Cerpen

Multatuli

Cerpen Robbyan Abel Ramdhon

Jakues menatap mikrofon yang berdiri di hadapannya. Kepala mikrofon yang bulat dan perak, mengingatkan Jakues pada bola besi yang memborgol kaki seorang budak bernama Addictus dalam sebuah kisah dari Romawi Kuno.

Nada-nada hip-hop berputar secara otomatis. Bunyi-bunyi yang mengusungnya, terekam secara digital menjadi sebuah komposisi musik. Kesan perlawanan mengambang seperti udara kental. Badan Jakues berayun-ayun ke depan dan ke belakang, seolah tulang punggungnya terbuat dari batang gandum.

“Sejarah proletar / ditulis dengan darah dan anggur…”

Penonton pecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan tarian pogo, dan kelompok kedua melakukan breakdance. Di antara mereka, ada lagi kelompok ketiga yang berperan sekadar menjadi tim hore dengan menyalakan cerawat dan mengaktifkan bom asap yang memagari tempat pertunjukan berlangsung. Asap-asap membubung, ditepis para pejalan kaki yang melintas di atas jembatan.

Suara mesin kendaraan dan klakson menjadi instrumen musik insidental, yang berfungsi sama seperti hentakan kaki para penonton.

“Modernitas mengeras di kepalaku / bagai batu vulkanik yang tersesat / di sebuah piknik masa depan / sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

***

Beberapa penonton duduk di tepi jalan sempit bawah jembatan itu, yang di dekatnya, sungai mengalir seperti garis-garis partitur. Pasukan mural memberikan olesan warna terakhir pada gambar di dinding yang tersambung dengan badan jembatan; tergambar sosok makhluk berkepala babi mengenakan seragam polisi. Bagian matanya ditutupi semacam kain, persis seperti yang dikenakan oleh patung Themis dari mitologi Yunani.

“Wartawan dari majalah kiri mau minta wawancara,” kata Helena, seraya membuka tutup botol minuman. Lantas menuangkan isinya ke mulut Jakues, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Kamu mengundang mereka?” tanya Jakues, selesai menenggak.

Helena mengangguk. Anggukannya kecil, nyaris tak terdeteksi sebagai jawaban yang berarti ‘ya’.

Wartawan itu datang sendiri. Dia sedang mengamati barang-barang di lapak merchandise milik Jakues. Dari caranya memerhatian setiap barang yang dilalui matanya, wartawan dengan lingkaran mata cekung itu sepertinya sedang mencari pertanyaan tambahan untuk Jakues di luar dari yang sudah dibawanya.

Saat dipanggil, wartawan itu berjalan di belakang Helena, dengan gelagat antusias yang ganjil.

“Jakues, perkenalkan, dia wartawan paling diandalkan di majalah kiri.” Ferdinan membungkuk, memberi hormat, seraya diperkenalkan oleh Helena, sebelum mengambil posisi duduk bersila di depan Jakues yang bersandar ke dinding. “Dan Ferdinan, mungkin ini pertama kalinya kamu melihat Jakues secara langsung. Tapi seharusnya, bagi wartawan dari majalah kiri sepertimu, nama Jakues tidaklah terlalu asing.”

Jakues mengamati gerakan bola mata Ferdinan yang sekonyong-konyong liar. Pertama-tama, wartawan itu seperti tertarik pada topi beanie kuning yang dikenakan Jakues. Ada tulisan “penjara” menempel pada bagian depan topi itu. Saat membacanya secara sekilas, Ferdinan menyeringai. Bola matanya kemudian mengarah ke kaus kutang yang membungkus badan Jakues. Di dada kiri, tercetak tulisan: “ada konser musik di dalam sini”.

Ferdinan menghentikan pengamatan. Dia buru-buru mengingat tujuannya datang saat menyadari kemungkinan Jakues merasa sedang diteliti. Ferdinan pun membuka percakapan dengan sedikit gelapan:

“Saya suka semua merchandise yang anda jual.”

“Belilah kalau begitu,” kata Jakues.

“Belum gajian.” Ferdinan tersenyum, menampakkan gigi-giginya yang kecil dan rapat. Juga kuning, khas gigi seorang perokok.

“Tidak sambil merokok?”

Ferdinan mengulang jawaban yang sama. Ekspresinya juga tidak berubah. Dia membuka buku catatan dan meraih pulpen dari dalam tote bag. “Boleh saya mulai?” tanyanya.

“Tentu, usahakan pertanyaannya yang sederhana saja.”

Jakues melempar sebuah isyarat pada Helena yang duduk di sampingnya. Helena menangkap isyarat itu, lalu mengambil botol minuman, dan pelan-pelan menuangkan isinya ke mulut Jakues, sekali lagi, seperti melepas ikan ke aliran sungai yang tenang.

“Apakah ini akan menjadi tour terakhir anda?”

“Sebenarnya saya tak terlalu suka menyebutnya sebagai tour, tapi bagaimanapun, apa yang saya lakukan memang tampak seperti itu. Dan benar, ini yang terakhir. Selanjutnya saya mau istirahat untuk waktu yang lama.”

Ferdinan mencatat penjelasan Jakues secara garis besar. Dia menunggu kelanjutan penjelasan.

“Alih-alih menyebutnya sebagai tour, saya lebih senang kalau orang-orang mengenalnya sebagai perjuangan Multatuli.”

“Multatuli?”

“Betul, Multatuli. Berasal dari bahasa latin yang berarti; aku sudah banyak menderita.”

