Puisi

Puisi Adnan Jadi Al Islam

10 Maklumat Ngopi

/1

Di hadapan kopi yang tak berasa

Seorang peminum pernah tergesa-gesa

/2

Di hadapan kopi yang mengepulkan ilusi

Bayangan rumah tengah bermanifestasi

/3

Di hadapan kopi yang tak beresensi

Sekumpulan manusia lupa mengevaluasi diri

/4

Di hadapan kopi dini hari

Kemaksiatan acap menginvasi

/5

Di hadapan kopi yang tak lagi suci

Seorang wanita berulang mengkhianati

/6

Di hadapan kopi tanpa arti

Seorang laki-laki enggan membuka hati

/7

Di hadapan kopi tanpa bicara

Jemari lentik mengetik luka tanpa jeda

/8

Di hadapan kopi yang sakit hati

Ribuan rakyat tertikam sebilah janji

/9

Di hadapan kopi yang berpuisi

Selembar lautan tak henti menyanyi

/10

Dan, di hadapan kopi tanpa gula

Lidah cinta aktif menafsirkan rasa

/Februari, 2022


Nyanyian Laut

Sekeping fragmen sendu

menyilaukanku, sesaat,

portal terbuka: bibir pantai Sadeng

di sana, puisi-puisi pernah ruah

lewat pori-pori jilbab seorang wanita

pengenggam kamera

Seperti katamu dulu,

para nelayan hafal

siklus waktu kala laut

akan menyanyi

Sebelum hantu-hantu cemas dan bengal

menyebar ilusi di udara

dan dunia meleyot

oleh gema teriakan masa lalu

Kamera itu kelak akan terjun bebas

di dermaga ini

ketika arwah Edvard Munch turun

menggenggam tangan wanita itu

mengajaknya pulang

ke langit

Kini, aku masih termangu di sini

memindai album demi album dalam kamera sunyi

hingga sebuah foto menarikku kembali

ke sebuah dimensi, pada saat kau berhenti bernyanyi

pada saat aku, mesti melepasmu pergi

/Januari, 2022


Cahaya

: Tiara

Kenanganku tentangmu, kenangan tentang kesunyian rawa

selimut kambangan dan eceng gondok, pada pagi kelabu,

pada pancaran cinta dari lubuk mata para pemancing

dan kuar petrichor di antara uap nasi goreng

Kastil dalam diriku luruh, seseorang muncul

dengan langkah cahaya berjalan menghapus rimbun keraguan.

Ratu baru bertahta, menandaskan

mimpi-mimpi sepi yang masygul

Kau datang dengan kelembutan fajar

menyapaku lewat aroma Geranium rekah;

lengan angin menyapu ingus batu

yang getir sepanjang musim.

Ketika angka-angka berjatuhan dari langit

waktu: gigil

masa silam dan masa depan bersentuhan

menyebabkan letupan demi letupan pertanyaan

“Ilusi ataukah kenyataan?”

Kau makin kuasa dalam diriku.

Kehadiranmu adalah musikalisasi

semesta atas sajak senduku.

Maka kuhamparkan jalan

di mana kau akan suka

berotasi dan menyalakan

segala daya kemungkinan,

tentang kita.

/Februari, 2022


Bayang-bayang

Ketika kau menghilang,

waktu memanjang,

hari-hari sesak:

mejamu berteriak

berdebat dengan kursi di ruang guru

meredam bel tanda istirahat

membekap mulut mimpi kecil yang lapar

siapa singgah berikutnya?

mungkinkah sungguh berikutnya?

