Dunia Menulis

Tetap Menulis Meski Dunia Menyepelekan

Beberapa hari belakangan, udara dunia sastra terasa sedikit pengap. Bukan karena debu-debu puisi beterbangan atau cerpen-cerpen usang bertebaran di rak toko buku yang diskon permanen, melainkan karena satu pernyataan lama yang kembali diungkit: Sastrawan tak bisa menggantungkan hidup dari sastra.

Kalimat itu bukan baru, bukan langka. Ia seperti remah-remah kecap asin di ujung warung makan sederhana, selalu ada, selalu kembali, dan selalu bikin kita merenung sambil menahan sendawa.

Pertanyaannya kemudian, masih maukah kita menulis? Pertanyaan ini sebetulnya tidak minta jawaban. Ia hanya minta didengarkan. Sama seperti nasihat ibu yang berkata, “Kalau jadi penulis, jangan lupa makan,” atau tetangga yang bilang, “Bukumu bagus, tapi kayaknya lebih cocok kalau kamu kerja di bank.” Dunia tidak pernah benar-benar peduli kita menulis apa. Dunia hanya ingin tahu: bisa hidup dari situ, enggak?

Dan ya, jujur saja: sulit. Menjadi penulis, apalagi yang memilih jalan sunyi di dunia sastra seringkali mirip dengan memilih jadi biksu, tapi tanpa biara, tanpa donatur, dan tanpa jubah yang membuat orang segan menyela. Kadang kita hanya punya kopi, buku usang, dan tumpukan utang yang lebih teratur dari struktur cerpen kita.

Tapi mari kita bahas ini dengan kepala dingin dan hati yang sedang tak terlalu lapar. Menulis itu indah, tapi PLN tetap butuh dibayar. Penerbit mungkin suka naskah kita, tapi belum tentu bisa kasih royalti lebih dari harga semangkuk bakso. Sekali-dua kali cetak ulang belum tentu berarti rekening jadi tambun. Yang tambun justru kepala, mikirin biaya hidup sambil cari inspirasi untuk nulis cerpen dengan ending mengejutkan.

Namun di sinilah letak ironi paling cantik dalam dunia menulis, kadang kita rela bekerja apa saja agar bisa terus menulis. Bukan sebaliknya. Kita tidak menulis agar tak perlu bekerja, tapi bekerja agar bisa terus menulis.

Ada teman yang jadi penjaga perpustakaan, bukan karena dia cinta katalog buku, tapi karena itu pekerjaan paling sunyi yang memberinya ruang untuk menulis puisi saat jam sepi. Ada yang kerja di pabrik, shift malam, lalu menyelipkan selembar kertas di sela kotak bekal. Ada yang jadi guru honorer, penghulu, penjaga toko, penyaji kopi, penjual cendol, tukang ojek, atau bahkan admin medsos akun ayam geprek, semuanya demi satu hal: agar dunia menulis tetap hidup di dalam dirinya.

Dan saat kita bilang “dunia menulis”, itu bukan sekadar duduk di depan laptop mengetik kalimat berbunga. Itu dunia tempat kita merasa waras. Dunia tempat kita bisa mengeluh tanpa dituduh lemah. Dunia tempat luka dibayar dengan kalimat, bukan kutukan. Dunia tempat kita, akhirnya, merasa pulang.

Jadi, apa yang kita cari? Apakah kita menulis karena ingin terkenal? Kalau iya, ya monggo, silakan ikut lomba, tampil di TV, selfie dengan buku. Itu pilihan. Apakah salah? Tidak juga. Kadang, yang kita cari memang pengakuan. Kadang, ingin diakui adalah bentuk paling jujur dari cinta.

Tapi untuk sebagian yang lain—dan ini banyak sekali—yang kita cari adalah perasaan selesai. Bukan selesai dalam arti tamat, tapi selesai dalam arti, ada yang tumpah, dan itu kita selamatkan di halaman.

Sebab dunia ini terlalu gaduh. Terlalu banyak hal tak masuk akal. Dan tulisan sering menjadi tempat kita menyusun ulang logika yang ambyar, membalut luka tanpa perlu dibalaskan, atau sekadar mengabadikan kejenakaan yang orang lain tak sempat tertawakan. Kita menulis karena tak ada cara lain yang lebih masuk akal untuk bertahan.

Lalu bagaimana ketika dunia menyuruh kita menginjak tanah? “Realistis dong. Cari kerja yang jelas. Menulis bisa sambilan aja.” Kalimat ini sudah seperti mantera nasional. Disampaikan dengan nada perhatian, tapi dalamnya menusuk diam-diam. Menjadi penulis kerap dianggap seperti bercita-cita jadi astronot di kampung nelayan. Antara mimpi dan nyinyir hanya dipisahkan oleh tanda seru.

Tapi mari kita jujur, berapa banyak dari kita yang tetap menulis meski dunia menyuruh berhenti? Yang tetap menyusun kalimat di sela cucian, menyusun puisi di sela kemacetan, menambal cerpen di sela ngasuh anak? Bukan karena sok kuat. Tapi karena ini cara kita menyapa hidup. Ini cara kita tetap bernapas di antara sempitnya ruang dan waktu.

Dan sungguh, kadang kita tidak butuh dunia mengerti. Kita hanya butuh satu dua pembaca yang tulus berkata, “Aku menangis baca tulisanmu.” Sudah cukup. Kadang satu pesan semacam itu lebih membangkitkan daripada uang transport dari acara diskusi sastra.

Ayo ketawa dulu biar tidak nangis. Kita boleh kok tertawa sebentar. Misalnya, betapa absurdnya menulis puisi lima halaman, dibayar dengan buku kenang-kenangan. Atau cerpen dimuat di media besar, tapi transferan honor datang setelah kita lupa pernah menulis cerpen itu. Saking lamanya, kita sampai ragu: ini honor cerpen yang mana, ya?

Atau ketika kita ikut lomba menulis demi hadiah 5 juta, bersaing dengan 1000 penulis, lalu kalah dengan naskah yang membuat kita bertanya-tanya, juri benar-benar membaca nggak, sih? Tapi anehnya, kita tetap ikut lagi. Tetap nulis lagi. Karena memang dasar kita ini tidak kapok. Bahkan ketika hidup bilang, “Sastra tak cukup buat makan,” kita balas dengan tulisan yang lebih panjang.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “Maukah kita menulis?” melainkan: “Sampai kapan kita sanggup tidak menulis?” Karena bagi sebagian dari kita, tidak menulis jauh lebih menyakitkan daripada tidak punya uang. Menulis bukan hanya tentang profesi, tapi tentang cara menjalani hidup. Ia seperti napas keempat, setelah oksigen, kopi, dan kasih sayang sepihak.

Kita bisa bekerja apa saja. Kita bisa tidak dikenal. Kita bisa hidup sederhana. Tapi kita tetap menulis. Kita tetap percaya bahwa satu kalimat bisa menyelamatkan orang dari putus asa. Bahwa satu cerita bisa membuat orang merasa tidak sendirian. Bahwa satu puisi bisa mengobati luka yang bahkan tidak tahu namanya.

Jadi, untukmu yang sempat ragu, yang merasa kalah oleh kenyataan, yang mulai lelah karena dunia tak ramah, ingatlah ini: kita menulis bukan karena dunia memanggil, tapi karena hati kita tak pernah bisa diam.

Menulislah. Meski banyak orang menyepelekan. Meski orang bilang sia-sia. Meski kau harus kerja rangkap tiga. Karena siapa tahu, suatu hari nanti, tulisanmu adalah alasan seseorang bertahan hidup. Dan itu, sangat berharga. [] Redaksi

Dunia Buku

Luka Kecil dari Halaman yang Terlupa

Ada rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Bukan rasa bersalah karena lupa ulang tahun pacar, bukan karena tak balas pesan ibu, bukan juga karena telat bayar utang ke teman. Tapi ini: rasa bersalah karena tidak menyelesaikan membaca buku. Iya, hanya itu, tapi rasanya seperti habis ninggalin orang yang sedang bercerita dengan mata berbinar, lalu kita berdiri dan bilang, “Maaf ya, aku mau beli cilok dulu.” Dan tidak pernah kembali.

Buku itu tetap diam di rak, di meja kerja, di dalam tas, atau di tab digital, dengan penanda halaman menggantung, seperti cinta tak sampai. Awalnya kita menyambutnya penuh gairah, memotret sampulnya, memuji kalimat-kalimat pembukanya, bahkan tak jarang mengutip sebaris kalimat dan mengunggahnya dengan caption puitis. Tapi setelah bab dua atau tiga, hidup kita mendadak penuh alasan. Sibuk, capek, banyak kerjaan, banyak pikiran, sinyal wifi lemah. Padahal waktu buat scroll TikTok dua jam sehari tetap tersedia. Dan lucunya, kita masih sempat nonton serial tiga musim habis dalam seminggu. Jadi mari jujur: bukan waktunya yang hilang, tapi niatnya yang lelah.

