Cerpen

Suro Gentho

Cerpen Dewanto Amin Sadono

Setelah lima belas menit berlari tanpa henti, bocah itu pun terkapar di halaman rumah seorang warga. Mulutnya megap-megap seolah-olah sedang dicekik lehernya. Pemilik rumah lalu buru-buru memberinya segelas air putih. Tak seberapa lama berbagai macam racauan seperti orang gila berhamburan dari mulut si bocah. Meskipun ocehannya membingungkan, orang-orang yang sedang berkerumun di tempat itu bisa memahaminya: Suro Gentho hidup lagi.

Warga Awon-Awon pun geger. Para pengecut buru-buru masuk rumah. Menutup pintu rapat-rapat. Menyembunyikan harta bendanya di dasar sumur. Mengungsikan istri dan anak perempuannya ke desa tetangga. Pada saat matinya, Suro Gentho adalah perampok. Sudah pasti saat ini masih suka merampok juga. Begitu barangkali yang ada dalam benak mereka.

Lima orang yang merasa punya nyali segede gajah bengkak segera ke kuburan untuk membuktikan kabar tersebut. Dari balik pagar kompleks pemakaman yang hampir rubuh itu, mereka memusatkan pandangan ke dalam makam. Dan di pojokan sana, seperti iblis baru saja bangkit dari kematiannya, Suro Gentho tampakberdiri termangu-mangu di pinggir lubang kuburannya.

Tubuh Suro Gentho terlihat kurus kering mirip jerangkong. Sepasang matanya sangat cekung bagaikan cerukan mangkuk bakso sehingga sebutir telor bisa diletakkan di dalamnya. Pakaian yang biasa dikenakan para pejuang kemerdekaan itu masih melekat pada tubuhnya. Bolong-bolong bekas tembakan peluru.

Terdengar Suro Gentho menggerundel: tentara telah bertindak biadab. Memperlakukannya seperti binatang. Menggantung mayatnya seperti jemuran basah.

Dari jarak dua puluh meter, lima orang sok pemberani tersebut terus gemetaran. Terduduk di tanah tanpa sadarnya. Pemandangan mengerikan itu ternyata lebih mengerikan daripada bayangan mereka.

Sementara itu, Suro Gentho masih tetap belum bisa memahami perjalanan hidupnya. Ilmu kesaktian yang dibangga-banggakannya itu ternyata justru membuat hidup dan matinya selalu dalam keadaan koma. Sambil menepis sisa tanah kuburan pada pakaiannya, Suro Gentho berjalan gontai menuju luar makam, lalu berhenti tepat di depan pintu gerbang. Ditolehnya  lima orang berwajah seputih kapas yang sedang jongkok berhimpit-himpitan di samping pohon teh-tehan itu.

“Di mana ini? Daerah mana?” tanya Suro.

Suara tersebut pelan saja, tapi tetap saja telah mengguncang dada mereka yang mendengarnya. Salah satu dari mereka yang merasakan kakinya lumpuh tiba-tiba, tapi belum sampai terkencing-kencing, buru-buru menunjuk papan nama di atas pintu gerbang, tanpa berani mengangkat muka. Melirik ke arah si penanya pun tidak.

Suro Gentho menoleh ke arah yang ditunjuk. Sesaat kemudian dia terlihat menyeringai. Memperlihatkan giginya yang masih utuh dan cokelat kehitam-hitaman. Papan kayu itu bertuliskan Sasono Layu, Desa Awon-Awon, Kecamatan Colomadu. Ada kenangan indah di tempat ini dan semoga anak laki-lakinya itu belum mati.

“Tahun berapa sekarang?” tanyanya lagi.

Mula-mula lima orang yang sok berani tersebut tak segera menjawab. Namun, setelah menyadari si penanya adalah orang yang sudah lama mati dan sangat pantas menanyakannya, seseorang segera menyebutkan angka tahun ini.

Sesaat kemudian bibir Suro Gentho berkomat-kamit, mengikuti gerakan jemarinya, menghitung jumlah tahun yang telah dia habiskan di dalam kuburnya. Segera saja mukanya yang keriput itu berkerut. Umurnya sudah 108 tahun. Semua perawan pasti menolak dikawininya.

“Tahu rumahnya Warto? Warto Digdo? Masih hidupkah dia?” tanya Suro Gentho lagi.

Kelima orang tersebut serentak mengangguk.

“Tahu!”

Lalu menggeleng. Juga berbarengan.

“Sudah meninggal.”

***

Hampir semua warga Desa Awon-Awon yang berusia di atas lima puluh tahun kenal nama Suro Gentho. Bahkan pada era 60-an, kekejaman Suro Gentho dan gerombolannya disebut-sebut melampaui kebengisan tentara Jepang.

Ketika belum ada embel-embel genthonya, Suro adalah pejuang. Selain rajin mengganggu pasukan Belanda yang lagi berpatroli di pinggiran Boyolali dengan lemparan bom kotoran kuda dan sambitan ketapel,  Suro dan lima temannya juga pernah hendak menyerbu tangsi Belanda di Desa Bangak, Banyudono. Namun, mereka dipergoki tentara Belanda yang lagi patroli naik jip bersenjatakan stengun dan siap ditarik pelatuknya. Satu pejuang dihabisi penembak jitu. Peluru dari jarak dua ratus meter itu menembus belakang kepalanya. Sementara tiga lainnya kena berondongan timah panas sebelum sempat bersembunyi di balik batu. Peristiwa penyerbuan yang gagal itu menyisakan Suro seorang.

Suro juga pernah bahu-membahu dengan Tentara Pelajar dan pasukan Slamet Riyadi saat menggempur Belanda yang sedang berlindung di Benteng Vastenburg, Gladak, Solo. Pertempuran yang berlangsung empat hari penuh itu memakan korban banyak sekali. Mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan yang kini dinamai Jalan Slamet Riyadi itu. Namun, Slamet Riyadi yang hilir-mudik sambil memberikan komando justru tidak terluka sedikit pun. Bahkan, tak ada sehelai rambut pun yang kena serempet peluru tentara Belanda. Konon, Slamet Riyadi punya ilmu lembu sekilan. Semua peluru yang mengarah kepadanya tiba-tiba berbelok arahnya sejengkal sebelum mengenai tubuh.

Setelah Belanda benar-benar minggatdari Indonesia, Suro yang sangat ingin menjadi tentara resmi dan digaji negara itu ikut mendaftar sebagai anggota TNI, tapi ditolak. Selain umurnya dianggap terlalu tua, tentara tidak butuh orang yang bertabiat garong seperti dirinya. Tentara yang berisikan orang-orang yang maunya bertindak seenak perutnya dan tak patuh pada pimpinan seperti itu hanya akan mengacaukan seluruh rencana.

