Buku, Resensi

Ekonomi Feminin

Oleh Royyan Julian

Melihat dunia yang kian rigid barangkali menjadi titik balik yang membuat orang menyoal ulang keyakinan tentang yang ideal. Dunia manusia dibangun di atas kebudayaan yang bercorak maskulin. Budaya adalah laki-laki, alam ialah perempuan. Budaya, dengan individualitasnya yang egois, telah menyisihkan alam ke sudut tersembunyi. Alam/perempuan punya peran penting sebagai bahan bakar kebudayaan/laki-laki, tetapi tak kasat. Seperti bensin di tangki motor.

Tanggal 21 April lalu, novelis cum feminis Indonesia, Ayu Utami membuat catatan reflektif di halaman Instagram-nya: “… Pekerjaan domestik ini tidak menabung apa-apa selain kehidupan anak atau orang lain. Karir selalu mengandung akumulasi (entah reputasi, uang, dll), tapi pekerjaan rumah tangga ini tidak. Padahal betapa pentingnya…. Di Hari Kartini ini ada baiknya kita melihat emansipasi dengan cara terbalik. Bukan cuma perempuan perlu emansipasi agar bisa masuk ke dunia publik (yang kini identik dengan karir, status, dll), tapi agar kita semua menghargai dunia domestik, dunia yang menumbuhkan dan memelihara hidup, yang umum dianggap sebagai dunia perempuan dan tidak dihargai….”

Persis seperti itulah yang ditulis Katrine Marçal dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith? Kritik atas ilmu ekonomi liberal dibongkar dengan menghadirkan sosok ibu Adam Smith yang berperan krusial sepanjang hidupnya, tetapi paradoks dengan teori yang dibangunnya bahwa “bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan diri mereka sendiri.” Dengan perspektif feminisme, Marçal meneropong cacat dan ironi Homo economicus sebagai agen dalam ilmu ekonomi Adam Smith.

Mereplikasi teori fisika mekanistik Newtonian, ilmu ekonomi Adam Smith menggantungkan kesejahteraan masyarakat kepada kepentingan individu. Jika individu berpegang teguh pada prinsip kepentingan diri, kemakmuran komunal dapat dicapai. Adam Smith menggunakan metafora ‘tangan tak terlihat’ (invisible hand) yang bekerja secara tersembunyi—dalam tata ekonomi—dan bermanfaat secara sosial berkat tindakan individu.

Individu egois tersebut bernama ‘manusia ekonomi’. Manusia ekonomi diandaikan sebagai pribadi rasional, dingin, egois, terisolasi, independen, aktif, objektif, kompetitif. Karakter tersebut secara natural dianggap melekat pada sosok laki-laki yang beroposisi dengan sifat perempuan (emosional, hangat, altruis, komunal, dependen, pasif, subjektif, kooperatif). Dengan logika tersebut secara otomatis apa yang disebut sebagai manusia ekonomi adalah figur yang memiliki tabiat maskulin. Laki-laki adalah norma universal dan kemanusiaan bersinonim dengan maskulinitas. Di luar itu adalah liyan—adalah jenis kelamin kedua.

Maka, ketika meruyup ke dunia ekonomi, perempuan akan dipaksa bernapas dalam atmosfer yang berputar dengan mekanisme logika laki-laki. Walhasil, dengan keruwetan urusan domestik—yang sebagian besar masih dibopong perempuan karir—ditambah kompleksitas biologisnya, perempuan menjadi inferior di dunia yang sepenuhnya dipahat laki-laki. Upah rendah perempuan, misalnya, Marçal jelaskan secara dialektis dengan mengajukan argumen Mazhab Chicago yang membingungkan. Oleh karena itu, klaim bahwa manusia ekonomi tidak berjenis kelamin atau netral patah ketika dihadapkan pada kondisi diskriminatif yang dialami perempuan di dunia profesional.

Individualitas dalam imajinasi kolektif ilmu ekonomi secara alamiah dianggap memang watak manusia dari sononya. Potret janin karya Lennart Nilsson dicomot sebagai analogi manusia ekonomi; individu swasembada. Fetus dikesankan sebagai individu yang mengapung sendirian. Rahim direduksi hanya sebuah ruang. Tubuh dan peran ibu dimutilasi. Realitas zoom in foto-foto Nilsson jauh panggang dari api. Kenyataannya, selama mengambang dalam peranakan, jabang bayi terus-menerus melakukan kontak dan bergantung kepada raga ibu.

Homo economicus sebagai citra ideal yang dianggap natural menyangkal sifat manusia yang selalu bergantung kepada liyan. Bahkan, identitas manusia ekonomi yang individualistik harus kontradiktif dengan dirinya sendiri yang membutuhkan orang lain sebagai kompetitor. Yang nyaris tidak bisa ditampik, sejarah keberhasilan laki-laki sebagai manusia ekonomi membutuhkan perempuan yang menyiapkan makan malam, membersihkan tempat tidur, merawat, mencucikan pakaian; untuk lari dari kerasnya dunia, melabuhkan luka, menyeimbangkan jiwa.  

