Puisi

Puisi Kiki Sulistyo

Apakah yang Kau Lihat dari Seekor Lebah?

apakah yang kau lihat dari seekor lebah?

dengung sayap, sayup di kayu atap, sarang

berlapis dari malam dan getah propolis

mencari serbuk sari, nektar bunga, berhektar

daun mahkota di antara duri-duri.

apakah yang kau bayangkan dari seekor lebah?

sebatang puisi dengan putik berisi bintik sepi,

sengat rima merekat dalam irama, bila terperangkap

di jendela kaca, dengarlah upaya, mencapai cahaya,

musik dunia yang mengusik asmaradana.

2020


Burung Firdaus

tiap malam ada siul burung firdaus

dari gugus kaprikornus, seperti dengus,

padi ladang yang meninggi, melepas biji-biji

ke pusat humus, di pusar antariksa 

bila datang pagi, kau akan bernyanyi

meniru bunyi matahari, kaki-kaki akar

resap ke pusat gili, kelahiran berdengung

dalam kantung tanah, saat rampung denah

dan musim tanam dimulai 

burung firdaus turun, hitam seperti ancaman

membawa bangkai bintang, keturunanmu

menamainya iman, api yang nanti

dipakai meledakkan diri, sembari berharap

diri terlontar kembali, ke gili ini, tempat

seekor ular melingkari sebatang puisi

2020


Di Seberang Hotel

di seberang hotel, tunas tomat menempel

pada pagar rumah dinas, keping-keping

kaca masih memantulkan paras orang mati

setelah bunyi sirine dan sisa parade mengubah

kota jadi lembah api

bila nanti dari pucuknya muncul bakal biji

seseorang akan dilahirkan kembali

dengan mata buta dan lisan bagai besi karatan

tak sudi bersaksi bahwa sejarah bergerak

searah ayunan kapak pada tegak tonggak

di lobi hotel rapat akan dimulai, sebentar lagi

lonceng ekonomi berdentang dan seketika

bangunan- bangunan berdiri seperti zombie

harga-harga dan daftar belanja, surga dan pasar

terbuka, tunas tomat menggigil, seakan seorang

eksil, infantil di hadapan mulut bedil

2020


Ranjang Padi

dia sendirian, berbaring di ranjang, antara

nyala lilin dan usia tua, membayangkan kematian

serupa padi yang merunduk hendak menyentuh

bumi; tak ada lagi kelaparan di dunia ini

sebutir beras menghidupkan pucuk malam

sedang lambung anak-anak pengungsi berdengung

di langit merah wabah.

dia pikirkan benua yang jauh, kapal-kapal hantu

sepanjang perairan itu, hendak sampai pantai

para penjaga bagai dinding perbatasan

menampik kedatangan, meniup api di pendiangan

dia sendirian, berbaring di ranjang, bagai berbaring

di kolam mawar, tak ada lagi kelaparan, dia dengar suara

kanak-kanak mengepakkan sayap, membawa benih padi

terbang meninggi, ke ladang bulan, kerlipnya demikian terang

butir-butir beras di hitam marmar

2020  


Kucing Kata

seekor kucing bukan seekor kucing

sebelum dihela dari bahasa

seekor kucing hanya seekor kata

yang mengeong dalam kepala

bulunya bisa berganti-ganti;

hitam serupa malam bila perasaan

sedang muram, merah jambu seperti

rindu, bila parasmu dimerahkan

puisi itu.

sekarang si kucing sedang tertidur

dengkurnya detak jantungmu saat

bermimpi melihat si penyair menyusuri

tebing-tebing bahasa, mencarimu

yang kian basah dan bergetah

di celah-celah kata, o, gerangan

apa membuat gerahammu membuka

hingga terlepas bunyi meong itu

seolah tak sengaja ?

2020


Partitur

        : Em

setiap kali melihat telur, dia tertidur,

seluruh program diundur dan jam-jam

diulang-atur. dia terbujur bagai akan

dikubur, seekor tekukur menghambur

dari dalam sumur, membuat jalur,

seakan hendak mengukur, dibutuhkan

berapa putaran umur, sampai cangkang

itu hancur.

setiap kali tertidur, dilihatnya seekor tekukur

meluncur ke rimbun melur, sulur-sulur

cahaya terjulur dari siulnya yang luhur,

dunia lantas berdebur, nyanyi trubadur,

bunyi mesin tempur, dan keluh buruh

di jam-jam lembur, lebur dalam bunyi

mazmur, membuat limbur, seakan seluruh

partitur, terguyur hujan anggur.

2020     


Fraktal Sentrifugal

                        : bn

betapa tajam duri baiduri ini, melukai daging kata

umpama kebisuan setelah perang, berhenti untuk bertahan

lalu butir darah menitik di batang-batang perdu

angkasa memantulkan merahnya yang gemilang

noktah nebula; kabut bintang dari sisa ledakan dalam kelenjar

nama-nama diembuskan ke permukaan batu 

ular pembujuk melingkar di situ, menyaru bercak bulan

radang cahaya menghidupkan burung-burung hujan

gelombang sentrifugal yang menjauhkan kata dari makna

ucapkan ‘eureka’ ketika semua percobaan telah gagal

nanti di tempat rendah ini, segala sesuatu akan kembali baru

akan kembali kilap, berkilau di dinding-dinding kitab

2020


Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok.Meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan puisinya yang terbaru berjudul Dinding Diwani (Diva Press, 2020).

