Cerpen

Insiden Martapura

Cerpen Han Gagas

Satu minggu setelah kota ini dikuasai Corona, gempa bumi menggulung rumah semua penduduk. Lori menyelamatkan diri dengan cara sembunyi di kolong meja. Nyawanya selamat, hanya kakinya nyaris lumpuh karena kena runtuhan balok rumah. Dengan usahanya sendiri sebisanya ia memulihkan luka itu walau hanya memakai obat-obatan terbatas yang kebetulan disimpan keluarganya.

Gagak berkerumun di setiap tonggak pohon yang tersisa. Langit nyaris kelabu setiap hari, mendung setiap waktu, malam tak ada bintang, udara menjadi dingin. Tak ada sinar matahari yang cukup bisa menerobos tebalnya mega-mega. Rumah-rumah yang telah kosong akibat kematian massal oleh corona membeku dalam kesunyian.

Lori menangis saat menyadari bahwa seluruh anggota keluarganya mati. Adiknya, Rara kena longsoran dan tertimbun rumah. Istrinya, Widuri juga mengalami nasib sama, termasuk kedua anaknya, Banu dan Margo. Ia nyaris bunuh diri, merasa sebatang kara, dan sejauh matanya memandang, tak ada lagi kehidupan yang terhampar di mukanya, selain dengung lalat dan kaok gagak yang memenuhi angkasa.

Tapi kehidupan berpihak padanya, sembari menyembuhkan diri sendiri, dan makan apa saja yang tersisa, ia mencoba bangkit. Lori mengayunkan satu kakinya, berjalan pincang menuju jalan. Ia tahu satu kakinya telah mati rasa, dan sadar bahwa tak ada orang di desanya yang selamat. Tak ada suara rintihan bahkan embusan napas dari binatang sekalipun.

Awalnya ia hendak meratap pada langit, namun saat langit pun terasa digulung mega hitam, ia menyadari bahwa alam tak sanggup melawan kekuatan gelap ini. Tampaknya hanya kekuatan gelap yang tega memporak-porandakan seluruh kehidupan.

Lori tak ingin percaya pada Tuhan, walau dulunya saat kehidupan masih normal sebelum corona mewabah, setiap pekan ia selalu sembahyang, namun melihat ini semua rasanya ia pilih tak punya iman. Iman tak bisa mencegah bencana menggulung kehidupan.

Martapura, Martapura, kampung yang semula indah menawan hingga mengundang banyak turis datang, kini seperti bak sampah yang dituangi isi comberan dan buangan limbah. Lori melangkah pincang dan saat badai debu beterbangan menutup pandangan, ia melihat sebuah lampu berkedip-kedip mendekat. Ia mencoba melambaikan tangan, walau lemah, pengemudi itu tahu ada setitik kehidupan di depannya. Lampu mobil menyala terang, dan sebelum badai debu menerjang masuk, ia membuka pintu, Lori meloncat masuk.

“Syukurlah kau selamat, Nak.”

Lori hanya mengangguk, memandang si pengemudi yang seperti ia kenal, namun lupa di mana mereka pernah bertemu.

“Kau lupa padaku?”

“Sesungguhnya kita kena apa?” Tak menjawab, Lori malah bertanya.

“Petaka, Nak. Petaka.”

“Tak adakah bantuan?”

“Virus, Nak. Tak baca beritakah kau, sebelum gempa bumi dan badai debu, virus menyebar lebih cepat.”

“Virus?”

“Ah kau, dasar lelaki tak kenal peradaban!”

“Sejak tiga bulan ini tak ada pasokan koran ke desa kami. Telepon telah lama dibuang karena tak ada sinyal, tak ada berita apa pun, yang kudengar dari seorang sejawat yang baru datang dari kota, negeri sedang genting, virus menyerang ganas. Kukira itu hanya khayalan, kau lihat sendiri, bukan perang yang menghancurkan kami, tapi si kutu kecil, kecil.”

“Iya, dan gempa.”

***

Kini Lori ingat, pengemudi itu teman ayahnya dahulu. Ia bernama Sukarta. Ayahnya sering bercerita tentang dia, lelaki bermoyang leluhur dari Jawa yang suka semadi, yang tak mengenal agama modern, yang selalu hidup dari satu kuburan ke kuburan lain, kuburan yang dikeramatkan penduduk lokal.

“Ia lelaki kuburan, tiap hari menggelandang berjalan dari satu makam ke makam lain, menolak tumpangan. Ia dituduh gila,” kata ayahnya suatu kali.          

Jamala, jamala sikile sèwu, jamala, jamala sikile sèwu,” Sembari menyetir Sukarta mengucapkan sesuatu.

“Bahasa apa kau ucap itu?”

“Jawa Kuno, dari negeri sebelum Majapahit berkuasa.”

“Bagaimana kau tahu virus bisa musnah karena mantra itu?”

“Dia tak bisa dimusnahkan, hanya saja aku masih ingin hidup, Nak. Bukankah kau juga begitu?”

“Artinya, mantra ini hanya semacam tolak bala?”

“Hmmm, semoga.”

Lori mencoba menirukan kata-kata itu. Lidahnya sempat selip karena sukar mengatakan sesuatu dari bahasa asing yang sama sekali belum ia kenal.

“Tenanglah, dan pelan-pelan,” ucap bibir si tua itu.

“Sing aama sing awulu, padha sira suminggaha, balia mring asalneki

Sukarta seperti bernyanyi, namun suaranya terdengar aneh, membuatnya seperti terisap ke alam lain, magis.

“Apa kau menyanyi?”

“Ini nembang, nak.”

“Bah, sulit sekali menirukannya!”

“Dalam keadaan yang kalut begini, hanya kesabaran dan ketenangan yang bisa menyelamatkan kita. Semua telah mati, kan?”

Kesadaran Lori seketika terisap. Hidup sehari-hari kecuali sepekan sekali yang ia harus bersembahyang, diisinya dengan mabuk. Lori heran kenapa orang seperti dia yang justru selamat, bukan istri atau adiknya, Rara yang saleh. Mereka rajin beribadah, melakukan pelayanan darma sosial, dan bermurah hati, sedang dia selain mabuk, juga suka main perempuan. Pelacur telah banyak ia tiduri. Namun anehnya wajah para pelacur itu tak satupun yang bisa ia ingat. Bahkan bayangan sosoknya sekali pun.

Kini yang terlihat justru puing-puing bangunan yang berserakan, tiang-tiang lampu kota yang ambruk, yang syukurnya kabel-kabelnya tak menghalangi jalan mobil mereka. Kawanan gagak terbang rendah dan melayang-layang di depan mereka. Jasad-jasad tubuh manusia dan hewan bergelimpangan. Bau busuk dan anyir telah menumpulkan penciumannya sejak lama.

Sukarta menaikkan semua kaca mobilnya hingga tertutup sempurna, namun anehnya bau busuk tetap menembus ke dalam mobil, tampaknya lewat berbagai lubang mesin dalam kap, dan menembus pori-pori karpet lantai di bodi mobil.

“Brakkkk!” Mereka tersentak kaget.

Tiba-tiba gagak-gagak mendekat dan sebagian menabrakkan dirinya ke kaca mobil, menciptakan secarik darah merah kental membercak di kaca. Untungnya tak menghalangi seluruh pandangan Sukarta buat menyetir. Setelah mengurangi gigi perseneling, ia menginjak pedal gas.

“Kita harus segera pergi meninggalkan tempat terkutuk ini.”

Perasaan Lori masih tercekat. Sukarta melihat wajahnya yang pucat macam mayat.

“Tenanglah, Nak. Perilaku mereka tambah aneh dan berbahaya, apalagi kalau malam, kelelawar lebih ganas, tetapi tenanglah.”

Jalan yang dipenuhi debu menghalangi pendangan, namun Sukarta seperti punya mata batin dan indera ke-6, selaksa kilat mobil melaju kencang.

Perbukitan sedikit terlihat di depan, dengan jalan berkelok-kelok dipenuhi hutan pinus yang kelabu. Daun-daunnya membercak putih terlengketi debu.

“Hendak ke mana kita?” tanya Lori.

“Ke makam di atas bukit.”

“Kuburan?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Hanya di sana tempat yang aman.”

“Kenapa?”

“Tempat itu diselubungi medan energi yang amat besar, ah kau tutup mulutlah.”

Martapura, Martapura, kini desa itu telah jauh di belakang mereka, meninggalkan kenangan yang menyumpal pahit di hati Lori. Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Perasaan Lori gemetar hebat. Tanpa ia sadari matanya telah berkaca-kaca.

“Masih jauh perjalanan, tidurlah, kita akan sampai sana menjelang malam.”

***

Makam yang aneh. Sepanjang sepuluh meter. Di nisan tertulis Datuk Sanggul. Lori pernah mendengar nama ini. Seperti nama yang akrab dengannya tapi ia lupa menaruhnya di laci ingatan yang mana.

Kabut memenuhi seluruh hamparan makam yang diayomi Pohon Judas besar dengan jutaan daun-daun kecil yang berguguran kala ditiup angin. Berbeda sama sekali dari Martapura, area makam ini tampak kehijauan seperti terlindungi dari gempa. Benar apa yang dikatakan Sukarta, tak ada kerusakan sedikit pun, dan bahkan alam sekitar makam terlihat alami dan damai. Medan energi positif makam serasa menyebar ke sekitarnya. Seekor burung sendirian terbang berputar-putar di atas mereka, itu adalah elang yang putarannya seolah melakukan tawaf pada makam ini.

Sukarta duduk termangu, lalu ia tiba-tiba berdiri, membacakan sajak aneh yang terasa seperti nyanyian tembang dari bahasa antah berantah. Walau Lori tak mengerti artinya, bulu kuduknya berdiri, nyalinya tergelincir dari geming, suara itu menyatu dalam keheningan alam.

Teriak elang membahana, suaranya menghunus, memusar bersama desau angin. Dan angkasa tiba-tiba dipenuhi oleh titik-titik hitam. Jutaan titik-titik itu bergerak membesar, membentuk sesuatu yang mulai tampak mengerikan.

“Jangan gentar.”

Ternyata sajak itu telah selesai. Mulutnya menggetarkan kembali mantra yang aneh. Bibirnya komat-kamit, wiridan.

Jutaan titik-titik hitam itu ternyata ribuan kelelawar yang terbang dengan latar mega-mega yang menggumpal pekat dan hitam, tampak mengancam. Keserempakan itu seperti menatap nyalang ke arah mereka.

Tubuh Lori menggigil ketakutan.

Tanpa sepenuhnya Lori sadari, mulutnya mendaraskan segala doa yang masih bisa ia ingat. Hafalannya sejak kecil nyatanya tak bisa ia andalkan, banyak ayat-ayat yang terpotong, namun kali ini entah kenapa hatinya bergetar saat menyebut nama Tuhan.

Rara, Widuri, Banu, dan Margo. Mereka hadir seperti diturunkan begitu saja oleh Tuhan di hadapan Lori menjadi tameng yang aneh.

Sukarta meneriakkan kata-kata abstrak, seperti orang gila, ia berlari-lari memutari makam sembari menunjuk-nunjuk langit. Hawa terasa jadi begitu dingin, angin merajam tulang, dan rongga langit membesar, ada lubang hitam yang muncul dari dalamnya, menyedot apa saja.

Tiba-tiba Lori teringat wajah para pelacur itu, membayang jelas satu per satu di pelupuk matanya. Dosa membaur dalam pengakuan. Lelaki tua menyentuh bahunya, dan berkata, “Inilah saatnya.” Tangan keriputnya mendorong Lori hingga terjatuh.

Lori terduduk dan menitikkan air mata. Ia teringat sepuluh larangan dari Tuhan yang semuanya telah ia langgar.