Lucunya lagi, kita sering lebih fasih bicara soal buku yang belum kita tuntaskan, daripada buku yang benar-benar kita pahami. Kita puja-puji isinya padahal baru baca prolog. Kita bahas gagasannya dengan percaya diri meski isi bukunya sendiri belum kita jamah lebih dari 30 halaman. Ironi paling lucu? Kita bahkan beli buku berikutnya, padahal yang sebelumnya masih terengah-engah. Ini bukan membaca, ini koleksi rasa bersalah.

Ada semacam kesepakatan diam-diam di antara para pembaca masa kini, bahwa membeli buku adalah tindakan intelektual, walau membacanya bisa ditunda seumur hidup. Buku pun tak lebih dari pajangan estetik di meja kopi atau rak kayu minimalis yang jadi latar belakang video call. Kita pamer barisan punggung buku, bukan isi kepala. Dan saat seseorang bertanya, “Bagus bukunya?” kita jawab, “Wah, banget!” tanpa bisa menyebut satu tokoh pun dari cerita itu. Luar biasa. Pujian palsu yang nyaris religius.

Tapi jangan kira rasa bersalah itu tak punya kuasa. Ia hadir diam-diam. Saat kita membuka rak buku dan tatapan sampul itu seolah memelas. Saat penanda halaman yang masih setengah perjalanan itu menuding seperti hakim kecil. Saat kita mencoba baca buku lain, dan yang belum selesai seakan bersuara, “Loh, aku belum kelar, kamu udah main sama yang lain?” Astaga, selingkuh literasi!

Namun, tidak semua ketidakselesaian adalah bentuk pengabaian. Ada buku-buku yang justru terlalu menyentuh, terlalu dalam, hingga kita tak sanggup menuntaskannya. Kita tahu akan ada luka di akhir cerita, dan kita belum siap. Kita menunda bab terakhir karena tak ingin berpisah. Rasanya seperti menahan pelukan, takut kalau selesai, tak ada lagi yang bisa digenggam. Pembaca yang seperti ini bukan pelupa, melainkan pencinta yang gentar. Dan itu juga bentuk kesetiaan yang unik, meski menyakitkan.

Buku, tentu saja, tidak pernah menuntut. Ia diam, tidak seperti manusia yang ngambek kalau ditinggal chat. Tapi justru karena diam itulah, kita sering merasa disindir. Diam buku adalah cermin. Kita malu melihatnya. Kita tahu betapa sering kita kalah oleh gawai, oleh notifikasi, oleh distraksi, oleh malas yang kita bungkus dengan dalih “butuh waktu yang tenang untuk membaca.” Padahal kita tahu, waktu tenang itu hanyalah mitos. Yang tenang itu bukan waktunya, tapi niatnya.

Namun, di tengah rasa bersalah itu, mari beri sedikit kelonggaran pada diri sendiri. Tidak menyelesaikan buku bukanlah kejahatan budaya. Dunia tidak akan runtuh, pustakawan tidak akan mencabut gelar kita sebagai pembaca, dan Dewan Sastra Internasional pun tidak akan membuang nama kita. Kadang memang ada buku yang tidak cocok, ada yang momennya tidak tepat, ada yang bahasanya terlalu jauh, ada yang hati kita belum sampai. Itu bukan kegagalan, hanya ketidaksesuaian yang wajar. Bahkan manusia pun banyak yang tidak cocok meski sudah pacaran lima tahun.

Jika boleh jujur, bukankah hidup kita juga penuh dengan hal-hal yang tidak selesai? Surat cinta yang tak pernah dikirim. Lagu yang hanya kita dengarkan separuh. Percakapan yang menggantung. Perasaan yang tidak diucapkan. Maka, buku yang tak selesai pun tak perlu dipaksa ditamatkan. Biarkan ia jadi bagian dari jejak. Bahkan yang tak rampung pun bisa mengajarkan banyak hal.

Namun kalau kau sempat, kalau hatimu tenang, dan semesta memberi sedikit ruang, kembalilah. Duduklah kembali. Buka halaman itu. Lanjutkan membaca. Tak usah merasa harus paham semuanya. Tak perlu merasa wajib mengulasnya. Cukup selesaikan, dengan perasaan yang sama seperti menepati janji kecil: kepada diri sendiri, kepada kata-kata yang pernah membuatmu berhenti sejenak dari riuh dunia.

Jika pada akhirnya buku itu tetap tak selesai dibaca, setidaknya kau sudah mencobanya. Kau sudah pernah membuka lembar pertamanya, menatapnya dengan niat baik, dan memulai satu langkah kecil. Percayalah, hal itu sudah lebih dari cukup.[] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Ssssttttt

Ada begitu banyak hal yang masih menjadi misteri. Bukan hanya di muka bumi yang katanya penuh dengan panggung sandiwara, tapi juga di dasar samudera paling dalam, sedalam pikiran kotor yang lupa sudah berapa lama belum dilaundry. Atau, jangan-jangan ada banyak artefak menggantung di langit-langit angkasa yang lupa ditemukan hingga gagal menjadi sejarah.

Sesungguhnya, bukan tentang misterinya, melainkan pesan-pesan yang bisa jadi sengaja disembunyikan. Apa kalian tahu—sebenarnya aku yakin kalian sudah tahu—jika orang yang paling pandai berkamuflase adalah penulis? Ada satu buku lawas, yang ketika kubaca ulang, aliran ceritanya bisa terus bercabang ke mana-mana seperti anak sungai. Penulisnya pandai bernarasi. Ia tidak menciptakan plot yang menghanyutkan, melainkan membawa pembaca untuk terus berpikir dan memutuskan sendiri ke mana arah cerita itu akan berakhir.

Sayangnya, banyak orang justru merasa dijebak. Terlalu banyak ruang kosong yang pada akhirnya membuat pembaca kecewa, lalu mengeluh, Aku membaca untuk menikmati, bukan mencari-cari jawaban seperti sedang ujian nasional.

Padahal, buku yang dianggap penuh lubang jebakan itu justru memiliki nyawa. Ibarat seorang kekasih yang tak banyak bicara, namun selalu mendengar dan memperhatikan. Mungkin ia tidak membuat perasaanmu melayang-layang saking romantisnya. Tapi ia tahu kapan waktu yang tepat untuk memelukmu.

Jadi hal ini bukan soal misteri, ruang kosong, atau jebakan, tapi soal keterbukaan dan keikhlasan untuk menerima. Membuka hati dan pikiran agar tidak terjebak dalam monolog. Karena buku, bukan hanya bercerita tentang kisah-kisah relate kehidupan sehari-hari yang membuatmu merasa ke-ge er-an. Apalagi sampai tidak bisa tidur karena berpikir jika penulisnya sengaja membuatkan cerita khusus untukmu saja.

Ketahuilah, penulis tetaplah seorang manusia. Kadang ia menitipkan trauma pada tokoh anak kecil yang benci asap rokok sejak kehilangan sosok ayah. Atau mengukir sebuah kehidupan rumah tangga paling sempurna dengan memunculkan tokoh istri yang diam-diam selalu menyisihkan lauk paling lezat demi menyambut suaminya. Atau, bisa jadi ingin sejenak menjadi jahat, dengan menciptakan tokoh pembunuh bayaran yang tak berperasaan dalam menghabisi targetnya. Ssssstttttt, ini hanya rahasia yang tidak benar-benar bisa menjadi sebuah rahasia. Bisa nyata begitu, bisa juga tidak benar-benar seperti itu.

Jadi, jika saat membaca sebuah buku, kamu merasa kosong, itu bukan berarti penulisnya buruk, atau kamu yang tidak lekas memahami maksud penulisnya. Melainkan, kamu hanya belum benar-benar mau terbuka untuk mengenal dan memahami cerita. Pada dasarnya, tidak ada cerita yang sia-sia. Sama halnya dengan buku dan segala misterinya. Pada akhirnya, kamu akan mengerti, jika dalam setiap narasi dan kisah, selalu menyimpan sesuatu dari penulisnya. Entah itu sebuah kebenaran yang dianggap fiksi, atau kebohongan yang terlanjur dipercaya. [] Redaksi

Dunia Menulis

Cinta

Ada satu hal yang selalu terasa aneh tapi nyata dalam dunia menulis, semakin banyak orang ingin jadi penulis, semakin sedikit yang siap hidup sebagai penulis. Lucunya, banyak yang ingin disebut penulis, tapi ogah benar-benar menulis. Lebih lucu lagi kalau ada yang berharap menulis itu bisa bikin rekening mendadak gendut. Wahai kalian yang berani bermimpi, izinkan saya mengajak kalian menginjak tanah, bukan untuk menghancurkan mimpi, tapi untuk membentangkan tikar kenyataan.

Pertama-tama, mari kita tegaskan dulu, mencari uang dari menulis cerita itu bukan dosa. Sungguh. Bahkan kalau kau niat menafkahi keluarga dari menulis, itu mulia. Tak ada yang salah dengan itu. Yang jadi soal adalah kalau satu-satunya alasan menulis hanya demi uang. Maka bersiaplah kecewa. Dunia ini sudah cukup penuh dengan kecewa dari cinta bertepuk sebelah tangan, jangan ditambah dengan cita-cita yang menggantung sendirian di langit.