Sumber daya yang berasal dari moralitas primordial perempuan merupakan konsekuensi dari perbedaan dikotomis antara laki-laki dan perempuan. Dalam dunia ekonomi yang bertumpu pada akumulasi kapital, kerja perasaan dan altruisme bukan bagian dari mata pencaharian.  Ekonomi dan perawatan adalah dua hal yang terpisah. Hasil kerja domestik perempuan tidak dapat dicandra, tidak memengaruhi kemakmuran, sukar dikuantifikasi, sebab ia adalah siklus: “Debu yang disapu menumpuk lagi. Mulut yang sudah diberi makan kembali lapar. Anak-anak yang tidur kembali bangun. Selesai makan siang, waktunya mencuci piring. Setelah mencuci piring datanglah makan malam. Dan piring kotor kembali perlu dicuci.” Sirkulasi kerja yang tak kekal tersebut berakar dari ontologi perempuan yang karnal dan irasional, mata air cinta. “Para ekonom kadang bercanda,” catat Marçal, “jika seorang laki-laki menikahi pembantu rumah tangganya, PDB (produk domestik bruto) negaranya turun. Jika, sebaliknya, ia mengirimkan ibunya ke panti jompo, PDB negaranya naik lagi.”

Feminisme gelombang kedua menggiring perempuan memasuki dunia kerja. Bagi Marçal itu tidak benar. Yang tepat, perempuan bermigrasi dari pekerjaan tak berbayar ke profesi bergaji; dari ranah domestik gratisan ke aras publik berupah. Itu pun perempuan harus bergelut melawan ketidakadilan yang lahir dari regulasi seksis kebijakan ketenagakerjaan. Ketika kerja keperawatan menjadi profesional—di rumah sakit atau semacamnya—ia diupah murah. Sebab cinta tidak boleh diperdagangkan. Akhirnya kerja perempuan tetap menjadi perekonomian kedua—meminjam istilah Second Sex Simone Beauvoir.

Kapitalisme yang eksploitatif sebagai anak kandung ekonomi liberal perlu dipulihkan dengan melibatkan perempuan secara adil. Ilmu ekonomi seharusnya tidak mencerabut manusia dari kodratnya sebagai makhluk yang memiliki ikatan dengan yang lain. Teori ekonomi yang menyertakan perempuan dengan spirit kesetaraan akan menjadi penyeimbang individu egois yang digerakkan oleh kepentingan diri, setan loba, dan rasa takut. Namun, visi ilmu ekonomi belum beranjak sejauh itu. Harus ada yang memasak steik agar Adam Smith  bisa berkata bahwa menyiapkan makan malam itu tidak penting.


Royyan Julian adalah penulis yang tinggal di Pamekasan. Buku mutakhirnya berjudul Ludah Nabi di Lidah Sykeh Raba (2019). Ia bergiat di Sivitas Kotheka dan Universitas Madura.

Puisi

Puisi Daffa Randai

Gerimis Merambat

ke Rambutmu

suatu ketika, gerimis merambat ke rambutmu

menitis pelan ke kening dan berhenti

tepat di pucuk bibirmu yang dingin.

sepasang matamu menyanderaku

seperti membujuk, seperti menunggu

sepasang bibirku lembut menyapu

bibirmu yang gigil itu.

2020


Sengketa Rindu dan Kesepian

kembalilah, tubuhku akan lebih berguna

hanya dengan sering melindungimu dalam pelukan.

lengkapi kesepianku, lekasi nasib burukku

sebab hanya padamu, air mataku menolak gugur.

kembalilah, tubuhku butuh tubuhmu

sebagai pelerai gaduh, rindu di jantung

seperti sedang berperang, seperti mengerang

takluk di hadapan jarak yang sadis dan kejam.

kembalilah, bantu aku jadi pemenang

menghadapi sengketa rindu dan kesepian.

bantu aku jadi satu-satunya peminang

yang bikin bahagiamu tak berkesudahan.

2020


Kita Tak Harus Bertikai

biarlah kesepianku terus berlayar

melintasi kenangan lapuk

yang jauh tersimpan di tubuh waktu.

biar rindu terus mendebur

menggulung segala inginku

menjumpaimu di luar tidur.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan perpisahan

dan penyesalan ini milik siapa.

sebab masa lalu tetap milik kita

ijazah bagi hari jauh yang telah

tuntas kita lintasi berdua.

sungguh, kita tak harus bertikai

mendebatkan masa depan

di tengah masa lalu yang kacau.

sebab kita ialah kesedihan

yang tersesat di jalur derita

tanpa ujung, tanpa batas teritorial.

2020


Selepas Berpisah

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

siapa yang lebih tegar untuk tak saling tegur

bahkan ketika dada kita menjelma angkutan

yang penuh hanya karena satu jenis muatan:

rindu akan kenangan yang begitu ingin diulang?

bayangkan, bayangkanlah

selepas berpisah, di antara kita

adakah yang bakal merasa terancam

oleh penyesalan, oleh kehilangan, oleh segala

yang tumbuh seiring dengan kenyataan

tak lagi ada yang bisa dipeluk selain ingatan?

2020


Punah Terkubur Kenangan

: untuk Lia

katakan, bagaimana kesepian bekerja

menghidangkanmu kembali ke ruang dengarku

sebagai masa lalu, sebagai yang bukan lagi milikku.

sementara di dada, suaramu terus menggema

tak putus kudengar dari telinga

seperti menyesal, seperti ingin lagi kuterima.

di hadapanku, kau kuras air mata

mungkin rayuan, mungkin permintaan maaf

atas buruknya niat, menjadikanku pelarian.

kau suguhkan bagian inti tubuhmu

yang tuntas kau sayat untukku

seperti merayu, seperti menunggu jawabku.

tetapi maaf, hatiku telanjur berkarat

mustahil kusucikan ulang untuk kau

yang telah punah, terkubur kenangan.

