Cerpen

Kucing Hitam

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku berdenyut-denyut. Jantungku memompa darah begitu cepat. Tubuhku panas. Kurasa semakin lama semakin panas, berbarengan dengan pori-pori kulitku yang kian membesar. Aku berlari menuju kamar mandi, mengambil handuk, menggigitnya kuat. Sepertinya aku akan mati. Aku ingat, sebelum ini aku sempat bertemu dengan seorang perempuan saat hendak menceburkan diri ke sungai. “Lompatlah, maka jasadmu akan lenyap dimakan buaya,” ucapnya. Aku urung. Kupikir dengan terjun ke sana, aku akan mati tenggelam. Esok harinya jasadku mengambang dan ditemukan warga untuk dikubur secara layak. Jika ucapan perempuan itu benar, maka tubuhku akan hancur. Kematian yang jauh dari unsur keindahan.

Perempuan itu berlalu. Meletakkan karung di tanah, menghempaskan bokongnya di batu kali. Aku mengikuti. Duduk di sebelahnya. Terlihat ia merogoh sesuatu dari kantong kemeja lusuh, nihil. Berpindah ke celana jeans biru sobek, ada puntung rokok sisa separuh. Ia kebingungan mencari korek api. Aku mengambil sebungkus rokok yang masih tersegel dan pemantik dari dalam tas. Ia menerima uluranku dengan tersenyum. “Maaf, aku tidak pernah berterima kasih untuk sesuatu yang tak kuminta,” balas perempuan itu. Ia menyalakan puntung sisa miliknya sendiri. “Sebutlah keinginanmu. Anggap saja itu barter dengan sebungkus rokok berikut korek api darimu,” lanjutnya lagi.

Angin berembus dari utara, membawa aroma tak sedap menyeruak lubang hidungku. Kurasa baunya berasal dari tubuh perempuan itu. Kombinasi dari keringat mengering yang entah sudah berapa lama tak tersentuh air, ditambah dengan kencing dan kotoran manusia yang juga mengering. Aku berjingkat saat seekor kecoa terbang dari rambut gimbalnya. Membuatku lupa kalau sebelumnya hendak muntah. “Maaf,” kataku. Aku khawatir menyinggung perasaannya. Ia terlihat mengambil sesuatu dari karung kumal. Menyerahkan sebotol kecil berisi cairan keruh yang tinggal seperempatnya.

“Ambil dan pergilah!” perintah perempuan itu. Aku memperhatikan tangan dekil dengan kuku panjang menghitam penuh kotoran. Aku ragu. “Habiskan. Kamu akan menemukan jawaban dari kegelisahanmu. Ingatlah satu hal, jangan pernah menyakiti atau kamu tidak akan pernah selamat,” lanjutnya. Aku meraih botol itu tanpa berpikir lagi.

Rasa sakit yang terus bertambah membawaku kembali sadar. Perempuan itu mungkin telah meracuniku. Seharusnya aku tidak begitu mudah mempercayainya. Sial, kepalaku berdenyut kuat serasa hendak meledak. Aku menggigit handuk lebih keras untuk menahan teriakan. Tubuhku menghangat. Semakin lama, sakit itu berangsur pergi. Aku lemas, lalu tertidur.

Seseorang seperti sedang mengelus tubuhku. Nyaman sekali. Kalau bukan karena perutku meronta, rasanya aku urung membuka mata.

“Kamu pasti lapar. Makanlah.” Suara pria yang kukenal mengagetkanku. Suamiku benar-benar kurang ajar. Ia sudah tidak waras. Beraninya memberiku makanan kucing. Aku memandangnya marah. Aneh, aku hanya bisa mengeong. Semakin marah, eonganku semakin nyaring. Ada apa ini? Tunggu, kenapa suamiku terlihat sangat besar? Jangan-jangan cairan itu adalah ramuan memperkecil ukuran tubuh. Ini tidak benar. Aku diperalat. “Jangan marah. Aku tidak akan menyakitimu,” lanjut suamiku. Ia mengelus puncak kepalaku lembut. Seperti tersihir, aku akhirnya menghabiskan sekaleng makanan basah di hadapanku. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjilat kedua tanganku saking nikmatnya. Oh, tidak. Aku berbulu. Tubuhku penuh bulu panjang berwarna hitam. Aku bahkan tidak memiliki tangan. Gegas aku berlari menuju kamar. Melompat naik ke meja rias. Aku syok melihat pantulan wujudku dari cermin. Aku seekor kucing.

