Buku, Resensi

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Membaca Bising

Oleh Yuditeha

Judul Buku: Lampu April – Musik dan Persimpangan

Penulis: Rudi Agus Hartanto

Penerbit: Leluasa Book

Cetakan: 1, Juni 2026

Halaman: xv+69 hlm, 15×20.5 cm

QRCBN: 62-9681-9330-980

Satu kesalahan yang sering muncul ketika membicarakan skena musik, terutama musik bawah tanah. Orang menganggap hanya urusan distorsi gitar, teriakan vokalis, jaket penuh emblem, atau keramaian mosh pit. Akibatnya, yang terlihat hanya permukaan. Padahal, di balik itu, ada kerja budaya panjang, membaca zaman, menyimpan arsip, membangun solidaritas, mengkritik kekuasaan, dan mempertahankan ruang hidup yang semakin sempit.

Melalui Lampu April, Musik dan Persimpangan, Rudi Agus Hartanto menunjukkan, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah cara berpikir, bahkan lebih jauh lagi, ia cara masyarakat kecil merawat ingatan ketika banyak orang sengaja lupa.

Empat belas esai dalam buku ini bukan tulisan akademis. Ia lahir dari pengalaman hadir di ruang-ruang kecil, menyaksikan pertunjukan, berbincang dengan pelaku skena, membaca zine, hingga mengamati komunitas yang bekerja jauh dari sorotan. Itulah kekuatan paling menonjol buku ini, penulis bicara dari dalam ekosistem, bukan pengamat yang datang sesaat lalu pulang.

Rudi tidak sedang membela musik metal, hardcore, punk, atau komunitas independen secara norak. Ia memperlihatkan, setiap karya lahir dari konteks sosial. Lagu tidak pernah benar-benar netral. Ia membawa pengalaman hidup penciptanya, keresahan zamannya, sekaligus harapan bagi pendengarnya.

Salah satu keberanian buku ini menolak dikotomi lama antara musik serius dan musik keras. Di publik Indonesia, musik dengan distorsi sering kali lebih dulu dicurigai daripada dipahami. Padahal, dari ruang-ruang itu lahir diskusi lingkungan, kesetaraan, kebebasan berekspresi, kekerasan negara, hingga diskriminasi. Penulis memperlihatkan bahwa volume keras tidak selalu berarti pikiran dangkal.

Buku ini terasa relevan dengan kondisi Indonesia hari ini. Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu harus cepat dan mudah dikonsumsi. Kritik sering dipadatkan menjadi potongan video beberapa detik. Kemarahan hanya bertahan sepanjang linimasa. Buku ini mengingatkan bahwa perubahan tidak dibangun dari ledakan, melainkan kerja kolektif yang terus diulang, meski kecil.

Esai-esai tentang Down For Life, Rock in Solo, Keliling Kabupaten, The Suse, Malinoa, hingga komunitas-komunitas pinggiran sebenarnya sedang menyampaikan satu gagasan besar, kebudayaan tidak selalu lahir dari pusat. Kadang tumbuh di warung kopi, ruang kecil, gudang latihan, kios kaset, atau panggung sederhana yang bahkan tidak diliput media.

Pernyataan itu terasa penting ketika Indonesia masih sering terjebak pada logika pusat. Seolah sesuatu baru dianggap bermutu jika datang dari Jakarta atau kota-kota besar. Padahal, kreativitas tidak mengenal alamat. Buku ini berkali-kali menunjukkan daerah bukan tempat menunggu. Daerah adalah tempat melahirkan gagasan.

Esai tentang zine menjadi salah satu bagian menarik. Penulis tidak sekadar membahas zine sebagai media murah, tetapi bentuk keberanian mendokumentasikan zaman. Ketika banyak orang sibuk mengejar algoritma, zine memilih jalan pelan. Tidak mengejar trend. Tidak mencari pengakuan. Ia hanya memastikan agar gagasan tidak hilang begitu saja. Arsip adalah bentuk perlawanan.

Buku ini juga memberi penghargaan besar kepada orang-orang yang sering luput dari sejarah. Mereka bukan selebritas, bukan pemegang jabatan. Mereka hanya penyelenggara gigs, pembuat zine, penjaga komunitas, pengarsip kaset, atau anak-anak yang menghabiskan malam untuk menyusun acara. Mereka memang tidak masuk berita nasional, tetapi tanpa mereka ekosistem kebudayaan tidak akan pernah bertahan.

Yang menarik, Rudi tidak meromantisme skena. Ia memperlihatkan semua ruang punya persoalannya sendiri. Namun ia melihatnya sebagai proses belajar. Itu sebabnya kata bertahan terasa berulang dalam buku ini. Bertahan bukan diam. Bertahan berarti terus bergerak meski tidak ideal.

Kalimat pembuka buku, “Bertahanlah selagi mampu,” bukan sekadar ajakan. Ia tesis seluruh isi. Bertahan membuat musik tetap hidup. Bertahan membuat komunitas tetap lahir. Bertahan membuat pengetahuan terus berpindah. Bertahan membuat ingatan tidak mudah dihapus.

Keberanian yang patut diapresiasi, buku ini memperlakukan musik sebagai bahan bacaan, bukan sekadar bahan dengar. Sebuah lagu dibaca sebagaimana orang membaca puisi atau esai. Lirik diperlakukan sebagai teks kebudayaan. Konser dipahami sebagai ruang dialog. Bahkan panggung arena produksi pengetahuan. Cara pandang ini masih jarang ditemukan dalam penulisan musik di Indonesia yang sering berhenti pada ulasan teknis atau nostalgia.

Buku ini tidak ditujukan hanya bagi penikmat musik keras. Pembaca biasa, yang tidak mengenal hardcore, punk, atau metal tetap dapat menemukan sesuatu yang penting, tentang bagaimana komunitas membangun solidaritas tanpa menunggu pengakuan. Bagaimana ruang-ruang kecil tetap memilih hidup meski fasilitas terbatas. Bagaimana anak-anak muda menciptakan jalannya sendiri ketika pintu-pintu resmi terasa terlalu sempit.

Ada kesan yang tertinggal setelah halaman terakhir ditutup. Buku ini mengingatkan, sastra tidak tinggal di rak perpustakaan saja. Ia bisa hadir dalam lirik lagu, obrolan selepas konser, zine fotokopian, mural tembok, kaset rilisan mandiri, hingga percakapan sederhana di warung kopi. Bahasa boleh beda, tetapi kegelisahan yang dibawanya sama, bagaimana manusia tetap memiliki martabat di tengah dunia yang terus berubah.

Bila harus dirangkum dalam satu kalimat, Lampu April, Musik dan Persimpangan adalah buku tentang orang-orang yang memilih tetap bersuara. Dan mungkin, itulah definisi paling jujur tentang skena. Mereka tidak mengejar keren. Mereka menjaga agar suara tidak padam.

Di tengah zaman yang sibuk menghitung jumlah penonton, pengikut, dan angka penjualan, buku ini mengajak kita menghitung sesuatu yang sering dilupakan, berapa banyak ruang kecil yang masih bertahan karena ada orang-orang yang bekerja tanpa tepuk tangan.

Pesan yang terus berdengung dari keseluruhan isi buku, sederhana, seperti obrolan anak-anak skena setelah panggung selesai dibongkar: Kalau ruangmu belum ada, bikin sendiri. Kalau suaramu belum didengar, tetap bersuara. Kalau belum bisa mengubah dunia, setidaknya jangan ikut membuatnya semakin sunyi.

Oya, buku ini diterbitkan Leluasa Book, lini Leluasa (Media kolektif seni, budaya, dan musik independen), dengan tanpa ISBN. Saya membatin, syukurlah. Seandainya harus menunggu ISBN, boleh jadi buku ini baru sampai ke pembaca ketika persoalan-persoalan keburu dikubur penguasa.***

____________________

Yuditeha Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Buku, Resensi

Dosa, Takdir, dan Belas Kasih dalam Satu Meja

Oleh: Yuditeha

Judul Buku : Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit

Penulis : Y. Agusta Akhir

Penerbit : Penerbit Lakeisha

Cetakan : Agustus 2022

Ukuran/Halaman : 14,8 cm x 21 cm, 232 Hal

ISBN : 978-623-420-295-3

Novel Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit karya Y. Agusta Akhir bukan novel berkisah secara lurus, tidak pula sibuk menjelaskan mana benar dan mana salah. Novel ini bergerak pelan di wilayah rumit, tentang bagaimana manusia menghadapi masa lalunya, bagaimana kesalahan membentuk kehidupan, dan bagaimana pengampunan sering kali jauh lebih sulit daripada hukuman.

Novel ini dibangun melalui delapan belas bab di mana judul-judulnya memakai kutipan kalimat dari bab terkait. Pilihan tersebut membuat setiap bab terasa seperti penegasan gagasan. Judul-judul itu tidak sekadar penanda peristiwa, melainkan pintu masuk menuju persoalan batin tokohnya.

Dua tokoh utama, Syalala dan Khadafi, bergerak dalam jalur cerita terpisah. Namun seiring perkembangan novel, pembaca akan melihat bahwa keduanya sedang menempuh perjalanan serupa, perjalanan menuju pengenalan diri. Mereka sama-sama dikejar sesuatu dari masa lalu. Bedanya, Syalala berlari secara harfiah, sedangkan Khadafi berlari melalui perubahan hidup yang tidak sepenuhnya ia pahami.

Salah satu kekuatan novel ini, keberanian penulis menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak mudah disukai, tetapi juga tidak mudah dibenci. Syalala adalah perempuan yang hidup dalam lingkungan keras. Ia menyandang identitas yang bisa membuat banyak orang mudah menghakiminya. Namun novel ini tidak pernah meminta pembaca merasa kasihan kepadanya. Pembaca diajak melihat bagaimana seseorang yang dianggap rendah oleh masyarakat tetap memiliki kemampuan memilih, menolak, menyesal, marah, dan mencintai.

Khadafi pun demikian. Ia bukan sosok suci yang membawa solusi. Masa lalunya penuh tindakan buruk. Namun novel ini memperlihatkan bahwa perubahan manusia tidak pernah berlangsung mulus. Seseorang dapat berubah tanpa sepenuhnya memahami mengapa dirinya berubah. Dalam kehidupan nyata, keadaan seperti ini sering terjadi. Tidak semua pertobatan lahir dari kesadaran utuh. Ada yang datang melalui kebingungan, kehilangan arah, bahkan melalui serangkaian peristiwa yang sulit dijelaskan secara logis.

Di tengah kisah tersebut hadir sosok yang mungkin paling menarik, yaitu kehadiran Kitmir. Anjing yang dapat bicara. Ia bukan sekadar fantasi. Kehadirannya justru menjadi pusat pemikiran novel. Kitmir tidak tampil sebagai makhluk penyelesai masalah. Ia lebih menyerupai suara kebijaksanaan dari tempat tidak terduga.

Pilihan menjadikan seekor anjing sebagai pembawa banyak gagasan moral terasa penting. Dalam banyak pandangan sosial dan keagamaan, anjing sering ditempatkan pada posisi problematis. Namun novel ini membalikkan keadaan. Melalui Kitmir, dipertanyakan kembali mengenai ukuran kemuliaan. Apakah kemuliaan ditentukan oleh status, masa lalu, profesi, atau kemampuan seseorang memperlakukan sesama makhluk dengan baik?

