Cerpen

Negeri Tanpa Bayang-Bayang

Cerpen Rasyid Yudhistira

Di kota ini, cahaya adalah tuhan yang bengis dan lampu-lampu merkuri adalah nabi yang tidak pernah tidur. Mereka melarang bayangan karena dianggap sebagai lubang hitam dalam kesetiaan, sebuah ruang gelap di mana pengkhianatan bisa tumbuh subur tanpa terdeteksi radar keamanan. Setiap orang dipaksa berdiri di bawah pijar dua puluh empat jam, hingga mereka menjadi makhluk-makhluk transparan yang kehilangan kedalaman. Namun, di sebuah sudut gang yang luput dari sorot lampu patroli, aku melihat lelaki bisu itu—si penjahit ingatan—sedang menekuni pekerjaannya dengan khusyuk. Jemarinya yang kasar memegang jarum perak, menusuk kulit-kulit pucat para korban yang telah kehilangan nama, menyatukannya dengan robekan senja yang ia curi dari ufuk terjauh, sebuah perlawanan sunyi yang hanya bisa dimengerti oleh aroma melati dan anyir darah yang mulai menguap ke langit.

Metropolis ini bernama Lux-Aeterna. Sebuah nama yang terdengar seperti janji surga, namun bagi mereka yang merindukan kantuk, ia adalah neraka yang benderang. Di bawah rezim yang memuja kejernihan mutlak, kegelapan adalah musuh negara nomor satu. Undang-Undang Anti-Kegelapan telah menghapus malam dari kalender. Matahari memang terbenam, tetapi ribuan megawatt lampu sorot segera menggantikannya, memastikan tidak ada satu senti pun tanah yang tidak terjamah sinar. Akibatnya, manusia-manusia di Lux-Aeterna kehilangan bayangan mereka sendiri. Mereka berjalan seperti hantu-hantu yang dipaksa eksis, rata dan tanpa dimensi, seolah-olah mereka hanyalah gambar di atas kertas yang disorot lampu dari segala arah.

Saksia adalah bagian dari mesin besar ini, setidaknya di permukaan. Sehari-hari ia bekerja di gudang tekstil negara, melipat kain-kain putih seragam yang akan dikenakan oleh seluruh penduduk agar pantulan cahaya semakin maksimal. Saksia adalah seorang saksi mata yang bisu—bukan karena ia lahir tanpa suara, melainkan karena ia telah memutuskan bahwa di dunia yang bising oleh dengung trafo listrik, kata-kata hanyalah sampah yang mengotori kesunyian. Namun, di balik bisunya, ia memiliki pekerjaan lain yang jauh lebih berbahaya ia adalah seorang Penyelundup Senja.

Semuanya bermula ketika suatu malam, saat ia baru saja menutup bengkel rahasianya di ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik tumpukan kain perca, ia menemukan sesosok tubuh. Tubuh itu tergeletak tepat di depan pintu, seperti sebuah paket kiriman maut. Itu adalah tubuh seorang aktivis, seseorang yang pernah berteriak tentang hak-hak atas kegelapan di alun-alun kota sebelum akhirnya dihilangkan oleh Brigade Cahaya.

Tubuh itu mengenaskan. Ia kosong. Bukan hanya nyawanya yang hilang, tapi identitasnya telah dikuras habis. Kulitnya sepucat kertas kalkir, tanpa bekas luka, tanpa tahi lalat, dan yang paling mengerikan tanpa bayangan. Rezim telah menggunakan teknologi radiasi untuk menghapus jejak eksistensialnya. Ia hanyalah seonggok daging tanpa narasi, menunggu untuk dilupakan oleh sejarah yang ditulis dengan tinta cahaya. Saksia menatap mata mayat itu yang terbuka lebar, memantulkan pijar lampu merkuri dari langit-langit gang. Di sana, Saksia tidak melihat kematian, ia melihat sebuah penghinaan terhadap martabat manusia.

Saksia memutuskan untuk pergi. Ia harus melakukan perjalanan ke perbatasan terjauh kota, sebuah wilayah yang disebut Zona Hitam, satu-satunya tempat di mana geografi masih mengizinkan matahari untuk terbenam secara alami tanpa intervensi lampu-lampu raksasa. Wilayah itu adalah tanah terlarang, dipagari kawat berduri dan dijaga oleh menara-menara pengawas yang siap memuntahkan peluru cahaya pada siapa pun yang mendekat.

Dengan mengendap-endap seperti seekor kucing yang mencari lubang tikus, Saksia menembus perimeter. Di sana, ia menyaksikan sesuatu yang sudah lama dilupakan oleh penduduk Lux-Aeterna Senja. Ia melihat bagaimana langit berdarah oleh warna jingga, bagaimana ungu tua perlahan menelan cakrawala, dan bagaimana emas tembaga menyelinap di antara awan-awan.

Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan gunting karatannya. Ini bukan gunting biasa; ini adalah alat yang ia temukan di reruntuhan museum sejarah, sebuah benda yang konon pernah digunakan untuk memotong tali pusar pahlawan-pahlawan masa lalu. Saksia mulai bekerja. Ia menggunting potongan-potongan warna dari langit yang sedang sekarat itu. Ia menggunting warna jingga yang hangat, ungu yang melankolis, dan merah tembaga yang penuh amarah. Ia memasukkan potongan-potongan langit itu ke dalam sebuah kantong kulit kedap cahaya.

Tiba-tiba, suara sirene membelah kesunyian. Sorot lampu dari menara pengawas menyapu padang ilalang. Brigade Cahaya telah mendeteksi anomali pada spektrum warna di wilayah itu. Saksia segera merangkak, membenamkan dirinya ke dalam gorong-gorong beton yang dingin dan lembap. Di dalam sana, di tempat yang tidak pernah mengenal matahari, ia merasakan ketakutan yang murni. Beton itu berbau lumut dan kencing, tapi baginya, itu adalah tempat yang paling jujur di seluruh kota. Ia mendekap kantong berisi potongan senja itu di dadanya, merasakan kehangatan yang sisa-sisa dari matahari yang asli.

Kembali ke ruang bawah tanahnya, ritual itu pun dimulai.

Saksia meletakkan tubuh aktivis itu di atas meja kayu. Ia menyalakan sebatang lilin kecil—satu-satunya sumber cahaya yang ilegal namun jujur. Ia mengambil jarum peraknya. Dengan ketelitian seorang ahli bedah saraf, ia mulai menjahit potongan-potongan senja yang ia curi ke dalam pori-pori kulit sang korban.

Tusukan pertama jarum itu membawa kembali sebuah memori suara tawa seorang anak kecil yang sedang mengejar layang-layang di sore hari. Saksia merasakannya merayap di ujung jarinya. Tusukan kedua membangkitkan aroma kopi yang diseduh di dapur pada hari Minggu yang malas. Tusukan ketiga, sebuah kecupan perpisahan di stasiun kereta yang basah. Setiap jahitan adalah upaya memulihkan identitas yang telah dirampas. Kulit yang tadinya pucat dan transparan mulai terisi oleh warna-warna senja yang dalam.

Ini adalah proses yang menyakitkan. Tubuh mayat itu tampak bergetar, seolah-olah sel-selnya menolak untuk kembali menjadi nyata setelah sekian lama dianggap tiada. Namun Saksia tidak berhenti. Ia menjahit nama yang hilang ke dalam nadi, ia menyulam kenangan ke dalam otot.

Keajaiban pun terjadi. Saat jahitan terakhir selesai, tubuh itu tidak lagi menjadi mayat yang kaku. Alih-alih membusuk, tubuh itu perlahan-lahan mulai berpendar dengan warna ungu yang lembut, lalu menguap. Ya, menguap menjadi rintik-rintik hujan.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, Lux-Aeterna diguyur hujan. Tapi itu bukan hujan air biasa. Itu adalah hujan lokal yang hanya jatuh di sekitar gang-gang sempit, dan aromanya bukan aroma tanah kering, melainkan aroma melati yang sangat tajam, bercampur dengan bau anyir darah yang samar namun puitis.

Orang-orang di kota mulai terbangun. Mereka keluar dari rumah-rumah mereka yang benderang, menatap langit dengan bingung. Mereka menyentuh rintik hujan itu, dan mereka yang tersentuh tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas. Sebuah harapan, yang selama ini terkubur di bawah tumpukan propaganda, mulai tumbuh seperti kecambah di antara retakan aspal. Bisik-bisik mulai menjalar Ada seseorang yang sedang mengembalikan ingatan kita.

Namun, penguasa tidak tinggal diam. Bagi rezim, hujan beraroma melati adalah bentuk pembangkangan sipil yang paling berbahaya. Hujan itu tidak logis. Hujan itu subversif. Mereka segera memperketat pengawasan. Brigade Cahaya dikerahkan dengan kekuatan penuh, membawa lampu-lampu sorot portabel yang mampu membakar kulit.

Saksia tahu waktunya hampir habis. Ia kembali ke mejanya, dan kali ini, ia menemukan tubuh yang berbeda. Tubuh itu masih hangat. Saat ia membersihkan wajah tubuh itu dari debu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia menatap wajahnya sendiri—atau mungkin bukan dirinya, melainkan bayangan dirinya di masa lalu, atau mungkin kekasih yang telah lama ia lupakan namanya. Di dunia ini, perbedaan antara diri sendiri dan orang lain menjadi kabur saat semua orang dipaksa menjadi sama.

Tiba-tiba, pintu gudangnya didobrak.

Jangan bergerak! Matikan kegelapan itu! teriak seorang komandan Brigade Cahaya.

Lampu-lampu sorot raksasa diarahkan ke arah Saksia. Cahaya putih yang steril dan membutakan menerjang setiap sudut ruangan, menghancurkan sisa-sisa warna senja yang ia simpan dalam botol-botol kaca. Saksia terpojok. Ia merasakan matanya perih, seolah-olah cahaya itu ingin mencongkel keluar bola matanya. Ia tidak bisa lagi melihat warna jingga atau ungu. Semuanya menjadi putih—putih yang hampa, putih yang mematikan.

Namun, Saksia tidak melarikan diri. Dengan tangan yang masih memegang jarum dan sisa-sisa benang jingga terakhir, ia melakukan sesuatu yang melampaui logika maut. Ia tidak menjahit mayat itu. Ia mulai menjahit sisa-sisa senja terakhir itu ke kulitnya sendiri.

Ia menusuk lengannya, menjahit warna merah tembaga ke ototnya. Ia menusuk dadanya, menyatukan sisa ungu dengan jantungnya. Ia memeluk tubuh korban yang ada di depannya, menyatukan eksistensi mereka dalam satu jahitan yang besar dan semrawut.

Hentikan! teriak sang komandan, tapi suaranya tenggelam oleh dengung energi dari lampu-lampu sorot yang dipaksa bekerja melebihi kapasitasnya.

Terjadi sebuah ledakan metafisik. Tubuh Saksia tidak hancur karena peluru atau panasnya lampu. Tubuhnya pecah karena ia sudah terlalu penuh dengan langit. Ia meledak menjadi badai hujan darah dan melati yang luar biasa hebat. Hujan itu bukan lagi rintik-rintik kecil, melainkan air bah yang mengguyur seluruh penjuru Lux-Aeterna.

Lampu-lampu merkuri di jalanan mulai korsleting dan meledak satu per satu saat air hujan itu menyentuh kabel-kabelnya. Kota itu sejenak jatuh ke dalam kegelapan yang sudah lama dirindukan.

Pemerintah segera mengeluarkan dekrit baru payung dilarang dan hujan dianggap sebagai infiltrasi asing. Mereka mengklaim bahwa air yang jatuh dari langit adalah limbah kimia yang sengaja disebarkan oleh teroris untuk merusak mental rakyat. Namun, bagaimana kau bisa memenjarakan bau darah yang telah menyatu dengan udara Bagaimana kau bisa melarang hidung untuk bernapas

Beberapa hari kemudian, di alun-alun kota, gubernur berpidato di bawah lampu-lampu cadangan yang baru dipasang, lebih menyilaukan dari sebelumnya. Ia berusaha meyakinkan rakyat bahwa bayangan adalah ilusi, sebuah cacat penglihatan yang harus disembuhkan. Ia bicara tentang kemajuan, tentang masa depan yang tanpa noda.

Tapi ia tidak sadar, saat ia bicara dengan semangat yang meluap-luap, setetes air hujan yang tersisa di atap podium jatuh tepat di lidahnya yang sedang menjilat bibir. Air itu membawa rasa amis sejarah yang berusaha ia hapus—rasa besi, rasa duka, rasa melati. Sang gubernur tersedak sejenak. Dan di bawah podium, di tengah terik lampu yang paling terang sekalipun, sebuah keajaiban terjadi.

Bayangannya sendiri mulai muncul. Bayangan itu tidak patuh; ia tidak mengikuti gerakan sang gubernur. Bayangan itu mulai menari, meliuk-liuk di atas lantai beton, menjahit dirinya sendiri ke tanah dengan benang-benang jingga yang tak bisa diputus oleh gunting mana pun. Dan di seluruh alun-alun, rakyat yang berdiri diam mulai melihat ke bawah kaki mereka. Di sana, di bawah pijar lampu yang angkuh, bayangan-bayangan mereka telah kembali, hitam dan pekat, membawa kembali kedalaman yang telah lama hilang.

Saksia telah hilang, memang. Ia tidak lagi memiliki tubuh, tidak lagi memiliki suara bisu. Namun ia ada di sana, di setiap aroma melati yang tertinggal di baju penduduk kota, dan di setiap bayangan yang kini berani menentang cahaya. Di negeri itu, ingatan telah menemukan jalan pulangnya, dijahit oleh benang-benang senja yang abadi.

