Katalog

Swara Sukma

Buku Puisi Swara Sukma adalah suara hati yang mengalirkan keresahan, menali abjad menjadi seratan aksara penuh arti dalam baris puisi. Swara Sukma mengurai menjadi tiga episode perenungan mencari nurani yang bersembunyi. Semesta Berbisik menelisik betapa keagungan ciptaan khalik alam, menelusup kalbu dibiarkan berlalu. Semesta berbisik di relung nurani, menggelitik melalui gemericik air, hangatnya mentari, tetes-tetes air hujan, lukisan alam, bintang dan rembulan.

Sedangkan Senandung Kinasih adalah nyanyian jiwa penuh dengan kerinduan, memendar kasih sayang seperti hujan membasahi setiap insan. Kadang kala ada pahit getir, suka duka, rindu dan dendam menyatu mewarna dalam kehidupan. Pada akhirnya Suluh Merindu mencari anak hilang, yang selalu di tunggu di taman. Rindu menderu terabaikan dan terlupakan. Yang di nanti sudah bersemayam di hati, memeluk mendekap dengan penuh kehangatan. Swara Sukma tidak akan berhenti dan tak akan mati.

Penulis: Wiwoho

Cetakan: Pertama, Tahun 2022

Penerbit Nomina Ide Karya

115 halaman; 12 x 19 cm

ISBN: 978-623-99817-7-8

Harga: Pp 50.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

TERJEBAK ROMANSA TERLARANG

Novel Terjebak Romansa Terlarang ini merupakan novel kedua karya Surya Santosa, setelah sebelumnya menerbitkan novel perdananya yang berjudul Aku Kamu dan Cinta (2021).

Novel kedua ini masih mengusung kehidupan cinta kaum muda dan permasalahannya. Kisah dalam novel ini sangat dekat dengan kehidupan kita, artinya apa yang terjadi dalam novel ini bisa saja terjadi dalam kenyataan.

Penulis: Surya Santosa

Cetakan: 1, 2022

Penerbit Nomina Ide Karya

101 hlm, 12 X 18 cm

ISBN: 978-623-99817-8-5

Harga: Rp 65.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

KAMUS KECIL UNTUK PENDOSA

Buku Kamus Kecil untuk Pendosa adalah kumpulan puisi yang dihasilkan atas pengertian yang muncul ketika penulis sedang berlatih kesadaran atas keadaan dirinya sebagai makhluk lemah. Puisi-puisi ini dapat dipakai sebagai pengingat laku manusia, atau sekadar bahan instrospeksi. Sementara, sebagai puisi, semoga puisi-puisi ini dapat memberi tambahan referensi atas macam tema dan bentuk puisi dalam ranah perpuisian sastra Indonesia.

Penulis: Yuditeha

Cetakan: 1

Tahun: 2022

Penerbit Nomina Ide Karya

117 hlm, 12 x 19 cm

ISBN: 978-623-99817-4-7

Harga: Rp 55.000,-

Info Pemesanan: 085647226136

Katalog

Buku KITA YANG TERBENGKALAI

Kita yang Terbengkalai. Bagi penulisnya, puisi adalah doa pun sebagai jalan lain dari perjuangan ketika raga mulai letih dihempas badai zaman yang semakin menggila. Puisi menjadi ratapan keterbatasan dan ketidakmampuan sekaligus menjadi obat bagi luka-luka.

Penulis: Nino Eni

Cetakan: Pertama, Tahun 2022

Diterbitkan Oleh

Penerbit Nomina Ide Karya

133 halaman; 14 x 20 cm

ISBN: 978-623-99817-5-4

Info Pemesanan: 085647226136

Cerpen

Lubang Besar di Kepala Poni

Cerpen Dia Gaara Andromeda

Sudah lama Lendra tak melihat istrinya—Lian—berjalan-jalan keluar rumah. Yang dikerjakan sehari-hari hanya merenung, makan biskuit, kemudian membaca buku di sudut ruangan. Lama juga Lendra tak melihat Lian sibuk mengurusi Poni, kucing persia kesayangan mereka. Lian seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga, namun tidak punya gairah untuk mencarinya.

“Menurutmu … hari apa Tuhan pasti tertidur lelap?” Lian bertanya pada Lendra, wajahnya serius. Dahi Lendra berkerut untuk kesekian kali, gamang. Lendra melirik wajah Lian beberapa detik, mencoba menebak apa yang dipikirkan Lian. Pertanyaan yang sama, sejak seminggu lalu, yang saban malam selalu terulang dari bibir Lian membuatnya semakin was-was. Satu alis lelaki itu bertaut, ia pijit-pijit kemudian. Tak tahu harus menjawab apa.

