Cerpen

Urusan Kita Belum Selesai

Cerpen Yeni Kartikasari

Sebenarnya, di mana Jon? Urusanku belum kelar. Ada banyak perkara yang ingin kubicarakan. Sekarang, aku sudah terkapar di sini, diliputi penyesalan setebal kabut yang menghalau pandangku. Secepat mungkin, aku harus bertemu dengannya.

“Jon!”

Di sekitarku, seperti kebanyakan orang yang tampak gamang, aku berusaha mencari Jon. Kuedar pandang ke segala penjuru—barangkali ia berada tak jauh dari sini. Tak lama, kabut berangsur naik, awan-awan tersibak memunculkan sengatan matahari. Setelah mataku berhasil melihat, di padang berpasir ini, mengapa wajah semua orang begitu aneh dan asing? Di antara mereka ada yang tak punya mata, mulut, dan telinga. Adapula tangan, kaki, dan kepalanya buntung.

“Jono! Temui aku, Jon! Aku temanmu! Aku…” Aku lupa nama dan aku tak kenal siapapun di sini. Semua orang tampak cacat dan buruk rupa. Begitu pun diriku. Walaupun, ragaku utuh, tapi kulitku sehitam arang.

“Muncullah, Jon! Kau di mana?”

Ketika aku melihat tubuh manusia setengah hewan, ragu apabila kusebut salah satu dari orang-orang yang berkepala anjing, babi, atau ular itu sebagai Jon. Seingatku dulu Jon pernah bilang bahwa orang yang selalu berbuat baik, tak akan mungkin dibangkitkan pada hari akhir dengan bentuk buruk. Aku sendiri tahu, Jon orang baik. Dulu, ia sering datang ke majelis ilmu dan selawat. Kepada siapapun, aku kerap melihat Jon memberi wejangan tentang pentingnya salat dan membaca kitab bagi seorang muslim.

Setelah kupikir, mustahil jika Jon berada di dekat sini. Aku berlari menerjang orang-orang di sekitarku sambil membawa keyakinan bahwa mungkin sekarang, Jon berada di suatu tempat bersama orang-orang yang semasa hidupnya takut dosa. Mungkin di ujung sana, Jon sedang bersama orang-orang yang tubuhnya utuh bercahaya dan tak merasa udara sepanas ini. Aku sangat yakin karena Jon memang orang baik. Aku ingin bersamanya. Semoga Jon masih mengenaliku.

“Tolong, Jon! Selamatkan aku!”

Lama tak ada jawaban, aku berhenti, lalu mencoba melihat tubuhku—keringatku terus mengalir. Tapi, aku masih bisa mengendalikan diri di tengah orang-orang yang sedang berguling-guling atau berlari menabrak satu sama lain. Oh Tuhan, apakah ini yang dimaksud Jon bahwa kelak manusia akan berterbangan seperti laron? Jika benar, seharusnya aku juga kebingungan dan lari tunggang-langgang mirip mereka.

Tentu aku berpikir seperti itu karena semasa di dunia, aku jarang beribadah dan bersedekah seperti Jon. Selain tak punya waktu dan tak punya banyak uang, aku malas berurusan dengan kegiatan agama, terlebih jika itu disaksikan banyak orang. Aku tak mau disebut-sebut alim, apabila sedang melakukan hal-hal baik, sementara apabila aku sedang mabuk, aku risih mendapat omongan buruk dari masyarakat.

Namun, jika memang aku sedang ingin beribadah dan bersedekah, aku lebih memilih sembunyi-sembunyi. Kata Jon, pahala tidak ditentukan dari banyaknya orang yang melihat. Aku setuju itu. Jika sempat, diam-diam aku menggelar sajadah di kamar—bersembayang sekhusyuk mungkin, meski aku tak benar-benar percaya Tuhan. Terkadang, juga kubuka kitab—membaca satu dua huruf arab yang bergandang-gandeng, kemudian kututup kembali lantaran tak tahan terbata-bata. Kalau lewat jalan raya, kerap kujatuhkan juga uang receh—harap-harap ada yang mengambil, walau itu cuma sedikit.

