Cerpen

Tragedi Pencurian Ikan

Cerpen Aliurridha

Ini adalah kali ketiga hasil panennya jatuh. Jamal tahu ada yang mencuri ikan-ikan di empangnya. Ia bahkan tahu siapa pelakunya. Ia kenal orang itu seperti ia mengenal anak dan istrinya sendiri. Orang itu begitu dekat dengannya, sedekat urat-urat di lehernya. Ia tidak habis pikir mengapa Naldi, orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, bisa setega itu mencuri darinya. Padahal jika ia minta baik-baik, mungkin Jamal akan memberinya. Meski tidak sebanyak yang dicurinya, Jamal akan ikhlas memberinya. Jamal tahu betul betapa susah hidup Naldi saat ini. Bagaimanapun juga, Naldi adalah orang pertama yang menyambutnya ketika tidak seorang pun peduli pada pendatang seperti dirinya.

“Kakak harus mendatanginya. Kalau terus seperti ini kita terpaksa pulang. Setiap panen kita selalu rugi,” kata istrinya.

Jamal hanya menjawab dengan anggukan sekenanya. Bukannya ia belum pernah mendatangi Naldi, ia sudah pernah mendatanginya ketika pertama kali ia rasakan ada yang aneh dengan hasil panennya. Naldi adalah orang pertama yang ia ceritakan sekaligus mintai bantuan untuk menjaga empangnya. Jamal sangat percaya kepada Naldi seperti halnya ia percaya kaki dan tangannya sendiri. Lagi pula Naldi adalah seorang yang disegani di kampungnya. Ia adalah orang yang suaranya selalu didengar para begundal desa—Naldi adalah ketua mereka. Selain itu, Naldi juga terkenal karena ia adalah anak dari mantan kepala desa dua periode yang memiliki tanah yang seolah tidak ada habisnya. Tetapi itu dulu, sebelum ayah Naldi salah perhitungan mencalonkan diri sebagai anggota dewan yang mau tidak mau membuatnya terpaksa menjual tanahnya. Kemudian hanya sedikit tanah yang bisa ia wariskan kepada Naldi.

“Saya tidak tahu siapa yang curi, tapi saya janji akan cari tahu dan bantu jaga. Sudah mi kita tenang saja, tidur nyenyak di rumah,” kata Naldi pada Jamal.

Jamal mengangguk setuju. Tetapi entah mengapa ketika tiba di rumah, ia merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sebuah firasat mengatakan kepadanya untuk tidak begitu saja percaya.

Malamnya Jamal gelisah. Ia yang tidak bisa tidur dan memutuskan keluar rumah, memandangi langit yang begitu cerah. Saat itu sedang bulan purnama. Bulan terlihat bulat sempurna dan berwarna putih kekuking-kuningan. Bintang gemintang bekerlap-kerlip di kejauhan. Dihirupnya dalam-dalam udara malam yang lembap bercampur garam. Kemudian ia berjalan-jalan untuk menenangkan hatinya seperti biasa terjadi ketika ia bertengkar dengan istrinya. Ketika langkah kakinya membawanya tiba di empang miliknya yang akan panen beberapa hari lagi, dari kejauhan dilihatnya bayangan dua orang. Tangannya segera meraba pinggang, namun ia lupa membawa parang. Sial, makinya pelan. Ia tidak ingin para pencuri itu menyadari keberadaannya.

Jamal memutuskan untuk tidak pulang mengambil parang dan memilih mengintip para begundal yang mencuri ikannya. Ia berharap terang bulan akan menyingkap wajah para pencuri itu. Namun, agak susah mengenali kedua sosok itu dari kejauhan, tanpa penerangan selain cahaya bulan. Ketika ia berpikir keberuntungan tidak berpihak padanya, sorot senter yang dibawa salah satu dari mereka, mengenai wajah seseorang, wajah yang sangat dikenalnya. Naldi! Ia mengumpat begitu tahu kalau salah satu dari begundal itu adalah orang yang ia percayai seperti kaki dan tangannya sendiri. Orang yang ia janjikan jika panen baik akan ia berikan persenan. Ia sudah hampir mendatangi pencuri itu untuk bikin perhitungan. Namun, akal sehatnya datang, dan dengan rasa panas di dada, ia menyeret kakinya kembali ke rumah. Di rumah ia merokok untuk menenangkan diri sembari berharap pagi akan mematikan bara di dada. Besok ia berencana mendatangi Naldi untuk bicara baik-baik.

“Saya tidak pernah. Sumpah dah. Semalam saya minum sama brengsek ini,” kata Naldi menunjuk Feri.

“Tapi saya lihat kamu sama seorang lagi,” kata Jamal yang kemudian menoleh ke arah Feri.

“Kita[1] salah lihat mungkin,” balas Feri. “Kami semalam minum-minum di rumah Joni. Naldi sampai tidak bisa bangun karena kebanyakan pongasi[2].”

“Kita tenangkan mi dulu hati kita,” kata Naldi menyentuh pundak Jamal. Naldi bisa merasakan Jamal tengah tegang ketika ia menyentuh pundak laki-laki itu. “Saya janji bantu. Saya tidak mabuk nanti malam,” katanya lembut berusaha menenangkan Jamal.

Malamnya memang tidak ada lagi pencurian. Jamal yang tidak percaya lagi pada Naldi, mengintip ke arah empang dan melihat Naldi bersama Feri sedang minum di pondok sederhana yang ia bangun untuk berjaga-jaga kalau saja air meluap dan tanggul jebol. Di sana, keduanya benar-benar tidak melakukan apa-apa selain minum pongasi. Ia pulang dengan hati tenang. Tebersit pikiran bahwa apa yang ia lihat kemarin hanyalah tipuan mata belaka.

***

“Kita tahukah kalau Naldi jual ikannya ke tempat Ruslan?” tanya Rohman kepada Jamal. Rohman adalah seorang pengepul yang selalu mendatangi Jamal setiap panen. Ruslan juga seorang pengepul, ia selalu berjuang untuk memperebutkan hasil panen ikan dengan Rohman.

