Puisi

Puisi Ilham Wahyudi

Duka Lara

Sekiranya ia datang berkunjung

Segera palingkan wajah ke Magribi

Merah suram gelap lakunya itu

Tak elok memaksa kau layuh

Meski boleh jadi limpahan airnya

Obat percuma bagi luluh lantak rimba raya

Ia hakikatnya pandai menjadi petunjuk

Hadiah yang menawan guna perjalanan

Walakin tetap saja kau harus awas

Bilamana muncul serentak berduyun-duyun

Mengurung kau yang lengah rayuan Lilith

Agar semua yang telah pecah-robek

Tak sempat kau jahit lurus kembali

Akasia 11CT


Tirai

Tirai yang terbengkil-bengkil susah payah kau singkap itu senyata luas terpampang di hadapanku. Meskipun belum sepenuhnya terang kumasuki. Akan tetapi hitam putih yang terhampar di sana halus-halus mekar dalam liat merahku. Tentu saja merah yang bebal-teruk dan bukan main litak pada suluk pencariannya. Bagiku, menjadi salik (serupa kau) patut mengajuk jalan yang kau pajang melintang lepang. Karena itu janganlah cemeeh yang kau tonjolkan, sehingga esok kiranya tumbuh menjulang tiada antara kita yang perlu bertukar belas kasihan.

Akasia 11CT


Hijau

Terberkatilah ibumu telur mata sapi pagi; dan ayahmu luas langit tengah hari. Sampai bentala semata indah oleh halus-tebal budi pekerti; indra kami segar-bugar memandangi.

Dari rambutmu yang mahir menyaru, tahukah kau kami belajar mendirikan rencana (kami simpan yang patut dan kami bagi yang layak dibagi). Agar kelak apa yang belum kami maklumi, mudah percuma kami siasati.

Akan tetapi, (oh daging tak tahu diri) terlampau loba kami mencuri perangaimu tinggi agung tak berperi; namun senyata tak putus terus memberi. Sehingga semua rencana tentang akal budi, sekejap tunggang langgang angkat kaki.  

Maka baris-berbaris kami ingin menakluki; semua yang telah sempurna kau masuki. Seraya diam-diam, kami tebas pula urat leher anak-cucumu yang kokoh berdiri (menahan laju limpahan bah).

Sungguh, betapa hijau kini tubuh kami sekadar mahfum cintamu tak kunjung habis menepi. Oleh karena itu, kutuk saja kami segera! Sebelum hijau budi pekerti tandas merasai jatuh ke bumi.

Akasia 11CT  


Kuning

Belerang, bambu, gersing, India, jagung, janur, jenar, kenari, kepodang, limau, loyang, madu, malam, pepaya, pandang semua senang semata mengenakan mantel mahardikamu. Kau acap pula kupergoki berbaring di antara roti sarapan pagi; kadang dalam piring warteg makan siang kami, pun begitu juga kau terampil mahir menyelinap ke Terang Bulan kami yang legit menggigit (lihat, betapa pelit kami berbagi, sedangkan kau tekun rajin memberi).

O, betapa papa kami, sampai-sampai alpa bila namamu pernah pula duduk mesra bersanding dengan moyang bangsa Huaxia yang maju sejahtera. Begitu pula sungai yang jenjang dari pegunungan Tibet tak kuasa menerima kau sebagai nama. Kekallah; abadilah meski riwayatmu tak selalu terbaca mata. Kaukah cahaya yang menjelma terang siang, atau sebatas ilusi pantulan, belaka? 

Akasia 11CT


Merah

Umpama jantung jelita tertawan gelisah

susah payah menanggung derita rindu,

seperti gaun terang wong cilik di pemerintah

tak cukup buas menjaga amanat rakyat

ibarat selimut orok dalam kantung darah

licinlah; lancarlah jalan melewati liang,

serupa tandik lombok Jawa di lidah

amboi; keringat dingin jua nan mengalir,

(tapi bukan jerawat; bukan pula kecup puan,

walau mekar meriah kala tuan hadir bertandang) –

percayalah itu semata laksana,

misal belaka perihal jubah yang terang menyala,

memelompat bersembunyi dalam kata pun bahasa,

supaya terhalau duga sangka ke tepi jurang

tikai selisih yang tak berguna.

