Cerpen

Pangeran Katak

Cerpen Gaza Manta

Jika perubahan itu bisa terjadi dalam jangka waktu yang cepat, bisakah cinta menjadi penyebabnya?

Mi terbangun dalam tidurnya dengan satu hal tergantung di benaknya. Apakah hidup telah berubah, seperti yang baru saja dia alami dalam mimpinya? Namun udara kenyataan menyergapnya untuk mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang tadinya melayang menembus awang-awang kamarnya. Karena sebelumnya dia terbang, berangan-angan dalam mimpi yang telah sekian lama mengendap dalam pikiran dan kehidupannya.

Dia bangkit. Lantai kamar yang dingin menguapkan hasratnya untuk menyambut pagi. Sisa-sisa mimpinya hanya terpantul di cermin. Masih ada seorang peri cantik memandangnya di balik kedalaman kaca.

Matanya beralih ke sebuah akuarium berisi separuh. Air dan tanah telah saling berbagi tempat di kotak kaca itu. Menjadi habitat yang agaknya cukup tepat untuk seekor katak yang kini telah ada di genggaman Mi.

Mi menaruh kembali katak itu dalam akuarium. Dia tersesat hampir dua jam di kamar itu, sebelum akhirnya menemukan jalan keluar. Rutinitas mandi dan bersolek menguncinya dalam mimpi yang tak ingin dia akui.

Semarang, pagi hari, adalah seorang raksasa yang menelan cinta dan mimpi yang cukup memabukkan pada malamnya. Mobil-mobil mengeluarkan sumpah serapah, senantiasa memaki yang ada di depannya. Asap knalpot mengembun di kaca-kaca rumah, di paru-paru, di gitar yang dipetik hanya untuk mengisi perut-perut yang pada akhirnya akan dipenuhi juga dengan embun-embun knalpot itu. Dan di kerongkongan raksasa itulah, Mi bergegas.

Di kantor, di tengah-tengah tumpukan kertas kerja yang menunggu diserahkan, hanya ada kesunyian. Orang-orang terbiasa bekerja dalam keheningan tanpa bicara. Seolah satu patah kata saja akan membuat semua urutan kerja yang telah tersusun secara kronologis akan hancur berantakan. Dan seorang karyawan tak mungkin begitu saja menyerahkan pecahan-pecahan itu kepada atasan.

Namun kesunyian di tempat kerja, bagi Mi, masih lebih baik daripada celotehan dan tawa yang biasanya juga terjadi. Dia tak bermaksud berburuk sangka, namun tawa orang-orang pekerja adalah suatu kemunafikan. Orang bisa saja tertawa lepas di tempat kerja dan bercanda dengan rekan-rekannya, namun itu tak lebih untuk menjaga sikap di depan atasan atau kemungkinan-kemungkinan buruk yang biasanya terjadi di kemudian hari.

Kemunafikan di tempat kerja, jauh lebih buruk daripada yang dialaminya saat dulu bersekolah di SMK. Saat itu dia seperti punya indera keenam yang bisa membedakan mana tawa yang tulus, mana yang dibuat-buat. Mana senyum yang akan sanggup membuka hatinya yang memang sulit terbuka, mana yang hanya memanfaatkannya. Dia begitu peka saat itu, hingga dia tak pernah khawatir dengan teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Mengapa sebelum dia bisa menyadarinya, semua telah berubah?

Saat makan siang, Mi melihat seorang temannya datang sambil menggandeng seorang lelaki yang luar biasa tampan. Mereka saling berpelukan sambil berjalan ke arahnya. Beberapa orang bersiul dan membuat bunga-bunga di udara. Namun bunga-bunga itu hanya jatuh di kaki mereka dan menghampar seolah jalan khusus bagi mereka.

Mereka duduk, tanpa dipersilakan.

“Halo, Mi! Masih sendiri?” teman perempuannya terkikik.

“Bisa kau lihat sendiri, kan?”

Yang laki-laki tersenyum. Tangannya seolah telah terlekat dengan lem pada pinggang perempuan itu. Lambung Mi tiba-tiba bergolak, makanan yang baru saja ditelannya seolah berontak.

“Perkenalkan! Ini pangeranku!”

Mi mendengus, sinis.