Suro mengajukan protes kepada panitia seleksi, tapi tak ada yang menggubris. Bahkan, Suro diusir dan diancam akan ditangkap. Dengan menahan perasaan dongkol yang luar biasa, Suro dan orang-orang yang bernasib sama dengannya kembali ke hutan. Meneruskan perjuangan.

Pasukan liar pimpinan Suro yang selanjutnya disebut gerombolan oleh polisi dan tentara itu tak lagi menyerang para bule atau prajurit kate, melainkan merampok orang-orang kaya, terutama para saudagar, dan tak peduli warna kulit atau tinggi badannya. Menurut Suro, tabiat para pedagang itu tak ubahnya penjajah. Tega berlaku aniaya dan mengeruk harta sebanyak-banyaknya demi kepentingan sendiri. Tak peduli orang lain makan bonggol pepaya agar tidak mati kelaparan.

Setelah beberapa kali hampir kehilangan nyawa dalam duel melawan  para jawara pengawal orang-orang kaya, juga polisi dan tentara yang terus mengubernya, suatu hari Suro teringat akan Slamet Riyadi. Walau tak berminat namanya kelak akan diprasastikan sebagai nama jalan raya di seantero Nusantara, Suro ingin mempunyai kesaktian yang sama. Syukur-syukur melampaui. Suro pun pamit kepada gerombolannya. Mengajukan cuti dari merampok demi mencari guru sakti.

Entah siapa pemberi informasinya, Suro pergi Gunung Lawu dan bertapa di puncaknya sebulan lamanya. Merasa belum mendapat kesaktian seperti keinginannya, Suro melanjutkan bersemedi di Gunung Merapi selama tujuh malam tujuh hari. Tirakat kelas berat itu dia jalani tanpa busana, makan, dan minum kecuali meneguk air liurnya sendiri. Belum juga puas akan ilmu yang sudah dia dapatkan, Suro pergi ke Parang Kusuma untuk  mengabdi kepada Nyi Roro Kidul selama tiga bulan lamanya.

Walau tubuhnya yang dulu gemuk itu telah menjadi kurus kering seperti sebatang ranting, Suro pulang ke gerombolannya sambil menepuk dada: mengklaim dirinya tak bisa mati. Sejak itu pula Gerakan Rakyat Kelaparan (Grayak) yang biasa beroperasi di wilayah MMC, Merapi-Merbabu Complex, itu bagai mendapat tambahan segudang amunisi.

Gerombolan Suro lalu merampok di mana-mana dan siapa saja. Tak peduli  cuaca, tempat, dan waktu. Bahkan, keberadaan polisi atau tentara sekali pun. Suro yang kemudian mendapat gelar gentho itu kadang-kadang justru sengaja ingin mempermalukan para petugas negara itu dengan cara mendatangi rumahnya, merampok harta bendanya, dan tidak lari ketika mereka menembakkan senjata.

Begitulah, walaupun kepala Suro Gentho pecah, dadanya ditembus peluru, dadanya berlubang segede gelindingan bakso, darahnya tumpah melimpah-limpah, begitu tubuhnya menyentuh tanah, Suro Gentho hidup lagi. Tanpa menyisakan bekas luka sama sekali. Begitu yang terjadi setiap kali.

Makin hari kelakuan Suro Gentho makin gila. Dia menentang dan menantang siapa saja untuk melawannya. Lupa di atas langit masih ada langit. Begitu juga di atasnya lagi.  Orang sakti dan berilmu tinggi–sebut saja namanya Kumbang–yang oleh para tetangganya hanya dikenal sebagai marbut musala merasa terusik hatinya. Kumbang pun mendatangi markas tentara, membocorkan rahasia kelemahan ilmu pancasona milik Suro Gentho.

Pagi harinya lima belas tentara menguber Suro Gentho ke lereng Gunung Merbabu. Selain senjata, mereka juga membawa jaring yang biasa dipakai untuk memerangkap celeng. Kalau biasanya nyali mereka menciut seperti kelaminnya saat  kedinginan, kali itu mereka berangkat dengan langkah gagah. Apalagi sang komandan sudah mewanti-wanti: kalau sampai gagal lagi menangkap Suro Gentho, bakal dikurung di ruang isolasi ditemani ular berbisa sebanyak lima belas biji.

Mendapat laporan dari mata-mata yang bertugas di pinggir Hutan Gondho Mayit bahwa tentara bersenjata lengkap sedang menuju markas Grayak, alih-alih kabur, Suro  Gentho justru menyongsongnya seorang diri. Disuruhnya anak buahnya sembunyi. Boleh juga lari dan tidak akan dianggap sebagai pelaku disersi. Namun, anak buah Suro Gentho yang pernah berkali-kali menyaksikan kesaktian pimpinan mereka itu tak mau memilih keduanya. Mereka justru ingin menonton. Apalagi sudah lama sekali mereka tidak mendapatkan hiburan. Wayang kulit terakhir yang mereka tonton sudah dua tahun lalu. 

Sesuai petunjuk dari Kumbang, kali ini para tentara tidak langsung menembak Suro Gentho yang terus mengayun-ayunkan goloknya. Namun, mengeroyoknya. Memukuli Suro Gentho hingga pingsan. Lalu meletakkan tubuhnya di atas jaring yang direntangkan. Membungkusnya seakan-akan laba-laba sedang menggulung serangga yang masuk ke dalam perangkapnya.

Dengan sebatang kayu cemara seukuran lengan, dua orang tentara memanggul Suro Gentho seolah-olah celeng yang hendak dibawa ke tempat penjagalan. Sang pimpinan regu segera mendekat.  Berdiri tegak di samping tubuh yang lagi terayun-ayun itu. Setelah memberi hormat, ditembaknya kepala Suro Gentho tiga kali.

Setelah menunggu lima belas menit dan ternyata Suro Gentho tetap juga mati, seratus dua anggota gerombolan yang sedang bersembunyi di balik gerumbul ilalang dan batang pohon jati itu pun segera berhamburan. Pontang-panting seperti sedang dikejar setan.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pejuang yang telah beralih kiblat menjadi bajingan itu, komandan tentara memerintahkan anak buahnya agar memakamkan Suro Gentho di tempat kelahirannya. Atau di tempat lain yang barangkali disukainya. Karena tak ada yang asal usul Suro gentho, dipilihlah opsi kedua. Setelah seharian dipajang di lapangan sepak bola seperti babi panggang, mayat Suro Gentho dibawa ke kompleks pemakaman berjarak lima belas kilometer dari markas tentara. Di Desa Ngawon-Awon itu ada perempuan yang diakui Suro Gentho sebagai istrinya.

