Cerpen Rasyid Yudhistira

Di kota ini, cahaya adalah tuhan yang bengis dan lampu-lampu merkuri adalah nabi yang tidak pernah tidur. Mereka melarang bayangan karena dianggap sebagai lubang hitam dalam kesetiaan, sebuah ruang gelap di mana pengkhianatan bisa tumbuh subur tanpa terdeteksi radar keamanan. Setiap orang dipaksa berdiri di bawah pijar dua puluh empat jam, hingga mereka menjadi makhluk-makhluk transparan yang kehilangan kedalaman. Namun, di sebuah sudut gang yang luput dari sorot lampu patroli, aku melihat lelaki bisu itu—si penjahit ingatan—sedang menekuni pekerjaannya dengan khusyuk. Jemarinya yang kasar memegang jarum perak, menusuk kulit-kulit pucat para korban yang telah kehilangan nama, menyatukannya dengan robekan senja yang ia curi dari ufuk terjauh, sebuah perlawanan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh aroma melati dan anyir darah yang mulai menguap ke langit.
Metropolis ini bernama Lux-Aeterna. Sebuah nama yang terdengar seperti janji surga, namun bagi mereka yang merindukan kantuk, ia adalah neraka yang benderang. Di bawah rezim yang memuja kejernihan mutlak, kegelapan adalah musuh negara nomor satu. Undang-Undang Anti-Kegelapan telah menghapus malam dari kalender. Matahari memang terbenam, tetapi ribuan megawatt lampu sorot segera menggantikannya, memastikan tidak ada satu senti pun tanah yang tidak terjamah sinar. Akibatnya, manusia-manusia di Lux-Aeterna kehilangan bayangan mereka sendiri. Mereka berjalan seperti hantu-hantu yang dipaksa eksis, rata dan tanpa dimensi, seolah-olah mereka hanyalah gambar di atas kertas yang disorot lampu dari segala arah.
Saksia adalah bagian dari mesin besar ini, setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia bekerja di gudang tekstil negara, melipat kain-kain putih seragam yang akan dikenakan oleh seluruh penduduk agar pantulan cahaya semakin maksimal. Saksia adalah seorang saksi mata yang bisu—bukan karena ia lahir tanpa suara, melainkan karena ia telah memutuskan bahwa di dunia yang bising oleh dengung trafo listrik, kata-kata hanyalah sampah yang mengotori kesunyian. Namun, di balik bisunya, ia memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih berbahaya ia adalah seorang Penyelundup Senja.
Semuanya bermula ketika suatu malam, saat ia baru saja menutup bengkel rahasianya di ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca, ia menemukan sesosok tubuh. Tubuh itu tergeletak tepat di depan pintu, seperti sebuah paket kiriman maut. Itu adalah tubuh seorang aktivis, seseorang yang pernah berteriak tentang hak-hak atas kegelapan di alun-alun kota sebelum akhirnya dihilangkan oleh Brigade Cahaya.
Tubuh itu mengenaskan. Ia kosong. Bukan hanya nyawanya yang hilang, tapi identitasnya telah dikuras habis. Kulitnya sepucat kertas kalkir, tanpa bekas luka, tanpa tahi lalat, dan yang paling mengerikan tanpa bayangan. Rezim telah menggunakan teknologi radiasi untuk menghapus jejak eksistensialnya. Ia hanyalah seonggok daging tanpa narasi, menunggu untuk dilupakan oleh sejarah yang ditulis dengan tinta cahaya. Saksia menatap mata mayat itu yang terbuka lebar, memantulkan pijar lampu merkuri dari langit-langit gang. Di sana, Saksia tidak melihat kematian, ia melihat sebuah penghinaan terhadap martabat manusia.
Saksia memutuskan untuk pergi. Ia harus melakukan perjalanan ke perbatasan terjauh kota, sebuah wilayah yang disebut Zona Hitam, satu-satunya tempat di mana geografi masih mengizinkan matahari untuk terbenam secara alami tanpa intervensi lampu-lampu raksasa. Wilayah itu adalah tanah terlarang, dipagari kawat berduri dan dijaga oleh menara-menara pengawas yang siap memuntahkan peluru cahaya pada siapa pun yang mendekat.
Dengan mengendap-endap seperti seekor kucing yang mencari lubang tikus, Saksia menembus perimeter. Di sana, ia menyaksikan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh penduduk Lux-Aeterna Senja. Ia melihat bagaimana langit berdarah oleh warna jingga, bagaimana ungu tua perlahan menelan cakrawala, dan bagaimana emas tembaga menyelinap di antara awan-awan.
Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan gunting karatannya. Ini bukan gunting biasa; ini adalah alat yang ia temukan di reruntuhan museum sejarah, sebuah benda yang konon pernah digunakan untuk memotong tali pusar pahlawan-pahlawan masa lalu. Saksia mulai bekerja. Ia menggunting potongan-potongan warna dari langit yang sedang sekarat itu. Ia menggunting warna jingga yang hangat, ungu yang melankolis, dan merah tembaga yang penuh amarah. Ia memasukkan potongan-potongan langit itu ke dalam sebuah kantong kulit kedap cahaya.
Tiba-tiba, suara sirene membelah kesunyian. Sorot lampu dari menara pengawas menyapu padang ilalang. Brigade Cahaya telah mendeteksi anomali pada spektrum warna di wilayah itu. Saksia segera merangkak, membenamkan dirinya ke dalam gorong-gorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam sana, di tempat yang tidak pernah mengenal matahari, ia merasakan ketakutan yang murni. Beton itu berbau lumut dan kencing, tapi baginya, itu adalah tempat yang paling jujur di seluruh kota. Ia mendekap kantong berisi potongan senja itu di dadanya, merasakan kehangatan yang sisa-sisa dari matahari yang asli.
Kembali ke ruang bawah tanahnya, ritual itu pun dimulai.
Saksia meletakkan tubuh aktivis itu di atas meja kayu. Ia menyalakan sebatang lilin kecil—satu-satunya sumber cahaya yang ilegal namun jujur. Ia mengambil jarum peraknya. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, ia mulai menjahit potongan-potongan senja yang ia curi ke dalam pori-pori kulit sang korban.
Tusukan pertama jarum itu membawa kembali sebuah memori suara tawa seorang anak kecil yang sedang mengejar layang-layang di sore hari. Saksia merasakannya merayap di ujung jarinya. Tusukan kedua membangkitkan aroma kopi yang diseduh di dapur pada hari Minggu yang malas. Tusukan ketiga, sebuah kecupan perpisahan di stasiun kereta yang basah. Setiap jahitan adalah upaya memulihkan identitas yang telah dirampas. Kulit yang tadinya pucat dan transparan mulai terisi oleh warna-warna senja yang dalam.
Ini adalah proses yang menyakitkan. Tubuh mayat itu tampak bergetar, seolah-olah sel-selnya menolak untuk kembali menjadi nyata setelah sekian lama dianggap tiada. Namun Saksia tidak berhenti. Ia menjahit nama yang hilang ke dalam nadi, ia menyulam kenangan ke dalam otot.
Keajaiban pun terjadi. Saat jahitan terakhir selesai, tubuh itu tidak lagi menjadi mayat yang kaku. Alih-alih membusuk, tubuh itu perlahan-lahan mulai berpendar dengan warna ungu yang lembut, lalu menguap. Ya, menguap menjadi rintik-rintik hujan.
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Lux-Aeterna diguyur hujan. Tapi itu bukan hujan air biasa. Itu adalah hujan lokal yang hanya jatuh di sekitar gang-gang sempit, dan aromanya bukan aroma tanah kering, melainkan aroma melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun puitis.
Orang-orang di kota mulai terbangun. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka yang benderang, menatap langit dengan bingung. Mereka menyentuh rintik hujan itu, dan mereka yang tersentuh tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Sebuah harapan, yang selama ini terkubur di bawah tumpukan propaganda, mulai tumbuh seperti kecambah di antara retakan aspal. Bisik-bisik mulai menjalar Ada seseorang yang sedang mengembalikan ingatan kita.
Namun, penguasa tidak tinggal diam. Bagi rezim, hujan beraroma melati adalah bentuk pembangkangan sipil yang paling berbahaya. Hujan itu tidak logis. Hujan itu subversif. Mereka segera memperketat pengawasan. Brigade Cahaya dikerahkan dengan kekuatan penuh, membawa lampu-lampu sorot portabel yang mampu membakar kulit.
Saksia tahu waktunya hampir habis. Ia kembali ke mejanya, dan kali ini, ia menemukan tubuh yang berbeda. Tubuh itu masih hangat. Saat ia membersihkan wajah tubuh itu dari debu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajahnya sendiri—atau mungkin bukan dirinya, melainkan bayangan dirinya di masa lalu, atau mungkin kekasih yang telah lama ia lupakan namanya. Di dunia ini, perbedaan antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur saat semua orang dipaksa menjadi sama.
Tiba-tiba, pintu gudangnya didobrak.
Jangan bergerak! Matikan kegelapan itu! teriak seorang komandan Brigade Cahaya.
