Cerpen

Jalan Lain

Cerpen Indra Agusta

Dengan penuh sukacita aku melenggang menuju halaman. Mesin Vespa Sprint sudah dipanasi, setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.

Ayahku melenggang dengan kaos oblong dan celana pendek, tangan kirinya menenteng seperangkat alat pertukangan dan listrik dari dalam rumah lalu memasukkannya ke jok samping vespa.

Segeralah kami berangkat menuju gereja.

“Pegangan,” tutur ayahku.

Turut bersamaan dengan ucapan itu, kedua jemari kuletakkan di atas spedometer vespa, mengail-ngail apa yang bisa dijadikan pegangan. Perjalanan menuju gereja terasa menyenangkan, langit cerah meskipun pagi sudah mulai terasa gerah.

***

Ayahku seorang tukang kebun di sebuah SD Kristen di kota. Setiap hari ia sibuk di sekolah bekerja dan membersihkan apa saja. Tak hanya itu, ayah juga tukang kayu yang handal. Dengan tangannya yang piawai segala perkakas sekolah yang patah dan rusak bisa ia perbaiki.

Di rumah pun begitu, setiap kali pintu diketuk oleh tetangga, ayah selalu menerima keluhan dan kemudian disempatkan untuk ke rumah tetangga dan menyelesaikan masalah mereka. Memperbaiki apa saja. Talang bocor, jalur listrik mati, genting pecah, hingga membantu membenahi kandang ayam juga pernah dilakukan oleh ayahku.

Tidak seperti sekolah negeri, sekolah ayahku biasanya memang libur lebih dahulu jika menjelang natal. Seperti biasanya, hari libur pun tak mengurangi porsi ubêt-nya ayahku. Selain membantu ibuku membersihkan seluruh rumah, men-service kompor lalu mencat ulang ruangan, ayahku akan membuatkan pohon natal versi terbaiknya. Tiap tahun selalu berbeda. Terkadang pohon natal itu dibuat dari pohon utuh, lalu dari kardus, ada lagi dari botol plastik bekas, tahun ini ayahku membuatnya dengan ranting-ranting kering. Selalu ada kejutan setiap akhir tahun.

***

Kami sampai di jalan depan gereja, suara latihan paduan suara lantun terdengar. Lalu suara vespa seperti menyambar nada indah bertalu. Setelah bebek besi terhenti, aku berlari menuju pastoran, ayahku berjalan di belakang. Melihat kami datang, Pak pendeta menyambut, ketika berhadapan ia tersenyum lalu mengelus rambutku. Ayahku mempercepat langkahnya.

“Maaf Pak Pendeta perjalanan molor, tadi kami harus memutar jalan karena jembatan dusun kami rusak terkena banjir semalam.”

“Ah, tak masalah Pak Yosef, masih ada jalan yang lain menuju kemari, tho? Mari masuk dulu.”

Selepas banyak kelakar tentang kabar, pak pendeta kemudian mengajak kami ke ruangan utama gereja. Ruangan yang sebenarnya hanya disekat tripleks dengan ruang tamu pastoral tempat kami menyeduh teh buatan ibu pendeta.

Beberapa jemaat sudah di situ menghias pintu dan dinding dengan pita dan balon. Sebuah salib besar dari kayu jati menggantung persis di belakang mimbar, aku sangat kenal salib itu, salib yang dibuat juga oleh ayahku. Sebuah pohon natal kecil ditaruh di atas kursi berbahan besi supaya terlihat lebih menjulang tinggi terletak di samping kanan mimbar. Ruang tempat pak pendeta memberikan kotbah jadi lebih meriah.

“Begini Pak Yosef, saya ingin ada palungan kecil nanti ditaruh di bawah pohon natal itu, bisakah njenengan membuatnya, supaya mengingatkan kita pada kelahiran Sang Juru Selamat.”

“Tentu saja bisa Pak Pendeta, namun apakah Pak Pendeta punya kayu untuk bahan membuatnya?”

Pak pendeta hanya termenung cukup lama. Ia tampak kebingungan dan mulai menggaruk kepalanya.

“Atau apa saja, Pak. Ndak harus kayu.”

“Coba kau lihat di gudang saja, Pak Yosef.”

