Cerpen

Dunia Kami

Cerpen Danya Banase

/1/

Laki-laki itu selalu sendiri. Tidak pernah menegur tapi selalu ingin ditegur. Beberapa teman yang selalu berada di sekelilingnya bahkan mengatakan ia pribadi yang berbeda. Ia dianggap sombong dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Berbeda denganku. Walaupun orang-orang sering berkata bahwa terkadang aku tenggelam dalam duniaku sendiri, proses interaksiku dengan dunia luar baik-baik saja. Setidaknya menurutku. Tapi ia memang berbeda.  

Kami bertemu di perpustakaan dekat SMP tempatku bersekolah dulu. Aku datang 15 menit sebelum pintu perpustakaan terbuka. Orang-orang berkata aku terlalu rajin dan menyuruhku untuk melamar menjadi penjaga perpustakaan saja. Aku tak menggubris perkataan mereka. Mereka terlalu bodoh saat menilai tindakan seseorang sebagai bahan lelucon garing dan membosankan. Tidak semua orang menerima lelucon sebagai cara untuk diterima orang lain. Tidak semudah itu. Aku memilih duduk dekat rak buku-buku terjemahan di lantai dua. Bukan sebab ingin belajar bahasa Prancis ataupun karena diberikan tugas kuliah untuk menelaah Social and Political Philosophy karya John Christman, buku membosankan yang dibahas dosen senior yang sepanjang pelajaran hanya duduk dengan gaya malas dan berbicara seperti berbisik itu. Memilih lorong kedua, diapit susunan buku terjemahan bahasa Jerman dan Rusia, ternyata lebih nyaman. Mungkin karena berada di dekat sudut ruangan pula. Tidak terlalu sempit dan pengap. Penjaga ruangan itu, seorang bapak berusia 50-an dengan gigi seri bagian kanan atas yang ompong senantiasa menerimaku dengan ramah.

Laki-laki itu datang saat pegawai perpustakaan pergi makan siang. Ketika ia melintas, kami hanya berduaan di ruangan itu. Perawakannya tinggi, sekitar 170 cm. Keningnya yang lebar ditutupi potongan rambut berponi yang acak-acakan sehingga tampak tebal di bagian depan dan nyaris menutupi mata kanannya. Menurutku, gaya itu pernah menjadi model favorit sekitar tahun 2016 dan kemungkinan tidak kekinian lagi. Ia mengenakan kaus bergaris biru laut bercampur hitam, celana kusam setengah lutut yang robek-robek di lipatan bagian bawah, dan sepatu kets bertali tanpa kaus kaki.

Gaya berpakaian laki-laki itu cukup familiar di kalangan anak muda kota yang gemar travelling. Kami sempat bertatap muka, walau menurut perhitunganku hanya 7 detik atau kurang. Ia tersenyum, lalu melangkah menuju lorong buku bagian kamus-kamus bahasa asing. Ia kembali lagi. Seperti orang yang malu-malu dan ingin bertanya tentang sesuatu tetapi diurungkan, ia bolak-balik tidak jelas. Setelah empat kali melakukan hal konyol itu, ia mendekatiku dan menanyakan hal yang menurutku amat ganjil, sangat jarang terjadi apalagi kepada seseorang yang tak dikenal sebelumnya.

“Bagaimana pandanganmu ketika orang-orang menuduh dirimu terlalu egois dengan duniamu sendiri? Mereka bilang aku sombong. Harus kuakui beberapa orang di sekelilingku terkadang tidak memahami apa yang sedang terjadi dalam kehidupanku. Usaha mereka pun sia-sia, justru karena mereka terlalu mencampuri urusan orang lain.”

Ia gila. Kumaklumi saja karena memang ada beberapa orang memiliki kepercayaan diri begitu tinggi sampai taraf yang menjengkelkan. Lihat saja, ketika ia bertanya, ia pun berani sekali menatap mataku dengan tajam.

Well, itu pertanyaan mudah. Aku datang ke tempat ini dan sibuk bergeliat dengan pemikiranku sendiri.”

“Seperti saat ini?”

“Tepat. Seperti saat ini.”

Jawaban pendekku diresponsnya dengan melangkah cepat ke lorong sebelumnya dan kembali lagi sembari menenteng buku Orientalism karya Edward Said. Ia memilih duduk di depanku. Tersenyum simpul, gerak bibirnya tampak sekali dipaksakan.

“Seperti buku ini? Kalau kau sudah membacanya.”

Aku memilih diam.

Bisakah ia diam barang sejenak dan menutup mulutnya? Aku sedang berusaha menumpahkan isi otakku untuk menyelesaikan cerpen yang telah kugumuli sejak seminggu lalu. Bahkan ketika ia datang, pikiranku mulai buyar.

