Cerpen

Kematian Tak Sempurna

Cerpen M Arif Budiman

Pada mulanya Pras belum menyadari bahwa ia telah berada di alam keabadian. Ia baru benar-benar memahami setelah sebuah ambulans datang. Empat petugas medis berpakaian hazmat turun dari ambulans, memasukkan tubuh Pras ke dalam kantung mayat, lantas membawanya pergi. Ambulans pun meraung-raung membelah jalanan kota.

Aneh, begitulah yang ada dalam pikiran Pras ketika menatap orang-orang berpakaian layaknya astronaut itu di dalam ambulans. Mereka memperlakukan tubuhnya selayaknya orang-orang yang terkena wabah menular. Padahal masih ingat betul bahwa ia hanyalah seorang pengidap penyakit narkolepsi akut. Bahkan ia masih ingat kapan terakhir kali berkomunikasi secara sadar dengan Maya dan dokter saraf, sebelum dokter saraf menyuntikkan obat bius ke dalam tubuhnya.

Sesampainya di rumah sakit, petugas medis segera membawa tubuh Pras ke kamar mayat. Setelah mendapat arahan dari penjaga kamar mayat, tubuh Pras langsung dimasukkan ke dalam salah satu lemari pendingin. Pras hanya terdiam ketika melihat tubuhnya perlahan membeku. Kini ia sepenuhnya menyadari bahwa tak mungkin kembali ke dalam tubuhnya. Ia telah sepenuhnya menjadi arwah. Arwah tanpa wadah.       

Pras benar-benar terpukul dengan nasibnya. Ia tak pernah menyangka bahwa akan mati dengan cara yang sedikit aneh dan kurang masuk akal. Padahal semasa hidup ia merasa tak pernah merugikan orang lain. Adapun permasalahannya dengan Maya hanyalah persoalan biasa. Pertengkaran-pertengkaran kecil, silang pendapat, beradu argumen yang tak lain merupakan bumbu-bumbu dalam rumah tangga.

Ketidaktahuan Pras akan penyebab kematiannya mendorongnya untuk terus mencari tahu. Ia terus mencoba berkomunikasi dengan orang-orang yang ditemuinya, termasuk Sarkum, si penjaga kamar mayat.

Pada mulanya Sarkum tak merespon setiap perkataan Pras. Butuh berjam-jam hingga Sarkum menyadari akan kehadirannya setelah Pras menjatuhkan sebuah gunting bedah ke lantai.

“Selamat datang,” ujar Sarkum, santai. Seolah apa yang Pras lakukan tak membuat Sarkum tersita perhatiannya. Ia tetap bergeming menonton acara televisi kesukaannya.

Melihat respon Sarkum, Pras tak lantas putus asa. Ia mencoba mencuri perhatian lelaki paruh baya itu dengan menggeser sebuah kursi.

“Kamu pikir aku takut? Kalau mau ikut nonton, nonton saja. Tak perlu berisik,” ujar Sarkum, acuh.

Pras merasa dirinya tak dihargai oleh Sarkum. Ia pun mencoba menjatuhkan benda lain yang menurutnya akan menyita perhatian si penjaga kamar mayat.

“Sontoloyo!” dengus Sarkum, beranjak dari tempat duduknya sembari berkacak pinggang setelah melihat gelas kopinya jatuh berderai. “Dari sekian banyak tamu yang mampir ke kamar ini, kamu yang paling kurang ajar! Kamu pasti Pras kan? Aku tahu itu sebab hanya kamu tamuku malam ini.”

Melihat tingkah Sarkum, Pras pun tersenyum. Meski demikian ia sangat beruntung karena apa yang dilakukannya mendapat respon.

“Kamu boleh bahagia malam ini dengan mengacak-acak ruanganku. Tapi besok pagi, setelah kamu kumandikan dan kumasukkan ke dalam peti mati, kamu tak akan berbuat banyak. Dengan catatan itu semua atas perintah Dokter S. Namun jika ia menghendaki kamu dibuang begitu saja seperti tempo hari, apa boleh buat. Kamu tak perlu protes!”

Pras terdiam mendengar perkataan Sarkum. Ia bertanya-tanya siapakah sebenarnya Dokter S yang disebut-sebut Sarkum. Apa hubungannya dengan kematiannya. Apakah Dokter S merupakan nama lain dari Dokter Saraf?    

Pras pun kembali memutar otak bagaimana caranya agar ia dapat berkomunikasi langsung dengan Sarkum layaknya manusia pada umumnya. Namun sepertinya Tuhan tak merestui usaha Pras untuk berkomunikasi secara langsung dengan Sarkum. Ia hanya bisa menyentuh benda-benda di sekitarnya.

***

Hari menjelang siang ketika Sarkum dan Markum, seorang penjaga kamar mayat lainnya mengeluarkan tubuh Pras dari dalam lemari pendingin. Tubuh Pras benar-benar telah membeku. Uap es perlahan menguar dari tubuhnya. Dengan penuh kesabaran, Sarkum membawa tubuh Pras menuju meja pemandian.

“Untung badanmu ringan. Jadi aku tak perlu repot-repot minta bantuan banyak orang.”

Sesampainya di meja pemandian, Sarkum dengan penuh kehati-hatian memindahkan tubuh Pras.

“Asal kamu tahu. Meski tamu-tamu yang aku hadapi sudah tak bernyawa lagi, tapi pantang bagiku untuk berlaku kasar. Aku tahu, sebelum para jasad dikuburkan, maka pemiliknya masih menunggui. Termasuk kamu.”

Setelah tubuh Pras berada di meja pemandian, Sarkum dan Markum mulai memandikan tubuh Pras. Dengan perlahan ia menyirami tubuh Pras, lalu mengeramasi rambut Pras dengan sampo juga menyabuni seluruh tubuhnya.

Melihat perlakuan Sarkum, Pras merasa sungkan. Seumur-umur, setelah dewasa, baru kali ini ada yang memandikannya.

“Kamu cukup beruntung karena Dokter S tak jadi membuangmu lagi. Kamu tahu kenapa?”

Pras yang semula berdiri dikejauhan, segera mendekati Sarkum.

“Itu semua karena permintaan istrimu. Aku dengar istrimu yang meminta agar kamu disuntik mati. Kamu tahu kenapa? Sebab kamu tukang selingkuh.”

Mendengar perkataan Sarkum, Pras pun terkesiap. Meski ia kerap berlaku kasar pada Maya, tapi Maya tak mungkin berlaku sekejam itu.

“Ah, tapi itu tadi kabar burung. Kamu boleh percaya, boleh tidak. Mmm… Tapi tunggu dulu.” Tiba-tiba Sarkum memegang-megang kemaluan Pras. “Astaga… Bagaimana mana mungkin istrimu setega itu? Lihat saja, rudalmu ini tak ada tanda-tanda bahwa kamu tukang selingkuh. Ukurannya saja tak lebih besar dari jempolku!”

Seketika Sarkum dan Markum terkekeh. Sementara mendengar ejekan Sarkum, Pras pun tersinggung. Lalu menghempaskan gayung ke lantai.

“Wah, maaf. Aku tak bermaksud mengejekmu. Percayalah, aku hanya bercanda. Tapi untuk perihal kematianmu, kamu boleh cari sendiri penyebabnya. Kamu bisa temui Dokter S, atau bahkan istrimu sendiri.”

***

Setelah dimandikan, Sarkum pun mendandani Pras sesuai permintaan Dokter S dan tentu saja Dokter S sesuai permintaan Maya.

“Sesuai permintaan Dokter S. Kau tak perlu kupanggilkan tukang rias. Cukup aku saja. Aku juga cukup lihai mendandanimu. Lagipula, kau tak perlu memakai gincu, bukan?”

Pras cukup gusar mendengar pernyataan Markum. Kali ini Pras tak menjatuhkan apapun untuk membuktikan ketidaksukaanya.

“Ssstt… kau tak perlu berlebihan, Pras. Biasa sajalah. Toh aku hanya bercanda,” tukas Markum. Lalu melanjutkan mendandani Pras.

“Wah, kamu gagah juga ternyata setelah memakai setelan jas. Aku dengar jas ini merupakan jas pernikahanmu dulu ya?”

Dasar tukang gosip! Dengus Pras melihat tingkah polah Sarkum.

“O iya, aku dengar istrimu tak menghendaki kamu dibungkus dengan kain mori. Ia takut kamu akan berubah jadi setan lemper atau arem-arem. Ia juga tak menghendaki kamu di kremasi. Selain baumu nanti seperti satai bakar, ia juga takut abu dari sisa-sisa tubuhmu akan tercecer kemana-mana dan bikin batuk orang lain. Makanya, ia lebih memilih kamu didandani seperti ini. Selain lebih manusiawi, kamu biar terlihat ganteng di hadapan Tuhan. Tapi itu kata istrimu, bukan kataku.”

Dasar tukang gosip! Dengus Pras lagi.

“Nah, sekarang kamu sudah rapi, sudah wangi. Tinggal dimasukkan ke dalam peti. Tapi sepertinya aku tak bisa sendiri. Aku mesti cari bantuan orang lain. Tunggu sebentar, aku panggilakan Markum dan sopir ambulan.”  

