Cerpen

Laci Meja Bu Putri

Cerpen Dian Ariani Supangkat

Kipas angin berputar enggan di atap ruang guru yang lenggang karena bel istirahat belum berbunyi. Bu Putri bergegas ke kamar mandi. Pemandangan ini disaksikan Bu Putri saat hendak ke kamar mandi. Bibir Pak Nur, guru matematika yang berkumis lebat, menempel lekat pada bibir Bu Yanti, pegawai tata usaha. Badan mereka rapat. Sontak tubuh mereka merenggang saat melihat Bu Putri yang tak diharapkan. Diarahkan pandangan Bu Putri ke pintu kamar mandi. Pintu berwarna kuning dengan ganggang senada. Semakin gegas langkah Bu Putri. Meski hanya lima langkah jarak ke pintu kamar mandi tak henti Bu Putri mengutuki diri sendiri. Mengapa tak dia tahan ke kamar mandi sampai jam istirahat tiba. Saat semua guru kembali ke meja masing-masing. Kemungkinan kecil Pak Nur dan Bu Yanti menempel satu sama lain.

“Mengajar kelas berapa Bu?” Suara Bu Yanti saat pintu kamar mandi terbuka.

“Kelas X, Bu Yanti.” Pintu kamar mandi ditutupnya segera.

Bu Putri menyalakan kran air memenuhi bak kamar mandi yang sudah penuh. Sial. Rutuk Bu Putri tak henti.

Peristiwa tadi membuatnya lupa bahwa ada hajat mendesak untuk ditunaikan di kamar mandi. Bu Putri mematikan kran. Sekilas tak terdengar apa pun di balik pintu. Bu Putri mengatur napas sebelum keluar kamar mandi sambil merapal doa semoga mereka sudah lenyap dan ia tak harus bertukar cakap. Lorong keluar kamar mandi kosong. Ia berusaha berjalan biasa saja. Ruang guru masih sepi. Bu Putri bergegas kembali ke kelas. Tenggorokannnya kering. Dia berjalan menghampiri siswa namun pikirannya terpaku pada adegan Pak Nur dan Bu Yanti di lorong menuju kamar mandi.

“Mengapa harus di lorong kamar mandi sekolah?”

Pertanyaan itu berdengung di kepala Bu Putri berhari-hari setelahnya. Sekeras mungkin tak berpapasan dengan Pak Nur dan Bu Yanti di sekolah. Sayangnya sekolah tempat ia mengajar adalah sekolah negeri di jalan utama yang bangunannya pas-pasan. Berbatas jalan provinsi dan diapit rumah-rumah bangunan kolonial yang telah beralih fungsi.

****

Ruang guru sepi. Bu Putri tetap di ruang guru saat bel pulang telah jauh berdentang. Cerita-cerita yang harus dibaca karena pasti tak tersentuh jika dibawa ke rumah. Bagi Bu Putri urusan di sekolah dan urusan di rumah sebaiknya diberi sekat pembeda. Sebagian jendela dan pintu telah ditutup. Sore itu Bu Putri pulang jauh setelah bel jam terakhir karena membacai tugas-tugas siswa.

Hari telah jatuh hampir senja. Di ruang guru hanya ada tiga orang. Bu Putri, pak guru geografi, dan ibu bendahara sekolah. Pak guru geografi dan ibu bendahara sekolah hampir setiap hari pulang paling akhir. Jam terakhir di sekolah pukul tiga belas tiga puluh. Sekolah tempat Bu Putri mengajar belum full day. Senin sampai Sabtu wajib belajar di sekolah. Apa yang mereka lakukan setiap hari sepulang sekolah? Pak guru geografi telah beristri dan Ibu bendahara sekolah pun sudah bersuami. Kabarnya mereka berselingkuh karena pasangan masing-masing berselingkuh duluan. Bu Putri tidak terlalu peduli omongan guru-guru lain soal guru geografi dan bendahara sekolah itu. Namun, beberapa hari harus pulang sampai jauh sore, Bu Putri melihat desas-desus itu bukan sekadar kabar angin. Si guru geografi dan bendahara sekolah berpegangan tangan diam-diam. Tertawa cekikikan. Mereka saling meyuapi. Bu Putri menyaksikan adegan pasangan yang mendekati pensiun itu dari balik tumpukan tugas koreksi.

Mengapa harus di sekolah? Tanya Bu Putri pada diri sendiri berkali-kali.

Semua rekan guru tahu. Istri si guru geografi tahu, suami si bendahara pun tahu. Dinas pendidikan pun tahu.

***

Pagi itu Bu Putri dipanggil kepala sekolah. Saat ia baru meletakkan tas. Di ruang kepala sekolah sudah ada guru BK. Duduklah mereka bertiga dalam diam. Sekolah masih sunyi. Guru-guru lain belum berdatangan.

“Salah satu anak KIR kemarin tertangkap melakukan tindakan asusila, Bu.”’