Jutaan kelelawar menyebarkan jala hitam ke seluruh dunia. Lori tak berdaya.***


Han Gagas, penulis kumpulan cerpen Catatan Orang Gila (Gramedia Pustaka Utama, 2014), novel Orang-orang Gila (Buku Mojok, 2018), dan novel Jack dan Si Gila (Rua Aksara, 2020).

Buku, Resensi

Sapardi: Mantra dan Pengabdiannya

Oleh Agus Wedi

Sesungguhnya, posisi penting Sapardi Djoko Damono dalam susur galur kesusastraan Indonesia adalah karya dan “pengabdiannya.” Karya-karyanya berlaga di medan penyadaran untuk mendongkel kualitas sastra menjadi sesuatu yang dekat dengan publik. Di lembar pengabdian Sapardi, terlihat bagaimana dia berada di lingkaran inti “proyek” besar sastra (lirik) untuk dicurahkan sehabis-habisnya bagi publik Indonesia. Kerjanya lahir dari kesadaran “empati” yang mencerminkan sastrawan cum-akademisi tidaklah berjarak jauh pada realitasnya.

Begitulah Sapardi. Dalam hal ini, dia memahatkan pemaknaan bahwa sastra atau ilmu semestinya diajarkan dan disebarkan dengan rendah hati, tanpa mengurangi kualitasnya. Sebab, dengan kerendahhatian akan tampak signifikansinya pada aktivitas sastra yang gemilang. Dari sosok Sapardi, kita bisa mendapatkan karakter sastrawan Indonesia yang “bijak” dan teguh: tidak mau kalah pada “kritikan dan waktu. Bentangan waktu telah dibuatnya menjadi sesuatu yang fantastik: menulis puisi, tukang edit, tukang kliping, menerjemah, mengajar, berorator, dan berasmara.

Di lembar waktu, Sapardi telah membuahkan banyak karya. Buku Mantra Orang Jawa merupakan teks penting Sapardi. Di mana dia menjejak sebagai orang Jawa dan merefleksikan panorama dinamika Jawa beserta isinya, tak terkecuali hal-hal yang telah “(di)terlupa(kan)”: mantra.

Sejarah Jawa adalah sejarah mantra. Diakui atau tidak, bentangan sejarah manusia Jawa, mantra menjadi napas atau senjata mistik utama. Bahkan, mantra-mantra yang berkecambah di tanah Nusantara, kebanyakan berbahasa Jawa. Meski bahasa murninya mantra hampir tidak bisa dimengerti baik secara fonetis maupun sintaksis. Tetapi bagi manusia Jawa itu harus dirapalkan demi menyibak segala rahasia, atau demi mencapai sesuatu yang ilahiah. Dalam teks ini, barangkali Sapardi mengingat itu, dan jika boleh dikatakan demikian, membicarakan (karya) manusia Jawa atau mengkaji susastra Jawa, dengan tidak mengikutkan mantra di dalamnya merupakan keteledoran besar yang kadang tidak disadari.

Bisa kita lihat  di halaman awal buku ini. Sapardi menulis: “Konon, di zaman lampau mantra memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan nenek-moyang kita untuk berbagai keperluan hidup sesuai dengan maksudnya. Kata mantra tidak bisa dipisahkan dari Japa, jadi Japa Mantra. Japa berarti dibisikkan atau didesahkan atau diucapkan. Jadi mantra harus dilisankan. Dalam buku ini saya telah menjadikannya puisi saja, tidak perlu dikait-kaitkan dengan maksud penciptaannya dulu meskipun tetap harus dilisankan.”

Sapardi masih mengingat mantra! Kerja mantra pun masih diingatnya, termasuk asal-usulnya. Sebagai orang Jawa yang sadar mantra, Sapardi seperti ingin mengenalkan ke khalayak, jika tidak bisa diselamatkan (oleh manusia Jawa) dari kepunahan. Kesadaran etis Sapardi mengantarkan mantra menjadi karya, sebut saja karya paling panoramik Sapardi, Mantra Orang Jawa.

Kekuatan karya adalah kekuatan mantra. Bisa jadi, kekuatan mantra adalah kekuatan karya. Sapardi memberi pesan, “Siapa tahu masih ada kekuatan [mantra] tersembunyi yang tersisa dalam puisi ini. Kalau memang demikian halnya, kita manfaatkan sajalah [mantar/puisi] yang ada dalam buku ini sebaik-baiknya”. Untuk memotret harapan manusia Jawa dan kontestasi bentangan perjalanan hidupnya yang dibangun dengan mantra.

Sejarah manusia (Jawa) adalah sejarah mantra. Sejak manusia dilahirkannya, mantra ikut dikomat-kamitkannya. Bahkan, dalam peristiwa-peristiwa kecil atau besar dan ketika maut memisahkannya, bacaan atau japa mantra turut serta mengantarnya. Dalam hal ini, puisi-puisi Sapardi mengantar pada konteks itu. Kalau begitu, kita buka puisi Mantra Hari Lahir: aku memohon kepada Hyang Maha/ kepada kulit/ kepada daging/ kepada urat/ kepada tulang/ kepada sumsum.// semoga tahu saja/ bahwa aku ada.

Renung Sapardi, keberadaan manusia sebentuk dengan keberadaan Tuhan dan ekosistem tubuh. Keduanya saling jumpalitan dan bahkan bisa jadi saling berkaitan. Tapi tidak harus dihadap-hadapkan. Penyuwun Sapardi kepada Tuhan di langit, Hyang Maha dan keberadaan tubuhnya untuk selalu mengasihi sepanjang rentetan hidupnya. Sapardi seperti mengemis, dalam bentangan hidup, keduanya tidak boleh tidak ada, dan harus selalu ada: tidak menyiksa dan tidak disiksa olehnya. Tuhan dan tubuhnya dipinta untuk selalu (ada) menjaga keberadaan dan kondisi normalnya. Saya kira, itu sah-sah saja dalam hakikat menghamba.

Disadari, dalam kehidupan normal, kadang manusia memang selalu lupa. Kita lupa mengingat bagaimana kita ada dan tercipta. Melupakan bisa mengantarkan pada keberjarakan. Keberjarakan terhadap yang mencipta atau yang menemani ke-ada-annya (dalam hal ini tubuhnya), bisa jadi ia juga mencipta malapetaka: penyakit selalu datang tak henti-henti, kejadian nahas, himpitan kemiskinan, dan petaka lainnya. Bahkan, kalau dirunut ke akarnya, petaka hadir karena manusia telah menyimpang dari jalan-Nya, sebab melupakan khalik-Nya. Dalam hal ini, Sapardi tegap, ia meminta pengasihan. Dari lahir hingga berada di puncak karir tak menjadikan ia lupa bahkan “buta” pada hakikat hidupnya. Sekali lagi, ia mengingat, ia meminta ke Tuhan Pencipta.

Tumbuh suburnya panorama kehidupan tiada lain atas restu Tuhan. Tetapi, sebagai hamba yang lemah (terbatas), tidak harus bersikap fatalistik (menganggap Tuhan segalanya) atau free will (manusia bebas menentukan segalanya). Diskursus kehidupan cukup dengan berusaha dilandasi kesadaran menyeimbangkan yang langit dan bumi: moderat. Membuat konsep persoalan hidup butuh keberpihakan “kesadaran menjadi hamba” dan perlu disabuk dengan japa mantra kasih (doa pinta). Pada itu, Sapardi menulis Mantra Agar Dikasihi: bapa masuk/ atas nama Hyang Maha./ masuklah ke rahim si Dadap/ turuti sepenuhnya/ apa yang kumaui/ turuti apa saja/ yang kuhendaki/ turuti apa saja/ apa yang kuucapkan.// datanglah kasih/ datanglah sayang/ kasih sayang/ bagi diriku.

Rumusan Sapardi, ketika orang-orang (terkasih) mengasihi, itu kuasa gerak Tuhan yang hadir dalam batin manusia: si Dadap. Pinta atau kemauan yang dikehendaki atau dituruti dan menjadi nyata adalah bentuk keniscayaan belas kasih Tuhan. Bahkan, di puisi lanjutnya, puisi Mantra Pengasihan, 1, dan Mantra Pengasihan, 2, Mantra Pengasihan, 3, hingga puisi Mantra Pengasihan, 9, Sapardi dengan mantap mengatakan, “segala adalah kehendak Hyang Maha.”

Sekadar memberi contoh, misalnya, Mantra Pengasihan, 9: sudahlah, mau apa lagi/ kau dalam genggamanku/ aku dalam genggamanmu/ sudahlah, mau apa lagi/ ini tak lain cinta sejati/ yang disiramkan/ ke tubuhku/ ke tubuhmu/ agar basah/ agar menyerah/ di hari dan wuku/ pada kehendak/ Hyang Tunggal.

Pada hakikatnya, segala yang ada hanyalah manifestasi Hyang Tunggal. Kekuasaan dan gelayutan hidup manusia, baik problem sosial dan asmara menjadi hal yang nyata untuk dibawa ke hadapan Hyang Tunggal. Pengakuan terhadapnya adalah menjanjikan derma dalam sebuah aktivitas suluk spiritual. Dalam prosesnya, seperti puisi Sapardi, “baik yang bisa digenggam atau tak bisa digenggam”, harus dikembalikan lagi atau mengembangkan cara pandang yang humanis terhadap Hyang Tunggal, juga manusia. Sebab, Hyang Tunggal bisa ditemui bukan hanya di perjalanan (suluk) sunyi, tetapi juga di jalan asmara yang ramai.

Mengacu ke laku Sapardi, mantra-mantra tidak selalu harus diperuntukkan ke Hyang Tunggal. Nyanyian langit tidak perlu dijaga ketat kerahasiannya, tetapi juga dipahatkan pada si jelita hati: manusia. Sebentuk permohonan atau berbelas kasih. Untuk hal ini, kita bisa cerap puisi Mantra Menjelang Tidur: aku berniat tidur/ berkasur raga/ berbantal nyawa/ berselimut sukma/ dijaga para bidadari/ nikmat mulia sejati.

Sapardi memberi citra sentilan, permintaan, penuturan yang imajinatif. Puisi mantra magis ini ingin melepaskan katalogsasi ragam peristiwa harian, sekaligus ingin menyusun kenang yang terbiarkan masuk dan tertinggal dalam tidur panjang: kematian. Atau mungkin, ini adalah japa mantra keheningan total Sapardi, suatu penyerahan total pada Hyang Tunggal, Tuhan.

Dalam ilmu supranatural, mantra dikenal bisa membuka tabir kehidupan, juga bisa merubah formulasi pandangan manusia dari sesuatu yang lazim menjadi biasa. Tapi puisi-puisi Sapardi sepertinya tak ingin mengarah ke sana: tidak untuk mengamati, mengintip atau membuka rahasia-rahasia langit yang ritmenya hanya bisa dipahami oleh pribadi-pribadi suci. Namun barangkali, kita yang telah tersihir ritme mantra puisi-puisi Sapardi. Wah!


Agus Wedi, pembaca buku dan aktif di Komunitas Serambi Kata Surakarta. Tulisannya tersiar di beberapa media cetak dan online. Bisa disapa di Instagram @petualangrindu.