Setelah diadakan upacara militer sederhana, diiringi tembakan salvo tiga kali, Suro Gentho dikubur dengan cara khusus. Mayatnya diikat kawat pada potongan besi yang tergantung setengah meter dari dasar lubang. Sebelum jasadnya mulai ditimbun tanah, di atas potongan besi yang silang menyilang seumpama kerangka cor-coran jembatan itu ditutupi lembaran seng.

Selain tentara, tak ada pelayat lain di kompleks pemakaman  berumur sangat tua itu kecuali perempuan yang sedang menggendong bayi laki-lakinya. Keduanya terus menangis. Si perempuan karena sedih; si bayi sebab lapar. Ingin menyusu, tapi ibunya tak mau lagi membuka bajunya di depan tentara.

Bayi yang terus menangis itu Warto Digdo alias Mbah Mantan, kepala desa lama. Namun, sudah meninggal.  Saat ini kepala desanya Wagino Digdo, anak laki-laki Warto Digdo, yang berarti cucu Suro Digdo alias Suro Gentho.

***

Suro Gentho tiba di rumah Wagino Digdo menjelang Magrib. Sang cucu menyambutnya di depan pintu gerbang. Lima menit sebelumnya salah satu orang yang tadi menyaksikan kebangkitan kakeknya itu telah memberitahu.  Wagino Digdo memeluk Suro Gentho penuh keakraban, memperkenalkan istri dan anak laki-lakinya, lalu membawanya ke ruang keluarga. Semua lampu dinyalakan seolah-olah ada pesta. Semua hidangan disajikan seakan-akan sedang kedatangan raja.

Seperti wabah kolera, berita tentang Suro Gentho yang bangkit dari kuburnya itu pun menyebar ke mana-mana. Tanpa menunggu datangnya pagi, orang-orang berdatangan ke rumah Wagino Digdo yang besar dan mewah itu. Demi bisa menonton Suro Gentho, mereka bahkan rela berdesakan-desakan di halaman dan jalanan dan berebut memanjat pohon. Ada juga yang tak memasang tenda di samping comberan di dekat sumur.

Paginya Wagino Digdo menjumpai para penonton yang menyemut di sekitar rumahnya. Sang kepala desa yang sedang digadang-gadang oleh partai politik berlambang kepala celeng untuk dimajukan sebagai calon bupati pilkada tahun depan itu mengatakan, Suro Gentho telah pergi. Itu saja. Lalu masuk rumah lagi. Ditutupnya pintu rumahnya rapat-rapat. Dibiarkannya orang-orang bergelut dengan tanda tanya.

***

Konon kabarnya, sebenarnya, Suro Gentho tidak ke mana-mana. Masih di rumah itu juga. Menyiapkan cucunya menjadi penerusnya.***

Kajen, 8 November 2021


Dewanto Amin Sadono, guru SMP dan penulis, tinggal di Kajen, Pekalongan. Cerpen-cerpennya memenangkan beberapa lomba dan diterbitkan dalam beberapa kumpulan cerpen juara. Novel Ikan-Ikan dan Kunang-Kunang di Kedung Mayit menjadi Juara 1 lomba Novel yang diadakan Perpusnas Writingthon Festival, Oktober 2022.

Cerpen

Lucy di Bulan

Cerpen Febriana Widyat Sari

Lucy, seorang anak gadis berusia belasan yang terhitung pendiam. Ia lebih sering terlihat duduk sendiri. Membayangkan dirinya menjadi seorang astronot dan pergi ke luar angkasa. Sejak kecil ia selalu takjub keindahan langit. Ia sering membayangkan dirinya terbang ke luar angkasa, menjadi astronot. Melihat bulan dari dekat, bermain bersama bintang seperti dalam video musik Twinkle Twinkle Little Star yang sering ia lihat. Lucy mulai menyadari betapa besar tak terukur luasnya angkasa raya. Ketika ia melihat bumi, tempatnya tinggal bersama bapak ibunya, ia merasa kecil. Bumi nampak cukup besar dan ia selalu merasa bagaikan sebuah butiran pasir kecil di luasnya padang gurun Sahara. Kemudian, ia teringat sebuah teori yang dikemukakan oleh John Dalton yang pernah ia baca di buku mengenai atom. Ya, ia merasa ia adalah atom, begitu juga manusia lainnya. Partikel paling kecil di dalam suatu ruang, begitu kecilnya ia sehingga tak dapat lagi dibagi.

Lucy terpana melihat luasnya angkasa raya. Melihat dan merasakan di kedalaman ruang hitam yang sebelumnya selalu ia perhatikan ketika ia di bumi, jauh di bawah sana. Ruang hitam diantara kedipan bintang satu dan lainnya, dan yang mengelilingi bulan.  Kini Lucy memahami apakah bumi itu bulat. Apakah ia berputar. Apakah ia justru dikelilingi dengan gerakan memutar dari objek lain. Apakah bintang dan bulan dapat berpijar terang dengan kekuatannya sendiri, dan ataukah ada kekuatan lain di balik kedipan kilauan mereka.

Lucy melihat Jupiter, planet terbesar di alam semesta, dan planet terjauh dari bumi. Ia pernah membaca dari bukunya tentang tata surya. Lalu ia ingat ketika di bumi, ia sering tidak sepaham dengan pendapat kebanyakan orang. Saat itulah ia selalu berpikir ingin tinggal di Jupiter saja dan menjauh dari kebanyakan orang.

Akan tetapi, Lucy lalu merindukan senyuman manis ibunya. Ia juga merindukan pelukan sayang bapaknya. Baginya, bapak ibunya adalah dua manusia berjiwa lembut yang paling memahaminya. Tempat bertukar gagasan tentang memahami bagaimana dunia dan manusia di dalamnya berpikir. Berdiskusi tentang diri Lucy sendiri dalam menghadapi dunia dan semesta, kelak bila ia hidup sendiri tanpa ibu bapaknya. Membantu Lucy memahami bagaimana bertahan hidup, salah satunya dengan menjadi orang baik. Lucy ingat kata ibunya, ia boleh terbang setinggi apapun ia bisa, tapi ia tidak boleh lupa untuk kembali memijakkan kakinya ke tanah. Kata bapak, karena tanah adalah sepenuhnya kesadaran manusia.

“Lucy, makan dulu, Sayang”, panggil Ibu.

“Iya, Bu”, jawab Lucy.

Lucy turun dari rumah pohonnya kemudian, dan berlari menemui ibunya, menceritakan pengalamannya kepada ibu dan bapaknya yang sedang menunggu Lucy di ruang makan. Lucy mencuci tangannya lalu bergabung dengan ibu bapaknya di ruang makan.