“Tindakan asusila apa, Pak?”

“Mereka melakukan yang tidak sepantasnya.” Guru BK mulai bersuara

“Apa yang tidak sepantasnya itu, Bu?” desak Bu Putri

“Ini kelalaian kita semua terutama Ibu Putri sebagai pembina KIR. Anak itu sepulang pembinaan tidak langsung pulang malah berduaan dengan kakak kelasnya.”

“Yang terpenting sekarang bagaimana kita menangani kasus ini. Bapak si siswi adalah dokter. Bu BK yang akan mengatur bagaimana caranya supaya ini tidak sampai bocor ke luar. Ke LSM apalagi sampai cetak di koran. Bisa habis kita. Pokoknya biar diatur mereka berdua akan mengundurkan diri dari sekolah ini.’’ Tanpa jeda kepala sekolah menatap Bu Putri.

“Si siswi peraih nilai tertinggi, Pak,” sela guru BK

“Makanya sayang sekali. Namun jika berkaitan dengan akhlak saya harus tegas.”

“Biar guru BK yang menangani semuanya.”

Tak ada ruang bagi Bu Putri memberi pendapatnya. Itu hanya pemberitahuan baginya. Dia tak mampu membina ekstrakulikuler dan siswa-siswa itu akan dikeluarkan.

Bu Putri menatapnya sepanjang mengajar di kelas, si siswi menundukkan kepalanya. Begitu dalam.

“Angkat wajahmu, Nak. Ibu ingin bicara.”

Bu Putri hanya melihatnya seminggu setelah kejadian. Bu Putri tak sempat bilang pada padanya, “Kamu cantik, kamu berhak sepenuhnya atas tubuhmu.”

Bu Putri bahkan tak mampu membelanya saat guru BK dan wali kelasnya menghajar si siswi dengan ujaran-ujaran soal moral, akhlak, dan aurat. Ada kejijikan dalam nada bicara dan tatapan mereka. Si siswi bahkan sudah menanggung beban sedemikian rupa. Mereka harus merelakan kelanjutannya bersekolah di SMA terbaik di kota. Si siswa masuk SMA swasta yang hanya peduli akan jumlah siswa. Perkara mereka pengguna narkoba, pelaku tawuran akut, atau tukang bolos tak menjadi masalah. Belakangan, Bu Putri diam-diam bahagia ada sekolah-sekolah model begini yang menerima semua siswa yang dibuang sekolah-sekolah negeri begitu saja. Si siswi dimasukkan ke pondok pesantren di luar kota.

“Jika tak dikeluarkan, lebih merana lagi mereka. Bagaimana menanggung malu di depan teman dan para guru?”

“Tugas kita membuat mereka menjadi lebih baik. Mengajarkan menghargai tubuh mereka dan tidak memperlakukan mereka sebagai kriminal.”

“Tapi mereka amoral karena telah berbuat asusila.”

“Mereka remaja yang di tengah jalan mencoba bermacam hal.”

“Karena masih remaja sudah begitu bagaimana nantinya? Makanya harus segera dikeluarkan. Biar tidak dicontoh teman-temannya.”

“Atau sebaliknya bisa jadi teman-temannya bisa belajar dari kejadian ini.”

“Belajar mesum? Di sekolah ini akan dikeluarkan jika mesum.”

“Sama seperti si Bapak dan Ibu guru yang mesum, kan? Yang bahkan sudah beristri bersuami.”

“Bu Putri hati-hati jika berbicara.”

“Jika mesum artinya amoral dan asusila, mengapa para guru itu tetap tinggal dan siswa-siswa itu yang pergi? Mengapa kita yang harus risih dan para guru mesum itu tetap tak berubah? Saya lebih percaya murid-murid itu masih bisa berubah lebih menghargai tubuhnya dan berhubungan dengan orang lain.”

Sore itu saat sekolah mulai remang, mereka berada di ruang yang hampir seperti gudang. Sisa peralatan lomba dan acara-acara sekolah yang ditumpuk sembarangan. Ada matras usang. Si siswi telah telanjang dan si siswa siap mengambil video. Mereka telah bertukar gambar diri mereka beberapa kali lewat ponsel. Hari itu mereka bergantian akan mengambil gambar badan masing-masing. Nahas, guru olahraga yang belum pulang memergoki mereka. Si guru melihat si siswi memakai kembali satu per satu seragamnya dengan gelisah. Air matanya tumpah. Si guru belum juga memalingkan muka. Sampai akhirnya ia menyeret mereka ke luar ruangan.

Begitulah cerita yang berembus ke seantero sekolah soal kejadian yang membuat Bu Putri sebagai Pembina KIR bersitegang dengan kepala sekolah dan guru BK.

***

Bu putri melepas kacamatanya yang tebal, meletakkannya di atas meja. Seorang siswa menghampirinya saat pelajaran berakhir.

“Mama titip salam untuk Ibu. Mama dulu murid Bu Putri.”