____________________

Rasyid Yudhistira. Penulis yang membawa perspektif unik dari disiplin keteknikan. Lulusan Teknik Industri Universitas Sebelas Maret ini saat ini berkarya di Kementerian Pekerjaan Umum, setelah sebelumnya sempat berkancah di industri manufaktur dan pertambangan. Minatnya terhadap sastra telah ia tekuni sejak 2016, dan ia pernah aktif mengasah kemampuan menulisnya di Komunitas Kamar Kata Karanganyar di bawah bimbingan sastrawan Yuditeha. Rasyid dikenal memiliki gaya penulisan khas yang ia sebut “Sexy Simplicity,” mengedepankan diksi ringkas namun menghadirkan kedalaman makna, memadukan sensualitas dengan religius. Ia telah menerbitkan sekumpulan puisi berjudul Adu Tabah (2020), Sirus Media. Kualitas karyanya terbukti melalui berbagai penghargaan, termasuk Juara 3 Cipta Puisi Olimpus UNS (2019) dan Juara 5 Cipta Puisi Nasional Suakanala (2020) dan beberapa penghargaan lainnya. Pencapaian terbesarnya adalah ketika karyanya terpilih untuk mengisi Antologi Puisi bersama mendiang Sapardi Djoko Damono dalam Menenun Rinai Hujan (2018).

Cerpen

Penjual Bayangan

Cerpen Erna Surya

Setiap malam Minggu, pasar malam itu riuh seperti kerumunan tawon. Komidi putar menjadi sentral. Pedagang berjejer di sekeliling. Anak-anak  berlari membawa balon. Beberapa dari mereka merengek di depan orang tua, dan berakhir dengan tarikan tangan si ibu yang mengajak pulang dengan paksa. Suara musik dangdut berdentam. Bercampur dengan suara ibu-ibu yang menawar panci obral dengan harga sepertiga dari yang ditawarkan. Sementara itu, bapak-bapak lebih memilih mengisap rokok di pinggiran sembari berbincang diselingi tawa.

Dari semua keriuhan itu, tak ada yang memperhatikan lapak paling sudut. Ia berada di bawah lampu yang menggantung lemas seperti leher ayam dipotong setengah. Di sana, lelaki tua dengan topi lebar duduk tenang. Pandangannya mengedar ke seluruh arah, lalu diam lagi. Di hadapannya, tak ada barang jualan. Tak ada rak, tak ada etalase, tak ada poster promo. Hanya selembar kain hitam terbentang, dan di atasnya: bayangan-bayangan. Ya, lelaki itu si penjual ‘bayangan’.

Aneka macam bentuknya. Ada bayangan orang-orang kaya dengan segala macam kemewahannya. Juga bayangan perempuan muda dengan rambut panjang yang cantik dan bertubuh langsing. Bayangan lelaki tinggi berjas yang pintar bermain kata-kata konon katanya yang paling laris di antara semuanya. Bayangan anak kecil hanya sebagai pelengkap, jumlahnya tak banyak. Juga bayangan-bayangan dengan bentuk tak jelas tanpa simbol apa pun.

Mula-mula, orang-orang mengira itu pertunjukan sulap. Beberapa dari mereka mendekat, menunggu pertunjukan apa yang akan ditampilkan lelaki itu. Namun semenit kemudian mereka memutar tubuh dan berjalan menjauh. Kecewa. Merasa sia-sia mengapa harus mengeluarkan antusias yang besar untuk mendekati lelaki itu.

Tapi malam berikutnya, seorang remaja bernama Alin membeli bayangan ramping dan anggun. Sesuai dengan apa yang diinginkannya selama beberapa tahun terakhir ini. Sudah banyak bulian yang masuk ke telinganya lantaran tubuhnya yang terus membesar lantaran banyak makan. Alin kesal. Dan ia berjanji suatu saat akan menjadi berbeda. Sejak itu, bayangan asli Alin tak pernah terlihat lagi. Ia berjalan membuntuti bayangan baru itu, seakan tubuhnya hanya pelengkap.

Alin berubah. Pertama-tama, keluarganya yang menyadari itu. Lama-kelamaan semua orang ikut merasakan perubahannya. Ia mulai berbicara dengan nada genit, langkahnya naik turun seperti ingin menggoda mata lelaki agar melihat pantatnya, matanya lebih nakal dan mengundang birahi. Teman-temannya bilang bahwa itu bukan Alin.

Lalu Doni, sopir ojek online, membeli bayangan bertubuh tegap dan berkumis. Memang sudah lama lelaki itu berambisi ingin jadi anggota DPR. Hanya sekadar mimpi kosong. Faktanya, Doni tetaplah sopir ojek online. Ia bilang ingin lebih disegani banyak orang. Setelah membeli bayangan itu, ia tak lagi mengenal orang tuanya. Setiap kali ibunya memanggil, ia menoleh dengan bingung. “Ibu siapa, ya?”

Lambat laun, lapak si penjual bayangan jadi primadona. Orang-orang antre. Harga tak jadi soal. Seorang dosen tua menukar bayangannya dengan bayangan anak muda agar bisa mengencani mahasiswi yang minta nilai A. Seorang perempuan simpanan membeli bayangan biar tampak seperti istri sah, biar diajak ke pesta-pesta, katanya. Bahkan pejabat kota, diam-diam, membeli bayangan tentara. Setelah itu, ia mulai memberi perintah dengan suara meledak-ledak dan wajah nyaris tanpa ekspresi.

Lalu satu per satu, mereka mulai menghilang. Bukan dalam sekejap. Awalnya tubuh mereka jadi samar, seperti kabut pagi yang enggan bubar. Suara mereka menjadi gema yang memantul sendiri. Akhirnya, yang tersisa hanya bayangan—yang tetap beraktivitas seperti biasa: berbelanja, naik bus, bercermin.

Ketika tubuh-tubuh tak lagi ada, pasar malam berubah. Lampu-lampu tetap menyala, tapi cahayanya dingin seperti api tua yang nyaris padam. Tenda-tenda berdiri, tapi tak ada suara tawa, tak ada bau gorengan, tak ada antrean. Boneka-boneka hadiah tergantung tanpa peminat. Musik masih terdengar dari pengeras suara yang tak pernah dimatikan, tapi iramanya melambat, seperti rekaman yang digerus usia.

Bayangan-bayangan masih mondar-mandir, membeli minuman dari warung yang dijaga bayangan lain. Mereka bermain kora-kora, naik bianglala, memotret diri di cermin—semuanya tanpa tubuh, tanpa suara, tanpa napas.

Udara di pasar malam itu seperti disaring dari kenangan yang buruk: lembab, kosong, menggantung. Angin berhembus pelan, membawa aroma asap kemenyan yang entah dari mana. Sesekali terdengar suara derit besi tua dari wahana permainan yang bergerak sendiri. Kota perlahan berubah jadi museum bayangan.

Di malam ke-77 sejak lapak itu muncul, jurnalis tua bernama Pak Winarto datang membawa pena dan catatan. Ia satu-satunya orang yang belum membeli bayangan. “Saya lebih suka bayangan saya sendiri,” katanya. “Meski jelek dan bungkuk.”

Ia duduk di depan lapak itu. Penjual bayangan masih sama: diam, wajahnya tak kelihatan karena tertutup bayangannya sendiri.

“Apa sebenarnya yang kau jual?” tanya Pak Winarto.

“Apa yang orang-orang cari,” jawab si penjual.

“Dan itu?”

“Bayangan yang mereka inginkan. Bayangan yang mereka bayangkan tentang diri mereka.”

Pak Winarto mengangguk. Ia menulis sesuatu. Pena di tangannya bergetar. Bayangannya sendiri tiba-tiba menjauh sedikit, berdiri tak sejajar.

“Apa yang terjadi pada mereka yang menghilang?” tanya Pak Winarto.

“Mereka tak tahan jadi palsu terlalu lama. Tubuh tak bisa hidup dalam kepalsuan. Maka bayangan mengambil alih.”

“Dan tempat ini?”

“Sudah lama kehilangan cahaya. Sekarang hanya tinggal bayangan yang merayap.”

Pak Winarto menatap langit. Tak ada bintang. Ia menulis kalimat terakhir: Manusia kini hanya ingin menjadi apa yang tampak, bukan apa yang nyata. Maka, yang nyata pun lenyap pelan-pelan.

Ia menutup buku catatannya. Saat bangkit berdiri, ia sadar: tak ada suara jejak kaki. Tubuhnya sepenuhnya terhisap bayangan. Pak Winarto menghilang.

Tapi lapak itu tetap ada. Pak Winarto lupa bahwa dulu ia sangat idealis dalam menuliskan pemberitaan. Kini entah ke mana idealisme itu setelah menyaksikan setumpuk uang di hadapannya. Konon katanya, itu dari pengusaha yang sengaja membuang limbah ke sungai dan meminta Pak Winarto untuk menulis berita yang lain saja, jangan tentang pencemaran sungai yang sudah meracuni banyak warga.

Suatu hari, saat kota lain mulai penasaran dan mengirim utusan, mereka hanya melihat bayangan-bayangan yang menjual bayangan-bayangan lain.

Tak ada tubuh, tak ada wajah. Ketika salah satu utusan memutuskan membeli satu bayangan gagah milik seseorang yang entah siapa, ia pun tidak kembali.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.

Cerpen

Kamar Belakang

Cerpen Erna Surya

Aku tidak pernah mengunci pintu kamar belakang. Istriku yang memintanya. Katanya supaya udara tetap masuk. Katanya supaya tidak lembap. Katanya supaya tidak seperti gudang. Padahal memang itu gudang.

Sebelum anak itu datang, ruangan itu hanya berisi kardus bekas, kipas rusak, dan koper lama yang tidak pernah kami buka lagi sejak pindah rumah. Setelah anak itu datang, semua barang kami keluarkan. Kami bersihkan lantainya. Kami beli kasur tipis. Kami tidak beli lemari. Anak itu tidak punya banyak barang.

Namanya Damar. Umurnya sembilan tahun waktu pertama kali datang. Anak dari adik istriku. Orang tuanya kecelakaan motor di jalan provinsi. Mati di tempat. Tidak ada yang mau mengurusnya.

“Kita saja,” kata istriku waktu itu. Aku tidak langsung jawab.

Aku hanya melihat foto anak itu yang dikirim lewat WhatsApp. Kulitnya gelap. Matanya kosong. Seperti tidak sedang melihat siapa pun.

“Kita tidak punya anak,” kata istriku lagi. Aku tetap tidak jawab.

Dua minggu kemudian, anak itu sudah tidur di kamar belakang.

***

Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama. Damar bangun pagi, makan, duduk, kadang membantu Rani, istriku, di dapur kalau diminta. Dia tidak pernah meminta sesuatu. Tidak pernah rewel. Tidak pernah mengganggu.

Aku memperhatikannya dari jauh. Cara dia berjalan, cara dia duduk, cara dia menatap sesuatu. Ada yang tidak pas. Tapi aku tidak bisa menjelaskannya dengan tepat. Seolah-olah dia tidak benar-benar hadir.

Suatu malam, aku bangun karena ingin ke kamar mandi. Rumah gelap. Lampu di ruang tengah mati. Tapi dari arah kamar belakang, ada cahaya. Pintunya terbuka sedikit.

Aku mendekat tanpa suara. Dari celah itu aku melihat Damar duduk di lantai. Dia tidak memakai baju. Hanya celana pendek. Tubuhnya kurus. Tulang bahunya menonjol. Dia tidak bergerak. Tidak sedang bermain. Tidak sedang melakukan apa pun. Hanya duduk.

Aku berdiri di sana beberapa detik, menunggu dia menyadari keberadaanku. Tapi dia tidak menoleh. Tidak bereaksi. Seolah-olah aku tidak ada. Akhirnya aku kembali ke kamar.

Aku tidak menceritakan itu kepada Rani.

Beberapa hari kemudian, aku kehilangan uang. Tidak banyak. Seratus ribu. Tapi aku yakin aku menyimpannya di dompet. Aku bukan tipe orang yang ceroboh soal uang. Aku tidak langsung menuduh,hanya mencoba memastikan.

Saat makan malam, aku bertanya dengan nada biasa.

“Damar, kamu ambil uang Om?”

Dia menggeleng. “Tidak.”

Jawabannya cepat. Tidak ragu. Aku melihat matanya. Tetap datar. Tidak ada perubahan.

Rani langsung menyela. “Ngapain kamu nuduh anak kecil?”

“Aku cuma tanya.”

“Ya jangan begitu.”

Nada suaranya berubah. Lebih tajam. Aku tidak melanjutkan.

Malamnya, aku masuk ke kamar belakang saat Damar sudah tidur. Aku membuka tas kecilnya pelan-pelan. Tidak ada banyak barang di dalamnya. Dua baju, satu celana, dan sebuah plastik kecil. Di dalam plastik itu ada uang. Lebih dari yang hilang dariku. Aku menutup tas itu kembali tanpa mengambil apa pun, lalu keluar tanpa suara.

Sejak itu, aku mulai lebih sering memperhatikan. Damar sering bangun malam. Tidak selalu, tapi cukup sering untuk membuatku sadar itu bukan kebetulan. Kadang dia duduk seperti yang kulihat sebelumnya. Kadang berdiri di dekat pintu. Kadang menghadap ke sudut ruangan. Dia tidak pernah menangis. Tidak pernah mengeluh. Rani tetap menganggap semuanya normal.

“Anak trauma memang begitu,” katanya suatu kali ketika aku menyinggungnya.

Aku tidak yakin dia benar. Tapi aku juga tidak ingin berdebat.

***

Suatu sore, aku pulang lebih cepat dari biasanya. Rumah sepi. Rani belum pulang kerja. Aku meletakkan tas di ruang tengah dan langsung menuju dapur. Tapi langkahku berhenti ketika melihat pintu kamar belakang terbuka.

Aku mendekat. Damar ada di dalam. Dia sedang memegang ponsel. Aku justru baru tahu kalau Damar punya ponsel. Dia menatap layar dengan serius. Jarinya bergerak pelan. Membuka sesuatu. Lalu berhenti.

“Ngapain?”

Suaraku membuatnya kaget. Ponsel itu jatuh ke lantai. “Tidak apa-apa,” katanya cepat.

