Cerpen

Kereta Tak Lekang Waktu

Cerpen Rania Alyaghina

BABAK I

Aku terbangun dengan napas memburu. Dahiku terantuk sesuatu. Mimpi aneh barusan mungkin turut andil dalam alasan dikembalikan lagi aku ke dunia nyata. Kutolehkan kepala ke sebelah kiri. Sebilah jendela kaca menjagaku agar tidak terjengkang ke rel kereta. Pandanganku disuguhi hamparan sawah yang terbentang luas, cahaya matahari pagi menyorot tanpa malu-malu, memperindah penampakannya. Namun, kedua pasang mataku tidak bisa diajak kompromi. Mau sebagus apa pun pemandangan yang disuguhi, aku kembali memejamkan mata, tidak menghiraukan guncangan kereta yang semakin ganas melarangku untuk kembali ke alam tidur.

Napasku lagi-lagi memburu. Awalnya kukira karena lanjutan mimpi barusan, tetapi kedutan yang berasal dari sudut mataku mau tidak mau membuatku membuka mata. Kulihat orang-orang di sekitarku mengerutkan alis ke arahku. Mulanya sempat membuatku geer dan mencoba mengingat-ingat kesalahanku, namun rupanya mereka tidak benar-benar melihat ke arahku. Aku berdiri, melihat semua orang menoleh ke kiri. Selayaknya orang latah, kutolehkan juga kepalaku ke arah jendela. Kantukku sontak sirna. 

Kali ini bukan sawah yang menggugah nyawa, melainkan sebanyak dua puluhan orang berderet menyamping, mengangkat sebilah kertas yang besar. Cukup besar hingga tulisannya mampu tertangkap mata, hanya saja guncangan kereta membuatku sulit berfokus pada tulisan yang tertera. Aku bertatap mata dengan salah satu bocah berumur lima tahunan. Tatapannya menghunus hati, ekspresinya kosong, membuatku sulit menangkap dan menduga-duga deretan kata yang menghiasi kertas tersebut.

Aku tidak lagi berpikir panjang. Meski masih dihantam kebingungan, aku bangkit dari kursi, berjalan ke tempat masinis berada. Sembari melangkahkan kaki, mataku tak pernah lepas dari dua puluh — tunggu, rupanya deretan orang tersebut tidak hanya puluhan, kertas yang diangkat pun tidak hanya sebilah. Orang-orang yang berderet ini terdiri dari semua kalangan umur. Dari balita hingga lanjut usia, semuanya bersama-sama memegang kertas sehingga benda lemah itu dapat berdiri tegak, melawan usaha angin yang berusaha menerbangkan kertas tersebut. Sepanjang jalan berderet orang yang turut mengangkat kertas berisi tulisan hingga membentuk suatu pesan.

Aku sontak berlari. Kuberanikan diri membuka pintu yang membatasi penumpang dengan masinis. Beberapa petugas sempat mencoba menghentikanku, aku tetap mengelak dan menerobos masuk. Dengan terengah-engah, kuucapkan dua patah kalimat, mengulang pesan yang tertulis di rentetan kertas tadi, “Tolong hentikan kereta. Ada kaki yang tersangkut di rel.”

Para penumpang lain rupanya sudah berada di belakangku. Kurasa mereka tidak mendengar ucapanku, tetapi mereka sudah pasti melihat ke arah jendela dan seratus persen mendukungku, membuat para petugas lantas menoleh ke arah jendela. Sang masinis pun tak ambil pusing. Ia sontak mengusahakan agar permintaanku terkabulkan. Kali ini, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Mereka tidak lagi berdiri berderet. Kepanikan menyerang mereka, mereka berlarian seperti hendak menghalang kereta. Aku mencoba melihat jendela. Kubayangkan nasib orang yang kakinya dibui rel, tak bisa ke mana-mana. Hanya mukjizat yang mungkin dapat membantunya saat ini. 

Orang bernasib nahas itu mulai tampak batok kepalanya. Penumpang di dalam kereta sontak turut memekik, seolah-olah bentuk penyemangat untuk masinis. Tampaknya hal tersebut hanya membuat sang masinis semakin kewalahan, namun ia tak tampak ingin menyerah. Ia melipatgandakan usahanya, krunya turut melakukan hal yang sama. Para petugas meminta para penumpang kereta untuk kembali ke kursi masing-masing, demi meminimalisasi korban baru. 

Aku menuruti petugas, berusaha menjadi penumpang yang kooperatif, walaupun pantatku tidak kerasan dan kerap kali berdiri untuk memastikan kami benar-benar berhenti sebelum melindas habis kaki orang tersebut.

BABAK II

Sang masinis, ditemani sejumlah petugas lain, segera turun setelah kereta berhasil dihentikan. Orang yang kakinya tersangkut ini sendirian, tak tampak orang-orang yang mengangkat kertas tadi menemani. Sebegitu detailnya perhitungan mereka untuk memastikan jarak mereka jauh dari orang ini. Lagi pula, tiada kaki yang sanggup mendahului laju kereta. 

Para penumpang tidak mencoba mengganggu proses penyelamatan. Semua orang duduk di kursinya masing-masing, berharap-harap cemas. Tidak satu pun lontaran perkataan yang menuding korban karena keteledorannya. Semua orang pun tahu tidak ada orang yang bermimpi menaruh kakinya di bawah rel kereta api.

Lagi-lagi, pantatku tidak bisa diajak kompromi. Rasanya ingin turun dan menemani, kali-kali ada yang dibutuhkan sang masinis. Kutahan keinginan itu dengan tetap mengamati dari jendela. Terlihat sang masinis tengah bercakap-cakap dengan korban. Anehnya, mereka tidak segera menolong orang itu. Semua petugas seolah habis melakukan kontak mata dengan Medusa yang sontak membekukan tubuh mereka.

Aku kembali menoleh ke arah masinis dan para rekannya. Cara mereka berdiri tak ada bedanya dengan pahatan seniman ulung; begitu kokoh dan tegap. Aku tak sabar, tak kuhiraukan lagi anjuran petugas, toh kereta sudah tidak lagi berjalan. Aku bangkit dan berlari keluar, kemudian langsung memaki tanpa berpikir lagi. Sesulit itukah membantu korban terbebas dari jeratan rel? Lantas bagaimana nasib perjalanan kami yang tertunda begini?

Kuulurkan tanganku pada sang korban, korban yang tengah dirundung nasib. Mataku menyipit, melihat dengan seksama. Di mana kakinya? Tidak tampak sedikit pun warna kulit yang dihimpit rel.

Oh. Oh?

Satu kakinya memang tidak ada. Ujung lututnya yang terbungkus kulit sempurna ia istirahatkan di bawah rel. 