“Siapa nama mamamu?”

“Nina, Bu.”

“Salam Ibu untuk mamamu.” Bu Putri lantas keluar kelas. Pandangannya tertuju pada kolam ikan di lantai bawah. Betapa mulut-mulut ikan itu menganga. Mereka bergerombol di air mancur yang dibangun dengan payah di tengah kolam. Samar, Bu Putri melihat wajahnya karena air yang jernih tanda air kolam baru diganti. Bu Putri mengingat dengan baik siapa Nina. Siswi yang dihamili pacarnya yang mahasiswa. Si mahasiswa hilang jejaknya ketika diminta kesanggupannya bertanggung jawab. Nina yang dibelanya bahkan sampai ke dinas pendidikan kota. Nina yang kurus dan manis. Nina yang dalam dua bulan akan ujian nasional namun ketahuan hamil. Nina yang tak dapat menahan mualnya saat praktik olahraga. Nina yang meski berurai air mata dengan lugas memohon untuk tetap bersekolah. Memohon untuk bisa ikut ujian tak peduli cemoohan yang akan diterimanya. Kepala sekolah, wali kelas, dan guru BK lebih peduli pada citra sekolah. Nina yang dibela Bu Putri sekuat kemampuannya. Bu Putri mendengar permohonan Nina yang menyayat. Bu Putri mendatangi kepala sekolah demi Nina bertahan sekolah sampai ujian selesai.

“Mengapa kita melepaskan tangan kita saat anak kita tersesat, Pak?”

“Ada hubungan apa Bu Putri dengan Nina ini? Saudara?”

“Nina sama seperti murid saya yang lain, Pak. Nina ingin belajar sampai ujian nasional. Nina tidak ingin menyerah, Pak.”

“Nina tetap akan dikeluarkan, Bu. Kebijakan saya tetap. Masih ada waktu buat Nina mencari sekolah atau mendaftar kejar paket C.”

“Tapi Pak, nama-nama peserta ujian harus didaftarkan jauh-jauh hari. Mustahil bagi Nina untuk ikut ujian tahun ini.”

“Itu bukan persoalan kita, Bu Putri.”

***

Bu Putri tetap mengajar bertahun-tahun setelahnya. Guru yang di meja kerjanya bersih dari segala macam foto. Tak satu pun foto, baik itu foto suami, anak, rekan guru atau foto-foto diri atau siswanya yang berprestasi terpajang. Bu Putri hanya menyimpan sebuah album di laci mejanya. Album berisi foto-foto tiga kali empat siswi-siswi yang terpaksa putus sekolah. Siswi yang dihamili pacarnya, siswi yang diperkosa pamannya, siswi-siswi dengan beragam kisah pilu yang berakhir serupa; dikeluarkan dari sekolah. Foto-foto siswi itu menjadi pengingatnya guru seperti apa ia.


Dian Ariani Supangkat, bisa disapa di twitter @arianidian dan Instagram @diari_diari. Surel: [email protected]

Buku, Resensi

Terkait dan Terikat

Oleh Kamalludin

Lebaran akan kembali menyapa kita, dalam kurun waktu yang relatif singkat. Selain baju baru, lebaran juga identik dengan aneka camilan dan kue. Salah satu sajian khas yang hadir di atas meja ruang tamu adalah biskuit Khong Guan. Biskuit dengan kaleng dominan warna merah ini merupakan biskuit legendaris keluarga Indonesia. Biskuit Khong Guan menjelma menjadi jamuan istimewa saat lebaran. Biskuit Khong Guan mungkin salah satu panganan yang tetap bertahan hingga saat ini. Biskuit ini menemani masa kecil kita. Sejak dulu sampai sekarang tidak banyak yang berubah dari biskuit tersebut, tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Bagi seorang penyair, benda-benda yang ada di sekitar bukanlah benda mati tak berguna. Benda-benda tersebut seolah bisa diajak berdialog dengan dirinya. Puisi-puisi Joko Pinurbo dalam Perjamuan Khong Guan seolah terlahir setelah ia melakukan dialog panjang dengan kaleng Ghong Guan.

Keakraban Khong Guan dengan masyarakat Indonesia membuat biskuit Khong Guan kerap dijadikan bingkisan atau oleh-oleh. Simak puisi berjudul Bingkisan Khong Guan berikut ini: Mari kita buka/ apa isi kaleng Khong Guan ini:// biskuit/ peyek/ keripik/ ampiang/ atau rengginang?// simsalabim.// Buka!// isinya ternyata/ ponsel/ kartu ATM/ tiket/ voucer/ obat/ jimat/ dan kepingan-kepingan rindu yang sudah membatu.//

Joko Pinurbo tidak sedang menyajikan biskuit dan teh hangat yang manis kepada kita. Tapi, ia tengah menyuguhkan realitas keadaan masyarakat di sekitarnya. Realitas itu, barangkali kita juga mengalaminya. Kadang-kadang kita beruntung, mendapati biskuit yang enak dan mengenyangkan. Tapi, sering juga dalam hidup ini kita tertipu oleh wadah atau tempat, yang setelah dibuka, ternyata kita hanya mendapati peyek atau rengginang. Kenyataan yang tak sesuai harapan. Lebih dalam lagi, kaleng Ghong Guan itu ternyata berisi ponsel, kartu ATM, tiket, voucer. Benda-benda tersebutlah yang sekarang akrab dengan kita. Joko Pinurbo mungkin hendak berkata bahwa keakraban biskuit Khong Guan telah digeser oleh ponsel dan benda-benda modern lainnya.

