Buku, Resensi

Berkisah (ke) Sejarah

Oleh Bandung Mawardi

Pada 2014, Iksaka Banu dengan buku berjudul Semua untuk Hindia meraih Kusala Khatulistiwa Award. Ia memang memberi prosa apik dan merangsang ke pengisahan dan pewartaan sejarah. Tahun-tahun berlalu, ia tampil lagi dengan buku berjudul Teh dan Pengkhianatan. Buku masih berisi cerita-cerita merangsang ke renungan sejarah. Di kategori prosa, buku itu menjadi pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019. Cerita-cerita pantas terbaca dan teringat. Persembahan “unik” di kesusastraan Indonesia mutakhir.

Kita mulai simak cerita berjudul “Di Atas Kereta Angin”. Kita diperkenalkan dengan tokoh-tokoh berwatak kolot dan moderat menanggapi “kemadjoean” dan persaingan identitas di tanah jajahan. Dua tokoh berseberangan memahami identitas diri sebagai manusia Eropa. Si kolot ingin terus menjadi “toean” dihormati, ditakuti dengan rajin memerintah si bumiputra. Larangan-larangan diberikan di perkara busana dan sepeda. Si moderat mengerti situasi zaman, memperkenankan si bumiputra selaku bujang (pembantu di rumah) menaiki sepeda. “Toean” tetap berpikiran lebih beradab itu memberikan pula hak pada si bujang mengenakan pantalon Eropa saat di atas sepeda mengerjakan tugas-tugas.

Latar cerita di Jogjakarta. Si bumiputra mengendarai sepeda dengan busana rapi menjadi polemik. Dua tokoh Belanda itu tak pernah membuat bandingan bahwa sepeda tak melulu bukti kuasa “toean” berkulit putih ke orang-orang terjajah. Di Solo, awal abad XX bumiputra pun “bersepeda” tapi bermisi berbeda. Di novel berbahasa Jawa gubahan Jasawidagda berjudul Kirti Junjung Drajat (1924), diceritakan sepeda menentukan gairah nasionalisme melalui Boedi Oetomo. Tokoh penggerak di organisasi “modern” itu pemilik toko-bengkel sepeda. Penghasilan besar digunakan untuk hidup dan diberikan ke pembesaran Boedi Oetomo. Sepeda bertokoh kaum bumiputra, berbeda arah dari cerita menguak sejarah buatan Iksaka Banu.

Tokoh bumiputra di cerita Iksaka Banu tetap di posisi rendah. Penjelasan “toean” berlagak mengerti kemajuan dan bersikap etis pada si bujang: “Ia tetap masih mengenakan sarung yang digulung sepinggang… Ia pun memakai ikat kepala. Pendeknya, secara keseluruhan penampilannya masih Jawa seperti warga lainnya. Orang tidak akan keliru mengira ia Eropa.” Sejarah identitas memang mengandung perdebatan dan anggapan-anggapan bertaburan dilema.

Tokoh-tokoh ciptaan Iksaka Banu mengalami gejolak dan kisruh menjalani sekian hal di Nusantara. Pada masa lalu, Nusantara itu rempah-rempah. Cerita berjudul “Kalabaka” mengisahkan perdagangan, moral, tanaman, perang, dan keluarga. Iksaka Banu bukan pemberi sifat-sifat mutlak membedakan nasib kaum Eropa dan bumiputra. Tokoh di cerita itu berkebangsaan Belanda, mati berdalih memberi penghormatan atas hak-hak penghuni Banda. Kematian bersurat untuk membagi derita dan mengingatkan petaka VOC.

Pesan di surat terbaca si putra: “Bila kelak engkau menjadi pengusaha, jangan pernah tergiur bujukan VOC untuk pergi ke Hindia dengan iming-iming menjadi jutawan melalui perdagangan pala atau fuli. Sebab, pada setiap keping sen yang kau simpan, ada darah dan air mata penduduk Banda yang kehilangan asal-usul dan jati diri karena gugur membela tanah air, atau dibawa ke Batavia sebagai budak belian.” Berpihak! Tokoh-tokoh di cerita dan sejarah berhak berpihak meski sadar risiko. Si penulis surat dihukum oleh bangsa sendiri, Eropa mengaku beradab dan membawa pesan Tuhan. Kaum Eropa di Nusantara justru khianat dan pencipta petaka berkepanjangan. Di buku-buku sejarah bertema rempah-rempah, kita semakin mengerti perdagangan dunia membinasakan bumiputra dan membangkrutkan Nusantara sebagai negeri subur.

Cara bercerita di dua cerpen itu terasa “mengejutkan” asal kita mau membandingkan dengan kemahiran dan kepekaan para pengarang Belanda mengisahkan Hindia Belanda masa lalu. Buku berisi cerita-cerita Iksaka Banu itu bakal senewen jika bersanding dengan buku berjudul Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia (1979) ditulis kembali oleh Dick Hartoko berdasarkan buku Oost Indische Spiegel susunan Rob Nieuwenhuys. Dulu, kita sering mengacu ke teks-teks sastra gubahan pengarang Belanda atau Indonesia saat ingin mengetahui sejarah Nusantara dan watak manusia-manusia berbeda peran selaku: penjajah dan terjajah. Pada abad XXI, Iksaka Banu menempuh jalan jauh ke waktu silam untuk menggarap cerita-cerita, belum perlu menumpuk warta atau pamer di daftar pustaka puluhan halaman. Cerita memang tak bermaksud menjadi teks sejarah seperti diajarkan di ruang-ruang kuliah. Iksakan Banu menjelaskan: “Bila terlalu banyak memasukkan fakta sejarah, unsur fiksinya bisa hilang, dan cerita akan bergulir dari awal hingga akhir dengan sangat membosankan, seperti buku diktat.”

Dua buku buatan Iksaka Banu berjudul Semua untuk Hindia juga Teh dan Pengkhianat tak sempat terbaca oleh Subagio Sastrowardoyo. Kita menduga buku-buku itu menjadi “bandingan” dan “ledekan” atas segala warisan sastra dari masa lalu bercerita Hindia Belanda. Di buku berjudul Sastra Hindia Belanda dan Kita (1983), Subagio Sastrowardoyo sudah menderet pikat kesusastraan di situasi sejarah terselenggara di Nusantara. Ketekunan Iksaka Banu menulis “fiksi sejarah kolonial” mungkin terpaut jauh dari album sastra sudah mendapat pembahasan dari Rob Nieuwenhuys dan Subagio Sastrowardoyo. Kini, suguhan cerita-cerita itu diganjar penghargaan tanpa ada jaminan memberi rangsang kesejarahan bagi pembaca tak memperoleh daftar pustaka atau daftar warta dari Iksaka Banu.

Di cerita berjudul “Tegak Dunia”, kita masih mungkin membaca sambil membuka buku-buku garapan Denys Lombard (Nusa Jawa Silang Budaya) dan Nirwan Ahmad Arsuka (Percakapan dengan Semesta). Cerita mengenai globe dan Karaeng Pattingalloang. Bumiputra itu fasih sekian bahasa dan keranjingan sains. Ia memesan globe dari Eropa. Manusia-manusia Eropa kaget dan kagum mendapatkan kabar bahwa Karaeng Pattingalloang rajin membaca buku-buku dan memiliki selera sains mungkin saja mengalahkan kaum Eropa di Nusantara. Si Eropa cukup memberi keterangan atas benda pesanan bumiputra berpikiran maju: “Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudra, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya.” Kemenangan serasa terbaca di biografi pemesan untuk mengingatkan kepongahan intelektual kaum Eropa.

Kita khatam cerita-cerita dalam Teh dan Pengkhianat mungkin terangsang berjalan ke sejarah. Buku perlu bersanding dengan setumpuk buku sejarah berbahasa Inggris, Belanda, dan Indonesia agar membaca cerita seperti di tebakan atau keterkejutan. Buku menggemaskan di seruan sejarah kolonial. Begitu.


Bandung Mawardi, Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Pengisah dan Pengasih (2019)

Cerpen

Binatang di Kepala Kami

Cerpen Ken Hanggara

Kelaparan membuatnya berkelakuan seperti binatang. Ia tidak malu mencari makan di selokan. Saya kasihan dan saya bawa pulang dia. Saya mandikan dan saya beri baju. Dia diam seribu bahasa saat ditanya soal nama. Saya panggil saja Kinanti.