Puisi

Puisi I Wayan Esa Bhaskara

Barangkali Sawah Telah Habis

pada petak sawah paling hulu

tanamlah doa, sepagi-paginya

sebelum cahaya hiasi ketinggian

sehasta demi sehasta

bak mata elang

nyalang menusuk bumi

aku percaya padamu maka kusajikan;

ritual tuk dewata

penyelamat dari ketiadaan

sebait doa tak pernah sia-sia

raup air suci tiga kali

percayalah jua padaku

sebait tanda, menyaru kurapal hadap timur laut

kubiarkan dialog masih tetap sama

sudah berapa pengampunan berkecambah pada tubuh ibumu?

mantra mengaliri sawah

lewat pematang, gurat daun eceng gondok

di jalan air beribadah di atas tanah

keluh air, angin, tetumbuhan menjauh

kerut-kerut lusuh jemput subuh

tak tersentuh mimpi peladang rapuh

(2012)


Uma

datanglah

menu sehat tiap pagi

seporsi mimpi buruk

perlahan, suap sesuap air mata penuhi ceruk

dengarlah

kidung suci

di antara kunyah

dengkur-dengkur di kepala

sungguh santapan hari sempurna

(2010)


Rambutmu Helai Berderai

apa kau tangkap pagi ini

sebuah lukisan jejak kakiku

pada ranum bibir pantai

kutangkap senyummu

kurajut rambutmu helai berderai,

pada cermin air laut

kau tarik lurus ke arah lembar waktu

bentuk sudut yang menemukan kita

dua rindu lusuh

cukup cubit lamunan

dan kembalikan aku

yang telah kau gambar ulang

(2018)


Ritual Baca Nasib

setelah kau tarik garis tangan sedemikian rupa

lenguhku tercipta dalam kepala

seperti kata-kata berusaha

berkata: senja milikMu adalah doa-doa rapuh,

pilihlah salah satu, katamu

sebab diam sama saja melipat ganda ragu,

satu kartu kutunjuk, dengan tatap sayu

apa yang buatmu yakin? tanyamu

ada gerak-gerak kehidupan

dalam angan

bisa jadi trauma jadi hari depan, katamu

pada kartu yang kau berikan, jawabku pelan

(2019)


Pada Secangkir Kopi

dalam rindu seorang perempuan

tiada muara

hingga senja jadi tanya, atau jawab jadi janji,

diri esok hari

sebab, telah dititipkannya pada secangkir kopi,

diseduh serta mekar purnama

kuhirup saja wanginya

wangi kata

kata rindu, begitu katanya

dalam rinduku

menyelinap di antara

robusta yang menguap

“mari kita rayakan rindu”

lalu kita rapatkan diri

di semesta angan

(2019)


Bibir Uluwatu

Riak buih menyambar

di antara asam, pahit rindu

pucuk-pucuknya tunduk merunduk

rambat bunga daun balut tipis langsat kulitnya

hingga jelas menusuk dada

Tatkala pujawali ini, sejenak sunyi mendesah

senyumnya ditelan riuh

aku membatu

muaranya di detak jantungku

Di hadapan bisu meru, aku menunggu kutuk para dewa

berserah pada karma

(2018)


Sindhu Sendu

Di bawah langit

sepotong sore makin berlumut

di kelopak pantaimu

sedang pikiran lena oleh mantra-mantra

pada sembahyang terbaik bagi diri

degup hampir lelap, upacara lekas dimulai

bait-bait mantra adalah pesan berantai

pada jarak cakar-cakar ombak,

yang jika sirna dari makna,
yang jika susut dari maksud,
tetap ada di mana-mana

(2019)


Karma Phala

kali terakhir menantikan sebuah amin

kau menjadi aku

aku menjadi kau

ketakutan bakar diri

di hadapan berbagai macam uji

gaung kekidungan

membikin jarak yang belum tuntas dikenang

puja kian lekang

sedang hari-hari kemarin, temaram habis

cahayanya bersukma gerimis

dan ribuan pertanyaan manipis

kemudian kembali menitis

(2018-2019)


Hujan Telah Habis, dan Galungan Segera Tiba

di selembar rumput di halaman pura

kurapal doa,

yang tentu saja bisa kujelaskan!

Mengapa aku menemuiMu?

            sebab:

aku punya rindu yang selalu kurayakan

dengan menyeduh syukur atau menyeruput wangi hatiMu

atau hari ini yang kumiliki telah kehilangan esok

aku punya kenangan,

perjumpaan abadi, yang tak leleh panas mentari

riang senja nanti

aku punya hari-hari ini

adalah hari-hariMu

aku punya mimpi

adalah berkatMu

(2019)


Upacara Jelang Hari Raya

tak ada cara lain

merayakan hari ini:

upacara jelang hari raya

aku yakinkan diriku

bahwa kutemukan dirimu

dalam diriku

seperti pesan-pesan WhatsApp

yang kau kirim berkali-kali

tak ada cara lain

merayakan bahagia

sebab Kau menjawabnya

pada upacara jelang hari raya

(2019)


I Wayan Esa Bhaskara, bergaul di Komunitas Mahima, Singaraja. Menulis puisi dan esai dimuat di beberapa media cetak dan daring. Puisinya terangkum pula dalam beberapa antologi bersama. Menanam Puisi di Emperan Matamu (2018) adalah kumpulan puisi perdananya.

Cerpen

Suara di Tengah Malam

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah

Bapak pulang dengan wajah lesu. Langkahnya tampak tak bertenaga. Ia seperti ingin segera roboh di tempat tidur. Langkahnya berhenti di ruang tengah lalu duduk di sebuah kursi. Sementara ibu sedang mengambilkan air minum di dapur untuk bapak. Perutku terus bernyanyi sedari sepulang sekolah. Sehari ini, aku baru makan pagi.

Aku sangat berharap, berhentinya bapak di ruang tengah membawa kabar gembira bagi kami—aku dan ibu yang menunggunya pulang dari mencari nafkah. Kata ibu, hari ini ia sama sekali tidak memegang uang, sehingga ia tidak bisa membeli lauk untuk makan siang dan malam. Tadi pagi, kami bertiga memang makan, dengan sisa lauk kemarin. Sebenarnya jika doyan, aku sudah mengambil nasi di soblok, dan menaburinya dengan garam, begitu mengetahui ibu tidak memasak lauk untuk makan siang dan malam hari. Ibu memang gemar memasak lauk tiga kali sehari, menjelang waktu makan, meski lauk yang dibuatnya sering apa adanya.

“Terpaksa ibu harus utang lagi ke warung Mbah Kami. Sebenarnya bapak sempat mendapat uang dari dua penumpang. Tapi entah di mana uang itu sekarang tidak ada. Bapak sudah cari di semua saku, di becak, sampai bolak-balik di jalan yang bapak lewati karena mungkin jatuh, tapi tidak ketemu,” ucap bapak setelah meminum teh hangat di gelas yang ibu sodorkan. Lantas ibu termangu di hadapan bapak.

Aku loyo mendengar kabar itu—sial betul bapak hari ini.

“Ibu malu kalau harus berutang lagi. Utang yang sudah-sudah saja belum dibayar. Ibu tidak enak dengan Mbah Kami,” kata ibu. “Dan lagi, tumben uang bisa hilang, biasanya bapak teliti.”

Aku sudah menduga ibu pasti keberatan bila berutang lagi bahan mentah untuk membuat lauk. Nelangsa sekali kurasakan. Aku sering miris dengan keadaan ini. Sebuah keprihatinan yang sering kualami. Terkadang muncul keinginan untuk melakukan sesuatu, agar keadaan ini cepat berubah—yang kubayangkan lebih sering pekerjaan yang enak dengan bayaran tinggi, tanpa susah payah memeras keringat. Jika menunggu aku menjadi orang sukses dengan sekolah yang sungguh-sungguh, bapak dan ibu masih akan lama menunggu. Sedang aku sebenarnya sudah tidak tega dengan mereka. Namun, jika melakukan hal selain itu, aku tidak tahu sesuatu apa yang harus kutempuh untuk mengubah keadaan.

Sebenarnya keadaan ini bisa membaik andai bapak mau berpindah pekerjaan, yang mana pekerjaan itu masih ada kaitannya dengan apa yang dikerjakan saat ini. Zaman sudah begitu maju, bapak bisa beralih ke ojek. Bapak sendiri pernah bilang padaku, kalau becak kayuh semakin hari semakin sepi peminat. Pelanggan becak kayuh satu per satu pindah ke ojek. Selain itu, sekarang ini membeli sepeda motor tidaklah sesusah dulu. Orang sekarang bisa pergi ke dealer untuk kredit kendaraan, hanya membawa beberapa lembar uang seratus ribuan.

Aku tidak paham dengan jalan pikiran bapak, yang tidak juga berganti dengan ojek. Kami memang tidak punya sepeda motor, tapi aku rasa itu bukan masalah serius. Ibu memiliki tabungan berupa kalung emas pemberian kakek dulu. Kalau hanya untuk membeli sepeda motor bekas kurasa bisa.

Aku berlalu menuju kamar, menutup pintu dan mencoba untuk tegar. Aku harap bapak dan ibu segera mencari jalan keluarnya. Rasa lapar ini begitu menyiksaku. Aku tidak mungkin memaksa ibu untuk berutang, aku tidak ingin menumbuhkan rasa malu di benak ibu. Beberapa menit kemudian, kerut wajahku menahan lapar mengendur, dan berubah menjadi kegembiraan. Ibu mengantar sepiring mie instan beserta nasi ke kamarku. Aku tidak menanyakan dari mana ibu memperoleh mie instan itu. Aku terlampau gembira.

Lega! Akhirnya perutku terisi. Aku bisa mengarungi malam dengan tidur nyenyak. Terlitas pertanyaan perihal nasib bapak dan ibu; apakah mereka sudah makan. Karena memikirkan itu aku tidak bisa tidur, tapi jika menanyakan kepada mereka, apakah sudah makan, rasanya begitu lucu. Menurutku ibu juga tidak tega kepada bapak, bila hanya aku yang diberi makan, apalagi bapak seharian keluar. Ahh, kukira ibu sudah mengupayakan bapak bisa makan juga.

Untuk menghilangkan pertanyaan seputar nasib perut bapak dan ibu, aku terus memupuk keyakinan mereka juga menikmati makan. Selagi aku di kamar tidur, tak kudengar suara mereka, aku tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan. Tidak juga kudengar suara yang menandakan mereka mengerjakan sesuatu. Jelang pukul setengah sepuluh aku tidur.

***

Telingaku risih, seperti digelitiki. Dengan setengah sadar aku mengusapnya. Aku mendengar suara langkah kaki, benda-benda beradu—seperti suara panci yang membentur lantai, suara pintu dibuka, suara plastik. Aku kembali mengusap-usap telinga, dan keadaanku masih setengah sadar. Mataku masih ingin mengatup. Aku tidak berpikir macam-macam perihal suara itu. Suara-suara itu tidak henti mengangguku dan aku kembali mengusap-usap telingaku. Aku terus berusaha fokus untuk kembali tidur. Namun, tiba-tiba ada suara aneh hinggap di telingaku, dan aku kaget.

Aku terjaga dengan posisi masih rebahan. Kudengar suara itu seperti jeritan melengking yang menyayat. Benakku memikirkan sesuatu, suara itu mirip suara binatang sekarat. Dugaanku, suara itu berasal dari belakang rumah. Karena rasa kantukku masih menguasai, hingga tidak mengundang minatku untuk mendatangi asal suara itu. Aku kembali berusaha memejamkan mata, dan tidak memedulikannya lagi.

Paginya, aku bangun dengan pegal di sekujur tubuh. Aku keluar kamar tidur tanpa merapikan tempat tidur setelah penglihatanku sempurna bekerja. Aku berjalan menuju ruang tamu dan melihat jam dinding, pukul enam lebih tujuh menit. Waktu yang masih terlampau pagi. Bagiku masih ada waktu panjang untuk sampai ke pukul tujuh. Aku gegas ingin mandi. Ketika melintasi dapur, kuhentikan gerak kakiku, mataku tertuju pada tungku yang rongganya ada sisa pembakaran kayu, serta wajan di atasnya yang kotor. Di samping tungku ada beberapa bilah kayu bakar yang ujungnya berwarna hitam. Ada pula sisa asap yang mengepul dari sana—sudah pasti kayu bakar itu baru saja digunakan dan disiram dengan air.

