kafannya, kalau bisa yang bener-bener mirip pocong. Jangan asal pakai. Petinya sudah kuberi triplek di atas mayatnya. Jadi kamu bisa tidur di atas orang itu. 

Aku sudah tidak berdaya, mengumpat pun sudah tidak sanggup. Di saat seperti ini aku berusaha untuk tidak membuat dosa lagi dengan berkata kotor. Aku pasrah, mungkin dengan begitu Tuhan bisa memuluskan perjalananku. Agak ribet ternyata memakai kain kafan, maklum saja aku belum pernah memakai sendiri, apalagi praktek mengurus jenazah. 

“Maaf ya, Pak,” lirihku pada jenazah itu. Aku mulai membungkus diriku dengan kain putih, sebisa dan semirip mungkin jadi jenazah. Perlahan dengan pasti aku masuk sembari menutup peti itu. Astaga semoga aku tidak mati kehabisan napas. Aku hanya bergantung pada celah kecil diantara penutup petinya. Kupeluk tas ranselku yang sewaktu-waktu harus kusembunyikan di bawah, jaga-jaga kalau polisi memaksa untuk memeriksa peti. Lagipula aku takut polisi menemukan barang bukti ini. 

Sesuai perkiraan, aku mendengar pintu terbuka dan mesin dinyalakan. Samat sepertinya membuka pintu belakang dan mengetuk petinya.

“Kamu baik-baik saja?” bisiknya.

“Agak engap, tapi nggak apa-apa.” Jangan sampai orang tahu Samat berbicara dengan peti jenazah. 

“Kamu lupa pasang kain hijaunya.”

“BODOH, bagaimana aku bisa memasangnya! Aku sudah di dalam peti!” Kudengar Samat tertawa mendesis. Di saat seperti ini dia sempat tertawa. Tega.

Lalu kurasakan mobil itu mulai bergerak. Badanku bergoyang-goyang mengikuti belokan, kadang tidak terkendali. Sialan, Samat! Tidak bisakah dia menyetir dengan sopan sedikit, ada orang tua mati di dalam peti. Kepalaku terantuk dinding peti, sesekali menggeliat memperbaiki posisi, ah aku frustrasi! Beginikah rasanya mati dikurung dalam peti jenazah? Tahan Darko, sebentar lagi Dik Marli di depan mata. 

Ambulance sempat berhenti dan terdengar Samat berbicara dengan seseorang. Astaga, tega nian aparat masih berani dan tidak percaya pada isi ambulance jenazah. Aku gemetar saat suara pintu belakang dibuka, cahaya kecil tampak menerpa bagian kakiku. Mungkin si petugas tidak berani membuka peti terlalu lebar. Jika sedikit saja sudah memastikan ada tubuh berbalut kafan, aman sudah. Aku berusaha tidak memikirkan apa-apa. Sampai rasanya mataku pedas dan mengantuk. Aku hanya ingat pipiku ditepuk dengan kencang setelahnya.

“Kukira kamu mati.”

“Hah, sampai mana?” tanyaku gelagapan mengusap sisa lelehan air liur di pipi. 

Rest area. Sudah cukup aman. Kamu bisa duduk di depan.”

Aku meloncat bangun dengan cepat seperti merasa bebas dari segala hukuman. Ribuan kata maaf terlontar pada jenazah yang sudah kujadikan alas tidur. Semoga dimudahkan di dunia kuburnya, batinku merapal doa. 

Samat memberiku makan dan minum, menjamuku di warung kecil tepat di depan ambulance. Kami saling melepas rasa lega. Dia bercerita tentang orang di dalam peti itu, ternyata masih sanak saudaranya yang sebatang kara. Sebuah kebetulan yang sepertinya disusun dengan sangat rapi layaknya konspirasi. Aku sendiri bercerita tentang kejahatanku. Tentang apa isi tas yang selalu kudekap ini. Lalu kami melepas tawa mengingat kejadian-kejadian selama kami menjadi sahabat.

