Cerpen

Taman Dasar Kali

Cerpen Kiki Sulistyo

Apa yang dicari seorang perempuan, lepas tengah malam, berdiri di tepi jembatan, hanya memandang ke bawah, ke alir air kali yang hitam oleh limbah, ketika hampir semua lampu-lampu rumah sudah dipadamkan? Aku melihatnya. Beberapa meter saja dariku—dan semakin dekat seiring kakiku melangkah. Aku tak tahu mengapa mesti terburu-buru. Mungkin karena gelap membuat jantungku berdegup lebih kuat. Mungkin sebab sempat kulihat langit telanjang tanpa bintang, seperti pertanda hujan bakal datang. Aku seperti baru sadar, aku tak sendiri di kawasan ini. Dengan sekuat niat kutahan laju kakiku, aku tak mau maju. Bisa jadi perempuan itu sejenis hantu penunggu, atau penderita gangguan jiwa yang takkan merasa dosa bila menghilangkan nyawa.

Tapi kami sudah telanjur dekat ketika aku berhenti. Dua depa saja. Jarak segitu cukup untuk membuat dadaku tembus peluru atau terhantam batu. Perempuan itu barangkali akan melemparkan tubuhku ke kali—tentu, setelah puas mencabik seperti mencabik bantal kapas. Atau bagaimana jika ternyata dia zombie yang baru jadi? Dia pasti sangat lapar dan tak sabar menunggu mangsa dengan menyamar jadi manusia biasa.

Sebaiknya kuhapus pikiran macam itu sebelum melompat keluar dan berubah jadi kenyataan. Tak ada tanda-tanda luka di tubuhnya. Dia berdiri sebagaimana orang biasa berdiri. Punggungnya tegak, jari-jarinya yang memegang besi jembatan kelihatan halus terkena sinar lampu jalanan. Dia tak menoleh seakan tak menyadari ada aku yang berdiri bagai lilin siap meleleh. Bimbang akan terus berjalan atau menyapanya pelan-pelan, aku menghabiskan sekian menit di mana jalan terasa sempit dan besi jembatan seakan menjepit. Namun segera, bagai menghapus lamunan yang sementara, kuputuskan untuk meninggalkannya. Lagipula, aku teringat lampu kamar yang belum dinyalakan serta makanan sisa siang yang mungkin sudah dikerubung semut hitam.

Baru dua langkah menjauh, selembar suara jatuh ke gendang telingaku. Suara itu lemah, tapi dalam suasana senyap, suara yang lemah bisa terdengar bertenaga. Perempuan itu memanggil dan berkata, “Kenapa berlalu seperti itu?” Aku berhenti melangkah, dia kembali menambah. “Sini, berdirilah di dekatku. Ada sesuatu yang mesti kau lihat.” Perempuan itu menoleh padaku, aku menoleh pada perempuan itu. Aku lihat wajahnya, dan harus kukata, wajah itu sejelita bidadari yang sering kutemu dalam mimpi, dulu saat aku masih seorang bocah kecil yang suka mendengar cerita tentang surga.

 “Ya?” tanyaku berujar seolah-olah tak mendengar. “Lihatlah,” tanggapnya singkat. Aku terpaksa mendekat. Terpaksa sebab kukira tak ada guna untuk tak percaya, dan wajahnya yang jelita—o, penguasa semesta!—membuatku tak berdaya. Aku berdiri di dekatnya, memegang besi jembatan dan menoleh ke kiri untuk kembali melihat wajahnya. Aku akan rela selama-lamanya menatap wajah itu dan jika aku masuk surga nanti, di antara semua bidadari, sudah pasti kupilih bidadari ini. “Jangan melihatku. Lihat saja ke bawah, ke air kali yang hitam oleh limbah,” katanya. Aku malu, seakan-akan ia tahu apa yang terbersit di pikiranku. Maka kualihkan pandang, ke bawah jembatan, di mana air bergerak menuju laut dan suatu ketika akan terangkat ke udara sebagai uap, sebelum jatuh kembali menjadi air yang meluap-luap. “Jangan berpikir terlalu jauh. Coba tatap air itu, kau akan melihat sesuatu,” katanya. Baiklah, akan kuturuti kemauannya, meski aku belum mengenalnya, meski aku belum tahu apa yang ia sebut sebagai sesuatu itu.

Mula-mula tak ada yang istimewa. Lebih tepatnya tak ada yang bisa dilihat kecuali air kali yang memang hitam dan semakin hitam karena malam. Sesekali permukaan air bergelombang dan cahaya lampu memercikkan terang, tetapi tetap tak ada apa-apa. Aku memutuskan bersabar ketika sejenak kemudian sesuatu tampak mekar dan muncul dari dasar. Bentuknya seperti mawar, tapi warnanya ungu dan ukurannya terlalu besar untuk disebut mawar. Lantas pelan-pelan di sekitar mawar besar itu muncul aneka bentuk tanaman. Kunyalangkan mata agar yakin aku tak salah penglihatan. Benar. Aku tak salah. Semakin terang kelihatan bahwa di dasar kali itu ada taman. “Bagaimana bisa ada taman di dasar kali ini?” tanyaku, sebenarnya, entah pada siapa. Karena di sana hanya ada kami berdua, perempuan itu menjawab, “Entahlah. Tapi bukankah itu bisa jadi tempat yang indah untuk menghilangkan lelah?”

Aku perhatikan lagi taman itu. Sekarang dapat kulihat beberapa bangku diletakkan dalam jarak tertentu. Lalu ada kupu-kupu, lebah madu, dan burung-burung kecil berbulu biru. Sungguh suatu taman yang teduh, pasti menyenangkan bisa berada di sana, melupakan kepenatan kerja, menghirup udara bersih tanpa karbon monoksida. Tapi pasti semua ini hanya ilusi, bagaimana mungkin ada taman di dasar kali. Kukira malam sedang bersiasat, menghadirkan bidadari ini agar aku mengalami halusinasi. “Kau pasti mengira ini cuma ilusi. Akupun begitu waktu pertama kali. Tapi karena setiap kali aku ke sini, taman itu selalu muncul kembali, aku jadi percaya kalau taman itu benar-benar ada,” ungkap si bidadari, lagi-lagi seperti mengerti isi pikiranku. “Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku. “Siti,” jawabnya sesingkat kilat di langit tinggi.

Siti, seperti nama perempuan pertama. Apakah namanya Siti Hawa? Ah, kukira Siti saja cukuplah sudah. Sekarang aku harus berpikir, bagaimana semua ini akan berakhir. “Apakah kau tertarik untuk pergi ke sana?” tanyanya tiba-tiba. “Ke mana? Ke sana?” tanyaku balik sembari mendelik ke arah taman yang kian tampak terang. “Iya, ke taman itu. Sudah lama aku menanti ada yang mau menemani.” Siti si bidadari mengulum senyum. “Tapi…” kalimatku belum usai ketika ia berkata kembali, “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, barang siapa mau menemaniku ke taman itu, akan kujadikan kekasihku. Tak peduli ia perempuan atau laki-laki. Aku akan mencintainya serta menyerahkan seluruh hidupku padanya.” Sungguh, itu deretan kalimat yang membuatku lupa bahwa suatu hari dunia akan kiamat. Sudah lama kubayangkan seorang perempuan berkata seperti itu kepadaku, bahwa ia akan mencintaiku dan menyerahkan seluruh hidupnya hanya untukku. Apalagi kalimat itu keluar dari bibir seorang bidadari, seluruh hidupku yang penuh getir akan tegak berdiri bagai kebenaran di hadapan para tiran. Mungkin ia bisa menghilangkan kesadaran, tapi bagiku ia bisa juga memberi kesadaran baru. Kesadaran bahwa tak ada yang mustahil di dunia, termasuk adanya taman di dasar kali.

Maka ketika Siti si bidadari meraih tanganku, tanpa ragu-ragu kami naik ke besi jembatan, lalu melompat cepat menuju air kali yang bergerak lambat. Terdengar suara benda jatuh ke air seakan-akan bukan kami yang menyebabkan. Kali ini cukup dalam, dan aku baru ingat tidak pernah belajar berenang. Siti melepas pegangannya dan seketika menghilang. Aku gerakkan tubuh sebisanya, sia-sia, semakin aku bergerak semakin kuat air menarikku ke dalam. Air masuk ke mulut dan hidungku, napasku terasa berat, dunia seperti melesat ke luar dari tubuhku. Kukira aku akan mati, takkan ada yang membantu. Sebelum itu, biar kumaki dulu diriku sendiri, kumaki kebodohan yang telanjur bersarang dalam diri ini.

Tapi aku tak jadi mati. Aku hanya merasa ringan, seakan seluruh bobot telah dicopot dariku. Dan taman itu memang ada. Sungguh-sungguh nyata. Sekarang aku sedang berjalan di atas rumputnya yang lembut. Kucium aroma aneka bunga. Harum dan segar. Di tengah-tengah taman, di hadapan bangku panjang, mawar besar berwarna ungu itu dapat kusaksikan. Benar-benar cantik hingga tak mungkin terbersit pikiran untuk memetik. Tapi, di mana Siti? Apakah ia ada di sini? Apakah ia lebih dulu tiba dan kini sedang menanti? Aku berjalan mengitari keluasan taman. Tak kusangka taman ini sungguh luas, nyaris tak berbatas. Tak kutemukan siapapun, aku benar-benar sendirian. Barangkali Siti tak berhasil sampai di sini. Barangkali seseorang melihatnya jatuh ke kali dan segera membantunya menepi. Perasaan sepi pelan-pelan membesar, tak ada yang bisa kulakukan kecuali menanti dengan sabar, mengikuti arus waktu yang bergerak melingkar. Aku tak tahu berapa kali sudah waktu berputar.

Pada saat-saat tertentu kuarahkan pandang ke atas. Samar kulihat sampan-sampan melintas, lalu di tempat yang lebih tinggi kendaraan lalu lalang melewati jembatan. Dan bila malam telah tua, dapat kusaksikan seorang lelaki dan seorang perempuan berdiri di tepi jembatan, menatap ke bawah, ke arah tempatku berada. Apakah itu Siti? Dan siapa lelaki di sampingnya? Kenapa tampak mirip denganku?***

Kekalik, 13 April 2019


Kiki Sulistyo meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, di Mataram, Nusa Tenggara Barat. 

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Empat Surat Keluh di Musim Peluh

1

Sawah-sawah berwarna kuning tua

dengan kulit tanah bengkak dan berduka

kaum kaum tani gerah, tak lelah, tak keluh

memanggil-manggil hujan tiba, agar segala

yang bernama kemarau di langit, basah

menjadi pohon hujan di bumi.             

2

            “Langit sudah lama tak menangis ibu,

            aku sudah hampir mati di tanah ini.”

Serunya riscik anak-anak kencur, ketika tiap hari tubuhnya

terbakar, terpenjara bara api tangan-tangan raja matahari

namun kelebat angin hanya panas dan waktu resah

mencatat keberingasan tuan kemarau menjajah.