Sebelum aku bereaksi, orang-orang yang berderet dan membopong kertas tadi keburu muncul—entah sejak kapan mereka tiba di sini—berebutan masuk ke dalam kereta. Rupanya sedari tadi mereka menyembunyikan senjata tajam di bawah baju mereka. Ditariknya langsung senjata mereka dari sana, kemudian ditebas habis kepala para penumpang tanpa pilih bulu. Sebagian yang tidak memegang senjata, tampaknya ditugaskan untuk meretas tas-tas, baik yang ditaruh di lantai dekat kursi, maupun di atas bagasi kursi. Tanpa perlu mengecek apa isi tas, mereka langsung buru-buru menggondol tas keluar. 

Aku melongo melihat banyak darah terbuang percuma. Aku mendesakkan tubuhku di sela-sela kursi penumpang, berharap aku tidak kasat mata. Tak lagi kupedulikan nasib tasku yang mungkin tengah menanti-nanti untuk diambil.

Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku, misalnya mempertanyakan maksud mereka melakukan ini pada kami, yang jelas-jelas tidak mengenal keberadaan mereka hingga detik ini. 

Apa salah kami? Apa yang mereka mau?

Apa yang kami miliki hingga meyakinkan mereka untuk menempuh ide sebengis ini?

BABAK III

Waktu rasanya telah menempuh beribu-ribu jam. Tapi semenjak teror menginjakkan kaki di kereta ini, durasinya hanya kurang lebih lima belas menit. Aku memang tak henti-henti mengecek arloji di pergelangan tangan kiri, membuat jarum jam malu untuk maju karena ditatap melulu. Entah untuk apa aku mengecek waktu. Entah mengapa waktu menjadi satu-satunya hal yang kupikirkan di kala genting begini. Aku tetap tidak akan keburu sampai di stasiun. 

Pekikan para penumpang kembali memenuhi pendengaranku. Aku mencoba menepisnya dengan mengucap ‘pergi’ beberapa kali, mengulang-ulangnya di dalam hati layaknya mantra. Bedanya ini tidak mengandung arti apa pun selain menginginkan pergi suara-suara manusia yang dilanda kepanikan, mengharapkan kepergian diriku dari situasi semacam ini.

Kepalaku berpaling ke kanan, merasakan kedutan di ujung mataku — hal yang biasa kualami ketika ada yang memperhatikanku. Kudapati lelaki paruh baya yang menatapku dengan mata merahnya. Ia tengah menyembunyikan seorang anak, mungkin sekitar tujuh tahun, di antara lengan dan tubuhnya. Anak itu tampak patuh, tidak mencoba menyusahkan bapaknya dengan tidak bergerak sama sekali. Hingga sulit bagiku untuk melihat apakah ia telah ditenangkan bapaknya, atau telah mati di pelukannya—aku tidak mau tahu.

Kali ini kutolehkan kepalaku ke kiri, berharap pemandangan yang menenangkan menanti. Seorang perempuan dengan mulut dan leher menganga menyuguhkan penampakannya padaku, yang kusambut dengan ringisan spontan. Kepalaku kembali menoleh ke kanan, memastikan apakah bapak dengan anak itu melihat apa yang barusan kulihat. Ia masih menatapku, dengan anaknya yang sekarang juga menatapku. Matanya sama merahnya seperti bapaknya. 

Kurasakan sudut mata kiriku kembali berkedut. Tetapi bukan di posisi perempuan tadi, tepatnya di arah jam sepuluh. Nenek-nenek dengan bergelimang emas menghiasi kulitnya —benda ini tak mampu kuabaikan dari penggambaranku karena begitu mencuri perhatian — sedang menahan guncangan dalam dirinya agar keberadaannya tidak begitu ketara. Kuarahkan kembali pandanganku kepada lelaki paruh baya tadi, memastikannya juga melihat apa yang kulihat. 

Ia menatap mataku, kemudian mengangguk pelan. Kulihat sang anak sudah kembali menyembunyikan wajah di ketiak bapaknya. Kupastikan nenek tadi juga melihat keberadaan kami, yang dikonfirmasinya pula dengan anggukan. 

Di masa-masa sulit seperti ini, bahasa tubuh hanya andalan kami. Tapi selalu ada kemungkinan salah interpretasi. Muncul gerakan dalam hatiku, yang mungkin juga tumbuh dalam diri mereka. Aku lantas membalas anggukan mereka dengan anggukan pula.

Dalam diam, kami bertiga telah mencapai suatu mufakat, bersepakat tanpa tersurat, dan percaya diri dengan rencana yang disetujui.

Kutengadahkan kepalaku, menyiapkan nyaliku.

BABAK IV

Tanpa pandang bulu, tanganku mengarah ke abdomen seseorang yang baru saja selesai menebas lengan seorang penumpang. Kuhantam perutnya tanpa ampun, hingga tajak terlepas dari tangannya, kemudian disambut baik tajak tersebut oleh lelaki paruh baya tadi. Sembari menggandeng anaknya, ia memenggal kepala-kepala yang tadinya mengincar kepala orang lain pula. Hawa dingin mulai menggerogotiku. Selain karena sebegitu gampangnya orang-orang ini menemui ajal, tetapi aku takut kalau-kalau bapak itu salah sasaran dan malah memisahkan kepala para penumpang dengan tubuh mereka. Namun, aku menaruh kepercayaan tinggi padanya. Bisa dibilang tidak sulit membedakan penampilan kami, penumpang kereta, dengan para perampok tidak tahu diri ini. 

Nenek-nenek tadi juga turut membantu dengan menanggalkan salah satu perhiasannya, kemudian ia gores kuat-kuat ke arah wajah seseorang. Hingga saat ini, aku baru memahami manfaat lain memiliki perhiasan.

Sesosok perempuan keluar dari persembunyiannya, menendang tepat di ulu hati salah satu perampok. Tampaknya aksi kami menggerakkan hatinya. Rupanya tindakan heroik kami berefek sebesar itu: mulai bermunculan sejumlah orang dari bawah kursi, dibalik kursi, dibalik pintu toilet. Semua, yang mulanya pasrah, seolah tumbuh harapan. Mereka memberanikan diri melawan perampok-perampok ini tanpa senjata. Setelah lawannya terkapar, baru direbutnya senjata itu, lalu mereka gunakan lagi kepada kawannya. Suatu siklus yang menggetarkan, membuatku tidak lagi melanjutkan aksiku selain terbujur kaku. 

Tak tersisa lagi tangan yang menyerang. Genangan darah dan aroma anyir membuat pening kepala. Namun, hal itu tak lagi jadi soal, karena rasa lelah yang tiada duanya. Bisa kupastikan tiga perempat penumpang sudah jadi mayat, tetapi hampir seluruh dari para perampok itu sudah tidak lagi bernyawa. Beberapa mungkin tengah meregang nyawa, tapi tak bakal bertahan lama.

Salah satu penumpang kloter depan tiba-tiba berlari ke arah kami. Belum sempat ia menghentikan lari, mulutnya telah membuka, “Sang masinis telah mati. Tubuhnya bahkan entah ada di mana.”

Aku spontan mengatupkan rahang bawah dan atas dengan keras. Pupus harapanku menjumpai sanak saudara di seberang sa — tunggu. Semoga harapanku masih mungkin terwujud.

