Cerpen

Perkutut di Pangkuan Laksmita

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Menukik dari dahan pohon randu alas, seekor perkutut terbang rendah, hinggap di pangkuan Laksmita. Perempuan yang hamil muda itu tengah duduk di pendapa, membiarkan perkutut itu bertengger di pangkuannya. Ia tak ingin menangkap perkutut itu dan mengurungnya dalam sangkar. Telah berhari-hari Laksmita mengamati perkutut itu. Jinak, perkutut itu senantiasa berkeliaran di sekitar telapak kaki Laksmita. Tidak beranjak ke mana-mana.

Baru pagi ini perkutut hinggap di pangkuan Laksmita. Burung itu seperti ingin ditangkap dan dipelihara dalam sangkar. Tetapi Laksmita tak ingin menangkapnya. Ia ingin mendengar kicau perkutut itu dari dahan pepohonan. Tenang, tanpa rasa takut,  perkutut itu bertengger di pangkuan Laksmita. Seperti  sudah sangat mengenal Laksmita, burung itu bermanja-manja di pangkuan. Tiap pagi Laksmita menggenggam ketan hitam dan jewawut, ditebar di pelataran, segera dipatuki perkutut itu, pelan, nikmat, dan tak tergesa-gesa. Perkutut  itu menjadi bagian hidup Laksmita.

Broto memperhatikan perkutut itu dan beralih menatap perangai istrinya yang penuh kesabaran.

“Sepertinya dulu perkutut ini tak pernah hinggap di pelataran?” Broto menggugat. Ia ingat, ketika gadis dulu, Laksmita seringkali berada di tepi sendang, usai mencuci dan mandi. Tetapi perkutut itu tak pernah menampakkan diri. Yang hinggap di antara dahan pepohonan randu alas adalah burung kacer. Broto pernah mengikuti terbang burung kacer dari rumah orangtuanya ke pelataran rumah Laksmita—yang mengantarkannya bertemu dengan gadis itu, dan kemudian menikahinya.

“Perkutut ini sudah lama datang padaku melalui mimpi,” kata Laksmita, seperti ingin menelan kembali kata-katanya.

“Aku juga telah lama datang dalam mimpimu?”

Laksmita menatap teduh Broto. “Engkau datang dalam mimpiku, empat puluh hari menjelang pertemuan kita.”

“Kenapa kau tak pernah cerita?”

“Aku tak ingin mendahului kehendak Yang Mencipta Mimpi.”

“Tangkap saja perkutut itu! Ia ingin kaupelihara.”

Memenuhi permintaan suaminya, perkutut  itu ditangkap Laksmita dan dimasukkan ke dalam sangkar. Perkutut  itu sangat jinak, berada di sangkar tanpa merasa asing. Mematuk jewawut dan ketan hitam, minum sesekali. Broto memang mempunyai pekerjaan baru, merawat perkutut itu tiap pagi. Membersihkan sangkar. Mengganti jewawut dan ketan hitam. Mengganti air yang keruh dan mengering. Ia tak pernah menggerutu. Ia sadar, perkutut itu telah lama hadir dalam mimpi dan kehidupan Laksmita, istrinya.

Laksmita sering memandangi perkutut itu, terutama ketika sedang berkicau. Ia seperti terhibur, dan tertegun mencari makna kicau burung itu.

“Apa yang kaupahami dari kicau perkutut itu?” desak Broto pada Laksmita yang kini sedang mengandung.

“Perkutut itu bercerita, bayi yang kukandung ini laki-laki.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ia berkisah melalui kicauannya.”

Broto tercengang, dan bertanya-tanya dalam hati: Laksmita bisa memaknai kicau perkutut itu? Ia baru sadar sekarang, bila istrinya bisa menangkap percakapan perkutut melalui kicauannya. Ia juga bisa memahami suatu peristiwa melalui mimpinya. Lalu, kejadian apa lagi yang akan diketahuinya melalui mimpi dan kicau perkutut itu?

***

Dipendapa Broto senantiasa menyendiri, membayangkan gerakan-gerakan tari yang mesti diciptakannya. Selalu saja Broto menemukan berbagai gerak tarian “Sang Hyang Memedi Sawah” yang melibatkan tokoh petani, burung-burung, memedi sawah, dan Dewi Sri. Ia menciptakan tarian jenaka, gerakan-gerakan yang diperkirakan membangkitkan tawa dan kadang senyum terpendam. Broto selalu menemukan gerakan-gerakan tari, dan membayangkan burung-burung pipit di hamparan padi menguning, terbang-hinggap, menghindari memedi sawah.

Perkutut itu selalu berkicau, bila  Broto terdiam, memikirkan gerakan tari yang sedang ia ciptakan. Selalu muncul gerakan baru setelah kicau perkutut itu. Hari ini Broto berpuasa, seharian ia tak melihat perkutut itu makan dan minum. Benarkah perkutut itu ikut juga puasa? Sore hari,  Broto berbuka, dan ia melihat perkutut itu mulai makan dan minum. Broto melihat, ketika mematuk-matuk jewawut, sepasang mata perkutut itu tampak tajam. Tetapi tidak menakutkan. Ditenggelamkan paruhnya yang panjang dan melengkung tipis itu pada tempat air, minum. Terlihat perkutut itu berkicau sambil mengangguk-anggukkan kepala yang kecil, dengan ekor panjang yang berjingkat-jingkat. Ki Broto menemukan gerakan-gerakan tari, dari seluruh penampilan dan perilaku perkutut itu. Selalu saja ia menemukan gerakan tari yang tak pernah disadarinya, tak pernah direncanakan dengan kesadarannya. Ia menemukan gerakan yang tak sadar dari seluruh pengamatan dan suara kicau perkutut itu.

Menjelang pagi Ki Broto selesai menemukan gerak tari “Sang Hyang Memedi Sawah” yang mengusir wabah burung-burung pipit dan hama sawah. Ia didampingi beberapa orang penabuh lesung, yang mencari irama tetabuhan sesuai dengan gerakan-gerakan tari Broto. Gerakan-gerakannya kadang meloncat, menghardik burung-burung, menakut-nakuti serupa gerakan memedi.

Tarian itu dengan pakaian dari akar pohon, jerami, dan daun-daun pisang kering. Tarian yang diciptakan Broto diikuti penari-penari pedepokan. Begitu juga ketika pergelaran tari “Sang Hyang Memedi Sawah” diperagakan di pedepokan secara kolosal, dengan begitu banyak tamu berdatangan, memuji-muji Broto. Tetapi Broto tetap saja tegang, seperti masih ingin menyempurnakan gerak tari itu.

***

Selamaperkutut  itu berada di sangkar pendapa rumah Broto, di halaman sekitar pedepokan terdengar kicau perkutut bersahut-sahutan. Mereka berkicau bersamaan, menjelang fajar dini hari. Kicauan itu merayakan rekah matahari. Kadang mereka berkicau bersamaan, dari sudut-sudut kebun, di dahan-dahan pohon, terlindung lebat dedaunan. Menjelang siang perkutut-perkutut itu seperti lenyap meninggalkan kebun, kembali ke hutan lereng Merapi. Senyap. Tetapi tidak. Perkutut-perkutut itu terbang bersamaan, hinggap di pelataran, di sekitar sangkar perkutut sanggabuwana di pendapa rumah Broto. Mereka seperti menghormati sang pangeran putra mahkota, dan setelah itu kembali terbang ke dahan-dahan pohon, lenyap dari pandangan. Dari dahan-dahan pohon itu tak ada lagi suara kicau perkutut. Broto yang sedang melatih tari untuk pergelaran di sebuah hotel, tak lagi memperhatikan perilaku perkutut itu. Ia sibuk. Lagipula, ia lebih memikirkan istrinya, menanti kelahiran anak pertama. Sudah waktunya Laksmita melahirkan. 

***   

Taklagi memperhatikan perkutut, Broto mesti mengantar Laksmita ke rumah sakit. Lepas isya, Laksmita merasakan perutnya mulas, menahan rintihan sepanjang malam. Broto menahan kecemasan, gugup, meski ia mencoba menenangkan diri. Lewat tengah malam ia merasa tenteram, setelah mendengar suara bayi, kencang, dari ruang bersalin. Ia lebih tenteram lagi ketika perawat mempertunjukkan padanya bayi lelaki dengan mata terpejam, mulut mungil, rambut tipis.

Ketika  Broto mengantar Laksmita dan bayi lelakinya pulang ke pedepokan, semua orang menyambut bayi lelaki yang tampan. Mereka juga lebih takjub memandangi wajah Laksmita yang lebih bercahaya. Laksmita belum melihat perkututnya sepulang dari rumah sakit.

Menjelang matahari rekah, Laksmita menggendong bayinya ke pendapa, berdiri di bawah kurungan perkutut. Tengadah. Tak ada lagi perkutut itu dalam sangkar. Pintu sangkar setengah terbuka. Ia lepas. Laksmita turun ke pelataran. Tak terdengar lagi kicau perkutut yang biasanya bertengger di dahan-dahan pohon. Laksmita merasa kehilangan sasmita, mimpi-mimpi, dan kemampuannya melihat suatu peristiwa yang belum terjadi. Tapi tiap kali memandang wajah bayinya, Laksmita merasa tenteram. Ia kini memiliki masa depan: anak lelaki yang akan menjaganya.***

                                                         Pandana Merdeka, November 2020


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah. Kumpulan cerpen yang segera terbit adalah Kehidupan di Dasar Telaga (Penerbit Buku Kompas, 2020).