Sedang di dalamnya orang-orang berjalan ke sana ke sini

meneriakkan perih keringat mereka ke jalan-jalan waktu.

.

3

            “Tuhan, dari dalam tanah, rinduku membeludak dalam ingatan  

mencium wangi kesegaran lumpur sawah atau mengecup bibir kali-kali

kecil mengaliri persawahan.”

Dengungnya doa katak-katak yang sedang mati suri dalam goa

pesembunyiannya itu.

Atau mungkin mereka telah paham: bahwa

hidupnya tak bertahan jika tak bertuhan pada

musim hujan.

2019


Monolog Asap

Cara hidup yang sia-sia adalah menjadi diriku

di sepuntung rokok yang menyala:

tubuhku putih terbang tanpa sayap

bisa dipandang tak dapat kau pegang.

Namun aku kerabatmu siang-malam

setelah usai makan atau ketika kau

menulis puisi bersanding kopi malam.

Sementara kenapa Tuhanku banyak di duniamu

padahal Tuhanmu satu: namun bergelantungan pada

            hati di mana-mana. Sedangkan saat ini

kau Tuhanku semenit dalam sendiri

namun tidak tahu esoknya lagi.

Makin lama kauhisap tubuhku malam ini

makin bingung aku pada diriku sendiri

di puntung rokokmu yang hampir habis.

Mengapa hidupku hanya sekejap tiap kau hembusan

 aku ke udara dengan nikmat.

Padahal aku lebih nyata dari bayang-bayangmu

ingin rasanya aku menjadi bagian dari kekekalanmu di sini:

walau pada akhirnya kau mati di bumi dan aku wafat di udara.

Asap, bagiku kau angin perpisahan:

datang dan pergi hanya untuk

menitipkan rasa sesak kehilangan

pada jantung perempuan.

Kataku pada asap penghabisan–sebelum kubenturkan kening

puntung rokok surya ini

                        pada dinding asbak tanah liat.

2019


Sabda Batu Kapur di Bukit Badur

Aku hanya batu-batu kapur tak bernyawa

            namun tangan-tangan kuli bangunan

menyulapku bersenyawa dengan

air,

semen

dan

tanah

yang menjadikannya rumah.

Walau tubuhku tak sekekar karang di hati lautan

tubuhku hanya sususan bayi-bayi

kapur yang dikeraskan suhu dan waktu

di Bukit Badur sana.

Namun putih wujudku yang dikekalkan kebisuan ini

makin akrab dengan tangan-tangan pembangunan

semenjak akal manusia mulai mempelajari peta

— peta arsitektur ruang teduh di muka bumi.

Pada saat itulah tubuhku mulai dijual-belikan

oleh orang-orang lereng Bukit Badur. Sebab aku bagi

mereka otot-otot bagi dinding-dinding rumah

yang baru didirikan.

Namun menjadi batu kapur tidak segampang mobil-mobil

boks mengangkut potong-potongan tubuhku ke desa-desa atau ke

kota-kota pembangunan.

Sebab menjadi batu harus terbuang dari sekumpulannya

di Bukit Badur. Di saat setiap hari kulit perut bukitku

di garinda demi sebuah batu seperti diriku saat ini:

yang menjadi pertapa tua di rahim dinding-dinding rumahmu

yang kian lapuk dan purba.

2019


Nasib Jengki yang Terlupakan

Orang-orang lebih memilih cepat bermotor

daripada lambat namun sehat bersepeda.

Seperti keasinganku di gudang tua kini;

                        hanya menjadi barang kuno

                        atau barang bekas yang tak

mempunyai harga diri di jalan mulus.

Mungkin aku hanya jengki lusuh:

bertulang besi dengan tubuh kurus berkarat

berlari sendiri menuju kelam

masa silam–menjadi kenangan kini.

Kemudian aku kembali lagi sebagai

tulang besi langka di ruang-ruang mewah:

namun bukan lagi menjadi barang

tunggangan manusia.

Sebab aku terlalu kurus dan lemah bagi

jalan zaman yang sudah gemuk dengan

motor-motor kencang berkaki empat, tiga

dan dua menyesaki dada lorong-lorong itu.

Maka jadilah aku hanya barang pajangan

di musium-musium barang antik atau di

warung-warung kopi klasik–dengan menjual

harga diriku sebagai barang bersejarah.

2019


Sabda Rumah Kontrakan

Rongga perutku hanya sebagai persinggahan

–datang dan pergi adalah nasibku yang digariskan

kaki manusia sebagai jiwa rumah sewaan.

Tak ada yang bertahan menahun dalam tubuhku

seperti anak, istri dan kawanmu itu:

masuk lewat mulutku yang dibiarkan kekal terbuka

hanya untuk merokok, ngobrol dan ngopi kemudian

pergi

dengan meninggalkan sepuntung rokok kenangan

yang dibiarkan terbakar rambutnya di pojok perutku:

 menguapkan asap-asap kepedihan

mengajak jantung sesak dan aku batuk

            batuk dalam kesunyian.

Mungkin mereka tak mengerti bagaimana dukanya

menjadi bukan manusia. Namun kubiarkan kini kusimpan

segala dendam amarah sebagai ruang mata-mata:

mengawasimu yang tak tahu cara merawat rumah

dengan rasa cinta.

Di saat warna kulit-kulitku telah kusam dan menghitam

tanpa kau ganti dengan warna cemerlang tiap lebaran pun.

Dan tahun demi tahun hanya menimbun kenangan berdebu

–di ruang-ruang perutku, tempat baju-baju berkuman,

 lemari-lemari dapur membuka diri, menguapkan bau

tidak sedap dari sisa-sisa makanan di masa lalu.

2019


Percakapan Kasur dan Baju

Lampu mataku menyenteri dada kasur sobek hatinya

lebar dan tebal dagingnya tak lagi selembut dahulu

karena kejahatan kuku-kuku kaki buta tak beradab itu

atau tak kuat menanggung beban duka tubuh maha berat.

“Tuan, siapakah  kasur itu di cermin matamu?”

Tanya baju sebelum kulipat jadi satu kerabat.

“Aku kawanmu yang terbuat dari kapas dan benang:

kasur namaku–sebidang kelembutan segi empat

yang mengabdi pada tubuh manusia sebagai pelampiasan

air liur, air mani, mimpi dan tidur,”

ujarnya kasur di lantai.

Namun pasti dukamu lebih ringan dari dukaku menangkis

kekerasan gerak tubuh-tubuh yang tertidur.

            “Kau tahu, di lain tangan sering diriku disakiti ketika puntung

rokok jatuh dari tangan yang tak punya mata, arang itu

melubangi kulitku yang hanya setipis jarak hidup ke mati.

            Namun aku hanya setebal diam semenjak dalam kandungan

di saat Tuhan lupa bahwa aku jua membutuhkan suara

sebagai gumam perlawanan,” geramnya kasur.

“Ternyata kau bagian dari tubuhku yang dipisah oleh daging.

 jadi Tuhan kita sama

sama satu sepenanggungan di tubuh manusia,”

kata baju sebelum bersatu dalam kandang lemari. 

(Cabean-2018)


Sabda Noda-Noda

Debu-debu mati terkubur di sela-sela keramik,

sisa-sisa tembakau tergeletak di bibir tanah,

tubuh-tubuh kertas dan plastik  pulas tertidur

di kasur-kasur tong sampah.

Baju-baju busuk tak terpakai beraroma keringat kenangan,

  celana-celana kehilangan resleting terbaring di atas genting

saudara sandal-sandal putus talinya sebagai anak buangan.

Kubangkitkan kematian mereka sebagai diksi-diksi dalam puisi.

Karena mereka butuh riwayat dari sisa hidupnya tak terawat.

Kini kata-kataku sebagai mobil ambulan yang mengangkut air mata

benda-benda kuno di musium kenangan yang jauh.

Sementara suasana puisi tersusun dari cacahan tubuh kesedihan

                        sejarah dan nenek-moyang yang di lupa

                        dan rahim kalimat-kalimatku mengandung janin

                        sampah-sampah dunia tak ternilai.

 Maka atas hati yang prihatin, anak-anak puisiku

ingin mewakili makna kehidupan mereka yang terlupa.

2019


Surah Kotoran

Tai-tai kucing di halaman meratapi kemalangan hidupnya

berak-berak ayam menggunung di lesteran hanya menguapkan

ujaran kebencian dari bibir kehidupan.

Mengapa perasaan manusia tak memberi harga pada kotoran

            padahal kata-kata ingin menyelamatkanya ke dalam makna sebagai

kalimat berharga pada hidup–setelah puisi mewangikannya.

Mungkin hati manusia memang sia-sia sebagai tuhan perasa

jika lupa bahwa asal-mula hidup ini dari sari-sari kotoran

yang telah dikuduskan oleh anak-anak tanah sebagai padi-padi

jagung-jagung dalam tubuh kita.

2019


Dongeng Noda Hitam

Tak akan sadar walau angin menenggelamkan waktu ke dasar dingin

ketika gema bibir ke bibir menyimpul cerita noda hitam

di tubuh orang lain.

Mungkin, sudah beribu kali kita tabung kebahagiaan

dalam kenangan, dari sebuah perkacapan dosa

di tubuh para tetangga.

Tetapi, apakah yang kita dapat dari rasa bahagia

yang terbuat dari rempah-rempah keburukan orang lain ?

2019


Pada Malam Kelam Kelabu

Kata-kata menggulung kesepianku di sini

di kampung yang tumbuh sunyi pada

 malam kelam kelabu.

Sedang detik-detik gemetar –jatuh ke sumur waktu

yang kian dalam kian menyumberkan kenangan.

Padahal mataku belum rabun untuk melihat sesuatu

yang ternyata tak ada. Seperti bintang-bintang di langit itu:

susut kemudian kelabu dalam pandang mataku.

Mungkin keriangan hanya milik jalan perkotaan

ketika senyap adalah kekekalan jiwa perkampungan.

2019


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara, Sumenep Madura. Belajar menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan untuk saat ini sebagai relawan Pustaka Bergerak Desa (PUSDES). Beberapa karyanya bisa dinikmati di: Media Indonesia, Tempo, Republika, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka dll.

Esai

Abstraksi Diri Manusia

Oleh Miguel Angelo Jonathan

Ada pendapat yang mengatakan bahwa moralitas manusia berkembang seiring berlalunya waktu. Itulah sebabnya kini perbudakan, pembunuhan hewan, ataupun pemberian hukuman mati kepada tersangka kriminal mulai dilarang dan ditentang di berbagai belahan bumi ini. Padahal jika kita memutar sedikit arah waktu selama beberapa ratus tahun ke belakang, hal-hal yang baru saja disebutkan itu sebelumnya dianggap sebagai hal yang wajar-wajar saja.

Namun, walau manusia yang disebut sapiens (bijak) itu kini dianggap telah memasuki abad modernitas dengan segala perkembangan teknologi dan moralitas yang katanya sudah tinggi, nyatanya pelanggaran-pelanggaran atas martabat manusia masih saja dengan mudah kita temui. Apalagi, bentuk terngerinya kita jumpai dalam peristiwa pembantaian manusia yang mengerikan.