“Dia adalah katak yang aku ceritakan padamu, katak yang aku temukan di Stasiun Tawang. Aku menciumnya tadi padi. Dan…”

Mulut Mi pahit. Sedikit cairan lambung beserta makanan tadi telah naik. Dia ingin muntah. Tanpa permisi, dia lari ke toilet. Di sana dia memuntahkan segala makanannya, kesedihannya, air matanya, embun-embun yang menerpa wajahnya, dan kepenatannya. Pikirannya tertuju pada katak di akuarium miliknya.

Dia bergegas pulang. Kembali menyusuri udara panas Semarang yang menerpa seperti jarum-jarum jahit berkarat. Panasnya berkepanjangan dan bagi orang yang tidak kuat akan membuat jatuh pingsan.

Mi tahu, bahwa semua perempuan memiliki kataknya masing-masing. Katak-katak itu dibesarkan oleh cinta dan diberi makan dengan serangga-serangga pikiran. Harapan akan membuat mereka bertahan hidup lama yang pada akhirnya ketika waktunya tiba, katak-katak itu akan berubah menjadi pangeran-pangeran tampan yang menjadi dambaan setiap hati perempuan. Tak akan ada pangeran katak yang sama, karena hati setiap perempuan memang berbeda.

Di kamar, Mi mendapati kataknya telah keluar dari akuarium dan melompat-lompat di lantai. Lentingannya tinggi hingga menyentuh langit-langit. Dan setelah melompat ke sana-ke mari, katak itu akhirnya melompat ke ranjang dan diam di sana. Agaknya dia sedang menunggu Mi dan tahu bahwa perempuan itu sedang gelisah.

Mi mendekat dan duduk di ranjang. Jari-jari kurusnya mendekap katak itu di dadanya. Pikirannya menerawang menembus waktu kembali ke pagi hari. Pada mimpinya yang sebentar tadi masih terselip di bawah bantal dan selimut yang belum sempat dia rapikan. Mi hampir menangis, dia merasakan mulutnya sedang digarami.

Baru saja pagi tadi katak itu membawanya berjalan-jalan di punggungnya. Mereka melompat-lompat di tengah belantara Semarang. Katak itu pasti sudah tahu keinginan Mi. Karena tanpa disuruh, dia sudah memacetkan jalan tol dan membuat para pengendara kendaraan bermotor terbelalak. Mereka menuju Kota Lama.

Di Kota Lama, mereka selalu berhenti di gereja heksagonal itu—yang kubahnya setengah bola dan begitu megah. Mereka melihat Mi yang lebih kecil berlari-lari kecil dan masuk ke gereja. Atau di saat yang lain, mereka akan melihat Mi sedang berada di Taman Srigunting, membaca buku atau mengetik sesuatu di ponsel dengan lidah terjulur karena keasikan. Pemandangan itu akan berlangsung lama dan bersambung dengan Mi di depan Gedung Marba, atau Mi yang sedang makan gorengan di angkringan di depan gedung merah marun itu. Dan melihat semua itu, Mi di punggung katak akan menangis yang merupakan pertanda bahwa mimpi akan segera berakhir dan hari akan kembali berlanjut.

Bahwa setiap dia melihat katak itu, maka dia akan ingat gereja itu, Mi sudah tahu hal itu. Sungguh, dia tak pernah mengharapkan perwujudan gereja dan kotanya akan menjelma dalam bentuk seekor katak, bukannya ikan atau padi yang biasanya dia jadikan sarapan. Padahal lambang kotanya adalah ikan atau padi, bukannya katak. Dan Mi pun tak pernah tahu kalau ada katak yang menjadi lambang kota.

Katak itu sendiri tak disangkanya akan tumbuh besar juga. Awalnya dia tak terlalu bersemangat saat seorang temannya memberikan telur katak itu padanya. Sebuah telur sebesar debu yang ditaruh dalam gelas kaca yang dia dapatkan saat pesta perpisahan.

“Apa ini?”

“Telur katak.”

“Buat apa?”

“Untukmu, agar kau ingat padaku.”

“Kenapa aku harus ingat padamu?”

“Karena suatu hari, aku ingin menjadi katak itu.”

Dan seiring dengan waktu, telur katak itu menetas. Seekor kecebong lucu lahir sambil menggerakkan ekornya yang mirip kuas, memberi warna pada air. Sebenarnya saat menjadi kecebong itulah, saat dimana Mi merasa paling sayang dengan binatang itu. Namun binatang itu tetap bermetamorfosis, dan Mi hanya bisa menerimanya.

