Cerpen

Suatu Hari, Aku Ingin Piknik

Cerpen Galuh Ayara

Dua pasang roti tawar, selai stroberi, susu kemasan, darah-darah menetes, pisau, padang rumput, keranjang piknik, dan aku ingat senyum ayah. Namira tak ada. Namira tak boleh ada.

***

Suatu hari, aku sangat ingin piknik bersama ayah. Tidak perlu jauh-jauh, cukup ke bukit kecil di dekat stasiun tua itu, atau padang rumput belakang pabrik teh. Aku akan membawa roti dan selai stroberi, juga buku-buku dongeng klasik tentang seorang putri dan ayahnya sang maharaja yang baik hati. Jangan, jangan ajak Namira. Aku hanya ingin berdua saja dengan ayah.

Aku ingin sekali merasakan bagaimana lembutnya belaian tangan kekar itu di kepalaku yang kadang terasa amat berat. Aku ingin merasakan bagaimana ia mencubit hidungku seperti ia melakukannya pada Namira lalu mereka berdua tertawa-tawa. Aku ingin ayah berhenti memarahiku setiap kali aku melakukan kesalahan dan meneriakiku bodoh dan ceroboh.

Suatu hari ibu dan ayah bertengkar hebat di ruang tamu. Aku coba melerai mereka tapi ayah mendorongku dan mengulang lagi ucapan menyedihkan itu, aku hanyalah anak hasil hubungan gelap ibu dengan lelaki yang entah siapa, lalu ayah menikahi ibu karena kasihan.

Ibu, tak pernah sekali pun ia membelaku setiap kali ayah memaki dan menghinaku. Perempuan itu hanya memandangku dengan tatapan paling biasa lalu pergi ke dapur atau ke kamar tidur.

Ibu bilang, aku hanya mengingatkannya pada seorang lelaki kurang ajar yang meninggalkan ibu setelah tahu hubungan gelapnya membenihkan janin. Ibu memang tak pernah memarahiku tapi juga tidak mencintaiku seperti ia mencintai Namira. Ibu selalu diam di depanku tapi banyak bicara jika di depan Namira.

“Ibu, kenapa dulu aku tidak mati saja dalam rahimmu, supaya Ibu tak pernah melihatku dan mengingat laki-laki itu? Dia bangsat kan, Ibu? Tapi aku tidak tahu menahu.”

Ibu bahkan tak melirikku, tangannya sibuk dengan parutan keju dan kue bolu.

Di sisi lain, adikku Namira begitu menyayangiku. Tak segan ia membagi apa pun yang ia miliki, bahkan ia pernah mengalah; menukar gaunnya yang amat berkilau dengan gaunku yang biasa saja di hari ulang tahun kami. Aku dan Namira lahir di bulan yang sama hanya tanggalnya berbeda sepuluh angka. Usiaku hanya selisih dua tahun dengan Namira.

Aku heran, mengapa Namira terlahir sempurna dengan wajah cantik dan disayangi semua orang. Sementara aku?

Malam itu ayah mengumpulkan kami di ruang makan. Ia berkata sembari mata berkaca-kaca.

“Aku kena PHK,” katanya.

Saat itu kami semua hanya diam. Tak ada satupun yang bicara.

Di hari-hari berikutnya keadaan kami mulai sulit. Rumah semakin sering diwarnai pertengkaran. Lalu, di hari yang mendung itu, ibu pamit pergi sembari membuka payungnya yang berwarna kelabu. Ibu akan ke luar negeri, mengadu nasib sebagai TKI. Namira menangis di pelukan ayah, dan aku hanya diam seperti orang bisu.

Tiga bulan sudah ibu pergi. Kadang aku melihat ayah keluar rumah, lalu pulang dalam keadaan mabuk. Ia selalu bilang hendak mencari kerja, tapi entahlah.

Seperti malam itu, ayah berteriak sambil menggedor pintu, sebenarnya aku malas sekali bangun, tapi Namira seperti orang mati kalau tidur.

Aku setengah berlari karena takut tetangga terganggu dengan suara ketukan pintu yang terus menerus. Begitu kubukakan pintu itu, ayah ambruk ke pelukanku. Aku tak tahan dengan mulutnya yang bau, tapi dia ayahku.

Susah payah aku menyeret tubuh kekar ayah ke kamarnya. Tak sempat kunyalakan lampu, buru-buru saja aku membaringkan tubuh itu di tempat tidur. Aku bukakan sepatunya, dan tiba-tiba aku merasa tangan kekar itu membelai rambutku. Kulihat ayah tersenyum, betapa senyum itu sangat kurindukan. Ayah duduk di sebelahku, lalu mengangkat daguku mendekat ke mulutnya yang bau. Aku terpejam, merasakan mulut yang beraroma alkohol itu melumat mulutku berkali-kali. Aku tidak tahu. Aku bingung. Dia melakukannya dengan sangat hangat. Aku berdebar, tapi entahlah.

Pada akhirnya malam itu ayah melakukan sesuatu padaku yang seharusnya dilakukan bersama ibu. Aku merasakan sakit yang luar biasa, tapi aku bahagia. Aku seperti menemukan kesejukan salju, di antara panas dan merah darah perawanku.