Perkataan Rohman itu membuatnya teringat pada malam ketika ia melihat Naldi bersama seseorang, malam yang sebelumnya ia sangka hanya tipuan mata belaka. Ia tahu benar kalau Naldi sudah tidak punya empang dan empang terakhirnya ia jual sebagai pelicin agar ia bisa bekerja di perusahaan tambang. Sayangnya, sekarang perusahaan tambang tempat Naldi bekerja sedang bermasalah perizinannya. Naldi sebenarnya masih memiliki sedikit tanah yang bisa ia tanami untuk berkebun. Tetapi polusi dari aktivitas tambang dulu pernah merusak apa yang ditanamnya. Itu membuatnya malas mencoba lagi. Dan, ia memang bukan tipe yang cocok hidup bertani, ia lebih suka bekerja mendapatkan gaji pasti setiap bulan. Jamal juga tahu benar kalau Naldi tidak akan punya sedikit pun modal untuk membeli ikan yang kemudian akan ia jual ke pengepul. Ia tahu benar kondisi keuangan Naldi saat ini. Ia merasa tahu semua yang terjadi di sekitar desa tempatnya mukim. Jika ada satu yang tidak diketahuinya—yakni Rohman sebenarnya sudah tahu kalau ikan-ikan yang dijual Naldi adalah hasil curian dari empang Jamal; Rohman mengatakan itu lantaran ia kesal kepada Naldi yang tidak mau menjual hasil curian itu padanya, dan malah menjualnya kepada Ruslan.

Sebenarnya Jamal tidak mau mendatangi Naldi karena ia tahu segalanya akan sia-sia, Naldi pasti akan menyangkal apa yang diperbuatnya, dan ia juga tidak memiliki bukti untuk menuduhnya. Jamal benar-benar tidak mau cari ribut, tapi ia tidak tahan juga mendengar omelan istrinya. Ia juga tidak mau apa yang dikatakan istrinya terjadi; mereka terpaksa pulang ke kampung halaman setelah gagal di perantauan. Tidak ada yang lebih ditakutkannya selain pulang membawa kegagalan. Ia pasti akan dikucilkan keluarganya di kampung. Ia juga akan dihina mertua yang telah memberinya modal hidup di perantauan.

“Saya bilang saya tidak tahu. Kau masih paksa-paksa,” kata Naldi ketika Jamal terus mendesaknya untuk mengaku dan berhenti mencuri di empangnya. Jamal mengatakan ia bersedia memaafkannya asal Naldi berjanji tidak mengulangi lagi. “Saya sudah tidak permasalahkan kita tidak bagi hasil panen seperti yang kita janji. Saya ngerti kita sedang susah. Banyak bibit yang tidak berkembang.”

Jamal hampir saja meledak begitu mendengar Naldi menyebut bibitnya tidak berkembang. Ia tahu betul bahwa Naldi yang mencuri ikan-ikannya. Perkataan Naldi terasa seperti air garam yang disiram tepat di lukanya. Rasanya perih tiada terkira. Beruntung Jamal masih bisa menahan diri dan pulang. Ia pulang dan lanjut mendengarkan omelan istrinya yang lebih perih dari luka yang disiram air garam.

“Ini terakhir kali. Saya janji ini terakhir kali dia mencuri. Dia tidak akan lagi mencuri dari kita,” kata Jamal kepada istrinya. Nada biacaranya lebih tinggi dari biasanya, dan itu membuat sang istri berhenti memberondongi dengan omelan.

Apa yang dikatakan Jamal kepada istrinya hari itu terbukti. Pagi itu langit teramat cerah ketika orang-orang dikagetkan dengan sesosok tubuh yang terbaring di pematang. Kepalanya telungkup masuk ke dalam kolam dengan punggung menghadap langit. Di bagian leher dan bahu kirinya terlihat seberkas warna merah yang mulai mengering. Tubuh tak bernyawa itu adalah tubuh Naldi.

Semalam Naldi kedapatan sedang mencuri di empang Jamal. Naldi tertangkap basah. Ia benar-benar sedang basah ketika Jamal datang. Ia sedang berada di empang menjaring ikan-ikan siap panen ketika Jamal dengan tiba-tiba melompat ke empang, lalu menebaskan parang ke bahunya dari belakang. Mendengar erangan Naldi, Feri bukannya menolong, malah meloncat keluar empang dan berlari kocar-kacir. Jamal terus saja mengulangi tebasannya pada tubuh Naldi hingga si pemilik tubuh tidak lagi mampu untuk sekadar mengerang.

Begitu puas menebas, Jamal menyeret tubuh Naldi dan melemparnya di pematang dekat empangnya. Tubuh Naldi dibentangkan seperti portal yang hendak menghalangi siapa pun untuk masuk ke empang miliknya. Setelah itu ia pulang ke rumah untuk mandi, membersihkan noda darah, dan merokok. Paginya ia pamit ke istrinya untuk pergi menyerahkan diri ke kantor polisi.**

 [1] kita adalah sapaan sopan untuk kamu bagi orang Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara

[2] minuman keras tradisional Sulawesi Tenggara yang dibuat dari fermentasi tape


Aliurridha, Penerjemah dan pengajar Toefl. Ia menulis esai, opini, dan cerpen. Karyanya tersebar di banyak media, luring maupun daring. Ia bergiat di komunitas Akarpohon.

Puisi

Puisi Sarita Rahel Diang Kameluh

Wanita Jasna Góra

Dara suci, mengapa kau dan Anakmu

bermuka gumul hitam debu, pernis cat mati,

jelaga dari tangis lilin, harum sakramen yang terbakar?

Di dahi itu terpampang gua

yang berisi curah air mata, api yang terbit dan mengawasi

batu altar itu dan jemaat-jemaat kalut.

Setiap kali ke depan altar itu, mereka cium melebihi

ciuman di bibir kekasih dan telapak tangan ibu,

mereka menyendok kemenyan, menabur di arang

yang terbakar dalam wiruk,

asap-asap mengembang bagai persembahan Habel

dan awan-awan Carpathia.

Kemudian mereka berkeliling mendupai, diiringi madah

merdu para malaikat,

sebab, di bingkai emas, di ujung altar itu tubuh Anakmu

ingin menyusu dan menjelma menjadi anggur

dalam cawan.

Seorang pelukis tak tahu cara memperbaiki wajahmu

dengan lilin lebah mendidih. Ia tak mampu

menghapus bekas goresan luka pedang Hussite

di pipi yang sudah kering dari peluh dan garam itu.