Ferdinan menarik udara melalui mulutnya. Tarikan itu membuat tubuhnya bergerak mundur, seperti ditarik oleh tangan yang lembut. Dia berusaha keras untuk mengendalikan pandangan. Tetapi bola matanya tetap bergerak melihat bagian kiri dan kanan tubuh Jakues yang seharusnya ditumbuhi lengan.

“Anda sudah mengerti yang saya maksud?” tanya Jakues.

Helena bangkit dari duduknya, meninggalkan mereka berdua, seakan menghindar dari kobaran api yang muncul dari retakan bumi.

Suasana di bawah jembatan semakin ramai. Tidak semua orang datang untuk menonton seorang rapper buntung menyanyi. Kehidupan di bawah jembatan itu sudah seperti kebudayaan dari planet lain. Berbagai kegiatan yang tak pernah tampak di kota di atasnya terjadi di sana. Mengonsumsi obat-obatan terlarang, bertukar pasangan untuk melakukan seks, hingga diskusi-diskusi yang mengarah pada rencana kudeta dan mengganti sistem kenegaraan dengan situasi baru yang cenderung anarki, adalah pemandangan yang biasa ditemukan di bawah jembatan. Walau rombongan polisi sering pula membubarkan pemandangan itu, mereka tetap saja muncul kembali. Seperti siklus terbit-tenggelam matahari.

Seakan membaca ekspresi Ferdinan yang menyerupai puzzle belum lengkap, Jakues menambahkan: “Kondisi saya ini bisa disebut malformasi lengan. Sebabnya bisa diduga-duga. Dulu ayah saya bekerja sebagai penjaga tempat pembuangan mobil bekas, sedangkan ibu saya bekerja di pabrik lem kaleng. Menurut cerita ibu, yang meneruskan analisis dokter, malformasi lengan yang saya alami disebabkan oleh faktor dari apa yang dimakan, diminum, dan dihirup ibu saya. Dari latar belakang pekerjaan kedua orangtua saya saja, kita bisa mengira-ngira bahwa potensi malformasi lengan bukan tidak mungkin dapat terjadi pada saya. Singkat cerita, saya lahir seperti ini dan mereka tetap membesarkan saya sebagaimana orangtua pada umumnya. Tetapi entah kenapa, saya malah tak ingin terus-menerus hidup bersama mereka. Di usia lima belas, saya pergi meninggalkan rumah kami yang berada di dalam area tempat pembuangan mobil bekas, lalu mencoba ini-itu untuk bertahan hidup sendiri. Atau lebih tepatnya, mencari esensi hidup dengan menjadi gelandangan.”

 “Apakah karena itu juga, anda hanya menjual kaus kutang?” tanya Ferdinan. Pandangannya sempat berpaling ke lapak merchandise, kemudian kembali berhadapan dengan buku catatannya.

Jakues sedikit tersinggung dengan pertanyaan Ferdinan. Bukan karena Ferdinan sudah mencela kondisi fisiknya secara tidak langsung, melainkan karena wartawan itu seperti tak memedulikan penjelasan panjang yang sudah diuraikan Jakues. Namun karena malas mencari perkara, Jakues cuma menjawab: “Begitulah.”

“Lalu bagaimana anda bisa mengenal musik?”

“Anda tahu, beberapa mobil yang dibuang ke tempat pembuangan sebenarnya masih bisa digunakan. Setidaknya radio di dalam mobil-mobil itu masih aktif. Ayah sering mengajak saya mendengar acara-acara musik yang berlangsung di radio. Meski kelakar para pembawa acaranya kadang tak saya mengerti, selera musik mereka tetap tak bisa dianggap remeh. Selalu bagus, menurut saya. Kadang kalau ayah sedang kebetulan sibuk melakukan pekerjaan lain sampai tak punya waktu bersantai, saya akan melakukannya sendiri…”

Ferdinan mengerenyit, tidak percaya.

“Saya bisa menggunakan kaki untuk membuka pintu mobil dan menyalakan radio,” kata Jakues, berhasil membaca isi pikiran Ferdinan.

“Anda tidak takut ditangkap polisi karena punya musik terkesan terlalu subversif?”

Sesaat sebelum menjawab, seseorang mendatangi Jakues, meminta paraf di kaus kutang putih yang dibelinya dari lapak merchandise. Sambil membubuhkan paraf dengan menjepit spidol menggunakan jari kakinya, Jakues menjawab:

“Sedikit. Tapi apa boleh buat, saya Multatuli. Penderitaan atau yang semacam itu adalah esensi hidup saya.”

Orang yang meminta paraf itu pergi.

“Apa judul lagu yang anda bawakan terakhir tadi?”

“Kejahatan modernitas.”

“Apakah kebanyakan lagu anda bersikap anti-modernitas?”

“Di dalam cangkang modernitas, bahasa bergerak menindas kaum-kaum lemah. Makna yang diproduksi pabrik bahasa modernitas, hanya berpihak pada borjuis dan senantiasa hadir untuk kepentingan mereka. Saya, bersama musik yang saya bawa, ingin membuat bahasa sebagai sesuatu yang independen. Kalaupun perlu tidak independen, bahasa harus berpihak pada kaum-kaum lemah…” Seolah teringat sesuatu, Jakues mengerem penjelasannya: “Pokoknya begitulah.”

Saat mendengar penjelasan Jakues, Ferdinan beberapa kali tertangkap memperhatikan Helena. Mulanya Helena sedang berdiri membelakangi mereka. Tapi mungkin karena ia merasakan tatapan Ferdinan menusuknya dari belakang, Helena berbalik badan, dan mengangkat salah satu alisnya. Tidak spesifik untuk siapa tanda sapaan itu dikirim. Namun Jakues merasa sapaan itu melambung ke arah Ferdinan.