2020


Ingatan Masa Lalu

aku penyair, datang dari masa lalu

diutus kenangan untuk menjenguk

riwayat harimu yang penuh rindu.

aku tahu, ragamu tak lagi utuh

tak lagi mengandung aku

sejak ia tiba mengetuk

kesepianmu pascaperpisahan itu.

aku tahu, bekas pelukanku

mungkin sudah kau basuh

kau sucikan dari tubuh

dari ingatanmu yang keruh.

aku tahu, ia mencintaimu

sedekat nadi dengan denyut

sedekat jantung dengan degup

sedekat hidup dengan maut.

sementara kau tunduk

pada ingatan masa lalu

ingatan semasa denganku

yang gagal kau lupakan itu.

2020


Hujan Jatuh

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap rintik di atap kuangkakan

sebagai rindu yang betah berdenting

menghitung bulir-bulir detik

membahasakan kita sebagai kekasih

yang piawai merawat rasa sakit.

hujan jatuh dan yang basah

adalah ingatanku tentang kau.

setiap helai gerimis yang hinggap

di jendela kamar kumaknai sebagai kau

menghitung butir-butir waktu

menangkap aku sebagai masa lalu

yang piawai mendatangkan rindu.

2019


Permaisuriku

            ─ Wei Gu & Putri Wang Tai

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kuselipkan di alkisah:

seorang lelaki nyaris membunuh takdirnya sendiri.

114 tahun silam, ia meminjam namaku

lengkap dengan tubuh dan silsilah keluarga

ke songcheng dikawal para pelayan.

2suatu malam, bulan berguguran di pasar

ia jumpa lelaki tua tak dikenal

yang begitu saja membekukan sabda:

3“kuberitakan padamu, wei gu.

demikian takdir rampung disusun

dan kepada gadis berpelayan buta itu

kelak bakal kau persembahkan hidup.”

4tapi ia tak percaya dan murka.

lantas menitahkan utusan agar segera

menikamkan pisau ke tubuh gadis

yang tak ia kehendaki adanya.

permaisuriku, putri gubernur wang.

14 tahun silam, usiamu menginjak 3 angka

dengarlah, dengar apa yang hendak kukisahkan:

seorang lelaki nyaris menikahi penyesalannya sendiri.

5ia gagal merayakan kematian gadis

sebab utusannya tak cukup akal

bersilat pisau di tengah kerumun orang.

6kemudian, berlari ia menjauhi kota

sembunyi dalam rahasia, dan berharap

tak seorang pun sanggup mengingatnya.

714 tahun berjalan, ia lalu dijodohkan

dengan putri gubernur xiang, wang tai:

seorang gadis yang 14 tahun silam

pernah begitu ingin ia musnahkan.

permaisuriku, putri gubernur wang.

sebelum mimpi jauh mengular, dengarlah

dengar apa yang hendak kusenandikakan:

14 tahun silam, andai kau sampai berpulang,

siapa yang bakal kusanding di pelaminan?

2019


Jika Terpaksa Kembali

kelak, setiap jalan dan tempat yang sempat

kita singgahi akan pikun pada waktunya,

dan kita menua dengan derita yang berlainan.

jika terpaksa kembali, rupa kota tak lagi sama

jangan mengenang, jangan mengenang!

tentarakan dirimu, cekal air mata sebelum jatuh.

berjalan dan singgahlah di mana pun, tanpa aku.

biar kota tumbuh dan memulihkan rupa

dari jejak kesedihan kita yang parah.

2019


Sisakan Air Mata

sisakan air mata

sisakan sehelai untukku

di perut gelas yang dalam

tuangkan, tuangkanlah segera

biar lekas kuteguk segala

kesedihan yang ada

kita hampir berpisah

hampir kembali asing

untuk tetap mengenal

semua yang bakal sudah

esok, akankah kehilangan

lebih mudah diterima

daripada bertahan

dari debur amarah?

sisakan air mata

sisakan sehelai

untuk kita perderas

selepas resmi berpisah

2019



Daffa Randai,
lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta, konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Presiden komunitas Pura-Pura Penyair. Buku tunggal perdana: Rumah Kecil di Kepalamu (Purata Publishing, 2018). Beberapa puisinya terbit di buku antologi bersama, media cetak dan online. Bisa dihubungi lewatsurel: [email protected] atau Instagram: @randaidaffa96.

Cerpen

Tiga Episode Ingatan

Cerpen Pangerang P. Muda

Telah banyak ingatannya yang lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap hanya serupa imajinasi. Sekian tahun lampau, ia ingat pernah mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang apartemen tempat perempuan itu tinggal, ia melamarnya. Melamar perempuan di depan gerbang apartemen, ketika itu, ia anggap amat romantis. Ia samakan dengan adegan di dalam sebuah film.

/1/

Sebelum pindah kemari, setiap pulang Lis selalu disambut anggora manis yang merengek minta dibelai. Karena aturan di apartemen ini tidak membolehkan memiliki hewan piaraan, kucing itu dia berikan ke temannya dan sekarang tidak ada lagi yang menyambutnya.

Menggeser pintu yang menuju balkon, dadanya meraup sebanyak udara yang datang meruap. Tiga puluh meter dari permukaan tanah, dia meluruskan jenjang kakinya, berselonjor di atas sofa rotan. Tatapnya mengapung nun ke air laut yang berwarna merah kesumba. Dia memejam, melayangkan otak dan otot setelah diberati aktivitas pekerjaaan sepanjang hari, sampai tertidur. Laki-laki itu muncul dan langsung pula mencecar, “Sungguh, Alissa, aku mencintaimu. Dengan kalimat apa lagi aku harus mengatakannya?”