Mi menghela napas panjang. Semua begitu berat dan membingungkan. Dia ingin mengakhirinya sekarang dan merasa telah cukup siap untuk itu. Dia mengganti seragam kerjanya dengan celana pendek dan kaos singlet. Dia merasa tenang dengan pakaian itu.

Dielus-elusnya katak itu dan didekapnya berulang-ulang. Mi mendekatkannya ke bibirnya yang kini tanpa polesan, namun begitu basah. Dan saat detik-detik terakhir mulut katak itu menyentuh bibirnya, dia jadi ingat teman-temannya. Dia jadi ingat Tika, Windi, Dewi, Miftah Edo, Maruta, Sapto. Dia jadi ingat Wira. Lima yang terakhir adalah katak.

Ketika bibir mereka bersentuhan, Mi berubah menjadi katak, diikuti seluruh manusia yang juga berubah menjadi katak. Saat itu dia yakin, kalau cinta dapat membuat perubahan dalam sekejap mata.

Lombok Timur, 24 April 2016


Gaza Manta lahir di Lamongan; menyelesaikan studi di Semarang; kini tinggal di Lombok. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul Pegasus Lilika (Rua Aksara; 2019).

Puisi

Puisi Anugrah Gio Pratama

Serupa Bahasa dan Kata

Serupa bahasa dan kata,

malam adalah puisi dalam sunyiku.

2019


Malam di Suatu Pasar

Malam yang singkat

dan keramaian

adalah guguran bunga.

Kusaksikan

banyak hal di tempat ini:

barang-barang ditata dengan rapi,

kata-kata dilontarkan dengan santun,

tapi tidak ada puisi. Tidak ada puisi.

Hanya ada senyum yang lahir

dari wajah-wajah yang asing.

Hanya malam yang kian bising.

2019


Gelap Menepuk Pundak Hari

Malam bangkit, waktusemisal

karpet-karpet hitam yang panjang,

yang menghamparkan kesunyian

dan membentangkan ketenangan.

Lalu gelap menepuk pundak hari

agar tuntas cahaya mentari.

Lalu mimpi memungut

seluruh lelah di punggung

para pekerja.

2019


Berada di Jalan

Kau terlahir untuk berada di jalan

biarpunkau bukan petualang yang tangguh.

Karena kauadalah gugusan cahaya

saat gelap membanjiri kota-kota.

Kau terlahir untuk selalu berada di jalan,

menghitung jejak-jejak yang

tak pernah bisa dibaca sebagai

buku-buku sejarah dunia.

2019 


Mata Mimpi

Apakah pintu kamar itu

mesti dibuka, sedang ketok jam

bagai sebongkah batu

yang diam?

Aku rasa tak perlu,

sebab dengkur cuacayang amat panjang

telah menghadapkan wajahku

menuju mata mimpi.

2019


Di Ranjang Ini

Di ranjang ini,

tubuh adalah kata-kata

yang jatuh di jantung puisi.

Di ranjang ini,

umur pergi satu per satu

bersama tik-tok jam yang kian laju.

Di ranjang ini,

mimpi terlahir dan berayun

di antara pohon-pohon musim

yang tumbuh di rahim bulan.

2019


Tabuhlah

:Febryan Nugraha P.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah sebagaimana waktu

menabuh sepi yang tenang; sebagaimana sepi

menabuh mimpi yang dalam; sebagaimana mimpi

menabuh angan yang panjang.

Tabuhlah perkusi itu!

Tabuhlah!

2019


Fragmen Mimpi

Mimpimu yang terluka

mengucurkan seribu nasib baik

yang dikumpulkan seorang ibu

dari masa ke masa.

Sedang kenyataan yang indah

justru tak mengucurkan apa-apa,

tak bisa mengumpulkan apa-apa

kecuali kenangan. Kecuali kenangan!

2019 


Biarkan Saja Kepedihan itu

Biarkan saja kepedihan itu

membentangkan sebuah jalan yang kelam,

sebab cinta saja tak akan sempat mengasuh kita

menjadi makhluk yang dewasa.

2019


Usia

Kemarin adalah usia yang

jatuh berserakan; suara-suara

yang telah hilang gemanya.

Esok adalah usia yang tak pasti.

Sedang hari ini adalah usia

yang dikupas kefanaan dunia.