***

Hampir tiga kali dua puluh empat jam aku menjadi kucing. Sepertinya aku mulai terbiasa, termasuk telah terbiasa menerima perlakuan lembut dari suamiku. Tak apa, setidaknya aku tahu suamiku cukup penyayang. Aku salah sangka selama ini. Ia berubah sejak menikah. Sebulan resmi menjadi suami istri, ia sama sekali belum menyentuhku. Lelah bekerja adalah alasan andalannya. Ia mengatakan akan menjamahku di waktu yang tepat dan istimewa. Aku menyesal kenapa harus kabur dari rumah seminggu lalu, hanya karena aku menginginkannya, namun tetap mendapat penolakan. Padahal, saat itu aku sudah berdandan sangat seksi. Aku merasa terhina. Seakan suamiku sendiri jijik terhadapku. Hingga aku memutuskan ingin mengakhiri hidup.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku sudah kelaparan, suamiku belum juga pulang. Aku melompat ke sana kemari. Berjalan mengelilingi rumah. Mlungker di karpet dengan malas setelah bosan. Tidak lama terdengar suara pintu dibuka. Aku berlari ke depan. Mendekat ke kaki suamiku.

“Kemarilah, aku tahu kamu pasti lapar,” ucap suamiku. Ia membuka kaleng makanan kucing basah dan disodorkan padaku. Aku menyantap dengan lahap. Setelah kaleng itu kosong, aku berlari menuju sofa. Bermaksud menghambur ke pelukan suamiku yang sedang menonton televisi. Sayangnya aku terlambat menyadari. Rupanya pria yang bersandar di sofa bukanlah suamiku, melainkan rekannya. Tubuhku terlanjur naik ke paha, ia menarikku lekat. Mengelus-elusku dengan lembut. Aku salah tingkah, seakan telah berselingkuh dengan membiarkan pria lain menyentuh tubuhku. Namun aku tidak bisa kabur. Setiap kali ingin melepaskan diri, pria itu terus meraihku kembali. Sepintas aku sempat melirik ke wajahnya. Ya Tuhan, ia sangat tampan. Jauh lebih tampan dari suamiku. Aku justru mulai menikmati sentuhan tangan kekarnya. Maafkan aku, Sayang. Tanpa sengaja aku telah mengkhianatimu.

Suamiku datang membawa dua botol minuman kaleng. Satu untuk rekannya, satu lagi untuknya sendiri. Semua tampak normal, sesaat sebelum akhirnya teman pria suamiku meraih kalung dari leher untuk membaca namaku. Seketika tubuhku dihempaskan ke lantai. Aku berdiri mematung melihat keduanya.

“Kamu mencintai istrimu, hah?” Pria itu bertanya marah. Suamiku terlihat kebingungan. Ia berusaha menjelaskan kepada teman prianya. Jantungku seakan berhenti berdetak saat mendengar suamiku mengatakan tidak pernah mencintaiku. Alasannya menikah adalah demi menutupi kebenaran yang sesungguhnya. Aku syok saat tiba-tiba suamiku meraih kepala teman prianya dan melumat bibirnya mesra. Usai melepas pagutan, suamiku mengatakan bahwa ia sungguh mencintai pria di hadapannya itu. Ini sungguh gila. Aku marah kepada suamiku. Sebelum sempat keduanya mengulang ciuman panasnya lagi, aku melompat ke tubuh teman pria suamiku dan menggigit lehernya. Cairan berwarna merah itu membuat mulutku terasa asin. Refleks suamiku meraih tubuhku. Dimasukkannya aku ke kandang dengan kasar. Aku mengeong berisik di dalam jeruji besi.

