Cerpen

Cinta Dalam Bus Antar Provinsi

Cerpen Jeli Manalu

Peristiwa itu sudah dua puluh satu hari yang lalu. Di sebuah tebing, seunit bus besar tiba-tiba mematahkan pepohonan di sana. Bangau putih mengepak-ngepakkan sayap, ikan hasil tangkapannya menyemplung ke dasar. Hewan kecil seperti semut, ulat, belalang, nyamuk, lalat hutan ikut kaget. Sebutir air mata pecah, luruh ke pori-pori tanah yang di sananya akar anak rumput menunggu tumbuh.

Sehari sebelum kejadian itu ia berjumpa denganmu di terminal. Wajahnya sayu, baru pulang dari suatu tempat yang kau sendiri tidak bisa menduganya, tapi kau tiba-tiba saja merasa harus peduli terhadapnya.

“Aku sangat mudah mabuk. Bisakah kau memberiku bangku paling depan dan kalau bisa dekat jendela?” kau mendengarnya berdebat dengan penjual tiket meski intinya ia sedang memohon.

“Sudah ada di bangku itu. Yang tersisa hanya nomor ….” penjual tiket kau lihat mencari-cari di catatannya.

“Bagaimana dengan tiga?”

Penjual tiket masih memeriksa catatan untuk memastikan namun wanita calon penumpang memotong lagi, “Lima? Delapan?”

“Tinggal nomor dua puluh dan selanjutnya.”

“Sudah kubilang aku mudah mabuk.”

Kau yang melihat muram wajahnya dari dalam dirimu timbul semacam dorongan untuk melindungi dan bahkan merasa perlu menyayanginya saat itu juga. Sembari memikirkan entah apa ia melihat ke arahmu sebentar, dan saat itulah kau seakan tak percaya kalau ternyata ada saja mata orang dewasa semirip mata kanak-kanak. Jernih. Masih bisa diwarnai. Masih bisa dilukiskan sesuatu ke dalamnya, dan kau coba mengingat-ingat bagaimana caranya melukis dengan baik tanpa harus merusak banyak kanvas terlebih dahulu.

“Beli saja salah satu dari tiket yang masih ada,” ujarmu dari tempat yang tak diduga-duga olehnya sehingga ia merasa aneh kepadamu. “Ini,” katamu lagi. Kau sodorkan tiket dengan angka empat milikmu ke arahnya.

“Maksudnya?”

“Tiketmu berikan padaku. Tiketku kuberi padamu.”

“Terus?”

“Ya, supaya kau jadi perginya.”

“Terus?”

“Mak-sud-ku? Maksudku supaya kita sama-sama perginya.”

Kau perlahan-lahan menjelaskan padanya. Ia kemudian setuju. Setelah itu ia dan kau sudah berada dalam Bus Antar Provinsi.

Tiga jam pertama ada penumpang turun di persimpangan, seseorang yang duduk di sebelahnya yakni di bangku nomor tiga lalu tanpa permisi ke pengemudi kau segera saja pindah ke sana. Ia mendengar ceritamu sepanjang perjalanan seakan kau seorang pendongeng atau barangkali kehadiranmu serupa rintik hujan yang menyejukkan. Ia sendiri enggan membicarakan lebih dalam tentang dirinya. Ia hanya menjawab ketika kau bertanya, semisal apa ia sudah makan atau apa ia merasa pusing agar kau membantunya membelikan minyak angin di kedai pinggir jalan.

Suatu kali kau melihat ia memijit-mijit kening dan mematah-matahkan leher. Kau mohon izin mengubah posisi kursinya agar ia menyandarkan bahu, supaya ia bisa meluruskan kaki dan kau—entah kenapa lagi-lagi merasa ia merupakan bagian dari yang perlu kau lindungi. Sesuatu dalam dirimu berkata: meski ia mungkin kekasih dari seseorang yang mencintainya dengan hebat, dirimu justru teman terbaik untuk berbagi cerita. Kau punya bahu yang kuat. Kau punya punggung yang kokoh. Kau bisa menampung seberat apa pun beban kisah itu nantinya.

“Aku punya dua orang anak,” katamu, memecah keheningan.

Ia menjadi serius seakan lupa pada apa yang berkecamuk di dadanya. Ia ingin bertanya ke manakah anak-anak itu sekarang, atau istrimu sedang di mana: apa kau bertengkar dengannya, apa istrimu masih hidup, namun ia sungkan mengutarakannya—ia baru kenal denganmu dua hari lalu. Menurutnya tidak baik menanyakan hal-hal bersifat pribadi kecuali seseorang itu sendirilah yang dengan suka rela menyampaikannya.

“Boleh aku tahu namamu?” kau bertanya.

“Ta ….”

“Ta?”

“Tarida.”

“Aku sendiri Mangara. Panggil saja Ara.”

Lalu mendadak saja kau merasakan tanda-tanda kalau ia ingin muntah. Ia memegangi mulut menahan sesuatu yang sudah terlalu mendesak. Jemarinya mencari-cari, kau bertanya dan ia mengisyaratkan butuh kantung plastik. Bagi yang bukan pemabuk sepertimu tentu muntah dalam perjalanan merupakan hal paling menyiksa. Seharusnya perjalanan itu menyenangkan mata, hati, pikiran.

Kau membukakan botol air mineral. Ia berkumur, membuangnya ke kantong plastik dan kau sempat mencium aroma seperti belerang namun cepat-cepat mengabaikannya. “Oleskan minyak angin ke perut dan keningmu,” ujarmu, terlebih dahulu mengawalinya dengan kata ‘maaf’ agar kau tak mendapati dirimu terkesan sebagai laki-laki yang telah membuat seorang kenalan baru menjadi risih. Menit-menit berikutnya di saat ia sudah tertidur kau membaguskan syal ungu yang gulungannya melonggar meski kau tetap saja berdebar takut dikira berbuat macam-macam.

Menit berikutnya lagi separuh kepalanya bertumpu di bahumu, kau jadi terbayang pada wanita yang sangat kau cintai. Wanita bernama Dinar yang telah memberimu dua orang putra dan tiba-tiba kau teringat saat mengganti popok bayimu di usia dua bulan. Peleburan tertinggi dari seorang laki-laki terhadap wanita yang kemudian disebut satu menurutmu melakukan hal biasanya dihindari para suami yakni mengurusi yang bau-bau pada diri anak-anaknya—kau bahkan pernah mengisap lubang hidung mereka ketika mampat. Dan hal paling kau suka ialah menciumi kepala bayimu, meletakkan begitu lama bibirmu di atas ubun-ubunnya yang belum ditumbuhi rambut hingga kau rasakan denyutan-denyutan lembut lalu membisikkan sebaris doa kepada denyutan itu: aku mencintaimu. Mencintaimu sejak pertama dan selamanya. Seketika itu pula kesedihan menusuk-nusukmu, sebab sewaktu membayangkannya mereka itu sudah tak ada. Maka kepada seseorang yang baru sehari kau mengenalnya begitu dekat kebaikanmu pun tumpah. Kau tarik selimut. Kau selimuti ia yang lelap di bahumu.

Bus Antar Provinsi bermanuver sangat liar. Wanita itu menarik lengannya darimu. Ia kaget mendengar bunyi deruman keras. Sebelumnya ia ingat sudah pernah suara yang begitu terjadi: tadi, ketika Bus Antar Provinsi mogok dan ada yang diperbaiki di bagian mesinnya padahal bus itu bukan kelas ekonomi—ia bus ber-AC—tak masuk akal kurang sehat begitu. Remnya putus, teriak sopirnya. Mendadak ada yang melompat dan kalian sempat melihat sepasang lutut habis dijilat aspal diiringi histeris penumpang meneriakkan Tuhannya masing-masing.

Bus Antar Provinsi baru saja diservis. Diganti catnya. Dibongkar mesinnya. Diperbaiki lampu, klakson, diganti olinya dan lain-lain. Intinya bus itu habis pulang dari perawatan. Ia kembali cantik setelah setahun beristirahat total. Tentang mengapa ia beristirahat sampai setahun tidak ada yang tahu pasti kecuali orang-orang tertentu.

“Ada apa?” tanya wanita itu dengan napas berdesak-desakkan di dada. Ia kelihatan sangat panik serta ketakutan tampak di sorot matanya.

“Kita akan baik-baik saja,” jawabmu, menenangkan hatinya sementara kau tak mampu menjinakkan kecemasan yang luar biasa membadai di jantungmu, pikiranmu, perasaanmu. Bayangan-bayangan ngeri dari tiga tahun lalu saat kau kehilangan tiga orang terkasihmu yakni istri dan dua putramu kembali menyetani dan membuat kekhawatiranmu menggunung-gunung. Saat resah gelisahmu kian membesar refleks saja kau memeluk dirinya yang menggigil.