Aku cepat-cepat berlari, melewati penumpang pemberi wahyu tadi, melewati korban yang kebanyakan awak kereta api. Aku segera mengecek kondisi radio lokomotif, yang kudapati dengan kondisi yang tidak bisa digunakan lagi. Tubuhku kuambrukkan ke pintu. Berapa lama mereka merencanakan aksi perampokan semacam ini hingga hal sekrusial ini tak mereka lewatkan?

Tidak ada lagi yang bisa kami lakukan. Sang masinis telah berpulang. Kami tak bisa pulang. Satu per satu penumpang menuruni kereta. Kami berjalan ke arah pedesaan yang dekat dari lokasi tanpa ditinggali penghuni lagi. Ingatanku kembali terlempar pada kejadian yang… berapa lama waktu telah berlalu sejak kejadian tadi?

Kembali kuperiksa arlojiku yang telah dilumuri bercak merah. Sudah jam empat sore, atau tepatnya hanya satu jam semenjak peristiwa tadi berlangsung. Kembali teringat olehku anak kecil yang beradu pandang denganku dari jendela kereta. Entah di mana ia sekarang. Mungkin salah satu lengannya masih tertinggal di dalam kereta.

Dengan tiadanya petugas kereta yang tersisa, kami tidak tahu mesti bagaimana. 

BABAK V

Di sini memang tidak ada kalender, tetapi kami mencoba menghitung seadanya dan menduga sudah dua tahun waktu berlalu semenjak kejadian itu. Tidak ada bantuan yang datang. Mungkin mereka datang, dan mengira kami semua sudah mati. Atau mungkin dinyatakan hilang ketika korban-korban diidentifikasi.

Sesekali kami memang pergi ke rel itu, mencoba meminta bantuan kepada kereta lain yang mungkin melintas. Kami sesekali kembali, melihat apabila ada kereta lain yang menghampiri. Mayat yang bergelimpangan masih terkapar di sana. Mungkin pertolongan tidak pernah benar-benar datang. Mungkin pula mereka tidak mau berurusan dengan orang yang bukan penumpang.

Tetapi kami tak bosan menjenguk rel setiap waktu. Kami selalu menaruh harapan dan kembali ke sana, menunggu sampai ada kereta yang melintas. Selebaran kertas telah kami siapkan, lengkap dengan tulisan di atasnya. Lengkap dengan sebilah parang di balik baju kami. Hingga tiba waktunya kami beraksi lagi. 


Rania Alyaghina, saat ini menetap di Tangerang. Kegiatan sehari-hari berkutat dengan rentetan kata, menciptakan pengalaman membaca semakin bahana. Email:[email protected]

Puisi

Puisi Nafi Abdillah

Tasbih yang Mengepung Kiai As’ad

Usai dawuh Kiai Kholil yang menggetarkan tembok-tembok tempat segala yang tinggal,

butir-butir wirid yang sering berputar dari atau pada wajah-wajah yang serba kias,

mengepung lehermu juga.

“tolong sampeyan antarkan ke tanah Jombang!” begitu kira-kira.

***

Bukankah untuk mencapai haq, kau harus menjadi basmallah dahulu?

Namun, kau tak perlu memahami apa pun, meski itu bukan berarti tak harus.

Sebab napas yang kauembus bukan dari gerak udara dalam parumu.

Sebab kata yang kaulontar bukan dari endap akalmu.

Kau memerlukan wewangian yang tidak terendus oleh hidungmu

sekaligus tanpa memikirkan jenis-jenis pohon yang berbiak.

Barangkali, itu bukanlah berasal dari daftar kitab yang perlu kaubaca.

Tugasmu ialah menjaga tangan santun agar adab tetap seperti bulir air mata

ketika kau merasa berdosa atau kelewat bahagia.

Bahkan, di kedalamanmu telah kaukungkum seluruh keredak api dan perigi.

Semuanya mungkin kaumaksudkan agar tidak ada yang tiris ke dalam makrifatmu.

***

Berderaplah melebihi batas, menjauhi riam,

perasaan janggal, dan batu-batu besar Gunung Geger.

Sementara denting waktu sama halnya wirid jantungmu

yang kerap lupa menyumbat celah-celah cahaya,

mengakibatkan jari-jarimu tak berani menghirup misik

walau sekelebat, apalagi menyentuh.

Ujian, barangkali adalah makanan siap saji bagi perut-perut setan.

Namun sejak awal telah tak kaudengarkan lenguh-peluh

yang sengaja mereka serak-serakkan untuk mengoyak imanmu.

Hinggalah segala lengang terasa lekat begitu saja seperti digulung oleh waktu.

Di atas latar Teburing, tetes keringatmu adalah ritus bagi senyum merdu Kiai Hasyim.

Leher tundukmu berlaku sebagai isyarat serta hal terakhir sebelum pamitmu ialah,

“yaa jabbar, yaa jabbar, yaa jabbar, yaa qohhar, yaa qohhar, yaa qohhar.”


Bukan Mbah Moga yang Menundukkan Banjir

/1/

Di rusuk kali Paingan, saban hari kehambaan lelaki sepuh itu

dihabisi oleh tangan-tangan usia yang cukup fasih

menanggalkan pujian orang ke dinding-dinding bambunya

yang dianyam dari napas-napas Tuhan. Ia selalu yakin

bahwa segala yang liuk-ceruk-merasuk adalah rahmat.

Ia telah sampai pada maqam di mana tidak ditemukan tafsir penolakan.

Di darahnya, penuh doa yang pasrah seperti rigen petani tembakau

yang berharap dirinya tak rapuh di musim hujan.

Yang ia pahami adalah menjauhkan doa dari fungsi tetes pahala

atau imbalan yang tualang ke tegak gubuknya.

Jauh-jauh hari telah ia betulkan suara-suara serak hati

sebagai rayuan kepada Kekasihnya.

Semua ini tidak diartikan sebagai permintaan,

namun mirip seperti kerinduan Kanjeng Nabi

pada suara lembut Bilal yang tak lagi menyentuh telinganya lebih dari 40 hari.

Sepotong cahaya mulai bermekaran dari dalam ruh

laksana sayap Jibril yang menghalau arak-arakan awan mendung

sewaktu pamitnya Nabi. Segala tafsir mengenai jasadnya,

semata-mata adalah benteng agar benang-benang tipis menuju langit tidak terputus.

Namun, ia benar-benar tak berani memasang dirinya

di tengah-tengah gerombolan kepala yang menenteng sekerat tanda tanya.

Sebab baginya, pengakuan adalah noktah-noktah bencana.

/2/

Malam telah lamat-lamat membelalakkan sepenggal amarah yang berahi.

Tidak banyak yang berani lekat-lekat menatap,

meski telah dijanjikan segala perlindungan:

keris keramat; jubah kadim; songkok masyhur; dan jiwa yang maksum.