“Ayah, apakah nanti kita akan piknik? Berdua saja, jangan ajak Namira,” tanyaku sambil masih meringis merasakan nyeri.

“Iya,” katanya sambil memejamkan mata.

Aku lantas beranjak. Sebelum kembali ke kamar, kupakaikan lagi pakaian ayah yang sudah mendengkur, kuulurkan pula selimut bulu untuknya, lalu sejenak memeluk tubuh itu sebelum pergi dengan perasaan campur aduk.

Siangnya, aku membuatkan segelas susu untuk ayah. Aku bawa ke kamarnya sambil senyum paling cerah. Kulihat ayah masih mengenakan handuk. Rambutnya masih basah kuyup. Aku taruh susu itu di meja, lalu pergi dengan jantung berdebar-debar. Akan tetapi, belum juga menutup pintu, ayah tiba-tiba saja menarik lenganku.

“Kinanti, maafkan ayah,” katanya.

Aku tersenyum lagi, lalu memeluk tubuh itu tanpa ragu.

Malam-malam berikutnya kami mengulanginya lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Lama-lama aku mulai terbiasa dengan sentuhannya. Benar, aku bergairah setiap kali berhadapan dengan tubuh kekar itu. Aku merasakan bahagia yang luar biasa dan membuatku semakin tidak ingin kehilangannya. Aku ingin terus bersama ayah sampai mati. Ayah hanya milikku. Tidak ada Namira, bahkan ibu. Esok lusa kami akan piknik berdua, di bukit dekat stasiun tua atau di padang rumput belakang pabrik teh.

Karena tidur terlalu larut malam, pagi itu aku bangun kesiangan. Keadaan rumah sudah kosong. Tak ada ayah, tak ada Namira. Di meja makan sudah tersedia roti selai stroberi, juga segelas susu yang sudah dingin. Aku menarik kursi. Saat hendak duduk tiba-tiba ponsel bergetar di saku piyamaku. Sebuah pesan daring masuk.

Kak, aku dan ayah pergi piknik. Tadi aku mau bangunkan kakak tapi nggak tega. Aku tahu kakak tidur larut malam. Kalau kakak mau nyusul, susul saja ke dekat pabrik teh.

Sial, hatiku kadung sakit. Teganya ayah membohongiku. Aku yang ingin piknik berdua dengannya, malah dia lupakan. Malah dia pergi dengan Namira. Ayah jahat. Ayah tidak pernah menyayangiku. Atau, aku yang bodoh? Ya, aku bodoh.

Aku pergi ke dapur, menyalakan keran di wastafel, kubiarkan airnya mengalir begitu saja. Aku lantas meraih pisau dari dekat kompor. Ya Tuhan, aku benci kehidupan.

***

Di padang rumput, di atas tikar piknik berwarna daun mapel, samar-samar kulihat ayah tersenyum. Kuperhatikan sekali lagi, ternyata bukan senyum. Ayah menjulur lidahnya keluar. Matanya masih ketakutan. O jangan takut, Ayah. Kupeluk tubuhnya yang membeku. Kuremas tangannya yang sedingin es. Dadanya bahkan sudah diam. Tebasan pisau di tanganku sepertinya berhasil membungkam detak jantungnya. Berapa kali tadi kuhujam dadanya? Sepuluh atau sebelas?

Namira tak ada, Ayah. Namira lari terbirit-birit. Biarkan saja. Sejak kecil dia takut darah.

Lihat, Ayah. Di sini hanya kita berdua ditemani kicau burung, capung-capung, dan matahari yang benam di balik ilalang. Kita sedang piknik. Berdua saja. Tanpa Namira. Tanpa siapa-siapa.

2020


Galuh Ayara, penulis yang masih belajar. Sudah menerbitkan buku pertamanya “Nyanyian Origami”.

Ragam

Menyuarakan Papua Melalui Seni Rupa

Dua puluh dua tahun yang lalu, 6 Juli 1998, ketika media-media di Indonesia lebih banyak menuliskan berita tentang seputar kerusuhan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, saat itu di Papua, tepatnya di Biak, terjadi demonstrasi. Aksi itu dibubarkan paksa oleh aparat dan berakhir dengan kematian beberapa orang, penyiksaan terhadap beberapa lainnya, serta hilangnya banyak pengunjuk rasa. Beberapa hari kemudian di pantai-pantai di Pulau Biak ditemukan potongan-potongan tubuh manusia yang hanyut dan terdampar. Pusara Tanpa Nama, Nama Tanpa Pusara, begitulah orang Papua menyebut hari nahas itu. Satu dari banyak peristiwa kekerasan yang terjadi di Papua yang tidak pernah menemui penyelesaian hingga saat ini.

The Red Guardian karya Ignasius Dicky Takndare

Mengusung semangat yang sama dengan apa yang belum lama terjadi di Amerika, ketika seorang pemuda bernama George Floyd harus meregang nyawa di tangan seorang polisi. Kabar kematian itu pun menyebar, tidak butuh waktu lama demonstrasi besar-besaran yang mengusung isu anti diskriminasi ras datang bergelombang memenuhi jalan-jalan di berbagai negara bagian Negeri Paman Sam. Menanggapi isu tersebut, Kelompok Udeido menggelar sebuah pameran seni rupa bertajuk Tonawi Mana secara virtual selama satu bulan, mulai tanggal 15 Juli-17 Agustus 2020 melalui laman udeido.com.