Kinanti menemani malam-malam yang sepi. Bersama Kinanti, saya kembali paham apa kehangatan. Bersama Kinanti, saya merasa surga ada sejengkal di depan. Dia tidak tahu cara menyembah Tuhan, tetapi tidak bisa diajari mengenal-Nya. Jadi, saya ajari dia tentang surga. Dia suka dengan apa yang saya sebut surga, karena surga di rumah saya ada setiap malam.

Surga saya bukan surga Tuhan. Kinanti tidak paham, tapi tidak ada yang dia dapat pahami lebih dari segala yang fisiknya butuhkan sebagai makhluk hidup. Di sini dia bisa makan apa pun dan tidak perlu bayar atau kerja. Dia cukup ada saja di dekat saya setiap malam.

Teman-teman mencela apa yang saya kerjakan. Masa bodoh. Kinanti toh rela. Dia bahagia mendengar bisikan saya tiap kali kami selesai menyusuri surga di kasur. Kinanti bahagia dan merasa hidup sebagai makhluk paling beruntung.

Kinanti senang melolong-lolong, lalu saya katakan kepadanya bahwa kamu bukan serigala, tetapi manusia. Kinanti tak dapat saya cegah. Ia terus melolong-lolong dan ada juga saatnya mengeong jika butuh sesuatu yang sudah mulai kami sebut surga. Kinanti memang tidak bisa bicara, namun ia mengikik geli setiap kali saya bukakan tirai surga dan di sana tertabur bunga-bunga yang membuat kami tenggelam dalam mimpi paling memabukkan.

Kinanti hanya akan marah jika ia lapar dan mulai mengaduk-aduk isi kulkas dan kadang melempari gelas atau piring hingga dapur pun berantakan. Semua pembantu di sini paham Kinanti butuh semua yang membuat fisiknya bahagia, tetapi mereka tidak perlu tahu terlalu banyak binatang yang mendekam dalam kepala gadis itu.

Saya yakin, di kepala Kinanti ada binatang. Ia, binatang aneh itu, yang mengendali tindak tanduknya, berwujud gaib. Memang begitulah kenyataannya. Di kepala manusia paling waras saja kita bisa menemukan binatang tertentu yang bisa berjumlah lebih dari satu. Binatang-binatang pengendali yang membuat pemilik kepala tidak sanggup hidup tanpa perbuatan jujur. Jujur tidak harus selalu bagus. Jujur itu cara agar tidak menderita karena tuntutan-tuntutan hidup bermasyarakat.

Kejujuran Kinanti, sebagai orang sinting, adalah segalanya bagi saya. Dia serahkan sepenuh jiwa kepada saya segala yang dia miliki. Setiap inci tubuhnya dia relakan untuk saya, bahkan andai mampu, nyawa pun barangkali bakalan dia beri. Semua itu karena saya memberinya makan dan surga.

Teman-teman tahu saya kesepian sejak istri saya meninggal empat tahun lalu, dan sejak itu saya tidak pernah menyentuh wanita. Melihat Kinanti di tepi jalan, berbaju apa adanya, menggoda, membuat sisa-sisa kelelakian di tubuh ini kembali menyala dan lalu menuntut balas. Dan saya membalas dengan indah dalam surga yang saya bangun untuk Kinanti.

“Padahal kamu bisa membayar kupu-kupu untuk menghiburmu. Beberapa kupu- kupu untuk semalam, kukira kamu bisa. Tapi kamu tidak melakukan dan aku bersyukur karena ternyata kamu masih sehat,” kata seorang teman.

Saya katakan kepadanya semua itu terjadi karena saya sendiri tidak tahu. Mungkin binatang di kepala saya ketika itu menganggap bahwa ada saatnya surga saya peroleh lewat tangan perempuan tertentu, jadi binatang itu bunuh diri dan jasadnya hilang jadi debu. Ketika Kinanti datang, saya sambut dan saya jadikan dia ratu surga. Di saat yang sama, binatang lain lahir kembali dalam kepala saya.

Kinanti saya dandani seakan ia perempuan normal. Sekali waktu saya ajak ke pesta, tetapi ia tidak bisa menjadi normal. Ia mempermalukan saya. Sejak kejadian itu, sangkar khusus saya bangun untuknya dan Kinanti menikmati hidupnya yang mengenyangkan dalam sangkar, tanpa mengorek-ngorek selokan.

Kinanti tidak melawan dan binatang di kepalanya mulai jinak. Sesekali dia marah dan melolong-lolong seperti biasa, tetapi karena dia tahu saya orang yang memberinya segala yang dia butuhkan, maka mengeong adalah lebih baik.

“Kamu lebih bagus kalau mengeong, dan mengeonglah setiap hari kepadaku,” kata saya.

Kinanti mengeong setiap hari dan membuat saya bahagia. Sebab, jika ia melolong, itu membuat saya tidak terlalu berhasrat. Saya hanya akan ingat pada kematian istri saya yang dirampok oleh lelaki dengan serigala di kepalanya. Saya memang tidak mengenal lelaki biadab itu, namun saya tahu begitu saja bahwa di kepalanya yang bersemayam adalah seekor serigala.

Istri saya memiliki kucing di kepalanya, sedangkan saya adalah ayam jantan. Tidak ada waktu bermesraan bagi saya, tetapi istri saya cukup romantis dan menganggap suatu tanggal bersejarah teramat sayang untuk dilupakan.

Karena di kepala saya si ayam jantan tidak peduli tanggal, dan hanya peduli pada kepuasan surga, istri menganggap saya tidak menyenangkan dan ia pergi. Di jalan, ia mati dirampok lelaki asing. Sejak itu saya percaya, kadang-kadang kita harus mencari tahu dulu binatang macam apa yang mendekam di dalam kepala pacar kita. Itu supaya tidak terjadi penyesalan seperti yang saya alami.

Saya menggiring agar binatang di kepala Kinanti berubah wujud jadi kucing bukan karena ia bisa menjadi istri saya dan melahirkan banyak anak dan mencatat semua hal yang paling sepele; sama sekali tidak. Saya hanya ingin membuat dia sedikit lebih waras agar tidak melukai saya sewaktu kami bermain-main di surga ini.

Kinanti senang menggigit, seperti serigala, sehingga saya pikir ia bisa saja berbuat hal yang dapat menghilangkan nyawa saya jika dibiarkan begini.

Saya bilang, “Jangan gigit. Nanti aku mati!”

Selalu itu yang saya katakan. Syukurlah, Kinanti paham. Meski gila, ia bisa diajari.

Akhirnya, beginilah kisah ini berlangsung terus menerus selama ribuan tahun dan bukan hanya terkait saya dan Kinanti: bahwa para binatang berpesta pora di kepala para manusia. Semua manusia. Semua manusia yang hidup dan pernah hidup di permukaan bumi yang biru ini. Semua manusia, tak terkecuali.

Dan para manusia tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan dan seberapa besar dosa telah mereka kumpulkan? Mereka tidak dapat membedakan perbuatan mana yang mereka lakukan oleh pengaruh binatang di kepala mereka dengan perbuatan mana yang benar-benar datang karena keinginan diri mereka sendiri. Kadang-kadang saya pun juga begitu, tapi saya tidak peduli. Surga ada di tangan saya dan kami bermain-main di sana setiap hari.***

Gempol, 2019

Ken Hanggara, lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, puisi, esai, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa, 2016), Babi-babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru- Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Puisi

Puisi Muhamad Saef ad-Din

Dua Piring Satu Sendok

/I/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

tiada lagi cita rasa

yang hambar

di meja makan

dalam perjumpaan

antara dua piring

satu sendok

serta kau dan aku

kita mengingat kembali

sedikit menu

yang berasap di atas

piring-piring yang tanpa pisau

dan tanpa penutup,

asapnya mengepul

di atas ubun-ubun

persuaan dan perayaan

siapakah yang berpesta hari itu?

/II/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

sebagai suasana rikuh

kita hanya menyantap

seporsi puisi (hampir basi)

pada dua piring,

kita cincang baris per baris,

betis per betis dengan etis

hanya oleh satu sendok

kau yang pertama

melahapnya,

aku yang ke dua

merasakan betapa

kata-kata tidak

memberi perut kenyang

tetapi gadis,

tetapi ketika terakhir

kalinya aku melahap,

dua piring satu sendok

dengan seporsi puisi

ternyata cukup

sebagai alas

antara perkawinan

ludahmu dan lidahku

yang terhampar ambyar

di meja makan

/III/

sejenak ketika itu, gadis.

betapa puisi ini sederhana

lantas bersabda:

bahwa lusa nanti,

kita ada jadwal

makan malam

dengan menu puisi

biar suntuk semalaman

Cirebon, 2019


Menyusun Menu Sederhana

dalam perjamuan kepada roh

ada perapalan yang tak terbaca,

menguap di kaca-kaca rumah,

menyuap bayangan di lorong suwung

kenduri menyusun riwayatnya,

di sana tersedia menu mantra

yang tak berlauk-pauk. dan

kekosongan menciptakan rongga segar

tanpa isi, juga tak bermakna.

tidak ada lafal tartil,

tidak ada sahutan kata,

yang tersisa

tinggal nama-nama dan mantra.