Semenjak itu, telah sengaja ia kaburkan matanya

terhadap segala poros yang menyamar.

Baginya, surga bukanlah titik tumpu.

Begitu pula, neraka jauh dari lumbung rasa takut dalam dirinya.

Jika sudah cinta, apakah masih tak mampu menikmati seluruh tangis

atau kobaran api yang bakal membungkam segala gelak?

/3/

Hujan begitu dini menggelar pasar malam. Kali Paingan tak lagi mampu memangku.

Namun, di rusuk Kali Paingan lelaki sepuh itu tetap meleburkan

segala yang telah dipasrahkan meski akan disentuh taring-taring air.

Banjir menjadi sekawanan anak kecil yang tak berani melawan orang tua.

Syahdan, seperti Musa membelah lautan, ia menembus lorong-lorong senyap

yang khusus dinubuatkan untuknya.


Sabdo Palon, Noyogenggong

Usai tubuh menjelma ringkik Sembrani yang tak kasat,

lekaslah kami mengabdi pada roh-roh moyang

tanpa harus berpindah dari ladang berenuk

selama mestika belum terbata mendengungkan sabda-sabda.

Dawuhmu, Prabu,

sudah tak dianggap sebatas perkataan di ujung mata tombak Majapahit.

Sebab setelah ini, tak ada yang lebih luhur lagi di antara asap dan cahaya lilin

serta dada-dada yang tertancap oleh tombak adalah segala tunduk yang taksa. 

Meski dari balik busung dadamu

selalu ada nyala api yang luber menyembulkan berahi atau baur arah angin

tetap saja tak sudi kauminum derai-derai darah dari mata airmu sendiri.

Tapi percayalah Prabu, tak ada yang benar-benar merasakan kematian.

Jika itu berarti kau harus menenggelamkan roh dan jasadmu,

kami patuh tanpa harus melebarkan nestapa.

Sebab di tanah-tanah yang lebih subur

dari tanah yang diciptakan Sang Hyang Wenang,

sejatinya nelangsa menolak dilahirkan.

Saat itu, berawal dari khianat yang terkapai-kapai ke poros tirta amertha bumi

hingga Adipati mengatupkan gendang telinga pada bau-bau darahmu,

tetapi kau memilih bersejingkat dari dalam corong senyap ke arah Cetha

meninggalkan segala derap yang kabur dan suara-suara asing di tengah desa.

Berberita kewaskitaan Kanjeng Sunan,

diajaknya kau memangku kembali tanah-tanah moyang.

Namun tetap tak ada yang bergetar kecuali jiwa-jiwa

yang berlayar menuju telaga penahbisan.


Gajah Mada dan Borok-borok yang Niscaya

(1)

Usai tetes darah yang sengaja dibiarkan tumpah

hingga menjelma riwayat sebagai bibit bagi anak turunmu

hanya dianggap sebatas mestika yang karat,

tetap tak sudi kau keluarkan keredak api lewat sumbumu.

“Lebih baik kuteguk darahku daripada kukotori dengan mata airku sendiri,” katamu.

Telah kaupatahkan segala murka yang pelan-pelan mulai bongak pada tirta amartamu.

Kau selalu bersikeras mendekap tulang-tulang Majapahit.

(2)

Semua berawal dari pada rapal yang diadu domba,

yang terus-menerus melekat di tiap-tiap laku,

menjadikan bau-bau mistik tak lagi lapang,

mengakibatkan pucuk-pucuk keris

kelu mendengungkan sabda sebagai usaha mengasah perlawanan.

Seluruh kerajaan merasa tertimpa tempayan nanah

meski kehendak tak pernah melengking dari kidung seluruh arah mata angin.

Namun kau tetap dibentur-benturkan oleh ucapan nanar

yang menyat dari atau ke kecipak waduk Gajahmungkur.

(3)

Setelah Bubat yang tak diinginkan oleh sesiapa

dan belalak mata yang meninggalkan noktah-noktah bencana,

jiwamu mengerucut, merajut benang-benang tipis menuju niskala,

memasrahkan jasad dan rohmu lebur:

lebih tipis dari asap, lebih sunyi dari bisikan.


Menemukan Jati Alas di Selatan

Kalam langit yang tertiup membawa kakinya memijak tanah-tanah Pamantingan.

Gegaslah ia bersila dikelilingi potongan-potongan titah.

Pagi belum usai mengepulkan asap dari kobaran-kobaran api

yang menguar dari dalam celah-celah jati alas.

Sedangkan malam serupa kematian yang sempit dan tak tanggal oleh kebiri waktu.

Kanjeng Sunan meleburkan jasad sebagai tirakat

melewati benang-benang tipis menuju Sang Hyang Agung.

Sebab, resah dan tulah hanyalah sebatas berenuk yang busuk.

Hingga diutuslah Cemara Tunggal menggetarkan suara-suara serak

dari tempat lengang pun juga tak lekat.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga, kembalilah menuju selatan.”

Derap-derap langkah dan napas-napas malam tumpah juga pada Gunung Pati.

Di tangan kewaskitaan Kanjeng Sunan, kera-kera mampu mengaburkan diri

dari belalak sepasang mata dan amarah yang berahi.

Sebelum  waktu mencacah jiwa, batang-batang jati telah patuh pada kecup doa.

Dengan detak-detak tangan yang terdengar parau

dan lenguh-peluh yang diasingkan dari tubuh-tubuh, 

jati alas berhasil menancap sebagai saka guru.


Dengan Mengenakan Namamu, Muhammadku

Namamu mendengung dalam pengasingan.

Muasal namamu adalah pakaian bagi jiwa-jiwa telanjang.

Kau kampung halaman yang dirindukan oleh perantau nanar

sebab pulang terbuat dari jarak dan gelisah.

Dari namamu, semesta mampu merentangkan lengan

dan Jibril sanggup mengepakkan sayap.

Setelahmu, tubuh-tubuh memerlukan bumi.

Menampung tetes darah dan deras hujan yang mengguyur mata.

Telah kau siapkan ladang-ladang subur sebagai tempat bercocok tanam.

Tapi besi-besi lebih suka aku kibarkan di atas tanah-tanah basah.

Memang semula berawal dari badai kegembiraan

yang datang  bergantian di musim-musim cerah.

Namun cuaca telah berpindah haluan.

Maka saat ini, yang aku perlukan sebagai arah kembali adalah dirimu.


Di Balik Yarmuk

:Khawlah binti Azwar

Dari Yarmuk, matamu mata pisau melewati batang-batang tamr

dan butir-butir pasir menuju ke sebuah muara di ujung jejak-jejak kaki.

Di belakang punggung mereka, kaurangkai napas-napas

menjadi doa yang berarak memenuhi mega-mega.

Selalu kautorehkan percik-percik air terjun

dari dalam matamu ke atas bebatuan keras

sebelum luka menemu cahaya fajar.

Sebab Dhirar, kau harus merelakan tubuhmu bergetar oleh sentuhan cahaya matahari.