Kalau kau mencintai dunia menulis, bahkan ketika tak ada uang yang datang, kau akan tetap menulis. Sebab, cinta sejati tidak menuntut upah. Ia memberi karena ingin memberi. Ia bertahan meski kadang diabaikan. Dan menulis, pada hakikatnya, adalah bentuk cinta yang semacam itu.

Sayangnya, dunia modern dengan algoritma dan angka views membuat banyak penulis terseret dalam lingkaran pengakuan. Kalau tulisanku tidak viral, berarti jelek. Kalau tidak dibayar, berarti tidak layak. Padahal, ada cerita-cerita indah yang ditulis dalam diam, di tengah malam, saat anak-anak sudah tidur, dan hanya dibaca oleh lima orang tapi menyentuh hati mereka sampai ke sumsum. Apakah itu tidak layak disebut karya? Hanya karena tidak viral?

Ironinya, banyak orang ingin jadi penulis karena kelihatan keren. Keren karena bisa manggung di festival sastra. Keren karena bisa pakai kata-kata absurd. Keren karena bisa menertawakan typo orang lain sambil sendiri lupa titik koma. Tapi ketika ditanya, “Apa yang sedang kau tulis sekarang?” mereka jawab, “Masih mencari inspirasi.” Inspirasi? Jangan-jangan yang dicari bukan inspirasi, tapi validasi.

Ini bukan cercaan, ini pengingat, kalau mau cari uang buat hidup, ya bekerjalah. Kerja apa saja yang halal. Jualan gorengan pun mulia, asal tidak menjual kata-kata palsu. Dunia menulis tidak pernah didesain sebagai pabrik cetak uang. Ia lebih mirip ladang sunyi, tempat kau menanam kata demi kata dengan harapan suatu hari akan tumbuh. Tapi tidak ada jaminan panennya langsung musim depan. Kadang butuh bertahun-tahun, kadang tidak pernah. Maka, jika sejak awal niatmu hanya untuk kenyang, lebih baik masak nasi goreng.

Ada kisah menggelitik tapi haru, seorang penulis kawakan diundang ke seminar kepenulisan. Salah satu peserta bertanya, “Bagaimana caranya agar tulisan saya cepat menghasilkan uang?” Dengan tenang, si penulis menjawab, “Tulislah proposal bisnis. Menulis cerpen butuh cinta, bukan tergesa.”

Jawaban itu menggelitik, tapi juga menampar halus. Sebab ya itu, banyak yang ingin jadi penulis, tapi tidak siap menanggung kenyataan bahwa bisa jadi, karyanya tidak akan pernah dibaca siapa pun selain dia sendiri.

Jangan lupa, menulis bukan cuma urusan estetika. Ia juga soal etika. Menulis adalah keberpihakan. Kepada yang tertindas. Kepada yang terpinggirkan. Kepada suara-suara kecil yang tidak punya panggung. Menulis bukan sekadar merangkai kata puitis, tapi juga menyuarakan yang tak terdengar. Maka, menulis butuh keberanian. Keberanian menyampaikan kebenaran. Bahkan ketika itu membuatmu kehilangan pembaca.

Kadang saya berpikir, penulis adalah makhluk aneh. Mereka menulis tentang kebenaran, lalu menangis karena takut tak laku. Tapi bukankah memang itu harga dari integritas? Jika tulisanmu hanya akan diterima kalau kau memotong nurani, lalu buat apa menulis?

Sarkasnya, ada juga yang menulis hanya agar terlihat progresif, padahal hatinya beku. Menulis demi isu, tapi tak pernah bertindak. Menulis demi tampilan, bukan karena panggilan. Tentu, tulisanmu bisa masuk media, bisa viral, bisa diundang ke mana-mana. Tapi apakah kau menulis untuk dunia, atau hanya untuk cerminmu sendiri?

Dunia ini sudah terlalu gaduh oleh konten receh dan narasi dangkal. Kita butuh lebih banyak penulis yang waras dan ikhlas. Waras karena tidak terjebak dalam obsesi eksistensi. Ikhlas karena tahu bahwa menulis adalah bentuk sedekah pikiran. Kita tak selalu tahu siapa yang akan membaca tulisan kita. Tapi kita bisa memilih untuk menulis dengan niat yang benar.

Ada kalanya kau akan merasa sia-sia. Tulisanmu tak dimuat. Buku tak laku. Tak ada yang komentar. Tapi percayalah, kadang tulisan yang kita anggap sepele justru bisa menyelamatkan seseorang entah di mana. Satu kalimat bisa menjadi pelita. Satu paragraf bisa menumbuhkan harapan. Maka, tetaplah menulis.

Kalau menulis hanya jadi pelarian dari kenyataan, maka begitu kenyataan menampar, kau akan kabur. Tapi kalau menulis adalah perlawanan, maka setiap kata adalah pedang untuk merobek kebodohan, ketidakadilan, dan keserakahan.

Mungkin itulah kenapa banyak penulis besar hidupnya susah, tapi tulisannya abadi. Mereka tidak kaya harta, tapi kaya warisan. Mereka tidak selalu punya rumah megah, tapi punya ruang di hati pembaca. Dan yang paling penting, mereka tidak pernah berhenti menulis, bahkan ketika tak ada yang membaca.

Tulisan ini bukan untuk mematahkan semangat. Tapi untuk membingkai ulang harapan. Menulislah karena cinta. Kalau rezeki datang dari situ, syukuri. Kalau tidak, jangan berhenti. Rezeki bisa datang dari mana saja, tapi tidak semua bisa menulis dengan hati.

Kalau boleh jujur, menulis itu pekerjaan paling gila sekaligus paling waras. Gila karena kita rela duduk berjam-jam untuk mengolah imajinasi. Waras karena kita tahu, dunia ini butuh lebih banyak kebaikan, dan salah satu caranya adalah dengan menulis.

Jadi, kalau kau ingin jadi penulis, silakan. Tapi pastikan hatimu cukup tahan banting, dan dompetmu tidak terlalu mengandalkan royalti. Karena, sesungguhnya, yang membuatmu bertahan bukan rupiah, tapi cinta yang tak pernah habis pada kata-kata. [] Redaksi

Dunia Buku

Tak Harus Hobi

Ada yang aneh tapi nyata. kita hidup di zaman koneksi cepat, tapi pikiran di kepala justru makin lambat. Informasi berseliweran tak kenal jeda, tapi yang mampir di kepala cuma potongan tulisan dari akun gosip. Bukan karena tidak ada buku. Bukan karena sulit mengakses bacaan. Tapi karena anggapan orang dewasa merasa tak perlu membaca.

Ah, membaca. Kata yang terdengar begitu romantis bagi penggila literasi, tetapi terdengar seperti kutukan buat yang merasa sudah kenyang ilmu. Seolah membaca itu pekerjaan anak sekolah dan tukang tulis. Seakan kalau sudah dewasa, sudah kerja, sudah bercucu, otomatis jadi makhluk serbatahu, yang informasi bisa cukup didapat dari obrolan di warung kopi dan chat di grup WhatsApp.

Padahal, kegemaran membaca itu bukan bakat. Bukan warisan genetik. Dan sama sekali bukan cuma hobi yang cocok dipajang di bio Instagram. Itu kebiasaan. Yang bisa dibentuk. Yang bisa diasah. Dan bisa ditanam kapan saja, ke siapa saja, sepanjang hidup. Tapi sayangnya, sering ditinggal begitu saja.

Mari kita buka sedikit fakta menyebalkan tapi perlu, masih terlalu banyak orang dewasa yang merasa tidak punya waktu untuk membaca. “Sibuk, Bro. Mana sempat?” katanya, padahal tiap hari bisa nonton tiga episode drama Korea dan lima video prank dari YouTube.

Mereka ingin tahu sesuatu, tapi enggan mencari tahu. Maunya diberi tahu. Maunya instan. “Tanya aja langsung, lebih cepet,” katanya. Lalu ketika pengetahuan yang didapat mentah dan sesat, mereka marah-marah.

Ini bukan hanya ironi, ini sudah seperti lelucon yang tak lucu. Sebab bagaimana mengaku cerdas dan modern, jika enggan melakukan hal paling dasar dalam membangun kapasitas berpikir: membaca?

Kebiasaan membaca, jika sudah mendarah daging, punya efek luar biasa. Ia mengajarkan kita menunda kesimpulan, memperkaya perspektif, membuat kepala seperti ruang tamu yang siap menerima siapa saja, bukan ruang tahanan ego yang menolak semua ide selain miliknya sendiri.

Dan ada yang lebih menarik, membaca bisa menunda kepikunan. Ini bukan omong kosong dari motivator pagi yang berjas tapi pakai celana training. Ini fakta dari banyak studi. Membaca membuat otak aktif, memelihara daya ingat, dan melatih fokus. Membaca adalah senam otak. Tapi yang satu ini tak perlu alat bantu, cukup buku dan sedikit kemauan.