Hanya itu yang mampu kulakukan. Tak bisa dibandingkan dengan Jon yang celengan pahalanya begitu besar. Jon rajin beribadah, bersedekah, dan selalu berbuat baik. Aku ingat ia begitu mulia karena mau mengajakku datang ke majelis selawat. Untuk pertama kali dalam hidupku yang tidak terlalu menyenangkan ini, mencoba mendatangi acara itu, aku terpukau mendengar suara pemimpin selawat yang kelewat merdu. Orang itu bersyair panjang sambil menengadahkan tangannya dan mengajak penonton menirukannya. Berbeda dengan acara pengajian yang ceramahnya selalu membuatku mengantuk, aku justru ingin menangis memperhatikan semua orang serempak mengucapkan syair yang tidak bisa kuikuti. Kala itu, aku menoleh ke arah Jon. Jon menatapku tersenyum.

“Kau hapal semua?” tanyaku

“Tidaklah. Cuma beberapa.”

“Aku tidak tahu lagu-lagu, kecuali Ya Rasulallah.”

“Nanti juga tahu. Yang penting suatu saat bisa dapat payung nabi.”

“Payung nabi?”

“Ya. Orang yang suka selawat akan dapat payung nabi di hari akhir.”

“Meski aku pemabuk?”

“Meski kau pemabuk.”

Akhirnya, sebulan sekali, aku sering mengikuti Jon ke acara majelis selawat di kota-kota terdekat. Terkadang kami berangkat berdua, tapi lebih sering Jon membonceng teman perempuannya. Walaupun di depan panggung, tempat laki-laki dan perempuan dipisah, Jon lebih suka berbincang dengan teman perempuannya setelah acara selesai, sementara aku dibiarkan sendiri sampai kemudian kita bertemu lagi di kos. Di perjalanan pulang, aku sering mampir di angkringan untuk makan malam, atau jika benar-benar kesepian, aku nekat mlipir ke terminal membeli bir. Sebab aku belum bisa untuk tidak meneguknya sama sekali.

Sampai suatu kali, ketika aku benar-benar ingin bertanya perihal hukum membawa perempuan ke majelis selawat, padahal keduanya belum menikah, Jon justru bermuka masam dan menyerangku dengan pertanyaan beruntun.

“Apa salahnya? Kau tak suka? Kenapa kauurus hidup orang?”

“Loh, aku cuma tanya.”

“Aku ajak dia biar sama-sama masuk surga. Sama seperti aku ajak kamu. Malah sebelum aku nawarin kamu, dia udah sering ikut majelis dulu.”

“Kenapa kau marah?”

“Siapa yang marah?”

“Kau tak sadar dengan nada bicaramu?”

“Apa?”

Sejak kejadian itu, aku tak pernah mengikuti Jon ke majelis selawat. Namun, masih sempat beberapa kali aku bertanya kepada Jon, apakah manusia bisa menentukan dirinya masuk surga atau neraka. Mengingat jawaban Jon tak pernah memihak, untuk hari-hari berikutnya, ketika kami berpapasan di kos, kami hanya bertegur sapa seperlunya.

Mata Jon selalu nyalang menatapku. Ia selalu bertanya, “Apa?” Setiap kami bertemu. Aku memilih diam karena apa yang keluar dari mulutku dapat menjadi penyebab pertengkaran. Seperti, ketika jam tiga malam Jon baru pulang ke kos dengan leher merah-merah mirip gigitan serangga, aku yang pada saat itu bertanya, “Dari mana?” langsung disahut dengan kata-kata kotornya.

“Anjing! kenapa kauurus hidup orang!”

Kalimat itu cukup kuat melukai hatiku. Esoknya, aku pindah kos. Jelas aku marah. Tapi, aku tak bisa meluapkannya. Aku tahu setiap laki-laki memerlukan perempuan untuk menemani hidupnya.