“Aku takut, Ara. Aku takut,” pekik wanita itu, menyebut namamu untuk pertama kali dan kau merasakan debur dadamu dua kali lipat kekuatannya. Debur antara ketakutan dan perasaan yang tak kau ketahui kenapa tapi saat itu kau teringat saat jatuh cinta kepada istrimu. Kau mengambil tangannya ia rela. Kau mendekapnya ia diam. Namun setelah sekian lama kesepian kenapa jatuh cinta lagi itu harus terjadi di saat-saat genting seperti ini?—kau merasa ini tak adil, sungguh tak adil. Kau protes akan waktu yang bikin kadar cintamu mendadak berlipat ganda, oleh karenanya kau menjadi semakin takut pada kehilangan. Kau mulai menyesal mengapa punya hati yang mudah mencintai. Jatuh cinta, kau tahu artinya, yaitu merelakan hatimu agar selalu siap merasakan sakit.

Bunyi yang lebih keras datang lagi. Letusan besar naik ke atas. Ban landas. Kau dan ia menyadari kalian semakin turun dan kalian tak berani melihat ke mana arah itu menuju. Pengemudi memutar habis ke kiri, terbanting ke batu. Bus Antar Provinsi terombang-ambing di tebing curam di mana pepohonan berpatahan karenanya. Lalu di depan sana yang kemudian menjadi di bawah kaki kalian terpampang hamparan danau berwarna hijau. Sepasang ikan mujahir yang tadi berenang pelan-pelan kini kucar-kacir setelah salah satu dari mereka sempat menabrakkan mulut ke leher ikan sebelahnya.

Ara, ini hitungan kedua puluh satu setelah hari itu. Sudah selama itu kau koma. Di sekujur tubuhmu ada kabel dan Tarida ingin sekali membantumu mengakhiri penderitaan. Dari sisi bahu kananmu ia bersedih. Kau tak kunjung merasakannya. **

                                                                                                Riau, April 2017


Jeli Manalu Lahir di Padangsidimpuan, 2 oktober 1983. Tinggal di Rengat-Riau. Buku kumcer terbarunya Kisah Sedih Sepasang Sepatu (Basabasi, 2018)

Esai

Dari yang Lalu dan Sekarang yang Berjalan

Oleh Yohanes Bara

“Rumah tanpa buku bagaikan ruangan tanpa jendela,” kata Horece Mann, reformis pendidikan Amerika Serikat. Ruangan tanpa jendela itu pengap, gelap, dan sesak. Demikian juga pikiran tanpa buku, isinya hanya kekosongan, kegelapan, dan kesesakan. Artinya, kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bukan terletak pada tempat tertutup, tetapi pikiran yang tertutup karena tak pernah bersentuhan dengan buku. Mortimer J. Adler dalam Cara Membaca Buku dan Memahaminya (1986) menilai membaca adalah kegiatan melakukan penemuan, mengantar dari tak paham menjadi lebih paham. Atau, membaca untuk mendapatkan informasi. Membaca untuk memahami membuat seseorang bisa menjelaskan mengenai sesuatu, sedangkan membaca untuk mendapat informasi berujung pada penghapal yang hanya bisa menceritakan ulang tanpa pemahaman.

Membaca juga sebuah peristiwa mendapat sekaligus kehilangan. Dengan membaca, seseorang mendapatkan wahana baru dalam pikirannya. Dengan membaca, seseorang kehilangan waktu untuk melakukan kesenangan lain, sebab membaca merupakan aktivitas tunggal yang tak dapat disambi hal lain. Kekosongan, kegelapan, dan kesesakan itu bisa menimpa orang atau negeri. Negeri tanpa buku ibarat negeri tanpa jendela, negeri tanpa pemahaman dan penemuan. Keadaan yang pernah dialami Indonesia sebelum buku dititipkan lewat kapal-kapal dagang kolonial atau barang bawaan misionaris.

Sejarah buku bermula dari ekspansi ekonomi kolonialisme Belanda melalui Verenigde Nederlandsche Geoctroyeerde Oost-Indische Compagnie (VOC) terhadap produksi rempah-rempah Hindia Belanda pada tahun 1596. Saat itu, VOC merasa perlu memanfaatkan pers untuk mencetak hukum yang termuat dalam maklumat resmi pemerintah. Para misionaris Gereja juga punya peran memperkenalkan percetakan di Hindia Belanda karena berkepentingan memenuhi percetakan kitab-kitab keagamaan dan traktat. Bahkan mereka sudah memiliki mesin cetak dari Belanda pada 1624 meskipun baru memproduksi sebuah Tijtboek, sejenis almanak pada 1659 oleh Kornelis Pijl.

Percetakan awal ini tercatat lebih banyak menerbitkan dokumen-dokumen VOC hingga pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Gustaaf Willem Baron van Imhoff tahun 1744 terbitlah surat kabar pertama di Hindia Belanda bernama Bataviase Nouvelles yang dikelola oleh saudagar muda yang diperbantukan di kantor VOC, Jan Erdman Jordens (Ahmat Adam, Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan, 1995).

Surat kabar pertama ini hanya berukuran kertas folio yang berisi dua kolom di masing-masing halamannya. Bataviase Nouvelles berisi maklumat pemerintah dan iklan lelang yang diedarkan pada kalangan pegawai VOC saja dan sebagian kecil orang Eropa. Kerena dikhawatirkan isi surat kabar ini akan mengganggu monopoli Kompeni Belanda, akhirnya berhenti terbit pada 20 Juni 1746. Setelah gagal mendirikan percetakan pertama pada 1624, para misionaris kembali memiliki mesin cetak pada 1743 yang diletakkan di Seminarium Theogicum di Batavia. Percetakan ini mencetak Perjanjian Baru dan buku doa dalam terjemahan bahasa Melayu, hingga pada 1755 mereka dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng milik pemerintah.

Setelah VOC bubar pada 1799, usaha percetakan misionaris kian bertambah, salah satunya mesin cetak pertama di Kepulauan Maluku yang tiba tahun 1813 dan baru beroperasi pada 1819 dengan mencetak brosur keagamaan, buku sekolah dasar yang dikelola Gereja, dan surat kabar dengan bahasa anak negeri, Bintang Oetama (1858). Sejarah percetakan dan perbukuan di Nusantara pun berkembang beriringan dengan perkembangan misionaris dan sekolah-sekolah Belanda.

Sejarah panjang berbukuan tak menjamin literasi Indonesia maju dan berkembang di abad XXI. Indonesia masih memiliki masalah-masalah besar terkait literasi. Oleh sebab itu, pemerintah buru-buru membuat program Gerakan Literasi Nasional (GLN) tahun 2016. GLN setidaknya diterjemahkan dalam 6 bidang pokok: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, serta literasi budaya dan kewargaan. Kemudian diwujudkan lokakarya-lokakarya terkait sosialisasi kebijakan teknis bagi peserta di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu menjadi program di sekolah-sekolah.

Dalam pelaksanaannya, ternyata GLN tak hanya menjadi domain Kemendikbud. Pertamina, bersamaan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2019, mengadakan kompetisi mural di Balikpapan dengan menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR), dengan mengangkat 6 bidang pokok yang sama dengan GLN. Di tingkat daerah, Jawa Barat, Malang, Papua Barat, Lampung, Balikpapan, Kalimantan Barat, dan Solo sudah membuat program-program dalam rangka peningkatan literasi. Mulai dari lomba-lomba, pembentukan duta baca, perpustakaan keliling hingga pengadaan buku sudah diupayakan pemerintah daerah masing-masing.

Namun, apakah membaca dalam program GLN sebatas kegiatan membaca untuk mendapatkan informasi atau membaca sebagai sebuah proses penemuan pemahaman baru? Tentu masih perlu kajian mendalam untuk menjawabnya. Jika merujuk pada kajian dari World Economy Forum 2017, kualitas jenis bacaan akan sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Sehingga program kampanye literasi tidak hanya berkaitan pada penganggaran tetapi juga memperhatikan konten literasi.

Untuk mendukung upaya GLN, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengucurkan Rp 10 triliun setahun untuk pengadaan buku. Pemerintah Solo beberapa tahun lalu juga menyemangati gerakan literasi dengan mendirikan Monumen Patung Soekarno Membaca di Taman Plaza Manahan. Sesuai namanya, patung perunggu senilai Rp 1,5 miliar itu berbentuk Soekarno sedang membaca buku atau lebih tepatnya sedang memangku buku karena tatapan mata Sang Proklamator ini tidak pada buku.