Bayangkan, ada yang sejak pensiun tidak pernah membaca lagi. Yang dibuka cuma grup WhatsApp, itu pun hanya untuk memastikan siapa yang meninggal minggu ini. Saat diajak bicara, jawabannya melantur. Bukan karena takdir, tapi karena membiarkan kepala jadi sarang debu. Tapi kenapa mereka tidak juga tertarik membaca?

Barangkali karena bacaan kadung dianggap beban, bukan teman. Kita mewarisi pola pikir membaca itu harus ada gunanya langsung, bisa diuji, bisa ditampilkan. Baca koran, harus bisa nyambung pas ngobrol politik. Baca novel, harus bisa bikin resensi. Kalau tidak, dianggap buang waktu.

Itu pola pikir warisan pendidikan lama, yang menjadikan membaca sebagai alat ukur nilai. Padahal, membaca itu baiknya seperti ngobrol dengan dunia. Kadang tidak perlu paham dulu, cukup penasaran, cukup terbuka. Kalau semua harus langsung paham dan menghasilkan, maka cinta pun tidak akan ada yang bertahan, karena siapa yang langsung ngerti pasangan seperti apa? Lalu, bagaimana menumbuhkan kebiasaan membaca bukan hanya pada anak, tetapi juga orang dewasa?

Jawabannya sederhana tapi bikin dahi berkerut, jangan didoktrin. Jangan dipaksa. Perkenalkan bacaan yang dekat, ringan, dan jenaka. Jangan langsung kasih Sapiens ke bapak-bapak pensiunan. Berikan dulu tulisan pendek menggugah. Cerita harian. Humor receh. Artikel menyentil. Biar mereka tahu, membaca tidak harus berat. Bisa menggelitik yang membuat senyum kecil sembari ngopi sore.

Juga, penting mengenalkan suasana membaca sebagai aktivitas santai. Tidak usah sakral. Tidak perlu pakai lilin dan instrumental klasik. Cukup dengan suasana nyaman dan buku yang tidak menakutkan.

Katakanlah, ada orang yang dulu sama sekali tak suka membaca. Baginya buku simbol trauma, tugas sekolah, ujian, nilai merah. Tapi ketika ia terkena insomnia dan mulai mencari bacaan pendek di ponsel, dia ketagihan. Mulai dari cerpen lucu, artikel ringan, hingga kini tak bisa tidur tanpa membaca dua puluh halaman novel setiap malam. Tak ada kata terlambat. Yang perlu cuma pintu yang pas.

Kita juga bisa membuat membaca jadi pengalaman bersama. Misalnya, satu keluarga membaca buku yang sama, lalu didiskusikan tiap akhir pekan. Bukan buat nilai, tapi buat berbagi tawa atau marah bareng. Atau di kantor, daripada meeting yang isinya saling menyalahkan, kenapa tidak ada satu sesi tukar kutipan minggu ini?

Kita bisa saling memperkenalkan bacaan seperti memperkenalkan makanan. “Nih, ada cerita lucu yang bikin aku ketawa sendiri tadi malam,” lalu kirim PDF atau tautannya. Itu lebih menyenangkan daripada menyebar video hoaks cara menyembuhkan asam urat dengen bersiul.

Membaca bukan cuma buat mereka yang kerja di dunia literasi. Sama seperti olahraga bukan cuma untuk atlet. Kita semua butuh gerak tubuh, sebagaimana kita butuh gerak otak. Tanpa membaca, pikiran kita jadi seperti sumur yang tak pernah ditimba. Diam. Berlumut. Dan lama-lama bau.

Seseorang yang terbiasa membaca bisa membedakan mana opini dan mana fakta. Ia tidak mudah tersulut hanya karena judul berita. Ia tahu bahwa tidak semua hal bisa ditangkap lewat satu video viral berdurasi satu menit. Ia bisa diam dalam percakapan tanpa merasa perlu selalu punya pendapat, karena ia tahu diam pun bagian dari memahami. Sebaliknya, yang tidak pernah membaca biasanya cepat kesal. Karena hanya hidup dari emosi, bukan dari informasi.

Seorang ibu tua datang setiap Rabu sore di perpustakaan desa. Ia tidak bisa membaca. Tapi ia minta dibacakan cerita. Ia tertawa ketika tokohnya lucu. Ia menangis ketika tokohnya kehilangan. Ia bilang, “Saya jadi merasa punya teman.” Dan begitulah adanya, membaca memberi kita teman, bahkan saat dunia sepi dan orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Jadi, tidak ada alasan logis untuk menghindar dari membaca. Kecuali kalau memang lebih nyaman hidup dengan kepala kosong. Membaca tidak perlu alasan mulia. Tidak usah ditunggu pensiun atau dapat pencerahan spiritual. Cukup mulai dari mana saja, dan kapan saja.

Kalau hari ini bisa tertawa dari tulisan lucu, itu juga membaca. Kalau bisa menangis karena kisah dari orang yang tak kita kenal, itu juga membaca. Kalau bisa menghindari hoaks dan tidak mudah dibodohi, itu juga berkat membaca. Dan jika suatu hari, kita sudah terlalu tua untuk ingat jalan pulang, mungkin membaca bisa jadi pengingat kecil bahwa kita pernah hidup, dengan isi kepala yang tidak kosong-kosong amat.[] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Tentang Rasa yang Dirasa

Di antara orang yang baca tulisan: Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis, bertanya kepada saya terkait bagaimana cara membuat resensi buku cerita yang baik. Tulisan ini sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Ada sebuah kebiasaan yang entah sejak kapan mulai diwariskan, menulis resensi buku cerpen dengan gaya buku pelajaran IPS kelas tiga. Mulai dari ringkasan cerita, tokoh, latar, amanat, sampai kesimpulan. Pokoknya kalau bukan kayak anak SD mengerjakan PR, belum sah disebut resensi. Bahkan ada pula yang memberi judul resensinya dengan gaya garing seperti: Kisah Haru Tentang Persahabatan dan Perjuangan. Hadeh. Membacanya seperti masuk ke lubang nostalgia sinetron 2003, penuh harapan, tapi isinya klise.

Mari kita tarik napas. Pelan-pelan. Lalu kita buang segala anggapan bahwa resensi adalah ringkasan. Bukan. Resensi yang baik tidak menceritakan ulang. Resensi yang baik memaknai. Bukan bicara apa ceritanya, tapi apa yang terjadi pada saya setelah membaca cerita itu.

Sama seperti kamu tidak butuh laporan lengkap tentang siapa mantan pacar gebetanmu, kamu hanya ingin tahu kenapa dia tidak bisa move on. Nah, resensi itu bukan laporan investigasi cerita, tapi pengakuan emosi pembaca.

Coba kita bayangkan begini. Ada satu buku cerpen berjudul: Dunia yang Terbakar oleh Luka Kecil. Isinya sepuluh cerpen, semua berkisah tentang luka-luka batin manusia. Nah, si A menulis resensi dengan cara menyebutkan satu per satu ceritanya: Cerpen pertama tentang seorang anak kecil yang trauma karena disiksa ayahnya. Cerpen kedua tentang perempuan yang tak bisa memaafkan ibunya. Cerpen ketiga dan seterusnya.

Lalu dia menutupnya dengan kalimat: Buku ini mengajarkan kita untuk tidak menyakiti orang lain. Wah. Betapa naif dan polosnya simpulan itu. Kita sedang membicarakan manusia yang berdarah dan berlumur konflik batin, tapi disimpulkan seperti pesan moral pada iklan sabun: Mari saling menyayangi.

Sebaliknya, bayangkan resensi penulis lain. Ia menulis:

Setelah membaca cerpen-cerpen dalam buku ini, saya mendadak merasa canggung dengan keheningan di meja makan rumah saya. Saya teringat ibu saya yang selalu bilang: “makan jangan bersuara” seperti mantra, tapi saya tahu, itu hanya alasan untuk menyembunyikan tangis. Cerpen keempat, entah mengapa, membuat saya menyesal tidak pernah bertanya pada ibu, apakah ia bahagia?

Nah! Di situlah resensi menemukan rohnya. Bukan soal cerita, tapi soal bagaimana cerita itu mengguncang, menyenggol, menggoda, atau malah menampar pembaca. Kalau kita hanya mengulang isi cerita, buat apa ada banyak orang menulis resensi? Toh hasilnya akan seragam, isi-cerita-tokoh-latar-amanat. Ajaibnya, masih banyak redaktur media yang memuat tulisan seperti itu. Ironis, bukan?

Kita harus akui, ada pula penulis resensi yang sok keren. Dia pakai istilah semiotik, strukturalisme, dekonstruksi, dan teori-teori yang terdengar seperti nama penyakit. Resensinya tak lebih dari parade kutipan Derrida dan Barthes, tapi sayangnya ia lupa, pembaca ingin tahu rasa, bukan rumus.