Cirebon, 2019


Sesuap Puisi

pagi tidak pernah pamit,

ia selalu hadir kembali

sebagai bening sebutir embun

menyegarkan pundak pegal

dari kisah-kisah sesal

serta membisikan

perut yang keroncongan.

di beranda fajar,

aku sebagai nasi

yang dibungkus dengan puisi

dan aku terbuka sebagai

sarapan pagi tanpa

lalap daun kemangi, tanpa gulai,

juga tanpa secangkir teh poci.

hanya sesuap puisi.

Cirebon, 2019


Seteguk Air Tuba

jarak antara

kesepian dan keramaian

adalah dalih air tuba mereguk

dari segala yang suntuk

: kau berdendang dalam pinangan,

aku melarat di dasar kenangan.

Cirebon, 2019


Berdua: Secangkir Rasa Tawar

ada bias berkilauan di atas

secangkir air putih itu,

aku seperti merasuk tenggelam di dasar

kulihat di binar mata juga,

ada sungai Cisanggarung

mengalir bening serta dangkal,

di sana ada bebatuan

tidak bersusun meliuk-liuk

meninggalkan bekas

dari jejak Malin Kundang

pada secangkir air putih itu,

kukecap seperti laut yang tak asin

atau amis menjelma imaji

dengan ikan-ikan bersisik

berenang di pinggir bibir cangkir

kadang diam dengan recehan bahasa

menarik paksa bayang-bayang

supaya tidak ada pendar-pendar di air

sampai senja, hari ini: berdua

secangkir rasa tawar menawar manis

Cirebon, 2019


Menyaksikan Beranda Pagi

Secangkir teh dan aksara yang memudar

Jendela-jendela tamu membias

sejengkal batas

dan asbak kosong tanpa bekas puntung dan tembakau

Tumbuhan kecil di halaman merekah hijau

menyaksikan malaikat pendekar tengah

bernapas dengan sengau

Pintu depan terbuka lebar

: kedatangan tamu sajak

yang renta serta batuknya berdahak

Dari nun jauh di ujung cakrawala yang melangit

Pucuk-pucuk cemara menyampaikan

pesan-pesan euforia

Cirebon, 2019


Cita Rasa

Kau benar, cita rasa

dari setiap secangkir kopi

yang tersaji di meja dengan baik

tidak akan melarutkan aroma

manisnya, atau pahitnya semata.

Aku pernah bertanya,

mengapa bisa begitu?

Sebagai manis, kopi

akan memberimu

setakar rasa pahit.

Sebagai pahit, kopi

akan memberimu

setakar rasa manis,

katamu dengan baik

setelah meneguk kopi

entah setakar manisnya,

entah setakar pahitnya.

Cirebon, 2019


Secangkir Kopi

Kopimu pahit,

aromanya pekat

: Seperti nasib tersekat.

Asapnya mekar,

nuansa panasnya nanar

: Seperti luka memar.

Cangkirnya pedih

airnya mendidih

: Seperti reaksi raksa yang perih.

Cirebon, 2019


Pesawat Kertas

gadis kecil melayangkan

catatan hariannya

dengan pesawat kertas

menuju kilau cahayaNya:

seketika air mata menetes

sebutir demi sebutir.

gadis kecil itu

sama sekali tak memahami

ke mana ia mesti berkisah

perihal sepi yang bersarang

di bola mata hitam pekatnya.

dan harap berbalas

dari kilau cahayaNya:

ia memesan selaksa takdir.

Cirebon, 2019


Amplop Cokelat

lusa nanti, gadis

ada tukang pos

menuju alamat rumahmu

mengirim amplop cokelat

tapi di dalamnya hanya berisi

biodata dan lampiran lamaran

betapa hatimu demikian, bukan?

Cirebon, 2019


Muhamad Saef ad-Din Lahir di Cirebon, 27 November 1997. Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan. Pernah aktif menjadi Jurnalis Pelajar dan Dapur Sastra. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Esai-esainya pernah jadi juara di berbagai lomba yang diselenggarakan oleh beberapa universitas. Buku debutannya ialah kumpulan puisi Eros dan Sayap-Sayap Patah (2019).

Puisi

Puisi Norrahman Alif

Kepada Seorang Novelis yang Malas Bersilat Bahasa Api di Depan Publik

Sekawanan api kata-kata dalam mesin kepalamu

melorot menjelma ular-ular beracun di sarang

hati-hati para penguasa yang kehilangan induk

kasih-sayang.

Sementara, kau sendiri terbenam dalam genangan kesunyian

kesunyian yang jauh dari suara-suara tuhan yang kebingungan

mencari obat untuk bangsanya yang sekarat, akibat persoalan-

persoalan kekuasaan yang semakin memberat.

Barangkali, kesunyian adalah keruwetan ingatanmu menganyam

dongeng-dongeng dari sisa air mata kenangan tentang

orang-orang jelata terpinggirkan, atau tentang bandit-bandit

gendut yang mencita-citakan surga kekuasaan.

Itulah kenyataan satir yang menyihir manusia getir memasuki

hutan-hutan cerita api dalam novelmu. Namun, nyala api nyalimu

masih sepercik korek api di tengah angin puting beliung:

padam induk kobarnya, bak susut nyali nyala api hatimu.

Sebab, kau hanya mampu melayangkan layang-layang kata tajam

di langit-langit negerimu yang terancam kegelisahan.

padahal, demonstrasi kata-kata tak lagi mampu menyembuhkan

duka-cita kehidupan. Di saat kepulan asap persoalan hukum,

korupsi, agama dan kekuasaan menyesaki paru-paru negeriku-negerimu.


Setan di Hatimu Memanen Kesesatan

Kepadamu yang terlahir sebagai imam kesesatan

Tak kutemukan tuhan dalam dirimu

Hanya berlembar-lembar bahasa dosa

dan metafora kesesatan setebal buku

kamus dibaca waktu.

Padahal, telah kucari letak tuhan

paling strategis di tikungan jalan hatimu

di mana denting doa-doa bisa kudengar

dari sepasang sunyi bibirmu karat dusta.

Barangkali kau perlu menjadi bayi kencur

kembali ke gendongan ibumu. Lalu dewasa

sebagai manusia wibawa.

Sebab, walau selautan air tobat pun tak mampu

menghapus kata-kata dusta dan keangkuhanmu

di kejauhan mata sana.


Tuhan Sedang Berkabung

Dulu agama adalah ladang surga kasih-sayang

kini menjadi biang cacimaki, pembunuhan

dan permusuhan.

Di saat nama tuhan disadekahkan

ke orang-orang tolol soal agama

demi keuntungan massa dukungan.

Dikara segalanya menyenang-nyenangkan tuhan.

Padahal, tuhan sendiri tertawa terkencing-kencing

atau sedang hobi berkabung di hutan sunyi sana.

Melihat raja-raja ahli ilmu agama

Berkoar-koar meremuk-redamkan

rumah-rumah agama lain.

Dikira agama sendiri surga,

dan yang lain adalah neraka.


Agamaku Kopi dan Tuhanku Puisi

Di saat agamamu tak lagi mengepulkan sedap aroma

Kasih-sayang dan perdamaian. Kuputar haluan

Hatiku ke secangkir kopi agama legit kenikmatan.

Di sini, tuhanku bukan lagi ciptaan mesin imajinasi

Tapi, tuhanku realita yang berwujud kata-kata puisi.

Hatinya abadi menyimpan diksi-diksi sakit hati

Atau melunakkan metafor-metafor rasa benci.

Dan rakyatnya adalah perasaan-perasaan sendiri

Yang terbuat dari sebekan-sobekan hati habis dicabik-cabik

Anjing-anjing agama kenangan yang tak menyimpan

Rasa manis ketenangan.