Sarkum meninggalkan tubuh Pras di meja pembaringan.  Sebentar kemudian ia Kembali lagi bersama Markum dan seorang sopir ambulan. Mereka pun segera memasukkan Pras ke dalam peti mati.

“Nah, purna sudah tugasku sekarang. Kau terlihat gagah di dalam sini. Berbaringlah dengan tenang. Sebentar lagi seseorang akan menjemputmu.”

***

Matahari baru sepenggalah ketika ambulans memasuki kawasan pemakaman elit Budi Pekerti. Enam pria berbadan tegap bergegas menghampiri ambulan untuk menurunkan peti mati.

“Hati-hati. Tak perlu terburu-buru,” ujar pria berkaca mata gelap. “Pastikan bagian kepala di depan,” tegasnya.

Keenam pria berbadan tegap meletakkan peti mati di atas stan penyangga di samping liang lahat.

“Kalian boleh menyingkir.”

Enam pria berbadan tegap mengangguk.

Tak lama berselang, sebuah BMW berwarna hitam datang. Pras yang sedari tadi terus memandang peti jenazahnya, kini mengalihkan pandangannya ke sepasang pria dan wanita yang baru saja datang.

“Mari kita berdoa bersama. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Tuan Pras,” ajak pria berkacamata gelap.

Setelah doa bersama selesai, enam pria berbadan tegap menurunkan peti mati ke liang lahat dan menimbunnya dengan tanah. Sementara Pras tampak terpaku menatap satu-satunya wanita yang ada dipemakamannya. Ia tak menyangka bahwa kematiannya tak sepenuhnya sempurna, sebab Maya bersama dokter saraf menghadiri pemakamannya.

Ngablak, Juli 2023


M Arif Budiman, lahir di Pemalang, Jawa Tengah. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.

Puisi

Puisi Ludira Lazuardi

RHAPSODY OF LONGING

Kekasih,

tak pernah alpa dalam kepala

kala debar pertama

melebur bersama debur-debur

ombak di karang dan pantai

dan rayleigh biru menghambur memburai

angkasa berwarna jingga

seketika rindu tak terhingga

Lalu setelah itu

tiap kedatanganmu

adalah tantangan bagi nyaliku

mampukah aku nyalakan

rasa di kedalaman relungmu yang misteri

mimpikan cinta mengaliri vena-arteri

karena kau begitu indah

sebab kau begitu rapuh

Bila tiba waktu untuk berpisah

aku ingin berkesah

namun tak ingin buatmu resah

sungguh, pergimu

adalah perigi setiap sunyi

terasingku di sunyaruri

sepi bersepai-sepai

di antara dersik angin sepoi-sepoi

Kekasih,

seumpama kaudedah dada

geledahlah dengan seksama

kau akan menemu gundah gelebah tiada sudah

berkelindan pada asa

pada rasa

pada karsa

Kekasih,

bilamana aku bangun setiap pagi

itu untuk mencintamu sekali lagi

Jogja, 2023


REPENTANCE

Aku telah sampai di sini

di mana apa yang layak kuingat hanya sebatas senyummu yang terkembang

membawamu berlayar jauh dariku.

Tiap pagi aku bangun untuk memungut hari-hari kemarin

yang tercecer ketika kita melewati jalanan dengan riang pun amarah

lalu pulang dengan sebuket kenangan dalam genggaman

 hadiah dari semesta untukku merayakan malam dalam diam

(Empedu malam pecah, kuarkan pahit di ujung-ujung lidah)

Bunyi-bunyi sunyi mulai berani keluar dari tempat sembunyi

Ah, berisik sekali keheningan ini

Dulu bersama kita pernah mengunjungi dunia mimpi-mimpi

sengaja lupa cara bangun

menutup mata pada realita

Dulu bersama kita pernah berdiri di puncak dunia

dengan angkuh hendak melampaui yang namanya selamanya

Ketika kita tak lagi saling paham

tersesatku dalam angan sangat dalam,

ingin yang dingin aku menggigil di ujung asa

Ketika kita saling mendiamkan

diam-diam memendam dendam

Kekosongan berdesak-desak memenuhi jemala

Sungguh sesak, aku nyaris meledak

Adakah punggungmu masih menanggung

reruntuhan tahun-tahun yang kita bangun dengan tangan kita?

Karena di tiap tapak langkah kakimu menjejak jarak

 menjelma jenggala kelam

kediaman bagi sesal yang terkutuk

Aku lelah sampai di sini

di mana aku telah berhenti menghitung usia

hanya demi mendapati waktu tersia-sia

dalam penantian yang tak kenal kata usai

Katanya, kita tidak akan ada tanpa waktu

sementara definisinya masih saja menyusahkanku.

Jogja, 2023


DALAM

dalam matamu

badai abadi

dalam hatimu

luka tiada terperi

dalam ingatmu

aku mati

dalam hidupmu

aku tak lagi berarti

dalam kamusmu

tak ada kata

kembali

dalam sesalku

kamu

Jogja, 2023


LUAR ANGKASA

hampa udara

diam

melayang dalam arus abadi yang diam

sedetik adalah selamanya

selamanya yang tak berarti apa-apa

Jogja, 2023


HINGGA PENANTIAN USAI

Hingga penantian usai

Yang aku sendiri tak tahu kapan akan terjadi

Barangkali nanti kala kita telah berhenti menghitung usia

Dan mendapati waktu tersia-sia

Kau tahu aku masih akan di sini

Hingga penantian usai

Dan musim-musim kesedihan berhasil dilerai

Ketika benih-benih rindu yang ditabur

Berbuah manis nan menggiur

Kubayangkan kamu dalam dekap

Mengisi setiap gelap dengan harap

Hingga penantian usai

Dan kelopak bunga jiwa terakhir jatuh

Kau masih akan menemukanku di situ

Berlutut di sebuah batu berlumut menunggu

Hingga penantian usai

Di mana aku tak lagi mengumpat jarak yang tak sudi dilipat

Ataupun mengutuk penantian yang tak punya usai

Sehingga aku selesai.

Jogja, 2022


SOLAR PLEXUS

Pada suatu ketika

: Ganglion terinfeksi kecupan mesra

: Impulse teraktivasi kerlingan mata

Kemudian

Di kedalaman rongga gulita ini,

rahim cinta sekaligus makamnya

Antagonisme dada dan kepala tak berkesudahan

Bergumul kalut kalang kabut saling serang jatuh menjatuhkan

Ada kalanya pencipta rasa berdiri tegak di tengah hamparan

            : biarkan mawar mekar di atas akar-akar

            : biarkan burung-burung bercinta di luar sangkar

Seketika produsen logika datang membadik, harapan

tumbang tepat di ujung lantunan

tembang

            : cinta, bentangan sepi berduri

              tak mungkin mampu kauseberangi.

Dan demikianlah mereka terus bertarung

Hingga deras darah yang naik terjun mencipta halimun

Di kedalaman liang abdomen ini

Sang pencinta yang sekarat, penguasa kelam masa silam

Lunglai luruh di tubir nestapa, menatap, meratap sesaat

Perasaan dan penalaran laksana makan buah simalakama

Mana kalah mana menang

Dia tetap binasa.

Jogja, 2022


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Puisi

Puisi Diana Rustam

UBAN

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang memperingatkanku kepada layu setelah mekar

kepada padam setelah menyala

kuucapkan terima kasih kepada uban

yang mengajariku menghitung sebuah penghabisan

bahwa fajar akan menjadi senja

kulihat diriku kepada uban

aku ada, dan akan menjadi tiada


LIDAH

suatu ketika aku tiada lagi mengenal dirinya

bagai kuda yang lepas dari kekang di padang pasir gersang

yang telah merasuk ke dalam rongga-rongga tubuhnya nafsu buta

tiada timur kepada barat kepada utara kepada selatan

penjuru-penjuru tertabir badai

kemana kata-kata yang bersilaju ditambat

aku tiada lagi mengenal dirinya

lidahku yang suatu ketika memagut berbongkah-bongkah hati

dan menjadikan mereka berdarah dan mati.


MATA

maafkan aku

telah kunodai beningmu, asal mula yang sejati itu

yang ditetesi kasih ibu dan peluh di dahi ayah

hari-hariku adalah memupuk noktah hitam

dan membiarkanmu tumbuh menjadi buta kepada cahaya


TELINGA

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan engkau dimana kicau burung mendendangkan kidung pagi

dimana angin berkesiur menimpali ombak yang membelai karang ketika senja menjinggakan langit

dimana gemericik air sungai yang pecah menabrak bebatuan

dan serangga-serangga menimang malam di perut-perut dedaunan

dan bersemayamlah engkau dalam ketenangan

dapatkah aku mengulang, duhai?

akan kuletakkan dirimu di mana seruan Tuhan digaungkan

dan teguhlah engkau di atas kebenaran


KAKI

sepasang kaki yang diam

gentar kepada onak

gamang memandang jalan-jalan bercabang

Menimbang- nimbang pada neraca hati yang bimbang

sepasang kaki yang diam

menunggu sampai waktu menjadi usang

lapuk kemudian roboh sebelum berjuang

alangkah menyedihkan dan pengecutnya


Diana Rustam. menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Cerpen

Spelunkers

Cerpen Ludira Lazuardi

You will find what you seek. Kamu akan menemukan apa yang kamu cari.” Aku ingat betul kata-kata ayahku saat aku kecil. Beliau adalah seorang speleolog. Meneliti gua-gua di seluruh dunia adalah pekerjaannya. Seumur hidup ayah dihabiskan untuk menyusuri gua, terlebih yang belum pernah terjamah manusia.