2019


Anugrah Gio Pratama lahir di Lamongan pada tanggal 22 Juni 1999. Sekarang ia sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengambil program studi Pendidikan Bahasa Indonesia di sana. Puisi-puisinya termuat di beberapa antologi bersama. Karyanya yang terbit pada tahun 2019 ini berjudul Puisi yang Remuk Berkeping-keping (Interlude).

Buku, Resensi

Mengheningi Kebermanfaatan Kertas

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Penemuan mesin cetak yang diberdayafungsikan untuk menggandakan tulisan di kertas menjadi tonggak bergairahnya ilmu pengetahuan dan peradaban. Kertas menemui keberfungsian yang paripurna. Ia menggeser dan lekas mengambil alih teknologi belum canggih seperti sabak atau batu tulis, daun papyrus, daun lontar, kulit binatang, dan media-media tulis alamis yang terbatas fungsinya. Penggandaan tulisan di kertas berarti pula dakwah pengetahuan berskala masif.

Perjalanan peradaban bermula dari penerbitan tulisan menjadi bendel-bendel buku. Dulu, peradaban identik dengan buku-buku. Sementara hari ini, sabda tersebut bisa saja tertuduh terlampau retorik, alih-alih kaku dan konservatif. Tanpa maksud melakukan generalisasi, kiranya pengguna media baru (media daring, media sosial) telanjur percaya bahwa ilmu pengetahuan bisa lebih berkembang berkat media baru. Sebagian yang ekstrem bisa saja mendaku tak perlu lagi dilakukan syiar pengetahuan melalui buku-buku. Yang demikian merasa mendapat pembelaan sebab produksi kertas tak ramah lingkungan. Penggunaan kertas berarti dukungan terhadap penebangan pohon-pohon. Kertas jadi demikian dilematik.

Mengolah yang Dilematik

Di tengah segala kebisingan itu, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (FSRD ISI) Solo bekerjasama dengan Harian Umum Solopos, Rumah Banjarsari, dan Bentara Budaya Solo mendalami “kertas” sebagai sebuah diskursus yang kompleks. Kertas menjadi subjek utama dalam serangkaian acara, workshop mengolah kertas bekas; membuat karya seni dari kertas daur ulang; pameran seni rupa; dan menerbitkan buku antologi bertajuk “Meretas Kertas”. Delapan tulisan di buku tersebut ditulis orang-orang dari pelbagai latar belakang. Mereka adalah dosen, sejarawan, pengamat sosial-kebudayaan, penulis, sampai wartawan.

Pembaca menyimak ragam dedongengan memerkarakan kertas dari zaman penemuannya yang mula-mula sampai dengung nirfungsinya di zaman sangat teknologis seperti sekarang. Masa silam mencatat keberfungsian kertas bagi praktik pemerintahan di masa sebelum masehi, untuk pelbagai kebutuhan praksis sehari-hari misalnya pembungkus kaca keramik (hlm. 3), penyebaran pengetahuan dan informasi, penggandaan teks-teks suci, dan lain sebagainya.

Konon, presiden pertama Indonesia berambisi mengentaskan bangsa dari derita buta huruf. Lelaki karismatik itu yakin betul kalau kertaslah yang mampu membuat bangsanya merdeka dan beradab. Soekarno mengajar dan menaruh harapan bangsa Indonesia membaca buku, koran, dan majalah demi mengerti laju revolusi. Harapan itu tentu saja membutuhkan kertas untuk menerbitkan buku-buku sebagai bacaan (hlm. 52).

Pesohor yang menaruh minat dan kesadaran akan kebermanfaatan tulisan di kertas tentu saja tak cuma Soekarno. Kita mengenal Hatta, Tan Malaka, sampai kepada Habibie, Gus Dur, juga Jusuf Kalla. Dalam acara Mata Najwa bertajuk Terima Kasih Pak JK (Rabu, 16 Oktober 2019), pemirsa mendapati keteguhan sikap JK memerkarakan buku sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan hidup yang utama. Para cucu mengenang JK sebagai kakek yang membebaskan cucu-cucunya membeli buku dengan nominal berapapun. Hal itu tak berlaku untuk belanja urusan lain. Buku menjadi kata kunci dalam kehidupan berkeluarga JK.

