
Cerpen Ken Hanggara
Dua hari setelah kematian X, seseorang bernama Y pergi ke kota kelahirannya dan memikirkan kematiannya sendiri. Jika dia lahir di kota itu, dia harusnya mati di kota yang sama. Ada ikatan bagi Y yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Sulit dijelaskan, tapi bisa dibayangkan seperti biji pepaya dengan daging buahnya, atau seperti jeruk dengan pusarnya.
“Sedekat itulah saya,” begitu kata Y ke gadis penjual kebab yang ditemuinya sekeluar dari pintu stasiun. Gadis penjual kebab hanya memandangi sambil lalu karena harus melayani pembeli lain.
Hari itu udara begitu dingin. Setiap orang mendamba kehangatan bukan hanya pada permukaan kulit tubuh dan wajah, melainkan juga lambung dan, barangkali, jiwa.
Y berlalu sebelum potongan terakhir kebab yang dibelinya habis. Dia menikmati kunyahan terakhir sambil melangkah melewati barisan toko di tepi jalan.
Orang-orang begitu sibuk. Andai saat ini hari penting seperti perayaan dalam skala nasional atau ada peristiwa dahsyat yang memiliki daya tarik dalam radius ribuan mil, Y barangkali tidak akan bisa membeli kebab dan mungkin juga tidak sempat bercerita soal kaitan masa lalu dan masa depan yang serupa jeruk dengan pusarnya.
Y berhenti di depan toko elektronik, memandangi rak lusinan TV yang dinyalakan dengan tayangan berita hari itu. Y memikirkan perenggutan paksa bisa merusak ikatan masa lalu dan masa depan dengan mudah.
Biji pepaya akan dengan gampang digelontorkan ke selokan, sementara daging pepaya bisa dimakan dan masuk ke lambung di tubuh seseorang, yang bepergian ke sana kemari, dan boleh jadi tidak akan pernah kembali ke area di mana selokan tempat biji pepaya tersebut digelontorkan. Lagi pula, tak ada yang menjamin apa sesuatu yang terbuang sia-sia di selokan tetap berada di titik yang sama; orang hanya peduli jika cincin atau benda berharganya jatuh dan mulai memikirkan hal semacam ini.
Y membayangkan, kalau dia mau, bisa saja kaitan antara masa lalu dan masa depan baginya terputus begitu saja, tanpa harus membuatnya hilang ingatan. Maksudnya, masa lalu bisa digelontorkan begitu saja ke selokan dan dia akan baik-baik saja dengan segala peristiwa di masa depan. Masa lalu akan tertinggal di sana atau hanyut entah ke mana; biar itu menjadi urusan selokan dan Tuhan. Biar Tuhan mengaturnya sebagaimana yang seharusnya terjadi. Biar juga Tuhan membisiki walikota di mana dulu dia dilahirkan, yang menjabat hari ini, untuk bekerja dengan cara-cara yang entah seperti apa, sehingga fungsi dari selokan itu menyuguhkan pelbagai kemungkinan bagi masa lalunya yang ada di sana; terbuang dengan sengaja karena memang Y menginginkannya begitu.
“Andai bisa begitu,” gumam Y selagi menatap barisan manusia di gedung parlemen yang saling melempar kursi demi uang, di tayangan berita. Tentu saja demi uang. Omong kosong kalau ada yang bilang politik untuk rakyat. Barangkali betul, jika sudut pandangnya diletakkan di pojok paling tersembunyi dan kotor dan penuh penyakit di kota kecil ini, dan bukan diletakkan di batok kepala seorang akademisi, misalnya, yang menjelma politisi dengan segala tujuan dan misi yang tak benar-benar mulia.
Y melanjutkan langkah sambil membayangkan, andai hatinya bisa sekebas politisi, yang mampu berkata lain dengan apa-apa yang dikerjakan, tanpa terbebani moralnya. Y jelas tak akan bisa tidur andai dia terjebak dalam situasi seperti potongan berita tadi; dia tidak mampu membohongi diri dan selalu dihantui. Demikianlah cara kerja dari ikatan yang menyatukan masa lalu dan masa depan. Ikatan yang justru dirawat oleh Y karena dia tak ingin melepaskan itu. Dia bisa, bukannya tidak bisa. Dia bisa, tetapi enggan.