Buku, Resensi

Pendidikan dalam Catatan Soca Sobhita

Oleh Fauzi Sukri

Namanya Soca Sobhita. Waktu bocah, dia gemar membaca, menulis, melamun, ngupil, lalu mulai suka main game, juga gergaji-gergaji bareng Beps (nama panggilan bapaknya), bantu masak Bi Yo, dan lain-lain. Dia termasuk salah satu—bahkan mungkin satu-satunya—bocah yang punya rumah pohon di Rawamangun, Jakarta Timur: tempat favorit yang dibuatkan Beps. Makanan favorit nomor satu terlezat: KKK alias kue kering keju. Cita-cita: jadi ninja, biar bisa jalan-jalan ke sana kemari, nguber-nguber maling, juga penjahat. Tapi, dia pernah bersemangat untuk menjadi menteri pendidikan. Biar bisa membuat kebijakan pendidikan yang membahagiakan siswa-siswa Indonesia.

Yang menarik tapi tak unik, seperti semua murid/siswa sekolah di Indonesia, dalam catatan autobiografisnya yang diterbitkan jadi buku ini, dia punya pendapat sendiri tentang sekolah dan pendidikan di Indonesia. Ini juga sangat terkait dengan pola pengasuhannya di rumah.

Perhatikan catatan autobiografis Soca ini: “Aku tidak suka sekolah, sebetulnya. Aku suka tinggal di rumah bersama Opa dan Beps. Baca-baca cerita, main game, main di rumah pohon bersama Cathy Miauw, mencium kain dua…atau membantu Bi Yo dan Mak David memasak, atau membersihkan rumah.”

Jika kita perhatikan apa yang ditulis Soca ini, kita tahu masalahnya bukan perihal sekolah. Tapi sangat terkait lingkup “pendidikan” itu sendiri dan pola proses pendidikan-pengajaran. Di rumah, Soca sebenarnya terus dalam proses “pendidikan-pengajaran” secara tidak formal. Dari Opa yang mahir banyak bahasa asing, Soca belajar bahasa Jepang, lalu kuliah jurusan Sastra Jepang, bahkan membuat Soca akhirnya tinggal dan bekerja di Jepang. Dari Beps dan orang-orang di keluarga itu, Soca “belajar” perihal keterampilan buat bertahan hidup: memasak, membuat perabot, menjaga rumah. Tentu, juga menikmati hidup, atau “me time”.

Kita bisa merasakan bahwa Soca merasakan lebih senang ‘beraktivitas pendidikan’ di rumah daripada di sekolah. Kuncinya adalah bahagia. Di rumah, jelas Soca bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi proses pendidikan-pengajaran yang dilandasi kasih sayang: kesejahteraan batin psikologis anak didik. Inilah memang tantangan terbesar paradigma pendidikan di Indonesia bahkan di dunia. Masalah ini sudah diperhatikan dengan sangat serius sejak pertama kali Taman Siswa didirikan pada 1922: jadi salah satu asas dasar pedagogi Ki Hadjar Dewantara.

“Kenapa sih anak sekolah harus dikasih PR? Kan pulang sekolah aku sudah capek. Aku mau tidur siang. Mau main dengan Cathy Miaw, mau duduk-duduk santai di rumah pohon, mau baca buku, mau main game sama Om Eri, gergaji-gergaji sama Beps, bantu Bi Yo cuci-cuci, siram tanaman…” kata Soca Sobhita sekali lagi mengeluh tentang pendidikan-pengajarannya.

Yang juga dikritik Soca adalah ulangan.“Aku juga tidak suka ulangan. Karena aku jadi deg-degan waktu menjawab soal-soalnya. Meps bilang, santai aja, kan sudah belajar. Ya sih, tapi deg-deganku tuh nggak bisa ditahan lho, Meps.” Soca punya solusi cesples atas saran dari ibunya: “Meps bilang, kalau aku jadi menteri pendidikan, aku bisa bikin peraturan supaya sekolah tidak usah sering-sering bikin ulangan. Sedikit-sedikit saja, cukup.”

Masalah Soca adalah keluhan umum siswa Indonesia. Barangkali menarik untuk dicatat bahwa pola pendidikan-pengajaran dengan model PR yang terkesan ‘intimidatif’ sudah banyak dipertanyakan bahkan ditinggalkan. Finlandia termasuk negara yang cukup menghindari PR ini.

Tentu saja, Soca akhirnya mendapatkan sekolah SMP yang disukainya setelah dua kali tes masuk tidak diterima. Di sekolah SMP ini, dia ketemu dengan Pak Gondo (kepala sekolah) yang mengetesnya dan menerimanya meski tes belum selesai semua. Soca takjub pada kepala sekolah yang supel ini: akrab dengan siswanya, suka berkumpul dengan siswa dan bercerita. Dia bisa menjadi dalang. Plus, sekolah SMP itu, Soca mendapati seorang guru bahasa Indonesia yang pola pengajaran-pendidikannya menggugah rasa ingin tahunya.

Catatan-catatan autobiografis Soca ini mengingatkan kita pada masalah penting dalam pola pengasuhan dan pendidikan: kebebasan dengan penekanan pada kebahagiaan batin dan inisiatif atau disiplin ragawi yang keras dengan fokus pada kuasa pendidik-pengajar. Negara-negara Eropa atau Amerika Serikat, secara umum, sering dianggap sebagai kawasan yang lebih menerapkan kebebasan, meski sebenarnya tidak pernah cukup bebas. Sedangkan negara dengan pengaruh Konfusianisme seperti Korea Selatan, Jepang, China lebih menekankan pada disiplin ketat. Dua pola ini punya kelemahan dan kelebihannya masing-masing.

Barangkali karena hal punya sisi positif dan negatif itu, Indonesia termasuk yang tidak pernah cukup tegas menerapkan pola.Tentu saja, paradigma pendidikan-pengajaran sekolah Indonesia secara umum lebih dekat pada kebebasan. Bahkan, sekarang sedang dipropagandakan “Merdeka Belajar”. Indonesia memang cukup gemar bikin slogan, tapi tidak pernah memikirkan ‘tradisi’ pendidikan-pengajaran dalam jangka panjang. Agar bisa dievaluasi secara mendasar, sebagaimana China yang selama berabad-abad menerapkan tradisi disiplin keras dalam pembelajaran sekarang sudah mulai beralih pada pola pendidikan-pengajaran kebebasan.

Pola pengasuhan Soca khususnya di rumah jelas sekali lebih mengedepankan kebebasan. Sejak mulai dari pola komunikasi keluarga seperti sebutan Meps dan Beps, keakraban anak ayah ibu, termasuk penentuan cita-cita, karier keilmuan/profesi, Soca diberikan hak (kebebasan) untuk menentukan. Salah satu keunggulan dari paradigma kebebasan dalam pengasuhan/pendidikan adalah anak (didik) punya rasa harga diri (self-esteem) dan rasa percaya diri (self-confidence) yang tinggi. Dua hal ini adalah fondasi penting pendidikan karakter manusia.

Ngomong-ngomong, ulasan ini sudah terlalu kaku dan analitis, tidak serenyah dan menggelitik catatan-catatan autobiografis Soca. Duh!


M. Fauzi Sukri, penulis Guru dan Berguru (2015)

Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Lelaki yang Memilih Jadi Musafir

lelaki itu seperti burung membumbung tanpa restu

meninggalkan jejak-jejak tanah, meninggalkan peluh

tak terhitung jumlahnya. tak terjumlah hitungannya

:guru, lihat langkahku, minggat meninggalkan cahaya

agar bisa kutahu bedanya malam dan siang!

kalau aku hanya merenung dan membakar dupa di bawah hayat itu

tak akan pernah kutahu segala  tipu daya,

tak akan pernah mataku awas menafsir suka dan luka!”

lumut-lumut selalu tumbuh di tempat paling keras dan basah

justru membuat segala kaku yang tegang jadi lembut

justru di rahasia segala fana bisa ditakwil segala pengetahuan

“guru, kau boleh melaknatku sebagai murid paling durhaka

 tapi bukankah kau pernah mendongeng: tak boleh kau pasrah

pada rajah tapak tanganmu sendiri.maka, restui aku memilih musafir

berjalan menempuh apa saja, barat utara-timur tenggara

memilah rahasia kutuk dan pahala!”

2019-2020


Pagebluk (5)

jalanan lengang. amat lengang

hanya sinyal-sinyal kematian terus mendenging

dan mendengung hingga batas paling utara

jalan-jalan lengang. terlampau lengang

lamat-lamat arak-arakan prosesi

mengantar jenazah ke liang lahat

hanya berbelas orang berjalan

merunduk bisu menatap debu dengan cemas

:”jangan-jangan jejaknya memburu ke arahku!”

di tepi paling utara

segala hasrat membumbung ke langit

seperti sekawanan burung menggelepar

sebelum rontok jadi bangkai

hasrat pun tinggal dengus napas

hanya berbilang sampai hitungan kesembilan

di batas paling utara. melintasi jalanan lengang

prosesi arakan jenazah tunduk merunduk murung

menghitung sunyi yang menyisih

: aku, kau, kami, kalian

tak sanggup bicara apalagi bercerita:

lintang kemukus merayap pelan dan khidmat

menuju hari sampai pada badai gelapnya.