Aku mengambil ponsel itu. Layar masih menyala. Ada foto. Foto Rani. Tanpa pakaian. Tanganku tiba-tiba gemetar. Aku tidak tahu kapan foto itu diambil.  Aku menatap Damar.

“Apa ini maksudnya?”

Dia tidak menjawab. Aku mendekat. Memegang lengannya.

“Kamu ngerti ini apa?”

Dia tetap diam. Tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Aku menamparnya. Tidak terlalu keras. Tapi cukup membuatnya jatuh ke samping. Dia tidak menangis. Tidak berteriak. Dia hanya menatapku. Tatapannya tetap sama seperti pertama kali aku melihatnya di foto. Kosong.

Malam itu, aku menceritakan semuanya kepada Rani. Aku pikir dia akan marah kepada Damar. Ternyata tidak. Dia marah kepadaku.

“Kamu mukul anak kecil?”

“Dia punya ponsel!”

“Terus?”

“Ada foto kamu di situ.”

“Terus kamu mukul dia?”

Aku tidak punya jawaban yang bisa dia terima. Rani berdiri dan pergi ke kamar belakang. Aku tidak ikut.

Dari ruang tengah, aku mendengar suaranya pelan. Seperti sedang menenangkan seseorang. Aku tidak mendengar suara Damar. Itu membuatku lebih tidak nyaman.

***

Sejak malam itu, sesuatu berubah. Pintu kamar belakang mulai dikunci. Bukan olehku. Oleh Rani. Dari luar.

Aku tidak pernah melihat langsung kapan dia menguncinya. Tapi setiap malam, setelah Damar masuk, pintu itu tertutup dan tidak bisa dibuka dari dalam. Aku sempat bertanya sekali.

“Kenapa dikunci?”

Rani menjawab singkat. “Supaya dia tidak keluar malam-malam.”

Aku tidak membantah. Aku juga tidak setuju. Aku hanya diam.

Damar tidak keluar lagi dari kamar itu. Makanannya diantar. Air minumnya diantar. Kadang Rani masuk sebentar, lalu keluar lagi. Aku jarang pergi ke kamar belakang. Hanya sesekali, saat pintu terbuka, aku bisa melihat bayangan tubuhnya di dalam.

Hari-hari selanjutnya, rumah tetap berjalan seperti biasa. Kami tetap bekerja. Tetap makan bersama, meski sekarang hanya berdua. Tidak ada pembicaraan tentang apa yang sedang terjadi. Seolah-olah kami sepakat untuk tidak menyentuhnya.

Beberapa hari kemudian, bau mulai muncul. Awalnya samar. Aku pikir dari saluran air. Rani bilang mungkin dari luar. Kami tidak terlalu memikirkannya. Tapi bau itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Aku mulai merasa tidak nyaman setiap kali melewati lorong menuju kamar belakang.

Suatu sore, aku berhenti di depan pintu itu. Pintunya tertutup. Terkunci. Aku mengetuk pelan.

“Damar.”

Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap tidak ada suara. Aku melihat Rani yang berdiri di ruang tengah.

“Kamu buka!” kataku.

Dia tidak bergerak.

Aku mendekat padanya.

“Kamu buka sekarang!”

Dia tetap diam. Aku tidak menunggu lagi. Aku mengambil kunci yang tergantung di dekat dapur. Tanganku sedikit gemetar saat memasukkannya ke lubang kunci. Aku memutarnya perlahan.

Pintu terbuka.

Bau itu langsung keluar. Lebih kuat dari sebelumnya. Aku tidak masuk. Aku hanya berdiri di ambang pintu. Rani berdiri di belakangku. Aku bisa merasakan napasnya. Kami tidak bicara.

Tidak ada yang bergerak. Aku menutup pintu itu kembali. Perlahan.

***

Malam itu, kami tetap tidur seperti biasa. Lampu dimatikan. Tidak ada percakapan. Tidak ada keputusan. Kami berbaring di tempat tidur masing-masing, menghadap arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah Rani tidur. Aku sendiri tidak benar-benar tidur.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal. Rumah masih sunyi. Aku berpakaian tanpa suara. Saat hendak keluar, aku berhenti di lorong. Melihat ke arah kamar belakang. Pintunya sedikit terbuka. Aku tidak ingat pernah membukanya lagi. Aku tidak melihat ke dalam. Aku tidak mendekat. Aku hanya berdiri beberapa detik. Lalu pergi. Aku tidak tahu siapa yang membuka pintu itu. Dan aku tidak yakin aku ingin tahu.

Klaten, 30 Maret 2026

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Pada Sebuah Malam

Cerpen Erna Surya

Gang itu selalu berbau air got. Aku sudah hafal baunya seperti hafal garis-garis di telapak tanganku sendiri. Malam turun pelan-pelan, dan lampu-lampu kuning menggantung dengan cahaya remang. Di kursi plastik yang retak, aku duduk bersama dua perempuan lain, menunggu nasib datang dalam bentuk laki-laki dengan uang.

Aku menyalakan rokok, menghisapnya dalam-dalam, lalu membiarkan asapnya keluar dari hidung. Rasanya seperti mengusir sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi. Sesuatu itu semacam kekhawatiran bila esok aku tak bisa makan, atau pekan depan tak ada uang yang bisa kukirimkan ke kampung. Panen gagal, bapak sudah berkabar kemarin.

“Sepi,” kata Santi di sebelahku.

“Belum jamnya,” jawabku.

Padahal kami tahu, kadang bukan soal jam. Kadang soal keberuntungan, kadang soal muka, kadang soal siapa yang lebih dulu berdiri saat ada lelaki lewat. Dunia kecil kami punya hukum yang tidak tertulis, tapi ditaati.

Lalu aku melihatnya.

Seorang lelaki muda berdiri di mulut gang. Aku melihatnya seperti orang tersesat yang tidak yakin apakah ia benar-benar ingin menemukan jalan kecil ini. Wajahnya biasa saja, terlalu biasa malah, seperti wajah-wajah yang mudah dilupakan. Tapi ada sesuatu di matanya. Aku bisa menangkapnya di tengah cahaya remang ini.

Aku melambaikan tangan. “Mau main, Mas?”

Ia mendekat pelan-pelan, aku melihat ada ketakutan di matanya.

“Yang murah,” katanya.

Aku tertawa kecil. “Semua di sini murah. Tinggal kuat-kuatan saja.”

Ia tidak ikut tertawa. Hanya menatapku sebentar, lalu mengangguk.

Aku berdiri, mematikan rokok dengan ujung sandal, lalu memberi isyarat agar ia mengikutiku. Kami masuk ke gang sempit yang hanya cukup untuk satu orang berjalan. Ia berjalan di belakangku. Kulihat langkahnya ragu-ragu. Aku bisa merasakan tatapannya di punggungku.

Di kiri kanan, pintu-pintu terbuka sedikit. Potongan hidup orang lain berjatuhan seperti serpihan kaca: seorang ibu memarahi anaknya yang menangis, seorang lelaki tua batuk sambil meludah ke lantai, televisi menyala dengan suara yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.

“Pertama kali?” tanyaku.

Ia tidak langsung menjawab. Lalu pelan-pelan, ia mengangguk.

Aku tersenyum, meski ia tidak bisa melihatnya. “Kelihatan.”

Kami sampai di kamarku. Kecil, pengap. Dindingnya mengelupas. Kasur tipis tergeletak di lantai, sprei lusuh bergambar kartun yang dulu mungkin lucu, sebelum semuanya jadi seperti ini.

“Duduk saja,” kataku.

Ia duduk di ujung kasur, kaku seperti patung yang belum selesai dipahat.

Aku membuka jepit rambut, membiarkan rambutku jatuh berantakan. Aku sudah melakukan ini ratusan kali, gerakan yang sama, urutan yang sama, seperti ritual yang kehilangan makna tapi tetap dijalankan.

“Kamu kerja apa?” tanyaku.

“Tidak kerja.”

“Sekolah?”

“Tidak juga.”

Aku menoleh. “Terus ngapain?”

Ia berpikir lama, seperti pertanyaan itu terlalu besar untuk dijawab.

“Hidup saja,” katanya akhirnya.

Aku tertawa kecil. “Semua orang juga begitu.”

Tapi entah kenapa, dari mulutnya, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lain. Aku mulai membuka pakaianku. Satu per satu. Seperti menghitung sesuatu yang tidak pernah selesai.

“Mau cepat atau lambat?” kataku.

Ia menatapku. Terlalu lama.

Aku berhenti. “Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” katanya.

Udara dingin tiba-tiba menyentuh kulitku, tapi aku sudah kebal. Tubuh ini bukan lagi milikku sepenuhnya. Ia sudah dibagi-bagi menjadi waktu dan tarif.

Ia mendekat. Tangannya menyentuh lenganku dengan hati-hati, seperti aku ini kaca yang bisa pecah kapan saja. Aku hampir tertawa, bukan karena lucu, tapi karena aneh.

“Kamu unik,” kataku.

“Ibu saya bilang begitu juga,” jawabnya.

“Ibumu masih hidup?”

Ia mengangguk.

“Baik?”

Ia diam. Matanya beralih ke cermin retak di sudut ruangan. Bayangannya terbelah-belah.

“Kadang. Tapi banyak tidak baiknya,” katanya pelan.

Aku tidak bertanya lagi. Aku sudah belajar bahwa beberapa jawaban hanya akan melukai kalau dipaksa keluar.

Kami berbaring. Kasur berderit, seperti mengeluh pada nasibnya sendiri.

Setelah semua selesai, ia terus menatapku.

“Jangan dilihatin terus,” kataku. “Bikin risih.”

Ia mengalihkan pandangan, tapi sebentar saja. Lalu kembali lagi, lebih dalam, lebih tajam.

“Kamu pernah ingin mati?” tanyanya tiba-tiba.

Aku tertawa. “Setiap hari.”

“Kenapa tidak?”

“Belum sempat,” jawabku. “Utang masih banyak.” Tiba-tiba, aku teringat pada rentenir yang akan menagih uang esok pagi.

Ia mengangguk, lalu ia mulai bercerita. Tentang kucing yang ia lihat di pinggir jalan. Tentang suara kereta di malam hari. Tentang seorang anak perempuan yang menangis di halte. Cerita-cerita kecil yang tidak penting, tapi ia ceritakan dengan keseriusan yang membuatku tidak enak untuk memotongnya.

Kadang ia berhenti di tengah kalimat, menatap ke sudut ruangan, lalu melanjutkan seolah-olah tidak ada yang terjadi. Aku mulai merasa lelah. Tapi ada sesuatu yang membuatku tetap diam. Mungkin rasa ingin tahu. Mungkin juga rasa takut yang pelan-pelan menyusup.

“Kamu sering ke sini?” tanyaku, mencoba mengalihkan.

Ia menggeleng.

“Kenapa ke sini?”

Ia tersenyum tipis. “Disuruh.”

“Siapa?”

Ia tidak langsung menjawab. Matanya kembali ke cermin retak itu.

“Mereka,” katanya.

Aku mengerutkan kening. “Mereka siapa?”

Ia menatapku lagi. “Yang suka bicara.”

Aku tertawa, tapi terasa kering. “Kamu bercanda ya?”

Ia tidak tertawa.

Di luar, suara orang bertengkar terdengar. Botol pecah. Seseorang berteriak. Dunia terus berjalan seperti biasa, tapi di dalam kamar ini, aku merasakan waktu  seperti tersangkut di sesuatu yang tak terlihat.

“Kamu minum?” tanyaku setelah merasakan ada sesuatu yang aneh di bola matanya.

“Tidak.”

“Obat?”

Ia menggeleng.

Aku ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi kata-kata terasa seperti tidak punya tempat untuk jatuh. Ia menyentuh wajahku. Kali ini tidak selembut tadi. Ada tekanan kecil, seperti ingin memastikan aku benar-benar ada.

“Kamu mirip,” katanya.

“Mirip siapa?”

Ia tidak menjawab. Tiba-tiba, aku merasa ruangan ini terlalu sempit. Udaranya terlalu tebal. Seperti ada sesuatu yang ikut masuk bersama kami tadi, dan sekarang berdiri di sudut, menonton.

Lalu semua gelap. Tapi, aku masih bisa mendengar suara terakhirnya: Ibuku. Dia suka pukul aku.

***

Orang-orang bilang aku mati malam itu. Mereka menemukan tubuhku di kasur esok harinya, dengan mata yang masih terbuka. Seolah-olah aku belum selesai melihat sesuatu.

_____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Nasib

Cerpen Drew Andre A. Martin

“Perhatikan mereka,” bisik Maria ke telingaku dengan bola matanya melihat seseorang yang dibicarakan. Mendengarnya, aku terkekeh seraya menelangkupkan telapak tangan ke bibirku. “Benar, kan?!” Kembali Maria berucap dengan cukup lantang dan percaya diri, sembari kami melanjutkan perjalanan.

Kalina, namaku. Sedangkan Maria, temanku sejak kami balita. Usia kami tak terpaut tahun. Aku, lahir di bulan Mei, sedangkan Maria di bulan Desember. Berbeda dengan usia kami yang terpaut jauh oleh bulan, nasib kami amat sama. Aku bekerja sebagai penyemir sepatu dan pelukis jalanan. Sedangkan Maria, pengamen. Rute jalan menuju kantor—salah satu cara kami mencintai nasib—berlawanan arah saat sampai di perempatan jalan. Maria, ke arah barat. Sedangkan aku ke timur.

Menjadi penyemir sepatu bukanlah perkara mudah di akhir-akhir ini. Orang-orang beralih dari sepatu kulit ke sepatu canvas. Kadang juga, satu per satu langgananku, mulai menyemir sepatunya sendiri di rumah, apalagi harga semir tak begitu mahal akibat turunnya peminat. Karenanya, aku mencoba menjadi pelukis jalanan. Biasanya aku pergi ke kantor hanya membawa sikat sepatu dan semir, sekarang aku juga membawa peralatan lukis di dalam tasku. Sempat terpikir olehku, untuk melukis gambar di sepatu-sepatu canvas, mungkin nanti.