Tujuh puluh tahun lalu ketika perang dunia kedua berlangsung, Nazi Jerman melakukan genosida terhadap 6 juta masyarakat Yahudi di seluruh Eropa. Dua dekade setelahnya,rezim Soeharto di Indonesia juga membantai sekitar 2-3 juta manusia tertuduh komunis. Di Myanmar, belum lama ini terjadi pula pembunuhan sistematis terhadap etnis Rohingya dengan korban yang diperkirakan sebanyak 50 ribu orang.

Peristiwa genosida yang disebut itu hanyalah beberapa contoh dari berbagai pembantaian lainnya yang terjadi selama satu abad terakhir. Kengerian atas pembunuhan besar-besaran ini diperparah dengan kenyataan bahwa tak sedikit dari manusia yang katanya bermoral itu mewajarkan genosida yang terjadi, dan bahkan ada pula yang berharap peristiwa tersebut bisa mereka ulangi dan lakoni. Seperti misalnya seorang keturunan pasukan Nazi Jerman yang ditemui Etgar Keret dan diceritakan dalam bukunya The Seven Good Years (2016), yang dengan bangganya mengatakan ingin bisa mengalahkan rekor kerabatnya dalam membunuh orang Yahudi.

Orang-orang semacam yang ditemui Etgar Keret itu menganggap manusia-manusia yang dibuat mampus dan menjadi korban genosida memang pantas dibasmi dari muka bumi. Para korban genosida dalam pandangan mereka dianggap tak lebih umpamanya seperti babi, anjing, ataupun kecoa. Oleh karena derajatnya dilihat lebih rendah, orang-orang yang dibuat mati pun tak melahirkan rasa empati atau kesedihan, tetapi justru tak jarang malah rasa damai dan tenang.

Keadaan seperti ini sepatutnya melahirkan pertanyaan pada diri setiap manusia yang masih “waras”. Apa kiranya penyebab manusia dengan teganya saling bantai demi suatu ajaran, kepercayaan, atau ideologi yang dianut, dan kenapa pula para algojo yang membunuh tak merasa sedih ataupun menyesal atas perbuatan mereka?

Alasannya bagi Thomas Hidya Tjaya yang mengupas pemikiran Emmanuel Levinas dalam Enigma Wajah Orang Lain (2018) adalah hadirnya pemikiran atas “Yang Lain” pada diri manusia. Konsep pikiran ini melahirkan gagasan, anggapan, ataupun pikiran terhadap kelompok yang dilihat berbeda dari “Yang Sama”.

Gagasannya itu sendiri berupa nilai-nilai negatif. Karena berbeda dalam masalah identitas (agama, etnis, maupun ideologi), kelompok “Yang Lain” lekas melahirkan perasaan membahayakan, mengancam, dan keterusikan pada manusia yang memandang kelompok tersebut. Alhasil, keberlainan yang sesungguhnya tidak pernah bisa dihindari dalam kehidupan malah melahirkan rasa ketidaksenangan semata.

Mulanya keberlainan memang menjadi alat identifikasi ketika bertemu orang lain. Namun, oleh karena sikap alamiah manusia yang “senang” menyerap segala yang asing, keberlainan dianggap sebagai sesuatu yang harus ditundukkan dan melahirkan kehendak untuk menguasai “Yang Lain”. Thomas Hidya Tjaya menulis, “kita merasa aman, nyaman, dan tenteram karena tidak ada sesuatu yang ‘asing’ ataupun berada di luar kontrol kita.” Hanya dengan “mengikis” perbedaan barulah ketidaksenangan bisa diatasi. Atau dengan kata lain, ketika tidak ada lagi “Yang Lain” dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia pada hakikatnya memang sering kali terlanjur melihat dan memperlakukan orang lain berdasarkan gagasan yang telah tertanam atas orang tersebut. Jika sejak kecil seseorang diindoktrinasi oleh lingkungan terdekatnya untuk membenci golongan tertentu, dapat dipastikan ketika dewasa ia akan merasa terganggu dengan perbedaan yang dijumpai, terutama ketika menyangkut golongan yang begitu ia benci.

“Kebersamaan sebagai manusia seringkali menjadi terancam dan bahkan hilang karena kita berpegang erat pada gagasan kita mengenai identias diri kita maupun identitas orang lain.” Tulis Thomas Hidya Tjaya. Jika gagasan kita terhadap orang lain sudah buruk, maka perlakuan dan relasi kita dengan orang itu ikut pula menjadi buruk.

Itulah yang mengakibatkan orang dapat begitu membenci masyarakat tertentu dan bahkan tega membunuhnya. Dalam pandangan Levinas, manusia yang merasa terusik dan sampai membunuh kelompok yang berbeda sesungguhnya belum benar-benar bertemu. Mereka sebatas mengenal orang lain dalam “gagasan” mereka belaka. Dalam artian, orang-orang yang berbeda itu belum dikenal sebagai pribadi yang hidup, tetapi hanya dikenal berdasarkan gagasan yang terbentuk dari pikiran.

Levinas menyebut kondisi ini sebagai “visi”, yaitu kegagalan bertemu dengan wajah orang lain oleh karena kebiasaan kita dalam mendekati orang lain hanya berdasarkan pemikiran dan gagasan kita mengenai orang lain tersebut. Kita lebih sibuk dengan apa yang hendak kita katakan dan lakukan berdasarkan visi yang terbentuk itu, daripada apa yang mungkin kita “terima” dari orang lain. Untuk mengatasi hal ini, orang pertama-tama mesti menghilangkan gagasan yang mengakar dalam benaknya, dan membangun relasi secara terbuka dengan orang lain.

Dalam pemikiran Levinas, kita sebagai manusia tidak perlu memasukkan orang lain dalam kategori-kategori tertentu dalam pikiran, karena tindakan itu merupakan pemicu awal atas kehendak untuk menguasai atau menjadikan orang lain sebagai bagian dari golongan yang merasa lebih superior. Hanya setelah kita menghilangkan perasaan sebagai yang nomor satu barulah kita bisa melihat “wajah” orang lain secara apa adanya.

Pada prinsipnya, humanisme yang diperjuangkan Levinas diarahkan pada orang lain dengan pertama-tama melupakan eksistensi dan kepentingan diri sendiri, juga di atas ideologi nasionalis, agamis, ataupun yang lainnya. Itu karena, sesuai yang ditulis Thomas Hidya Tjaya, “ketika gagasan ideologi, ajaran, doktrin, bahkan yang bersifat paling religius sekalipun dijunjung tinggi di atas segala-galanya, manusia dengan mudah kehilangan rasa-perasaannya terhadap sesamanya.”

“Tanggung jawab” terhadap kehidupan “Yang Lain” haruslah muncul dalam diri tiap manusia. Kalau kekerasan dan pembunuhan terhadap golongan berbeda apalagi yang dilakukan dengan embel-embel persatuan dan semangat religius tidak dilihat sebagai sesuatu yang buruk, maka ada yang salah pada pandangan hidup kita. Jika kematian pribadi saja tidak diperhatikan, bagaimana mungkin kehidupan orang lain bakalan menjadi perhatian kita? Hanya ketika kita terusik saat mendengar kekerasan dan pembantaian terhadap orang lainlah kita masih memiliki harapan akan rasa kemanusiaan.***


Miguel Angelo Jonathan. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dan editor di penerbitan Pustaka Kaji.

Cerpen

Senja di Pont Des Arts

Cerpen Candrika Adhiyasa

            Pada Juni yang kering, aku mengenang suatu masa ketika kali pertama kita dinikahkan oleh semesta. Ketika itu, rambutmu yang hitam panjang dan terurai disepuh sinar matahari yang terik. Bola matamu menyala seperti purnama yang sempurna. Kau menjelma Hawa ketika aku adalah Adam yang kesepian. Kemudian kita membangun surga di kehidupan ini bersama-sama, membangun singgasana megah yang boleh jadi terlihat sederhana. Dengan beberapa bunga, pohon mangga yang remaja, dan beberapa helai rumput yang tumbuh dari sela-sela batuan. Saban pagi, tiap helai daun dan reranting yang gugur di beranda rumah kita selalu kausapu dengan jeli—tiada tersisa di antara bunga kamboja merah muda yang merdeka mewarnai ruang sekehendaknya. Kau sangat menyukai ikan koi yang bergumul ke sana kemari mencari penghidupan di kolam kecil yang ada di sebelah barat taman kita. Dengan senyum tipis yang begitu manja, kau acapkali mencoba berdialog dengan mereka meski kadang-kadang tak mendapat jawaban dalam bentuk apapun.

            “Lemparkan kunci ini ke kolam itu!” pintamu seusai mengunci gembok berwarna perak itu di tepi pagar rumah kita.

            “Ini ‘kan bukan di Perancis.”

            “Memangnya kenapa kalau bukan di Perancis? Bukankah harapan bisa kita tanam di mana pun?”

            Aku hanya tersenyum menanggapi keinginanmu. Kau kadang-kadang begitu konyol, tetapi itu yang aku suka darimu—kesahajaanmu dalam menjalani hidup. Kau barangkali terobsesi dengan mitos yang ada di jembatan Pont des Arts yang berada di sepanjang sungai Seine di samping museum Louvre itu. Aku tentu tidak bisa menolaknya, apalagi ketika kau menunjukkan wajahmu yang cemberut itu—seakan-akan dalam kamus bahasaku hanya bisa kutemukan kata ‘ya’. Maka aku lemparkan kunci yang kauberikan ke kolam di taman kita. Beberapa ikan koi terlihat berpencar karena kaget. Permukaan kolam melahirkan riak kecil yang susul-menyusul. Kau memejamkan mata dan tersenyum lebih lepas dari sebelumnya. Kosakata ‘bahagia’ seketika telah menemukan maknanya. Gembok berwarna perak yang sedari tadi menggantung di tepi pagar itu kautatap dengan penuh harap. Ah, rupanya benda apa pun bisa menjadi indah apabila kita memaknainya, tak terkecuali sebongkah besi yang dibentuk menjadi benda bernama gembok ini.

            Cinta yang abadi selalu menjadi topik pilihanmu dalam setiap perbincangan kita sejak muda. Mungkin jawabanku yang asal-asalan ketika itu secara kebetulan sesuai dengan jawaban yang kauharapkan—yang tidak kaudapatkan dari mulut lelaki mana pun. Dahulu aku pernah berkata, bahwa cinta yang abadi adalah suatu kepastian. Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka akan hidup abadi.

            Sekian puluh tahun sudah setelah kunci gembok itu aku lemparkan ke kolam di taman kita, rambutmu yang dahulu panjang hitam terurai, kini hampir sepenuhnya memutih. Wajah bayi-bayi menggemaskan yang dulu sering kautunjukkan padaku di galeri handphonemu, kini sudah lahir ke dunia dan menjadi dewasa. Kau dahulu berharap memiliki tiga bayi yang menggemaskan dan bisa menghapus segala lelah setelah membanting tulang mencari penghidupan. Kini harapanmu terwujud sudah. Mereka telah lahir ke dunia dan mengalami apa yang dinamakan kasmaran—seperti kita. Mereka juga telah sama-sama berkeluarga—mengurai benang kusut kehidupan dengan fondasi kasih sayang. Rupanya waktu telah memelihara mereka hingga tumbuh menjadi pelaut ulung yang siap mengarungi samudera kehidupan. Kini kita hanya tinggal berdua di istana surga yang selama ini dengan sabar menampung mimpi-mimpi kita.

            Di beranda rumah, kita sama menikmati siang yang hendak bermetamorfosis menjadi sore. Tentu akan kita saksikan pula lukisan Tuhan yang berwarna jingga di ufuk barat kesukaanmu itu. Kau, seperti biasanya, akan takjub dan memendam kata-kata sehingga satu-satunya jalan kaluar bagi mereka adalah melalui bola matamu. Setiap hari, kita selalu mencoba mencatat kelahiran dan kematian waktu melaluinya. Namun, kita tak pernah sadar bahwa sebenarnya kita tengah mencoba mencatat kelahiran dan kematian kita sendiri.

            “Apakah cinta abadi?” ucapmu sembari menatap matahari yang tenggelam hampir sempurna.

            “Tentu saja,” jawabku singkat.

            Kau menoleh ke arahku. Koran lama yang sedari tadi kubaca kini kalah menarik oleh matamu. “Sinar di kedua bola matamu tak pernah meredup, Sayang. Karenanya aku percaya, bahwa cinta memang benar-benar abadi.” Senja yang saban hari kaunikmati itu kini gugur di kelopak matamu. Senyum yang terbit dari bibirmu terasa begitu hangat, sehangat nuansa yang dihidangkan hari yang menjelang peristirahatannya, atau barangkali, kematiannya. Kita tentu akan mati pula, Sayang, dan hal itu memang lazim dikhawatirkan semua orang di usia kita saat ini. Tetapi, Qays dan Laila, yang menurutku tidak seberuntung kita karena sempat bercinta di dunia ini, tetap akan mengecap nikmatnya hakikat cinta yang abadi itu di mana pun, bahkan di luar kehidupan ini. Bunga kamboja yang dahulu selalu bermekaran, kini benar-benar hilang ditelan masa. Namun, bukankah kita selalu mampu mengingat warnanya ketika ia mekar meski kini telah tiada? Tiada yang benar-benar bisa luput dari ingatan, apalagi jika sesuatu itu teramat berharga. Ikan-ikan koi yang senantiasa kauajak berdialog tempo hari, kini mungkin sudah berenang di sungai surga yang mengalir begitu damai. Kolam itu telah lama kering. Pernah beberapa kali aku coba mencari kunci yang tenggelam sekian lama di dasarnya, tentu bukan untuk membuka gembok yang telah berkarat diterpa angin dan hujan itu. Aku hanya ingin memastikan, apakah ia masih ada atau tidak. Tetapi yang bisa kutemukan hanyalah kerakal-kerakal dan semak-semak yang kian semerawut memenuhidasar kolam yang mulai retak-retak. Kau barangkali tak tahu bahwa meskipun aku sudah agak pelupa, aku seringkali tiba-tiba mengingatnya ketika hendak tidur di kamar kita yang mulai sepi ini. Kunci itu memang tak pernah kutemukan, tetapi bukan berarti ia tak ada. Ia barangkali telah menyatu dengan tanah, yang artinya, telah melebur dengan kehidupan ini.

            Di hari-hari berikutnya, kau seringkali menatap langit dengan pandangan yang kosong. Tak kudengar lagi pertanyaanmu tentang cinta yang abadi itu. Apakah kau sudah bosan bertanya atau apa, aku tak terlalu paham. Namun yang kuyakini, mungkin kau sudah dengan utuh memahaminya setelah jutaan kali kautanyakan padaku. Pandanganku semakin kabur kali ini, Sayang. Kacamata sudah hampir tak bisa membantuku melihat sesuatu dengan jelas. Wajahmu … tentu saja, selalu mampu kulihat dengan jelas, bahkan lebih jelas dari sebelumnya. Dalam pikiranku, kau selalu tampak selalu cantik seperti kali pertama kita jatuh cinta.

            Ketahuilah, Sayang. Gembok itu masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Aku bahkan hampir percaya pada apa yang kaututurkan tentang Pont des Arts yang mampu mengabadikan cinta melalui ritus serupa. Sayang sekali aku tak bisa mengajakmu menikmati senja di sana. Aku tak pernah benar-benar yakin alasan apa yang membuatku tak bisa membawamu ke sebuah tempat yang barangkali sudah kaunamai sebagai surga itu selain rumah kita. Cinta ini begitu panjang, namun usia, oh, pendek sekali. Kaubilang bahwa keindahan hanya akan hidup sekejap, seperti senja. Namun, kau kembali berusaha untuk yakin bahwa keindahan bisa jadi pula abadi, tidak lepas, seperti gembok yang kehilangan kuncinya. Meski aku sempat menolak untuk percaya pada yang kaukatakan tentang Pont des Arts, tanpa kusadari, ternyata secara diam-diam aku berharap mampu memercayainya.

            Pada suatu siang, tiga anak kita telah pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya, tepatnya menemuimu. Rindu memang acapkali gemuruh ketika hendak diredam. Kita memang seringkali munafik pada perasaan kita sendiri. Lucu, bukan? Tiga bayi menggemaskan yang sudah mendewasa itu akhirnya bekumpul di rumah ini lagi, seperti dahulu kala. Namun yang mengherankan adalah, mereka semua menangis. Aku tak memahami apa yang mereka tangisi, Sayang. Barangkali penyebabnya adalah kapas yang menutup lubang hidung dan telingamu. Mereka bilang kau telah meninggalkan kehidupan ini. Aku sebenarnya ingin tertawa, Sayang. Aku ternyata lupa mengajari mereka sesuatu yang paling sering kita bicarakan. Bukan tentang senja. Aku tak pernah mau menanggapi keyakinanmu yang akhirnya kaukhianati sendiri. Tetapi tentang cinta yang abadi. Barangkali, setelah tak bernapasnya engkau, aku akan mengajak mereka ke Perancis untuk melihat gembok-gembok yang berjejer di tepi pagar kawat jembatan Pont des Arts. Aku harus mengajari mereka secara langsung mengenai ini. Kau setuju, bukan? Tidak … tidak perlu kaujawab pertanyaanku. Kau terlihat sudah begitu lelah. Beristirahatlah lebih dulu. Biarkan aku yang mengusap air mata anak-anak kita. Besok kami akan mengantarmu menuju rumah yang lebih indah. Tidak apa-apa. Tidak perlu menyesal. Rumah ini, yang sekian lama telah melindungi kita dari keputusasaan, memang akhirnya akan kita tinggalkan. Rumah kita yang sejati berada di kehidupan yang lain. Kau pergilah lebih dulu, Sayang. Aku akan segera menyusul. Masih ada saat-saat bagiku untuk merenungi beberapa hal yang sebelumnya tak sempat aku lakukan ketika berada di dekatmu. Bagaimana tidak, bola matamu selalu mampu memenuhi ruang pikiranku.

            Meskipun semua manusia bisa mati, tetapi cinta dalam hati mereka pasti hidup abadi. Bukankah itu yang kita percayai? Kefanaan senja adalah raga kita, Sayang, dan cinta adalah apa yang semayam di dalam ruh keabadian.

Setelah mengantarmu ke rumah baru kita, aku akan duduk kembali di kursi beranda rumah ini. Aku, tentu saja, akan berusaha mengamati—meski dengan pandangan yang telah kabur—sisa-sisa kenangan dari warna bunga kamboja, daun-daun dan reranting yang berserakan di halaman rumah, pohon mangga yang kian mendewasa dan hendak berbuah, kolam yang telah kering bersama fosil ikan-ikan koi, dan juga gembok yang masih terkunci di tepi pagar rumah kita. Dan kau tahu, Sayang? Kini senja telah samar-samar menghitam. Barangkali untuk terakhir kalinya. Aku akan segera berbaring di sampingmu, untuk menikmati kehidupan indah tempat kita benar-benar bisa memahami cinta yang abadi.***

Tasikmalaya, 9 Juni 2018. 03.18 WIB


Candrika Adhiyasa, lahir di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat pada tanggal 14 Desember 1996. Ia telah menulis beberapa novel seperti Gurattala (Penerbit Gemala, 2018) serta beberapa buku kumpulan puisi seperti Kenapa Rumahku Kian Sunyi (Bangusastra, 2018). Selain itu, ia kerap menulis cerpen dan esai.

Puisi

Puisi Daru Sima S.

Palugon—Selain Pulang, Apa yang Dicari Setelah Kepergian

pulang, pada perasaan Ibu yang menunggu di balik pintu

sebagai iba yang menjalar dari ujung baju ke ujung jiwa yang ditingkap segenap jiwa

dada Ibu serupa lengkung gamelan

dengan ning-nong lantunan gong

aku pulang dengan perasaan haru

setelah jawa dan sunda bercampur jadi satu

pada diri dan juga tubuhmu

sedikit-sedikit bisa, sedikit-sedikit lupa

sesekali kulihat bapak

menghidu cangklong, memijit lututnya

yang sering berderit

sedang ular derit telah tiada

berpindah dari kaki bapak, ke bapak yang lain

demikianlah keluhan itu menjalar

setelah aku tiba dengan uban dan sepa

tiang-tiang rumah dan rumbia

sudah lama berganti rupa

tinggal satu-dua masjid yang bergaya Masjid Demak titisan aulia

tapi pulang adalah keharusan

jalalan  menanjak ke utara dari Wanareja

orang selalu bertanya

Palugon itu sebelah mana?