“Mungkin senin,” jawab Lendra asal. Ia kembali pada aktivitasnya, membaca komik, sementara istrinya menganguk-anguk, mengangkat buku, membaca. Sesekali wajah Lendra mencuri pandang wajah istrinya yang seperti tegang.

“Bukankah,” istrinya menyela ucapan Lendra, “Senin itu hari sibuk. Mana mungkin Tuhan tidur di hari sibuk,” Lian nampak merenung, ia berdiri, mondar-mandir, mendekati meja makan, tempat suaminya menyeruput kopi.

“Kau sepertinya terlalu lelah, kau perlu tidur, Sayang. Tidak usah baca buku lagi,” Lendra merangkul istrinya, mencium lehernya dengan lembut.

“Tapi,”

***

Lian memerhatikan bagian belakang kepala suaminya ketika tidur. Bayinya—Audrey—sudah ia susui, dan ikut tertidur pulas. Pandangannya semakin khidmat, ia usap rambut Lendra beberapa kali, mencari-cari sesuatu yang seperti kasat, sesaat ia melenguh, karena tidak menemukan apa-apa. Seharusnya Lian percaya, tidak akan ada apa-apa—selain dirinya—yang bersarang di otak suaminya. Ia tahu cinta Lendra hanya untuk Lian. Tidak ada yang lain.

***

Esoknya, Lian bangun pagi sekali. Sengaja memasak nasi goreng untuk sarapan suaminya yang akan berangkat kerja. Bayi Audrey masih terlelap. Perasaan Lian begitu gempita, si bayi yang saban malam tidak rewel, membuatnya bisa bangun lebih pagi. Ketika Lendra selesai mandi, Lian menengok ke arah suaminya sejenak, memerhatikannya dengan saksama, Lendra hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawah, otot-otot tangan Lendra mencuat di sana-sini, tampak kekar dan gagah, pun bagian perutnya yang berlekuk-lekuk serupa binaragawan membuat Lian sejenak teringat perkataan sahabat-sahabatnya dulu.

“Suamimu itu putih, ganteng, badannya berotot, siapa cewek yang tidak suka melihat cowok kayak gitu, Li!” Sandra, kawan SMA-nya nyeletuk. Sandra berbicara sambil mengeryit genit, mungkin membayangkan badan Lendra yang seksi.

“Iya Lian, rawan punya suami kayak suamimu tahu, bikin jantung perempuan kreces-kreces gimana gitu. Kamu harus benar-benar jaga deh pokoknya, jangankan cewek, cowok aja kalau lihat suamimu jantungnya bisa kebat-kebit, huuu!” Alona–sahabat Lian yang lain, yang kini menyahut, diiringi tawa tipis di ujung pipi kirinya yang lesung.

Lian hanya meringis, tidak menjawab apapun perkataan kedua sahabatnya, ia hanya memainkan makanan di depannya tanpa punya keinginan untuk menghabiskan, pertemuan dengan sahabat-sahabatnya hari itu, membuat selera makan Lian rontok. Pun hatinya dikecam perasaan gelisah, takut apa yang dikhawatirkan kedua sahabatnya menjadi kenyataan. Seharusnya Lian tidak memikirkan hal ini sampai berlarut-larut, tapi nyatanya omongan teman-temannya itu sudah merasuki pikirannya sedemikian pelik. Lian cemburu pada sesuatu yang belum tahu apa. Itu sungguh di luar nalar.

“Kok malah bengong?” Lendra kini sudah ada di belakang punggung Lian, memberikan kecup kecil di bibirnya yang ranum,  pipi Lian merona. Lendra memang suami yang romantis. Senyum tipisnya terpeta. “Nah gitu dong, kan cantik kalau senyum gitu!”.

“Kamu,” Lian tersipu. Lantas tangannya dengan sigap menyendokkan nasi goreng ke atas piring Lendra, menaruh mentimun, bawang goreng, serta kerupuk di atasnya. Lian kemudian memberikan piring itu ke Lendra.

