Sosok

Teaz Sugita: Perjalanan dari PKL Menuju Fashion Desainer

Jika seseorang melihat Teaz Sugita saat ini sebagai seorang fashion desainer yang semakin dikenal di industri mode, mungkin tak banyak yang tahu bahwa perjalanan menuju titik ini penuh dengan lika-liku. Perjalanan Teaz bukanlah kisah instan tentang kesuksesan, melainkan kisah ketekunan, kerja keras, dan perjuangan dari bawah hingga akhirnya berdiri sebagai desainer yang diperhitungkan.

Awal Mula: Cita-Cita yang Terpendam

Sejak kecil, Teaz Sugita sudah memiliki impian besar. Saat masih anak-anak, ia bercita-cita menjadi seorang artis, namun seiring berjalannya waktu, ketertarikannya terhadap dunia fashion semakin kuat. Saat duduk di bangku SMP, ia sudah yakin ingin menjadi seorang desainer. Karena itulah, ia memilih melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 4 Surakarta, mengambil jurusan Tata Busana, dan lulus pada tahun 2007.

Namun, menjadi desainer bukanlah jalan yang bisa langsung ia tempuh. Seperti banyak orang lainnya, setelah lulus sekolah, Teaz harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ia tidak langsung terjun ke dunia fashion, melainkan mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja di pabrik, menjadi sales elektronik, hingga akhirnya menjadi pedagang kaki lima (PKL) pada tahun 2011.

Membangun dari Nol: Perjuangan sebagai PKL

Menjadi PKL bukanlah pilihan yang mudah, tetapi itulah yang Teaz jalani untuk bertahan hidup dan memperbaiki kondisi finansialnya. Ia berjualan di depan pabrik dari subuh hingga pukul 7 pagi, terkadang harus meninggalkan anaknya yang masih bayi demi mencari nafkah.

Perjuangan sebagai PKL penuh tantangan. Ia pernah mengalami kejadian menyakitkan, seperti dagangannya rusak karena tenda roboh akibat hujan dan angin kencang, bahkan beberapa kali diusir oleh Satpol PP. Namun, semangatnya tidak pernah surut. Baginya, selama usahanya halal dan tidak merugikan orang lain, maka ia akan terus melangkah.

Dari hasil berjualan sebagai PKL, ia sedikit demi sedikit memperbaiki kondisi keuangan. Setelah memiliki cukup modal, ia mencoba membuka usaha di bidang kecantikan dengan membuka salon serta usaha persewaan baju pengantin.

Langkah Menuju Dunia Fashion

Meskipun sibuk dengan usahanya, kecintaannya terhadap dunia fashion tidak pernah pudar. Hampir semua baju yang disewakan dan digunakan dalam usahanya dibuat sendiri. Kualitas karyanya mulai menarik perhatian banyak orang. Dari mulut ke mulut, namanya mulai dikenal sebagai seseorang yang bisa membuat baju pesanan, seragam, hingga kostum-kostum khusus.

Tak hanya itu, Teaz bahkan pernah bekerja di belakang layar dengan membuat produk untuk desainer-desainer senior. Meski namanya belum banyak dikenal saat itu, pengalamannya terus bertambah dan kepercayaan terhadap kemampuannya semakin kuat.

Berani Berdiri Sendiri sebagai Desainer

Setelah bertahun-tahun bekerja di balik layar, akhirnya pada tahun 2020, Teaz memberanikan diri untuk berdiri sebagai seorang fashion desainer. Awalnya, ia hanya membuat baju show untuk anaknya sendiri, namun dari situ ia mulai lebih percaya diri untuk memproduksi karyanya bagi orang lain.

Keputusan ini bukan tanpa risiko, tetapi ia yakin bahwa ini adalah jalannya. Dengan pengalaman bertahun-tahun dan pemahaman mendalam tentang dunia fashion, ia mulai membangun brand sendiri. Tak butuh waktu lama, desain-desainnya mulai mendapat perhatian lebih banyak orang.

Menjadi Nama yang Dikenal di Industri Fashion

Puncak perjalanan Teaz sebagai fashion desainer dimulai pada tahun 2022, ketika namanya semakin berkembang dan dikenal luas di industri fashion. Karyanya semakin diminati, dan ia mulai mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Salah satu pengalaman paling membahagiakan dalam kariernya adalah ketika ia mendapat kesempatan untuk mengadakan fashion show bersama artis Abah Lala, di mana ia menjadi salah satu pengisi acara. Momen ini menjadi salah satu pencapaian yang sangat membanggakan baginya, sekaligus menandai bahwa usahanya selama ini telah membuahkan hasil.