Gelak Lis lepas. Ya Tuhan, kenapa anak ini yang datang menyatakan cinta? Tawanya dia peram, karena laki-laki itu mendadak merengkuh, mendekapnya lalu melompat bersama keluar dari pagar balkon. Saling-pilin keduanya meluncur tersedot gravitasi. Hambatan angin yang begitu deras, serasa akan meremukkan tulangnya.

Tergeragap bangun, Lis menggigil. Embus angin cukup deras menyerbu dari arah laut. Tidak cuma di alam nyata, di alam mimpi pun anak itu mengganggunya. Lis mengejap. Di depannya, senja telah habis.

Merasai tubuhnya yang penat mulai merindukan hangat air di dalam bath-tub, Lis meninggalkan balkon. Ingatannya berputar; ah, tidak, dia tidak ingin mengingat nama laki-laki itu, senyampang dia tak ingin pula mengingat entah terselip di mana kartu namanya. Dia hanya merasa perlu mengingat nama perusahaan konstruksi dan pengembang yang diwakilinya, karena itu klien lama perusahaan periklanan tempat Lis bekerja. Setelah mengepalai divisi, Lis menunjuk seorang staf untuk berhubungan dengannya, tapi anak itu ngotot dan tetap ingin berhubungan langsung dengannya, seperti sebelum-sebelumnya.

Lis tak cakap pula mengelak; perusahaan periklanan tempatnya bekerja sedang tumbuh dan gencar-gencarnya berburu sekaligus mempertahankan klien lama. Lebih tak cakap lagi dia mengalkulasi efek hubungannya: anak itu jatuh cinta padanya. Persuaan yang acap, yang kian kerap bermuara di kursi-kursi kafe sekitar perkantoran tempat kerjanya, ternyata memurupkan pula cinta anak itu.

Mengingatnya, senyum Lis jadi ringis. Laki-laki itu sebelas tahun lebih belia dari usianya yang jelang empat puluh, sampai Lis menganggapnya ‘masih anak-anak’. Dua kali terang-terangan menyatakan cinta membuat Lis terkaget-kaget, dan nyaris syok ketika anak itu ngotot mengiringinya sampai ke gerbang apartemen, sebelum berdeklamasi; bagi Lis, itu serupa ratap, “Hari ini, aku melamarmu. Alissa, bersedialah menjadi istriku.”

Lis keluar dari bath-tub. Walau semampai tubuhnya terbalut jubah mandi, saat berada di ruang tengah dia menggigil. Pintu ke balkon rupanya masih menganga, meloloskan deras angin. Setiap menutup pintu itu, dua belas lantai di atas permukaan tanah, sontak dia mendapati dirinya disergap sepi.

***

Pada kelindan memorinya, ia ingat pernah pula mengantar pulang seorang perempuan, dan di depan gerbang pagar rumah perempuan itu, ia berkata, “Maukah kamu menjadi istriku?” Ia lupa pada film apa pernah melihat adegan seorang lelaki melamar kekasihnya di depan pagar, dengan salju yang terus melayang di sekitar mereka, dan ia bermaksud menirunya. Ia anggap adegan itu amat romantis.

Meski kemudian sulit ia percaya, di suatu masa di dalam hidupnya, ia bisa nekat meminta seorang perempuan lain menjadi istrinya justru ketika ia sudah punya istri. Ia pikir itu ingatan yang absurd,sama absurdnya dengan kenyataan telah menikah dengan perempuan yang tidak ia cintai.

/2/

Sebagai istri siri, Nin memang mesti tahu diri: dia harus ikhlas disimpan di tempat yang tersembunyi. Makanya dia menduga suaminya akan membawanya ke sebuah rumah yang menyempil di pojok kampung ketika berkata, “Kita akan mengunjungi puri cinta kita. Itu kado pernikahan untuk kamu.”

Dia sempat mengelak, separuh berseloroh, “Puri? Tidak, ah. Aku takut banyak hantu bergentayangan di dalamnya.”

“Memang banyak,” balas suaminya. “Tapi hantu-hantu asmara.”

Rumah itu duduk anggun pada ketinggian sisi perbukitan. Untuk mencapainya dari jalan raya, harus melalui dua kelokan hampir setengah lingkaran. Sejak sebelum kelok pertama, kontur jalan sudah mendaki. Begitu lepas dari kelok kedua, rumah itu mulai terlihat: agak mungil, dikitari halaman yang lapang. Nin berdecak, merengek, “Aku suka, Pa….”

Setiap di bawah sana ada yang menuju puri cintanya, sejak di kelokan kedua sudah terlihat. Sembari menatapi embun menguap, Nin duduk di beranda, menerka-nerka siapa yang akan datang pagi ini. Biasanya yang paling awal tukang sayur, lalu penjual ikan, menyusul penjual jamu, dan sesekali datang pula peternak lebah madu. Seusai menawarkan jualan, pedagang keliling itu akan mengitari jalan setapak di samping pagar halaman sebelum menghilang ke kampung yang ada di belakang.

Biasanya tengah hari baru suaminya yang datang. Begitu muncul di belokan, Honda City merahnya yang sedang merayap terlihat menyala, seakan membawa bara cinta, dan dia siap-siap menyambut. Entah berapa kali dia mencandai suaminya, “Puri kita ini, memang sarangnya hantu-hantu asmara.”

Pertama kali Nin mengenal laki-laki itu di suatu sore yang kuyup diguyur hujan. Sepupunya yang juga karyawan sekaligus teman SMA laki-laki itu, mengajak menumpang di mobilnya. Nin ke kantor sepupunya itu karena ada urusan pekerjaan, dan pulangnya jadi bingung karena hujan demikian deras meruah. Laki-laki itu menawarkan tumpangan, sekaligus menawarkan sikap dan wajah simpatik, untuk Nin kagumi; laki-laki itu direktur di perusahaan tempat sepupunya bekerja, tapi tidak menampakkan sikap seorang atasan kepada bawahan pada sepupunya.