“Orang tuaku menyuruhku menelan obat-obatan yang diberikan dokter langganan kami. Aku bahkan diminta untuk menemui seorang psikiater dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti anak bodoh yang tidak tahu apa-apa. Keadaanku baik. Aku takut. Sebenarnya demikian. Teman-teman seangkatanku mengatai aku tuli dan bisu. Kau adalah saksi. Buktinya aku bisa mendengar ucapanmu sekarang. Aku hanya tidak ingin merespons mereka. Membicarakan hal-hal yang tak kumengerti.” Telinga kanannya spontan bergerak ketika ia selesai bicara. Kulihat itu sebagai hal yang wajar pada awal ia bertanya, tapi pandanganku berbalik seratus delapan puluh derajat setelah tiga kalimat berikut yang ia lontarkan. Kupikir hanya 22% orang di planet ini yang masuk kategori istimewa dapat melakukannya.

Hikikomori. Berapa lama kau melakukannya?” Tanpa bertanya lebih jauh aku langsung tahu orang seperti apa laki-laki itu.

“Enam bulan. Teman dunia mayaku yang paling mengerti. Perbincangan kami sangat menyenangkan. Ia terbuka dan sepertinya mirip denganku. Kami berbicara tentang game, buku-buku penulis klasik, hingga warna kesukaan.”

“Aku pernah. Dulu. Menjadi diam bukan berarti abnormal.” Aku suka anak ini. Ia sepertinya bisa mengenali sifat seseorang, makanya ia menjadi orang pertama yang melontarkan pertanyaan.

“Sejak kapan dan mengapa?” tanyanya penasaran.

Aku membolak-balik buku yang tengah kupegang dan mencium aroma buku itu. Kebiasaan. Matanya lurus menatap mataku. Seperti sebelumnya. Sempat kulihat rasa ragu, alih-alih penasaran, karena keningnya berkerut dua lipatan. Gerak telinganya sarat makna, saat bergerak naik tiga kali artinya ia sedang penasaran dengan lawan bicaranya.

Book sniffer,” katanya. “Kau sangat mirip denganku.”

“Yup, bibliognost,” aku tersenyum membalasnya.

“Aku hampir dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Padahal aku normal. Aku mandi tiga kali, kadang lima kali sehari. Makan tepat waktu. Bahkan memiliki seorang teman. Ia mengkhianatiku. Membicarakan kejelekanku di belakang dan menikamku pelan-pelan dengan mulut buasnya. Aku memang autis. Tapi aku normal. Mereka bilang keaktifanku melebihi batas kewajaran manusia. Mengurung diri dengan membaca buku dan terkadang berbicara sendirian. Hingga tanggal 23 November 2017. Aku ingat sekali tanggal bersejarah  itu. Pisau dapur yang sering digunakan Mama untuk memotong sayur kugunakan untuk mengukir tangan kananku. Menurutku itu keren. Agar berbekas dan tidak mudah hilang. Tato. Bukan hanya itu saja. Kulakukan hal yang sama pula pada bagian bawah leherku. Mengukir mockingjay bird,” aku menjelaskan, diakhiri dengan tawa terpaksa. Kulihat barisan giginya seperti pertama kali dilepaskan dari ruang mulutnya yang terkunci setelah sekian lama. Ia tersenyum lebar sekali.

“Kau menarik. Merci pour l’ecoute,” ucapnya mengakhiri percakapan kami.

/2/

Seminggu kemudian, pada waktu yang sama aku kembali lagi ke tempat kami pernah berbincang. Aku menunggunya. Namun, sampai jam perpusatakaan tutup, ia tak kunjung datang. Keesokan harinya aku mencari kamus bahasa Prancis untuk menambah kosakata berbahasaku karena tuntutan bacaan yang tengah kuselami belakangan ini. Aku membaca dan terus membaca sampai penjaga ruang perpustakaan yang menurutku sudah bosan melihat wajahku ini menghampiriku dan mengatakan bahwa ia sangat senang karena melihatku menjadi pengunjung setia ruangannya. Ia kesepian karena banyak pembaca lebih tertarik dengan ruangan lain yang terisi bahan bacaan yang lebih populer pada masa kini, atau karena ruangan ber-AC yang sejuk itu lebih cocok untuk dijadikan tempat bergosip. Si bapak tua bahkan ingin sekali memberikan hadiah buku untukku dan laki-laki itu—ia sengaja tidak menyebutkan nama—yang telah setia menemaninya hari demi hari.

Aku bertanya seberapa sering laki-laki itu datang ke tempat ini. Ternyata ia adalah pengunjung setia sebelum diriku. Tanpa kusadari, tanpa sepengetahuanku, kami bisa saja berada di dalam ruangan yang sama seharian penuh tanpa pernah saling mengenal atau bertegur sapa. Baru hari itu aku tahu, ia bahkan sempat bertanya pada penjaga perpustakaan itu mengapa aku suka sekali membuka kamus bahasa Prancis.