Pak pendeta kemudian mengajak ayahku ke belakang bangunan gereja, ke gudang pribadinya. Aku mengekor di belakang. Tempat yang dinamai gudang ini sebenarnya lebih mirip kandang domba karena hanya berwujud kotakan sederhana dari bambu lalu diberi atap sekenanya dari tripleks bekas. Di situ ayahku membolak-balik beberapa barang, kemudian menemukan keranjang sepeda yang sudah tak terpakai.

“Nah ini saja, Pak.”

Dengan sigap ayahku kembali ke Vespa, mengeluarkan peralatannya, memotong beberapa bagian keranjang bekas itu supaya lebih pendek dan menjadi mirip peti kecil. Lalu dengan agak malu meminta beberapa lembar kapas kecantikan milik ibu pendeta untuk ditempelkan pada peti tersebut. Ibu pendeta hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tak kurangnya akal ayahku. Keranjang sepeda bekas sekejap kemudian menjadi palungan putih bersih dan kosong. Setelah dihaturkan ke pak pendeta, lalu beliau sendiri yang meletakkan di bawah pohon natal. Tersenyum kembang bahagia pak pendeta.

“Selalu ada jalan lain kan, Pak Pendeta,” kelakar ayahku.

Menjelang tengah hari, ibu-ibu paduan suara tadi bersama ibu pendeta memasakkan mie instan untuk kami makan bersama. Sederhana namun sangat nikmat.

Seperti tidak sabar aku mandi pagi-pagi sekali, ayahku sudah menyemir sepatunya, sementara ibuku tak masak hari ini. Ia memilih membeli bubur di tetangga supaya segera bisa tepat waktu ke gereja. Ayahku menggunakan setelan jas terbaiknya, sedang ibu mengenakan  dres berwarna biru.

Setelah sarapan, dan segala sesuatunya siap, ayahku memimpin doa jelang berangkat. Vespa Sprint itu dipanasi lagi. Setengah berlari aku segera naik dek depan meski kendara masih dijagrak dua. Tuas gas kuputar beberapa kali, raungan dan kepulan asap terasa meriah secerah hari.

Setelah penyalaan lilin dibarengi dengan Malam Kudus, Pak pendeta memulai kotbah Natalnya. 

“Mari kita buka Alkitab kita, Matius 2;

Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.”

Demikianlah, ayahku hanya tersenyum sembari manggut-manggut melirikkan matanya ke arah palungan.

Selalu ada jalan lain.**

Selamat Natal.

Sragen, 24 Desember 2022.


Indra Agusta, tinggal di Sragen, alumni kelas kepenulisan Cerpen KOMPAS (2020), dan kelas resensi KOMPAS (2021). Novel pertama Padma Jalma (Rusamenjana, 2022). Bergiat aktif di komunitas pencinta Jawa Kuna Sraddhasala dan Maiyah Suluk Surakartan. Bisa dihubungi di panawijen@gmail

Cerpen

Todo dan Lak Wahar

Cerpen Erwin Setia

Todo adalah lelaki bernasib mujur sampai ia bertemu lelaki bercodet sepanjang telunjuk di dahi kiri pada suatu siang yang sangat terik. Saking panasnya, ia merasa jarak pemisah antara kepalanya dan matahari hanyalah selembar plastik. Todo sedang berjalan di emperan terminal dengan ransel padat di punggung. Ia berjalan setenang orang saleh sampai Lak Wahar, lelaki bercodet itu menjambret ponselnya dan berlari secepat rusa.

Lelaki sialan itu sudah berbelok ke suatu gang ketika Todo baru sadar akan situasi yang terjadi. Ia berteriak, terengah-engah menyebut kata ‘maling’. Puluhan kali ia meneriakkan kosakata itu, namun tak seorang pun beranjak dan sekadar bertanya, “Pergi ke mana malingnya?” Tidak ada. Orang-orang yang tengah makan siang dan minum kopi di warung bergeming. Begitu pula para pengguna jalan, sopir angkot, tukang ojek, pedagang asongan, pemarkir liar, seorang petugas lalu lintas di kejauhan—mereka tetap terpaku pada pekerjaan masing-masing.