Kemudian tidak bisa lagi Nin sesali bila persuaan itu ternyata terus berepetisi, berulang-ulang dengan pesona laki-laki itu seakan sedot pompa yang tak kuat Nin tampik. Dan di suatu senja, saat Nin turun dari mobil dan sebelum mencapai pintu pagar, gerimis datang. Laki-laki itu ternyata ikut turun, mendekat dan mengagetkannya, “Maukah kamu menjadi istriku?”

Nin merasakan laki-laki itu memang memberinya kasih sayang, tapi dia tetap dihadapkan pada kenyataan: laki-laki itu juga suami dari perempuan lain. Berbagi cinta membuatnya sadar dan mesti tahu diri tak bisa merecoki suaminya dengan kunjungan yang kerap. Dan, seiring rangkak waktu, kedatangan suaminya memang mulai jarang, dan makin jarang saja setelah usia pernikahan mereka melewati tahun ketiga. Kian kerap pula Nin hanya bisa menggigit bibir, kian merasai getir.

Dengan hanya ditemani seorang pembantu, dan belum juga ada tanda-tanda rahimnya menyimpan janin, tinggal di purinya di atas bukit, Nin mulai merasa suatu saat sepi akan membunuhnya.

***

Andai bisa, ia ingin melupakan saja ingatan saat dipaksa orang tuanya, dengan ultimatum, agar ia menikahi putri pamannya. Ia tahu orang tuanya khawatir melihatnya tak henti-henti mengenang perempuan yang pernah menolak lamarannya, khawatir membuatnya memilih membujang sampai lapuk. Semacam imbalan, ia lalu diberi kepercayaan memimpin perusahaan keluarga, senyampang usia bapaknya mulai sepuh. Tak ingin dianggap aji mumpung belaka, ia bekerja sungguh-sungguh, sampai bisa membuktikan kepercayaan itu tidak sia-sia dipikulkan ke pundaknya.

Namun, takdir yang dilakoninya terus saja berkelok-kelok. Akibat sakit, istrinya meninggal; bisa jadi setelah tahu ia telah menikah siri dengan perempuan lain, ikut pula memperparah sakitnya. Belakangan ia juga tidak mampu mempertahankan istri sirinya; cekcok mulai kerap mengusik dan keluarganya terus pula bergolak mempermasalahkan.

Ketika ia melamar lagi seorang perempuan, walau pertemuannya bak cerita di dalam film, tapi ia tidak meniru-niru lagi adegan romantis dalam film. Ia merasa sudah terlalu tua meniru begitu, malah ia tidak ingat lagi tepatnya kalimat apa yang ia ucapkan ketika menyatakan suka. Perempuan itu ia lihat pertama kali di salah satu kantor cabang perusahaannya. Saat melihatnya, ia terkesima, yakin perempuan itu merupakan kelahiran kembali dari perempuan masa lalunya yang amat ia cintai tapi menolak menikah dengannya, karena begitu mirip. Seperti itu ingatannya menyimpan kejadian itu. Di depan bapaknya yang sudah sepuh, entah bisa mendengar ketika ia berseloroh, “Saya tidak mau jadi duda lapuk.”

/3/

Berada di depan rumah besar itu, Mun sontak membayangkan sedang berhadapan dengan sesosok raksasa. Pilar-pilar tinggi bergaya Eropa yang menyambut di beranda membuatnya merasa serupa liliput. Saat pintu depan berdaun ganda terpentang, sadarlah dia tubuhnya sedang tersedot masuk ke perut sang raksasa.

Di suatu pagi yang bening, seusai menghabiskan tiga malam bulan madu mereka di hotel, suaminya membawanya ke rumah itu. “Saya sudah rindu pada anak-anak,” kata suaminya, sesaat sebelum meninggalkan hotel. Ketika mobil yang mengantar berbelok masuk ke gerbang, suaminya berkata, ”Itu rumah kita.”              

Di situ tinggal pula bapak, delapan cucu, serta tiga adik suaminya dengan istri dan suami masing-masing yang telah menurunkan delapan cucu tadi. Istri dan ibu suaminya telah meninggal. Ada sembilan kamar tidur di rumah itu. Kamar terbesar bernuansa suite ditempati Mun dan suaminya. Di ruang depan, yang diisi dengan kursi-kursi besar yang mewah, Mun menghitung-hitung bisa menerima tamu sampai tiga puluh atau malah empat puluhan orang. Sedang ruang tengah, andai semua perabot disingkirkan, bisa saja dijadikan dua lapangan futsal. Serba-maha-luas pada rumah itu, membuat Mun merasa mengecil.

Hendak lepas dari telan ‘sang raksasa’, di suatu senja yang mendung, Mun memaksakan keberanian mengusul pada suaminya, “Pa, bagaimana kalau kita pindah ke rumah yang lebih kecil?”

Sedikit terperanjat, suaminya menatap heran dan berkata, “Rumah sebesar ini saja sudah penuh begini, malah mau pindah ke rumah lebih kecil?”

Sekuat tekad mempertahankan keberanian, Mun berujar lagi, “Di rumah kecil kita itu, kita tinggal berdua….”

Suaminya cepat menyela, “Jadi, kamu mau memisahkan saya dengan anak-anak? Juga dengan adik-adik?”

Belah mulut Mun seketika terkunci. Menghindari perdebatan, dia memilih mati kata.