Ibu memasak? Memasak apa? Bukankah ibu sedang tidak memegang uang? Pertanyaan itu mengingatkanku pada hari kemarin, saat aku menikmati mie instan. Aku tidak memberi ibu pertanyaan perihal asal-usul mie instan itu. Aku semakin yakin mie instan itu hasil ibu berutang—lagi-lagi ibu kembali memaksakan diri berutang dan harus menanggung malu. Ya, ibu memaksakan diri untuk berutang. Kenapa aku bisa begitu yakin kalau ibu berutang? Logikanya begini, ibu sudah memasak, ibu tidak memegang uang, warung Mbah Kami belum buka sepagi ini. Apalagi kalau bukan mengutang di hari kemarin? Aku yakin, kemarin ibu berutang mie instan, sekalian bahan baku lauk untuk hari ini.

Pukul setengah tujuh lebih lima menit aku sudah mengenakan seragam sekolah putih biru. Sembari menenteng tas, aku menuju meja makan. Di atas meja makan telah tersaji daging semur yang baunya sedap sekali, tiga tumpukan piring beserta sendoknya, dan sebakul nasi yang masih mengepul. Perutku langsung melilit, nafsu makanku langsung naik. Aku mengambil nasi, sembari izin kepada ibu untuk makan lebih dulu. Bapak tidak tampak batang hidungnya, entah ke mana.

Sesuap nasi beserta secuil daging kumasukkan ke mulut dengan sendok. Aku antusias sekali. Aku mendadak berhenti mengunyah, digerakan kedua. Daging semur terasa aneh di lidahku. Tekstur kurasa tidak seperti daging ayam. Aku melanjutkan kunyahanku sembari menebak-nebak daging apa yang ibu masak. Namun hingga aku menelan seluruhnya, aku tidak menemukan jawaban. Aku masukkan lagi secuil daging, kembali kurasakan dengan lebih teliti. Aku tetap tidak menemukan jawabannya.

“Ini daging apa, Bu?”

“Makan saja. Bersyukurlah hari ini bisa makan enak, tidak usah banyak tanya!” kata ibu.

Setelah menghabiskan daging semur beserta nasi, lidahku kelu. Ada perasaan tidak enak mendarat di hatiku. Aku mengambil kesimpulan berdasarkan pengalamanku selama ini—walau aku ragu—daging yang baru saja kumakan ialah daging kelinci—aku memang pernah makan daging kelinci di rumah seorang temanku, saat mengerjakan tugas kelompok. Kesimpulan itu menerbitkan sebuah pertanyaan penting; jika ibu berutang kepada Mbah Kami, apa mungkin Mbah Kami menjual daging kelinci? Sepengetahuanku, langka sekali orang menjual daging kelinci, bahkan mungkin di sini tidak ada. Aku tidak mau ambil pusing, pertanyaan itu kubuang jauh-jauh dari kepala. Aku pamit kepada ibu untuk berangkat sekolah.

Di halaman rumah, terdapat pohon mangga yang terkena hama. Pohon itu tidak pernah menghasilkan mangga yang manis. Di bawah pohon itu sampah daun kering biasanya dikumpulkan dan dibakar. Di dekat pembakaran daun kering itu ada tempat sampah terbuat dari bambu. Langkahku terhenti, aku tidak sengaja melihat bercak darah yang masih segar di pecahan batubata. Darah itu juga ada di sisi tempat sampah. Saat kulongok isi tempat sampah perutku seketika mual. Aku teringat dengan suara aneh semalam. Aku teringat dengan daging yang baru saja kumakan. Di tempat sampah itu, aku melihat kepala kucing yang berlumuran darah.**

Jejak Imaji, 2020


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bila ingin berkomunikasi bisa lewat @risen_ridho.

Cerpen

Tokoh Perempuan dalam Cerpen

Cerpen Nana Sastrawan

“Sempurna!”

Tokoh kita melonjak girang dari tempat duduk walaupun hatinya berdebar-debar, dia terkejut, sangat terkejut. Di hadapannya seorang perempuan mengenakan kaus dan celana jins, meskipun tak minim, kausnya teregang ketat karena dada yang montok. Rambutnya tergerai, panjang dan lurus. Wajahnya putih, mata yang jernih, bibir merah pepaya dan hidung mancung. Sungguh, semua yang terlihat adalah bukan imajinasi. Bukan juga sebuah delusi, atau ilusi. Ini adalah kenyataan. Kenyataan yang sempurna.

Sementara itu, malam semakin malam, udara menusuk tulang. Di dalam kamarnya, tokoh kita mencoba menguasai diri, dia menyalakan rokok, tangannya gemetar, pemantik tak bisa menyala meski berulang kali dijentikan. Lalu, pemantik itu jatuh. Dia segera mencari pemantik itu, tangannya meraba-raba lantai, sementara matanya tidak lepas dari sosok perempuan itu. Lampu di kamarnya mati, hanya cahaya bulan yang menembus jendela sebagai penerang gelap. Pemantik itu ditemukan oleh jemarinya.

Klik. Api menyala, seperti unggun. Rokok terbakar.

“Shhhsh….”  Asap mengepul dari mulutnya.

Tokoh kita menatap takjub, dia seolah sedang meneliti setiap lekuk dan bentuk dari perempuan itu. Mata tokoh kita kini berbinar-binar, dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini ada dalam benaknya.

“Sebentar, sebentar!” ucapnya.

Tokoh kita mendekati tumpukan kertas yang berada dekat printer, tangannya kemudian meraup kertas-kertas itu lalu meneliti satu demi satu, sesekali rokoknya dihisap, asap menyelimuti remang malam di kamar.

“Angel? Jasmine atau Ferrina?”

Dia terus meneliti satu demi satu kertas itu sambil sesekali membacanya. Dalam benaknya ada banyak nama-nama yang diingat yang segera dia ingin yakini bahwa nama-nama itu adalah sesuatu yang terjadi pada malam ini.

“Ah, kalau melihatmu sepertinya kau wanita …. modern! Ya modern! Kalau tidak salah …. Jane!” dia lalu mengacak-ngacak tumpukan kertas yang lain.

Cahaya bulan membantu tokoh kita mencari apa yang dia cari, malam ini memang sangat sepi, suara sepelan apapun pasti terdengar, meskipun itu suara napas sendiri. Malam yang sering orang bilang malam yang paling keparat. Bagaimana tidak, malam yang sunyi seperti ini, tokoh kita masih terjaga dalam kegelisahannya.

“Bukan!” serunya, lalu membanting kertas-kertas itu.

Dia memandang kembali perempuan itu dengan rasa putus asa. Dihisaplah rokok berulang kali untuk menghilangkan rasa gugup dan gelisah yang semakin menyerang pikirannya.

“Namaku Neneng,” ucap perempuan itu.

“Neneng?”

“Iya? Ne-ne-ng.”

“Hahaha… kau terlalu modern, nama itu terlalu udik!”

“Aku memang wanita modern diciptakan untuk mengobati kesepianmu.”

Tokoh kita terperanjat, dia sadar akan sesuatu. Kemudian dia melihat layar laptop, dibaca tulisan-tulisan yang baru saja dia ketik. Lalu, matanya terhenti di sebuah nama, kemudian dia alihkan pandangannya kepada sosok perempuan itu. Persis seperti apa yang dia tulis, tidak ada satu pun yang salah, semuanya sempurna!

***

“Kamu seorang perempuan yang hidup di kampung, segalanya terbatas. Bahkan sekolahmu saja tidak sampai atas. Tapi bicaramu seperti intelektual saja!” ucapku sambil memandang sinis kepada perempuan yang berada di depanku.

Dia sama sekali tidak terusik dengan kata-kataku, tangannya terampil mengukir garis-garis di kain, membuat pola-pola binatang dan pohon.

“Memangnya salah jika perempuan kampung sepertiku terdengar lebih cerdas?”

Aku terdiam.

“Sekarang semua orang harus cerdas kalau tidak pemilihan kepala kampung saja bisa adu jotos karena tidak memakai kecerdasan.”

“Jadi, sebagai perempuan, kamu juga bisa adu jotos?”

Dia menghentikan tangannya, mata yang jernih menatap diriku. Dadaku berdesir melihat sorot matanya, wajahnya tampak bersinar, wajah perempuan lokal yang cerdas dan berpendirian.

“Pernahkan kamu melihat seorang perempuan muda yang tampak begitu rapuh?” tanyanya.

“Pernah. Di kota, banyak perempuan menjadi rapuh karena persoalan uang dan cinta.”

“Aneh bukan? Padahal di kota perempuan-perempuan disekolahkan tinggi. Terkadang pendidikan itu tidak membantu sama sekali untuk seseorang menjadi bijaksana dan dewasa.”

“Memangnya di sini tidak ada perempuan yang rapuh?” serangku.

“Kamu lihat sendiri di kampung ini, perempuan-perempuan bekerja sepanjang hari, bahkan terkadang melakukan apa yang biasa laki-laki lakukan. Memanggul beras, mencangkul, memotong kayu dan menggali sumur. Sejak dulu, wanita sudah ditakdirkan untuk perkasa.”

“Apakah itu artinya kamu ingin mengatakan bahwa perempuan lebih hebat dari laki-laki?” tanyaku semakin sinis.

“Setidaknya, kaum lelaki sadar bahwa perempuan itu bukan kaum yang lemah. Mereka pekerja keras dan setia, mereka juga layak untuk menjadi seorang pemimpin. Sebab, terkadang urusan rumah tangga memang dipimpin oleh perempuan,” jawabnya sambil tersenyum.

Dia kemudian melanjutkan pekerjaannya. Aku mengamati perempuan ini seluruhnya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sungguh perempuan kampung yang luar biasa. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan perempuan secerdas dan sekeras dia. Sepertinya dia memang bergaul, dia mengamati seluruh kejadian di negeri ini. Mungkin juga, dia rajin membaca hingga wawasannya luas. Saking asyiknya berbincang dengannya aku tidak sadar di mana awalnya kami membicarakan tentang gender. Yang jelas, aku terpesona.

Jemari lentik perempuan itu terus bekerja, menggores kain polos dengan garis-garis halus, penuh penjiwaan dia mengukirnya, tampak garis-garis itu membentuk sesuatu yang indah dan berkarakter. Khas sekali, mungkinkah dia sedang menuangkan keresahan dalam dirinya kepada sebuah kain tenun? Atau, dia memang sebenarnya perempuan yang kesepian? Tetapi tidak terlihat olehku wajah-wajah sepi dalam dirinya, tidak seperti perempuan yang aku kenal di kota. Perempuan kesepian yang duduk di sudut gelap sebuah kafe sambil sesekali menenggak wine.

Perempuan yang duduk di kafe itu berwajah cantik, tubuh yang proporsional dan berpendidikan tinggi, namun itu semua tertutup oleh kemuraman yang terpancar dari raut mukanya. Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu naik ke atas panggung kafe, dia meliukan tubuhnya mengikuti suara musik. Kemabukannya membuat perempuan itu semakin menikmati alunan musik, semua mata lelaki memandang dengan hasrat ingin memiliki. Lelaki memang bajingan.

Musik semakin berdentum keras memekakan telingaku. Di sini, aku semakin merasa tak nyaman. Hidup di kota memang serba bising, tak ada kenikmatan yang bisa aku rasakan, seolah semuanya hanya semu dan kemunafikan. Perempuan itu semakin lincah di atas panggung, liukan tubuhnya membuat hasrat lelaki membara. Aku tertegun menyaksikan itu semua. Tanpa kusadari bergelas-gelas wine kutenggak untuk meredam hasrat. Tetapi, tubuhku semakin memanas, kepalaku lunglai, jatuh ke meja.