Setelah Lendra berangkat kerja. Lian kembali memikirkan hari itu: hari di mana Tuhan pasti tertidur lelap. Tidak tahu mengapa, otaknya bisa mengelana sejauh itu. Namun ia penasaran tentang lubang bersuara itu. Pun setelah seruan-seruan ejek tentang “Bunuh aku kalau kau bisa!” yang menghantui kehidupannya setiap kali ia melihat lubang besar di kepala Poni, mendulang beragam stigma-stigma negatif dalam kesehariannya. Lontaran-lontaran Lendra yang tak acuh jika Lian menanyakan hal yang sama. Hatinya benar-benar dilanda gemuruh. Masygul, karena Lendra kerap tak sependapat. Jam delapan pagi, Lian melirik jendela. Ia menatap Poni yang sedang membersihkan diri dengan menjilati seluruh tubuh. Poni yang dulu berbulu lebat dan cantik, teman segala duka dan suka sejak ia menikah dengan suaminya beberapa bulan lalu, namun kini fisik Poni telah berubah. Penyakit scabies menyerang beberapa bagian tubuh kucing itu dengan ganas sejak satu minggu yang lalu. Melihat Lian tengah memerhatikannya, kucing itu balas melirik ke jendela, lekas Poni segera berhenti menjilati seluruh tubuhnya dan mendekat ke arah pintu. Mengeong keras–sembari menatap mata Lian penuh manja. Lian salah tingkah, melengos, menutup gorden cepat-cepat, berbalik arah, kemudian duduk di kursi tamu. Ingatan akan ucapan suaminya kembali mengudara.

“Kenapa sekarang kau membenci Poni, padahal dulu kau sangat menyayanginya. Apa kau jijik dengan scabies yang dideritanya, kau sudah putus asa lantas kau ingin membunuhnya!” Lendra bertutur dengan rentetan kalimat menyudutkan. Lian melotot ke arah Lendra, tatapannya sinis, bibirnya belum bersua apa pun, bergetar. Seperti ada taring yang mencabik-cabik tubuhnya, posisi Poni di matanya sama seperti Lendra, tapi kejadian beberapa hari silam membuat hati Lian begitu patah, ada sebak yang meluber seperti api menyembur-nyembur.

“Aku jijik sama Poni bukan karena scabiesnya, tapi karena hal lain!” Lian berteriak lantang, membela diri.

“Lalu apa? Apa yang membuatmu membenci Poni?” Lendra bertanya, menyudutkan. Lian masih terpaku di kasur, tidak menyahut, tak lama Lian masuk ke dalam kamar, mengambil guling dan memelintir-melintir ujung sarungnya. Sesekali Lian menahan nafas, mendengus-dengus, kemudian melepaskan, emosi telah merajam kepalanya bak air panas yang meletup-letup. Aku benci Poni, aku tidak suka dibohongi, gusarnya, sambil terisak.

***

Beberapa menit Lian berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Lubang yang menganga di kepala Poni membuatnya teringat tentang kejadian menjijikkan itu. Poni seperti halnya Lendra adalah miliknya–utuh, namun ketika Poni tidak lagi setia kepada Lian, dan memilih wanita lain sebagai mahkota hati. Itu membuat Lian jijik. Satu minggu yang lalu, Poni seringkali kelayapan, pergi dari rumah diam-diam,  dan pulang ke rumah saat mau makan atau mandi saja, esoknya Lian mengikuti Poni ke mana kucing itu berkeliaran. Poni menyambangi sebuah rumah tak jauh dari tempatnya tinggal. Seorang wanita muda mengenakan scarf hijau dan blus dengan warna senada keluar dari rumah bergaya klasik eropa itu dan memberikan Poni makanan kaleng, jari-jari lentiknya mengelus-elus bulu-bulu Poni dengan penuh kasih sayang. Sore hari, Lian melihat kepala Poni memiliki lubang sebesar lingkaran bola tenis, sosok wanita muda itu tergambar di kepala kucing itu. Hal inilah yang membuat Lian merasa tersisih dan jijik kepada Poni. Lian tidak suka diduakan.

“Hari ini hari senin, aku akan melakukannya!” Lian menyambar kunci sepeda motor, menggendong Audrey, dan memasukkan Poni ke dalam kandang. Lian menstarer motornya– terburu-buru.

***

Setengah jam kemudian. Lian sudah sampai ke gym DeQuote, tempat Lendra bekerja. Dari kejauhan Lian melihat sosok yang tak asing. Suaminya tengah berbincang akrab dengan seorang wanita muda berpakaian ketat dekat peralatan kettlebells. Wanita muda yang sangat ia kenal. Sambil menenteng Poni di tangan kiri dan menggendong bayi Audrey, mata Lian melotot, murka, angkaranya ruah, otaknya memutar memori tentang ucapan Lendra beberapa waktu silam, mata Lian mengerucut, kian liar menelusur gerak-gerik keduanya dari kejauhan, Lian berjalan pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Lendra masih membelakanginya.