Akasia 11CT


Biru

kemari, datanglah segera laut

biar kucelupkan jari-jari pagi

ke alas tubuhmu yang semrawut

kesini, lekas cepatlah langit

agar kugenapkan putih sepi

menjadi corak terang menggigit

tapi, baik-baiklah memantul

supaya lapang-lempang jisimmu

mudah percuma nubuat menukilkan

selendang rambutmu molek di bait puisi

Akasia 11CT


Putih

Jika hatimu semerah apel di kebun Tuan sukacita. Maka putih hatiku laksana awan selepas hujan sore di gubuk duka lara. Kata orang, hati yang merah tampak memesona. Sehingga segenap yang kering pucat betapa kukuh-ingin tampil menyentak. Namun bila kekasih adalah tujuan, maka yang putih akan selalu rela berkorban. Serupa laron terbang menuju pijar terang; biarlah mati asal wajahnya terang terlihat.

Akasia 11CT


Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan seorang Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Puisi-puisinya ada yang ditolak redaksi ada yang dimuat redaksi. Buku kumpulan puisinya “Pertanyaan yang Menyelinap” akan segera terbit.

Cerpen

Rahasia Mimpi Kastawa

Cerpen Y Agusta Akhir

Saat masih sama-sama bocah ingusan, kami sering mengoloknya dan memanggilnya si Pembual. Itu karena ia sering bercerita tentang hal-hal aneh dan tak masuk akal. Misalnya ia bercerita kalau di rumahnya dijaga tiga makhluk berkepala ular atau kali lain ia mengaku bertemu dengan tuyul dan bicara dengannya. Di hari lain ia mengaku melihat peri terbang di udara mirip layang-layang. Tentu kami percaya tentang adanya hantu atau jin atau setan. Makhluk tak kasat mata. Tetapi kami tak percaya Kastawa memiliki indera keenam.

Sekitar dua bulan lalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya dan ia mengatakan kalau sedang merasa gelisah. Aku bertanya mengapa, dan ia bercerita perihal mimpinya dan kematian-kematian karenanya. Aku memperhatikan wajahnya sepanjang ia bercerita, dan aku tak menemukan jejak bualan di sana. Ia bicara sangat yakin, polos dan aku tak mungkin menganggapnya sebagai sesuatu yang dibuat-buat. Wajah kanak-kanaknya saat menceritakan seputar makhluk astral melintas di benak, dan memang tak seperti orang yang sedang berbohong.

“Ini rahasia,” katanya, “aku belum pernah bercerita kepada siapa pun. Aku takut orang-orang akan salah paham dan berakibat buruk padaku!”

“Tapi kenapa kau menceritakannya kepadaku?” aku iseng bertanya.

“Karena kau bisa menjaga rahasia. Aku percaya padamu. Dan aku tak mungkin memendamnya sendiri. Kau tahu, aku merasa bersalah. Mimpi begitu, menyiksaku alih-alih aku menikmatinya!”

Sebenarnya kurang tepat kalau aku dikatakan bisa memendam rahasia. Yang benar adalah aku orang yang lebih banyak diam, dan selebihnya aku hanya tak memercayainya. Lalu, untuk apa aku mengatakan kepada orang-orang kalau Kastawa, melalui mimpinya, bisa mengetahui akan ada yang meninggal di kampung ini?  

Aku mencoba memahaminya. Tetapi sejujurnya aku merasa apa yang diceritakannya adalah sesuatu yang konyol. Aku tidak menyangka kalau ia masih suka bercerita hal-hal yang tak masuk akal. Sudah mendekati kepala empat. Rupanya itulah watak yang tak bisa berubah.

“Aku ingin hal itu tak lagi terjadi padaku. Kalau memang aku harus mimpi, jangan ada yang mati!”

Aku mengangguk-anggukan kepala, supaya ia menyangka aku mengerti dan merespon apa yang dikatakannya. 

“Barangkali itu suatu kebetulan,” kataku, yang sebenarnya tidak begitu sungguh-sungguh mengucapkannya.

“Tadinya aku juga berpikir begitu. Tetapi setelah berkali-kali aku mengalami mimpi basah, esok atau lusanya ada yang mati. Selalu begitu. Rasanya tak mungkin kalau kebetulan belaka!”