/3/

Kami bertemu lagi di toko buku tunggal di kota kami. Kebanyakan anak muda lebih senang berada di mal-mal besar atau hangout di kafe atau restoran yang mempunyai desain interior dan eksterior yang bagus dijadikan instastory sehingga toko buku itu tampaknya sedang menuju kebangkrutan. Aku membeli buku mengenai dasar-dasar komunikasi politik karena tugas kampus. Aku melihat laki-laki itu. Aku mengenalinya. Telinga kanannya bergerak. Sempat kuhaturkan senyum paling tulus untuk orang yang baru dua kali kutemui itu. Ia memalingkan mukanya seolah kami tidak saling kenal.

“Hai, bibliognost.”

“Halo,” sahutnya singkat.

“Kau mengingatku? Perpustakaan?”

“Ah, aku rasa aku pernah mengenalmu sebelumnya setelah kau menegurku dengan istilah itu.”

Kami bertemu lagi dan tidak saling mengenal. Atau dunia kami memang bergerak saling menjauh—untuk alasan yang tak sepenuhnya kami sadari?***


Danya Banase, suka baca cerpen dan pencinta travelling. Berdomisili di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Puisi

Puisi Setia Naka Andrian

Sudah Berapa Jam Lalu

Sudah berapa jam lalu,

kau tumbuh di atas punggungku

Kau menikam banyak rindu

Yang ditanam pelan

di antara catatan yang lupa

Ditanam di jalan-jalan

Menuju ketiadaanmu

Sudah berapa jam lalu,

kau telah memilih tak megunjungiku

Kau bilang,

“Sudahlah, jangan cemas

Aku telah tumbang

dalam sekejap waktu

Selepas segalamu tumbuh

di punggungku”

Demikianlah kau,

yang menjadikan kami kikir

Yang membiarkan segenap rakyatmu

terlampau fakir

untuk menentukan segala iman

Masa itu, kau begitu rupa

bergegas berlari

Jika pagi datang

dengan berjingkat begitu tinggi

Jika pagi mendesakmu

agar mengangkat lagi

kedua kaki setinggi-tinggi

Kendal, April 2018


Nama-Nama yang Berlalu

Dalam segala nama mereka

Telah disebutkan nama-namamu

yang berlalu

Doa-doa yang telah lama

tanggal di batu-batu.

Dalam segenap raga mereka

Nama-nama kerap digiring dari segala duka

Setiap pagi menyala, siapa saja melihatmu

Mengapung di sungai-sungai panjang

yang sering memilih berubah pikiran

Untuk menemukan muara yang lengang

Lihatlah, nama-nama baik telah berlalu

Doa-doa dengan napas tinggi

lebih memilih singgah

dan menggantung huruf-huruf vokalnya

Di setiap nada yang mengembang di udara

Saat setiap orang telah bergegas lari

Mendirikan badan lain,

sebelum segalanya tumbang

Menjatuhkan banyak hal di luar segala

yang tak lagi dikehendaki

Dalam segala nama-nama yang berucap

Dan dibiarkan mengembang di udara

Maka bergeletakanlah nama-nama kecilmu

di antara tubuh mereka

Sejauh mata yang telanjang

Sejauh kegagalan tumbang

di sebelah ragamu sendiri

Dan sejak saat itu, segala nama telah berlalu

Tumbang di segala arah

yang urung menunjuk kematian tubuhmu

Kendal, April 2018


Pada Mata yang Tak Lagi Retak

Pada mata yang tak lagi retak,

pada alis yang tak sempat bercabang

Kau telah mengirim kami

Dalam kedatangan yang berulang-ulang

Dan kau diam-diam

telah mengunjungi banyak risau

dalam kegundahan

Pada mata yang tak lagi retak,

Pada segala cahaya yang berlalu-lalang

Meninggalkan diri kita

Di antara segenap hujan

yang gagal menidurkanmu

Pada mata yang tak lagi retak,

Kau kembali kepada kami

Yang tiada pernah tega

Menggerakkan mata sendiri

Kau menatapi kami diam-diam

yang tak kunjung matang

Pada mata yang tak lagi retak,

pada hidung yang mencium sedalam-dalam

Kau berjalan mengunjungi kami

Kau berkata dengan pelan,

“Sudah saatnya kami menenangkan batin

dan ragamu

Yang kerap tanggal di pematang

Yang kerap berlinang

saat terik di dada tak kunjung

melambaikan tangan,”

“Pada mata yang tak lagi retak,

Pada segala yang sedang malas berkemarau

Mereka yang sekian kali menabur hujan

yang tak sempat reda,

memanjakan ketiadaan di setiap gerak luka,”