Kau dan Anakmu termenung di sana, memberi

penawar sakit pada orang-orang Czestochowa.

Ketika Hussite merajah kau rela dilukai

seakan bersabda “tusuklah aku.

Aku memang hadir di dunia ini untuk ditusuk-tusuk.”

Basilika Jasna Gora, Czestochowa, Maret 2017


Warszawa

Teruntuk surga yang porak-poranda.

Ibunya, berteduh usang, ditopang kemarau wahyu Noah.

Kota ini

semacam abu dari api dan tulang

yang dibangun kembali. Puingan bata itu

masih menangis.

Derai makam bercoreng bintang David

berkisah tentang jeritan

di mana rumah ibadah, ogorky, Chopin dan roti

menjadi pahlawan negara.

Semacam sajak penjara

yang terlahir kembali

dari mata letih para rabi yang masih terluka

setiap pagi, setiap tanggal 27 Januari.

Warszawa, Maret 2018


Orang Telanjang dari Vilnius

Kami, sepasang lapar yang terus

terluka dan menyeru sembap di pasar Kalvariu Turgus

dan sepi. Pasar yang bergerak seperti rasa lapar dengan

mulut putra altar masih menjerit-jerit

di langit, sayap kabutnya terus mengepak. Abu katedral.

Abu sinagoge. Abu sungai Viliya. Abu doa-doa. Abu gunung.

Berhamburan

ditampung mulut sepasang tentara yang terus mengisap

dalam puntung rokoknya. Nyala api di tiap isapnya mengandung 

nyawa-nyawa yang bertempik sedih terperangkap.

DiriMu. Tak hanya diriMu.

Jejak proklamasi yang merampas organ tubuh dan ayatMu.

Salut senapan dan derai baja merampas sunyi

menimbun Kaunas. Trakai mati dalam kenangan abu,

dirajah salju. 

Penjual nyawa di kedai itu menyeringai pohon cemara

dan kandil lilin

“Tiada natal tahun ini. Kristus tak berulang tahun hari ini.”

Aih, kini Ia sedang beragama apa? Beretnis apa?

Kau merah. Kau marah. Letusan bedil

menyunamkan peluru pada yang rindu dengan kayangan.

Aku melepas pasak paku yang ditanam di kedua telapakku

dan tak bisa tersenyum.

Sebab aroma mayat yang menguap

dari alun-alun Stebuklas membuatku merasa Kau tersesat dan mati.

Sedang mereka yang tergelepar, rindu pada ayat-ayat merdeka.

Kau pikir mereka mati?

Mati itu takkan menghentikan doa.

Dan Vilnius, Santo Casimir adalah nyeri

yang berbau mesiu, dikoyak menjadi bersimbah dan pemancar radio,

berabu dan berselubung kain kafan. Bunga-bunga di tamannya

bisu oleh merah. Merah darah. Merah nabi-nabi para tentara.

Surabaya, 22.05.2020.

Mengenang kota Vilnius yang dikunjungi 2018 silam.


Malam Kaca Pecah

Malam lengang, bukan salju merepih di jalan

tetapi tabur kaca, memangku jasad

beraroma kaca.

Mereka yang berbedil berkaca dalam darah,

berkaca dalam mata gugur

yang masih menitik gerimis debu.

Tallit terhempas menyelubungi nyeri Danzig,

mengkafani abu Talmud dan Tuhannya Abram.

Dan mereka yang berbedil selalu ingat

Tubuh-tubuh roboh itu adalah pogrom yang berdoa,

darah yang berdoa. Kaca-kaca yang merintih dalam doa.

Surabaya, 7.12.2020

Mengenang peristiwa pogrom di kota Danzig dan Aachen


Mazurka[1]

Warzawa, kau bertanya aku ingin mati

dengan cara apa.

Aku ingin mati dengan deruman tembaga

plac Kanonia, dan Zygmunt terlilit matahari

memerintah dari tubuh granitnya

dengan suara berdendang mazurka.

Vistula belum cukup menampung air mata

serta abu kawanku yang bersabung dengan elang.

Elang-elang itu memangsa surga dan bangkai,

dworek, bunga madat jagung para ibu.

Darah berbuih di udara. Bertuba mencari mangsa.

Angin menggisar dan daun duduk di beranda,

menatap tubuh-tubuh tanpa keranda.

Karena itulah kau harus mati, Warszawa,

supaya aku tetap bangkit

menjadi abu-abu kisruh ini,

menjadi misa arwahmu ini.

Surabaya, 8.12.2020

Mengenang Fryderyk Chopin, komposer kelahiran Zelazowa Wola, dekat Warszawa. Ia meninggalkan tempat kelahirannya ketika pemberontakan terhadap Rusia meletus di Warszawa. Beberapa temannya ikut berjuang, ia pergi sebagai ekspatriat ke Paris.


Philosophenweg[2]

Kota itu adalah wanita dewi Alcestis yang kedua buah dadanya

dibelah oleh sungai bernama Neckar. Matahari tak segan berkaca

di sana, kapal-kapal bermotor mengarungi sembari orang-orang

bersimbah Bitburger dan Bratwurst berasap. Bata-bata

sepanjang sungai membekukan waktu, berayun-ayun naik dan turun

ditelan Rathaus tua, toko-toko dan gereja yang beku, terbujur kaku

dan dibalsemi oleh wali kotanya seperti mumi Tutankhamun.

Lengket panas udara mengingat Schiller yang menggandeng

lengan Goethe di jembatan usang bertabur gulma, di situ

para filsuf bertanya mengapa bunga-bunga itu indah.

Waktu itu alun-alun kampus berbanjir para pelajar

berbincang tentang Klausuren, kopi dan sepak bola, berhambur

dari Heilgeistkirche dan kafe-kafe yang menyuguhkan

puisi, ledak tawa dan duka Jerman. Hari itu ada orang mabuk

yang menubrukkan truknya di pasar kota lama.

Sepasang kakek dan nenek duduk di bangku halte, menunggu bus

menuju ke Elysium, bersenandung

“teruntuk bahagiaku” “Toll! Toll!” seru kakek itu dengan pembuluh

di kepala tersumbat oleh busa bir dan air mata.