“Tunggu di sini! Kamu akan menerima akibat dari perbuatanmu pada kekasihku,” ancam suamiku dengan suara mengerikan sebelum berlalu ke kamar. Tak lama ia muncul membawa perlengkapan P3K untuk merawat luka teman prianya.

Semalaman aku gelisah. Sama sekali mataku tak terpejam. Aku merutuki diriku karena telah salah mencintai. Aku diperdaya suamiku sendiri. Ia bahkan tega melakukan percumbuan dahsyat di depan mataku. Suara-suara itu terus berputar di telinga, seolah mengejekku. Inilah alasan mengapa selama ini suamiku tak pernah menaruh ketertarikan pada tubuhku. Sungguh menjijikkan. Saat aku masih menyesali nasib, tanpa sadar sebuah tangan mencengkeram leherku. Suamiku membawaku ke dapur dengan marah. Tubuhku ia banting di atas meja. Gegas diraihnya pisau daging, diangkatnya tinggi ke udara.

“Matilah kau!” umpat suamiku. Sebelum pisau mengayun ke leherku, aku sempat teringat kembali ucapan perempuan gimbal itu. Jikapun aku mati justru lebih baik karena aku tak repot-repot melakukannya sendiri. Dan yang pasti aku tak pernah menyesalinya.***


Septi Rusdiyana, penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga dengan dua putri cantik bernama Negar dan Nala.

Cerpen

Denting

Cerpen Yeni Kartikasari

Hari belum sepenuhnya pagi, tapi kau sudah berada di Olivia, berjalan ke lantai tiga, menghampiri meja di dekat jendela kaca, duduk termenung menunggu seseorang yang kau tahu tak akan pernah datang lagi. Seperti biasa, seorang barista bertubuh jangkung dengan vest hitam dan apron cokelat menghampirimu—meminta izin menyeduh kopi panas yang tadi kau pesan.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, Sir?” tawarnya.

Kau menggeleng pelan. Barista itu pergi meninggalkan kau bersama secangkir mochaccino berlukis bunga. Kopi itu kau tatap sebentar. Di luar, hujan sangat deras. Pandangan yang semula kau lemparkan ke lampu-lampu kota mengabur bersama rintik yang disertai angin kencang. Jika hari-hari sebelumnya kau hanya menitihkan air mata, kini tangismu semakin panjang.

Kau tak bisa lupa, setahun lalu, sejak Habsa pergi, kau benar-benar merasa ditinggalkan. Bukan karena dia menikah dengan orang lain, melainkan dia telah pergi selamanya. Perpisahan yang kau rasakan, bukan lagi seperti kau melepas teman-temanmu yang menerima Awardee LPDP ke negeri kincir angin, atau saat kau harus melambaikan tangan kepada sahabat-sahabatmu yang pulang ke kampung halaman setelah lulus kuliah, namun perpisahan yang membuatmu kehilangan segala-galanya, bahkan separuh dirimu yang selama ini kau pertahankan untuk hidup.

Habsa adalah orang terdekatmu, lebih dekat dari saudara dan ayah ibumu, sebab kau memang tak pernah merasa memiliki keluarga. Dia adalah satu-satunya perempuan yang menjadi temanmu bercerita usai terlilit masalah di Savario.  Kau masih ingat setelah pendidikan magister Fashion Designmu tuntas, kau mencoba bekerja di Savario sebagai staff pembuat pola busana. Keberhasilanmu masuk ke butik bergaya Eropa Style yang bertempat di gedung bekas kolonialisme itu membuatmu sangat bangga. Selain karena megah dan terkenal, Savario sering disebut-sebut dosenmu sebagai tempat orang-orang ahli di bidang fashion.