Pada Hatimu

Pada segelas kopi, kuseduh kental hatimu

manis di lidah pahit luka di cecap hatiku

kali ini dedak tidak melekat di lepek waktu

Kecuali jernih sendumu yang kuaduk lalu

Kuseruput kata sampai larut rasa resah di bibir jiwa

dengan pintu mata terbuka tanpa lelap alpa mengunci.


Reportase Akhir Tahun

Tahun terbaring lemah di ranjang waktu dengan

muka senja, sebentar lagi susut ke liang kematian

Sebelum tahun di kubur tengah malam dan letusan

bintang api merayakan tahun perawan di langit kelam

Kukalkulasi detik-detik kehadiran baru tahun

lalu kukalikan hatiku dengan hari-hari sendu

Agar genap suka-luka tigapuluh satu kenangan

di almanak puisiku.


Ayat Pengantin Senja

Menanam beling dendam dalam hati

lebih pedih dari segunung api membakar diri

Pengantin senja haramlah saling memutihkan mata

atau gemar menjerat kata sekedar menyapa

Lihatlah betapa masak buah resah di ranting hati

Merasa malulah kepada kerukunan burung-burung di langit

dari gelap ke terang senyap di ribaan waktu

bagaikan alpa ada apa apa janganpun tutur sapa

tetapi diam mendekap dendam bukan berarti aman dari bala bencana

Bencana sepasang jiwa lebih dahsyat berguncang dari gempa dunia

meski keduanya saling menghapus corak resah di kedua wajahnya

tetapi bila di bilang buah hati, sepeser pun ada getir di dalam hatiku

Duh, pengantin jiwa sambung kembali asmara dalam hati

lalu eratkan tali-tali setia pada pohon kasih meski berumur tua

sebab percintaan yang tua mengalahkan masa muda


Kecupan Terakhir

Lapar atau kenyang satu padu dalam rahim ini

menangis dan tertawa wajib kawinkan di aula hati

supaya tak ada cerai dan perang dalam diri

Dan hidup tak usah cerewet melulu di pertanyakan

walau kematian setia menjadi momok menyeramkan

di masa muda sampai tua

Padahal maut bukan binatang buas yang hobi menerkam

mengapa harus ditakutkan mengapa,

kematian adalah kecupan terakhir yang di berkati Tuhan.


Kematian Kawanku

Kematian adalah teman lamamu

yang kutunggu jua sejak hidup ini

Siapa yang mahir menafsirkan

maut kan datang ?

Tetapi dirimu sendiri paham

bahwa kematian akan menjelang

Setelah bisikan malaikat kepada napasmu

sendiri dirasakan kini


Pengantin Songkok dan Sarung

Berulangkali kunikahkan songkok dan sarung di aurat diri

setiap keluar kuberjalan atau tamu menghampiri

Penghulunya hatiku sendiri, berucap ijab ikhlas sebulat bumi

Boleh sekedip mata waktu sejoli songkok dan sarung bercerai

tetapi tak boleh keluar pagar

Sebab jika kepala kehilangan songkok, lebih baik tulangku

seputih kapur ketimbang putih mata

Atau perut ke kaki telanjang merana menalak sarung, menjadi sobek

baju kewibawaanku legam mata kancing hatiku dan tercemar

Sebab songkok dan sarung adalah seperangkat bendera yang tak pernah

sungkan kukibarkan di tiang tubuhku di mana-mana.


Norrahman Alif lahir di Jurang Ara -Sumenep Madura. Menulis di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta ( LSKY ) dan beberapa karyanya sudah pernah dimuat di berbagai media. Buku puisi terbarunya Mimpi-Mimpi Kita Setinggi Rerumputan.

Buku, Resensi

Mengurai Ketidaksadaran

Oleh Dwi Alfian Bahri

Jagat Digital, itulah kata yang dipilih Agus Sudibyo untuk judul buku terbarunya. Mungkin judul itu tidak terlalu menggugah selera pembaca, tetapi, ada hal yang menarik di sub judulnya, yakni Pembebasan dan Penguasaan.

Melalui dua kata tersebut Agus Sudibyo coba menjelaskan sekaligus menguraikan hal yang tersembunyi dari jagat digital. Mengeksploitasi permasalahan yang selama ini tidak disadari. Pembebasan dan Penguasaan dijadikan materi dasar atas buku yang berjumlah 466 halaman tersebut.

Ada kutipan yang menarik dalam buku tersebut, “muncul kesadaran di kalangan generasi muda dan terdidik di Barat untuk mulai berjarak dengan semua bentuk media baru. Ketika kesadaran ini makin menguat di Eropa dan Amerika, bangsa Indonesia masih pada fase mengagumi dan menggandrungi media baru dan kurang memperhatikan benar konsekuensi yang ditimbulkannya.” Bisa disimpulkan, secara garis besar penulis ingin menyampaikan hal yang sebenarnya gagal diketahui dan dipahami oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Jagat digital, sebuah dunia baru yang melenakan sekaligus mematikan. Bangsa Indonesia belum sadar terhadap frasa tersebut. Melalui bukunya ini, penulis menguraikan hal terselubung yang terdapat dalam Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya. Hal terselubung itu ironisnya kita nikmati detik ini dengan nyaman.

Perlu diketahui, tidak ada yang benar-benar gratis: free service dengan free data. Perusahaan layanan media sosial memberikan banyak hal kepada penggunanya, tetapi juga mengambil banyak hal: privasi, kebebasan, dan kedaulatan diri. Itu yang dinyatakan Agus Sudibyo dalam bukunya.

Google, Amazon, Facebook, dan platform lainnya sebenarnya telah menghegemoni kesadaran kita. Privasi kita diambil secara mudah dan kita terus tertawa sambil berswafoto sekaligus berselancar di dalamnya.  Ada hal yang menghegemoni pikiran pengguna internet, sehingga secara tidak sadar sedang menjadi objek eksploitasi, alih-alih menganggapnya sebagai kewajaran.

Berpijak pada konsep panopticon (Foucault), Agus Sudibyo memberi gambaran yang jelas betapa sebenarnya kita sedang benar-benar diawasi setiap waktu tanpa jeda sedikitpun. Konsep ini menggambarkan suatu penjara yang di setiap sudutnya dipasangi perangkat CCTV (digital panopticon).

Sudah tidak ada lagi kebebasan, karena yang ada adalah pengawasan dan pengendalian. Karena, hampir semua gerak-gerik penghuni penjara dapat dipantau dan diarahkan. Tujuannya ialah menjadikan pengguna sebagai sumber atau bahan baku gratis untuk proses manufaktur dalam bentuk yang baru dan skala tertentu.

Kembali pada sub judul buku, Pembebasan dan Penguasaan. Kita memang diberi kebebasan yang benar-benar bebas. Dalam buku The New Digital Age: Transforming nations, Businesses, dan Our Lives dinyatakan, “Dunia digital adalah ruang tanpa hukum terbesar di dunia.” Maksudnya, pada ruang inilah kita bebas melakukan apa saja, semua hal tersaji. Sebab, perlahan dan pasti semua hal mulai terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Sayangnya, pembebasan semacam itu berjalan lurus dan beriringan dengan penguasaan yang terjadi.

Free service dengan Free data. Begitulah konsep yang coba diuraikan Agus Sudibyo dalam bukunya ini. Tidak berlebihan rasanya jika Sony Subrata berharap buku ini mampu merangsang studi, riset, dan penulisan karya ilmiah yang lain, karena bangsa Indonesia seyogyanya tidak menyadari betapa luar biasanya pertunjukan di balik layar jagat digital tersebut. Pertunjukan yang belum pernah mereka ketahui. Buku ini bisa dijadikan salah satu pijakan untuk memulai, memahami, dan menguaraikan isi jagat digital.

Selain hal di atas, pada bagian akhir buku ini, dipaparkan hal yang lebih menarik. Sifat jagat digital yang sejatinya semu, ternyata mendapat sebuah legalitas yang baik. Tentu saja sangat memprihatinkan bahwa negativitas media sosial justru diamplifikasi oleh media massa, khususnya media daring dan televisi.

Kekusutan info di media sosial dalam berbagai kasus justru dilanjutkan ke dalam ruang pemberitaan, diskusi publik, dan bincang-bincang televisi (talkshow). Ini semacam fenomena yang mengerikan. Ketika hal yang sejatinya rancu, banal, hiper, rapuh, berkelindan, tiba-tiba menjelma paradigma baru publik. Media massa menjadi follower media sosial, itulah yang ditulis Agus Sudibyo.