Lampu-lampu sorot raksasa diarahkan ke arah Saksia. Cahaya putih yang steril dan membutakan menerjang setiap sudut ruangan, menghancurkan sisa-sisa warna senja yang ia simpan dalam botol-botol kaca. Saksia terpojok. Ia merasakan matanya perih, seolah-olah cahaya itu ingin mencongkel keluar bola matanya. Ia tidak bisa lagi melihat warna jingga atau ungu. Semuanya menjadi putih—putih yang hampa, putih yang mematikan.
Namun, Saksia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang masih memegang jarum dan sisa-sisa benang jingga terakhir, ia melakukan sesuatu yang melampaui logika maut. Ia tidak menjahit mayat itu. Ia mulai menjahit sisa-sisa senja terakhir itu ke kulitnya sendiri.
Ia menusuk lengannya, menjahit warna merah tembaga ke ototnya. Ia menusuk dadanya, menyatukan sisa ungu dengan jantungnya. Ia memeluk tubuh korban yang ada di depannya, menyatukan eksistensi mereka dalam satu jahitan yang besar dan semrawut.
Hentikan! teriak sang komandan, tapi suaranya tenggelam oleh dengung energi dari lampu-lampu sorot yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.
Terjadi sebuah ledakan metafisik. Tubuh Saksia tidak hancur karena peluru atau panasnya lampu. Tubuhnya pecah karena ia sudah terlalu penuh dengan langit. Ia meledak menjadi badai hujan darah dan melati yang luar biasa hebat. Hujan itu bukan lagi rintik-rintik kecil, melainkan air bah yang mengguyur seluruh penjuru Lux-Aeterna.
Lampu-lampu merkuri di jalanan mulai korsleting dan meledak satu per satu saat air hujan itu menyentuh kabel-kabelnya. Kota itu sejenak jatuh ke dalam kegelapan yang sudah lama dirindukan.
Pemerintah segera mengeluarkan dekrit baru payung dilarang dan hujan dianggap sebagai infiltrasi asing. Mereka mengklaim bahwa air yang jatuh dari langit adalah limbah kimia yang sengaja disebarkan oleh teroris untuk merusak mental rakyat. Namun, bagaimana kau bisa memenjarakan bau darah yang telah menyatu dengan udara Bagaimana kau bisa melarang hidung untuk bernapas
Beberapa hari kemudian, di alun-alun kota, gubernur berpidato di bawah lampu-lampu cadangan yang baru dipasang, lebih menyilaukan dari sebelumnya. Ia berusaha meyakinkan rakyat bahwa bayangan adalah ilusi, sebuah cacat penglihatan yang harus disembuhkan. Ia bicara tentang kemajuan, tentang masa depan yang tanpa noda.
Tapi ia tidak sadar, saat ia bicara dengan semangat yang meluap-luap, setetes air hujan yang tersisa di atap podium jatuh tepat di lidahnya yang sedang menjilat bibir. Air itu membawa rasa amis sejarah yang berusaha ia hapus—rasa besi, rasa duka, rasa melati. Sang gubernur tersedak sejenak. Dan di bawah podium, di tengah terik lampu yang paling terang sekalipun, sebuah keajaiban terjadi.
Bayangannya sendiri mulai muncul. Bayangan itu tidak patuh; ia tidak mengikuti gerakan sang gubernur. Bayangan itu mulai menari, meliuk-liuk di atas lantai beton, menjahit dirinya sendiri ke tanah dengan benang-benang jingga yang tak bisa diputus oleh gunting mana pun. Dan di seluruh alun-alun, rakyat yang berdiri diam mulai melihat ke bawah kaki mereka. Di sana, di bawah pijar lampu yang angkuh, bayangan-bayangan mereka telah kembali, hitam dan pekat, membawa kembali kedalaman yang telah lama hilang.
Saksia telah hilang, memang. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki suara bisu. Namun ia ada di sana, di setiap aroma melati yang tertinggal di baju penduduk kota, dan di setiap bayangan yang kini berani menentang cahaya. Di negeri itu, ingatan telah menemukan jalan pulangnya, dijahit oleh benang-benang senja yang abadi.
____________________
Rasyid Yudhistira. Penulis yang membawa perspektif unik dari disiplin keteknikan. Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Rasyid dikenal memiliki gaya penulisan khas yang ia sebut “Sexy Simplicity,” mengedepankan diksi ringkas namun menghadirkan kedalaman makna, memadukan sensualitas dengan religius. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Pencapaian terbesarnya adalah ketika karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).