Seakan tak menyembunyikan apa-apa, Ferdinan berbicara:

“Berhubung saya bekerja di majalah kiri, saya sependapat dengan anda. Bahwa bahasa mestinya berpihak pada kaum lemah. Sebenarnya apa pun di dunia ini memang harus berpihak pada mereka. Namun saya kira bahasa tidak pernah tidak independen. Bahasa tumbuh dan berkembang dengan sendirinya. Ada pun makna yang lahir di balik tabir bahasa cenderung mengarah pada kelompok yang bukan kelompok lemah, saya yakin, itu pasti cuma bersifat sementara. Karena demikian, bahasa itu dikatakan independen. Mungkin, bahasa bisa menjadi milik semua orang, tapi sekaligus bukan milik semua orang. Bagaimana ya menyebutnya – umpama anak gelandangan yang mencoba berbagai hal untuk bertahan hidup dengan semangat oportunis dan, menerima semua belas-kasih orang-orang yang ingin menolongnya. Tapi tak berarti dia ingin dimiliki, kan?” Setelah selesai menjelaskan, Ferdinan mengetuk-ngetuk giginya dengan pulpen. Seolah-olah penjelasannya adalah keluarga kata yang tinggal di dalam mulutnya, dan hanya akan keluar bila pintu rumah mereka diketuk. Tetapi tak ada lagi penjelasan yang keluar. “Maaf, saya sepertinya terlalu banyak bicara.”

Jakues tidak berkata apa-apa. Kini ia mendeteksi bahwa wartawan yang memiliki bola mata cekung dan susunan kumis berantakan di hadapannya tidak benar-benar ingin melakukan wawancara. Ada maksud lain kenapa wartawan itu datang. Maksud lain itu sepertinya berhubungan dengan sikap dan perilakunya yang seakan lebih tertarik dengan keberadaan Helena. Perempuan yang menjadi pacar Jakues sejak dua tahun lalu. Helena adalah seorang breakdancer, sekaligus penggemar Jakues yang mengikuti perjalanan karirnya sebagai “Multatuli”. Singkatnya, mereka akhirnya saling mengenal dan saling memahami, hingga memutuskan berpacaran. Helena juga berperan sebagai semacam manajer yang mengatur jadwal perjalanan Jakues, dan mengurus keuangan dari hasil penjualan merchandise. Di samping itu, nama Helena semakin terkenal setelah diketahui berpacaran dengan Jakues yang dapat dikategorikan sebagai artis “bawah tanah”. Bahkan lama-kelamaan pamor Jakues justru bergantung pada sosok pacar cantiknya itu.

“Anda mengenal pacar saya?”

Jakues menarik punggungnya dari dinding tempatnya bersandar. Ia menyeringai menyaksikan reaksi Ferdinan yang seakan berkata bahwa dugaan Jakues lebih dari sekadar betul.

Ferdinan diam sebentar, menimbang-nimbang kata yang akan digunakan untuk menjawab.

“Sejujurnya, kami dulu pernah berpacaran. Kisah lama sepasang mahasiswa, rasanya tak terlalu sopan untuk dikenang lagi. Setidaknya untuk sekarang. Maafkan saya sulit berusaha jujur sejak awal.”

“Tidak masalah, kawan.” Ingin rasanya Jakues menahan reaksi tubuh Ferdinan yang tak mengenakkan itu dengan tangan. Seandainya bisa.

Di saat-saat seperti ini, terkadang, Jakues kasihan kepada dirinya sendiri karena kondisi tubuhnya yang tidak lengkap. Kondisi yang membuatnya tak pernah bisa mengarahkan ritme tarian penonton dengan gerakan melambai-lambaikan sebelah tangan sembari tangan satunya memegang mikrofon. “Apakah Helena sudah jago ngeseks sejak dulu?” tanya Jakues. Bermaksud mencairkan kecanggungan yang membeku di wajah Ferdinan.

“Saya rasa tidak.”

Mereka tertawa bersamaan. Helena mengerenyit dari jauh, menerka-nerka arah pembicaraan Jakues dan Ferdinan.

“Dia paling suka gaya apa?” tanya Jakues. Spontan tanpa berpikir.

“Doggy style,” jawab Ferdinan. Cepat. Bahkan sebelum pertanyaan Jakues dilengkapi dengan kata ‘apa’.

Jakues sontak mengingat saat dirinya melakukan “doggy style” dengan Helena. Mereka memang jarang menggunakan gaya itu, karena Jakues tak mungkin bisa melakukannya secara sempurna. Gerakan itu akan lebih lengkap kalau bagian pinggul perempuan ditarik maju-mundur saat melakukan penetrasi. Mengingat bahwa ia tak mampu melakukannyasecara sempurna pada Helena, gambaran sosoknya yang tercetak di ingatan itu menghilang. Digantikan dengan sosok Ferdinan. Bagaikan sobekan foto yang menemukan sambungan baru.

“Saya rasa anda tak dapat melakukan yang seperti itu, kawan,” kata Ferdinan, seraya menyeringai, yakin telah berhasil membaca isi pikiran Jakues.

“Sepertinya anda terlalu jujur, kawan,” kata Jakues. Wajahnya tak menunjukkan ekspresi ketersinggungan.

Helena tiba-tiba berjalan ke arah mereka dengan langkah yang agak cepat. Ia memberitahukan bahwa polisi dikabarkan akan segera datang. Tak ada kesan kepanikan pada wajah kerumunan orang-orang di bawah jembatan itu. Dengan santai mereka menyembunyikan barang-barang yang sekiranya akan dipermasalahkan oleh polisi, bagai tupai yang menyembunyikan kacang untuk persiapan musim dingin.