Aku tidak tahan cerita tentang Dik Marli, orang yang kugadang-gadang untuk jadi istriku. Kusampaikan kegalauanku seusai merampok, aku jadi berpikir, apa Dik Marli masih mau bersamaku, seorang kriminal. Curahan hati itu meluncur deras dari mulutku. Kini Samat tahu luar dalam dari seorang Darko. Bahkan aku juga percaya dia bisa membawa pesan untuk Dik Marli, seumpama, sekonyong-konyong, tiba-tiba aku akhirnya mati sebelum sempat bertemu, dia bisa menyampaikan pesanku. Aku paham risiko yang kujalani. Aku bisa saja ditembak mati jika melawan. 

Kening Samat berkerut ketika dia memeriksa ponselnya. Ada berita terbaru, polisi tahu identitas seorang perampok, dan sekarang sedang menyisir berbagai wilayah, termasuk tanah kelahiranku. Kami saling pandang.

“Berarti aku harus masuk peti lagi?”

“Baiknya begitu.”

Aku pasrah, kuteguk air kemasan yang disiapkan Samat sampai habis saking gugupnya. Aku mengecap berulang-ulang karena air itu rasanya aneh. Sedikit pahit dan getir. Atau hanya efek ketakutanku. Ah ya sudahlah, aku perlu mental baja untuk kembali tidur di atas orang mati. 

Ambulance kembali melaju lembut, Samat kini lebih beradab dalam menyetir. Tak lama aku merasa tenggorokanku seperti dicekik, dadaku sakit, aku tidak bisa bernapas. Penglihatan kabur kemudian gelap. Peti itu menggencetku sampai sakit, saking sakitnya sampai lama-kelamaan mati rasa. Dan aku mengantuk lagi.

Lalu aku terbangun, rasanya seperti baru saja melalui malam yang sangat panjang. Kurasakan sunyi dan masih gelap. Aneh, jika sudah sampai rumah, kenapa Samat tidak membukakan peti. Sebuah cahaya tepat di sebelahku segera membuatku tersadar. Aku memang sudah pulang. 

Sudah ketahuan siapa yang dicintai Samat. Salahku sendiri bercerita tentang Dik Marli. Aku sendiri bodoh, mengira dia baik-baik saja ketika mendengar aku akan menikah dengan Dik Marli. Sampai akhirnya api itu menyala-nyala membuat ledakan yang cukup besar, Sampai melemparkanku pada posisi sekarang. Kilauan cahaya dengan sayap itu mendekat dan mulai bertanya.

Man Rabbuka?” ****

Bogor, 12 Februari 2022


Yesi M.H. Penulis kelahiran Nganjuk yang sekarang berdomisili di Bogor. Buku solo terbit di tahun 2021 berjudul “Sekantong Impian” adalah kumpulan cerita pertama sejak terjun menulis di tahun 2019. Sapa penulis di Instagram @ecy_mh atau surel [email protected]

Cerpen

Dua Puluh Tujuh Kereta Uap

Cerpen Galuh Ayara.

Yang kunaiki hari ini adalah kereta uap yang ke-lima. Masih tersisa dua puluh dua. Artinya aku masih harus mempersiapkan diriku pergi ke dua puluh dua kota berbeda. Dan… tentu saja, tabunganku mulai menipis. Aku akan jatuh miskin setelah perjalanan selesai. Tapi aku tidak peduli, bahkan jika seluruh yang kumiliki di dunia ini akan habis terkuras.

Di balik jendela kaca yang gemetar, deretan pemandangan hijau dengan bukit-bukit kecil, dan puluhan domba di atas padang rumput, angin sepoi, anak-anak desa berlari membentangkan tangan, saling mengejar. Sejenak aku terbuai. Hatiku seperti kereta yang melaju. Aku merasa bergerak-gerak meninggalkan sesuatu; bayangan lelaki itu dan puluhan pil tidur, tubuh yang beku, mulut yang berbusa. Aku ingin bergerak dan lupa pada hal-hal menyakitkan itu. Aku ingin menjauh seperti kereta. Aku ingin lupa. Ingin lupa.

Saat itu—terutama setiap kali akhir pekan, sementara pasangan lain sibuk berkencan di luar, aku harus siap hanya menemaninya di kamar kos, mendengar keluh kesahnya tentang negara dan sistemnya, tentang kemanusiaan, tentang alam yang mulai rusak, tentang semesta yang berdesakan di dalam batok kepalanya. Kadang-kadang juga aku bingung sendiri memikirkan; kenapa Dafi lelah? Kenapa ia ingin mati muda? Bagaimana seseorang yang memikirkan banyak hal, tapi tidak mempunyai mimpi untuk dirinya sendiri?