“Apa yang ayah cari di gua?” tanyaku suatu waktu.

“Banyak hal, Sayang. Sisa-sisa peradaban, dunia baru, dan terutama, keajaiban.”

“Apakah Ayah percaya keajaiban?”

“Tentu saja. Keajaiban akan membuatmu mengerti betapa berharganya hidup ini.”

Barangkali kegemaranku menyusuri gua karena sedikit banyak aku ingin menjadi seperti beliau. Aku juga ingin menemukan keajaiban. Itu satu alasan. Aku sangat merindukan ayah, mungkin itu alasan paling kuat kenapa aku rela tersesat berlama-lama di dalam gua-gua penuh jalan rahasia. Dengan menyusuri gua, aku berharap bisa mengerti kenapa ayah sampai lebih memilih pergi daripada menemani aku tumbuh.

Ayah menghilang sepuluh tahun yang lalu saat meneliti salah satu gua yang baru ditemukan di China. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan. You’ll find what you seek. Jadi sekarang aku yang akan mencari ayah.

Aku berada di Guangxi dengan beberapa teman sesama spelunkers. Kami mulai dari gua terakhir yang ayah datangi. Pintu gua itu berupa lubang berdiameter sekitar setengah meter. Kami terpaksa masuk satu-satu menggunakan tali. Siapa sangka, setelah kami turun sekitar tiga puluh meter, jalan sempit gua berubah menjadi sangat luas.

Ada sekitar lima pintu lain yang bisa dilewati manusia. Kami putuskan untuk membagi tim. Aku memilih sendiri sementara tim lain terdiri dari 3 orang. Mereka adalah teman-teman yang sudah sering menyusuri gua bersamaku. Jadi mereka sudah hafal kebiasaanku, juga sudah tahu kemampuanku. Jadi mereka tidak menolak saat aku ingin sendiri dengan hak istimewa memilih pintu mana yang akan kutelusuri. Kupejamkan mata sekejap dan kudengarkan suara angin yang berembus dari tiap pintu. Suatu nyanyian memanggilku dari arah lubang gua paling sempit. “Aku ambil yang ini,” ucapku sambil menunjuk lubang paling kiri.

“Oke, kita bertemu di sini maksimal tiga jam lagi. Setuju?”

“Sip, kita mulai. Jangan lupa hidupkan alat komunikasi dan perekamnya.”

Gua ini tipikal karst yang mirip dengan gua-gua di Indonesia. Pintu sempit yang kulewati hanya sekitar dua meter saja, selebihnya gua makin melebar dan tinggi. Kususuri tiap dinding, berharap menemukan lukisan purba, tetapi aku harus kecewa karena dindingnya bersih dan basah.

“Kay, gimana keadaan di sana? Ganti.” Protofonku berbunyi.

“Belum ada yang menarik. Ganti,” jawabku.

Aku sudah berada dalam gua itu sendirian sekitar satu jam. Kubayangkan ayahku sedang bekerja mencatat batuan dan keadaan gua. Beliau terlihat sangat antusias dan bahagia. Aku terus bergerak maju dan hampir putus asa sampai kurasakan embusan angin dari arah depan. Makin dekat, gua makin terang. Aku matikan senter yang kubawa dan mempercepat langkah.

Betapa terpukaunya aku melihat pemandangan di hadapanku. Sebuah hutan purba dengan berbagai tumbuhan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tanaman dengan aneka macam bentuk bunga bercahaya, pohon-pohon kemerahan dengan daun biru tua, dan hamparan rumput yang berwarna merah terang.

“Bagaimana tanaman-tanaman ini bisa tumbuh di sini?” Aku mendongak mencari sumber cahaya selain dari tumbuhan yang bersinar. Barangkali ada lubang tempat kemungkinan matahari masuk. Yang kutemukan lebih menakjubkan dari yang ada di dasar. Langit-langit gua itu tinggi dan penuh cahaya gemerlap seperti bintang. Awalnya kupikir itu sejenis cacing Arachnocampa Luminosa. Namun, cacing yang menghuni Glowworm Cave di Selandia Baru itu memancarkan cahaya biru temaram. Sedangkan langit-langit gua ini lebih berwarna kemerahan dan menyilaukan.

Guys, kurasa aku menemukan sesuatu. Ganti.” Aku mendekatkan mulut ke protofon, tidak sabar membagikan tempat istimewa ini dengan teman-temanku. Sambil menunggu jawaban, aku mengitari tempat itu lagi dan tergoda untuk menyentuh salah satu bunga paling cantik di antara lainnya. Warnanya biru terang, mahkotanya lebih rumit dari bunga lain, dan aromanya lembut memabukkan.

“Kay, kami juga menemukan sesuatu.” Kurasa itu suara Yuda. Dia terdengar lesu. “Sepertinya, kami menemukan yang selama ini kamu cari. Maaf,” lanjutnya.

Tanpa Yuda menerangkan lebih lanjut, aku tahu yang mereka temukan, ayahku. “Seperti apa keadaannya?”

“Yah, sepuluh tahun berlalu, Kay. Kami membuka tasnya dan menemukan foto dan namamu. Jadi kurasa sudah seratus persen.”

“Oke,” jawabku singkat, bingung harus bersikap bagaimana. Aku tahu tidak seharusnya berharap beliau masih hidup. Akan tetapi, aku masih yakin bisa menemukannya, dan harus siap seperti apa pun keadaannya. Nyatanya kini, saat tahu beliau benar-benar sudah meninggal, aku masih saja merasa patah hati. Yah, paling tidak aku telah menemukan apa yang ingin aku temukan. Ayahku, bersama keajaiban yang beliau ceritakan.

“Tapi ada yang aneh, Kay. Ada tanaman bersinar kemerahan tumbuh dalam apa yang tersisa dari jasadnya. Seperti, bagaimana ya menjelaskannya.” Suara Yuda terjeda, seolah dia sedang berusaha menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang dilihatnya. “Kuharap perkiraanku salah. Sebelum menjadi tulang, tanaman ini seperti memakan beliau.”

“Itu tidak mungkin. Aku juga menemukan banyak sekali tanaman bersinar di sini, Yud. Indah sekali.”

“Untuk berjaga-jaga, sebaiknya kamu jangan menyentuh tanaman itu, Kay. Siapa tahu beracun. Kita laporkan dulu hasil temuan kita.” Seorang teman lain menimpali.

“Thomas ada benarnya, Kay,” ucap Yuda. “Kay, halo, Kay, kamu masih di sana? Kay?” Gelombang kekhawatiran terdengar jelas dari suara teman-teman.

Aku ingin menjawab mereka, tetapi tidak satu pun kata mampu keluar dari mulutku. Aku merasa sangat pusing, dunia di sekitarku berputar-putar dan pandanganku makin kabur. Rasanya aku melihat bunga yang kusentuh tadi tumbuh makin tinggi dan melilitku sebelum akhirnya gelap total dan aku tidak bisa merasakan apa pun.


Ludira Lazuardi, perempuan yang memendam bara di hatinya.

Cerpen

Percakapan di Meja Makan dalam Kepalaku

Cerpen Eko Setyawan

Istriku ingin segera memiliki rumah baru karena merasa hidup satu atap dengan keluargaku seperti halnya ikan yang hidup di akuarium. Ia begitu gerah dengan keadaan karena tidak bisa leluasa melakukan hobi dan hal-hal yang disukainya. Sebenarnya, hobinya sederhana, yakni menonton film. Tapi sering kali orang rumah seolah tak suka pada dirinya dan serasa ingin menunjukkan apa yang dilakukannya adalah salah satu bentuk kemalasan. Hal itu membuat istriku tersinggung. Ketika di kamar, ia menyampaikan padaku bahwa dirinya ingin segera angkat kaki dari sini.

Pada akhirnya hal ini harus kulakukan untuk menuntaskan semua masalah yang sedang kuhadapi. Apa yang dikeluhkan istriku harus segera tuntas secepatnya agar tidak menjadi masalah yang meluas. Terlebih, karena posisi istriku yang sudah bekerja keras sepanjang hari demi membantuku mendapat uang.  Karena gaji dari mengajar menurut kami belum cukup memenuhi kebutuhan, cara inilah yang kugunakan mendamaikan keadaan dan meredam segala persoalan yang ada.