“Mereka mengincarku,” kata Jakues.

Setelah menyampaikan kabar tersebut, Helena lantas pergi mengemasi lapak merchandise. Cuma sedikit barang yang mereka bawa selama “tour”, selain merchandise, perlengkapan mandi, dan pakaian ganti sekadarnya. Rekaman musik yang mengiringi Jakues beryanyi tersimpan dalam flashdisk. Sementara alat-alat lain yang diperlukan untuk sebuah konser kecil – seperti sound system, mikrofon, laptop, dan sebagainya – selalu disediakan oleh kelompok-kelompok bawah tanah yang mereka kunjungi.

“Sepertinya mereka juga akan menangkap anda, mengingat kita berada di sayap yang sama,” ujar Jakues, sambil membaca tulisan “majalah kiri” di tote bag Ferdinan.

Ferdinan mengangkat bahunya. Seolah peringatan yang barusan dikatakan Jakues adalah sesuatu yang biasa dia dengar.

Tak lama setelah Helena selesai mengemasi barang-barang, polisi sudah tiba di dekat tebing yang mengarah ke bawah jembatan. Sebelum membantu Jakues berdiri seperti membangunkan sebuah boneka peraga di toko baju, Helena sempat bersitatap dengan Ferdinan. Tatapan yang bermakna dalam sampai-sampai tak bisa dikatakan sebagai sekadar salam perpisahan.

Helena dan Jakues berlari ke arah yang berlawanan dengan arus sungai yang memantulkan cahaya kekuningan matahari sore. Agak jauh di belakang, Ferdinan terpaku sambil memandang ke arah mereka.

Helena terus memandang ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ia berlari sambil memikul tas carrier berisi merchandise dan perlengkapan perjalanan. Kendati mungkin, ia merasakan punggungnya dihujam tatapan Ferdinan dari jauh. Jakues menyadari suasana itu, dan seketika beryanyi dalam hati: “Sedangkan cintaku entah di mana / menjadi limbah…”

Seraya berusaha mengimbangi kecepatan langkah Helena yang berlari di depannya, sesekali Jakues menengok ke belakang. Menengok kekacauan yang sengaja dibuat pasukan “bawah tanah” agar polisi mengabaikan keberadaan Jakues dan Helena. Tetapi bukan pemandangan itu yang bersarang di kepala Jakues. Sekarang, sembari berlari, dia justru membayangkan bahwa, dirinyalah yang semestinya diborgol polisi, bukan Ferdinan. Sedangkan Ferdinan, mungkin akan lebih cocok berlari bersama Helena sambil bergandengan tangan menuju arah yang berlawanan dengan arus sungai. Namun tentu saja Jakues segera tersadar, kalau semua itu tak mungkin terjadi. Dia tak punya tangan untuk diborgol, dan juga tak punya tangan untuk digandeng saat berlari.

Jakues tetap berlari bersama Helena. Sekencang-kencangnya. Seolah kakinya baru saja terbebas dari bola besi.****


Robbyan Abel Ramdhon, aktif menulis cerpen dan bekerja sebagai wartawan. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

Puisi

Puisi Jihan Suweleh

Di Bandung

Rindu menikam

cinta menggali makam

pisau tertanam.

masa lalu

menjadi darah

dalam kakus.


Menjadi Ada

Aku ingin mati di hidupku

dan tumbuh di dirimu

sebagai sesuatu yang baru

saat hatimu basah

karena seseorang

biarkan aku merapal doa

tanpa pernah kau aminkan

saat dadamu bernanah

sebab luka tak sembuh lama

kutiupkan nyala tuk hapus lara

segala bentuk duka

tenggelam dalamku

berubah bunga yang mekar

tanpa batas waktu

aku mungkin tak ada

ketika kau berkaca

sambil menyisir rambutmu

yang patah-patah

karena shampo sudah tak pas

di kepala

aku mungkin tak ada

ketika kau mengejar

mimpi dan mengeja

kebahagiaan semu

yang kau catat dalam buku

biru berwajah laut

aku mungkin tak ada

setiap kau melihat dirimu

sendiri di dalam sunyi

yang terang dan pahit

dalam rekam medis

tetapi aku ada padamu

menggerakkan waktu

dan hidup sehidupmu

mati sematimu.


Menonton Horor

Sore itu kau bercerita

tentang film-film yang kau suka dan tak.

bagimu, kisah yang tayang di layar besar itu

adalah hiburan. cukup sebagai hiburan.

kau tak ingin berkomentar apa pun

jika jelek biarkan begitu

jika bagus pun tak berpengaruh

bagimu.

aku sepakat. bahkan seumur hidup

tak sanggup kuhapal adegan-adegan

dalam film meski kutonton berkali-kali.

kupikir kepalaku sudah penuh

dengan film-film yang kubuat sendiri

dan kau juga begitu

dalam kepalamu ada banyak darah

seperti adegan di film aksi dan horor yang

sebetulnya tak kau suka.

kau tak pernah suka.

Lima jam kita duduk bersama

membicarakan film dokumenter

dalam kepala

tiba-tiba kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang setiap wajah mengingatkanmu

pada ibu dan teman ibumu

juga temanmu yang sudah menjadi

seorang ibu.

kau bertanya, mengapa

sutradara membuat kisah

tentang hantu-hantu

yang kakinya mengingatkanmu

pada ayah yang hampir tak pernah

terlihat oleh kita.

Kau mengenal seorang

perempuan yang hidup

sebagai hantu

berbaju hitam dan

bibirnya tak pernah berhenti

mengeluarkan asap

dia berbicara

banyak sekali

seperti memuntahkan

segala bentuk kamus

yang diciptakannya

sendiri.