Seorang gitaris yang handal akan tampak seperti tidak peduli lagi pada kunci-kunci nada yang dimainkannya. Tapi, lewat pendengaran, ia akan tahu jika ada kunci yang meleset dalam permainan gitarnya. Perasaannya telah menyatu. Demikian pula dengan penyair yang piawai. Ia mampu menyampaikan gagasan yang besar dan rumit sekalipun dengan bahasa yang ringan.

Joko Pinurbo telah memilih puisi sebagai media untuk menyampaikan gagasan-gagasannya. Ia menangkap gelagat masyarakat yang curiga dan penasaran mengapa sosok ayah dalam keluarga Khong Guan tak pernah tampak di meja makan? Lewat puisi Keluarga Khong Guan Jokpin menulis seperti ini: Banyak orang penasaran/ mengapa sosok ayah/ dalam keluarga Khong Guan/ tak pernah tampak di meja makan?// Kata anak laki-lakinya,/ “Ayahku sedang menjadi bahasa Indonesia yang terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan.”// Anak perempuannya menyahut,/ “Ayahku sedang menjadi nasionasilme yang bingung dan bimbang.”// Si ibu angkat bicara,/ “Ayahmu sedang menjadi koran cetak yang kian ditinggalkan pembaca dan iklan.”// “Semoga Ayah tetap terbit dari timur, ya, bu,”/ ujar kedua anak yang pintar itu.// “Bodo amat ayahmu mau terbit dari mana,”/ balas si ibu./ “Yang penting bisa pulang dan makan bersama.”// 

Joko Pinurbo yang memiliki gelar kesarjanaan Bahasa dan Sastra Indonesia, tentu memiliki perhatian lebih pada bidang bahasa. Lewat biskuit Khong Guan Jokpin tidak sedang membincangkan biskuit tersebut. Tapi, ia sedang mengetengahkan isu bahasa Indonesia yang semakin terabaikan dan terlunta di antara bahasa asing dan bahasa jalanan. Respon pembaca puisi tersebut sangat didamba. Untuk kemudian sampai pada puncak harapan, khalayak Indonesia bersedia mencintai dan merawat bahasa Indonesia agar tidak lekas punah.

Di puisi lain, Jokpin mengajak pembaca mengingat perhelatan akbar yang digelar pada tahun 2019 silam, negara menyebutnya pesta demokrasi. Pemilu 2019 meninggalkan duka. Duka itu lantaran cukup banyaknya petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara atau KPPS yang meninggal dunia. Sebagai penyair, Joko Pinurbo memotret peristiwa itu dalam bentuk puisi yang diberi judul pesta. Di balik demokrasi/ yang boros dan brutal/ ada pesta pembagian doa/ untuk mengenang/ para petugas yang lembur/ dan mati di tempat/ perniagaan suara/ dengan honor tak seberapa.//

Lewat puisinya Joko Pinurbo ingin mengabarkan kondisi demokrasi di Indonesia. Puisi yang ditulis tahun 2019 itu seakan berisi laporan berita dari hasil kerja jurnalistiknya. Jurnalistik yang puitis atau puisi yang jurnalis. Jokpin menganggap demokrasi di Indonesia kelewat boros. Brutal! Karena menelan banyak korban. Kelelahan lembur sampai larut malam. Dengan honor tak seberapa. Meski pemerintah memberikan santunan bagi mereka yang gugur di perniagaan suara, itu belumlah seberapa. Dan mungkin inilah ikhtiar Jokpin untuk mengabadikan nama-nama mereka dalam nisan puisinya. Puisi Pesta yang satire.

Dalam puisi lain berjudul Bonus, imajinasi kita diajak melesat ke ibu kota atau kota-kota besar lainnya yang langganan banjir. Langit/ membagikan/ bonus/ air mata/ kepada/ pelanggan/ banjir/ yang setia.// adalah benar jika sebagian kota-kota metropolitan di Indonesia berlangganan banjir. Tapi, karena terlalu seringnya berlangganan, banjir yang datang mungkin tidak lagi disambut air mata. Entah mata yang telah kehabisan air atau hati yang sudah terlatih imunitasnya, sehingga banjir harus diabadikan dalam sebuah puisi.