“Apa alasan kita tetap hidup?” katanya. “Untuk tua dan menyebalkan? Untuk kesepian lalu menghabiskan sisa hidup dengan merutuk? Jika tidak bermanfaat, untuk apa hanya terlibat dalam permasalahan over populasi di bumi ini?”

Ia lantas menjentikkan tangannya seakan ia sedang menangkap sesuatu.

“Apa yang kamu tangkap?”

“Kekosongan.”

Aku mendengus seperti babi hutan.

“Aku serius. Kekosongan itu kan tetap isi.”

“Dan isi itu tetap kosong?”

“Apa yang paling kamu inginkan dalam hidupmu?”

“Kabur sama kamu.”

Ia tersenyum sembari mengacak rambutku.

“Aku serius.”

“Aku cinta kamu,” katanya, pelan sekali. Hampir seirama bahkan kalah dengan suara kipas angin butut yang berputar-putar di depan kami, “tapi aku tidak punya masa depan. Aku mulai lelah dengan semuanya.”

“Kenapa kamu lelah?”

“Karena aku tidak istirahat.”

“Apakah obat tidur tidak membantu?”

“Aku bukan butuh tidur, aku butuh istirahat. Istirahat itu berhenti dari hal-hal yang menguras energi. Entah itu pekerjaan atau pikiran.”

“Lambat laun kamu harus membuang semua yang ada di kepala kamu itu.”

“Baiklah, Nona.”

Matahari mulai oranye di luar jendela. Aku berusaha menyentuh cahayanya yang masuk ke ruangan itu. Cahaya yang seolah terbelah-belah oleh bayangan teralis yang menguarkan aroma besi tua berkarat. Dan cahaya itu memeluk wajah laki-laki di depanku. Lelaki muda yang terlihat lebih tua bahkan dari teralis itu yang berkarat-karat. Lebih lelah, lebih rapuh, dan seolah hampir sekarat.

“Emm, sudah sore,” ucapku sambil terus memandangi cahaya sore yang jatuh di wajahnya. Cahaya yang terbelah-belah, seakan ingin membelah dirinya menjadi ribuan kunang-kunang yang beterbangan.

“Kamu pernah dengar, kunang-kunang dititipi cahaya kecil di tubuhnya, bukan untuk menerangi semesta.”

Ia diam. Tentu ia paham ke mana arah ucapanku. Tapi ia diam seolah tidak mendengar apa-apa yang kukatakan.

“Pulanglah. Aku antar, ya?”

“Nggak usah. Kamu kan harus ngerjain banyak hal sore ini.”

“Iya. Mengerjakan hal yang tidak berguna.”

Ia terkekeh.

“Jangan begitu. Kamu harus berpikir positif.”

“Hmm, apa cinta itu sebuah pekerjaan, Olivia?”

“Tapi kamu pengangguran!”

“Hey, aku menulis.”

“Ya. Kamu penulis dan gak punya uang.”

Sontak aku terbahak-bahak. Aku tertawa puas sampai mengeluarkan air mata.

“Tega sekali kamu.”

Kadang bingung juga, kenapa aku menginginkan laki-laki ini? Laki-laki aneh yang memimpikan mati di usia dua puluh tujuh. Lelaki yang gemar membuka tenda di hutan sendirian dengan sebungkus mie instan yang biasa ia seduh dalam gelas besar. Seorang pemikir keras yang di balik sikap cueknya, di saat-saat tertentu bisa sangat manja melebihi keponakanku yang masih balita.

“Kalau nanti kita punya rumah di hutan, aku akan buatkan kamu terrarium,” katanya suatu hari, setelah aku bercerita tentang keinginanku; naik dua puluh tujuh kereta uap.

“Jangan mati di usia dua tujuh. Karena di usia itu aku ingin kita berkeliling naik kereta uap di dua tujuh kota.”

“Aku ingin membangun rumah kecil di hutan kalau aku masih hidup di usia itu dan aku menjadi orang yang gagal untuk banyak orang. Aku ingin hidup sederhana dengan alam, bersama kamu; satu-satunya orang yang nggak pernah menganggapku gagal.”