2020


Riwayat Kota Mati (2)

kami berjalan menunduk tersuruk-suruk tanpa sandal

diburu malam yang jadi waktu paling abadi

melacak penanda alamat rumah-rumah kami

: “ah, ini kota atau belukar!

 atau cuma tanah lapang tanpa pohon, apalagi papan!”

kami berjalan lagi. menunduk tersuruk-suruk tanpa sandal

menuju entah. mungkin menghilir ke arah bilangan nol

dan dengus angin lantang menuding: “sembunyi. sembunyilah. di kolong ranjangmu!”

kami berdiri capek dan lunglai. kami tak bisa ke mana-mana

pasrah pada malam menyergap dan menyeret ke arus gelap.

2020


Wangsit Langit

apa yang kau tebak dari warna langit yang menderu itu?

seperti teka-teki tempat tanpa peta yang khianat kepada pagi dan secangkir kopimu

bisakah warna itu membuatmu menggeremangkan larik-larik puisi octavio paz

serupa kau tembangkan suluk-suluk keramat yang disingitkan waktu?

mungkin dalam heningmu, warna-warna berubah hanya jadi kelabu

seperti bayang-bayang remang masa lampau yang melambai pada sejarah

langit tetap menderu dengan isyarat-isyarat warna

engkau pun bersila serupa samadi

namun hanya gumam-gumam nglindur yang nyinyir

dari mulut para perempuan yang hanya sibuk berpupur.

2020


Suluk Hitam Musafir Majnun

I

Demi musim. segala musim. segala kemarau. segala rendeng

biarkan aku berjalan, walau gontai menakik tanda melacak sangkan paran

keleluasan jiwa seperti saat cinta nglangut di teduh sore

lantas menyuruk di kepongahan pekat malam.

Pucuk-pucuk ranting tanpa daun menjulang menyodok langit

: Duhai, segala rahim adakah engkau tempat segala misteri raib

lanskap jalang semua kutuk dan nujum berkejar-kejaran.

Di situlah semua jadi serupa berdesak dan berduyun-duyun

menuju takdirnya yang terlepas dari kitab rahasia lantas dipahatkan

di urat-urat telapak tangan kiri

II 

Inikah suara yang masih pantas dihikmati

ketika sabda-sabda mawar direngut kemarau

dan ulat-ulat bulu menggerogoti taman lembut di hati

suara dan musim susut pelan seperti usia kisut

: oo, keluasan jiwa masihkah bilikmu menyimpan teduh puisi?

Segala batang kehilangan ranting, julangnya menyodok langit

namun rahasia itu tak pernah berkabar

suara-suara tak lagi bangkit, mefosil seperti sedimen bahasa

pun segala lambang beku serupa mayat.

: ooh, rahim-rahim tak lagi mengenal kata

hanya dijejali  jasad lapuk yang tegak dan jalang!   

III

nun, di pagina-pagina sebuah kitab yang konon keramat

tersebut sebuah nujum yang sakral tentang kristal-kristal bercahaya

bintang-bintang berkejaran memburu masa depan yang dicerai masa silam

tanpa bunyi yang telah mengkhianati suara

di sanalah ufuk maut menelikung dalam malam

: ooo, lihatlah takdir itu berduyun-duyun menyergap.

Siapa bakal ikhlas melepaskan fana?

Siapa akan melepaskan doa-doa ke langit?

Tubuh-tubuh kehilangan lembutnya

mulut-mulut mengulum tenung

bintang-bintang gemetar ketakutan

takluk pada tiang aurat yang tegak menjulang

semua pesona ambruk perlahan surut dalam liang lahat.

IV

Tubuh seperti sebatang rokok

lambat laun pelan kehilangan ujungnya

dihisap abu. lantas bertaburan ke segenap arah

seperti jejak kaki seorang nabi melacak kekasihnya

di pesisir-pesisir dengan gontai kepiting

berjalan miring menyuruk pasir

            : hai, musafir bukankah kau tak perlu untuk kembali pulang?

Segala arah memburumu, namun tak ada musim panas

di punggung gerimis maut bersijingkat mendekat

: adakah sesuatu yang masih punya makna?

Musafir ini, merasa tubuhnya dibangkitkan kembali

konon seperti asal mula lempung yang dibentuk

sehingga mengembang muler mungkret

Lempung ini sekarang dibebaskan dari segala kutuk

dan siksa kubur menjadi duta yang mi’raj dari kedalaman hati

menuju ke arah kelam yang tak terbaca

            : selamat jalan, duh ruh yang dilepas raga!

V

Tak kemana-mana. ini bukan jalan itu

hanya ceruk rongga waktu menyedot malam ke dalam kelam

maut.nafsu.berkejaran.berkilat-kilat mendekat dekap

tubuhku menggigil, fanaku pelan merintih

: di mana puisi?

  aku ingin membacanya lantang-lantang!

Tak ada yang tahu. tak ada jawab

cuma pilu mengundang kenang

dunia mendadak meruah pesta

dan kureguk saja melupa jeda

VI

Telah semua kureguk segala.tuntas

segala duka. segala luka. segenap lalai

: ooo, mana lagi hitam yang kucecap?

                                                            (Ngawi, Februari-Maret, 2020)


Tjahjono Widarmanto, tinggal di Ngawi. Buku puisinya: Kubur Penyair (2002, Diva Press:Yogya), Kitab Kelahiran (2003, Dewan Kesenian Jatim), Sejarah yang Merambat di Tembok-Tembok Sekolah (2014, Satukata:Surabaya) dan buku lainnya.

Cerpen

Lelaki yang Berjalan Bersisian

Cerpen Yuliani Kumudaswari

Ketika tubuh-tubuh terurai hancur, dan roh-roh terpisah adalah para pejalan, menyusuri takdir hingga tiba masanya pulang pada keabadian, meniti jalan menuju moksa. Kembali ke dalam dekapan cahaya kekal. Kematian bukan kemutlakan akhir, meski dunia para pejalan tertutup bagi mata telanjang manusia-manusia fana.

***

Seekor gagak berteriak parau, terbang di atasku,  hinggap dari ranting flamboyan satu ke ranting lain. Ia mengikuti langkahku dari sejak kumasuki jalanan sunyi ini. Tak pernah kusukai hewan bersayap yang satu itu. Tidak mata hitam dan bulunya yang pekat, terlebih kicau paraunya yang tak bernada. Seperti suara terompet sumbang dari neraka. Makhluk yang senantiasa menyeret aura gelap dunia orang mati.

Jl. Puspo, tulisan setengah kabur, tercetak di sebuah pelat seng yang sedikit penyok sisinya, tertempel pada tiang besi tinggi. Tertancap di ujung jalan yang hendak kulalui. Kelabu, hanya nuansa monochrome dan bayang murung berat, menggantung di udara lembap sepanjang arah yang hendak kutuju. Jalanan berkabut tipis membentang lurus beberapa ratus meter ke arah utara. Deretan flamboyan angkuh berjejer di kiri dan kanan trotoar,  menjulang diam menjalin ujung reranting di ketinggian menjadi kanopi rapat. Mirip payung-payung Marry Poppins yang siap meluncur ke langit. Angin menerbangkan rontokan bunga serupa confetti. Sia-sia perempuan bercaping itu menyapunya tiap pagi. Serakan bunga kelabu, di atas jalanan beraspal abu pucat. Bukankah seharusnya bunga-bunga flamboyanitu ceria, merah cerah serupa warna rok kesukaan gadisku?

Kunikmati setiap langkahku, menyusuri sisi barat jalan bertrotoar, yang terasa begitu ramah bagi pedestrian seperti aku. Rumah-rumah tua, berjendela seukuran pintu, bersisian tanpa pembatas tinggi. Hanya deretan perdu berbunga serupa mahkota mungil yang memisahkan batas pekarangan seseorang. Angin bertiup, bunga-bunga berguguran. Ah, flamboyan, serupalagu yang senantiasa didendangkan gadisku. 

***

“Aku tidak pernah minta apa pun padamu. Cuma satu, jaga dan lindungi aku,” gadisku berkata ketus. Jejak air mata membuyarkan riasan pupur tipisnya.

“Aku selalu menyayangi dan menjagamu, Miriam,” bisikku lembut seraya berupaya meraih tubuhnya ke rengkuhanku. Ia menepiskan lenganku.

“Bagaimana bisa? Bahkan menjemputku saja engkau telat berjam-jam!” serunya telak.

“Engkau tahu alasanku, bukan? Aku terlambat mengunci pintu kantor karena para pegawai telat mengalkulasi transaksi. Akibatnya aku terjebak antrian lift, dan aku harus mengambil rute memutar. Aku harus menyusuri ring road karena kebijakan penutupan jalan, hingga bisa tiba di sini.”

Kuraih setangkai mawar merah setengah menguncup dari balik kantung jaket model army yang kukenakan, dan menyodorkan kepadanya.

“Maafkan aku, ya,” bujukku, dan seperti biasa gadisku mulai tersenyum, masuk ke dalam dekapanku. Setangkai mawar merah hancur terjepit di antara kami.

***

Mawar merah, semerah kembang flamboyan di pucuk-pucuk pohon di atasku, di sepanjang jalan yang sedang kususuri. Langkahku kembali berderap di kesunyian. Kulewati sebuah rumah bertingkat mewah berlangkan besi berukir. Selalu kukagumi keasrian tamannya yang tertata, walaupun pasti menghabiskan pengeluaran yang tak sedikit, pikirku. Seorang kakek berwajah murung, yang selalu saja duduk di sebuah kursi di balkon tengah, menatapku dan melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya dengan sedikit menganggukkan kepala. Sungguh ia seorang pejalan dalam sunyi, tak melangkah ke mana-mana, batinku. Seorang perempuan sedang menata pot bunga di teras depan, memandang ke arahku berdiri, namun tak menyadari kehadiranku. Kuayunkan kembali langkahku.

Lelaki paruh baya tambun itu telah menungguku di depan pergola yang menghiasi jalan setapak rumah berdinding terracota. Kami saling menggangguk.

“Bastian,” sapanya dengan senyum tipis.

“Jim.” Aku menjawab sapaannya, dengan memanggil nama lelaki itu, serupa caranya menyapaku.

Kami mulai berjalan perlahan, bersisian  menyusuri trotoar yang tetap lengang. Seperti biasa, tak ada percakapan hingga beberapa puluh langkah kemudian. Lelaki itu mulai  menyalakan sebatang rokok, asap kelabu meliuk dan hilang bersama kabut. Gumpalan asap tanpa api.

Suara-suara lirih percakapan, sayup terdengar dari sebuah kedai kopi. Sebagian besar kursinya telah diduduki pengunjung. Langkah kami berhenti tepat di depan kedai, sejenak berdiri diam mengamati kesibukan itu. Seorang perempuan dengan rambut gaya ekor kuda, dengan nampan penuh gelas kosong di tangannya, tersenyum pada kami. Mulutnya berkomat-kamit tanpa suara, tapi kami berdua tahu persis apa yang diucapkannya.

“Pak Jim, Pak Bastian, mari singgah. Kursi anda berdua tetap kosong.” Sungguh kalimat berulang yang sama persis. Kami berdua mengangguk, Jim melambaikan tangannya. Besok, di waktu yang sama seperti sekarang, ketika kami berdua berdiri di sini, perempuan itu akan kembali menyapa kami dengan kalimat itu. Aku akan menganggguk, Jim akan melambaikan tangannya.

Dari tempat kami berdiri, bisa terlihat jelas para penikmat kopi itu, hampir seluruhnya kami kenal. Kulihat Jack tetap di kursinya dekat jendela, kepalanya menunduk memperhatikan layar gadget-nya. Pak Moron dan kelompok bridge-nya sibuk membahas trik. Sepasang pemuda kembar, serius memindahkan bidak-bidak di papan catur di meja mereka. Tuan Gun sibuk bertelepon dengan suara keras. Sungguh suasana yang familier.

“Ah, Miriamku tak pernah lagi ke kafe ini sepertinya,” batinku, benakku dipenuhi bayangannya. Tubuh ringkih yang sedang memeluk dirinya sendiri. Menangis di kamar yang nyaris gelap. Kukecup dahinya yang berkerut, sebagai tanda perpisahan, sebab aku hanya bisa sekali itu menemuinya. Ia tak merasakan kehadiranku.

Aku dan Jim berlalu dari depan kedai, melanjutkan langkah kami. Gagak itu hinggap di ranting terendah, pohon flamboyan terbesar dan tertua di jalan ini. Berkoak-koak nyaring. Batang pohon cokelat kelabu pekat dipenuhi kulit kayu yang mengelupas. Di salah satu sisi, batang itu hancur, masih dipenuhi serpihan kayu. Kulihat Jim berdiri mematung, perhatiannya terpusat pada sisi pohon yang krowak seakan pernah terhantam sesuatu.

“Di sini mobil itu menabrakku, ujung bumper-nya membentur dan membenamkan tubuhku ke sisi pohon ini. Gadis itu mabuk dan tak melihatku yang sedang berdiri, berusaha menyalakan rokokku. Kudengar mereka membicarakan hal itu ketika mengangkat tubuhku.” Suaranya setenang angin yang berembus perlahan, menyibak rambut berubannya di pelipis. Aku mendengarkan cerita Jim dalam diam dan menggangguk menujukkan simpati. Gagak- gagak lain mulai berdatangan memenuhi ranting pohon. Teriakan parau bersahutan memecah udara.

Untuk beberapa saat, Jim dan aku hanya berdiri canggung. Kulihat Jim mendongakkan kepalanya dan membuang napasnya kuat-kuat. Dengan masih mendongak dan kedua mata terpejam, ia menggumamkan sesuatu yang selalu saja membuatku tercenung.

“Mengapa semua kenangan hidup itu terasa begitu indah di saat kita harus melepasnya?”

Aku mulai kembali melangkah, Jim mengikutiku dengan langkah lebih pelan. Di sisi kami adalah sebuah rumah tua yang nyaris hancur. Tembok-temboknya runtuh dan retak di banyak tempat. Daun pintu dan jendela hilang. Sejenis tanaman merambat berduri menutupi sebagian besar genting dan dinding yang masih berdiri. Pagar besi berkarat yang semula merupakan batas pekarangan dan sisi trotoar, nyaris rubuh ke rerumputan yang mengilalang.

Di sudut timur pekarangan rumah tua tak terurus ini, orang-orang menemukan tubuh itu. Meringkuk serupa bayi dengan dada penuh lubang tusukan. Konon, gagak-gagak yang hinggap di pagar setengah rubuh, dan terus riuh berkoak-koak itulah yang memberi petunjuk orang-orang.

“Tubuh itu terbaring di sana, sendiri berhari-hari. Perlahan hancur dimakan dingin dan panas, hanya disaksikan para gagak,” desahku. Kudengar Jim berdeham sebelum menjawab.

“Tubuhmu, bukan?” tanyanya yakin.

Aku terdiam cukup lama, lalu kuanggukan kepalaku lemah, “Ya, tubuhku, Jim.”

Sebelum tubuhku ditemukan, aku diberitakan hilang berhari-hari. Setahu mereka, orang-orang yang melihatku terakhir kali, aku pulang berjalan kaki dari kedai kopi dekat pintu selatan tadi. Membawa uang cash yang cukup banyak, sebab hari itu aku memenangkan bridge.

“Dan di sinilah kita, dua orang pejalan yang dipertemukan di jalan yang sama.” Jim tertawa lirih. Aku hanya mendengus, mencoba mengusir sesak yang menghimpit dadaku.

Kusadari, jalan ini dipenuhi beberapa pejalan. Aku, Jim, lelaki tua di balkon, gadis berkucir di kedai. Orang-orang yang hidupnya berakhir di sepanjang Jalan Puspo. Barangkali sebuah kebetulan belaka, atau takdir yang telah tertulis di buku hidup kami.

Aku teringat pikiranku malam itu, aku ingin membelikan Miriam sebuah laptop baru. Menggantikan miliknya yang lama, yang layarnya selalu tiba-tiba putih. Tetapi aku berakhir di sudut pekarangan tak terurus ini. Kali ini, aku yang menarik napas panjang, Jim hanya terdiam.  

“Ah, tubuh yang malang,” desahku.

“Mengapa kau katakan itu, Sebastian?”

“Tidakkah kau lihat, Jim? Tubuh hancur itu, hilang lenyap. Sungguh kesia-siaan belaka hidup ini, bukan?” tanyaku menuntut persetujuan.

“Tak ada yang sia-sia, Sebastian kawan pejalanku. Tak ada yang diciptakan untuk sebuah kesia-siaan sekecil apapun. Semua yang pernah hidup memenuhi takdirnya dengan sempurna. Bentukan yang sesuai cetakan, serupa gerabah.” Jim menekankan tiap kata yang diucapkannya, seakan sebuah keyakinan mutlak. Aku memandangnya bingung, baru kali ini jawabannya berbeda. Di waktu-waktu lalu, ia akan menjawab pertanyaanku itu dengan: “Ah, sungguh benar perkataanmu itu, Sebastian kawan pejalanku.” Kali ini tak sama. 

“Bagaimana tubuhku yang hancur bukan sebuah kesia-siaan, Jim?” Aku tergelitik mengajukan pertanyaan lain, di luar kebiasaanku. Seharusnya kami tak lagi bercakap, hanya melangkah berputar balik di titik ini, kembali ke arah kami datang. Kembali menyusuri jalan suram kelabu  menuju Selatan, di bawah bayang-bayang flamboyan yang tumbuh rapat  saling terjalin.

“Tubuh hancur itu sejatinya rumah tinggal ribuan anak-anak energi, yang akan purna memeluk debu, kembali pada kenadiran. Energi itu merabuki bumi, ya bumi, muasal sel-sel hidup yang baru.” Kali ini Jim tersenyum menatapku, wajahnya bersinar. Aku terkesiap, terpaku menatap perubahan itu.

“Kau telah sampai pada waktumu,” bisikku nyaris pada diriku sendiri.