JK merupa contoh konstekstual bahwasanya kertas menjadi media bagi para pendahulu mewariskan ilmu pengetahuan sehingga sampailah kepada generasi berikutnya. Kendati kini, gegar kehidupan sudah bergeser kepada internet melalui media baru yang dilahirkannya, kita rasanya tidak—atau belum—mampu beranjak dari persinggungan dengan kertas. Buku-buku dengan rupa ragam genre terus bermunculan, pemerintah perlu mencetak kebijakan-kebijakan menuju keabsahan pemberlakuannya, institusi-institusi pengetahuan dan keagamaan tak henti melakukan syiar pengetahuan melalui teks-teks tercetak, keperluan mencetak poster untuk aksi massa, pengabaran kematian, pernikahan, dan acara-acara lain.

Tulisan-tulisan dalam Meretas Kertas (2019) memberi kawruh pada kita betapa kertas masih menjadi suatu yang demikian penting terutama bagi institusi pengetahuan, lembaga kekuasaan, lembaga agama, serta lembaga sosial-kemasyarakatan sebagai media syiar pelbagai macam ide yang kesemuanya bermuara pada perumusan kebijaksanaan-kebijaksanaan hidup (hlm. 7). Tsah!


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, locita.co, langgar.co, dan lain sebagainya.

Cerpen

Perempuan dengan Segelas Racun

Cerpen Aljas Sahni H

            Angin malam sedikit nakal menyelusup ke dalam kutangmu, menyerupai tentakel angin itu merabamu dalam dingin, seolah tahu akan kesepian yang menjalar dalam tubuhmu. Kamu menikmati perihal itu, tak ada niatan sedikit pun untuk menutup jendela, malah membiarkan angin menyetubuhimu dengan leluasa. 

            Untuk malam ini saja, katamu, aku ingin dibelai seperti perempuan pada umumnya. Air mata menitik dari kelopak matamu, mengalir membasahi pipi dan berakhir jatuh di atas lantai. Dadamu terasa sesak, merangsek inti dari segala nestapa. Kamu merindukan saat-saat itu, saat di mana senyum masih kerap tersungging di bibir suamimu.

            Suamimu kerap memuji rona merah pipimu, tapi sekarang pipimu adalah tempat pendaratan tangan suamimu. Akhir-akhir ini suamimu seringkali menamparmu, sehingga rona merah pipimu menjadi memar. Suamimu menyiksamu seperti binatang, seperti kusir melecitkan cambuk pada kudanya.

            Ke mana kata-kata indahmu dahulu? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membayang dalam tempurung kepalamu. Tentu nyalimu kurang berani apabila mengajukan pertanyaan itu terang-terangan pada suamimu. Kamu menerima begitu saja aniaya suamimu tanpa berkomentar apa pun. Kamu rela suamimu menjambak rambutmu, menyeretmu ke dalam kamar, lantas tamparan melayang di pipimu, dan berakhir pecut sabuk berulangkali.

            Tubuhmu remuk dengan garis-garis memar sebab ulah biadab suamimu. Tak hanya cambukan yang kamu terima, sering juga kamu gelagapan direndam di dalam air. Kamu disuruh memperagakan seekor anjing dalam keadaan telanjang, dan suamimu tertawa terbahak-bahak melihat penderitaanmu.

            Kamu merasa terhina di hadapan suamimu sendiri, menjadi tempat pelampiasan suamimu yang di kantor dibodoh-bodohi oleh bos dan teman-temannya. Tapi kamu tak berani melawan. Kamu juga tak lari dari rumah itu meninggalkan suamimu karena kamu merasa itu tak mungkin, bagaimana juga itu adalah rumahmu satu-satunya.

            Dulu, kamu lari dari orangtuamu demi menikah dengan lelaki bajingan itu, memiliki angan-angan indah hidup harmonis bersama suamimu, tapi sekarang harapan itu sirna. Kamu menyesal, dan tentu penyesalan akan selalu menjadi penyesalan.

            Ada alasan lain pula, mengapa kamu tak mau meninggalkan rumah itu. Kamu tak mau meninggalkan anakmu, dan kamu juga tak mau membagi penderitaan pada anakmu. Kamu rela menderita sendiri, asal anakmu tidak, dan takkan pernah kamu biarkan itu terjadi.

            “Hey Jalang! Di mana kamu?!” Lamunanmu buyar oleh teriakan yang berasal dari mulut suamimu. Kini dia sudah ada di ruang tamu.