“Jadi hari ini Lucy ke mana?”, tanya Bapak.

Bapak selalu tahu, Lucy selalu menghabiskan harinya sepulang sekolah di rumah pohon, di kebun belakang rumah mereka. Kebun itu langsung dapat terlihat dari dapur dan ruang makan, karena pintu keluar dan masuk dari ruang dapur dan ruang makan ke arah kebun terbuat dari kaca. Pertanyaan bapaknya mengacu kepada imajinasi Lucy hari ini di rumah pohon. Setiap kali ke rumah pohon, Lucy selalu berimajinasi bahwa dirinya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Buku-buku kesayangannyalah yang selalu membawanya ke dalam imajinasi. Tempo hari, imajinasinya membawanya ke Inggris abad 19. Ia mengikuti detektif kesukaannya; Sherlock Holmes dan sahabatnya Dokter Watson menyelesaikan kasus petualangan Silver Blaze.

“Ke bulan, Pak”, jawab Lucy. Lalu Lucy menceritakan semua, sampai pada panggilan ibu untuk makan. Ibu dan bapaknya menyimak ceritanya dengan antusias.***


Febriana Widyat Sari, lahir dan menetap di Surakarta, Jawa Tengah. Seorang ibu, guru sekaligus murid. Pecinta kata-kata, penghayat realita. 

Cerpen

Seseorang yang Ingin Mati di Aokigahara

Cerpen Galuh Ayara

Seorang teman tiba-tiba menelepon dan memberitahuku bahwa ia hendak bunuh diri dan pergi ke hutan Aokigahara? Ia memintaku membantunya melewati masa krisis sampai ia bisa membebaskan pikiran negatifnya. Bukankah setiap orang yang ingin bunuh diri berpikir dan berharap di detik-detik terakhir, ia masih bisa selamat di dunia yang serba menjeratnya?

Namanya Fujio. Dia adalah sahabatku ketika aku kuliah di Universitas Waseda di Tokyo, Jepang. Fujio adalah seorang penulis sastra. Karyanya dimuat di koran, majalah, dan media daring. Ia yang mengenalkanku kepada buku-buku sastra Jepang seperti buku Kazuo Ishiguro, Haruki Murakami, dan para terdahulunya seperti Junichiro Tanizaki dan Yasunari Kawabata. Dia juga yang akhirnya membuatku sangat menyukai ‘Midaregami’, buku kumpulan tanka, puisi berpola khas jepang, yang dianggap kontroversial karya Akiko Yosano.

Fujio adalah sosok lelaki sederhana yang selain menulis, kadang ia suka memasak dan bergaya bak koki restoran. Ia akan mengenakan baju dan topi koki berwarna putih terang saat ingin menunjukkan keahliannya meracik ramen pedas kepadaku. Aku selalu antusias dengan pertunjukan memasak kecil-kecilan di dapur apartemennya yang agak sempit itu. Gaya Fujio yang kocak dan sebenarnya tidak alami ketika meracik ramen itu selalu sukses mengocok perutku. Aku terpingkal-pingkal sampai keluar air mata, sementara Fujio dengan senyum cengengesannya fokus melanjutkan kegiatannya. Ketika mengaduk bumbu di panci ia sengaja membenturkan sendok yang agak besar itu ke pinggiran kuali hingga mengeluarkan suara yang berisik. Aku menutup telinga sambil terbahak-bahak.

Di balik kesederhanaannya, sesungguhnya Fujio lahir dari keluarga kaya di Tokyo. Kekayaan keluarganya mencakup beberapa restoran, bar, hotel, juga dorm berikut salah satu sekolah bahasa di Shinjuku. Rumah tinggal keluarga Fujio berada di Denenchofu, sebuah kawasan pemukiman elit yang dikembangkan oleh seorang industrialis yang dianggap sebagai bapak kapitalisme Jepang. Karena kekayaan keluarga tersebutlah, Fujio dipaksa kuliah bisnis oleh ayahnya untuk meneruskan bisnis keluarganya. Akan tetapi, Fujio lebih tertarik dengan bidang sastra. Takdir itu kemudian mempertemukanku dengan Fujio di Universitas Waseda.

Pada saat itu–bulan Mei, Jepang mengalami periode ‘tsuyu’ atau musim hujan. Saat itulah aku seringkali bermalam di apartemen Fujio yang terletak tidak begitu jauh dari taman Shinjuku Gyoen. Aku tidak tahu apakah Fujio menyukaiku atau tidak. Dia tidak pernah mengungkapkan apapun soal perasaannya kepadaku. Aku tidak tahu, tapi sejujurnya kami sering melakukan hubungan seks setiap kali aku menginap di apartemennya, atau pun sebaliknya, ia yang datang ke apartemenku.

“Hidupku sangat berat, Hanin,” katanya suatu ketika. Saat itu aku baru saja menghabiskan satu mangkuk besar ramen pedas buatannya yang berhasil membuat tubuhku panas dan berkeringat. Kami makan ramen sambil menonton film anime Kotonoha No Niwa-Makoto Shinkai yang banyak memakai latar keindahan taman Gyoen. Film itu adalah salah satu film anime Jepang yang aku suka. Selain karena berlatar taman Gyoen yang terasa amat dekat dan digambarkan sangat indah dan mendetail itu, juga karena cerita cintanya yang melankolik dengan dihiasi kutipan tanka lama yang penuh teka-teki.

Aku bergeser untuk membelai punggung Fujio lalu memeluknya dari belakang.

“Kenapa? Apa yang membuat hidupmu berat?”

Aku bertanya sembari membenahi posisi dudukku di atas tatami.

“Entahlah. Kadang aku merasa dikejar-kejar sesuatu di kota ini hingga aku sangat takut dan tertekan.”

“Soal ayahmu?”

“Mungkin lebih dari itu? Aku merasa kota ini penuh tuntutan. Dan aku hanya seorang yang keras kepala. Hmm, terlalu keras kepala untuk mempertahankan ketertarikanku pada dunia sastra.”

Aku menyandarkan kepala di pundaknya.

“Kamu satu-satunya orang paling baik yang pernah aku kenal, Fujio. Aku senang bisa mengenalmu, dan akan sedih jika suatu saat aku harus pulang ke Indonesia dan kita akan berpisah dalam waktu yang lama, mungkin selamanya.”

Aku mengucapkan kata-kata itu untuk membesarkan hatinya sekaligus mempertanyakan secara terselubung, kenapa dia belum juga mau berkomitmen denganku?

“Maafkan aku, Hanin. Aku tidak ingin kamu ikut masuk ke dalam kehidupanku yang sangat rumit. Maaf.”

Ia berkata seolah mengerti kegelisahanku. Aku menelan ludah mendengar kenyataan yang agak pahit itu. Akan tetapi di luar itu, aku begitu nyaman setiap kali dekat dengan Fujio, sehingga aku tidak dapat menuntut apapun darinya, asalkan dia ada.

Aku berdiri dan berjalan ke muka jendela. Hujan rintik-rintik di luar membuat Jepang seperti sebuah lukisan dengan orang-orang berpayung yang berjalan di antara gedung-gedung menyala. Aku ingat, aku pernah melihat lukisan seperti itu di rumah kakekku di Bandung. Jepang benar-benar seperti lukisan yang sangat besar ketika memasuki periode tsuyu.

“Di kaki gunung Fuji ada hutan yang bernama Aokigahara. Orang-orang pergi ke sana untuk bunuh diri. Kau pernah dengar?”

Fujio mengambil satu batang rokok dari atas meja. Aku berjalan kembali ke dekatnya. Aku berjongkok untuk mengambilkan korek lalu menyalakan api ke rokok yang sudah ada di mulutnya.

“Ya. Hmm, aku kurang suka mendengarnya.”

Aku mengambil rokok itu lalu mencium bibirnya yang basah dan berasap. Perlahan tubuhku bergerak dan menjadi sangat melekat dengan Fujio. Aku memeluk dan membuka pahaku lebar-lebar di atas pangkuannya.

“Tolong jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu, di mana pun. Sebab aku akan sedih dan merasa bersalah.”

 Aku mengembalikan batang rokok itu ke mulutnya.

“Aku tidak tahu apakah hidupku berharga?”

Fujio mematikan rokok dengan menekan ujungnya di permukaan meja kecil di samping kami.

“Dengar, tidak ada hidup yang sia-sia. Kuatkan dirimu, ya. Sabar.”

“Suatu hari aku akan meneruskan bisnis ayahku. Dan saat itu mungkin aku hanyalah mayat hidup.”

“Kamu masih bisa menulis nanti.”

“Entahlah. Aku muak dengan segala tuntutan di hidupku.”

“Jangan pernah putus asa.”

“Iya.”

Ia lantas memeluk tubuhku sangat erat. Aku merasakan tangannya yang dingin masuk ke dalam blus dan bra-ku. Tangan itu meremas-remas payudaraku hingga aku berdebar bukan main. Aku menurunkan resleting blusku lalu melepas bra dengan napas naik turun dan tergesa. Aku meraih tangannya yang agak kasar itu lalu menciuminya dengan mata terpejam. Aku merasakan seluruh kecemasannya masuk ke pori-pori kulitku, sehingga aku sangat sulit lepas darinya. Aku tidak pernah bisa lepas seakan tubuhku diikat. Aku hanya bisa menerima tubuh itu menyatu dengan tubuhku semakin dalam, semakin dalam. Lalu di kedalaman itu, aku berharap seluruh kegelisahannya reda.

***

Aku menutup panggilan telepon itu dengan tangan yang gemetar, dan hatiku begitu hancur lebur.

“Siapa yang meneleponmu? Kenapa kamu menangis? Apakah dia temanmu sewaktu kuliah di Universitas Waseda?”

Aku tidak segera menjawab. Hatiku terlalu berkecamuk. Fujio baru saja meneleponku setelah kami hilang kontak selama dua tahun selepas aku pulang ke Indonesia. Ia menutup semua akun media sosialnya, juga mengganti nomor ponselnya atau bagaimana aku tidak tahu. Lalu sekarang ia tiba-tiba muncul dan berkata ingin bunuh diri. Aku bisa mendengar suara tangisnya yang berat seolah ia tak sanggup lagi menanggung pikiran-pikiran negatifnya? Bagaimana jika ia benar-benar pergi ke Aokigahara sendirian lalu tidak pernah kembali ke apartemennya, ke rumah keluarganya atau ke mana pun? Ah, aku tidak sanggup membayangkannya.

“Hanin? Kamu baik-baik aja?”

“Hmm, bisa kita pulang sekarang?”

“Yakin? Makan malam kita baru saja datang?”

“Kalau kamu enggak ingin mengantarku pulang, biar aku pulang naik taksi.”

“Wait, wait, Hanin. Oke, kita pulang ya.”

“Thank’s, Adit.”

“Bukan masalah. Kamu kekasihku. Akan kuturuti apapun kehendakmu.”

Setelah Aditya membayar makanan yang tidak kami makan, kami segera meninggalkan restoran itu.

***

Sesampainya di rumah, aku langsung menangis tersedu-sedu. Aku berguling di atas kasur dan kesulitan mengatasi kegelisahanku yang menjadi-jadi. Di tengah perasaan sedih dan khawatir itu, tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Aditya. Perasaan bersalah itu merasuk begitu saja seperti roh yang mendesak dan menguasai diriku. Aku menangis semakin menjadi. Aku kebingungan mengatasi seluruh kegelisahan itu yang saling tindih menindih dan bertumpuk tebal di atas tubuhku.

Aditya adalah temanku sejak taman kanak-kanak. Sewaktu SD, kami pernah mencuri dewandaru sebesar gundu dari halaman sekolah SMA Strada di belakang sekolah kami. Adit yang memetik dewandaru itu karena aku begitu menginginkannya, karena aku tergoda dengan warna merahnya. Buah itu seperti lampion kecil yang menyala. Aku benar-benar tergoda dan amat menginginkannya. Setelah berhasil mendapatkannya, kami tunggang langgang dikejar satpam. Aditya memberikanku dewandaru sebesar gundu, tapi aku merasa ia baru saja memberikan bumi dan seisinya.

Sedari kecil, Aditya selalu memberikan apapun yang kumau, tapi aku tak pernah memberikannya apapun milikku. Sepulang aku dari Jepang, Adit menyatakan perasaannya sekaligus melamarku. Bahkan saat itu aku tidak memberikan hatiku, meski aku mengatakan “ya”. Aku bahkan selalu menolak ketika ia ingin menciumku, padahal sewaktu di Jepang hampir setiap malam aku tidur dengan Fujio. Fujio? Mengapa harus Fujio yang ingin aku berikan segalanya milikku? Padahal jelas-jelas lelaki itu selalu menolak membuat komitmen hubungan denganku.

Aku meraih novel Naomi. Naomi adalah sebuah novel karya Junichiro Tanizaki. Buku itu merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan Fujio. Naomi berkisah tentang percintaan yang muskil, mendebarkan, provokatif dan penuh tragedi. Aku selalu suka kisah cinta yang melankolik, penuh teka-teki dan tragedi. Mengapa di Jepang penuh tragedi? Mengapa Fujio ingin bunuh diri? Ah, tiba-tiba kepalaku sangat pusing.