Cerpen

Suara Karenina

Cerpen Fataty

Sovia, Musim Gugur

Ia menatap cermin, lama. Melihat wajah yang berembun setelah dibasuh air hangat. Rambut merahnya dibiarkan tergerai tak teratur. Letih. Cekung matanya terlihat makin tegas. Lelah. Beban itu tiba-tiba menumpu di sekujur pundaknya. Ia menghela napas panjang. Mengusap perutnya.

Sebotol aspirin ia ambil dari balik cermin lemari obat yang tergantung tepat di atas wasafel. Ia minum satu butir. Handuk kecil yang ia basahi diperas, lalu dikompresnya kening, leher dan kedua pipinya. Ia kembali menghela napas panjang. Memandang cermin lagi. Memaksa bibirnya membingkai tipis senyum. Gagal. Kedua matanya membulirkan setetes.

Sepasang kaki jangkung itu melangkah sedikit jingkat, seperti menghindari pucuk-pucuk duri. Melangkah menuju peraduan, merebahkan diri, menarik selimut tebal sampai leher. Sebentar lagi musim dingin. Daun-daun pohon birkin mulai memerah dan gugur memenuhi jalanan. Gelisah. Ia belum bisa terpejam meski tempat tidurnya hangat.

“Selamat pagi, Karenina. Kau terlihat pucat. Tidurmu tidak nyenyak rupanya.” Wanita berusia senja menyapa dengan hangat, memakai celemek, menyiapkan kopi, beberapa slice roti panggang dan jeruk berjuring-juring ditata rapi di piring datar. Meja makan berenda itu sudah tertata menghidangkan sarapan. Karenina duduk. Merapatkan piyama, menyeruput kopi, dan menggigit roti. Menerawang keluar jendela dapur. Berkabut dan hening. Perempuan berusia senja itu, memandang dengan raut tanda tanya pada satu-satunya putri dari almarhum kakak perempuannya. Merasa diabaikan.

“Karen, Are you okay?” Menilik wajah keponakannya yang masih saja tidak memalingkan muka ke arahnya. Ia diam tidak menjawab. Ia tetap memandang bagian belakang gadis itu. Belum juga berpaling ke bibinya. Sambil tetap memandang ke arah jendela. “Bibi Anne. Besok aku mau ke Kopenhagen.” Suaranya lirih. Hampir lenyap ditelan hawa berkabut kota Sovia, Bulgaria.

Perempuan berusia senja ini memandang dengan muka penuh tanda tanya ke arah gadis itu yang masih memandang ke luar jendela. “Kau ada tugas lagi di sana? Tak biasanya kantormu mengirim ke tempat yang sama dalam waktu dua bulan,” sahutnya heran.

“Bukan, bibi Anne. Bukan tugas. Aku hanya harus ke sana. Besok aku berangkat.”

Bibi Anne menghela napasnya sebentar. Meletakkan sepinggan pie apel hangat yang baru keluar dari oven.

“Kau seperti ibumu. Teguh dan berkemauan keras. Kau tahu kan di Denmark suhu selalu di bawah lima derajat celcius. Apalagi sebentar lagi salju turun. Oh my dear Lil girl. Be careful. Dia memberi kecupan kecil di kepala gadis itu yang selalu disebutnya Lil Girl (gadis kecil).

Karenina tetap menatap ke luar jendela. Ia memang suka memandang ke luar jendela. Jendela kamar, jendela dapur, jendela rumah pohon di rumah masa kecilnya, jendela apartemen lantai 12, jendela mobil, jendela kereta dan kini jendela pesawat.

Beberapa menit, Karenina, gadis cantik berambut merah itu, garis-garis wajahnya yang tegas khas perempuan Kaukasia telah berada di angkasa. Mata berwarna hijau, bibir tipis ditopang leher yang jenjang, seimbang dengan postur tubuhnya yang semampai. Make up-nya tidak berlebihan. Rambut merah bergelombang bak ombak lautan Baltik. Tidak terlalu ada riak. Lembut. Diikat begitu saja.

Ia memandang ke luar jendela. Tidak ada apa-apa. Hanya desing mesin pesawat yang ujung sayapnya tertutup awan putih. Tak terlihat apa-apa. Karenina, ia tetap memilih memandang ke luar jendela.

Enam bulan yang lalu

Suasana dalam pesawat senyap. Beberapa penumpang tidur, sebagian membaca buku, majalah, brosur pariwisata. Sepasang muda-mudi yang bermesraan, dan ia menekuni layar notebook-nya. Kedua matanya tertuju pada monitor penuh huruf-huruf. Menjadi editor sebuah penerbitan besar yang memiliki cabang di beberapa negara Eropa, membuatnya sering mengunjungi berbagai negara. Kali ini Kopenhagen, Denmark. Negeri ujung hampir menyentuh Antartika ini dikenal sebagai negeri dingin, damai dan hampir nol persen konflik. Beberapa tokoh menyebutnya dengan:  A Piece Of Paradise.

Kelopak matanya terlihat lelah. Ia lepas kacamata lalu meminum seteguk air putih. Memandang sekeliling. Tenang. Semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tak ada yang aneh. Duduk di sebelahnya perempuan sekitar 50-an tahun, sedari tadi menyapa, mengajaknya berbicara singkat, santun khas orang Inggris. Tidak berisik dan mengganggu.

Tiba-tiba terdengar seorang wanita bicara dengan nada tinggi dalam bahasa Jerman. Memelototi seorang pria yang duduk di sampingnya. Beberapa penumpang lain memandang ke arah mereka. Si wanita berdiri meninggalkan tempat duduknya. Semua orang melihat. Sepertinya mereka adalah suami-istri.