Enam bulan setelah itu, kami lulus kuliah dan tak pernah bertemu lagi. Jon pulang ke kampung halamannya, sementara itu aku sudah berencana melanjutkan hidup bersama kekasihku. Usai menikah, istriku bilang bahwa aku harus memperbanyak selawat. Hal itu bukan supaya masuk surga, melainkan untuk mendapatkan syafaat. Aku tahu apa itu syafaat. Syafaat adalah sebuah pertolongan seperti payung nabi yang pernah Jon katakan.

Seiring istriku bicara bahwa di hari kebangkitan nanti, terdapat golongan yang tidak kepanasan, meskipun matahari setinggi satu mil di atas kepala, sebab seorang nabi telah memberikan payung terhadap umatnya, sontak aku teringat segala kebaikan Jon. Jon adalah orang pertama yang mengenalkanku pada dunia majelis selawat. Aku menduga, kelak Jon pasti menjadi salah satu orang yang mendapatkan syafaat. Maka, alangkah buruk bagiku, jika aku menjauhinya dan tak pernah meminta maaf kepadanya. Aku ingin bertemu Jon.

“Azka?” suara lembut itu masuk ke telingaku. Ya, Azka adalah namaku. Siapa yang membisikkannya?” Kini ingatanku terpecah-pecah. Aku tak sadar sudah berlari sejauh mana. Kakiku keram. Aku melihat tubuhku—semuanya tetap hitam. Mulai kurasakan mulutku berbicara, tetapi aku benar-benar tak menggerakannya.

Jon! Teriakku dalam batin. Belum sempat aku menyusun ingatan tentang apa yang terjadi dalam hidupku, aku dikejutkan oleh manusia berbadan ular yang menggelepar di tanah. Manusia setengah ular itu semakin mendekatiku dan dalam sekejap ia melilit tubuhku. Aku takut. Namun, aku bisa cepat melepaskan diri, lari tunggang-langgang melewati orang-orang, seolah-olah aku dapat menembus mereka.

Beberapa saat, aku tidak tahu mengapa aku berhenti di tempat yang tak lagi berhawa panas. Keringatku hilang. Seluruh badanku sejuk. Kupandang langit, tiada lagi matahari setinggi satu mil di atas kepala.***


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Puisi

Puisi Listio Wulan Nurmutaqin

Peta Yang Terhapus

                        :  Dari anak-anak Palestina

1/

Telah terhimpun berpuluh tahun

Luka belum cukup

                            Membebaskan

                             Mengikat mimpi-mimpi

                                Masa kecil kami

Debu membahasakan setiap bagian tubuh

                              Memanjangkan retaknya

Pada tulang-belulang

Berserak sepanjang jalan

                             Setelah kami diburu

                              Dirajam peluru 

Maut tertawa berloncat

                             Kegirangan

Dari satu puing runtuhan

Ke reruntuhan lain

                               Sambil terus berteriak

Pergilah dengan bara api ditangan!

Kemanakah kami harus pergi?

2/

Di sini, kami menggambar sebuah peta

                         Yang dicetak

                          Dari darah dan sejarah

Dada-dada rompal meletuskan

Serpihan tajam cahaya kata-kata

                              Menjelma rajah berisi

                            Dosa-dosa

                             Yang tak pernah kami buat

Di bawah matahari yang mekar

Rumah serta sekolah kami

                          Dibom dan dibakar

                          Langit penuh kembang api

Siang dan malam

Jam demi jam        

                      Kaki-kaki musuh

                      Menginjak leher dan jantung

                       Memotong pena dan jari-jari

Tapi kami akan terus menulis

                Dari darah dan sejarah

Menggambarkan rumah ke dalam sebuah peta

Barangkali, rumah adalah denah yang terhapus

Hancur terbawa angin sekejap embus

Mungkikah masih ada tanah yang bisa kami tinggali?

Selain dinding-dinding penuh lubang di sini?