            Kamu cepat-cepat menghapus sisa-sisa air matamu, keluar kamar dan menemui nafsu suamimu yang bajingan. Malam sudah larut, suamimu memang kerap datang larut malam, bahkan pagi, bahkan pula tak pulang berhari-hari. Suamimu lebih suka menyewa pelacur daripada tidur denganmu, bila pulang, pasti dalam keadaan mabuk.

            Seperti sekarang, bau alkohol menyeruak ke dalam lubang hidungmu. “Dari mana saja kamu, Jalang?! Kenapa lama sekali kamu datang?!” sentak suamimu. Tubuh suamimu agak linglung dan mata suamimu seperti tak mampu untuk terjaga.

            “Ma… maaf, tadi aku habis dari kamar mandi,” sahutmu tergagap. Kamu tahu, permintaan maafmu takkan pernah diampuni.

            Kamu meringis kesakitan, ketika suamimu menjambak rambutmu. Suamimu meradang pada kesalahanmu yang datang terlambat. “Hey Jalang! Dengarkan! Aku tak mau melihatmu seperti ini lagi! Sekarang bawakan aku air panas dan basuh kakiku! Satu lagi, buatkan aku teh hangat! Tak pakai lama! Mengerti?!”

            Kepalamu mengangguk-angguk meski agak susah. Suamimu melepaskan jambakannya dan kamu segera mungkin pergi ke belakang. Kamu memasak air namun dadamu yang mendidih. Kamu tak kuat lagi menanggung derita ini, kamu ingin mengakhiri semua ini. Kamu ingin mengakhiri penderitaan suamimu yang selalu dibodohi oleh bos dan teman-temannya. Dengan racun, kamu ingin mengirim suamimu ke neraka.

            Teh hangat yang akan kamu suguhkan pada suamimu telah dibumbui racun. Kamu berjalan dengan sedikit senyum gila ke arah suamimu. Kamu ulurkan cangkir itu di hadapan suamimu. “Minumlah, mumpung masih hangat,” ucapmu lembut.

            Suamimu menyimpan curiga atas kemanisanmu, tapi dia tak sepenuhnya memedulikan itu. Dia dengan senang hati meminum apa yang baru saja kamu suguhkan.

            Kamu melihat lekat-lekat raut suamimu saat meneguk racun itu. Racun itu bekerja cepat, tak butuh waktu lama, mulut suamimu telah berbusa. Mulut yang pernah memujimu, mulut yang pernah mencacimakimu, kini mulut itu tak lagi dapat mengeluarkan kata-kata, semua telah terselimut busa.

            Semestinya kamu senang racun membuat suamimu mati, tapi kamu malah cemas. Bukan karena suamimu, tapi karena anakmu. Anakmu melihat semua kejadian itu. Entah bagaimana anakmu bisa bangun, dan melihat kala kamu meracuni ayahnya hingga tewas. Kamu seketika menyadari kalau hidup selanjutnya akan tampak lebih sulit.

            Kamu menelepon ambulans, dan bilang, suamimu frustasi sebab kerap dibodoh-bodohi bos dan teman-temannya, sehingga ia mengakhiri hidup dengan meneguk racun. Semua orang percaya, dan anakmu tak pernah membocorkan rahasia di balik kematian suamimu. Anakmu memilih diam dengan mata penuh kebencian.

***

            Sejak kamu meracuni suamimu sendiri, anakmu tak lagi mau berbicara denganmu. Dia membencimu.  Hidupmu masih dibalut kesepian. Kamu merasa hidup sendirian di dunia ini, hanya kadang angin malam yang diam-diam menemanimu.

            Anakmu lebih suka tidur di rumah temannya daripada di rumah sendiri. Lama-lama, anakmu mulai mirip dengan suamimu. Ketika pulang, melihat wajahmu saja, dia seakan tak pernah sudi. Kamu selalu mencari kesempatan untuk mengawali pembicaraan, tapi anakmu tak pernah ingin berbicara apalagi mendengarkan celotehmu.

            Kebencian memang telah merasuki anakmu, kebencian juga mengambil alih tubuh anakmu. Kamu ingin mengakhiri semua ini, persis seperti kamu mengakhiri hidup suamimu. Tapi bagaimana bisa, tak ada ibu yang ingin anaknya menderita.

Ini bukan derita. Ini untuk melepas penderitaan itu sendiri, batinmu.

            Kamu tak kuasa melihat anakmu menanggung kebencian. Kamu ingin menyudahi penderitaanmu sendiri juga penderitaan anakmu.