“Sampai bertemu di Amardeep, cahaya terang kekal, Sebastian kawan pejalanku yang baik.” Sehabis berkata demikian, Jim mulai melangkahkan kakinya kembali menjauhiku. Berjalan dengan penuh kepastian ke arah pintu gerbang besar, tempat jalan ini berakhir. Keluar dari lindungan daun dan ranting flamboyan. Di saat yang sama gagak-gagak berkoak bersahutan, di antara sumbang dan nyaring.

Beberapa langkah ke depan, segalanya tampak berbeda. Ujung jalan ini terhenti di sebuah gerbang hitam  tinggi yang tertutup rapat. Tak menampilkan apa pun di baliknya selain benderang cahaya yang berpendar. Biasnya membuat jalanan di depan gerbang tak nampak kelabu, tak muram. Tak ada pohon flamboyan di situ, hanya sepenggal jalan tak tertutupi jalinan ranting, berkilau memantulkan bias cahaya yang lolos dari celah-celah pintu gerbang. Aku tahu, sesekali gerbang itu akan terbuka, menunjukan cahaya yang berpendar menyilaukan itu. Pada saat itu, cahaya akan menarik para pejalan yang telah sampai batas waktu, pulang menuju moksa. Kali ini, giliran Jim, kawanku.

Perlahan gerbang itu terbuka, cahaya serupa lorong putih gemerlap. Kulihat sejenak Jim menghentikan langkahnya, namun tanpa menoleh sekalipun ke belakang, ia mulai melanjutkan langkahnya masuk ke dalam cahaya. Aku tak dapat melihatnya lagi, Jim telah menghilang. Pintu gerbang mulai kembali tertutup, gagak-gagak itu tak lagi terdengar jerit paraunya. Keheningan yang menggetarkan hatiku.

Untuk beberapa saat mataku serupa buta, tak mampu melihat apa pun. Setelah pandanganku kembali seperti semula, kulangkahkan kakiku kembali ke arah aku datang. Lalu kulihat gadis itu, berdiri diam dengan wajah mungilnya di bawah remang kelabu. Kedua tangannya mendekap sebuah boneka teddy bear cokelat lusuh. Ia menatapku dengan bibir gemetar, matanya bulat purnama memandangku penuh tanya, ketakutan. Seorang pejalan baru yang belia di Jalan Puspo,  Roh baik yang akan menemaniku hingga waktu kami tiba. Kuulurkan tanganku kepadanya sambil tersenyum.***

Semarang, September 2020


Yuliani Kumudaswari,lahir di Bandung, 2 Juli 1971. Saat ini tinggal di Semarang bersama suami dan dua putri. Antologi puisi tunggal terakhir Kepada Paitua (Tonggak Pustaka, 2020) antologi puisi bersama terakhir Perempuan Bahari 2020 (KKK, 2020), antologi cerpen bersama Firdaus yang Hilang (Tonggak Pustaka, 2020).

Puisi

Puisi Jonah Mario

Gymnopédie no.1 dan Kesedihan

Kelokan-kelokan ini. Sungai meresap

ke dalam batas penglihatan

sehingga kita menganggap

gema-gema kecerian anak kecil itu

berlarian di atas sebuah tanah kosong

di atas sebuah benua dengan kaki telanjang

biru muda atau entah apa.

Lampu-lampu apartemen

balkon memangku buku

yang dibuka terbalik; pajangan dunia

yang dapat susut

orang-orang berpesta sampai malam

dengan kemeja kerja.

Jam tangan. Hari-hari ini.

“Kristal

terus tumbuh dan perusahaan-perusahan

membersitkan ubin-ubin gua

dalam laboratorium di pinggir jalan besar

yang kosong. Tak peduli tanggal berapa.

Beberapa orang dapat mati dengan penuh gaya.”

Lagi-lagi aku lupa mencatat

apa-apa yang perlu dari supermarket.

Sedikit biskuit.

“Kata orang kita memakan benak kita sendiri.”

Kalimat itu tidak kubaca di koran.

Jemu sekali kemarin. Dan hari ini

Pekerjaan apa yang dapat mengelakkan kita

dari ditusuk benda tajam yang tetap kelabu

seperti kematian orang tua

kerabat

orang-orang terdekat lainnya

“Tidak usah. Nanti kita rangkai bunga sendiri

kita foto dan beri catatan kecil

tentang wisata alam yang masih buka.

Parsel dengan gemuruh dan petir

dan pegunungan bekas tragedi perang.”

Pernah kulihat lampu merah yang terus-menerus merah

kuperhatikan dan aku jadi teringat

orang-orang yang mengetik sampai malam.

“Sampai jumpa besok ya.

Kerongkonganku kering sekali.

Aku juga harus mencuci baju

dan sempat lupa harus menyiram tanaman.”

Kargo-kargo melintas.

Teluk gelap.

Membengang.


La Nina

Gerimis mengantar sebuah pertanyaan:

Apakah segala sesuatu selalu dekat

dengan kemusnahan?

Akan datangkah gerimis

ketika waktu terbenam

atau malah kau yang datang dengan segenggam tanda

akan berakhirnya lautan-lautan?

Aku tak pernah berhasil menemukan istana di pinggir pantai

seperti yang pernah kau ceritakan.

“Istana yang dibentengi kincir-kincir angin

sejak matinya cuaca di balik pegunungan mimpi.”

Selain itu, hanya jeda

yang meniadakan pesan dari ruang yang jauh.

Dengan tubuh yang semakin hangus,

aku menahan kata yang menjadi kesesakan di dalam diriku

sampai ia merintih untuk mendapatkan kembali

malam yang sudah melemparkannya

ke dalam bara sunyi

tempat segala yang ada pecah

menjadi wajah bagi kemenangan-kemenangan

yang kecil dan sepi.

Dari sini, terang melaju ke ujung ufuk

ke belakang kapal-kapal peninggalan luka

yang membawa orang-orang merenungkan belantara badai;

Badai jatuh di lantai rumahmu

seperti sepetak cahaya matahari dari jendela

yang tenggelam mendahului lamunanmu.

Di dalamnya, kejadian menutup bersama mataku

yang berhenti merangkai keinginan

untuk mengejar hal-hal yang tidak terjadi.

Saat gerimis menderas, aku memperhatikan buku-buku di rak

menyembunyikan cerita sejauh mungkin

dari keinginan untuk mengetahui

untuk memiliki kelam tanpa harus membangunnya dari awal.

Tapi, di sana,

di reruntuhan kertas dan istana,

ada kau

bersama taman-taman yang membeku

dan orang-orang yang sudah kepayahan

karena terus menyusun ulang dirinya.

Di sana, sepertinya kau sedang berkata-kata

sedang menyusup dari satu petir ke petir lainnya

sambil mengantar sebuah pertanyaan:

Apakah segala sesuatu selalu dekat

dengan kemusnahan?


Komposisi Kepulangan

Ada beberapa yang mengatakan

bahwa tersesat adalah melihat cinta

di kedalaman mata.

Tidak di matamu.

Cinta telah ditelan kesunyian samudera

yang berdenyut meninggalkan tidur siapapun.

Dengan segenap kesadaranmu

yang patah-patah dan menggantung di sepanjang jalan,

kau terus menapaki dunia

bersama atau tanpa bayangannya;

Inilah kesepian.

“Kita gagal,”

kataku kepadamu

seraya menyaksikan

manusia berjatuhan

dari menara-menara

dengan mulut dan mata tertutup rapat

dari gedung-gedung gelap yang tak pernah menyimpan

kenangan-kenangan.

Dari dalam genggaman lelah matamu bertanya:

“Adakah tempat berteduh?”

Adakah yang lebih mati daripada malam di luar alam semesta?

Aku ingin berada di sampingmu beberapa saat lagi.

Aku ingin mendengar kabar teman-temanmu yang lukanya tak pernah kudengar

aku ingin bermimpi

mengenai tempat-tempat yang dijagai pohon-pohon dan dirangkum gunung-gunung

dengan nama yang begitu terjal.

Aku ingin tahu apakah kau pernah

menjadi orang-orang lain

dalam ingatan kota-kota asing dan orang-orang yang kau tinggalkan.

Dari balik sisa-sisa jendela,

aku melihat langit berakhir

dan semua orang yang tak pernah mengenal kita pergi

mencari peristirahatan terpencil;

Adakah yang lebih dalam

dari hening malam hari

selain ingatan yang tersesat di percakapan waktu?

“Ada.”

Jawab matamu.

Matamu yang bergemuruh.

Matamu yang tak mampu

menceritakan segala sesuatu.

-Warunk Upnormal, Jakarta Barat, 18 November 2016


Atau Benda-benda Asing yang Lain

 “My incapacity to think, to observe, to determine the truth of things, to remember, to speak, to take part in the life of others, becomes greater each day; I am turning into stone. If I don’t save myself in some work, I am lost.”  -Franz Kafka

pola cahaya di landai kertas.

Tidak terdengar

gelegak

“Apakah berdiri lagi

kota tembus pandang itu;

jendela-jendela kalis, hujan ruang

selesa yang tak pernah menderit juga?”

Tersaput segera.

Di atas kertas, debu tergamang.