aku bilang tiga desa terakhir Wanareja

Palugon, Jambu, Cigintung—Palujantung

yang jalanannya dipenuhi hutan pinus dan kabut

dekat ke Banjar, dekat ke Cirebon

oh, demikianlah jawaban ketidaktahuan itu

sedang aku terus bertanya pada jiwa            

selain pulang, apa yang dicari setelah kepergian

dan lengkung dada Ibu, abadi dalam ingatan

Palugon, 2019


Kisah Kasih

kisah selalu saja kasih

yang asih dan asuh antara engkau dan aku

aku menceritakan sesuatu

di kepalamu, ialah cerita yang lain

namun kita tetap satu

seperti api dan lilin

yang benderang

di gulita malam

Palugon, 2019


Apa yang Sudah Kulakukan untuk Mencintaimu

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

pohon-pohon tersingkap angin

botol-botol bekas di pinggir kali

berhenti mengalir dan sungai kering

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

hujan diluar musim

sumur-sumur berwarna kuning

dan ombak menjulur ke tengah-tengah daratan

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

cericit burung dalam ingatan

anak-anak melihat dalam gambar

abjad-abjad di tempel penuh di dinding

mengeja dan menghitung

apa yang sudah kulakukan untuk mencintaimu

seratus untuk kebenaran

dan mengaku salah adalah keburukan

sedang pohon manggis

dalam wujud bunga mulai berguguran

kini mencintaimu, makin samar

Palugon, 2019


Ibu yang Pencemburu

pada perasaan bahagia

di ladang-ladang orang

Ibu merasa wajib cemburu

pada nasib musang yang memakan biji enau

dan biji jatuh lalu tumbuh di lahan gersang

ada yang bernasib baik, ada yang biasa saja

ada yang mati sebelum berdahan

ada yang busuk jadi makanan semut rangrang

tapi Ibu tetap memandang

pada dahan yang bunganya

                                    banyak nira

Palugon, 2019


Terapung Aku di Sungaimu

terapung aku di sungaimu

                                           kekasih

sebagai plastik bekas

yang mencari tempat singgah

                                           rumah dan cinta

barangkali pada api pembakaran

aku benar-benar mati

dan tak akan lagi mempertanyakan

                                           cintamu

Palugon, 2019


Pada Gigil Pagi

pada gigil sebuah pagi

yang gemetar seusai mandi

aku mengikat ujung baju

pada batang-batang bambu belah

sebagai awal hari

dan kuucapkan, selamat

rengkuhan tanganmu

akan sampai padaku

asuh yang asih

tanpa pengawet

tanpa sampah plastik

tanpa jarak yang renggang

setelah sepuluh hari dari hitungan pertama, hujan rahmah

sudut gelap kita, barangkali gugur

aku hanya bisa menerka

dari pandangan kita

yang tidak pernah sama

Palugon, 2019


Menumbuhkan Pohon Kopi

dalam pandangan Ibu, pohon kopi tumbuh baik

sejak akar, dahan, daun , dan biji

mengkilap bebas duri, tentu saja

pada gulma yang tumbuh, ia titipkan berkah

di bukit Bunisari ia sedekah

persembahan tabah batin yang lapang

pada butir-butir merah phoska

atau hitam kelir kotoran domba

ada yang setahun, ada yang tiga tahun

pohon sumringah dalam genjah

Palugon, 2019


Melihat Buku Berserakan

seandainya kita berak buku, kemudian bertelur sembarangan

di kota-kota yang pikuk, hutan yang jadi tempat wisata

sawah yang masih dibajak gembala

dan tentu saja, jalanan yang sudah mulai sedikit lubang-lubang

ada yang senggama di pikiran kita

melihat mobil mewah, insan yang gemerlap

dan rumah dengan arsitektur sumringah

ada juga kesepian kita

yang mati sejak lahir ke dunia

kata-kata baik, bisa jadi bijak

kata-kata tak beraturan, bisa jadi berantakan

dipungut dan dibuang

Palugon, 2019


Membelikanmu Bulan

aku ingin membelikanmu bulan

di toko-toko pinggir jalan

sebab matamu teramat luas menguasaiku

kutebas semua duka lara

kutebas dengan pisau jiwa

jika musim hujan tiba

alir jiwamu menghangatkanku

serupa beludru domba Adam

jika musim kemarau tiba

tatapmu menyejukkan

menjadi salju jiwaku

aku ingin membelikanmu bulan

menyebrangi pasang lautan

bersama angin

menyusupi jiwamu

Palugon, 2019


Pada Pohon Jeruk yang Tak Lekas Berbuah

daunnya yang legam

menziarahi waktu, rimbun

aku telah bertualang

dari wilayah seberang

dimana pohon jeruk setinggi dada

ditingkapi buah-buah

dan aku, kekasih

membayangkan banyak daun

sepadan dengan keringat yang mengalir

bersama pantulan sinar mentari

sebagai buah

ada banyak rindu setelah masa tanam

ada banyak pendoa saat masa bunga menjelang

ada yang mati, terusik hama, ada yang di antara kita

tidak saling mengenal—sebagai orang asing

aku kemudian memandang

pohon jeruk menghitam

menunggu hujan, dan engkau datang

sebagai kekasih dengan bulat

buah matang

Palugon, 2019


Daru Sima S., tinggal di Palugon-Cilacap. Ikut mengelola komunitas baca Pojok Pustaka Majenang. Buku puisinya Di Pinggir Kolam, Mengaji Pada Ikan-ikan diterbitkan Unsa Press (2018).

Cerpen

Daun Ketapang Merah

Cerpen Sasti Gotama

Kau terbangun dan menyadari  tubuh istrimu sudah tak ada lagi di sampingmu. Sebagai gantinya, ada sebuah guling merah muda yang sudah pudar warnanya dan sejumput aroma istrimu. Kau bangkit setelah mencium aroma kedua yang menyusup ke dalam kamar, aroma rempah-rempah. Sepertinya berasal dari dapur. Kau coba memilah-milah aroma. Sepertinya bau lada, cabai, kunyit, jahe, dan bunga cengkeh. Kau coba menebak-nebak, apa yang dimasak istrimu, namun tiga detik kemudian kau menyerah.

Kau langkahkan kaki menuju dapur dan melihat secangkir kopi panas sudah tersedia di atas meja makan. Satu-satunya penikmat kopi di rumah ini hanya dirimu. Istrimu lebih suka jahe hangat atau wedang uwuh. Jadi bisa kau pastikan, kopi itu memang milikmu.

Istrimu membelakangimu dan ia sedang menghadap wajan. “Aku membuat rendang,” katanya tanpa menoleh. Pastinya ia sudah menyadari kedatanganmu.

Kau mengernyit. Setahumu, rendang buatan ibumu tidak menggunakan bunga cengkeh dan lada. Rendang jawa menggunakan cabai merah besar, bukannya lada sebagai pemeran utama rasa pedas. Sedangkan dari masakan istrimu yang kau intip dari atas bahunya, tak kau temui jejas keberadaan cabai merah. Tapi kau tak mau ambil peduli. Apapun yang dimasak istrimu selalu kau santap. Bagimu, perasaannya lebih penting dari sekedar rasa enak di mulutmu atau rasa mulas di perutmu.

Kau menguap lalu duduk di kursi, menghadap pada kopi Gayo yang diseduh untukmu. Tanganmu meraih koran yang diletakkan di sebelah kopi. Walaupun sebetulnya lebih murah dan lebih cepat informasi dari media digital, tapi bagimu membaca koran adalah sebuah warisan yang kau lihat dari ayahmu bertahun-tahun yang lalu. Ada nilai sentimental sehingga kau tetap mempertahankan.

“Tadi pagi, sebelum Mas bangun, Marni mampir ke sini.”

Kau hanya bergumam tak jelas, hanya sebagai tanda kau mendengarkan istrimu. Kau cukup jelas mendengar suaranya walau ditingkahi suara desisan masakan di atas penggorengan. Matamu lebih terpusat pada tajuk utama berita hari ini. Demo  mahasiswa perantauan di daerah Kayu Tangan kemarin siang. Jalur itu biasa kau lewati setiap hari jika ingin sampai ke kantor tepat waktu. Kau menengok jam bulat di tengah ruangan. Pukul enam kurang seperempat. Setengah jam lagi kau harus berangkat jika tak ingin terlambat.

“Katanya, pohon ketapang di halaman rumah kita terlalu rimbun. Daun-daun keringnya beterbangan ke seluruh desa.  Sebaiknya dipotong saja.” Kau mengangguk setelah meneguk kopimu. Terasa asam. Kurang gula.

“Mereka membicarakan  aku.” Istrimu mendekat sambil meletakkan sepiring nasi dan daging berselimut bumbu cokelat yang ia katakan sebagai rendang.

“Mereka siapa?” Matamu masih tak lepas dari berita koran.

“Marni, Salamah. Semua tetangga kampung.Hanya gara-gara ketapang sialan itu. Kenapa ia berubah warna? Kenapa ia menjadi merah, lalu mengering dan luruh di halaman? Kenapa tak tetap hijau saja?”

“Tak ada sesuatu yang tetap dan tak berubah. Semua pasti berubah,” gumammu. Entah kenapa kau malah teringat tentang seorang gadis, bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia kau pinang menjadi istri.

Gadis bertopi caping merah, duduk mendongak di hadapanmu, di suatu lapangan yang panas dan para mahasiswa senior berteriak-teriak ganas.Ia serupa Pratjna Paramitha atau Ken Dedes menurutmu. Jika Ken Arok tergoda begitu melihat rahsya atau cahaya yang bersinar dari bagian tubuh istimewa Ken Dedes ketika turun dari kereta di Taman Boboji, maka kau langsung jatuh cinta ketika melihat pancaran cahaya dari matanya. Gadis itu menolak menunduk seperti mahasiswa-mahasiswa baru yang lainnya.Matanya berkilat marah.

“Perpeloncoan hanyalah salah satu warisan  kolonial yang dipertahankan!” serunya kala itu. Sebagai salah satu senior, kau bersandiwara membentaknya dan menyeretnya ke ruang X, tempat pembantaian mahasiswa baru. Tapi tentu saja, bukannya memarahinya, kau malah menyatakan cinta setelah kalian berdebat cukup lama. Kau suka gadis yang cerdas. Kau suka gadis pemberontak yang bisa diajak melakukan perdebatan panas. Dan kau pikir, gadis ini memiliki keduanya. Saat itu kau pikir, ia adalah satu-satunya cinta, dan kau takkan pernah jatuh cinta lagi setelahnya.

Tapi kau salah. Lima belas tahun kemudian, kau jatuh cinta pada antitesisnya. Semua tak pernah kau rencanakan, dan tiba-tiba, seperti nyamuk dalam jerat laba-laba, kau sudah terpintal di sarangnya. Perempuan itu, seseorang yang selalu membuatkanmu kopi manis di kantor tempatmu bekerja. Setiap pagi, tak pernah lupa. Sampai pada suatu pagi, kau melihatnya tersedu di pantri setelah alpa membuatkan kopi manis untukmu hari itu.

Ia berkata, putranya sakit, sedangkan suaminya sudah bertahun-tahun tak pernah pulang dari Malaysia, pun tanpa kabar berita. Harusnya saat itu kau ulurkan tisu bukannya sapu tangan. Sama halnya, harusnya kau berikan empati bukan simpati. Tapi kau lupa, dan tiba-tiba saja, seminggu kemudian, kalian adalah sepasang kekasih rahasia.

Perempuan itu, yang kau panggil Dik, tipikal wanita yang memegang teguh falsafah Jawa. Nrimo ing pandum, sendiko dawuh marang sigaring nyowo[1]. Kau adalah raja, dan ia tak pernah membantah sedikit pun. Kau merasa menjadi sebenar-benarnya lelaki yang melindungi perempuan, bukannya partner sejajar seperti yang kau rasakan di rumah.

Istrimu tak pernah tahu. Dan tentu saja ia tak akan pernah tahu jika saja sore itu, sepulang dari tempat kerjanya di sebuah bank swasta,  tak mampir ke kantormu untuk memberi kejutan ulang tahun pernikahan kalian yang kesebelas. Ia tak sepatutnya masuk begitu saja ke kantormu tanpa mengetuk pintu. Saat itulah ia melihatmu sedang memeluk perempuan yang kau panggil Dik. Ia tak seharusnya terdiam dan meninggalkan kantormu tanpa sepatah kata. Kau lebih suka jika ia berteriak marah dan memecah barang-barang. Namun,istrimumemilih diam dengan mata menerawang, beberapa hari lamanya di dalam kamar, walaupun kau bersujud memohon ampun dan berjanji tak akan menyakitinya lagi.