Namun sayangnya kebangganmu tak bertahan lama. Gaun yang akan dipakai seorang artis untuk menerima penghargaan penyanyi pop terbaik tak muat dikenakan saat fitting. Bagian penghias menyalahkan penjahit, bagian penjahit menyalahkan pemotong kain, dan bagian pemotong kain menyalahkanmu sebagai pembuat dan pengambil ukuran badan. Kau yang pada saat itu tak mau disalahkan, kemudian mempertanyakan suatu hal; mengapa para pemotong dan penjahit tidak mengecek ulang ukuran? Tapi Habsa—staff sewing yang menjahit bagian badan menimpali bahwa orang-orang di Savario tak bekerja di luar tanggung jawabnya. Kau yang tersudut akhirnya ingin mengganti gaun itu, namun sudah tidak ada waktu. Pelanggan itu marah-marah. Bosmu lebih tersungut-sungut. Kau dimaki-maki sebelum dikeluarkan tanpa pesangon.

Usai hari itu kau sangat kecewa. Karena kau tak lagi memiliki pekerjaan, atau lebih tepatnya telah enggan mencari lowongan kembali, waktu senggangmu kau habiskan untuk berdiam di kafe-kafe. Setelah berkelana cukup lama, pengembaraanmu berhenti di Olivia—kafe yang letaknya tak jauh dari bekas bandara. Tepat di lantai tiga, di dekat jendela kaca di mana kau bisa melihat jalan raya dari kejauhan, kau benar-benar merasakan ketenangan yang selama ini kau cari.

Kau sengaja memilih kafe yang tak terlalu ramai dengan nuansa klasik di setiap dekorasinya. Di Olivia, kau mengeluarkan secarik kertas dan mulai menggambar desain slip dress yang pernah popular di tahun 90-an. Demi hiburan, begitulah tujuanmu melakukan hal itu. Masih teringat jelas di pikiranmu, bagaimana kau membuat lekuk tubuh dan detail gaun hingga kau tak menyangka dapat bertemu Habsa dalam keadaan serba tanda tanya.

Suara Habsa lirih menyapamu kala itu.

Gugup. Kau menyingkirkan tas jinjingmu supaya Habsa dapat duduk di hadapanmu. Di awali sapaan tentang kabar, percakapanmu dengan Habsa berlanjut canggung.

“Sekarang kerja di mana?”

Kau berkelakar. Kau katakan pada Habsa bahwa pekerjaanmu adalah pelanggan rutin Olivia—penikmat kopi yang sesekali mendesain busana masa lalu. Tapi, Habsa tak percaya itu. Kau dianggap menyembunyikan pekerjaanmu yang telah mapan, melebihi reputasi pembuat pola busana. Habsa bahkan menyebut JJ Bride, Oura Kebaya, dan QZM Boutique, tempat-tempat terkenal lain di Jakarta. Kau hanya tersenyum. Usiamu yang beranjak berkepala tiga, membuatmu mengerti bahwa tak semua keadaan bisa kau jelaskan terhadap perempuan.

Sejak saat itu, hampir setiap hari, sekitar pukul empat pagi, Habsa kerap merencanakan pertemuan denganmu. Tidak lagi membahas tentang pekerjaan, atau lika liku hidup yang tiada habisnya, perempuan berpipi bakpao yang kemerah-merahan itu mulai bercengkerama terhadap hal-hal sepele; menertawakan penampilan pengunjung, menerka pikiran orang melamun, dan sesekali mengacaukan karya desainmu.

“Gak pengen keluar Indonesia?” tanya Habsa suatu kali.

“Buat apa?”

“Ya, Mengembara.”

“Kau sendiri gak ke sana?”

“Nggak ada teman.”

Lewat perbincangan itulah, kau teringat Galleria Vittorio Emanuele dan Louis Vuitton di Eropa yang sangat megah. Bangunan berlapis emas yang disorot ratusan lampu dengan puluhan butik gaun permata. Mendadak kau ingin ke sana—menjelajah negara-negara yang pernah membuat bangsamu sengsara. Kau ceritakan semua itu kepada Habsa. Dari rekah senyumnya, kau tahu dia bersuka cita. Impian masa depan kau rencanakan. Janji berkelana ke Eropa kau sepakati. Mula-mula kau hanya menganggap perempuan itu butuh hiburan, namun semakin lama kau merasa dirimu memang berharga dalam hidup seorang perempuan yang bahkan kepadanya kau belum pernah mengisahkan sejengkal kehidupanmu. Kau merasa berarti dan dibutuhkan dan itu sudah cukup bagimu.