Pada mata yang tak lagi retak,

Semua memanas, membakar televisi, radio, dan koran

Semua hangus, kecuali bibir-bibir yang berdesakan

menempel di media sosial

Kendal, April 2018


Musim

Musim telah matang

Ia mengejar hujan

yang sering absen datang

Di balik telapak tangannya

yang kapalan,

musim sering menggerutu

menyaksikan banyak hutan panas

yang sering salah jadwal kunjungan

Melupakanmu, melupakan desa

dan kampung halamanmu

Kendal, April 2018


Hari Sudah Pagi

Hari sudah pagi

Sudah saatnya kita bergegas pergi

Sudahlah, tak ada lagi

yang menyegarkan matamu

Semuanya penuh lika-liku,

membakarmu,

Mengumpat segala celamu

Lihatlah di luar,

bala tentara sudah menunggu,

Berbaris pasukan berkuda

Siap mengawal dari segala udara

Dari segala napas

yang kerap mendengkur duluan

Hari sudah pagi,

Kau akan segera diajak pergi

Kepada segala yang memacu jejak

Saat orang-orang masih direkam

Dalam segala cara cepat

Untuk bergegas meruntuhkan

Kendal, April 2018


Bacakan Kepada Kami

Bacakanlah kepada kami

Ribuan angka yang jatuh

di luar kepala

Bacakanlah kepada kami

Jutaan purnama kesembilan

yang tanggal

sebelum menunda akhirnya

Bacakanlah kepada kami

Kepada segala bibir

yang tumbuh di luar suara

Kepada segala umpatan

yang menempel

di dinding-dinding kening

dan dadamu

yang kian hari

kian saling melambaikan tangan

Kendal, April 2018


Bahasa Ingin Lelap Tidur

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah kangen bertemu ibunya

Dalam tidur,

Dalam mimpi

yang katanya sudah bolong-bolong

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah lupa rasanya tamasya

Saat mengunjungi ragam warna

dan makna

Yang kian bertebaran, diciptakan

di sembarang dinding kamus-kamusmu

yang terbakar

Bahasa ingin lelap tidur

Ia sudah ingin menjadi sore hari

Ingin bergegas jadi waktu senyap

Yang memilih mengerami

segala kesunyian

Bahasa ingin lelap tidur

Ia merasa sudah cukup tua

untuk mengenang masa muda

yang tanggal berkali-kali di jendela

Bahasa ingin lelap tidur

Ia ingin sowan kepada para leluhurnya

Yang kabarnya, sudah tak lagi tinggal

di jendela-jendala

Kendal, April 2018


Bergegaslah Menyelam

Bergegaslah, Sayang

Bergegaslah menyelam

Dasar laut hampir tutup

Tiketmu tinggal sepenggal angin

Bergegaslah Sayang

Bergegaslah menyelam

Hari sudah hampir lepas,

pantai telah bergerak

meninggalkan segala panas

Lihat, di sana rumahmu

Yang menawarkan segenap keretakan

Bersama doa yang sedang asyik kabur

Ia telah lama menanam diri

Di atas sana, saat kami telah libur panjang

Saat segalanya telah memilih tunai duluan

Kendal, April 2018


Berjalan ke Utara

Kami lah yang berjalan ke utara itu

Kami lah pencari ladang

Yang kerap tak sempat mengaliri diri

Dengan beragam aroma bunga

Atau apa saja,

selain dari napas-napas panjangmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Kami lah pejinak pematang

Yang kerap tak kunjung habiskan

cara berupa-rupa

Kami tak tahu, kapan akan menemukan

Segala ubi-ubian, jagung, atau apa saja

Yang leluasa menggerakkan tubuh

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Yang berjalan dan tak berani

diam-diam menilai segala ketiadaanmu

Kami lah yang bergegas ke utara itu

Yang hanya mencoba menembus

Segala lubang sela-sela jari kaki

untuk menghamburkan segala rupa

Untuk selalu tunduk, dan berlutut

Di bawah nama-nama keajaibanmu

Kendal, April 2018


Berat Duka

Sudah berapa berat duka

yang ditumbuhi peluru

Sudah berapa berat suka

Ditumbuhi malu

Kami enggan bertapa lagi

Lereng gunung tak lagi asyik

Untuk menyembunyikan kekalahanmu

Sudah berapa berat duka

yang segalanya telah luput

Memikul doa kami yang kerap runtuh

Enggan memilah puncak mana

Yang pertama akan ditempuh

Sudah berapa berat duka

Yang tak lagi bisa berbuat apa-apa    

Kami kian hari seakan kian

membunuh masa depan kami sendiri

Kami sudah tak begitu akrab

Dengan duka-dukamu

Maka bergegaslah kami,

Menuju segala ketiadaan itu

Kami berlarian, menembus segala

yang tak pernah kami temukan

Dalam sekelebat nyawa

Yang diam-diam kerap mengunjungi

duka-duka itu

Kendal, April 2018


Setia Naka Andrian. Lahir dan tinggal di Kendal sejak 4 Februari 1989. Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Buku puisi terbarunya Waktu Indonesia Bagian Bercerita (Penerbit Buku Beruang, 2020).

Buku, Resensi

Menanyakan Identitas: Orang Korea di Jepang

Oleh Setyaningsih

Dituturkan dalam empat generasi merentang selama 80 tahun, novel Pachinko (2019) garapan Min Jin Lee adalah rekonsiliasi panjang nan rumit orang-orang Korea di Jepang. Terutama diwakili oleh generasi kedua, tokoh perempuan bernama Sunja dinikahi dan diselamatkan misionaris Kristen asal Pyongyang, Baek Isak, dari Busan ke Osaka. Saat itu masa-masa kolonialisme Jepang di Korea. Sunja dihamili oleh seorang Korea yang mapan tapi telah beristri dan memiliki tiga anak di Jepang. Sunja menolak menjadi istri simpanan.