Todo mengutuk orang-orang yang hanya menonton nasib buruknya. Setelah kata ‘maling’ tak digubris siapa-siapa, dengan volume sedikit lebih keras, ia melemparkan makian sambil mengedarkan pandangan kepada muka-muka yang bisa dijangkaunya.

“Dasar pecundang kalian semua! Goblok! Ada orang kesusahan cuma planga-plongo. Pecundang!”

Di satu deretan kursi, sekelompok tukang ojek memelototi Todo seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Orang sinting!” umpat seorang tukang ojek berjaket hitam yang mengenakan kaos Juventus.

“Dia pikir dia saja yang pernah kemalingan. Kayak baru kenal dunia saja,” ujar seorang yang lain setengah mencibir.

Sebetulnya Todo tinggal menumpangi satu angkutan lagi ditambah berjalan kaki kira-kira lima menit sebelum tiba di rumahnya. Istri dan anaknya yang genap berumur setahun sebelas hari lalu sudah menunggunya. “Yah, kabari ya kalau sudah naik angkot.” Demikian pesan istrinya.

Angkot yang menuju ke arah rumahnya tak terhitung melintas di hadapannya. Ia bisa segera menaikinya kalau mau. Namun, bara dalam dada Todo belum padam. Ia masih belum rela ponsel kesayangannya lenyap begitu saja. Ia ingin mengejar penjambret kurang ajar itu sampai dapat dan membayangkan akan menghajar mukanya sampai sebonyok bangkai tikus terlindas ban truk.

Todo sekilas melihat wajah Lak Wahar. Sekilas artinya sebentar saja dan tidak banyak yang dapat ia ingat. Yang paling diingatnya adalah codet seukuran telunjuk di jidat orang itu. Ingatan tentang codet membuat Todo terkesiap. Ia berusaha menggali ingatan lain perihal penjambret tadi, tapi tak kunjung mendapat detil yang lebih lengkap. Setelah mengeratkan ransel di punggungnya, Todo berlari, menuju gang tempat si penjambret berbelok. Dadanya berdebar-debar.

***

Sepuluh tahun lalu Todo adalah seorang anak SMA yang lurus belaka. Ia tak punya catatan buruk selama di sekolah dan nilai rapornya juga melulu menerbitkan senyum bangga di wajah kedua orang tuanya. Namun, sebagaimana lazimnya remaja puber, hatinya pernah disusupi gairah cinta. Gairah itulah yang kemudian membuatnya berani menerima tantangan Harwo, murid kelas lain yang sesumbar mengaku sebagai satu-satunya orang yang berhak menjadi kekasih Melati. “Hadapi gua kalau ada yang coba-coba berani mendekati Melati.”

Harwo memang seorang murid yang berada di kutub berseberangan dengan Todo. Kalau Todo tergolong dalam murid baik-baik, tidak demikian Harwo. Harwo adalah kepala geng kelompok murid nakal yang hobi tawuran dan mengganggu anak-anak lemah. Sementara peringkat Todo di kelas selalu berada di puncak, Harwo adalah antitesanya, kemampuan akademiknya terbenam sedalam lumpur tempat anak-anak pada masa itu bermain kala musim hujan.

Maka tibalah hari itu, hanya beberapa pekan sebelum ujian akhir sekolah diselenggarakan. Disaksikan beberapa murid lain, Todo dan Harwo berdiri berhadap-hadapan di lapangan belakang sekolah. Lima puluh menit sebelumnya bel pulang berbunyi. Lingkungan sekolah sudah melompong. Tinggal ada petugas kebersihan dan satpam yang tak begitu memedulikan apa-apa yang terjadi di luar jam sekolah.

Keduanya saling menatap dengan pandangan beringas seolah sepasang macan yang hendak mencabik diri masing-masing. Postur tubuh mereka terbilang setara. Tidak ada yang kelewat lebih tinggi atau lebih gemuk. Menit-menit awal mereka berdiam-diaman. Tidak ada yang terburu-buru menyerang. Sorak-sorai kian menggeru di sekeliling mereka. Dada yang panas pun kian berapi-api. Akhirnya, setelah sekira tujuh menit kesunyian, Todo dan Harwo sama-sama bergerak maju, melayangkan pukulan, dan… Bam! Mereka terkena pukulan masing-masing. Namun, lantaran kekuatan pukulan yang lebih baik dan jam terbang perkelahian lebih banyak, pukulan Harwolah yang mampu menjatuhkan lawan tanding, bahkan Todo sampai tersungkur tak bangun-bangun beberapa lama di atas tanah. Sedangkan pukulan Todo yang tipis saja mengenai pipi Harwo, hanya membikin pipi Harwo agak perih. Tapi, bagi Harwo, itu bukanlah apa-apa.