Aku menggelar meja makan dan kusiapkan segala keperluan yang nantinya kugunakan menyelesaikan masalah dengan cara menjamu semua orang yang terlibat dalam masalahku. Karena menurutku, masalah dapat dibicarakan dan diselesaikan dengan suasana yang tenang dan khusyuk, salah satunya dengan makan bersama demi menguraikan persoalan satu demi satu.

Meja makan yang kusediakan cukup sederhana. Hanya berbentuk persegi panjang yang tak seberapa lebar, kualasi dengan taplak renda motif bunga. Ditambah empat kursi mengelilinginya. Dan yang paling utama yakni piring, sendok, dan peralatan makan yang sekiranya diperlukan. Kulanjutkan dengan memasak dan kusesuaikan dengan makanan kesukaan mereka. Aku tahu itu karena aku akrab dengan orang-orang yang akan kuhadapi.

Cara ini menurutku akan manjur menuntaskan masalah yang ada. Sebelumnya, istriku mengatakan ia sudah melakukan banyak hal, baik di rumah maupun saat pergi bekerja, tetapi, ketika ia istirahat dengan menonton film, ibuku meliriknya dengan tatapan tak suka. Karena hal itu, istriku ingin kami memiliki rumah sendiri. Begitulah cerita yang ia sampaikan padaku dan mau tidak mau aku berada di posisi saat ini.

Sebenarnya, untuk meredam amarah dan kegelisahan istriku cukup mudah. Aku hanya perlu berbicara dengannya. Maka aku menggorengkan ia ikan tongkol disertai dengan sambal. Aku tahu semua makanan yang disukainya. Dan di antara yang paling disukai adalah ikan tongkol goreng dengan sambal yang kubuat sama seperti waktu kami awal-awal menikah. Lantas ia ketagihan. Sambal yang kubuat cukup sederhana yakni dengan menggoreng cabai, bawang merah dan putih, lalu dibumbui dengan garam, micin, gula, dan terasi, lantas disertai dengan potongan kulit jeruk purut. Bau dari kulit jeruk purut katanya sangat sedap dan membangkitkan selera makannya. Sebagai tambahan, aku menggoreng kol dan juga memotong mentimun tanpa dikupas.

Dengan makanan yang kuhidangkan, ia akan lahap, bahkan menambah makanannya dan memenuhi lagi piringnya. Mungkin tidak terdengar etis atau di luar kebiasaan perempuan di luar sana, tetapi aku menyaksikan itu semua dan diam-diam ikut menikmati setiap suapnya. Karena sebagai bentuk penyelesaian masalah yang kuhadapi saat ini, ketika ia makan, aku menyela kecil untuk membicarakan masalah yang tak mengenakkan hatinya.

Aku mengatakan pada istriku memang ibu kadang seperti itu. Mungkin saja karena ibu terlampau lelah mengurus bapak yang sakit. Bisa saja memang istriku yang merasa tersindir. Serba risih karena ibu selalu melihat ke arahnya ketika ia sedang istirahat. Maka aku menyarakan padanya agar tidak perlu diambil hati. Aku mengatakan itu sembari menyuapkan makanan ke mulutku.

Istriku memandang sejenak, lantas kembali melihat piringnya dan menjumput nasi serta pelengkapnya. Itu kebiasaannya ketika makan makanan yang kumasak ini. Ia makan dengan tangannya.

Ia menyahut perkataanku. Istriku mengatakan kalau apa yang dilakukan ibu bukan basa-basi semata dengan melihatku tapi sudah dengan tatapan tidak suka. Dari raut wajah istriku menunjukkan kekecewaan dan amarah yang coba diredam. Matanya menatapku tajam. Tangannya berhenti menyuap makanan. Hanya memainkan makanan saja.

Aku coba memahami apa yang dirasakan istriku. Tapi menurutku ia hanya sungkan saja pada ibu. Dan tentu kurasa ibu tahu kalau istriku sudah bekerja keras dari pagi hingga sore. Menurutku, itu bukan masalah yang perlu dipikirkan. Aku mencoba menenangkan suasana.

Tak lama setelahnya, istriku menyampaikan keinginannya memiliki rumah sendiri untuk kami berdua. Ia terus-terusan kepikiran akan kejadian yang menimpanya. Katanya, kami sudah enam tahun menikah,  sudah selayaknya tidak lagi menumpang di sini. Ibu juga sering menyinggung soal anak pada istriku. Karena kami belum memiliki anak sampai saat ini. Saat mengatakan itu, matanya tajam seperti pisau yang siap menghunjamku.

Aku menatapnya dalam. Dari raut wajahnya menunjukkan keinginan yang dalam. Hatiku sedikit getir. Tapi kenyataannya aku belum bisa memenuhi keinginannya. Tapi dalam hati kecilku merasa sejujurnya apa yang ia katakan benar. Aku menyetujui itu dalam hati, namun kenyataan berkata lain. Ibuku tidak mau aku pergi dari rumah ini dan meninggalkannya karena aku anak satu-satunya. Terlebih, yang membantu mengurus bapak dan merawat rumah tidak ada. Jadi kuputuskan meyakinkan istriku.

Tentu apa yang dikatakan istriku membuat dilema perasaan. Itu pilihan sulit karena keadaan tidak memungkinkan. Jika kami meninggalkan rumah ini, bagaimana dengan bapak dan ibu. Karena di rumah ini bukan semata tinggal bersama, tetapi ada perkerjaan dan tugas yang harus dilakukan. Aku mencoba meyakinkan istriku kembali.

Istriku menimpali dengan gusar, keinginannya meninggalkan rumah ini terlampau besar. Namun dirinya juga memberiku kesempatan berbicara pada ibu agar aku memberi pengertian pada ibu mengenai situasi kami. Ia sedikit meredam emosinya. Tapi dari raut wajahnya terlihat gamang. Aku menyunggingkan senyum ke arahnya. Ia melihatku dengan tatapan yang tak biasa. Aku mencoba menafsir maksudnya, tapi gagal.

Kukatakan pada istriku tentang rencana berbicara dengan ibu. Tapi apakah ibu menerima apa yang istriku keluhkan dan harapkan menjadi persoalan lain. Semua kembali pada ibu. Itulah kata terakhirku untuk menutup pembicaraan di meja makan, lantas bergegas membereskan meja makan.

Dengan apa yang telah dikatakan dan diinginkan istriku, kuberanikan diri mengatakan semua pada ibu. Di hari berikutnya, kusiapkan meja makan yang sama dengan sebelumnya. Kumasak nasi dan urap untuk ibu, juga kugorengkan ikan asin serta sambal petai kesukaannya. Tak beda dengan istriku, ibu lahap memakan apa yang telah kubuatkan untuknya. Tak beda dengan istriku, ibu juga lebih memilih makan dengan tangan secara langsung, lebih nikmat katanya.

Tak berselang lama, di tengah lahapnya ibu, aku mulai menyela. Jauh sebelum ini, sebenarnya ibuku menatapku curiga karena kelakuanku kali ini. Tak biasanya aku memasak untuknya. Hanya sesekali saja. Biasanya ketika ibu sedang sakit atau malas memasak. Kukatakan apa perluku sembari melahap makanan yang sebenarnya seleranya tak jauh beda dengan istriku.

Kukatakan mengenai keluhan istriku atas sikap ibu. Tak lama setelahnya, mata ibu memicing dan menatapku tajam seolah hendak menerkamku. Mata teduh yang biasanya aku lihat, kali ini benar-benar berganti dengan tatapan yang menakutkan. Baru kali ini aku menatap tatapan ibu semenakutkan ini. Dadaku bergetar. Perasaanku terasa getir.

Ibu menimpali perkataanku dengan suara yang keras. Emosinya meluap. Ibu mengatakan bahwa sudah enam tahun aku menikah dengannya dan sampai sekarang tidak punya anak. Ibu khawatir terjadi sesuatu dan jika apa yang ditakutkan ibu benar, maka masalah lebih besar akan terjadi. Ibu menekankan bahwa dirinya tidak akan diam saja dengan persoalan yang ada di hadapannya. Istri anaknya tidak bisa memiliki keturunan. Lebih dari itu, kata ibu, akhir-akhir ini istriku terlalu bermalas-malasan. Jadi apa yang dilakukan ibu sudah benar. Ibu berbicara dengan sangat gamblang dan lantang.

Makanan yang ada di hadapanku terasa hambar. Begitu pun ibu, ia tak lagi menggubris makanan yang ada di piringnya. Dan yang mengagetkanku ketika ibu tiba-tiba mengatakan perihal perceraian. Persoalan anak adalah persoalan genting, karena keturunan menjadi segalanya bagi ibu.

Ibu mengajukan pilihan padaku. Aku memilih menceraikan istriku atau kami harus meninggalkan rumah ini. Pilihan itu membuatku tercengang. Seperti kilatan cahaya petir yang menyambar tiba-tiba. Aku bingung dengan pertanyaan ibu, juga dengan apa yang harus kukatakan pada istriku. Aku bingung untuk mengatasi masalah yang kuhadapi. Pikiranku kacau sejadi-jadinya.