2023


TIDAK ADA MAKAN SIANG GRATIS DI SINI

Senin datang tergesa-gesa

Lembur tak pernah alpa

Kerja, kerja, kerja

Kenyataan menampar

Beraduk di kepala, pecah berpendar

Pagi ini Jakarta biasa-biasa saja di antara segala keruwetan

Serta permohonan cuti yang diabaikan

Atau teror bos menjelang deadline kerjaan

Atau teman yang ngajak nongkrong tiap akhir pekan

Atau beli iphone terbaru meski dengan cicilan

Atau hasrat hidup dengan cara fancy di kos-kosan

Sama dengan berhemat gila-gilaan

Bawa bekal telor dadar atau lanjut mi instan

Tidak ada perayaan

Tidak ada makan siang gratis di sini

Segalanya begitu pelik dan naik

Hanya sisa remah-remah impian

Di negara yang enjoy rebahan

2024


DAFTAR BELANJA

Di pasar, mimpi adalah daftar belanja

Terselip di kantong plastik hitam

Labu,wortel dan beberapa sayur pucat

Seperti cemas menyaru sekilo cabai rawit

Yang sering cilukba tiba-tiba

Hidup terasa lebih perih dari merica

Mengingat daftar lain yang tak boleh terlewat

Beli susu formula, bayar cicilan rumah, arisan tiap bulan

Selalu alpa disubsidi

—nyeri inflasi di dada

Berbagai toko mimpi berjejer sepanjang jalan,

Para penjual membawa papan harga dengan huruf besar-besar:

Hanya untuk hari ini

Kau mengantre paling pagi untuk membeli kebahagiaan

Dan kesehatan dengan harga paling

Mahal, agar tak kadaluarsa sepanjang zaman

Setengah kilo harapan dan beberapa ikat kepastian

Sudah diskon habis-habisan, kau tahu: ada harga lain yang harus dibayar untuk sebuah kepastian

2024


MENCICIPI PUISI (1)

Setelah menyantap kesepian

Yang menyedihkan

Mencecap pedasnya hidup

Asin kangen dan gurih kenangan

Kau bepikir untuk memasak banyak puisi

Dengan banyak bahan

Majas -majas segar berwarna cerah

Diksi dan irama 

Yang diolah sepenuh hati

Dicampur bumbu-bumbu kemungkinan

Membuat puisi kadang terlalu manis dan matang

Atau masih amis serupa kecemasan

Puisi tetaplah hidangan terbaik

Yang ingin kau berikan

Dengan banyak rasa dan tafsir

Meski kau sadar

Baginya puisi seperti basi dan hambar

Cintamu telah siap saji

Bekasi, 2023


MENCICIPI PUISI (2)

Puisi adalah santapan 

Diksi-diksi kutumis

Di wajan perenungan yang lama

Dapur sedang membakar dirinya

Frasa-frasa matang dikupas kata

Bekas-bekas ingatan yang dilalui

Patah hati, mimpi-mimpi atau kecewa

-Bercampur

Menjadi santapan sedikit asin atau pedas

Kering atau berkuah

Biarkan kenangan menentukan rasanya

Bekasi, 2023


Listio Wulan Nurmutaqin. Kelahiran Brebes yang kini tinggal di Bekasi. Beberapa karyanya terbit di media cetak dan online. Buku puisi antalogi tunggalnya Tokoh Utama (sastranomina). Bergiat di Kelas puisi Bekasi ( KPB ).

Cerpen

Tidak Boleh Ada Dua Surga

Cerpen Puput Sekar

Aku berterima kasih kepada Dasim, karena berkat kepiawaiannya menghancurkan rumah tangga salah seorang pesohor, aku pun ikut mendapat keuntungan.

Dasim mendapat bonus dari bos besar, aku pun sama. Dasim mendapat pujian dari para petinggi, aku pun tidak kalah dipuji oleh mereka. Padahal pekerjaanku bisa dibilang teramat mudah. Sekadar mengarahkan mata dan telinga mereka untuk membaca serta mendengar berita kehancuran rumah tangga, maka sudah dengan sendirinya para manusia-manusia dungu itu bereaksi.

Apakah kalian juga mendengar gonjang-ganjing di wilayah yang sering dikatakan sebagai potongan surga yang tercecer ke bumi?

Kondisi alamnya yang indah seperti surga.  Ada tumbuhan menghijau, gunung tinggi, awan biru, dan mutiara kekayaan yang berserakan di daratan, tertimbun di dalam bumi, tersimpan di lautan, dan bergantungan di angkasa. Ada pula sungai-sungai mengalir di bawahnya.