“Kamu mabuk?” tanya perempuan itu yang entah sejak kapan berada di sampingku.

Aku mengangkat kepala, terasa berat. Kusaksikan kafe sudah tampak lengang. Rupanya, aku memang mabuk.

“Kepalaku hanya sedikit pusing,” jawabku.

“Mari ikut aku!” ajaknya.

“Ke mana?”

“Minum bir.”

Tanganku diseret oleh perempuan itu, aku tak berdaya mengikuti gerak kakinya menuju parkiran lalu masuk ke dalam sebuah mobil.

“Kamu boleh memilikiku dengan harga cocok,” ucapnya setelah di mobil.

Ah, sialan! Mengapa aku harus bertemu dengan perempuan cantik dan cerdas di kota ini tanpa cinta. Mereka hanya butuh uang, mereka tidak butuh kedewasaan dan kebijaksaan dalam menghadapi hidup ini.

“Mau tidak?” katanya setengah memaksa.

“Aku tidak punya uang,” jawabku.

“Miskin!” Perempuan itu melemparkan tubuhku ke luar dari mobil, lalu mobil itu melaju meninggalkanku yang masih setengah mabuk.

Aku melihat kelebatan cahaya lampu mobilnya saat berbelok dan menuruni tempat parkir, masih teringat dalam benakku, liukan tubuhnya, wajahnya yang cantik dan senyumnya yang manis. Semua itu hilang dengan sekejap hanya gara-gara uang.

“Kamu melamun?” tanya perempuan kampung itu.

Kulihat matanya yang semakin jernih, dia tersenyum. Guratan ketulusan dari bibirnya membuat dadaku berdesir.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Neneng.”

***

Tokoh kita mengucek-ngucek mata, untuk kesekian kali dia ingin memastikan apakah sosok perempuan di depannya adalah tokoh yang ditulis di cerpennya. Dan untuk kesekian kali dia menyakini bahwa ini memang terjadi. Tokoh cerpennya hidup, berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.

“Aku di sini,” ucapnya.

“Ini mustahil!”

“Tidak. Bukankah segalanya mungkin terjadi di dunia ini.”

“Tapi …”

“Namaku terlalu kampungan bukan untuk ukuran tokoh yang cerdas, modern dan dewasa?”

“Bukan itu. Tetapi mengapa tidak semua perempuan seperti dirimu?”

“Ah, mengapa juga semua laki-laki tidak sepertimu?”

Tokoh kita terdiam, berpikir mencari jawaban.

“Semua itu pilihan, bukan?”

“Pilihan?”

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk, berulang kali, semakin lama semakin keras membuat daun telinga bergetar. Tokoh kita mengangkat kepala diiringi dengan mata terbuka, sorot cahaya matahari menembus kaca jendela, menyilaukan mata. Tokoh kita melihat ke sekeliling kamar, kertas berantakan di mana-mana, buku-buku berserakan dan asbak yang penuh abu, puntung rokok.

Tokoh kita bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri pintu yang digedor, dia membuka pintu, seorang wanita gemuk berdiri dengan wajah yang bengis.

“Bayar kos, udah tiga bulan kamu tidak bayar!” bentaknya.

“Maaf Bu, honor menulis cerpenku belum turun, bisa minta tempo sebulan lagi?”

“Tidak bisa. Bayar atau minggat!”

Perempuan itu tolak pinggang, tokoh kita berpikir mungkin inilah perempuan yang sebenarnya, dan dia adalah laki-laki yang sesungguhnya.***


Nana Sastrawan lahir, 27 Juli. Dia pernah menjadi peserta Mastera Cerpen (Majelis Sastra Asia Tenggara 2013) dari Indonesia bersama. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015. Beberapa novelnya adalah Anonymous (2012). Cinta Bukan Permainan (2013). Cinta itu Kamu (2013). Love on the Sky (2013). Kerajaan Hati (2014). Kekasih Impian (2014). Cinta di Usia Muda (2014). Solilokui (2019). Buku Kumcernya adalah Ilusi-delusi (2015), Jari Manis dan Gaun Pengantin di Hari Minggu (2016), Chicken Noodle for Students (2017). Dan buku cerita anak Telolet (2017), Aku Ingin Sekolah (2018), Kids Zaman Now (2018). Buku antologi puisinya, Tergantung di Langit (2006), Nitisara (2008), Kitab Hujan (2010), Penyair Tali Pancing (2011). Penulis bisa disapa di akun Facebook, Youtube, Twitter dengan nama pena di atas, atau kunjungi www.nanasastrawan.com.

Buku, Resensi

Tawaran Eksplorasi Bentuk Bercerita dan Catatan Lain

Oleh Doni Ahmadi

Setelah diumumkan pada Desember tahun lalu, Aib dan Nasib, pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2019 karangan Minanto akhirnya terbit pada Juli lalu. Sebagaimana karya-karya para pemenang sayembara novel DKJ sebelumnya, buku ini tentu saja ditunggu banyak pembaca. Hal lain yang membuat novel ini begitu dinantikan kemunculannya, tak lain karena catatan pertanggungjawaban dewan juri yang menyebut bahwa novel ini bercerita dengan fragmen-fragmen episodik dan sarat dengan eksperimen bentuk—sesuatu yang jarang mendapat tempat pertama.

Tengok saja beberapa catatan penjurian terhadap naskah para pemenang sayembara novel DKJ sedekade sebelumnya: Orang-orang Oetimu (2018) karya Felix K. Nesi; Semua Ikan di Langit (2016) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie; Kambing dan Hujan (2014) karya Mahfud Ikhwan; dan Semusim dan Semusim Lagi (2012) karya Andina Dwifatma—tahun 2010 hanya menghasilkan empat unggulan tanpa pemenang utama. Di antara empat pemenang ini, barangkali hanya naskah Ziggy yang memiliki kecenderungan tersebut, para juri mencatatnya sebagai “serangkaian eksperimentasi yang tetap menyesuaikan diri pada bentuk-bentuk yang sudah ada.”

Sisanya, tema cerita dan kecakapan para pengarang dalam mengolah narasi, tokoh dan peristiwa masih menjadi penentu utama yang membuat karya-karya tersebut berhasil meraih pemenang pertama. Sedangkan novel lain yang dianggap sebagai karya eksperimen biasanya berakhir sebagai pemenang unggulan. Misal, Curriculum Vitae (2016) karya Benny Arnas yang menawarkan bentuk cerita dengan bab-bab yang pendek atau 24 Jam Bersama Gaspar (2016) karya SabdaArmandio yang dianggap menawarkan kebaruan dalam kerangka cerita detektif.

Kehadiran Aib dan Nasib karya Minanto ini bisa dibilang cukup memberi angin segar bagi para penulis dengan kecenderungan avant-garde di Indonesia untuk terus mengeksplorasi bentuk bercerita—alih-alih menyebutnya sebagai bentuk baru, paling tidak—yang sebelumnya belum pernah digunakan para penulis prosa di Indonesia. Hal ini pun sejalan dengan apa yang ditulis Budi Darma pada kumpulan esainya, Solilokui (1983), “Jumlah dan horizon karya sastra Indonesia terbatas, karena itu, hanya dengan menyandarkan diri pada sastra Indonesia kurang menjamin tumbuhnya wawasan sastra. Bukan hanya makin banyak karya sastra yang kita baca makin baik, akan tetapi juga, dan inilah yang perlu, makin banyak karya sastra yang baik mutunya yang kita baca, makin baik juga wawasan sastra kita. Dan karya sastra dunia yang baik bukan main banyaknya.”

Novel Aib dan Nasib nyatanya memang memberikan kita pengalaman pembacaan naratif yang berbeda, novel ini berjalan dari paragraf-paragraf pendek dalam empat rangkaian cerita dengan masing-masing tokoh utama yang berbeda pula dan baru diketahui saling bertaut satu sama lain setelah melewati beberapa bab. Gaya bercerita yang mirip dengan yang dilakukan pengarang Peru, Mario Vargas Llosa, dalam novel The Time of The Hero. Atau dalam konteks sastra Indonesia pernah dilakukan oleh A. Mustafa dalam novel Anak Gembala yang Tertidur Panjang di Akhir Zaman maupun Nukila Amal dalam novel Cala Ibi.

Pilihan alur maju-mundur, tidak linear, bentuk sirkular, cerita yang tumpang-tindih dalam novel Aib dan Nasib memang membuat novel ini cukup menawarkan gaya pengisahan yang berbeda, dan sekaligus memiliki kesan begitu rumit. Dan memang demikian, pembaca, akan sangat mungkin membalik mundur ke halaman sebelumnya karena hal ini—bab yang kelewat pendek dan tokoh-tokoh utama tiap rangkaian cerita yang berbeda.

Menariknya, cerita yang diangkat dalam Aib dan Nasib ini bisa dibilang cukup karib dengan keseharian orang-orang di Indonesia—terlebih bagi kita yang dekat dengan kabar kriminal di TV—meski berlatar di dua desa kecil di Jawa Barat. Kita akan diajak Minanto menelusuri mulai dari masalah rumah tangga, video skandal seks, hamil di luar nikah, perisakan, kemiskinan, masuknya teknologi, orang yang mendadak gila karena gagal jadi wakil rakyat, hingga gosip di warung makan. Semua hal ini berhasil diramu Minanto dengan cukup baik. Setiap peristiwa terjadi dalam rangkaian kausalitas yang ajek dan masuk akal—jauh dari adegan sinetronik yang serba sekonyong-konyong.

Keberhasilan Minanto membawa sesuatu yang dekat ini pada akhirnya membuat cerita dalam bingkai pengisahan yang rumit menjadi tidak begitu terasa mengganggu. Contohnya adalah dialog dari tokoh Marlina dan Ayahnya berikut ini:

“Kau lupa perkataanku barusan.Sesama saudara itu harus saling membantu.”
“Ini gara-gara sampean tidak bisa bekerja lagi.”
“Lancang! Tidak pantas kamu bicara begitu.”
“Lah, memang aku harus bicara bagaimana lagi? Memang benar begitu…” (hlm. 25)

Dialog macam ini tentunya sudah sering muncul, industri hiburan sudah tak terhitung menghadirkan konflik semacam ini. Hal-hal yang mengacu pada ingatan kolektif dan sesuatu yang familiar memang diracik Minanto sedemikian rupa dan membuat novelnya sama sekali tidak berjarak. Bahkan menjelang akhir kisah, kita, mau tak mau akan sepakat dengan dialog lain dalam novel ini dan dibuat mafhum mengapa antara kita dan novel ini seolah memiliki kedekatan.

“Malah aku heran, kenapa TV-TV tidak datang ke Tegalurung buat siaran berita. […] Padahal kukira setiap hari pastilah ada berita kriminal, apalagi di Tegalurung. Tidak pagi tidak siang tidak sore tidak malam.” (hlm. 262).

Keberanian Minanto memilih gaya penceritaan penuh fragmen dan sirkuler, serta pemilihan tema yang diangkat dalam novelnya sama sekali tidak keliru dan benar-benar menghadirkan kesegaran. Namun, bukan berarti novel ini tidak punya masalah.

Beberapa pembaca barangkali akan sedikit terganggu dengan tokoh-tokoh misoginis dalam novel ini—Bagong Badrudin, Susanto, Kartono, hingga Pak Sobirin—meski bisa dimaklumi dan para tokohnya pada akhirnya harus berhadapan dengan ironi yang bikin maskulinitasnya dipertanyakan. Belum lagi nasib yang menimpa tokoh-tokoh perempuan tanpa kehendak—Gulabia dan Uripah. (Dalam konteks novel ini, hal ini sebetulnya bisa kita terima dan juga sebagai penguat logika cerita). Selain itu, ada juga salah ketik nama tokoh di beberapa bagian yang sangat bisa direvisi untuk cetakan selanjutnya.

