Cerpen

Ngaji Bareng Simbah

Cerpen Septi Rusdiyana

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tiga lewat lima puluh menit. Aku sudah duduk di sofa ruang tamu kos ini sejak sepuluh menit yang lalu. Sekaleng minuman soda dingin di tanganku, bahkan sudah hampir habis, tapi mobil yang akan membawaku dan teman-teman ke Gunung Kidul belum juga sampai. Berkali-kali aku menarik napas panjang karena bosan. Hingga tanpa sengaja pandanganku jatuh pada kalender yang tergantung di dinding. Sebentar lagi hari natal. Hari yang mulai aku benci sejak tepat di tanggal yang sama, tiga tahun lalu, telah merenggut papah dari hidupku.

Tin tin

Suara klakson mengagetkanku. Aku bangkit, lalu menyeret koper di sampingku untuk segera menyusul masuk ke mobil.

***

“Mari-mari.” Mbah Diro, pria renta berusia delapan puluh satu tahun itu memersilakanku dan Indah untuk masuk ke rumah. Bangunan sederhana berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah ini akan menjadi tempat tinggal kami selama dua minggu ke depan. Kami akan mengambil data dan melakukan survey lapangan untuk keperluan skripsi di desa Karangduwet yang terletak di kecamatan Paliyan, kabupaten Gunung Kidul.

Mbah Nik, istri Mbah Diro sedang menata minuman di meja. Kami menyalami keduanya sebelum akhirnya duduk. “Namanya siapa?” tanya Mbah Nik kepadaku.

“Nadia, Mbah.”

Mbah Nik mencondongkan kepala dan memasang wajah seolah tidak mengerti.

Mbah Diro lalu memperkenalkan kami dengan suara lantang. “Ini Mbak Nadia, kalau yang itu namanya Mbak Indah,” ucapnya sambil menunjuk kami bergantian. Mbah Nik terlihat mengangguk.

“Maaf, istri saya ini pendengarannya sudah jelek. Jadi kalau ngomong memang harus keras,” jelas Mba Diro. “Silakan diminum dulu. Setelah ini akan saya tunjukkan kamar kalian supaya Mbak berdua bisa istirahat.”

“Terima kasih, Mbah,” balasku dan Indah hampir berbarengan.

Mbah Diro memperlihatkan letak kamar mandi dan dapur sebelum mengantar kami ke ruang tidur. Luas kamar kami sekitar dua kali tiga meter. Ada satu dipan beralaskan tikar dilengkapi dua bantal kapuk dan dua lembar jarik yang masih terlipat rapi. Terdapat satu buah meja dan kursi kayu di sudut ruangan. Tidak ada lemari, jadi aku dan Indah tetap menyimpan pakaian di dalam koper.

Indah terlihat memainkan ponsel untuk mencari arah kiblat. “Dipan ini kita pindah menghadap ke sana ya, Nad? Sudah pukul sepuluh dan aku belum sempat salat Isya.” Aku hanya mengangguk lalu membantu memosisikan dipan sesuai arahannya. Tidak lama ia keluar kamar dan masuk lagi sudah dengan wajah, tangan serta kaki yang basah. Ia mengambil tas kecil dari dalam koper lalu naik ke dipan. Ia memakai mukena, menggelar sajadah dan melaksanakan salat.

Aku meletakkan tas di meja, kemudian duduk sambil memainkan ponsel untuk menunggu Indah menyelesaikan ibadahnya. Ada pesan dari Mas Indra, kakakku. “Natal tahun ini pulang ya, Nad. Mamah kangen kamu.”

Aku tidak membalas pesannya.

***

Mbah Diro sedang jongkok meniup bambu ke arah tungku sambil memainkan kayu bakar di bawahnya. Asap mengepul cukup banyak. Tidak lama api pun menyala. Ia mengangkat ceret yang hampir keseluruhannya berwarna hitam ke tungku.

“Loh, sudah bangun to? Mbak Indah juga sudah bangun?” tanya Mbah Diro padaku.

“Iya, Mbah. Indah masih mengaji di kamar,” jawabku singkat.

“Sebentar, airnya belum matang. Saya buatkan teh untuk sarapan.”

“Terima kasih, Mbah. Biar saya bantu.”

“Tidak perlu. Lebih baik Mbak Nadia siap-siap saja. Bukannya pagi ini harus ke balai desa. Nanti saya antar.”

“Baik, Mbah.” Aku mencari-cari keberadaan istrinya. “Ngomong-ngomong, Mbah Nik ke mana, Mbah?” tanyaku.