Lipatan ketersembunyian mendebur

pada benua yang lain

“Yang terkubur setiap kali meja-meja

kursi-kursi dipindahkan

dari khayal ke khayal”

Maksudmu dari kedai ke kedai

dari waktu yang bangun di ruang tunggu

ke pucuk pohonan

di atas sabana inersia

tanpa usaha mengingat, segala hamparan

akan menepi kepadamu

“mari larungkan semua kata yang pejal ini ke dalamnya

agar ada yang menanti kita

agar ada surat-surat yang menebal

seperti sepul angkasa”

di mana saat-saat terakhir menghampirimu

tapi hanya komet

atau pecahan gelas

atau ujung plastik yang meleleh

buah kenari yang kau singkirkan dengan pinggir kakimu

sewaktu berkeliling pada ruam tengah hari


Hari Ini atau Kemarin Madotsuki* Tidak Melompat dari Balkon dan Itu Adalah Hal yang Baik

“Juga hari-hari makin sendu.

Bayangan demi bayangan memejal dengan sikap yang mudah kukenal.

Jika kuajak bicara, segera aku sadar

bahwa aku hanya sedang mengkhayal

aku sedang mengajak mereka bicara”

barang-barang dan ornamen-ornamen di meja. Seperti melukat tanpa waktu

berbuih dengan gelombang yang membura

dari bintang-bintang bercincin.

“Seperti apa bintang-bintang menyingsing

dari kaca gedung yang sepi.

Aku pernah membacanya di sebuah majalah.

Hari itu hujan (aku tidak bisa membedakan

hari hujan dengan tiupan angin hutan).

Artikel itu bermalam

di sebelah tulisan tentang lagu-lagu

yang rilis tahun 70-an,

kalau tidak salah”

Percakapan normal. Lampu meja

yang tetap dapat dinyalakan

meski dengan merambang

seputar diri. Titik yang tersaruk

menjadi garis

selisip antara jurnal-jurnal diretas

oleh lamunan. Lima sore. Buku teks

gema yang jauh di bawah sampul. Lima pagi.

Dan seterusnya dan seterusnya.

“Tonggeret! Lihat, lihat!”

di trotoar sebuah minuman kaleng menggeleser jatuh

dari kantong belanja. Berbunyi sekali.

“karena jika pintu kubuka,

aku akan selalu menahan ngeri

kalau-kalau di sebelah sana

adalah sebuah lembah

yang sedang memulai sebuah festival

sangat pelan, lebih lamban

dari mimpi-mimpi yang mulai kucatat.”

*dari nama tokoh game dengan judul Yume Nikki, mengenai penjelajahan lanskap mimpi-mimpi buruk


Animal Laborans

“Di balik wajahmu terpendam air hujan”

“Benarkah? Biar kukeringkan”

Abu seekor anjing kecil tertidur

di bawah jendela ruang tamu

petir dalam tengkoraknya. “Di balik wajahmu

terpendam gema

bertitik-titik”

Ritme palu dan hantaman arsitektur

dari selembar print

memunculkan tangga bukit yang dipagari kebetulan; Siang mengering kuning, sesaat mengagetkan,

seperti sekaleng cat

Seorang pria tertidur di sofa, tak kita kenal

kecuali mungkin baju pelindung

pabrik-pabrik dan aroma lelehan besi

menggeriap di antara paranoia

hantu-hantu 

kreasi para budak

“Yang pasti akan kita dapati

padang rumput dengan bunga-bunga kecil,

orang-orang datang terlihat

berdenging berdua-dua

seperti bercak darah sebuah gamparan.

Segar. Musim semi bermandikan lampu taman

kastil purba dan kelengangan.”


Panduan Bercakap Mendekati Tengah Malam

Di langit hening, pantulan kota terbuka.

Yang namanya kerinduan tak pernah ada,

yang diuntai

dengan serabut angan dan semacamnya.

Jangan memperkirakannya sebagai misteri;

Orang-orang melepas nama, merasuki

mesin pencari

semesta-semesta 

Setahap. Setahap.

Kombinasi angka dan gerbang-gerbang mikroskopis

dalam pikiran yang tak bisa gelisah. Mekanisme untuk kembali.

“Entahlah. Aku mendengar sesuatu,

tapi tak yakin apa. Kunci kamar di atas meja,

dekat lampu tidur. Pintu rapat dalam dirinya.

Kunci menuju diriku

pola geometris bayangan-bayangan di taman

tadi jam enam.”

Di zaman semacam ini. Di waktu dan hari begini. Menyelam terus

hingga mendapati inti zat;

Massa sesuatu yang mendekati kekal.

Mengukur khazanah yang sudah terkupas.

Ada yang menyebutnya sebagai lapisan tersembunyi,

ada yang penampakan. Simpangan masa.

Tidak lebih.

Di zaman semacam ini.

Di waktu dan hari begini.

“Langit hening pun bukan di sini.”

Segalanya terlalu terbuka. Bahkan cahaya.

Tak bisa lolos hari ini.

“Seperti ini dalam diriku. Aku bermimpi. Kadang. Aku ingin sendiri tapi, ya,

aku sudah sendiri ketika kembali.”


Dan Satu di Antara Mereka Bercakap tentang Hal yang Belum Berlalu

Dari detak kesepian

kepalanya yang kelu terbias.

Ia perempuan yang merentangkan kesayuan

menjadi seperti kelip yang tak dapat kau duga asalnya

“agar segala hal yang bagiku tersembunyi

pun bagimu tersembunyi.

Agar kupegang semua tangkai kegetiran menjadi milikku.

Seperti itulah kelahiran manusia

dan benda-benda ciptaannya.”

Namun, sebenarnya ia hanya terduduk di situ.

Di belakang setir.

Kedipannya tak merampungkan apapun

yang telah terjadi.

Yang sedang terjadi dan terjadi lagi.

Di belakang, seorang laki-laki

mati mengejarnya sepanjang hari.

“Hari-hari tumbuh dalam ukiran,

di ruang-ruang hening kerajaan

yang sedang menuju kekalahan.

Dalam tenggorokan dan

cekungan tengkorak massa yang memimpikan

hal-hal besar. Hal-hal besar dan jauh.”

“Jadi, mereka itu mati

oleh kelelahan? Oleh kekalahan

yang disebut-sebut banyak orang sebagai cinta, pengkhianatan

dan segala musim lain yang menyempal dari antariksa kebolehjadian?”

“Sebenarnya, tidak.

Mereka mati. Dan bagi kita

bagi kita itu cukup.”


Setelah Meninggalkan Warehouse

Di atas kepalanya malam meluas

merambak mengikuti rumput-rumput tandus dekat rel:

jam begini pertanyaan sengaja tercipta

“Apakah benda-benda angkasa

suatu saat akan menimpa kita

kita seperti umat manusia lainnya

tercengang karena masa kanak-kanak telah usai

menduga diri kerangka-kerangka besi

yang terkikis faal

fenomena semesta dari alam yang tersimpan

di rak-rak buku. Sintas dalam halaman-halaman

yang kita sentuh seperti menyentuh wajah-wajah yang hanya mekar

dalam masa kecil dan kita berbalik

dan tiba-tiba

yang ada hanya ingatan pudar

mengenai daftar barang-barang yang belum sampai. Gudang bermuatan benda-benda

yang tak ada namun dapat kita lihat

mata rantai dan orbit dan konveyor

dan hidup diatur oleh tabel waktu.

Hidup menimpa dalam tidur, kita tahu.

Kita kehilangan perhitungan.”

namun pikiran semacam ini terlalu berat sekarang

bagi laki-laki itu

yang sekarang memegang setir

menyalakan radio pukul sebelas malam

untuk dirinya, kursi kosong di sebelahnya

memandangi kekosongan jalan tanah

desik yang ternyata hanya kabel listrik

melantur soal betapa pekatnya hitam hutan saat ini dan apakah ia akan pulang

tidur dengan sangat lelah dan bermimpi

tentang tempat yang terasa asing

namun selalu membuatnya

seperti ingin menangis.


Menyelesaikan Kursus Bahasa dengan Skor Kurang Sempurna

-untuk teman-teman Wall Street English Kelapa Gading, juga “hantu-hantu” kenangannya. Singkat, namun tak tergantikan.

terletak di atas meja kaca

kehidupan setelah lagu, bahasa

setelah keramaian

seperti kesibukan pejalan kaki

di bawah tiang-tiang berbendera. Membiarkan mendung mendekat.

“Ah, kalau saja kita benar

baru sampai dari negara lain.

Untuk apa waktu senggang ini?

Untuk apa hawa dingin ini

selain rindu atau keinginan

agar segera pulang?”

Juga pembicaraan bergerak

menggerai kota:

adalah tata letak album

di rak pertokoan di mana kita

tak pernah tiba untuk memulai kesan

bahwa nampaknya

kita pernah bertemu sebelumnya.

“Ayo menikmati kopi

menyusuri mal yang berkejap tetap

di balik kaca-kacanya yang mengenang

orang-orang di balik manekin

kemudian mendengar malam

bergema

dekat taman anjing yang selalu kosong itu.”

Dan aku mengikutimu sungguh-sungguh.

Begitulah beberapa dari kita;

Tak akan mekar jadi perempuan dewasa

yang bernyanyi dengan setelan gaya 80an

mungkin menabrak pagar pembatas

di sebuah jalan tol ketika dini hari

berdering meniru telepon yang terputus

dengan sendirinya.

Memenungkan kedewasaan

di depan monitor; lembur

dan ternyata MRT terakhir sudah lama berhenti. 