Secara keseluruhan, rasanya Minanto memang berhasil membawa angin segar serta memantik gairah dan tawaran eksplorasi bagi para pengarang setelahnya untuk mencari bentuk narasi maupun penceritaan berbeda di luar konvensional novel-novel Indonesia. Hal yang sekaligus meneruskan harapan Budi Darma, memperkaya wawasan Sastra Indonesia.


Doni Ahmadi, menulis cerita pendek. Bukunya, kumpulan cerita Pengarang Dodit (2019).

Puisi

Puisi Gusfahri

Memetik Gitar di Dadamu

Mencintaimu membuatku mengerti banyak hal

Seperti pagi ini yang membawa embun mataku

Pada bunga di halaman dengan meremas dada kiri

Dan berjalan satu kaki.

Aku membaca puisi sebelum membuka pintu

Lalu keluar dan terus membacanya.

Sebab aku percaya langit adalah jendela rumahmu

Meski cuaca belum bisa aku raba.

Jangan selalu bertanya

Mengapa hujan membuatku betah di luar rumah

Serta kemarau menjadikanku tabah pada gerah

Bisa aku jawab sekarang kekasih?

Tidak!

Di matamu aku masih saja rumput

Yang disiram dengan pestisida air matamu

Berperang dan berhijrah dari trauma.

Kau mengatakan hal sama, seperti:

Tulang kita semakin berwarna susu.

Sia-sia kekasih!

Sama halnya bunyi

Saat aku belajar memetik gitar di dadamu.

Lagu itu membuatku mengerti

Bahwa cinta tidaklah sederhana

Ia adalah luka mengasyikan yang

Membuatku menundukkan kepala.

Sekarang apa yang kurasakan

Tangan meremas keras dadaku

Merupakan amin pemetik dadamu.

Mata Pena, 2020.


Menikmati Musim

Langit berkata, aku bisa menangis

Namun matamu lebih awal memulai hujan.

Angin barat dan timur beradu

Awan menunda segala perpindahan

Menghitam. Di langit mataku.

Sedang, sisa sia-sia penyair menjadi cinta.

Dan Tuhan sedang bercanda

Bercanda bersama kita dan kata di kepala.

Kita hari yang berbeda, katamu.

Namun, aku langit

Merindukan sungging pelangi di bibirmu.

Aku membuka almanak yang

Menyimpan angka-angka kusam.

Sama sekali tidak ada kedip matahari.

Puisi menatap jemari yang gigil.

Mataku makin tertuju pada kaki

Yang tercatat di akhir bulan.

Ah! Sekarang musim cinta

Angin sedang membawa angka berwarna.

Mata Pena 2020.


Sebelum Hujan Meninggalkan Bekas

Hari yang basah, dengarlah ritmisku

Menyentuh tanah dan kuyup.

Di jendela, segala renta tersimpan.

Kesah kasih menarik ingin aku kisahkan

Padamu. Seperti, aku yang tak bisa rintik

Namun basah tanpa sengaja.

Aku ingin berlarian di kota

Yang bisa kuartikan mengeja gila.

Gila menjadikanku kekar tangkar

Dari segala yang tengkar, sebelum

Aku membaca rambu-rambu cinta.

Tapi, aku tak berhati-hati pada kata itu.

Aku mencoba keluar dan meratap

Kendaraan yang teramat cemas

Lalu lalang di kepala. Getar kakiku memaksa maju

Meninggalkan kursi, meja, kopi

Dan diriku sendiri di rumah. Di luar sangat bebas,

Aku berteriak mengacungkan bunga puisi.

Berlarian menolak semua bengkak.

Aku semakin riang, meski

Hujan dari tadi menghentikanku.

Membuat segala luka tinggal, mungkin.

Mungkin selamat dari sehat. Atau

Korban kelaparan, sebab

Mengganti mata ibu di saku dada

Dengan mata yang aku tak tahu milik siapa.

Tapi lepas dari semua itu

Tubuh tiba-tiba jatuh di jalan

Yang tak sampai kutempuh separuh. Sial,

Puisi dan aku menjadi medan tabrak lari.

Darah bersimbah menyembah kepulangan.

Aku berminat pulang. Namun,

Hujan lebih dulu menghapus jejak palung.

Meninggalkan pelangi yang tersenyum

Karena indah seorang diri. Sedang

Aku terus menahan pandang,

Memeluk lutut sendiri.

Semenjak itu, kaca adalah sahabat setia.

Aku menatapnya dan tak berhenti hati mengingat.

Pakaian yang kukenakan di waktu itu

Dibiarkan amis darah

Tanpa sesekali mencucinya.

Menunggu hari selanjutnya untuk kupakai.

Di hari ini.

Mata Pena, 2020.


Jejak Anak Palestina

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Meremas luka di dadanya.

Bangunan kusam tak lagi membentuk sebuah kota

Tertata di sela sakitnya.

Mereka umpama duli di kaki persembunyian,

Masa layang-layang adalah keringat aborsi.

Tubuh sesaat bisa menjadi bidikan

Senapan zionis yang tak kenal bosan.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Membasuh memar dengan air matanya

Tanpa batas tahun dan waktu.

Seorang anak berkepala polos terus meratap langit

Yang berupa mata ayahnya.

Tatapan terakhir menyusun debar

Aku tidak bisa memberimu masa kecil

Kata ayahnya.

Tubuh yang memutih dan menanggung puluhan lubang

Tergeletak di pangkuan anak itu.

Derita tanah darah menyimpan anak-anak

Mengganti panji pusaka ayahnya.

Kobar jihad tak ada hentinya.

Mata Pena, 2020.


Perjalanan menuju rumahmu

“Kau sedang di mana?”

Suaramu ringkih yang entah asalnya.

Aku sedang berlarian bersama lampu mobil

Mengendus garis putih menuju rumahmu.

Di dalam baja berjendela kaca ini

Aku mengamati kota dengan serius mungkin:

Gedung adalah tubuhmu yang nampak

Pada langit mataku, meski hanya memandang jarak.

Setiap tikungan kulalui dengan klakson

Dan degup dada. Seseorang sering meneriakiku

Agar memasang spion sebelum orang lain

Menyalip dan membekaskan air mata,

Dan itu terus berulang-ulang.

Sesampainya di rumahmu,

Aku memarkirkan diri di halaman

beranjak pelan menuju pintu dan mengetuknya.

Tak ada satu pun yang muncul.

“kau sedang di mana?” aku bertanya balik

“Aku sedang berada di pikiranmu”.

Mata Pena 2020.


Gema Malam Anak Rantau

Malam ini, seseorang menahan diri

Meraba jendela dengan kubangan air mata.

Di kota yang tak menjamin ia lahir

Terus tabah menghidu rindu

Melagukan ninabobo tanpa seorang ibu.

Pikirannya membabi buta

Merekam opera yang terjadi di siangnya:

Memungut uang dari seluruh peluh,

Kepergok orang asing yang tak punya pandang.

Ia menceritakan semua dengan tangis

Sembari mengusap foto keluarga.

Di malam ini, tiada teman selain sajadah

Ringkih tubuh ia putar pada biji tasbih:

Satu putaran berupa doa,

Selanjutnya adalah air mata.

Mata Pena,2020.


Bapak Seorang Petani

Terdapat ladang di keriput kening bapak

Tempat  mencangkul dan membajak,

Menanam kewajiban dengan peluh

Tabah menyiram seluruh.

Ekspedisi hidup berkalang otot dan doa

Selapang hati ia memanennya

Tanpa mempersaksikan air mata.

Mata Pena,2020.


Panggil Aku Merdeka

Cerita dimulai saat aku membuka buku tua

Menyapa seseorang yang matanya masih mengalir darah

Menjelma mata air.

Panggil saja aku merdeka, ungkapnya.

Aku terkesan melihat orang itu

Setiap menulis sajak dengan bambu runcing

Dan membacanya penuh tekad

Tumbuh rimbun pohon di dadaku.

Sampai sekarang pun

Sajaknya menjadi lagu

Bagi tidur anak-anakku.

Mata Pena, 2020.


Di Laut Kutemukan Matamu Tenggelam

Laut mengingatkanku pada kegaduhan

Antara waktu dan tubuhku yang merebut ombak

Aku sering kalah, ringkih kakiku lemah di atas karang-karang

Karang hatimu. Namun aku suka laut.

Nun sebelum aku mengenal tepi

Tak satu pun kutemukan siapa nyala

Dalam pancarona langit

Yang menjadi dongeng paruh baya waktu

Seperti, aku ingin menjadi sampan di tengah ombakmu

Di tepi, karang mengajariku rela

Pada setiap yang pergi

Namun, matamu masih pasang

Seakan lautan kehilangan luas

Aku suka caramu menatap

Bahkan setelah mati

Aku ingin dimumi bersama karang-karang

Dan leluasa  jeremba swastamita matamu.

Mata Pena, 2020.


Sebut Aku

Sebut aku wadah merdeka:

Darah pahlawan adalah segumpal daging

Yang berbiak menjadi aku.

Sebut aku panji suci:

Kibar merah putih serupa zirah

Kukuh di dada.

Sebut aku bambu runcing:

Tekad yang tajam melebihi mata pedang

Tertancap sorak kemakmuran.

Mata Pena, 2020.


Gusfahri atau Gusti Fahriansyah, berasal dari Desa Torbang Batuan Sumenep menggeluti sastra mulai dari Majelis Sastra Mata Pena, SMA Annuqayah, Persatuan Santri Lenteng (Persal), komunitas Tumpah Pena, serta Sanggar Gemilang. Juara1 LCPN SIDERIS INDONESIA. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak juga online. Surel: [email protected]

Puisi

Puisi Arida Erwianti

Gadis Sepatu Biru

Sepanjang hari gadis bersepatu jelly hak tinggi

ia merasa bisa menjangkau apa saja

lalu membuka kuku-kukunya dan menulis puisi

pintu kamarnya yang layu setengah terbuka

agar ibunya tahu ia tidak ke mana-mana

karena setiap malam datang

ia menyelinap melalui dinding-dinding  pada bantal

ia terbang ke dalam status dan foto-foto dalam media sosialnya


Sedu

Di dinding kamar kau melukis jendela

setelah membuang nama-nama di jalanan

kepala dan debaran di dadamu sibuk

mengingat yang pernah menjelma menjadi tempat pulang

berulang-ulang

tapi lupa memberi kompas


Kau dalam Diriku

Aku telah lari, darimu

tapi seperti bekerja keras di atas treadmill

ketika jarak direntang jauh dan penuh

aku selalu menjangkaumu di mataku

melupakanmu sedemikan rupa

tapi kau ternyata berada dalam laptop bahkan dalam lemari pendinginku

kubelai-belai wajahmu di layar gawai

berharap menulis ulang matahari

hingga suatu malam seorang tua datang berbisik

untuk menggengam namamu dalam doa, maka kudekap

engkau benar-benar lepas


Di Telingamu

Aku ingin berkirim surat ke telingamu

kutulis dengan tinta berisi lagu favoritmu

aku akan menyusun puzzle di telingamu

kupakai sarung tangan dari madu

aku ingin berbisik di telingamu

dari tempat yang jauh

saksama kutunggu isyarat

angin selalu meniupkan sesuatu yang jujur namun bergegas pergi

dari ruang gelap, aroma jeruk dan juga tentang layang-layang


Api

Di matanya lilin menyala

mataku meraup matanya, haus

besoknya ia bilang, maafkanlah yang penuh angkara

ia bukanlah seorang yang kuat,

ia lemah membiarkan hutan terbakar-bakar di dalam dirinya

lilin di matanya menguar hangat

aku terbaring di sana


Surga dan Medan Perang

Dadamu pernah menjadi medan perang

kau hunus kalimat berakar raksasa

tapi engkau juga

yang napasmu menjelma subuh yang hening

dengan

telapak kaki yang surga

hasratmu meraup dunia

dalam toko furniture berdinding biru, yang akan kau masukkan dalam kotak kaca

tetapi dalam udara kita berbagi

rumah tak bisa dijejali dengan sepuluh meja makan


Metropolitan dan Payung Hitam

Berganti-ganti gawai mereguk daya dari kabel-kabel

sampai tuntas

tapi ternyata orang-orang tetap dahaga

berteriak-teriak di tengah kota metropolitan

berpuluh-puluh tahun

tapi suara raib tertelan gedung beratap kelabu

baju hitam tak lagi berwarna

karena mata-mata buta sebelum membuka

panas meranggas pada getir

payung hitam telah diterbangkan


Cinta

Mencintaimu dengan penuh

karena umur tak utuh

mencintaiku dengan bara, katamu

karena masa tak selamanya benderang

pada tubuhmu padang telaga muda yang ranum

kurengkuh bagai masuk dalam mesin waktu

pada jiwaku jalan panjang berasam garam, katamu

kau tempuh dengan tafakur

cinta tak pernah melukai

karena darinya pisau kita petik

untuk mengupas buahnya, yang lebih dulu


di

di pantai aku melukis rindu berjilid-jilid

di langit aku berbisik, menabur daun-daun

di keheningan kupetik senja setelah hujan yang keemasan

pada getar, aku termenung merapal doa-doa

pada riang, aku telah menari-nari

di kedai kopi aku menulis surat untukmu

dengan alamat yang telah kuketahui bertahun-tahun

di rumahmu kutersesat

setelah memandang matamu, labirin yang biru

di mana aku berujung?