Pameran ini dimaksudkan untuk mengumpulkan suara-suara berbagai fenomena sosial, politik, dan humaniora yang terjadi di Papua dan mengemasnya pada sebuah ruang tersendiri yang menempatkan penghargaan terhadap hidup manusia Papua sebagai sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Karena sampai saat ini, Papua selalu digambarkan sebagai tempat kaum primitif dan barbar. Sedangkan seniman-seniman yang terlibat adalah gabungan seniman-seniman Papua dan seniman-seniman dari luar Papua, antara lain Ignasius Takndare, Taring Padi, Andreas Wahjoe, Fitri DK, Ina Wossiry, dan sederet seniman lainnya.

“Begitu banyak jenis seni yang menggunakan semua jenis medium untuk berbicara tentang Papua. Itu mengingatkan saya bahwa solidaritas, seperti pameran ini, berasal dari beragam kelompok yang menggunakan media mereka sendiri untuk menyampaikan pesan. Menarik melihat bagaimana seniman-seniman non-Papua ini peduli dan bersolidaritas terhadap isu Papua dan ikut berdiri, bersuara bersama orang Papua. Ini merupakan pesan penting yang kami harapkan berkembang kepada ranah lainnya,” kata Ligia Giay, aktivis yang terlibat dalam pameran.

Selain itu, pameran ini juga menempatkan konsep spirit Tonawi Mana yang eksklusif ke dalam aktivitas seni yang lebih luas, di mana Tonawi Mana bertransformasi menjadi suara-suara yang dihasilkan lewat karya seni dengan pendekatan dan interpretasi yang lebih bervariasi. Hal ini sejalan dengan apa yang ingin sampaikan oleh Komunitas Udeido bahwa permasalahan Papua perlu dibawa ke berbagai panggung yang tidak terbatas secara eksklusif untuk golongan tertentu saja. Tetapi menjadi masalah bersama yang kelak menumbuhkan tunas solidaritas yang jauh lebih besar lagi, yang menembus sekat sosial, ras, golongan, agama, dengan bentuk dan manifestasi yang beragam.

“Salah satu poin penting yang diungkap dalam pameran online ini adalah rakyat Papua yang dihantam berpuluh tahun oleh virus diskriminasi, rasisme, penindasan. Keseluruhan ekspresi tersebut tertindas oleh hiruk pikuk jargon kebesaran negeri ini yang menindih kebebasan bersuara rakyat Papua,” kata I Ngurah Suryawan, antropolog yang juga terlibat dalam pameran Tonawi Mana. [] Wahyu Indro Sasongko

Ragam

Garis-Garis Hanafi di Masa Pandemi

Pameran Seni Rupa “60 Tahun dalam Studio”

Situasi saat ini telah mempengaruhi seniman dengan satu dan lain cara, termasuk Hanafi. Setelah beberapa bulan ditutup karena situasi pandemi, pada bulan ini, galerikertas kembali dibuka dengan menyelenggarakan pameran pelukis Hanafi dengan judul “60 Tahun dalam Studio”. Pameran ini bertepatan dengan dua momen penting, yaitu momen 60 tahun usia Hanafi dan momen pandemi. Hanafi mengatakan, dalam kondisi apapun seorang seniman memiliki kewajiban untuk tetap melaporkan karyanya.

“Membuat karya pada masa wabah saya akui tidak mudah. Betapa sulitnya membuat jarak wabah Corona ini sebagai objek dan kreator sebagai subjek. Karena jika jarak ini tidak ditemukan, maka karya-karya yang tercipta hanya berisi kesedihan, keputusasaan, dan apatisme. Tantangan saya adalah merebut kembali jarak pandang untuk menemukan benih-benih keprihatinan hidup,” kata Hanafi.

Pada pameran ini, pengunjung akan lebih banyak melihat intensitas garis. Meskipun Hanafi sudah sejak dulu menunjukkan capaian yang mengagumkan soal garis, namun situasi saat ini memberikan tekanan yang berbeda. Karya dalam pameran ini seperti mengajak menuju apa yang hendak dijangkau oleh Hanafi. Selain itu, kondisi saat ini akan menjadi ingatan kolektif umat manusia abad ini. Salah satunya bisa dilihat pada mural Vincent van Gogh. Karya Hanafi itu ingin mengajak pengunjung untuk tetap berbesar jiwa dalam kondisi apapun. Sebab, mungkin situasi ini akan tetap menjadi salah satu isu yang akan tetap dibahas dan direspons oleh seniman lainnya.

“Pameran ini menampilkan karya- karya Hanafi yang dibuat selama masa karantina massal dan secara umum merespons berbagai isu-isu di sekitar karantina. Ada intentitas yang berbeda dari karya Hanafi sebelumnya. Namun, karya Hanafi ini adalah karya yang dibuat ketika kita semua sama-sama sedang merasakan situasinya. Ini adalah cara lain dalam mengalami seni rupa,” kata kurator galerikertas, Heru Joni Putra.

Selain itu, seperti format galerikertas sejak awal mula, rangkaian pameran ini juga membuka kesempatan untuk pelukis muda yang ingin mempresentasikan karya mereka kepada Hanafi.  Setiap karya perupa muda akan dibedah oleh Hanafi dan dipilih perupa-perupa yang akan diberi workshop hingga kemudian karya tersebut akan dipamerkan di galerikertas pada bulan berikutnya.