Si nenek yang mencintainya itu terus mengajaknya berbincang

tentang bus surgawi yang mereka tumpangi, melarikan diri

dari para filsuf Heidelberg yang tersesat dalam rimba

yang ditanam oleh para pemimpi kemerdekaan

tiga abad silam.                                              

Puncak Heidelberger Schloss, April 2018


Bella Ciao!

Copernicus dahulu bersetapak dan menimba sumur bintang-bintang

menenun dunia baru di Piazza Maggiore dan lapangan membentang

Alma Mater Studiorium. Manusia berkepala cahaya, jepret kamera,

bekur dan kepak sayap burung dara, peniup buih

dan pengemis bergumul menjilati gelato warna-warni

dan para pelajar duduk melingkar di jantung Piazza, bersenandung

O partigiano, portami via
O bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!

Dahulu hanya pangeran dan kardinal yang bersekolah di sana,

kini Piazza dan jalanan dibanjiri mereka yang terbuang dari perang

seperti sampah, lari dari letup bedil dan ledakan ayat suci.

Para pelantun lagu itu takut jika hantu Mussolini

kembali mengintai orang-orang buangan,

jika Caesar dan hantu Romawi-nya kembali bangkit dari kubur,

jika angkuhnya dan keagungan oranye, pohon ara, zaitun

dan matahari Italia menghunus pisau pada mereka.

O bella ciao, bella ciao!

Piazza Maggiore, Bologna. Maret 2018


Renungan tentang Friedhof [3]

Kemarin, ilalang itu masih berdarah hijau,

berdansa bersama angin membentuk sketsa bumi.

Taman ini kini megap-megap berjuang hidup, dipenuhi oleh keriput kering dan uap air mata duka bunga-bunga, yang meratapi kawan dan sanak saudaranya yang nyawanya baru tercabut oleh desau liar angin, menebar lara pada jarak.

Di bawah kalut mendungnya langit yang berkabut, paras elok alam sirna diperbudak waktu, dan suatu saat ia akan terlahir kembali dengan watak dan wujud yang lain, yang belum pernah kau lihat sebelumnya.

Gugurnya daun adalah segenapnya menjadi tua dan sekarat, dan langit yang penuh iba itu tiada kuasa berkabung dalam fajar, menabur dingin di tanah kuburan yang damai.

Auranya sesal, lelah dan sakit-sakitan.

Pohon ini, ingatnya, disampiri oleh daun maple yang teduh. Kini gersang, layu menjadi benalu pertiwi. Gugurnya daun berdakwah pada kita, bahwa kita adalah rumpun alam yang dinamis, dihantui siklus yang fana, kerdil mengerdil di hadapan semesta.

Apa arti diri dan kuasa manusia sepadan oleh alam sendiri yang sanggup melahapnya setiap saat, yang sanggup membusukkan harga diri bergemerlapan bagai kejora itu semasa hayatnya menjadi bongkahan daging dalam tanah, yang lalu mengasupi benih-benih bunga dan pohon yang baru hinggap?

Betapa tercengangnya ia, bahwa batang pohon Eiche di pekarangannya mengandung jiwa banyak manusia yang sudah mati. Dedaunan yang tumbuh dan berkeriput dari gairah dan sakitnya, derita dan tawanya. Dan jikalau pohon mengembuskan oksigen untuk paru-paru, tidakkah berarti tiap tarikan napas adalah bagian dari diri manusia terdahulu.

Bukankah kita jua menghirup desau napas Plato yang diembuskan ketika mengajarkan indahnya dunia, desahan kecewa Caesar sembari bertekuk lutut di Galilea, dan embusan penuh kasih Sang Penebus, para nabi dan para imam yang berkhotbah pada umatnya di awal zaman?       

                                                                                                                                                                                                      Musim gugur 2018, Friedhof, Jülich.


Mengenang Perantauan di Jerman

Untuk setiap manusia yang teralienasi. 

/1./

Lonceng gereja putih menyetubuhi angin subuh,

kumandang landai salat membelit langit

Düren terbengkalai. 

Orang turun dari kereta ketika ingat mencari ramai. 

Orang terjun ke rel seperti debu, ingin lupa pada ramai.

Ramai Aachen yang berkerudung abu knalpot bus merah.

Ramai Köln yang memabuk pada sungai kelabunya.

Ramai Düsseldorf yang menyajikan tawa teh boba

dan lengang besi-besinya. 

Di taman kuburan nan damai itu. Di Friedhof.

Mayat-mayat mengantuk diselimuti bunga-bunga

anyelir dan dilintasi para pelari.

Nisan-nisan tegap itu bertuliskan : Mati diminum Pilsner.

Mati dicekik anggur merah. Mati dilahap Bratwurst.

Mati marah-marah pada orang Turki. Mati dicabik-cabik

mimpi perang. Mati bermimpi nyeri kamp konsentrasi.

Mengapa mataku masih melihat

hantu perawan remaja tersedu di nisannya

menyayat-nyayati pergelangannya yang tiada?

/2./

Masih saja kah tentang lubang menganga itu, Berlin?

Kau berseru lantang: “Enyah kau semua, dunia,

orang-orang, dewa-dewa, hakim alam baka,

halte bus berbanjir kendaraan, gedung koran yang angkuh!”

Semua tahu bahwa nyawaku bahkan tak seharga karcis.

Mereka maniskan hari-hari muda dengan video pendek

penuh permen atau dengan bau pesing Pilsner,

uap rokok menjuntai dari mulut orang Oman

di stasiun kereta penuh graffiti. 

Aih, rindu diriku pada kolam dangkal, utopia cepat saji ini.

Hiasi dinding rumah mayamu dengan kata-kata mutiara,

ciuman sayu nan modis, serta foto dirimu

dan pacar cantikmu, bangga telanjang disepuh emas,

mabuk berlinangan oleh peron dan aspal acuh. 

Katedral Berlin masih tegap dingin dan kosong,

seperti dinding yang disemprot pelangi itu.

Ia membekukan jeritan tahun 1989. Mangkuk penampung

jeritan timur dan barat yang berpilin. Jeritan sungai.

Jeritan abu. Jeritan senjata api. Jeritan merdeka.

Jeritan heroin. Jeritan menggebu sepak bola. Jeritan pahlawan

kelamin Schönenberg dari tepi laut seberang. 

Tetapi tetap saja bocah Jerman-Syria melangkah ke jalan.

Ia menjerit dengan air mata peluru senapan. 