Puisi Jokpin tak melulu mengait tema berat. Tema ringan berupa aktivitas keseharian orang-orang pun ia tulis. Rutinitas yang berbalut puitis. Bisa kita simak di puisi berjudul Senin Pagi berikut: Tubuhmu/ yang masih ngantuk/ sudah siap jadi jalanan/ macet dan bising/ jadi ponsel yang bawel/ jadi meja kerja yang rewel/ jadi deadline yang kaku/ jadi makan siang yang kesusu// … //

Semua diksi pada puisi di atas serba terburu-buru dan tergesa-gesa. Demikianlah lukisan sebagian besar dari aktivitas manusia di Senin pagi. Serba tergesa-gesa. 

Buku terbaru garapan penyair Joko Pinurbo ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian-bagian itu dinamai kaleng satu sampai kaleng empat, persis seperti menggambarkan isi kaleng Khong Guan yang berlapis-lapis. Secara sepintas, beragam tema dihadirkan dari kaleng satu sampai kaleng empat. Mulai dari hal sepele sampai pada persoalan demokrasi, banjir, nasionalisme, kebahasaan, dunia maya, dan religius.

Buku Perjamuan Khong Guan  memperpanjang karir kepenyairan Joko Pinurbo atas kelihaiannya dalam mencipta puisi lewat benda-benda. Bagi Joko Pinurbo, benda-benda bukanlah makhluk mati yang perlu diabaikan. Tapi, Joko Pinurbo telah memakai kacamata puisi, sehingga benda apapun yang ia lihat memiliki kemungkinan di angkat ke dalam tema puisi.

Secara umum, proses kreatif kepenyairan Joko Pinurbo dapat dikenali melalui tanggapannya terhadap dunia keseharian yang ia tuangkan melalui puisi-puisinya yang terkesan main-main namun sarat filsafat yang mendalam. Dengan kekuatan naratif dan kekhasan humor sajak-sajaknya yang satire, realitas keseharian yang ia tangkap lewat cerapan indrawinya tersebut kemudian hadir sebagai sebuah paparan sosiologis tentang kehidupan manusia-manusia modern di sekitarnya. []

Kamalludin, penikmat sastra. Beberapa puisi dan artikelnya pernah muncul di media. Aktivitasnya selain mengajar juga sebagai juru foto di Bunk@m Photography.

Puisi

Puisi Daviatul Umam

Telur Rebus

Palung malam di ujung

demam, kau gedor lelapku

hanya untuk membuka pintu

selera akan sesuatu yang kau

tahu tidak kusuka. Atas petuah,

penghalau wabah.

Telur di piring dicolong kucing,

berikut kesabaranmu. Suhu sisa

subuh dan semburat matamu

nyaris sama, menyentuh sukma

yang belum kembali seutuhnya.

Pagi menyibak jendela. Amis

telur berserakan di mana-mana.

Di tengah kemurungan semesta,

masih saja ada penular kegilaan.

Inikah wabah yang bakal abadi?

Bogor, 2020.


Aubade

Aku suka embun, kecuali

yang bergelantung pada

bulu matamu.

Seperti aku menyukai puisi,

tapi bukan yang tumbuh

dari keangkuhan.

Aku suka cara jari-jarimu

bekerja. Hanya saja lidahku

belum mampu membayarnya.

Maafkan aku yang dalam hal

mencintai, masih kalah hati-

hati sama puisi sendiri.

Sumenep, 2020.


Kopi Januari

Kopi sudah ampas, Sayang.

Sudah tiba aku di dasar pencarian.

Cawan sedingin almanak usang

yang kau tinggal menuju lembaran

baru. Tanpa kenal lagi

angka-angka rindu.

Halaman demi halaman buku kita

buka. Kata demi kata pun lihai

membuka diri kita.

Angin membagi-bagi sedap

melati. Kita menerimanya sebagai

pengharum ruang dada. Dada

yang menahun berlumut sepi.

Kopi sudah ampas. Tapi tak perlu

menyeduh lagi untuk meraih hangat.

Sumenep, 2020.


Kopi Susu

Terberkatilah aku di hadapanmu.

Menjadi gelas panas yang kau angkat,

lalu bibir kita bersatu melumpuhkan

cuaca dan bahasa.

Dengan lembut kau seruput kopi susu

dari golak batinku. Sampai tandas,

sampai dingin-kaku sekujur tubuh.

Tak apa jika sesudah ini tiba-tiba aku

pecah berkeping-keping. Aku bahagia

telah mengalirimu kehangatan sebagai

amal bajik, sekaligus bisa membawa

bekas kecupmu sebagai bekal terbaik.

Bogor, 2020.


Soto Ayam

Akhirnya kita punya menu

baru, setelah yang berlalu cuma

menyisakan jemu. Kuah hijau masam

perasan jeruk nipis, bertebar irisan

daging ayam dan kubis. Tak ada

kecap dan sambal kacang, ketupat

atau lontong yang kita kenal.

Semua berubah. Ini bukan gigitan

rempah-rempah yang karib di lidah.