Hanya saja karena situasi saat ini, untuk menikmati karya-karya Hanafi pada pameran kali ini, pengunjung tidak bisa datang seperti biasanya. Sebab galerikertas mengatur ulang tata-aturan memasuki galeri dan menerapkan protokol kesehatan sesuai dengan standar yang diberikan pemerintah. Tujuannya menjaga agar setiap pengunjung tetap aman satu sama lain. Misalnya, setiap pengunjung mesti melewati sensor suhu tubuh dahulu dan dalam satu jam, maksimal hanya bisa dimasuki oleh 9 pengunjung. Setiap jarak satu jam, diberi waktu kosong untuk bersih-bersih selama setengah jam. Setiap pengunjung pun harus mengatur jarak satu sama lain, dengan berdiri pada lantai yang diberi tanda-lingkaran. Pameran “60 Tahun dalam Studio” ini memajang 65 karya dan digelar mulai tanggal 5 Juli sampai 5 Agustus 2020. Setiap hari galerikertas hanya dibuka pukul 12.00-16.00 WIB. Setiap satu jam hanya boleh dimasuki 9 pengunjung. Setiap satu jam, galerikertas dikosongkan dulu setengah jam dan setelah itu baru bisa dimasuki 9 pengunjung lainnya. Jadi, dalam sehari hanya bisa dikunjungi 27 orang. Oleh sebab itu, setiap peserta harus mendaftar terlebih dahulu untuk mengatur waktu kunjungannya melalui form pendaftaran yang tertera pada akun-akun media sosial milik galerikertas. [] Wahyu Indro Sasongko

Buku, Resensi

Bertemu (Mantan) Penyair

Oleh M. Fauzi Sukri

Bandung Mawardi berperistiwa penemuan puisi. Peristiwa pertemuan itu terjadi melalui majalah-majalah lawas dari tahun 1950-an sampai tahun 1980-an. Bukan melalui buku puisi atau puisi yang dimuat di koran. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan kerja semiotik, analisis sosiologis (meski minimalis), pemaknaan historis, dan sesekali merasakan rasa estetik puisi (meski yang sangat sedikit).

Dari esai ke esai berikutnya, kita dihadapkan pada pertanyaan sederhana: esai-esai yang disuguhkan kepada pembaca ini pertemuan dengan puisi atau pertemuan dengan penyair. Secara umum, yang kita temukan dalam esai-esai Bandung Mawardi ini adalah pertemuan dengan penyair yang diperantarai puisi. Sedangkan puisi itu sendiri lebih banyak diposisikan sebagai dokumen sejarah, bukan sebagai dokumen estetika puisi.

Bandung Mawardi tampak hendak mengungkit-mengungkap kepada pembaca mutakhir: seperti apa puisi yang pernah ditulis seorang yang kemudian menemukan makna kata-kata bahasa Indonesia dengan sangat suntuk serius; seperti apa puisi-puisi yang ditulis penyair muda yang sekarang sudah jadi penyair terkenal dan karyanya diakui pembaca sastra Indonesia mutakhir.

Dari pertemuan Bandung Mawardi dengan puisi-puisi di majalah lawas, kita tahu bahwa cukup banyak penyair yang menulis di masa muda. Radhar Panca Dahana menulis puisi pada umur 15 tahun dengan nama Rpd Reza Morta Vileni. Puisinya dimuat di majalah Zaman 1980. Sampai sekarang Radhar Panca Dahana masih menjadi penyair selain sebagai budayawan. Dari penelusuran majalah lawas, kita juga mendapati sekian tokoh yang pernah menulis puisi tapi sekarang sudah menjadi mantan penyair.

Kita bertemu dengan puisi Soesilo Toer yang menulis puisi pada usia 16 tahun. Begitu juga, puisi-puisi Rendra sudah bertebaran di berbagai media saat berumur 20 tahun. Bandung Mawardi menampilkan puisi Rendra yang dimuat di majalah Kisah. Pada umur 21 tahun, puisi Sobron Aidit dimuat di majalah Kisah pada tahun 1955. Poeradisastra atau Boejoeng Saleh tercatat pernah menulis puisi.

Bandung Mawardi juga mendapati puisi yang ditulis oleh kritikus seni rupa paling produktif di Indonesia: Agus Dermawan T. Sang kritikus seni rupa ini pernah menulis lima puisi yang dimuat di Horison pada 1974. Bandung Mawardi juga bertemu dengan mantan penyair yang dahulu pernah menulis puisi bagus tapi tidak lagi terkenal sebagai penyair. Inilah nasib yang dilakoni dan dipilih Budi Darma.

Dalam majalah Gadis (1978), Bandung Mawardi menemukan puisi yang ditulis oleh tokoh kondang nan penting dalam bahasa Indonesia: Eko Endarmoko. Tokoh penulis buku ampuh Tesaurus Bahasa Indonesia (2006) dan Tesamoko (2016) ini adalah mantan penyair.

