Cerpen

Frans

Cerpen Erna Surya

Tikus-tikus kecil berlarian di atas kepala Frans. Mereka memakan rambut, lalu kulit kepala lelaki itu hingga lenyap seluruhnya.      Dua telinga Frans berpindah ke bawah ketiaknya, dan matanya kini ada di dada. Frans mulai ketakutan. Ia mendengar suara teriakan orang-orang. Frans tahu betul siapa mereka. Mata Frans menangkap sebuah bayangan.

It’s your turn,” bayangan itu bersuara.

Frans bangun dengan tubuh berkeringat.

***

Frans baru saja meniup lilin ulang tahunnya yang ke empat puluh bersama istri dan kedua putrinya ketika telepon berdering. Sebuah panggilan datang di waktu yang kurang tepat.  Frans sedikit menggerutu setelah mendengar suara dari seorang lelaki yang ia panggil ‘bos’ karena dua alasan: pertama,  ini adalah hari ulang tahunnya yang seharusnya ia habiskan untuk di rumah saja bersama keluarga tanpa harus diganggu dengan berbagai macam pekerjaan. Kedua,  ia sedang tidak siap untuk sebuah misi. Ini adalah hari istimewanya.

“Dia sudah membuat banyak perempuan kehilangan masa depannya,” ucap lelaki itu.  Frans diam sesaat,  kemudian mematikan telepon. Kepada istrinya,  Frans beralasan bahwa seorang pelanggan lama sedang mengalami masalah dengan mobil Chevrolet tuanya dan harus segera diperbaiki karena esok akan dibawa berkendara ke luar kota untuk sebuah urusan mendadak. Dan hanya dirinya yang bisa mengatasi masalah ini.

“Adakah urusan yang lebih penting daripada merayakan ulang tahunmu, Sayang?” tanya istrinya dengan suara lembut, berharap suaminya akan berubah pikiran untuk tetap tinggal di rumah dan menghabiskan waktu bersamanya.  Frans berjanji akan segera kembali setelah semua selesai,  dan ia tak akan melewatkan jam makan malam keluarganya. 
Frans segera memacu mobil ke bengkelnya yang berjarak dua puluh menit perjalanan dari rumahnya. 

Bengkel Frans berada di pinggiran kota, sebuah lokasi yang sangat strategis untuk sebuah usaha bengkel mobil di mana ia bisa mendapatkan harga sewa dengan sangat murah tetapi akses menuju kota pun sangat dekat.  Sedangkan untuk tempat tinggal,  Frans setuju untuk tinggal di sebuah desa kecil di mana istrinya punya lahan yang cukup untuk menanam bunga-bunga. Semenjak menikahi perempuan muda yang berjarak sepuluh tahun di bawahnya itu,  hidup Frans seketika berubah.  Ia tak lagi senang dengan berbagai macam pesta yang menyuguhkan alkohol dan perempuan bersama teman-temannya. Frans juga lebih senang menyisihkan hasil kerjanya untuk amal.  Semua itu karena istrinya senang berbagi dengan orang-orang miskin.  Frans menemukan kedamaian bersama perempuan itu.  Dan kebahagiaan semakin berlipat ketika putri pertamanya lahir dan disusul putri keduanya dua tahun kemudian.

Ketika memasuki bengkel,  Frans tak menemukan siapa pun.  Semua pegawai sudah pulang.  Bau oli menyengat.  Frans segera menuju sebuah ruangan di sudut,  sebuah ruangan yang biasanya ia pakai untuk bersantai di waktu istirahat siang.  Frans segera menggeser posisi meja dengan gerakan sangat cepat.  Lalu ia angkat tiga deret keramik sehingga menimbulkan lubang.  Di tempat itulah tersimpan rahasia Frans.
Frans mengangkat sebuah tas kecil keluar dan segera membukanya. Sudah ada catatan untuknya.

‘Bos’ yang beberapa saat menelepon tadi telah lebih dulu masuk dengan cara rahasia, meletakkan tas itu,  dan pergi lagi dengan cara ajaib tanpa seorang pun tahu.
Sudah ada sebuah catatan tentang siapa yang akan ia eksekusi malam ini,  seorang dokter bedah syaraf yang membuka praktek sampai pukul sepuluh malam setiap harinya.  Bahkan di hari Minggu pun,  ia tak libur.  Berdasarkan catatan itu, Frans tahu bahwa dokter itu memanfaatkan pasien-pasiennya yang masih muda dan cantik untuk pelampiasan nafsunya. Dan semua itu sudah berlangsung selama puluhan tahun.  Dokter itu tak menikah. Namun ia punya seorang putri yang kerap mengunjunginya di hari Minggu siang sekadar untuk mengantarkan makan siang. Tentu saja putrinya tak tertulis secara hukum negara.