Tantangan dan Cobaan dalam Perjalanan

Perjalanan menuju kesuksesan tidak selalu mulus. Selain tantangan sebagai PKL di awal perjuangannya, Teaz juga pernah mengalami pengalaman pahit dalam bisnis fashion. Salah satu yang paling menyakitkan adalah ketika ia ditipu oleh pelanggan yang membawa kabur pesanan tanpa membayar, dengan nilai kerugian mencapai jutaan rupiah.

Namun, semua cobaan itu tidak membuatnya menyerah. Baginya, setiap kesulitan adalah bagian dari proses. Prinsip hidupnya yang selalu dipegang teguh adalah: Jalani, nikmati, dan syukuri. Selagi halal dan tidak merugikan orang lain, sikat saja!” Sebagai seseorang yang pernah mengalami berbagai rintangan dalam hidup, Teaz memiliki motto yang selalu ia pegang: Bermanfaat yang positif untuk orang lain.

Baginya, keberhasilan bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga tentang bagaimana ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain, baik melalui karya-karyanya maupun semangat perjuangan yang ia bagikan.

Dari Impian ke Kenyataan

Perjalanan Teaz Sugita adalah bukti bahwa impian bisa menjadi kenyataan, asalkan diperjuangkan dengan tekad yang kuat. Dari seorang anak yang bercita-cita menjadi desainer, ia menempuh perjalanan panjang—bekerja di pabrik, menjadi sales, berjualan sebagai PKL, hingga akhirnya membangun namanya sendiri di dunia fashion.

Kini, ia terus berkembang dan semakin dikenal di industri fashion. Dengan akun Instagram pribadi @teazsugita_makeover dan akun fashionnya @zimaefashionnew, ia terus membagikan karya-karyanya dan menginspirasi banyak orang untuk berani mengejar mimpi mereka.

Kisah Teaz Sugita adalah pengingat bahwa tidak ada keberhasilan yang instan. Kesuksesan adalah hasil dari perjuangan panjang, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi berbagai rintangan. Dan yang paling penting, selama kita tetap menjalani dengan penuh rasa syukur dan tidak merugikan orang lain, maka setiap langkah yang kita ambil akan membawa kita lebih dekat ke impian kita. [] Redaksi

Sosok

Yudhi Herwibowo: Mendobrak Batas Cerita Sejarah

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Di dunia sastra, nama laki-laki kelahiran Palembang ini tentu sudah tidak asing lagi. Memiliki nama lengkap Yudhi Herwibowo. Ia mulai mengenal dunia literasi ketika menemukan sebuah buku catatan milik ibunya. Di dalam buku itu, Yudhi  mengetahui bahwa ibunya sering menulis puisi. Terlebih sebelumnya Yudhi tahu ibunya juga seorang pembaca. Tulisan pertama Yudhi, dimuat di media massa ketika duduk di SMP kelas 2, lalu setelah itu ia semakin rajin mengirim tulisannya di media. Namun, saat itu, keinginan untuk menggeluti dunia literasi belum sepenuhnya ada dalam benaknya.

Yudhi Herwibowo / dok. pribadi

Yudhi mengatakan, belajar menulis secara otodidak. Ia mencari dan menemukannya melalui buku-buku yang ia baca. Sampai akhirnya, nasib membawanya menempuh bangku kuliah di Solo, hingga menjadi salah satu punggawa Komunitas Pawon.  Tahun 2007, novel pertamanya yang berjudul Menuju Rumah Cinta-Mu terbit. Yudhi mengaku, sebelum tahun itu, ia banyak menulis buku-buku dalam konteks menangkap yang dikehendaki pasar, seperti buku bergenre humor dan ilmu aplikasi. Keinginan untuk mengubah jenis tulisan baru benar-benar Yudhi lakukan setelah buku trilogi Seven Samurai (2008) terbit. Novel yang berlatar belakang Negeri Sakura pada tahun 1184.

Keinginan dan berubahnya idealisme untuk menulis novel berbasis sejarah ia buktikan dengan terbitnya Pandaya Sriwijaya (2009) dan Untung Surapati (2008). Ia mengaku, buku-buku itu menjadi tonggak dan titik balik segala ide menulisnya, sampai saat ini. Novel berbasis cerita sejarah lainnya yang ia tulis adalah Halaman Terakhir (2016) yang bercerita tentang sosok Hoegeng, dan yang terbaru adalah Sang Penggesek Biola (2018) yang berkisah tentang sosok W.R. Soepratman.