Mungkin kau tak pernah dianggap sebagai gema di kedalaman gua Hasa.

Sebab, di depan zirah orang-orang Romawi telah kautandai arah mata angin

yang menjadi titik temu antara darah dan nanah.

Namamu, seperti tangga langit yang seluruhnya berupa nyanyian serak

hingga berjatuhan air mata malaikat menjadi danau-danau kecil di tengah gurun.

Maka, angin menggiring ringkik kuda menuju getar-gemetar benteng Byzantium.

Tak pernah kau mengerang meski kaudengar deru-deru lonceng besar

bisa mengatupkan gendang telinga.

“Wahai putri-putri Himyar, keturunan-keturunan Thubba’…”

Suaramu merubah pucuk-pucuk pedang hingga kastil menggigil sekali lagi.


Surat ke 18 yang Jatuh ke Bumi

/Haq/

Adakah yang lebih melegakan daripada patahku

dari ranting-ranting Arasy menuju Jumat yang mengerdilkan seluruh kabar haru?

Atas derma-Nya, aku lemparkan dusta jauh dari hadapmu,

kutiupkan wirid-wirid haq ke dalam semesta dirimu.

/Rida/

Akulah pelita yang membimbit potongan-potongan titah

di tengah daur yang payah, di antara masa yang pasrah.

Tuntunlah kepalamu agar terbenam dalam karib doamu,

sebab akulah pemanjang cahaya yang menyertaimu.

/Tobat/

Umpama kauziarahi Al-Aqsa dan Al-Haram,

dan telapakmu bagai tertancap batang-batang tamr dan duri-duri bidara,

biarkan lengan-lenganku yang meredam luka dan dendam

sebab di telaga penahbisan, telah kusertakan doa untuk pengampunan-Nya.

/Batil/

Bersama Al-Baqarah, kudirikan benteng Rumi mengelilingi istanamu

sebagai penghalau ketika hasut dan tamak berusaha mencengkeram tengkukmu.

Maka, kumandangkan lafalku pada tiap embus napas yang membentuk hidup.

Peliharalah zikirku dalam tiap detak jantung sebelum mata benar-benar terkatup.

/Cahaya/

Usai deras doamu yang khidmat dan luhur

kubentangkan jalan panjang melewati saf-saf langit yang tafakur.

Akulah persaksianmu, maka, tak usahlah khawatir

walau Malaikat Israfil meniup sangkakala terakhir.


Sebelum Tiba di Bulan-bulan Janggal

Daun malam berkata dengan busur panah yang membidik mata.

Di antara langit yang telanjang, bau-bau kematian adalah mata pisau.

Kehidupan adalah rempah-rempah yang telah menjadi hidangan langit.

Sedang aku hidup di dapur dengan kayu-kayu yang belum dibakar.

Suatu kali aku menyusuri hutan-hutan gelap

dengan langkah yang tidak bergerak.

Hanya jejak-jejak waktu yang terdengar parau.

Aku pesakitan sebab gendang telinga mengatup perlahan.

Hingga tibalah aku di hadapan unggun api,

bau-bau kematian luber, melelehi ruh-ruh yang memar.

Daun-daun malam mengendus dari permukaan

dan menggantungkan napas-napas.

Dituntunnya aku ke telaga penahbisan.


Ketika Para Perindu Duduk di Suatu Malam

Terang maupun gelap adalah jalan-jalan para perindu

yang tidak pernah abai dari fitrah alam semesta.

Rindu adalah kobaran api yang menjalar hingga terkoyak jiwa-jiwa sunyi.

Tapi mereka tidak mengultuskan pengakuan diri.

Oh, Perancang kampung halaman.

Biarlah nyiur seruling para perindu luruh pada pangkuan-Mu,

sebagai bongkahan es yang tidak bisa mencair kecuali sebab titah-Mu.


Sang Penunjuk

:USC

Dingin malam membekuk tubuhku.

Lalu kata-katamu muncul sebagai akar dari pohon,

tumbuh, bercabang, dan berbuah menjadi cahaya pagi.

Kata-katamu terbit dari langit.

Di persimpangan menuju bulan pernuma, ia tidak tenggelam.


Nafi Abdillah, menulis puisi dan cerpen.Seorang pembelajar di Padepokan Sakron dan bergiat pula di Komunitas Sastra Kamar Kata Karanganyar dan Forum Malam Sastra Pandawa. Karya-karyanya pernah tersiar di beberapa media cetak maupun online dan beberapa kali menjuarai ajang perlombaan menulis. Penulis bisa dihubungi melalui surel [email protected] atau akun media sosial Nafi Abdillah.

Cerpen

46 Miliar Tahun Cahaya

Cerpen Fatimah Ridwan

Kau pernah mengatakan, kelak kita berdua akan pergi ke ujung alam semesta, 46 miliar tahun cahaya jaraknya dari bumi, tempat di mana jarak akan lenyap. Saat ini, jarum jam di tanganmu berhenti di 07.41, tak kulihat ia bergeser lagi sejak kau rebah di sisiku.

“Sejak awal aku merisaukan itu,” gumamku, nyaris tak terdengar. Begitu pelan. Sangat pelan.

“Apa?” tanyamu tanpa menoleh padaku, tak ingin mengalihkan pandanganmu ke arah laut, serupa memandang kekasih untuk terakhir kali.

“Jarak. Ternyata jarak bisa demikian kejam, jarak bisa membuatku kehilangan banyak hal, jarak nyaris membuat aku kehilanganmu,” jawabku, dengan air mata yang nyaris luruh. Aku merasa puluhan taut rantai terikat di dadaku. Sesak. Aku tersedak, pada detik berikutnya ia berganti menjadi isak.

***

Kelas selalu gaduh dengan cekikikan murid-murid perempuan tiap kali mata pelajaran astronomi berlangsung, bukan karena pelajaran itu menyenangkan, tetapi entah, dada mereka kembang kempis menahan kekaguman yang terus meluap saat pesonamu memanah tepat ke hati mereka.

“Astronomi bukan sekadar mempelajari benda-benda langit di alam semesta, lebih dari itu, astronomi mengajarkan tentang hakikat diri kita, selalu ada yang lebih besar dari kita, kejadian-kejadian yang lebih besar. Jika satu kematian terjadi di bumi, mungkin saja di saat bersamaan, satu peradaban musnah dalam ledakan supernova di bagian lain semesta, di gugus bintang lain atau di galaksi lain. Adik-adik sekalian, kita, manusia yang sombong ini sejatinya tak lebih besar dari setitik debu di alam semesta, sangat mudah untuk musnah,” jelasmu panjang lebar.

Kau berdiri di tengah-tengah ruang kelas dengan kedua tangan menggenggam di balik punggung, serta senyuman seteduh oase yang sejuk, menyusup ke hati para gadis, seakan menyelamatkan mereka dari ganasnya kegersangan gurun. Dan riuh tepuk tangan menggema di ruang kelas, membuatmu tidak terlihat seperti guru, namun lebih menyerupai musisi yang baru saja menyelesaikan sebuah konser.

