
Cerpen juara lomba tidak selalu cerpen terbaik. Tapi ia tetap cerpen yang menang. Dalam kompetisi, menang itu ya menang, meski kadang yang kalah diam-diam lebih jago, cuma kurang hoki, atau terlalu jenius untuk dipahami juri yang sedang lapar.
Sudah jadi semacam hukum tak tertulis bahwa cerpen juara biasanya memenuhi kriteria yang sangat teknis: rapi, sesuai tema, unik, kebaruan, karakter kuat, dan punya semacam ganjil yang masuk akal, semacam mimpi makan kerupuk tapi bisa kenyang sungguhan. Lalu tentu saja harus patuh aturan. Jangan sampai kamu kirim cerpen 1.800 kata padahal batasnya 1.500. Juri tidak akan memotong 300 kata untukmu dengan cinta. Mereka akan memotongmu dari daftar nominasi dengan rasa lega.
Mari kita tarik napas sejenak. Apakah semua cerpen bagus bisa juara? Tentu tidak. Kadang cerpen yang sangat bagus justru terlalu bagus, hingga tak dianggap relevan dengan tema. Atau gaya bahasanya terlalu berani, tokohnya terlalu liar, ending-nya terlalu jleb sampai juri merasa tertampar. Dan percayalah, tidak semua juri tahan ditampar pakai fiksi. Maka cerpen itu pun gugur, bukan buruk, tapi karena terlalu terang di antara lampu yang redup.
Ironinya, cerpen pemenang kadang bukan yang paling membuat dada sesak atau kepala berdenyut. Ia menang karena cukup bagus dalam segala hal. Ibarat murid teladan yang tak pernah terlambat, tak pernah bolos, nilainya 8 ke atas, tapi tidak bikin guru terisak atau bertepuk kagum. Biasa saja. Tapi stabil. Dan stabil itu menang.
Ada pula hal lucu, cerpen bagus secara teknik, punya struktur kuat, tapi jatuh pada tema klise. Misalnya anak yang berjuang keluar dari kemiskinan dengan membaca. Klise, tapi kalau dieksekusi dengan gaya segar dan karakter yang tak gampang dilupakan, bisa jadi yang bikin juri luluh. Apalagi kalau tokohnya diberi nama unik macam Gusti Singkong atau Adinda Serabut. Unik itu menyelamatkan. Kadang lebih dari makna.
Fenomena lain yang patut dicatat, kadang cerpen menang bukan semata kekuatannya, tapi karena kelemahan pesaingnya. Seperti ikut lomba lari di mana semua peserta lain pakai sepatu kebesaran, dan kamu satu-satunya yang memakai sepatu lari. Kamu mungkin bukan pelari tercepat, tapi paling siap. Maka, kau pun juara. Hal ini sering terjadi di lomba bertema sempit, misalnya cerpen bertema teknologi dalam keluarga petani. Banyak peserta gagap, kebanyakan malah bikin cerpen soal traktor yang bisa kirim WA. Dan cerpenmu yang sederhana, tentang bapak yang belajar pakai Google Maps demi antar hasil panen, jadi tampak seperti karya sastra mutakhir.
Dan mari bicara soal juri. Juri bukan dewa-dewa Olimpus. Mereka manusia, yang punya selera tertentu, trauma tertentu, bahkan jam tidur tertentu. Cerpenmu bisa gagal hanya karena dibaca saat juri sedang lapar atau baru habis bertengkar dengan anaknya. Maka, kalau mau cerpenmu juara, tulislah sesuatu yang kuat dan fleksibel. Yang tetap terasa nendang meski dibaca sambil lalu di kereta atau saat ngopi sambil membalas chat istri.
Tapi jangan kecil hati. Kalau cerpenmu tak menang, bukan berarti ia buruk. Bisa jadi ia terlalu liar untuk kandang yang dijaga ketat. Atau terlalu serius untuk lomba yang hanya cari hiburan. Kadang juga cerpenmu bagus tapi kamu lupa menyertakan biodata. Atau kamu menamai file dengan: final_fix_banget_editan_terakhir_semoga_juara.docx, yang justri membuat panitia trauma membuka file-nya.
Lomba itu seperti adu nasi goreng. Juri tidak mencari nasi terenak sedunia, tapi nasi yang paling cocok dengan lidah mereka hari itu. Maka, menang bukan berarti terbaik, dan kalah bukan berarti terbuang. Yang penting, tetap masak. Tetap menulis.
Cerpen juara tetaplah cerpen bagus, itu tidak bisa dibantah. Tapi bukan satu-satunya cerpen bagus. Jadi, jangan buru-buru mengubah gayamu hanya demi selera. Tulis yang kamu percaya, poles dengan teknik, dan kirim. Kalau menang, syukuri. Kalau tidak, simpan, kirim ke media, atau bacakan di forum kecil. Kadang cerpen yang ditolak lomba justru lebih panjang napasnya.
Ujung dari semua ini bukan piala atau hadiah. Tapi getar di dada pembaca, senyum di bibir juri, atau diam-diam seseorang telah menyimpan cerpenmu karena merasa mirip hidupnya. Dan itu jenis kemenangan megah.[] Redaksi

That is a great tip particularly to those fresh to the blogosphere.
Short but very precise information… Thanks for sharing this one.
A must read article!
Thank you for your attention.