Dengan besaran anggaran yang tinggi dalam setiap program dan proyeknya, sulit dibantah bahwa nalar birokrasi adalah nalar anggaran. Bahkan terkadang menggunakan nalar politis yang sarat kepentingan. Misalnya, mengapa Soekarno disimbolkan sebagai seorang pembaca? Padahal Mohammad Hatta dikenal lebih pembaca dari Soekarno. Semasa kuliah di Handels-Hogeschool Belanda, dalam sebuah masa liburnya di Hamburg, Hatta memborong 19 judul buku sekali beli (Mohammad Hatta, Untuk Negeriku, 2011). Saat Hatta dipenjara di Glodok tahun 1934, ia pun membawa buku-bukunya. Bahkan, dalam masa pembuanganya di Boven Digul (Papua), Hatta membawa 4 peti berisi buku.

Hatta selalu identik dengan buku, membaca dan menulis, yang artinya memuliakan literasi. Gambaran suasana dan percakapan penulisan teks proklamasi ini kiranya dapat membawa kita ke rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia, Laksamana Tadashi Maeda pada dini hari 17 Agustus 1945, “Setelah duduk sebentar menceritakan hal-hal yang diperdebatkan Nishimura, Soekarno dan aku mengundurkan diri ke sebuah ruang tamu kecil bersama-sama dengan Subardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik. Kami duduk sekitar meja dengan maksud untuk membuat sebuah teks ringkas tentang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Tidak seorang di antara kami yang membawa dalam sakunya teks proklamasi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta.”

Dalam peristiwa tersebut, Soekarno berkata, “Aku persilakan Bung Hatta menyusun teks ringkas itu sebab bahasanya kuanggap yang terbaik. Sesudah itu kita persoalkan bersama-sama. Setelah kita memperoleh persetujuan, kita bawa ke muka sidang lengkap yang sudah hadir di ruang tengah.” Hatta menjawab, “Apabila aku mesti memikirkannya, lebih baik Bung menuliskan, aku mendiktekannya.” Soekarno yang mengakui bahwa kebahasaan Hatta adalah yang terbaik.

Peristiwa sejarah itulah yang sebenarnya mengingatkan kita pada episode-episode literasi, yang selalu mengaitkan agama, politik, dan peradaban. Akhirnya, pada masa sekarang kita diharuskan memikirkan kemajuan literasi. Pemerintah telah berbuat meskipun sulit maksimal. Dukungan dari berbagai instansi atau komunitas terus saja dibuktikan yang menginginkan masa sekarang tetaplah berliterasi supaya tidak malu pada masa lalu yang sudah menampilkan sejarah rumit dan panjang.

Yohanes Bara Bekerja di Majalah UTUSAN dan Majalah BASIS.

Puisi

Puisi Irma Agryanti

Aku Ingin Meninggalkan Diriku

aku ingin meninggalkan diriku. masa lampau membuatku mengingat yang hendak kulupakan. tapi di balik jendela tak ada orang lain selain diriku dan buku puisi yang berulang kali dibaca. pikiranku tak pernah lengkap, selalu ada yang tak bisa kupahami seperti cara untuk mencintaimu atau upaya menolaknya.
setiap hari cuaca begitu susah untuk ditebak, membuat perasaan tinggal lebih lama seolah tak pernah ada saat yang tepat untuk pergi.
barangkali aku terlampau lama menjadi seseorang yang merasa bersalah atau menanggung kesalahanmu, sebab seperti pertengakaran kerap tak memberi kemenangan, agar masing-masing selalu terkenang.
tapi aku dikalahkan bayanganmu. menerimamu sebagai apa saja yang terasa dekat denganku, meski sesungguhnya tak ada yang benar-benar bisa menanggung, kesepian yang sering menetap. 

2018


Seseorang Dalam Diriku

ada saat-saat dimana aku meragukan seseorang di dalam diriku. seseorang yang menyalakan lilin tapi memadamkannya berkali-kali, seseorang yang ingin dilengkapi tapi seringkali menjauh. keriuhan seperti kesedihan yang minta dihibur. juga perasaan, selalu datang bergantian, rentan dan mudah lepas, sedang pikiranku seperti kota besar, penuh oleh prasangka, perihal-perihal dunia yang nonsen. aku tidak menulis sajak meski aku menulis sajak. kekosongan adalah satu-satunya yang bisa dituliskan, semisal tunawisma yang menatap langit dan bicara untuk diabaikan. barangkali aku tak menyadari, setiap kali pintu dibuka adalah sebuah kemungkinan lain, semacam upaya menolak untuk menemukan agar tak merasa kehilangan. orang-orang sudah lama menjadi hari-hari sedang aku tak tahu siapa yang sesungguhnya tak nyata, seseorang di dalam diriku atau di luar diriku.

2018


Aku Ingin Berhenti Bunuh Diri

aku ingin berhenti bunuh diri

pikiran-pikiran tak tidur

adalah mayat di luar peti mati

dalam pejam kedinginan

angin melintas-lintas

tak saling bertemu dalam udara

adakah pemakaman di tiap simpang waktu

bagi lubang dada yang tak selesai digali?

aku ingin berhenti bunuh diri

sebab seperti mata lampu jalan

aku sudah kau padamkan, berkali-kali

2019


Setelah Kehilangan

mungkin ada suatu hari baik

setelah kehilangan

aku lupakan

lagu yang mematahkan

musik-musik sedih

seorang perempuan selalu mengaku

baik-baik saja untuk tak mengalah

tapi hati seperti sekumpulan abu

beterbangan bila disentuh

angin dingin yang menyakitkan

mengingatkan pada sudut kecil

tempat negasi dihidangkan

dan sesudahnya

hanya samar

hanya latar

kau tak lagi di sini

tak perlu ada 

2017


Merayakan Kesendirian

pagi hari; dingin memutih

tak ada angka di kalender

tak ada ingatan dalam kepala

aku bayangkan kesedihan-kesedihan

apa yang seharusnya adalah apa yang tak pernah ada

seperti kalimat selamat jalan yang mesti dilepaskan

agar seluruh ketakutan pergi

dan puisi kembali dituliskan

2019


Perak

adalah laut bergulung-gulung

adalah gugus bintang

adalah warna rambut bulan

adalah padang-padang adulam

adalah daun-daun palma yang ditebar

adalah perempuan di balik cadar

ia tamar yang mati dibakar

setelah yehuda menyingkapnya

2019


Upaya Memahami Dirinya Sendiri

ketika hari selesai, ia akan berbaring, melihat bintang jatuh dari jendela kamar dengan tangan yang tak menggapai, juga cahaya lain, memantulkan warna yang tak jelas batasnya dan dadanya terasa berangin.

ia gamang pada sesuatu yang tak tertebak, semisal, bahkan dalam hati langit yang lapang, ada sesuatu yang sukar ditemukan.

ia ingin bebas dari mengingkari bahwa kesedihan tak pernah selesai dikenang, meski, prasangka hanya sebagian komposisi melepas kenyataan, mengapa dirinya lebih suka tersedu.

2019


Aufklarung

seseorang datang

setelah lama bermukim

dari kematian musim

seseorang datang

membebaskan diri

dari seluruh kutukan 

perempuan yang menderita

menjalani hukuman

oleh cinta

bagian kelam dari kenangan

betapa panjang usia derita

waktu serupa nyalak anjing

suara lonceng di puncak menara

samar terdengar

2016


Delusi

seseorang menjadi tak waras

setelah meneguk anggur

ia menyeka, matanya seperti basah

tapi film biru lebih menyedihkan

dari surat-surat yang dikirim

mereka mudah terbakar

sedang cerita, samar dengan kebohongan

sseorang menjadi tak waras

selepas menelan pil tidur

ia menyeka, matanya penuh delusi

2019


Membayangkan Dina Oktaviani

aku ingin menjadi dina

sekalipun bukan

ia yang jatuh di tiap kelokan

bicara pada angin

dan setia mengasihi dirinya

sebab padanya

lampu-lampu langit menyala

juga sebuah jalan yang

menjauhi rasa sakit

tapi ia adalah duka

musik-musik pujian

yang luput dari doa 

senantiasa mendapati dirinya

sendiri menjaga cinta

dari sekadar kata

aku ingin menjadi dina 

sekalipun hanya

puisi

2019


Irma Agryanti, lahir di Mataram, Lombok. Puisinya tersiar di berbagai media lokal dan nasional.  Buku puisi terbarunya Anjing Gunung (Basabasi, 2018). Bergiat di Komunitas Akarpohon.

Buku, Resensi

Menemukan Kembali ‘Homo Ludens’

Oleh Joko Pinurbo

Kumpulan sajak ini mengingatkan kita akan pentingnya jati diri manusia sebagai homo ludens, makhluk yang suka bermain. Ia terbit di momen yang tepat, yaitu ketika kehidupan sosial kita kian didominasi oleh perangai homo faber, makhluk yang suka bekerja, dan homo politicus, makhluk yang suka berurusan dengan politik dan kekuasaan.

