Cerpen

Megh dan Cerita-Cerita yang Memicu Luka

Cerpen Pasini

Megh tiba lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi mocca favoritnya tentu saja.

“Aku yakin sebentar lagi akan menjadi ulat dalam kepompong. Rumah ini begitu nyaman dan tidak membiarkan penghuninya pergi ke mana-mana,” buka Megh, menyertai gerakanku menuang kental kopi ke dalam dua cangkir keramik. Menanggapinya, aku tersenyum tentu saja. Bukankah senyum adalah cangkang paling aman untuk menyembunyikan apa saja. Termasuk luka. Dalam hal ini, aku berguru dari ibuku.

“Tapi bagi seekor kupu-kupu, ulat yang bertapa di dalam kepompong adalah fase paling menyiksa.” Dua cangkir kopi kubawa menuju Megh yang memilih bangku dekat jendela terbuka menghadap taman samping rumah. Bougenvil, mawar, anggrek, aglonema. Ah, lagi-lagi mengingatkanku pada ibu. Pada luka.

“Oh, tidak. Aku ulat yang bahagia.” Megh berkata sambil menarik bibirnya menjadi dua sudut yang sangat runcing. Seperti menegaskan bahwa ia bukan ulat mengenaskan seperti yang kusangkakan. “Untung aku jauh berjarak dari masa-masa itu, Ros. Mendengarkan cerita dari mulut Ibu saja sudah membuat tulang-tulangku linu.”

Dalam beberapa detik aku langsung menyadari betapa konyolnya aku dengan prasangkaku. Tentu saja Megh dan ibunya dan neneknya yang miskin itu bahagia. Ibunya tidak perlu lagi jadi buruh pabrik yang berangkat kerja pagi-pagi sekali dan tiba kembali di rumah kontrakan sempit menjelang malam. Neneknya tidak lagi serupa laba-laba yang seharian di dalam kamar memintal sarang disertai erangan.

Di mana sebelum ibu Megh berangkat kerja, sudah ia siapkan makanan di meja dekat ranjang tempat perempuan tua itu berbaring. Juga obat-obatan murah dari warung. Beberapa pijak sebelum langkahnya meninggalkan ambang kamar, ia meminta perempuan tua itu untuk sedikit menahan sakitnya. Di tanggal gajian ia berjanji akan membawa ke dokter dan membelikan obat dari apotik.

***

“Tidak enak menjadi simpanan. Selalu dianggap sebagai perebut hak bahagia orang lain.”

Megh, ibunya, dan nenek laba-labanya, tinggal di kota kecil. Berita seperti apa pun dengan cepat menyebar bagai bau busuk ditebar lalat. Yang menjadi lalat di sini tentu saja perempuan-perempuan tetangga. Mengatai ibu Megh perempuan tak punya hati. Nenek Megh menjual anak sendiri. Ketika Megh lahir, ia menjadi korban perundungan teman-teman di sekolahnya.

“Lalu Ibu merayu Ayah agar kami sekeluarga bisa pindah ke rumah yang lebih besar.”

“Ayahmu menyanggupi?” tanyaku ringan, selayaknya helai daun rapuh yang sudah tiba waktu jatuh dan diterbangkan angin. Penting untuk tetap menjaga luka di dalam cangkangnya. Aman di sana.

“Itu adalah harga yang harus dibayar setelah orangtuanya memakai kemiskinan Ibu dan Nenek agar mau dinikahi anak satu-satunya.”

“Sepertinya kau tidak suka dengan ayahmu, Megh?” telisikku.

“Aku benci saat ia mengatakan harus buru-buru pergi sementara aku masih ingin dipeluknya. Masih ingin dibacakannya sebuah dongeng, masih ingin bermanja-manja di pangkuannya. Anak-anak orang lain bebas melakukannya setiap waktu, Ros.”

Cerita Megh serupa anak sungai yang menghanyutkanku ke masa lalu. Saat terbangun di tengah malam dan mendapati hanya ada ibu menenangkanku. Padahal dalam mimpi buruk yang baru saja membuatku terjaga, aku dikejar-kejar sosok buruk rupa dan diselamatkan ayah dengan menunggang kuda.

Ibu kemudian tertawa. Mengatakan bahwa ayah tidak mungkin sedang bersama kuda. Ia tengah berada di jauh sana, berjibaku dengan kertas-kertas kerja atau laptop menyala. Aku meminta ibu menghubunginya. Hanya terdengar nada dering yang begitu lama. Esok harinya ayah baru membalas dengan beberapa alasan. Jika aku di usia ibu dan aku istrinya, tidak akan kupercaya.

Aku bahkan membenci kenyataan pernah mengirim doa-doa baik di setiap kepergian ayah. Agar  mobilnya tidak bertemu pengendara ugal-ugalan di jalan. Agar ia kembali dengan sekeranjang hadiah. Agar ia membawa uang yang banyak sehingga aku bisa membeli sekarung permen atau arum manis.

Aku juga pernah berdoa agar ayah tidak sering pergi, tetapi ibu melarangnya. Katanya, ayah bisa dikeluarkan dari tempatnya bekerja jika menolak perintah atasan. Dan itu sama artinya tidak ada lagi sekeranjang hadiah, sekarung permen, dan arum manis. Meski menurut ibu, pergi ke luar kota adalah kebiasaan baru. Ayah tidak melakukannya di tahun-tahun awal pernikahan mereka.