Sesampainya di kantorku—tempat biasa aku berhenti untuk menawarkan jasa semir sepatu dan melukis—seorang laki-laki yang kutaksir usianya empat puluhan, menghampiriku. Bertanya dia. “Mbaknya sudah nggak nyemir lagi?”

“Masih, Pak.”

“Tolong semirkan sepatu saya.”

“Silakan duduk di sini, Pak.”

Bapak itu duduk. Bersandar dia di tempat duduknya. Sepatu yang dikenakannya bertumpu ke kursi kecil. Sengaja kupersiapkan agar sepatu tak perlu dilepas.

“Kamu melukis juga?” tanya bapak itu dengan matanya yang terfokus di layar ponselnya.

“Iya, Pak,” jawabku sembari tetap fokus menyemir. “Kalau Bapak mau, saya bisa melukis sesuai keinginan Bapak.” Berharap, si bapak tersebut mengiyakan.

“Boleh, tapi …” Sebentar dia, melihat arloji di lengan kirinya. “Ah, tidak masalah. Untuk harga, murah, ‘kan?”

“Bagi Bapak, tentulah murah,” jawabku setelah menyelesaikan pekerjaan menyemir sepatunya, sembari mendongakkan kepala dan tersenyum.

“Berapa?”

Kedua matanya nyaris keluar saat melihat daftar harga melukisku. Seolah ada yang salah soal harga. Kujawab, tentulah tidak, Pak. Itu sudah benar.

“Terlalu mahal kurasa dengan harga lima belas ribu, nyaris sepadan dengan harga jasa semir sepatumu.”

“Itu sangat murah bagi Bapak.” Tak lupa aku memuji penampilannya dengan sangat baik di hari ini. Kata Maria, aku harus melakukan pujian, karena orang-orang yang berada tak seperti kami, amatlah suka bila diberi pujian, apalagi dibesarkan segala kebaikannya, meski sebenarnya tak baik.

Menurut Maria, hanya itu yang bisa membuat mereka membeli apa yang sebenarnya tak ingin mereka beli. Ibarat kata, mereka membayar pujian yang sudah kadung, ketimbang membeli produk barang atau jasa. Imbuh Maria, orang-orang rendahan, orang-orang miskin di mata mereka, kepalang tanggung kalau tidak memerankan nasib yang sudah jadi nasibnya.

“Kau gila! Apa kau tak ingin memiliki nasib seperti mereka?” Aku menghardik Maria.

“Kau sama saja seperti mereka.” Maria melirik dengan tawa menyebalkan. “Kau mengataiku gila, sedangkan kau pun gila. Mana mungkin, aku tidak mau jadi seperti mereka? Tentulah aku mau.”

“Ucapan adalah doa. Kau sendiri, ‘kan yang mengajarkan itu kepadaku? Termasuk idemu menyebut kantor untuk tempat kita bekerja.” Aku kesal, Maria menjadi munafik.

Maria tertawa dengan jeda, lalu membuang muka, lanjut meludah. “Cara untuk bahagia, ya …, dengan cara itu. Mencintai nasib. Dan saat kau sudah mencintai nasib dengan baik, maka amatlah kepalang tanggung, jika kau tidak totalitas memerankannya.”

“Memerankan nasib atau memanfaatkan keadaan?” tanyaku dengan merendahkan intonasi.

“Memerankan nasib.”

Berulang kali aku mencoba memerankan nasibku.

Sejujurnya memerankan nasib, nyatanya membuahkan hasil di tiap harinya. Namun, tidak dengan hari ini. Entah aku kurang totalitaskah? Atau, bukan hariku? Atau, justru bapak itulah yang lebih totalitas memerankan nasibnya?

“Kalau sepuluh ribu, mungkin aku mau. Itu pun kalau kamu mengiyakan,” ujar bapak tersebut.

“Boleh, Pak. Setidaknya bisa membuat Bapak senang.”

“Tidak-tidak, akulah yang justru membutamu senang. Selain aku membeli jasa semir, aku juga membeli produk lukisanmu.”

“Terima kasih, Pak.” Aku menahan emosi.

Sejak hari itu, aku menjadi tahu apa yang pernah dibicarakan Maria kepadaku. Jika ingin tidak kena masalah, jangan sekali-kali adu nasib dengan orang-orang yang beruntung, Harga dirimu bisa dibelinya.

Soal harga diri yang dibelinya itu, menurut dia tidaklah sama dengan merendahkan diri untuk mendapatkan keuntungan. Aku menyipitkan mata, kemudian disusul dengan melipat kedua lengan, jari telunjuk kanan, mengetuk lengan kiri. Kau akan tahu sendiri. Kau tak akan mengerti yang kumaksud Kalina, kalau kau tak mengalaminya sendiri nanti. Penjelasanku yang berupa ucap kata ini, tak akan mampu dicerna dengan baik oleh lambung di kepalamu. Maria tertawa puas. Aku, mencoba ikut tertawa juga, setidaknya aku mencoba tak cukup keras dengan diri dan nasib yang perlahan-lahan sedang kucoba nikmati dan kucintai sepenuhnya.

Diulurkan oleh si bapak sekerat foto yang sedikit usang. “Lukislah ini. Nanti pukul lima sore, aku ambil.”

“Kalau besok pagi diambilnya bagaimana?”

“Aku bisanya sore ini. Kalau kamu tidak bisa, ya, tidak apa-apa. Aku urungkan.”

“Baik, akan selesai hari ini.”

Bapak itu tersenyum tipis, lalu pergi meninggalkan kantorku.

Mendengkus lalu aku. Ditolak tidaklah mungkin, karena butuh uang. Tak ditolak pun, harga bayar jasa tak sepadan dengan usaha melukis foto dengan kondisi gambar yang tidak memungkinkan. Kalau sudah begini, kata terakhir yang sekaligus meredakan sesal, kesal, amarah, ialah kata-kata Maria yang kemudian kulontarkan dengan suara yang hanya bisa didengar oleh kedua telingaku. “Mari kita memerankan peran kita dengan totalitas!”

Datang lalu seorang ibu. Membawa tas keresek besar, berisi lima pasang sepatu milik anak laki-lakinya.

“Tak jadi masalah jika tidak bisa selesai hari ini. Aku hanya minta kau selesaikan sepasang saja, bisa, ‘kan?” pinta ibu yang baru datang ke kantorku, setelah kukatakan alasanku tidak bisa menyelesaikan menyemir hari itu.

“Boleh, Bu. Tapi untuk empat pasang, benar-benar boleh saya selesaikan besok?”

“Iya, tidak apa-apa.”

Selesai kusemir, ibu tersebut pergi. Dia membayarnya lunas. Bahkan memberikan tips yang lumayan banyak. “Terimalah semua.”

Kudongakkan kepalaku melihat hamparan langit biru di atas dengan senyum yang terkembang, sembari ucap, “barangkali ini adalah usaha memerankan dan mencintai nasib dengan benar.”

Sejenak sebentar, aku merasa geli. Lama-lama bahasaku, agaklah seperti Maria. Tapi, tak salah juga. Dengan cara itu, aku tak terlalu keras dengan nasib. Tak pula marah menyalak kepada ibu dan bapak, yang tak memberikan kewajibanku sebagai seorang anak, sepertinya, yang kini berhasil menjadi seorang manusia yang benar-benar mencintai dengan ikhlas pada nasib sendiri.

***

“Hei! Kau juga belum pulang? Untung saja di perempatan jalan tadi, aku tak langsung menuju rumah. Ke sini, mampir beli es teh langgananku.” Maria melihat wajahku dengan wajah simpan tanda tanya.

“Lembur.”

“Aduh, duh, rezeki besar nih!” Maria menepuk bahuku.

“Syukurlah. Kau tidak ingin bertanya, berapa ongkos lukisan ini?”

“Berapa memangnya?”

“Sepuluh ribu.” Aku tertawa.

Bukannya ikut tertawa, Maria tercengang. Untungnya dia tak marah seperti bisanya. “Kau serius? Sedetail ini? Melukis gambar dua orang, ditambah lagi dengan pepohonan rindang dan rerumputan, sepuluh ribu?” Maria masih tidak percaya.

“Apa aku terlihat sedang berbohong?”

Maria menggeleng.

“Kau gila!”

“Kau pun juga gila!”

Kami tertawa bersama-sama.

“Bukankah begini harusnya memerankan nasib? Sedikit banyak harus kita iyain, selain nikmatin?”

“Kau terlalu gila, Kalina! Kau banting harga dirimu di bawah rata-rata kerendahan status sosialmu.” Maria tertawa, lantas terdiam sejenak. “Maksudku, rata-rata kerendahan status sosial kita. Ya, kerendahan status sosial kita, Kalina!” Maria tersenyum garis dan memelukku.

“Sekali, dua atau tiga kali, tak masalah, ‘kan?” tanyaku sembari merapikan alat-alat semir dan lukis.

“Lima, enam atau berkali-kali juga tidak masalah. Asal jangan terlalu sering juga, laaah! Itung-itung sebagai, jeda lelah.”

“Jeda lelah? Kurasa tidak.” Aku menyangkal.

“Lalu?”

“Membuat bahagia orang-orang yang ngakunya berduit, kaya raya, tapi aslinya kere!”

“Udah pinter nih, Kalina!”

Kami tertawa lagi dan lagi. Tak peduli banyak orang melihat ke arah kami.

“Tunggu-tunggu.”

“Kenapa, Maria?”

“Bukan aslinya, kere sih.”

“Terus?”

“Yaaa, emang kere!” Maria tertawa paling keras.

“Garing!”

“Enggak … Enggak. Ini serius, Kalina.”

“Awas kalau garing!”

“Ya, emang …” Maria menggantungkan ucapannya.

“Kere, lagi!”

“Bukan-bukan.” Ada jeda sebentar saat dia selesaikan tawa gelinya. “Ya, karena dia tidak siap aja jadi kere. Kebutuhan pamer ke orang-orang aja, harganya tinggi, tak sebanding dengan  kemampuan daya beli barang yang benar-benar miliki kualitas! Dia takut, uangnya habis sedikit demi sedikit karena gengsinya, sih yah.”

“Terus yang kere siapa dong?” tanyaku.

“Nggak perlu dijawab, udah taulah kau.”

Lima menit setelah aku selesai membereskan alat-alat kerjaku, bapak pemesan lukisan datang.

“Cukup bagus juga, sebagai pelukis jalanan,” ujar si bapak sembari memperhatikan lukisanku dengan foto miliknya yang kukembalikan padanya. “Bisa kusarankan nanti, ke teman-teman kantorku. Kalau perlu kita bisa kerja sama. Bisa, ‘kan?” tanya si bapak sembari memberikan dua lembar uang kertas yang bernilai sepuluh ribu.

Kuanggukkan kepala, meski tak begitu yakin bisa bekerja sama dengannya.

“Paaak!” Maria memanggil si bapak.

Kembali lagi dia ke arah kami.

“Kau, kenapa panggil dia lagi!” aku lumayan gusar.

“Diam, kau. Diam!” pinta dengan memejamkan kedua matanya, dan menaruh telunjuknya ke bibirnya yang mengatup.

“Ini, Pak.” Maria memberi dua lembar yang bernilai sepuluh ribu, ke bapak tersebut. “Lukisan itu gratis untuk Bapak. Kalina, yang melukis foto Bapak tadi, hari ini sedang berbahagia.”

“Wah, sering-sering bahagia, yah.  Biar aku dapat gratis lagi!” pekik bapak dengan mata berbinar-binar.

Kuanggukkan kepala.

“Kau gila?” Aku memarahi Maria, setelahnya si bapak pergi. “Aku tidak mau gratisin dia!”

“Membahagiakan orang kok setengah-setengah. Sekalianlah.” Nada bicara Maria terdengar selengekan.

Kubayar sepuluh ribu ke Maria, sebagai gantinya.

“Kau, ‘kan tadi sudah membuatnya bahagia. Nah, sekarang aku ingin membuatnya bahagia.” Maria tak mau menerimanya.

“Kurasa kita tidak membuatnya bahagia, Mar. Melainkan mempermalukannya!” geramku.

“Malu? Kau yakin dia malu?” tanya Maria dengan wajah merah padam, menahan tawanya. “Tidak ada malu yang tampak di wajahnya itu, justru yang tampak urat malunya sudah putus, seperti urat malu milik kita.” Maria kemudian lepaskan pingkal tawanya amat keras. kalau sudah terpingkal seperti itu, air matanya pasti keluar. Sampai aku tak bisa membedakan, apakah dia benar-benar terpingkal, atau justru, dia sedang menertawai lelahnya.

________________________

Drew Andre A. Martin. Lahir di Jawa. Karya tunggal pertamanya; Virama Dvasasa, yang berisi dua belas judul cerita pendek. Selain sebagai penulis dan pengarang, Drew juga sebagai, cartomancer dan numerologist.

Sosial media miliknya:

Facebook dan Instagram: @drewandreamartin

X: @drwandreamartin.

Cerpen

Alisa

Cerpen Depri Ajopan

Kampung terpencil dengan dua jembatan gantung yang tampak menyeramkan. Awal Alisa tinggal di situ, selalu ketakutan saat melewati dua jembatan yang bergoyang-goyang itu. Untung ada Sakib yang menemani jika suaminya berhalangan.

Selama ini Sakib tidak tergolong laki-laki kurangajar di kampung itu. Tidak pernah sekali pun ia membuat keributan, apalagi gara-gara perempuan. Ia tidak genit, seperti kebanyakan pemuda di situ. Ia tidak pernah buat onar. Itulah yang membuatnya terpilih jadi ketua pemuda. Mengenai ia yang jarang bicara kecuali yang penting-penting, justru rmenaikkan derajatnya di mata masyarakat, menjadikan ia dipandang sebagai pemuda berwibawa. Ia jarang masuk warung duduk bersama orang-orang pencerita yang suka membual.