Ayahmu mengenal perempuan

bertubuh pahit itu

yang mencium keningmu

lalu mengusap kepalamu

dan memintamu memanggilnya

Mama dengan M besar.

Ibumu mengenal perempuan

bermata beling itu

yang memelukmu kencang

seolah kau adalah anak

kecil yang lahir dari mulutnya

dan tak pernah tumbuh

menjadi gadis dewasa.

Aku juga mengenalnya

perempuan berkulit arang

menghapus isi kepala

ayah dan menggantinya

dengan memori-memori baru

tanpa pernah

kembali lagi.

Malam sudah mampir

kau berhenti bercerita

angin terasa lebih dingin

dari masa kecil kita.

kau menyudahi pertemuan

senyummu meninggi

punggungmu memudar

segalanya terekam

dalam kepalaku.

tanpa pernah akan

kuhapus.


Blokir

Air mata menjadi sepatu

berjalan sendiri

menabrak batu

terjebak di ruang kosong

bersama cicak dan laba-laba

yang tak dilihat keberadaannya.


Tak Pernah Ada Nanti

: AA

Kau adalah mimpi

dalam melek dan pejamku

catatan-catatan pada buku

cerita yang hidup

dan berlatar sungai

pun batu-batu

kau adalah doa

yang menolak berhenti

terucap dalam hati

kau selalu menjadi kini

selamanya

bertumbuh bersamaku

tanpa ada nanti.


Jihan Suweleh, lahir di Gorontalo, 14 Desember.

Cerpen

Permen-Permen dan Gugusan Bintang di Kepala Ken

Cerpen Erna Surya

Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.

Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.

Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.

“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.

Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.

Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.

“Ken, kita harus pindah rumah.”

“Kemana, Ma?”

“Ke Jogja, di rumah Eyang.”

Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.

Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.

Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.

***

“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.

Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.

“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”

Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.

Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.

Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.

“Rosa,” panggil lelaki itu.

“Tahu nama saya dari mana?”

“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”

Rosa terdiam.

“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.

“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.

“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.

***

Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.

“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”

Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.

“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”

“Kemana, Ma?”

“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.

Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****


Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa

Cerpen

Kidung Bakti

Cerpen Prima Yuanita

Katamu sebuah lagu mampu mengungkapkan perasaan seseorang, seperti bumbu dapur menerjemahkan rasa masakan. Dan aku pun percaya hal itu. Jadi, ketika perasaanku padamu mendesak-desak ingin disampaikan, lagu Kidung Bakti yang akhirnya berbicara pada semua insan.

Kamu tahu kan, sejak kecil aku suka sekali merangkai syair dan nada-nada? Mereka seringkali membesuk kepala. Lalu menyusup ke tangis, tawa, marah, kecewa, bahagia, bahkan dalam diam.

Dulu kita selalu menandaskan gigil fajar di perapian dengan memutar tembang kenangan, seperti langgam jawa, yang kental dengan iringan gamelannya, atau pop klasik berbirama empat perempat yang menggelitik halus di pendengaran. Saat itu sesekali bibirmu turut menggumamkan lirik lagu tersebut sambil tanganmu terus bergerak-gerak  lincah di atas talenan, sementara kamu memintaku menggisar-gisar kayu bakar agar api di tungku tidak lekas padam.

Aku tahu kamu suka menyanyi, dan karena itulah kamu rajin mengajariku menyanyi ketika usiaku menginjak lima tahun. Bukan lagu anak-anak khas taman kanak-kanak, akan tetapi lagu kebangsaan dengan suara yang dibesar-besarkan. Kamu tahu suara sopranku sedikit sumbang, maka kamu akan membenarkan nada tinggiku yang masih terdengar payah. Aku juga ingat ketika kamu menyuruhku mengucapkan nama negaraku dengan benar. Katamu, aku mengucap kata ‘Indonesia’ menjadi ‘Endonesia’. Seketika aku tertawa dan kamu ikut tertawa, lalu kita tertawa bersama-sama.

Semakin hari aku tumbuh bersama lagu-lagu di sekitarku, bukan hanya lagu kesukaanmu yang kerap kita dengar bersama itu, tetapi dari stasiun-stasiun radio yang kuputar, aku jadi mengenal beragam lagu yang bagus-bagus. Orang-orang berkirim salam kepada orang yang dikasihinya dan meminta senandung favorit mereka untuk diputar. Aku pun pernah melakukan hal yang sama untukmu. Ketika itu aku sudah punya ponsel berwarna hitam nan tebal hasil dari uang yang kukumpulkan berbulan-bulan. Aku begitu takjub menyadari betapa ponselku sangat pintar mengirim pesan. Akan tetapi pesanku tidak pernah dibacakan dan lagu yang kuminta tidak diputar. Menyebalkan sekali bukan? Dari situ aku bertekad dalam hati bahwa kelak aku akan membuat lagu sendiri dan stasiun radio itu tidak akan bisa menolak untuk tidak memutarkan laguku.

Benar saja yang kupikirkan. Saat dewasa aku menikah dengan seorang penyanyi. Singkat cerita ia tidak keberatan membawakan lagu yang kuciptakan. Berhari-hari ia menghafal lirik lagu tersebut. Konon ia tak pernah selama itu menghafal lagu, akan tetapi di lagu ciptaanku, yang sengaja kubuatkan untukmu itu, ia mengaku kesulitan menyanyikannya, apalagi di bagian lirik yang menggunakan Bahasa Jawa.  