Semua berpusat pada mereka, termasuk Karenina. Ia lepas kacamatanya. Ia tekan tulisan shut down di layar notebook-nya, menutup dan memasukkannya dalam tas. Ia memilih memperhatikan sepasang suami-istri yang bertengkar itu, dalam bahasa Jerman. Puncaknya wanita itu menampar si lelaki, lalu berdiri berjalan cepat menuju toilet pesawat.

Karenina membuka sedikit bibirnya melihat adegan pertengkaran itu. Ia memang tidak fasih berbahasa Jerman tapi ia sedikit memahami pertengkarannya. Karenina memutar 45 derajat ke arah kiri. Pandangannya beradu dengan seorang pria berambut cokelat. Wajahnya penuh jambang di dagu dan pipi. Memegang sebuah kamera berteropong panjang. Mirip milik paparazi pemburu Lady Diana. Seperti fotografer profesional.

Pria itu hanya beberapa meter dari tempat duduknya. Dia tersenyum lebar ke arah Karenina. Memamerkan barisan giginya yang putih. Ia mengangguk. Sekadar membalas dari pandangan mata yang beradu tanpa sengaja. Karenina tersenyum tipis.

Rosenborg Palace

Karenina berjalan menyusuri jalan setapak yang menjulur menuju sebuah bangunan tua nan megah. Sebuah bangunan yang tidak berubah struktur eksteriornya. Besar, berdinding bata berwarna abu-abu. Benar-benar tua. Melihatnya laksana terjebak dalam kisah-kisah kolosal di masa lampau. Sebuah tempat megah pertemuan para Duke.

Rosenborg Palace kini hanya penyedap Image Capture para wisatawan Kastil tua abad pertengahan. Saksi berbagai cerita-cerita masa lalu. Ia juga saksi bisu kisah Karenina. Karenina menaikkan syalnya menutupi seluruh leher jenjangnya. Mendekap kedua tangan bersilang memeluk tubuhnya sendiri. Benar-benar dingin. Ia isap kuat-kuat hawa dingin kota Kopenhagen.

Dibiarkannya oksigen  memenuhi paru-parunya. Dibiarkan pula sebuah kisah singkat itu menyelam di labirin otaknya. Ia menutup kelopak matanya sebentar dan hologram seraut wajah nampak sekilas. Segera ia buka kedua mata itu lalu memandang lepas di lahan luas berumput hijau.

“Engkau seorang penulis?” Suara berat itu melontarkan sependek kalimat tanya. “Ya. Dulunya. Sekarang aku lebih banyak mengedit tulisan orang. Karena pekerjaan. Di kota ini aku ditugaskan menemui seorang penulis cerita untuk anak-anak. Perusahaan saat ini mulai concern menerbitkan tulisan untuk anak-anak.”

Pria itu menopang kamera berteropong panjang membidik bangunan dari berbagai sudut. Sesekali ia membidik Karenina sambil bicara. Karenina menikmati sejenak menjadi obyek kamera berteropong panjang itu.

“Apa yang kamu potret? Alam, manusia, bangunan?”

“Aku memotret apa saja. Tapi untuk pekerjaan fokus pada bangunan. Sebuah bangunan yang tua, modern, sempit, luas, unik, apa pun untuk sebuah program TV.”

“Oh, ya? Aku jarang nonton TV, aku pikir TV membosankan.” Karenina menyibak rambut merahnya. Ia mulai sedikit terkesan.

“National Geography. NatGeo People, tepatnya. Salah satu program bertema Humanity. Aku versi majalahnya, menyediakan foto-foto berbagai bangunan, rumah, pondok, apartemen, termasuk kastil.”

Karenina meninggalkan kompleks wisata Kastil Rosenborg Palace. Memberhentikan taksi dan turun tepat di Downtown Kopenhagen. Menyusuri trotoar. Ia tidak menuju ke mana-mana. Ia mengikuti ke mana kaki berbalut sepatu boot itu melangkah. Hanya mengamini kata hatinya. Hati itu kini dipenuhi sebuah nama yang sempat hadir dalam hidupnya. Merampok hatinya pelan-pelan.

Restoran kecil ala Italia tepat di depan kakinya yang berhenti melangkah itu memiliki sebuah riwayat bersamanya. Di sanalah ia pernah menikmati setepi senja yang syahdu bersama laki-laki yang selalu membawa kamera berteropong panjang. Membicarakan banyak hal. Tertawa bersama.

Tak bisa ia lupakan barisan putih giginya ketika tersenyum. Laksana senyuman seorang ksatria yang gagah dalam cerita-cerita klasik. Memberinya ruang teduh dari bisingnya rutinitas hidup. Di sudut ruangan restoran itu, Karenina tidak melupakan.

“Engkau memiliki mata yang indah, Karen. Kau tidak menyadarinya?” Pandangan laki-laki itu, pujian yang keluar dari bibirnya laksana dewa yang menyematkan sepasang sayap di antara kedua pundaknya. Ia merasa telah dinobatkan sebagai seorang bidadari yang cantik.

Ia menyeruput Cappucino, mengiris kecil dua lapis Wafel yang disiram sirup Mapple. Diam dalam temaram lampu-lampu meja. Wajahnya putih pucat. Riak mukanya menerbitkan kesedihan. Bibirnya menggumankan sebuah nama.

Kembali ia melihat wajahnya yang memantul di cermin yang menggantung di atas wastafel. Membasuhnya dengan air hangat. Mengambil sebutir aspirin dan menelannya sambil memejamkan mata. Melangkahkan kaki-kaki jangkungnya dengan sedikit berjingkat menuju tempat tidur dalam flat yang ia sewa selama tiga hari saja.