padahal tanya tak pernah dimulai

di mana kita berpisah?

padahal pertemuan tak pernah


Kita tanpa catatan kaki

Jika langit terbentang, hati kita melapang

Jika hutan-hutan menghijau, jiwa kita merimbun

kita adalah kaki-kaki kecil, berjalan melewati semesta

menunggu matahari terbit, dengan menulis buku-buku yang tebal

pada permata kita tak silau

karena mata kita adalah kilau

namun, entah sejak kapan kita menjadi ahli berpatah hati

tapi pencari ulung dalam ruang kesyukuran

pagi ke petang bagai kelopak bunga-bunga

yang kita jahit dengan benang, satu-satu

kita usai, tapi penuh


Arida Erwianti, lahir di Segeri, Sulawesi Selatan. Ibu rumah tangga, dan sedang menempuh pendidikan di Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pengajar di STKIP Kusuma Negara. Menulis buku“Mozaik Pemikiran Pendiri Bangsa” (Kumpulan tulisan). Cerpennya pernah dimuat di media. Dapat dijumpai di instagram @ridawianti.

Buku, Resensi

Sesuatu yang Kita Sebut “Uang”: Sejarah, Persoalan, dan Masa Depannya

Oleh Zainul Arifin

Tak bisa dipungkiri uang menjadi bagian vital hidup kita. Kebutuhan sehari-hari yang semakin kompleks membuat transaksi barang dan jasa diandalkan pada konsep alat tukar yang dipercayai bersama. Efisiensi itu yang membuat sistem uang lebih diterima daripada sistem barter.

Sejak kehadirannya hingga sekarang, uang mengalami berbagai perkembangan. Perkembangan itu pula yang mempengaruhi bidang industri, jasa dan agrikultur dengan ujung dampaknya pada manusia dan alam. Apalagi belakangan ini konsep e-money (uang elektronik) diperkenalkan dalam transaksi finansial. Untuk itu, tentu tidak salah bila mengajukan pertanyaan: Bagaimana cara kerja uang di masa depan? Dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat luas?

Apabila terlintas dalam benak keingintahuan semacam itu, buku Yuval Noah Harari yang terbaru mungkin sekali dapat melegakan kehausan kuriositas tersebut. Buku tersebut berjudul Money.

Buku ini sebenarnya hasil ekstrak dari dua buku Harari sebelumnya, yakni Sapiens dan Homo Deus. Sehingga tak mengherankan buku Money ini tipis hanya 166 halaman, tidak setebal buku-buku Harari yang lain. Justru dengan demikian, tampaknya maksud dari proposal gagasan Harari selama ini menemukan titik tawarnya secara jelas.

Jalan pikirannya adalah Harari menganggap uang, imperium, dan agama sebagai tiga hal yang dapat menyatukan sekaligus mengeksploitasi manusia. Hal ini lebih detail terdapat dalam buku Sapiens bagian ‘penyatuan manusia’. Mengingat imperium telah runtuh, agama sebagai kekuasaan abad pertengahan juga runtuh, maka satu-satunya yang tersisa sebagai the real power adalah uang. Di titik itulah pembahasan tentang uang menjadi penting demi masa depan sapiens.

Penyatu dan Pemisah

“Hidup bagaikan dua sisi mata uang”. Peribahasa itu persis sebagaimana Harari melihat dampak uang terhadap manusia. Bahwa uang sebagai penyatu umat manusia, tetapi sekaligus sebagai pemisah manusia.

Sebagai penyatu umat manusia, uang adalah sistem saling percaya yang paling universal dan paling efisien yang pernah diciptakan (Harari, 2020: 15). Sebab orang-orang bisa tidak memercayai Tuhan, agama maupun raja yang sama, tetapi mereka sama-sama memercayai uang. Misal Osama bin Laden begitu membenci Amerika Serikat, tetapi tetap menyukai dolar. Uang mampu menjembatani perbedaan ras, agama, budaya bahkan orang yang tak saling kenal sekalipun.

Uang bukanlah kenyataan material. Uang adalah produk psikologis. Kita menghasrati uang karena orang lain juga menghasratinya, bukan atas referensi materialnya. Lingkaran hasrat inilah yang bekerja.

Memang dalam sejarah, uang pertama kali berupa jelai, semacam biji-bijian. Yang menunjukkan inheren secara biologis jelai bisa dimakan. Namun dasarnya adalah konvertibilitas dan kepercayaan universal dari uang jelai tersebut. Lalu atas dasar efisiensi, uang koin dan kertas menggantikannya, bahkan hendak beranjak ke uang digital.

Dengan uang semua dapat dijualbelikan. Awalnya terdapat hal-hal yang tak berada dalam domain pasar, seperti cinta, moralitas, kehormatan maupun kemanusiaan. Sehingga tak dapat dijualbelikan dengan uang. Namun, uang selalu memiliki kemampuan menerobos hambatan nilai-nilai tersebut. Karena terdesak maupun kelaparan, maka pasar memberi penawaran.

Tak mengherankan ada orang tua tega menjual anaknya untuk jadi budak demi memberi makan anaknya yang lain. Atau pemeluk agama yang taat menjadi pembunuh lalu membeli pengampunan. Dari sini, kepercayaan pemersatu universal dari uang sesungguhnya tidak diinvestasikan pada manusia maupun nilai sakral, melainkan pada uang itu sendiri. Ketika semua bisa dikonversikan dalam pasar maka yang ada hanya hukum dingin permintaan dan penawaran. Sebuah pasar tanpa perasaan, sehingga tak mengherankan sejarah ekonomi manusia berisi sebuah tarian yang pelik (Harari, 2020: 27).

Sebagai pemisah, sisi gelap uang tak sampai di situ. Pada tahap lanjut, kapitalisme mendapat peran penting. Sejarah kapitalisme sendiri tidak bisa dilepaskan dari revolusi saintifik, yakni pengakuan atas ketidaktahuan dan ide kemajuan. Pengakuan ketidaktahuan tersebut membuat penguasa berinvestasi pada riset supaya produksi dan kekayaan terus meningkat. Sehingga ayat pertama dan paling sakral dalam kapitalisme adalah “keuntungan dari produksi harus diinvestasikan kembali dalam meningkatkan produksi” (Harari, 2020: 41). Di titik itu, dianggap pasar bebas akan mendefinisikan keadilannya sendiri. Padahal eksploitasi terus terjadi baik pada manusia maupun alam. Keserakahan pemilik modal untuk menaikkan laba dilakukan dengan cara membayar rendah upah buruh dan menambah jam kerja. Tentu seakan hal itu dapat diatasi dengan mogok kerja. Namun, bagaimana jika pabrik itu satu-satunya di suatu negara, atau semua pemilik pabrik bersepakat menurunkan upah buruh secara serempak. Buruh tak punya pilihan lain. Eksploitasi menjadi abadi. Pemisahan antar manusia terjadi.

Kaitannya dengan sains adalah bahwa keyakinan kapitalisme pada pertumbuhan ekonomi yang kekal bertentangan dengan kondisi alam (Harari, 2020: 46). Akibatnya limbah, polusi, hutan gundul, banjir dan sebagainya meluas. Untuk itu, riset saintifik dilakukan demi pencarian solusi. Artinya, penelitian dari ilmuwan didanai dalam upaya mencarikan solusi akibat ulah si pendana itu sendiri. Di sinilah tampak siapa yang berkuasa. Uang.

Dengan demikian terjadi kontradiksi abadi bahwa di satu sisi mengakui ketidaktahuan dan di sisi yang lain fanatik pada ide kemajuan. Seperti dua sisi mata uang, sebagai penyatu sekaligus pemisah.

Ketakbergunaan Manusia

Revolusi saintifik membawa umat manusia pada penemuan komputer, internet, robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Kecanggihan teknologi tersebut bahkan dapat mengalahkan kemampuan manusia. Misal, pekerjaan sopir dapat digantikan robot dengan algoritma canggih seperti drone dalam AI.

Self-driving car (mobil tanpa pengemudi) pernah diujicoba walaupun terjadi kecelakaan. Namun, kita dapat membayangkan apabila semua mobil di jalan raya dioperasikan oleh algoritma, maka risiko kecelakaan akan minim bahkan tidak terjadi sama sekali. Sedangkan kecelakaan oleh manusia dapat dikarenakan mengantuk maupun lelah. AI tidak pernah mengantuk dan lelah.

Sebelum revolusi industri, tenaga kuda dan kerbau sangat berguna sebagai kendaraan dan membajak sawah. Revolusi terjadi dan akhirnya digantikan dengan mobil dan traktor. Kuda dan kerbau menjadi tak berguna. Sangat mungkin, nasib pak sopir akan seperti kuda dan kerbau saat itu.

Pekerjaan guru, buruh, kasir bahkan pengacara dan dokter pun dapat digantikan oleh kecerdasan buatan (AI). Bayangkan data algoritma yang begitu besar diinput dalam waktu singkat ke dalam robot. Sedangkan untuk mendapatkan seorang guru atau pengacara maupun dokter harus menunggu bertahun-tahun untuk proses pembelajaran. Efisiensi sekaligus kecermatan terhadap pekerjaan akan memihak pada robot-robot bukan pada manusia. Di titik itu, muncullah manusia-manusia tak berguna dan tak produktif bagi sistem.

Memang seakan mengada-ada, tetapi fakta itu sedang berlangsung. Misal tentang pekerjaan dokter, terdapat AI bernama Watson dari IBM pada tahun 2011 dipersiapkan untuk mampu mendiagnosis penyakit. Kita tahu bahwa tugas utama dokter adalah mendiagnosis penyakit dengan benar, itupun sering salah diagnosis sehingga perawatan kurang optimal. Sedangkan AI seperti Watson mampu mendiagnosis penyakit seseorang dari bank data genom, riwayat medis baik dari orang tersebut maupun kerabat dengan akurasi yang lebih bagus (Harari, 2020: 99). Apalagi Watson tidak pernah lelah, lapar maupun minta tunjangan lebih. Sehingga pekerjaan dokter sangat mungkin diambil oleh AI seperti Watson suatu saat nanti. Ancaman itu tidak hanya pada pekerjaan dokter umum melainkan dokter spesialis dan tentu pekerjaan-pekerjaan manusia lainnya.