Rasa percaya ibu yang begitu dalam pada ayah, membawanya ke dalam luka paling palung saat terjatuh. Dan harus ada yang membayarnya agar luka itu tidak berlalu sia-sia.

“Tak ada yang bersimpati ketika Nenek meninggal. Ketika Ibu menyusulnya karena leukemia. Orang-orang dengan pintasnya mengatakan itu sebagai tuai.”

Aku mengangsurkan cangkir kopi agar lebih dekat dengan Megh. Sambil memberinya saran, ia sebaiknya menjeda ceritanya dengan minum. Cita rasa kopi akan memudar seiring perubahan suhunya.

***

Sampai ibu ditemukan dengan jerat tali di lehernya pada sebuah pagi berkabut, aku masih belum memahami perihal sakit yang dimaksud nenek. Yang kutahu, ibu menjadi seorang yang berbeda sejak ayah meninggal. Dari seorang ceria yang suka menghabiskan hari-hari dengan menanam bunga, menjadi seorang pendiam yang mencari-cari alasan agar selalu menyendiri.

Ibu juga membakar semua barang milik ayah dan tidak ingin menyimpannya demi mengawetkan kenangan. Bagiku itu ironi mengingat ayah adalah satu-satunya lelaki di hidup ibu. Mereka sudah bersama begitu lama, tepatnya sebelum aku terlambat hadir di tahun ke sepuluh pernikahan.

Setelah ayah meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis, ibu belum pernah sekali pun menziarahi pusaranya. Beberapa tanyaku tentang ayah kembali sebagai jawaban-jawaban pendek. Bahkan lebih sering menguap bagai nasib awan tersapu angin.

Yang kutahu, perubahan sikap ibu dimulai ketika napas ayah tinggal satu-satu dan memaksa untuk bicara empat mata. Ibu keluar dari ruang rawat dengan tangis tak terbendung dan jatuh di pelukan nenek. Tak lama kemudian ayah meninggal dan ibu mematung.

Sebelumnya ibu adalah seorang istri yang tidak pernah mengeluh kekurangan waktu. Bahkan ibu menjadi payung peneduh atas gundahku saat tepat berusia tujuh dan dirayakan dengan sebuah pesta tanpa kehadiran ayah.

Ayah meneleponku. Mengungkapkan rasa bersalah karena kesibukannya. Menggantinya dengan sebuah janji boneka beruang dan pergi jalan-jalan sepulangnya nanti. Jadi ketika ibu mulai menghindari tanyaku tentang ayah, aku berpikir ibulah yang jahat dan ayah sebaliknya.

“Ibumu sakit,” reda nenek sambil membelai rambut sepunggungku.

Aku menggeleng. “Ibu baik-baik saja.”

“Sakitnya di sini.” Nenek menunjuk dadanya.

Tersisa nenek di sisiku. Meski yang tampak di mataku adalah sebuah jasad dengan hanya sepertiga ruh di dalamnya. Ibu adalah satu-satunya anak perempuan nenek dan menjadi kesayangan di antara dua anaknya yang lain. Kepergian ibu dengan cara mengenaskan di usia masih cukup muda pasti begitu memukul nenek. Menjadikannya semakin letih dan mendekatkannya dua kali kepada kematian. Dengan suara lirih sebelum benar-benar menutup mata nenek berujar, “Seandainya orang tua ayahmu mau lebih bersabar. Karena setahun kemudian ibumu berbadan dua. Peristiwa yang membawa luka itu tak perlu terjadi.”

Sebuah alamat kemudian diangsurkan kepadaku dan aku tidak tahu harus melakukan apa sampai begitu lama.

***

“Tapi aku pernah begitu bahagia dan merasa menang, Ros,” kata Megh. Itu adalah hari ke sembilan aku mampir ke tempat makan miliknya. Lebih dulu aku mencari tahu sebuah alamat dan menemukan Megh sebagai pemilik dari sebuah resto kecil. Aku menghabiskan banyak uang dengan pesanan dan Megh terkesan.

“Benarkah?”

“Meskipun hanya kemenangan kanak-kanak, aku memaknainya dalam. Aku berpura-pura sakit. Ibu dan Nenek memberi pilihan agar Ayah pergi. Merekalah yang akan menjagaku. Ada gadis kecil lain menunggunya untuk menerima suapan pertama dari potongan kue. Tapi Ayah memilihku.”

Megh meraih gelas. Kami bersulang. Goncangan air kuning bening di dalam gelas tulip menandai cangkangku yang retak dan tidak mampu lagi menampung bengkakan luka di dalamnya.

“Kau dan kotamu sudah menerimaku begitu baik. Aku mengundangmu untuk berganti pergi ke kotaku. Ke tempatku. Aku akan menjamumu dengan sebuah petualangan yang tidak mungkin akan kau lupakan,” kataku dengan tatap penuh permohonan.

Dan Megh mengabulkannya. Siang ini ia tiba di rumahku, lima belas menit setelah aku mempersiapkan semuanya. Yang kumaksud mempersiapkan di sini adalah lubang di halaman belakang, lilin, dan kue ulang tahun. Juga, kopi tentu saja.

“Kau juga tinggal sendiri di rumah sebesar ini, Ros?” Megh menyeruput minumannya. Mengedarkan pandang pada seisi ruang tamu yang hanya berisi pigura dengan fotoku seorang diri.

Aku melihat Megh seperti ingin berdiri. Pandangannya lekat kepada seekor kupu-kupu yang hinggap di pigura tadi dan kupikir ia hendak pergi ke sana untuk menangkapnya atau sekadar menatap dari jarak yang lebih dekat. Tapi tubuhnya kembali roboh dengan lemparan pantat yang begitu keras pada bangku. Seolah ia kehilangan kekuatannya sama sekali.