Ia, kemudian dengan serius menyebutkan beberapa tetangga yang meninggal dan itu semua ditandai dengan mimpinya itu. Ia bilang tak tahu pasti siapa yang bakal dijemput maut. Hanya saja, sesaat setelah mimpi basah, ia seperti melihat ada gumpalan asap melayang-layang di udara, lalu masuk ke dalam rumah. Salah satu penghuni rumah itulah nanti yang akan meninggal.

“Tetapi aku tak bisa menebak, siapa dia!”

Aku berpikir, seandainya itu benar, ngeri juga mimpinya itu. Tetapi aku lebih suka menganggapnya sudah gila.

“Gan, kalau nanti aku mimpi basah, aku akan kabarkan kepadamu. Dan kau akan tahu, bakal ada yang meninggal!”

Aku tidak mengiyakannya. Aku hanya tersenyum dan menatap kedua matanya. Sepertinya ia tidak gila.  

Kastawa sempat bertanya kabar adik perempuanku, yang pernah ditaksirnya, ketika kami masih di masa-masa sekolah dulu. Aku jawab baik-baik saja, dan mencandai dia dengan bertanya apakah masih naksir adkikku, tetapi Kastawa hanya tertawa.

Sebelum berpisah, mendadak wajahnya tampak serius dan berkata, “Gan, kuharap kau berhenti. Carilah pekerjaan baik-baik!”

Ucapannya membuatku tersentak. Aku tahu maksudnya. Kupikir mungkin ada teman yang memberitahunya perihal ‘pekerjaanku’ selama ini. Apalagi, aku pernah tertangkap dan dipenjara. Barangkali pula ia sudah mendengarnya. Aku memang seorang pengedar, namun aku sudah memutuskan ingin berhenti. Untuk itulah aku pulang dan tak akan kembali ke ibu kota. Di sana, rasanya tak mungkin bisa kembali ke jalan yang benar. Aku sudah bertekad akan kerja baik-baik. Aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Keluar dari lingkaran setan. Tak ingin lagi berhubungan dengan barang haram itu. Capek jadi buronan polisi.

“Tentu saja, kawan!” sambil tersenyum aku mengucapkan itu, lalu kami berpisah.

***

Sejak pertemuan itu, di hari-hari selanjutnya kami masih bertemu lagi beberapa kali dan ia tak menyinggung perihal mimpinya yang ia sebut sebagai penanda kematian itu. Dan selama itu pula memang tak ada yang meninggal. Tetapi dua hari lalu ia datang ke rumah hanya untuk mengatakan kalau dirinya sudah mimpi basah.

“Besok atau lusa, pasti ada yang meninggal!” katanya sangat yakin.

Sampai detik itu aku masih belum bisa memercayainya. Tetapi ketika esok harinya ada yang meninggal, aku mulai ragu. Ia kembali datang untuk menegaskan kebenarannya. Aku katakan padanya kalau butuh dua atau tiga kali bukti, sehingga aku bisa percaya tentang mimpinya yang bisa menandai adanya kematian itu. Setidaknya aku tak akan lagi berpikir itu suatu kebetulan belaka. Aku juga menambahkan, tepatnya menawarkan padanya untuk bertaruh.

Tetapi ia menolaknya.

“Sebenarnya, kalau kamu tak percaya padaku, tak apa. Aku sendiri ingin lepas dari semua ini. Seperti yang kukatakan, aku justru tersiksa!”

“Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang berjanji!” kataku, tak peduli dengan omongannya barusan.

“Terserah kau saja,” katanya.

Aku berjanji, kalau memang setelah ia mimpi basah dan kemudian ada yang meninggal esok pagi atau lusanya, maka pertama, aku akan memercayai bahwa memang mimpinya jadi penanda bakal ada yang meninggal. Kedua, aku akan membujuk adikku agar menerima cintanya.

“Itu kalau kamu masih naksir adikku. Semua kawan kita sudah menikah. Kenapa kamu masih membujang saja?”

Barangkali gagasan itu, walaupun aku tak sungguh-sungguh, dan sama tak masuk akalnya dengan mimpinya. Tetapi ia tak menanggapi. Hanya tersenyum. Senyum yang tak bisa kutebak apa artinya.