Tapi setelah kedatangan Alisa, perempuan dari Bekasi, Sakib tersihir pada kecantikan perempuan itu. Ia jadi bahan omongan di kampungnya karena ketahuan telah bermain api dengan Alisa.

Selama ini ia tak pernah terseok-seok perihal cinta. Bahkan mungkin ia tak begitu pahan apa itu cinta. Ia berubah seketika setelah kenal Alisa, perempuan bermata lentik, kulit bersih dan putih. Badannya tidak terlalu tinggi. Alis matanya seksi, bibirnya tipis bergaris, rambutnya lurus dan panjang. Sakib yang terpesona tidak bisa membendung perasaannya. Hal itu adalah pertama kalinya ia mencintai perempuan. hanya saja perempuan itu sudah bersuami. Anehnya ia terus mengikuti jalan salah itu, jatuh cinta pada istri orang. Apakah ia harus siap-siap kehilangan cintanya sebelum mendapatkan cinta itu?

Ia sudah pernah berterus terang tentang hasrat hatinya. Hal itu terjadi ketika ia dan Alisa bersama putranya yang masih berumur tiga tahun jalan-jalan ke pasar malam. Suami Alisa tidak pernah menaruh  curiga sedikit pun. Ia sering ke luar kota karena ada keperluan.

Namun, saat itu Alisa tak pernah menggubris. Dan kali ini Sakib kembali berusaha mengutarakannya, dan ia ingin mendengarkan jawaban jujur dari perempuan itu. “Aku serius mencintaimu Alisa,” ucapnya sambil memegang tangan Alisa dalam keramaian. Cepat-cepat Alisa melepasnya.

“Cinta?” sahut Alisa lantas tertawa sembari menutup mulut dengan tangan kanannya. Sementara tangan yang satu lagi, tetap memegang anaknya.

“Kenapa kau tertawa?”

Sakib merasa dipermainkan. Ia tak menerima perlakuan perempuan itu, karena selama ini mereka sering jalan berdua, dan pulang larut malam saat suaminya tidak di rumah. Sakib juga pernah memeluk perempuan itu jika ada kesempatan. Bahkan ia pernah mencium bibirnya. Alisa sendiri pun sering membalasnya dengan melumat bibir Sakib.

Sakib memang tidak pernah melakukan lebih dari itu, walaupun ia yakin jika ia minta Alisa pasti akan menurutinya. Ia merasa cocok mengobrol apa saja dengan perempuan itu, dan obrolan mereka selalu nyambung. Ia merasa semakin hari hidupnya semakin berwarna. Karenanya ia menyimpulkan bahwa mereka saling cinta. Mengenai perempuan bermata lentik yang sudah bersuami, ia tak peduli. Sakib yakin cintanya yang kuat tidak akan bisa terjadi pada perempuan lain, sampai akhir hayatnya. Dan sudah tergambar dalam imajinasinya, bagaimana ia nanti akan terus mencintai perempuan itu.

Namun, tawa perempuan itu, sungguh-sungguh melukai hatinya. “Kau ini aneh Alisa. Apa kau menganggapku bercanda?”

 “Yang aneh itu kamu, Mas. Bukan aku,” jawab Alisa masih dalam keadaan tertawa. Tapi kali ini ia tidak lagi menutup mulutnya seperti tadi. Tawanya lepas begitu saja.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Yalah Mas. Aku kan sudah bersuami, sudah punya anak juga. Jadi tak pantas jika Mas bilang begitu padaku.”

Sakib menggaruk-garuk kepalannya. Ia membayangkan apa yang telah mereka lakukan selama ini. Ia ingin mempertanyakan itu pada Alisa.

“Terus,” kata Alisa.

“Terus apa?” Sakib ingin mengatakan sesuatu, tapi ia tahan karena tak berani.

“Mungkin Mas mau bilang, terus kenapa kamu mau aku peluk, cium kening, bahkan lebih dari itu?” lanjut Alisa sembari menggoyang-goyang tubuhnya.

“Iya,” jawab Sakib.

“Jawabannya tidak sekarang, yang penting kita jalani saja.”

“Sampai kapan?”

“Sampai bosan.”        

Sakib mendesah, tapi tetap ia belum mau membawa pulang perempuan dengan anaknya itu. Ia belum percaya keputusan Alisa, ia anggap Alisa tidak serius.                                               

* * *

Suami Alisa baru saja pulang dari luar kota. Ia mendapat kabar dari orang-orang tentang istrinya telah bermain serong dengan laki-laki bernama Sakib di kampung itu. Ia bilang tak kenal dengan Sakib, dan ia tidak ada niat untuk menuntutnya. Cerita miring itu tidak mengganggu pikirannya. Dan ketika ia berduaan di meja makan dengan Alisa, ia cerita tentang apa yang disampaikan orang-orang. Alisa terkejut dan ketakutan. Ia berpikir tidak ada harapan lagi bisa bertemu Sakib pemuda yang sebenarnya ia cintai selain suaminya. Bahkan ia berpikir, suaminya akan menceraikannya saat itu juga. Ia semakin deg-degan, menunggu keputusan apa yang akan diambil suaminya setelah mendengar cerita itu. Ia pura-pura tak merasakan apa-apa, seolah ia tak bersalah. Padahal hatinya bergetar.

“Aku percaya denganmu Alisa. Aku tidak mau direpotkan, apalagi bikin pusing gara-gara cerita-cerita sampah yang tidak ada pembuktiannya. Aku juga tidak ada niat untuk menelusurinya, benar atau tidaknya cerita itu. Aku percaya padamu sepenuh hatiku, kau pasti menjaga cinta kita seperti janjimu dulu.”

Alisa yang semula merasa napasnya seperti terhenti, akhirnya bisa bernapas dengan lega sembari menuju dapur. Tak lama kemudian ia membawa secangkir kopi, meletaknya di meja. Suaminya yang duduk santai di kursi mengaduk secangkir kopi yang asapnya masih mengepul terbang diseret angin. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ia juga tak membahas tentang yang lain, tentang perkembangan bisnisnya yang sebenarnya hampir hancur. Setelah menghidupkan TV, suami Alisa menghidupkan rokoknya, mengisapnya dalam, dan sesekali mencicipi cemilan yang dihidangkan Alisa.

“Kenapa semudah itu percaya padaku, Mas?” tanya istrinya berhati-hati..

“Sudah kubilang, aku tidak mau pusing gara-gara mendengar cerita menjijikkan seperti itu.” Alisa mengangguk-angguk.

“Bagaimana kalau cerita itu benar?”

Pertanyaan itu membuat suaminya terperanjat. Ia terbayang pada seorang perempuan bernama Finka, perempuan selingkuhannya, mantan kekasihnya dulu. Setiap kali ia pergi ke luar kota, Finka selalu hadir di sana. Mereka menginap berdua di homestay.

Dan kini ketika ia mendengar berita tentang istrinya, ia diam saja. Bahkan jika berita itu benar, ia memang sudah rencana tak akan marah pada istrinya. Karena ia merasa dirinya juga telah mengkhianatinya. Bahkan ia lebih dulu melakukan perselingkuhan sebelum istrinya melakukannya. Ia menyadari akan risiko yang harus ia hadapi. Ia berpikir, Alisa mungkin sudah mengerti kenapa ia tidak cemburu ketika ia mendengar kabar tentang apa yang dilakukan Alisa.

______________________

Depri Ajopan. Lulusan Pesantren Musthafawiyah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Menulis fiksi dan diterbitkan di sejumlah media. Novel terbarunya Pengakuan Seorang Novelis. Ia bergiat di Komunitas Suku Seni Riau dan mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.

Cerpen

Helena

Cerpen Yulputra Noprizal

Sudah mulai gelap di seantero kota. Sinar lampu-lampu merkuri menyiram jalan dan trotoar. Lampu di teras-teras toko dan di dalamnya pun mulai menyala seluruhnya. Suara orang yang berjalan kaki di trotoar terdengar sedang bercanda. Angin malam semilir meniup lembut pori-pori. Selepas makan di sebuah rumah makan di pinggiran Kota JT tadi, mereka memutuskan kembali ke kedai itu.

“Aku tak mau menyesal seumur hidup karena mengabaikan Helen dulu,” kata Syaf sembari berjalan ke kulkas dan mengeluarkan dua botol soft drink dari dalamnya. Ia membuka kedua tutup botol soft drink di depan kulkas. Lantas, ia letakkannya di meja dan mengeluarkan sebungkus rokok serta korek gas.

“Kan memang tradisi kampus kita. Sehabis ospek, dijodoh-jodohkan. Ini berjodoh dengan ini, itu berjodoh dengan itu. Ini gebet ini, itu gebet itu,” kata Ramli. Ia mengambil bungkus rokok, mengeluarkannya sebatang dengan tangan yang mengunting, lantas memantik korek gas, menyalakannya.

“Helen sudah mengajakmu kenalan. Sudah tahu banyak latar-belakangmu. Sudah tebar pesona di depanmu. Mengajakmu jalan bareng. Kau malah tak acuh,” lanjut Ramli.

“Aku merasa rendah diri di hadapan Helen. Aku orang dusun, orang jauh. Dari Sumatera. Merantau ke Jawa, kuliah di universitas besar pula. Belum paham tradisi kampus kita. Bisa kuliah saja sudah kemewahan bagiku. Helena kan anak Bandung. Mustahil dia tidak punya mantan. Aku pikir waktu itu, aku akan dijadikannya pelarian saja dari cintanya yang mungkin kandas sewaktu SMA,” kata Syaf. Ia mencabut sebatang rokok dari bungkusnya, menyalakan korek gas, dan menghisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kau kan suka pada Helen,” kata Ramli.

“Waktu itu belum. Belum cinta pada pandangan pertama. Tapi seiring waktu aku menyukainya, setelah ia jadian dengan Yogi.

“Kau menghindar dari Helena. Membiarkan Helena jadian dengan Yogi adalah kesalahanmu. Lantas, kau jauh dari kami, teman-teman kelasmu. Menjalani hari-hari dengan berandal kampus yang tak jelas juntrungannya. Menurutku mereka berasal dari keluarga yang bermasalah,” kata Ramli.

Kendaraan berlalu-lalang dan klakson sesekali berbunyi. Seorang mahasiswa dengan tas di punggung nampak berjalan di trotoar. Mungkin sehabis mengerjakan tugas dari rumah kawannya. Angin bertiup tambah semilir, dan udara mulai terasa agak dingin.

“Aku berkawan dengan Sadi. Aku tidak tahu ia baru ditolak cintanya oleh Rini. Katanya hampir seharian mereka di atas mobil Sadi. Entah tujuan ke mana. Ketika Rini menanyakan mau ke mana, Sadi mengecup bibir Rini. Rini mengelak. Membentak, minta mobil berhenti. Berpisahlah mereka dengan cara yang tak baik. Ah, Sadi. Belum juga jadian, sudah main cium saja. Terlalu pede orangnya, menurutku,” kata Syaf.

“Dengan Sadi itulah lantas kau dekat. Juga dengan Supri dan Riko. Mereka berandal semua. Orang-orang ‘gila’,” kata Ramli, lantas menyesap soft drink-nya.

“Aku tidak tahu Sadi orangnya begitu,” kata Syaf. “Sehabis cintanya ditolak Rini, ia jadi beringas. Setiap malam aku, Supri, dan Riko diajak keliling Kota B. Mencari perempuan-perempuan kesepian. Kadang bersama pelacur-pelacur menghabiskan malam dengan vodka. Aku tahu belakangan, sehabis dari kota B, sementara aku pulang ke kosan. Mereka juga mengisap ganja di kosan Supri. Tapi sumpah, aku tak pernah bersetubuh dengan perempuan kesepian, apalagi pelacur,” kata Syaf sambil mengangkat dua jari tangan kanannya. “Pernah suatu malam Sadi mengajak kami ke Kota G untuk mengunjungi sebuah tempat wisata. Bertemu dengan beberapa perempuan malam di sana. Menyewa kamar. Aku tidak ikut masuk dan menginap malam itu. Aku kembali ke Kota JT, naik bus. Melihat mereka–Sadi, Supri, dan Riko–dengan tiga orang perempuan malam aku jadi tahu mereka sudah terbiasa dengan hal itu. Ketika suatu ketika aku datang ke kosan Sadi, di kamarnya, banyak koleksi fotonya sedang berciuman dan berpelukan tanpa baju dan celana dengan perempuan yang berbeda-beda. Semua ia pajang di dinding.”

“Itu kan,” kata Ramli. Ia layangkan pandang ke sebuah lampu merkuri di pinggir jalan. Di bukit-bukit nampak lampu-lampu berwarna orange. Kendaraan yang lewat tambah ramai, silih berganti. “Kau cuti kuliah. Kami dengar kau hanya di kosan, membaca novel-novel sastra demi mengisi waktu. Saat kau kembali ke kampus, kau jadi penyair dan terkenal,” lanjut Ramli. “Pada Semester VI biasanya kau ngobrol dengan kami di bawah kanopi sehabis kelas, dan bareng mengerjakan tugas. Tapi tidak lagi karena terlalu asyik dan pacaran dengan Sonia.”

“Ah,” Syaf menghembuskan napas. Ia mengeluarkan sebatang rokok lagi dan menyedot soft drink-nya. “Aku salah pilih. Tak seharusnya kuterima cintanya. Dia begitu gigih, setiap pagi menungguku di kampus. Menatapku terus, mengajak mata bertemu mata. Sering ia melenggak-lenggok di depanku ketika aku sedang duduk sendiri. Setiap puisi yang kutulis dan dimuat di majalah kampus dan blog, ia peragakan lewat pakaian dan gerak tubuhnya seperti pemain teater. Kata pepatah, dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati. Akhirnya kami jadian. Dalam pacaran sebenarnya aku banyak pasif, dia terus yang mengajakku makan bareng dan jalan. Sampai akhirnya aku membentaknya dan besoknya tersiar kabar di kampus kalau ia patah hati. Tersiar juga aku telah memerkosa hatinya, padahal sebenarnya hanya ingin menguras uangnya. Semua orang tahu, aku mahasiswa kere. Datanglah tatapan-tatapan kebencian dari kawan-kawan Sonia kepadaku.”