“Benar. Ayahku sudah di neraka. Bisakah kau menyampaikan salamku saat bertemu dengannya?”

Megh menatapku tak mengerti. Tapi sama sekali tidak tersisa waktu untuk bertanya. Ia memegangi lehernya serupa orang tercekik. Serbuk-serbuk putih yang ikut kularutkan di dalam teko sepertinya sedang bekerja.

Aku menyalakan lilin. Setidaknya kali ini Megh tidak perlu berpura-pura sakit di saat ulang tahunku. Sesaat setelah memejam mata untuk merapal pinta selayaknya prosesi pertambahan usia, aku menyeret tubuhnya ke lubang galian di belakang rumah.****


Pasini, mitra BPS Kabupaten Ngawi sebagai tenaga entri data. Menulis cerpen yang pernah tersiar di sejumlah media cetak dan daring.

Cerpen

Gerimis Ungu dan Perempuan Bersyal Biru

Cerpen Afri Meldam

Saya suka berjalan-jalan, terlebih pada waktu sore dan malam hari. Biasanya, sehabis mengguyur tubuh dengan air hangat yang disediakan Imah, saya segera bersiap-siap: memakai beberapa lapis baju yang kemudian saya padankan dengan sepotong syal dan sweater. Tak lupa pula—di dalam kantong sweater—saya selipkan beberapa batang rokok, sekadar pengusir dingin dan serangan nyamuk.

Malam ini saya akan ke pelabuhan. Katanya, malam ini, ada pasar malam di sana. Tentu orang-orang akan ramai berkunjung. Siapa tahu, di sana saya akan kembali bertemu dengan perempuan bersyal biru itu…

***

Perempuan bersyal biru itu selalu hadir dalam setiap mimpi saya.

Saya bertemu pertama kali dengannya secara tidak sengaja di sebuah pesta taman, setahun yang lalu. Layaknya sebuah pesta, undangan yang hadir umumnya mempunyai pasangan masing-masing, kecuali saya. Saya hanya datang sendiri ke pesta itu. Sebentar saja, rasa bosan telah menguasai saya, sementara orang-orang asyik bercengkerama dengan pasangan masing-masing. Saya pun kemudian berniat untuk segera pulang. Namun, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seorang perempuan cantik yang tengah duduk di sudut taman. Ia sendirian. Seketika pikiran saya berubah. Saya melangkah ke sana, menghampiri perempuan itu. Ia tersenyum. Saya berdebar.

“Sendiri?” tanya saya.

Ia mengangguk.

“Boleh saya temani?”

Ia kembali mengangguk.

“Boleh saya duduk di sini?”

Ia mengangguk lagi.

Aneh, kok perempuan ini tak membalas pertanyaan saya dengan kata-kata, hanya dengan sebuah anggukan? Begitu mahalkah suaranya? Atau, jangan-jangan perempuan cantik ini bisu?

Kali ini ia menggeleng. “Saya nggak bisu,” katanya santai.

Lho kok ia bisa mendengar kata hati saya?

“Kadang, kata hati lebih pantas didengar dan lebih objektif dibandingkan kata-kata yang terucap di bibir,” lanjutnya kemudian, menimpali pertanyaan yang tadi terlontar di hati saya.

Saya penasaran. Lalu saya berniat untuk bertanya padanya. Namun, baru saja saya akan buka mulut, ia segera mendahului: “Bukan. Saya bukan peramal.” Lalu ia tersenyum.

Untuk kesekian kalinya saya dibuat tak berkutik oleh perempuan cantik itu. Ia seolah mempunyai indra yang begitu tajam, yang bisa meraba segala kemungkinan yang bakal terjadi. Bahkan, kata-kata yang sebenarnya baru tersusun dalam otak, sudah mampu ia baca. Saya betul-betul kagum.

“Kopi?” Ia mencoba memecah hening di antara kami.

Saya mengangguk,”Ya, kopi pahit.”

Ia lantas memanggil pelayan pesta dan memesan dua cangkir kopi. Satu dengan gula, untuknya, dan yang satu lagi kopi pahit, untuk saya. Tak lama berselang, pesanan pun tiba. Dua cangkir kopi panas menjadi teman ngobrol kami malam itu. Percakapan pun terasa lebih akrab dan mengalir tenang. Ia bercerita panjang lebar tentang kehidupannya pada saya. Mulai dari ketika ia diterima bekerja di sebuah perusahaan asing hingga kisah cintanya dengan seorang pemuda yang berakhir dengan airmata: mereka berpisah karena kekasihnya menerima perjodohan dengan seorang peragawati dan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun terucap.

Saya pun tak mau kalah. Saya ceritakan kepadanya tentang perjalanan hidup saya mulai dari saya kecil hingga tua seperti sekarang. Saya ceritakan juga kepadanya tentang bagaimana perasaan saya ketika berhasil meraih gelar doktor di salah satu universitas terkemuka di London, tentang kucing-kucing saya, juga tentang pembantu saya, si Imah yang pandai memasak dan membuat kue-kue enak.

“Bagaimana dengan anak dan istri Anda? Rasanya tak satu pun dari mereka yang Anda ceritakan kepada saya?”

Sudah saya tebak, ia pasti akan bertanya tentang hal itu pada saya.