Berkelindan dengan hal itu, aku mengingat satu hal yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya. Sebenarnya, aku telah melakukan tes kesuburan ke dokter secara diam-diam. Dari hasil lab menunjukkan bahwa kesuburanku tidak normal dan tidak bisa menghasilkan keturunan. Tapi mulutku terasa berat ketika akan menyampaikan pada ibu. Apalagi kepada istriku. Aku takut menyakiti hati keduanya. Untuk pindah dari rumah ini terasa berat karena ada tanggung jawab yang tersemat di pundakku. Aku harus menjaga ibu dan bapak. Dan yang lebih penting dari itu, tabungan kami tak cukup untuk membeli rumah seperti yang diangankan istriku.

Kenyataannya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ditinggal istriku yang pergi dari rumah ini karena tak nyaman dengan tuntutan ibu. Sementara aku lebih memilih menemani bapak dan ibu di sini. Akhirnya, apa yang kubayangkan mengenai percakapan di meja makan dalam kepalaku berlalu begitu saja. Persoalan yang ada hanya berputar di angan-anganku, bahkan tak pernah bisa kuselesaikan. Aku tak berani mengatakan apa pun pada istriku maupun ibu. Memang meja makan ini tak lebih hanya angan-angan semata.


Eko Setyawan, lahir di Karanganyar, 22 September. Dosen di Universitas Dehasen Bengkulu. Alumni Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Buku yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Harusnya, Tak Ada yang Boleh Bersedih di Antara Kita (2020), Mengunjungi Janabijana (2020), Peristiwa yang Kami Sepakati (2022), & Manten (2022). Buku Mengunjungi Janabijana meraih Penghargaan Prasidatama 2021 Balai Bahasa Jawa Tengah kategori Buku Puisi Terbaik. Memperoleh penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta 2018, serta memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Karya-karyanya termuat di media massa. Instagram: @setyawan721, surat-menyurat: [email protected].

Puisi

Puisi Rizka Umami

Sejak Biyung Pergi

Sajak-sajak nyaring itu berhenti

Kelopak mata sembab sudah seperti kemarau di khatulistiwa

Mimpi-mimpi sebatas lewat di awang-awang

dan semua lagu jadi alpa tak bermakna

Kau, tanggal

Sejak biyung pergi

Kau tak lagi punya hasrat berpuisi

Semua kata-kata jadi kaku dan asing

Musikalisasi dan instrumen-instrumen yang memelintir keningmu, ikut kering

Jalan Panjang dan juang yang kau elukan pupus

Tersisa luput yang belum sempat kau tebus

Begini nasib mendewakan manusia

yang hanya berjarak sepenggal napas dari mautnya

Ketika ia kembali

Kau jatuh sendiri.

Pesarean, Oktober 2023


Kepada Sang Maut

Sebuah motor bebek melesat pesat ke depan

Membawa tubuh lelaki tanpa tuan yang bersiap lepas

Ia hantam tabebuya yang baru mekar di pinggir jalan beraspal

Dengan lantam memecah batok kepala

            bersamanya aroma wine bercampur peluh menyeruak beradu anyir

Kepada maut,

Betapa kerdil nyali seorang manusia yang melihat kematian tepat di hadapannya

Betapa sukar memelintir ingatan untuk pura-pura lupa

bahwa tiap-tiap manusia bakal punya cerita perihal kematian yang menggelikan

Aku pernah bermimpi

Di sisa napas penghabisan seonggok tubuh disepuh terik dan lava pijar yang lembut

yang hangat memeluk jasad sampai sukma

Kepada maut yang tak berjarak, yang leluasa mematahkan arteri – vena

Bisakah manusia bersiasat sebelum kematiannya?

Menemukenali tiap-tiap wujud Tuhan pada sepersekian detik terakhirnya

perkara hitam atau putih dan abu-abu yang ranum itu

Kepada maut,

Bagaimana kematianku kelak?

Tulungagung, Oktober 2023


Buat emPuan

Seorang perempuan duduk di satu batang pohon besar di tepi pantai sendirian

Menyulut satu dua batang kretek mendongak ke atas mengingat-ingat

Petaka hidup menjadi perempuan

Haruskah ombak membawa mimpi-mimpinya ke tengah laut lalu tenggelam sampai palung?

Mimpi-mimpi yang lebih banyak pupus dari tercapai yang hilang sebab ia perempuan

Haruskah ia mengubur tubuhnya pada pasir hitam biar tercerabut segala kalut hidup yang ia tahan?

Sebab jadi perempuan harus dan tak boleh sekena hati mencapai tujuan

Biar biarlah kau sekarat di tegur ombak

Biar dirampas dipapas seperti bukit-bukit yang bakal koyak hilang punuknya

Bakal hilang daun-daun rindangnya bakal jadi aspal pekat jalang

Seorang perempuan terperanjat

Bangkit berdiri dari lamunan panjang mencari-cari alasan

Kenapa Tuhan masih giat memberi umur panjang?

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Surat Buat Tole

Seorang ibu sedang menggendong putranya

Duduk menunggu pembeli di pasar subuh

Menuju terbit matahari

Ia biarkan bocahnya menetek sampai pulas lagi

Ia bertanya dalam batin

Sudah sampai di mana kita, Le?

Aku yakin kelak kau dewasa tak sudi hidup seperti aku

Tapi jangan menghukumku

Ini pilihanku jadi mandiri sebab bapakmu tak mau ambil bagian menghidupi

Ini pilihanku sebab aku tahu masih mampu

Jika suatu hari kau temui tubuhku lebih lusuh, Le percayalah

Aku masih teguh pendirian pilihanku sebagai ibumu

Sebab hidup berkalang lelaki bukan pilihanku

Sebab menghamba harusnya bukan pada sesama manusia.

Dayang Seni, 13 Maret 2023


Ritual Menuju Akhir

Suara tokek bersahutan dari kamar 04 sampai 08

Di balik pintu-pintu yang terkunci dari dalam

Sedang sebuah ritual dijalankan

Mereka saling mendebat warna baju

Yang mencolok menarik perhatian sang ratu

Lalu tahun-tahun melesat jauh

Daun-daun beringin makin lebat disusul suhu ruangan yang naik

Membuat semua jerih payahmu koyak

Ada yang tak segan datang

Dari ujung imajimu

Menebas mencuri napas terakhir.

17 Januari 2023


Perihal Batas

matamu menatap nanar ke perempuan di sebelahmu

ia lebih keriput setengah renta

kaki kirinya sudah mulai penuh borok

kau kira separuh usianya digerogoti Diabetes

perkara ia telah sampai limit

kau menyaksi kematiannya lamat-lamat

kau bergegas lari menyeru ke toa ada yang mati – ada yang mati

lalu ia minta kau jangan kembali

– sedang kau percaya ia datang serupa bekal buat diri yang papa untuk waspada

Tapi kepada siapa kau kembali?

Tulungagung, 02 Juni 2023



Rizka Umami, perempuan kelahiran Tulungagung yang masih menyenangi sastra, isu perempuan dan lingkungan.

Puisi

Puisi Lailah Nurdiana

Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28

:matroni moserang

Setelah menyudahi

Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing

Tak ada pintu lain

Selain semua yang sudah tertutup

Dengan knop yang terkatup

Perjumpaan rasa dan samudera

Berada di titik paling terang

Antara pertemuan gelombang dan puisi

Kuharap tak ada pintu lain

Di mana-mana, kecuali pintu kembali

Ke puisi dan alam imaji

: pertemuan kembali, tentang pisah

  Yang secara perlahan terbaca

Pangabasen, 2023


Kata Si Penyair

/I/ lantas apa selain kata

    Yang akan menciptakan dingin

    Menjadi hangat dalam tulisan

/II/ sedangkan kalimat

     Dapat Menafkahi hidup

     Di saat surat-surat dari pejabat

     Tak ada yang menyokong tenagaku

/III/ haruskah bait ini disia-siakan

       Untuk semua andai-andai

        tanpa ada bait yang terlahir

      Dari metafora mimpi malam ini

       Malam sebelumnya dan selanjutnya

    :Maka si penyair

     Berada pada pilihan

    Yang tak pernah ada dunianya

Pamgabasen 2023


Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong

Di tengah penyair berkepala puisi

Kita mendiamkan diri

Dengan tubuh yang hilang kata

Hanya mengunci tatap yang menggigil

Di lautan yang sama-sama pasang

Di mata kita.

Tanpa mereka tahu,

Kita dalah perjanjian yang ingkar

Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal

Emtah kita sudah sama-sama melupakan

Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan

(dalam batin kita yang masih sama lukanya)

Dan di bagian mana kita bahagia?

: ya! Saat dunia masih setia

  Dengan kepalanya yang sepi

20 februari 2023


Kembali yang Hampir Sama

Dari sebuah jamuan tak diundang

Kita berada di atas alas hitam

Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan

Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata

Kita sama-sama menyepikan ramai

Merangkai ucapan, hingga mengambang

Menjadi awan yang menggumpal  di

Kepala kita masing-masing

Masihkah kau memiliki peran yang sama

Di dunia baruku?