Dan, jika sekarang Anda mengenal Seno Gumira Ajidarma sebagai sastrawan penting di dunia prosa (cerpen dan novel), siapa sangka dia pernah berhasrat menjadi seorang penyair dengan nama pena Mira Sato. Seno menulis puisi saat berumur 20 tahun. Pada masa itu, publik pembaca Indonesia jelas belum begitu kepincut dengan cerpen-cerpennya yang memukau.

Tentu saja, karena berbasis dokumentasi majalah lawas, Bandung Mawardi tampak juga mengungkit puisi-puisi jelek yang pernah ditulis penyair Indonesia pada waktu muda. Sekarang penyair-penyair ini sudah menjadi penyair terkenal dan puisi-puisinya diakui oleh publik sastra Indonesia.

Sapardi Djoko Damono menulis puisi, yang menurut Bandung Mawardi, pantas dicap sebagai bait “bait jelek” berjudul Sketsa Diri. Puisi ini ditulis tahun 1962 dan dimuat di majalah Basis—tempat Sapardi dahulu pernah menjadi salah satu redaktur sastra. Puisi Sketsa Diri ini hampir pasti tidak akan ditemukan dalam buku antologi puisi Sapardi. Namun, Anda bisa membaca petikannya di buku Bandung Mawardi ini. Kita juga bertemu dengan sastrawan nan penyair seperti Triyanto Triwikromo yang pernah menulis puisi dan, sekali lagi menurut Bandung Mawardi, puisi itu ternyata jelek.

Tentu saja, dalam kliping kritik sastra ini, kita mendapati puja-puji terhadap beberapa penyair khususnya Afrizal Malna, Sapardi Damono, dan Goenawan Mohamad.

Selain itu, ada beberapa penyair yang sangat mungkin tidak dikenali oleh penyair, seperti Paramitha atau Slamet Wibisono—untuk menyebut dua saja. Paramitha adalah anak dari penyair kondang Goenawan Mohamad. Slamet Wibisono menulis puisi “Untuk Pramoedya Ananta Toer” yang dimuat di majalah Medan Bahasa edisi Maret 1957. Slamet Wibisono menulis puisi dengan berbagai perasaan perihal perebutan penerjemahan buku sastra kanon dunia (Timur dan Barat) yang dilakukan sastrawan Indonesia pada tahun 1950an.

Jika kita tilik pola kliping kritik puisi yang dilakukan Bandung Mawardi ini, kita bisa mengatakan bahwa, pertama-tama, yang dipilih dan dibahas dari ‘penemuan’ puisi majalah lawas adalah sosok penyair itu sendiri, bukan puisinya. Jika kita meminjam judul buku A. Teeuw, Pokok dan Tokoh, yang ditulis Bandung Mawardi bukan terutama pokok puisi tapi tokoh penyairnya. Yang dihadirkan atau diketemukan Bandung Mawardi adalah lebih banyak tokoh penyair daripada puisi-puisi yang bersifat ‘kebetulan’ ditemukan kembali. Seandainya puisi-puisi yang ditemukan itu tidak begitu tersangkut paut dengan penyair yang jadi tokoh, puisi-puisi yang bertebaran di majalah lawas tidak jadi pilihan untuk diulas.

Kita sedikit sekali mendapati puisi dari penyair yang jelas-jelas tidak terkenal saat itu hingga saat ini. Bandung Mawardi juga tidak mengulas puisi yang tak punya hubungan yang menarik dengan sastra Indonesia mutakhir. Jelas ada semacam seleksi ‘pilih kasih’ dari puisi-puisi yang diulas dalam buku ini. Maka, “Mereka” dalam judul buku ini adalah jelas mereka yang masih punya jejak kiprah sastra sampai sekarang, khususnya yang sudah jadi tokoh.

Buku kliping kritik sastra dari Bandung Mawardi ini adalah lebih banyak peristiwa pertemuan kembali dengan jejak masa lalu tokoh penyair besar atau sastrawan besar melalui jalur puisi. Dalam pertemuan itu, Bandung Mawardi melakukan dialog antara karya masa lalu dan sastra(wan) masa kini. Di sinilah kita melihat bagaimana pertemuan-pertemuan yang diperantarai puisi bisa berubah menjadi pujaan tapi juga bisa sindiran bahkan ejekan.


M. Fauzi Sukri, penulis Bahasa Ruang, Ruang Puitik (Basabasi, 2018)

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Aforisme Sepi

orang-orang memilih mati

di tengah virus gigil waktu

menjangkit kompilasi tubuh malam

mata-mata telah memborgol kelopaknya

waktu-waktunya berselimut mimpi

dan ia rindukan sedap kopi pagi hari.

sisakan ampas sepi pada gelas sunyi

yang kuseduh sedih ini di beranda

bersama rintik hujan dini hari

2020


Ada Masanya Penyair Mencintaimu dalam Hati

ada masanya seseorang jatuh cinta

hanya mampu diungkapkan dalam puisi

itulah kemahiran penyair atau aku sendiri

tapi penyair bukan penakut apalagi lebih

dari seorang pengecut.

ada masanya di jauh hari penyair memilih:

mengasihimu sebagai satu-satunya puisi

atau membayangkanmu sekadar sebagai latar

belakang rasa cerita fiksi.

ada masanya aku tak ingin memilih kedua-duanya

sebab penyair hanya mampu mencintaimu di

hati dalam puisi.  dan itu lebih romantis dari seseorang

yang hanya mencintaimu dengan separuh hari dan hati.