Lian semakin maju, dan maju, matanya terus menerus memerhatikan kepala Lendra yang kini tampak berlubang besar, ada sosok wanita lain tergambar di sana. Lian jijik. Lubang itu sama seperti yang dipunyai Poni. Kecamuk prasangka mengaliri darah di kepalanya, perasaan marah mendentum-dentum tanpa henti.

Barrbell yang ada di sebelahnya ia angkat. Keduanya menoleh bersamaan, dalam hitungan detik Lian mengayunkan barrbell itu ke kepala Lendra disusul si wanita.

“Aku sudah mengakhirinya, aku sudah mengakhirnya. Aku yakin Tuhan tidak akan melihat perbuatanku!” oceh Lian berulang-ulang.

Lendra dan wanita itu terkapar. Tawa Lian pecah berderai-derai. Darah tumpah bak air bah, hal itu membuat Lian bertambah jijik.***


Dia Gaara Andromeda. Pencinta kuliner dan penyuka warna hijau. Hobinya membaca buku, menulis, dan memasak. Ibu dua anak. Kumcernya Percakapan Sepasang Takdir (Penerbit Mediakita, 2014). Bisa dihubungi di IG: @diagaara atau FB: Dia Gaara Andromeda atau email: [email protected].

Cerpen

Datanglah ke Talang Siring, Begitu Katanya Selalu

Cerpen Mahrus Prihany

Setiap bertemu dengan Sabri, ia selalu berkata padaku satu kalimat singkat yang sama. Mulanya aku tidak mengindahkannya. Namun pada setiap perjumpaan dia akan mengatakannya, hingga aku menjadi yakin jika dia memang sengaja dan pastilah memiliki maksud tertentu.

“Datanglah ke Talang Siring,” kata Sabri. Aku mendengar ucapan itu pertama kali tujuh tahun lalu. Aku tak memedulikan kala itu. Tak ada juga pikiran macam-macam ketika mendengarnya. Sabri, teman sekampungku itu mengatakannya dengan serius. Bahkan pernah tiga kali diucapkan pada kesempatan yang sama, saat kami bertemu di warung bakso yang terletak di pasar.

Pada lebaran berikutnya, saat aku pulang kampung, bertemu Sabri lagi di warung bakso tersebut. Warung Mbok Lamin itu memang tempat biasa kami mangkal saat aku mudik. Di warung itu, kami tak hanya makan bakso, tetapi juga minum kopi sambil berbincang dengan beberapa anak muda yang menjadikan warung itu sebagai base camp. Di warung itu, aku bisa bertemu dengan banyak teman yang rumahnya jauh-jauh, seperti Sabri. Meski begitu aku jarang mudik karena harus menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi di pulau seberang.

Sabri mengucapkan kalimat itu lagi yang kali ini terdengar lebih serius. Roman mukanya menunjukkan tidak sedang bergurau. Aku tak menjawab, hanya tersenyum kecil, setelah itu aku bercanda dengan teman-teman yang lain. Sabri tak beranjak dari tempatnya, tapi tidak lantas bergabung dengan kami yang asyik bercanda. Beberapa waktu kemudian, Sabri pamit, setelah mengucapkan kalimat itu lagi. Aku hanya mengangguk-angguk. 

Dua lebaran berikutnya, saat aku tinggal menunggu wisuda, aku bertemu Sabri lagi. Dia mengucap kalimat yang sama. Ini berarti tahun keempat Sabri sengaja mencari dan menemuiku di warung Mbok Lamin. Perempuan itu menceritakan padaku jika Sabri sering bertanya tentangku. Jika Sabri mendengar aku mudik, ia akan menungguku di warung itu.

“Aku sungguh-sungguh, Fer. Datanglah ke Talang Siring.” Sabri kali ini mengajakku bicara serius dengan meminta waktu khusus. Aku tinggalkan beberapa teman yang sedang asyik mengobrol denganku.

“Kenapa kau menyuruhku datang ke sana, Sab?”

“Ferdi, apa kau benar-benar telah lupa?” Sabri balik bertanya dengan nada terperanjat.

“Ya. Aku memang tak tahu apa maksudmu.” Sabri melenguh panjang mendengar jawabanku.