“Akan kuberitahu lagi kalau nanti aku bermimpi!”.

Tiga bulan berlalu, dan aku tak mendengar ada kematian di sini, seolah kematian benar-benar ditentukan oleh mimpi Kastawa. Padahal, ada beberapa tetangga yang sudah uzur dan sebagian tampak sakit-sakitan. Ada pula yang sudah bertahun-tahun hanya terbaring di ambin. Kupikir karena memang takdirnya mereka masih diberi kesempatan untuk hidup. 

Sial, aku jadi memikirkan apa yang dikatakannya. Tentang kebenaran mimpi senggama dan adanya kematian setelahnya. Bagaimana kalau ternyata apa yang dikatakannya itu benar? Bagaimana kalau selama ini, Kastawa memang benar-benar bisa melihat hantu atau alam ghaib? Ah, seandainya dia memang bisa melihat alam ghaib, memang apa masalahnya? Mungkin malah ia bisa menolongku, misalnya aku harus bagaimana atau melakukan apa supaya bisa memperbaiki nasib.

***

Akhirnya, pada suatu sore ia datang menemuiku. Agaknya ia tampak tidak sedang baik-baik saja. Wajahnya seperti tak memiliki cahaya. Mungkin sedang sakit atau sedang bersedih hati. Aku bertanya apakah sedang ada masalah, tetapi ia bilang tidak ada. Aku juga bertanya apakah ia sedang sakit dan ia menjawab sehat-sehat saja. Lalu ia hanya berkata pendek dan pelan.

“Semalam aku mimpi basah!”

Aku kaget mendengarnya. Aku tidak tahu mengapa kaget. Padahal, menurutku aku tak perlu bereaksi seperti itu. Toh, aku belum sepenuhnya memercayai soal mimpinya yang berhubungan dengan kematian itu. Lagi pula, aku juga sudah tahu kalau ia datang akan mengabarkan bahwa dirinya sudah mimpi basah.

“Siapa yang bakal dijemput ajal?” aku setengah berkelakar.

“Aku tidak tahu. Tapi pasti akan ada yang mati. Besok atau lusa!” ia berkata dengan suara sangat pelan, mirip orang sedang sakit sariawan atau radang tenggorokan.

Hanya begitu saja. Ia lalu pamit pergi. Aku tidak bertanya ia hendak kemana. Mungkin pulang.

Sekarang, aku tinggal menunggu saja, apakah benar akan ada yang mati besok atau lusa, sebagaimana yang tadi dikatakannya. Aku berharap akulah yang benar. Tak ada kematian di kampung ini entah besok atau lusa. Kuharap tak ada yang berduka, setidaknya dalam waktu dekat ini.

Dan esoknya memang tak ada berita duka di kampung ini. Tak ada pengumuman yang disampaikan lewat corong masjid perihal ada yang meninggal. Tak ada pula bendera penanda ada lelayu. Aku cukup senang. Aku masih berharap besok juga demikian.

Sampai pada hari berikutnya, sesaat sebelum matahari terbit, aku melihat Kastawa kembali ke rumahku. Wajahnya masih seperti yang kemarin. Pucat. Mirip orang sakit atau sedang bersedih. Ibuku, dengan wajah yang masih bersaput duka menyambutnya.   

Kastawa memeluk ibu. Keduanya berurai air mata. Keduanya tampak akrab, padahal mereka sesekali saja bertemu. Dan ketika saling melepas pelukan dan bersitatap, mereka kembali bercakap, dan samar aku mendengar ibu berkata.

“Apakah Gandi ada hutang padamu, Nak?”

Kastawa diam sejenak. Ia tampak ragu, tetapi kemudian menjawab, “Hanya sebuah janji. Tetapi tak perlu ibu tanggapi serius!”