Usia Mun dengan suaminya terpaut empat belas tahun. Saat melamarnya, usia laki-laki itu lima puluh satu sedang Mun tiga puluh tujuh tahun. Dia pimpinan dan Mun karyawan di salah satu cabang perusahaannya. Mun dilihatnya ketika berkunjung, dan jauh setelah menikah, dia membuat pengakuan bahwa begitu melihat Mun langsung terkesima dan jatuh cinta. Mun tertawa geli; perkara jatuh cinta, faktor usia muda atau tua ternyata tidak menjadi pembeda. Usia yang terpaut jauh sempat membuat Mun mengelak, tapi rupanya laki-laki yang dihadapi tipikal pantang menyerah. Sebagai karyawan, Mun tahu sedikit sejarah perusahaan tempatnya bekerja: sejak dipercaya keluarganya memimpin perusahaan, dengan kegigihannya laki-laki itu berhasil membuat perusahaan berkembang dan melahirkan cabang usaha, dan rupanya demikian pula kegigihannya meyakinkan Mun untuk menerima lamarannya.

Setelah menikah, Mun berhenti bekerja dan fokus ke rumah tangganya. Saat pamitan, dibalasnya ledekan teman-teman kerjanya, “Cinta memang tidak mengenal logika, kok.”

“Pindah dari rumah kita ini, sama saja memisahkan saya dengan anak-anak,” suaminya menyentakkan Mun dari ingatan. “Kamu kan tahu, saya sangat cinta anak-anak. Pulang ke rumah, yang membuat saya amat senang, bila sudah dikerubuti anak-anak. Mereka memang bukan darah-daging saya, hanya ponakan-ponakan saya, tapi perasaan saya mereka adalah anak-anak saya. Mereka adalah anak-anak kita, Ma….”

Anak-anak! batin Mun meratap. Anugrah yang satu itu belum juga diberikan Tuhan padanya, walau usia pernikahannya sudah jelang tahun keempat. Rumah besar ini memang selalu riuh dengan suara anak-anak, tapi Mun ingin mendengar suara anak-anaknya sendiri.

Setiap suaminya berangkat bekerja, Mun merasa penghuni rumah yang lain tidak ada lagi yang mengenalnya. Di keluasan kamar yang seakan salah satu ‘kantong udara’ di dalam perut sang raksasa, tempat Mun menyendiri, di situ dia merasa terus mengecil.

Semakin tidak tahan berada di perut sang raksasa, akhirnya Mun memutuskan akan ngotot meminta suaminya mengeluarkannya dari rumah besar itu, dari perut sang raksasa, sebelum dia habis dilumat.

***

Ingatan pada perjalanan hidupnya memang banyak yang telah lindap. Sebagian yang bertahan mengendap, malah ia anggap serupa imajinasi saja. Kerap ia termangu, berpikir jangan-jangan perjalanan hidupnya itu memang hanya sebuah cerita, atau rangkaian adegan di dalam sebuah film belaka?  ***


Pangerang P. Muda, menulis cerpen di beberapa media cetak dan daring. Kumpulan cerpennya yang terbaru Tanah Orang-Orang Hilang (Basabasi/2019). Berdomisili di Parepare.

Buku, Resensi

Revolusi dari Ladang Bawang dan Gandum

Oleh Setyaningsih

Puisi-puisi Pablo Neruda (1904-1973), meski diberi judul 100 Soneta Cinta (2019) yang secara personal dipersembahkan kepada seorang perempuan sekaligus istri dari pernikahan ketiga, Matilde Urrutia, adalah cara lain untuk mencintai kejelataan, rakyat, alam, negeri. Neruda sengaja tidak memilih cara yang keras atau megah seperti tertulis di persembahan, “Tetapi, dengan penuh kerendahan hati, aku membuat soneta-soneta dari kayu belaka; aku memberi mereka bunyi dari benda yang kusam dan murni ini, dan begitulah mereka akan menyentuh telingamu.”

Sebagai penyair yang turut dalam percaturan politik Cile, puisi-puisi Neruda memang suara dari revolusi yang tenang. Di sini, unsur tetumbuhan begitu lekat muncul sebagai metafora sekaligus lanskap kehidupan rakyat yang dekat dengan tanah, matahari, keringat, batu bara, dan kehidupan. Tetumbuhan pernah hadir memperdengarkan manis dari cinta, di sisi lain tepat menggambarkan manis peluh perjuangan.

100 Soneta Cinta terbagi dalam empat babakan waktu; Pagi, Siang, Petang, Malam dengan penomoran romawi. Cerap puisi I, Matilde, nama tetanaman atau anggur atau batu,/ semua apa yang berasal dari bumi dan bertahan:/ kata kepada siapa tumbuh mekar pagi permulaan,/ kepada siapa kemarau memancarkan kilau limau./…/ O nama yang telentang telanjang di selusur bunga/ seperti sebuka pintu menuju lorong labirin rahasia/ yang mengabarkan dan mengobarkan wangi dunia!

Rubrik Iqra majalah Tempo, 6 Mei 2001, menampilkan ulasan tentang peraih Nobel Sastra 1971 berjudul “Pablo Neruda, Batavia, dan Kudeta”. Pada 1930, Neruda sempat dikirim ke Batavia sabagai staf konsulat Cile. Inilah masa-masa penuh kesepian akut dan tidak teredakan meski Neruda menikah dengan perempuan Jawa-Belanda. Selama dua tahun di Batavia, lahirlah puisi-puisi yang cenderung gelap dan surealis. Saat kembali ke Santiago pada 1952, Neruda beralih ke hal-hal biasa yang sangat keseharian. “Ia menulis ode untuk benda-benda remeh-temeh sehari-hari yang menjadi bagian hidup orang jelata seperti bawang, seledri, garam, gunting, tomat, sikat gigi, sepatu tua, dan anggur. Menurut Neruda, sebuah cakrawala benda yang tumbuh dalam bauran keringat, asap, diliputi bunga bakung dan air kencing. Benda-benda yang menurutnya dimiliki sosok rakyat dan dipenuhi noda tetesan sup.”