“Seseorang menunggumu di Talang Siring. Ia benar-benar menunggumu”

“Siapa, Sab?” Kulihat Sabri terdiam. Aku kemudian mengingat-ingat, memang ada satu nama yang samar membayang di pikiranku. Jika tak salah, ia berasal dari Talang Siring. Aku tak mau menebak-nebak, memastikan dahulu jawaban dari bibir Sabri.

“Sita. Nama lengkapnya Sita Masita. Apa kau lupa nama itu? Jika kau mau, aku bisa mengantarmu ke sana,” terang Sabri.

“Aku tak punya waktu lagi, Sab. Besok aku akan kembali ke seberang, setelah itu aku akan mulai bekerja di perusahaan di sana juga.”

“Kita bisa ke sana sekarang. Aku bisa mengantarmu. Sebentar saja.” Nada Sabri terlihat lebih seperti memohon, bukan paksaan.

“Aku tak bisa, Sab. Banyak yang harus kupersiapkan sekarang ini.”

“Kalau begitu, lebaran tahun depan. Aku akan sampaikan pada Sita Masita.”  Aku terdiam, tapi pikiranku melayang-layang.

“Aku tak janji, Sab.” Aku mulai disesapi rasa bersalah tapi coba kusembunyikan.

“Boleh aku minta nomor ponselmu? Biar Sita bisa menghubungimu.”

“Ah maaf, aku tak sedang membawa ponsel, sedang kuisi daya baterainya di rumah.” Aku katakan pula jika aku tak hafal nomor ponselku. Sabri tampak tak percaya, tapi ia seperti berpikir. Aku sendiri sengaja mencari cara untuk menghindar darinya. Aku bilang padanya, aku mau pergi untuk mencari oleh-oleh yang akan kubawa ke kota esok. Sungguh pikiranku memang mulai terusik dengan nama Sita dan Talang Siring.

“Tunggu bentar,” kata Sabri, lantas berlalu meminta lembaran kertas dan meminjam pulpen pada Mbok Lamin. Ia menulis sesuatu di kertas itu. “Ini nomor Sita. Segeralah hubungi dia,” Aku menerima lembaran itu lalu berpamitan padanya.

***

Samar, pikiranku mulai mengingat Talang Siring dan Sita Masita. Sita berusia dua tahun di bawahku. adik kelasku dua tingkat namun kami beda sekolah. Saat SMA, aku sekolah di kota kabupaten yang jaraknya dua jam perjalanan dari kampungku. Aku biasanya pulang kampung satu atau dua sekali, begitu juga Sita. Kampung kami terletak di pedalaman dan memang belum ada SMA.  

Aku duduk di kelas tiga pada semester kedua dan Sita duduk di kelas satu saat aku iseng memacari perempuan itu. Bagiku memacari Sita hanyalah sekadar selingan atau hiburan. Aku sudah punya pacar di kampungku. Tapi sifat play boy-ku kadang kumat. Sita anak yang ramah dan baik Ia tinggal indekos tak jauh dari tempatku indekos. Jadi cocoklah jika Sita menjadi teman dekat yang bisa kuajak ngobrol atau jalan. Masa SMA memang paling indah untuk dinikmati.

Aku tak tahu di mana kampung Sita, tapi dia dulu sempat cerita bahwa ia berasal dari Talang Siring. Aku sendiri belum pernah datang ke kampung itu. Ketika aku pulang kampung, sebenarnya melewati tugu kecil Talang Siring di pinggir jalan. Namun kampungnya masih masuk ke dalam lagi beberapa kilometer. Kampungku sendiri masih jauh dari tugu kampung itu.

Pada saat kelulusan sekolah, Sita sempat menemuiku di indekos, dan ingin main ke kampungku, tentu saja aku tak mengizinkannya. Aku tak ingin Linda, pacarku di kampungku tahu keberadaan Sita. Bisa berbahaya. Setelah itu aku melanjutkan di perguruan tinggi pulau seberang. Aku sengaja tak mengabari Sita Masita. Aku mengganti nomor ponselku untuk menghindarinya. Aku benar-benar melupakannya, sibuk dan asyik dengan petualanganku sendiri.

***

“Kenapa kau belum juga menghubungi Sita, Fer? Sudah tiga tahun sejak aku memberimu nomornya. Sita selalu bertanya tentangmu.”

“Kertas yang kau berikan padaku terselip entah di mana sebelum aku sempat memindahkan ke ponselku.” Aku jawab sebisa mungkin pertanyaan lelaki itu. Ini adalah lebaran tahun ketujuh Sabri menemuiku.