Dia seperti orang yang sedang menceritakan makanan enak tapi hanya menyebutkan kandungan gizi, jumlah kalori, dan teori metabolisme, tanpa pernah mengatakan: “ini gurih banget, dan bikin kangen.” Maka resensinya pun hambar. Canggih, tapi tidak menggugah. Akhirnya jatuh ke kubangan narsisme intelektual, membahas buku hanya untuk memamerkan kecerdasan sendiri, bukan untuk mengajak orang ikut merasakan.

Misalnya sebuah resensi buku cerpen berjudul: Sajak yang Terselip di Celana Dalam (Judul-Judul cerpen dalam buku itu memang liar). Tapi si peresensi malah sibuk menganalisis gaya bahasa dengan cara formal:

Penulis menggunakan diksi vulgar untuk menarik perhatian pembaca, namun secara semantik hal ini menciptakan ambiguitas yang kontraproduktif terhadap nilai-nilai kultural.

Kita bisa mengelus dada. Kalau niatnya menulis esai akademik, silakan. Tapi ini kan resensi untuk umum, bukan abstrak skripsi. Sementara, kalau mau membahas kebrutalan diksi, kenapa tidak bilang saja:

Ketika saya membaca kata ‘celana dalam’, saya mendadak merasa diawasi. Buku ini seolah menyindir ruang privat yang paling rawan, pikiran liar yang disensor oleh sopan santun. Tapi hidup sehari-hari kita sepertinya memang begitu. Penuh yang tak terucap.

Nah, itu namanya mengajak pembaca masuk ke dalam perasaan, bukan cuma mengupas kulit luarnya.

Ada pula model resensi yang kebablasan spoiler. Bahkan dia ceritakan sampai ending-nya, lengkap dengan twist dan kejutan cerita. Saya membayangkan si penulis cerpennya sedang membaca resensi itu sambil berkata lirih, “Astaga, kamu kok tega!”

Kalau semua rahasia dibeberkan, lalu untuk apa pembaca membeli bukunya? Ini bukan pesta keluarga di mana semua orang harus tahu siapa selingkuh dengan siapa. Cerita butuh ruang kejut. Dan resensi yang baik justru menjaga letupan-letupan itu agar tetap hidup. Karena itu, resensi bukan mengisahkan kembali, tapi memantik rasa penasaran.

Contoh buruk:

Di akhir cerita, ternyata si tokoh utama adalah hantu. Wah, mengejutkan!

Contoh baik:

Cerpen ini membuat saya mempertanyakan batas antara hidup dan mati. Saya jadi curiga, jangan-jangan obrolan saya dengan kakek minggu lalu adalah percakapan dengan kenangan.

Lebih enak, kan? Kita tidak tahu ceritanya secara utuh, tapi kita tertarik.

Dalam dunia resensi, selera itu penting. Tapi bukan berarti selera pribadi dibela mati-matian seperti suporter klub bola. Kadang ada yang terlalu subjektif dan menjatuhkan:

Buku ini jelek. Ceritanya tidak jelas. Tokohnya aneh.Tidak layak disarankan.

Lalu kita cek profilnya, baru baca dua buku cerpen sepanjang hidup. Satu waktu disuruh guru, satu lagi karena suka sama penulisnya yang cakep. Nah, ini bukan resensi. Ini komentar iseng yang tersesat ke kolom budaya.

Menulis resensi harus jujur, tapi juga beradab. Kalau tak suka, sampaikan dengan argumen yang membuka kemungkinan tafsir, bukan vonis. Dan kalau suka, jangan hanya bilang “ceritanya bagus banget” lalu selesai. Itu pujian yang membuat pembaca hanya senyum basa-basi, bukan mengangguk tanda sepakat.

Ada kalanya pula, resensi membawa kita ke ruang kenangan. Kita membaca satu cerpen, lalu teringat masa kecil, atau pertengkaran dengan kekasih yang belum pulih. Dan itulah yang harus ditulis. Karena resensi adalah medan pertemuan antara teks dan pengalaman pembaca. Maka setiap orang akan menulisnya berbeda. Satu buku bisa lahir dalam seribu resensi, dan semua sah, semua layak dibaca, asal bukan ringkasan cerita yang dibungkus dengan kalimat manis, lalu disebar dengan bangga.

Misalnya resensi cerpen tentang seorang perempuan yang diam saja sepanjang cerita. Saya tak tahu nama tokohnya, tak tahu apa motivasinya. Tapi dari diamnya itu, saya merasa ditampar. Saya akan menulis:

Kadang, cerita terbaik adalah tentang orang yang tidak bicara. Karena diamnya memekakkan. Karena saya pun pernah diam, saat semestinya marah. Cerpen ini, anehnya, membalas diam saya sendiri.

Resensi seperti itulah yang saya inginkan. Yang bukan hanya bicara tentang buku, tapi juga tentang diri kita sendiri. Karena buku adalah cermin, dan resensi adalah pengakuan diam-diam yang kita buat di hadapan cermin itu.

Jadi, kalau hari ini kamu ingin menulis resensi cerpen, jangan mulai dengan: Buku ini terdiri dari sepuluh cerita yang semuanya menarik. Itu kalimat pembuka yang sudah pensiun sejak tahun 2002. Mulailah dengan rasa. Dengan tanya. Dengan bingung. Bahkan kalau perlu, dengan marah atau tawa kecil. Karena cerita yang baik, selalu membekas. Dan tugas peresensi adalah menunjukkan bekas itu, bukan membersihkannya.

Jangan takut membuat resensi yang tidak akademis. Yang penting jernih. Jangan takut menulis dengan jenaka. Yang penting tajam. Jangan malu memasukkan pengalaman pribadi, bahkan yang menyedihkan. Karena mungkin, ada yang membaca resensimu dan berkata: “Saya juga merasakan itu.”

Dan pada saat itulah, resensi berhenti menjadi sekadar tulisan. Ia menjadi jembatan. Ia menjadi pengakuan. Ia menjadi semacam bisikan pelan di antara dua pembaca yang tak saling kenal, tapi punya luka yang serupa. Tentang rasa yang dirasa. Dan bukankah itu tujuan membaca yang sesungguhnya? [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis

Ada semacam godaan abadi dalam dunia resensi buku, menempel pada nama besar, lalu berharap reputasi ikut mengalir, seperti aroma parfum mahal yang menempel di kerah baju setelah pelukan singkat. Kita tahu itu bukan dosa besar, tapi bukan juga kebajikan agung. Meresensi buku Pramoedya, Ayu Utami, Eka Kurniawan, atau Leila S. Chudori bisa jadi terasa seperti ritual wajib bagi yang ingin tampak serius di sastra. Tapi mari jujur, apakah kita membaca mereka karena memang benar ingin baca, atau karena ingin diakui sebagai pembaca keren?

“Wah, kamu resensi buku Eka ya? Keren banget!”

“Enggak juga sih, cuma biar dikira keren.”

“Lho, kok jujur?”

Ironi ini sering terjadi, buku dari penulis yang kita kenal secara pribadi, yang bahkan bisa kita sapa dengan emot senyum di WhatsApp, malah diabaikan. Padahal isinya tak kalah menggugah, tak kalah gatal di pikiran, kadang justru lebih segar karena lahir dari pergumulan yang masih mentah, berani, dan lepas dari pretensi.

Tapi siapa yang mau meresensi buku kawan sendiri? Nanti dikira tak objektif. Nanti dikira nyari muka. Nanti dikira ah, terlalu banyak dikira-dikira yang justru membunuh niat baik. Kita lebih suka menoleh ke arah nama-nama berlabel sudah mapan, atau buku-buku yang sudah jadi bahan diskusi nasional. Resensi, bagi sebagian orang, adalah panggung. Dan panggung tak butuh suara baru, hanya perlu nama besar yang sudah memancing tepuk tangan.

Coba kita renungkan. Seorang teman menerbitkan kumpulan cerpen indie, dengan dana pas-pasan, desain seadanya, tapi semangat sebesar Gunung Semeru. Ia mengirimkan satu eksemplar ke kita, berharap sebuah catatan kecil. Bukan pujian bombastis, cukup sepatah dua patah kesan. Tapi kita malah menyimpannya di rak, lalu memosting resensi setebal delapan paragraf tentang buku terbaru penulis kelas festival.

Ironi macam apa ini? Kita merayakan yang jauh, mengabaikan yang dekat.

Sebut saja penulis muda bernama Q, menerbitkan novel debutnya. Ceritanya soal cinta, patah hati, dan jalan-jalan ke Yogya. Biasa, kata orang. Tapi justru dari yang biasa itu terasa jujurnya. Q mengirim bukunya ke lima belas teman. Hanya dua yang membuat resensi, dan satunya lagi baru menulis setelah Q dapat penghargaan. Resensi dadakan yang lahir dari kewajiban sosial belaka.

Tentu, tidak ada yang mewajibkan kita menjadi promotor teman sendiri. Tapi tidakkah terasa aneh jika kita lebih cepat mengulas buku orang yang tak pernah tahu kita ada, daripada buku teman yang pernah meminjami kita payung saat hujan?

Sarkasme kecilnya begini, bahkan dalam dunia resensi, gengsi kadang lebih menentukan daripada isi. Kita sering lupa, bahwa resensi bukan soal siapa yang ditulis, tapi mengapa kita menulis. Jika alasannya hanya agar tampak pintar, relevan, atau terlibat dalam percakapan besar, maka tulisan kita hanya akan jadi gema kosong, bergema tapi tak pernah menyentuh.

Sebaliknya, saat kita menulis tentang buku kawan, dengan jujur, dengan kritis, tapi juga dengan cinta, maka tulisan itu punya denyut lain. Ia bukan hanya sekadar analisis, tapi juga apresiasi. Ia bukan hanya soal apa yang kurang, tapi juga apa yang layak dirayakan.

Saya pernah menulis resensi untuk buku puisi seorang teman. Bukunya tipis, dicetak terbatas, dengan cover yang seperti desain PowerPoint tahun 2005. Tapi isinya? Waduh, tiap bait seperti bisikan yang tak enak ditinggal tidur. Saya tulis resensinya, saya unggah ke blog pribadi. Tak viral, tentu. Tapi teman saya menangis. Katanya, itu lebih bermakna daripada lima bintang dari akun anonim di toko buku online.

Kadang yang kita perlukan bukan popularitas, tapi keberpihakan. Bukan tepuk tangan massa, tapi anggukan diam dari satu sahabat.

Resensi, jika kita jujur, bisa jadi bentuk cinta paling elegan. Kita membaca dengan sungguh-sungguh, menilai dengan adil, menyampaikan dengan lembut tapi tak mengurangi ketajaman. Dan ketika kita memilih buku teman sebagai objeknya, kita juga sedang berkata: “Aku melihatmu. Aku membaca perjuanganmu. Aku peduli.”

Tentu saja, tak semua resensi harus tentang teman. Tapi kalau semua resensi kita hanya tentang mereka yang sudah punya nama, apakah kita sedang benar-benar membaca, atau sekadar ingin ikut kecipratan tenar.

Sekali waktu, resensilah buku teman yang naskahnya masih bau tinta, atau yang bahkan belum masuk toko. Tulis betapa alurnya membingungkan, tapi idenya segar. Ungkapkan bahwa tokohnya kurang kuat, tapi ending-nya menyentak. Tunjukkan bahwa kita membaca bukan untuk memuja, tapi untuk menemani.

Mungkin tidak akan banyak yang baca resensi itu. Mungkin tidak akan di-repost penerbit besar. Tapi yakinlah, satu hati teman akan mengingat seumur hidupnya. Apakah hal itu tidak cukup?

Dan bukankah itu yang sebenarnya kita cari dalam dunia menulis? Bukan ketenaran instan, tapi hubungan yang hangat dan tulus. Bukan sanjungan sesaat, tapi jejak yang tinggal lama.

Jadi lain kali, saat kamu selesai baca buku dari temanmu yang menulis cerpen tentang perempuan penyapu jalanan atau novel remaja berbau fiksi ilmiah, jangan buru-buru menyimpannya. Tulis kesanmu. Tak usah takut dikira sok objektif atau malah terlalu subyektif. Bukankah kita semua menulis dari ketulusan yang selalu agak subyektif?

Kalau mau tetap keren, ya resensilah juga buku penulis besar. Tapi jangan jadikan itu satu-satunya. Dunia literasi kita tak akan tumbuh kalau semua orang hanya memuja yang sudah dipuja. Kita butuh lebih banyak ruang untuk suara-suara baru, dan salah satu caranya adalah dengan memberi perhatian lewat resensi, meski hanya di status Facebook, utas di Instagram, atau catatan blog yang sepi pengunjung.

Sebab sering kali, buku-buku kecil dari penulis yang masih biasa itu menyimpan ledakan yang tak terduga. Mereka hanya menunggu satu hal, dibaca dengan sungguh-sungguh, lalu dibicarakan dengan penuh hormat.

Dan siapa tahu, sepuluh tahun dari sekarang, nama temanmu itu justru yang akan kau cari di toko buku, sambil berharap: “Aku pernah meresensi bukunya dulu, waktu masih belum siapa-siapa.”

Lalu kalian bertemu lagi, bukan sebagai pembaca dan penulis, tapi sebagai dua orang yang pernah saling percaya di antara halaman-halaman yang nyaris tak terbaca. Terakhir, menangislah jika kamu ingin menangis setelah baca ini. Tidak perlu malu. [] Redaksi

Dunia Menulis

Baca Dunia, Bukan untuk Ditumpahkan Begitu Saja

Di dunia cerpen, ada satu nasihat tua yang sering dibisikkan dari satu penulis ke penulis lainnya, semacam mantra sakti sebelum masuk ke ruang sunyi penciptaan, gali data sebanyak mungkin, baca nonfiksi sebanyak mungkin, lalu gunakan hanya secuil saja dalam tulisan fiksi. Mengapa secuil? Bukankah jika sudah repot riset dan menyelami buku-buku serius, wajar dong jika ingin semuanya tampil dalam cerita?

Sayangnya, fiksi bukan memoar ilmiah. Ia bukan koran pagi atau laporan statistik. Fiksi, apalagi cerpen, bukan pameran data. Ia panggung rahasia tempat emosi, dilema, dan absurdnya hidup manusia ditampilkan dalam bentuk yang ringkas, mengendap, dan kadang menyesakkan. Nah, di sinilah letak ironi yang sering tak dipahami, semakin banyak yang kita tahu, justru harus semakin cerdik menyembunyikan pengetahuan itu. Kadang malah pura-pura bodoh.

Mari kita ambil contoh. Kita ingin menulis cerpen tentang seorang penjaga mercusuar di pantai selatan Jawa. Kita membaca habis-habisan sejarah mercusuar di Indonesia, arah angin muson, spesies burung laut, mekanisme kerja lampu sorot, bahkan sampai sistem shift penjaga pantai. Semua dicatat rapi, dengan coretan penuh semangat. Lalu cerpen ditulis. Paragraf pertama sudah penuh dengan istilah teknis. Lampu sorot berukuran 250 mm itu masih berputar dengan kecepatan 1,8 rpm, sesuai standar nautika internasional yang ditetapkan oleh IALA (International Association of Marine Aids to Navigation and Lighthouse Authorities).

Tunggu dulu. Ini cerpen atau makalah seminar?

Alih-alih terharu oleh kesepian penjaga mercusuar yang menanti kabar dari anaknya di kota, pembaca malah sibuk mencari arti kata nautika dan mengernyit saat dihadapkan pada informasi yang tak terasa hidup. Di sinilah jebakan itu, pengetahuan yang terlalu telanjang bisa menghilangkan getaran fiksi.

Menulis cerpen dengan dasar data itu penting, bahkan wajib. Tanpa itu, fiksi bisa melenceng seenaknya, tentang dokter yang menusuk syaraf pakai pipet, misalnya, atau penambang emas yang menyaring pasir dengan saringan teh. Tapi justru karena data penting, maka harus gunakan dengan bijak. Seperti garam dalam sup. Terlalu sedikit, hambar. Terlalu banyak, mual.

Kita tidak sedang menulis manual prosedur. Kita sedang menciptakan ilusi. Dan ilusi terbaik justru yang tak terasa sedang membohongi.

Yang menarik, beberapa penulis justru sangat bangga ketika menyisipkan istilah ilmiah atau kutipan panjang dari buku sejarah. Mereka merasa itu semacam sertifikat tak tertulis: “Saya sudah riset, lho!” Padahal, dalam fiksi, pembaca tidak peduli seberapa keras kamu riset. Mereka hanya peduli apakah mereka ikut merasa.

Ada pula yang merasa harus menghabiskan semua catatannya, seakan hal itu semacam daging beku di kulkas yang harus segera diolah sebelum busuk. Padahal, justru karena ia beku, sebaiknya dicairkan dulu, dipilih bagian terbaik, lalu diolah pelan-pelan. Sisanya? Biarlah jadi kaldu di cerita lain.

Aku pernah membaca cerpen tentang seorang perawat di rumah sakit jiwa. Penulisnya jelas riset panjang. Ia menjelaskan nama-nama gangguan mental lengkap dengan klasifikasinya, rincian terapi kognitif, sampai jadwal minum obat pasien. Sayangnya, cerpen itu malah terasa seperti brosur klinik, bukan manusia yang lelah dan ragu menghadapi pasien. Cerpen itu cerdas, tapi tak terasa. Informasi banyak, tapi hilang rasa.

Kadang kita lupa bahwa fiksi bukan tempat untuk mencerdaskan, melainkan untuk mengajak merasa, bukan podium kuliah, tapi panggung drama. Maka tak perlu mengumumkan bahwa si tokoh terkena gangguan bipolar tipe II dengan siklus hipomanik. Cukup tunjukkan bahwa ia bisa tertawa terbahak melihat matahari, lalu menangis diam-diam karena gagal membuka tutup botol minum. Itu lebih menyentuh dan tak terasa menggurui.