“Jangan hutan, please. Aku lebih baik hidup di permukiman kumuh asal padat dengan manusia. Kamu tahu, aku selalu menikmati kesepian dan keterasingan yang kudus di tempat-tempat riuh dan bising. Bau apek, bau selokan, anak-anak kecil yang berlari di lampu merah, suara ukulele, sirine polisi, mobil-mobil yang membawa mayat. Haha, bayangkan, kamu bisa melihat kehidupan dan kematian yang berdampingan. Tangis dan tawa, luka dan kesembuhan. Yang terus bergerak, yang terus diam. Kita itu begitu padat ternyata, begitu saling terhubung, tapi juga jauh. Kita semua kesepian.”

“Aku suka api unggun.”

“Aku suka kembang api.”

“Terrarium.”

“Aquarium.”

“Menurutmu, kita bisa bersatu?”

“Tentu saja. Aku cinta kamu dan kamu juga cinta aku.”

“Apa cinta itu keinginan? Seperti aku menginginkanmu dan kamu menginginkanku?”

“Mungkin lebih lebih dari itu. Cinta itu penerimaan. Seperti aku menerima kamu.”

“Cinta itu menjaga.”

“Kamu begitu rumit. Mencintaimu seperti masuk ke labirin luas, Gaddafi.”

“Kamu sudah menerimaku bukan?”

“Entahlah. Hanya saja kalau kamu nggak ada, hidupku seperti kosong.”

“Kosong yang kataku berisi?”

“Kamu lebih seperti kepingan puzzle. Kalau hilang, hidupku gak lengkap.”

Aku mengambil piring yang berisi kebab yang mulai dingin. Tadi aku bawakan makanan ini untuk memperlihatkan kepada Dafi soal keseriusanku mempelajari makanan timur tengah.

“Aku sudah belajar membuat kebab. Meski dengan resep paling sederhana. Aku mengganti isian dagingnya dengan irisan sosis. Paling tidak aku sudah belajar membuat satu makanan timur tengah, kan? Aku siap menjadi menantu ayahmu yang dari Arab itu.”

“Belajar dari mana?”

“Dari Tatjana. Tiga hari yang lalu dia baru datang.”

“Tatjana sahabatmu yang cantik itu?”

“Cantik?”

“Hmm, aku tidak suka yang cantik-cantik.”

“Jadi aku tidak cantik?”

“Boleh aku coba kebab buatanmu?”

Aku meliriknya cukup lama, tentu dengan perasaan seperti ingin memakannya bulat-bulat.

“Sudahlah. Kamu akan lebih suka mie instan.”

Aku menaruh kembali kebab itu di atas meja, lalu berpikir kembali tentang tiga hal; keinginan, penerimaan, menjaga. Akan tetapi, cinta lebih rumit dari yang kukira, dan cara kerja perasaan lebih acak dari segala sesuatu yang bahkan paling acak di bumi ini. Tetapi aku yakin; aku mencintai Dafi.

***

“Hey, Nona.”

Aku terbangun seketika. Di hadapanku seorang petugas kereta tersenyum. Ah, aku bahkan sudah tertidur selama itu.

“Kereta sudah berhenti, Nona.”

“Oh … aku minta maaf.”

Di tanganku, sebuah buku jurnal masih terbuka. Sudah kuhitung satu per satu. Ini lembar ke-dua puluh tujuh. Hanya sebuah tulisan “capek”. Di buku ini Dafi seolah sudah mencatat semua. Termasuk pertama kali kami berciuman, pertama kali kami bercinta lalu ia berjanji untuk tidak meninggalkanku. Pertama kali dia membelikanku roti dengan uang honor menulisnya. Satu hal yang belum ia catat; berapa ratus butir pil tidur yang ada di genggaman tangannya malam itu.

Tiba-tiba air mataku deras keluar. Seperti air terjun di tengah hutan. Meluncur begitu saja.

Petugas itu menghela napas.

“Jangan bersedih, Nona. Kita sudah sampai.”

“Aku belum sampai.”

“Kamu hendak ke mana?”

“Ke makam pacarku.” ****

2022


Galuh Ayara. Suka menulis puisi dan cerpen. Sudah menerbitkan buku yang berjudul Nyanyian Origami. Tulisannya juga ada di beberapa buku antologi dan di beberapa media.