Pertanyaan semacam itu muncul berulang kali sepanjang novel. Bahkan salah satu gagasan paling kuat adalah bahwa manusia sering kali mudah menilai dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Padahal, dalam kenyataan, banyak tindakan manusia justru lebih buruk daripada yang dilakukan binatang.

Novel ini juga menggabungkan unsur-unsur dari berbagai sumber cerita dan tradisi. Kisah tujuh pemuda penghuni gua, tokoh-tokoh religius, mimpi, surat, orang hilang, hingga percakapan tentang Tuhan hadir dalam satu ruang. Namun semuanya tidak digunakan sebagai hiasan. Unsur-unsur tersebut dipakai untuk membangun perenungan mengenai hubungan manusia dengan takdir.

Di sini takdir tidak digambarkan sebagai sesuatu yang sepenuhnya mengikat. Tokoh-tokohnya tetap memiliki pilihan. Mereka tetap dapat memutuskan untuk membenci atau memaafkan, membunuh atau mengurungkan niat, lari atau menghadapi kenyataan. Karena itu, novel ini sesungguhnya lebih banyak berbicara tentang tanggung jawab daripada nasib.

Hal lain yang cukup menonjol adalah cara novel memandang kejahatan. Banyak karya fiksi membagi dunia menjadi dua kubu yang jelas. Orang baik berada di satu sisi, orang jahat berada di sisi lain. Novel ini menolak pembagian semudah itu. Tokoh-tokohnya menyimpan luka, dendam, kesalahan, dan penyesalan dalam kadar berbeda-beda.

Dari situ lahir gagasan cukup tajam, bahwa kejahatan sering kali tidak hadir dalam bentuk monster. Ia bisa muncul dari manusia biasa. Seseorang dapat melakukan tindakan buruk sambil tetap meyakini dirinya benar. Sebaliknya, seseorang yang dianggap buruk oleh masyarakat belum tentu kehilangan seluruh sisi kemanusiaannya.

Karena itu tema pengampunan menjadi sangat penting dalam novel ini. Namun pengampunan itu bukan pengampunan sentimental. Novel ini tidak menganggap semua kesalahan dapat dihapus begitu saja. Yang ditawarkan adalah kesadaran bahwa dendam tidak selalu mampu menyelesaikan derita.

Menarik pula melihat bagaimana api digunakan sebagai simbol dalam judul novel. Api biasanya identik dengan hukuman, kemarahan, atau penghancuran. Namun dalam novel ini, api menjadi lambang pergulatan batin. Api tidak hanya membakar sesuatu di luar diri manusia, tetapi juga membakar pikiran, kenangan, rasa bersalah, dan keinginan untuk membalas.

Seperti Lidah Api yang Menjilati Bulan di Langit bukan novel tentang pelarian, pembunuhan, atau misteri identitas. Semua itu hanya permukaan. Di bawahnya terdapat pertanyaan besar, apakah manusia dapat benar-benar berubah, dan jika bisa, apa yang harus dilakukan terhadap dosa-dosa yang telah terlanjur terjadi?

Novel ini tidak memberikan jawaban tunggal. Ia memilih membiarkan pertanyaan itu tetap hidup sampai halaman terakhir, dan itu menjadi kekuatannya. Pembaca tidak selesai hanya dengan mengetahui apa yang terjadi kepada para tokohnya. Pembaca didorong untuk memikirkan kembali bagaimana dirinya sendiri memandang kesalahan, hukuman, belas kasih, dan kesempatan kedua. Dalam dunia yang semakin gemar menghakimi dengan cepat, barangkali itulah nyala api yang paling lama bertahan dari novel ini.***

____________________

Yuditeha. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Film, Resensi

Ketika Cinta Menjelma Teror: Tragedi Ego dan Obsesi

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Obsession

Sutradara: Cury Barker

Pemain Utama : Michael Johnston (sebagai Bear) dan Inde Navarrette (sebagai Nikki)  

Genre: Horor psikologis, romansa, dan fantasi gelap

Durasi Waktu: 110 menit

Tahun Rilis: 2026

Obsession merupakan film horor psikologis besutan sutradara muda Curry Barker yang menghadirkan premis sederhana tetapi dieksekusi dengan cara yang mengganggu sekaligus relevan dengan realitas hubungan modern. Dibintangi oleh Michael Johnston dan Inde Navarrette, film ini memadukan unsur romansa, fantasi gelap, dan horor psikologis menjadi sebuah kisah tentang cinta yang berubah menjadi obsesi mematikan.

Ceritanya berpusat pada Bear, seorang pegawai toko musik yang pendiam dan telah lama memendam perasaan kepada sahabat masa kecilnya, Nikki. Karena tidak pernah memiliki keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, Bear memilih jalan pintas ketika menemukan sebuah benda mistis bernama “One Wish Willow”. Dengan memanfaatkan benda tersebut, ia berharap Nikki akan mencintainya lebih dari siapa pun di dunia.

Keinginannya memang terkabul, tetapi tidak dengan cara yang ia bayangkan. Nikki berubah menjadi sosok yang sangat posesif, obsesif, dan perlahan kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dari titik inilah mimpi Bear berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Kekuatan terbesar Obsession terletak pada premisnya yang mengangkat pertanyaan moral yang menarik: apakah cinta masih bisa disebut cinta jika lahir dari paksaan?

Film ini tidak sekadar menghadirkan teror melalui adegan-adegan menyeramkan, tetapi juga melalui kegelisahan psikologis yang terus berkembang sepanjang cerita. Penonton diajak menyaksikan bagaimana keinginan yang tampaknya romantis sebenarnya menyimpan egoisme yang besar. Bear tidak pernah benar-benar berusaha memahami perasaan Nikki. Ia hanya ingin mendapatkan balasan atas cintanya, dan ketika kesempatan instan muncul, ia memilih mengabaikan konsekuensinya.

Dalam konteks ini, film menjadi sebuah kritik terhadap fantasi romantis yang sering kali mengabaikan kebebasan dan pilihan individu lain. Penampilan Michael Johnston sebagai Bear menjadi salah satu faktor yang membuat konflik dalam film terasa meyakinkan. Johnston tidak memainkan karakter utama sebagai sosok jahat sejak awal. Sebaliknya, ia menampilkan Bear sebagai pria biasa yang kesepian, canggung, dan mudah mendapatkan simpati.

Seiring perkembangan cerita, lapisan demi lapisan karakter Bear mulai terbuka. Penonton perlahan menyadari bahwa rasa kasihan yang muncul pada awal film berubah menjadi ketidaknyamanan ketika melihat keputusan-keputusan egois yang diambilnya. Johnston berhasil menggambarkan transformasi emosional ini dengan cukup halus sehingga karakter Bear terasa manusiawi sekaligus menyebalkan pada saat yang sama.

Jika Johnston menjadi pusat konflik moral cerita, maka Inde Navarrette adalah jiwa dari film ini. Performa Navarrette sebagai Nikki merupakan aspek yang paling menonjol sepanjang durasi film. Ia harus memainkan karakter yang mengalami perubahan drastis dari sosok perempuan normal menjadi individu yang terjebak dalam obsesi yang tidak dapat dikendalikan. Tantangan tersebut dijawab dengan sangat baik melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan intensitas emosional yang konsisten.

Dalam satu adegan ia dapat terlihat rapuh dan menyedihkan, sementara pada adegan berikutnya ia berubah menjadi sosok yang benar-benar mengintimidasi. Penampilannya memberikan dimensi tragis pada karakter Nikki sehingga penonton tidak hanya takut kepadanya, tetapi juga merasa iba terhadap penderitaan yang dialaminya. Banyak ulasan bahkan menyebut karakter Nikki sebagai pusat emosional film karena di balik semua tindakan mengerikannya terdapat seseorang yang kehilangan kebebasan atas dirinya sendiri.

Dari sisi penyutradaraan, Curry Barker menunjukkan kemampuan yang mengesankan dalam membangun suasana tidak nyaman. Alih-alih mengandalkan jumpscare secara berlebihan, Barker lebih memilih menciptakan ketegangan melalui momen-momen sunyi, tatapan yang terlalu lama, dan perubahan perilaku karakter yang perlahan menjadi semakin tidak wajar. Pendekatan ini membuat horor dalam Obsession terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Penonton tidak selalu dibuat terkejut, tetapi lebih sering dibuat gelisah. Ada perasaan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, meskipun film tidak segera menunjukkannya. Strategi tersebut membuat ketegangan terus terjaga hingga menjelang klimaks. Secara visual, film ini juga tampil cukup menarik meskipun berasal dari produksi beranggaran relatif kecil. Penggunaan pencahayaan redup, komposisi gambar yang terkadang terasa sempit, serta dominasi warna-warna dingin membantu memperkuat kesan kesepian dan keterasingan yang dialami para karakternya.

Rumah, toko musik, dan lokasi-lokasi lain dalam film sering kali terasa seperti ruang yang menekan psikologis penghuninya. Kamera tidak hanya merekam peristiwa, tetapi juga menjadi alat untuk memperlihatkan bagaimana obsesi perlahan menggerogoti kehidupan Bear dan Nikki. Naskah film juga layak mendapatkan apresiasi karena berani menggabungkan elemen romansa dan horor tanpa kehilangan fokus.

Pada awalnya, cerita bahkan terasa seperti kisah cinta remaja yang canggung. Namun, perlahan nuansa tersebut berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kelam. Perubahan tonal ini dilakukan dengan cukup mulus sehingga penonton dapat mengikuti perjalanan cerita tanpa merasa dipaksa berpindah genre. Film ini memahami bahwa horor terbaik sering kali lahir dari sesuatu yang awalnya terasa akrab dan menyenangkan sebelum akhirnya berubah menjadi ancaman.

Meski demikian, Obsession bukanlah film yang sempurna. Beberapa bagian di pertengahan cerita terasa sedikit berulang karena film terus mengeksplorasi perilaku obsesif Nikki dengan pola yang mirip. Akibatnya, ritme narasi sempat melambat sebelum kembali menemukan momentumnya menjelang akhir. Selain itu, beberapa penonton mungkin akan merasa bahwa pesan moral film disampaikan terlalu gamblang.

Kritik terhadap fantasi cinta yang egois memang menjadi tema utama, tetapi terkadang penyampaiannya terasa kurang subtil. Namun kelemahan tersebut tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton karena konflik emosional yang dibangun tetap cukup kuat untuk mempertahankan perhatian penonton. Yang membuat Obsession berbeda dari banyak film horor romantis lainnya adalah keberhasilannya menghadirkan horor yang bersumber dari keinginan manusia yang sangat sederhana.

Semua orang pernah menginginkan cinta dari seseorang yang tidak membalas perasaannya. Film ini mengambil fantasi tersebut dan mempertanyakan apa yang akan terjadi jika keinginan itu benar-benar terwujud tanpa mempertimbangkan kehendak orang lain. Jawaban yang diberikan ternyata jauh lebih menyeramkan daripada monster atau hantu mana pun. Obsession adalah film yang berhasil memadukan ketegangan psikologis, drama emosional, dan kritik sosial ke dalam satu paket yang menghibur sekaligus mengganggu.