21 februari 2023


Kepada yang Khianat

Kepada lambungmu yang menyimpanku

Menjadi problematik hidup yang tandus

Aku menjadi liar dalam laut

Yang segalanya tawar,

(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)

Menjelma bayang di ruang kosong

Membawa matamu yang tanpa tubuh

Dari balik jendela yang terkatup

Oh, pemilik rupa-rupa

Dan kaubiarakan segalanya hancur

Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.

Jika diriku api di dadamu,

Maka jadikan aku kobar paling bara,

Yang setelah padam

Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali

Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.

Ruang Tengah, 2023


Selepas Menidurkanmu

Setelah kususun bantal-bantal

Di kepalaku yang kosong

Kutimang kau di depan wajahku yang pucat

Sesekali termenung,

Dengan bibirku yang gemetar.

Harapan semua tanggal

Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.

Baju-baju yang kupakai

Sudah serupa daun yang lusuh

Di tanah yang tanpa wajah

Hai malaikat kecilku

Kulepas tubuhmu Bersama maut

Dengan Nasib yang abadi

:dan selepas menidurkanmu

Tak ayal mimpiku kambuh

Tentang kau yang pergi

Saat jam berkelana

Tak sesuai keinginanannya sendiri.

Gapura, 2023


Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram:  @_xdynaaa

Cerpen

Kamar Tanpa Jendela

Cerpen Diana Rustam

Di balik pintu dan jendela yang terkunci, segala sesuatu berbahaya. Mata seorang gadis menatap pintu dan jendela, hanya menatap saja.

***

Ketika Rosane membuka mata, di hadapannya, di atas meja rias, seekor kucing berbulu hitam sedang duduk dengan sepasang mata bulat hijau yang seolah sedang mengawasinya. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana kucing itu datang. Mustahil  kucing itu bisa menyelinap masuk sebab pintu dan jendela kamarnya selalu terkunci rapat. Pintu kamarnya hanya dibuka oleh ibunya di waktu-waktu tertentu saja: saat mengantar sarapan pagi, makan siang, makan malam, dan setiap sore ketika pembantu kepercayaan ibunya harus membersihkan kamarnya.

Mata biru gadis itu bertemu pandang dengan mata hijau si Kucing Hitam. Kucing itu tersenyum lebar, menampakkan gigi-gigi taringnya. Seumur hidup, itulah pertama kali ia melihat seekor kucing tersenyum. Senyum itu tidak membuat si Kucing terlihat lucu atau menggemaskan, sebaliknya ia tampak menyeramkan.

Kucing itu melompat dari meja. Berjalan pelan-pelan mendekati ranjang di mana gadis itu berbaring. Ranjangnya terbuat dari kayu yang dipernis, mengilap dan ditudungi kelambu putih. Kasur tempat gadis itu berbaring dilapisi seprai sutera yang sama putih dengan kelambunya. Setelah jaraknya cukup dekat, kucing itu duduk di lantai. “Hei, Rosane, bangun dari sana.” Kucing itu bicara padanya.

Gadis itu tersentak dan terpekik kecil, “Jangan mendekat.” Ia menegakkan tubuhnya kemudian menyurutkan punggung ke sandaran ranjang.

Kucing hitam maju selangkah. “Tidak ada yang perlu ditakutkan.”

Rosane tidak langsung membalas ucapan kucing hitam, hanya memandanginya dengan pikiran yang dijalari rasa takut.

Kucing hitam menjilati kakinya sebentar, kemudian punggungnya, kemudian ekornya. Usai dari ritual itu, ia mengangkat wajah, mata hijaunya berkedip. “Panggil saja aku Tuan Kacang Polong.”

“Ta-tapi, dari mana kaudatang?”

“Aku tak tahu. Tiba-tiba saja aku ada di sini. Sepertinya kaulah yang menghendaki aku ada di sini. Kau kesepian, bukan? Setiap hari kau hanya melihat tembok dan dinding yang putih ini, hidup yang membosankan. Kukira itulah alasannya.”

Kucing hitam itu naik ke atas ranjang. Ia melepaskan sepasang sarung tangan yang membungkus tangan Rosane dan melucuti masker yang menutupi mulut gadis itu. Tetapi Rosane berusaha mempertahankan sarung tangan dan maskernya. “Jangan menyentuhku! Kau ingin membuatku celaka?”

“Ayo beranjak dari kasur itu dan keluar dari kamar ini.”

“Tidak bisa! Itu akan membuatku sakit!”

“Omong kosong! Kau tidak boleh berbaring di sini terus-menerus dan hanya mengitari kamar ini saja.”

Rosane menggeleng. “Cahaya, udara, air dan segala sesuatu yang ada di luar ruangan ini berbahaya.”

“Seperti itu yang ibumu katakan padamu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu seperti ini selamanya.”

Kucing hitam terus bicara dan mendesak Rosane dengan tatapan yang tajam, sehingga gadis itu menutup telinga dan matanya. Ia berusaha mengabaikan ucapan-ucapan kucing hitam. Tetapi, kucing hitam itu tidak berhenti sampai suara langkah kaki seseorang terdengar dari luar kamar Rosane, dan kucing hitam itu tiba-tiba mengilang.

Kucing itu sudah duduk di meja riasnya setiap pagi, ketika ia membuka mata. Seolah-olah ia menghadapi hari yang sama setiap bangun pagi. Dan semakin ia berusaha mengabaikan keberadaannya, dari hari ke hari ucapan kucing hitam itu semakin gencar di telinganya dan menancap dalam pikirannya. Rosane merasa lelah, dan kemudian tidak bisa lagi menolak ucapan kucing hitam itu. Lantas pada sebuah pagi ketika matahari telah terbit, gadis itu menyerah dan menuruti ucapan kucing hitam. Rosane bangkit, menanggalkan kaos tangan dan masker yang menutup separuh wajahnya.

Mengikuti langkah kucing hitam, Rosane berdiri di depan jendela kamarnya yang tertutup tirai tebal berwarna gelap, sepasang jendela besar di bagian timur kamar itu. Jendela yang selama ini hanya berani dipandanginya saja dari tempat tidur.

“Kau butuh udara segar. Bukalah jendelanya lebar-lebar,” ujar kucing hitam.

Gadis itu ragu-ragu, ada raut kecemasan di wajahnya. Ia memandang kucing hitam untuk menyiratkan bahwa dirinya tidak yakin akan membuka jendela itu. Kucing hitam mendesak dengan suara tegas, “Apa yang kautunggu, Rosane!”

Setelah berdiri beberapa jenak di depan jendela, akhirnya Rosane membuka daun jendela yang bertahun-tahun terkunci. Sinar matahari langsung menabrak wajahnya, mata Rosane seketika silau, seolah sinar matahari menusuk kedua bola mata itu. Kaki Rosane langsung surut selangkah ke belakang, badannya limbung, dan sigap menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangan. Rosane gemetar karena merasa takut.

“Jangan takut, matahari tidak akan melukaimu. Lepaskan tanganmu dan pandanglah matahari itu. Ulurkanlah tanganmu padanya.”

“Itu berbahaya, Tuan Kacang Polong.”

“Bahaya hanya ada di kepalamu saja.”

Meskipun enggan karena dibebani perasaan cemas, Rosane akhirnya menjulurkan tangan ke luar jendela. Gadis itu mengembangkan telapak tangan seperti hendak menadah sinar matahari. Perlahan-lahan, Rosane merasakan hangat sinar matahari pagi menjalari kulitnya. Kulitnya yang pucat menjadi sedikit merona. Rosane membalikkan telapak tangannya, mempersilakan hangat matahari menjilati punggung tangan itu.

“Kau akan terbiasa. Sekarang julurkan kepalamu keluar jendela, hirup udara dalam-dalam, Rosane.”

“Tapi….”

“Udara dari luar tidak akan membunuhmu.”

“Tuan Kacang Polong, bagaimana kalau aku sesak?”

“Itu tidak akan terjadi. Percaya padaku.” Kucing hitam melompat naik ke bingkai jendela, kemudian duduk menghadap keluar. Kucing itu membusungkan dada, menghirup udara banyak-banyak ke paru-paru, kemudian mengembuskannya pelan-pelan sambil mengibas-ngibaskan ekornya.

“Lakukan sekarang. Bukankah matahari yang kautakuti itu tidak membakarmu?”

Mula-mula gadis itu ragu, ia berdiri bagaikan patung dalam waktu yang cukup lama. Kemudian angin yang berembus dari luar menerpa wajahnya, dan menggoyangkan anak rambutnya yang keemasan. Rautnya yang semula tegang, berangsur lembut. Perlahan ia melongok keluar, paru-parunya mengembang. Bersama udara yang masuk ke rongga hidungnya, datang pula aroma yang segar.

“Mawar,” Rosane menggumam.

“Ya, itu mawar. Lihat ke sana, mawar-mawar sedang mekar. Sudah berapa lama, Rosane?”

“Kupikir sejak usiaku sepuluh tahun, Tuan Kacang Polong.”