Berhasil menjatuhkan Todo, Harwo menepuk dada bangga. Sebelum pertarungan, keduanya bersepakat, siapa yang jatuh duluan maka ialah yang kalah dan harus menjauh dari Melati.

Todo yang masih terbujur kesakitan, memandangi lekat-lekat sebuah benda keras dan panjang yang tergeletak sejangkauan tangan darinya. Pelan-pelan, ia mengangsurkan tangannya menuju benda itu. Saat Harwo masih berlari-lari kecil penuh jemawa mengelilingi lapangan, Todo sudah menggenggam benda itu. Ia bangkit cepat, menyabitkan kawat besi tersebut kepada Harwo yang tak pernah menduga bakal mendapat serangan dadakan. Kawat itu menggores dahi kiri Harwo. Menyisakan rasa perih yang sangat. Sebagai balasan, Harwo mendorong tubuh Todo, memukul dan menendanginya berkali-kali.

Todo pingsan. Satpam sekolah melerai keributan itu. Beberapa minggu setelahnya, ujian akhir sekolah diadakan. Todo lulus dengan nilai sangat memuaskan. Sedangkan Harwo sudah lebih dulu dikeluarkan dari sekolah gara-gara membikin pingsan Todo. Sejak itu, ia tak lagi bersekolah, dan sejak itu pula orang-orang menjauhinya—termasuk Melati, perempuan yang begitu dicintainya.

***

Todo akhirnya menemukan penjambret itu. Lelaki bercodet itu tengah menyuapi seorang anak kecil yang tampak lungkrah ketika Todo memapasinya di suatu rumah papan yang berada di pojok gang.

“Hei, kau!” seru Todo.

Lelaki bercodet menoleh. Seorang perempuan muda—istri lelaki itu sekaligus ibu dari bocah yang disuapinya—mengambil sang bocah dari si lelaki.

“Hapemu sudah kujual,” kata lelaki bercodet. “Aku terpaksa harus menjambret barangmu itu untuk membeli makanan dan obat buat anakku.”

Suara lelaki itu lemah. Tak terlihat seperti orang yang belum lama dengan gagah dan nekat melakonkan penjambretan. Istrinya mendekap anaknya yang bermuka pucat lebih erat.

“Namaku Lak Wahar. Kau Todo, kan?”

Kini, Todo yakin sudah dengan apa-apa yang diduganya. Lelaki itu betul-betul Harwo, yang sudah bermalih nama menjadi Lak Wahar. Meski namanya sudah berubah, namun Todo masih bisa mengenalinya. Terutama karena codet di dahi kirinya itu. Codet yang dibuatnya sebagai sejarah luka di tubuh Harwo bertahun-tahun lalu.

Sejak lama Todo ingin menebus dosanya atas Harwo. Bagaimanapun, dirinyalah yang menyebabkan Harwo mesti dikeluarkan dari sekolah sehingga mengalami rentetan kemalangan sampai sekarang. Paling tidak itulah yang dilihatnya. Harwo menempati rumah yang jauh dari kata layak. Rupa istrinya polos tak disepuh riasan, juga anaknya yang tampak penyakitan.

Todo pikir, merelakan ponsel miliknya bisa menjadi tebusan yang sepadan atas dosa masa silamnya.

“Tak apa. hapeku itu untukmu saja. Anggap saja itu permintaan maafku karena kesalahan yang dulu pernah kuperbuat kepadamu.”

Pandangan Lak Wahar menyelidik. Lalu, ia menunduk dan berubah mengiba. Lelaki bertubuh liat dengan bentuk rahang yang keras itu tiba-tiba menangis sesenggukan. Refleks, Todo mendekatinya dan berusaha menenangkannya. “Tak apa. Tak masalah. Kau lebih membutuhkan itu daripada aku.”

“Maafkan aku, aku tidak bermaksud mencuri. Aku sama sekali tidak mau melakukan perbuatan biadab itu kalau saja bukan karena terpaksa. Lihat, anakku ini, ia tidak makan berhari-hari.”

Lak Wahar semakin mengiba. Todo mengusap-usap punggung lelaki yang tengah menunduk itu. Mata Lak Wahar menerka bagian belakang tubuh Todo. Sesaat saja.

“Ya sudah. Gunakanlah uang hasil penjualan hapeku itu untuk keperluanmu dan anak-istrimu. Aku ikhlas.”

“Terima kasih,” ujar Lak Wahar.

Tak berapa lama, Todo pamit undur diri. Ia mesti segera menuju rumah. Melati dan Mawar—istri dan putri semata wayangnya—pasti sudah tak sabaran menantikan kedatangannya. Ia sengaja tak mau lama bercakap-cakap dengan Lak Wahar. Ia merasa tidak nyaman sejak menginjakan kaki di depan rumah papan itu. Ia ingin lekas pulang, menciumi istri dan anaknya, dan memberikan mereka oleh-oleh yang telah dibelinya di kota seberang, tempat ia menghabiskan beberapa waktu belakangan untuk bekerja.

Todo menghentikan sebuah angkot. Angkot yang sepi. Hanya ada ia seorang diri. Dua menit setelah angkot berjalan, Todo memeriksa saku celananya. Kosong. Dompetnya hilang! Dompet berisi uang yang telah dikumpulkannya selama bekerja di luar kota. Dari jendela angkot, ia memandang panik ke arah luar. Di sana, di suatu trotoar, dua orang sedang berkejar-kejaran. Ia tak mengenal siapa lelaki yang berada di posisi belakang. Tapi ia tahu betul, orang yang berada di depan sambil menggondol sepucuk tas dan sedang dikejar-kejar itu tak lain adalah Harwo—yang sudah berganti nama jadi Lak Wahar!***

Tambun Selatan, 11 Juli-30 November 2019


Erwin Setia lahir tahun  1998. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Puisi