Kesuntukan manusia sebagai homo faber membuat manusia terperangkap dalam belenggu deadline demi mengejar kepentingan ekonomi dan materi. Dalam kecenderungannya yang ekstrem, homo faber berkembangmenjadi manusia yang gila kerja atau manusia yang mabuk kerja. Kesuntukan dan kegilaan bekerja yang berlebihan menjadikan manusia hidup dalam tekanan mental yang besar karena setiap saat ia ditanya dan ditagih oleh angka. Hidup adalah memburu, bukan menikmati. Hidup diliputi oleh ketergesaan.

Di sisi lain, nafsu dan perilaku manusia sebagai homo politicus telah menjerumuskan manusia ke dalam kancah pertarungan dan persaingan sengit yang kadang sangat barbar dengan hoaks, kebencian, dan politik identitas sebagai peralatannya. Dalam wataknya yang negatif, bagi homo politicus, hidup adalah berebut, bukan berbagi; memangsa, bukan memberi; memukul, bukan merangkul; memangsa, bukan mencinta. Hasilnya ialah lunturnya cinta kasih sosial, melemahnya semangat persahabatan dan persaudaraan.

Memudarnya jati diri manusia sebagai homo ludens di satu sisi dan kian dominannya nafsu manusa sebagai homo faber dan homo politicus di sisi lain, ditandai dengan menghilangnya mutiara-mutiara jiwa yang berharga: kesabaran, sikap rileks, selera humor, dan kegembiraan.Manusia-manusia yang dijajah oleh kekuasaan rezim homo faber dan homo politicus adalah manusia-manusia yang mengalami gangguan kesehatan mental: tegang, gampang sedih, dan murah marah. Menjadi homo ludens, dengan demikian, merupakan penyeimbang bagi dominasi homo faber dan homo politicus, dan itulah yang secara metaforis mau diwartakan oleh sajak-sajak Yuditeha.

Melalui kumpulan sajak ini kita dapat berjumpa kembali dengan aneka dolanan atau permainan tradisional yang pernah mengiringi pertumbuhan sekian banyak anak sebagai homo ludens. Yuditeha bukan hanya mendata dan mendeskripsikan kembali berbagai bentuk dolanan; ia juga menempatkan makna aneka dolanan tersebut sebagai bagian dari pendidikan karakter. Dengan demikian, sajak-sajaknya mau menunjukkan dan nilai-nilai falsafi—di samping niilai-nilai estetis—dalam dolanan.

Permainan atau dolanan memang bukan simulasi dan duplikasi dari kehidupan nyata. Ia merupakan dunia yang direka atau diciptakan dengan kekuatan dan keliaran imajinasi. Ia tidak dikendalikan oleh nilai-nilai pragmatis. Namun, justru karena sifatnya sebagai dunia rekaan, ia memiliki nilai penting sebagai sarana pembebasan. Pembebasan dari kehidupan rutin yang diwarnai oleh perhitungan untung-rugi. Dolanan merupakan bentuk rekreasi dan relaksasi yang mengingatkan kita bahwa keindahan, kebahagiaan, kelucuan dan kekonyolan bisa dinikmati dan dirayakan bersama. Dolanan merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan mental.

Meskipun merupakan dunia rekaan, dolanan—secara langsung atau tidak langsung—mengandung nilai-nilai ideal, nilai-nilai falsafi, atau nilai-nilai edukatif yang relevan bagi pengembangan karakter manusia. Menyelami sajak-sajak Yuditeha, kita bisa menemukan setidak-tidaknya lima butir keutamaan dolanan: (1) kegembiraan, (2) kebersamaan; hubungan antarpribadi, (3) kesabaran, ketenangan (4) empati, (5) kearifan: jujur, adil, ksatria (bisa menerima kekalahan dan kemenangan secara wajar).

Sajak berikut ini kiranya merupakan contoh bagus tentang bagaimana sebuah dolanan bisa merefleksikan nilai-nilai ideal dalam kehidupan manusia.

BAN-BANAN

Menggelindinglah di atas papan kayu

yang dijaga dengan ketenangan,

dan hanya jiwa yang jauh dari dengki

yang mampu melakukan perhitungan.

Tak bisa kau hidup sendiri

di tengah belantara masalah.

Hanya kompromi yang bisa menyelamatkan

manusia dari dunia rapuh,

hingga kelak akan diakui sebagai prajurit

yang pantas untuk melakukan

tugas sebagai ketua pandu yang terampil

dan paling disegani.

Sesungguhnya puisi pun merupakan dolanandolanan bahasa—yang menyuburkan dan menyegarkan kembali imajinasi; yang membebaskan kata-kata dari penjara kerutinan yang memiskinkan dan mematikan; yang ingin menghidupkan kembali kewarasan. Puisi adalah sebentuk rekreasi dan relaksasi bahasa yang anehnya sering dilakukan dengan cara yang tidak “waras”. Puisi adalah makhluk kesayangan homo ludens.

Selamat menunaikan ibadah puisi.

Yogyakarta, 20 Mei 2019


Joko Pinurbo, penulis puisi

Cerpen

Sepotong Masa Lalu di Depan Pintu

Cerpen Latif  N. Janah

Akulah saksi perjalananmu. Merebut hatimu sejak keluargamu sendiri tak menerima kau kembali. Akulah pemilik hatimu sekarang ini. Meski begitu, kau selalu berharap agar aku menghilang. Melebur bersama kenangan. Tetapi, nyatanya, aku semakin  hidup dan berjaya megah di kehidupanmu. Jika keluargamu menyebutku noda, kau justru lebih halus menamaiku penyesalan. Akulah yang lantas mengiringi hidupmu sejak Sania mencampakkanmu.

Kau membisu. Tanganmu masih menggegam terali besi jendela. Bibirmu bahkan tak mengucapkan sepatah kata pun. Terhitung sejak kedatangannya setengah jam yang lalu, yang kau lakukan hanyalah menatap ke luar jendela. Seolah-olah dengan begitu, kau bisa menemukan sedikit pereda kegugupanmu.

Ia datang bersama Maria, gadis kecilmu yang umurnya kini hampir lima belas. Kau sama sekali tak bernafsu melihat keduanya. Meskipun jauh di kedalaman hatimu, kau mengakui sebagai ayah Maria.Tetapi apa yang diajarkan keluargamu, memaksa untuk mengakui bahwa itu adalah aib. Sesuatu yang amat tak patut bahkan untuk dibicarakan sekalipun. Walau pada akhirnya, Maria-lah yang meluluhkan pendirianmu.

“Baiklah, jika kedatanganku tak kau terima. Kau boleh saja melupakanku, tapi tidak Maria.” Ada kepasrahan bergetar dalam suaranya.

Mendengar itu, wajahmu semakin berkerut. Bibirmu mengerucut, hendak mengatakan sesuatu. Tetapi ia, Sania, wanita yang dulu begitu kau cintai secepatnya pergi. Digandengnya Maria dengan tergesa.

***

Terkadang, dalam pikiranmu, kau anggap dirimu telah mati. Hanya agar kau merasa terhibur. Sementara luka di dadamu masih menganga. Buah dari penolakan yang dilakukan oleh orang tua Sania. Kau merasa seperti sampah. Dicampakkan begitu saja.

“Kau boleh pergi sekarang!” Begitu yang diucapkan orang tuanya ketika itu.

Kalimat itulah yang terpahat membentuk goresan di dalam hatimu. Dan kediaman Sania saat itu, terasa seperti air garam yang mengalirinya. Kau merasa perih tak terkira. Kau merasahanya menjadi alat yang digunakan untuk membuat pengakuan di atas kertas, bahwa Maria memiliki ayah yang sah.

Kepada siapa kau pulang. Itulah perkara yang merongrong pikiranmu. Jangankan menerimamu kembali, keluargamu tentu akan menertawakanmu. Jika saja kau tahu begini akhirnya, kau tak akan sudi menikahi Sania. Rasa cintamu padanya bukan sebuah tiket untuk mendapat penghinaan dari keluarganya.

Suatu hari, entah bagaimana kau sampai pada sebuah jembatan besar. Badanmu entah sudah berapa minggu tak tersentuh air. Daki dan rambutmu yang kumal adalah identitas yang kau sandang saat itu.

Saat matahari sejajar dengan kepalamu, sebuah mobil tiba-tiba mendekat padamu. Hal yang tak kau sadari saat itu adalah bahwa hanya kau sendiri yang berada di sana. Sementara orang-orang yang mirip denganmu sudah berlarian entah ke mana. Itulah yang kemudian merubah nasibmu.