Pada hari kesepuluh, ia bangkit dan membuatkan kopi untukmu. Ia memasak aneka masakan dan tak pernah alpa membuatkan camilan. Ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaan dan tak pernah membantah sedikit pun perkataanmu. Kau merasa ia kembali tapi juga sekaligus hilang. Tak kau lihat lagi cahaya rahsya seperti yang kau lihat bertahun-tahun yang lalu di lapangan rektorat universitas. Ia … padam.

Kau tersadar setelah alarm jam tanganmu berbunyi. Pukul enam tepat. Istrimu masih di hadapanmu, duduk dan memandang tepat ke matamu. “Kenapa rendangnya tak dimakan? Apakah tak enak? Apakah Mas pikir isinya racun dan aku berniat membunuhmu?”

Kau menggeleng. Tentu saja kau tak ingin mengaku bahwa beberapa menit yang lalu kau terseret ke masa lalu. Kala istrimu masih serupa daun ketapang bewarna hijau, belum lagi bewarna merah dan luruh di halaman. “Enak,” katamu setelah mencomot sepotong rendang yang tak jelas rasanya. “Bungkuskan saja. Akan kumakan di kantor.”

Istrimu tersenyum dan dengan sigap menata makanan di dalam kotak makan berwarna jingga. Kau sedang memakai pakaian setelah mandi ala kadarnya ketika istrimu berteriak dari luar kamar mandi. “Nanti sore, bisakah Mas menjemput Anaya? Sekolahnya sedang ada perayaan tujuh belasan sampai petang.” Kau menjawab, menyanggupinya.Entah istrimu mendengarkan atau tidak.

Sesaat sebelum melangkah keluar pintu apartemen, kau mencium pipi istrimu. Lalu kau berbalik dan di hadapanmu hanyalah lorong panjang dengan lampu temaram. Tak ada halaman. Tak ada pohon ketapang. Tak pernah ada seorang anak bernama Anaya. Juga tak pernah ada Marni, Salamah, atau siapa saja. Kau kunci pintu apartemen dari luar dan berjanji pada diri sendiri, nanti sore akan segera pulang dengan membawa martabak. Namun, kau terhenyak. Kakimu memijak sesuatu. Kau menunduk dan melihatnya,selembar daun ketapang berwarna merah.

***


[1] Menerima segala lika-liku kehidupan, siap sedia/patuh terhadap perkataan belahan jiwa (bahasa Jawa).


Sasti Gotama, dokter umum yang suka menulis dan mengotak-atik kamera. Karya-karyanya yang telah terbit adalah Kumpulan cerita Penafsir Mimpi dan Antologi Journey to Infinity. Beberapa cerpennya dimuat di beberapa media online.

Ragam

Berlomba Cari Muka di Depan Penguasa

Pementasan ke 33 Indonesia Kita “Toean Besar”

Di sebuah negeri, di dalam istana, sedang terjadi kasak-kusuk. Ada kabar yang menggegerkan, seseorang yang disebut-sebut sebagai “Toean Besar” akan datang. Kabar ini membuat panik banyak orang. Dari bawahan sampai Kepala Istana dipenuhi kesibukan bercampur rasa penasaran. Sebab Toean Besar adalah seseorang dengan sosok yang misterius. Ada yang mengatakan, “Toean Besar adalah orang yang super kaya dan mau menggelontorkan modalnya untuk kepentingan rakyat”. Ada pula yang menambahkan, “Toean Besar itu, selain kaya raya, juga ganteng dan bertubuh besar.”

Mendengar namanya disebut saja, sudah membuat banyak orang di lingkungan istana sigap dan ingin mengambil kesempatan untuk bertemu, meskipun hanya untuk berfoto bersama. Siapa sebenarnya Toean Besar, tak ada yang benar-benar mengetahui. Namun kasak-kusuk yang berlangsung pada akhirnya memicu timbulnya sikap saling memengaruhi dan perilaku juga ikut berubah. Bermacam intrik dan kekonyolan mulai terjadi.

Untuk bisa bertemu Toean Besar, ada yang mengubah penampilan agar status sosial meningkat, ada pula yang nekat menyamar menjadi sang Toean Besar dan mengaku-aku dirinya sebagai Toean Besar. Ketika orang mulai mengubah diri, tak hanya gaya dan penampilan, tetapi identitas diri dan sikap juga berubah. Ada yang semula bermusuhan berubah menjadi berteman, ada pula yang tadinya kompak, tiba-tiba menikung begitu melihat peluang. Mereka akhirnya saling berbohong dan saling menipu. Dan sejarah pun ikut dipermainkan, demi mencapai tujuan.

Pementasan lakon “Toean Besar” kali ini masih sesuai tema utama “Jalan Kebudayaan Jalan Kemanusiaan” yang dipilih oleh Tim Kreatif Indonesia Kita. Tema sekaligus menjadi benang merah dari pentas-pentas yang diselenggarakan di sepanjang tahun 2019 karena pentingnya nilai-nilai kemanusiaan dan keberagaman dalam kehidupan sosial saat ini.  Butet Kartaradjasa mengatakan, ketika jalan kemanusiaan direfleksikan melalui pertunjukan Indonesia Kita, maka semakin terasa relevan untuk mengajak, menemukan dan menumbuhkan kembali kepekaan, kesadaran dan kemanusiaan kita. Sebab seni pertunjukan sering  diibaratkan seperti oase di tengah kegersangan. Indonesia Kita menghadirkan seni di antara masyarakat yang melampaui sekat dan batas-batas suku, agama dan orientasi politik.

Sedangkan Direktur Kreatif Indonesia Kita, Agus Noor mengatakan, seni merupakan refleksi kompleksitas manusia dengan beragam dimensi. Kesadaran ini menjadi dasar untuk mengolah gagasan-gagasan kreatif dalam menciptakan pertunjukan Indonesia Kita sepanjang tahun 2019 di mana kita semua berada di antara gegap gempita peristiwa politik, namun kebudayaan mengingatkan kita untuk memuliakan kemanusiaan. Ada yang berbeda dari pementasan ke 33 kali ini, selain menampilkan sederet aktor dan komedian, seperti Cak Lontong, Marwoto, Akbar, Mucle, Boris Bokir, ada juga Inaya Wahid. Selain itu pertunjukan Indonesia Kita akan melibatkan wartawan dari beberapa media untuk ikut tampil dalam pentas Toean Besar. Bagaimana cerita ini dipentaskan? Anda bisa menyaksikan pertunjukannya selama dua hari yang akan digelar pada tanggal 20-21 September 2019 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Dapur Tempat Ibu Bersembunyi

Cerpen Nurul Fatimah

Meski bapak baru saja dimakamkan, ibu tetap memilih menghabiskan waktunya di dapur. Begitu para pelayat pulang dan keluarga yang datang kembali ke kehidupannya masing-masing, ibu lantas bergegas ke dapur. Duduk di salah satu kursi usang yang sama seperti ibu, termakan waktu dan menjadi tua, terabaikan di dalam sebuah dapur kecil.

Selama ibu di dapur, sesekali menangis, tapi selebihnya hanya duduk diam dengan pandangan kosong ke arah ventilasi yang warnanya kehitaman akibat bertahun-tahun terkena asap kompor dan tidak pernah dibersihkan. Selama ibu di sana, tidak bicara sepatah kata pun pada kami—anak-anaknya. Ibu masuk ke dapur hanya untuk membunuh waktu, membunuh kenangan dan rasa sedih karena ditinggalkan. Seakan tempat itu memiliki dimensi yang memisahkan ibu dari dunia luar.

Dapur selalu menjadi ‘markas’ ibu, bahkan jauh sebelum bapak meninggal. Selalu menghabiskan waktunya di sana dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Seakan-akan pekerjaan di dapur tidak pernah ada habisnya.

Ibu akan bangun di pagi buta sebelum penghuni rumah lain bangun untuk menyiapkan sarapan dan membuat kue yang akan di titipkan ke warung-warung. Ibu tidak pernah terlambat atau lebih tepatnya ibu tidak boleh terlambat. Sarapan harus dihidangkan sebelum bapak duduk di meja makan. Bapak tidak suka menunggu barang semenit pun. Kalau sampai sarapan belum dihidangkan saat ia sudah duduk di meja makan, bapak akan marah besar. Begitu pula kue-kue yang ibu buat harus jadi sebelum aku dan Dio, adikku berangkat sekolah, karena sebagian kue-kue yang ibu jual dititipkan juga di kantin sekolah.

Di siang hari, ibu juga selalu ada di dapur. Ketika aku pulang sekolah, ibu tidak akan ditemukan di mana-mana selain di sana. Sibuk menyiapkan makan siang untuk aku dan Dio. Ia akan makan sebentar saat aku dan Dio makan. Makannya sedikit saja, tidak pernah banyak. Lalu setelah kami selesai, dan ia membersihkannya, barulah ibu ke kamarnya untuk beristirahat sebentar sebelum kembali menyiapkan adonan untuk kue-kuenya.

Menjelang sore hari waktu ibu biasanya keluar rumah. Ibu akan ke pasar untuk membeli bahan makanan dan bahan kue. Itu pun sebelumnya ibu harus menyiapkan kopi dan cemilan untuk bapak kalau bapak ada di rumah. Tanpa perintah, ibu harus ingat sendiri, seakan-akan itu  tugas wajibnya dan kalau ibu lupa, bapak lagi-lagi akan marah. Jika tidak ada jadwal ke pasar dan bapak tidak di rumah, ibu biasanya duduk sebentar di teras. Sekedar menikmati sore dengan mata menerawang, selalu tampak memikirkan sesuatu. Wajahnya tidak pernah tenang, seakan ada sesuatu yang ia simpan sendiri.

Sebelum petang ibu sudah berkutat lagi di dapur. Menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga. Hanya dijeda waktu salat magrib sebelum menghidangkannya dan sudah harus selesai dibersihkan sebelum azan isya berkumandang. Setelah melaksanakan salat, tanpa istirahat terlebih dahulu, ibu mulai membuat kue agar besok pagi tidak terlambat. Hari-hari berikutnya  semuanya terulang lagi dan terus begitu.

Aku pribadi tidak pernah berpikir bahwa bekerja di dapur dan menjual kue adalah hal yang menyenangkan bagi ibu. Dulu, saat sebelum sesibuk sekarang, ibu terlihat lebih bahagia walau jarang mengekspresikannya. Ada waktu-waktu di mana ibu terlihat bersantai dan menikmati hidup walau dalam diam. Namun, sudah bertahun-tahun lamanya ibu terperangkap di dapur itu, kehilangan segala gairahnya. Tidak ada waktu bersantai, waktu istirahatnya hanya untuk tidur, atau duduk sebentar dengan wajah bosan karena rutinitas yang melelahkan.

Dapur kadang terlihat lebih seperti penjara bagi ibu karena memisahkannya dari dunia luar. Menyita seluruh waktu yang dimiliki wanita itu untuk menikmati kehidupan. Ibu terperangkap di sana karena banyak alasan. Mengabdi pada keluarga, juga untuk menambal kebutuhan ekonomi yang selalu sulit.

Gaji bapak yang seorang pegawai negeri anehnya tidak cukup untuk menunjang kehidupan kami yang jauh dari kata mewah. Selalu saja kurang hingga berkali-kali ibu harus menyuruh kami berhemat, menyuruh kami bersabar atas keadaan. Ibu tidak pernah mengeluh tentang sulitnya ekonomi pada bapak. Kalau pun pernah itu hanya sesekali saja, namun keluhan itu malah berakhir pertengkaran hingga suatu malam ibu ditampar oleh bapak. Aku yang saat itu masih kecil bahkan masih mengingat suara saat tangan bapak menampar wajah ibu.

Ah. Kalau dipikir-pikir, tamparan bapak malam itulah yang memenjara ibu di dalam dapur. Setelah kejadian itu, ibu benar-benar tidak pernah mengeluh. Ibu memilih untuk tidak berkonfrontasi dengan bapak. Semua pekerjaan rumah ibu lakukan dengan tepat waktu dan sebaik-baiknya, sehingga bapak tidak punya alasan untuk protes. Ibu juga mulai berjualan kue untuk menambal ekonomi keluarga yang tetap saja bocor di sana-sini meski sebaik apa pun ibu berusaha.

Bertahun-tahun ibu terpenjara di dapur dengan segala aktifitasnya, hingga ibu bertambah tua dan tanpa sadar sudah kehilangan begitu banyak kesenangan dalam hidup yang seharusnya ia dapatkan. Meski begitu, ibu masih juga tidak mengeluh, bahkan pada kami, anak-anaknya. Ibu lebih suka menyimpannya sendiri di dalam hati. Namun, waktu berlalu dan aku juga semakin dewasa lalu kedewasaan membuatku mengerti penderitaan yang tidak pernah diceritakan ibu.

Selain sebagai penjara, dapur sebenarnya juga tempat pelarian ibu. Ada waktu-waktu di mana ibu mencoba untuk menghidar dari pertengkaran dengan bapak meski seringkali pertengkaran tetap tidak bisa terelakkan, dan dapur menjadi tempat ibu bersembunyi. Menangis diam-diam, tidak ingin membuat anak-anaknya ikut sedih. Atau ketika tuntutan hidup menekan ibu dan ia tidak punya tempat untuk mencurahkan perasaannya, ibu akan duduk melamun di sana. Seakan dinding dapur bisa mendengar semua kesusahan yang dipancarkan oleh mata ibu.

“Bu, makan dulu,” kataku sambil menyodorkan sepiring ketoprak yang aku beli dari pedagang ketoprak keliling yang lewat di depan rumah. “Ibu belum makan dari pagi,” kataku lagi karena ibu tidak kunjung menyentuh makanan yang aku sodorkan.

Sudah lewat dua minggu setelah meninggalnya bapak dan ibu masih hampir selalu berada di tempat pelariannya. Kesedihan di matanya masih sama meski ia sudah tidak menangis lagi setelah minggu pertama. Semenjak bapak pergi, tidak pernah ada aktivitas apa pun di dapur. Ibu hanya berdiam diri di sana, biasanya duduk di kursi tuanya sambil melamun.

Ibu tersenyum lemah. “Nanti,” katanya singkat.

 “Bu, Ibu nggak bisa begini terus. Kita harus ikhlaskan kepergian bapak. Ibu harus lanjutin hidup, hidup yang baik.”

Air mata ibu menetes perlahan mendengar kalimatku meski begitu ibu masih tidak bicara apa-apa. Hatiku sakit melihat ibu menangis lagi karena bapak. Semasa bapak masih hidup, ada begitu banyak penderitaan yang ibu alami karena lelaki tua itu dan sekarang setelah ia tiada pun ibu masih saja dibuatnya sedih.

“Bu,” kataku lebih memaksa.

Aku tidak pernah menyangka kepergian bapak akan sebegitu menyiksanya. Aku pikir kematian bapak akan membuat hidup ibu lebih mudah. Bapak tidak pernah bersikap baik pada ibu. Tidak banyak kenangan baik yang tersisa untuk dikenang bahkan setelah aku tumbuh dewasa dan ibu sudah semakin menua. Hanya ada kenangan-kenangan buruk yang membuatku semakin tidak ingin bersedih atas kematian bapak.

“Bu, selama ini bapak sering jahat sama kita. Apa iya ibu harus meratapi kematiannya sampai nggak peduli sama kesehatan ibu sendiri?” Sebenarnya aku tidak ingin berkata begitu, menjelek-jelekkan bapak yang sudah meninggal, tapi aku tidak tahan karena ibu terus berlarut-larut dalam kesedihan.

“Bagi ibu, nggak akan ada yang bisa menggantikan bapak, Nak. Puluhan tahun hidup sama-sama, tentu ibu butuh waktu, kan? Jadi, ibu mohon biarkan ibu begini.” Ibu berbicara dengan lemah, tidak menatap mataku.

Kata-kata ibu membuatku kesal. Ibu terlalu setia untuk bapak yang entah sudah berapa kali berselingkuh dari ibu. Gajinya selalu habis untuk pacaran dengan entah sudah berapa wanita. Hanya kemarahan dan kekesalan yang bapak bawa ke rumah, dan ibu yang akan dijadikan pelampiasannya.

Terakhir, beberapa minggu sebelum meninggal, bapak bahkan meminta untuk menikah lagi. Aku ingin ibu bercerai saja dengan bapak. Namun, ibu memilih bertahan dalam pernikahannya yang menyedihkan. Ibu memilih diam ketika dipukuli karena menolak keinginan bapak itu. Ah, ibu memang terlalu baik. Sangat baik hingga aku yang harus bertindak. Meracuni bapak.***


Nurul Fatimah. lahir di  Mataram (NTB), 24 Mei 1994. Karya: All My Love (Ragam Media, 2014) (Novel). Call Me Anna (Chapter Eleven, ebook, 2017). Adik Sudah Mati (Cabaca, kumpulan cerpen horor, 2018).

Puisi

Puisi Agung Wicaksana

Malam

__uni potsdam

malam geletar di luar

dijamah kabut

ruai gemetar

bintang-bintang

bagai akasia rekah

salju membelai pelupuk

begitu pilu

remang menggantung pada kisi jendela

sudut-sudut kelu

pada lekuk rindu

kepalaku

menyelipkan lembar awan

menjadi hujan

menemui tajam

rayu bibirmu

2019


Pada Malam

pada malam, aku nelayan

memukat kenangan

berkilau di bawah bulan

langit yang padam

merapung koyak

khayal di tepian

kau berdiri

semacam mercusuar

sorot cahaya

keemasan

bukan. bukan.

mimpi begitu singkat

yakinlah, sayang

kau tak sendiri

walau selat menghampar

malam dan aku datang

merayap

ratap alangkah singkat

yakinlah, sayang

tak selamanya kita terjaga

pada bagian paling usang

2019


Perjamuan Melupakan

kutuang malam ke dalam cawan

dunia tak sepenuhnya lelap

mimpi-mimpi sebagai

sebagian kebahagiaan

dan aku kian dalam

tenggelam ke dalamnya

lampu-lampu pendar-padam

aku ingin

aku ingin

semua ialah sama

buaian awan pada bintang

sekadar bualan

adalah

bintang-bintang

kini enggan menyala

2019


Geligi

aku melihat

lambaian itu

juraian legam

perlahan larut

dan semilir angin

menyemirkan dingin

pada kesepian

2019


Yang Ditinggalkan Hujan

hujan menoktah keningku

sore, periuk menanak waktu

mendidih matang

sebagai lauk malam

hujan seperti air mata

yang kau tadah

dari gelas

ia simbur

membercakkan jejak semu

tak kutemui dirimu

pada kuyup terakhir

kau kenangan paling kerontang

dalam keluasan ingatanku

2019


Rindu

ialah lekap sepasang tangan

di atas pematang

ketika beton-beton terus ditanam

rumah-rumah berganti alamat

rute itu tak berubah

antar lubang tak berpindah jarak

bulir ilalang rekah di sana

2019


Kau

bisikmu menisik

“tuliskan puisi untukku”

di balik kekuningan lembar

puisi berbagi liang

buat kau tergeletak

di antara kelindan kemungkinan

2019


Agung Wicaksana lahir pada September 2000 di Surabaya, Jawa Timur. Buku puisi mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini bertajuk Fanatorium (2017).

Cerpen

Api yang Melahap Semua Kenangan

Cerpen Halimah Banani

Jika ada yang bertanya kenapa Ami mati, maka itu salah saya. Benar-benar salah saya. Ami mati dilahap api kelaparan yang sejak saya menyalakannya, maka api itu selalu merongrong minta diberikan makan. Tak pernah kenyang dan selalu merasa lapar.

Saat pertama kali Ami hamil setelah kami menunggu 10 tahun lamanya untuk punya anak, saya duduk di teras selepas sarapan. Menyandarkan punggung ke bangku sambil kedua kaki saya berselonjor ke bangku lain. Di tangan kiri saya sebatang rokok telah siap untuk dijepit ke bibir. Lantas saya mengambil pemantik dari saku kemeja, menyalakannya.

Tak ada yang aneh dengan merokok di pagi hari, ditemani secangkir kopi hitam. Sampai saya sadari kalau api dari pemantik saya tak mau padam, bahkan tak pernah bisa dipadamkan. Api itu melompat dari pemantik, berjalan mengitari saya dan ukurannya bertambah besar, sangat besar dari saat dia masih di pemantik. Sudah berbagai cara saya lakukan, dari meniupnya, mengguyur dengan segayung air, sampai memanggil tim pemadam juga para tetangga dan kaum kerabat dan rekan kerja. Namun percuma, api itu tidak mau padam juga. Saya kehabisan akal dan orang-orang sudah kelelahan dan malas mengurusi masalah api yang keras kepala dan tak mau padam meski sudah dibujuk secara halus sampai dengan cara kasar. Atas apa yang telah saya coba lakukan kepadanya, api itu murka, membentak saya dengan berkata, “Kau tidak akan bisa memadamkan saya! Jadi sebaiknya kau turuti permintaan saya!”

Bingung dengan apa yang diucapkannya. Saya bergeming. Menatap api itu tanpa berkedip.

 “Berikan saya kenangan!” bentaknya lagi.

 “Ke—kenangan apa?”

“Apa pun, kalau perlu semuanya. Saya lapar!”

Setengah gugup saya berpikir, apa yang harus diberikan kepadanya. Kenangan oh kenangan, mana yang harus saya berikan kepada api yang kelaparan. Semuanya begitu berharga. Sangat berharga. Tak ada saya rela memberikan satu.

“Cepat berikan saya kenangan atau saya akan membakarmu beserta rumah dan segala isinya!” bentaknya tak sabaran.