Kala itu anakmu pulang, ia tampak tergesa membereskan pakaiannya ke dalam tas. Sepertinya anakmu ingin pergi, meninggalkanmu, dan takkan pernah ingin kembali.

            Dadamu sesak, ombak di dadamu semakin bergemuruh. Air matamu tak dapat lagi dibendung, lantas jatuh membasahi kedua pipimu. Kamu sudah tak sanggup hidup seperti sendiri, sekarang kamu akan benar-benar hidup sendiri tatkala anakmu lenyap di rumah ini. Sekarang bukan waktunya untuk menangis, tegasmu untuk dirimu sendiri.

            Kamu tak ingin melihat anakmu pergi, kamu harus membunuh kebencian di tubuh anakmu. Tentu, membunuh kebencian berarti membunuh pemilik kebencian itu sendiri. Kamu ingin mengirim anakmu ke surga, atau mengirim anakmu pada suamimu. Dengan segelas racun, harapan itu akan menjadi kenyataan.

            Tak ada ibu yang tega meracuni anak sendiri. Maka dari itu kamu membuat sebuah rencana, begini rencananya: setelah nanti racun itu bekerja dan membuat mulut anakmu berbusa—seperti dulu juga pernah terjadi pada suamimu—dan kamu juga akan meneguk racun itu, sehingga nanti kamu bersama suami dan anakmu bisa berbahagia di surga sana.

            Ketika sudah sampai di surga, kamu bisa mencari suamimu, meminta suamimu untuk menjelaskan pada anakmu, bahwa bukan kamu yang jahat. Ah, kamu sudah tak sabar mewujudkan impian mulia itu. Kamu sangat hati-hati membawa racun itu.

            “Minumlah susu ini, mumpung masih hangat,” suguhmu pada anakmu. Anakmu diam sejenak, memandangmu dengan mata nyalangnya. Kamu melempar senyum, kamu sudah yakin perihal ini yang terbaik. Kamu bersama suami dan anakmu bisa menjalin hidup baru di surga sana.

            Namun tak seperti harapanmu, anakmu malah menghempas segelas racun yang kamu suguhkan. Cangkir berisi racun itu terlepas dari tanganmu—jatuh—dan pecah berkeping-keping di lantai dan racun itu meruah membasahi serta mengotori lantai. Matamu dan mata anakmu saling bersitatap, setidaknya sampai anakmu mengeluarkan satu kalimat. “Aku takkan dibodohi oleh cara lama, dan aku takkan jatuh di jurang yang sama seperti bapak!”[]


Aljas Sahni H, lahir di Sumenep, Madura.Kini bergiat di Komunitas Sastra Kutub Yogyakarta. Anggota literasi IYAKA. Serta salah satu pendiri Sanggar Becak. 

Puisi

Puisi Irvan Syahril

Sepasang Sepatu

Setiap Minggu ibu duduk dekat pintu

matanya merapi tali ke lubang sepatu

dan tangannya yang berurat waktu

masih sigap mengikat tali sepatu.

Ibu begitu tekun kepada waktu

sambil memangku sepasang sepatu

semoga tak lepas talinya di ujung tunggu

semoga lekas mengantar ke depan pintu

sebelum sebuah ajal memangku.

Semacam ada ruang waktu yang jauh

dari titik matanya yang kian abu-abu

di sepasang sepatu ada air mata ibu

yang menebalkan alas dan ujungnya

yang tak tuntas mengarah kepada rindu.

Serpihmimpi, 2019.


Puisi

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dalam waktu yang kauberikan kepadaku.

Hening selalu lebih dahulu dari apa pun

seperti debu tak tuntas seribu sapu.

Kau dengan gampangnya menyuruhku

membetulkan hatiku sendiri.

“Ini sepaket waktu, gantungkan di hatimu.”

Aku dengan puisi bertubi menggambarmu

dengan kata dan dengan apa pun yang tak

mengandung rasa sakit. segala tetap naif.

Kau tak pernah tandang ke pintu puisiku

walau terpasang rambu gelisah pada matamu.

Sudah berkali aku menjumpai putus asa

dan berkali juga kusampul diriku dengan waktu.

Serpihmimpi, 2019


Musim Panas

Detakmu adalah ancaman bagi mangu dedaunan

dan kami yang tergeletak. Hujan masih tenggelam

dalam pusar putaranmu amat rumit ditebak.