“Bersamaan dengan itu Helena kan juga putus dengan Yogi.” kata Ramli. “Mengapa kau tak langsung jadian dengannya?

“Helena membuka hatinya padaku. Kami lama saling pandang. Tapi ketika kulihat ia sudah berantakan. Orang-orang mengatakan, Helen sudah kayak pecun,” kata Syaf.

“Ya, aku dengar juga bisik-bisik begitu. Apakah Syaf meniduri Sonia? Di mana Syaf membuang spermanya? Pakai pengamankah? Atau Syaf lari ke tempat pelacuran? Nyatanya Sonia tidak hamil. Lantas, Sonia sendiri yang akhirnya memutarbalikkan fakta, mengatakan ke orang-orang kau yang tergila-gila dengannya. Sudah sejak semula, sebelum jadian, kaulah yang terus mengejarnya. Nama baikmu dia buat hancur sehancur-hancurnya,” kata Ramli.

“Aku menenggelamkan diriku ke sastra. Sibuk membaca buku sastra dan menulis puisi hingga akhirnya lupa akan kuliahku.”

“Kau kemudian hilang selera. Ketika Dedi menawarkanmu beberapa cewek di kampus kita, kau tak juga memilih. Mengapa pula kau tak juga jadian dengan Helen waktu itu?” tanya Ramli.

Betapa iba Syaf dulu melihat keadaan Helen setelah putus dari Yogi. Terenyuh. Helen seperti orang yang jatuh miskin. Ketika orang-orang mengatakan, Helena sudah kayak pecun, hati Syaf begitu pilu mendengarkannya–tulang-belulangnya jadi gigil.

                                   *

“Tapi semua sudah berlalu kan Syaf. Sudah lima tahun lalu. Kau meninggalkan kuliahmu. Dan Helena, kau harus tahu, ia berhasil bangkit. Karirnya bagus di perusahaan sekarang.”

“Aku tidak ingin tahu sebenarnya. Tapi aku takut jadi laki-laki yang menyesal seumur hidup karena sudah dua kali Helen membuka hatinya untukku. Aku tidak juga merimanya. Dulu aku berbohong kepada hatiku sendiri,” kata Syaf.

Sesaat mereka sama-sama terdiam.

“Sudahkah dia menikah?” tanya Syaf tiba-tiba, sembari menatatap wajah Ramli. Hatinya berharap dan sungguh penasaran. Bibir Syaf sedikit bergetar mengucapkan pertanyaan itu. Ada rasa terdalam yang tak terungkapkan.

“Sudah. Helen tinggal di Jakarta. Suaminya pns.”

                                    *

Mereka bertemu di medsos. Sehabis menghilang dari kampus, tidak ada lagi kontak kawan-kawan seangkatan dengan Syaf. Syaf tak bisa lagi dihubungi. Baru bertahun-tahun kemudian, Ramli bertemu akun medsos Syaf. Mereka pun berteman dan bertukar no. WA. Ramli sudah jadi wartawan–sesuai jurusannya sewaktu kuliah–bekerja di sebuah media online di Kota Bandung. Ramli mengira selama ini Syaf pulang kampung. Tak kan kembali lagi ke Jawa selamanya. Ternyata Syaf di Jakarta, bekerja di usaha konveksi Mamak-nya (Paman).

Lewat sebuah pesan WA mereka janjian bertemu di Kota JT, di kedai tempat dulu mereka sering duduk sore sehabis kuliah, bercerita, dan kadang curhat juga.

Syaf memandang sebuah mesin ATM dekat minimarket. Di hatinya, ada rasa tersendiri dengan kota ini. Rasa yang memanggil-manggil untuk berlama-lama tinggal. Juga kampus, yang tak jauh dari kedai, terbayang atap-atapnya oleh Syaf dari tempatnya duduk.

“Lantas, apa rencanamu Syaf,” kata Ramli.

“Aku sudah mengumpulkan puisi-puisiku yang pernah termuat di media. Ada penerbit yang tertarik. Kalau jadi terbit, itulah buku pertamaku.”

_______________________

Yulputra Noprizal. Lahir di Air Haji pada 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat.

Cerpen

Yang Belum Sempat Terucap

Cerpen Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa

Ada banyak cara orang membentuk seorang anak. Ada yang memilih kelembutan, ada yang memakai kesabaran, dan ada yang mempercayai bahwa disiplin hanya mungkin tumbuh dari suara tinggi, cubitan, atau pukulan ringan yang “tidak apa-apa, nanti juga lupa”.

Dan entah kenapa, dari tiga anak perempuan di rumah ini, akulah yang mendapat bagian paling keras dari cara didik itu. Bukan berarti aku tidak disayang.

Justru karena disayang, katanya.

Kalimat itu dulu sering kudengar—kalimat pembenar yang seolah-olah membuat semua bentakan terasa lebih masuk akal.

***

Namaku… ah, tidak penting.

Aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kami semua perempuan—tiga kepala berbeda yang tumbuh dalam rumah yang sama, tapi rasanya seperti mendapat versi yang berbeda-beda dari ayah dan mama.

Aku tidak bisa bilang kakak dan adikku penurut, karena mereka juga punya keras kepala masing-masing. Tapi mereka selalu terlihat “lebih mudah dipahami”. Lebih bisa duduk manis, lebih cepat berhenti ketika dimarahi, lebih jarang membuat orang tua geleng-geleng kepala.

Sementara aku…

Aku ini kata orang-orang, “anak yang susah diam”.

Mulutku bergerak lebih cepat dari pada otak. Emosiku melonjak lebih tinggi daripada batas yang dianggap wajar. Aku membantah, aku bertanya, aku tidak langsung mengikuti apa yang dianggap benar. Dan dalam rumah yang menganut pola asuh keras, sikap seperti itu dianggap nakal.

Aku ingat sekali: cubitan di lengan kiri, pukulan ringan di paha, ditarik masuk kamar, atau diminta berdiri diam di depan pintu sambil menggigit bibir karena menahan tangis. Yang menyakitkan bukan rasa perihnya, tapi cara semua itu membuatku merasa salah tanpa tahu salahku di mana.

Kalau aku mencoba menjelaskan, aku dianggap membela diri. Kalau aku diam, aku dianggap mengabaikan. Kalau aku menangis, aku dianggap drama. Tidak ada posisi yang aman.

Sampai akhirnya aku belajar bahwa lebih mudah menelan semuanya. Lebih aman menyimpan kata dalam dada. Lebih tidak melelahkan untuk tidak berkata apa-apa. Dan tanpa kusadari, itu menjadi pola yang bertahan sampai sekarang.

***

Tuhan tidak pernah memberi ujian tanpa memberi pereda. Dalam rumah ini, penyeimbangku adalah dua orang: nenek dan tante bungsu—adik mamaku.

Kalau aku sedang dimarahi, merekalah yang paling dulu masuk kamar. Nenek duduk di sampingku sambil mengelus punggungku. Tante bungsu—wajahnya masih belia waktu itu—selalu membelaku dengan keberanian yang tak kumiliki.

“Udah, jangan pukul dia terus. Dia capek,” begitu kata tantenku sekali waktu, suaranya gemetar tapi tegas.

“Uni, nanti dia bukannya belajar malah makin takut,” katanya lagi di kesempatan lain.

Mereka tidak banyak bicara, tapi keberadaan mereka mengajarkanku bahwa ada dunia lain yang lebih lembut daripada tempat aku biasa berdiri. Mungkin itu sebabnya aku bisa tumbuh dan tetap percaya bahwa kasih sayang itu ada, walau bentuknya tidak selalu ramah.

***

Walaupun begitu, luka kecil masa kecil itu tetap tinggal bersama. Bahkan setelah kami bertiga tumbuh menjadi perempuan yang bisa mengurus diri sendiri, dampak dari didikan yang keras itu masih menempel pada diriku—lebih kuat daripada pada kedua saudaraku.

Kakakku tumbuh dengan cara bicara yang tegas, tapi ia tidak pernah takut menjelaskan diri. Adikku sering marah, tapi ia selalu bisa mengungkapkan apa yang ia rasa tanpa menunggu semuanya membludak.

Hanya aku yang selalu menahan. Hanya aku yang memilih diam. Hanya aku yang takut salah bicara meski sudah dewasa. Aku cerewet dengan teman, tapi paling pendiam di rumah. Aku bisa tertawa sekeras-kerasnya di luar, tapi di rumah suaraku nyaris setipis kertas.

Kadang aku ingin cerita tentang lelahku, tentang sakitku, tentang sesuatu yang mengganjal… tapi setiap kali membuka bibir, ada bayangan masa kecil yang menarikku mundur.

“Apa pun yang kamu bilang, kamu bakal salah lagi.” Suara itu masih ada.

Masih hidup di kepalaku. Masih memengaruhi caraku bernafas.

***

Puncaknya terjadi pada suatu sore yang tampak biasa-biasa saja. Aku baru pulang dalam keadaan capek, mumet, dan ingin istirahat sebentar. Mama memanggilku, menanyakan sesuatu yang sebenarnya tidak besar. Tapi nada suaranya naik sedikit, mungkin karena ia juga lelah.

Aku menjawab dengan nada yang kupikir masih normal—tapi ternyata terdengar keras di telinganya.

“Kamu itu kalau dibilangin jangan ngegas!” katanya.

Aku langsung terdiam. Rasanya seperti ditarik kembali ke masa kecil. Semua cubitan, bentakan, dan teguran lama itu tiba-tiba muncul di belakang mata. Aku mencoba menjelaskan bahwa aku tidak marah. Bahwa aku hanya capek. Bahwa suaraku memang begini ketika lelah. Tapi kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan.

Yang keluar hanya, “Iya, Ma.”

Dan itu membuat semuanya semakin salah. Mama menghela napas panjang. Suasana jadi dingin, kakakku menoleh dan adikku berhenti mengetik di ponsel. Aku merasa menjadi sorotan tanpa ingin disorot. Aku merasa kembali menjadi anak kecil yang selalu terlihat paling salah. Akhirnya aku masuk kamar tanpa berkata apa pun. Tidak menutup pintu keras-keras, tidak menangis keras-keras. Hanya duduk di lantai, memeluk diriku sendiri.

“Aku sayang kalian… tapi kenapa rasanya selalu susah jadi diriku sendiri di rumah?”

Aku bertanya dalam hati. Tidak ada jawaban, tentu saja. Aku menunduk dan entah kapan tertidur—mungkin karena kelelahan emosi.

***

Sore itu, semuanya tiba-tiba berubah. Rumah terasa lebih hangat, lebih pelan, lebih lembut. Seolah-olah waktu berdiri diam untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Mama datang menghampiri. Ayah duduk di sebelahku dengan wajah yang tidak menghakimi. Kakak dan adikku berdiri di belakang mereka, menatapku dengan mata yang benar-benar ingin mengerti. Bahkan nenek dan tante bungsu—dua orang yang selalu menenangkanku juga berada di sana.

Entah bagaimana, aku merasa aman. Aman dengan cara yang tidak pernah bisa kujelaskan. Dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun… aku bicara.

Aku ceritakan semuanya—tentang masa kecil yang keras, tentang bentak-bentak yang membentuk ketakutan, tentang cubitan yang membuatku belajar menyembunyikan suara. Tentang bagaimana aku selalu merasa salah sebelum sempat membuka mulut.

Aku bilang bahwa aku tidak marah pada siapa pun. Aku hanya takut. Takut membuat kecewa. Takut salah bicara. Takut dianggap melawan, meski aku hanya ingin menjelaskan.

Mama memelukku sambil menangis. Papa menepuk punggungku lama-lama. Kakakku menahan air mata, menggenggam tanganku. Adikku menyandarkan kepala di bahuku. Nenek mengusap rambutku. Tante bungsu tersenyum lembut seperti dulu.

Tidak ada bentakan. Tidak ada salah paham. Tidak ada jarak. Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa seperti tempat yang bisa kutinggali tanpa harus mengecilkan diriku. Aku merasa lega, ringan, dan bebas—seolah beban bertahun-tahun itu akhirnya jatuh juga dari dadaku. Semuanya terasa begitu nyata. Begitu mungkin. Begitu… tepat.

Hingga aku membuka mata.

***

Jam menunjukkan pukul 6 pagi. Suara mama dari dapur. Ayah bersiap. Kakak mengikat rambut. Adikku tetap sibuk dengan ponselnya. Ruang yang semalam terasa penuh, pagi itu kembali biasa saja.

Tidak ada pelukan. Tidak ada percakapan hati ke-hati. Tidak ada mata yang berkaca-kaca. Hanya aku, duduk di kasur dengan jantung yang masih membawa hangat dari sesuatu yang… ternyata tidak pernah terjadi.

Semua yang semalam itu—pelukan, pemahaman, keberanian yang berhasil kutemukan—tidak lebih dari sebuah mimpi.

Mimpi yang terasa terlalu nyata. Terlalu diinginkan. Terlalu mirip dengan apa yang sejak kecil ingin sekali kubicarakan. Dan anehnya, meski itu hanya mimpi…aku bangun tanpa kesedihan. Ada sesuatu yang terbuka sedikit dalam diriku. Ada ruang kecil yang tiba-tiba menemukan cahaya.

Mungkin karena mimpi itu, aku akhirnya tahu bahwa suatu hari nanti—entah kapan—aku bisa benar-benar berkata. Bukan karena dipaksa, bukan karena meledak, tapi karena aku ingin dimengerti.

Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok.

Tapi aku tahu, aku tidak akan selamanya diam. Dan ketika hari itu datang, saat aku benar-benar berani bicara, mimpi itu tidak akan lagi hanya mimpi.