“Sampai di sini ada yang ingin ditanyakan?”

“Saya, Pak.” Seorang murid perempuan yang berjarak dua bangku dari depan tempat dudukku mengangkat tangannya.

“Silakan.”

“Sebelumnya saya mohon maaf karena ini bukan pertanyaan, melainkan pengakuan saya,” ucap gadis itu, terjeda.

“Awalnya saya tidak percaya dengan Ibu saya yang mengatakan bahwa dengan bersekolah saya memiliki masa depan. Namun, setelah Bapak mengajar di sekolah ini, saya percaya bahwa masa depan saya ada di sekolah, dan bahkan saat ini ada di depan mata saya,” lanjutnya, lalu menundukkan wajah dalam-dalam menyembunyikan semu merah di pipinya.

Seketika kelas kembali riuh oleh sorak murid-murid lain yang muak mendengar rayuan klise itu. Sontak kau memandang ke arahku dengan tatapan sungkan, sedang aku membuang pandangan ke luar jendela, ada yang terbakar di ulu hatiku.

Siang itu, dalam perjalanan mengantarku pulang, kau melambatkan laju sepeda motor dan memanggil namaku dengan sedikit berteriak melawan angin dan bising kendaraan.

“Maretna?”

“Ya?”

“Maafkan aku soal kejadian di kelas tadi.”

“Itu bukan salahmu.”

“Tapi kau cemburu.”

“Tenang saja, itu yang terakhir kali aku cemburu karena aku takkan melihatmu mengajar lagi.”

“Kau pikir aku akan membiarkanmu putus sekolah begitu saja? Apa dengan kubiayai sekolahmu, itu membuatmu merasa direndahkan?”

“Sudah berulang kali kubilang, aku tak mau kau membiayaiku sebelum aku jadi istrimu. Atau jangan-jangan, kau yang merasa rendah jika menikahi bocah muridmu sendiri?”

Kali ini aku tidak mendengar kalimat Tidak semudah itu untuk kita dari mulutmu, hanya ada hening yang mengambang menabrak-nabrak angin, hingga kau membelokkan setir sepeda motormu memasuki pekarangan rumahku.

Ibu tengah mengambili sayuran sisa berjualan tadi pagi yang tak habis saat kita tiba. Kau menyapanya dengan akrab, larut dalam cengkerama serupa karib. Kalian membincangkan kawanan penyamun yang telah memasuki desa, sebelum Ibu masuk dan meninggalkan kita berdua yang memilih melanjutkan hening di beranda.

Lelaki itu adalah guru anakku, begitu yang Ibu pahami tentang kita berdua. Entah bagaimana jika Ibu tahu anaknya yang baru 17 tahun menjalin hubungan bersama seorang lelaki yang seusia dengan dirinya, membayangkannya pun aku tak berani. Kata-kata Ibu bahkan selalu terngiang tiap kali aku sadar paut usiaku denganmu terlampau jauh. 20 tahun! Persis seperti paut usia Ibu dengan Bapak.

“Nak, jika menikah nanti, carilah laki-laki yang paut usianya tak jauh denganmu, aku tak ingin nasibmu sepertiku. Harus menjadi tulang punggung, sementara bapakmu masih hidup. Lalu apa bedanya aku dengan janda sekarang?” tanya Ibu suatu kali. Pernah juga Ibu membahas masalah serupa, “Lihatlah bapakmu, sudah sepuh sementara anak-anaknya masih kecil, masih butuh biaya banyak.” Tetapi sungguh, tak ada yang bisa memilih ke mana hatinya berlabuh.

“Aku berangkat malam ini,” ucapku, memecah keheningan.

“Kau bilang seminggu lagi?”

“Tante Soraya baru bilang semalam, ternyata aku harus menjalani pelatihan selama seminggu sebelum mulai bekerja.”

“Jam berapa?”

“Jam delapan.”

“Datanglah ke dermaga jam tujuh, jika kau masih mau melihat bintang untuk terakhir kalinya bersamaku.” Kau beranjak menuju sepeda motormu, lalu melaju ke luar dari pekarangan rumahku, aku tak berpaling dari punggungmu yang kian mengecil, hingga kau lenyap di kelokan jalan.

***

Kukira, kau akan menunjukkan ekor-ekor meteor yang melintasi langit, atau Batara Kala menelan rembulan, atau ledakan supernova yang gempita di gulitanya ruang angkasa. Tetapi bahkan bintang juga redup malam ini, langit murung, hanya kepak gagak dan kita yang berbincang tanpa bicara di bawah daun-daun gugur.

“Kita akan pergi ke ujung alam semesta, Maretna,” katamu.

“Sampai kapan?”

“Sampai ada yang menemukan dua jasad itu,” ucapmu lalu melempar pandangan pada dua tubuh yang tergelepar sia-sia, kau memejamkan mata dengan getar hingga titik-titik bening bermuara di pipimu.

“Maafkan aku, Maretna. Seharusnya aku bisa melawan mereka, setidaknya membuatmu tetap hidup,” lanjutmu.

“Kau gemar sekali meminta maaf atas sesuatu yang bukan salahmu. Kukira itu hanya kau lakukan saat masih hidup,” ucapku, tak kusangka kau masih kuasa tersenyum dengan oase yang menghampar lebih teduh.

Saat kulihat seorang pria menyandarkan perahunya ke dermaga, aku tahu waktu kita akan segera tiba. Tubuh kurus itu nyaris ambruk saat mendapati dua jasad dengan isi perut terburai, gema pekiknya mengacaukan rencana malam yang ingin selalu terlihat senyap.

Sementara pasir pesisir yang tak terpijak itu menguarkan aroma mawar, ombak pasang berhenti berdebur, gemintang berhenti berdenyar, hanya derap kaki serdadu yang gaduh di dada saat kita saling mendekap, detik masih enggan berdetak dan kita lesap ke tempat di mana jarak akan lenyap.***


Fatimah Ridwan, Mahasiswi Pendidikan Agama Islam asal Luwu Utara. Sangat jatuh hati pada karya sastra fiksi, beberapa cerpen dan puisi pernah dimuat di media online dan cetak. Jejaknya bisa ditemukan di Instagram @fatimah.ridwan

Puisi

Puisi Joko Rabsodi

Tak Mampu Mengalihkan Perhatian Tuhan

Rey, kita gagal guna menyunting satu kisah

jalan timpang menamatkan tadarus perjumpaan

kita lalui, berulangkali dibenahi tak ubahnya

menyulam petaka dalam tubuh sendiri

sukar dipercaya kita melangkah dalam satu kemungkinan

merubah nasab dari nasib yang diimpikan

menjenguk waktu dari dongeng diary milikmu

empat tahun lama kita mencair persis marie-pierre curie

yang tak tergundahkan

Tak ada yang bisa mengurungkan qada` berjuntai

semangatmu jua tak bakal mampu mengalihkan perhatian

tuhan, kita berhala di tangan ibrahim

terkulai dalam cakaran maut mematikan

Sesal tak perlu kau tambatkan pada sekuntum mawar

engkau pasti mengerti apa makna mawar dalam qoidah 

cinta, ia terlalu banyak meneguk lara

sesampai di istanaNya, ia akan redup dalam goresan cahaya

yang kelud

­­­

Dirimu perempuan paling kusayangi berasa tanda kutip

istimewa bagi hati dan tak bisa dimiliki

panjang perjalanan yang kita lalui tersungkur dalam kabut

bila masih ada maafmu bicaralah di antara kesenyapan mimpi

yang kusediakan, duduklah dekat hati!

sekilas diam atau bercengkerama sekuat tenaga sekalian tertawa

sekeras-kerasnya, sebab ketika fajar terenggut cerita kita tutup

selamanya!

Madura, 30 Agustus 2021


Luka Simbah dalam Peluk

Hilang sudah hasrat memetik bunga di area pipimu

ada kalimat luka simbah dalam pelukku

setahun kita tertahan dalam jarum jam

bergeming di kejauhan

kabar yang kuterima dari sebuah telegram

dirimu telah punya sasana baru

untuk memacu kasih dan meratap senyum

Sejak peninggalanku dari desamu beberapa kurun

kalimat terakhir yang kau pinta, rawatlah rindu

selama persendian waktu tak tentu

araba paghar, bukti yang ditautkan di hadapan tuhan

jangan sekali-kali kau tumpahkan di atas perempuan lain

morse itu yang kukepal hingga detik ini

Melirik potretmu dari pulau kecil yang kubingkai

seakan senapan laras panjang menodong dari belakang

disadap dari instagram seorang teman, dirimu

benar-benar kehilangan akal besar, menjauh ke seberang

melecutkan gusar secemas serangga jalang

pria yang kau pinang adalah peradaban tua yang diikat dendam

menancap kesan sekadar asapan arang

di luar sana, di tanah rantau, aku yang di pingit kâlâkoan

terikat teralis dan hanya mampu

mengulum amanah yang kau tunggakkan

Setelah melumat kebenaran yang tak waras

aku yang katanya kau cintai, harus melepuh 

di tengah kembang api merayakan pesta perkawinan

begitu banyak kejutan menggilis kesucian ritual

perjanjian yang kita pipihkan pada selok kuning keemasan

tak lagi tenteram bersama putar dulang yang kau sepahkan

tivani, andai aku mengerti tentang diriku yang akan hilang

tentu kutolak hari kelahiran, begitu kutahu tulang rusukku

tidak akan pernah melahirkan tubuhmu, pastinya aku tak sanggup

lagi jadi laki-laki

walaupun harus mati hanya iklima yang bisa menemani

menidurkan rintih yang tak pernah kau sadari

suatu saat kau bakal mengerti aku reinkarnasi habil

yang terhalang rindunya sampai babak ini

Madura, 13 September 2021


Biografi Tulang Rusuk

Tak habis pikir bagaimana tuhanku

mencabut tulang rusuk sebelah kiri untuk

merangkai tubuhmu yang segempal itu

alangkah agungnya batin

menyaksikan tuhan bermain-main di lambung kiri

mencalut dada, mengutus maut membongkar segenap rasa

yang sempat kubuka bagi kaum wanita

harus bilang apa pada tuhanku

kenapa tak kucerabut sendiri tulang itu

kutenggelamkan tubuh ke dasar degup

agar rahasia kunikmati penuh sambil menari

di kubang ruh

Otakku melauh ke serat logika

barangkali jawaban tercecar di sana

tak kutemukan apa-apa, sebercak tanya makin bulat

dengan cara apa tuhan merekayasa

wujudmu menjadi gumpalan berahi

– setiap lelaki siap-siap lumpuh

tersesat dalam gerung retorika

kutemui kebingungan luar biasa

tuhan ada-ada saja, kun-Nya menyandarkan

manusia pada kehampaan narasi yang tak asasi

Otakku merauh ke pangkal tasawuf

berupaya dalam hening, menimbun tanya

pada hati yang tak berkata

o, sama tak ada apa-apa, tapi legat tubuh

bisa kusayam dalam kesempurnaan iman

kedangkalan fikir jadi adonan, tuhan kuasa

semesta mulai azali

            –sampai kapan pun aku tak akan bisa apa-apa!

Tak habis pikir engkau mengepul dari sisi rusuk sebelah kiri

pantas tak ada perempuan yang pasrah kuhubungi dan memang

tidak ada yang mau dihubungi

mulai hari ini duduklah di situ dekat tulang rusuk yang kurang satu

agar rantap segala nyeri

sunyi segera terhenti

Madura, 15 September 2021


Rindu di Tengah Peradaban Asing

Meski jarang sekali bertemu

dalam kuntum bunga yang merekah

senyummu yang tak dimiliki setiap wanita

selalu menggoda dinding hati

jarak selisih 10 tahun kiranya jadi seruan

jenjang perbedaan dianggap mengutip bencana

pikirkan sebelum sejarah melewati riwayat musim

sebelum kalam cinta mendefinisikan warnanya

dalam ijab yang kau pahatkan

Radeena, kita diajarkan cara memilih

menentukan masa depan tiada kecemasan

wangi tubuhku yang menghangatkan napasmu

bukan satu alasan lakon adam-hawa akan terjadi lagi

tahun ini

Aku sepakat dengan jiwa-ragamu

berbekal bismillah, harapan tuhan meridhoi

tapi tanah ini memendam sesajen leluhur

keping langit-bumi perlu disuapi harum melati

janur kuning harus melengkung sebagai pemangku

siapa saja yang berkunjung

Tanda tanya selalu kita hinggapi

mengapa upacara di tanah ini begitu dikeramatkan

bahkan persoalan rindu semata mengikuti sirah rasul

selalu berkilang di antara tanggal baik atau buruk

persis dirimu, aku hanya mengangguk diseret

petuah yang tak kukenal asal usulnya

seakan mengaduk logika di tengah peradaban kampung

yang asing

Tanah ini aku berasal

tanah itu pula kamu kembali

sebaiknya kita bungkuk dalam diagram upacara tanah ini

itu saja!