Memang tempat itu seperti potongan surga. Tetapi percayalah, belakangan ini tempat yang dibilang surga itu semakin terasa panas, meski tidak bisa kukatakan seperti neraka, tetapi hawanya tidak sejuk lagi.

Namun tidak mengapa. Terpenting bagiku adalah manusia-manusianya. Di sana hidup manusia yang mudah kuperdaya. Sehingga memudahkan pekerjaanku untuk merekrut kawan-kawan yang akan mengikuti jalanku.

Oh, ya, kita kembali bicara tentang Dasim. Jadi karena keberhasilan Dasim menghancurkan rumah tangga itu sontak memberikan efek domino terhadap kemudahan tugasku.

Sebab setelah rumah tangga pesohor itu berantakan,  lantas aib mereka dapat dengan mudah diketahui oleh semua orang. Hai, tentu saja itu adalah pekerjaanku. Mengembus-embuskan kabar ke penjuru bumi, lalu membumbui dengan berbagai macam aib yang mereka buka sendiri.

Sementara aku bekerja, Dasim saat ini tengah berpesta pora. Ia bak kesatria yang pulang dengan kemenangan dari medan peperangan. Bonus yang Dasim dapatkan dari hasil pekerjaannya sungguh berlimpah. Sebab bukan hanya hancurnya rumah tangga pesohor itu, tetapi juga ada aib rumah tangga yang terbuka luas.

Aibnya bahkan dipergunjingkan oleh siapa saja.Alih-alih sebagai bahan pembelajaran bagi mereka yang mempergunjingkan. Padahal,asal tahu saja, bahwa sesungguhnya rumah tangga mereka- para penggunjing-adalah target Dasim selanjutnya, hanya tinggal kapan Dasim akan mengeksekusinya.

Bukan hanya pergunjingan, tetapi ada pula ujaran kebencian dan hujatan, dan seperti biasa setelah kami bekerja, kami ikut menonton kebodohan mereka. Bagaimana tidak bodoh, mereka menghujat dan membela orang yang tidak mereka kenal, bahkan bertemu sekali saja mereka tidak pernah.

Betapa dungunya kelakuan mereka. Akan tetapi tidak mengapa, itu tandanya kerja kerasku berhasil. Memang benar kata para junjunganku; menggoda orang-orang dungu itu legit dan empuk ketimbang menggoda mereka yang berilmu. Menggoda mereka yang berilmu membutuhkan upaya lebih keras, ketimbang menggoda orang pandir dan mudah menelan berbagai kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta senang berceloteh padahal mereka hanya mengetahui sebatas kulit saja.

Kedunguan selanjutnya adalah ketika mereka saling hujat di antara sesamanya. Hujat-menghujat kepada orang yang tidak mereka kenal satu sama lain, untuk urusan remeh-temeh, untuk urusan yang tidak mempengaruhi kehidupan mereka, juga tidak menambah pundi-pundi emas, tetapi jika pun ada orang yang mendapatkan keuntungan materi dari hasil gonjang-ganjing tersebut, kukatakan bahwa itu sedikit sekali, sisanya adalah orang-orang pandir yang berceloteh dengan pemikiran-pemikiran bodoh mereka sendiri.

Namun lagi-lagi tidak mengapa. Aku senang, sangat senang. Dengan begitu- seperti yang kukatakan di awal-aku juga ikut mendapatkan pujian oleh para junjunganku.

Sejak Adam terlempar dari surga ke dunia, hingga aku hidup di dunia yang sekarang ini, berbagai perubahannya telah kulalui. Kemudahan teknologi menjadi sebuah landasan untuk memudahkan tugasku. Sesungguhnya aku ingin berterima kasih juga kepada manusia pandai pencipta media.

Bayangkan jika tanpa media, pekerjaan kami menjadi berat. Kami harus terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengembuskan kabar bohong maupun nyata yang tidak menyenangkan untuk didengar. Kami harus membisikan ke telinga manusia satu demi satu untuk membuat mereka saling berseteru.