Menurutnya, ide dari setiap naskah-naskah novel sejarahnya muncul dari imajinasi dan film. Jika kebanyakan penulis lain mendapatkan ide tulisannya dari buku-buku yang mereka baca, ia mengaku ide-idenya banyak ia dapatkan dari film-film yang ia tonton. Menurutnya, seorang penulis fiksi harus bisa menawarkan konsep-konsep tulisan yang tidak biasa.  Sebab ia meyakini, fiksi merupakan ide yang tidak bisa ditampung di dalam non fiksi. “Ia harus melampaui ide dari non fiksi,” kata Yudhi.

Melalui fiksi, seorang penulis bisa merayu pembacanya untuk berpihak pada seorang tokoh atau karakter dalam sebuah buku dan cerita pendek, jika di dalam non fiksi hal tersebut kemungkinan akan sulit untuk dilakukan. “Kelemahan buku sejarah tidak persuasif, tetapi kehadiran seorang penulis fiksi bisa menjadikan cerita sejarah menjadi persuasif. Seorang penulis fiksi harus mampu menghadirkan pertarungan gagasan dan ide segar dalam tulisannya,”.

Apa yang dimaksud Yudhi bisa kita temukan dari banyak cerita pendek yang ia tulis. Contohnya, dari dari buku kumpulan cerita pendek Lagu Senja yang diterbitkan Balai Pustaka (2006) mengambil sudut pandang tidak biasa, uncommon. Dalam buku itu, Yudhi mengisahkan seseorang yang jatuh ke laut, kemudian ditolong oleh manusia yang hidup di dalam laut. Atau seseorang yang menemukan sebuah pena, lalu apa saja keinginannya bisa terpenuhi setelah ia seseorang itu menulisnya. Hal-hal tidak biasa seperti itulah yang kemudian Yudhi kembangkan untuk membuat sebuah ide cerita. Terkhusus cerpen, eksplorasi Yudhi berkembang pada kumpulan cerpen selanjutnya yang berjudul Mata Air Air Mata Kumari (2010).

Satu sudut pandang yang lain dalam Yudhi berkarya, juga bisa kita temukan dalam jalan cerita Novel Pandaya Sriwijaya yang ia tulis. Dalam novel itu, Yudhi memandang keagungan Kerajaan Sriwijaya dari sudut pandang tokoh-tokoh kecil, salah satunya seorang putri yang bernama Dapuntamana. Tokoh-tokoh kecil inilah yang merangkai latar cerita tentang Sriwijaya pada abad ke 7 di tengah keterbatasan data sejarah. Namun, justru dari keterbatasan data itu, Yudhi menjadi lebih bebas menulis alur kisah  sejarah Sriwijaya.

Sebuah kebebasan menulis yang tidak ditemukannya, seperti ketika ia menulis Novel Untung Surapati. Karena data sejarah tentang tokoh tersebut sudah tertulis dalam berbagai babad sejarah Jawa, salah satunya di Babad Kartasura. Meskipun, dalam novel itu Yudhi melawan gagasan penulisan sejarah versi Belanda yang menggambarkan bahwa Untung Surapati itu seorang yang licik, suka main perempuan, culas, pengkhianat, hingga oleh pihak Belanda dijuluki sebagai “Begal Surapati”. Namun, dalam proses penulisan novel itu, Yudhi tidak mungkin mengubah jalan cerita sejarah Untung Surapati yang sebenarnya.

Menulis novel berbasis sejarah memang memiliki tantangan tersendiri. Tidak saja cerita itu sudah memiliki batasan seperti alur cerita dan penggambaran tokoh yang sudah tertulis sebelumnya. Menulis novel berbasis sejarah juga harus menjalani proses riset untuk mendapatkan data yang kuat dan akurat. Seperti ketika menulis Novel Halaman Terakhir, Yudhi harus bertemu langsung dengan keluarga Hoegeng untuk mendapatkan data untuk membangun perasaan sedekat mungkin dengan sosok Hoegeng dan Yudhi membuktikan kelihaiannya dalam menciptakan tokoh-tokoh imajinasi untuk menyiasati batasan dalam penulisan novel berbasis sejarah itu.“Saya harus mendapatkan ide tentang Hoegeng di luar sudut pandang yang sudah ditulis selama ini. Misalnya, tokoh wartawan yang saya ciptakan. Apabila tidak jeli, pembaca akan menganggap tokoh wartawan tersebut benar-benar ada. Terlibat dalam kasus Sum Kuning dengan leluasa. Selain itu, tantangan lainnya adalah rasa cemas kemungkinan akan adanya intimidasi. Mengingat tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Sum Kuning juga masih hidup,” ujarnya. Dalam perjalanan profesinya sebagai seorang penulis, sampai saat ini, Yudhi telah menghasilkan 39 buku.