Runtuhnya dinding mengkhianati darah pasirnya.

“Aku terlahir sebagai orang Berlin! Aku tumbuh di jalan

orang-orang asing yang dikurung dinding.”

Mengenang korban serangan teroris di Berlin dan Munich tahun 2017 silam. Mengenang orang-orang yang melarikan diri demi merdeka ketika Berlin masih terbelah.


Requiem Buruh Pabrik dari Carrickfergus

Terinspirasi dari balada rakyat Irlandia yang diterbitkan di abad 19, berjudul “Carrickfergus” dan “On The Dawning of The Day

“Apa kabar anak-anakku?” sahut abu diriku yang tenggorokannya

masih terbakar dan terlilit wiski basi, dan kaki itu

mengayuh roda hingga menjadi bulu. 

Puisi rindu yang ia hadiahkan kini rusak dirayap. Ia tak ingat

bunga anting-anting lembayung

seperti senja yang ditanam Carrickfergus, air mata Tuhan itu. 

“Apa kabar diriku?” ia hanya ingat namanya

adalah roda-roda, yang lama-kelama menggilis bibirnya.

Ia hantu yang terjebak di dinding pabrik,

jarum jam pingsan yang terus berdetik, matahari yang terus

terbenam terbit.

Adakah letih dan duka di dalam seorang matahari? 

Di ujung jalan, Brick Lane yang menganga di mulut malam,

telinganya tampak sebagai calincing kupu membalas dendam.

Kupu-kupu hitam legam. Mungkin kupu itu haus,

haus beterbangan sampai kiamat nanti. 

Kau, anak-anakku, sungguh ingin menangkapnya.

Tapi yang kau tangkap hanyalah suam-suam debu mayat kelelahan. 

Malam itu hening. Meradang ke dalam sisa tidurku.

Dalam hening kusimak malaikat yang tak kukenal

berambut hitam, merajut doa yang berpuing keping,

menjerit: mereka memberontak pada makam-makam

yang berkisah tumpukan abu yang rindu

pada laut merdeka Belfast dan retak dedaunan. 

Andaikan jasadku terbenam di Carrickfergus,

surga yang merintih dengan lagu laparnya itu.

Surabaya, Juli 2020


Sarita Rahel Diang Kameluh, lahir di Surabaya, pada tanggal 10 April. Menempuh pendidikan di jurusan Teknobiomedik di FH Aachen, Jerman. Beberapa karyanya tersiar di media daring dan cetak.


[1] Jenis lagu rakyat Polandia untuk berdansa.

[2] sebuah jalan tua bersejarah sepanjang 2 km di kota Heidelberg di dekat kampus utama, membelah dua sisi kota dan mengarungi sungai Neckar. Jalan ini terkenal sebagai tempat diskusi, merenung dan perolehan ilham para filsuf Jerman ternama.

[3] Friedhof dalam bahasa Jerman berarti “kuburan”. Di dusun Jülich terdapat lahan kuburan yang teduh dan penuh bunga-bunga, mirip dengan taman. Di lahan itu terdapat gereja tua kecil bercat putih dengan menara lonceng menjulang.

Cerpen

Perawan Rumah Suci

Cerpen Romi Afriadi

“Kalau kau nanti jadi biarawati, pasti kita akan jarang bertemu.”

Eben Mare masih mengunyah lepat yang dilahapnya dengan nikmat. Itu sudah bungkus keempat yang ia tandaskan. Eben Mare memang merasa terpukau dengan tampilan lepat yang dibungkus daun pisang dan menemukan isi yang manis dari parutan kelapa di dalamnya. Ia menikmati semenjak dulu pertama kali mencicipinya. Tapi itu tak mampu mengusir sendu di matanya.

“Bukannya kamu juga mau jadi polisi, wajar saja kita akan jarang bertemu.”

Estin, gadis di sebelahnya menjawab. Bedanya, gadis itu mengucapkannya dengan intonasi biasa. Tak ada penekanan berlebihan, layaknya Eben Mare barusan. Sebab, semenjak lama ia sudah menanti dengan sepenuh hati kesempatan menjadi biarawati di Rumah Suci. Mengabdi di gereja, menjadi pelayan Tuhan dengan meninggalkan semua kehidupan duniawi.

“Apakah kau akan balik lagi ke sini setelah jadi biarawati?”

Estin menggeleng, bukan karena ia menjawab tidak, tapi tepatnya entahlah.

Ingatan Eben Mare malah berpulang pada tahun-tahun nan lampau. Saat mereka sama-sama baru tiba di kota ini, dan tempat ini baru hitungan sebelah jari mereka datangi. Estin pernah bilang, bahwa kota ini tak memberinya kesan yang baik. Hanya ada tanah gersang yang penuh minyak, air jernih yang susah didapat, hawa panas yang menyengat, laut yang tak menyimpan banyak ikan. Kalau pun ada yang ada pantas ia banggakan, adalah pelabuhan internasionalnya yang dihinggapi banyak kapal, yang senantiasa pula memuntahkan dan menelan ratusan orang dari segala penjuru. Agaknya waktu tak jua mampu mengubah penilaian Estin.

“Kalau aku sepertinya akan tetap kembali ke sini, setidaknya sekali setahun saat perayaan Natal,” ujar Eben Mare tanpa didahului pertanyaan apa pun, suaranya masih sendu.

Estin paham, orang tua Eben Mare sejak tahun lalu memang memilih menjadi warga tetap kota ini. Saat jabatan ayahnya semakin penting di kantor syahbandar, mereka sepakat untuk meletakkan kota ini sebagai bagian dari masa depan. Berbeda dengan Estin yang tinggal di kota ini dengan pamannya. Sejak kedua orangtuanya meninggal secara tragis lewat insiden berdarah di negeri ini nyaris dua dekade lalu. Rumah dan toko mereka dibakar oleh orang-orang dengan wajah mendendam. Belakangan, Estin tahu, wanita yang sebangsa dengannya juga diperkosa ketika itu. Momen itu membuat kehidupan Estin berpindah-pindah dengan keluarga pamannya.

“Apa kau tak ingin mengunjungi tempat ini lagi?”

Estin tahu kesedihan Eben Mare. Sejenak ia menatap wajah Eben Mare yang masih mengunyah lepat, tapi kali ini dengan kunyahan yang payah.