Dengan penampilan memikat dari Michael Johnston dan terutama Inde Navarrette, film ini menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya membuat penonton takut, tetapi juga mengajak mereka merenungkan makna cinta, kebebasan, dan batas antara kasih sayang dengan obsesi. Bagi pencinta horor yang mencari sesuatu lebih dari sekadar kejutan sesaat, Obsession merupakan tontonan yang layak mendapat perhatian karena meninggalkan kesan yang bertahan lama bahkan setelah layar menjadi gelap.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Leba. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae” 

Buku, Resensi

Bagaimana Siasat Bekerja

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Siasat Perempuan Menjelang Malam

Penulis : Titi Setiyoningsih

Penerbit : Sirus Media

Cetakan : Maret 2025

Halaman : viii+81hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-540-599-5

Siasat Perempuan Menjelang Malam karya Titi Setiyoningsih yang diterbitkan Sirus Media ini adalah buku berisi sekumpulan bisikan yang mengganggu ketenangan. Selain itu, jika siang identik kepastian, maka menjelang malam dalam buku ini seperti waktu di mana keputusan-keputusan paling jujur diambil, tapi dengan cara paling tidak jujur. Di sinilah perempuan-perempuan hidup di wilayah abu-abu antara bertahan dan menyerang.

Dalam cerpen “Raksasa Timun Mas dari Eropa”. Ini bukan sekadar cerita cinta antar saudara. Ini tentang bagaimana seseorang dipaksa menerima logika yang tak masuk akal, bahwa wajah sama bisa mengganti cinta yang sama. Ironisnya, yang paling waras dalam cerita itu justru keputusan paling gila untuk menjadi raksasa. Kadang, menjadi jahat adalah cara untuk tetap punya kendali.

Bukankah ini sangat Indonesia? Kita sering diajari ikhlas, tapi dipaksa menelan pengkhianatan yang bahkan tak diberi ruang untuk sedih. Kita diajari menerima, tapi lupa bahwa menerima tanpa marah adalah bentuk lain dari kalah.

Lalu “Percakapan Ibu Menteri”. Jika cerpen ini dibaca santai terasa seperti obrolan biasa. Tapi kalau dipikir lebih lama, menjadi pengganggu. Perempuan di sini memang bukan korban, melainkan pengatur. Dalang yang bekerja dari balik layar. Kalimat seperti “kami para istri” bukan sekadar dialog tapi pengakuan terlalu jujur. Titi seolah sedang bilang bahwa kekuasaan tidak selalu duduk di kursi, kadang ia berdiri di belakangnya, tersenyum, sambil main tunjuk. Dan yang paling menyebalkan, ini terasa realistis. Sangat dekat dengan kabar dan kejadian di sekitar kita. bahkan mungkin kita sendiri juga melakukannya.

Kita hidup di masyarakat yang suka pura-pura kaget pada skandal, padahal diam-diam menikmati drama. Kita mencibir politisi, tapi tetap klik beritanya. Kita mengutuk permainan kuasa, tapi tidak menolak sistem yang membuatnya terus hidup. Cerita ini tidak menghakimi, hanya membuka tirai. Dan rupanya yang kita lihat di belakang tidak jauh beda dari yang kita duga, hanya lebih halus dan dingin.

Berbeda lagi dengan “Pengukuhan Profesor Muda”. Cerita ini tampak intelektual di permukaan, tapi sesungguhnya sangat intern dan intim. Tentang pidato besar soal feminisme ternyata tidak mampu menyentuh hal paling sederhana, yaitu membagi kerja di rumah. Ada sinisme di sini. Seakan Titi ingin berkata, “Teori murah. Praktiklah yang mahal.” Dan memang di negeri ini, bicara soal kesetaraan sering kali lebih mudah daripada mencuci piring.

Konfliknya tidak meledak tapi justru terasa lebih menonjok. Kita tidak diberi kisah besar, hanya diberi gangguan tetapi tidak bisa diabaikan. Bahwa sering kali, ketidakadilan tidak hanya hadir sebagai kekerasan.

Lalu “Lelaki dan Mainan Favoritnya”. Secara sekilas dan harfiah cerpen ini membuat kita marah. Tapi jika direnungkan lebih khusyuk, justru membuat kita diam. Kenapa orang bertahan dalam hubungan yang jelas menyakitkan? Jawaban klise: cinta. Jawaban lebih jujur: karena luka lama lebih menakutkan daripada luka baru.

Cerpen ini seperti cubitan. Tidak menyalahkan korban, tapi tidak juga memanjakan. Ia menunjukkan bahwa kadang manusia tidak mencari bahagia, tapi mencari sesuatu yang sudah akrab, meski menyakitkan. Kita sering setia pada derita yang kita kenal, daripada bahagia yang kita belum paham.

Di sisi lain, “Pelangi Tak Berwarna” menghadirkan luka dengan cara sunyi. Ceritanya tidak berisik, tapi menusuk. Tentang pengorbanan yang tidak pernah diceritakan, tentang cinta yang baru dipahami ketika sudah terlambat. Seperti pengingat, di balik narasi kerja keras demi keluarga, ada cerita yang sengaja disembunyikan. Kita suka cerita sukses, tapi jarang mau dengar harganya. Dan ketika harga itu terungkap, kita hanya membisu karena tidak ada lagi yang bisa diselamatkan.

Kumpulan cerpen ini seperti mosaik, tiap kisahnya seperti berdiri sendiri, tapi  membentuk pola jelas. Perempuan-perempuan di sini bukan sekadar karakter. Mereka representasi dari berbagai cara bertahan dalam dunia yang tidak selalu adil. Ada yang melawan, menyesuaikan, pura-pura tidak tahu, memilih luka daripada kehilangan, dan yang menarik tidak ada hero.

Judul Siasat Perempuan Menjelang Malam terasa tepat karena tidak merujuk pada satu cerita. Ia seperti payung yang menaungi. Siasat di sini bukan licik, tapi lebih ke strategi bertahan. Cara-cara kecil, kadang absurd, kadang menyakitkan, yang dilakukan untuk tetap hidup secara emosi maupun sosial. Ini semacam gambaran bagaimana siasat bekerja.

Sementara, Menjelang Malam, memberi kesan semua itu terjadi di momen genting. Di titik di mana pilihan harus dibuat. Yang membuat buku ini menarik bukan hanya ceritanya, tapi keberaniannya untuk menyerahkan jawabannya kepada pembaca. Namun sesungguhnya hidup ini memang bukan tentang menemukan jawaban. Tapi tentang bagaimana kita berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan. Buku ini mungkin tidak membuat kita merasa lebih baik, tapi ia membuat kita lebih sadar. Buku ini seperti cermin yang tidak bisa pecah, dengan agak licik memaksa kita berkaca. Kita bisa menolak melihat, tapi bayangan tetap ada. Jika semakin lama kita menatap, semakin sulit menyangkal bahwa wajah kita tidak jauh beda dari tokoh-tokohnya.***

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. Menjadi lebih mudah membaca ketika hati sedang berantakan.

Buku, Resensi

Alangkah Sukarnya Menjadi Presiden Indonesia!

Oleh: Moch. Ferdi Al Qadri

Judul Buku: Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman

Penulis: Ahmad Syafii Ma’arif

Penerbit: IRCiSoD

Tahun: 2019

Isi: 432 hlm.

Judul di atas merupakan kalimat pamungkas Ahmad Syafii Ma’arif dalam tulisannya berjudul: Soekarno: Antara Kebesaran dan Kekurangannya. Soekarno adalah salah satu referensi utama yang dibahas, yang kemudian menjadi bangunan pemikiran dalam buku ini, yang di antaranya menyangkut bahasan berikut:

Soekarno adalah pemimpin yang bukan sembarang pemimpin. Kemerdekaan republik ini adalah bukti keampuhannya sebagai “penyambung lidah rakyat”. Ia tegap berdiri dan tidak ciut mental di hadapan para perampok yang datang jauh dari Belanda, juga Jepang. Keberaniannya itu juga membuatnya tidak berhenti bersuara, baik di atas podium maupun lewat tulisan-tulisan yang tercetak.

Namun, sebagai manusia biasa, Soekarno tak bisa luput dari kesalahan. Setelah bersusah payah melawan penjajahan hingga sampailah kepada “saat yang berbahagia”, ia seperti menjelma sosok yang lain sama sekali. Menjadi presiden baginya adalah menjadi penguasa, dan sikap mental semacam itu justru berbalik merugikan rakyat.

Bertahun-tahun lamanya Soekarno berjalan bersisian dengan Hatta. Mereka dijuluki dwitunggal. Soekarno-Hatta yang bersatu adalah kunci kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebaliknya, Soekarno-Hatta yang tercerai, yang berubah jadi dwitanggal, adalah titik mula kediktatoran “ugal-ugalan” sang pemimpin besar revolusi itu.

Negara berlandaskan prinsip demokrasi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan demi mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selama ini dicita-citakan, akhirnya tinggal bahan kliping di koran-koran. Pada akhirnya, Soekarno “menguburkan demokrasi itu atas nama Demokrasi Terpimpin yang dikritik Hatta melalui ungkapan-ungkapan yang tidak kurang pedasnya” (h. 407). Soekarno melacurkan dirinya kepada otoritarianisme, lalu jatuh tersungkur di hadapan penderitaan rakyat.

Bermula pemberontakan PKI, krisis politik dan ekonomi melanda Indonesia. Puncaknya adalah inflasi 650% pada 1966/1967. Bukan lagi cita-cita yang digantung setinggi langit, melainkan harga pangan yang terbang sampai ke bulan. Derita mana lagi yang mampu mereka elakan?

Belajar dari Sejarah

Soekarno adalah nama yang paling banyak disebut dalam buku ini, yakni 37 kali. Setelahnya adalah Moh. Hatta yang selisihnya hanya lebih sedikit tiga kali. Buya Syafii mengajak kita semakin dekat dengan keduanya dengan satu cara: belajar dari sejarah.

Soekarno dan Hatta punya wakat yang berbeda. Buya Syafii mengibaratkan keduanya sebagai gas dan rem seperti yang terdapat dalam kendaraan bermotor.

Soekarno secara terang-terangan menunjukkan ketidaksudiannya bila Israel, yang saat itu sudah menjajah Palestina, menginjakkan kaki di Indonesia pada Asian Games IV (1962). Kecaman yang diberikan International Olympic Committee (IOC) tidak membuatnya gentar. Ia justru menginisiasi olimpiade olahraga internasional tandingan bernama Ganefo (Games of the New Emerging Forces).

Itu Soekarno yang sukanya ngegas. Di seberangnya, Hatta, adalah sosok yang bersedia mendengarkan keluhan dari pemuka-pemuka masyarakat Indonesia bagian Timur mengenai teks Piagam Jakarta yang “menganaktirikan” mereka. Maka, demi menjaga keutuhan bangsa yang lebih dari 25 tahun lamanya ia perjuangkan “melalui bui dan pembuangan”, Hatta lalu mengajukan masalah ini pada sidang PPKI, hingga akhirnya dicoretlah tujuh kata yang “legendaris” itu. Buya Syafii memberikan kesan terhadap sosok yang satu ini sebagai “pejuang besar bangsa, penghuni bui pada masa kolonial, demokrat sejati dalam teori dan praktik” (h. 195).