Merasakan sebagian diri

melewatkannya; papan tulis, kursi tinggi

klub-klub penuh anak sekolah

untuk menghibur diri bahwa masa muda

“memancarkan pancuran air

yang terjaga di tengah alun-alun

dari negeri-negeri cantik dengan dinding kelabu

dan kafe yang menyala

jauh dalam pudar bahasa

yang asing dan berselubung mimpi.”

Tapi, jika setelah aku pulang kelas malam

ada salinan arwah yang masih tinggal

berbisik-bisik

di ruang multimedia

aku menduga diam-diam bahwa

mereka berkata begini:

“akan selalu begitu, juga ketika usia

melewati beberapa dari kita

seperti jendela kereta

dan potongan lagu di sebuah tempat yang membuatmu mengantuk

kita telah berakhir. Kita berakhir

dengan cara seperti ini.

Asing dan berselubung mimpi.”


Jonah Mario, lahir di Jakarta pada 10 Desember 1995. Saat ini telah menyelesaikan pendidikan dari Teknik Industri Universitas Trisakti. Hobi menulis puisi.

Buku, Resensi

Pisau Bedah di Ruang Informasi Serbamedia

Oleh Dwi Alfian Bahri

Saat hidup di era informasi serbamedia, justru kebenaran informasi tidak lagi dipertanyakan. Itu karena yang menjadi kebenaran adalah yang dipercayai. Dengan banyaknya informasi di berbagai media, terutama media sosial, orang tidak lagi bisa mengingat dari  mana informasi tersebut berasal, apa isinya, atau apa distingsinya dengan informasi-informasi lain. Permasalahan inilah yang coba dikumpulkan oleh Wening Udasmoro (editor) dalam buku Gerak Kuasa (KPG, 2020).

Meminjam kacamata Deleuze, masyarakat era informasi serbamedia sebenarnya sedang mengidap skizofrenik. Sebuah masyarakat yang meletakkan yang nyata dan semu pada posisi yang sama. Kondisi ini menjadikan individu mengenggam berbagai kebenaran sekaligus, sehingga ia berbasis pada absurditas. Ini sebagaimana paradoks logika yang berkembang di tengah masyarakat: ingin bebas makan tetapi tubuh tetap langsing, ingin tubuh yang sehat tetapi tetap begadang, dan seterusnya.  Inilah fenomena yang terjadi dewasa ini.

Melalui buku ini, fenomena absurditas dan temporalitas masyarakat informasi serbamedia coba direkam, diulas, dibedah, diuraikan, dan ditawarkan. Buku ini semacam gudang perbekalan untuk mengarungi ruang-ruang informasi serbamedia yang banal tersebut. Persis seperti pendaki yang harus dan wajib menyiapkan perlengkapan safety sebelum menaklukkan medan terjal. Apa yang teruraikan dan tertawarkan dalam Gerak Kuasa inilah alat safety tersebut.

Semua itu coba diurai dengan sederhana, komprehensif, berdasar, dan terarah. Dimulai dari pemahaman mengenai culture studies, buku ini sebenarnya mengajak masyarakat informasi serbamedia untuk mulai berpikir secara mendasar, mengakar, kritis, dan mengakui-hargai perbedaan. Sebab, sekarang ini masyarakat memang sedang krisis atas hal itu.

Selain itu, culture studies sendiri merupakan suatu body of knowledge yang sangat berpotensi menjadi agen penting proyek dekolonasi produksi pengetahuan selain karena sifatnya yang politis; secara metodelogis ia melengkapi diri dengan conjunctural analysis, yang bisa membantu menghindarkan diri dari jebakan-jebakan esensialisme.

Lebih lanjut lagi, buku ini merupakan usaha untuk menjelaskan teori-teori yang banyak dipakai dalam kajian budaya dan media. Kekuatan utama buku ini adalah dihadirkannya konsep-konsep dari berbagai teoritikus kajian budaya dan media yang belum banyak disentuh dalam perdebatan akademis di Indonesia. Mulai pemikiran Hommy Babha, Stuart Hall, Julia Kristeva, Slavoj Zizek, Paul Gilroy, Christian Mets, Andy Benner, Gilles Deleuze, Angela McRobbie, Paul Virilio, Henri Lefebvre, dan Pierre Bourdieu, semua coba dihadirkan untuk mengulas, mengurai, dan mengkritisi fenomena masyarakat informasi serbamedia. Lebih tepatnya, buku ini semacam pisau bedah untuk fenomena informasi serbamedia.

Secara keseluruhan, buku Gerak Kuasa menghimpun 14 tulisan yang terbagi dalam 4 bab. Yang pertama berisi konsep-konsep dasar kajian budaya dan media, kedua berbicara tentang bahasa dan wacana, ketiga mengenai subjek dan identitas, serta keempat menyoal politik ruang dan waktu.

Para  pembaca bisa menjadikan buku ini sebagai landasan berpikir awal dalam olah pemikiran akademisnya maupun non-akademisnya. Tidak hanya itu, ada kebaruan yang ditawarkan dalam pembedahan tiap tulisan dan teorinya. Dapat dibilang, buku ini mencoba memberi jalan alternatif pemikiran yang lebih terarah, mendasar, sistematis, dan segar.

Awalnya, fenomena coba digulirkan, lalu pemikiran teoritikus coba dimasukkan untuk memahami, mengurai, dan mengonstruksi fenomena, kemudian semuanya dipertegas pada bagian penutup. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak mengatakan bahwa buku ini tepat secara akademis.

Masyarakat informasi serbamedia membutuhkan keadaan berpikir semacam itu. Karena sesungguhnya masyarakat dewasa ini kehilangan atas apa yang disebut pijakan berpikir, bersikap, dan berkritis. Segala hal yang ada sekarang sifatnya rapuh, banal, dan multiplisitas. Akibatnya, masyarakat mentransformasikan dirinya, dari kelompok empati menjadi kelompok antipati (banci sosial). Ini yang sedang terjadi sekarang.

Buku ini hadir mengisi kekosongan itu sekaligus mengurainya secara akademis. Bagaimana pembaca akan diajak berpikir secara teoritis guna menghindari konflik panjang yang tak berakar dan tak berkesudahan seperti yang sedang terjadi saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, dalam masyarakat yang tenggelam dalam informasi saat ini, beragam fenomena sosial yang demikian beragam dan tidak sedikit darinya mengejutkan, bisa jadi hanya mampu dibaca dengan meminjam kacamata dari teoritikus dalam uraian buku ini.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan, 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di Instagram @suaraalfian47.

Cerpen

Klub Pemakan Daging

Cerpen Adam Yudhistira

Hellena menyandarkan bahu ke jendela, kedua tangannya bersidekap, kepalanya melongok ke taman yang ada di seberang apartemen. Di bawah rimbun pepohonan willow, seorang pria paruh baya berkacamata hitam sedang berdiri. Tangan kirinya memegang sebatang tongkat dan tampak sedang linglung. Melihat penampilannya, Hellena menyimpulkan bahwa pria itu pastilah tuna netra. Nalurinya berkata bahwa pria itu sedang membutuhkan bantuannya.

Pria itu berdiri di sebelah kiri patung malaikat granit setinggi 2 meter. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mengikuti suara-suara di sekitarnya; deru mesin-mesin kendaraan, langkah orang-orang yang hilir-mudik, gaduh peralatan logam kuli jalan yang membongkar jalur drainase, dan dua orang yang berbincang santai satu sama lain di atas bangku taman.

Hellena menyaksikan adegan itu dengan perasaan iba. Pria itu mungkin berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya sebagian telah memutih. Berkemeja biru, dengan dua kancing terbuka di bagian dada. Pada saku kemejanya, menyembul kertas putih persegi empat yang menyerupai amplop.

Pria itu merogoh kantong kemejanya tepat saat sebuah sedan melintas. Angin yang ditinggalkan sedan tadi menerbangkan bongkahan-bongkahan kerikil serta menghujani orang-orang dengan debu, tak terkecuali pria yang sedang diperhatikan Hellena.

“Dasar pengemudi tolol!”

Gadis berambut pirang itu mengumpat. Sedan tadi terus melesat dan lekas menghilang. Orang-orang yang terkena sapuan kerikil dan debu tampak bersungut-sungut. Pria buta itu masih berdiri di tempatnya, terbatuk-batuk sambil mengibas-ngibas tangan di depan wajah.

Hellena menyambar blazer di atas ranjang, lalu bergegas keluar kamar. Ia berlari tergopoh-gopoh menuruni tangga, bahkan tak sempat mengunci pintu kamar apartemennya. Pintu menutup pelan dan meninggalkan derit engsel yang terdengar mirip cericit tikus kesakitan.

***

Hampir sepuluh menit Hellena mendengarkan pria itu bercerita. Ia mengatakan sedang menunggu bantuan seseorang untuk mengantar sepucuk surat ke alamat yang tertera di amplop putih yang tadi melayang dan nyaris terjatuh ke dalam got. Berkat Hellena, sekarang amplop itu telah kembali berada di tangannya.

Mendengar cerita itu, hati Hellena berderak retak, namun dengan cepat menyatu kembali. “Aku akan menolongmu,” katanya sambil memegang lengan pria buta itu. “Berikan surat itu padaku. Aku akan mengantarnya.”

“Terima kasih. Tapi saya tak ingin membuang waktumu.”