Dhuk semono rung biso sembodo

mlaku tansah dituntun ditoto

ojo nganti adigang adigung adiguno

eling Gusti …eling Gusti soko jiwo

Dulu sebelum menikah, suamiku itu tak pernah menjanjikan materi yang lebih padaku. Aku hanya tahu dia orang baik, memiliki keluarga yang baik dan kawan-kawan yang baik. Maka kupikir hidupku pasti akan dikelilingi oleh orang baik. Dengan demikian aku juga bisa menjadi orang baik seperti apa yang kamu harapkan selama ini padaku. Bukankah memiliki kawan-kawan yang baik termasuk salah satu rezeki yang patut kita syukuri?

Hal itu terbukti saat suamiku meminta tolong mereka untuk mengiringi lagu ciptaanku. Tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengeluarkan alat musiknya. Mereka membawa piano, gitar, seruling, kendang, saron, sapek, juga karinding. Dengan semangat yang meletup-letup di dada, mereka berbondong-bondong ke studio rekaman dan memainkan alat musik itu sebagai instrumen dari lagu yang kuciptakan. Sekitar sepekan lagu itu pun rampung digarap. Kami semua gembira dan lagu itu disebar ke mana-mana, termasuk ke stasiun radio yang tak pernah memutar lagu permintaanku dulu, kini lagu ciptaanku malah jadi playlist permintaan dari orang-orang.

“Bukan hanya Lathi, lagu Kidung Bakti juga bisa menggabungkan dua unsur yang berbeda,” kataku padamu.

“Iya, aku suka sekali lagu ini,” komentarmu di satu pagi yang cerah, secerah foto profilmu dengan kebaya putih dan gincu merah merekah.

Saat itu kita berbincang lewat sambungan telepon. Semenjak menikah, seseorang biasanya akan semakin sibuk dengan keluarga barunya. Bukan hanya aku dengan keluarga baruku, tetapi kamu dengan keluarga barumu, seperti dalam potret yang kamu jadikan foto profil itu. Aku ingat gambar itu diambil beberapa saat setelah kamu resmi dinikahi seorang duda kaya yang baik hatinya. Lalu di pagi yang berseri-seri, dengan wajah yang berseri-seri pula kamu bertanya padaku, “Bagaimana kamu bisa membuat lagu ini?”

Mendengar pertanyaaanmu itu hatiku serasa dilumuri berpuluh-puluh es krim. Lantas kujelaskan padamu bahwa di satu bunga tidur malam, kupingku mendengar nyanyian alam. Bersayapkan angin segar yang menyeberangi Laut Jawa, ia hinggap di pulau terbesar di Indonesia, ia menjumpai wajah-wajah yang dulu kerap menyapa: seperti gemuruh ombak di Sungai Mahakam, perahu-perahu kayu bercat cokelat kelam; arakan awan langit khatulistiwa, hutan ulin yang suram nan gersang; paras bertaburkan bedak beras, dan air mata seorang wanita di telepon genggam; cairan serupa yang kusaksikan menggenang saat kamu melepas genggamanku di bandara.

Kamu ingat aku pernah pergi jauh. Tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukannya? Waktu itu hidupku tak ubahnya bola yang digiring ke kiri-kanan, lantaran menyaksikan dua kepala yang sama-sama ingin menang. Hatiku lelah, jiwaku berontak, kakiku melangkah sejauh bola yang menggelinding keluar area permainan. Kamu berulang kali memanggilku tapi aku tak peduli. Aku terus menjauh dari jangkauanmu. Kian lenyap dari pandanganmu, hingga akhirnya pria yang kini kamu sebut menantu itu datang ke kehidupanku, lalu ia menegur kala kakiku jatuh tersungkur.

 “Jangan lagi buat orang tuamu menangis! Seburuk-buruknya mereka, kamu tak boleh jadi anak durhaka! Pulanglah!”

Alam pun menutur makna

tentang rasa yang dijaga

ke mana langkah kususuri

tak temukan kasih yang lebih sejati

Ayah dan Ibu ….

Begitulah lagu Kidung Bakti itu menceritakan perasaanku padamu, juga pada ayah; sesosok lelaki yang bertahun-tahun lalu telah meninggalkanmu. Lelaki itu kutemui bersama menantumu ke suatu tempat yang ia sebut rumah, tapi bagiku itu bukanlah sebuah rumah, itu hanya tempat orang-orang singgah untuk mengenyangkan perut yang lapar. Tidak ada kasur di sana, apalagi kamar tidur, yang ada hanya tikar lusuh yang digelar untuk orang-orang menyantap semangkuk soto ayam.

Di mata lelaki yang kulitnya legam dan penuh kerutan itu, kutemukan segudang penyesalan. Sudah kukira hal itu pasti terjadi, tapi walau bagaimanapun, wanita yang berada di sampingnya saat itu adalah istri sahnya. Bukan lagi namamu di Kartu Keluarga-nya. Jadi ia akan selalu pulang ke tempat istrinya itu, dan kupikir kamu pasti juga sudah bahagia bersama lelaki berusia enam puluhan yang menikahimu setahun lalu.

Tapi rupanya aku keliru. Sepekan lalu, di satu malam tak berbintang, ketika lagu Kidung Bakti itu telah didengar ribuan orang, suara serakmu mengabarkan bahwa suamimu itu telah berpulang karena sakit yang kamu anggap hanya masuk angin. Seketika tubuhku gemetaran. Degup jantungku berloncatan. Kepalaku berdenyut-denyut dan di sana berkelebat sebuah pertanyaan: kenapa rasa sayang selalu membuat kita kembali pulang?***


Prima Yuanita, seorang ibu rumah tangga, penyuka makanan tradisional dan lagu-lagu bernada mayor. Saat ini tinggal di Sragen, Jawa Tengah dan pernah meraih juara 1 Lomba Karya Jurnalistik PKK tahun 2020 tingkat Provinsi Jawa Tengah. Akun Facebook: Prima Yuanita dan Instagram: prima_yuanita.