Sejarah sudah membentangkan kisahnya di depan mata. Pertanyaannya adalah mampukah para pemimpin kita menggunakan akalnya secara optimal, sehingga kepingan-kepingan itu dapat mereka susun dan menjadikannya pelajaran yang berharga untuk membangun Indonesia yang merdeka? Adakah mereka bersih dari segala godaan kekayaan dan kekuasaan, sehingga keduanya hanya ada dalam genggaman saja, bukan merajai hati mereka?

Kenyataannya, 80 tahun setelah Indonesia merebut kedaulatannya, masih banyak elite politik kita yang buta dan tuli sejarah. Pun seandainya mereka dapat melihat dan mendengar dengan jernih, akal dan hati mereka sudah telanjur gelap gulita.

Dinasti politik ada di mana-mana, sehingga dianggap rakyat sebagai wajar belaka. Korupsi merajalela, dari tingkat pusat sampai ke daerah-daerah. Betapa mark up harga makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah merugikan banyak orang. Korupsi sudah menjalar ke lapisan masyarakat paling bawah sekalipun!

Politik bukan lagi jalan mewujudkan idealisme, membenturkannya dengan realitas kehidupan yang jauh dari kata ideal. Hukum dan keadilan dipermainkan. Semuanya untuk memperkaya diri mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan elite politik kita hari ini tidak lagi punya ideologi selain pragmatisme belaka.

Pertanyaan berikutnya, bisakah kita berharap bahwa presiden kita hari ini mampu mewujudkan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”?

Bila kita mengacu pada obrolan terakhirnya dengan para jurnalis hingga pengamat di Hambalang beberapa waktu lalu, maka bisa kita simpulkan kalau harapan masih ada, tetapi masih sangat kecil kemungkinannya untuk terwujud.

Sebabnya ialah presiden kita, bahkan setelah menjabat, masih saja melontarkan slogan-slogan mirip janji-janji kampanye. Ia meminta rakyat percaya sepenuhnya kepadanya. Ia mengatakan bahwa semua yang dilakukannya adalah demi kepentingan bangsa, demi kepentingan rakyat seluruhnya. Percayakah kita?

Sembari mengatakan itu, di tengah-tengah kita masih saja terjadi keracunan karena MBG di sekolah-sekolah. Sembari mengatakan itu, tiba-tiba saja kita sudah punya ribuan unit motor dan mobil yang dibeli menggunakan uang rakyat, dan kita masih meragukan apa manfaatnya buat rakyat. Sembari mengatakan itu, penanganan kasus kriminalisasi terhadap para aktivis dan pembela HAM masih simpang siur tak jelas bagaimana ujungnya.

Setelah mengatakan itu, presiden sendiri tidak berhenti melawat ke luar negeri, sembari mencekik rakyat di bawah dengan mantra efisiensi.

Presiden adalah orang yang paling wajib untuk belajar dari sejarah. Di samping juga yang mesti paling berani untuk mengungkapkan kebenaran dan membereskan “kesalahan” sejarahnya sendiri. Adalah sudah pasti tugas ini sangat berat untuk dilakukan. Tetapi sekali lagi, dia harus melakukannya!

Paling tidak, presiden harus berani ngegas ke para penguasa asing yang berniat menggerogoti kekayaan bangsa kita, dan mampu ngerem agar para pengkritiknya dapat mengatakan kebenaran tanpa takut pada penindasan dalam segala bentuknya.

Memang benar kata Buya Syafii: alangkah sukarnya menjadi presiden Indonesia![]

____________________

Moch. Ferdi Al Qadri. Penjaga Perpus Sekolah, tinggal di Mamuju

Film, Resensi

Antara Luka, Algoritma, dan Kebencian

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul               : Inside the Manosphere 

Produser          : Louis Theroux

Tema utama     : Dinamika komunitas “manosphere”, maskulinitas modern, relasi gender, dan pengaruh media digital

Tahun rilis       : 2024

Tahun tayang  : 2026

Pemeran          : Anggota komunitas manosphere, akademisi, jurnalis, dan pengamat sosial

Film dokumenter Inside the Manosphere menghadirkan potret yang tajam sekaligus menggelisahkan tentang sebuah ekosistem digital yang selama ini sering luput dari perhatian publik luas, tetapi memiliki dampak sosial yang nyata. Disutradarai dengan pendekatan observasional yang kuat, film ini membawa penonton menyelami dunia “manosphere”; sebuah istilah yang merujuk pada komunitas online yang berisi berbagai kelompok pria dengan pandangan tertentu tentang maskulinitas, hubungan, dan posisi laki-laki dalam masyarakat modern.

Alih-alih sekadar menjadi tontonan sensasional, film ini berusaha memahami, mengurai, dan sekaligus mengkritisi dinamika yang berkembang di dalamnya. Sejak awal, film dokumenter ini tidak langsung menghakimi. Narasinya dibangun perlahan, dimulai dari pengenalan tentang bagaimana komunitas ini terbentuk dan berkembang di ruang digital. Penonton diperlihatkan forum-forum, kanal video, hingga ruang diskusi anonim yang menjadi tempat berkumpulnya individu dengan keresahan yang beragam.

Ada yang merasa terpinggirkan secara sosial, ada yang kecewa dalam relasi personal, dan ada pula yang mencari identitas diri di tengah perubahan norma gender yang semakin kompleks. Film ini dengan cermat menunjukkan bahwa di balik label kontroversial tersebut, terdapat manusia dengan latar belakang yang tidak seragam. Kekuatan utama film ini terletak pada cara ia memberi ruang bagi berbagai suara.

Beberapa tokoh yang diwawancarai diberi kesempatan untuk menjelaskan pandangan mereka tanpa interupsi yang berlebihan. Mereka berbicara tentang pengalaman pribadi, kegagalan, hingga rasa frustrasi yang kemudian membentuk cara pandang mereka terhadap dunia. Pendekatan ini membuat film terasa lebih jujur, meskipun di saat yang sama juga memunculkan ketegangan bagi penonton yang mungkin tidak sepakat dengan pandangan yang disampaikan.

Di sinilah letak keberanian film ini: ia tidak menyederhanakan persoalan menjadi hitam-putih. Namun, Inside the Manosphere tidak berhenti pada tahap eksplorasi. Secara perlahan, film ini mulai mengungkap sisi gelap dari komunitas tersebut. Beberapa bagian menyoroti bagaimana narasi tertentu dapat berkembang menjadi bentuk kebencian, terutama terhadap perempuan. Retorika yang awalnya berangkat dari pengalaman pribadi kemudian berkembang menjadi generalisasi yang berbahaya.

Film ini memperlihatkan bagaimana algoritma media sosial turut berperan dalam memperkuat echo chamber, sehingga pandangan ekstrem menjadi semakin sulit untuk ditantang dari dalam. Salah satu momen paling kuat dalam film ini adalah ketika narasi personal bertabrakan dengan realitas sosial yang lebih luas.

Ada adegan di mana seorang narasumber menceritakan perasaannya yang terisolasi, lalu dipotong dengan analisis dari ahli yang menjelaskan bagaimana perasaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menyebarkan ideologi yang lebih radikal. Kontras ini menciptakan efek yang menggugah: penonton diajak untuk melihat bahwa persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang sistem yang memungkinkan ide-ide tersebut berkembang.

Dari segi sinematografi, film ini menggunakan gaya yang sederhana namun efektif. Banyak adegan diambil dari layar komputer, rekaman percakapan online, dan dokumentasi kehidupan sehari-hari para narasumber. Pendekatan ini memberikan kesan autentik, seolah penonton benar-benar masuk ke dalam ruang privat yang selama ini tersembunyi.

Tidak ada dramatisasi berlebihan; justru kesederhanaan visual inilah yang membuat pesan film terasa lebih kuat. Musik latar yang digunakan juga minimalis, berfungsi sebagai penguat suasana tanpa mendominasi emosi penonton. Selain itu, struktur naratif film ini patut diapresiasi. Alih-alih mengikuti alur linear yang kaku, film ini bergerak secara tematik.

Setiap bagian membahas aspek berbeda dari manosphere, mulai dari asal-usul, dinamika internal, hingga dampaknya terhadap dunia nyata. Perpindahan antar segmen dilakukan dengan halus, sehingga meskipun topiknya kompleks, penonton tetap dapat mengikuti alur pemikiran yang dibangun. Penyuntingan yang rapi membantu menjaga ritme film agar tidak terasa membosankan.

Yang menarik, film ini juga menghadirkan perspektif dari pihak luar komunitas, termasuk akademisi, jurnalis, dan aktivis. Kehadiran mereka memberikan konteks yang lebih luas, sekaligus menjadi penyeimbang terhadap narasi dari dalam komunitas. Mereka membahas fenomena ini dari sudut pandang sosial, psikologis, hingga politik.

Diskusi ini memperkaya pemahaman penonton, sekaligus menegaskan bahwa fenomena manosphere tidak bisa dilepaskan dari perubahan sosial yang lebih besar, seperti pergeseran peran gender dan krisis identitas di era modern. Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya bebas dari kekurangan.

Dalam beberapa bagian, penjelasan yang diberikan terasa terlalu padat, sehingga berpotensi membuat penonton kewalahan. Ada juga momen di mana film seolah ingin menyampaikan terlalu banyak hal sekaligus, sehingga fokusnya sedikit terpecah. Beberapa penonton mungkin juga merasa bahwa film ini kurang memberikan solusi konkret, karena lebih banyak berfungsi sebagai refleksi daripada panduan.

Kendati demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai penting film ini secara keseluruhan. Justru, ketidaklengkapan jawaban yang ditawarkan menjadi kekuatan tersendiri, karena mendorong penonton untuk berpikir lebih jauh. Film ini tidak memaksa kesimpulan, melainkan membuka ruang diskusi. Dalam konteks isu yang kompleks seperti ini, pendekatan tersebut terasa lebih relevan dibandingkan penyederhanaan yang berlebihan.

Salah satu aspek yang patut dicatat adalah bagaimana film ini memperlakukan empati. Di satu sisi, ia berusaha memahami individu-individu di dalam komunitas tersebut tanpa menghakimi secara langsung. Di sisi lain, ia tetap tegas dalam mengkritisi ide-ide yang berpotensi merugikan orang lain. Keseimbangan ini tidak mudah dicapai, tetapi film ini berhasil melakukannya dengan cukup baik. Penonton diajak untuk melihat manusia di balik ideologi, tanpa harus menerima ideologi tersebut.

Dampak emosional film ini juga cukup kuat. Ada rasa tidak nyaman yang sengaja dibiarkan mengendap, terutama ketika penonton menyadari bahwa fenomena yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Internet, yang selama ini dianggap sebagai ruang bebas, ternyata juga dapat menjadi tempat berkembangnya ide-ide yang problematis. Film ini mengingatkan bahwa apa yang terjadi di dunia digital memiliki konsekuensi nyata di dunia fisik.

Secara keseluruhan, Inside the Manosphere adalah dokumenter yang penting dan relevan dengan kondisi sosial saat ini. Ia berhasil mengangkat topik yang sensitif dengan pendekatan yang cermat dan seimbang. Film ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajak penonton untuk merenung tentang hubungan antara teknologi, identitas, dan dinamika sosial. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, film ini layak menjadi bahan diskusi, baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum.