Bersama Isak yang siap mengakui anak di perut Sunja sebagai anak sendiri, Sunja memulai kehidupan yang sama sekali berbeda. Di Osaka, Jepang, orang-orang Korea ditempatkan di wilayah terkumuh, sulit memiliki properti strategis, dikondisikan bekerja lebih rendah dari orang Jepang, dicap malas dan kriminal. Diskriminasi di negeri penjajah tidak terelakkan, tapi tanah air yang ditinggalkan pun dalam kondisi krisis. Myung Oak Kim dan San Jaffe (The New Korea, 2013), membabarkan bahwa orang Korea di Jepang terbagi dalam dua kelompok yang sama-sama terdesak, rakyat miskin yang memilih pindah untuk mencari pekerjaan dan yang terpaksa pindah untuk bekerja di tambang dan pabrik demi membantu Jepang pada masa Perang Dunia II.

Situasi politik yang kacau, desakan ekonomi, ketiadaan makanan, membuat orang-orang Korea bermigrasi ke Jepang di masa kolonial dan bertahan sampai generasi keempat atau kelima. Namun, mereka tetap saja dianggap asing atau disebut dengan istilah ambigu-menyakitkan, Zainichi (penduduk asing yang tinggal di Jepang). Hidup yang telah sedemikian berkompromi menjalani naturalisasi yang tidak mudah, tetap menempatkan orang-orang Korea sebagai pihak “lain” dan “luar”.

Min Jin Lee benar-benar memilih tokohnya di Pachinko sebagai representasi kekuatan dari kalangan bawah yang terpinggirkan. Para perempuan meski tidak terpelajar begitu tangguh menderita dan tetap bekerja untuk membesarkan anak-anak. Mereka memberesi urusan domestik berbekal cara hidup tradisional yang kuat dan ulet. Secara psikologis, para perempuan Korea lebih memiliki tameng untuk bertahan menjalani hidup.

Memutus

Noa, anak lelaki pertama Sunja, menjadi generasi yang sadar bahwa modernitas, kebebasan individu, kesetaraan, dan kebebasan tanpa diskriminasi harus diraih dengan intelektualitas. Namun dalam perjalanan akademis yang membuatnya bertemu aneka manusia dengan beragam cara pikir, ia justru semakin mengalami kehampaan identitas. Puncaknya ketika Noa marah kepada kekasih Jepang tak rasisnya, Akiko. Noa marah justru karena sikap Akiko yang terlalu santai dan abai pada identitas “kekoreaan” Noa seolah hal itu sangat eksotis dan menantang. Diceritakan,“… sebab Akiko tidak akan pernah percaya dia tak ada bedanya dengan orangtuanya, bahwa melihat Noa hanya sebagai orang Korea—baik atau buruk—sama saja dengan hanya melihatnya sebagai orang Korea yang buruk. Akiko tidak bisa melihat sisi manusiawi Noa, dan Noa menyadari inilah yang paling diinginkannya: dilihat sebagai manusia” (hal.361-362).

Di babak inilah, semakin memuncak kerapuhan jiwa seorang Noa yang semasa kecil begitu berbakti, berjuang untuk diakui bermartabat, ingin setara dengan Jepang, dan berambisi masuk kuliah untuk membanggakan keluarga serta hidup terhormat. Ditambah terkuak bahwa ayah kandung Noa seorang gengster atau yakuza, kehampaan semakin menjadi-jadi. Noa memutuskan hubungan dengan keluarga, meninggalkan kuliah, bekerja di arena pachinko, dan menikah. Semua ini berhasil dijalani dengan pertaruhan dilematis, menyembunyikan serapat-rapatnya identitasnya sebagai orang Korea. Bunuh diri akhirnya dipilih Noa untuk memutus seputus-putusnya dunia yang selalu meragukan identitasnya.

Mozasu, adik Noa-anak Sunja dan Isak, sebaliknya sejak kecil begitu membenci sekolah dan belajar. Ia lebih berkompromi dengan situasi diskriminatif dengan cara berkelahi atau melawan. Mozasu memilih bekerja di pachinko dengan keteladanan yang gemilang meski lagi-lagi, pekerjaan ini jelas dicap buruk bahkan oleh Noa. Yang dilakukan tetap berupaya hidup dengan keras, “Negara ini tidak akan berubah. Orang Korea seperti aku tidak bisa pergi. Kami mau ke mana? Tapi orang Korea di kampung juga tak berubah. Di Seoul, orang seperti aku dijuluki bajingan Jepang, dan di Jepang, aku hanya orang Korea kotor berapa pun yang kudapat atau sebaik apa pun aku. Lalu kenapa? Semua orang yang kembali ke Utara mati kelaparan atau ketakutan setengah mati” (hal. 440). Mozasu sadar bahwa uang dan kesuksesan tidak bisa mengubah identitas sebagai orang Korea. Pun tidak mampu mengubah cara pandang orang Jepang atas orang Korea.