Debu semakin lancip seperti peluru dilesatkan angin

dan mata kami penuh berair. Ada yang berteduh dari

perjalanan juga ada yang mengaduh dari kejauhan.

Ketika langit kemerah-merahan matahari sekecil

kelereng. Bayangan seakan ingin melepaskan diri

meninggalkan tubuh yang kerontang musim panas.

Detakmu adalah ancaman bagi burung-burung

kehilangan tempat bernaung. Hujan masih lama

terkurung menangis merindukan rumput dan daun.

Serpihmimpi, 2019.


Menjadi Daun

Aku tak pernah menyalahkanmu,

apalagi angin dan musim atau hujan.

Seandainya kau mendengar aku berkeluh

bukan berarti membenci angin yang menarik

lepas dari ranting tanganmu, musim mewarnai

selembar tubuhku, atau deras hujan

yang mengabur pandangan ke dasar dadamu.

Aku percaya kau bukan pemarah,

karena itu kepada langit aku mengharap waktu.

Mata sulit terbuka menangkap cahaya

dan sejak itu seluruhnya menjadi samar:

kukira itu kepak burung yang biasa bertengger

ternyata maut, menebas habis lajur nadiku;

kukira hujan ternyata tangis yang mengiringku.

Segalanya amat cepat, tanpa kata-kata

tubuh dan bayanganku menyatu di tanahmu.

Kini aku berada dekat dengan akar keabadian

aku ingin menjadi satu-satunya daun di rantingmu

daun besar yang kokoh menghadap hujan;

tak pernah kalah dengan musim, apalagi lemah

oleh angin, daun yang senantiasa meneduh jantungmu.

Sepihmimpi, 2019.


Ketika Akan Tertidur

Jam sudah memberi isyarat hati terlelap

kususun wajahmu dengan sisa sungguh

jarum beranjak seperti menguntit jejak

dan persembunyian terbuka di matamu

Adalah langkah yang patah

kertak dari angka ke angka

dan aku bertahan

di jalan yang tak pernah selesai

Kurengkuh degup yang masih menyebutmu

lalu dinding ini memantul-mantulkannya

siapa di antara kita  yang terpenjara

cintaku atau bayang-bayangmu di kepalaku

Aku sedang dalam jantung waktu

kata-kata seraya melejang

setelah merasa ada tatap dari jauh

entah dari lubuk hati siapa ke arahku.

Serpihmimpi, 2019.


Menunggu

Akhirnya aku mengerti hidup

hanya berlomba menunggu

kita bergilir menjadi sepi

Kau ataupun aku harus tertib

sebuah suara memanggil

sesuai pesanan dan waktu

Seketika kita saling tinggal

terpenggal kata-kata di sini

segala lesap tak terucap

Tanda itu segera muncul

membacakan nama kita

seperti serangkai pengumuman.

Serpihmimpi, 2019.


Pergi

Maka sebuah cinta pun yang rutin kita pelihara

tak mampu menolak adanya sepi, sekeras kita

meramaikan meja dengan peristiwa-peristiwa.

Aku dan mungkin engkau, sudah yakin begini:

bahwa yang tersisa antara kita hanya teng-teng

jam, yang menunjuk waktu tepat untuk sendiri,

atau seguyur hujan menarik-ulur cinta yang gugur.

Setiap saat kita seolah tahu kapan datang hari itu

sekecup dua kecup waktu pada bibir kering kita

seperti sebuah peringatan; cinta tak setia sebetulnya.

Serpihmimpi, 2019.


Irvan Syahril lahir pada 18 November 1997 di Subang, Jawa Barat. Seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Singaperbangsa Karawang. Menggawangi komunitas Gubuk Benih Pena (GBP) serta bergiat dalam ekstrakurikuler Bengkel Menulis Unsika (Bemsika) dan Komunitas Kelas Puisi Bekasi (KPB) dan mengelola blog puisikusyahril.blogspot.com & kailfajar.wordpress.com. Beberapa puisi permah terbit di media cetak dan online. Serta beberapa puisinya termaktub dalam buku antologi puisi bersama Karawang Abadi Dalam Puisi (2018), Kunanti di Kampar Kiri (2018), Kepada Toean Dekker (2018), Bintalak (2018), a Skyful of Rain (2018), Risalah Api (2019), Bisa disapa melalui surel [email protected] dan akun instagram @serpihmimpi.