madura, 21 September 2021


Microphone Duka yang Mendalam

Kamis atau mendekati Jumat manis

perempuan desa menjumput matahari ke dalam pusara

tangis hangus diantar azan tandai pertemuan telah usai

magrib bergetar menyambangi kemboja

bekas al-burdah di telinga kanan-kirinya menyerapi

kaki yang makin keras seiring microphone

menyampaikan duka mendalam

Semua berdiri dalam sesengguk tangis

termasuk anak lelakiku yang dibesarkan

tak mampu mengulas

kata-kata telah diganti airmata

Engkau sudah besar sekarang, anakku

pesannya kemarin engkau jangan jadi sikintan

atau semacam legenda batu menangis

perempuan desa itu tak lagi kuat memeluk

bisikkan ke dalam lamunannya dengan segala cinta

yang dialirkan ke rongga napasmu

dialah perempuan yang menjaring matahari di tepi pagi

mengukus bulan tengah malam demi menuntaskan

ikhlasnya padamu

Anakku, perempuan desa itu tentu tak siap berujar

senyumnya tetap mengembang di antara batu nisan

ia mirip toor pekai dalam kisah malala yousafzai

yang meluluhlantakkan

Anakku, kini ia tak ingin diganggu

sendiri menyepi sembari memungut doa

dari jejak fajar yang hengkang

Madura, 23 September 2021


Rapuh Mencari Jalan Pulang

Cukup lama bersanding dalam ceritamu

satu kerinduan yang tak pernah berhenti

menikmati pendar bidadari lepas

dari kremasi rambutmu

setiap kisah yang kau sanggul

pasti kuaminkan sekadar berlama-lama

dalam penantian panjang

-satu ketulusan Audrey junicka pada papanya

Masih kau lanjutkan kisah melintasi tarian moyang

roma patobin[1] letih memikul usia dan hendak dipugar, tukasmu setelah

menjelang pukul sembilan malam

tak terasa tiga jam duduk kita tanpa makna

tak kutemukan jeda untuk mengunduh di mana hatimu

menyimpan namaku

kebiasaan yang kusesali dari setiap perempuan yang telah

berkembang wanginya; menyisakan kebencian mencorat-coret

dunia fana

Ini bukan semestinya, tulang rusuk yang kau pinjam

tempo lalu telah berganti warna

kau dibesarkan tanpa rasa malu dan mencuekkan

setiap rindu yang datang

praduga yang kubangun terkoyak gemuruh

dan rapuh mencari jalan pulang

hidup seperti menuju kematian

Di tanahku langit berkabung

menyematkan penyiksaan

udara menutup diri dari cahaya

lagi-lagi kutapaki traumatika dalam sepatah kata

;saatnya kodratmu meratapi penyesalan

Madura, 24 September 2021


Kematian Tanpa Kisi-Kisi

Kemarin siang engkau masih membelai rambut kedua anakku

menyisir nyanyian tumbuh di belantara usiamu yang hampir

60 tahun, tembang kancil dan romantika nina bobo kau putar

mendayung masa kanak entah mau dibawa kemana

petuah bersambung mengaitkan jiwa untuk berkunjung

ke peradaban yang agung

dipeganglah kedua jari anak-anakku seakan berikrar

untuk tetap hangat dalam angin dan dingin dalam perapian

Emak, jangan kemana-mana dulu

sebelum sajak anak-anakku tuntas menganugerahkan singgasana

kebahagian itu untukmu dan patut bersenggama dalam

wujudmu, aku tak mau lagi derita hurrem dan suleiman

mendiami petang dan terentang di sekujur mimpi

dan akhirnya terbakar tanpa abu

sia-sia menggebu

Kematian yang tiba-tiba

laksana terompah mimpi

pergi tanpa kisi-kisi

Kaget. Terjerat samper[2] bermotif cokelat menutup auratmu

kidung yaa sin berhamburan membalut kedua tangan yang lemas

tangis hancur membedah asar yang belum selesai

mengapa kau ciptakan mantra yang bisu ketika anakmu dan anak-anaku

meringkuk di ujung kaki

siapa yang akan menghapusnya, kata-kata hampa tertutup luka

senandungku hilang di atas gundukan makam yang menghadang

Emak, kami ikut berduka

di atas puisi yang mengentalkan jasadmu

kami telah melupakan dosamu

dan menyisipkan persaksian baik untukmu!

Madura, 26 September 2021


Kertas

Ingat secarik kertas

dirangkai mirip perahu

dalam hujan kita alirkan hajat

bersama perahu menderulah sungai-sungai

penanda kita akan dikekalkan

mata air suci semacam

Madura, 26 September 2021


Aku Diam Seperti Kronos

Dalam perihal ini perlu terus terang

aku hanya kuasa menggenggammu dalam mimpi

bukan dalam buntalan cinta yang mengambang

rasanya sulit dipaksakan untuk membawamu ke musim yang lain

sesuatu yang mustahil, matahari yang kehabisan sinar

kuganti redup dupa di tengah-tengah perselisihan 

adat kampung yang tak kunjung redam

aku dan kamu replika kromosom tua

yang takkan pernah ditulis karena tinta purna

untuk menyusun bait-bait purnama setelah siang

kehabisan kata-kata

Radeena, bisa saja kita bertemu di suatu meja makan

atau di mana pun tapi kondisi sudah tersuruk lesu

jamuan yang tadinya berharap jadi tumpukan reklame

khusus merekatkan hati justru menggigil satu persatu

meski wajahmu masih dalam dekapan mimpi

dan terkadang  kuimpikan kemarau untuk membajak

setiap lelaki yang ingin berteduh di bawah tidurmu

kau berupaya melesat meninggalkan lara

sayapku patah tak kuasa mengawan

Radeena, skenario yang kita unggah untuk menggores rindu

semula dingin-dingin saja, semenjak ibu-bapak menghangati cuaca

dengan sumpah yang ditandukan ke dalam dadamu

pelan-pelan kau bakar botulinum dan aroma sianida

ke dalam kisah Harold knapke-ruth yang haru

sejak itu kau memintaku diam seperti kronos

memakan cintanya sendiri

kerap tidak ada kabar yang engkau kirim

senantiasa aku gelisah menebaknya

            -kita masih pacaran atau mati tanpa pemulasaran

Andaikan toh aku mati dan jasad menyebutnya pahlawan

batu nisan takkan terima, orang-orang sekitar akan berbagi prahara

tak pantas seorang lelaki muda mati tanpa ekspektasi

tapi inilah keputusanmu, seperti benda padat yang tak bisa

menyeduhi bentuk bangun ruang

Madura, 30 September 2021


Suratmu Sudah Terpidana Mati

Dengan darah yang mencair

segera akhiri perjalanan musim semi”

membaca suratmu sore itu

otakku terbakar memori yang terpidana mati.

Mereka mungkin mengerti mengapa aku ingin

sekali menerjemahkan kedalaman sunyi

sejak kepergianmu tempo lalu banyak sekali

pertanyaan-pertanyaan yang tidak selesai

di meja jamuan, sementara dirimu terus berlalu

tanpa bingkisan jejak yang bisa kukenali

kucoba menuliskan surat lamaran

sekadar mengintrogasi pikiran

di mana sebenarnya engkau teduhkan sedih

tak jua ada tanda-tanda senyummu akan kembali

menyelimuti tubuhku

Madura, 30 september 2021


Joko Rabsodi, lahir di Pamekasan, 11 Juni. Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura. Karyanya terbit di beberapa media cetak dan daring. Antologi terbarunya, “Akatalepsia, 2021”.


[1]Sebutan rumah induk dari sesepuh juga dikenal tongguh

[2]Dalam bahasa jawa disebut jarik.