Hal semacam itulah yang dicemaskan Harari bahwa kita sedang berada di ambang revolusi yang sangat penting. Proyek abad ke-20 untuk mengatasi kelaparan, wabah dan perang berbelok pada eksploitasi atas kelas lain. Kini proyek abad ke-21 untuk menggapai keabadian dan kebahagiaan akan melahirkan segelitir elite dan membuang kelas nirguna.

Apabila riset-riset saintifik justru membagi manusia menjadi massa nirguna (useless humans) dan segelintir elite manusia-super (superhumans) yang ditingkatkan, maka liberalisme akan runtuh (Harari, 2020: 160). Pengakuan atas hak menjadi pudar. Uang berlaku sebagai apa jika segelitir elite memiliki robot-robot cerdas, yang bisa bekerja untuk mereka tanpa perlu dibayar? Lalu, konsep penyatu apa yang mengisi kekosongan tersebut?


Zainul Arifin,  pembelajar di Komunitas Bangku Hitam

Cerpen

Memancing Bersama Bapak

Cerpen Kiki Sulistyo

 “Ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhirmu. Setelah hari itu tidak ada apa-apa lagi.” Begitu kata Bapak ketika suatu malam kami pergi memancing.

Bapak menggunakan pancing lontar tanpa joran. Setelah memasang umpan dan berjalan ke laut, Bapak memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya sejauh-jauhnya. Lantas dia menjauh dari laut, mengikat tali pancing di sebatang tonggak kecil yang sudah ditancapkan di pasir, lalu duduk menunggu. Jika tali pancing bergetar bisa jadi ada ikan yang sedang memakan umpan. Bapak akan menarik tali untuk memeriksa, jika tali pancing semakin kuat getarannya, bisa dipastikan memang umpan sudah dimakan, saatnya menarik tali pancing untuk melihat hasil.

Kadang-kadang Bapak mengajakku. Satu-satunya tugas yang diberikan padaku hanyalah menemaninya; mendengarkan dia bicara. Sering aku tidak benar-benar paham apa maksud kata-katanya.

 “Terus kita masuk ke alam baka?” tanyaku.

“Iya, alam baka. Artinya tidak ada apa-apa.”

 “Bukankah ada malaikat di sana. Ada surga dan neraka?”

Bapak tidak langsung menjawab. Matanya diarahkan ke tali pancing, tak ada getaran di sana. Bunyi ombak yang tiada henti membuatku kadang tidak menyadari hempasan air itu memang ada, terhampar di hadapan kami.

Semenjak satu-satunya bioskop di kota kami berhenti beroperasi, Bapak tak lagi punya pekerjaan tetap. Semula Bapak bekerja sebagai pengantar rol film, kemudian dipindah ke posisi penjaga loket. Bersama kawan-kawan sebaya, hampir setiap malam aku bermain-main di teras bioskop itu. Kami senang melihat-lihat poster film, meski orang-orang dewasa kadang memarahi kami sebab dianggap mengganggu para calon penonton. Sebagai bocah kami memang berisik, tetapi kami tak pernah berniat mengganggu. Kami hanya gembira, dan kegembiraan dalam diri seorang bocah menjadi kegembiraan yang murni. Mungkin kemurnian itulah yang mengganggu orang-orang dewasa.

Bioskop Ramayana. Itulah nama bioskop di kota kami. Mulanya aku kira itu sekadar nama, mungkin nama si pemilik bioskop. Tetapi ketika kulihat di perpustakaan sekolah ada buku berjudul Ramayana, aku jadi mengerti kalau Ramayana adalah sebuah cerita tentang seorang istri raja yang diculik raksasa.

Meski tidak pernah memberikan karcis gratis padaku, aku senang melihat Bapak duduk di kursi  belakang kaca loket. Aku senang melihat dia memberikan karcis pada orang-orang. Aku bayangkan dia serupa malaikat yang memberikan karcis menuju surga pada orang-orang yang baik hatinya. Di mataku semua penonton bioskop adalah orang-orang baik yang akan masuk surga, sebab wajah mereka selalu tampak bercahaya. Sementara kami, bocah-bocah, hanya bisa berdiri di teras bioskop, melihat mereka satu per satu masuk ke dalam gedung tempat surga itu berada. Memang, sebelum lampu bertanda ‘film utama’ menyala, tirai di mulut pintu tidak akan ditutup. Dari luar kami masih bisa melihat beberapa cuplikan film yang akan diputar di masa datang. Saat-saat itu aku seperti diberi kesempatan untuk membayangkan surga, dan kelak akan tiba masa di mana aku bisa turut masuk ke dalamnya.

Tetapi, kata Bapak, surga itu tidak ada.

 “Berarti neraka juga tidak ada, Pak?” tanyaku. Aku menduga Bapak cuma bercanda, meski air mukanya kelihatan serius.

 “Menurutmu kalau surga tidak ada, apakah neraka ada?”

 “Tapi di sekolahan ada yang menjual buku siksa neraka. Orang-orang dibakar, dipotong lidahnya, ditusuk, disetrika, di..”

 “Ssst, lihat. Umpan sudah dimakan.” Bapak memotong kata-kataku. Aku lihat tali pancing bergerak-gerak. Bapak meraih tali itu dan menariknya pelan-pelan. Getarannya makin kuat, pertanda memang ada ikan yang sedang memakan umpan. Dengan sigap Bapak menarik kuat-kuat tali pancing itu, terus-menerus, seperti orang hendak menurunkan layang-layang. Aku bayangkan seekor ikan besar telah kami dapatkan; mungkin ikan pari, meski aku berharap itu ikan kerapu, ikan dengan daging yang lembut dan gurih. Aku lihat kegembiraan di wajah Bapak, kegembiraan yang murni. Aku bayangkan kegembiraan yang sama akan memancar di wajah Ibu, kalau nanti kami membawa seekor ikan besar sebagai hasil usaha.

Semenjak bioskop ditutup, Bapak dan Ibu sering bersitegang. Memang tidak pernah sampai berteriak-teriak. Tapi pernah kulihat Bapak dengan muka merah melempar gelas berisi teh panas ke tembok. Aku sempat berteriak, tetapi teriakanku tidak bisa menahan gelas untuk menghantam tembok dan pecah berkeping-keping. Saat itu Ibu menangis. Aku tidak tahu apa yang mereka permasalahkan, yang kutahu masalah itu tidak panjang. Mereka segera kembali seperti biasa, tenang dan tak banyak bicara. Sering aku berpikir ketenangan itu bisa terjadi berkat doa-doa Ibu; tidak seperti Bapak, Ibu memang rajin sembahyang. Tetapi di lain kali aku berpikir ketenangan itu terjadi karena Bapak selalu bisa menyadari kesalahannya dan tak sungkan meminta maaf.

Bioskop Ramayana terpaksa harus tutup karena tidak ada lagi orang yang mau menonton. Perlahan-lahan orang memilih membeli pemutar video yang memang baru saja masuk ke kota kami, memenuhi rak toko-toko elektronik. Bersamaan dengan itu, penyewaan maupun para pedagang video bajakan menjamur. Harganya jauh lebih murah dari harga tiket bioskop. Bahkan satu keping bisa berisi beberapa film. Aku merasa tidak ada lagi orang yang mau masuk surga bersama-sama. Mereka membangun surga mereka sendiri, di dalam rumah masing-masing.

Namun, tidak demikian dengan kami, Bapak tidak punya cukup uang untuk membeli mesin pemutar video, tidak cukup punya uang untuk membawa surga ke rumah kami. Tanpa surga, rumah kami terasa tenang, nyaris tanpa suara-suara. Berbeda dengan rumah para tetangga.  

Sejak bioskop tutup, Bapak beralih mengerjakan apa saja yang dia bisa; jadi tukang catut yang menjualkan barang orang, jadi tukang perbaiki alat-alat elektronik, membantu tukang kayu atau tukang batu, bahkan kadang-kadang membeli nomor porkas. Kami, para bocah yang beranjak remaja, tidak lagi gemar bergerombol di teras bioskop yang pelan-pelan mulai ditempati para pedagang batu akik, tembakau, atau jam tangan. Aku tak lagi menunggu Bapak selesai bertugas sembari menikmati permen Sugus dan melihat orang dewasa lalu-lalang di jalan.

“Nanti di surga kita tidak perlu mancing lagi ya, Pak. Ikan apa saja yang kita mau akan langsung tersedia.” Ternyata, bukan ikan pari atau ikan kerapu yang berhasil kami dapatkan. Ikan yang menggelepar-lepar di pasir itu berwarna keperakan dengan garis-garis hitam. Itu ikan korangan. Tapi aku tidak kecewa, seekor korangan juga enak digoreng, apalagi ditambah sayur bayam dan sambal. Air liur kutelan membayangkan santapan nanti.

Entah kenapa di saat yang sama aku juga teringat pada komik neraka yang kubeli di penjual mainan depan sekolah. Tiba-tiba aku takut Bapak akan masuk neraka karena pernah melempar gelas berisi teh ke tembok. Aku juga teringat pada buku cerita Ramayana, dan takut pada kemungkinan, bahwa pada saat melempar gelas berisi teh itu Bapak sebenarnya hendak meminta Ibu menceburkan diri ke dalam api, seperti permaisuri raja. Aku tidak mau Bapak masuk neraka, aku juga tidak mau Ibu masuk ke dalam api.

 “Sudah Bapak bilang, surga itu tidak ada,” jawab Bapak. Aku perhatikan parasnya untuk mencari jejak kemarahan. Tidak ada. Paras Bapak malah tampak bercahaya seperti ketika dia duduk di belakang kaca loket.

“Kalau surga tidak ada, kenapa Ibu rajin berdoa?” tanyaku sembari memperhatikan Bapak yang sibuk memasukkan ikan ke dalam keranjang dan menyiapkan umpan berikutnya. Bapak bilang, “Karena Ibu tidak ingin kita menderita. Ibu ingin kita hidup bahagia. Tapi kau lihat, tidak ada seorang pun yang membantu kita. Bukan karena orang-orang tidak mau, tetapi karena mereka sendiri juga tidak bahagia. Sebab orang-orang tahu, ada suatu hari yang akan menjadi hari terakhir mereka.”

 “Saya tidak mengerti, Pak.”  Bapak tidak membalas ucapanku. Aku tidak tahu dari mana dia mendapat kalimat-kalimat itu. Mungkin dari film-film yang dia tonton, mungkin dari pengalaman hidupnya yang tak banyak aku tahu. Kembali dia memutar-mutar tali pancing di atas kepalanya dan melontarkannya jauh-jauh ke tengah laut. Baru aku perhatikan tubuh Bapak yang pendek dan kecil seakan menyimpan kekuatan besar. Aku merasa akulah umpan itu, dilemparkan ke tengah laut dan tak tahu adakah ikan yang mau menyambut.

Bunyi ombak tak pernah sedikit pun berhenti, terus berulang-ulang, seperti mendapat siksa sebagaimana orang-orang berdosa dalam komik yang pernah kubaca. Kudongakkan kepala, menatap langit yang tak menampakkan bulan. Aku bayangkan di atas sana, di ruang lapang terbuka itu, berdiri sebuah bioskop. Lalu dengan kegembiraan yang murni, aku, Bapak, Ibu, dan semua kawan-kawanku, masuk ke dalamnya. ****

Mataram, 13 Juni 2020


Kiki Sulistyo, meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk kumpulan puisi Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? (Basabasi, 2017) dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018 untuk Rawi Tanah Bakarti (Diva Press, 2018). Kumpulan cerpennya yang terbaru, Muazin Pertama di Luar Angkasa, bakal segera terbit.