“Kamu udah mau jadi polisi kok masih cengeng.”

“Aku tahu kamu tidak punya banyak alasan untuk kembali ke kota ini,” balas Eben Mare mengabaikan pendapat Estin.

“Tenang saja. Jika memungkinkan, aku akan tetap kembali ke sini. Menjenguk paman dan bibi, mengunjungi sepetak tanah kosong ini, lalu sekalian menemuimu.”

Kali ini Eben Mare menatap dengan mata berbinar, lebih-lebih saat didapatinya Estin tersenyum. Senyum yang pertama kali ia lihat di minggu-minggu pertama ia datang ke kota ini. Ketika itu, Eben Mare nyaris tak punya teman, ia kerap dikucilkan, dianggap tak layak bergabung dengan teman sebayanya karena statusnya yang bukan anak asli sini. Sementara Estin menjadi manusia linglung karena tak ada satu pun dunia yang sanggup menghiburnya. Bagaimana pun, Estin masih sukar menerima kenyataan, ia telah jauh meninggalkan teman-teman sepermainannya di Tapanuli.

“Sore saat dulu pertama kali kau menemukan aku di sini, kau persis tersenyum seperti sekarang.”

Estin jadi tertawa kecil mendengarnya, ia membenarkan letak anak rambutnya yang dikibas angin. Estin mengingat sore itu, hari paling berkesan baginya sejak menjejak kaki di kota ini karena menemukan kawan seperjuangan. Pada sebuah tanah kosong yang ditumbuhi ilalang, persis di sebelahnya ada lapangan sepakbola.

“Kenapa kamu tak ikut main,” tegur Estin. Dulu.

Eben Mare menoleh sebentar, tapi tak langsung menyahut.

“Biasanya anak lelaki yang tak ikut main bola itu anak yang cengeng,” lanjut Estin.

“Katanya aku ini anak baru, belum bisa ikutan main,” jawab Eben Mare dengan mata nyalang. “Awas saja! Aku akan buat perhitungan dengan mereka semua.”

Itulah saat Eben Mare melihat Estin remaja tersenyum. Senyum yang mengubah dunia Eben Mare sesudahnya.

***

Malam itu Eben Mare memutuskan untuk tidak pergi ke gereja mengikuti misa malam Natal, ia justru memilih berkunjung ke sepetak tanah kosong itu. Ilalang-ilalang sedang meninggi, rumput di lapangan bola juga ikut memanjang. Dari situ, Eben Mare bisa mendengar nyanyian-nyanyian kudus bersenandung memuji Tuhan di gereja. Berpadu pula dengan suara azan yang baru saja usai memanggil-manggil jamaah melaksanakan Isya.

Ini tahun kelima semenjak mereka sama-sama meninggalkan kota ini. Estin pergi dan mengabdi pada salah satu Paroki Keuskupan di Bandung. Sementara Eben Mare merintis karier menjadi polisi.

Rencana Eben Mare untuk sekadar merayakan Natal bersama Estin tak kunjung terealisasi sejak itu. Setiap tahun, ada saja hambatan yang memaksa mereka harus berjauhan. Eben Mare sebisa mungkin memang meminta cuti libur pada perayaan Natal, dan memilih balik ke kota ini. Cuma sekali ia tak pulang, karena pada tahun itu ia jadi saksi dalam persidangan seorang pejabat yang tertangkap oleh KPK. Sialnya, pada tahun itulah Estin memilih kembali, berselang beberapa hari setelah pamannya meninggal.

“Barangkali kau telah lupa tempat itu.”

Eben Mare pernah mengirim pesan pendek pada Estin di handphone-nya. Sebulan kemudian, barulah jawaban muncul.

“Aku bukannya tidak mengingat, tapi kesibukan di gereja benar-benar memangkas hubunganku dengan dunia lain.”

Kadang Eben Mare sering bingung, untuk apa ia masih menanti kedatangan Estin yang nyaris mustahil. Ia paham, menjadi biarawati berarti mencabut semua urusan lain selain yang berkenaan dengan Tuhan. Itulah mengapa Eben Mare kadang benci dengan pilihan Estin. Pada kenyataannya, kondisi itu mengharuskan impian-impian yang dulu dicanangkannya serasa hambar. Eben Mare kadang berpikir, Tuhan merampas Estin darinya.

“Kau tahu, menjadi biarawati merupakan keinginanku sejak lama,” akui Estin dalam salah satu pesannya.

Eben Mare masih tak mengerti dan tak ingin memahami keputusan itu. Baginya, menjadi biarawati berarti mengisi hari-hari dengan kehampaan sekaligus kesunyian. Betapa hidup akan sangat monoton. Sejak kecil, ia memang merasa bukanlah manusia yang taat. Jarang berkunjung ke rumah Tuhan, meski orangtuanya selalu mewanti-wanti tiap Minggu pagi.

Jika sampai Estin memutuskan mengucapkan janji kaul untuk menjadi suster abadi, otomatis ia tak akan menikah seumur hidup. Entah mengapa, Eben Mare merasa hidupnya serasa sial kalau sampai itu terjadi.

“Proses menjadi biarawati abadi itu sungguh panjang.” Tetiba Eben Mare jadi ingat salah satu perkataan Estin. “Pertama harus masuk masa Aspiran dan Postulan, semacam masa persiapan, lamanya masing-masing setahun. Setelahnya baru masuk masa Noviciat, katanya pada saat itu para suster akan dibekali bagaimana hidup dengan doa dan bermeditasi.” Panjang lebar Estin menerangkan. Tak satu pun dipahami Eben Mare. “Nah! Setelah itu barulah para biarawati mengucapkan kaul perdana dan dianggap sebagai anggota resmi biara.”

Eben Mare tidak akan terkejut jika Estin akan mengejar keinginannya menjadi suster abadi. Apalagi sekian hari, Eben Mare merasa Estin kian berjarak dengannya. SMS-nya lebih sering diabaikan. Termasuk pesannya terakhir sebelum pulang kemarin. Niatnya untuk mengajak pulang Estin bersama tak pernah mendapat jawab, meski Eben Mare terus menunggu hingga ruang tunggu bandara.

***

Sehari setelah perayaan Natal usai, Eben Mare memutuskan untuk kembali ke kantor, lebih cepat dari jatah cuti yang didapatnya. Tapi saat melangkah keluar rumah, Eben Mare dihadang saudara sepupu Estin sambil mengulurkan amplop.