Noa ataupun Mozasu yang mewakili dilema orang Korea sejak awal abad ke-20, mewakili dilema identitas hari ini. Batas geografis negara memang ada, tapi tidak menampik setiap orang menjadi bagian dari dunia. Sedang kekerasan, stigma, atau prasangka atas nama identitas di mana pun masih begitu lekat terjadi. Hal ini mengingatkan pada penuturan biografis jurnalis cum sastrawan Amin Maalouf (2004) saat disodori pernyataan apakah merasa “lebih Prancis” atau “lebih Lebanon”? Pertanyaan ini tidak sekadar memosisikan di antara dua negara, tapi juga bahasa dan tradisi budaya pembentuk identitasnya. Dalam pertalian fundamental yang bersifat etnis, religius, nasional, rasial ini, akhirnya setiap orang dipaksa menonjolkan identitas tunggal. Ramuan lain misalnya selera makanan, minat berbahasa, cita rasa kesenian tidak dihitung sebagai “pengalaman yang subur dan memperkaya bila si anak muda tersebut merasa bebas untuk menghidupinya sepenuhnya, bisa ia didorong untuk menerima segenap keberagamannya.”

Dan Korea yang merengkuh abad gemilangnya hari ini lewat teknologi dan budaya pop, terutama atas Jepang, belum akan selesai menanyakan identitas lewat Pachinko. Permainan pachinko memang tidak terelakkan dari kesan kotor dan citra sosial yang rendah serta tidak terhormat. Min Jin Lee menggunakannya untuk menandai gejolak-gejolak memaknai identitas. Ada pilihan untuk terus berekonsiliasi atau bersekutu dengan kematian. Bagi Mozasu, hidup memang seperti permainan pachinko, “yang pemainnya bisa mengatur tombol tapi juga mengantisipasi ketidakpastian dari faktor yang tak bisa dikendalikannya […] sesuatu yang tampak sudah pasti tapi tetap menyisakan ruang untuk ketidakteraturan dan harapan.”


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]

Cerpen

Kupu-Kupu di Atas Ranjang

Cerpen Priyo Handoko

Kamu membangunkan aku dengan sentuhan sayapmu saat pagi mulai terasa hangat-hangat kuku. Tak jelas bagaimana kamu bisa masuk ke rumahku. Tubuhku sampai membeku. Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kamu memintaku dengan sedikit memaksa agar mau menjahit sayap sebelah kananmu yang robek dan mulai melayu.

Sayap yang sungguh aneh. Sudah sering aku membaca cerita atau melihat gambar peri-peri mungil bersayap yang tinggal di hutan. Cuma seingatku tak ada yang bentuk sayapnya seperti sayapmu. Bentuknya bulat sempurna dengan bulu-bulu biru serupa mahkota bunga di kedua ujungnya. Satu lagi, kamu tidak mungil. Telingamu pun tidak runcing memanjang ke atas. Penampilan fisik kita tak terlalu jauh berbeda. Hanya, aku laki-laki dan kamu perempuan.

Kulihat ada cairan kental yang merembes keluar dari robekan sayapmu. Mungkin itu darah. Warnanya putih. Aku jadi teringat cerita tentang Yudistira. Seorang ksatria Pandawa yang tingkat keikhlasannya tiada tara.[1] Dewa pun menganugerahinya darah berwarna putih. Darah yang tak membawa perih ketika kulit tubuh terluka. Sungguh ingin kubertanya, apa kamu seperti Yudistira? Tapi, aku tak berani menanyakan itu kepadamu.

Kepalamu mulai bergerak sesaat setelah aku selesai menjahit robekan sayapmu dengan benang berwarna hitam. Bibirmu bergetar. Pasti menahan perih yang teramat sangat. “Maaf, aku tak punya obat bius untuk meredam rasa sakitmu. Untungnya, katamu, benang apapun bisa kupakai untuk menjahit lukamu. Kalau saja kamu mau ke rumah sakit.”

Tiba-tiba aku melihat kembali getaran itu. Getaran tubuh yang menyiratkan rasa sakit. Tanpa sadar mataku ikut bergetar. Benar-benar menahan perih yang teramat sangat. Sudah tiga puluh delapan jam, aku sama sekali tidak sempat tidur. Dan, tadi belum genap satu jam aku menikmati ketidaksadaran yang sangat menyenangkan itu.

Suaramu terdengar lirih ketika mengucapkan terima kasih. Suaramu bertambah lembut ketika meminta maaf setelah tahu kehadiranmu mengganggu tidurku. “Tak apa, jawabku, “Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Aku sebenarnya sangat ingin mendengar semuanya, tapi ceritanya nanti saja. Kamu aman di sini. Aku mau tidur lagi.”

“Jangan tidur dulu. Temani aku,” katamu, sambil memandangku dengan mata berkaca-kaca. Dongkol karena kepala yang kian menebal dan pusing, spontan aku menjawab dengan nada suara tinggi. “Pokoknya aku mau tidur di kamar sebelah. Aku sudah tidak tahan.”

“Tolong jangan tidur dulu,” kembali bisikmu. Kamu mulai menangis. Emosiku tambah tak keruan. Sebelum aku beranjak, dengan cepat kamu meraih tanganku dan menggenggamnya.

“Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendirian di kamar ini. Silakan rebah di sebelahku atau di mana pun yang kamu mau. Tapi, tolong jangan tidur. Aku mohon, jadilah teman bicaraku. Jaga aku agar tidak terlelap selama darah masih merembes dari celah luka ini. Sebab, itu akan membunuhku.”

Kali ini aku tak kuasa menolak permintaanmu, walau kedua mataku sebenarnya juga sudah tak kuasa untuk terus dipaksa terjaga. Aku bingung, tapi kuhampiri juga kamu. Kemudian duduk di ranjang tepat di sebelahmu. Sesaat aku merenungi nasibmu kini, mungkin juga nasibku beberapa puluh jam yang lalu.

Aku meringis. Ternyata ada persamaannya. Kita sama-sama sempat menjadi takut dengan tidur. Kamu tak boleh tidur selama sayap itu belum sembuh. Entah apa sebabnya. Karena jika tertidur, itu berarti kematianmu. Sementara aku, selama tiga puluh delapan jam yang lalu juga tak boleh tertidur. Ada setumpuk laporan yang harus aku selesaikan, karena sudah masuk deadline. Jika sampai tak selesai, aku akan dipecat dari kantor dan karier yang telah aku rintis selama sepuluh tahun akan hancur. Bagiku itu juga kematian.

Kamu tersenyum mendengar ceritaku. Aku juga sudah mulai merasa agak nyaman dengan kehadiranmu. Entah dari mana mulanya, namun seperti terhipnotis, lapis demi lapis sinopsis kehidupanku mengalir membanjiri udara kamar ini. Sementara kamu, hanya diam mendengarkan dengan penuh perhatian.

Tak lama, aku sampai kepada cerita tentang istriku yang kini sedang menempuh S2 di Belanda. Terakhir dia pulang ke rumah ini sekitar enam bulan lalu, sekalian mengumpulkan data-data penelitian untuk keperluan tesis yang sedang dia kerjakan. Tak lupa aku juga bercerita tentang Soka dan Modya yang sejak kemarin sore bersama neneknya pergi ke Batam untuk mengisi waktu liburan mereka.

Modya berusia sepuluh tahun, sedangkan adiknya Soka enam tahun. Benang yang kupakai menjahit luka itu milik si sulung yang biasa dia pakai untuk bermain layang-layang. Praktis di rumah ini, kini aku sendirian. Mbok Rah, pembantuku, kebetulan sedang pulang kampung. “Lantas luka di sayapmu itu karena kecelakaan?” tanyaku sambil kembali memeriksanya.

“Bukan kecelakaan, tapi serangan.”

“Astaga! Diserang siapa? Pelakunya sudah ditangkap? Mereka tidak mengikuti jejakmu ke rumah ini kan?” tanyaku penuh khawatir. Aku tidak mau sampai terlibat dalam masalah yang tidak aku pahami.

“Justru mereka sama sekali tidak merasa sebagai penjahat. Bagi mereka, apa yang dilakukan adalah perjuangan yang direstui Tuhan.”

“Aku tidak mengerti.”

“Ini memang teramat sulit untuk dimengerti.”

Ceritamu berlanjut. Pagi tadi, kamu sedang menikmati cappuccino di kafe hotel terbesar di utara kota ini. Tak ada firasat buruk sebelumnya. Tiba-tiba terdengar ledakan keras beserta guncangan dahsyat. Asap menumpuk melahirkan cendawan besar. Semua orang jatuh rebah ke tanah. Kaca-kaca gedung pecah. Segalanya menjadi berantakan lalu hening. Dua detik, tiga detik, dan pada detik selanjutnya mulai terdengar riuh jerit dan tangis kesakitan.

“Sekelilingku banyak korban, termasuk aku. Tentu saja, aku harus langsung pergi. Tidak boleh ada orang yang menyadari kehadiranku. Termasuk, kamera fotografer atau televisi. Tapi, karena sayapku robek, aku tidak bisa pergi jauh.”

Aku hanya diam mendengar ceritamu. Mencoba untuk memahaminya. Aku menatapmu. Kamu ternyata sudah menatapku terlebih dahulu. Aku menunduk. Tak kuasa melihat matamu yang mendadak menjelma gerhana matahari. Sesaat kurasa gelap. Mataku tak bisa menangkap cahaya.

Akhirnya, kubiarkan jemari tanganmu menggapai jemari tanganku. Membimbingnya pelan ke pipimu setelah sempat melewati belahan dada dan celah bibirmu yang berembun. Jemariku dan sekujur tubuhku bergetar. Pelan-pelan, kucium keningmu yang putih bersih dan dingin bagai bengkoang.