Puisi Deny Firmansyah

Nelayan Kata

Biar saja hujan menggenang

menjadi sungai

di belantara sajakmu

yang banal

agar ikan-ikan yang berenang

di kamusmu tahu bahwa hujan

masih setia

mengunjungi mereka

Biar saja biduk air itu

Membuat kau

Jadi satu-satunya nelayan

Yang menjaring sajak

Biar rindu menggenang

Bagai hujan yang setia

Mengunjungi kamus

Dan ikan-ikan


Pranajiwa

Mata hati yang bisu

Lidah yang kelu

Belulang

Yang menyimpan

rahasia masa depan

lampu jalanan yang redup

dan langit yang diterangi bintang-bintang

lima jam perjalanan

atau beribu menit lagi

menuju putaran bumi

Indera mencium

Dan hati merasa

Tetapi tubuh hanya pasrah

Terhanyut

Negeri yang menyediakan sembilu

Dan belati, bedil dan peluru

Kapan waktu saling membidik

Dan menusuk

Bola mata melintas kota kecil

Makin rabun oleh uap dan embun

Menuju tepi-tepi yang sama

Rumah-rumah hancur

Dan dada yang berdebar

Yang ringkih

Mengepakkan sayapnya

Mengatasi nyeri

Akan maut


Tak Terasa

Tak terasa sunyi terbelah dua

dan cintamu masih awet saja

Kumismu tak terasa beranjak dewasa

Makin jantan dan memesona

Tak terasa berapa dekade

Merdeka telah jadi penjara

Dan kanakmu yang lucu

Sudah tumbuh jua taringnya

Mau ngembara dan merdeka

Dari kungkungan dan pelukan waktu

Mau berpotret diri di sini

Untuk luka yang tak terasa

Dan tampang waktu

yang makin merana


Cinta Si Alex

Cuma sepotong kampus

Yang mesti dilipat

Dan sepotong sastra

Yang mesti digunting

Untuk isyarat cinta yang cuma angin lalu

Si Alex pria bermasalah itu

Belum siap menerima

bayangan di kamar mandi

dan hologram

di kejauhan pantai

Alex dilanda sepotong cinta

yang mosaiknya

ibarat badai sepi

tak berkesudahan


Filter Ketakutan

Aku pasang filter ketakutan

Supaya bisa sikat gigi dengan tenang

Filter etika untuk letupan tak terduga

Daun sirih dalam rangka kumur-kumur

Filter kejujuran untuk aku

Yang semakin tolol

Filter ketololan untuk bisa dikenang

Sebagai penampil berbakat

Kapal sandar tanpa filter untuk

Merompak dan menyisakan

Kuburan pembajak

Filter kenaifan agar tidak dituduh

Berpolitik hingga aku

Hancur menjadi pecahan filter

Yang bukan siapa-siapa lagi


Luka Kita

Semoga waktu sudi

Meminjamkan dirinya

untuk takdir yang menunggu


Bola Mata Adam

Pada adam ada satu kata atau satu nama

Yang masih rahasia

Testimoni: jangan beri dia bola matamu

Bola matanya bola mata Adam

Semua pesona ada pada Adam

Ia kesayangan Tuhan

Dari-Nya Adam belajar nama-nama

Dalam Adam ada Hawa

Nama baru bagi Adam

Testimoni: jangan sodorkan padanya namamu

Di lubuk hati Adam tersimpan

Segala nama yang dirahasiakan

Jangan kagumi Adam

Nanti ada yang cemburu

Jangan jebak Adam

Nanti lahir kisah-kisah baru

Pada Adam ada satu kata atau satu nama

Yang hingga kini masih rahasia

Di bola matamu.


Deny Firmansyah, S.S, bekerja sebagai staf litbang lembaga pendidikan di Bekasi.

Cerpen

Yang Membusuk di Dada Badri

Cerpen Indarka P.P.

Moncong perak perahu sandek telah memagut bibir pantai pulau Kapuang, tempat di mana Badri menjalani nasib hidupnya. Sore ini arah angin memang sedang tidak bersahabat. Badri tahu gelagat alam demikian pertanda badai kemungkinan datang. Belumlah kepisnya terisi penuh, Badri terpaksa puas dengan enam ekor ikan sunu. Hasil yang tak sebanding daripada biaya perahu sandek yang ia sewa.

“Lupa mi jadi nelayan?” ketus Haji Jalili, memamer gigi taring emas sambil menulis nama Badri di buku catatan utang.

“Biasa tidak cepat ji cuaca berubah, Pak Haji. Saya pikir bisa maki melaut sampai malam.”

“Banyak sekali alasan ta’,” tanggap Haji Jalili, “Tunggakan ta’ tujuh ratus lima puluh ribu, nah. Aih, coba ada anak, Badri, bisa nanti kita wariskan ini,” tandasnya seraya menguar tawa.

Badri cuma tertunduk dan mengangguk. Lepas itu ia bertolak dari pangkalan perahu untuk pulang ke rumahnya di kampung Ujung Bulo. Petang menemani perjalanan yang bimbang. Dalam ceruk dada paling sunyi, gelombang gahar tiba-tiba muncul dan berdeburan dari ujung kaki hingga pusar kepala. Setengah lusin ikan sunu jelas tidak membuat Badri yakin bisa menebus riwayat utang di warung-warung tetangga. Artinya, lagi-lagi ia juga harus bersiap menahan bising amuk dari Muna.

Sejak pagi memang istrinya itu sudah berang setengah mati. Persediaan beras tinggal dua cangkir, sementara utang sudah bejibun. Suasana pagi itu tampak bancuh, seperti api obor yang melahapi dinding kayu rumah panggung mereka. Badri yang disergap gagu enggan menanggapi. Lantaran tak mau sia-sia menjadi abu, ia gegas keluar menuju beranda. Mula-mula ia mengambil potongan galah di sudut beranda sisi barat. Kemudian mengambil kepis dan badik yang menggantung di sisi timur. Kepis dikaitkannya pada ujung galah. Badik dililitkan memakai tali melingkari pinggang. Badri pun berjalan menuruni empat baris anak tangga. Sementara dari dalam dapur, mulut Muna terus-menerus memuntah kecam pada Badri, lelaki yang membuat dirinya pandai berpura-pura hidup tabah selama ini.