Buku itu selalu kubawa ke mana pun bersama dengan buku Midaregami. Aku membuka buku tersebut lalu foto Fujio yang kusimpan di dalam buku itu terjatuh. Aku menangis sambil memeluk foto itu. Segera saja aku meraih ponselku dari atas meja. Aku berusaha menelepon nomor ponsel yang dipakai Fujio tadi, tetapi tidak ada jawaban.

***

Pagi sekali, Aditya datang ke rumahku. Dia membuatkanku sarapan dan membantuku mengerjakan pekerjaan rumah. Dari meja makan aku bisa mencium aroma cabai merah dan bawang putih yang ditumis dan dicampurkan dengan udang segar dan nasi putih. Tidak lama, Adit datang dengan baki berisi sepiring nasi goreng dan teh jeruk lemon.

“Nasi goreng udang untuk Nona Hanin yang paling cantik.”

Adit menaruh nasi goreng udang dan teh jeruk lemon itu di depanku. Aku tersenyum alakadarnya sambil mulai memasukkan sesendok penuh nasi goreng ke dalam mulut.

“Apa perasaanmu sudah lebih baik?”

Aku mengangguk.

“Kalau boleh tahu, siapa orang itu, Sayang? Hmm?”

“Namanya Fujio. Ia teman kuliahku.”

“Dia pasti teman baikmu.”

“Ya, kami hanya berteman, tidak lebih.”

“Lalu apa yang membuatmu menangis semalam?”

“Dia dalam masa-masa krisis. Semalam dia bilang akan mengakhiri hidupnya dan sepertinya dalam perjalanan ke Aokigahara. Entahlah. Dia orang yang sangat rentan dan sulit berteman.”

“Aokigahara? Aku pernah menonton film dokumenter tentang hutan itu. Hutan di kaki gunung Fuji yang dijuluki hutan bunuh diri, kan?”

Tiba-tiba tak terasa air mataku banjir lagi. Aku menangis sesenggukan seperti bocah yang baru saja kehilangan mainan. Adit seketika mendekat dan merangkul tubuhku.

“Teleponku enggak diangkat. Gimana kalau dia sungguh-sungguh. Aku merasa bersalah. Dia menelponku karena dia tidak tahu harus menghubungi siapa. Dia memintaku membantu melewati masa krisisnya. Tapi waktu aku telepon balik, dia enggak angkat teleponku.”

Tangisku lantas semakin keras.

“It’s ok, Sayang. Cup cup cup, semua akan baik-baik aja. Kalau kamu mau, nanti aku beli tiket pesawat ke Jepang. Kita sama-sama ke sana biar kamu tenang, sekalian aku juga lagi butuh libur.”

“Kita?”

“Kenapa?”

“Enggak apa-apa. Terima kasih selalu memberi apa yang aku mau.”

“Aku cinta kamu, Hanin. Tidak ada yang lebih penting dari itu.”

Setelah itu, setelah memastikan aku sudah lebih tenang, Adit berangkat ke kantornya, sementara aku memutuskan tidak bekerja hari ini. Aku terlalu sedih dan sulit menguasai diri.

Aku membuka laptop, mencari tahu kanal berita online di Jepang yang memuat kabar tentang orang bunuh diri di hutan Aokigahara. Berjam-jam aku tidak menemukan nama Fujio Shinkai dari Shinjuku. Lalu aku mengetik nama pena Fujio yaitu Kawamura. Hasil pencarian nama itu hanya karya-karya Fujio yang dimuat di media-media jepang. Aku baru tahu, ternyata sudah banyak sekali karya yang ditulis Fujio. Karena penasaran akhirnya aku ketik nama ayah Fujio, yaitu Yukio Shinkai. Nama itu cukup populer sebagai pebisnis di Tokyo. Dan apa ini? Ada sebuah artikel memuat tentang Yukio Shinkai yang menggelar pernikahan putra tunggalnya dengan seorang anak pengusaha asal Hongkong.

Mendadak udara sangat dingin, tubuhku keram dan sulit bergerak.

Ponselku tiba-tiba berdering. Kulihat panggilan itu dari nomor yang dipakai Fujio semalam.

“Ha-Hanin.”

Mendengar suara yang terbata itu, tiba-tiba aku sangat ingin bunuh diri detik itu juga.***

2022


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen. Karyanya dimuat di beberapa media. Buku kumcernya yang berjudul ‘Nyanyian Origami’ terbit pada tahun 2020.

Puisi

Puisi Khanafi

Bunuh Diri

: n

kau ingin berhenti bunuh diri

aku tahu.

pikiran-pikiranmu yang berkicau kacau itu

ingin kau padamkan dengan tembakan

dan dalam peluru panas itu

kuburanmu memisahkanmu pada rumah

tapi kau ingin selalu pulang, segera

katamu melayang-layang sungguh perih

tapi hidup pun tak menagih

jangan minum pil tidur lagi

sebab ia memakamkanmu perlahan-lahan

2022


Bekas Tembakan

: kurt cobain

di bekas tembakan itu

udara saling menjenguk

dalam suhu yang beku

di simpang waktu

kau mengucapkan dada!

sambil melambaikan tangan

bagi lubang bekas peluru leleh itu

ingatanmu tak juga rampung

kepalamu tetap riuh seperti suara penonton

saat konser sedang berlangsung

2022


Setelah Kepergian

setelah kepergianmu yang mendadak itu

tiba-tiba seluruh hari menjadi baik?