2020                                                                                                                      


Tulus dan Murni Cintaku Keluar dari

Dubur Seorang Pecundang

cintaku tak seluas pikiran kaum penguasa

mereka cerdas bersilat kata-kata dan semangat

menjungkirbalikkan bangku-bangku keadilan

demi undang-undang dusta berjalan dengan

aman di tengah-tengah hidup kita yang tolol.

cintaku tak sejahat gajah-gajah mencintai negara –

negara yang terbuat dari serpihan sejarah dusta.

kau tahu gajah-gajah itu siapa, ika? merekalah penguasa itu,

sang pemilik tangan-tangan keadilan yang buntung sebelah.

cintaku tak semewah dan semegah istana negara:

rumah tuhan dan dewan perwakilan dusta merumuskan

hukum dan undang-undang untuk melindungi pecundang,

penindas dan penguasa yang ber-uang. siapa mereka ika?

mereka adalah politikus, penjilat dan tikus-tikus

dalam penjara yang hidupnya lebih mewah dari

seorang pencuri ayam. padahal mereka adalah pencuri

kebebasan hidup kaum rumputan seperti kita.

cintaku sekali lagi perlu kau cermati, ika. aku ulangi: cintaku tak

sekejam politik yang berhati intrik. karena tulus dan murni

seonggok cintaku keluar dari dubur seorang pecundang.

Jurang ara.2020


Sampai Kapan Waktu Menimang Air Mata

dan Kita Meminang Masalah?

kau semai abad-abad yang gelisah, tahun-

tahun terluka dan serajut hari yang fakir bahagia

di ladang kepalaku. lalu kini tumbuh dan

berbiak menjadi sejuta masa lalu yang lumpuh

dalam gendongan waktu-waktu kita melangkah ke

masa depan cinta.

kau tiba banting gelas-gelas perasaan hatiku

ke berbagai kota yang kini bersibuk hati merapikan

kesunyian dan kematian ke dalam lemari kenangan.

lalu di kota itu rasaku dan rasamu menjadi sepasang

mata yang berduka-cita menatap lahan-lahan luas

di balik gedung dan perumahan tumbuh kuburan

-kuburan baru dan mayat-mayat segar yang segera

digiring ke liang akhirat.

kau lalu baru tersedu di kedalaman sumur hatiku

di saat ingatan menimang-nimang sejarah berpenyakit

tentang wabah yang masih tak menemukan jalan pulang,

perihal bulan-bulan yang terus menangis sendirian

atau tentang sakit hati kita yang tak menemukan

pintu kesembuhan.

kau baru menyesal kalau hidup di tengah kubangan

air mata harus tetap bisa tersenyum walau sia-sia

dan agar bahagia segera bangkit dari dasar kesedihan

kuajak kau ke keluasan dan kemegahan bahasa

di sana senyum hatimu tidak akan berbunga sia-sia

sebab puisi dan prosa akan menampung segala

benda-benda hati kita: abadi.

Jurang ara.05-20


Mencintaimu dalam Gelap

dan di saat kesabaran terus

memayungiku dari hujan perih masa lalu

sampai masa cinta berujung kelabu

akhirnya kutemukan cara paling pahit untuk mencintaimu.

dan satu-satunya cara adalah mencintaimu

dalam gelap. Bila dalam terang matamu – segerobak

keberanianku hancur di ujung jalan lidahmu yang asin

namun kini dari balik tembok ketidaktahuanmu

kudayakan waktu untuk melatih lidahku

belajar mengucap cinta padamu.

dan apalah guna itu semua

bila saat di ujung matamu aku masih

sepenuhnya menjadi bunga gugur

sebelum waktunya.

2020


Puisi adalah Gema Lain dari Hati

setiap yang diungkapkan

penyair adalah matahari

sebab kilau cahayanya adalah

terik hatiku yang puisi.

seperti puisi –puisi yang kutulis ini

sama sekali tak mengandung nilai-nilai

jahat untuk mempolitisasi hatimu.

karena bahasa hati adalah mesin

kejujuran yang memproduksi

makna-makna kasih-sayangku padamu.

Sumenep, 2020


Mitos Ketakutan

kini kepalaku menjadi

taman kuburan. seperti

ibu ingatan memeluk

pohon kematian.

saat ini pembunuh seribu

bayangan itu adalah corona

tubuhnya tak berwujud

namun membuat nyali

bersujud pada kecemasan.

akhirnya orang-orang tak lagi

berjalan, pekerjaan tonggak

sebulan, sekolah tutup usia

dan jakarta adalah gelanggang

manusia dan penyakit bertarung

mati-matian mencari sesuap napas kehidupan.

