
Beberapa hari belakangan, udara dunia sastra terasa sedikit pengap. Bukan karena debu-debu puisi beterbangan atau cerpen-cerpen usang bertebaran di rak toko buku yang diskon permanen, melainkan karena satu pernyataan lama yang kembali diungkit: Sastrawan tak bisa menggantungkan hidup dari sastra.
Kalimat itu bukan baru, bukan langka. Ia seperti remah-remah kecap asin di ujung warung makan sederhana, selalu ada, selalu kembali, dan selalu bikin kita merenung sambil menahan sendawa.
Pertanyaannya kemudian, masih maukah kita menulis? Pertanyaan ini sebetulnya tidak minta jawaban. Ia hanya minta didengarkan. Sama seperti nasihat ibu yang berkata, “Kalau jadi penulis, jangan lupa makan,” atau tetangga yang bilang, “Bukumu bagus, tapi kayaknya lebih cocok kalau kamu kerja di bank.” Dunia tidak pernah benar-benar peduli kita menulis apa. Dunia hanya ingin tahu: bisa hidup dari situ, enggak?
Dan ya, jujur saja: sulit. Menjadi penulis, apalagi yang memilih jalan sunyi di dunia sastra seringkali mirip dengan memilih jadi biksu, tapi tanpa biara, tanpa donatur, dan tanpa jubah yang membuat orang segan menyela. Kadang kita hanya punya kopi, buku usang, dan tumpukan utang yang lebih teratur dari struktur cerpen kita.
Tapi mari kita bahas ini dengan kepala dingin dan hati yang sedang tak terlalu lapar. Menulis itu indah, tapi PLN tetap butuh dibayar. Penerbit mungkin suka naskah kita, tapi belum tentu bisa kasih royalti lebih dari harga semangkuk bakso. Sekali-dua kali cetak ulang belum tentu berarti rekening jadi tambun. Yang tambun justru kepala, mikirin biaya hidup sambil cari inspirasi untuk nulis cerpen dengan ending mengejutkan.
Namun di sinilah letak ironi paling cantik dalam dunia menulis, kadang kita rela bekerja apa saja agar bisa terus menulis. Bukan sebaliknya. Kita tidak menulis agar tak perlu bekerja, tapi bekerja agar bisa terus menulis.
Ada teman yang jadi penjaga perpustakaan, bukan karena dia cinta katalog buku, tapi karena itu pekerjaan paling sunyi yang memberinya ruang untuk menulis puisi saat jam sepi. Ada yang kerja di pabrik, shift malam, lalu menyelipkan selembar kertas di sela kotak bekal. Ada yang jadi guru honorer, penghulu, penjaga toko, penyaji kopi, penjual cendol, tukang ojek, atau bahkan admin medsos akun ayam geprek, semuanya demi satu hal: agar dunia menulis tetap hidup di dalam dirinya.
Dan saat kita bilang “dunia menulis”, itu bukan sekadar duduk di depan laptop mengetik kalimat berbunga. Itu dunia tempat kita merasa waras. Dunia tempat kita bisa mengeluh tanpa dituduh lemah. Dunia tempat luka dibayar dengan kalimat, bukan kutukan. Dunia tempat kita, akhirnya, merasa pulang.
Jadi, apa yang kita cari? Apakah kita menulis karena ingin terkenal? Kalau iya, ya monggo, silakan ikut lomba, tampil di TV, selfie dengan buku. Itu pilihan. Apakah salah? Tidak juga. Kadang, yang kita cari memang pengakuan. Kadang, ingin diakui adalah bentuk paling jujur dari cinta.
Tapi untuk sebagian yang lain—dan ini banyak sekali—yang kita cari adalah perasaan selesai. Bukan selesai dalam arti tamat, tapi selesai dalam arti, ada yang tumpah, dan itu kita selamatkan di halaman.
Sebab dunia ini terlalu gaduh. Terlalu banyak hal tak masuk akal. Dan tulisan sering menjadi tempat kita menyusun ulang logika yang ambyar, membalut luka tanpa perlu dibalaskan, atau sekadar mengabadikan kejenakaan yang orang lain tak sempat tertawakan. Kita menulis karena tak ada cara lain yang lebih masuk akal untuk bertahan.
Lalu bagaimana ketika dunia menyuruh kita menginjak tanah? “Realistis dong. Cari kerja yang jelas. Menulis bisa sambilan aja.” Kalimat ini sudah seperti mantera nasional. Disampaikan dengan nada perhatian, tapi dalamnya menusuk diam-diam. Menjadi penulis kerap dianggap seperti bercita-cita jadi astronot di kampung nelayan. Antara mimpi dan nyinyir hanya dipisahkan oleh tanda seru.
Tapi mari kita jujur, berapa banyak dari kita yang tetap menulis meski dunia menyuruh berhenti? Yang tetap menyusun kalimat di sela cucian, menyusun puisi di sela kemacetan, menambal cerpen di sela ngasuh anak? Bukan karena sok kuat. Tapi karena ini cara kita menyapa hidup. Ini cara kita tetap bernapas di antara sempitnya ruang dan waktu.
Dan sungguh, kadang kita tidak butuh dunia mengerti. Kita hanya butuh satu dua pembaca yang tulus berkata, “Aku menangis baca tulisanmu.” Sudah cukup. Kadang satu pesan semacam itu lebih membangkitkan daripada uang transport dari acara diskusi sastra.
Ayo ketawa dulu biar tidak nangis. Kita boleh kok tertawa sebentar. Misalnya, betapa absurdnya menulis puisi lima halaman, dibayar dengan buku kenang-kenangan. Atau cerpen dimuat di media besar, tapi transferan honor datang setelah kita lupa pernah menulis cerpen itu. Saking lamanya, kita sampai ragu: ini honor cerpen yang mana, ya?
Atau ketika kita ikut lomba menulis demi hadiah 5 juta, bersaing dengan 1000 penulis, lalu kalah dengan naskah yang membuat kita bertanya-tanya, juri benar-benar membaca nggak, sih? Tapi anehnya, kita tetap ikut lagi. Tetap nulis lagi. Karena memang dasar kita ini tidak kapok. Bahkan ketika hidup bilang, “Sastra tak cukup buat makan,” kita balas dengan tulisan yang lebih panjang.
Maka, pertanyaannya bukan lagi “Maukah kita menulis?” melainkan: “Sampai kapan kita sanggup tidak menulis?” Karena bagi sebagian dari kita, tidak menulis jauh lebih menyakitkan daripada tidak punya uang. Menulis bukan hanya tentang profesi, tapi tentang cara menjalani hidup. Ia seperti napas keempat, setelah oksigen, kopi, dan kasih sayang sepihak.
Kita bisa bekerja apa saja. Kita bisa tidak dikenal. Kita bisa hidup sederhana. Tapi kita tetap menulis. Kita tetap percaya bahwa satu kalimat bisa menyelamatkan orang dari putus asa. Bahwa satu cerita bisa membuat orang merasa tidak sendirian. Bahwa satu puisi bisa mengobati luka yang bahkan tidak tahu namanya.
Jadi, untukmu yang sempat ragu, yang merasa kalah oleh kenyataan, yang mulai lelah karena dunia tak ramah, ingatlah ini: kita menulis bukan karena dunia memanggil, tapi karena hati kita tak pernah bisa diam.
Menulislah. Meski banyak orang menyepelekan. Meski orang bilang sia-sia. Meski kau harus kerja rangkap tiga. Karena siapa tahu, suatu hari nanti, tulisanmu adalah alasan seseorang bertahan hidup. Dan itu, sangat berharga. [] Redaksi