Kenikmatan terpenuhi. Tapi perasaan

tak mau mengerti. Ada aroma lain

yang ingin kita rebut. Ada asap lain

yang ingin kita tuntut.

Di tepi situasi yang berantakan,

hangat tungku ibu betapa kita

harap sebagai perlindungan.

Bogor, 2020.


Dapur Perantauan

Tanganmu semakin lentur

menyalakan dapur.

Tiada kuah kelor, sayur asem pun

jadi. Seikat jenis sayuran yang kau

beli dari gerobak subuh itu asing

bagi mata kita, kecuali sepotong

jagung dan pepaya. Tanpa resep,

kau taburkan saja bumbu instan

yang justru mendustai pengecapan.

Sementara tempe gorenganmu

menyuarakan rasa terbaru. Seolah

menutup semua celah dari aneka

lauk kota. Berbalut tepung kemasan,

merayu angkara dan candu. Kendati

ujungnya, kebosanan hinggap juga.

Saat influenza tiba menjerat badan,

giliran wedang jahe kau hidangkan

sebagai perlawanan. Bersama doa

pagi khusyuk kuteguk. Namun hanya

keraguan yang dapat melewati liang

tenggorokan. Jahe kehilangan bisa.

Kau kehilangan cara. Dapur tidak

benar-benar menyala.

Bogor, 2020.


Sepasang Pujangga

Kita tak lagi berkirim puisi.

Tak kan pernah lagi. Karena kita

sudah menjadi kata-kata terindah

sekaligus makna terpenting

bagi diri masing-masing.

Bermadah di atas suka-duka,

membina kenangan sebagaimana

pengabdian Wida dan Toni,

Dian dan Budhi, Benazir dan Fauzi,

Jamal dan Maftuhah, Indrian

dan Mutia, David dan Ibna.

Hidup penuh metafora, istriku.

Beruntunglah jika kita peka selalu.

Belajar pada alam, mengaji

pada keadaan ataupun ketiadaan.

Biarkan jemari waktu

menganggit jadi larik-larik puitis.

Di dalamnya kita berumah

hingga baterai jam kefanaan habis.

Bogor, 2020.


Derai Pertikaian

Selain karena cangkir akan

selalu beradu dengan tutupnya,

rabu yang melahirkan kita

sepertinya memang jadi landasan

kuat mengapa ruang sering kali

melarang kita berdamai.

Kita dipertemukan oleh keisengan

liar otak remaja. Selanjutnya tangan

dunia tak kalah liar iseng-iseng

mengeruk ketenteraman.

Aku sendiri tak paham, amarahku

serupa kumis tipis yang kerap

menyentuh pipimu geli. Hari ini

dicabut, dua hari lagi tumbuh.

Begitupun keegoisanmu. Batu

yang jarang gagal menjatuhkan

sepatnya buah sesal.

Alangkah sukar pemakluman.

Sebegini lemahkah toleransi

dalam dada yang berlumur cinta?

Bogor, 2020.


Supermoon

Semalam aku mendongak

ke atap jagat yang langka.

Menatap kesempurnaan wajah,

berpendar-pendar menyilaukan

penglihatanku padamu.

Ingin kupandang lebih lama,

walau tengkukku akan ngilu.

Hampir lupa kalau pusat cahaya

akan menyesatkan mata semata.

Bogor, 2020.


Daviatul Umam, lahir di Sumenep, 18 September 1996. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Buku puisinya, Kampung Kekasih (2019).

Cerpen

Cerita tentang Danto

Cerpen Elmina G.

Ketika Danto ditinggalkan secara keji oleh Erina, ia teringat masa kecilnya yang serba terbatas. Ibunya punya segudang larangan dan ayahnya jarang ia lihat. Kedua orang tuanya sangat sibuk. Ibunya, wanita pemarah yang mempunyai sekian batasan dan aturan untuk Danto patuhi. Danto kecil tidak boleh berada di luar rumah melebihi jam lima sore. Ia tidak boleh memanjat pohon seperti teman-teman sebayanya. Ia tidak boleh berenang di sungai karena ibunya khawatir anak itu tenggelam dan dimakan buaya. Dan saat anak-anak seusianya berlari-larian dengan riang gembira, ibunya juga mewanti-wantinya untuk tidak melakukan itu. Seorang anak kecil tak boleh bergerak sembarangan, ia harus berhati-hati, karena banyak hal bisa mencelakakannya sewaktu-waktu. Demikian ibunya berpetuah. Danto tidak punya pilihan lain. Ia harus mematuhinya, meskipun hatinya meledak-ledak hendak memprotes semua kekangan ibunya.