*** 

Kini kau berada dalam sebuah rumah baru. Itulah yang kau dengar dari seorang perempuan yang memberimu sarapan, pagi itu. Kau merasa matahari terasa begitu hangat menyapa kulitmu. Begitulah yang kau lalui bertahun-tahun. Terkadang, kau merasa bahwa inilah yang akan kau lalui sepanjang hidupmu sehingga lambat laun kau melupakan sakit hatimu. Meski kau tak bisa menolak kenyataan bahwa kadang kau merasa iri jika melihat teman-temanmu didatangi orang-orang yang kemudian membawa mereka pulang.

Sampai pada suatu waktu saat seorang yang biasa memberimu sarapan mengatakan bahwa ada dua orang perempuan yang ingin menemuimu. Saat itulah untuk pertama kalinya, api di dalam hatimu seperti dipantik kembali.

“Mereka ingin sekali bertemu dengan Bapak,” ucap perempuan itu. Sementara wajahmu hanya menunjukkan kekosongan. Tak menolak, juga tak mengiyakan.

“Baiklah kalau Bapak tak mau,” ucapnya kemudian pergi. Saat itulah kau mendengar suara perempuan yang sama sekali tak asing di telingamu.

***

Petang itu, kau dikejutkan dengan kedatangan Maria, putrimu satu-satunya yang secara tiba-tiba berdiri canggung di hadapanmu. Kemudian kau tahu, bahwa ia memaksa untuk bertemu denganmu dengan alasan yang tak bisa ditolak. Wajah sekaligus mulutmu tak berekspresi apa pun. Kau diam untuk menutupi keterkejutanmu.

“Ibu ingin bertemu Ayah.” Dengan sedikit terbata, Maria berkata. Kau tak bersuara.

Dalam bayanganmu hanya ada kau dan Sania. Sania, bagaimana pun juga, pernah kau cintai dan mencintaimu. Meski sempat lupa, kau tak pernah bisa menghapus kenyataan bahwa ia jugalah yang telah membuangmu, hingga kau terdampar di sini, di pusat rehabilitasi.

“Ibu sangat membutuhkan Ayah,” kata Maria sungguh-sungguh. Kau tak mendengar sedikit pun kecanggungan saat ia menyebutmu ayah. Meski begitu, kalimat itu terdengar begitu klise di telingamu. Kau tetap diam, hanya untuk memperlihatkan keteguhan sikapmu.

“Baiklah jika Ayah tak mau. Tetapi perlu Ayah tahu bahwa Ibu tak pernah sedikit pun mengajariku untuk membenci apalagi melupakan Ayah.”

Itulah kalimat Maria yang tertanam di indera pendengaranmu. Sampai pagi datang, kau tak mampu memejamkan matamu. Hanya Maria dan secarik kertas bertuliskan sebuah alamat yang ia tinggalkan yang memenuhi pikiranmu.

***

Pagi itu terasa amat asing bagimu. Kau berdiri termangu di depan sebuah pintu. Kau hendak mengetuk pintu sebelum akhirnya pintu itu dibuka oleh seseorang dari dalam yang melihat siluetmu dari balik jendela.

Kau pupuk keberanianmu untuk masuk. Setelahnya, kau disambut dengan air mata Maria. Entah sedih atau bahagia. Yang kau lihat kemudian adalah Sania yang terbaring di ranjang. Tergolek tak berdaya. Tubuhnya terlilit selang-selang kecil entah berapa banyaknya. Kau memalingkan wajahmu beberapa saat, sebelum akhirnya  matamu kembali bertatapan dengan matanya.

“Berapa kali pun aku meminta maaf, aku tahu tak akan berguna,” kata Sania pelan.

“Meski begitu, itulah yang ingin kukatakan di hadapanmu juga Maria. Kau tak harus memaafkanku, tetapi jika kau berkenan, tinggalah di sini sebagai penebus kesalahanku juga keluargaku dulu.”

Itulah kalimat terakhir yang kau dengar dari Sania. Tangis Maria pecah dalam pelukanmu. Dan saat itu kau sadar, kau tak pernah dilupakan.***

***

Menjelang Sore, Januari 2017-April 2019


Latif Nur Janah Lahir di Sragen.Gemar menulis cerpen.

Puisi

Puisi Eko Setyawan

Memulangkan Pelukan

1.

pagi masih hangat.

meskipun pelukan sudah beranjak pergi.

2.

tak kutemui dirimu—

di sela-sela udara

yang memukul-mukul kenangan di kepalaku.

apa tak ada yang lebih berbahagia selain

kesedihan yang mengurung diri?

3.

“begitulah nasib bekerja, ia lebih keras kepala

dibanding cinta yang ditanam.”

4.

segala hal, tak pernah di mulai

jika tak ada akhir.

hari ini adalah kemarin yang lahir

dari tangisan di rerumputan yang menjelma embun.

            : di sembab matamu.

lesaplah kesedihan itu.

merupa cahaya yang memancar.

dari balik gunung yang jauh.

5.

selalu tak dapat kusapu binar matamu.

bergegas pergi dan mengemas diri.

kubekali kau tenunan langit pagi.

agar sewaktu-waktu—

kau dapat menyelimuti diri

dan kau dapatkan lagi pelukan

yang sengaja kau tinggalkan.

(2019)


Merapikan Ingatan

tak ada yang bisa kukecup selain rona pipimu.

ia merah muda.

seperti kedua tangan selepas bertepuk tangan.

seperti menjadi sejumput awan,

sekecil apa pun, ia tak akan tahu—

ke mana angin akan mengajaknya pergi.

begitulah cinta bekerja.

ia seperti doa.

dirapal khusyuk bagi ia yang meminta.

keinginan adalah doa yang terus menerus ditebar.

kita hanya bertugas menerima.

“tapi adakah yang sudi merapalkan duka?”

“tapi— adalah kata yang tak menolong.”

pulanglah tanpa alasan.

tanpa benar-benar berpikir bahwa—

di dunia ini, di kepalamu,

bersarang ingatan tentang perpisahan yang menyakitkan.

(2019)


Cinta yang Berlebihan adalah Bencana

1.

kujadikan diriku pedestrian dan tak

kudapati apa-apa selain perjalanan yang jauh.

kuikuti langkah kaki.

pergi dan tak tahu arah kembali.

2.

kukira cinta yang menuntunku.

namun setelah kubaca ulang karcisku.

ternyata hanya kesedihan semata.

3.

aku keras kepala.

kugiring kesepian pada kegelapan.

tak ada apa-apa.

tak kutemukan tempat baru.

segalanya berbekas dan tetap sama.

4.

kurapikan ulang langkah kaki.

kuingat benar bahwa− kau atau mungkin yang lain−

pernah berbahagia dengan cara yang sederhana.

5.

“bukankah cinta yang berlebihan adalah bencana?” katamu.

6.

kutarik langkahku. kupulangkan pada jalan

entah menuju ke mana.

(2019)


Mengemas Kesedihan

kutekan tombol silang pada remot.

hidup berhenti barang sesaat sembari menunggu

kereta yang mengantar rindu kembali ke dada.

matahari bermukim di atas kepala.

mekar dan memberi cinta di bawahnya.

“apa yang telah kembali?”

cinta yang pergi menjauh.

kereta yang lupa mengerami peron.

cinta yang lahir dalam deru kereta.

mungkin pula matahari  masih ada di atas kepala.

tak ada yang boleh bersedih di antara kita.

(2019)


Kau ialah Puisi

             : perempuan penjaga ruang CR

kuhirup bau buku-buku—

terselip semerbak namamu.

ruapnya ialah taman bunga.

ia menyebar di tubuhku.

menjadi pelukan yang tak henti-hentinya diberikan.

matamu, seutas puisi yang belum usai.

bercahaya dan enggan padam.

menunggu hingga titi mangsa disematkan.

senyummu cahaya.

menembus sela-sela jendela.

menjelma siluet yang hangat.

niscaya.

seluruhmu.

aku.

(2019)


Memadamkan Kenangan

gugurlah ia melawan cemburu.

dalam dada yang biru sempurna.

seumpama mati.

hidup adalah bertahan.

di tengah segala putus asa.

cinta seperti awan yang ranggas.

tak ada yang disentuhnya.

selain langit yang padam.

turunlah hujan dan turunlah pula malaikat.

seraya berbisik—

“usaikanlah kenangan, ranggaslah kesedihan.”