Dalam dunia fiksi, data harus dibungkus dalam daging emosi. Ia bukan kepala cerita, tapi tulang belakangnya. Ia menopang, bukan menonjol. Ia hadir agar tokoh tak mengada-ada, agar latar tak ngambang, tapi tetap tak menjadi pusat perhatian. Bahkan sering kali, data yang paling keras justru bekerja diam-diam. Seperti latar kota yang tak pernah disebut namanya, tapi pembaca tahu, ini pasti di Jakarta. Atau tentang konflik tambang yang hanya terasa lewat aroma logam di air sungai.

Tentu, ini bukan ajakan untuk malas riset. Justru sebaliknya. Kita harus haus baca, terutama nonfiksi. Buku sejarah, laporan jurnalistik, memoar, antropologi, bahkan catatan hukum bisa jadi tambang imajinasi. Tapi jangan lupa, tambang bukan pameran. Setelah digali, emasnya perlu dilebur, ditempa, dibentuk jadi perhiasan. Bukan dilempar ke muka mentah-mentah.

Dan inilah bagian yang menggelitik, kadang justru cerita yang terasa paling nyata adalah yang datanya paling sedikit disebutkan. Kalau kamu ingin pembaca percaya bahwa tokohmu dokter yang akan melakukan operasi, jangan banyak bicara tentang pisau bedah. Cukup buat dia gemetar ketika menyentuh kulit pasien. Mereka akan paham bahwa ia bukan hanya tahu cara memotong, tapi juga tahu risiko kematian.

Pengetahuan yang disimpan dalam-dalam justru terasa lebih kuat daripada yang diumbar. Seperti kekasih yang diam-diam mencintai, tapi tak berkata apa-apa. Ia hadir dalam tindakan kecil, bukan dalam pidato panjang.

Namun, tentu saja, kita boleh bersenang-senang juga. Sesekali menyelipkan satu dua istilah asing, jika konteksnya mendukung, bisa membuat pembaca merasa diajak naik kelas. Tapi jangan keterusan. Pembaca itu ibarat tamu, kalau kamu suguhkan hidangan yang terlalu kompleks, jangan salahkan jika mereka diam-diam googling di tengah cerita, lalu hilang konsentrasi.

Akhirnya, menulis fiksi adalah urusan meracik. Data bukan bahan utama, tapi bumbu. Bacaan nonfiksi bukan tujuan, tapi jalan. Kalau kamu baca lima buku tentang kehidupan nelayan, lalu hanya menulis satu kalimat tentang aroma garam di mata sang istri nelayan yang ditinggal tiga bulan, itu sudah cukup. Pembaca akan mencium lautan.

Untuk para penulis yang takut risetnya sia-sia, tenang saja. Tak ada yang sia-sia dengan membaca. Apa pun yang kamu baca akan jadi bagian sel-sel kreatifmu. Mungkin tidak keluar di cerita pertama, tapi siapa tahu muncul sepuluh tahun kemudian sebagai cerita pendek yang membuatmu menang sayembara.

Menulis itu seperti memasak rendang. Semua bahan harus masuk, tapi tak semuanya terlihat di saat disajikan. Yang penting, rasa menggigit. Dan ingat, pembaca tidak sedang menonton kamu bekerja di dapur. Mereka hanya ingin tahu enak atau tidak.

Jadi, selamat menggali data, baca yang berat-berat, dan nulis dengan ringan-ringan. Sejatinya, yang paling berat itu justru membuat pembaca merasa ringan setelah membaca. Bukan karena ceritanya kosong, tapi karena semua kepadatan telah kamu olah jadi sesuatu yang terasa. Yang tidak menggurui. Yang menyentuh. Yang membuat mereka tersenyum kecil, atau diam sejenak, atau bahkan ingin membaca ulang hanya untuk mengulang rasa.[] Redaksi

Dunia Menulis

EGP

Ada satu jenis penulis yang menarik, bukan karena tulisannya istimewa, tapi karena ekspresi mukanya ketika membaca karya orang lain, mengernyit, meringis, lalu terkikik seperti menonton lawakan receh di televisi lokal. Bukan karena lucu, tapi karena ia menilai tulisan itu “Nggak banget.”

Penulis seperti itu bukan hanya hidup di kepala sendiri, tapi juga tinggal di menara gading yang dibangun dari ego dan tinta printer. Ia percaya, tulisannya adalah puncak dari segala pencapaian sastra. Ia tak lagi butuh kritik, apalagi membaca karya orang lain yang menurutnya tak selevel. Kalimat favoritnya: “Aku udah nemu gayaku.” Atau yang lebih sakti: “Tulisanku beda, bukan pasaran.”

Kalau dipikir, kepercayaan diri ada baiknya, tapi dalam dosis seperlunya. Kepedean yang terlalu besar bukan hanya masalah, melainkan bisa jadi penyakit: sindrom tulisan maha benar. Tulisannya sendiri dianggap patokan. Selebihnya cuma debu kata-kata yang tak layak diperhatikan.

Ironisnya, penulis seperti ini kadang sedang naik daun. Bisa jadi karena beberapa kali dimuat atau menang lomba. Hal itu langsung merasa dirinya mutlak unggul. Ia menolak tulisan lain bahkan sebelum dibaca tuntas. Lalu dengan penuh keangkuhan, ia mengutip kata-katanya sendiri dalam forum penulis: “Seperti yang saya tulis dalam cerpen saya yang berjudul Bulan di Wajahmu Bukan Purnama.”

Padahal kalau dibaca ulang, cerpen itu biasa saja. Tapi siapa yang berani berkata begitu? Sekali kamu berkomentar, ia bisa langsung bilang: “Kamu nggak ngerti gaya.”

Sialnya, yang diaku sebagai gaya kadang justru ketidaktahuan narasi, kekacauan diksi, dan ketidaksadaran plot yang muter-muter. Gaya jadi tameng untuk menghindari belajar dasar-dasar menulis yang baik.

Ada pula yang kalau diadakan diskusi, tak mau datang kecuali ia yang jadi pembicara. Kalau datang sebagai peserta, ia akan duduk dengan posisi miring 45 derajat, alis terangkat, dan tangan bersilang. Saat sesi tanya-jawab, ia akan membuka dengan kalimat “Saya bukan ingin bertanya, saya hanya ingin menanggapi.” Lalu berceritalah ia tentang tulisannya sendiri yang pernah ditolak juri lomba, tapi katanya: “Mungkin juri belum sampai di tahap pemahaman seperti saya.”

Lucu, ya? Tapi banyak. Banyak banget malah. Mari kita balik sebentar. Tidak ada yang salah dengan mencintai tulisan sendiri. Penulis harus mencintai tulisannya, sebab kalau tidak, bagaimana orang lain bisa percaya? Namun mencintai tulisan bukan berarti menikahinya lalu menceraikan tulisan orang lain. Dunia ini luas, bahkan dalam dunia fiksi yang serba mungkin, selalu ada karya lain yang bagus, atau minimal berbeda dengan kualitas uniknya sendiri.

Sebagai perbandingan, bayangkan seorang juru masak yang merasa rendangnya paling enak di dunia, lalu menertawakan orang yang bikin rendang dengan santan sedikit. Ia lupa, selera orang beda-beda. Dan kalau rendangnya itu penuh lemak ego, siapa yang tahan makan?

Penulis semacam itu juga biasanya anti diedit. Baginya, naskahnya sudah final begitu diketik. Editor? Redaktur? Itu hanya penjaga gerbang dunia yang tidak perlu meragukan kejeniusan tulisannya. Ketika naskahnya dikembalikan dengan catatan, ia merasa dipermalukan, lalu berkoar di medsos: “Media itu punya selera aneh. Tulisan picisan dimuat, sementara tulisan saya yang filosofis ditolak.”

Padahal mungkin, naskahnya hanya butuh satu-dua perbaikan. Tapi karena kadung merasa dirinya penyelamat dunia sastra, ia memilih sakit hati daripada belajar memperbaiki.

Ironinya, justru penulis-penulis yang benar-benar besar, karyanya hidup dari zaman ke zaman, selalu membuka diri. Mereka bersedia dipotong, dibedah, bahkan ditolak. Pramoedya Ananta Toer pernah dibredel, Sapardi pernah membaca ulang puisinya berkali-kali sebelum dibacakan. Goenawan Mohamad pernah menolak hasil tulisannya sendiri.

Lalu siapa kita ini, belum pernah disunting serius, tapi sudah merasa tulisan kita tak tersentuh kritik?

Yang paling menggelitik adalah ketika penulis-penulis semacam ini berkumpul dan saling memuji satu sama lain. Seperti geng SMA yang merasa mereka lebih dewasa dari gurunya. “Tulisanmu gila sih.” “Kau juga, anjir, dalem banget.” Tapi saat dibacakan di forum umum, audiens mendengus, bingung harus kagum di mana. Yang tertawa hanya mereka yang nulis. Yang haru hanya mereka yang merasa. Sisanya? Merasa disuruh nonton sinetron tanpa subtitle.

Menulis adalah proses panjang. Bukan hanya soal nemu gaya sendiri, tapi juga soal menerima bahwa gaya kita tak selalu cocok untuk semua. Kita menulis, lalu belajar, lalu menulis lagi, lalu belajar lagi. Kita menulis, lalu mendengar tanggapan, lalu menimbang ulang. Kadang kita menyadari bahwa yang kita anggap bagus itu hanya cocok di kepala, tidak di hati pembaca.