“O..itu! Lain kali saja. Kalau kita bertemu lagi, akan saya ceritakan kepada Nona semuanya. Sepertinya malam sudah larut. Para undangan sudah banyak yang pulang, lihatlah!”

Ia memandang ke sekeliling, lalu mengangguk.

“Terima kasih, Anda telah menemani saya malam ini.” Ia menghabiskan sisa kopi di cangkirnya.

“Sayalah yang sepatutnya berterima kasih,” jawab saya sambil kemudian berdiri. Tiba-tiba, saya teringat satu hal: Siapakah nama perempuan cantik ini? Setelah sekian jam kami berbincang-bincang, tapi tak satu pun dari kami yang menyadari kalau kami belum saling mengenal satu sama lain. Tapi, sebelum saya berucap—seperti biasa—ia mendahului saya, ”Julia. Nama saya Julia,” katanya. “Dan Anda Pak Martin. Betul?”

Ya, tentu saja ia sudah tahu nama saya!

Malam itu terasa begitu mendebarkan. Dan saya pulang dengan langkah yang begitu bersemangat. Entah kenapa…

***

Saya tiba di pelabuhan ketika gerimis mulai turun. Pendar lampu jalan dan penerangan dari stan dan wahana pasar malam membuat gerimis tampak berwarna ungu.

Orang-orang sudah banyak yang berdatangan, berjubelan. Tua-muda berbaur dalam hiruk-pikuk pasar malam. Beberapa bocah tampak asyik menaiki komedi putar yang berada persis di tengah-tengah arena. Tidak jauh dari tempat itu, beberapa orang tampak asyik menonton aksi seorang pesulap yang berpakaian serba hitam. Pesulap itu menyuruh para penonton untuk memejamkan mata dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia menebak apa yang ada dalam pikiran masing-masing penonton, satu per satu.

“….Anda yang berbaju merah memikirkan istri Anda yang Anda tinggalkan di rumah bersama mertua Anda. Kalau yang memakai kerudung abu-abu, Anda mengingat pacar Anda yang kini berada di perantauan. Dan, Anda yang berbaju hijau sedang membayangkan kemungkinan promosi jabatan yang sempat disinggung atasan Anda…”

Semua penonton bersorak-sorai, bertepuk tangan. Mereka tampak begitu takjub. Tumpukan uang melayang ke arah pesulap.

Tiba-tiba saya teringat seseorang. Perempuan cantik di pesta itu! Bukankah ia juga memiliki kemampuan seperti pesulap ini? Apakah mereka saling mengenal atau mereka pernah belajar di tempat yang sama, atau jangan-jangan  pesulap ini tak lain adalah perempuan cantik di pesta itu?

”Ya, Anda betul. Sayalah perempuan itu!”

Saya terlonjak kaget. Tiba-tiba, pesulap itu sudah berada di dekat saya. “Maaf, saya telah membuat Anda kaget,” tambahnya kemudian di tengah kecamuk dalam benak saya. “Oh, ya! Saya ingat satu hal. Dulu Anda berjanji untuk bercerita tentang keluarga Anda kepada saya, bukan? Anda masih ingat, kan, Pak Martin?”

“O…tentu! Tentu saya masih ingat,” balas saya gugup.

“Sepertinya gerimis makin deras. Ayo kita cari tempat berteduh. Saya sudah tidak sabar ingin mendengar cerita Anda!”

Ia menarik tangan saya dan membawa saya ke sebuah kafe yang terletak di bibir pantai.

“Anda mau makan apa, Pak Martin?” tanyanya ketika pelayan kafe datang membawakan daftar menu ke meja kami.

“Terserah Nona. Saya percaya, Nona tahu keinginan saya.”

“Baiklah kalau begitu,” ujarnya sembari menyebutkan menu yang kami pilih pada pelayan kafe. Ia memesan satu piring udang goreng saus padang, kentang rebus keju serta segelas jus nanas. Untuk saya dipesannya seporsi kakap panggang plus secangkir kopi pahit, persis seperti apa yang ada dalam pikiran saya.

Selesai makan, perempuan itu mendesak saya untuk bercerita. Entah kenapa ia kelihatan begitu bersemangat ingin mendengar cerita saya. Bukankah ia mampu membaca pikiran orang? Lalu kenapa ia tak mampu…

“Tidak semuanya. Ada hal-hal tertentu yang tak dapat dibaca. Ya, seperti cuaca. Kita tak mampu menebaknya dengan pasti, hanya menerka dengan segala keterbatasan kita,” tuturnya.

Setelah didesak-desak terus, akhirnya saya bercerita kepadanya…

Suatu sore, ketika saya berjalan-jalan di sebuah taman, saya bertemu dengan seorang perempuan bersyal biru. Ia duduk sendirian di sebuah bangku kayu di bawah persis di sebelah lampu taman. Saya datang menghampiri perempuan itu. Gerimis ungu turun.. Perempuan itu hanya diam. Saya mendekat. Tiba-tiba ia berdiri dan memegang tangan saya. Tanpa saya duga, perempuan bersyal biru itu mencium saya. Saya terkesima dan tak mampu berbuat apa-apa.

Sore berikutnya kami kembali bertemu di taman itu. Gerimis ungu juga turun seperti kemarin. Perempuan itu kembali mencium saya. Begitu juga pada sore berikutnya dan sore berikutnya lagi. Kami bertemu di taman itu dan ia selalu menyambut kehadiran saya dengan sebuah ciuman lembut. Akhirnya kami menikah. Hidup di bawah atap yang sama. Mempunyai anak. Lalu tiba-tiba saja penyakit bersarang di paru-parunya. Ia meninggal. Saya menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak. Saya gagal mendidik mereka. Ketika mereka beranjak dewasa dan mempunyai kehidupan yang mapan, mereka membuang saya ke tempat ini. Begitulah…

Saya mengakhiri cerita saya sampai di situ. Hanya itu yang mampu saya ingat, tak lebih.