Kekuatan terbesar film ini terletak pada kemampuannya untuk membuka percakapan. Ia tidak menawarkan jawaban yang mudah, tetapi justru mengajak penonton untuk bertanya: bagaimana kita memahami perubahan yang terjadi di sekitar kita? Bagaimana kita merespons perasaan keterasingan yang dialami sebagian orang tanpa membiarkannya berkembang menjadi kebencian? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita menciptakan ruang dialog yang lebih sehat di tengah perbedaan pandangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak langsung terjawab setelah menonton film ini, tetapi justru di situlah nilai utamanya. Inside the Manosphere bukan sekadar film yang ditonton lalu dilupakan, melainkan pengalaman yang memicu refleksi jangka panjang. Ia menantang penonton untuk tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga bagian dari solusi.

____________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Buku, Resensi

Mengintip Luka-Luka di Sekitar Kita

Oleh Yuditeha

Judul Buku : Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain

Penulis : Kelas Menulis Intensif Klub Buku Suakata 2025

Penerbit : Penerbit Meja Tamu

Cetakan : Januari 2026

Halaman : x+106 hlm, 14×20 cm

ISBN : 978-623-854-290-1

Ada sesuatu yang menarik ketika sebelas orang menulis cerita dari ruang yang sama, kelas menulis, tetapi menghasilkan sebelas arah kegelisahan yang berbeda. Antologi Petaka, Kenangan, dan Cerita Lain (Penerbit Meja Tamu, Januari 2026) seperti kumpulan serpihan kaca, yang masing-masing kecil tetapi jika dikumpulkan ia memantulkan wajah masyarakat dengan cukup jujur, bahkan agak menyakitkan. Yang terasa sejak awal, buku ini memang berupaya untuk jujur. Dan kejujuran dalam sastra sering kali memang tidak nyaman.

Cerpen pembuka Petaka Sarung karya Melati Puspita Febriyanti memotret salah satu ritual paling lazim dalam dunia remaja lelaki, solidaritas palsu yang sering lahir dari ejekan. Evan adalah tipe anak yang mudah ditemukan di banyak sekolah, tidak cukup kuat untuk dihormati, tidak cukup berani untuk melawan, sehingga menjadi sasaran empuk humor yang sebenarnya kejam. Melati tidak menggurui pembaca tentang tawuran remaja. Ia hanya memperlihatkan bagaimana solidaritas sering muncul setelah kematian, ketika penyesalan sudah tidak punya guna. Yang terasa pahit justru sikap teman-teman Evan yang tiba-tiba berubah menjadi pahlawan setelah Devan mati. Dalam cerpen ini, tawuran bukan lagi soal keberanian, melainkan soal bagaimana rasa bersalah kolektif mencari kambing hitam baru. Evan akhirnya bukan sekadar korban polisi, tetapi korban dari kebutuhan orang lain untuk merasa berani.

Cerpen kedua, Dia Tidak Lagi Melenggok karya Angelina Regina Wawo, terasa seperti pisau yang diarahkan pada maskulinitas yang rapuh. Tokoh Wiryo ingin membuktikan dirinya laki-laki tangguh melalui anaknya, Wiro. Masalahnya sederhana sekaligus tragis: Wiro tidak tertarik menjadi lelaki versi ayahnya. Di tangan Angelina, konflik ini tidak ditulis sebagai drama keluarga biasa, tetapi sebagai warisan trauma. Ada masa lalu yang diam-diam mengendap dalam diri Wiryo, sebuah pengalaman yang membuatnya merasa harus terus membuktikan dirinya lelaki sejati. Cerpen ini seperti mengingatkan bahwa sebagian besar kekerasan terhadap identitas sebenarnya lahir dari rasa takut yang tidak pernah diakui. Wiryo bukan sekadar ayah yang keras; ia adalah lelaki yang sepanjang hidup berusaha melarikan diri dari bayangannya sendiri.

Tema benturan individu dan sistem muncul dalam Anak dari Pabrik dan Sungai karya Farah Iqlillah Arifri. Sungai Brantas dalam cerita ini bukan hanya sungai; ia adalah ingatan masa kecil yang pelan-pelan berubah menjadi limbah. Jojo pulang dengan idealisme yang masih bersih, tetapi desa sudah belajar cara lain untuk bertahan hidup: diam. Yang membuat cerpen ini menarik bukan aksi protes Jojo, melainkan kesunyian yang mengelilinginya. Orang-orang tahu sungai itu rusak, tetapi mereka juga tahu dapur harus tetap menyala. Farah menulis konflik klasik pembangunan: siapa sebenarnya yang berhak marah ketika kerusakan lingkungan juga memberi makan banyak keluarga? Di sini, keberanian Jojo terasa heroik sekaligus naif, dan justru di situlah daya pukul cerpen ini.

Rosul Jaya Raya dalam Kemarin, memilih teknik yang cukup berisiko, menggunakan sudut pandang orang kedua, kamu. Teknik ini menciptakan jarak yang aneh sekaligus intim. Pembaca seolah didorong masuk ke dalam kepala seorang lelaki yang hidupnya diatur oleh keputusan orang lain, ibunya, pekerjaannya, bahkan rasa penyesalannya sendiri. Cerpen ini menguliti satu hal yang sering tidak dibicarakan: bagaimana stabilitas hidup kadang dibayar dengan kematian mimpi. Tokoh kamu akhirnya mendapatkan hidup yang mapan, tetapi kehilangan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, kemungkinan. Rosul tampaknya ingin mengatakan bahwa kegilaan tidak selalu datang dari kekacauan; kadang ia tumbuh dari hidup yang terlalu mulus.

Nada satir mulai terasa kuat dalam Seperti Bermain Catur karya Satria A. Ramadhan. Cerpen ini memotret ambisi politik tingkat desa dengan cara yang hampir komikal. Hamzah percaya bahwa jabatan kepala desa bisa diraih seperti langkah catur, cukup dengan strategi dan sedikit bantuan supranatural. Satria tampaknya sedang menertawakan kebiasaan lama dalam politik lokal: keyakinan bahwa kekuasaan bisa dinegosiasikan dengan dunia gaib. Pertemuan Hamzah dengan Mbah Kholik menjadi semacam alegori tentang cara orang mencari jalan pintas menuju kekuasaan. Ironinya, ketika Hamzah kalah, ia masih menyalahkan dukun, bukan dirinya sendiri. Di sinilah cerpen ini terasa tajam: kegagalan tidak pernah benar-benar mengajarkan sesuatu kepada orang yang terlalu yakin dirinya pantas menang.

Sementara itu, Akhmad Gerrard Efrad dalam Sehari Bersama Burna, menulis cerita yang terasa sangat kontemporer: kegagalan ekonomi anak muda. Alif bukan kriminal besar; ia hanya seseorang yang salah memperhitungkan masa depan. Utang yang membesar membuatnya hidup dalam ketakutan yang hampir absurd. Gerrard berhasil membangun suasana psikologis yang membuat pembaca merasa bahwa utang bukan hanya angka, melainkan tekanan yang terus menempel di kepala seseorang. Yang menarik, tokoh Pak Burna tidak digambarkan sekadar antagonis. Ia lebih mirip simbol dari sistem yang dingin, utang harus dibayar, apa pun keadaan manusianya.

Ketika sampai pada cerpen ketujuh, nada antologi ini berubah sedikit lebih kontemplatif, bahkan agak surealis. Gerundelan Patung Gajah karya M. Alvin Sanah adalah cerita yang diam-diam menguji kesabaran pembaca. Tokoh aku dalam cerpen ini bukan manusia, melainkan sebuah patung gajah di taman kota. Pilihan perspektif ini bisa saja jatuh menjadi gimmick semata, tetapi Alvin memanfaatkannya untuk berbicara tentang sesuatu yang lebih dalam, nasib benda-benda yang pernah diagungkan lalu dilupakan. Patung gajah itu pada mulanya menjadi simbol kebanggaan, lalu pelan-pelan berubah menjadi latar yang tak lagi diperhatikan. Cerita ini terasa seperti sindiran halus terhadap cara masyarakat memperlakukan simbol-simbol publik. Kita gemar meresmikan sesuatu, memotretnya, memujinya, lalu meninggalkannya ketika hal baru datang. Yang menarik, hubungan antara patung itu dan seorang gadis kecil menghadirkan dimensi lain, ingatan ternyata bisa menjadi jembatan yang lebih kuat daripada waktu. Di sini Alvin tampaknya sedang berkata bahwa sesuatu baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi yang mengingatnya.

Dalam Ra Sa Ma, Allan Edpe menulis cerita keluarga yang diam-diam menyimpan perlawanan kecil. Nama, dalam cerpen ini, bukan sekadar penanda identitas; ia menjadi medan konflik. Tradisi keluarga yang mengharuskan awalan nama tertentu, Ra, Sa, atau Ma, pada awalnya terlihat sebagai hal remeh. Namun Allan memperlihatkan bagaimana aturan kecil dalam keluarga bisa menjadi bentuk kontrol yang sangat kuat. Ketika Ratih menamai anaknya dengan awalan yang berbeda, itu bukan sekadar pilihan nama. Itu adalah bentuk protes yang sunyi tetapi tajam terhadap sejarah hidupnya sendiri. Cerpen ini menarik karena tidak menampilkan pemberontakan yang dramatis. Ratih tidak berteriak, tidak melawan secara terbuka. Ia hanya memilih sebuah huruf. Dan huruf itu ternyata cukup untuk mengganggu tradisi yang selama ini dianggap tak tergoyahkan. Dalam kesederhanaannya, cerpen ini mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu harus besar; kadang ia cukup berupa keputusan kecil yang sengaja tidak mengikuti aturan lama.

Cerpen kesembilan, Perihal Dua Orang Asing karya Abu Wafa, membawa pembaca ke dunia rumor desa yang sering kali lebih kuat daripada fakta. Cerita ini bergerak dari kabar kecil tentang pembangunan jembatan layang yang kemudian berkembang menjadi kegaduhan kolektif. Yang menarik di sini bukan soal pembangunan itu sendiri, melainkan bagaimana warga memproduksi kepanikan mereka sendiri. Tokoh Pak Darkam menjadi contoh figur yang sering muncul dalam dinamika sosial: seseorang yang merasa mewakili suara rakyat, padahal sebenarnya sedang memanfaatkan kegelisahan orang lain. Abu Wafa menulis dengan cara yang cerdik; ia tidak secara langsung menghakimi siapa yang benar atau salah. Namun pada akhir cerita, pembaca disodori momen yang menggelitik sekaligus sinis: seseorang yang paling lantang bicara justru dengan mudah diarahkan menuju masalah hukum. Cerpen ini terasa seperti komentar kecil tentang politik lokal, tentang bagaimana suara rakyat sering kali hanya menjadi alat bagi ambisi individu.

Nada tragis kembali muncul dalam Ibu Muda karya Mufa Rizal. Cerpen ini menyingkap realitas yang sering disembunyikan di balik statistik: kehamilan remaja. Mufa tidak menulisnya dengan gaya sentimental; ia memilih pendekatan yang hampir dingin. Ratri digambarkan sebagai gadis yang mencoba memahami tubuhnya sendiri dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan. Ketika ia berusaha menggugurkan kandungan, atau memaksa tubuhnya melakukan sesuatu yang tidak diinginkan, pembaca tidak diajak untuk menghakimi. Justru di situlah kekuatan cerpen ini: ia memaksa kita melihat bagaimana kepanikan seorang remaja bisa berubah menjadi keputusan-keputusan yang sangat berbahaya. Cerpen ini terasa menohok karena tidak menyalahkan siapa pun secara eksplisit, tetapi meninggalkan pertanyaan besar tentang sistem sosial yang membuat seorang gadis harus menghadapi peristiwa sebesar itu sendirian.