“Kak Estin mengirim surat untuk Bang Eben.”

Eben Mare menerima surat itu, membacanya lekas.

Semoga kebaikan selalu menaungi kita.

Aku tidak tahu berapa lama lagi sanggup berada di biara ini. Sepertinya memang bukan di sini tempat terbaik untukku melanjutkan hidup. Maaf Eben, aku tidak pernah jujur padamu. Aku tahu semenjak dulu kau tak pernah suka dengan ide aku menjadi biarawati. Ternyata kau benar, meskipun barangkali, apa yang aku alami di biara sama sekali tak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya. Biara tak ubahnya tempat bersemayamnya seorang pastor bermuka dua. Di saat tertentu ia menjadi imam para jemaat, tapi di lain kesempatan ia menjelma serigala yang merenggut kehormatan para suster.

Ya, aku sekarang bukan lagi orang yang suci, Eben. Bertahun-tahun aku disuruh bungkam, sembari terus melayani nafsu bejat seorang pastor. Gerak-gerikku selalu dimatai, bahkan aku dilarang berkomunikasi dengan siapa pun di dunia luar.

Jika surat ini sampai kepadamu, itu tandanya petugas keamanan di gereja ini berhasil menyelundupkan dan mengirimnya dengan baik. Barangkali ia merasa iba denganku, dan aku bersyukur setidaknya masih ada orang baik di sini..  

Aku merasa berada di neraka saat ini.

Ada yang basah di mata Eben Mare. Ia meremas surat itu sebelum melemparkan ke bandar depan rumah. Terngiang lagi percakapannya pada Estin.

“Kalau menjadi biarawati, berarti selamanya kau akan jadi perawan?”

Estin hanya menanggapi dengan senyuman kala itu. Tapi sekarang air mata Eben Mare justru makin deras menetes, tersebab kesedihan sekaligus kemarahan. Sebab sekarang Estin bukan lagi perawan, dan itu justru tanggal di rumah suci. ***


Romi Afriadi, dilahirkan di Desa Tanjung, Kampar, Riau, pada tanggal 26 November. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Beberapa cerpen dan tulisannya pernah tayang di media online dan cetak. Saat ini, penulis tinggal di kampung kelahirannya sambil mengajar di MTs Rahmatul Hidayah, dan menghabiskan sebagian waktu dengan mengajari anak-anak bermain sepakbola di SSB Putra Tanjung.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Membincangkan dan Mendengar Kitaro: Theme from Silk Road

kau susuri gerbang kematian.

diiringi tangis, juga doa-doa,

lewat bau dupa.

seseorang menghidu bau kehilangan,

seorang yang lain menenangkan,

dan seseorang lagi memalingkan muka

sekaligus mengamini (karena benci?).

akan ada raung sirine

mengiringi kepergian yang tak tahu kapan kembali.

kembali, barangkali sepiring kwetiau atau  mapo doufu di mangkukmu

dan kau lupa melahapnya

sebelum benar-benar pergi.

tibalah waktu kremasi.

di krematorium, segala yang kau punya, segala yang kau miliki,

lenyap.

terbakarlah tubuhmu menjelma abu.

—“kapan waktu terbaik reinkarnasi?” tanyamu.

barangkali ketika karma tak lagi menimpamu.

hingga akhirnya, kau tahu orang-orang yang menangisi, mencintai,

dan membencimu di Thiong Ting hingga persemayaman terakhirmu.

—“mengapa?”

sebab, karma adalah bom waktu.

meledak ketika kau menyadari bahwa kematianmu

tak lain adalah hal yang paling kau tunggu.

setelahnya, hanya tinggal kesedihan semata.

kepergianmu menyisakan duka.

tapi kesendirianmu di ‘dunia lain’

ialah kedukaan sesungguhnya.

matimu, menyusuri jalan ini.

hanya ada sunyi. hanya ada sepi.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kemalasan yang Kian Akrab

pernah kujumpai kau dalam lelap.

ketika kau bermata puisi dan bersuara minor.

seperti Buddha tidur,

tak dapat kubaca apa pun

selain puisi-puisi yang kulihat

dan suara yang jauh.

sama halnya di bukit Khao Kala,

tak ada yang benar-benar mustahil.

sebab manusia tak selamanya bicara tentang manusia

tidur tak ubahnya upaya telepati

antara aku, kau, dan ‘ia yang lain’.

atau, sebatas alasan

agar tak terjaga tiba-tiba.

kemalasan kita,

tak terlihat dan tak bernada.

tapi, aku masih setia mengeja

dan tentu, mendengar apa-apa yang tak bersuara.

mimpiku, mimpi paling lengkap

ketika kudapati kau membaca puisi

dan berkhotbah ihwal cinta,

juga pernikahan yang biasa-biasa saja.

(Solo, 2019)


Membincangkan Perpisahan

kata-kata belum selesai disusun

ketika kereta membawamu pergi.

aku memanggilmu,

punggung menjauh yang menjawabku.

ia berkata ‘cinta’

tapi tak tahu cinta macam apa

yang dikatakannya.

semula, kau meminta pergi

tapi pergi, bagiku, ialah memecah waktu.

menjadi remah jumpa

juga jadi air mata setelahnya.

di peron, seekor burung berkicau

merapal namamu.

tanpa nada. tanpa suara.

kau telanjur pergi,

kata cinta yang harusnya kumaklumi

tiba-tiba jadi belati.

mencacah ingatan.

menjadi debu. menjadi batu.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Pernikahan

sejak orang-orang mulai menyusun rencana pernikahan.

semenjak mereka menginginkan.

aku memilih memejamkan mata.

            : untuk tidur lebih awal.

bahwa pernikahan nisbi sebuah agama.

kita bisa saja memeluknya.

namun tak bisa memaksa mengamini.

kelak suatu pagi,

aku dan kau

pergi ke tempat di mana kau biasa memanjatkan doa.

kau memegang kitab suci dan membacakannya untukku.

di hadapan Tuhanmu, kau merapalkan untukku:

Tuhan, ampunilah segala perbedaan.

lantas kusampaikan pada Tuhan,

kami kelaparan

: pelukan.