(2019)


Ruang Maaf

tak ada yang bisa dijawab setelah persinggungan

antara baik dan buruk.

tangan kanan tak lain kabar yang semu.

serupa sebuah sentuhan dan pukulan kecil di bibir.

tebakan buruk dianjurkan untuk diubah menjadi kapal

di buritan, air menyepi dan menggantung pada lengan kiri

menjelma pundak bagi si murung.

terbuat dari apakah jawaban?

seperti kalung tanpa liontin, malam

tanpa suara jangkrik, jalanan

tanpa pengendara, aku tanpa kau.

untuk kembali mengikatnya

entah seuntai tali atau makian— perlu ditautkan

pada sebuah huruf yang saling bersisian

hingga kita dibuatnya jatuh cinta.

sebab tak ada pertanyaan yang berganti

pahala dan dosa tak ubahnya sepasang kesalahan

yang tak hentinya direngkuh oleh maaf.

dan ketika segalanya usai.

usia mengabur dan bimbang memandang.

masih adakah ruang maaf di kepalamu?

(2018)


Perihal Masa

Aku magrib, kau subuh.

Kita senasib, tapi tak utuh.

(2019)


Eko Setyawan, Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional.

Buku, Resensi

Suara Lain untuk Mengingat 1998

Resensi oleh Setyaningsih

Bagi Intan Andaru, 1998 adalah pengingatan pada Tragedi Banyuwangi. Penulis yang pernah terlibat Residensi Penulis ASEAN-Jepang dan ASEAN Literary Festival 2017 ini seperti ingin menegasi pengingatan publik atas Tragedi Mei 1998 atau peristiwa akbar-nasional Reformasi. Tragedi lokal yang pernah mengguncang publik nasional, disuarakan untuk mengingatkan pada pengalaman dan trauma kolektif sebagai seorang Banyuwangi lewat novel Perempuan Bersampur Merah (2019). Tragedi Banyuwangi 1998 pernah membantai dukun-dukun pengobatan yang dituduh menyebar penyakit kiriman atau santet. Ketakutan tentang teror ninja yang bergerak cepat, membunuh, dan bisa menghilang beredar. Entah lebih dipicu intrik sosial, kecemburuan personal, huru-hara politik, sampai puritanisme agama yang menghendaki perdukunan ditiadakan, tragedi lagi-lagi meminta pengorbanan dari orang-orang tidak bersalah yang mungkin telah dilupakan untuk mendapat suatu keadilan.

Intan memilih cerita dinaratori aku yang bocah dan perempuan bernama Sari. Dibandingkan dinaratori seorang dewasa, narator bocah lebih memungkinkan penciptaan-penciptaan suasana dan ujaran yang naif, lugu, dan rasa pasrah tapi ingin melawan. Saat bapak Sari dibantai, dia hanyalah bocah tanpa daya yang jelas secara terselubung menampakkan ketidakmengertian atas tragedi. Lewat pernyataan-pernyataan kecil yang berkelebat dalam benak bocah, gugatan-gugatan atas ketimpangan status sosial masyarakat, penghukuman sosial, kemiskinan berusaha dibangun oleh penulis.

Kita cerap, “…aku sungguh masih dapat merasakan kejadian malam itu: Ingatanku tentang segerombolan orang yang mengepung rumah. Suara berisik yang mendebarkan. Kegaduhan yang membuat kami gemetaran. Juga mereka yang melukai Bapak: orang-orang yang tak kukenal dan sebagian tetangga yang mengikuti mereka dari belakang. Dalam gelap itu, aku mampu memandang dan merekam siapa saja orang yang menatap iba hingga membantu keluarga kami, juga siapa saja yang menatap penuh benci pada Bapak” (hal. 70). Seorang bocah mudah mengingat. Sejak sekolah dasar, Sari menggunakan pengingatan untuk mencari nama-nama orang yang konon mati karena disantet. Jika masyarakat tidak bisa dibuat memercayai, Sari yang akan terus percaya bahwa bapak bukan orang jahat seperti yang dituduhkan.

Ikon Pembangun

Selayaknya novel yang ingin terlibat mengabarkan tragedi dan intrik manusia, percintaan adalah suatu kewajiban meski klise. Semakin dewasa, peran Sari tidak lagi sebagai bocah yang mencari peradilan atas nama bapak. Peran itu sepenuhnya beralih dan dipercayakan Intan Andaru kepada Rama, lelaki terkasih Sari. Sejak kecil, Rama muncul dalam strata pendidikan lebih tinggi bertaut dengan imajinasi kemakmuran dan pekerjaan di masa depan. Rama ditokohkan untuk meninggalkan kampung yang miskin, tidak berpendidikan, dan masih berkisar di klenik.

Lulus SMA, Rama menjadi mahasiswa, elite terpelajar yang digadang menjadi ikon pembangun (nasional) terutama sejak masa 70-an dan menguat sejak Reformasi bergulir. Kita tentu bisa menduga, Rama bukan hanya kuliah untuk kuliah. Dia menjadi aktivis, tekun di organisasi, ikut demontrasi, dan berurusan dengan polisi. Bahkan kepada Sari yang jelas miskin dan tidak memiliki modal ekonomi atau sosial, Rama berkata, “Gimana ya. Kan cuma empat tahun. Ini demi masa depanmu. Jadi sarjana itu penting ndak hanya untuk cari kerja, tapi juga untuk mendidik anak nanti” (hal. 161). Rama menghendaki kesetaraan pendidikan bagi perempuan, tapi tetap dengan cara yang partriarkis. Sebagai penulis perempuan, Intan Andaru tidak bisa melepaskan diri dari isu-isu sosial berkait dengan perempuan.

Tentu dari segala urusan akademis dan aktivis dilakukan oleh Rama, Intan Andaru menggunakan jalinan asmara untuk mendekatkan tragedi Banyuwangi yang komunal sebagai urusan personal antara Sari dan Rama. Sari mendengar kenyataan bahwa, “Rama bergabung sama aktivis HAM dan sering demo di jalan-jalan. Dia menemui banyak orang untuk neliti kasus pembantaian dukun-termasuk kasus bapakmu yang ndak pernah bisa kita pecahkan itu. Dia juga yang sudah sibuk-sibuk mengusulkan agar kasus bapakmu itu dibuka lagi sampai ada pertemuan-pertemuan yang kamu datangi kemarin. Dia bahkan rela skripsinya terbengkalai” (hal. 194). Intan Andaru terlampau heroik memahasiswakan Rama sebagai bentuk perlawanan Rama pada superioritas dan status sosial bapaknya, tapi sekaligus pihak penghasut agar warga menghukum bapak Sari yang jelata dan tertuduh nyantet.

Intan Andaru memang tidak secara tersurat membawa kembali kasus lokal ke publik nasional. Terlepas dari bahasa yang kurang luwes dan enak, barangkali karena pengalihan data riset atas tragedi Banyuwangi 1998 ke narasi novel, Intan Andaru berkeras memberi suara pada lokalitas. Tragedi harus dibawa kembali ke ranah nasional agar selesai atau setidaknya mengurangi trauma kolektif pada masa lalu. 1998 tidak selalu memusat di Jakarta pada suatu Mei yang kelam, tapi juga di Banyuwangi yang mencekam.

Setyaningsih, Esais. Pembaca Buku. Penulis cerita “Peri Buah-buahan Bekerja” (Kacamata Onde, 2018) Email : [email protected]

Ragam

Kala Seniman Bicara Krisis Lingkungan

Pameran Seni Rupa “Fish Out of Water”

Plastik hadir di muka bumi ini diawali oleh Alexander Parkes yang pertama kali memperkenalkannya pada sebuah eksibisi internasional di London, Inggris pada tahun 1862. Plastik temuan Parkes disebut Parkesine ini dibuat dari bahan organik dari selulosa. Namun, setelah beberapa dekade yang singkat sejak manusia menggunakan plastik, ia menjadi salah satu momok dalam  persoalan lingkungan. Selain sebagai limbah yang merusak daratan dan mengotori lautan, sampah plastik juga termakan dan meracuni hewan-hewan laut.

Poster Pameran Seni Rupa: Fish Out of Water

Menurut Ocean Conservacy Report 2015, setiap tahunnya, ada delapan juta ton sampah plastik yang mengambang di laut. Kira-kira, per menit, ada satu truk sampah plastik yang dibuang ke sana. Dampaknya? Lihatlah bagaimana kondisi hutan bakau Vietnam yang dipenuhi dengan kantung plastik, seekor paus di Thailand mati akibat menelan sampah plastik, dan limbah menyelimuti pantai-pantai Indonesia. Perlahan tapi pasti, persoalan plastik menjadi potret suram mengenai krisis yang mencengkeram Asia.

Lebih dari setengah jumlah tersebut berasal dari negara-negara seperti Tiongkok, Indonesia, Filipina, Thailand dan Vietnam. Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Meski angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka tentu persoalan plastik ini tidak bisa terus menerus dibiarkan menghantui peradaban.