“Sudah enam tahun. Kebun mawar itu tidak berubah, ia dirawat dengan baik. Sedangkan kau, tumbuh di kamar ini sendiri dalam kesepian.”

“Aku tak bisa dibandingkan dengan mawar itu.”

“Ibumu sudah meracuni pikiranmu. Dia mengurungmu di kamar yang terpencil ini, di lantai tiga yang tidak berpenghuni, karena dia takut terhadap sesuatu yang ada dalam pikirannya sendiri.”

Sayup-sayup suara tapak sepatu yang mengetuk lantai terdengar dari luar kamar, seketika percakapan kucing hitam dan Rosane terhenti, mata mereka saling melempar pandang. Kucing hitam melompat turun. Rosane bersegera menutup jendela dan merapikan tirai.

Lekas-lekas Rosane mengenakan sarung tangan dan maskernya, kemudian berbaring seperti sejak sebelum ia beranjak dari ranjang. Sementara kucing hitam sudah hilang dari pandangannya, entah kemana. “Tuan Kacang Polong!” Rosane memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari kucing hitam.

Seorang perempuan paruh baya masuk setelah mengetuk pintu. Perempuan itu, Nyonya Julia, ibu dari Rosane. Nyonya Julia mengenakan gaun hitam dan rambutnya digulung rapi. Ia datang dengan sebuah nampan di tangannya, berisi roti yang sudah diolesi selai dan segelas susu.

“Rosane, waktunya sarapan pagi.”

Nyonya Julia memiliki wajah yang kecil. Air wajahnya tampak selalu tegang, seolah-olah di kepalanya ada banyak hal yang ia pikirkan. Ia berbicara dengan cepat, seakan-seakan ia tidak punya banyak waktu untuk bicara. Dengan pembawaanya yang seperti itu, ia terlihat jauh lebih tua dari usia yang sebenarnya.

“Habiskan sarapanmu, setelah itu minum vitaminnya.”

Rosane menurunkan masker dan mulai menyantap sarapannya di tempat tidur. Sementara Nyonya Julia, menyiapkan pakaian baru, masker baru dan sarung tangan baru untuk dipakai oleh Rosane setelah mandi pagi. Perlengkapan Rosane telah dipastikan dalam keadaan steril oleh Nyonya Julia.

Setelah semua ritual yang monoton dan membosankan selama bertahun-tahun itu, Rosane kembali ditinggalkan sendirian. Sebelum pergi, Nyonya Julia berpesan, pesan yang diucapkan setiap hari, yang pesan itu diulanginya sampai lebih dari tiga kali. “Jangan pernah mendekati jendela, Rosane. Semua yang ada di luar kamar ini berbahaya.” Ketika bicara, Nyonya Julia mendekatkan wajahnya yang tegang pada Rosane. Kedua tangannya mencengkeram bahu gadis itu. Dan dengan nada yang ditekan sedemikian rupa, ia berkata, “Percayalah pada ibu, dengan penjagaan ibu, kau akan selamat dari semua bahaya.”

Kucing hitam kembali datang ketika Nyonya Julia sudah pergi. “Ibumu sudah gila. Setelah kakakmu meninggal enam tahun lalu, sikapnya semakin buruk. Tidakkah kau merasakannya, Rosane?”

“Mungkin ibuku benar. Kakakku meninggal karena terpapar virus ganas. Virus melayang di udara, kau tidak bisa melihat mereka, sementara mereka bisa masuk ke dalam tubuhmu dengan mudah. Selain itu, di luar sana banyak orang jahat yang tidak tertebak isi hatinya, bisa saja mereka memiliki niat buruk kepada kita, dan menghabisi kita sebelum kita menyadari niat buruknya.”

“Sudah kubilang itu hanya perkataan ibumu. Dia memiliki ketakutan dalam dirinya yang tidak bisa dia kendalikan.”

Mula-mula Rosane menolak semua ucapan kucing hitam, dan tetap meyakini ucapan ibunya sebab dalam dirinya sendiri telah tumbuh kekhawatiran yang sama, meskipun sebenarnya ia merasa kesepian dalam hidupnya yang terkurung. Akan tetapi, setelah beberapa lama, di sebuah pagi setelah sarapan Rosane mulai memikirkan ucapan kucing hitam. “Lalu, apa yang harus aku lakukan, Tuan Kacang Polong?”

“Keluar dari sini. Kau tidak mau hidup sampai tua di kamar yang terkunci ini, kan?”

Rosane mengangguk.

Dan pada sebuah malam, ketika Nyonya Julia datang untuk mengantarkan makan malam ke kamarnya, Rosane mengutarakan keinginannya untuk keluar dari kamar itu. Nyonya Julia terkejut dan berang ketika mendengar permintaan Rosane. Tubuh perempuan itu gemetar hebat, seolah-olah saat itu ia sedang berhadapan dengan sebuah bahaya yang mengancam nyawanya. “Susah payah ibu menjagamu bertahun-tahun, tapi kau malah ingin keluar dan menghancurkan dirimu di luar sana. Apa yang kaupikirkan, Rosane!”

Rosane tersentak dengan bentakan ibunya. Gadis itu tertunduk dengan wajah pasi.

Maka tidak ada yang bisa dilakukan Rosane untuk membebaskan dirinya kungkungan dan keterpencilan hidup, kecuali diam-diam mencuri waktu membuka jendela kamarnya setiap hari, memandangi kebun mawar yang terhampar, merasakan hangat sinar matahari pagi dan menghirup udara segar. Dan pada setiap kesempatan itu, kucing hitam selalu berbisik di telinganya, “Tidakkah kau ingin pergi lebih jauh, Rosane? Melihat lebih banyak? Melompatlah. Di luar sana kau merdeka.”

“Melompatlah, Rosane.”

“Melompatlah.”

***

Nyonya Julia menangkap gelagat Rosane yang tidak biasa. Sering kali dari luar kamar anaknya itu, ia mendengar suara Rosane seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang. Tetapi, ketika ia masuk memeriksa ke dalam kamar, tidak ada siapa-siapa kecuali Rosane.

Ketakutan Nyonya Julia bertambah, ketika memergoki Rosane berdiri dan bercakap-cakap seorang diri di depan jendela yang terbuka, tanpa masker dan sarung tangannya. Rosane hendak melompat dari jendela. Nyonya Julia panik dan berpikir harus menutup seluruh jendela itu dengan tembok.

Dan, sejak saat itu, tinggalah Rosane di kamar yang tidak lagi memiliki jendela.

Kian hari keadaan Rosane kian memburuk. Rosane mulai membenturkan kepalanya di tembok dan memanggil-manggil seseorang dengan nama yang aneh, “Tuan Kacang Polong.” Sehingga tidak ada cara lain yang dipikirkan Nyonya Julia, kecuali memasung Rosane. Rosane sudah gila, demikian Nyonya Julia meyakini keadaan anaknya.

Makassar, 29 September 2023.


Diana Rustam, menulis puisi dan cerpen di media sosial. Beberapa karyanya telah dimuat di media sastra online dan koran lokal.

Puisi

Puisi Anam Mushthofa

Melihat Kampung Halaman

Tempat tinggalku di antara dua kota yang sedang berpelukan: aku sesak

Terhimpit: beri (ruang) agar aku bernapas.

Sekali waktu, aku masih melihat pekarangan kosong

Bershaf-shaf rapi di pinggir jalan itu

(Memoriam) hilang menjelma bangunan rapat

Kampung halamanku menjelma labirin.

Brebes, 2023


Taman yang hilang

Ke manakah rindu ini berumah?

Ketika aku dan kau tak lagi bisa mencium wangi bunga bawang

Rindu ini menjadi tak ramah

Setelah puluhan hektar tak lagi menjadi sawah.

Brebes, 2023.


Tempat terindah yang tidak kita punya

Rerumputan basah membasuh tapak kaki kaum petani

Di atas tanah, butir-butir air ikhlas jatuh: tulus mengalir.

Langit biru muda siang itu,

Mengundang alur angin menghantar senyum untuk ladang sawah.

Kini engkau berpidato

Tentang Negeri yang pernah kita dambakan.

Sesuatu yang engkau makan,

Tak perlu konsolidasi kebohongan.

Sesuatu yang kau minum,

Tak perlu persekusi kebenaran.

Kedaulatan hanya asap sisa pembakaran

Yang raib entah ke mana.

Garis senyum di pipimu

Ingin kurasi: melayar kesejahteraan.

Brebes, 2023.


Lima menit di lampu merah klampok

aku berkendara di jalan dulu,

dari losari ke Tepi randusanga.

Sebuah bangunan membesar dan bangunan lain menciut

aroma bawang goreng dan bau telur asin masak

Tukang parkir dengan celana robek, suara ambulan dari hulu ke hilir

Jalanan yang bergelombang, sepasang pengamen tua; itu-itu saja

Dan pengamen lain dengan sound sebesar koper; masih itu juga orangnya

Aku berkendara di jalan dulu

aku melihat samar bunga yang tak kunjung mekar

atau kota ini tak pernah berubah, serupa dulu?

Brebes, 2023.


Matahari yang hilang

Setelah sore datang; matahari pulang,

Meninggalkan rona merah di kursi taman.

Tas dan buku hariannya tertinggal,

Mungkin saja catatan; nasib para petani yang ia jemur.

Aku benar-benar takut membukanya, rahasia terdalam.

Ternyata hanya; tas kecil berisi nota, surat dan cicilan utang.

Matahari telah pulang

Ia bisa saja kembali, tapi akankah datang juga ke kursi taman

Dan berjanji memberi terang jalan kemakmuran pada petani..

Matahari telah pulang

Dan nasib petani menjadi gelap.

Brebes, 2023.


Kota kecil

kutemui lagi siang dan malam yang sama;

langit berwarna resah, juga mereka

yang kadang lebih ramah dari cuaca

Dan papan-papan reklame yang meriah,

bimbang menyapaku dalam jalanan:

“bagaimana kabarmu selama ini di kota yang semakin panas?”

di setiap ruas jalan yang berlubang

mengenang bilik-bilik desa, masih juga

aku kerap kesasar mencari kesejahteraan

 yang luput dari rapuh ingatan.

sedikit kuingat cerita seorang kawan

hampir dua tahun yang silam

: ia masih terus membicarakan kemerdekaan

tetapi kotaku hanyalah serpihan kecil

yang telah lama dilupakan

dari dongeng revolusi

di beranda negeri

Brebes, 2023.


Anam Mushthofa, seorang buruh. Pernah menulis buku bersama judul “Problematika Generasi Milenial”(2019). Menyukai jelajah alam.

Cerpen

Perihal Lesuika

Cerpen Jeli Manalu

Begitu lonceng bunyi, anak-anak menghambur ke luar. Para mama-papa yang datang menjemput, hari ini atau kapan saja, tak satu pun pernah terlihat berjalan kaki. Papa Riz menggunakan motor trail. Mama Moan pakai motor matic. Tuk yang sambil makan keripik sukun menunggu mobil warna jus buah naga. Seandainya Mama Nef mengantar-jemput Lesuika dengan kendaraan.

Apa di luar pagar gerimis lagi?—gerimis datang sejak pagi buta, saat adik bayi menangis sebab ingin menyusu namun Mama Nef belum mendengarkannya. Lesuika berdiri dekat kaktus sebelah kantor guru. Tangan dijulurkan ke depan, gerimis ternyata tidak ada. Gerimis reda sepuluh menit lalu. Dan Mama Nef, mungkin akan muncul sebentar lagi. Dengan payung ungu, dan sandal jepit yang mempermudah langkah kaki. Langkah kaki Mama Nef cepat-cepat dan berkesan tergesa tetapi Mama Nef bilang itu termasuk santai karena ke banyak tempat ia sudah sangat terbiasa berjalan kaki.

Hei, Lesuika. Cepat ke sini. Nanti adik bayi nangis.

Mama Nef sering berbicara begitu. Sepasang kaki Lesuika bergerak cepat menuju Mama Nef. Mereka harus buru-buru pulang demi adik bayi yang tidak Mama Nef bawa bila kebetulan sedang tidur.

Sekolah sepi. Guru-guru sudah tak ada. Bunyi sandal jepit Mama Nef beradu dengan jalanan tak kunjung muncul di luar pagar. Jerit suaranya juga belum. Apa adik bayi sedang sangat rewel sehingga Mama Nef perlu lebih banyak waktu untuk menidurkannya? Kadang Mama Nef berjalan keliling kompleks agar adik bayi bisa tertidur. Pernah Mama Nef menggendong adik bayi sambil berjalan-jalan setengah hari hanya karena adik bayi tidak mau dilepas.

Saat ini Lesuika semakin mengantuk dan lapar. Waktu istirahat ia memang ke kantin makan mi sop pedas campur bakwan bersama Riz dan Moan. Ia juga dapat lima lembar keripik sukun dari Tuk. Lalu permen dari temannya yang lain. Hanya saja perut Lesuika lekas-lekas sekali minta diisi makanan sebab ke sekolah berjalan kaki membuat pencernaannya ikut gesit bekerja. Ia pernah cerita kepada Mama Nef tentang perkataan gurunya, orang yang banyak bergerak metabolisme tubuhnya juga berjalan cepat, itulah mengapa ia berharap sekali bisa diantar-jemput dengan kendaraan seperti teman-temannya agar cepat tiba di rumah dan langsung duduk di meja makan, menghabiskan sepiring-dua piring nasi dengan tiga ekor ikan puyuh tanpa kepala, lalu minum teh manis dingin, lalu pisang, atau biskuit yang mungkin masih tersedia dalam kaleng Khong Guan di atas lemari.

Lesuika meninggalkan kaktus lalu bersandar di tembok kantor guru yang persis menghadap pagar sekolah. Di tembok itu ia menahan kantuk, ia tak boleh tertidur karena ditakutkan Mama Nef memanggilnya dari luar pagar sementara ia tak bisa mendengarnya. Agar tidak tertidur, ia mengambar-gambar di buku. Ia buat dirinya berada dalam boncengan Mama Nef—bagaimana postur tubuh Mama Nef saat berkendara di tengah keramaian: Tegang, menciut seperti orang kedinginan—Lesuika belum pernah lihat Mama Nef berkendara. Mama Nef pakai helm, Lesuika pakai helm. Ia suka helm warna jus buah naga seperti mobil keluarga Tuk. Tuk pernah memberikan Lesuika jus buah naga yang dibawanya dari rumah. Warnanya cantik. Rasanya enak. Seandainya ia diantar-jemput Mama Nef pakai kendaraan, pastilah ada yang Lesuika banggakan kepada teman sekolahnya. Mereka punya satu sepeda dan satu motor yang selalu terpakir di garasi. Dua benda itu bisa membawanya jalan-jalan hanya ketika papa pulang.

“Kenapa kamu tidak diantar Mama Nef pakai kendaraan?” tanya Tuk suatu hari.

Lesuika ingin bilang, namun lekas-lekas menutup mulut. Ia tak mau Mama Nef jadi olok-olokan di sekolah. Teman-temannya selalu cerita membanggakan mengenai orangtua mereka yang jago berkendara. Papa Riz muda seorang pembalap—Riz pernah memamerkan foto-foto papanya ketika berada di sirkuit. Selain antar-jemput sekolah, Moan bilang mamanya selalu memboncengnya pakai motor matic. Keliling kota. Ke dokter gigi. Ke tukang pangkas rambut. Sedangkan Tuk tak diragukan lagi. Ia anak beruntung yang hanya tinggal duduk dalam mobil ber-AC sambil makan keripik sukun lalu tanpa sadar sudah tiba depan pintu rumah.

“Bila diantar-jemput pakai motor, perutmu pasti tidak cepat-cepat lapar,” sahut Riz.

“Bajumu juga tidak cepat-cepat bau keringat,” sambung Moan.

Di pekarangan sekolah angin menerpa dahan-dahan kaktus. Di rumah Mama Nef menepuk-nepuk bokong adik bayi. Gerimis halus-halus muncul dan melayang ke tembok kantor guru. Lesuika belum tertidur. Ia berharap Mama Nef segera muncul dengan payung ungu, sandal jepit yang mempermudah langkah kaki lalu dari luar pagar Mama Nef menjeritkan nama Lesuika.

“Kalau Mama Nef tidak bisa berkendara, kenapa tidak sewa orang antar-jemput kamu?”

Tahun lalu, ada orang yang bersedia antar-jemput Lesuika. Orang itu berhenti karena hamil dan sekarang sibuk mengurus bayi. Bila diantar tukang ojek, Mama Nef tak percaya. Ia cemas barangkali saja si tukang ojek mengiming-imingi Lesuika makanan padahal ada maksud lain di belakangnya

Lagi pula, jarak rumah ke sekolah tidak jauh. Hanya 15 menit berjalan kaki, Mama Nef mencoba membela diri dari ketidakmampuannya berkendara. Masalah Lesuika, ia malu dilihat teman-temannya selalu berjalan cepat dan tergesa. Dan hal paling tidak ia suka bajunya jadi anyir keringat padahal hari masih pagi. Tetapi kata Mama Nef lagi Lesuika tak perlu merasa minder. Berjalan kaki bagus juga untuk tubuh Lesuika yang gampang sekali bertambah gemuk.

“Lesuika!”

Payung ungu dan sepasang sandal jepit Mama Nef menyeberang ke arah sekolah. Saat itu adik bayi tidak terlihat bersama Mama Nef.

“Lesuika,” panggilnya.

Gerimis makin menggila.

“Lesuika, kamu di mana?”

“Cepatlah berlari, Lesuika!” ***

Riau, Mei 2023


Jeli Manalu senang menulis dan berkebun. Ia lahir di Padangsidimpuan pada 2 Oktober, dan saat ini tinggal di Rengat Riau. Cerpen-cerpennya terbit di media lokal dan nasional. Buku kumcernya “Kisah Sedih Sepasang Sepatu” tahun 2018 dan “Kucing Penunggu Susteran dan Cerita-cerita Lainnya” tahun 2022.