Puisi

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Di Pagi Hari

di pagi hari, orang-orang sedang tidur tanpa mimpi.

tubuhku dingin tanpa baju, penyesalanku dingin dan sesap pada bisu.

kugenggam pasir mimpi. tidurku tergeletak pada jaga.

neraka bercerita pada dongengnya yang menyala, surga makin biru saja.

sekepak ingatan tiba-tiba sangkar. dipenjaranya alusi perempuan,

yang mengetuk meja lapuk dengan buku-buku jari yang penuh luka.

negerinya terbuat dari pembunuhan. yang ia takutkan bukan lagi Tuhan,

tapi tuan yang menghidupkan segala kebengisan akhir zaman.

aku duduk di tepi pagi, terjun ke dingin tanpa batas,

kekacauan di dadaku tangkup dan kebas.

oh embun-embun yang melarat dari butiran doa. haruskah aku sujud

bersama keladi yang angkuh, subuhku adalah kening busuk yang jatuh.

Kubang Raya, 20 November 2020


Bimbilimbica dan Buku Harian Zlata

  • Alusi Peperangan Bosnia 1992-1995

ingin kugandakan hati biar sepi mampu kubagi seperti roti dan kelaparan

pengungsi dini hari, di bawah sebungkus senyuman disinari samar bulan,

sembari membayangkan betapa belatung di kuburan sangat mencintai kesunyian

yang masih segar, bergumul tubuh pucat dan segenap anggapan rasa sakit,

di masa-masa penantian siksa bagi agama yang menyakininya.

ketika keputusasaan menghantui gelap hari-hariku, kubayangkan kau gigil

di negeri jauh, Bimbilimbica. Zlata Filipovic tak menyentuhmu, sebab airmata

terlalu memusingkan kepalanya: tentang rasa lapar yang menggejala,

tentang kesepian bagai kolera

bila serigala muncul sebagai pertanda kabul segala pestaporia kehilangan,

kawanan burung-burung bangkai menukik bagai puncak kasmaran, harus bagaimana

kau datang meniadakan lara, Bimbilimbica?

lidah Cecep Syamsul Hari yang khatam mengumpul puisi, tumpul dalam otakku,

Zlata Filipovic kembali menangis di tipis nuraniku, aku hendak berbincang,

mungkin mengaku memeluk Tuhan atau sekadar bertempur dengan setan yang sesat

di badan.

Bimbilimbica, katakan pada lampu merkuri lumutan dan setia berdiri nun jauh di sana, adakah cahaya bakal menyapa esok hari bagi kedukaan maha di jantungku; degup-degupku, harap-harapku.

alusi peperangan itu mengepungku, suara jerit menggedor-gedor kewarasanku, Asfaltina, Pidzameta, Zefika, Hikmeta, Sevala, segala hanya menggantungkan keragu-raguanku

tentang bahaya hidup yang tak mungkin kucungkup sejak sepanjang malam berharap

aku mati di puncak menara.

Bimbimbica, seluas apakah neraka itu? masih jauhkan ia dariku? Bimbilimbica

sanggupkah kau memeluk saat tubuhmu terbakar dan sebentar lagi abu?

Pekanbaru, 2015 – 2021


Kaleng; Yang Diam-Diam Membuat Rahasiamu Karatan

: Alda Muhsi

aku ibaratkan kau ada di hilir sungai,

hilir segala yang ditampung keluasan muara,

maka kuhanyutkan berkaleng-kaleng bekas susu,

sehari hanya satu.

di dalamnya kuselipkan kertas rahasia,

kertas yang hanya mampu kaubaca ketika kaubawa ke kertap cahaya,

sebab aku menulisnya dengan bantuan getah lemon.

mungkin hanya serbuk cinta karatan,

sebab serbuk cintaku tak lagi diminati kumbang,

atau decit perih harapan yang koros hati.

pernahkah kau memakai parfum termurah

ala anak sekolah dari ekonomi rendahan?

aku menyemprot parfum itu dengan beberapa percik,

saat kau membuka gulungannya akan terkuar siar wangi

sebab di dekat surat itu telah kudiangkan 5 putih segar melati.

aku tak mengharapkan apa-apa,

tak juga kebahagiaan yang meliputi jiwamu yang sukma,

hanya upaya mengirim sedikit cinta dan lebih banyak cita-cita,

yang barangkali lebih masif dari kegilaan Rimbaud-Varlaine.

jika sudah kauterima 5.000.000 kaleng susu bekas,

mohon balas kirimanku dengan cinta sungguhan,

kirimkan via pos kaleng yang paling kumal dari keseluruhan.

tapi itu takkan pernah terjadi, tak akan pernah.

sebab 5.000.000 hari bukanlah pilihan kita untuk tetap hidup.

untuk 5.000 kaleng susu bekas, atau untuk 5 kaleng susu bekas,

kirimkan saja semisal tipudaya cinta,

mungkin racun yang dapat membakar kaleng-kaleng berikutnya,

kaleng-kaleng yang tidak akan sampai kecuali kabar kematian pengirimnya

yang diam-diam membuat rahasiamu karatan.