aneh kiranya memikirkan apa yang terjadi

kau begitu sulit mempertahankan diri

nyaris setiap hari kau merasa sepi

dan ingin mati saja

hari baik-baik saja, dan memang begitu

tapi kamu yang tidak baik-baik saja

lagu gelap itu terputar

mematahkan udara kamar

seorang perempuan cemas

tubuhnya lebam-lebam seperti

bakpao isi kacang hijau

yang nampak isinya dari luar

sehabis selamat tinggal itu

melayang memotong nadimu

darah menangis sepanjang lantai kamar

yang mulai dingin, lembab, dan

dikerumuti semut-semut

selembar puisi jatuh dipeluk darah

kata-katanya lebih merah dari darah

2022


Mendengarkan Musik-Musik Sedih

seorang perempuan suka

mendengarkan musik-musik sedih

ia memutarnya siang dan malam

waktu mengaku lelah dan bosan

memperingatkan maunya

yang tak pernah mengalah

tapi seperti halnya perempuan lain

yang sedang dilanda kepiluan

semua hari terasa beterbangan

mustahil disentuh dan ia

seperti berada di sebuah sudut terpencil

hanya ditemani dinding muram

dan suara lagu dari musik yang terputar

aku ingin sekali berkata padanya

kalau sepi dan musik bisa membawanya

hanyut pada makam-makam tua

tapi tentu saja aku tak bisa

sebab aku tak pernah mengenalnya

perempuan yang suka

mendengarkan musik-musik sedih itu

2022


Usaha Mengobati Patah Hati

ketika kau patah hati berbaringlah di ranjang puisi

bantal yang empuk dan selimut yang hangat akan memelukmu

sehingga kau tak merasa sendiri lagi

pandang pula langit-langit kamar puisi. kau temukan bintang-bintang

kau temukan angin menggulung awan dan udara putih lagi sejuk

dadamu tak usah berkobar-kobar api

rasakanlah semilir yang datang dan pergi

terkadang pikiran sumpek dan cupet itu berasal

dari dendam yang diam-diam merencanakan penyesalan

maka tak usahlah jalan-jalan di luar ada peperangan

lebih baik memasuki kamar puisi

membaringkan diri di ranjangnya yang peduli

dan sejenak letakkan kesedihan dekat jendela

sebentar lagi ia akan berubah jadi pot dengan bunga

atau guguran daun saja atau burung yang terbang ke angkasa

2022


Ibadah Sepi

jam dua pagi aku bangun dari kasur

suara detik nyaring

menyisir ke sudut ruangan terpencil

dingin memutih pada udara

air kran berbunyi menyentuh hati

aku terpaku pada bayang-bayang gaib

sajadah yang tergelar

kubah megah masjid entah

kepalaku seolah telah lepas dari tubuhku

dan mataku seakan menghapus ketakutan

dan menyisakan cuma keindahan

nyaris ke puncak puisi

2022


Putih

adalah buih-buih di pantai

adalah awan gemawan di langit

adalah lampu-lampu kota

adalah bulu-bulu burung

adalah hati seorang pecinta

yang serupa cermin bagi Kekasihnya

2022


Khanafi, lahir di Banyumas, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya berupa puisi, cerpen dan esai tersiar di berbagai media massa, serta terikut dalam buku-buku antologi bersama. Sehari-harinya bekerja sebagai editor lepas, penerjemah lepas, dan penjual buku-buku baru maupun lawas. Sekarang tinggal di Srandakan, Bantul, Yogyakarta bersama istri, sembari melukis dan bikin aneka kerajinan dan tentu saja masih terus aktif menulis. Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].

Cerpen

Bancakan

Cerpen Puput Sekar

“Ndri, nanti sore kita ke rumah ibu, ya,” ucap Mas Is seraya duduk di sebelahku.

Aku menutup halaman buku yang tengah kubaca, lalu menghela napas panjang. Sebelumnya kami sebenarnya sudah berencana makan malam di luar, tapi kalau Ibu sudah meminta, kami tak kuasa menolaknya.

“Dua hari lalu kita baru dari sana, Mas. Terus acara kita malam nanti?”

Sorry, kemarin aku lupa bilang, acara sore nanti memang sudah direncanakan ibu. Katanya nanti ada bancakan Dito,” ujar Mas Is lirih.

“Bancakan lagi, bancakan lagi! Mau sampai berapa kali, Mas?” sahutku dengan emosi tertahan.

Aku memang tidak suka dengan kebiasaan ibu mertuaku itu, bancakan! Meski katanya bancakan adalah tradisi leluhur untuk melindungi diri dari malapetaka, wabah, atau apalah namanya. Terlebih bancakan untuk Dito, anakku yang sudah meninggal. Jujur, bukannya aku senang, tapi malah sedih.

Bancakan yang dilakukan ibu seolah menampar diriku dan Mas Ismanto berulang-kali. Karena bukan sekali atau dua kali ibu menyebut-nyebut bahwa meninggalnya Dito disebabkan kesalahan kami berdua. Katanya, karena kami kurang sedekah, kurang bancakan, sehingga Dito menjadi “bancakan” roh-roh jahat. Padahal kepergian Dito sudah jelas penyebabnya. Di usia setahun, ia telah divonis menderita leukimia. Lantas di usia dua tahun, Dito pergi meninggalkan kami semua. Berat, tentu saja, tetapi semua sudah kehendak-Nya.

Menurutku, kepergian Dito sama sekali tidak ada hubungannya dengan roh jahat atau hal mistis apa pun. Obatnya bukan bancakan, melainkan serangkaian pengobatan medis oleh dokter spesialis penyakit dalam.

“Tapi nyatanya tidak bisa menyelematkan nyawa anak kita?” kata Mas Is.

Aku menelan ludah, tidak berani menjawab. Sebab percuma, mendebatnya, yang hal itu hanya akan menjadi abu. Jika mungkin menang pun hanya jadi arang. Tapi bagiku, berobat ke dokter adalah bentuk usaha. Bersedekah tidak harus dengan bancakan seperti yang kerap dilakukan ibu. Sesungguhnya sudah dua tahun sejak kepergian Dito, aku mulai ikhlas. Entah ikhlas yang seperti apa, tetapi aku aku yakin Dito telah bahagia di sana.

Namun tidak dengan pendapat ibu, yang hal itu kutahu dari Mas Is. Dia pernah menyampaikannya kepadaku. Katanya aku belum ikhlas melepas Dito. Katanya ibu juga pernah menyinggung, bahwa mungkin saja tidak segeranya aku mengandung lagi, juga karena hal itu.

“Bahkan ibu pernah mengatakan, terkadang kamu diselubungi oleh energi negatif,” kata Mas Is menyampaikan apa yang disampaikan ibu. Saat itu aku berpikir, sebegitu kejamnya ibu menuduhku seperti itu. Jika mengingatnya, perasaanku jadi berantakan, seketika mataku memanas. Namun, seperti biasanya, Mas Is mendekat, lalu memelukku erat.

“Aku tahu perasaanmu, Ndri,” ujar Mas Is yang sepertinya mengerti perasaanku. “Tapi sebaiknya kita memang tidak perlu membuat konflik dengan ibu. Meski berat, tapi berusahalah untuk bertahan. Yang pasti aku akan selalu berada di sampingmu,” bisik Mas Is menenangkanku.

Dadaku terasa sesak, isak ini pun tak tertahan lagi. Mas Is benar, jika kami tidak menuruti permintaan ibu, hal itu sama saja menabuh genderang perang.

***

Di ruang keluarga ibu duduk bersila.  Di depannya terdapat sebuah tampah besar beralas daun pisang, berisi aneka urapan sayur,  nasi tumpeng, dan lauk pauknya. Hal yang paling membuatku takjub, ibu mampu membuat sendiri semua hidangan istimewa itu. Meski usianya telah senja, berlama-lama di dapur tidak membuat staminanya menurun.