Jadi, media massa yang sebelumnya menjadi titik tolak pemberitaan karena kredibilitasnya yang terjamin, kini beralih fungsi menjadi pengikut kebanalan informasi.

Media sosial (jagat digital) sesungguhnya berhasil menciptakan perubahan revolusioner dalam hal mode komunikasi, interaksi sosial, dan partisipasi politik. Di samping itu, ada hal di balik layar yang juga harus dipahami dengan baik dan bijak. Sebagai panduan bersikap di dunia baru tersebut, Agus Sudibyo menawarkan hal yang argumentatif serta perspektif yang kritis dalam bukunya ini.

Eksploitasi masalah-masalah di atas menjadi bahan baku buku ini. Bagaimanapun, pengguna internet di Indonesia tembus 171 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, Indonesia menempati peringkat kelima dunia. Kalau kita tidak mampu menyikapi fenomena digitalisasi pada era revolusi industri 4.0 ini, cepat atau lambat kita akan menjadi ladang penjajahan media owner.


Dwi Alfian Bahri, guru Bahasa Indonesia di SMP Kawung 1 Surabaya. Lahir di Kota Pahlawan 29 April 1993. Tinggal di kawasan Surabaya Utara. Pada waktu luang, menjalani pameran dan workshop modern kaligrafi (lettering), serta aktif dalam kegiatan literasi dan seni-sastra di Surabaya. Telah menerbitkan antologi cerpen Bau Badan yang Dilarang (2018). Bila  berminat menjalin komunikasi, bisa di instagram: @suaraalfian47.

Puisi

Puisi Maulidan Rahman Siregar

Taman Kota Jam Dua

di taman kota, aku menemukan diriku

sedang awas pada tiap telinga.

kusulut ini rokok dalam diam,

dalam-dalam

ibu, hai yang tak kutahu namanya

demi hebatnya malam

kopi harap segerakan!

mi instan untuk ketegangan seorang

perempuan

dan gelak tawa seorang bujang

pecah apa pun yang jadi sunyi

kutulis puisi 15 menit dan tak peduli

ketika seekor nyamuk menampar mukaku

ia bertanya iseng,

“hai, ini malam Minggu, kau tak ada janji

bertemu?”

2018


Wahai Kesepian

dari mana kau datang wahai kesepian

siapa yang mengutusmu

jarak adalah kisah yang membosankan

bila diceritakan oleh malam

Tuhan sayang, kala pertemuan adalah

makhluk yang hanya kalah tipis dari surga

mengapa Kau perkenalkan perpisahan 

Pariaman, 2014


Goreng Cinta Percintaan

aku tiba di kotamu

melewati kabut gila

asap penuh sesak; bangsat!

sebelum dan sesudahnya

kulumuri karang gigi dengan doa

; tentang apa yang kita sebut harap

; tentang bagaimana menunggu

akan kupeluk kau; sekuat tenaga!

hangat, umpama pijar pada gelap hebat

kita tak tahu lagi orang lewat

bagaimana burung pulang alamat

goreng pisang rasa cinta

dan tulisan Rp.500,- yang dicetak miring tebal

lumat pada mentari yang malu-malu

dan kau yang sedang kuyup

pasti sedang mencari

bagaimana aku sembunyi

di tepi diri

di awal malam

kita sama bertanya,

“kapan dan untuk apa pulang?”

Mei, 2018


Hari Lalu

yang jauh akan pulang

seperti masa lalu dalam ingatan seseorang

tak ada tempat bagi yang pergi

melainkan kembali

seperti kemarin pada hari ini

padi masak sore hari

burung gereja pulang petang di masjid-masjid

angin menemui sarangnya

senja menyembunyikan hari esok

dalam cahaya merah saga

kau pasti kembali

2015


Sepasang Kekasih yang Lupa Bagaimana Cara Bercinta di Atas Awan

pada bumi, salam maaf telah diam di hati
disampaikan di udara, ditulis, dibukukan malaikat
jatuh jua kita, kekasih
sampailah kita pada waktu jauh
jalan pulang yang salah dan panjang

berdamai dengan iblis hitam bertenaga musik metal cadas
kecemasan yang ramai, seperti pengunjung konser musik yang kehilangan kunci motor
rangkul saja aku, kekasih
peluk dengan segala hangat
kecup lagi sedikit, kalau bisa gigit sampai sakit
ya, kita harus siap untuk jatuh

kita adalah sepasang kekasih yang lupa bagaimana cara bercinta di atas awan
tak lain, yang selalu kita jaga hanya doa
itu saja

Ketaping, 08/04/2015


Cinta Adalah

cinta adalah lantunan maha sakit,

tempat di mana ketiadaan harus dipertanyakan,

penyair berkata, lewat akun twitter-nya

“cinta adalah hari libur pedagang pasar pagi,

lebih susah dicari, dari mencari-cari mati.”

2014


Masuk ke Rahimmu

pulang ke rahimmu

aku mencret

ngilu pedih seluruhku

jangan kau lari

kau tak bisa sepenuhnya

sembunyi, dari apa

yang sebabkan mati

kau selamanya bingung

di jantung, kau akan selalu

murung digantung.

kepalamu akan muncul

di gunung-gunung

dan tak seorang pun

pernah ingat kau ada

2018


Obat Luka

beberapa lagu dalam sunyi

bunyi, selalu bunyi

selalu saja, diri ini kehilangan diri

bahkan ketika aku memanggil apa saja

tak seorang pun, bahkan juga kau

mampir ke sini

untuk obati luka

kau di mana, kau?

aku, di mana aku?

kukira kau tau

rupanya kau bukan

2019


Menebar Bunyi

aku ingin dikenang olehmu sebagai bunyi

yang lama dan bertamasya di hati

diam pula di jantung

aku ingin lama di dalam dirimu

seperti siul burung-burung di kejauhan

seperti ledakan di medan perang

yang merebut kemerdekaan

dan memenjarakan ingatan

2019


Di Udara

kita bercinta sekuat tenaga

di udara

kau ayun jiwaku tinggi ke atas

enak, kita berdansa riang

gembira

eh, anu

bergetar ah, ada sesuatu di celana

berdistorsi, bertenaga

dan tentu saja, cintaku, manisku, sayangku,

muah muah

aku akan memenangkan niaga!

2019


Dangdut dari Kejauhan

Gerimis di telinga

Badai di mata

Hati luluh-lantak merana.

Aku mau pulang ke bahumu

Bersandar, meminta jalan pulang.

Meski rumah terbakar, sungguh!

Kamu lebih kilau dengan gingsul

pada gigi. Lubang jepang di pipi.

Sungguh!

Bagai laju kota.

Aku akan selalu berburu.

Orang-orang berlari mengejarmu.

Aku naik motor. Sungguh!

Bukalah pintu!

Seorang baik selesai mengetuk.

Mei, 2017


Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang 03 Februari 1991. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018) dan Menyembah Lampu Jalan (2019)

Puisi

Puisi Ethex

Jarak Cinta

jauh dekat menciptakan suasana
yang menimbulkan sebuah rasa

bila dekat—apalagi tak berjarak
apa yang terjadi dan menyeruak

bila jauh—apalagi terpisah ruang dan waktu
apa yang terjadi dan terasa

jarak cinta
jauh dekatnya
menimbulkan rasa

bila jauh—rindu mendera

bila dekat—ahahah bergelora

desember 2019


Tak Sekali Saja

entah ke berapa, -tak sekali saja
kau menebarkan angin
daun-daun terkesima

aku tak pernah menduga
kau pandai bersilat lidah
di mana-mana

dan tak sedikit juga
anginmu jadi luka

kemarin kau berkata -ah
hari ini -ih
esok

tak sekali saja
kau mengelabui diri sendiri
bersembunyi di balik kata

dari kenyataan yang ada

desember 2019


Liburan

Ke mana memanjakan diri dan pikiran
bebas dari rutinitas keseharian
mumpung liburan

Kalau aku tak ke mana pergi
aku tak kenal liburan
rutinitas terus silih berganti
tak ada kata, liburan

Ke mana pun pergi
:walaupun liburan
tetap memulung diksi
di mana kaki berjalan

Liburan, bagi pegawai
saat yang paling dinanti
menghabiskan gajian
pergi ke wisata hibur diri

Sedangkan, liburan
:bagiku sebuah tantangan
bagaimana gaji bulanan
tak hanya dibuat dolan