Tiga Meong 2015 – 2022


Pantai Alam Indah

bangkai kenangan masih mengapung di laut otakku,

          saat kausasarkan selasar cumbu di pantai kelabu.

          saat itu gelap, menggeriap, tanganmu semakin mendekap,

                                                                     mulutmu membekap,

   kedinginan angin laut seperti mengerucut surut.

sekarang kau di mana? haruskan aku bertanya kepada seluruh karang

              dan biotanya? mengapa kau hamparkan gelombang lengang

                                                        sehampir ini?

tak adakah lagi kedalaman cinta? tak adakah lagi pasir-pasir di bibir?

      hingga aku harus berenang serupa ikan-ikan kesedihan

                                  yang mengapung nadir.

Kubang Raya, 2015 – 2022


600 Mil / 965 Km

: Shangguan Xi Mu

965 km,

inilah jarak kasih sayang terjauh

yang pernah tersentuh biak kembang airmataku,

cinta tak memusingkan rasa lelah karena asa belum akan leleh.

Xi Mu, keterasingan hanyalah kelaziman semu,

hatimu abadi mengendarai debu-debu

hingga mengepul ke jantung juntrung nenekmu.

ada 1.330 hari ambang plastik menuju pintu uang,

kau tepis usiamu yang sepuluh kikis oleh sedih.

mengembaralah riyawat piatu ketika ibu pergi

dan kau masih belum laik mengacukan sepatu,

pula lima kehilangan tanpa linangan ketika ayah meregang lengang.

setelahnya kau hanya rajin ke klenteng untuk sembahyang.

orang-orang membangun kemanusiaan, bermula dari keruntuhan batu

dan buta oleh kenyataan. saat seribu tangan memanjang,

menyambung tangan perawat di ruang operasi,

kelumpuhan nenekmu ternyata menyimpan komplikasi dekat hati.

berjalanlah, Tuhan akan memungut jejakmu dengan semangat

dan rasa iba yang ibu

Pekanbaru, 2015 – 2022


Filitinisme
: Oscar Wilde

(Hendry)
sebab dirimu adalah pertempuran batin yang tak dapat tumpas

oleh kanvas, seseorang memanggil da vinci tapi da vinci melukis

melankoli caci maki, seorang yang lain memanggil picasso tapi

picasso melukis abstrak kehancuran mimbar pidato, lalu apa pun

yang mampu dibayangkan pikiran, biarkan sesuatu yang tak

terjangkau menyeberang, mungkin ke tanjung arang

(Dorian)
lingkaran masa depan mencipta seorang di masa depan,

seorang itu  dikabarkan sendirian, berdua dengan kutukan,

bertiga dengan kuburan, kuburan itu adalah lambang rumah

ruhnya yang tak

bertaman dan berteman
————-

kupu kupu murahan, mengibas ekornya yang beracun,

mengenai ujung kelamin lelaki di masa depan: ah,

ternyata di masa depan baju bukan bagian kemaluan

Miral Dj 2014 – 2022


Kindergarten

Black

ia mencintai bulan, mengecup matahari, mengejar bintang,

ia terjatuh di malam hujan, terperangkap mata anak kecil tanpa teman.

Blue

warna bantal ibu, mimpi para perilaku-perilaku lugu,

menggambar tidur, mencoret mimpi,

cita-cita ibu di langit-langit lidah si anak bisu

White

dongeng menjadi surga kapas, lomba terbang ke langit-langit,

beberapa tersangkut kipas angin, gelantungan di sarang laba-laba,

keluar jendela dapur. tapi rengek anak-anak berwajah pupur,

siang malam tak bisa tidur, bikin amarah ibu jadi bubur

Yellow

sepasang mata sapi di atas piring, buku gambar di samping piring,

anak-anak yang menjadikan sepasang pensil jadi sumpit licin,

ayah yang menyuap hening, ibu berbedak kuning,

kakak yang belajar kencing, suara mooo dari dalam toilet

Red

apa golongan darah amuba, anak-anak yang mewarnai pantat kuda,

zebra bermata merah saga, plankton sewarna hemoglobin,

ular pucat berekor merah, kebun binatang dari mulut ibu,

kandang sapi di sepi ayah, tetangga yang pergi mendonor darah

aku pernah anak-anak, tanpa taman kanak-kanak,

tanpa pensil warna-warni, tanpa lolipop, berteman peri-peri,

dari kepala takdir yang migrain.

Kubang Raya, 13 Desember 2021


Tokoh Tokoh dalam Apselog

semula Phusta mendua, rambutnya dibagi tiga,

wajahnya dirias empat, senyumnya lipat lima,

tengah malam di jantung srigala,

ia mulai membenamkan rencana

Myhta berlari ke dalam kelam kurcaci,

dengan membuka langkah terkunci,

disematkannya mata kaki ke mati hati,

di luar masakan dapur.

Korkhena tetap buta dengan wajah merah bata,

lidahnya lima pilin suara

yang lincah bagai teluh, ular dari rahim bunga

yang memasang sayap kupu-kupu

Abusia, seseorang memanggang sembab celana

di celan senggang senggama, kepala berdarah

bercak kasta, seperti jarak cinta dan aritmatika.

Pekanbaru, 2015 – 2022


Muhammad Asqalani eNeSTe, kelahiran Paringgonan, 25 Mei. Adalah Pemenang II Duta Baca Riau 2018. Menulis dan membaca puisi sejak 2006. Puisi-puisinya dimuat di pelbagai media cetak dan online. Bukunya yang berjudul doksologi memenangkan lomba buku fiksi tahun 2019. Ia tengah menyusun buku kumpulan puisinya yang kesebelas dan keduabelas He Jia Ping An dan Ikan-ikan Pikiran Mati. Mengajar kelas puisi online di KPO WR Academy dan Asqa Imagination School (AIS). Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER). Instagram:  @muhammadasqalanie. Youtube: Dunia Asqa.