__________________________

Nadise Putri Raina Anya Ariella Nasywa. Penyuka Cerpen

Cerpen

Sebuah Kota, Dua Kiblat

Cerpen Khairul A. El Maliky

ANGIN pagi turun dari langit seperti ayat yang jatuh perlahan ke halaman keraton. Ia berdesir melewati tiang-tiang kuno, menyusup ke sela pintu Regol Brojonolo, dan akhirnya berbaring di atas batu-batu lantai yang dingin. Batu-batu itu, yang telah memikul langkah ratusan tahun manusia, menggumamkan sesuatu yang lirih—gumam yang hanya bisa didengar oleh hati-hati yang tak terhijab oleh ambisi.

Di bawah cahaya yang lembut itu berdirilah Raden Mas Jagaswara, seorang abdi dalem muda dengan wajah tenang yang penuh kesunyian—kesunyian yang tak disadarinya sebagai hadiah dari langit. Setiap langkahnya selalu terasa seperti zikir pendek yang tidak pernah selesai. Ia bekerja, ia merapikan tombak, ia menunduk hormat pada yang lebih tua, dan semuanya selalu dilakukan dengan hati yang seperti sumur jernih: tidak ramai, tapi dalam.

Di sisi lain keraton, di barat yang lebih ramai, terdapat Raden Mas Suryengpati—pemuda dengan mata yang menyala dan dada penuh bara. Ia lebih mudah gelisah, lebih mudah bicara, dan lebih mudah marah. Ia mencari kebenaran seperti orang mencari pintu yang terus berubah tempat. Kadang ia menemukannya, kadang ia tersesat di lorong-lorong pikirannya sendiri.

Mereka berdua seperti dua ayat yang ditulis dalam satu lembar kitab kehidupan, namun dibacakan oleh dua suara yang berbeda. Jagaswara seperti ayat yang dibaca dalam bisikan malam, sedang Suryengpati seperti ayat yang dilantunkan lantang dalam majelis yang penuh semangat. Keduanya menuju Tuhan, tetapi lewat jalan yang tak sama.

***

Pagi itu, ketika kabar penobatan tiba-tiba menyeruak seperti gelegar petir di atas langit cerah, kedua pemuda itu seperti dilempar ke dalam pusaran yang bukan pilihan mereka. Keraton mendadak ribut. Pintu-pintu bergetar, langkah-langkah manusia berubah menjadi dentang, dan udara menjadi berat oleh kata-kata yang dibisikkan dengan nada seperti angin panas dari bukit batu.

Jagaswara menunduk mendengar kabar itu. Ia merasakan ada getaran aneh, seperti tanah yang bernafas terlalu cepat. Ia tidak tahu apakah yang terasa di dadanya itu kecemasan atau tanda dari Yang Maha Halus. Sementara Suryengpati, yang mendengar kabar serupa di bangsal barat, mengepalkan tangan seperti ingin menangkap angin yang lari dari genggamannya.

“Ini bukan jalan yang benar,” gumamnya, separuh kepada dirinya sendiri, separuh kepada keraton yang seakan mendengarkan dari balik dinding.

Keraton, tempat segala kisah putih dan hitam lahir, tiba-tiba tampak seperti tubuh tua yang dipaksa berdiri oleh dua tangan yang saling menarik. Jagaswara merasakan kesakitan keraton itu seperti kesakitan dirinya sendiri. Suryengpati merasakan luka itu seperti luka yang ditato di dadanya. Tetapi keduanya tidak tahu bagaimana mengobatinya.

Ketika pintu Sasana Handrawina didobrak oleh kelompok penolak penobatan sepihak, dunia keraton seperti pecah menjadi dua: suara keras dan doa lirih, teriakan dan zikir yang saling mendesak, pisau kata-kata dan kelembutan yang tersingkir. Jagaswara berdiri di tengah ruangan, dan dalam kekacauan itu ia melihat wajah Suryengpati dari celah kerumunan. Keduanya saling menatap—tatapan yang dulu ramah berisi tawa dan harapan—kini menjadi tatapan dua manusia yang sedang mencari jalan pulang dalam badai.

Dalam tatapan itu ada tanda yang tidak sempat mereka baca: bahwa yang sedang mereka hadapi bukan hanya perebutan takhta, melainkan perebutan makna, perebutan cahaya, perebutan siapa di antara manusia yang lebih dulu mampu mendengar suara sunyi Tuhan.

Ketika keraton kembali tenang pada malamnya, Jagaswara duduk sendirian di bawah pohon sawo kecik. Pohon itu telah tumbuh lebih lama dari usia siapa pun di keraton. Daunnya jatuh satu demi satu, seperti kalimat yang ditulis oleh tangan ghaib.

“Dalam setiap perebutan, siapa yang sebenarnya ingin menang?” tanya Jagaswara dalam hati.

Angin menjawab tanpa suara.

Kadang jawabannya adalah: ego.

Kadang: takut.

Kadang: ingin dihormati.

Kadang: semua itu bercampur menjadi satu kabut yang menutupi wajah jati diri.

Di tempat lain, Suryengpati menulis doa yang ia sebut sebagai surat. Ia menuliskannya bukan untuk manusia, melainkan untuk Tuhan yang dalam pikirannya selalu hadir seperti cahaya samar di balik tabir tipis.

“Ya Allah,” tulisnya,

“beri aku mata yang bisa melihat benar tanpa membenci, beri aku telinga yang bisa mendengar tanpa mencurigai, dan beri aku hati yang bisa mencintai meski dunia di sekelilingku berubah menjadi medan perang.”

Surat itu tidak pernah dikirimkan kepada siapa pun. Tapi ketika ia meletakkannya di bawah bantal, ia merasa seolah cahaya kecil menyelinap ke dadanya. Cahaya yang sangat lembut, hampir tidak terasa, namun cukup untuk membuatnya tidak merasa sendirian.

***

Hari-hari berikutnya keraton terbelah seperti tubuh yang dipotong dua. Dua panji berbeda berkibar di dua halaman. Dua nama pangeran disebut dalam dua ritual berbeda. Dua doa dipanjatkan menuju langit yang sama, namun dari hati yang tak lagi sejalan.

Jagaswara melangkah dalam tugasnya, tetapi langkah-langkah itu terasa seperti menapaki duri. Suryengpati mengatur berkas-berkas pusaka, tetapi setiap kali menyentuh sebilah keris, ia merasa seperti menyentuh sejarah panjang manusia yang pernah saling menyakiti.

Ketika keduanya bertemu diam-diam di taman Sumber Bening, taman itu seperti berubah menjadi ruang semadi yang diciptakan untuk dua jiwa yang sedang mencari Tuhan dalam gelapnya konflik.

“Aku ingin damai, Jagaswara,” kata Suryengpati lirih, suaranya seperti air yang jatuh ke tanah kering.

“Aku juga,” jawab Jagaswara. “Tapi kita hidup di zaman ketika damai adalah barang yang disimpan terlalu tinggi untuk dijangkau.”

Suryengpati menatap air kolam. Permukaannya memantulkan langit yang kusut.

“Kita ini siapa, Jagaswara? Apa kita bagian dari kebisingan atau bagian dari doa?”

Jagaswara memejam.

“Kita hanya dua hamba yang sedang belajar mengenali bayangan di dalam diri.”

Bayangan—itulah kata yang paling tepat. Karena pada akhirnya, perang apa pun yang terjadi di dunia ini selalu bermula dari perang yang lebih kecil: perang dalam dada manusia.

Perang antara cahaya dan gelap.

Antara kerendahan hati dan keangkuhan.

Antara ingin benar dan merasa benar.

Pada suatu pagi yang berbeda, dua kubu bertemu di Regol Tengah. Ketegangan seperti ombak besar yang hendak pecah di pantai. Jagaswara dan Suryengpati berada di dua sisi yang berseberangan. Keduanya saling memanggil nama, bukan sebagai lawan, tetapi sebagai sesama manusia yang takut melihat keraton berubah menjadi ladang luka.

“Kembalilah, Suryengpati,” kata Jagaswara. Suaranya seperti doa yang tercecer.

“Kau yang kembali,” balas Suryengpati. “Keraton ini bukan milik satu suara.”

“Karena itu aku berdiri di sini,” jawab Jagaswara dengan mata berkaca.

“Agar keraton tidak jatuh ke tangan siapa pun yang memaksakan kehendak.”

Namun kata-kata manusia sering tidak cukup kuat melawan arus yang diciptakan oleh orang-orang yang lebih berkuasa dari mereka.

Ketika suara lonceng keraton menggetarkan udara, semua orang terhenti seperti patung. Kabar datang bahwa suksesi harus dihentikan sementara. Seperti tangan Tuhan turun dari langit, meredakan gelombang yang hampir membelah bumi.

Keributan mereda.

Keraton menarik napas panjang.

Orang-orang pulang dengan hati yang belum utuh, tapi sedikit lebih tenang.

***

Pada malam itu, Jagaswara dan Suryengpati duduk berdua di bangsal tua. Di hadapan mereka, pohon sawo kecik berdiri seperti guru sufi yang tak pernah mengucapkan sepatah kata pun, namun mengajarkan ribuan makna.

Jagaswara berkata pelan,

“Kita hampir kehilangan sesuatu yang lebih besar dari takhta.”

“Apa itu?” tanya Suryengpati.

“Kemampuan untuk melihat wajah Allah dalam wajah saudara kita sendiri.”

Suryengpati menunduk, dan air mata jatuh tanpa suara.

“Aku takut, Jagaswara,” bisiknya. “Aku takut menjadi manusia yang kehilangan Tuhan karena terlalu sibuk membela apa yang menurutku benar.”

Jagaswara menepuk pundaknya.

“Selama kau takut kehilangan Tuhan, kau tidak akan kehilangan-Nya.”

Dalam keheningan malam yang panjang itu, mereka akhirnya mengerti:

bahwa keraton bukan pusat segala kemuliaan.

Yang mulia adalah hati manusia yang mampu menunduk meski sedang diseret oleh badai.

Mereka pulang ke rumah masing-masing sebagai dua pemuda yang membawa cahaya kecil di dada. Cahaya yang tidak berasal dari kemenangan politik, bukan dari siapa naik takhta, tapi dari kesadaran bahwa manusia tidak diciptakan untuk menang—manusia diciptakan untuk pulang.

Dan ketika angin kembali bertiup melewati Regol Brojonolo, ia membawa pesan yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang hatinya jernih:

Bahwa setiap perang di dunia ini hanyalah cermin dari perang yang lebih tua—perang antara ego dan ketundukan.

Dan siapa yang menang bukanlah yang menguasai takhta, tetapi yang berhasil menundukkan dirinya kepada Tuhan.[]

Probolinggo, November 2025

____________________

Khairul A. El Maliky. Penulis novel. Lahir dan besar di Probolinggo, 5 Oktober 1986. Bukunya yang telah terbit antara lain: Akad, Pintu Tauhid, Kalam Kalam Cinta, Sweet Girl, Beda Tapi Cinta, Gus Dur dan Tuhan pun Tertawa, Dagelan Para Koruptor, Munajat Sesayat Rindu, Risalah Cinta, dan Metamorfosa (MNC Publishing, Malang). Selain novel, penulis juga menulis cerpen. 

Terjemahan

Ayah Milon

Guy de Maupassant

Selama sebulan penuh, matahari yang garang memanggang ladang-ladang. Alam merekah di bawah sinarnya; hamparan hijau membentang sejauh pandang. Kubah langit—biru jernih tanpa segumpal awan—menutup bumi seperti naungan agung. Rumah-rumah tani di Normandia, tersebar di dataran luas dan dilingkari deretan pohon beech yang menjulang, tampak dari kejauhan bagai rimbun hutan-hutan kecil. Namun ketika mendekat, setelah menurunkan palang kayu yang telah dimakan usia, kau serasa melangkah memasuki taman raksasa. Pohon-pohon apel tua—kusut dan liat seperti para petani yang merawatnya—sedang meledakkan bunga. Harum manis kelopaknya bercampur dengan bau tanah yang berat dan sengitnya aroma kandang.

Siang mencapai puncaknya. Keluarga itu makan di bawah naungan pohon pir yang tumbuh di depan pintu—ayah, ibu, empat anak, dan para pembantu—dua perempuan dan tiga laki-laki. Semua duduk bersama. Semua diam. Sup telah disantap, lalu sepiring kentang goreng dengan daging asap dihidangkan.

Sesekali salah satu perempuan bangkit, mengambil kendi, dan turun ke ruang bawah tanah untuk mengambil sari apel.

Si lelaki—bertubuh besar, berusia sekitar empat puluh—menatap sulur anggur yang masih telanjang, merambat dan melilit sisi rumah seperti ular mencari pijakan.

Akhirnya ia berkata, “Pohon anggur Ayah mulai bertunas lebih awal tahun ini. Mungkin kita akan panen sedikit.”

Perempuan itu menoleh, menatapnya, tanpa sepatah kata.

Di tempat sulur itu ditanam—di situlah ayah mereka ditembak mati.

Itu terjadi pada Perang 1870. Pasukan Prusia menduduki seluruh wilayah. Jenderal Faidherbe, dengan Divisi Utara, berusaha menahan mereka. Prusia menjadikan rumah tani ini sebagai markas besar. Petani tua pemiliknya, Pierre Milon, menerima mereka sebaik yang ia mampu.

Sudah sebulan pasukan pendahulu Jerman berada di desa itu. Sementara pasukan Prancis berhenti tak bergerak, sepuluh lega dari sana. Namun setiap malam, ada saja Uhlan yang hilang.

Para pengintai yang dikirim berjauhan, dalam kelompok tak lebih dari tiga orang—tak satu pun kembali. Mereka ditemukan keesokan paginya di ladang atau di parit. Bahkan kuda-kuda mereka ditemukan sepanjang jalan, dengan leher tersayat.

Pembunuhan-pembunuhan ini tampak dilakukan tangan yang sama—tangan yang tak pernah tertangkap.