Senyum tanpa cahaya

sekejap layu mengantar bendera

yang tanggal bersama

lagu kebangsaan

Di dalam khidmat, tangis terkesiap

mengumpulkan mendung

di bawah matahari

aku mematung, sendiri,

coba melindungi

pendar jam dinding.

kutegur kegelapan

karena di setiap kedipnya

bayangmu selalu berkelebat

/Maret, 2022


Tempat yang Dicuri

: Dean Lewis

Tetapi aku tak sedang menunggu badai itu

pergi meninggalkan rumah kita

melambai dan membuat daun pintu menunggu selamanya

Yang kuinginkan hanyalah kekosongan;

mengakar di antara jemari ini sublim

terbawa angin dan memberi pelajaran

pada pohon-pohon arti kesendirian

Ataukah kegelapan lebih berarti

daripada kedustaan cahaya

yang acap membiaskan pelukmu?

Aku hanya ingin menghampar di atas pasir

mengasah telinga sembari memandang langit

apakah di atas sana

burung-burung tak pernah membenci badai?

Ah, berangkali luka adalah tafsiran waktu

atas masa depan kita: melampaui

memori yang menjatuhkan puing-puing keabadian

dan lenyap ditelan kenyataan

/Mei, 2022


Angin yang Berpulang pada Api

: Sapardi Djoko Damono (Alm.)

Aku seperti angin labil:

tidakkah sesekali ombak ingin tenang,

awan-awan butuh ketiadaan di samping kepastian,

dan akar pohonan terlalu purba menghadapi ujian

“Tetapi kewajiban kita hanyalah sakit

dan kita tak butuh hak untuk bertanya

bukankah kata-kata hanyalah riak,

sedang orang-orang menginginkan keabadian?”

Ah, aku ingin menjadi api yang tamak bekerja:

menebas tiap leher kegelapan yang bengal,

menandaskan malam dan udara dingin,

atau sekadar prototipe neraka sebelum surga

/Mei, 2022


Alibi

“Dia hanya baik, kenapa kamu baper?”

tanya gerbang kampus lima tahun silam,

setengah mewanti

“Hm, ya, biar jadi bahan bakarku nulis puisi.”

 jawabku—Tuhan tahu aku berbohong;

Atid lantas memainkan pena—

baru saja, saat kembali dari

acara pernikahannya

/Mei, 2022


Minggu Pagi di Bulan Juni

Sepi

yang menikah

dengan angin kemarin

mual-mual pagi ini

hujan bilang, ia tengah

mengandung bayanganmu

/Juni, 2022


Lelah

: Alan Walker

Dan aku telah kembali dari dalam dirimu

yang tak kutemukan lagi diriku, di sana

ke punggung bukit, memandangi danau dan bertanya

apakah kebebasan benar-benar ada?

Tapi tak seperti awan

kita hanya pura-pura tertambat

sekadar berjalan dan lenyap

atau—kalau beruntung—turut menggema ke angkasa bersama uap

Waktu: asing

burung dan dedaunan: beku

dingin—ingin

namun tak tersampaikan

/Juli, 2022


Adnan Jadi Al-Islam, lahir di Klaten, 21 Oktober. Lelaki galau, pengagum kata-kata, penikmat ojek penyet dan sambel welut. Sering insomnia lantaran kebanyakan kopi dan kenangan. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan daring. Masih mukim di Klaten.

Cerpen

Perempuan Itu Bilang Aku Mayat

Cerpen Pasini

Perempuan itu bilang aku mayat. Karena wajahku pucat. Maka ia menyuruhku memakai bedak dan gincu. Tapi aku menolaknya. Bukan lewat patah-patah kata yang meluncur dari setangkup bibir. Melainkan merebut peralatan rias dari tangannya. Lalu membanting ke lantai semen.

“Kau sudah gila, ya?”

Begitulah ia. Mayat dan gila hanyalah contoh kecilnya. Perempuan itu bahkan pernah menyebut aku nenek gayung, hanya karena bau minyak angin di tubuhku. Lalu ia mengangsurkan botol parfum. Tubuhku harus wangi ketika bertemu seorang lelaki. Sebelumnya aku sudah bilang pada perempuan itu tidak bersedia. Tapi ia memaksaku. Padahal dengan jelas ia melihat aku memegangi kepala dengan tubuh bersandar pada bangku. Ingin diberi libur. Untuk beristirahat sejenak setelah minum obat dan memborehkan balsem. Siapa tahu setelah itu tubuhku hangat dan bugar kembali. Tidak berkeringat dingin dan gemetar lagi. Tapi nyatanya malah membuatnya memberiku satu julukan baru. Koala gimbal.

Belakangan ini praktis aku kenyang dikatai. Dari aneh kepada mayat. Dari mayat kepada patung. Dari patung singgah ke alien. Hanya karena perempuan itu merasa tak bisa memahamiku. Menurutnya, lebih baik aku belajar menyapukan kuas ke wajah daripada menyambar sajadah dan berangkat ke surau. Terlebih bila aku pulang dan mengulangi beberapa kutipan ceramah dari mulut kiai.

 “Tidak pernah tercatat dalam sejarah, perut orang miskin dapat menjadi kenyang hanya dengan mendengar ceramah orang suci.” Beberapa kali bahkan ia mengembalikan dalam bentuk ceramah-ceramah yang lebih panjang. Meskipun sumbernya bukan dari kitab agama apa pun.

Ingin sekali aku berbalik mengatai perempuan itu kuntilanak atau tukang sihir. Karena ia memang punya tawa yang menyeramkan. Jika saja ada seorang empu bersedia membuatkannya sebuah tongkat sakti berayun, mungkin aku sudah dimantrainya menjadi seekor kodok atau kelinci. Agar ia bisa memakanku mentah-mentah seperti yang dilakukan zombie. Atau bisa juga, memantraiku menjadi seorang kurcaci. Agar ia mudah menendang tubuh kerdilku saat marah-marah dan butuh melampiaskan.

Hanya saja keinginan itu urung kulakukan. Bukan karena aku gentar melakukannya, karena ia lebih tua dariku. Bukan itu. Bukan juga karena aku memegang teguh isi kutipan ceramah dari mulut kiai. Tapi karena perempuan itu pasti akan memperbanyak julukanku setelah itu, dan aku membencinya. Tidak ada satu pun dari panggilan-panggilan baru yang disematkannya memiliki makna yang bagus. Sekali waktu aku pernah merasa heran, kenapa ia mesti memberiku nama ‘Fitri Ayuningtyas’ dua puluh satu tahun silam jika pada kenyataannya pemberian itu berakhir mubazir.

Untungnya perempuan itu banyak pergi. Kami jadi tidak punya waktu berdebat panjang-panjang. Sering sudah ada seseorang yang menunggunya dengan tidak sabar. Memanggil dengan berteriak jika kebetulan ada di ruang tamu. Atau membunyikan klakson jika tengah memarkir kendaraannya di pertengahan halaman. Perempuan itu dibawanya dan baru pulang selang beberapa jam. Bahkan sampai hitungan hari.

Dari dulu pun aku dan perempuan itu memang tak banyak saling bicara. Hubungan yang datar. Dan aku menyukai itu. Bayangkan jika aku tumbuh banyak bicara sepertinya. Tentu sudah banyak orang yang kukatai. Anjing, babi, atau mungkin tahi.

Selama ini yang terjadi, aku hanya bergeming saja ketika perempuan itu mulai memuntahkan peluru kata. Apa saja tertampung di telingaku bagai tiada beda. Hal buruk atau sebaliknya.

 “Kau kerja bagus kemarin. Memuaskan,” katanya suatu kali, sambil mengibarkan lembar-lembar uang berwarna merah. Aku membuang muka. Benda itu tidak lagi memantik nyala di hidupku. Mungkin benar adanya aku memang telah meniti jalan menuju mayat. Beku, bisu, acuh.

Aku pernah berandai jika saja lelaki penyabar itu tidak dini pergi dari hidup kami. Seandainya maut tidak mengambilnya terlalu cepat. Tentu perempuan itu masih menjadi perempuan penyedia kopi di pagi hari. Masih memakai daster kembang-kembang dengan warna beranjak pudar dan berlubang di beberapa bagian. Wajahnya polos tanpa riasan. Ia masih akan bergelut dengan baju kotor dan debu-debu di lantai. Keringatnya berleleran. Tapi entah mengapa lelaki penyabar yang sekaligus suami setia itu tidak rikuh merangkulnya. Perempuan itu kemudian bermanja-manja. Aku mengembangkan senyum dari balik pintu.

Lelaki itu telah pula menjadi ayah terbaik di planet bumi, bahkan mungkin sampai ke galaksi andai luar angkasa juga dihuni kehidupan dengan konsep pernikahan. Ia suka mengangkat badanku tinggi-tinggi jika sedang bahagia. Aku kegelian. Ia semakin lebar tertawa. Mungkin hendak didekatkannya aku dengan langit, tempat di mana semua orang menggantungkan doa dan harapan.

Tapi sayang jasad lelaki itu telah terbekap bumi. Mereinkarnasi perempuan itu sebagai seseorang yang berbeda. Gemar berkaca. Pintar merayu. Mulai merokok. Tidak lagi suka mencuci dan menyapu. Badannya benar-benar bak mandi bunga. Satu lagi. Ia terlahir kembali sebagai seseorang yang suka mengatai.

 “Kau batu, ya?” teriaknya. Itu adalah hari ke sekian dan aku belum memberikan jawaban. Perempuan itu bilang kulitnya tak lagi kencang. Kerut-kerut dipahatkan waktu ke wajahnya yang semula tanpa cacat dan cela. Ia juga bilang, mulai susah mendapatkan tamu kini. Ada dua saja dalam sehari, ia sudah cukup lega. Kupu-kupu muda mulai bermunculan dari sebab rupa-rupa. Ekonomi sampai tuntutan gaya hidup penuh gengsi. Ia tidak menggairahkan lagi. Ia tidak bisa bermetamorfosa menjadi sesuatu yang menarik lagi.

Seorang lelaki paruh baya dibawanya ke rumah pada suatu hari. Perempuan itu memintaku menghidangkan kopi. Aneh sekali. Padahal biasanya ia buru-buru memintaku pergi setiap kali ada lelaki bertamu ke rumah kami.

 “Seperti kuncup bunga, kan?” tanya perempuan itu kepada lelaki tamu. Tangannya melingkar manja di bahu si lelaki. Aku betul-betul jijik, menyamai jijikku pada seekor lalat hijau yang mengencingi sarapanku tempo hari.

 “Aku berani membayarnya mahal,” kata lelaki lalat hijau pada perempuan itu. Tidak cukup berbisik. Buktinya aku masih bisa mendengarnya. Aku terpana. Aku tak percaya. Aku berlari ke kamar dan perempuan itu tidak mengejarku. Tidak membujukku serupa mendiang ayah dulu ketika aku sedang marah atau kesal atas sesuatu.

Dan lelaki paruh baya itu akhirnya menjadi lelaki pertama yang menyentuhku. Setelah perempuan itu berkali-kali menyebutku batu. Ia bilang sudah waktunya pensiun dan ada yang menggantikannya.

Dulu perempuan itu pernah menjadi buruh upah sesaat setelah keberpulangan ayah. Aku baru di tingkat kedua sekolah menengahku. Seorang perempuan datang ke rumah kami dengan marah-marah. Menunjukkan daftar angka dan meminta perempuan itu segera melunasinya. Ia menghiba. Tapi perempuan tamu justru semakin leluasa menghina.

 “Kau belum terlalu tua. Tubuhmu itu masih laku,” ucapnya dengan sinis. Meludahi wajah perempuan itu sebelum pergi dan berjanji akan datang seminggu lagi.

Perempuan rentenir tadi bagai cenayang saja. Tak lama setelah itu, rumah kami memang benar-benar sering didatangi lelaki. Lalu perempuan itu diajaknya pergi. Pulangnya membawa uang yang banyak dan baju-baju bagus. Aku tak berkata apa-apa. Tak bertanya apa-apa. Sebuah rasa tidak selalu menemukan padanan kata yang tepat untuk mewakili. Aku kecewa, aku malu, aku sedih, juga sakit. Tapi tidak tahu bagaimana harus menyampaikannya.

Tuli, buta, dungu, silih berganti melompat keluar dari mulut kotor perempuan itu. Ketika aku tidak segera datang saat dipanggilnya. Juga ketika aku tidak segera menyiapkan air hangat sesaat setelah ia pulang ke rumah dengan mulut bau alkohol dan badan penuh keringat.

Tapi perempuan itu juga pernah memuji. Saat seorang lelaki membayarku dengan harga lebih tinggi. Ia istirahat mengumpat. Meski sebentar saja. Sebelum kemudian mulai mengatai lagi. Terlebih akhir-akhir ini, setelah aku menolak melayani lelaki. Kardus, otak udang, lalu mayat lagi.

***

Aku masih bergelut dengan kemelut. Beberapa menit berlalu dan pelukan selimut tidak menyembuhkanku. Aku tetap merasa kedinginan. Sepi dan sendirian. Perempuan itu belum pulang diantar lelaki tamu.

Cermin membiaskan wajahku yang pucat. Pantas perempuan itu sering mengataiku mayat. Bedak dan gincu yang tadi berserakan di lantai telah kuberesi. Kusandingkan dengan botol parfum. Tapi tak sedikit pun niatku merapikan diri jelang kedatangan seorang lelaki. Sebelum pergi tadi, perempuan itu sempat bilang akan ada yang menjemputku satu jam lagi. Ia sudah menerima pembayaran di muka dan tidak bisa dibatalkannya. Aku dipintanya untuk segera menyiapkan diri.

Lalu aku membatu di tepian jendela. Pandanganku singgah kepada apa saja. Bujur-bujur pohon di jalan. Kubayangkan, ia pasti mengaduh kesakitan saat harus merelakan helai daun dan ranting berguguran. Juga burung berkicau yang bertengger pada salah satu dahannya. Ia pasti kecewa ketika pepohonan yang menaunginya ternyata lupa menyediakan buah dan biji bakalnya disantap. Sementara temboloknya begitu berharap.

Kembali ke kamar, mataku singgah pada senyum ayah di dalam pigura. Ia tampak bahagia. Mungkinkah ia memang begitu senang setelah menjadi mayat sekarang?

Mayat. Tiba-tiba pikiranku seperti dipaku pada kata yang akhir-akhir ini sering diucapkan perempuan itu. Aku mulai tidak membenci panggilan tadi. Kini justru melihatnya sebagai sesuatu yang berbeda, sebagai sesuatu yang bisa membebaskan luka. Karena sejatinya, sedih dan sakit hanya milik yang hidup saja. Seperti pohon dan burung tadi. Juga diriku kini. Berbeda dengan mayat yang tidak mampu lagi disentuh rasa.

Jarum waktu terus berlalu, tapi kata yang sama masih tertinggal di pikiranku. Terngiang-ngiang serupa perintah agar menggerakkan tangan mengambil benda pipih dan tajam dari atas meja, persis bersebelahan alat uji kehamilan dengan garis berwarna merah muda sejumlah dua. Kunikmati dengan mata terpejam saat pipih tajam itu merajah nadiku. Sambil kubayangkan bagaimana wajah perempuan itu nanti saat melihat tubuhku terbujur kaku. Mungkin ia senang karena kata-katanya menemui pembuktian. Siapa tahu setelah ia benar-benar tak laku sama sekali, bisa mempertimbangkan profesi cenayang sebagaimana perempuan rentenir dulu.

Atau sedih, mungkin? Karena kehilangan mesin uang.

Lorong labirin semakin berliku. Serupa jalan yang entah kapan bisa mengantarkan pada tujuan. Tidak lagi wajah perempuan itu yang tampak karena ia telah kutinggalkan di belakang. Melainkan ayah sekarang. Berdiri menungguku di kejauhan sambil melambaikan tangan. Senyumnya sama seperti yang kulihat di dalam pigura.***


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Puisi

Puisi Sofyan RH. Zaid

RITUAL

sebelum tidur

aku selalu peluk

dan cium keningmu

suatu malam

kau bertanya

kenapa

aku jawab:

“tidur tak menjamin kita bangun

dan bertemu lagi.”

2022


SKALA

tiga orang perempuan bersiap

kepala miring

dan mulai tersenyum

sebagai juru kamera

melalui lensa yang diperbesar

sekian skala

aku melihat

:ada seorang

dari senyumnya itu

mengalir air mata

2022


AKU MAU JADI GAWAI BAGIMU

untuk apa pertemuan ini

jika aku seperti bicara

dengan diri sendiri

kau hanya khusyuk pada gawai

dan abai padaku

-yang lama berdandan-

apalagi peduli pada rinduku

yang mengabu

padahal

aku pun mau

jadi gawai bagimu

walau harus mengisi daya

dan kuota sendiri

2018-2022


JIKA KAU CARI AKU

jika aku tiada di prosa, cari aku di puisi

jika tiada di puisi, mungkin di esai

tapi jika aku tiada di esai

jangan cari aku di catatan kaki!

2017-2022


SANDI GAWAI

aku sudah lama ganti fotomu

di layar gawaiku

meski sandinya

masih saja namamu

2018


PENSIUN

ternyata

puisi yang kita tulis

prosa

kini saatnya

aku jadi judul

dan kau titimangsa

biarlah kata melupa

maknanya sendiri

2021-2022


EKSISTENSIAL

aku suka menyelam di laut sajak

atau di sungai tubuhmu

hingga kadang lupa untuk bernapas

beberapa orang mencariku

mungkin sebab rindu

atau waktu yang memburu

sementara aku masih terus menyelam

mencari diriku sendiri

di dasar

2022


KADANG

kadang

kita butuh jarak

untuk tahu

rindu itu sesak

kadang

kita butuh temu

agar rindu terpendam

tak jadi dendam

dan kita

akan selalu butuh kadang

2021


TAWURAN ANTARKOTA

akhirnya, dua kota

yang sama menabung rindu

bertemu di atas panggung

menyatukan suara dan gerak

dalam pembacaan sajak

mata mereka serupa kamera

saling memotret

malamnya, selepas pertunjukan

saat penonton pulang

mereka diam-diam memasuki kamar

dan terjadilah tawuran

2021


Sofyan RH. Zaid lahir di Sumenep. Alumnus Filsafat dan Agama, Universitas Paramadina, Jakarta. Buku puisi tunggal pertamanya Pagar Kenabian masukmasuk 15 nominasi Anugerah Hari Puisi Indonesia 2015. Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Inggris, Arab, dan Italia yang dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020).

Puisi dan esainya juga terbit di sejumlah media. Kini tinggal di Bekasi sebagai editor, founder TSI Group, dan redaktur Sastramedia.com. Buku esainya yang akan segera terbit: Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan.

Cerpen

Simbok

Cerpen Kesit Himawan

Satu pesan simbok yang selalu diucapkan melekat di ingatanku sampai detik ini. “Urip kuwi sejatine mung kabegjan, mulane kabeh sing ditampa kudu disyukuri.” Simbok membuat perumpamaan yang sederhana tentang arti keberterimaan. Tentang kisah dua orang yang mendapatkan jatah makanan, masing-masing sebungkus. Mereka tidak tahu bagaimana rasa makanannya. Namun, mereka harus menyantapnya. Karena makanan itu satu-satunya yang tersedia.

***

Hari ini merupakan perayaan Natal. Umat yang datang sangat banyak sampai memenuhi deretan bangku depan yang biasanya di misa Minggu selalu terlihat kosong. Gedung gereja yang penuh membuat ruangan menjadi terasa panas. Rasa gerah membuatku tidak sabar dan tidak khusyuk mengikuti rangkaian liturgi misa kali ini

“Perihal nasi goreng sudah barang tentu buatan ibu yang paling lezat,” ucap romo mengawali homili misa Natal pagi ini. Kata nasi goreng membuat perutku bergejolak. Mataku yang tadinya sayu kini mulai segar kembali. Romo terus saja berkhotbah di mimbar samping altar. Kisah tentang Maria menjadi materi homili yang selalu diulang-ulang setiap misa perayaan Natal. Seorang perawan yang rela mengandung padahal belum bersuami, karena perihal itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Setiap kali romo menyebut nama Maria, aku selalu teringat simbok. Pikiranku melayang membayangkan wajahnya. Perempuan yang sangat jarang terlihat marah atau sedih di hadapanku. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan keluarga kami, simbok selalu saja tersenyum. Namun karena aku sangat dekat dengan simbok dibandingkan saudaraku lainnya, selalu bisa merasakan apa yang sedang dia alami. Setiap kali aku bertanya apakah simbok baru saja menangis. Jawabnya selalu saja sama untuk menutupi perasaannya. Simbok menangis bukan karena sedih tetapi karena bahagia.

Pikiranku berjalan semakin jauh, terhenti kepada sebuah kejadian masa lalu ketika aku masih kanak-kanak. Suatu pagi, aku  terhenyak dari tidur gara-gara mendengar suara kekacauan di pawon. Aku tidak berani keluar bilik, hanya bisa mengintip dari lubang anyaman bambu pembatas bilik senthong. Bak kerasukan setan, bapak membanting semua gelas dan piring yang sedang dicuci simbok. Panci, dandhang, dan wajan juga tidak luput dari amarahnya. Semua berserakan menghampar di lantai pawon. Tidak berbentuk. Puncak kemarahan bapak adalah sebuah pukulan mendarat di mata kiri simbok. Warna biru membekas di kelopak matanya dan warna merah meradang menghias di bola mata itu. Namun simbok hanya menunduk saja memegang wajahnya, menyembunyikan tangis dan kesakitan. Gegas bapak pergi, meninggalkan simbok tanpa sepatah kata pun. Suasana pawon menjadi hening sehingga telingaku bisa mendengar isak tangis simbok. Aku berlari mendekat dan memeluknya.

Tengah malam harinya, terdengar pintu depan diketuk seseorang. Ternyata bapak pulang membawa kardus yang berisi beberapa gelas dan piring. Simbok menyapa dengan penuh tulus dan mencium tangan bapak. Bapak menggapai pundak simbok dan dia melingkarkan tangannya di pinggang bapak. Mereka berdua terlihat saling memeluk hangat. Menumpahkan segala penyesalan. Membersihkan luka-luka. Segera simbok menuju pawon, menyiapkan secangkir teh panas untuk bapak. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka pagi tadi, meski bekas lebam di kelopak mata simbok masih terlihat jelas, bagai mendung gelap yang menggantung di musim hujan. Aku yakin, hati simbok bukan hati manusia, mungkin dia adalah titisan Bunda Maria. Karena sepertinya tidak pernah tertanam rasa dendam di hatinya barang setitik pun.

… Kembali sayup kudengar

di doa ibuku, namaku disebut

di doa ibuku dengar, ada namaku disebut

Sekarang dia telah pergi ke rumah yang senang

Namun kasihnya padaku selalu kukenang…

Suara nyanyian umat menuntun pikiranku dari ziarah masa kecil untuk kembali ke ruangan gereja. Mataku perlahan mulai berlinang. Tak mampu aku tahan lagi, mataku buram tertutup air mata. Natal tahun ini, tepat satu tahun simbok pulang ke rumah keabadian.

“Selamat Natal, Mbok. Aku kangen,” ucapku lirih.*****


Kesit Himawan, lahir di Wonogiri, tinggal di Sukoharjo. Penyuka sego tiwul dan jangan lombok. Turut bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.