Cerpen terakhir, Kenangan di Balongcangkring karya AH Baskoro, menutup antologi ini dengan nada yang paling muram sekaligus paling puitis. Tokoh Nadia adalah perempuan yang hidup di ruang yang sering dianggap gelap oleh masyarakat: lokalisasi. Namun Baskoro tidak menulisnya sebagai kisah moralitas. Ia justru menempatkan Nadia sebagai seseorang yang memiliki kenangan, harapan, dan luka yang sangat manusiawi. Balongcangkring dalam cerita ini lebih dari sekadar tempat, ia menjadi lanskap kehidupan yang penuh janji kosong. Sosok Indra, pejabat yang rajin memberi harapan tanpa pernah menepatinya, terasa seperti simbol kekuasaan yang gemar menjanjikan penyelamatan tetapi selalu menunda realisasinya. Bagian mimpi Nadia, tentang rawa tempat tubuh-tubuh perempuan muncul tanpa rasa malu, memberi sentuhan surealis yang menarik. Seolah-olah dalam mimpi itulah perempuan-perempuan itu akhirnya bebas dari penilaian dunia luar.

Jika ditarik satu langkah ke belakang, sebelas cerpen dalam buku ini sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama, kekuasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan teman sebaya yang mendorong seseorang ikut tawuran. Kekuasaan seorang ayah terhadap identitas anaknya. Kekuasaan industri terhadap sungai. Kekuasaan tradisi terhadap nama. Kekuasaan utang terhadap kebebasan hidup. Kekuasaan rumor terhadap warga desa. Kekuasaan moral masyarakat terhadap tubuh perempuan. Yang menarik, sebagian besar kekuasaan itu tidak muncul sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler. Ia justru hadir dalam bentuk yang sangat biasa: ejekan, tradisi keluarga, janji politik, atau bahkan diamnya orang-orang di sekitar kita.

Dalam konteks itu, judul antologi ini terasa cukup tepat, petaka dan kenangan. Petaka tidak selalu datang sebagai tragedi besar, kadang ia lahir dari keputusan kecil yang terus dibiarkan. Sedangkan kenangan, baik atau buruk, sering menjadi satu-satunya cara manusia memahami apa yang sudah terjadi.

Yang membuat buku ini menarik bukan karena semua cerpennya memikat. Justru sebaliknya. Ada bagian-bagian yang terasa masih mentah, ada ide yang bisa digali lebih dalam. Namun di situlah daya tariknya sebagai karya yang lahir dari kelas menulis. Kita bisa melihat bagaimana sebelas penulis mencoba memotret dunia dari sudut pandang mereka masing-masing. Dari sebelas sudut pandang itu muncul satu kesan yang sulit diabaikan: masyarakat kita tampaknya penuh dengan cerita yang tampak kecil, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil sama sekali.

Buku ini, dengan cara yang sederhana, mengingatkan kita bahwa sastra kadang tidak perlu mencari tragedi jauh-jauh. Ia cukup membuka jendela rumah, mendengarkan percakapan tetangga, lalu menuliskannya dengan jujur. Karena sering kali, luka-luka memang tinggal di dekat kita.***

Yuditeha

Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Film, Resensi

Elegi di Balik Jendela: Saat Kehilangan Menjadi Bahasa Cinta yang Baru

Oleh: T.H. Hari Sucahyo

Judul Film: Hamnet

Tahun Rilis: 2025

Sutradara: Chloé Zhao

Penulis Skenario: Chloé Zhao (adaptasi dari novel Hamnet karya Maggie O’Farrell)

Produser: Sam Mendes, Pippa Harris, Steven Spielberg, Liza Marshall, Nicolas Gonda

Pemeran Utama: Paul Mescal sebagai William Shakespeare, Jessie Buckley sebagai Agnes Hathaway

Durasi: ± 130 menit

Rumah Produksi: Amblin Partners

Film Hamnet (2025) hadir sebagai pengalaman sinematik yang lebih dekat dengan perenungan daripada tontonan konvensional. Ia tidak bergerak cepat, tidak mengejar klimaks demi klimaks, dan tidak menawarkan jawaban yang gamblang. Sebaliknya, film ini mengajak penonton untuk berjalan perlahan menyusuri ruang-ruang batin yang dipenuhi cinta, kehilangan, dan pencarian makna melalui seni. Terinspirasi dari novel Maggie O’Farrell, Hamnet tidak sekadar mengisahkan tragedi kematian seorang anak, tetapi menjadikannya poros emosional yang menggerakkan refleksi tentang bagaimana manusia bertahan setelah kehilangan yang paling sunyi dan paling menyayat.

Sejak awal, film ini menempatkan cinta sebagai sesuatu yang rapuh namun mengakar kuat. Cinta dalam Hamnet bukanlah cinta yang meledak-ledak atau romantis dalam pengertian populer, melainkan cinta domestik yang tumbuh dari keseharian: tatapan yang saling memahami, kebiasaan-kebiasaan kecil yang tampak sepele, dan kehadiran yang sering baru terasa ketika ia lenyap. Hubungan antara suami dan istri digambarkan sebagai dua jiwa yang saling terikat namun juga terpisah oleh dunia batin masing-masing. Ada kedekatan, tetapi juga jarak; ada kehangatan, tetapi juga kesunyian yang tak terucap. Film ini dengan lembut menunjukkan bahwa cinta tidak selalu berarti kebersamaan yang utuh, melainkan kesediaan untuk hidup berdampingan dengan ketidaksempurnaan dan keterpisahan.

Kematian hadir sebagai bayang-bayang yang tak pernah benar-benar pergi. Ia tidak datang dengan teriakan dramatis atau visual yang mengejutkan, melainkan merayap perlahan, hampir tak disadari, hingga akhirnya menetap sebagai kekosongan yang permanen. Ketika kehilangan itu terjadi, film ini tidak tergesa-gesa menggambarkan ledakan emosi. Tidak ada ratapan berlebihan atau musik yang memaksa penonton untuk menangis. Yang ada justru keheningan panjang, jeda-jeda yang terasa canggung, dan ruang kosong yang membuat penonton ikut merasakan kebisuan batin para tokohnya. Dalam keheningan itulah, kematian menjadi sangat nyata: bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai kondisi yang terus hidup bersama mereka yang ditinggalkan.

Yang membuat Hamnet terasa istimewa adalah caranya memperlakukan duka sebagai pengalaman yang personal dan tak terstandarkan. Setiap tokoh memikul kehilangan dengan cara yang berbeda. Ada yang menutup diri, ada yang mencari pelarian, ada pula yang mencoba menamai rasa sakitnya melalui bahasa dan imajinasi. Film ini tidak menghakimi cara-cara tersebut, tidak pula memaksakan satu bentuk penyembuhan yang dianggap benar. Duka digambarkan sebagai proses yang berlapis, kadang bergerak maju, kadang kembali mundur, dan sering kali terjebak di tempat yang sama. Penonton diajak memahami bahwa kehilangan tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk.

Di titik inilah seni masuk sebagai jembatan antara cinta dan kematian. Hamnet memandang seni bukan sebagai hiburan, melainkan sebagai kebutuhan eksistensial. Seni hadir sebagai cara manusia memberi makna pada penderitaan yang tak terjelaskan. Dalam film ini, proses kreatif digambarkan sebagai pergulatan batin yang panjang dan melelahkan, bukan sebagai ledakan inspirasi yang romantis. Kata-kata lahir dari kesunyian, dari rasa bersalah, dari kerinduan yang tak menemukan alamat. Seni menjadi ruang di mana kehilangan diolah, diputar ulang, dan diberi bentuk, agar dapat ditanggung.

Film ini juga jujur menunjukkan ambiguitas seni. Di satu sisi, seni menawarkan pelipur lara dan kemungkinan keabadian. Di sisi lain, ia menuntut pengorbanan: waktu, perhatian, bahkan hubungan dengan orang-orang terdekat. Ada ketegangan halus antara dorongan untuk mencipta dan kebutuhan untuk hadir bagi keluarga yang terluka. Hamnet tidak memihak secara sederhana. Ia tidak mengagungkan seniman sebagai pahlawan, tetapi juga tidak menuduh seni sebagai bentuk pelarian egois. Ketegangan itu dibiarkan menggantung, seperti pertanyaan yang tidak memiliki jawaban tunggal.

Secara visual, film ini memilih pendekatan yang kontemplatif. Kamera sering bertahan lebih lama dari yang diharapkan, seolah memberi ruang bagi penonton untuk bernapas dan merasakan. Lanskap alam, cahaya yang masuk melalui jendela, dan detail-detail kecil kehidupan sehari-hari ditampilkan dengan perhatian yang hampir meditatif. Semua itu membangun suasana yang intim, sekaligus menegaskan hubungan antara manusia dan dunia di sekitarnya. Alam tidak digambarkan sebagai latar pasif, melainkan sebagai saksi bisu atas cinta dan kehilangan yang terjadi di dalam rumah-rumah manusia.

Ritme film yang lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Hamnet menuntut kesabaran dan keterlibatan emosional yang aktif. Ia tidak memberi pegangan naratif yang kuat dalam bentuk konflik eksternal yang jelas. Sebaliknya, konflik utama berlangsung di dalam diri para tokohnya. Namun, justru di situlah kekuatan film ini. Dengan menolak kemudahan dramatik, Hamnet memberi ruang bagi pengalaman menonton yang lebih reflektif, di mana penonton diajak untuk berdiam, merenung, dan mungkin mengaitkan kisah di layar dengan kehilangan mereka sendiri.

Narasi film ini terasa seperti aliran ingatan, tidak selalu linear, kadang meloncat dari satu momen ke momen lain dengan logika emosional, bukan kronologis. Pilihan ini memperkuat kesan bahwa duka dan cinta bekerja dengan cara yang tidak teratur. Masa lalu dan masa kini saling tumpang tindih, kenangan hadir tiba-tiba, dan waktu kehilangan batas yang jelas. Film ini seolah berkata bahwa setelah kehilangan besar, hidup tidak lagi berjalan lurus; ia berputar, berkelok, dan sering kembali ke titik-titik yang sama.

Yang menarik, Hamnet juga memberi ruang besar pada perspektif perempuan dan pengalaman domestik yang sering terpinggirkan dalam narasi besar tentang seni dan kejeniusan. Kehidupan rumah tangga, kerja-kerja perawatan, dan pengetahuan intuitif tentang alam dan tubuh tidak diposisikan sebagai latar belakang semata, melainkan sebagai pusat pengalaman manusia. Film ini dengan halus menantang anggapan bahwa seni besar lahir dari ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa justru dari dapur, kebun, dan kamar tidur, lahir pemahaman paling mendalam tentang cinta dan kehilangan.

Emosi dalam Hamnet tidak pernah dipaksakan. Banyak momen penting disampaikan melalui gestur kecil: tangan yang ragu-ragu, tatapan yang menghindar, napas yang tertahan. Dialog digunakan dengan hemat, memberi kesempatan bagi bahasa tubuh dan suasana untuk berbicara. Pendekatan ini membuat emosi terasa lebih jujur dan dekat. Penonton tidak diberi tahu apa yang harus dirasakan; mereka diajak untuk merasakannya sendiri.