Peralihan corak puisi juga dipengaruhi oleh sikap politik Neruda yang menguat antara 1943-1947. Dengan melibatkan diri di Partai Komunis Cile dan terpilih menjadi senator, mendukung pemogokan besar pekerja tambang melawan kekuasaan Gonzalez Vida yang pro asing, melawan kediktatoran militer, justru menguatkan potret kejelataan dan perlawanan tenang dalam puisi-puisi. Politik memang ganas, puisi meredakan. Cerap, puisi XXXVI, Kekasih hatiku, ratu di sarang lebah dan pekarangan,/ macan kecil dari untaian benang dan bawang-bawang,/ aku senang memandang kerajaan kecilmu berkilauan:/ anggur, minyak, dan cahaya lilin yang serupa pedang,/ bawang putih, dan tanah yang terbuka bagi tanganmu,/ bahan-bahan biru yang berpendar di telapak tanganmu,/ perpindahan dari alam mimpi ke lembar-lembar selada,/ seekor ular yang melingkar di ladang, di parit-paritnya.

Terutama nuansa agraris hadir di puisi Neruda yang begitu romantik bersahaja memang suatu ironi saat Amerika Latin dirongrong kekuatan asing dan dibawa ke arus industrialisasi yang destruktif. Dari bawang, lembar selada, ulat, ladang, atau anggur, hadir pernyataan sikap moral Neruda untuk mencintai rakyat, negeri, dan Matilde secara khusus. Dari keterlibatan politik dan pengasingan yang keras, pembaca justru mendapati ketakjuban dari hal-hal yang tampak biasa saja.

Tentu, nuansa cinta yang sensual tetap masih dapat tersimak seperti pada puisi XII, Perempuan penuh, daging-tubuh apel, bulan panas berkobar,/ kental aroma rumput laut, lumpur dan sinar yang menyamar,/ rahasia terang macam apa yang terkuak dari tiang-tiangmu?/ Malam purba apa yang lelaki mampu sentuh dengan akalnya? Namun, Neruda bisa saja membolak-balikkan persepsi kita pada kemolekan perempuan yang sebenarnya menunjukkan kemolekan (tubuh) alam. Di sini, gejolak keseharian jauh dari yang politis sanggup diwakili, salah satunya oleh gandum yang menghidupi dan dihidupi setiap rakyat. Cerap puisi XIII, Rerumputan gandum padamu, pada hari yang baik,/ pada musim panen, serbuk tepung itu mengembang:/ bagaikan adonan yang tumbuh jadi buah dada cantik./ Cintaku, menunggu di bumi, adalah bara batu arang.

Kecintaan Neruda pada rakyat pun direkam oleh novelis kelahiran Cile, Antonio Skármeta, di novel Il Postino (2002) dalam hari-hari terakhir Neruda di desa nelayan Isla Negra. Neruda mengatakan kepada Mario si tukang pos bahwa dia lebih butuh penggali kubur daripada dokter, “Penggali kubur adalah profesi terhormat, Mario. Tidakkah kau ingat dalam Hamlet penggali kubur berkata: Tidak ada gentlemen kuno kecuali tukang kebun, penggali parit, dan para pembuat liang kubur; merekalah para penerus profesi Adam.” Gubahan Shakespeare tidak hanya referensi dalam kehidupan bersastra. Ada penghormatan sekaligus kekudusan besar dari profesi yang bersentuhan dengan hal-hal “bawah” secara harfiah maupun esensial.

Mereka yang dekat dengan tanah, tetumbuhan, dan keringat justru mewujudkan religiositas sehari-hari. Di puisi C, Neruda menulis, Alangkah indah dunia! Alangkah wangi peterseli!/ Di hamparan kemanisan, O kapal yang mengarungi! Dan kau, barangkali, permata—dan aku, barangkali./ Tidak akan ada lagi perpecahan pada genta-genta./ Tidak ada lagi apa pun selain segala adalah udara/ terbuka, buah-buah apel dimain-mainkan angin,/ lembar-lembar halaman buku lembab di beranda:/ Dan di sana bunga anyelir bernapas, kita akan/ mulai meluruhkan pakaian yang menghalangi/ keabadian sebuah ciuman kemenangan.

Puisi cinta Neruda memberi keberpihakan pada rakyat biasa, yang dalam kepentingan politik sering menjadi sasaran perbudakan, kapitalisme, kemarjinalan, dan kesengsaraan. Neruda mencintai kaum bawah dengan serius tapi manis seolah menemukan wangi peterseli, bau ladang anggur, atau apel-apel yang membawanya turut berada di pinggir untuk merasakan apa yang benar-benar dialami oleh rakyat dan negerinya. Memang, terkadang revolusi tidak dimulai dari wilayah serba melimpah dan mewah serta di bawah todongan bedil atau panji militer.


Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2020). Bisa dihubungi lewat surel: [email protected]

Puisi

Puisi Rizka Nur Laily Muallifa

Jagung Rebus Hangat

sore mengantar tetangga

ke teras rumah

dengan plastik bening

di cantolan sepeda

keceriaan berwarna jeruk

lekas berpindah tangan

bersama preambul paling rendah hati

kebetulan panci untuk merebus berukuran besar

muat untuk mendidihkan lebih banyak keceriaan

Bojonegoro, 2020


Memasak Batu

ibu memasak batu

di atas tungku ceklekan

dengan api sedang

di atas batu

tiga bungkus amin

menguarkan keringat petani garam yang khidmat

amis baju nelayan

berpacu dengan haus pemanjat pohon kelapa

menjelang bedug

laut dan perkebunan semarak di meja makan

kepada mereka,

amin mengumpat aman

Bojonegoro, 2020


Pulang

kita kembali pada hati masing-masing

dengan pengertian yang susah

tapi kesusahan apa yang layak jumawa

menjelma paling kuasa

tidak ada kesusahan yang benar-benar

kata berita di lini masa

kita hanya perlu menepis kabar

panggilan dan persemuan bimbang

semoga tidak ada lagi jalan yang rentan

sehingga kita tidak perlu berebut jembatan

di lintasan sungsang

Bojonegoro, 2020


Kesiangan

pagi terjadwal sejuk

di jalan-jalan kampung

kaki menginjak embun

dengan agak tergesa

di timur atap rumah

bayi matahari sudah merah

bidak-bidak toko mesti lekas dibuka

kaki yang terjadwal mengitari sepetak besar perjalanan

jadi makin tangguh

mengikuti paving jalanan yang bergelombang

Bojonegoro, 2020


Lebaran Wabah

      : dari film Negara, Wabah, dan Krisis Pangan

kelas menengah perkotaan

menonton dokumenter terbaru Watchdoc dengan kegeraman tak sudah-sudah

negara yang berkasih hijau

senantiasa menjamin rumah

bagi hasil pertanian orang lain

tapi melibas kesuburan tanah anak kandungnya

di kulon progo

di kendeng

di batang

di papua

di kalimantan

di mana saja

dalam kebenaran

anak negara yang tak pernah manja

mengandung pangan yang berdaulat

tapi bapak yang telanjur khilaf

tak pernah mampu melihatnya

Bojonegoro, 2020


Ramadan Masih Meriah

mikrofon tidak berhenti

menguarkan biji-biji ayat suci

dari suar musala

suara-suara berkisah lugu

dari pagi sampai siang berwarna merah

lalu beranjak serak dan berat

saat cahaya tenggelam di kiblat

setiap hari

musala-musala yang letaknya selemparan sandal jepit itu

riuh oleh ragam lamaran

baik yang pamrih

atau tidak sama sekali

(Bojonegoro, 2020)


Arief Budiman

hari ini aku membaca tiga kematian di cerpen

ketika istirah rampung,

cerpen kematian ke empat mengetuk kelopak mata

tokohnya bernama wangi

tokoh telanjur mati

meninggalkan banyak tanda seru

di titian kebudayaan, politik, sosial, dan kebangsaan

(Bojonegoro, 2020)


Tua dan Gembira

                : djokolelono

Usia memanggul kegembiraan demi kegembiraan

Ia ingin kesedihan dan tangis singgah sesekali saja

dan jangan sekali-kali berlebihan

Hidup ini humoris

Jangan cemberut apalagi cengeng

Nanti kamu digoda setan penunggu beringin tua di Wlingi

Juga jangan bermain-main di dekat beringin tanpa doa orang tua

Setan van Oyot bias menjelma apa saja

Kepalamu bias tiba-tiba benjol

Atau kau tersekap di kamar tak layak huni

(Solo, 2020)


Di Kereta Hijau

                : impian

kita sibuk pada diri masing-masing

mematut wajah di jendela

mereka sesuatu yang jauh

di balik jendela, aku melihat obat-obat

yang harus kau minum tiap pagi dan petang hari

di dalam obat-obat, aku melihat dirimu bergulat

dengan bayangan diri yang muncul di siang hari

sebelum aku terjaga

kau sudah menyanyikan puji-pujian Mbah Moen

yang dialamatkan pada Fatimah dan Khadijah

kesempatan perempuan menjadi waliyullah

lebih terbuka dan terasa masuk akal

“Tapi mana mungkin Gusti Allah menjadikankamu wali-Nya

Tampangmu tak ada bakat sama sekali untuk jadi wali”

waktu itu tangisku sembunyi di balik daun mata

bukannya menangisi ledekanmu

tapi ingat, hari ini kekasihmu menikah

(Solo, 2020)


Di Samping Peti Mati di Dalam Pesawat AURI

kekhawatiran Gie

tiba-tiba mencemaskanmu

justru saat adikmu yang keras itu

tergolek pasrah dimandikan para perawat jenazah

“apakah hidupnya sia-sia belaka?”

kau mengulang-ulang pertanyaan di dalam hati

di tempat tukang yang membuat peti mati

yang menangis tak henti-henti

jawaban itu kau peroleh

dan siap kau bisikkan pada Gie di dalam pesawat nanti

dari Malang, pesawat sempat istirah di Kota Ngarso Dalem

pilot AURI menciptakan kembang

menggenapi pembuat peti mati

istirah kalian hanya sepersekian jenak

sejak itu, dadamu terasa lebih longgar

pesawat bersiap menuju Jakarta

tanganmu menelusuri peti

berupaya mencari di mana letak persisnya telinga adikmu

(Bojonegoro, 2020)


Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Dalam masa-masa riang pasca menerbitkan buku puisi bersama beberapa kawan. Buku puisi itu Menghidupi Kematian (2018). Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, ideide.id, langgar.co, dan beberapa lainnya.