Tetapi dengan adanya media, kami bisa dengan mudah membuat mereka saling membenci dengan mempertontonkan aib mereka. Ya, ya, ya, aku tahu, bagi mereka menonton kesalahan orang lain adalah hiburan yang mengasyikan. Melihat aib orang lain dibuka, adalah kenikmatan yang tidak mereka sadari.

Aku telah berhasil mencabut rasa malu dari hati mereka, sama halnya dengan keberhasilanku mencabut rasa empatinya. Tanpa empati mereka mudah melakukan tuduhan dari apa yang mereka lihat. Mereka hanya percaya dari pandangan mata saja. Lalu tanpa mengetahui kejadian sebenarnya, mereka dengan mudah membuat tudingan-tudingan keji.

Aku telah berhasil membalik pandangan mereka, menulikan pendengaran mereka untuk tidak mau menerima kebenaran. Aku telah berhasil mengarahkan jemari mereka untuk mengetikan ujaran-ujaran kebencian sehingga sewaktu-waktu bisa berakibat fatal bagi mereka sendiri.

Tentu saja itu bukan hanya buah dari kerja kerasku. Kebodohan dan kemalasan mereka dalam mendekat kepada Tuhan menjadi andil yang besar untuk kesuksesanku. Apakah mereka lupa, berapa banyak orang yang telah dekat kepada Tuhan saja bisa kutipu dan kuperdaya, apalagi sekumpulan orang-orang lemah yang hanya mengaku dekat dengan Tuhan, namun sejatinya hati mereka mencintai gemerlap dunia dan isinya?

Jadi sekarang aku sedang menonton hasil kerja Dasim dan hasil kerjaku. Kini mereka meributkan hal-hal remeh-temeh. Mereka saling berseteru, padahal mereka tidak saling mengenal. Mereka mengatakan puas ketika telah memberikan ujaran kebencian, ketika telah menghujat, ketika telah mengatakan bahwa yang mereka sampaikan adalah kebenaran.

Ah, kebenaran macam apa yang mengikutsertakan hawa nafsu untuk dibilang benar? Mereka mengira apa yang dilakukannya adalah sebuah amal, ha-ha-ha, sungguh mereka tertipu dengan bisikanku.

Untung saja mereka lupa, eh, atau barangkali tidak tahu, bahwa syarat sebuah amal adalah jika niat murni karena Allah, Tuhan semesta alam, dan juga dilakukan dengan cara yang sesuai dengan aturan yang telah dibuat oleh Tuhan.

Kelakuan mereka membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Begitu mudahnya mereka kutipu. Lucunya telah berulang kali kutipu, mereka tetap tidak menyadarinya. Kau tahu? Sesungguhnya kubisikan di telinga mereka, bahwa dengan menghujat, memaki, membela sesuatu yang mesti dibela merupakan amal baik pula, tidak peduli bagaimana caranya, dan tidak peduli siapa sasarannya.

Jadi, ya, aku tengah bergembira. Jangan rusak kegembiraanku dengan kabar baik lainnya. Aku menikmati pekerjaanku sebagai si penipu. Sebab semakin banyak orang yang tertipu, maka akan semakin besar kesempatanku untuk menarik para manusia itu untuk hidup kekal bersamaku.

Di mana? Ah, ya, sudah barang tentu bukan di surga. Sebab aku begitu dengki melihat mereka yang kini hidup enak di tempat yang katanya potongan surga ini. Tentu saja, tidak boleh ada dua surga untuk mereka.***

Sleman, Mei 2024


Puput Sekar, lulusan Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Jakarta. Menulis novel Elang dan Bidadari, Republika 2012, Beo Zelga, Prudencia 2020, Splash Love in Seoul, Prudencia, 2021, Joko Klobot dan Nyi Kemretek, NAD Publishing, 2023. Kegiatan saat ini adalah aktif menulis di komunitas Nulis Aja Dulu, Terus Saja Tulis, dan Opinia. Penulis bisa dihubungi di Facebook: Puput Sekar, IG: @puputsekar_putse, dan email: [email protected]