Perempuan itu menyeka air matanya. “Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda bersedih,” ujarnya menyesal.

“Tidak apa-apa”

Setelah itu kami lebih banyak diam. Hanya debur ombak yang sesekali memecah hening. Saya mengisap habis semua rokok yang tadi saya selipkan dalam saku sweater.

Kami meninggalkan kafe saat gerimis masih cukup lebat. Di tengah jalan, perempuan cantik itu berhenti. Ia memegang tangan saya. Tiba-tiba saja saya merasakan ada getaran hangat yang mengalir dari tubuhnya. Saya memejamkan mata. Perempuan itu mencium saya dengan lembut. Dan entah kenapa, saya baru sadar bahwa ada syal berwarna biru yang melilit di lehernya.

***

Malam ini, Imah melarang saya pergi jalan-jalan.

”Bapak sakit. Sebentar lagi dokter Jose datang. Tidurlah. Saya akan membuatkan kopi pahit buat Bapak,” bujuk Imah setelah mengompres kening saya dengan sehelai handuk kecil.

“Buatkan dua cangkir, Imah. Tapi yang satunya dengan gula. Saya akan menelepon dan meminta Julia datang ke sini.”

”Julia? Teman Bapak?”

Saya mengangguk. Setelah itu, Imah berlalu, meninggalkan saya seorang diri dalam kamar.

Ketika saya akan mengambil ponsel, terdengar seseorang mengetuk pintu. Saya bergegas ke sana. Seorang perempuan bersyal biru berdiri di sana.

“Julia!” Saya terkesima. “Anda betul-betul bisa membaca pikiran orang!”

Ia tersenyum, lalu mencium kening saya.

Dari jendela, saya lihat gerimis turun dengan lebat. Gerimis yang selalu berwarna ungu. ***

Simpang Haru, 28 0ktober 2005-Bekasi 2020


Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, “Hikayat Bujang Jilatang” terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Sekarang bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Puisi

Puisi Rizka Umami

Kepada Perempuan yang Menyeling

Nasib bicara perihal seni menyeling

Token listrik lebih nyaring dari alarm pagi

Membawa sumpah serapah

Langkah gontai dan sembap mata

            yang tak punya jatah lelap

Siapa sangka waktu bisa porak poranda

Ditubruk kerja mekanik tanpa gugat

Menopang gaya hidup pas-pasan

Sebelum diburu tenggat demi tenggat

            dan teror untuk segera merampungkan

            laporan-laporan ‘tai kucing’

            di penghujung tahun-tahun kematian

tapi seorang perempuan menyeling

scroll timeline menatap layar

merebah diri tanpa melakoni apa-apa

ia kembali kekanak, seperti mula

sekembalinya pada setengah sadar

ia kehilangan tenggat

begitu saja waktu menilapkannya di pembaringan yang sama

sudut kursi panjang sampai bosan dengan pantatnya

Nasib perempuan menyeling kehabisan waktu

Menikmati lakon kemalasan

Lepas pesat pada sibuk menyenangi selingan

            menyeling sampai gagang pintu, remuk.

Tulungagung, Agustus 2021


Sebuah Potret Dini Hari

Di warung-warung dini hari

Ampas-ampas kopi mengendapi dasar gelas dan cangkir

Sengaja ditinggalkan di bak cucian

Menjamur

Di pasar orang-orang berjejal menunggu tengkulak mengambil pesanan, mengaso

Mengais beberapa sisa sayur di bawah truk dan pick up

            Atau berdebat soal harga minyak yang mencekik sejadi-jadinya

Tapi di dapur umum

Sergapan kantuk lebih nyaring membumbung bersama deretan kalut, capai dan pupus

Menyisa dua pertiga potong tenaga buat mengisi lambung bocah-bocah yang ikut ngungsi bapak biyungnya

Buat para sepuh yang gagal juang

            Atau pencuri-pencuri yang sadar punya nasib buruk

Di dapur-dapur umum dini hari

Seorang perempuan tinggal menggendong bayinya

Memberi suap demi suap yang papa

Satu biskuit dan air hangat sedikit gula

Di dapur umum

Potret kematian-kematian kabur

Hanya siluet kegamangan

            Melanjutkan hidup, tanpa apa?

Tulungagung, Desember 2021


Tak Ada yang Lebih Kecut dari Hujan di Pipimu

Kau sambat lagi!

Menangis di siang itu

            Di bawah beringin yang baru menjulur akar gantungnya

Sedikit melindungi kulit merah dibalut krim-krim anti matahari

Katamu

Cinta tak lebih dari pasir hisap

Menelanmu lamat-lamat

Menenggelamkan harap-harapmu yang abu-abu

            Perihal hidup langgeng tanpa luka

Bukankah cinta manunggal bersama duri-duri mawar dan lembah-lembah curam?

Kau tak peduli

Lelaki sengaja menutupi air mata mimik muka dengan asap kretek

Sesenggukan di bawah pohon beringin muda

Sebab kalut dimangsa kisah cinta yang kecut cilu

            Tapi tak ada yang lebih kecut dari hujan di pipimu.