Desiran angin malam kota Kopenhagen menyerobot masuk di jendela kamar yang terbuka sedikit. Dingin. Karenina merebahkan diri, dan memeluk bantal, membauinya. Aroma tubuh laki-laki itu masih melekat. Bahkan bibirnya yang lembut dan jambang di dagu itu masih terasa pernah meninggalkan jejaknya di bibir, wajah, leher dan punggungnya.

Karenina menikmati setengah tidurnya dalam kenangan bersama pria itu. Ia tidak lupa betapa ia rela memainkan ritme percintaan dengannya.Ya. Setengah tidur saja. Ia sejenak menghadirkannya kembali. Kisah tempat tidur ini.

Tempat ia melabuhkan seluruh perasaannya. Menggemakan lagi lagu-lagu cinta dalam hangatnya pelukan lengan laki-laki itu, masih ia ingat suara lembut berbisik pelan, membunyikan kalimat yang seketika meruntuhkan stupa-stupa kuil cinta yang baru saja selesai ia susun. “I’m Married.“ Karenina tidak bisa memejamkan mata. Air matanya menggenang. Tangannya memegang perut yang di sana tinggal gumpalan darah yang berdenyut.***


Fataty, bernama asli Fatatik Maulidiyah, S.Ag, M.PdI. Seorang guru PAI di MAN 2 Mojokerto. Tinggal di Kemlagi, Mojokerto.

Puisi

Puisi Budhi Setyawan

Penyepian

begitu dalam pagut gaduh meracuni urat tahun
dan kepak jelajah kian jauh
dilambai ingin yang terus ulurkan samun
jalanan pun penuh lampu
yang sumbunya mengait ke detak masa depan
dengan rumus yang dikeramatkan

lalu merecik 
kilasan tanya di tubir pasai
ke mana alamat semua arus ini
ketika semua peluk dan ciuman ketergesaan
adalah serombongan tafsir yang banal
dan juga gagal dalam menandai
denyut keberadaan 
di bawah tatapan ruang yang seringai
dan terkaman waktu yang serigala

lalu perlahan dan lirih
ada yang memanggil untuk duduk berdiam
di haribaan hening jam 
mengembalikan hasrat kepada rongga
jeda napas sebelum terbit kata
pukau yang tersapih dari risau
bukan tentang siapa siapa
dan tidak untuk apa apa

Bekasi, 2020 


Silam Haru dan Rudapaksa Kota

sepi
bertandanglah
usapkanlah telapak nirmalamu
ke dadaku yang tirus dan koyak ini
oleh riuh amuk berahi kota
yang rajin kirimkan peluk
dan menciumiku tanpa cinta

ingin kulepas kepercayaan pada langit
saat keniscayaan kata begitu rumit
dan teduh dusun di punggung kanak masa lalu
diam diam menertawakanku

ah, ini kegilaan menggumuliku
sampai tumpas lepas belulang kenang
suaraku pun gawal menyentuh kemurnian waktu
tak ada kesedihan 
hanya ada bisik berkaca kaca
diam diam merayap sendiri
ke ruas napas yang begitu piatu

Bekasi, 2020 


Nujum Cium dari Kota

kota kota adalah tarian para perempuan sintal
yang datang dengan dada setengah terbuka
berlari gegas padamu sembari 
mengabarkan ramalan kebahagiaan
dan mengibarkan bendera
bertuliskan sajak sajak masa depan
tercerabut dari kemarin yang temaram

lenguhannya menikam jantung langit 
mencipta awan yang entah kapan
menjelma hujan
dan rayuannya selalu menjadi penunjuk jalan
bagi kuda hijau usai melepas diri dari istal

mereka merawi hasrat kemakmuran
menjadi kitab ciuman 
yang antarkan musim penghambaan
pada pohon larangan dengan dahannya
memijarkan lampu lampu
sebarkan bayang ketergantungan

kau pun menjadi bagian 
dari yang mengimani kejumudan 
dalam kerubut kesibukan kata kata 
yang mengalir dari pelukan kota berparfum nakal
dan membuatmu lupa pada riwayat muasal

Bekasi, 2020 


Kota Besar

kota besar
adalah sosok asing yang melintas
di depan kita saat menunggu
keajaiban nasib
dari kesialan yang rumit

dengannya tak banyak cakap
tentang nama atau alamat
apalagi ihwal tabiat
namun tetap kita kawini juga ia
sudah kepalang tanggung cumbuan
mesti segera dituntaskan
lebih hunjam
dan ratusan ritual pengulangan

maka lahirlah anak anak
bermata cekung
dengan tatapan nyalang dan sangsi
lalu berkata:
ceritakan pada kami apa itu cinta?

Bekasi, 2020 


Diingatkan Agar Melupakan

lupakan ciumanku,
katamu dari balik bait puisi
di halaman sebuah buku 
yang tekun ikhtisarkan waktu

kalimat bermajas telah berlalu
menuju kemarin yang tenang
tetapi kuraba masih ada tubir retak 
dari hampar kemarau di bibirku

saat kubuka halaman berikutnya
kamu kembali berucap
kau amat bandel ya,
betah bersama lembar perihmu