Y dan X begitu lekat. Mungkin mereka adalah wujud dari masa lalu dan masa depan itu sendiri.
Y tidak mengerti bagaimana X bisa begitu lekat hingga saat kematian tersebut dia sadari. Tidak ada yang perlu Y lakukan selain pergi ke masa lalu, ke kota kelahirannya, dan mencari segala tentang X di sana, sosok yang tak dia kenal di masa-masa ketika masalah hidup hanya sebatas PR matematika yang tak pernah dia gemari atau ledekan beberapa teman sekolah karena dia tidak memiliki sepatu bagus.
Jejak-jejak lama X, barangkali, dapat menjadi obat bagi Y.
Dia menolak saat orang-orang berkata, “Dialah cinta sejatimu.”
Mereka berkelakar atas hal itu, tapi Y menolak dan sekaligus sakit hati. Y tak mau melukai Z yang menjadi istri X sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu.
X, Y, Z, adalah sebuah takdir yang lucu, dan Y kerap tertawa akan perkara ini, lalu membayangkan Tuhan juga tertawa, para malaikat, setan-setan, para arwah di kuburan, keluarga besarnya, bahkan ayah-ibunya yang menyayangi, juga tertawa. Seluruh tawa tergabung sempurna, membuat kuping Y kebas atas segala suara. Lagi pula, dia tak benar-benar bermain api bersama X.
Y hanya membayangkan takdir nama mereka membuatnya terjebak di antara kedua manusia yang sudah saling memiliki sebelum dirinya hadir.
“Andai saya Z, apa segala yang saya jalani akan berbeda, Tuhan?” Y pernah membatin.
Tapi, biji pepaya yang digelontorkan ke selokan akan memiliki pelbagai kemungkinan nasib yang tidak bisa ditebak. Bahkan, andai dia membayangkan kisah ini tak ubahnya jeruk dan pusarnya, maka pusar yang menghilang usai juring demi juring jeruk dirobek oleh tangan pemangsa jeruk, juga memiliki nasib yang misteri; pusar itu memang di suatu tempat yang tidak terlihat atau bisa disebut hilang karena tak ada jejak, tetapi tidak ada seorang pun yang tahu di mana pusar itu berakhir dan jelas tak akan ada yang tahu.
Jika Y adalah Z, tidak lantas X menjadi suaminya. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) justru menikah dan itu terjadi setelah (barangkali) X dan Z (yang andai dirinya) bertemu lebih dulu. Bisa saja X dan Y (yang bukan dirinya) menikah sebelum Z (yang andai dirinya) hadir di antara mereka. Bisa jadi X dan Y (yang bukan dirinya) tak akan pernah menikah karena tak saling mencintai, tetapi Z (yang andai dirinya) ternyata juga tak ada kesempatan diperistri oleh X karena beragam faktor.
Y benar-benar pusing memikirkan itu.
Kemarin lusa, X mati di apartemennya. Tak ada yang tahu–sejauh yang Y tahu.
Y pergi begitu saja, batal mengajak X berbicara soal permainan yang mungkin akan seru jika mereka lakukan kali itu, karena saat itu Z tidak sedang di kota tersebut. Z menghadiri acara penting sebagai tamu undangan. Y merasa rendah begitu menatap X yang pucat dan tidak lagi bernyawa.
Y tidak perlu menelepon siapa-siapa, karena dia hanya akan malu. Yang perlu dia lakukan adalah merawat cinta tanpa dihantui rasa malu, dengan menggali masa lalu X. Dia akan tetap begitu, entah sampai kapan. Mungkin sampai kiamat datang dan seisi dunia hancur bersamaan dengan hancurnya seluruh jejak dan ikatan yang ada tentang mereka.***
Gempol, 2019-2023
Ken Hanggara lahir di Sidoarjo, 21 Juni. Menulis cerpen, novel, esai, puisi, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-hara (2018), dan Buku Panduan Mati (2022). Segera terbit kumpulan cerita terbarunya dengan judul Pengetahuan Baru Umat Manusia.