Tulungagung, 2021


Perihal Jeda

Siapa yang kenal jeda karena butir dan ongas sebab martir? Ketika tak kutemui puisi di matamu, jeda-jeda raib dan kacau.

Aku jadi segala gerak cepat membabi buta

Iringan tawon kehilangan sarang

            Kehilangan penghidupan

Aku jadi segala bising dan desing

Menolak rehat meski dada remuk ditatah butir-butir air mata bocah kolong

            Yang dingin dan dalam

Aku jadi segala keping-keping yang tercerai

Diserakkan angin yang berembus tanpa jeda

            Seperti kau, menikam dengan martirmu.

Marsda Adisucipto, November 2021


Sajak Kancing Paus

Di tubuhmu aku menemukan sajak kancing Paus

Sebentar-sebentar

Mari ulur waktu sampai level mendengarmu naik sedikit

            : Sajak Kancing Paus

            Gemerincing kancing-kancing baju impor

            Penuh di kerancang belanjamu

Nyaring seperti nyalimu tak surut

Memborong menawar mencari diskon-diskon

Berburu sampai larut di sosial media

Tak ada yang boleh sisa di keranjang maya-nyata

Almari-almari menahan kerakusan

Tak kuat sampai mendecit minta jatah udara segar bebas debu

            Rapikan, pilah, buang saja kancing-kancing lama ke selokan depan

Tapi dari sajak kancing Paus kau mengendus

Memergoki kenakalanmu

            Di selokan ke selokan menuju sungai-sungai ke laut

            Pantainya kau singgahi dengan baju-baju baru

Kancing-kancing lapang berjalan mengalir menyeberang tertampar ombak mencari muara menggauli takdir

Membersamai tubuh sang Paus

            yang tenggelam menyesali kedurhakaannya.

Dlodo, 2021


Melayat Mata Air

Di sudut-sudut yang Agung

Kita tak menemui apa-apa

            Selain sumber yang hening

Kering dan riak-riak tumbang

Ceruk-ceruk seperti tebing-tebing megek

Dirayapi lumut-lumut cokelat

            Yang ditebang

            Yang kehilangan

            Yang tersisa

                        Napas-napas tak lagi panjang

Kota telah membeli sumber hidup

            Membeli napas

            Melayat mata air dengan air mata.

Tulungagung, 2021


Di Kursi Tunggu

            Buat perempuan yang dikutuk sendiri

Kursi-kursi tunggu sepi

Hanya juntaian jadwal kereta

Yang mabuk menunggu manusia

Di ruang tunggu asing

Aku bukan lekas menjadi saudara

Hanya tujuan lebih jelas

Menghabisi masa muda menunduk pada layar

Di ruang tunggu

Dan deretan jam keberangkatan

tumbuh ingatan-ingatan yang diulang-ulang

            tentang perjumpaan dan upaya-upaya koyak

            tentang keberanian buat sendiri.

Tulungagung, 16 Desember 2021


Nama yang Pulang

Diingat,

Juga pada sebuah tengah malam

Dingin dan lembap

Seperti tertahan tumpahan hasrat hari lalu

Ada yang merambahi mengejar

Silih ganti pada ruas-ruas jari kaki

Menggetarkan pada yang hanyut

Mencintai

Sebab tak lama bersesumbar kabar datang senyap menegang

Bukan lagi soal berahi

Sampai namamu menyelanya

Mengakhiri tanya

Kenapa kau yang datang

            Dengan tubuh tanpa nyawa?

Tulungagung, September Hitam 2021


Hasil Bumi?

Di batas manusia mengutas rusuh atas ketubuhan

Membumbui laku dengan hasil bumi

            Yang diperebutkan

Di tanggal-tanggal yang sama

Hasil-hasil panen disakralkan

Orang-orang membahagiakan diri

            Melarung saji

Tapi di sana, Le

Bongkahan emas dan marmer dan pasir yang didulang

            Tak habis-tabis

Hanya cukup buat membahagiakan

Aktor kawakan!

Januari, 2022


-dan Sumber Ece

Di Nguri sebuah kabar berkesiur

Meminang telinga dan kerabatnya merasai

            Jumpa pada dataran lebih tinggi

-dan Sumber Ece

Yang kau temui memuat koin-koin bercecer di sepanjang aliran

sampai muara pada hari cerah

dan matahari bersahabat dengan wajahmu yang pura-pura

Di Nguri pada kedalamanmu yang lain

Sebuah desa tetap menjadi desa

            yang luput dari bising dan ongas tambang

-dan Sumber Ece

            Lebih jernih dari pantulan matamu

            di cermin itu.

Sumber Ece, Januari 2022


Rizka Hidayatul Umami, mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga. Sedang menekuni sastra dan isu perempuan. Bisa disapa via Instagram @morfo_biru, Facebook Tacin, atau Twitter @morfo_biru

Cerpen

Sihir Kucing

Cerpen S. Prasetyo Utomo

Siapapun tak tahu kalau Ayah sudah meninggal, kecuali Muezza, kucing candramawa kesayangannya. Tak bergerak, Muezza—kucing jantan berbulu hitam dan putih, pusar di kepala—menunggui di ambang pintu kamar, dari semenjak subuh. Dewanti memasuki kamar Ayah, dan mendapati tubuh itu terbujur kaku, masih bersarung, berpeci, setelah salat subuh. Muezza terdiam. Sepasang matanya tajam berkilau. Memandangi tubuh Ayah.