“Subuh tadi dijemput Warjo, anak saya, ke Playen. Istrinya baru saja melahirkan. Cucuku sudah tiga sekarang. Laki-laki semua.”

Aku manggut-manggut. “Wah selamat ya, Mbah. Gara-gara kami Simbah jadi tidak bisa ikut menengok cucu.”

Mbah Diro menggeleng. “Tidak apa-apa, yang penting semua sehat. Sudah sana, nanti terlambat,” perintahnya kemudian.

Aku berjalan meninggalkan dapur. Sambil menuju ke kamar, aku memperhatikan sekeliling. Rumah ini ada dua kamar, satu kamar digunakan Mbah Diro dan istrinya, satu lagi yang aku dan Indah tempati. Bagian ruang tamu ada empat bangku dan satu meja panjang berbentuk kotak, bersebelahan dengan bufet di mana ada sebuah radio berukuran kecil di situ. Tepat di sampingnya ada lemari kecil dengan pintu kaca. Aku bisa melihat dua buah keris dan satu mata tombak tersimpan di dalamnya. Semua perabot terbuat dari kayu. Pada dinding bambu yang menjadi sekat kamar Mbah Diro, tertempel poster presiden Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono ke Sembilan berukuran cukup besar. Tidak ada jam dinding maupun televisi di ruangan ini. Kamar mandi berada di luar rumah.

Ponselku berdering. Aku melihat nama Mas Indra pada layar.

“Ya, Mas,” jawabku malas.

“Semalam aku mengirimkan pesan tapi tidak terbalas, kamu sudah tidur ya?” tanya Mas Indra di seberang.

“Iya, Mas. Semalam aku lelah sekali.”

“Oke. Natal besok kamu pulang kan?”

Hening.

“Nad, cepat mandi!” teriak Indah begitu masuk. Aku yakin Mas Indra pasti bisa mendengar juga suaranya.

“Sudah dulu ya, Mas. Aku harus segera bersiap.” Aku mengakhiri telepon tanpa menunggu persetujuan.

Indah terlihat masih mengenakan handuk di kepalanya, namun pakaian yang dikenakan sudah rapi. Kuturuti Indah tanpa protes, langsung melesat mengambil handuk di kamar.

***

Hari ini hari Minggu. Sejak Sabtu sore Indah pamit untuk pulang dulu ke Yogya dan akan kembali lagi nanti malam. Aku memutuskan untuk tetap tinggal di sini sampai kegiatan kami selesai. Sekamar dengan Indah membuatku mulai terbiasa bangun subuh. Udara pagi ternyata menyegarkan.

Mbah Diro sedang memanen pisang di halaman rumah. Aku bermaksud ingin membantu tapi ditolak. Takut kotor katanya. Jadi aku berinisiatif membuat teh manis hangat untuk kami.

“Mbak Nadia mau saya antar ke gereja?” tanya Mbah Diro tiba-tiba setelah melirik ke arah liontin berbentuk salib yang menggantung di leherku.

Aku terkejut mendengarnya. Entah sudah berapa lama aku tidak pernah lagi ke gereja sejak papah meninggal. Cukup lama aku tidak menjawab.

“Ada gereja di dekat pasar, kebetulan saya mau menjual pisang, jadi bisa sekalian. Setelah tehnya habis, Mbak Nadia siap-siap ya,” kata Mbah Diro seolah memerintah. Aku hanya menjawab dengan anggukan.

***

“Mbak Nadia kenapa? Kok sejak tadi terlihat murung. Apa sedang tidak enak badan?” tanya Mbah Diro. Kami berjalan beriringan kembali ke rumah. Sinar matahari sudah cukup menyengat, tapi tersamar karena banyak pohon rindang di sepanjang jalan.

“Tidak apa-apa,” jawabku singkat. Aku melihat Mbah Diro menenteng kresek putih berisi beras. “Sini saya bantu bawakan, Mbah.” Tanpa menunggu jawaban aku langsung mengambil alih bungkusan itu.

Cukup lama kami terdiam. Kemudian aku bertanya untuk memecah keheningan, “Apakah Simbah pernah sedih?”

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Tidak?” tanyaku menirukannya.

“Mbak Nadia lagi sedih?” Mbah Diro balik bertanya.

“Tidak, Mbah. Cuma sedang kangen papah.”

“Memangnya papahnya Mbak Nadia ke mana?”

“Sudah meninggal tiga tahun yang lalu.”

Mbah Diro terlihat sedang berpikir sejenak. “Dulu Simbok pernah menasihati saat Bapak meninggal.”