“Aku ngantuk. Sangat mengantuk,” kataku.

“Aku juga. Cepat cium aku. Buat aku terus terjaga,” sahutmu dengan panik.

Puluhan menit pun meluncur dengan cepat dan tahu-tahu hening. Hanya desah napas kacau yang terdengar sesekali. Di luar langit sudah sangat terang. Aku merasa telah melakukan pengkhianatan besar.

Nada panggil ponselku tiba-tiba berbunyi. Aku agak kaget dan merasa bersalah setelah tahu itu panggilan dari istriku. Aku ambil ponselku yang kuletakkan di atas meja dan kembali duduk di bibir ranjang.

“Halo, Sayang. Ada apa?”

“Syukurlah, kamu ternyata masih di rumah. Aku benar-benar khawatir.”

Kudengar suara tangisan pelan. Dingin segera merambat cepat ke sekujur tubuhku. Hatiku serasa diiris-iris. Aku cemas sesuatu telah terjadi padanya di sana.

“Memangnya kenapa?”

“Kamu belum lihat berita TV?”

Aku terbatuk beberapa kali sebelum menjawab. Tenggorokanku mendadak serasa diserang kemarau. “Belum, seharian ini aku di rumah. Tidur. Sebenarnya siang ini aku berencana pergi ke kantor untuk menyerahkan laporan yang sudah selesai kukerjakan. Tapi, aku masih terlalu lelah.”

“Kamu harus bersyukur sayang. Ibu dan anak-anak barusan menelepon dari Batam. Kata mereka, ada bom berkekuatan besar barusan meledak di halaman depan gedung kantormu. Mereka lihat di TV. Semuanya berantakan dan banyak jatuh korban. Ini adalah bom kedua yang meledak di kota kita sejak tadi pagi. Yang pertama, di kafe hotel tempat kita menginap menyambut pergantian tahun. Untung kamu tidak ada di sana.”

Aku tertegun mendengar apa yang disampaikan istriku. Dalam sehari ada dua bom yang meledak. Salah satunya, di halaman gedung perkantoranku, tower berlantai 50. Jika tadi aku sudah berangkat ke kantor, mungkin saja aku ikut terdata di daftar nama korban. Tengkukku merinding. Berarti, peri bersayap yang sekarang bersamaku adalah korban dari ledakan bom yang pertama. Aku melirik ke kasur. Tidak ada siapa-siapa. Mungkin dia sedang ke kamar mandi.

“Ibu dan anak-anak sangat khawatir dan sudah mencoba menghubungimu. Mungkin karena sedang tidur, kamu tidak dapat mendengar nada panggil di ponselmu. Kamu harus segera menelpon mereka setelah ini.”

“Iya, mereka pasti akan segera aku telepon.”

“Aku kangen kamu. Tadi aku bermimpi. Kita berhubungan. Begitu agresif, polos, dan meledak. Rasanya seperti malam pertama kita dulu. Anehnya kita melakukan itu di atas tubuh seekor kupu-kupu raksasa yang terbaring menutupi ranjang.”

Isi dadaku kembali berdetak tak karuan. Benar kata orang, kalau naluri perempuan memang sangat sensitif. Mereka tidak bisa dibohongi. Mereka selalu tahu, tetapi sering berlagak tidak tahu untuk menjaga perasaan kita, para laki-laki. “Kamu jangan aneh-aneh. Bersabarlah. Minggu depan kamu harus pulang ke tanah air. Kamu tidak lupa dengan hari ulang tahun Soka, kan?”

“Aku pasti pulang untuk Soka, Modya, ibu, dan tentunya kamu. Aku sudah kangen dengan harum tubuhmu. Tesisku juga sudah selesai dan sekarang sedang dipelajari lagi oleh dosenku. Tapi, aku tak mau di ranjang kita ada kupu-kupu raksasa.”

Istriku tertawa. Aku juga ikut tertawa. Aku tahu dia cuma bercanda. Aku maklum dia bermimpi. Tapi, aku sama sekali tidak sedang bermimpi. Benarkah? Untungnya, pembicaraan berakhir. Ponsel kututup. Aku segera menoleh ke belakang, tapi kamu tetap tidak ada. Yang kutemukan hanya beberapa helai bulu lembut berwarna biru yang menempel di bantal, guling, selimut, dan sprei lusuh. Pelan kuberbisik, terima kasih atas segalanya buat kamu yang namanya pun tak sempat aku tanyakan. Mudah-mudahan kamu cepat sembuh. Sekarang semuanya harus segera aku bersihkan, karena istriku akan pulang. ***


Priyo Handoko, mantan jurnalis (2006-2018), kini menjadi komisioner KPU Provinsi Kepulauan Riau, kampung halamannya. Karyanya tersebar di pelbagai media.


[1] Dikutip dari buku Jiwo J#ncuk karya Sujiwo Tejo.