Bekasi, 2020 


Sebagai Teman

sebagai teman 
izinkan aku menemanimu
membaca puisi 
pelan pelan merunut 
dan menyusup ke sebalik diksi 
mencari cuaca yang lebih teduh dari hari ini
meski ia tak jua tertangkap 
biarlah menjadi buhul dalam ingatan pagi

kembali kita akan jelajahi
setapak rumpil di antara tunjam tunjam majas 
yang sulurnya mengejapkan bermacam warna
detak kita mengejar ruang ruang baru
yang berjela rambatan tafsir
seperti berkelok raih 
gulir usapan jauh dan dekat
meski lagi lagi kita tak mendapatkan buruan
hingga bait penghabisan
dan kata terakhir

sebagai teman
izinkan kutulis puisi untukmu
namun jangan kautanya makna
barangkali saja bisa menjelma sehampar taman
yang tak lupa pada matahari
dan tumbuh rimbun perdu kegembiraan
yang dengan riang akan bilang:
betapa kita tak pernah sendiri

Bekasi, 2020 


Bepergian

ada kalanya kita perlu bepergian
ke tempat terjauh di dalam diri
ke bilik-bilik yang selalu terang
meski tanpa lampu dan matahari

di sana kita bisa merekam detak
membaca napas dan mengusap
pori yang menyimpan getar puisi
dan terlalu lama menunggu sendiri

Bekasi, 2020


Detak Detik

tiba tiba jam dinding
di ruang tengah itu berucap
maaf, aku jalan sendiri dulu

ku tak bisa menunggu

kau kelewat peragu
diammu serupa jarum menusukku
sedangkan kau pun tahu
aku tak punya banyak waktu

Bekasi, 2020


Perempuan Bubu

aku hanyalah ikan kecil
yang riang berenang 
di riak kali kecil
berbatu

lalu kutemu bantaran 
landai dengan sebaran kerikil miring 
dan jeram mungil

kuturut arus
terjun di lubuk tenang
dan cuma satu arah
aku masuk ke sempit pintu
dengan rumbai tajam lidi bambu
tak bisa lagi keluar ke hulu

berputar putar aku
dalam perangkap
bubu

: lingkarwaktu, sintal tubuhmu

Bekasi, 2020 


Pagi Mencakar Dadaku

matahari kabarkan beringas kemarau
teras rumah dipanggang
dan seonggok tubuh luruh
bobi, anak kucing dengan tubuh kaku pergi

tak ada lagi mungil kuku kuku
mencakar kandang
memanjat kaki dan punggungku

kemarin kau melemas
tak mau bersantap
seperti teman temanmu

ah, gegasnya kau 
menancapkan haru 
di pagiku

Bekasi, 2020 


Budhi Setyawan, lahir di Purworejo, 9 Agustus 1969. Mengelola Forum Sastra Bekasi (FSB) dan Kelas Puisi Bekasi (KPB), serta ikut bergabung di komunitas Sastra Reboan dan Komunitas Sastra Kemenkeu (KSK). Buku puisi terbarunya Mazhab Sunyi (2019). Bekerja sebagai dosen. Saat ini tinggal di Bekasi, Jawa Barat, Indonesia.

Puisi

Puisi Ali Ibnu Anwar

lubang pot

lubang pot itu menanam hari-hariku. sebatang hari

tumbuh. sebatang kaktus tumbuh. melipat daging

segar yang menyebar dalam tubuh. setiap bangun

pagi, kuhirup udara amis dalam masker. bau berita

yang membongkar mortalitas manusia. kematian

bersembunyi di balik data-data menakutkan. kematian

yang juga menakuti kursi, meja kerja, baju kotor dan

cangkul. sial! siapa yang berhak atas kematian?

hari-hari gagal. waktu tanggal, aneh dan mengerikan.

bank tutup. kantor pajak tutup. puskesmas tutup.

sekolah tutup. ruang-ruang pelayanan mencekam

dalam lubang. lubang penuh duri yang senang

melukai gumpalan daging jadi merinding

lubang pot itu menumbuhkan senin setengah minggu.

senin yang kehilangan arti dalam kamus. bahasa

mengkerut dalam ritme isolasi, pandemi, hati-hati,

masker, kematian, kematian dan kematian. kematian

adalah jumlah kata yang paling banyak dicari,

sekaligus paling dihindari

jam-jam bergoyang, berputar, mengitari sebuah

lubang mencekam di dadaku. lubang yang tak pernah

tahu, kapan ia digali terakhir kali. untuk sebuah pot.

untuk sebiji hari yang menyerahkan kafan

pembungkus badan

jember 2020


cetak biru

segalanya harus dicetak biru. buku-buku, isu-isu,

rambu-rambu mencetak abu-abu. hari penuh hantu,

pincang dalam rencana penuh bencana

demi sebuah virus, segalanya harus diurus melawan

arus. tes rapid bagi sebuah buku yang belum selesai.

setiap kata dan kalimat perlu disemprot alkohol.

karena bahasa sudah menghindari bau rempah dan

tumbukan param

bagaimana cara mencetak biru sebuah kekosongan?

jember 2020


gerak berjarak

hari ini aku bergerak. berjarak. menghimpun apa-apa

yang sedianya berserak

setiap gerak butuh jarak yang cukup. langkah yang

cukup akan memberi jejak yang cukup pula. tapi

gerak perlahan hilang pijak

rumah-rumah tak lagi mampu menampung gerak.

perubahan juga gerak yang lain. gerak yang tak punya

silsilah untuk sebuah post factum. gerak yang

perlahan membuka buku kas, untuk menambal catatan

hutang, bagi kompor yang kehabisan gas

aku harus bergerak dalam pecahan jarak. dalam kerja

acak. bilapun diam, aku ingin orang-orang

mendengarku teriak

jember 2020


wabah melimpah

bersamaan jumlah orang terjangkit wabah melimpah,

orang lainnya membeli masker dari orang lainnya.

orang lainnya menjual masker untuk orang lainnya.