Sedangkan tentang seseorang yang ia panggil ‘bos’ itu, Frans sendiri belum pernah bertemu dengannya. Entah dari mana,  lelaki itu tahu bahwa Frans pernah keluar masuk penjara sejak usianya remaja.  Banyak perkara.  Frans pernah memukul kepala tetangganya hingga gegar otak ketika mendapati lelaki itu di rumahnya dan ibunya berteriak-teriak minta tolong. Ibunya gagal diperkosa,  tapi Frans harus masuk penjara untuk beberapa saat.  Kasus lain masih ada.  Frans juga pernah mendapati dirinya tiba-tiba babak belur lantaran mencuri kalung emas di sebuah toko emas kecil di dekat pasar kota. Menjadi kurir narkoba pun pernah ia kerjakan.  Nasib baiknya,  ia belum pernah tertangkap.

‘Bos’ menggali segala informasi tentang Frans dan akhirnya merekrut lelaki itu menjadi timnya.  Frans awalnya menolak. Ia tak ingin kembali ke dalam penjara suatu saat nanti. Kedua putrinya yang menjadi alasan. Frans lebih menikmati kehidupan menjadi seorang montir yang membuka bengkel di pagi hari dan menutupnya di sore hari dengan penghasilan pas-pasan ketimbang berurusan dengan kriminal lagi. Itu sudah cukup asal ia punya banyak waktu untuk keluarganya. Namun semua pikiran itu seketika berubah ketika datang dua pilihan kepadanya: ikut bergabung atau istri dan kedua anaknya dibunuh. 

Frans resmi menjadi anggota tim eksekutor dengan bayaran sangat tinggi.  ‘Bos’ memiliki cukup banyak uang untuk melenyapkan orang-orang yang dianggapnya merusak tatanan dan nilai-nilai kemanusiaan tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Frans salah satu pembunuh bayaran yang paling ia senangi. Gerakan Frans cepat dan rapi.

Frans segera menuju ke sebuah alamat yang tertulis di sebuah kertas kecil.  Ia akan bersembunyi di sebuah tempat rahasia di rumah sang dokter,  muncul ketika dokter itu masuk,  membunuhnya,  menghilangkan jejak,  kemudian pulang.  Ia merencanakan semua itu dengan sangat saksama tanpa menghabiskan banyak waktu.  Sepanjang perjalanan, Frans bernyanyi-nyanyi kecil.  Ia ingat sebuah lagu anak-anak yang dinyanyikan ibunya waktu ia masih kanak-kanak.  Lagu itu pula yang ia nyanyikan untuk kedua putrinya setiap malam menjelang tidur. Frans sangat mencintai keduanya.

Tiba di rumah sang dokter, Frans tak menemukan siapa pun.  Frans semakin yakin bahwa misinya kali ini tak akan mendapatkan kesulitan yang berarti, juga akan memakan waktu singkat saja. Semua sudah ia pikirkan secara detail.  Dengan mengendap-endap,  Frans masuk ke rumah yang tak begitu besar itu.  Pertama, ia perhatian sudut-sudut  rumah tempat biasanya orang memasang CCTV.  Setelah merasa semua aman,  Frans memutuskan untuk bersembunyi di loteng.  Tak berapa lama, Frans mendengar suara mobil datang.  Ia bergerak pelan untuk mencari celah guna pengamatan. Dilihatnya seorang lelaki berjalan memasuki halaman,  teras,  lalu masuk ke rumah.  Frans segera menyiapkan senjatanya dan bersiap turun. Ia bergerak pelan sekali,  sampai tak menimbulkan suara.
Di ruang tengah, Frans bersembunyi di samping lemari besar. Ia melihat targetnya tengah menuang minuman ke dalam gelas.

Dooorrrrr….

Sebuah tembakan mengenai kepala Frans.  Seketika ia roboh. Frans masih bisa melihat darahnya sendiri mengalir dari kepala dan membuat lantai memerah. Tikus-tikus kecil datang lagi. Mereka muncul dari genangan darah lelaki sekarat itu. Frans merasakan kaki-kaki kecil mereka yang berjinjit menaiki hidung dan telinganya. Kini tikus itu tak hanya memakan kepala Frans, tapi semuanya. Suara-suara teriakan datang lagi. Satu per satu wajah-wajah itu muncul di kelopak matanya, dekat sekali. Frans tak sempat meminta ampun lantaran telah menghilangkann nyawa mereka.

Tiba-tiba ia mendengar suara ibunya bernyanyi lagu masa kecilnya. Kemudian suara itu berubah menjadi suara putrinya.

“Tikus kecilmu sudah kulenyapkan, ” suara lelaki itu masih samar terdengar di telinga Frans bersama lagu yang hampir selesai dan akhirnya semuanya benar-benar gelap.

“Terimakasih.  Dia paling membahayakan, ” suara ‘Bos’ di ujung sana.


Erna Surya, suka dengan cerita-cerita dan kata-kata. Seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK. Berdomisili di Klaten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *