
Subuh yang tidak memberi dingin. Beberapa hari yang lalu, dingin berkuasa atas malam, dini hari, dan pagi. Aku pun ikhlas berkeringat akibat tak bercumbu dengan kipas angin dan mesin pendingin udara. Aku hanya percaya angin yang masuk lewat pintu dan jendela, Angin yang tidak membawa pesan-pesan gaib dari langit.
Jumat, 26 September 2025, aku makin berkeringat setelah subuhan. Yang dilakukan adalah menggerakkan tubuh untuk buku dan debu. Aku harus merapikan rumah. Ribuan buku yang berserakan ditumpuk sembarangan, ditaruh di pinggiran. Keinginan agar ada ruang luas untuk duduk banyak orang.
Siksa terbesar adalah debu dan kotoran yang bersama buku-buku. Pagi dimerdukan suara burung dan ayam. Aku merusaknya gara-gara bersin yang keras dan cempreng. Padahal, jam-jam sebelum aku pulang ke rumah menjelang 12 malam, aku pun sudah bersin-bersin di gedung olahraga, tempat aku menyapu dan mengepel demi mendapat rezeki.
Pagi itu bersin menyiksa bersumber buku dan debu. Aku sebenarnya marah dan menyesal telah lama menelantarkan ribuan buku di rumah. Kutukan diberikan padaku melalui buku-buku. Aku telah khianat atau ingkar. Buktinya, buku-buku itu morat-marit. Beberapa buku terkena air hujan. Ada buku-buku yang tampak bekas dikerikiti tikus-tikus. Pemandangan yang buruk. Semua terjadi seolah menjadi perbuatan dosa. Akulah yang mendosakan diri gara-gara buku. Kutukan belum habis.
Pada saat menumpuk dan mengangkat buku berpindah tempat, aku melihat lagi buku-buku yang selama ini aku ingin baca ulang atau semestinya menjadi dagangan di media sosial. Buku-buku yang telah bersamaku belasan tahun, lama tidak mendapat sentuhan dan tatapan mata. Aku tak lagi mendoakan mereka. Aku lupa bersenandung bersama buku-buku agar arwah para pengarang tidak dihajar sedih dan nestapa. Setengah tahun lebih, aku seperti pengkhianat besar atau sosok munafik terhadap buku-buku. Setelah subuhan, tubuhku dipaksa bersama lagi buku dan debu. Aku yakin bakal keok dan berduka.
Pukul 8 pagi, orang-orang berdatangan, memarkir sepeda motor di pinggir jalan dan pekarangan. Tubuhku sudah lelah dan pikiran tak keruan. Aku minta mereka menata sepeda motor secara rapi. mengajk mereka masuk rumah. Tikar dan karpet sudah aku gelar meski tampak sesak terhimpit rak dan tumpukan buku.
Aku biarkan belasan orang di rumah. Yang aku lakukan adalah mencuci pakaian sambil bersenandung pelan. Lelahku harus diselamatkan oleh air dan lagu-lagu picisan. Pagi itu matahari menyengat. Yang diam dan bergerak bakal berkeringat. Mencuci sedikit menghindarkan sumuk.

Di ruangan yang bau buku dan debu, aku bercerita di hadapan 30-an mahasiswa. Mereka tampak bingung dan ragu mendengar kata-kata yang terucap. Aku malah melihat ada mahasiswa yang memperbaiki matanya. Maksudku, ia menggunakan alat untuk merapikan bulu matanya. Ada pula yang mengeluarkan cermin untuk memastikan wajah masih cantik. Bedak di tangan. Mataku melihat kesibukan-kesibukan yang aneh saat mereka berada dalam kepungan buku.
Aku khawatir mereka bakal pingsan dan mampus. Maka, aku berseru agar tangan mereka jangan menyentuh buku. Bersin! Aku peringatkan agar mereka jangan mengotori tangan dan bersin. Di sela aku berbagi cerita mengenai tulisan dan manusia, aku menyempatkan memberi nasihat tidak bijak: “Jangan terlalu dekat buku-buku! Berdoalah agar besok wajahmu tidak jerawatan! Konon, debu mengakibatkan jerawat.” Mereka tampak tersenyum tidak ikhlas.