Desa dicekam teror. Petani ditembak hanya karena dicurigai; perempuan dipenjarakan; anak-anak ditakut-takuti demi memaksa pengakuan. Namun tak satu pun jawaban ditemukan.

Sampai suatu pagi, Ayah Milon ditemukan tergeletak di lumbung, wajahnya terbelah sabetan pedang. Dua Uhlan ditemukan tewas sejauh satu setengah mil dari rumah tani. Salah satunya masih menggenggam pedang berlumur darah—ia sempat melawan, sempat mencoba bertahan. Sidang kilat digelar saat itu juga, di udara terbuka, tepat di depan rumah.

Dan lelaki tua itu dibawa menghadap.

Ia berusia enam puluh delapan tahun—tubuh kecil, kurus, membungkuk—dengan dua tangan besar yang mirip capit kepiting. Rambutnya yang nyaris tanpa warna tumbuh jarang dan tipis, seperti bulu halus anak bebek, membiarkan kulit kepalanya tampak di sela-selanya. Kulit lehernya yang cokelat dan berkerut memperlihatkan urat-urat besar yang menghilang di balik rahang lalu muncul kembali di pelipis. Ia dikenal sebagai lelaki kikir dan susah diajak berurusan.

Mereka menegakkan tubuhnya di antara empat serdadu, tepat di depan meja dapur yang telah diseret keluar rumah. Lima perwira dan sang kolonel duduk berhadapan dengannya.

Kolonel itu berbicara dengan bahasa Prancis:

“Ayah Milon, sejak kami berada di sini, kami hanya mendengar pujian tentang dirimu. Kau selalu membantu, bahkan memperhatikan kebutuhan kami. Tapi hari ini, tuduhan mengerikan menggantung di atas kepalamu, dan kau harus menjelaskannya. Bagaimana kau mendapat luka di wajah itu?”

Si petani tidak menjawab.

Kolonel melanjutkan:

“Diam berarti menuduh dirimu sendiri, Ayah Milon. Tapi aku ingin kau menjawab! Kau mengerti? Apakah kau tahu siapa yang membunuh dua Uhlan yang ditemukan pagi ini dekat Calvaire?”

Dengan suara jernih, lelaki tua itu menjawab:

“Aku.”

Kolonel tertegun. Ia terdiam sejenak, menatap lurus pada tahanan itu. Ayah Milon tetap tak bergerak, menampilkan tatapan beku khas petani, matanya menunduk seakan sedang berbicara kepada pastor. Hanya satu hal yang mengkhianati kegelisahan batinnya: ia terus menelan ludah, dengan usaha yang tampak jelas, seolah tenggorokannya tersumbat oleh ketegangan yang menjerat.

Keluarga lelaki tua itu—putranya, Jean; menantunya; dan kedua cucunya—berdiri beberapa langkah di belakangnya, tercengang dan ketakutan.

Kolonel kembali bertanya:

“Apakah kau juga tahu siapa yang telah membunuh semua pengintai yang ditemukan mati selama sebulan terakhir ini, di seluruh daerah, setiap pagi?”

Dengan ekspresi bebal yang sama, si tua menjawab:

“Aku.”

“Kau membunuh mereka semua?”

“Ya. Aku.”

“Kau sendiri? Seorang diri?”

“Ya.”

“Ceritakan bagaimana kau melakukannya.”

Kali ini lelaki tua itu tampak tergerak; keharusan untuk bicara panjang lebar jelas membuatnya gusar. Ia gagap:

“Aku… entah! Aku cuma melakukannya.”

Kolonel melanjutkan:

“Aku peringatkan kau harus menceritakan semuanya. Sebaiknya kau siapkan dirimu sejak sekarang. Bagaimana kau memulainya?”

Si lelaki memandang gelisah ke arah keluarganya yang berdiri tepat di belakangnya. Ia ragu sejenak, lalu akhirnya memutuskan untuk patuh.

“Malam itu aku pulang sekitar jam sepuluh—malam setelah kalian tiba. Kau dan para prajuritmu telah mengambil lebih dari lima puluh écus rumput makananku, juga seekor sapi dan dua domba. Aku berkata pada diri sendiri: ‘Sebanyak yang mereka rampas darimu, sebanyak itu pula yang akan kau buat mereka bayar kembali.’ Dan ada hal lain di kepalaku—akan kuceritakan nanti. Saat itu juga aku melihat salah satu prajuritmu sedang merokok di dekat parit belakang lumbung. Aku pergi mengambil sabitku dan merayap perlahan dari belakangnya, agar ia tak mendengar. Lalu aku tebas kepalanya dengan sekali ayun—seperti menebas sehelai rumput—sebelum ia sempat berseru ‘Booh!’ Kalau kalian lihat ke dasar kolam, akan kalian temukan dia terikat dalam karung kentang, dengan batu yang menenggelamkannya.”

“Aku dapat akal. Aku ambil semua pakaian orang itu, dari sepatu sampai topinya, dan kusembunyikan di hutan kecil di belakang halaman.”

Lelaki tua itu berhenti. Para perwira terdiam, saling bertukar pandang. Pemeriksaan berlanjut, dan inilah yang mereka ketahui.

Setelah pembunuhan pertama itu, lelaki itu hidup hanya dengan satu pikiran: “Bunuh orang Prusia!” Ia membenci mereka dengan kebencian buta, bengis, milik petani serakah namun tetap mencintai tanah kelahirannya. Ia memiliki rencana, begitu katanya. Ia menunggu beberapa hari.

Para penjajah mengizinkannya keluar-masuk sesuka hati, karena ia selalu tampak rendah hati, patuh, dan bermuka manis. Setiap malam ia melihat para penjaga depan berangkat. Suatu malam ia mengikuti mereka, setelah mendengar nama desa tujuan para prajurit itu, dan setelah mempelajari sedikit kata-kata Jerman yang dibutuhkannya melalui pergaulannya dengan para serdadu.

Ia keluar melalui halaman belakang, menyelinap ke hutan, menemukan kembali pakaian si mayat, dan mengenakannya. Lalu ia mulai merangkak menyeberangi ladang, mengikuti pagar semak agar tak terlihat, mendengarkan bunyi sekecil apa pun—sewaspada pemburu gelap.

Ketika ia merasa saatnya tiba, ia mendekati jalan dan bersembunyi di balik semak. Ia menunggu.

Akhirnya, menjelang tengah malam, terdengar derap kuda berlari. Lelaki itu menempelkan telinganya ke tanah untuk memastikan hanya satu penunggang yang datang. Setelah itu, ia bersiap.

Seorang Uhlan datang melaju kencang, membawa kiriman penting. Sepanjang jalan ia waspada—mata dan telinga tegang menangkap tanda bahaya. Saat jaraknya tinggal beberapa langkah, Ayah Milon merangkak menyeberangi jalan sambil mengerang, “Hilfe! Hilfe!” (Tolong! Tolong!)

Prajurit berkuda itu berhenti. Melihat seorang “Jerman” tergeletak, ia menyangka orang itu terluka. Ia turun dari kuda, mendekat tanpa curiga. Dan ketika tubuhnya membungkuk hendak menolong, ia menerima tusukan berat tepat di ulu hati—hunusan lengkung panjang dari pedang kavaleri. Ia jatuh tanpa sempat merasakan sakit, hanya menggigil sebentar dalam detik-detik terakhir.

Petani tua itu bangkit—bercahaya oleh kegirangan sunyi yang hanya dimengerti para lelaki desa tua—dan demi memuaskan dirinya, ia pun menyayat leher si mayat. Setelah itu, ia menyeret tubuh prajurit itu ke parit dan melemparkannya ke dalam.

Kuda itu menunggu tuannya dengan tenang. Ayah Milon menaikinya, lalu memacu langkahnya melintasi dataran.

Sekitar sejam kemudian, ia melihat dua Uhlan lain pulang berdampingan. Ia menunggang lurus ke arah mereka, sekali lagi berteriak, “Hilfe! Hilfe!

Kedua Prusia itu, mengenali seragam yang ia kenakan, membiarkannya mendekat tanpa sedikit pun curiga. Lelaki tua itu melintas di antara mereka seperti peluru meriam—menjatuhkan keduanya sekaligus: satu ditebas pedang, satu ditembak pistol.

Lalu ia membunuh kuda-kuda itu—kuda Prusia! Setelah itu ia bergegas kembali ke hutan, menyembunyikan salah satu kuda, menanggalkan seragamnya, dan mengenakan pakaian lamanya. Ia kembali ke rumah, naik ke tempat tidur, dan tidur sampai pagi.

Empat hari lamanya ia tak keluar, menunggu pemeriksaan selesai. Namun pada hari kelima ia kembali keluar, dan membunuh dua prajurit lain dengan siasat yang sama. Sejak itu ia tak lagi berhenti. Setiap malam ia berkeliaran mencari petualangan—membunuh orang Prusia, kadang di sini, kadang di sana—berkuda melintasi ladang-ladang sunyi, di bawah cahaya bulan, sebagai Uhlan tersesat, sebagai pemburu manusia.

Dan setelah tugasnya tuntas—setelah meninggalkan mayat-mayat di sepanjang jalan—lelaki tua itu kembali ke rumah, menyembunyikan kuda dan seragamnya.

Menjelang tengah hari, ia pergi memberi gandum dan air kepada kudanya, diam-diam seperti biasa. Ia merawat kuda itu dengan baik, sebab ia menuntut darinya pekerjaan yang berat.

Namun salah satu prajurit yang ia serang malam sebelumnya, ketika mencoba melawan, telah menebas wajah si petani tua dengan pedangnya.

Meski begitu, keduanya berhasil ia bunuh. Ia pulang, menyembunyikan kuda itu, lalu mengenakan pakaian lamanya kembali. Tetapi sesampainya di rumah, tubuhnya mulai lemas; ia hanya mampu menyeret diri sampai kandang, tak kuat mencapai pintu rumah. Di sanalah ia ditemukan—bersimbah darah di atas jerami.

Ketika kisahnya selesai, ia tiba-tiba mengangkat kepala dan memandang para perwira Prusia dengan bangga.

Kolonel itu, yang sedang menggigiti kumisnya, bertanya:

“Tak ada lagi yang ingin kau katakan?”

“Tak ada. Tugasku selesai. Aku membunuh enam belas. Tidak lebih, tidak kurang.”

“Kau mengerti bahwa kau akan mati?”

“Aku tak meminta ampun.”

“Apakah kau pernah menjadi tentara?”

“Ya. Aku menjalani masaku. Dan kalian telah membunuh ayahku—seorang prajurit Kaisar pertama. Dan bulan lalu kalian membunuh putra bungsuku, François, dekat Evreux. Utang itu harus kubayar. Kini lunas. Kita impas.”

Para perwira saling berpandangan.

Laki-laki tua itu melanjutkan:

“Delapan untuk ayahku, delapan untuk anakku—kita impas. Aku tak pernah mencari gara-gara dengan kalian. Aku tak kenal kalian. Bahkan aku tak tahu dari mana kalian datang. Tapi kalian datang dan memerintah di rumahku, seolah ini milik kalian. Aku menuntut balas pada mereka yang lain. Aku tak menyesal.”

Dan sambil meluruskan punggungnya yang bungkuk, lelaki tua itu menyilangkan tangan—seperti pahlawan sederhana yang tak membutuhkan sorak-sorai.

Prusia berbicara pelan, lama. Salah satu dari mereka, seorang kapten yang juga kehilangan putranya bulan lalu, berusaha membela si tua itu. Kemudian sang kolonel berdiri, mendekati Ayah Milon, dan dengan suara rendah berkata:

“Dengarkan, orang tua… mungkin ada cara menyelamatkan hidupmu. Kau hanya perlu—”

Tapi lelaki tua itu tak mendengarkan. Tatapannya terpaku pada perwira yang dibencinya. Angin memainkan rambut tipis di kepalanya. Ia memelintir wajahnya yang terbelah sabetan pedang hingga tampak benar-benar mengerikan, lalu menggembungkan dadanya dan meludah—sekeras yang ia mampu—tepat ke wajah sang Prusia.

Kolonel itu, murka, mengangkat tangan; dan untuk kedua kalinya, lelaki tua itu meludah di wajahnya.

Semua perwira bangkit sekaligus, berteriak mengeluarkan perintah.

Dalam waktu kurang dari semenit, lelaki tua itu—masih tenang, tanpa gentar—didorong ke dinding dan ditembak. Ia tersenyum kecil ke arah Jean, putra sulungnya; menantunya; dan kedua cucunya yang menyaksikan semuanya dalam ketakutan bisu.

_____________________

Penulis: Guy de Maupassant (1850–1893)

Guy de Maupassant adalah sastrawan Prancis yang dikenal sebagai salah satu master cerpen paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia. Lahir di Normandia, ia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang kelak menjadi latar kuat dalam banyak karyanya. Maupassant belajar langsung dari dua raksasa sastra, Gustave Flaubert dan Émile Zola, yang membentuk gaya realisnya yang tajam, ironis, dan penuh pengamatan psikologis.

Dalam rentang karier yang singkat—hanya sekitar satu dekade—ia menulis lebih dari 300 cerpen, enam novel, beberapa naskah perjalanan, dan artikel-artikel kritis. Karya terkenalnya meliputi Boule de Suif, Bel-Ami, Pierre et Jean, dan puluhan cerita pendek yang kini menjadi klasik.

______________________

Penerjemah: Erna Surya. Lahir dan bedomisili di Klaten. Beberapa cerpen dan terjemahannya dimuat di sejumlah media daring dan cetak. Ia gemar menulis kisah realis dan surealis dengan tema-tema kemanusiaan. Selain itu, ia juga senang membaca sastra klasik, dan sedang menerjemahkan beberapa novel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Berprofesi sebagai seorang guru Bahasa Inggris di salah satu SMK di Klaten, dan pernah mengambil studi  Linguistik Penerjemahan di  UNS.