Saat Danto berusia tujuh belas tahun, ibunya meninggal dalam suatu kecelakaan sepulang dari menjenguk nenek yang mengalami stroke. Nenek sudah sakit selama bertahun-tahun dan wanita tua itu masih hidup sampai sekarang. Sedangkan ibunya yang kelihatan seperti wanita paling sehat yang pernah ada justru mati lebih cepat daripada dugaan siapa pun. Prosesi pemakaman ibunya begitu khidmat dan mengharukan. Banyak orang menangis di sekeliling makamnya. Orang-orang menabur bunga dan berdoa dengan muka sembab. Namun, tidak ada kesedihan yang abadi. Kesedihan mereka pelan-pelan menyurut. Danto adalah orang yang paling cepat hilang kesedihannya.

Ayahnya semakin sibuk dan jarang di rumah. Ia mengurusi soal bisnis, kunjungan ke berbagai kota, dan tetek bengek lain yang Danto tak mengerti dan tak mau mengerti. Ia tak merasa perlu untuk mengetahui persoalan ayahnya sebagaimana ayahnya tampak juga tak menghiraukan soal dirinya. Ayahnya hanya mementingkan urusannya sendiri. Ia tidak pernah menganggap Danto sebagai anaknya, sebagai sosok individu yang membutuhkan seorang ayah bukan hanya eksistensi dan uangnya, tapi juga perhatian dan waktunya. Tapi Danto tak lagi menganggap itu hal penting. Ibu sudah tak ada dan ia bisa melakukan apa pun yang ia mau sebebas-bebasnya. Berbeda dengan ibu, ayahnya cenderung tak hirau terhadap apa yang ia lakukan.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Percakapan itu adalah pintu bagi Danto memasuki labirin kisah percintaan. Sejak itu ia tahu bahwa tak semua wanita semenyebalkan ibunya. Perempuan pertama yang dikencaninya adalah Saliza. Mereka berjumpa di kafe berbeda setiap pekannya. Mereka saling mengungkapkan kata-kata cinta dan janji-janji manis. Pada waktu itu, segala hal seakan berlangsung selamanya. Mereka berciuman, berpelukan, dan tidur dalam seranjang. Semua itu mereka lakukan dalam kurun waktu tak lebih dari dua bulan. Di bawah kuasa syahwat, segala hal bisa berlangsung cepat. Pikiran dan perasaan tak dipersilakan menunggu lama-lama di suatu ruang kalau syahwat sudah berdiri tegak di sana.

Nyatanya tidak ada yang abadi. Sebahagia apa pun sebuah kisah, ia pasti memiliki akhir. Danto dan Saliza menjalin kisah cinta selama satu tahun kurang sebelas hari, cukup lama untuk ukuran sepasang remaja belasan tahun. Pada malam itu, Sabtu malam yang berawan dan mendung, Danto menampar Saliza. Ia pernah melihat ayahnya menampar ibunya sewaktu ia kecil lantas ia menirunya bertahun-tahun berselang. Itu tamparan pertamanya untuk perempuan. Dan tentu bukan yang terakhir.

Tiga hari sebelum tamparan itu sekaligus sebelum Saliza meninggalkannya tanpa sepotong pun permintaan maaf, Danto melihat gadis itu berduaan dengan lelaki asing. Ia tidak tahu siapa lelaki itu. Yang ia tahu lelaki itu mencium pipi Saliza seakan-akan orang itu adalah dirinya. Ia merasa peristiwa itu, kepasrahan Saliza terhadap lelaki asing berengsek itu, menjelaskan semuanya. Itu patah hati pertamanya. Dan jelas bukan yang terakhir.

Beberapa minggu setelahnya Danto berpacaran dengan Lianti.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

“Tentu, Danto.”

Isi percakapan yang sama. Sebuah permulaan kisah cinta yang klise. Sialnya, isi kisah cinta Danto bersama Lianti pun tak jauh berbeda dengan kisahnya saat berhubungan dengan Saliza. Bedanya, kali ini bukan Lianti yang berkhianat dan menghancurleburkan semua ungkapan cinta dan janji manis yang pernah ada di antara mereka, tetapi Danto. Danto mengencani perempuan lain saat Lianti tak di hadapannya. Bukan hanya satu perempuan selingkuhan yang ia kencani, tapi lebih dari itu. Ia mengencani Rani, Sania, Delima, dan banyak perempuan lain.

Danto menjelma menjadi seorang petualang. Petualang cinta yang menyedihkan. Di sela-sela itu, ia menebus keterbatasan masa kecilnya dengan melakukan hal-hal yang dulu ibunya larang. Ia memanjat pohon-pohon tinggi, berenang sepuas-puasnya, berada di luar rumah sampai larut malam. Ia tak pernah mendoakan ibunya. Lebih dari itu, ia tak mau mengingat lagi ibunya. Semua ingatan tentang ibunya hanya membuat pikirannya kembali terkenang pada suatu masa ketika hidupnya seperti berada dalam penjara.