2020


Kompilasi Penyakit

hari ke hari berlari pilu

menyeret ketakutan ke

gudang-gudang pikiran

yang kelabu

betapa hidup ini terdiri dari

bagian bayang-bayang kecemasan

seperti DBD yang menjelma maut

sampai kini corona yang menjerat

kita tahu, bahagia hanya abadi

bersama hidup dan kenangan

tapi sampai kini dan nanti

apakah kita terus mengunci

tawa, mengubur kegembiraan

dan menyingkat segala urusan

pekerjaan dari ruang sunyi

2020


Simposium Kecemasan

tiba-tiba seribu buih jakarta

menggelembungkan pikiranku

dan meledak menjadi serbuk-

serbuk ingatan tentang

kehidupan orang-orang kota

yang tengah menghitung

biji ketakutan dalam rumah

di saat tiap detik balon kematian

meledak di planet mataku

betapa langka kotaku saat ini

jantung jalan adalah pusat

kesepian membayang,

kecemasan mewabah

dengan meletakkan kartu

kematian pada  aktivitas kehidupan

sementara kabar buruk dari

langit corona terus meletus

di organ-organ media massa

hanya meluluh-lantakkan

batu hati jakarta

akhirnya rumah sakit dan kuburan

menjadi liang kepulang terakhir bagi

para korban.

sementara sekolah, kantor, kedai

kopi dan semangkuk hati yang asin

mereka cecap tiap hari dalam kandang.

2020


Buah Dosa di Dada Desember

serasa dosa ini lebih tua dari usiaku sendiri

sungguh berlipat sungguh, hati ini berat

melangkah dari hidup ke hidup

mungkin, mungkin dan hanya kata

mungkin terucap dari bibir si duka

bila seribu gunung maafku

tak cukup mengubur jasad duka desember

di liang dadamu.

dan,

sejuta rintik hujanku tak akan

mampu memadamkan nyala api

di mata murkamu.

sebab aku kini lebih berat dari batu sebukit,

lebih ringan dari kapas diterbangkan angin

dan lebih cemas dari orang-orang melawan

virus corona.

di saat hati berat memikul nasib dosa,

membuat punggung hari lecet dan bernanah

menggendong segunung sesal dan selaut maaf

yang kau telan begitu saja tanpa bahasa.

2020


Norrahman Alif  lahir di Jurang Ara –Sumenep –Madura. Menulis puisi dan resensi di Lesehan Sastra Yogyakarta. Beberapa karyanya bisa dinikmati di Media Indonesia, Republika, Kedaulatan Rakyat,  Suara Merdeka, Rakyat Sultra, Tempo, Padang Ekspres, dan lainnya. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan (sublimpustaka-2019).

Cerpen

Secangkir Kopi Ibu

Cerpen Rizka Hidayatul Umami

Ada ritual yang tidak pernah ditinggalkan ibu selepas 40 hari kematian bapak. Setelah ingatan soal petir yang menyambar tubuh bapak di tengah sawah, di siang yang gelap itu samar-samar mulai dilupakan orang. Ritual menyeduh dua cangkir berisi penuh kopi hitam jenis robusta, dipesan dari lereng Merapi. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melihat ibu menangis. Air matanya seperti ikut kabur bersama layu kembang dan aroma wewangian yang sengaja ditinggal di atas pekuburan bapak. Mungkin angin sengaja menerbangkannya dan membuat mata ibu jadi kering buat selama-lamanya.

Aku mengira, telah lenyap rindu  dan cinta ibu pada bapak. Secepat itu? Tapi lagi-lagi aku tak pernah berani, bahkan sekadar mengulik cerita-cerita soal bapak dan hari yang nahas itu. Hari ketika padi mulai menguning dan beberapa orang telah mendapat jatah buat memanen padi di sawah milik perangkat desa.

Tiga hari sebelum bapak mangkat, para buruh tani memang sedang bahagia-bahagianya mendapat jatah mburuh. Bapak dan ibu–yang tidak punya sawah–turut ambil bagian. Seperti musim panen sebelumnya, kebiasaan ibu dan bapak sebelum berangkat ke sawah cukup sederhana, menyeruput kopi dari cangkir masing-masing di teras belakang rumah. Sambil ngobrol ngalor-ngidul dan menghitung-hitung kasar, berapa nanti uang yang bisa mereka kumpulkan. Bagi keluarga kecil, mendapat jatah mburuh di musim panen adalah hal yang menggembirakan. Sebab tandanya orang-orang kampung telah banyak berubah, lebih memilih berbaik sangka dan menanam rasa percaya ketimbang terus menerus mengungkit luka lama, bapak yang banal dan ibu yang dianggap lacur.

Tapi pagi, tidak seperti biasanya, bapak terlihat buru-buru pergi ke sawah. Ia tak sempat menikmati secangkir kopi buatan ibu karena tak cukup waktu, katanya. Sarapan ditinggal begitu saja, sebab gerimis mulai berduyun-duyun datang dan langit menghitam dengan cepat. Bapak harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum gerimis berubah menjadi hujan deras. Kepergian bapak yang begitu tergesa dan kopi dingin menjadi pertanda yang membuat ibu murung beberapa jam. Sampai suara yang memekakkan telinga itu membuat semua orang di sawah terduduk lesu, kaki-kaki mereka gemetar dan beberapa hilang kesadaran. Bapak yang ada di tengah sawah tak sempat menepi. Seorang yang masih sadar melihat petir terakhir, dengan lengking yang lebih mengerikan, menyambar tubuh bapak yang masih memegang cangkul. Bapak, dengan dada gosong dan tubuh pucat membiru dibopong ke depan rumah diiringi rimbun gerimis dan tangis ibu.

“Ini akan jadi lebaran pertama tanpa bapak, Bu. Widuri rindu sekali dengan bapak. Andai bapak tidak ke sawah.”