Di tengah kekhawatiran itu, Art Xchange Gallery meresponnya dengan menggelar pameran seni rupa bertajuk “Fish Out of Water” yang digelar pada 16 Mei – 13 Juni 2019 di Townhouse Cordoba No.77, Pantai Indah Kapuk. Pameran yang menggabungkan berbagai media yang berbeda dari seni lukis, patung, desain produk hingga desain mode, yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan bahan plastik atau memiliki tema terkait tentang masalah plastik.

Foto-Foto: Dok. Art Xchange Gallery

Ada 14 perupa yang ikut serta, di antaranya ada nama Camelia Mitasari Hasibuan, Ignasius Dicky Takndare, Ang Che Che, Budi Asih, Burhanudin Reihan Afnan, Dedi Imawan, Deny Nugraha, Hendro Hadinata, I Made Santika Putra, Denny Rasyid Priyatna, Ahmad Subandiyo, Walid Syarthowi Basmalah, Pardiyanto Semper, dan S. Soneo Santoso.

Tentu saja, sesuai tema perhelatan seni itu nanti, Anda akan dapat melihat bagaimana para perupa merespon sebuah masalah lingkungan melalui karya-karyanya. Sebut saja Ignasius Dicky Takndare, perupa yang memilih kulit kayu sebagai media dan ciri khas karya seni dari Papua itu memamerkan salah satu karyanya yang berjudul “The Long Walks Contemplations”. Menurut Dicky, karya tersebut lahir dari kegelisahannya mengenai persoalan-persoalan lingkungan dan kemanusiaan pada tanah kelahirannya.

“Karya itu berbicara tentang siklus kehidupan. Meskipun ciri khas Papua sangat kuat, tetapi itu berbicara tentang kehidupan semua manusia. Siklus kehidupan dan pertarungannya akan dapat kita lihat serupa gerak dari jarum jam. Dalam karya itu, akan kita temui fase keharmonisan manusia dan alam, fase manusia mulai serakah, fase ketika manusia dengan benda tidak bisa dibedakan lagi, hingga pada akhirnya akan kembali pada fase permulaan zaman,” ungkap Dicky.

Sedangkan bagi Camelia Mitasari Hasibuan, tema tentang alam, lingkungan, ekosistem, dan sampah bukan hal asing lagi bagi perupa perempuan ini. Pada pameran itu nanti, Camelia akan menampilkan dua karyanya. Pada  lukisan “Which One is My Food?” dan  “Harapan yang Tersisa”, ia menjelaskan begitu banyak sampah di lautan saat ini. Hingga lautan yang semula jernih, sekarang menjadi lautan tak ubahnya tempat pembuangan sampah.

Baginya, ini sangat memengaruhi kehidupan ekosistem di lautan. Salah satunya burung pelikan. Burung pelikan adalah salah satu jenis burung yang hidupnya sangat bergantung dengan laut. Burung pelikan biasa mencari ikan-ikan di laut sebagai makanannya. Namun, karena masalah sampah seringkali burung pelikan sulit untuk membedakan antara ikan dan sampah.

“Begitu banyak tempat di bumi ini dipenuhi dengan sampah-sampah hasil dari perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab, bahkan hingga ke hutan. Habitat bagi binatang-binatang dan beragam tumbuhan serta tempat mencari makan hingga tempat berkembang biak saat ini tidak hanya menghadapi ancaman pembalakan liar, tetapi juga mulai dipenuhi dengan sampah. Jadi akibat sampah ini, tidak dihadapi oleh manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan. Hewan dan tumbuh-tumbuhan dalam hutan tidak memiliki pilihan lain kecuali beradaptasi dengan situasi ini,” ujar Camelia.

Direktur Art Xchange Gallery, Benny Oentoro mengatakan, pemilihan judul “Fish Out of Water” seperti sebuah ungkapan. Polusi yang disebabkan oleh plastik, merusak dan mencemari lingkungan kita dapat disamakan dengan ikan yang tidak dapat bernapas jika berada di luar habitatnya. “Seperti ikan, manusia juga akan mati lemas dan tercekik ketika udara yang kita hirup terus menerus terpapar oleh berbagai jenis polusi, termasuk lingkungan kita yang tercemar oleh limbah plastik,” kata Benny.

Melalui pameran ini, Benny berharap, seorang seniman dan karyanya  dapat berperan dan menjadi bagian dari inisiatif global dalam memerangi limbah dan polusi. Karena bagaimanapun, persoalan ini adalah bagian dari dunia tempat kita hidup, dan itu adalah tugas manusia, termasuk seniman untuk melindunginya.

“Kami berusaha menciptakan kesadaran tentang polusi limbah plastik yang telah menjadi ancaman global. Kita harus mulai memainkan peran kita sebelum terlambat. Sebisa mungkin membantu selamatkan planet kita. Dan sebagian dari hasil penjualan karya seni yang kita pamerkan, akan kami sumbangkan untuk komunitas di TPA Bantar Gerbang,” ujar Benny. [] Wahyu Indro Sasongko

Cerpen

Dua Alasan Hukuman Mati

Cerpen Koesmiyati Harsanto

Bagaikan busur raksasa, kerumunan ratusan manusia membentuk setengah lingkaran di lapangan kompleks militer yang kering dan berdebu. Mereka saling berkelisik satu sama lain seraya memandang tiang pancang yang berdiri kokoh, siap memeluk seorang  terpidana yang nantinya akan diikat di situ untuk menerima hukuman mati. Di antara tiang pancang dan penonton, sebarisan regu tembak berdiri memunggungi kerumunan, bersiap dengan senapan masing-masing.

Pengelana Muda menyelinap di antara kerumunan. Jiwa petualangnya berdebar menduga-duga apa yang akan dia lihat selanjutnya. Telah belasan negeri ia jelajahi. Banyak sudah kematian dia saksikan. Namun baru kali ini dia menjumpai prosesi hukuman mati yang dipertontonkan pada khalayak ramai. 

Dengung yang semula memenuhi udara berubah senyap tatkala dari pintu salahsatu bangunan di sana, lima orang berseragam warna khaki muncul menggiring seorang perempuan bertubuh mungil yang bagian matanya terbebat kain hitam.

“Kejahatan apa yang dilakukan perempuan itu hingga harus dihukum mati?” dengan rasa penasaran Pengelana Muda bertanya pada pemuda di sampingnya. Pemuda itu menatapnya dengan pandangan menyelidik.

“Kau pasti berasal dari negeri yang jauh,” kata pemuda itu kemudian. Pengelana Muda menelan ludah. Tak perlu usaha keras untuk tahu dia pendatang dari jauh. Meski dia bisa berbicara bahasa yang sama dan berpakaian layaknya penduduk negeri ini, matanya yang kehijauan dan kulitnya yang terang jelas menunjukkan kalau dia berbeda.

“Negeriku berjarak separuh bumi dari tempat ini,” jawab Pengelana Muda.

“Tertawa,” Si Pemuda berkata pendek. Butuh sekian detik untuk Pengelana Muda menyadari itu jawaban atas pertanyaannya sebelumnya. Keningnya berkerut. Jadi perempuan itu dihukum mati karena tertawa?  Demi bumi yang berputar, negeri macam apa yang menganggap tertawa  adalah suatu kejahatan berat?!

“Di saat pemakaman Sang Terpilih,”  lanjut pemuda itu seolah bisa membaca pikiran Pengelana Muda.

“Meskipun begitu, apa pantas dihukum mati? Bukankah itu terlalu kejam?” tanya Pengelana Muda heran. Dia tahu pemimpin negeri ini baru saja mangkat. Itulah salahsatu alasannya datang ke tempat ini, untuk melihat secara langsung pemakaman Sang Terpilih, julukan dari mendiang pemimpin negara.

“Kau tidak memikirkan orang macam apa yang bisa tertawa saat pemakaman pemimpin negara. Jenis pemberontak yang membenci pemerintahan,” jawab Si Pemuda.

“Begitukah? Jadi perempuan itu pemberontak?” Pengelana Muda tak yakin. Perempuan mungil yang sedang digelandang menuju ke tiang hukuman itu, jauh dari gambaran pembangkang. Tak ada perlawanan samasekali meski para lelaki berpakaian militer itu membawanya dengan setengah diseret. Sekadar bersuara pun tidak.

Prosesi pemakaman Sang Terpilih baru saja kemarin dilaksanakan. Dan sekarang perempuan itu sudah menghadapi hukuman mati. Jika alasannya karena dia tertawa saat pemakaman Sang Terpilih, bisa dipastikan dia dihukum tanpa proses pengadilan yang wajar.

“Dia tak terlihat berbahaya. Mungkin tawanya cuma kelepasan karena sesuatu yang lucu melintas di pikirannya saat itu,” kata Sang Pengelana. Pemuda di sampingnya hanya mengangkat bahu tampak tak peduli.

“Bagaimanapun, itu sudah cukup bagi pemerintah negeri ini untuk mencap dia sebagai pemberontak,” kata pemuda itu kemudian. Pandangannya beralih dari Pengelana Muda ke tiang pancang.

“Pemerintah? Tapi negeri ini bahkan secara resmi belum punya pemimpin baru, bagaimana bisa sudah ada yang menerima hukuman mati?” sahut Pengelana Muda makin tak mengerti.

Dipandangnya perempuan terpidana yang sekarang sudah terikat di tiang bagai benalu menempel di pohon biangnya. Dia tak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi perempuan itu. Sepertinya dia sudah pasrah atau mungkin putus asa. Bisa jadi masih berharap keajaiban. Prosesi pemakaman Sang Terpilih kemarin begitu agung dan sakral. Bilamanakah perempuan itu terpergok saat tertawa? Tawa macam apa hingga pantas diganjar kematian? batin Sang Pengelana  Muda dipenuhi banyak tanya.

Dia ingin bertanya lebih jauh lagi pada pemuda di sampingnya, tapi diurungkan saat dilihatnya pemuda itu tampak antusias menantikan proses eksekusi yang akan segera dimulai. Sementara Pengelana Muda masih ragu apakah dia sanggup menyaksikan eksekusi ini atau tidak. Telah dijumpainya sejumlah kematian tragis. Dia pernah melihat seorang buronan ditembak polisi, seorang anak yang mati terlindas mobil, bahkan seorang perempuan yang terjun dari lantai tujuh, namun semua itu disaksikannya tanpa dia sangka sebelumnya. Kali ini situasinya beda. Apalagi menurutnya, siapa pun perempuan itu tidaklah pantas dihukum mati. Yang dirasakannya saat ini justru keinginan kuat untuk menyelamatkan perempuan malang itu. Namun bunyi senjata yang terkokang menyadarkannya bahwa keinginannya mustahil terwujud, serentetan suara letusan berikutnya memperjelas hal itu. Dia tertunduk, tak sanggup untuk menyaksikan saat peluru menerjang Si Terpidana.

Perlahan Pengelana Muda mendongak, melihat suasana usai eksekusi. Perempuan itu masih terikat di sana dengan dahi yang mengalirkan darah. Regu penembak tampak melakukan penghormatan militer purna tugas. Penghormatan yang ditujukan pada sebuah foto sebesar papan tulis berbingkai pigura warna emas. Dua orang berseragam khaki memegangi sisi kanan dan kiri pigura. Seolah mendiang Sang Terpilih bisa melihat prosesi hukuman mati lewat fotonya.

“Ini tidak adil!”  Pengelana Muda tak bisa menahan kegeramannya. “Perempuan itu mungkin hanya tertawa di tempat dan saat yang salah. Dan karena itu dia harus dihukum mati?” suara Pengelana Muda terdengar gusar. Pemuda di sampingnya menatapnya dengan sorot mata bijak dan tenang.

“Biar kuberitahukan sesuatu padamu, Tuan, di negeriku ini orang bisa saja dihukum mati karena dua alasan yang tampaknya sepele. Dan itu berlaku untuk siapa pun. Satu seperti yang kau katakan tadi, tertawa di tempat dan saat yang salah. Kau sudah menyaksikan sendiri perempuan tadi ditembak mati karena alasan itu,” Si Pemuda berbicara dengan lambat dan jelas, bagai seorang guru mengajar muridnya.

“Dan perempuan tadi adalah kakakku,” lanjut pemuda itu dengan intonasi lebih tegas. Pengelana Muda terperangah. Ditatapnya pemuda itu dengan rasa tak percaya. Matanya bertemu dengan sepasang mata dingin milik pemuda itu, dan seulas senyum yang sama dinginnya. Hati Pengelana Muda mencelos ketika dia menyadari satu hal, wajah pemuda di hadapannya bak replika dari foto mendiang Pemimpin Negara.

“Dan alasan yang satunya lagi?” tanya Pengelana Muda dengan suara bergetar.

“Bertanya pada orang yang salah,” jawab pemuda itu dengan pelan, namun sesuatu dalam diri Pengelana Muda menyuruhnya untuk segera berlari.

***

Koesmiyati Harsanto wirausaha kuliner yang belajar menulis. Giat di Komunitas Sastra Alit, Surakarta.

Puisi

Puisi Saiful Bahri

malam

malam masih dibingungkan

dengan derita yang hujan bawa:

entah lebih jauh mana antara jarak

tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

pagi memilih mata hujan bertandang

merayakakan gerimis bayang-bayang

(2019)

cincin waktu

empat ribu hari daun bersemi

ia teringat bunga kembang

merayakan cincin melingkar

umpama hujan rintik berkabar

cincin hujan di tangan waktu

pertanda aku merindukanmu

suara telepon, suara hujan,

suara ayam di kebun frasa

semuanya tengah gembira

nun di alifnya hijrah pergi

ke tanah ritme mahligainya

(2019)

Malam Rabu

Suara-suara alif kiai

Serupa suruhan senja

Melampiaskan makna

Hujan tadi sore pergi

Kalimat tinggal dua

Nama aku dan kamu

Jumpa malam hanyut

Pergi ke sungai kali

Ikan-ikan diam bisu

Daun tetap tumbuh

Kaloni mimpi kata

Selatan arah kami

Ada rona perempuanku

Malam Rabu kesaksian

Menyaksikan perasaan

Bersaksi dan beraksi,

Bahwa kita ini puisi

(2019)

Zikir Waktu

Cinta dan percintaan tengah saling bermesraan.

Di luar hujan badai sedang di dalam api berandai.

Petir hitam malam menyambar serupa waktu-waktu bisu.

Berzikir adalah kebiasaan yang dirahasiakan riak doanya.

Zikir waktu. Zikir yang tak pernah dirahasiakan api malam

Di bibir waktu. Suara tengah melintas ke ubun mata alis api.

Halal kita tiga puluh hari kemudian. Gurun singgah di mata.

Berulang kali epilog dan keterbatasan alur cerita yang hanya

sampai di batas doa dan namaku menjadi waktu paling zikir

(Selasa, 30 April 2018)

Restu Kita

Kita dan waktu duduk meminum

campuran sepi dan puisi. Kongko.

Sesekali puisi dan kopi merasa

cemburu melihat rindu minum restu

Entah barangkali kita adalah mohon

yang dirahasiakan doa di ubun restu

Ya, Tuhan. Restu kita restu puisi

(2019)

pernikahan aku dan hujan

petang. pernikahan aku dan hujan disaksikan

kabut hitam yang menyambut tamu undangan

terundang petir awan duduk rapi di pangkuan

bahwa aku telah resmi disaksikan kesendirian

jejak rabun mata laun. angin hitam bertiup lunglai

hanya saja hujan kabung menerjemahkan sayap burung

ada banyak tamu undangan hadir di laman hati rumput

di antaranya adalah kenangan, kerinduan, bahkan kesepian

pernikahan aku dan hujan, basah, kuyup,

keindahan yang kuundang, yang datang bayang-bayang

(Pangabasen, 2018)

asmaraloka

“di sini, mereka lupa kata

angin dan aku bercerita;

   tutur daun aku gugur,

      cetus jauh aku jarak,

         ucap mendung aku hujan,

            kata rumput aku rasa,

ucap rasa aku kata; gampang

mencintai, tapi susah dicintai

(Bungduwak, 2018)

ilmu

belajarlah ilmu resah. paling tidak sesekali dalam ilusi.

memang iya. ilmu itu susah sekali. boleh saja kauucap

gampang, tapi kini, kau belum fasih menerangkan

bayang-bayang. tak ada ilmu gampang. merindu(pun)

butuh kamu. bahkan, mencintai butuh puisi. yang

gampang hanyalah ilmu percintaan, selain bab kerinduan

(Bungduwak, 2018)

taksa

sederas tangan hujan berdoa.

ia duduk, melamun, kadang

hijrah jatuh melilit makna abu

lunglai di mata batin kayu.

kayu-kayu daun terhindar

dari kemarau api gelisah.

searah mata hujan terpana

merias desir-desir makna.

(April 2018)

Saiful Bahri, lahir di Sumenep-Madura, pada tanggal O5 Februari 1995. Mengabdi di Madrasah Al-Huda. Mahasiswa aktif di STAIM Terate Sumenep. Selain suka menulis, juga aktif di kajian sastra dan teater “Kosong” Bungduwak, Perkumpulan dispensasi Gat’s (Gapura Timur Solidarity), Fok@da (Forum komunikasi alumni Al-Huda), Perkumpulan (Pemuda Purnama), Pengasuh ceria di grup (Kampus Literasi) dan pendidik setia di komunitas (Literasi Kamis Sore). Tulisannya di berbagai media, dan beberapa Antologi Bersama. Buku puisinya: Senandung Asmara dalam Jiwa (2018).