Tentu, setiap penulis punya suara unik. Tapi keunikan tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak berkembang. Bahkan pelukis abstrak tetap belajar menggambar anatomi manusia sebelum mencoret kanvas dengan imajinasi liar.

Paling menyedihkan adalah ketika penulis terlalu mencintai tulisannya hingga tak bisa membedakan kritik dan hinaan. Begitu ada orang komentar, “Ceritanya agak lambat ya,” ia langsung menganggap si pengkritik iri. Padahal mungkin, pembaca hanya ingin cerita itu lebih dinamis. Tapi ya bagaimana? Dalam kamusnya, kritik adalah ejekan.

Cobalah menulis dengan rendah hati. Tanyakan pada pembaca biasa, bukan hanya sesama penulis. Ajak teman awan untuk membaca. Lihat responsnya. Apakah ia menangkap maksud ceritamu, atau bingung dengan metafora yang terlalu tebal seperti kuah soto tanpa garam?

Pada akhirnya, tulisan bukan untuk disembah. Tulisan itu untuk dihidupi. Kalau tulisan kita bagus, orang akan datang sendiri. Tapi kalau kita yang maksa orang membaca lalu berkata, “Ini harus kau baca, ini berat, tapi dalem banget,” kemungkinan besar tulisan itu memang dalem tapi karena tenggelam.

Menulis bukan kompetisi adu paling jos. Menulis adalah komunikasi, yang berlaku bagi segala gaya, bahkan untuk tulisan paling puitik sekalipun. Kalau orang tak mengerti, jangan-jangan bukan karena mereka bodoh, tapi karena penulis terlalu sibuk mendengar suara diri sendiri.

Jadi, mari sama-sama turun dari menara gading. Duduk bareng, baca karya orang lain, pelajari yang baik, peluk yang masih belajar, dan yang paling penting, jangan terlalu jatuh cinta pada diri sendiri. Karena kalau tulisanmu memang bagus, pujian tak perlu dicari. Ia datang sendiri. Dan kalaupun tidak datang, ya tidak apa-apa. Kamu tetap menulis, bukan?

Ingat, di atas langit masih ada pembaca. Dan pembaca tidak peduli, bahkan bisa dengan mudah bilang: “EGP (Emang gue pikirin)!” sembari matanya melirik sadis, bila kamu menganggap tulisanmu yang paling keren. Ia hanya peduli satu hal, apakah tulisanmu bisa sampai. [] Redaksi

Dunia Menulis

Benar hanya Iseng?

Mari kita mulai dari ironi paling klasik, kita bilang menulis itu cuma iseng, hobi ringan, atau sekadar pelarian. Tapi lihat bagaimana mata kita berbinar ketika cerpen kita dimuat. Lihat bagaimana tangan kita memotret halaman koran dan mengunggahnya ke story dengan caption: Ah, nyempil dikit. Padahal kita tahu, kita senang bukan main. Kita bangga, tapi sok kalem. Kita pura-pura tidak berharap apa-apa, padahal refresh email tiap sepuluh menit nunggu balasan.

Contoh lain pakai kata-kata sakti ini: Aku banyak ide buat cerpan. Tapi buat apa? Sesungguhnya itu kalimat pelindung dari rasa takut. Takut gagal, takut dicemooh, takut berharap. Jadi kita pakai tameng sinis, supaya tidak terlihat rapuh. Kita suka bohongin diri, tapi pakai kata-kata mewah.

Kita suka bilang, “Aku tak peduli dimuat atau tidak.” Tapi esoknya, kita tetap buka laman media itu, stalking siapa yang dimuat minggu ini. Dan ketika bukan nama kita, kita bilang, “Ah, mungkin selera redakturnya aneh.” Atau lebih ekstrem, “Kayaknya karya penulis itu dimuat karena kenal ordal.”

Padahal siapa tahu memang tulisan kita belum kuat. Tapi mengakui itu lebih pahit dari kopi tanpa gula. Maka kita pilih yang nyaman, menyalahkan dunia, menyalahkan sistem, menyalahkan algoritma langit. Kita nyaman menipu diri demi terlihat tangguh.

Ini dia penyakit akut, ingin dipuji, tapi takut dibilang berharap pujian. Ingin karya direspons, tapi takut disebut cari perhatian. Padahal bukankah setiap karya memang lahir untuk dilihat? Kalau ingin benar-benar pribadi, simpan saja dalam diary dan kunci dengan gembok.

Kita bilang, “Gak papa kok kalau gak ada yang baca.” Tapi ketika satu orang komen, “Bagus banget cerpennya.” Kita langsung screenshoot dan kirim ke lima grup WhatsApp. Iya kan? Kita mau diakui, tapi kita suka malu mengakuinya.

Ada juga gaya pura-pura intelek: cerpen absurd, puisi tak berima, paragraf melompat-lompat. Lalu ketika orang bingung dan bertanya, “Maksudnya apa?” kita jawab, “Kalau kamu paham, kamu nggak akan nanya.”

Padahal kadang kita juga bingung ini tulisan tentang apa. Tapi daripada jujur, lebih enak bersembunyi di balik kabut ke-nyeni-an. Lebih aman jadi misterius daripada dibilang dangkal. Lebih keren jadi penulis yang tak terjangkau daripada yang salah ketik koma.

Ada tipe penulis yang suka mem-branding diri sebagai makhluk sengsara: “Menulis itu penderitaan. Inspirasi datang di antara luka dan darah.” Tapi faktanya, ia nulis di kafe mahal, pakai laptop terbaru, sambil upload foto latte art dan caption: Trying to bleed on paper.

Menulis memang tak selalu mudah, tapi menyiksa diri demi citra estetik juga tak perlu. Kita boleh bahagia saat nulis. Kita boleh tertawa. Kita tak harus selalu murung di bawah lampu kuning redup. Tapi kadang kita suka dipandang sebagai penulis yang sok tersiksa.

Kalau kita akui menulis membuat kita bahagia, maka kita harus akui bahwa kita menginginkannya. Tapi masalahnya ketika kita menginginkannya, kita takut tidak bisa memilikinya. Maka kita buat benteng: “Aku nulis cuma iseng.” Itu cara kita merendahkan nilai kerja kita sendiri agar kalau gagal, sakitnya tidak terlalu dalam. Tapi justru di situ kita kehilangan arah. Menulis bukan lagi tempat pulang, tapi jadi ajang pura-pura kuat. Kenapa kita suka takut ngaku kalau kita memang bahagia saat nulis?

Coba duduk sejenak dan tanya diri sendiri, benarkah kita hanya iseng? Atau sebenarnya kita menemukan rumah di kata-kata? Kita mungkin tidak punya pembaca ribuan, tidak punya royalti jutaan, tapi setiap selesai nulis satu cerita, kita merasa hidup sedikit lebih utuh.

Mungkin bukan kaya atau terkenal yang kita kejar. Mungkin kita hanya ingin dimengerti. Dan menulis adalah cara kita mengajak dunia berbicara tanpa harus bersuara. Marilah kita Jujur bahwa kita memang suka menulis, kita merasa nyaman ketika menulis.

Pernahkah kita merasa bahwa karakter yang kita buat ternyata menyindir diri kita sendiri? Tokoh yang sok kuat, sok bijak, ternyata cerminan dari kita yang sedang rapuh. Dialog tokoh yang galak padahal kita ingin memarahi diri sendiri.

Di sinilah lucunya menulis, kadang kita merasa sedang bercerita tentang orang lain, padahal sedang membongkar laci hati kita sendiri. Ironis, menyenangkan, kadang juga menyakitkan. Tapi tetap, kita kembali lagi. Karena di situ kita merasa jujur. Dan di situlah kita nyaman. Kadang memang konyol tapi sungguh manis. Ketika kita diam-diam bercermin di cerita sendiri.

Menulis itu bisa jadi bentuk kejujuran yang paling telanjang, atau justru yang paling berkedok. Tapi mari kita mulai dari yang sederhana, akui saja bahwa kita suka menulis. Akui saja kita ingin karya kita dibaca, akui saja kita ingin karya kita disukai, bahkan akui saja bahwa kita ingin dipuji. Tidak usah malu. Yang penting jangan menulis demi tepuk tangan semata.

Kejujuran itu melegakan. Dan dari situlah kenyamanan lahir. Karena sejujurnya, kita menulis bukan hanya karena bisa, tapi karena memang ingin. Karena kita bahagia saat melakukannya. Dan itu tidak perlu ditutupi dengan sinisme atau sikap sok tak peduli. Sungguh tidak apa-apa kita ingin diakui, asal jangan menggadaikan kejujuran.

Menulis bukan sekadar soal produktivitas, prestasi, atau penerbit besar. Tapi tentang keberanian mencintai prosesnya, dan mengakui bahwa kita menikmatinya, tanpa harus merasa berdosa. [] Redaksi