2019


Sajak Sejak Ada Aplikasi

Sejak ada aplikasi
segala data di aplikasi
disingkronisasi

Sementara kemampuan diri
pada umumnya masih tradisi
belum paham apa itu aplikasi

Apalagi yang online segala
yang menuntut koneksi kuota
fitur yang di-klik pun beraneka
saling terkait dan langsung tersambung
siapa yang tak kerja langsung bisa
diketahui kinerjanya

Perubahan yang ada—tentu saja
ada suka dan duka
yang menimpa
bagi yang paham -enak saja
bagi yang tak paham -apa rasanya

2019


Puisi dari Statusmu

Kata-katamu memang indah
tersusun rapi tak tumpah ruah
penuh makna berisi segala
aku terlena

Sebuah umpama, kau umpamakan
hidup tanpa kesusahan

Membaca statusmu
aku terbawa
antara percaya
tak percaya

Semua orang bisa berkata
semua orang bisa menulis juga
tapi tak semua orang bisa
sesuai apa yang dikata

2019


Apa Tidak Salah Kita

Detak detik malam pergantian tahun

-apa tidak salah kita
Bersuka ria, gembira bersama
saling ke tempat ramai segala
tanpa sadar sebenarnya
waktu kita terkurangi

Apa tidak salah kita
setiap pergantian tahun tiba
pada saling hura-hura
serasa lupa sebenarnya
usia tidak bertambah muda
sisa waktu yang ada
semakin berkurang juga

Apa tidak salah kita
menyambut tahun baru
lupa bila pergantian tahun itu
mengurangi waktu kita

Desember 2019


Akar Cinta

akar cintaku -akar tunjang
yang menancap kuat ke dalam bumi
biarpun angin puting beliung menerpa
cintaku tak akan tercerabut begitu saja

akar cintaku -bukan akar serabut
yang mudah tercerabut

akar cintaku -mengakar

setiap hari -setiap waktu
setiap ruang dan waktu
dan setiap gerak langkahku
akarku cinta -tanpa membedakan

siapa yang aku cinta

1 Januari 2020


Catatan Tahun Terakhir

ada yang terserak
tak tampak
tak tersimak
luput dari jejak

ada yang terserak
begitu tampak
jadi sebuah jejak
yang jamak

sementara angin gelombang
selalu mengajak berdentang
sebisanya aku buat catatan
biar setiap angin dan gelombang
tak hanya lewat tanpa catatan

baik buruknya catatan
dalam tahun berjalan
orang lain yang menentukan

baik buruknya catatan

akhir 2019


Suatu Malam Lewat Kotamu

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap benderang
di pinggir jalan remang-remang
beberapa kaki mengendap-endap

malam lewat kotamu
kau terlelap bercumbu
lewat jendela bus melaju
aku menangkap bayanganmu
mengeluh menahan sesuatu

bus melaju menembus malam
menempuh ruang dan waktu
tatkala lewat kotamu
ada sesuatu sapa ingatanku

lampu-lampu mengusir gelap
tak semua gelap lenyap
bahkan jadi remang-remang
tempat binatang nakal

malam lewat kotamu
ada sesuatu yang menegurku
yang membuat aku

tak bisa melupakanmu

malam tahun baru 2020


Tersandung Cinta

ups, asem
mataku menubruk
langkahku terkantuk
pada sebuah wajah dan senyum

di taman sebuah kota
hari senja, kaki langit barat merah jingga
ingin hati menikmati suasana
kota kali pertama kusapa

di bangku beton duduk sendirian
di antara tanaman kembang
senyumnya mengembang
langkahku tertahan

ups, asem -gumamku
ada rasa debar sesuatu
:kayaknya kita pernah ketemu
tanpa babibu -aku duduk di sampingnya
dan meluncurlah kata-kata
yang membuka dialog senja hari

di taman kota

2020


Ethex, lahir dan dibesarkan di telatah Mojopahit (Mojokerto), karyanya berupa puisi, cerpen dan esai sudah dimuat di beberapa media massa, antara lain di Suara Karya, Republika, Sastra Sumbar, Media Indonesia dan lain-lain. Puisi-puisinya terkumpul dalam beberapa antologi puisi, antara lain di Temu Sastrawan di Medan, Temu Sastrawan di Kediri. Temu Sastrawan di Malaysia, Dari Sragen Memnadang Indonesia (2012), Malsasa (2013), Poetry2 Flows Into The Sink Into The Getter (2013), Puisi Menolak Korupsi (Jilid, I, II, IV, V), Memo Presiden (2015), Temanten Langgit (2015), Tifa Nusantara (2014 dan 2015), Solo Dalam Puisi (2014), Lumbung Puisi (2015), Cimanuk (2016), Negeri Awan (2017), Festival Bangkalan (2017), Ruang Tak Lagi Ruang (2017),  Kesaksian Tiang Listrik (2018), Negeri Bahari (Negeri Poci 2018), Jejak Sajak Batu Runcing (2018), Sabda Alam (2019), Zamrud Khatulistiwa (2019), Membaca Hijan di Bulan Purnama (Tembi, 2019)  dan lain-lain. Juga dalam Antologi “Bersetubuh Dengan Waktu” (2014), “Dari Cinta Ke Negara” (2015), “Rasa Ku Rasa” (2016) dan Kumpulan Cerpen “Sepeda Pancal” (2016), “Gapura Menapak Jejak Mojopahit” (2018), “Pemulung Diksi” (2019). Bekerja di UPT Dinas Pendidikan Kec. Mojosari Kab. Mojokerto, dan  Dosen di Institut Agama Islam Uluwiyah. Aktif di Dewan Kesenian Kab. Mojokerto, sebagai Wakil Ketua, dan Penggiat Gerakan Puisi Menolak Korupsi (PMK).Alamat: Jln. S. Parman 18 Modopuro-Mojosari-Mojokerto 61382 Jawa Timur

Cerpen

Rahasia Kelam Lelaki Pencemburu

Cerpen Adam Yudhistira

Beberapa menit yang lalu, Hanz menumpahkan kopinya sedikit demi sedikit ke dalam pot geranien yang bergantungan di atap teras. Setelah isinya tandas, dia lantas duduk. Tatapan matanya menjurus tajam ke arah sulur-sulur bunga yang berwana merah cerah itu, menyiratkan sesuatu yang kejam dan penuh dendam.

“Bagaimana rasanya? Nikmat, bukan?” tanyanya entah kepada siapa. Sulur-sulur geranien berayun lembut. Hanz menyeringai dan tenggelam dalam lamunan.

Bertahun-tahun lalu, sebenarnya Hanz memiliki kehidupan normal. Dia bekerja di perusahaan periklanan dengan penghasilan yang cukup mapan. Namun semuanya berubah ketika dia jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Quilla. Perempuan inilah yang mengubah kehidupannya.

“Aku ingin hidup bersamamu. Rasanya menyenangkan jika kita menetap di Green Mount.”

“Kenapa harus Green Mount?”

“Karena hanya di sana geranien tumbuh sepanjang tahun.”

Hanz yang sedang dimabuk cinta tak mampu menampik. Dia menguras semua tabungannya demi mewujudkan keinginan Quilla. Mereka menikah di Green Mount, kota kecil yang diimpikan Quilla. Namun selama tiga tahun berumah tangga, Hanz merasa perempuan itu tak pernah tulus mencintainya. Dia merasa dirinya cuma sebatang ranting yang dihinggapi seekor burung liar.

Anggapan itu terbukti benar. Suatu ketika, di restoran milik Nyonya Villardo, dia memergoki Quilla bersama seorang pria. Hanz tak akan dibakar api cemburu apabila mereka hanya berbincang atau sekadar saling sapa. Hanz cemburu, karena Quilla mencium pria itu dengan mesra.

Semula, Hanz tidak ingin mempersoalkannya. Pria pendiam itu mencoba memaklumi. Namun akhirnya dia menyadari jika pemakluman adalah bentuk dari cinta yang membabi buta. Cinta yang membabi buta itu pula yang menjadi bencana tak terpermanai dalam hidupnya.

Malam itu, Hanz menuju restoran Nyonya Villardo dan melihat semuanya telah berubah. Quilla ada di sana. Perempuan itu sedang bersandar di sebuah bangku, mengisap rokok dan berbincang dengan seorang pria. Dia menyugar rambutnya, tertawa kecil, dan menunjukkan seulas senyum mesra yang sama dengan senyum yang Hanz pikir selama ini hanya ditujukan kepadanya.

“Halo.” Hanz melambaikan tangan, sengaja menegaskan bahwa dia tak keberatan melihat Quilla berbicara dengan pria lain.

Perempuan itu menoleh dan ekspresinya tampak datar. Dia mengembuskan asap rokok tak acuh, lengannya membelit angkuh di bawah dada.

“Kau tak membaca pesanku?” Hanz menghampiri dan menyentuh bahu Quilla “Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tiga jam yang lalu. Ponselmu mati. Ada yang harus kita bicarakan.”

“Kau keberatan jika aku turut mendengar?”

Hanz menoleh, melihat kerlip perak di daun telinga pria yang menegurnya. Dia adalah pria berkulit cokelat. Lengannya bertato. Rambut panjang dikuncir ekor kuda dan bahu bidang yang tampak besar oleh suntikan steroid. Terlepas dari ukuran tubuhnya, Hanz merasakan sesuatu yang lembek, seakan-akan pria itu hanya aktor yang memerankan tokoh jagoan.

“Aku tak bicara padamu,” kata Hanz menjaga intonasi suaranya setenang mungkin.

Pria itu mendengus. Quilla masih duduk sambil menjepit rokok di antara ibu jari dan telunjuk. Kedua lengannya erat berbelit, seakan menegaskan sikap keras yang sombong.

“Sejak kapan kau merokok?” Hanz menatap tajam mata biru yang dulu menjadi alasannya jatuh cinta. “Kau sering melakukannya?”

“Jangan membuatku malu.”

“Kenapa? Karena aku bicara denganmu?”

“Ini bukan waktu yang tepat.”

“Bisakah kita bicara di rumah saja? Ada beberapa hal yang harus kupahami tentang apa yang terjadi.”

“Thomas akan mengantarku,” ujar Quilla melirik pria di sampingnya. “Kau pulang saja. Satu atau dua jam lagi aku akan menyusul.”

“Hei, Bung, bisa tolong beri kami privasi?” Hanz melempar senyum bersahabat pada pria yang dimaksud Quilla. “Aku sedang bicara dengan istriku.”

Pria itu berdiri angkuh, menatap tajam seolah ada permusuhan lama di antara mereka. Quilla merentangkan tangan, menghalanginya untuk mendekati Hanz. Hanz sendiri merasa sudah sangat siap dengan segala kemungkinan.

“Kau kesal?” tanya Hanz. “Kau pasti berpikir aku sedang mengganggu kesenanganmu, bukan?”

Quilla merapatkan kaki dan menyesuaikan posturnya dengan sikap resmi—yang bagi Hanz terasa angkuh dan mengintimidasi. “Aku tak mengatakan apa-apa,” jawabnya sedikit bergetar.

“Apakah tak ada lagi harapan untuk memperbaiki semua ini?”

“Aku menyesal mengatakannya. Aku rasa semuanya sudah layak untuk diakhiri.”

Hanz mengepal tangan, merasa geram dan terhina. Quilla membuang rokok ke dalam gelas berisi soda, membuat suara desis yang dingin.

“Dengar…” Hanz menggapai bahu Quilla.

“Jangan sentuh aku!” Quilla mundur. “Pergi sajalah.”

Thomas menghampiri. Dia bersikap seolah penjaga pribadi Quilla. “Semua baik baik saja?” tanyanya pongah.

“Ya, Bung, kami baik-baik saja.” Hanz melambaikan tangan menghalau. “Mundur saja. Aku belum selesai.”

“Sepertinya sudah selesai.”

“Hei, Brengsek! Aku tak minta pendapatmu.”

“Kau membuatnya takut, Bung.”

“Dia tidak ketakutan. Quilla, bisakah kaujelaskan pada beruang yang tak punya otak ini?”

Quilla berpaling, memasang wajah beku yang tak peduli.

“Nah, jelas sekarang. Sebaiknya kaupergi.” Thomas menaruh tangannya di siku Hanz. “Biar kuantar kau keluar dari sini.”

“Jangan sentuh aku. Bedebah!”

“Tenang, Bung.”

“Oh, kau bersikeras rupanya?” Hanz mengibaskan tangan. “Hanya banci yang memanfaatkan situasi untuk meniduri perempuan bermasalah.”

“Siapa yang kausebut banci?” Pria itu mendorong tubuh Hanz.

Hanz mendengar bunyi alarm berdenging di kepalanya. Dijambaknya rambut pria itu, kemudian disentaknya sekeras mungkin untuk menghantamkan kening. Dilihatnya percikan darah melayang di udara. Ketika pandangannya jernih, dia merasa sakit kepala luar biasa. Thomas merosot di meja. Darah mengalir dari hidung dan matanya.

Hanz tak bisa lagi mundur. Dia merenggut ketel air panas di dekatnya dan mengacung-acungkannya ke wajah Thomas. Segera saja, semua orang histeris. Dua pengunjung keluar sementara yang lain menjauhkan pisau-pisau.

Rasa takut mereka membuat Hanz merasa hidup, memberinya perasaan kuat dan berkuasa. Dia seolah menegaskan bahwa sekali kaurenggut harga diri seorang pria, maka yang tersisa hanya masalah siapa yang mampu memukul lebih keras dan lebih baik.

“Apa yang kaulakukan?” teriak Nyonya Villardo histeris. Ketel sudah pasti mendarat di kepala Thomas andai saja perempuan tua itu terlambat masuk.

“Tidak apa-apa,” jawab Hanz santai. Dia meletakkan ketel kembali ke atas tungku.

Nyonya Villardo menatap Thomas yang memegangi hidung lalu beralih pada Hanz, “Kau sebaiknya pergi dari sini,” tukasnya geram. “Atau aku akan menelepon polisi.”

“Ya, aku akan pergi.”

Hanz menyentuh benjolan di kening dan menyadari masih ada sisa darah di permukaannya. Di sebuah panci rebus yang mendidih, Hanz melihat seekor kepiting berusaha keluar. Capit merahnya menjangkau tepi panci. Kepiting itu meregang, menggeliat, berjuang untuk usaha pelarian diri yang sia-sia. Namun, kepiting itu sudah terlalu lama berada di dalam panci. Dia tak punya kesempatan untuk hidup. Bagian dalam tubuhnya sudah masak. Dengan hati terbakar, Hanz menyaksikan capit itu terkulai dan memberinya sebuah ilham yang keji.

***

Sejak peristiwa di restoran itu, gundukan sabar di dada Hanz runtuh. Quilla tak pernah kembali ke rumah. Didorong rasa ingin tahu yang kuat dan kecurigaan yang berbulan-bulan, suatu malam dia membuntuti Quilla dan Thomas ketika keduanya melintasi setapak yang mengarah ke bungalow di tepi danau Devlin.

Seperti burung nazar yang lapar, Hanz menunggu. Dia mengintai dari balik jendela, menyaksikan keduanya bergumul liar di atas tempat tidur. Kenyataan itu semakin menyadarkannya, bahwa tak ada lagi yang bisa diselamatkan dari rumah tangganya.

Lelaki itu masuk lewat jendela nyaris tanpa suara. Memang awalnya ada sedikit perlawanan dari Thomas dan Quilla, namun Hanz membekal sebilah belati dan memahami titik mana saja pada tubuh Thomas dan Quilla yang mematikan. Tiga tusukan di ulu hati menyudahi semuanya.

Hanz mencium kening Quilla untuk terakhir kalinya sebelum membungkus jasad itu dengan seprai penuh darah. Dia menyeret tubuh mereka menuju kegelapan hutan pinus yang dipenuhi suara paruh pelatuk, teriakan parau gagak, dan derik jangkrik yang terdengar seperti derit engsel pintu karatan.

Setelah berjalan hampir dua jam, Hanz berhenti di antara kedua ceruk bekas dinding tanah yang runtuh, dan meletakkan tubuh-tubuh itu dan membakarnya. Saat langit berubah dari gelap lalu kemerahan, rasa sedihlah yang pertama kali mendominasi pikirannya.

Api telah padam, menyisakan gemulai asap putih tipis di atas tumpukan tubuh yang menjadi abu. Hanz mengumpulkan abu itu, menyatukannya dalam kantung plastik. Abu itu dia bawa ke rumah dan ditumbuk halus menyerupai bubuk kopi lalu disimpannya di dalam toples kaca.

Setiap pagi, abu itu diambilnya sejumput demi sejumput, lalu diaduknya bersama sesendok kopi bubuk yang asli. Kopi itulah yang dia tuang ke rumpun-rumpun geranien yang menggantung di bawah atap teras rumahnya. Bertahun-tahun begitu, tanpa ada satu orang pun yang tahu.***


Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain menggeluti aktivitas bersastra, ia juga mengelola Taman Baca untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Puisi

Puisi LY. Misnoto

Silsilah Cinta

ketika hati lama mati,

suara rasa terkirim pada kegelapan

setelah kenyataan tak senyata senyummu

ketika pertemuan terlapangkan,

sepi dari tangis dan rasa rindu

semisal lilin yang menyala dalam ruangan

ketika fajar menemuimu di halaman,

rumput-rumput ramai

menyuarakan sisa-sisa bahagia

ketika cinta bertemu tuannya,

harapan sunyi dari derai ilalang

tumbuh di taman kenangan yang gersang

ketika rumah tak beratap,

sisa-sisa namamu tak lagi dinaungi

apalagi hati yang dulu bahagia

selaksa hikayat anak-anak di masa kecil

mendengarkan dendangan hati kita

masih kuwiridkan senyummu

ketika purnama menemukan istri,

sejuk terlewatkan di antara jalan sunyi

pada kesetiaan yang menanti rindu

ketika aku diperjumpakan denganmu,

dalam kesanggupan untuk berikrar

kembali merangkai riwayat cinta

Malang, 2019


Silsilah Perasaan

Siti,

perjalanan ini tak lebih dari rindu

sementara hati mengharap bahagia

setelah zaman melahirkan luka

dari rahim yang disetubuhi waktu

antara bingkai jarak di wajahmu

Siti,

tubuh terengah-engah hampir pasrah

sementara otak masih ditumbuhi senyuman

ketika parasmu menjadi benih cinta

acap kali digarap dengan rasa sayang

pelaksanaannya tersesat di antara hati kita

Siti,

tentang ketulusan dalam setia

telah tertakar bersama perasaan

sekalipun tak akan ada kenangan

setelah semuanya terangkum ikatan

akan utuh di hati sebelum mati

Malang, 2019


Akulah

akulah rindu,

dalam seduhan secangkir kopi

saat segalanya menjadi asap kematian

selepas tertinggal pada jarak

dan kesanggupan kumenghirup

akulah rasa,

dalam makanan yang terhidang

saat segalanya menjadi irisan kehidupan

selepas berlabuh dalam luka

akulah puisi,

dalam setiap buku harian

saat rindu dan rasa memilih tiada

selepas ramalan luka perawan

menghancurkan hati di sepanjang air mata

yang terlanjur melupakan sabda cinta

Malang, 2019


Pertanyaan Berakhir di Ingatan

kenapa harus cemas malam ini?

mungkinkah pekerjaan tadi siang

atau barangkali bingung untuk memulai?

perbedaan adalah variasi

sebelum membahagiakan diri sendiri

tanpa harus memikirkan kami

yang tak sudi mencari jawaban

mengapa kau melakukan berkali-kali,

masih belum puas dengan kuasa di kening?

semakin merajam kecemasan

pada tubuh mereka yang membatu

di punggungnya tersimpan pertanyaan

tentang kebangkitan dan kematian

mungkinkah esok hari

mereka menyelesaikan pertanyaan?

kenapa seakan mereka tak kuasa

ketika kau berlari mengejar arah

di tubuh mereka yang tidak tahu?

masih tetap sama di jarak waktu

jawaban hanyalah harapan

selepas mereka mati tanpa kerangka

meski berkali-kali datang

pertanyaan-pertanyaan resah

yang setia redup dalam ingatan

Malang, 2019


Aku tak Tidur Malam Ini

aku tak tidur malam ini

masih menulis air mata luka

menjadi puisi dan mantra

yang gemar dibacakan untuk kekasih

atau dihantarkan melalui angin roh jiwa

seperti persemadian waktu

yang membutuhkan tumbal hati

yang memerlukan meditasi rindu

dalam cinta tertata

lalu tidurlah aku di wajahmu

aku tak tidur malam ini

membaca segala yang dilihat

dalam segenap rindu

bersama sebuah perjalanan waktu

yang terkadang selalu diburu

mencari wajahmu setelah membuka pintu

aku tak tidur malam ini

masih bersama wajahmu

yang terkadang menjadi halimun

aku tak tidur malam ini

teman-temanku memberikan secangkir kopi

menjauhkan rasa dalam diri

seakan wajahmu terlelap di hangatnya

ketika purnama memulaskan diri

Malang, 2019


Tak Ada Hari Libur

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah keluar dari kalender

menyusul kepergian Bapa

Siti,

hari ini tak ada hari libur

ia telah menjauh dari cetakan merah

menutup segala kesenangan anak sekolah

dari segenap pelipur perjalanan

yang kerap dicekoki tanggal hitam

Siti,

hari ini tak ada hari libur

biar tak selalu bergegas para pekerja

merapikan segala arah bertampak kertas

yang lusuh menjadi kenangan

yang rapi dilampui warna mahkota

disimpan dalam pecahan sunyi

Siti,

hari libur tak akan ada

ia telah abadi

di suatu tempat nan sunyi

di perkampungan tak berpenghuni

dan tak akan ada caci maki

Malang, 2019


Berhentilah

berhentilah menangis, Siti, berhentilah

kau sudah sampai pada puncak sunyi

bertamulah pada bulan

ada suguhan cahaya di sana

mintalah untuk kaubawa pulang

dan berikan pada masa lalu

berhentilah menyesal, Siti, berhentilah

akan ada puisi untuk kaubaca

menjadikannya obat sakit kepala

hilanglah mantra-mantra masa lalu

berhentilah tidur, Siti, berhentilah

malam ini akan datang purnama

jemputlah ia sebelum pagi

suguhkan rindu di meja tamu

Malang, 2019


Doa di Suatu Pagi

sebelum mata mulai berkerja

matahari belum melampui dedaunan

bising belum berdendang

biasanya selalu menyangkut di telinga

di kening masih terpancar kerut cahaya

melampaui sederet sajadah

dalam segala renung yang ditinggalkan

dan terkadang disimpan di dada

maka biarkan dedaunan mengembus angin

di kerut kening yang diwarnai luka

agar nanti, sebait doa yang kita eja

terbang menemui tuannya

lalu kita menerka yang akan terjadi

sebelum matahari menghisap gelap

biarkan tafsir langkah mengikuti arah angin

dan biarkanlah mata bekerja

di keriput kening bersama doa

Malang, 2019


Sebuah Kisah

matahari sebelum melewati waktu

masih mencondongkan tubuhnya

di kepala yang masih basah dari sisa semalam

sampai di sekujur doa-doa

semestinya kita berkisah di tangisan langit

bersama burung-burung yang pulang pergi

sedari subuh telah ia ikrarkan

demi sebuah kisah dalam harapan

langit masih tak berkawan mendung

meski kita selalu menjemput gerimis

dengan doa-doa di samping rumah

ketika perut-perut sudah kosong

bumi kita sedang sekarat, kawan

seluruh cuaca tak bisa diajak kompromi

meski beribu dupa kau jejalkan

pada ranting-ranting yang kemarau

dan akar yang tak bermusim

seharusnya tak seperti itu

setiap kisah semestinya beriringan doa

namun, doa telah membuatnya bosan

tak perlu lagi berjalan jauh

demi memohon kepada cuaca

sekadar menikmati romantisme gerimis

dan bertawa ria di dalamnya

sudah tiba untuk tak berkisah

tangis hanya sekadar catatan rindu

Malang, 2019


Pada Cuaca Pagi Ini

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menghirup aroma rindu

meski hujan sedang bergerai di luar

mengguyur seluruh doa

yang kita titipkan air mata

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita menikmati kegelisahan

yang terbawa dalam tubuh sebelum lahir

dan kita tertimpa panas berkepanjangan

di dada kita, cuaca membaca kenangan

pada cuaca pagi ini

sepenuhnya kita merasa haru

pada orang-orang yang memilih bersandiwara

ketika diam-diam tubuhnya merangkai rindu

melupakan kebersamaan

tak lagi melipurkan kedinginan

dan menutup panas yang membakar

Malang, 2019


LY. Misnoto, lahir di Pulau Giliraja, Kab. Sumenep, Madura. Menulis puisi semenjak berada di Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka, Bluto. Puisi-puisinya dimuat di Radar Madura, Radar Malang, Radar Cirebon, Kabar Madura, Harian Ekspres Malaysia, Majalah Kuntum, dll. buku antologi tunggal barunya berjudul “Mayang”.