Sementara itu, ayahnya tak pernah lagi dilihatnya. Kabar berembus bahwa ayahnya menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Danto dan ia tinggal di kota lain bersama wanita itu. Mendengar kabar itu, Danto kesal. Ia merasa dicampakkan. Tapi, itu hanya perasaan sesaat. Bukan pertama kalinya ia merasakan hal semacam itu. Kenapa pula ia harus memikirkannya.

Sejak pernikahan ayahnya, Danto tinggal sendirian di rumahnya yang besar, megah, tapi lengang. Tidak betul-betul sendirian. Beberapa pembantu dan penjaga kebun juga tinggal bersamanya di rumah itu. Ia jarang di rumah. Kebesaran dan kemegahan rumah tak membuatnya betah menghuninya. Ia lebih banyak berkeliaran di luar rumah seperti burung-burung malam. Ia mengunjungi bar demi bar, kasino demi kasino, kesedihan demi kesedihan.

Ia sudah lama ditinggalkan Lianti. Tapi apa pedulinya. Ia memiliki banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan yang bisa diajaknya untuk melakukan apa saja, kecuali membangun kisah cinta yang serius. Selama bertahun-tahun, ia senang melakukan hubungan-hubungan singkat bersama bermacam perempuan. Itu membuatnya tak harus terbebani janji setia, impian masa depan, pedihnya ditinggalkan, dan omong kosong lainnya yang lazimnya ada dalam sebuah kisah cinta.

Namun, tidak ada hal yang abadi dan manusia adalah makhluk yang gampang bosan. Suatu malam, saat ia tinggal seorang diri di dalam bar, ia memandangi langit melalui jendela. Ia melihat sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya. Ia melihat pemandangan itu berjam-jam sampai malam berganti pagi dan rembulan serta gemintang itu lenyap dari pandangannya. Danto lalu pulang dan memutuskan untuk menghentikan petualangannya bersama perempuan-perempuan yang ia dekati tanpa ia cintai.

Ia mengurung diri di kamar berhari-hari. Waktu itu usianya menjelang dua puluh empat. Usia yang ia sadari cukup matang untuk memikirkan apa pun yang ada di dunia secara lebih serius. Namun, di dalam kamar itu ia tidak memikirkan tentang apa pun yang ada di dunia. Ia hanya memikirkan tentang dirinya. Semata dirinya. Tidak ada pikiran soal ibu, ayah, ataupun teman-temannya. Pada hari terakhir permenungannya, ia membuka jendela kamar dan kembali melihat pemandangan serupa yang dilihatnya berhari-hari silam di bar. Sepotong rembulan bersinar begitu terang dan puluhan bintang yang terpencar di sekelilingnya.

Pagi harinya, Danto keluar dari rumah sebagai lelaki yang teratur. Ia berpakaian rapi, tersenyum ramah kepada orang-orang, dan menghargai perempuan. Ia bekerja mengurus salah satu lini bisnis ayahnya. Ia tidak menyukai ayahnya, tapi ia menyukai pekerjaan itu. Semuanya berlangsung biasa belaka sampai suatu hari seorang pegawai datang ke ruangannya untuk menyerahkan sebuah dokumen. Pegawai itu adalah seorang perempuan berambut panjang yang cantik. Tidak memerlukan penjelasan panjang-lebar untuk menggambarkan kecantikan yang murni. Pegawai itu bernama Erina dan Danto jatuh cinta kepadanya.

Bertahun-tahun ia menjalani kisah cinta yang manis bersama Erina. Mereka rutin makan malam bersama, melakukan perjalanan yang menyenangkan ke kota-kota eksotis, membeli barang-barang apa pun yang mereka kehendaki, dan bercinta sepuas hati di hotel-hotel berbintang.

Segalanya baik-baik saja sampai Danto mengulangi sebuah pernyataan—yang sekilas terlihat manis—yang membuat apa yang baik-baik saja menjadi luluh lantak.

“Aku mencintaimu. Apakah kau mencintaiku?”

Danto dan Erina resmi berpacaran beberapa tahun lalu tanpa perlu mengatakan hal semacam itu. Danto mengatakan itu semata-mata karena ia tidak bisa menahannya.

“Tentu, Danto.”

Erina menjawabnya semata-mata karena ia merasa sebuah pertanyaan harus dijawab.

Seminggu kemudian Erina pergi meninggalkannya. Erina keluar dari tempat kerjanya dan menikah dengan seorang lelaki asing dan tinggal di kota yang jauh dari rumah Danto.

“Kenapa kau meninggalkanku?”

Erina memutuskan telepon. Setelah menutup telepon, Danto teringat masa kecilnya yang serba terbatas dan ia teringat kepada ibunya dan ia berdoa ibunya bisa hidup kembali agar ia bisa kembali masuk ke dalam rahim ibunya. (*)

TS, 5 Desember 2019


Elmina G. Lahir tahun 1999 di Berastagi, Sumatera Utara. Suka menulis cerpen. Kini bermukim di Bandung. Kesibukannya saat ini adalah berkuliah dan menonton drama Korea. Bisa dihubungi melalui email: [email protected]