Sebagai resensi, sulit untuk menilai Hamnet hanya dari aspek teknis atau alur cerita. Kekuatan film ini terletak pada resonansi emosionalnya, pada kemampuannya untuk tinggal bersama penonton bahkan setelah layar menjadi gelap. Ia mungkin tidak akan diingat karena plotnya yang rumit atau twist yang mengejutkan, tetapi karena suasana dan pertanyaan-pertanyaan yang ditinggalkannya. Pertanyaan tentang bagaimana kita mencintai, bagaimana kita menghadapi kematian, dan bagaimana kita menggunakan seni untuk bertahan hidup.

Hamnet adalah film tentang ketidakhadiran: tentang anak yang hilang, tentang kata-kata yang tak terucap, tentang jarak yang tumbuh di antara orang-orang yang saling mencintai. Namun, dari ketidakhadiran itu, film ini justru menemukan bentuk kehadiran yang lain. Kehadiran ingatan, kehadiran rasa sakit, dan kehadiran seni sebagai upaya manusia untuk memberi makna pada apa yang tak dapat diubah. Ia mengingatkan kita bahwa cinta tidak berhenti ketika kematian datang, dan bahwa seni, meskipun lahir dari luka, dapat menjadi cara untuk terus berbicara dengan mereka yang telah pergi.

Dengan pendekatan yang lembut, puitis, dan penuh empati, Hamnet (2025) menempatkan dirinya sebagai film yang tidak hanya ingin ditonton, tetapi juga dirasakan. Ia bukan film yang akan memuaskan semua orang, terutama mereka yang mencari hiburan cepat dan jawaban tegas. Namun bagi penonton yang bersedia meluangkan waktu dan hati, Hamnet menawarkan pengalaman sinematik yang jarang: sebuah perenungan mendalam tentang cinta, kematian, dan seni, yang terjalin dalam keheningan, dan justru karena itu, terasa begitu manusiawi.

_______________________

T.H. Hari Sucahyo. Penikmat Film Layar Kaca dan Layar Lebar.  Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”

Film, Resensi

Sunyi yang Tak Dianggap Penting

Oleh Yuditeha

“Hidup hanya menunda kekalahan”

—Chairil Anwar, Derai-Derai Cemara

Kalau film Indonesia diundang ke pesta, Siti (2014) barangkali hanya berdiri di belakang tanpa alas kaki. Tak gemerlap, tak mengenal siapa pun, dan tak diajak menari. Padahal ia membawa sesuatu yang lebih langka dari gaun malam, yaitu kejujuran.

Film Eddie Cahyono ini seperti hujan kecil di atas seng tua: pelan, sunyi, tapi bila didengar baik-baik, menyisakan gema. Seperti suara Siti sendiri, tak pernah berteriak, namun justru membekas.

Siti adalah ibu muda di pantai selatan Jawa, bukan pantai eksotis yang dipamerkan brosur wisata, melainkan pantai keras dengan angin tajam. Suaminya lumpuh, jualan keripik seret, dan hidup harus terus diraut agar bisa ditanak. Siti tak menuntut simpati. Ia bekerja, merawat, dan diam-diam bernegosiasi dengan malam.

Difilmkan hitam-putih, Siti tidak menjual gaya, tapi menegaskan sesuatu yang kini terasa asing: kejujuran. Karena itulah ia terasa seperti kesalahan di tengah dunia yang sibuk memoles segalanya jadi cantik dan gaduh.

Film ini tidak mengajak kita masuk lewat pintu drama besar. Ia mengantar kita ke ruang yang lebih akrab: rumah kecil itu, dan perempuan di dalamnya. Siti bukan pahlawan, dan memang tak perlu. Hidup tak selalu butuh pahlawan. Kadang hanya butuh seseorang yang tetap bangun pagi, mengurus anak, mengisi termos, lalu menyusuri hari dengan doa yang sudah kering. Ia perempuan biasa, dan justru di sanalah kekuatannya.

Tidak ada drama meledak-ledak atau air mata yang disorot. Yang ada justru keheningan. Dan dari sanalah suara paling keras keluar. Ketegangan dalam Siti tidak terletak pada ledakan, melainkan pada retakan. Ketika Siti berbicara pada suaminya yang diam seperti batu. Ketika ia tenang di depan anak, sementara kita tahu hatinya sedang mengiris sendiri. Ketegangan semacam ini akrab dengan kehidupan kita. Kita hidup dalam budaya resah yang enggan menyatakan. Kita memendam, berharap masalah lelah sendiri. Siti adalah potret dari kebiasaan itu.

Ia menghadapi ekonomi yang menekan, suami yang tak komunikatif, anak kecil yang tak paham, serta pekerjaan malam yang rawan digunjingkan. Tapi tak sekali pun ia meledak. Bahkan ketika seorang polisi mendekatinya, ia tidak langsung menyerah, juga tidak menolak mentah-mentah. Ia bimbang, dan itu manusiawi. Betapa jarangnya sinema kita merayakan kebimbangan sebagai bentuk keberanian, padahal hidup kita penuh ragu.

Soal ekonomi dan kehormatan menjadi ironi paling tajam. Siti bekerja malam demi membayar utang. Ia mungkin dicap murahan. Tapi siapa yang bertanya biaya sekolah anaknya? Kita suka menilai perempuan dari caranya mencari uang, bukan dari alasan mengapa ia terpaksa melakukannya. Pertanyaan sederhana pun muncul: siapa sebenarnya yang murahan?

Siti tidak menjawabnya dengan dialog. Jawabannya hadir lewat adegan sunyi yang dibiarkan panjang. Kamera statis seperti menuntut kita menatap kenyataan tanpa permen visual. Ini kehidupan yang jika ditonton tergesa, akan dianggap membosankan. Tapi jika diberi waktu, ia menyilet pelan.

Salah satu adegan paling mengiris adalah saat Siti duduk di pinggir ranjang suaminya. Ia mencoba bicara. Suaminya diam. Tak ada dialog, hanya desis angin. Di sana berkumpul kelelahan, penyesalan, cinta yang mulai basi tapi belum bisa dibuang. Adegan ini bukan sekadar personal, melainkan metafora relasi sosial kita: saling tahu ada yang retak, tapi memilih diam.

Kita hidup dalam masyarakat yang tahu banyak hal tidak beres, tapi tetap berpura-pura baik-baik saja. Kita tahu negara sering abai, tapi memilih menunduk. Kita sibuk mengurus gosip sambil membiarkan kebijakan pincang. Kita seperti Siti, tahu sedang terseret ombak, tapi duduk di pantai berharap air surut sendiri.

Namun film ini bukan semata duka. Ada harapan kecil yang muncul dari anaknya, dari dagangan yang habis, dari senyum tipis setelah menarik napas panjang. Ini bukan pasrah, melainkan adaptasi. Bertahan tanpa perayaan.

Ada juga getir ketika perempuan saling menghakimi perempuan lain. Di tengah tekanan ekonomi, solidaritas mudah goyah. Kita lebih cepat menyalahkan individu ketimbang melihat sistem yang menjebak mereka.

Kritik sosial Siti tidak hadir lewat orasi. Tidak ada tokoh berteriak tentang keadilan. Justru karena itu ia terasa nyata. Film ini seperti tetangga yang hidup susah tapi tetap menanak nasi, tanpa pernah meminta belas kasihan.

Di zaman ketika banyak orang berlomba menjadi korban paling menyedihkan di media sosial, Siti hadir sebagai potret orang kecil yang tetap berjalan tanpa meminta tepuk tangan. Ada jenaka pahit: Siti dengan segala keterbatasannya tampak lebih tegar dibanding banyak pejabat yang goyah oleh sedikit tekanan.

Film ini mengingatkan bahwa kemanusiaan bukan soal heroisme, melainkan keberanian bertahan dalam diam. Bukan membela kebenaran di panggung, tapi menemani anak sambil menyeka lelah.

Menonton Siti seperti menatap potret diam diri sendiri. Kita merasa pernah menjadi Siti, atau mengenal seseorang seperti dia: ibu, kakak, tetangga. Luka yang disentuh terlalu akrab untuk ditolak.

Film ini mungkin tak laku box office. Ia tak dijual lewat poster besar. Tapi ia menetap di hati yang masih memberi ruang pada perenungan. Di ruang kecil itu, kita belajar bahwa sunyi pun bisa bicara, asal mau mendengar.

Peran diam menjadi pusat film ini. Di banyak film, diam diisi musik dan ditutup dialog heroik. Di sini, diam dibiarkan canggung. Kamera tak buru-buru memotong. Kita dipaksa merasakan bagaimana menjadi perempuan yang harus kuat tanpa panggung bicara.

Kita hidup di negeri yang bising. Setiap hari penuh opini. Tapi kisah penting justru tenggelam. Tidak ada trending topic untuk ibu rumah tangga yang kehilangan penghasilan. Tidak ada headline untuk perempuan yang memilih antara utang dan harga diri. Ia tak masuk algoritma.

Ironinya, kita gemar mengulas moral tapi jarang mau mendengar. Padahal Siti bicara jujur sepanjang film, lewat mata, napas, cara duduk yang pegal. Kita lupa rasanya menonton film yang mempercayai penonton untuk merasa sendiri.

Relasi Siti dengan anaknya ditampilkan tanpa petuah. Hanya rutinitas melelahkan yang tak bisa ditolak. Di sanalah cinta hadir, bukan sebagai slogan, tapi sebagai kerja sunyi yang menguras tenaga.

Di luar, orang ramai mengeluh soal moral dan keluarga. Tapi jarang yang mau menyelami bagaimana keluarga bertahan di bawah tekanan sosial. Dalam Siti, kehancuran bukan datang dari niat buruk, melainkan dari ketiadaan pilihan.

Siti tak punya akses bantuan sosial. Di kampungnya, jika miskin, lebih baik diam. Ribut dianggap tak tahu diri. Film ini tak mengatakannya gamblang, tapi siapa pun yang lama hidup di republik ini akan paham.

Namun harapan tetap ada, justru karena sunyi. Harapan yang tidak diucapkan, tapi dijalani. Tetap bekerja, mengurus anak, menyuci baju. Harapan yang jarang masuk film komersial, tapi di sini diletakkan di tengah.

Film ini juga menyindir definisi sukses. Siti tak punya pencapaian versi media. Tapi film ini justru menunjukkan betapa kosongnya ukuran sukses kita. Hidupnya adalah perang harian yang tak pernah diumumkan.

Yang menarik, Siti tidak diposisikan sebagai korban yang meminta dikasihani. Ia tidak ingin dinobatkan inspiratif. Ia hanya ingin hidup. Dan betapa mulianya keinginan sederhana itu.

Relasinya dengan polisi tidak dijadikan jalan keluar ajaib. Ia menjadi ruang bimbang yang penuh rasa bersalah. Film ini jujur mengatakan: tidak semua pilihan menyelamatkan tanpa melukai.

Siti adalah tes kepekaan. Jika setelah menontonnya kita masih menyebutnya sekadar “film perempuan nelangsa”, mungkin yang perlu dikoreksi bukan filmnya, tapi empati kita. Film ini seperti kaca retak. Jika ditatap lama, kita melihat bayangan diri sendiri: sebagai suami yang tak mendengar, tetangga yang cepat menilai, negara yang membiarkan. Dan sebagai penonton yang baru peduli ketika kisah perempuan viral.