Persoalan-persoalan yang datang barang tentu tiada jauh dari urusan perut belaka. Hari-hari mereka bagai api dalam sekam. Prahara bisa mengemuka kapan saja. Oleh sebab itu, satu-satunya pengharapan Muna akan seorang anak sungguh menjadi pelita dalam kelam, yang tiap kali mampu mengendurkan amarahnya. Ia berpikir, kehadiran buah hati setidaknya mampu menepis letih yang tiada juga berpaling selama delapan tahun belakangan.

Sayang, harapan itu kini tinggallah omong kosong. Rupanya ada masalah pada kejantanan Badri. Itulah sebabnya sampai sekarang Muna tak kunjung mengandung, sebagaimana Badri yang tak juga kunjung berhasil menimang darah dagingnya. Begitu kira-kira kata seorang tabib yang pernah didatangi Badri dan Muna, beberapa waktu silam.

Gejolak-gejolak keji senantiasa berputar di kepala Badri sejauh kaki melewati satu-satunya jalur kampung Ujung Bulo. Menerobos remang malam, menyusuri jalan setapak pejal, menyapu kesiur angin yang membikin beku ikan-ikan di kepisnya. Di tengah langkah yang mulai gontai, tetiba mata Badri nyalang melihat sesuatu tergeletak sekitar delapan langkah dari tempat ia berdiri. Dalam denyut nadi terhitung, kepala Badri bergoyang-goyang menajamkan pandang. Seperti kerikil lolos dari gagang ketapel, Badri berlari ke arah di mana matanya tertuju. Begitu tahu benda apa yang ditemukannya, Badri lekas-lekas meraihnya sambil bersorai, “Sekomandi! Sekomandi!”

Ya, sekomandi, sebuah kain rajut yang konon bernilai tinggi. Dalam cerita-cerita tetua pulau Kapuang, sekomandi disebut-sebut cuma bisa dimiliki orang yang berderajat tingkat wahid. Itulah mengapa air muka Badri tampak takjub begitu jemarinya menyentuh selembar kain rajut itu. Lebih-lebih saat membayangkan betapa banyak duit yang bakal didapat apabila ia berhasil menjualnya. Selain itu, sekomandi diyakini pula sebagai simbol kesejahteraan. Barang siapa menyimpan baik-baik kain sekomandi, maka hidupnya akan bertabur berkah dan kecukupan. Namun, bagi Badri, pengertian yang kedua tak perlu diambil peduli. Ia lebih percaya kalau kesejahteraan justru akan datang dengan cara menjual sekomandi itu. Bukan sebaliknya.

Pusaran di kepala Badri pun lekas berganti. Ia merasa angan-angan untuk hidup sejahtera berhilir terbayang kian nyata. Karena enggan mematung lebih lama, Badri giat menggulung selembar sekomandi itu, lalu memasukkannya ke dalam kepis; menyelimuti ikan-ikan kedinginan. Lagipula waktu juga semakin merengkuh gelap. Angin menerjang pepohonan dengan tidak beraturan. Sekali dua kali air langit bahkan sudah melandai di kening Badri, bercampur dengan bulir-bulir keringatnya.

***

Muna mengguncang-guncangkan tubuh suaminya yang terlelap di atas dipan. Badri yang terkesiap mengacungkan badik di tangan kanannnya. Mata Badri merah mendelik penuh tanya ada apa?

“Di mana ki dapat ini?” suara Muna gemetar, iasorong sekomandi ke hadapan Badri.

“Kenapa kita ini? Bikin jantungan saja!” sergah Badri, berupaya memulangkan kesadaran, seraya meletakkan badiknya kembali.

“Dapat di mana ki ini sekomandi, heh!?” suara Muna terdengar lebih lugas.

“Di jalan.” Begitu kesadaran Badri kembali, ia mulai bercerita. Muna masih tugur berdiri, tiada berpaling sekata pun. Tapi begitu tiba pada bagian di mana Badri berniat menjual sekomandi itu, Muna buru-buru memotong.

“Gengge! Orang miskin punya sekomandi satu ji kemungkinannya!” Mata Muna melotot. Urat keningnya menjalar-jalar.