“Tak apa,” jawab Hellena tulus. “Aku senang bisa membantu.”

Hellena tiba-tiba merasa sangat sedih ketika membayangkan menjadi pria buta itu. Membayangkan matanya berubah menjadi sepasang bola tak berguna. Menyeberangi jalan raya yang penuh kendaraan seperti ini pasti sesulit melintasi Samudera Atlantik dengan perahu. Kalau nasib sial, ia mungkin akan tertabrak, lalu patah tulang belakang dan lumpuh. Membayangkan semua itu, Hellena bergidik ngeri.

Beberapa bulan terakhir, Hellena memiliki semacam hubungan timbal-balik yang reflektif dengan Tuhan. Ayahnya meninggal, ia dipecat dari pekerjaan, teman dan kekasihnya menjauh, dan entah bagaimana membuat ia berpikir bahwa masalah-masalah berat yang menimpanya itu lantaran ia tak cukup berbuat baik pada sesama.

Hellena ingin membangun reputasi baik di mata orang-orang. Ingatan tentang ayahnya dan masalah-masalah yang tak kunjung selesai itu telah berhasil mencambuknya. Ia memutuskan akan memulainya sedikit demi sedikit. Hal pertama adalah dengan menolong pria buta di hadapannya.

“Boleh aku melihat surat itu lagi?” tanya Hellena. “Aku ingin melihat alamat tujuannya.”

Pria buta itu menyodorkan amplop ke depan, tapi Hellena tegak di sampingnya, membuat arah sodorannya keliru. Tapi dengan cepat gadis itu mengambilnya, lalu membaca alamat yang tertera; Cadbury Resto, Second Avenue.

“Aku tahu tempat ini,” kata Hellena tersenyum lebar. “Serahkan saja padaku. Aku akan mengantarnya dan kujamin surat ini akan tiba di alamatnya.”

“Terima kasih, terima kasih.” Pria buta itu membungkuk hormat. “Akhirnya Tuhan mengirim malaikat untuk menolongku.”

Hellena menepuk-nepuk pundak pria itu. Setelah berbincang-bincang sesaat, ia pun meninggalkannya. Hellena keluar dari taman kota dengan perasaan gembira, karena merasa telah melakukan perbuatan yang berguna.

Separuh perjalanan, gadis itu tiba-tiba berhenti. Ia berpikir, pria buta tadi pasti kesulitan mencari jalan pulang. Seharusnya ia mengantarnya pulang lebih dulu, setelah itu baru mengantarkan surat. Sambil melangkah berbalik arah, Hellena menepuk keningnya, menyadari kebodohannya. Namun setelah kembali, pria yang dicarinya sudah tak ada.

“Cepat sekali,” gumam Hellena terheran-heran.

Hellena berjalan mengikuti trotoar yang mengarah ke pusat kota. Lima menit berselang, ia melihat pria itu berjalan membelah kerumunan, berjejalan dengan orang-orang di halte yang sedang menunggu bus jemputan. Hellena menerobos kerumunan itu dengan susah payah. Sebuah teriakan keras membuat pria buta itu menoleh dan Hellena terkesima.

Pria buta itu dengan tangkas berlari di tengah kerumunan. Tanpa kaca mata dan tanpa tongkat penuntunnya. Hellena hanya bisa mengawasi dari kejauhan, tepat sebelum ia merasa yakin, pria buta itu baru saja menipunya.

“Brengsek!” umpat Hellena kesal.

***

“Tidak seperti biasanya, ya, Jhon?” Seorang pria berkuncir penuh lagak dari Unit Laporan Kejahatan berdiri di samping polisi muda yang baru saja menerima laporan Hellena. “Biasanya kaugalak sekali jika pelapor tidak sedap dipandang.”

“Menyingkirlah, Bung!”

Hellena merasa jengah mendengar perbincangan kurang ajar itu, tapi ia menahan diri untuk tidak mengumpat. “Jadi, apakah kalian akan menindaklanjuti laporanku atau tidak?” tanyanya dengan perasaan muak.

“Tentu saja,” jawab polisi muda yang duduk di belakang monitor. Pria berkuncir tadi sudah menjauh sambil terkekeh-kekeh. “Tapi keterangan Anda belum lengkap.”

“Memangnya apa lagi? Anda telah mendapatkan semua keterangan dariku. Tidakkah itu cukup?”

“Maaf, Nona, bukan Anda yang menentukan cukup atau tidak.” Polisi itu berkata dengan nada tinggi. “Kami memiliki prosedur sebelum menindaklanjuti laporan. Jawab saja pertanyaannya. Hei, Nona? Bisakah Anda berkonsentrasi?”

Perhatian Hellena memang teralihkan beberapa saat. Di meja lain, seorang perempuan paruh baya sedang menangis. Seorang pria berdiri di belakang perempuan itu sambil memijat bahunya. Hellena menduga, pria itu adalah suaminya. Dari perkataan mereka, Hellena memahami penyebab perempuan itu menangis. Anak bungsunya hilang.

Dengan tersendat-sendat, perempuan itu menjelaskan akivitas-aktivitas dan ciri-ciri anaknya. Ia berkata bahwa anaknya berumur 13 tahun dan bersekolah di St. Christoper. Setengah meratap, perempuan itu memuji-muji bahwa anaknya adalah anak yang baik dan berhati lembut. Ia tidak pantas disakiti. Polisi yang memproses laporan itu mengangguk-angguk.

“Nona?”

“Ah, ya. Maaf… “ Hellena tersadar dan kembali menatap polisi yang sedang mengolah laporannya. “Apa yang harus kulakukan?”

“Kukira kau bisa memulai dari awal.” Polisi itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan ekspresi malas yang kentara. “Ceritalah dan aku akan memprosesnya.”

“Aku menduga pria itu berencana melakukan sesuatu yang jahat.”

“Apakah Anda yakin?”

“Tentu saja aku yakin. Ia baru saja menipuku,” sergah Hellena memasang wajah masam. Gadis itu merogoh sesuatu dari dalam kantung rok dan menaruhnya di atas meja. “Ia memberiku ini. Kupikir, Anda bisa memeriksanya atau mencari alamat yang tertera di sana untuk memastikan dugaanku.”

Polisi muda itu membuka amplop yang diberikan Hellena. Di dalamnya, ada secarik kertas. Keningnya mengernyit dan membuat Hellena penasaran. Polisi itu membaca dengan keras sebaris kalimat ganjil yang membuat kening Hellena mengerut.

***

Hellena menemukan restoran tua itu di Second Avenue. Tempat sederhana dengan papan nama bertuliskan Cadbury Resto dari jalinan neon merah di atas pintu masuk. Di ruangan dalam terdapat beberapa pasang meja dan kursi yang berwarna putih kusam. Toples permen mint berbaris rapi bersama gelas-gelas kopi dengan hiasan pilar-pilar gaya Yunani. Lantainya ditutupi karpet hijau mulus. Pada etalase kaca yang berada di dekat rak kayu tertera tulisan Iga Sapi Panggang Harga 8,95$.

Hellena masuk dengan jantung berdebar. Sebuah pisau steik berkilauan di atas meja. Hellena mengambilnya cepat-cepat saat bergegas menuju toilet. Bagaimana pun, gunting kuku tak akan cukup untuk melindungi diri jika sesuatu yang buruk terjadi.

Gadis itu datang sendiri, sebab polisi yang tadi menerima laporannya lebih tertarik melirik blazer berbelahan dada rendah yang dikenakannya, ketimbang menindaklanjuti laporannya.

Hellena mencuci tangan dua kali dengan sabun merah muda beraroma mawar, lalu keluar dan berusaha bersikap biasa saja. Restoran itu sepi. Hanya ada seorang pelayan pria berwajah seperti tirai merosot yang sedang berkonsentrasi mengisi botol saus yang isinya setengah kosong. Hellena melihat peluang itu dan mengendap-endap menuju ruang belakang.

Ketika Hellena membuka pintu ruangan itu, ia menemukan tiga orang sedang menetak potongan-potongan daging di atas meja beton bermarmer. Di antara tumpukan-tumpukan daging itu, yang paling mengerikan adalah onggokan kepala dan potongan kaki milik anak kecil.

Perut Hellena bersiap untuk meledak dan kepalanya terasa sakit luar biasa. Tiba-tiba gadis itu teringat tangisan perempuan paruh baya di kantor polisi yang sedang mencari anak bungsunya, lalu rasa takut hebat mencengkeram dadanya. Ia meraba saku untuk mencari pisau, tapi pisau itu entah di mana. Ia cuma menemukan amplop putih yang menjadi alasannya datang ke restoran itu.

Ini kiriman daging segar terakhirku minggu ini. Selamat menikmati. Tertanda, Sam, anggota Klub Pemakan Daging.’

Usai membaca tulisan di secarik kertas di dalam amplop itu, lidah Hellena tercekat. Ia tak sanggup bersuara, sesuatu seolah menggumpal di tenggorokannya. Hellena berpikir untuk keluar dari restoran itu dan melarikan diri. Tapi tepat saat pikiran itu muncul, sesuatu yang keras menghantam tengkuknya, membuat pandangannya gelap dan sekujur tubuhnya mati rasa.***


Adam Yudhistira, bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga berbahagia mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Ia aktif di komunitas sastra Pondok Cerita.