Beberapa mahasiswa tampak memiliki keinginan besar mengetahui apa-apa yang terucap mulutku. Menyimak! Mereka pun berani membaca kalimat-kalimat yang ditulis di kertas. Para mahasiswa yang tidak takut debu, tabah dalam bersin, dan yakin tidak jerawatan berhak mendapat hadiah. Beberapa novel aku berikan kepada yang membuat tulisan dan membacakan di ruangan terkutuk ribuan buku. Dua jam berlalu, mereka pun pergi. Aku tergeletak di atas tikar sambil menanti panggilan dari masjid untuk sholat dua rekaat. Siang pun melelahkan.
Malam aku dijanjikan menikmati lelah. Di gedung olah raga, menepati janji menjadi tukang sapu dan mengepel. Malam itu ada jadwal “Kubu Kleco” bermain badminton di lapangan utara, mulai pukul 8 malam. Aku mengenal mereka sejak lama. Beberapa kali mereka menikmati Jumat malam disahkan kerkeringat, berteriak, dan saling ejek dalam lakon bulutangkis.
Dua orang tampak “sombong”. Malam yang seharusnya sehat berkeringat malah dinodai batang-batang rokok yang menyala. Mereka memang perokok yang tidak mau cuti. Yang menimbulkan kepastian mereka sombong adalah buku. Satu orang menikmati kopi dan rokok. Di tangannya, aku melihat ia memegang mesra buku berjudul Istanbul garapan Orhan Pamuk. Aku sebenarnya ingin mengingatkannya bahwa Orhan Pamuk bukan pemain bulutangkis. Orhan Pamuk itu pengarang yang membuatku cemburu setinggi tujuh lagit. Aku yang membaca novel-novel dan esai-esainya merasa “dihinakan” di jurang kebodohan dan kepicikan.
Mengapa ia membaca Istanbul saat Jumat masih meminta keringat? Dugaanku saja, ia mungkin bakal mencari beasiswa untuk melanjutkan studi ke Turki. Ia tidak ingin terpuruk di Solo tanpa jaminan mendapat kekasih dan bisa makan bebek goreng sebulan sekali. Minggat ke negeri asing bisa menjadi penyelamatan. Benarlah bila ia mau khatan Istanbul yang ditulis Orhan Pamuk secara puitis.
Satu lagi lelaki yang melepas kaos. Sosok yang pamer sedang menanggung kegemukan. Kaos dan bajunya cepat sesak. Ia mengerti sedang gendut. Malam itu ia memegang buku berjudul Mitologi garapan Roland Barthes. Pikirku, Roland Barthes menulis tentang gulat, bukan bulutangkis. Mengapa lelaki yang rajin merokok itu malah membuka halaman-halamam Mitologi setelah bermain bulutangkis? Aku ingin mengatakan bahwa buku di tanganya bisa menumbulkan sesat. Selama ini aku mengetahui dirinya sembrono menghabiskan uang untuk berbelanja buku. Ia pasti menjadi keparat jika terus membaca buku dan betah dalam obrolan keintelektualan.
Malam yang jahanam gara-gara dua lelaki membaca Istanbul dan Mitologi. Aku menyumpahi mereka agar menjadi batu di Kalipepe atau berubah menjadi semut di Siberia. Dua lelaki yang tidak pantas diidamkan oleh perempuan yang ingin bahagia dan mendapat hiburan. Dua lelaki itu sepertinya mengartikan hidup cukup kopi, rokok, dan buku. Padahal hari-harinya amburadul.