orang lainnya menganjurkan pakai masker bagi orang

lainnya. orang lainnya mendenda orang lainnya yang

tak pakai masker

di samping itu, orang lainnya mencurigai orang

lainnya yang bersin-bersin. orang lainnya menolak

jabat tangan orang lainnya. orang lainnya menetapkan

kematian akibat wabah terhadap orang lainnya. orang

lainnya tak terima keluarganya dikubur secara

protokol cegah wabah oleh orang lainnya

di sisi lain, orang lainnya mencari cara membeli

vaksin untuk menyelamatkan orang lainnya. orang

lainnya menduga ada permainan dilakukan orang

lainnya. orang lainnya diam-diam menunggu simpati

dari orang lainnya. orang lainnya diam-diam mencari

simpati dari orang lainnya

orang lainnya tertawa melihat orang lainnya yang

tertawa melihat orang lainnya

jember 2020


instalasi gawat darurat

sebuah ruangan membeku. di dalamnya ranjang

tertutup kelambu. di atas ranjang tubuh istriku. di

dalam tubuh itu calon anakku yang siap menghadapi

gunting, jarum jahit, dan usia yang belum genap. usia

yang menggunting jalan rahim setengah matang

seorang bidan gemetaran. lampu sorot untuk sebuah

kelahiran melototkan cahaya, pada sepotong tubuh

yang mengerang. ketegangan mengejan. sebuah

lorong mengirimkan seonggok daging merah setengah

matang

untuk sebuah instalasi kelahiran. ruang setengah

gawat. sore setengah darurat. seorang bayi menginap

dalam inkubator. sebuah kotak penghangat, telah

memisahkan kami dalam dingin yang ngilu

jember 2020


perihal asin

tentang kapal yang dulu pernah mengantarku

menyeberangi laut itu, ada saja kisah rahasia. garam

yang ingin menjadi ikan untuk sebuah impian. dulu

sekali ia pernah berpikir, kalau antara surabaya dan

madura terbentang sebuah jembatan, lambat laun laut

jadi barang antik di museum ingatan. ia akan berhenti

memperhatikan sepasang kekasih yang menghirup

angin di atas geladak sana

garam tak pernah mengeluh dan membutuhkan

jembatan, untuk menghubungkan rasa asin dan lemak

di tubuh ikan. ia pun ingin menjadi ikan, untuk

merasakan seberapa pekat rasa asin yang menjalar ke

tubuhnya. tak seorang pun mau mengakuinya, walau

dalam gelap matanya selalu menangkap mesin berbau

minyak yang mengubah rasa asin di tubuhnya

sejak itu, garam tak hanya ingin menjadi ikan. ia juga

ingin menjadi diriku yang selalu bernyanyi dengan

nada sumbang dalam amuk gelombang. ia selalu lebih

tahu, bahwa laut tetaplah guruku, yang mengajariku

menjadi karang, sebelum usiaku menyusut seperti

ombak menjabat pasir di pantai itu

madura 2020


selain laut

selain laut tak ada yang bisa melahirkan gelombang.

tapi cinta lebih mahir membuat gelombang di hati

kita. sajak-sajak bagai kapal yang berhenti berlabuh.

menambatkan berindu-rindu sauh dan sahdu.

kita kembali menjadi sepasang anak muda yang

mengenal cinta berbekal kasih yang menjalar jenaka,

di atas kapal. menebas-nebas dingin udara.

senyummu yang santun menebar ke segala semesta.

dahulu, selain laut tak ada yang bisa mengantar kita,

ke tempat kita bercita-cita menjadi purnama. kecipak

air dan riuh para penjaja begitu akrab bagi kita.

membunyikan lonceng kenangan, hingga kita

terbangun dan membuka mata.

kini, kita seberangi selat madura bukan lagi dengan

kapal dan angin. cukup duduk di atas kursi beroda

yang dipangku jembatan, melepas deru mesin.

segenap cahaya dan kerlip bintang, menanti

menemani mendekat dan pergi. dingin gemetar yang

dulu menimang, diganti pendingin suhu ruangan.

selain laut, adakah yang bisa mencium bau anyir

tanah ini?

madura 2020


tanjung papuma

langit begitu sempurna menyala di atas tanjung

papuma. laut biru memikat takjub jagat raya. bak

sajak, langit dan laut tak pernah tua. selalu berdarah

remaja membagi canda dan manja. aku berdiri di atas

tebing, dibimbing dua ratus anak tangga. mengaduk-

aduk napas yang beringas.

siapa yang paham jarak antara kaki langit dan sudut

biru itu? hutan-hutan, batu karang yang mengurung

laut itu, sebentar saja sudah menjadi gemuruh

sumbang gelombang.

matahari masih menggenang di barat langit. dan

ombak yang perkasa seakan menantang hari dan

melotot pada karang berduri. sementara aku masih

menyimpan ragu, terhadap cucu dan anak-anakku.

karena hutan-hutan itu perlahan melahirkan

kehilangan-kehilangan yang pasti.

jember 2020


Ali Ibnu Anwar, lahir di Jember. Menulis puisi, cerpen dan novel. Penggagas dan bergiat di Komunitas Ranggon Sastra, Jakarta. Kini berdomisili di Jember, sebagai petani, penulis dan editor lepas. Buku puisi terbarunya, Orde Batu (Buku Inti, 2020)

Cerpen

Percakapan Dua Ikan

Cerpen M.Z Billal

Dari rumahku, sekitar 35 kilometer, kita akan berhenti di perempatan. Makan siang di salah satu kedai yang menghadap langsung ke Tugu Patin yang elegan dan kokoh, berdiri pada bundarannya. Tugu itu adalah monumen kebanggaan kota Pematang Reba sebagai kota administratif di Indragiri Hulu. Dari kedai itu pula nantinya, kau bisa melihat dengan jelas sepasang ikan patin itu terlihat berenang riang saling bercengkerama satu sama lain di bawah naungan setangkai seroja merah muda. Membuatmu merasa seperti ikut berenang di dalam Sungai Indragiri yang cukup permai untuk disusuri. Namun belakangan, sayangnya sungai itu kian hari makin dangkal akibat penambangan pasir liar. Hal itu juga mengakibatkan pemukiman di sepanjang tepi sungai menjadi langganan banjir bila musim hujan tiba.