Aku telah bekerja di perusahaan ibu kota. Belum lama aku bekerja, pandemi menghantam bumi. Dua kali lebaran aku tak bisa mudik karena ada larangan dari pemerintah. Lantas aku bekerja dari rumah. Bersyukur aku masih bisa bekerja sementara banyak rekan lain terpaksa dirumahkan.

“Bagaimana jika sekarang kau datang ke Talang Siring? Aku siap menemanimu.” Entahlah kalimat sama yang sering Sabri katakan ini menjadi sesuatu yang sangat mengusikku. Aku sebenarnya sangat tak ingin mendengar kalimat itu. Bayangan wajah Sita  menghantuiku. Aku merasa bersalah, tapi aku benar-benar ingin melupakannya.

Aku tak mau bertanya pada Sabri tentang Sita dan Talang Siring. Nama kampung itu belakangan mulai terngiang-ngiang di telingaku. Meski aku bisa menduga-duga, namun kisahku dengan Sita sudah cukup lama. Itu juga serupa peristiwa yang sekadar lewat saja. Selain itu hubunganku dengan Linda akhirnya putus, dan aku semakin asyik dengan diriku sendiri.

“Datanglah ke Talang Siring. Setidaknya sekali untuk terakhir. Temui Sita. Aku siap menemanimu.” Sabri memberi penekanan pada kalimatnya. Kalimat Sabri cukup menusuk jantungku. Tapi aku merasa tak ada gunanya lagi ke sana.

“Maaf Sab. Aku tak bisa. Aku telah memiliki kekasih di kota. Aku akan menikah dengannya tahun depan,” jawabku tegas. Aku memang tak ingin bertanya mengapa Sabri segigih itu memintaku datang ke Talang Siring. Aku ingin benar-benar mengakhiri semuanya dengan mengatakan begitu pada Sabri karena bagiku kisah dengan Sita telah berakhir lama.

***

“Hampir setiap hari Minggu, dua pekan sekali aku datang ke Talang Siring,” Sabri akhirnya bercerita tanpa kuminta. Sebelumnya ia memohon agar aku tak pergi dan mau mendengarnya.

Sabri memiliki kekasih di Talang Siring, namanya Ratih, yang rumahnya persis di sebelah rumah Sita Masita. Karenanya Sabri akhirnya kenal dengan Sita. Mengetahui Sabri berasal dari kampung yang sama denganku, Sita akhirnya banyak bertanya tentangku. Sabri tentu saja tak tahu banyak karena memang aku jarang berada di kampung.

Hubungan Sabri dengan Ratih berjalan baik dan awet. Sabri memang bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengan kekasihnya itu. Sita pun berani bercerita pada Sabri dan Ratih bahwa ia dulu pacarku.

“Sampaikan pada Kak Ferdi untuk datang ke Talang Siring. Begitu selalu kata Sita padaku,” tutur Sabri.

Sabri akhirnya menikah dengan Ratih. Sementara Sita masih tenggelam dengan perasaannya padaku, masih selalu mengucapkan hal sama seperti yang Sabri ucapkan padaku. Sabri pun merasa berempati dan memberi saran padanya agar tak menantiku datang ke Talang Siring. Itu karena Sabri merasa bahwa aku tak mengindahkan pesan Sita yang ia sampaikan padaku.

“Aku akan menyampaikan berita ini pada Sita bahwa kau akan menikah tahun depan. Semoga setelah ini ia tak lagi meminta dan menantimu lagi.” Sabri berkata dengan tarikan napas panjang. Seperti ia juga menahan beban batin yang dalam. Sorot matanya tampak kosong, seolah menyembunyikan kesedihan. Ia terdiam lama, bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi yang terdengar kemudian hanya desahan panjang lagi.  

“Terima kasih, Sab. Ya, semoga Sita juga segera menemukan jodoh dan menikah dengan pria yang benar-benar mencintainya. Pria yang baik dan bertanggung jawab,” jawabku lirih.***  


Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), ketua komite sastra DKTS, dan Redpel portal sastra litera.co.id. Karyanya tersiar di sejumlah media massa. Kumpulan cerpen tunggalnya yang telah terbit adalah Raliatri (2016), Seseorang yang Menunggu di Simpang Bunglai (2019), Bidadari dalam Secangkir Kopi (2021), dan Di Way Kulur, Tak Ada Lagi yang Kucari (2022).