“Habiskan saja makananmu.”

“Ibu ini, apa sudah benar-benar melupakan bapak?”

Bapak adalah pesta pora yang meriah di awal bulan, sebelum memasuki tanggal lima sebelum dikurangi cicilan dan biaya listrik. Ibu tidak lebih dari doa paling hening di malam-malam peringatan kematian buyut-buyut, yang hanya diperingati setahun sekali menjelang ramadan, dan sesekali dibacakan ayat-ayat suci yang lebih panjang. Sedangkan, aku tidak lain catatan yang gagal dari keduanya. Serupa ayam jago yang kokoknya di tengah malam menjadi bahan gunjingan tetangga, kadang benar-benar seperti tempat melempar segala kira-kira dan tuduhan-tuduhan.

“Siapa lagi yang bunting di luar nikah?”

“Pasti anaknya bandar itu? Si Suwandi kan anaknya juga tidak beres.”

“Bukannya anak itu jadi guru ngaji?”

 “Memang guru ngaji tidak bisa bunting duluan?”

Dalam hati, aku muak. Tapi aku belum berhasil menemukan cara jitu mencuci otak mereka, membersihkan kepala orang-orang yang tidak pernah bosan menjadikan aku dan masa lalu bapak ibu, menjadi bumbu penyedap obrolan mereka. Bapak –cerita orang yang otaknya tak pernah berhasil kucuci– dulu adalah anak laki-laki yang perangainya menjadi idaman orang-orang tua di kampung. Ia menjadi Yusuf yang dicita-citakan seperti satu dari sekian manusia pilihan Tuhan. Sehingga Suwandi kecil lebih sering dipanggil Yusuf daripada nama yang sejak awal bercokol di akta kelahirannya. Tapi siapa bisa menyangka takdir-takdir yang ditetapkan Tuhan pada anak manusia? Paman-paman bapak jauh lebih bengal, berhasil berkontribusi lebih banyak pada tumbuh kembang bapak daripada bapaknya sendiri.

Sedang ibu, seperti yang dibisikkan orang-orang di balik kamar masing-masing adalah mata yang berbahaya dipandang. Ia adalah laut bebas dan dalam. Sumur tua yang menyimpan banyak sejarah lebih pekat, petarung, pengembara, dan manusia yang punya banyak nyawa. Ia adalah malaikat dan kegelapan, sebelum sedia memberi bantuan pada bapak dengan janji seumur hidupnya. Ibu yang mengantar bapak pada pertaubatan pertama. Di hadapan dua bola mata yang nanar itu bapak bersimpuh, setengah sadar. Lima timba dini hari, berhasil membuat tubuh bapak menggigil, beku. Dan di saat yang sama ibu memulai pertaubatannya.

“Aku menyeretnya keluar rumah waktu bapakmu hendak mengulangi kegilaannya.”

“Ibu membenci bapak?”

“Sudah berapa kali Ibu bilang, demi apapun yang terjadi, percayalah Ibu masih mencintai bapakmu.”

“Tapi kenapa barang sekali saja, ibu tidak pernah berusaha mengingat bapak?”

“Nduk, Bapakmu selalu memegang cangkirnya. Lagipula, kita mesti terus melanjutkan hidup, dengan atau tanpa laki-laki yang kita cintai.”

Ibu menjelma perempuan yang begitu polos. Diukur karena tidak pernah menikmati kopi dengan cara seduh yang rumit. Kecintaannya hanya robusta yang disiram air panas dan sedikit tambahan gula. Ibu tak mengenal nama-nama kopi, apalagi menakar agar sajiannya ideal. Perjalanan cintanya cukup memperkenalkan ibu dengan robusta dari Merapi. Selang  35 tahun, hanya itu yang ia dapat selama hidup bersama bapak.

Ia hanya tahu pahit tidak akan terlalu pahit ketika dicecap, ia hanya akan menambahkan gula sesuai takaran, sesuai dengan apa yang ia rasakan. Sebab ibu tahu, meski robusta dengan banyak gula tidak akan nyaman diminum bersama bapak. Dan sampai saat ini, ibu tak bisa sedetik pun terpisah dengannya. Setidaknya harus ada setengah sendok teh penuh menemani cangkir-cangkirnya. Bahkan setelah bapak menyudahi jamuan minum kopinya, dua cangkir itu masih dihidangkan ibu. Hanya saja, tak pernah ada percakapan dan rona yang terus terang.

“Kita harus membersihkan kutukan orang-orang atasmu dan atas diri ibu.”

“Bagaimana caranya, Bu? Mencuci otak mereka? Mustahil.”

“Dengan melanjutkan hidup kita hari ini dan setiap hari. Jangan menoleh ke belakang dan jangan lagi meratapinya. Ayo, kita nikmati saja kopi ini.”

Secangkir kopi milik ibu adalah ingatan yang sepenuhnya tentang bapak. Secangkir yang lain adalah masa di mana ibu harus menghidupiku dan menghilangkan kutukan orang-orang yang menganggapku perempuan bengal. Betapa mengerikan menjadi janda seorang mantan bandar, tak bisa memilih nasib baik untuk diri sendiri dan anak semata wayangnya.***


Rizka Hidayatul Umami, Mahasiswa S-2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menyukai sastra dan isu-isu perempuan. Email: [email protected]