Namun, ketika kau mencoba mendekatinya setelah dua bulan menjalin kebersamaan, dia mengatakan akan keluar dari Savario, pulang ke Surabaya untuk melangsungkan pernikahan. Dari caranya berbicara, kau tahu dia sangat bahagia, sebagaimana kau mengerti bahwa dia juga melihatmu bahagia. Meski kau hanya berpura-pura, senyum mengambang di bibirmu seiring rasa nyeri yang menjalar di sekujur tubuh. Kau ingin menangis, tapi malu. Hatimu yang remuk semakin hancur ketika beberapa hari kemudian perempuan yang kau cintai itu dikabarkan mengalami kecelakaan tunggal di tol Rawamangun.

Kenapa kau pergi? batinmu berulang kali sejak malaikat membawa ruh Habsa ke langit tertinggi, terus-menerus sampai kini di Olivia, untuk ratusan kali dalam setahun, ada yang begitu terkenang ketika kau menatap kursi kosong di hadapanmu. Setengah jam lalu, kau buru-buru memesan taxi karena langit sedang bergemuruh silih berganti. Sebenarnya kau tidak takut hujan, tapi kau khawatir tak dapat pergi dari kontrakan, sebab kesepian selalu melahapmu ketika jam sudah menunjukkan pukul lewat sepuluh malam.

Sudah setahun, batinmu. Kau baru datang dan sudah menangis. Bayanganmu tentang hari-hari setelah Habsa pergi adalah reka adegan yang membuatmu dirudung kesengsaraan.

Kau terus dibuntuti rasa penyesalan sebab perpisahanmu dengan Habsa tidak ditandai dengan ucapan selamat tinggal atau kata-kata sampai jumpa di lain waktu. Sering kau berpikir, akan lebih baik ketika perempuan itu masih terus hidup, menikah, dan memiliki bayi-bayi mungil, meski kau hanya dapat memandangnya lewat ponsel. Daripada kau harus menyaksikan fragmen mobil terbakar dan mayat sehitam arang dengan darah yang berlumuran disekujur tubuh. Kau ingin tak percaya bahwa tragedi itu nyata, tapi semuanya telah terjadi. Perpisahanmu dengan Habsa adalah sebuah akhir. Kau sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan untuk selamanya.

Kini di Olivia, kau menyadari sudah banyak waktu yang terbuang percuma; duduk di kafe meneguk kopi panas, mendengar album Gordon Lightfoot yang diputar berulang-ulang sambil membayangkan perempuan yang kau yakini masih hidup. Kau tak tahu seberapa lama lagi melakukan rutinitas itu. Kau tak bekerja dan entah sudah berapa lembar uang yang kau keluarkan. Belum lagi orang tua yang terus kau bohongi dan kau mintai jutaan nominal untuk alasan bertahan hidup.

Kau takut jika suatu saat nanti ada saudara-saudaramu atau pihak keluargamu tahu bahwa lelaki yang merantau demi kemapanan hidup akhirnya menggelandang dan menjadi pesakitan. Kau khawatir seandainya mamamu akan menempeleng kepalamu atau ayahmu akan mendaratkan pukulan di lengan dan kakimu, sebab kau tahu rasa sakitnya bukan berada di sana. Jelas kau tak ingin merasakan hal itu. Maka kau hanya bisa menumpahkan air mata sebanyak-banyaknya.

“Permisi,” Kau terkejut mendengar suara itu. Tangismu buyar. Seorang barista yang sama kembali ke mejamu, melayangkan tawaran, “Sorry, Sir. Sepertinya kopi Sir sudah dingin. Apar Sir mau menggantinya? atau mungkin hendak memesan camilan dan makanan?”

Kau tersadar. Kopi asal Yaman beraroma wangi cokelat itu belum kau teguk. Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Suara Gordon Lightfoot berganti alunan denting yang disusul kerlip lampu. Di luar jendela, hujan tak lagi memekakkan telingamu. Kau melihat barista itu dan dia pun melihat matamu yang sembab. Udara dingin. Pandanganmu kabur.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.