Jumat berlalu, datanglah Sabtu, 27 September 2025. Siang, aku mengajar murid-murid SMP. Sebuah novel aku jadikan sebagai hadiah. Siang itu kami berbagi cerita mengenai kebodohan-kebodohan dalam mengikuti pelbagai mata pelajaran di sekolah. Aku mengaku kepada mereka pernah bodoh dan tidak naik kelas. Pengakuan yang menjadi hiburan bagi mereka, yang akhirnya berani memamerkan lembaran hasil ujian. Nilai-nilai yang buruk tapi mereka tidak menyesal. Bodoh kadang menghibur dan menciptakan tawa absurd.

Sore, aku berkeringat lagi sebagai tukang sapu, tukang ngepel, dan pelayan di kantin. Di gedung olahraga, tubuhku harus bekerja bersama debu dan kotoran. Sore itu membahagiakan saat teman datang. Sebelumnya, kami sudah kencan untuk bertemu. Duduk sambil minum es teh, kami berbagi cerita mengenai nasib dan mengimajinasikan binatang-binatang. Yang terpenting adalah aku menyerahkan novel gubahan Amin Maalouf yang berjudul Nama Tuhan yang Keseratus. Aku mendapatkan rezeki dari penjualan buku. Yang berlebih adalah obrolan kami menjelang senja.
Aku menikmati senja bareng lagu-lagu asmara. Dua lapangan aku bersihkan, yang utara dan selatan. Para pemain masih berada di lapangan tengah, yang berakhir pada pukul 18.00 WIB. Aku menyempatkan melihat mereka yang tampak semringah dan tertawa. Kaum muda yang memilih main bulutangkis ketimbang menjadwalkan pacaran. Mataku kaget melihat di kubu mereka ada buku. Yang tampak adalah novel-novel Tere Liye. Beberapa orang adalah pembaca novel, yang menggemari Tere Liye. Aku pun mendekat minta izin bergabung bareng mereka untuk obrolan. Sejenak, aku tambah minta izin untuk memotret kehadiran novel-novel Tere Liye di pinggiran lapangan badminton.

Percakapan maghrib yang seru. Telingaku sudah mendengar azan maghrib. Obrolan yang memusat buku. Aku bawakan buku-buku yang menjadi bacaanku. Dua buku yang sempat mereka pegang dan baca adalah The Sun an Her Flowers, Matahari dan Bungaa-Bunganya (Rupi Kaur) dan 700+ Kata-Kata Inspiratif Para Wanita Hebat (Carolyn Warner). Dua buku bersama mereka saat aku tinggal untuk shalat dan meladeni para pembeli di kantin. Yang terdengar di kantin adalah lagu Nadin Amizah dan Iwan Fals yang berjudul “Untukmu”. Tanpa malu, aku iku bersenandung: Katakan padaku/ andaikan kau tahu/ tolonglah kau katakan itu/ lawanku, temanku, saudaraku, keluargaku/ pun aku// siang berganti malam/ terdengar panggilan-Nya/ suara anak-anak kecil yang pergi ke langgar/ menghampiri yang dewasa di sana/ tanpa tahu apa-apa/ melangkah dengan riang gembira. Sebelumnya, lagu itu aku nikmati di Mangkunegara, beberapa bulan yang lalu saat aku dan teman-teman menikmati konser yang megah.
Malam itu aku ingin bahagia. Hari-hariku bertemu para pembaca buku. Mereka masih membuatku bergairah dan mengurangi pengkhianatan terhadap buku-buku. Rombongan pemain di lapangan tengah pamitan sambil membuat permintaan agar Sabtu yang akan datang aku membawakan novel-novel. Mereka mau meminjam meski aku memiliki niat untuk memberikan saja agar senang. Ada yang malah meminta untuk diadakan obrolan buku. Aku balik memberi guyonan kepada mereka: “Jangan telantarkan kekasihmu! Bulutangkis dan buku akan membuatmu dibenci kekasih.” Mereka malah menjawab sambil tertawa: “Saya tidak punya kekasih!” Malam yang berbahaya. Mereka yang suka buku pasti lupa khasiat Sabtu malam. Mereka terbukti tidak mementingkan orang-orang yang harus dicintai tapi memilih berkeringat dan menikmati novel-novel bergelimang nasihat. [] Durjana