Saya tertunduk. Daripada dia membakar saya dan rumah beserta isinya, termasuk Ami, lebih baik saya menurutinya. Memberikan kenangan untuk dilahapnya.

***

“Cepat berikan saya kenangan lagi! Saya sudah sangat lapar!” titah api itu yang masih belum padam setelah sebulan lamanya menyala. Ukurannya semakin besar setelah diberi banyak makan.

“Kenangan apa lagi? Saya sudah memberikan begitu banyak kenangan untukmu.”

Api itu mengibas-ibaskan ekornya yang hampir mengenai tubuh saya. Pogah benar polahnya. Serupa pejabat tinggi yang membusungkan dada sambil mengangkat dagu. Menitahkan ini dan itu. Parahnya, semua harus dilakukan segera, tak boleh dibantah atau ditawar. Ucapannya dianggapnya sabda Tuhan. Paling tahu dan paling benar. Wajib dipatuhi.

“Mana kenangan yang saya minta? Berikan segera!”

Selama sebulan ini saya memberikan beberapa kenangan. Mulai dari kenangan saat saya bersekolah. Terkucil selama hampir 6 tahun lamanya sejak SMP sampai SMA karena kebanyakan teman-teman saya merupakan anak orang punya, sedangkan saya hanya beruntung mendapatkan beasiswa. Lewat surat-surat yang dikirim dari Los Angles, Ami membesarkan hati saya untuk bertahan menghadapi situasi seperti itu. Kami akan bertemu lagi karena dia akan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Kemudian saat api itu masih mengamuk minta makan, saya berikan pengalaman saya selulus SMA, bertemu Ami, berjuang mencari kerja sambil meneruskan pendidikan. Mengambil jurusan bisnis. Mulainya saya bekerja menjadi karyawan di toserba, lalu saya mendapatkan pekerjaan lain di sebuah kantor swasta.

Kenangan-kenangan itu seakan-akan tak pernah mengeyangkan api yang kelaparan. Lalu saya berikanlah kenangan tentang almarhum kedua orangtua saya yang samar-samar dan kadang saya me-reka sendiri alurnya. Tentang bagaimana mereka merawat dan membesarkan saya semasa hidup. Tak cukup, saya juga memberikan kenangan masa kecil saya. Ketika menjadi yatim-piatu dan bertemu Ami di rumah panti Kasih Ibu. Ami menghampiri saya yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Saya menekuk kedua kaki dan memeluknya erat. Merasa kedinginan padahal cuaca sedang panas, bahkan keringat mengalir dari kening saya, turun dan menetes saat lelah bergelayutan di dagu. Ami duduk di samping saya, menyodorkan sebungkus cokelat yang didapatnya dari seorang wanita yang hendak mengangkatnya menjadi anak. Hampir dua bulan saya menghabiskan waktu di panti bersama Ami—sampai Ami resmi diadopsi dan saya juga sudah mulai kerasan berkatnya.

Api itu masih merajuk, merongrong mengatakan, “Saya lapar!” Rupanya dia tak ada kenyang-kenyangnya seperti tak pernah sekali pun diberi makan. Dia masih menagih, tak kenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam kerjaannya meminta diberi kenangan. Kalau begini lama-lama bisa habis seluruh kenangan saya dilahapnya.

“Cepat berikan sekarang juga!”

Akhirnya saya mengalah, menuruti kemauan api itu setelah memilah-milah mana yang hendak saya korbankan. Dibanding memberikan kenangan saat saya melamar Ami dan menikahinya, saya lebih rela memberikan kenangan saat Ami meminta saya membeli rumah ini. Berandai-andai kalau kami punya banyak anak dan setiap anak memiliki satu kamar tidur.

“Kita beli rumah ini saja. Rumah ini besar dan bisa menampung banyak orang.”

“Kira-kira berapa orang?”

“Enam?”

“Hanya enam? Itu berarti, aku, kamu, dan empat anak?”

“Ya, dua laki-laki dan dua perempuan.”

“Bagaimana kalau dua belas?”

“Apa? Kamu pikir melahirkan itu seperti mencetak buku?”

“Kalau kamu tidak mau, biar aku yang melahirkan sisanya.”

Ami tersenyum sambil memukul lengan saya. Memandang rumah berlantai dua yang baru selesai kami lihat-lihat—yang baru kami lunasi biaya cicilannya setengah tahun lalu. Ami suka rumah ini selain karena luas, juga terdapat kolom renang di halaman samping belakang rumahnya dan sebuah ruang bawah tanah yang ukurannya tak lebih dari 12 meter persegi.

Kenangan itu, sebenarnya saya tak ingin membiarkan api melahapnya, tetapi tak ada pilihan lain. Saya tak ingin api itu membakar segalanya yang sudah susah payah saya raih.

***

“Kenapa kau masih mengganggu hidup saya?” saya membentak api itu saat dia kembali meminta kenangan. Saya kesal, kenangan saat saya melamar Ami pun telah diberikan kepadanya, dan sekarang dia masih meminta kenangan untuk dilahap. Jika dihitung-hitung, kini hanya tersisa beberapa kenangan saja.

Api yang tubuhnya semakin besar itu balas membentak dengan jemawa, “Punya hak apa kau mengatur-atur saya? Kau bahkan tak bisa mengatur hidupmu sendiri.”

Saya memicingkan mata. Sok tahu benar dia akan hidup saya. Mentang-mentang dia sudah melahap beberapa kenangan, sekarang dia merasa tahu segalanya. Mengetahui kelebihan dan kekurangan saya. Lantas mengancam akan membongkar semuanya, bila perlu membakar segalanya sampai hangus tak bersisa.

Merasa tersudut, akhirnya saya menyerahkan kenangan tentang betapa saya dan Ami berjuang keras untuk punya anak. Tiga tahun lamanya. Sampai kami memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis sebab cara manual sepertinya tak membuahkan hasil. Saya ingat Ami terduduk di salah satu kamar yang sudah dihiasnya untuk tempat bayi laki-laki kami kelak, bercat biru langit dengan beberapa tumpuk mainan di sudut ruangan. Ada mobil-mobilan, bola karet, balok susun, dan masih banyak lagi sehingga saya tidak hafal satu per satu mainan apa saja yang dibeli Ami. Wajah sendunya berusaha menyunggingkan sebaris senyum, begitu kaku. Tangannya memeluk saya erat. Hatinya hancur lebur. Surat pemeriksaan yang menyatakan bahwa saya mandul berusaha ditepisnya. Dicabik-cabik hingga hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai kamar itu, kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur kami.

“Aku baik-baik saja, dan aku tahu kalau kamu yang sedang tidak baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan apa pun. Mukjizat itu ada. Kita bisa berdoa semoga suatu hari mimpi kita bisa menjadi nyata,” ucap Ami sambil menepuk-nepuk punggung saya.

Malam itu saya menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ami. Menangisi nasib saya yang malang. Dan kini saya meringis sebab kenangan itu dilahap api kelaparan.

***

“Cepat berikan saya kenangan!”

“Saya hampir tidak memiliki kenangan apa pun untuk diberikan kepadamu. Bahkan sudah saya berikan juga kenangan tentang Ami yang dengan berat hati mengosongkan kamar-kamar yang bakal menjadi kamar anak kami hanya untuk menghormati saya. Dia katakan kepada saya, ‘Tidak apa-apa, hidup berdua denganmu saja sudah cukup untukku.’ Berdosa saya karena mengikatnya hidup dalam kesepian,” jawab saya frustrasi. Meremas rambut dan menjambaknya keras.

“Kau masih punya satu!”

“Apa?”

“Kenangan hari itu. Cepat berikan kepada saya!”

Saya terdiam. Bergeming beberapa saat. Malam itu, sebelum paginya saya menyalakan pemantik yang mengubah hidup saya serupa neraka, saya ingat telah bertengkar hebat dengan Ami. Saya mengamuk mendapatkan kabar kalau Ami hamil. Dia pasti berselingkuh. Ya, tidak salah lagi kalau Ami berselingkuh.

“Semua rumah sakit tempat kita melakukan pemeriksaan menyatakan hal yang sama. Kalau aku mandul. Lalu bagaimana kamu bisa hamil kalau bukan dengan berselingkuh?”

“Ini anakmu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun,” jawab Ami mantap. Tak sekali pun dia mengalihkan tatapannya dari saya.

“Setelah tujuh tahun? Kamu pikir aku bakal percaya? Kalau saja kamu hamil karena ada mukjizat yang menyatakan aku tidak lagi mandul, mungkin wanita-wanita yang aku tiduri dua tahun belakangan ini juga akan hamil sepertimu!”

Hening. Ami mengerutkan keningnya. Mungkin dia kaget mengetahui kalau saya telah lebih dulu berselingkuh darinya. Dia terduduk di kursi depan meja rias. Tatapannya yang sejak tadi terus menatap mata saya lekat kini beralih menatap lantai. Tak dilanjutkannya lagi perdebatan kami malam itu. Namun, setiap kali melihat Ami, bahkan sampai saat ini, saya masih terus membahas perihal kehamilan dan perselingkuhannya. Dan siang ini, merasa saya terus menerus menghindarinya, menatapnya penuh dendam, Ami memutuskan pergi dari rumah.

“Aku akan menggugurkan kandunganku jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucapnya.

***

Ami sudah tertimbun tanah merah. Niatannya mengugurkan kandungan membuat nyawanya ikut melayang. Saya tidak pernah membenci Ami, saya hanya benci kenyataan kalau saya tidak bisa memberikannya keturunan sehingga dia mencari keturunan dari pria lain.

Sudah sejam saya memandangi makamnya, sampai suara ponsel di saku celana saya berdering. Dari Rina, rekan kerja saya. Dia bilang punya kabar bahagia. Saya menggerutu dalam hati. Kabar bahagia? Kamu kira kematian istriku merupakan kabar bahagia?

“Kenapa kamu terdengar tidak bahagia?”

“Aku bahagia. Sungguh.”

“Benarkah? Aku kira kamu tidak bahagia mendapatkan anak dariku.”

“Maksudmu?”

“Aku hamil anakmu, Mas.”

“Anakku?”

“Iya. Memang kamu pikir aku wanita seperti apa? Aku hanya melakukannya denganmu seorang. Tentu saja aku hamil anakmu,” ucapnya riang karena sebentar lagi dia bakal menjadi ibu.

Dasar, Jalang! Kamu tanya wanita seperti apa dirimu? Cih! Jika kamu wanita baik-baik, tak akan mau kamu menjalin hubungan dengan pria beristri sepertiku. Saya menutup telepon secara sepihak. Menatap makam Ami lekat-lekat. Lantas menengadah, menatap langit yang mulai mendung. (*)

Jakarta, Oktober 2018

Catatan:
Cerpen ini merupakan versi pertama dari cerpen berjudul “Masih Ada Sepotong Pagi yang Belum Kaucicipi”.

Halimah Banani, penulis asal Jakarta. Mengikuti Kelas Menulis Loker Kata. Bisa dihubungi melalui alamat surel [email protected]. Facebook: Halimah Banani