Kastawa lalu kembali memeluk ibu. Dan aku mendengar apa yang dibisikkan Kastawa kepada ibu. Rupanya Kastawa bilang kalau aku berjanji membujuk adikku agar menyukai Kastawa. Aku melihat ibu tersenyum samar, mengangguk pelan. Kemudian berpaling pada adikku yang sedang bersimpuh, dan menangis di dekat jasadku. Lalu aku mendengar orang bercakap-cakap, “Kejadiannya dini hari tadi. Ada yang mengejarnya. Barangkali intel. Lalu menembaknya!”***


Y Agusta Akhir menulis puisi, cerpen, dan novel. Beberapa karya pernah dimuat di media baik lokal maupun nasional. Novel pertamanya, Requiem Musim Gugur (Grasindo, 2013). Novel Kita Tak Pernah Tahu ke manakah Burung-burung Itu Terbang terpilih sebagai pemenang ketiga sayembara Novel yang diadakan Penerbit UNSA Press tahun 2017. Novel Seperti Lidah Api Menjilati Bulan di Langit (Lakheisa, 2022) mendapat penghargaan dari Balai Bahasa Jawa Tengah tahun 2022.

Puisi

Puis M.Z. Billal

PAGI

Aku berbisik kepada arthur rimbaud ketika

melihat keluarga kecil – tetanggaku – bertengkar lagi

pukul setengah tujuh pagi di beranda. gadis kembar mereka yang baru

belajar berjalan masih sebagai saksi. takut, sendu, dan tidak tahu.

pasangan itu saling menuding; ingin bercerai tepat ketika

angin menggugurkan daun angsana dan mengecup

kuntum-kuntum marigold yang hendak mekar.

mereka baru berhenti saling memaki dan ambil langkah menjauh

ketika aku pura-pura tidak melihat peperangan itu.

terakhir si wanita meneriaki suaminya: aku tidak butuh cintamu lagi!

“cinta adalah kebiasaan, arthur. dan kebiasaan itu tampaknya sudah berakhir di sana.”

2023


JELANG TENGAH HARI; 10.40

Dari jendela lantai 3 perpustakaan ini, aku melihatnya

lagi. jalan sudirman selalu sejuk dipandang. pepohonan seperti

raksasa penjaga. dan langkah kakinya mengirimkan getaran

lembut sampai ke dalam dadaku. empat jam perjalanan sampai ke sini.

aku memasuki semusim di neraka. lalu ia duduk, tersenyum dan membacakan

sepotong puisi asing tiba-tiba di hadapanku.

You  who have suffered, find where love hides.

Give. Share. Lose. Lest we all die unbloomed.

aku tahu ia mencuri Ginsberg. langsung tertawa cekikikan, seperti biasa.

“otakmu adalah perpustakaan. aku penasaran buku apa yang belum selesai kau baca?”

aku tak bisa mengatakannya; bahwa kau adalah buku favoritku yang belum tuntas.

kau halaman-halaman yang tidak bisa kutinggal begitu saja. aku ingin

sukarela terperangkap di dalam ceritamu, selagi ada waktu.

dan saat kau beranjak mengambil buku di rak, aku berbisik lagi

kepada arthur rimbaud.

“cinta adalah deretan buku di rak perpustakaan umum, arthur. dan di sini dua penulis sedang kasmaran.”

2023


MATAHARI PERLAHAN CONDONG KE BARAT

Aku berbisik lagi kepada arthur rimbaud. kali ini sangat serius.

tiga hal penting telah terjadi di sini. dalam waktu berurutan.

pertama, aku melihat bocah pemulung memberikan sebungkus nasi

kepada sepasang manula difabel yang saling setia; si wanita

bisu dan tuli sementara si pria hanya memiliki kaki kiri.

itu terjadi tepat di depan sebuah resto yang menjual makanan asing

lalu seorang pelayan bertampang sinis menyuruh mereka pergi.

kedua, aku melihat jalan kota berubah jadi buntu.

ratusan mahasiswa berarak seperti semut marah

menuju gedung pemerintah daerah sambil berteriak.

api yang membakar ban adalah amuk bisu yang melahap

segalanya. lalu kudengar salah seorang anak muda membaca

sebuah puisi milik Zawawi dengan lantang,

Dubur ayam yang mengeluarkan telur,

lebih mulia dari mulut intelektual yang menjanjikan telur.

ketiga, aku melihat warga pinggiran kota sedang mengamuk

pada sepasang muda mudi  usai tertangkap basah

bercinta di dalam semak dekat rumah ibadah. mereka

tak berkutik. nafsunya tak tersulut lagi seperti sebelumnya.

dan seorang dari mereka berkata keras sambil meludah:

kalau saling cinta jangan membakar diri di sini!

aku paham maksudnya

“cinta mengajarkan kebajikan dan rasa malu, arthur. ia kuat sekali menanggung segala jenis rasa sakit.”

2023


THE BEATLES, WAKTU PETANG

kudengar ia bersenandung; don’t need to be alone

no need to be alone. it’s real love, it’s real… yes, it’s real love, it’s real…

tapi tidak menatapku. lampu-lampu di sepanjang jalan

senja mencumbu matanya yang sipit. aku suka terbenam

di sana. kota ini akan jadi suvenir. tapi ketahuilah, arthur.

ini tidak baik. ini benar-benar tidak baik.

aku akan mengatakan untuk terakhir kali padanya.

“aku sudah sampai pada bagian akhir puisi. ia adalah bagian akhir puisi.”

barangkali kota ini akan gelap. hatiku akan gelap. jiwanya akan gelap.

2023


TOMBOL OFF – DI JALAN PULANG

aku berbisik lagi;

“cinta tidak konservatif, arthur. hidupku yang terikat adat. etnis ini mengalir di tubuhku.”

lalu kutekan tombol off di tubuh arthur rimbaud; alat perekam suaraku yang puitis dan setia.

mungkin tak akan pernah kunyalakan lagi.

2023


M.Z. Billal, lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital serta sejumlah antologi nasional.

Cerpen

Di Sebuah Kafe Tempat Aku Menemukan Kekasihku

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

Dingin menyusup masuk melewati pori-pori kulitku, jauh ke dalam hingga ke tulang-tulang. Bukan dingin seperti apa yang kurasa saat kubuka jendela pada suatu pagi di musim dingin di Interlaken. Bukan, bukan seperti itu. Dingin itu mencekam. Dingin yang hanya kurasakan saat kuinjakkan kaki di kafe itu. Sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku.

***

Kekasihku bukanlah jenis perempuan yang membuat laki-laki jatuh cinta pada pandangan pertama. Bukan pula seseorang yang pada umumnya ingin ditunggu di ujung altar pernikahan. Namun, menurutku, saat dia menyesap vodka-nya, lalu mengisap rokok dalam-dalam, kemudian membuang pandangan jauh ke Danau Thun, dia begitu menarik.

Pemandangan itu kudapati saat pertama berkunjung ke sebuah kafe bernuansa kastil yang muram. Kehadirannya membuat hari-hari di musim dingin itu lebih cerah. Dia akan datang ke kafe itu pada sore hari mengenakan mantel hitam dan duduk di tempat yang sama seolah-olah meja di sudut ruangan itu memang hanya untuknya. Pandangan kosongnya membuat dia terlihat putus asa.

Kami adalah dua orang putus asa yang akhirnya saling mengisi.

Dia pernah mengatakan ingin mengakhiri hidupnya.

“Mungkin sebaiknya aku mati di ujung sebuah pisau,” katanya pada suatu malam saat kami berbaring sambil memandangi api yang menjilat kayu perapian di rumahku.

Dia bilang dia mengasah sebuah pisau setiap saat, sama halnya dengan waktu yang mengasah lukanya. Kian hari kian menyakitkan. Sebuah luka entah apa. Dia tidak mengatakannya kepadaku.

Sementara aku kembali ke Interlaken setelah perpisahan yang menyakitkan dengan seorang perempuan baik-baik. Perempuan yang tidak menyesap vodka dan tidak merokok. Dia hanya berselingkuh.

Sejak perpisahan itu, aku pikir, hubungan dengan perempuan hanyalah kesia-siaan. Namun, godaan untuk melakukannya kembali baru muncul ketika melihat kekasihku di kafe.

***

Pada musim semi, saat air tenang Danau Thun yang kehijauan memantulkan sinar matahari dan bunga-bunga di tepiannya tumbuh dengan indah, aku menghadiahinya sebuah gaun berwarna merah muda. Aku pikir dia harus lebih bersemangat.

Aku bosan melihatnya mengenakan pakaian hitam dan bermuram hati. Ya, aku berhasil membuatnya lebih banyak tersenyum. Maka demi membuat kekasihku tersenyum, aku menambah hadiah. Gaun merah muda terasa kurang.

Dari satu gaun ke gaun lain. Hingga kemudian memberinya perhiasan terdengar lebih memuaskan. Tidak hanya aku, tentu dia juga. Aku bisa melihat binar matanya. Semangat hidup yang kembali menyala dan membuatnya melupakan mati di ujung pisau.

Dari satu perhiasan ke perhiasan lain meningkat menjadi ingin memberikannya apa saja agar lebih sering tersenyum. Seolah-olah semangat hidupku datang dari senyumnya. Aku kembali tergila-gila kepada seorang perempuan.

Sayangnya, entah mulai kapan aku merasa dia menjadi lebih haus. Sialnya, dia menjadi sangat haus dan aku menjadi sangat lelah.

Musim semi berganti musim panas. Musim panas berganti musim gugur. Dan, pada suatu hari saat tanaman anggur menguning, jalan-jalan dipenuhi daun berguguran, kami terserang rasa bosan. Dia mulai merengek untuk sesuatu yang tidak jelas. Aku tidak tahu apakah itu terlalu cepat.

Makin hari dia makin haus dan aku merasa bahwa lubang dalam dirinya yang perlu kuisi hanyalah keinginannya terhadap hadiah-hadiah yang kupersembahkan. Kami tidak lagi hangat satu sama lain.

***

Kekasihku masih menyesap vodka dan mengisap rokoknya dalam-dalam. Namun, kali ini, bagiku dia tidak semenarik musim dingin yang lalu. Aku berpikir itu sangat jahat, perasaanku sangat jahat hingga suatu hari dia membanting pintu rumahku dengan sekuat tenaga, sekuat rasa bosannya. Setelah hari itu, dia tidak lagi datang ke kafe atau ke rumahku. Aku melihatnya di tempat lain bersama pria yang lain.

Perempuan yang menyesap vodka atau tidak, sama saja. Mereka mengkhianatiku, mengkhianati uang yang sudah kuhabiskan, mengkhianati waktu yang sudah kuberikan, dan tentu saja mengkhianati perasaan yang kupikir itu cinta.

Musim dingin kali ini terasa lebih dingin meski salju tidak setebal biasanya. Aku baru merasa hangat saat membayangkan wajahnya yang mencebik dingin. Wajah dingin yang pura-pura tidak mengenaliku saat kami berpapasan.

“Bukankah dia kekasihmu, Tom? Mengapa dia tidak menyapamu? Lalu, bukankah pria yang bersamanya itu tidak terlihat seperti seorang kerabat?”

Seorang kawan yang bersama denganku berpapasan dengannya pun merasa janggal. Terlalu janggal hingga aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan kawanku itu.

Rasa bosan yang bersarang di jiwaku pun rupanya mulai menjelma benci. Maka kuputuskan untuk memenuhi salah satu keinginannya untuk terakhir kali.

***

Aku meminta dia datang ke kafe itu sekali lagi. Kuiming-imingi dia dengan mengatakan akan kupenuhi sebuah permohonannya sejak lama. Dasar rakus, dia tidak menolak. Aku bahkan mendengar desahan menggoda di ujung kalimatnya sebelum menutup telepon.

Darahku mendidih melihatnya datang menghampiri tanpa rasa bersalah. Hal itu membuat suhu tubuhku memanas. Kukatakan bahwa aku ingin dia memohon terlebih dahulu. Sekali lagi, dia tidak menolak. Maka kukeluarkan pisau, yang telah kuasah semalam, dari sebuah kantong berbahan kulit rusa .

Akhirnya kulihat lagi bagaimana dia memohon. Memohon-mohon sebelum kukabulkan satu hal yang pernah menjadi keinginannya. Kuselesaikan tugasku dengan cepat. Bahkan tidak kuberi dia kesempatan sedetik pun untuk menyesali rintihan permohonannya yang memuakkan.

Pertemuan itu adalah yang terakhir. Setelah itu aku tidak lagi menginjakkan kaki di sana. Di sebuah kafe tempat aku menemukan kekasihku. Diam, dingin, dan membeku.***


Aprilia Nurmala Dewi, ibu dua putra spesial sekaligus abdi negara yang senang menulis. Lahir di Ujung Pandang dan berdomisili di Sinjai.