Ayah yang terbaring sakit semenjak semalam, memang tidak salat subuh ke masjid. Muezza memasuki rumah ketika pintu depan dibuka Dewanti. Ia menerobos ruang tamu, dan berhenti di ambang pintu  kamar Ayah. Tak ngiau. Biasanya sepagi ini Ayah pulang dari masjid, Muezza berlompatan menyambutnya. Ayah memberi makan Muezza di teras rumah.

Dewanti lama memandangi tubuh Ayah yang terbujur kaku. Bersedekap, beralas sajadah di lantai. Dewanti mendekat. Merabai detak nadi tangan Ayah. Tak terasa aliran darahnya. Dewanti keluar kamar, mencari Ibu di dapur, dan mengajaknya ke kamar. Ibu tak pernah menduga, selepas salat subuh, Ayah  meninggal. Ayah hanya sakit biasa, demam semalaman. Ketika Ibu meninggalkannya tadi, Ayah masih terbaring dengan napas yang tenang. Tidak menandakan kesakitan. Ayah masih mengambil air wudu. Salat subuh. Ibu menyeduh kopi kental dan memasak. Membiarkan Muezza mendekam di ambang pintu kamar. Ketika melihat Ayah meninggal, Ibu tak bisa memekik, tak bisa bicara, tak bisa menangis. Ibu terdiam. Dadanya sesak. Berdiri di sisi jasad suaminya.  

***

Meloncat-loncatkecil, Muezza mengikuti pemakaman Ayah, berlari-lari di belakang iring-iringan jenazah mendaki bukit kuburan. Dewanti tak memedulikan Muezza yang mendekam tak jauh dari liang lahat. Ia baru sadar akan kehadiran Muezza ketika berjongkok di hadapan gundukan makam, menaburkan kembang dan berdoa. Para pelayat sudah meninggalkan makam, dan Muezza mendekati Dewanti.  

Ketika Dewanti meninggalkan kubur Ayah, dengan langkah pelan-pelan, Muezza masih mendekam di sisi makam. Seorang gadis yang tak dikenal Dewanti masih berdoa di sisi makam Ayah. Dewanti sempat mengundang Muezza, mengajak pulang. Tapi kucing itu tetap mendekam. Tak beranjak. Begitu juga gadis cantik yang tak dikenal Dewanti, masih bertahan di sisi gundukan makam Ayah. Wajahnya berduka.

Dewanti termangu-mangu. Ia ingin mengajak pulang Muezza. Kucing candramawa itu dipelihara Ayah sejak kecil. Ditemukan  di pelataran, terpisah dari induknya, dirawat Ayah. Tiap subuh dini hari ia berlari melompat-lompat menjemput Ayah bila pulang dari masjid. Tiap kali Ayah pulang kantor, ia meloncat-loncat kegirangan menjemput. Ayah memberi makan dan minum Muezza sebelum membaca koran. Kucing candramawa itu selalu mengikuti ke mana pun Ayah berada. Bila malam ia berada di luar rumah, dan menjelang pagi mendekam di sudut teras, ngiau nyaring saat mendengar azan subuh, dan menanti Ayah pulang dari masjid. Ia lahap  menghabiskan makan dan minum. Kadang ia menjelajahi sudut-sudut rumah, terutama gudang, dengan sepasang mata tajam menjatuhkan tikus saat merambati dinding, dan menerkamnya, untuk dimakan di bawah pohon srikaya di pelataran. Tak pernah ia mengoyak-ngoyak tikus tangkapannya di dalam rumah. Sesekali ia mencari Ayah di ambang pintu kamar, dan kadang mereka bercanda. 

***

Kucing candramawa itu tak pulang. Dewanti mendaki jalan setapak ke makam Ayah, ingin menemukan Muezza. Ia memang bertemu Muezza yang masih mendekam di sisi makam. Tidak sendirian. Dewanti bertemu pula gadis tak dikenal yang menampakkan wajah murung, dan sepasang mata kehilangan. Gadis itu tampak beberapa tahun lebih tua dari Dewanti. Lebih berduka, wajahnya menampakkan rasa getir kehilangan.

“Saya belum lama bekerja sekantor dengan ayahmu. Saya dianggap sebagai anak, dan merasakan kasih sayang Ayah. Kini betapa saya merasa sangat kehilangan. Tak pernah saya duga, Ayah akan meninggal secepat ini,” kata gadis itu, yang memperkenalkan diri bernama Dyah. Tempat tinggalnya tak jauh dari kaki bukit makam.  

Dewanti menyembunyikan perasaan tak senang pada Dyah. Gadis itu  menyebut “ayah”, sama seperti Dewanti memanggil lelaki yang telah mengalirkan darah pada tubuhnya.

Tertegun, menyingkirkan kecurigaan, Dewanti tak pernah menduga bila Ayah pernah dekat dengan Dyah, bahkan menjalin pertalian batin sebagaimana ayah-anak gadis. Dewanti diam-diam menyembunyikan rasa cemburu pada Dyah, gadis lembut yang digenangi rasa duka begitu keruh.

“Saya mengenal sosok Ayah, ketenangan dan kasih sayangnya. Sosok yang tak pernah kukenal dalam hidup adalah ayah kandung,” kata Dyah, yang terus saja bercerita tentang kehidupannya yang tak mengenal ayah sejak lahir. Ayahnya meninggal, ketika ia masih dalam kandungan ibu. Ia merasa bahagia di kantor, bertemu dengan lelaki seteguh Ayah, yang memberikan perlindungan padanya.

“Saya tak menduga, bila Ayah secepat ini meninggalkan kita,” kata Dyah, dalam kegundahan.     