“Wah, kau memilih tempat dengan angle yang bagus untuk memandang tugu itu secara detail,” katamu saat kita baru saja duduk di dalam kedai seraya memesan masakan khas kotaku, yakni asam pedas ikan patin.

“Tentu saja. Sudah kukatakan padamu, aku tidak akan membuatmu kecewa bila mampir ke sini?” Aku tertawa kecil sambil memperhatikan sepasang matamu yang masih asyik memandangi tugu itu. “Apa kau mau berfoto di dekat tugu itu?” tanyaku kemudian.

“Ya ampun, aku senang sekali bila kau mau mengambil gambarku di sana! Itu akan jadi kenangan yang tidak terlupakan.” Kau kegirangan. “Tapi, pasti mengganggu kendaraan yang lewat.”

“Ah, tidak kok.” Aku cepat-cepat membuatmu merasa yakin. “Aku akan mengantarmu ke pinggir bundaran tugu itu, lalu aku mengambil gambarmu dari seberang jalan. Nanti kita atur pose yang bagus. Bagaimana?”

“Baiklah, aku akan menurut kata sang fotografer biar hasilnya bagus. Hehe.” Kau tersenyum ketika pelayan membawa hidangan makan siang yang kita pesan.

Sungguh, sampai detik ini aku masih tidak menyangka kalau kau benar-benar di hadapanku. Kau datang dari kota jauh untuk menemuiku. Padahal kita hanya berkenalan melalui sosial media Instagram. Bahkan bahan percakapan kita di sana pun tidak lebih dari seputar destinasi wisata, buku-buku yang kita sukai, atau sesekali kau menunjukkan artikel-artikel bagus yang kau tulis untuk media tempatmu bekerja, sementara aku memperlihatkan foto-foto hasil bidikanku di beberapa tempat yang pernah kukunjungi.

Aku berharap setidaknya kau akan menyukai salah satu hasil jepretanku yang masih amatiran. Aku bilang begitu karena aku yakin hasil foto buatanmu jauh lebih bagus, mengingat kau seorang jurnalis, sementara aku cuma tukang foto serabutan yang mencintai lanskap alam, bukan seorang fotografer. Pekerjaanku sebenarnya menjaga toko alat tulis dan fotokopi yang kurintis sendiri.

Entah apa yang membuat seorang sepertimu bisa serius menanggapi aku yang tidak terkenal. Bahkan benar-benar berkunjung ke kotaku ini.

Memang, kau punya alasan kuat untuk sampai kemari. Kau bilang ingin mencari inspirasi untuk artikel barumu. Sebab jiwa petualangmu merasa terpanggil meski kau  seorang perempuan. Tetapi, sekali lagi, aku betul-betul masih tidak menyangka itu akan sungguh terjadi. Aku sampai merasa sangat gugup mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu tatkala kau tiba-tiba mengirimi aku pesan di Instagram, bahwa kau akan datang ke tempatku. Aku jadi serba salah, takut kau kecewa karena aku tidak sekeren yang kaubayangkan ketika kita saling memuji di ruang chatting.

“Luar biasa! Ini masakan yang sangat lezat!” katamu sambil menyendokkan kuah asam pedas patin ke mulutmu.

“Apa kau betul-betul tidak pernah merasakan masakan ini?” tanyaku.

“Mungkin pernah. Aku tidak begitu ingat,” jawabmu seraya tersenyum. “Tapi yang kucoba sekarang ini benar-benar enak. Aku tidak merasa mual, padahal yang kutahu bau amisnya ikan patin cukup menyengat.”

“Wah, kau mahir juga menilai masakan.” Aku merasa senang bisa memujimu secara spontan. Kau langsung terlihat malu-malu. Kupikir jurnalis sudah kehilangan esensi malu-malu karena terlalu sibuk mengejar berita dan artikel yang dikejar tenggat waktu.Terlebih saat yang diburu berita-berita kriminal atau bencana alam.

“Aku tampak seperti juri Master Chef, ya?” Kau terkekeh. Membuat dadaku tiba-tiba dipenuhi perasaan yang tidak biasa. Ingin kukatakan tapi aku sendiri tidak tahu harus bilang apa. Jadi aku cuma bisa ikut terbawa dalam tawa kecilmu. Maka kutambahkan saja bahan candaan serupa agar suasana semakin santai. “Asal kau tidak salah membedakan gula dan garam tanpa mencobanya, kau sangat cocok jadi juri.”

Lalu kita saling diam. Menikmati menu masakan jelang siang di kedai sembari sesekali melempar pandangan ke arah orang-orang yang masuk dan keluar. Makin siang, warung makan semakin bertambah ramai. Suhu ruangan pun semakin hangat. Karena matahari bersinar cerah sekali hari ini.

“Eh, setelah ini kau mau ajak aku ke mana tadi? Aku lupa,” katamu membuka percakapan lagi.