Sementara di sekeliling ibu, duduk rapi anak-anak kecil yang menjadi tamunya. Sebelum makan, ibu memulai berdoa. Dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti ibu mengutarakan permohonan. Permohonan agar Dito tenang di alamnya, permohonan untuk kesehatan kami berdua, juga kesehatannya sendiri. Terlebih permohonan agar aku diberikan momongan lagi. Sebuah permohonan yang terkesan formalitas. Doa yang itu-itu saja yang diucapkan ibu setiap melakukan bancakan, bahkan hal itu sampai kuhafal.

Aku tidak antusias dengan acara rutinitas itu, lagi pula kami baru datang. Tapi ucapan ibu kerap mampu memperburuk kondisi hatiku. Meski sebenarnya aku tahu perkataan itu disampaikan untuk anak-anak yang ikut bancaan, tapi aku tetap merasa tersindir.

“Bancakan ini wujud sedekah. Kebiasaan baik dari leluhur kita. Semoga kebiasaan baik seperti ini tidak dipandang buruk oleh siapa pun. Namanya saja kebiasaan baik, jika kita sedang melakukannya, harus dengan perasaan ikhlas.”

Aku mengigit bibir, meski aku tidak tahu apakah pernyataan ibu itu sengaja untuk menyindirku atau tidak tapi, kata-kata ibu tadi sukses melukai perasaanku. Setelah itu benakku mengembara ke mana-mana. Lantas aku memikirkan apa saja yang ibu katakan dan lakukan. Dari situ aku merasa sejak awal pernikahan kami, ibu sepertinya memang tidak pernah bersikap lunak kepadaku. Menurutku bukan hanya sikap, bahkan jika bicara pun tidak pernah enak didengar. Jika sudah begitu biasanya aku hanya bisa mengelus dada, lalu masuk kamar, seperti yang kulakukan saat ini, menjauh dari mereka, sekadar untuk meluruhkan air mata.

Hari ini, sebenarnya banyak aneka kudapan yang menguarkan aroma sedap hingga terasa menggiurkan, tapi hal itu sama sekali tidak menerbitkan nafsu makanku. Bahkan setiap kakiku menginjak rumah ibu, rasanya semua lantainya penuh dengan duri tajam. Aku ingin acara itu cepat berakhir dan kami bisa pamit pulang. 

Perlahan aku keluar kamar, menuju teras, tetap memisahkan diri dari ibu dan Mas Ismanto. Namun sesekali pandanganku mengarah pada wajah-wajah polos yang tengah menyantap bancakan itu. Jika Dito masih hidup, barangkali dia pun tengah menyantap bancakan dengan lahap, dan tentu saja diiringi dengan canda tawa bersama mereka. Seketika air mataku jatuh lagi.

“Lo, Bulik kenapa nangis? Enggak dapat bancakan, ya?” Suara polos seorang anak mengagetkanku.

Ternyata anak itu Wibi, lengkapnya Wibisono. Usianya tujuh tahun, tetangga sebelah rumah. Ia memang sering main ke rumah ibu. Sepertinya ibu memang menyukai anak kecil, bukan hanya Wibi, tapi juga yang lain. Barangkali karena ibu merindukan seorang cucu, sebab cucu semata wayang, yaitu anak kami, meninggal dengan cepat. Di rumah ini ibu hanya tinggal bersama Bulik Pur, adik sepupunya yang telah lama menjanda.

Sebenarnya ibu telah meminta Mas Is untuk tetap di sini, tetapi Mas Is memilih tinggal jauh dari ibu. Waktu itu alasan Mas Is, agar dekat dengan kantornya. Padahal Mas Is sedang menyelamatkan aku dari konflik dengan ibu. Paling tidak hal itu yang pernah Mas Is ungkapkan kepadaku.

Wibi mengulangi perkataannya.

Aku menoleh ke arahnya. Aku tersenyum lalu menggeleng. “Belum lapar, Wibi,” sahutku kemudian.

 “Oalah, padahal mau kukasih iwak,” ujarnya sambil menyorongkan paha ayam untukku.

“Eh, enggak usah, untuk kamu saja. Ayam itu protein, bagus buat kesehatan kamu.”

“Kok, Bulik ngomongnya sama sih, kayak Simbah Surti. Kalau kami lagi makan, lalu Simbah memberi kami iwak. Katanya bagus untuk kesehatan.”

Aku tersenyum kaku. Ada sebersit rasa iri di hati ini. Ibu bisa bersikap lunak kepada orang lain, tetapi kepadaku—menantunya sendiri—tidak pernah bersikap begitu. Setidaknya begitu yang kurasakan selama ini. Beruntunglah Wibi yang selalu disayangi ibu mertuaku.

“Oh iya,Bulik, semalam aku nginep di sini, lo.”

“Kamu enggak dicariin ibumu?”

“Ibuku tidak di rumah, kok. Dia pergi jauh. Kerja. Jadi aku sama bapak dan Mbak Nita. Kalau aku sedang kesepian, aku pergi ke sini. Aku suka dibacain buku cerita sama simbah,” terangnya antusias.

Wibi anak pintar dan cerdas, ia senang berceloteh. Barangkali inilah salah satu penyebab ibu menyukainya. Pastinya ibu juga menaruh iba kepada anak yang ditinggal ibunya. Tapi apa pun itu aku sedang tidak ingin menilai kondisi orang lain.

“Setelah aku dibacakan cerita, sebelum tidur aku disuruh berdoa.”

“Oh, ya, pintar,” jawabku pendek sembari tersenyum dan mengusap kepalanya.

“Doanya itu panjang. Selain doa mau tidur, juga doa agar aku dan Mbah Surti sehat. Doa untuk Paklik dan Bulik juga ada. Katanya biar sehat dan banyak uang, dan segera dikasih adek lagi.” Usai mengatakan begitu, Wibi izin kembali berkumpul dengan mereka.

Sementara, aku yang mendengar kalimat itu, mataku kembali memanas. Diam-diam kuperhatikan ibu yang tengah makan sambil bersenda gurau dengan tamu-tamu kecilnya. Beberapa detik kemudian, meski pandanganku masih tertuju pada mereka, tapi ingatanku terpaku oleh pesan Mas Is, yang katanya hal itu adalah kata-kata ibu. Isi pesan itu menyatakan bahwa bisa jadi selama ini aku tengah dikelilingi energi-energi buruk.**


Puput Sekar, lulusan Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari terbitan Republika, tahun 2012. Splash Love in Seoul, Beo Zelga, tahun 2020, terbitan Prudencia. Aktif menulis di komunitas literasi Nulis Aja Dulu dan Opinia. Pecinta mi ayam dan kebudayaan.