(Karanganyar, 2018)


Membincangkan Rencana

yang tak dapat kita tata dengan baik adalah rencana.

sebab setiap detiknya, seperti jantung yang bekerja.

berhenti sebentar, mati akan mengunjungi.

sebelum benar-benar kau pergi,

lipatlah kedua lenganmu.

di sana, telah kau rengkuh aku.

mengapa kita masih saja bercakap?

keputusan bukan keputusasaan.

kita berbicara dan masing-masing dari kita

bebas bersuara. dan tentu, bertukar isi kepala ialah jawabnya.

langkahmu langkah yang limbung.

seperti lelaki tua yang mabuk.

anggur merah, jamur, dan sedikit obat sakit kepala

tak bisa menyelamatkan perjalanan kita.

sebab hanya pikiran kita, dan mungkin, cerita-cerita

yang benar-benar mampu memperbaiki keadaan.

tak ada salahnya mengumandangkan omong kosong.

sebab dari sana, cerita-cerita bermula.

kelak, rencana yang kita susun

tak selesai di kata rencana.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Mimpi

langit, kadang jadi laut.

menampung gelisah sekaligus amarah.

seseorang datang dari masa depan berseru,

“gantungkan cita-citamu setinggi langit!”

seseorang itu lupa bahwa Tuhan ada di sana.

cita-cita, hanya dapat terwujud

jika kau kenal Tuhan.

Ia telah mengenalimu

sebelum kau ada.

apa kau demikian adanya?

mimpimu menggulung.

mendamparkan ke tepian.

takdir, barangkali air pasang.

ia menyisihkanmu.

agar kau tahu,

mimpimu ialah aku, kau,

atau sesuatu yang sebenarnya

tak pernah kau kenali sebelumnya.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Suara di Ponselmu

“lekas pulang.

ibu sudah memasak makanan kesukaanmu.”

suara itu masuk ke ponselmu.

di kepalamu, meja makan menanti kedatanganmu.

nasi hangat, sayur bayam,

juga sepotong ingatan yang memudar.

kau mengambil sepiring nasi.

kau mengingat bentang sawah

dan di sana masa kecilmu kau habiskan.

kau menuang kuah sayur bayam.

tapi kau tenggelam.

dalam. semakin dalam.

tenggelam pada hati ibumu.

kau membaca ingatan yang tersisa.

ibumu, telah lama tiada.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Teka-Teki

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Karanganyar, 2020)


Membincangkan Barzanji

: suara anak-anak Palestina

pernah kudengar gema di langit

dan setelahnya, kembang api mekar.

seketika seluruhnya sirna.

rumah, mimpi, dan kebahagiaan perlahan susut.

runtuh dan gugur satu demi satu.

kuucap dan kurapal doa. tak henti-henti.

tiap detik, tiap menit, tiap detak, dan tiap embusan napas ini.

agar di sini, di tanah ini, kami bisa berbahagia.

kebahagiaan, adalah ketika kau diberi harapan

dan apa yang mereka beri bukan semata janji.

kadang, harapan hanya semata sesaat legawa,

tapi di hari berikutnya, mimpi itu pupus dan kembang api, lagi dan lagi menghujani.

sebab di sini, di tanah ini, ego jauh lebih penting daripada nyawa kami.

mereka menyerukan perdamaian

diiringi dengan mesiu yang terlontar dari senapan.

mereka menyerukan kekerabatan

diiringi kehancuran yang sengaja mereka kirimkan.

tapi di sini, kami tak menanam benci.

sebab hanya Allah yang berhak menghakimi.

hanya doa dan pinta yang tak ada jeda

tiap detik, tiap menit, dari bibir dan hati ini.

juga tak henti kami lafalkan barzanji.

sebab hanya Allah yang mampu melindungi dan menyelamatkan kami.

(Karanganyar, 2021)


Membincangkan Kunjungan Batara Kala

1/

seandainya bencana itu tidak datang, Kunti

barangkali langit akan tetap bergema dan kegelisahan-kegelisahan

yang menyelimutimu tak akan sampai membuatmu putus asa.

sebab dalam kebencian yang telanjur menyebar,

semua harapan yang telah kau bangun pupus.

Batara Kala telanjur tiba.

ia datang entah sebagai hukuman atau ujian.

keduanya tak ada beda.

seluruhnya membuat sengsara.

2/

perang, juga pagebluk,

adalah bentuk lain dari doa yang gagal terjawab.

Kuru telah jadi ladang perang.

kunjungan Batara Kala menjelma kutukan.

ia tiba sebagai wabah yang menjalar.

dalam hatimu, semula ialah taman bunga.

anak-anakmu hidup dan tumbuh di dalamnya.

tapi tak berselang lama, bunga-bunga di hatimu layu.

sebab tabiat anak-anak yang tak sesuai kehendakmu.

—pageblug mayangkara murup mulat-mulat.

3/

kegelisahan bukan hanya semata dalam dirimu, Kunti.

: hati Durna tak jauh beda.

kedamaian pada dirinya menjelma api.

disulut perangai murid-murid yang tak tahu diri.

kini,

kenyataan harus kau terima.

sebab, di seberang sana,

serapah dilafalkan agar kematian lekas datang.

sementara di sini, di tanah yang kau pijak, tak jauh beda,

doa dirangkai sebab benci telanjur tumbuh di hati.

agar kelak, Pandawa berjaya dan Kurawa sirna.

—apakah maksud kedatanganmu Batara Kala?

4/

pertanyaan, adalah jawaban dari tak sempurnanya doa.

dari sana, pertanyaan yang terlontar ialah jawaban itu sendiri.

jawaban tak ubahnya kepingan teka-teki.

bukan hanya kau yang mengajukan tanya, Kunti, Durna juga

: ia tak paham kenapa.

Pandawa dan Kurawa,

tak ubahnya seperti burung yang tak mengenali jalan pulang.

selepas kunjungan Batara Kala.

mereka lupa muasalnya.

lantas Kurusetra membara.

Batara Kala telanjur tiba,

perang dan pagebluk kini nyata di depan mata.

Kunti, kau harus ikhlas untuk seluruhnya.

(Karanganyar, 2021)


Eko setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Mahasiswa Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), & Mengunjungi Janabijana (2020). Buku puisi Mengunjungi Janabijana memperoleh penghargaan Prasidatama 2021 dari Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Antologi Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa baik lokal maupun nasional.