“Danau Raja. Tempat pemandian para putri Raja Indragiri zaman dulu.”

“Wah, keren! Aku sempat melihat danau itu di internet kemarin. Nanti sekalian kauceritakan ya tentang kota itu. Biar aku tidak repot-repot membuka laman internet. Hehe.”

“Aku kurang tahu banyak,” jawabku sambil membalas senyumanmu yang manis berulang kali. “Tapi aku akan tetap cerita semua yang kuketahui. Aku yakin sekali, sepotong cerita yang kututurkan pasti bisa kautulis sebanyak lima lembar A4.”

Tiba-tiba tawamu meledak. Sampai membuat orang-orang di dekat kita menoleh dan merasa aneh. Aku sungguh tidak menyangka kau benar-benar tertawa karena kalimat yang kukatakan. Padahal aku percaya eksistensimu sebagai jurnalis, bukan untuk bercanda. Namun melihatmu tertawa lebar, aku jadi merasa sangat nyaman. Ya ampun, aku berhasil menaruh sesuatu yang menyenangkan di dalam hatimu. Aku jadi merasa kita mirip patung sepasang ikan patin yang berdiri artistik di pusat kota Pematang Reba ini. Kita saling bercengkerama apa saja yang membuat kita akrab dan saling mengisi satu sama lain. Hanya saja, kupikir kau bukanlah ikan patin betina di perairan Sungai Indragiri ini. Kau adalah seekor ikan dari perairan jauh yang singgah sejenak kemari. Mengunjungi aku, ikan asli penghuni kedalaman Sungai Indragiri.

“Baiklah, selepas salat Zuhur nanti, kita langsung ke Rengat ya. Tapi sebelumnya kau harus memotretku di dekat Tugu Patin itu. Aku betul-betul tidak sabar pamer foto bagus di Instagram-ku. Kalau bisa kita foto bersama.”

Mendengarmu mengajak aku foto bersama. Dadaku berdegup lebih cepat dari biasanya. Saking senangnya aku ingin cepat-cepat keluar dari kedai dan memotretmu. Bahkan ketika ponselku berdering aku sampai tidak dengar. Padahal itu telepon penting dari seorang teman. Ah, perasaan suka kadang benar-benar membuat orang-orang kehilangan daya fokusnya.

Selesai makan kita langsung keluar. Aku memotretmu dan kita berfoto bersama. Mulai dari pose-pose yang bagus sampai kepada ekspresi yang lucu. Kita memastikan  apa yang kita lalui pada hari ini adalah cerita-cerita yang layak dikenang untuk waktu yang tidak terbatas. Sampai akhirnya kita tiba di tepian Danau Raja yang sejuk dan aku mulai bercerita tentang sejarah kota bertuah ini. Kau tampak betul-betul mendengar seluruh yang kututurkan, hingga tanpa sengaja aku mengucapkan kalimat yang seharusnya tidak boleh kuucapkan. Sepertinya aku telah mengacaukan suasana.

“Aku betul-betul senang sekali bisa bertemu denganmu, bahkan bisa menceritakan tentang kota ini. Aku berharap kau tidak pergi dan kita bisa berbincang lebih banyak lagi.”

Kau diam sejenak. Mengalihkan pandangan kepada gulungan ombak kecil di tengah danau. Menatap perahu mesin membawa beberapa pengunjung berkeliling dan menikmati sensasi mengambang di atas Danau Raja yang indah.

“Aku juga sangat senang bisa bertemu denganmu. Aku tidak salah memilih teman, meski lewat sosial media. Kau sangat ramah. Kota ini pun membuatku betah dan ingin tinggal lebih lama.” Kau mengatakan sesuatu yang membuat perasaanku tenang. “Tapi, sungguh maaf, aku tidak mungkin berada di sini. Kau akan selalu jadi salah satu teman terbaikku. Lain waktu aku akan kembali, atau saat kau mampir ke kotaku, aku akan mengajakmu berkeliling sampai puas.”

Aku mengangguk seraya tersenyum dan merasa lega. Tentu saja aku tidak bisa memaksamu, begitu pun dengan perasaanmu. Itu sikap yang konyol. Kupikir, dengan menyukaimu secara rahasia akan membuat hubungan ini akan baik-baik saja. Bukankah menjadi teman artinya kita bisa bebas menyatakan rasa suka?

“Hei, maukah kau naik perahu itu juga? Ayo!” Ajakmu seraya menarik tanganku.

***

Pagi-pagi sekali, di hari Minggu yang cerah, kau tiba-tiba mengirimi aku pesan melalui Whatsapp. Kau bilang: Kau harus baca ini! Kita keren!

Di bawah pesanmu tertera tautan sebuah laman online. Aku tahu betul itu laman berita resmi tempatmu bekerja. Tanpa pikir panjang segera kuklik tautan itu. Betapa tidak kusangka, foto-foto kebersamaan kita kau lampirkan sebagai foto pendukung artikel yang kautulis. Rasanya dadaku berdebar semakin cepat. Aku terharu, aku senang sekali, aku tidak tahu mau bilang apa. Aku semakin ingin pergi ke kotamu. Terlebih saat kaukutip sepenggal puisi yang kutulis di buku catatan kecilmu pada bagian akhir artikelmu. Hal itu semakin membuatku rindu ingin bertemu.

“Kita adalah sepasang ikan. Pembicaraan kita puitis. Nanti kita saling merindukan. Meski kita berenang di sungai yang berbeda.”**


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termaktub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019). Karyanya tersebar di koran dan media daring. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER), Komunitas Pembatas Buku Jakarta, dan Kelas Puisi Alit.