“Maksudnya mencuri? Jangan ki sembarang tuduh, Muna!”

“Cukup mi hidup sulit. Jangan mi ki bikin saya malu karena dibilang istri pencuri!”

Maka Badri bersumpah kalau sekomandi itu bukanlah hasil mencuri. Lantas Badri meyakinkan Muna kalau apa-apa yang dikhawatirkannya tidak akan terjadi. Kemudian tangan Badri merambati pundak Muna, merendahkan tubuh tegang itu untuk duduk di sebelahnya.

“Sekomandi ini, Muna,” kata Badri seraya mengambil alih kain dari tangan istrinya, “Akan na rubah hidup ta’.”

“Tidak i,” Muna menggeleng. Matanya berbalik menyoroti Badri dalam-dalam. “Anak ji ini yang bisa membuat semuanya lebih baik.”

Setitik air mata jatuh ke lengan legam Badri yang bersilang di pangkuan Muna. Mendadak beku mulut lelaki itu mendengar ucapan istrinya. Seingatnya, baru kali ini dadanya—yang ia tahbiskan sendiri setegar karang—runtuh oleh ungkapan yang dirapal serupa doa dari suara magis Muna, kawan hidupnya dalam penantian-penantian panjang. Satu windu bukan waktu sebentar bagi sepasang suami-istri itu menantikan anak. Juga bukan waktu yang singkat dalam menanggung penghakiman orang-orang yang kerap mengatai mereka.

Usai sekian menit bergeming, agaknya suasana berangsur berubah. Tampak Badri dan Muna sama-sama mulai beralih pikiran. Mereka merebahkan diri di atas dipan. Sekomandi pun lolos dari tangan Badri. Jari-jarinya yang terampil itu mengawalinya dengan mengurai kancing-kancing di pakaian Muna. Satu… tiga… lima… dan… belum tiba di kancing terakhir, Muna malah mengambil tindakan lain. Didorongnya dada Badri bangkit dari atas tubuhnya. Sambil menyelami alam pikir Badri lewat tatapan mata yang muskil dijelaskan dalam cerita ini, Muna menggulingkan tubuh satu kali, membalikkan ketakberdayaan. Bibir tipis perempuan itu tertarik ke dalam. Seulas senyum tertangkap mata Badri yang berada persis di bawah wajahnya. Perlahan Muna mendekatkan bibir ke daun telinga suaminya. Lembut sutera ia berbisik, “Pejamkan mata ta’.”

Mudah bagi Badri menuruti perintah banal Muna. Ia memejam dengan sungguh-sungguh, menanti kejutan di pagi yang ranum itu. Tangan kiri Muna sedikit demi sedikit merambat ke sekujur kening, kuping, bibir, leher, hingga dada Badri. Di waktu yang sama, tangan kanan Muna meraih badik yang tersungkur di sudut dipan. Sementara pejaman mata Badri masih rapat dan khusyuk menikmati penantian. Senyum Badri merekah tiap kali degup jantungnya dibuat laju lantaran sentuhan lembut tangan Muna.

Di atas tubuh Badri, Muna menatap masa depan pada selembar sekomandi yang sudah terjuntai ke tanah. Dan dalam posisi serupa, Muna juga melihat kejujuran pada badik yang tergenggam di tangan kanannya. Tak lama usai mengelus bibir sang suami, Muna mulai mengakhiri penantian-penantiannya yang panjang.

Dan waktu berpelesat sudah. Kini, satu nyawa telanjur tercerai dari raga salah seorang dari mereka. Karenanya, sejak pagi didewasakan siang dan menjadi celaka, siang dimatangkan malam dan berubah petaka, yang membusuk hanyalah burai-burai sekomandi, juga sesal di dada Badri. ***

Keterangan:

  • Kita: anda, kamu
  • Ta’: kepunyaanmu (uang ta’ = uangmu)
  • Ji, mi, ki, pi, di, na, nah, maki, dst: klitika dalam bahasa orang-orang Sulawesi
  • Gengge: umpatan

Indarka P.P, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini bermukim di Mamuju (Sulbar). Menulis buku “Penumpasan” (Sirus Media, 2021), dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.