Mengapa film seperti ini jarang dibuat? Karena terlalu sepi? Atau karena kita takut menonton hidup apa adanya? Hiburan sejati bukan yang membuat lupa, tapi yang membuat ingat kembali siapa kita.

Siti mengingatkan bahwa menjadi manusia tak selalu tentang menang besar. Kadang hanya tentang tidak menyerah pada hari yang panjang. Tentang hidup seadanya, dan tetap berjalan. Perjuangan tidak selalu berupa teriakan. Kadang berbentuk duduk diam di lampu redup, menggenggam termos kosong. Film ini memotret perjuangan yang tak pernah masuk berita utama.

Sunyi, di tangan Eddie Cahyono, bukan kekosongan. Ia perlawanan pasif. Siti tidak sibuk menjelaskan penderitaannya. Ia sibuk bertahan. Dari sanalah kemanusiaan muncul tanpa perlu pengakuan.

Di era ketika semua harus terdengar, perempuan seperti Siti tenggelam. Ia tak punya waktu tampil. Ia hanya punya waktu hidup. Ironinya, sistem justru mengabaikannya. Film ini juga tidak menghukum tokohnya. Siti tidak divonis. Ia dibiarkan hidup. Dalam konteks sosial kita, itu sudah radikal.

Masyarakat kita cepat memvonis perempuan, lambat membantu. Dan Siti hadir sebagai surat terbuka yang tak pernah dikirim, tapi kita butuhkan. Film ini bukan hanya tentang Siti. Ia tentang banyak perempuan tanpa nama. Mereka bukan tokoh utama sinema, tapi tokoh utama kenyataan. Dan film ini menampilkan mereka tanpa eksotisme, tanpa glorifikasi. Hanya manusia yang lelah, bisa salah, tapi tetap berjalan.

Tentu film ini punya kekurangan. Ia sangat kontemplatif dan tak ramah bagi penonton yang ingin narasi cepat. Karakter lain terasa lebih sebagai latar. Visualnya indah, kadang terlalu sadar diri. Konteks sosialnya universal tapi mengambang. Namun di luar itu, Siti memperlihatkan martabat sehari-hari: tidak mencuri, tidak menipu, hanya berusaha. Dalam dunia yang kacau, usaha jujur adalah kehormatan paling murni.

Jika ada yang bilang film Indonesia terlalu dangkal, ajak mereka menonton Siti. Lalu ajak mereka diam. Jika setelah itu mereka masih tak merasa apa-apa, mungkin bukan filmnya yang kurang manusiawi, tapi hati kita yang sudah kebas. Barangkali kita tak butuh ulasan lagi. Kita hanya butuh keberanian untuk berkata: aku lihat kamu. Aku dengar kamu. Dan kisahmu penting. Sama seperti kisah Siti.***

____________________

Yuditeha. Penulis yang tinggal di Karanganyar.

Film, Resensi

Ketika Cinta Diberi Kesempatan Terakhir untuk Berbicara

Resensi Film T. H. Hari Sucahyo

Judul                           : Eternity
Tahun Rilis                  : 2025
Durasi                          : ± 100–110 menit
Sutradara                     : David Freyne
Penulis Skenario          : Pat Cunnane & David Freyne
Produser                      : Robbie Ryan, Jessamine Burgum
Pemeran Utama           : Elizabeth Olsen, Miles Teller, Callum Turner, Da’Vine Joy Randolph

Eternity (2025) datang dengan premis yang tampak sederhana sekaligus menggoda: bagaimana jika kehidupan setelah kematian bukanlah penghakiman yang dingin atau penantian sunyi, melainkan ruang refleksi tempat cinta, dalam seluruh kerumitannya, diberi kesempatan terakhir untuk berbicara. Film ini memilih jalur komedi romantis yang lembut, nyaris bersahaja, untuk membicarakan sesuatu yang sering terasa berat: pilihan-pilihan emosional yang membentuk hidup, dan gema pilihan itu ketika hidup telah usai. Dengan latar alam baka yang dirancang tidak menakutkan, bahkan hangat, Eternity mengundang penonton merenungkan cinta bukan sebagai kepemilikan, melainkan sebagai proses yang terus berubah.

Tokoh sentralnya adalah seorang perempuan yang, setelah kematian, dihadapkan pada dilema yang tidak pernah selesai semasa hidup: memilih antara pria yang telah menemaninya bertahun-tahun, baik dalam rutinitas, kompromi, dan kelelahan yang tenang, atau cinta pertamanya yang meninggal di usia muda, sosok yang membeku dalam ingatan sebagai janji yang tak sempat retak. Pertemuan kembali ini bukan sekadar fantasi romantik, melainkan eksperimen emosional tentang bagaimana ingatan bekerja. Film ini peka menunjukkan bahwa memori sering kali memoles masa lalu, menghapus sudut-sudut tajamnya, sementara hubungan yang bertahan lama justru menyimpan bekas luka yang nyata karena dijalani sepenuhnya.

Keputusan sutradara untuk membungkus dilema tersebut dalam komedi romantis terasa tepat. Humor dalam Eternity tidak hadir sebagai lelucon keras, melainkan observasi kecil tentang absurditas emosi manusia. Dialog-dialognya ringan, namun menyimpan kepedihan yang disampaikan tanpa melodrama. Tawa muncul bukan karena situasi dipaksakan lucu, melainkan karena penonton mengenali diri mereka sendiri dalam kebingungan tokoh-tokohnya: kecanggungan bertemu mantan, rasa bersalah mencintai lebih dari satu orang, dan ketidakmampuan memberi definisi tunggal pada kebahagiaan.

Alam baka dalam Eternity digambarkan sebagai ruang transisi yang ramah, bukan surga berkilau atau neraka yang mengancam, melainkan semacam kota kecil dengan aturan sederhana dan ritme yang melambat. Desain produksinya menekankan warna-warna lembut, cahaya yang tidak menyilaukan, serta ruang-ruang yang terasa akrab. Pilihan visual ini menyampaikan gagasan bahwa kematian bukan pemutusan, melainkan jeda untuk memahami. Di sini, waktu tidak mengejar, sehingga percakapan bisa berlarut tanpa kecemasan, dan perasaan yang dulu tertahan dapat mengalir dengan jujur.

Kekuatan utama film ini terletak pada karakterisasi. Perempuan yang menjadi pusat cerita ditulis dengan empati: ia tidak disederhanakan menjadi sosok ragu-ragu, melainkan manusia utuh dengan kontradiksi. Ada rasa syukur pada stabilitas, ada pula kerinduan pada kemungkinan. Pria yang menemaninya seumur hidup digambarkan sebagai figur yang penuh kebaikan dan kelelahan, seseorang yang mencintai dengan cara bertahan. Sementara cinta pertamanya hadir sebagai energi muda, spontan, dan tak selesai; sebuah “bagaimana jika” yang selalu menghantui. Film ini adil pada keduanya; tidak ada yang diposisikan sebagai pilihan salah. Yang ada hanyalah konsekuensi emosional dari masing-masing pilihan.

Penulisan naskahnya cerdas dalam menimbang nostalgia. Alih-alih memanjakan romantisasi masa muda secara berlebihan, Eternity secara perlahan mengupas ilusi yang sering kita bangun tentang cinta pertama. Melalui percakapan-percakapan yang jujur, film ini menunjukkan bahwa cinta yang tidak sempat diuji waktu sering tampak sempurna karena belum pernah berhadapan dengan kebosanan, tanggung jawab, atau perubahan. Namun, pada saat yang sama, film ini tidak merendahkan kekuatan kenangan. Ia mengakui bahwa kenangan memiliki nilai emosional yang sah, bahkan ketika ia tidak sepenuhnya akurat.

Aspek komedi romantisnya bekerja paling efektif ketika film menertawakan gagasan “pilihan final”. Di alam baka, pilihan itu tidak disajikan sebagai vonis, melainkan sebagai kesempatan memahami diri. Ada ironi halus ketika karakter-karakternya menyadari bahwa bahkan setelah mati, manusia masih membawa kebiasaan ragu dan takut melukai. Humor lahir dari pengakuan bahwa kematangan emosional bukan hadiah otomatis dari kematian; ia tetap membutuhkan keberanian untuk jujur.

Secara tematik, Eternity berbicara tentang waktu sebagai aktor tak terlihat dalam cinta. Hubungan jangka panjang digambarkan sebagai hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari, sementara cinta pertama dipresentasikan sebagai momen intens yang singkat. Film ini tidak menyatakan mana yang lebih “benar”, tetapi mengajak penonton bertanya: apakah kita mencintai seseorang karena siapa mereka sekarang, atau karena siapa mereka bagi versi diri kita di masa lalu? Pertanyaan ini beresonansi kuat, terutama bagi penonton dewasa yang telah melalui berbagai fase hidup.

Akting para pemerannya mendukung nuansa lembut film ini. Ekspresi ditahan, gestur kecil, dan jeda dialog digunakan untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam daripada kata-kata. Chemistry antarpemeran terasa alami, tidak berlebihan, sehingga konflik emosional berkembang dengan halus. Bahkan dalam adegan-adegan paling romantis, film ini menahan diri dari sentimentalitas murahan, memilih kejujuran yang tenang.

Musik latarnya berperan sebagai pengikat suasana, hadir sebagai lapisan emosional yang tidak mendominasi. Melodi-melodi sederhana mengiringi momen reflektif, sementara keheningan dibiarkan berbicara pada saat-saat krusial. Keputusan ini memperkuat kesan bahwa Eternity percaya pada kekuatan cerita dan performa, bukan pada manipulasi emosional.

Meski demikian, film ini tidak sepenuhnya tanpa kelemahan. Bagi sebagian penonton, ritmenya yang tenang mungkin terasa terlalu santai, bahkan mendekati lamban. Konflik utamanya bersifat internal, sehingga mereka yang mengharapkan dinamika plot yang tajam bisa merasa kurang terpuaskan. Namun, kelembutan ini justru menjadi identitas film: Eternity tidak ingin terburu-buru mencapai resolusi, karena esensinya adalah proses memahami.

Eternity (2025) adalah film tentang keberanian menerima kompleksitas cinta. Ia menolak jawaban sederhana dan menghindari moral hitam-putih. Dalam dunia yang sering menuntut kepastian, film ini merayakan ambiguitas sebagai bagian dari kemanusiaan. Dengan memindahkan dilema cinta ke alam baka, Eternity menciptakan jarak yang memungkinkan kita melihat hidup dengan lebih jernih; bahwa cinta tidak selalu tentang memilih yang paling sempurna, melainkan tentang mengakui apa yang benar-benar berarti bagi diri kita.

Film ini meninggalkan penonton dengan perasaan hangat sekaligus reflektif. Bukan karena ia menawarkan fantasi cinta abadi yang mulus, melainkan karena ia jujur tentang ketidaksempurnaan. Eternity mengingatkan bahwa bahkan ketika waktu berakhir, pertanyaan tentang cinta tetap hidup dan mungkin, justru di situlah keindahannya.

__________________________

T. H. Hari Sucahyo. Penikmat film Layar Kaca dan Layar Lebar. Pegiat di Cross-Diciplinary Discussion Group “Sapientiae”