Dyah memberi makan Muezza yang tak pernah mau meninggalkan makam. Muezza seperti menunggu Ayah bakal bangkit dari kubur, dan mereka kembali bercengkerama bersama. Dewanti sampai pada pikiran: mungkin Muezza ingin mati, agar ia bisa bertemu Ayah. Anehnya, Muezza baru mau makan setelah Dyah memberinya ikan yang diletakkan di atas daun kemboja. Mula-mula ia enggan mengendus-endus ikan. Tapi kemudian ia lahap makan. Muezza jinak pada Dyah—dan melupakan Dewanti.

***

Harikelima kematian Ayah. Kembali Dewanti mendaki bukit makam menjelang senja, ingin mengajak pulang Muezza. Ia ingin kucing candramawa itu menerkam tikus-tikus yang mulai bergentayangan di ruang-ruang tersembunyi, merayap ke meja makan mencuri ayam goreng tanpa rasa takut, dan bersarang di gudang. Tapi ia tak menemukan Muezza di sekitar makam. Alangkah senyap gundukan makam Ayah, dengan taburan bunga yang mengering dan terserak-serak. Dewanti memanggil-manggil Muezza. Senyap. Ia tak menemukan binatang itu. Ia mencari Muezza hingga ke sudut-sudut kuburan yang rimbun semak belukar. Tak ditemukan. Mati? Bila kucing candramawa itu mati, tentu tercium bau bangkainya. Dewanti curiga bila Muezza dibawa pulang Dyah dan dipelihara. Mungkin gadis itu ingin mengenang Ayah dengan cara memelihara Muezza.

Gerimis senja mulai bergemeretap di atas daun-daun kemboja. Dewanti masih mencari-cari Muezza. Ia lacak ke sudut-sudut makam. Gerimis kian deras. Ia tak berpayung, membiarkan dirinya diguyur hujan yang kian menajam, mencari kucing candramawa. Beberapa kali ia tergelincir, terpeleset di jalan setapak licin, terbanting. Tidak segera bangkit. Terdiam. Terpikir padanya nasib Muezza dan tikus-tikus mengganas di rumah. Ia tak ingin Muezza mati terlunta-lunta. Terpikir juga ia pada Dyah, gadis yang tanpa sepengetahuannya sudah merebut perhatian Ayah. Sama sekali Ayah tak pernah bercerita tentang Dyah, meski hanya sepenggal kisah yang samar. Gadis itu menjadi rahasia kehidupan Ayah yang merapuhkan perasaan Dewanti.

Tubuh Dewanti kuyup ketika berketetapan hati untuk membawa pulang Muezza. Ia mengikuti nalurinya mencari rumah Dyah, dan menemukannya. Dyah tinggal di sebuah rumah tua bersama ibunya yang renta. Dilihatnya Muezza berada di sudut ruang tamu.

“Saya datang untuk mengambil Muezza,” kata Dewanti, tenang, dan menuntut.

“Kucing itu mengikutiku pulang. Kalau ia memang mau mengikuti perintahmu, bawalah!”

Seperti terkena sihir, Muezza tak lagi mengenali Dewanti. Bulu-bulunya tegak, sepasang matanya garang, ketika Dewanti mendekat ingin membawanya pulang. Tangan Dewanti terjulur ingin merengkuh dan menggendong Muezza. Ia mencakar tangan Dewanti hingga berdarah.  

***

Malamitu Dewanti tidur gelisah, dengan tubuh menggigil, meski sudah berselimut tebal. Ia terus menahan diri dengan tubuh demam, dalam tidur yang sesekali terbangun. Ia tertidur lagi dalam kegelisahan mimpi-mimpi seram. Ia bermimpi bertemu Ayah dan Muezza. Kucing candramawa itu meloncat dalam pelukan Ayah.  

Tubuh Dewanti tenang. Bernapas teratur. Tertidur. Lelap. Ia tak lagi menggigil demam.  Azan subuh membangunkannya. Terdengar ngiau kucing di teras. Kuku  kucing mencakar-cakar pintu ruang tamu. Dewanti buru-buru membuka pintu. Dilihatnya Muezza di hadapannya. Dewanti meraih Muezza. Memeluknya. Sepasang mata kucing candramawa itu cemerlang berkilau. Bergerak memandangi sekitarnya tanpa berkedip. Ia melihat sesuatu yang tak tertangkap pandangan manusia. Sesaat kemudian barulah sepasang matanya meredup. Ia terbebas dari pengaruh sihir.***

Pandana Merdeka, Desember 2021


S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menulis sejak tahun 1983. Karyanya dimuat di pelbagai media. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Novel Tangis Rembulan di Hutan Berkabut (HO Publishing, 2009). Novel terbarunya Tarian Dua Wajah (Pustaka Alvabet, 2016), Cermin Jiwa (Pustaka Alvabet, 2017). Cerpen “Penyusup Larut Malam” diterjemahkan Dalang Publishing ke dalam bahasa Inggris dengan judul “The Midnight Intruder” (Juni 2018) cerpen ini sebelumnya  masuk dalam buku Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian: Cerpen Kompas Pilihan 2009. Cerpen “Sakri Terangkat ke Langit” masuk dalam Smokol: Cerpen Kompas Pilihan 2008. Cerpen “Pengunyah Sirih” masuk dalam Dodolitdodolitdodolibret: Cerpen Pilihan Kompas 2010. Menerima pelbagai anugerah dan penghargaan, yang terbaru menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.