Aku menengok ke arahnya, tertarik dengan apa yang akan disampaikan.

“Jangan sampai kesedihan dan tangisanmu mempersulit bapakmu di alam kubur,” ucap Mbah Diro menirukan kalimat ibunya. “Waktu itu saya masih kecil, belum begitu mengerti, jadi patuh saja dengan apa yang simbok bilang. Sekarang baru tahu kalau rezeki, jodoh dan maut itu sudah ketetapan. Mau dihindari seperti apa kalau sudah rezeki ya harus diterima. Pun sebaliknya, mau dikejar seperti apa kalau bukan haknya juga tidak akan pernah sampai. Hidup itu tujuannya cuma satu, yaitu menjalani apa yang sudah ditetapkan Gusti Allah,” lanjutnya kemudian.

“Berarti Simbah selalu bahagia?” tanyaku lagi.

Mbah Diro mengangguk tersenyum. Sadar melihatku seperti masih tidak puas, ia menjelaskan lagi. “Saya itu orang bodoh. Membaca saja tidak bisa. Belajar salat dan mengaji tidak pandai-pandai. Jadi kalau pas bulan Ramadhan, ya ikut puasa. Saatnya tarawih, ya berangkat tarawih. Makanya saya itu kalau sudah waktunya azan langsung ke masjid, karena kalau salat sendiri tidak bisa.”

Aku tersenyum mendengar jawaban polosnya.

“Apalagi Mbak Nadia kan orang pintar, seharusnya bisa lebih bahagia.”

Deg. Jantungku serasa berhenti mendadak. Ada perasaan aneh dalam hatiku.

***

Tanpa terasa, dua minggu sudah hampir terlewati. Hari ini tugasku selesai lebih cepat. Indah masih harus bertemu dengan beberapa petani, jadi aku meninggalkannya pulang lebih dulu. sesampainya di rumah, aku melihat Mbah Diro menggendong tiga buah nangka muda berukuran sedang hasil panennya hari ini.

“Simbah mau ke pasar? Saya ikut ya?” tanyaku.

“Kok sudah pulang?”

“Iya, tugasku sudah selesai, Mbah.”

Mbah Diro tersenyum mengizinkan.

Ternyata kali ini bukan ke pasar biasanya. Kami harus naik angkot satu kali untuk menuju pasar Playen. Begitu sampai, aku melihat Mbah Diro menyerahkan satu lembar uang lima ribuan dan satu lembar lagi uang seribuan. “Dua orang ya,” ucapnya kepada kernet. Aku bermaksud mengganti uang tersebut namun ditolaknya. Kami lalu masuk ke pasar.

Tanpa mencari-cari, simbah langsung berjalan menuju lapak penjual gudeg yang berada di pojok. Setelah bernegosiasi, akhirnya Mbah Diro mengucap syukur saat menerima uang sebesar dua puluh ribu rupiah di tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Sampai akhirnya sebelum kami naik angkot untuk kembali pulang, Warjo yang kebetulan sedang berada di pasar, memanggil simbah dan menyerahkan dua bungkusan besar yang tidak lama kemudian aku tahu isinya ayam, telur dan juga sayuran.

“Alhamdulillah, akhirnya kita bisa makan enak sebelum Mbak Nadia dan Mbak Indah pulang,” ucap Mbah Diro. Seketika hatiku rasanya diremas-remas. Aku berusaha menahan tangis agar tidak pecah. Begitu angkot berhenti di depan pasar yang biasanya kami kunjungi, aku meminta izin pada simbah untuk turun terlebih dahulu. Secepat kilat aku berlari masuk ke gereja. Menuju bangku paling depan, lalu berdoa.

“Tuhan, aku meralat apa yang kukatakan dalam doaku kemarin. Aku tidak protes lagi mengapa papah meninggal. Karena aku tahu, papah sekarang sudah di surga bersama-Mu. Aku juga tidak akan meminta-Mu mengambil nyawaku pada malam natal nanti untuk menyusul papah.” Tangisku akhirnya pecah. Beban dan rasa sakit yang selama ini ada di dadaku seperti berdesakan ingin keluar berbarengan dengan derasnya air mataku. Usai mengakhiri doa, aku mengambil ponsel dan membalas pesan Mas Indra.”***


Septi Rusdiyana Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala

5 thoughts on “Ngaji Bareng Simbah”

  1. Cerita yang menyentuh perasaan…seketika teringat alm Bapak, karena nama panggilan anak mbah Diro sama dengan nama panggilan Bapak…ditunggu lanjutan cerita pendek nya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *