Puisi

Puisi Dewis Pramanas

MENETAP PADA IMPIAN YANG SAMA

gumpalan rindu

bersarang di dinding ingatan

melekat bagian palung hati

mengalirkan doa-doa mesra

tentang merajut mahligai

sekian lama sendiri

berpacu dengan upaya

meraih pundi-pundi masa depan

membaca peluang tuk kembali

menjemput kasih yang belum usai

dari celah-celah percakapan

ada percikan asa yang mengudara

biarlah masa lalu

menjadi musim semi yang gigil

lalu kita bersenandung kenang

aroma parfum itu

dan berjajar lampu kota

kita disuguhi pesona renjana

menetap pada impian yang sama

tuk menua bersama

di altar paling bahagia

Subang, 17 Februari 2026

____________________

ANALOGI MUSIM

Sebagian kemarau hilang

Terkikis oleh hujan

Ia mendinginkan gersang ambisi

Yang menguasai isi kepala

Hingga berhamburan angkuh

Tetesan air dari sisa gerimis

Mengajarkan kelembutan jiwa

Bahwa tak ada yang menenangkan

Selain mendengar suara gemercik

Dijatuhkannya percik-percik paling perdu

Kemarau hanyalah anomali bumi

Namun panasnya mampu melalap syukur

Disana ia menjadi antagonis yang ulung

Tetapi semua akan berakhir

Setelah hujan mencuci kaki-kaki langit

Sepanjang jarak waktu

Keseimbangan semesta

Fotret perhitungan yang cermat

Kemarau dan hujan

Seperti dua mata pisau

Menjaga kewarasan manusia

Subang, 21 Februari 2026

____________________

LAGI-LAGI MAAFKAN AKU!

Pada sepasang bola mata yang basah

Tersimpan kilau mutiara kasih

Waktu menjadi saksi penerimaan

Duniamu berputar terbalik

Maafkan aku!

Pada wajah setiap pagi tersenyum

Setiap aku membuka mata

Tangan dan kaki tanpa alas

Menerbangkan ribuan harapan

Meski lara kau pikul di punggung itu

Maafkan aku!

Pada nada lisanmu nan merdu

Kau mengajarkan indahnya saling

Juga tentang hati selembut kapas

Menerjemahkan cinta tanpa tapi

Terus bertahan lewati nasib

Yang tak manusiawi

Maafkan aku!

Teruntuk pemilik hati ini

Kini jiwaku seperti rumput

Perlahan-lahan kering

Terjemur terik matahari

Lagi-lagi maafkan aku!

Subang, 11 April 2026

____________________

HINGGA TUTUP USIA

di rinai hujan

kau menjamah sketsa proses

menembus dinding waktu

semua tentang bulir tragedi

juga tentang juang

pada usia kita yang senja

titik pencapaian telah diraih

kau tetap menabur peduli

tak membedakan status

dirangkul dengan hangat

membuka rangkaian album

bergejolak dinamika hidup

aku yang masih papa hari ini

tak sedikit pun kau menjauh

dari perjalanan panjang

kita tetap

hujan kali ini

memberi kabar

menyesakkan dada

kau berpulang

meninggalkan harap

yang tak sempat terwujud

Subang, 2 September 2025

____________________

PENERIMAAN TINGKAT TINGGI

Takbir berkumandang

Tangis haru mengudara

Setelah sekian lama terpisah

Menjelajahi jalan kemapanan

Teruntuk keluarga

Kau membuka bahagia

Tentang pertemuan itu

Tanda maaf terpasang di dinding hati

Segenap rindu tumpah ruah

Suka cita merayakan mahabah

Hari raya saat ini

Aku bisa tersenyum

Menjadikannya pernik-pernik elegi

Berganti puisi-puisi tentang cinta

Sambut hari kedepan

Genggam kuat tiket optimis

Terima ketetapan Tuhan  

Ialah cara bagaimana belajar menerima

Tingkat tinggi

Subang, 23 Maret 2026

____________________

Dewis Pramanas. Lahir di Subang,1 Maret 1987. Hobi menulis puisi dan membaca buku membawanya aktif bergiat di berbagai komunitas literasi daring. Buku puisi tunggalnya berjudul Perindu Hujan (2021) sementara karya-karya puisinya juga termuat di sejumlah media daring. Baginya, menulis adalah ruang untuk membebaskan imajinasi dan menyuarakan keresahan hati. Instagram: @dewispramanas

Puisi

Puisi Eko Setyawan

ENTITAS

apakah malaikat memiliki sayap?

dalam segala yang semu

pertanyaan di kepala sering kali menggebu.

ia perlu jawaban

tapi kadang, jawaban akan semakin memusingkan.

dan juga menjelma pertanyaan liyan.

di dunia kita,

sejak lama orang-orang memercayai

ia terlahir dari cahaya.

tanpa pernah mampu terlihat oleh mata manusia.

tapi bagaimana cara mengenali

tanpa melihat yang hakiki?

kita ada di batas pengetahuan.

di dunia yang gelap

malaikat menjelma cahaya

tanpa mampu diketahui wujudnya.

di hidup yang terang

barangkali telah menjadi badai,

menerjang gelombang, dan memecah sunyi sepi.

dan selalu begitu, sepanjang waktu.

lalu ke mana Jibril selepas menyampaikan wahyu?

(Surakarta, 2025)

____________________

DARMA

sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?

seperti Budha tidur

aku terlelap di antara sunyi dan sepi.

kucoba mengenali nama-nama hari.

sejak aku beranjak pergi bekerja

sungguh, aku tak mampu mengenali sesiapa.

pencarian

adalah jalan lain menemukan

meski sering kali tanpa akhir.

sebab mencari dan menemukan

sama halnya menafsir ketiadaan.

ketika matahari mekar

cahayanya tak mampu dikenal

tapi dapat dipahami.

sebab di sana, kita akhirnya menemukan diri sendiri.

mencari diri

menemukan yang hilang dan membangunnya kembali.

lalu kita kembali lagi bertanya

sesungguhnya, kehidupan ini untuk apa?

(Sukoharjo, 2025)

____________________

HAWIAH

berdosakah aku

jika aku sejenak melupakan-Mu?

dalam ragu, kadang,

kepalaku melahirkan tanda tanya

mungkin juga memikirkan dosa.

di sana muncul pertanyaan

yang sejauh ini tak mampu mendapat jawaban.

sungguhkah neraka itu ada?

aku mencari jalan dan jawaban

tapi tersesat dan terjerembab

kian dalam dan kelam.

aku di antara percaya dan melupakan

percaya apa yang diimani

tapi amnesia mengamini

lupa bahwa seharusnya

aku sepenuhnya milik-Mu

bukankah begitu?

aku ragu.

sebab sejauh ini

belum lagi kudengar jawaban dari-Mu.

(Surakarta, 2025)

____________________

ALEGORI IBRAHIM

dalam mimpi yang dingin, dalam lelap tidurnya

Ibrahim mendapatkan kunjungan, entah siapa.

ia gugu dan ragu. dalam mimpi itu,

ia menerima bisik semu.

: sesuatu perlu dikorbankan.

sebab sejak dulu,

garis takdir telah ditentukan.

kita membayangkan, kala itu,

barangkali Ibrahim dipenuhi gelisah dan resah.

ia tercenung dan merenung.

dirinya di antara kalah dan pasrah.

bahkan mungkin juga heran dan penasaran

: sesungguhnya aku ini Ibrahim, Abraham, atau Brahma?

lalu dunia berputar kian cepat.

serupa bianglala, ia di antara

ketinggian dan kegamangan.

tapi Tuhan telah memutuskan.

sejak itu, ditahbiskanlah sebuah firman

dan barangkali, ia menjelma iman.

pada dalamnya keraguan,

ia masih saja mempertanyakan:

: sesungguhnya, leher ini kupersembahkan untuk siapa?

sunyi menghinggapi.

di antara ragu dan pilu.

Ibrahim mantapkan laku

: dalam tubuhku mengalirkan-Mu.

dalam aku, sepenuhnya milik-Mu.

ia tahu, seorang ayah, harus bertanggung jawab.

meski tak semua orang tahu

matanya sembab.

(Surakarta, 2025)

____________________

ALKISAH

kau melipat puisi

menjadi subuh.

di langit,

cahaya tiba dibalut suara.

rumah kami porak-poranda.

seseorang, atau beberapa,

mengirim bencana di halaman kami.

kami memungut air mata yang tumpah.

kau memungut tanah.

mereka menjanjikan sumpah serapah.

di langit kami,

cahaya bisa saja jadi neraka.

malaikat tiba begitu terlambat.

rumah kami kadung musnah.

di halaman rumah kami,

Tuhan sedang menyusun teka-teki.

(Sukoharjo, 2025)

____________________

Eko Setyawan. Lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Guru SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo. Buku puisi yang telah terbit Merindukan Kepulangan (2017), Mengunjungi Janabijana (2020), Manten (2022), & Suatu Ketika Kita akan Dewasa (2023). Buku Mengunjungi Janabijana meraih penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah tahun 2021 Kategori Buku Puisi Terbaik. Meraih penghargaan Insan Sastra UNS Surakarta tahun 2018, serta memenangkan berbagai lomba penulisan puisi dan cerpen.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Gulai Daun Singkong

Aku tak sepantar dengan genjer

sebab kampungku bukan hamparan sawah

tempat ikan-ikan geladir

laiknya lele dan belut

menempuh hidup di atas lumpur.

Aku bukan kangkung

saban hari memencilkan maut, terdampal kaki, tercabik pangkur petani

dan menempuh petikan sebuah jari

atas tubuhku yang bukan gitar.

Daun-daunku serupa jari mekar

rimpang di batang lurus

aku pernah dibelai angin dan dihinggapi kunang-kunang

juga membantu manusia menemukan peradaban

ya, cemilan keripik.

Dahulu, nasab pertamaku bernama getuk

pergi bercinta dengan daki-daki kelapa

berbulan madu di atas sepeda

berkelana

ke halaman-halaman sekolah.

Demi lidah

aku melepas tangkai di musim yang bukan panen

dan lesung lumpang bukanlah satu-satunya cara

membuatku menjadi lunak.

Sekali waktu

ibu mengenalkanku dengan wajah wajan

tempat bersuci dengan segala kental santan

maka aku bercita-cita

menjelma gulai

demi bertapa barang sehari

di bawah tudung saji.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ayam Pecak

Api tak mematangkan tubuhku

melainkan minyak goreng bersekutu dengan rentang waktu

juga lembar-lembar resep itu

yang tak tahu malu

lantaran memberitahu:

“1001 cara mengolah ayam”

Aku meminta ampun pada pasukan bawang

juga dulur cabai

yang menasehatiku bahwa kematian

akan bertandang dari gerusan batu bundar.

Dari muhibah sebuah lidah

juga sinis piring-piring

manusia berpura melawatku:

Membawa lumpur pedas, melempar garam dolpin,

menabur kembang bunga-bunga kemangi.

Sungguh celakalah aku

lampus diperkosa lidah

namun tak pernah

dilirik suatu hukum.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Indomie Ayam Bawang

Telah kusobek indomie ayam bawang

di hadapan buku-buku George Orwell

berdampingan dengan air bening suci

yang kulunasi kala sore

dari depot lelaki tua.

Telah tertuang molto pada helai-helai kain

dan ketika tabung mesin cuci berkedut

aku berlari menyatroni angka-angka yang melimbang

panel rahim listrik.

Di hadapanku

sapu biru tampak cemburu

yang sedari pagi belum kusentuh

dan minggu ini

barangkali aku pendosa

yang diberi ampun buku catatan

—Raqib dan Atid

Lantaran menyiksa tubuh rumah

sedang mataku tampak bermaksiat

lantaran luput, membaca buku-buku.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Mie Lontong

Kala nasib meminang

gegas kau lepas baju panjang yang mengering

lalu merebah di atas misbah berdebu

menunggu kekekalan terpenggal

bening mata pisau.

Dengan lekat kau terbaring di atas piring

bersuci dengan kuah-kuah santan

sedang helai-helai mie gomak hanyalah selimut

yang kau kenakan sebelum sekubit taoco

mengajakmu ke rahim gelap

di mana sebuah mimpi

tercipta dari rongga-rongga mulut.

Dari negeri gelap itu

kau menunggu pagi

di antara keheningan kamar mandi

dan merelakan tubuhmu

jatuh ke pusara

yang basah

dan hanya sejengkal.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Tumis Taoge

Tanah mana yang kau ingat

bukankah dahulu, kau serupa helmet serdadu

bersembunyi di balik kulit tanah

menunggu hari-hari melunasi

namamu sebagai kecambah.

Ketika panjang menyertai

dan almanak memberimu umur yang cukup

kau merantau ke besi panci

mengharumkan namamu pada sebuah bumbu

demi diramu

telapak tangan centong.

Namun hari itu

kau percaya

bahwa lidah manusia adalah celaka

yang memeluk tajam dagingmu

luruh tak bernyawa.

Pematangsiantar, 6 April 2026

____________________

Ilham Nuryadi Akbar. Lahir di Banda Aceh dan saat ini menetap di Kota Pematangsiantar. Beberapa puisi dimuat media lokal dan nasional seperti: Koran Tempo, Koran Jawa Pos, Republika.id, Suara NTB, Koran Radar Banyuwangi, Omong-omong.co, Sastramedia, Lensasastra, Harian Rakyat Sultra, Sumenep.news, ideide.id, Literasikalbar, Riau Sastra, Litera.co, dll. Emerging Balige Writers Festival (BWF) 2025.

Puisi

Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Buku-Buku Tertawa

Melihat seorang penulis

tertidur kalah bertarung

dengan deadline

yang meninjunya hingga terkapar.

Semoga penulis yang budiman itu

bisa bangkit lagi keesokan harinya.

Purbalingga, Januari 2026

_____________________

Berita Pagi Ini

Seorang penulis ditemukan

tidak sadarkan diri di kantornya

setelah menelan ratusan pil puisi.

Diperkirakan ia meninggal

karena overdosis cinta, harapan

dan imajinasi.

Semoga di kehidupan

selanjutnya ia bisa lebih bijak

dalam mengonsumsi puisi.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Tahun Baru

Ingat nasihat

kalender di akhir tahun

lalu

“Hidup harus terus berjalan”

gagal, tangis, duka, suka, tawa,

gelak, cinta, senang, riang

adalah musim yang silih berganti

dalam hidupmu.

Selamat hidup kembali

Selamat menikmati

Semoga saling asyik-mengasyiki.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Rimba

Tidak ada yang lebih berbahaya

dari belantara kata

yang diciptakan oleh imajinasi

seorang penulis yang membuat

pembaca tersesat di

dalam sajaknya untuk

selama-lamanya!

Purbalingga, Januari 2026

________________________

IPK

Aku hanyalah

angka-angka

bisu yang

tidak bisa

bicara pada

proses interview.

Purbalingga, Januari 2026

__________________________

Anak Sulung

Tiang pemecah

gelombang yang harus

tetap gagah

meski

badai menghantamnya

ribuan kali.

Purbalingga, Januari 2026

_________________________

Yanuar Abdillah Setiadi

Lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Dua buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023) dan Melihat Lebih Dekat (2024).  Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023.  Buku terbarunya Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (Penerbit Kolofon Yogyakarta,2025) Instagram: @yanuarabdillahsetiadi.

Puisi

Puisi M. Z. Billal

STRUKTUR TUBUH KENANGAN

helai rambutnya                                  

adalah ratus ribuan peristiwa

rasa hari yang kemarin

wajahnya                                            

adalah peradaban dari tahun-tahun

yang sunyi; yang juga berbunyi

tulang dadanya                                  

adalah gerbang agung memasuki sebuah

portal rahasia bernama jiwa

sepasang lengannya                            

adalah serikat rindu yang menyibak

sejumlah keajaiban memeluk

kedua telinganya                                

adalah instrumen yang mengalunkan

lagu-lagu tenang yang menyembuhkan

otot perutnya                                      

adalah tempat persembunyian

luka-luka pedih yang gemar tertawa

selangkangannya                                

adalah kebun yang menumbuhkan buah dan bunga

yang tidak pernah tumbuh di dunia

tungkai-tungkainya                            

adalah jarak panjang yang harus ditempuh

dari dunia ke surga; ke hutan dan laut

jari-jemarinya

adalah nama dari berbagai jenis sentuhan

yang menguarkan aroma waktu

seperangkat netranya                         

adalah mesin penjelajah yang liar berburu

langit dan ciuman-ciuman

hidungnya                                          

adalah hamparan kota sibuk yang berjuang

mengendus bau para pembawa mimpi

dua katup bibirnya                             

adalah siaran radio yang mengudara memenuhi

musim hujan dan panjang kemarau

air matanya

adalah muara kepulangan tempat sejumlah perahu kecil

memanggil nama ibu mereka

2025

__________________________

INDIGO

aku tak pernah berhenti menulis.

menulis puisi-puisi ini. kutulis terus.

kutulis saja. kulepaskan semuanya.

kekacauan biar saja kacau; luluhlantak

seperti bencana masa lalu. dan keheningan

biar saja hening. suara-suara membuatku

terapung. terapung hingga menembus

langit lembayung. dan aku terurai.                                         

terurai

            b     e     r    d     e    r     a   i.

     l           e          r          a          i

            renyai seperti hujan

pekan pertama april.

dan semuanya akan sangat membekas

seperti rindu yang tak pernah lepas.

karena aku selalu berharap kau bukanlah

orang yang pergi itu. kau akan menetap

di sini, di pelukanku. takdir cuma bercanda

saat kulihat kau melepaskan lambaian terakhir.

sebab kau pasti tahu bahwa kesembuhanku

membutuhkan waktu yang tidak singkat.

bahkan kalender akan mati berguguran

melawan peperangan dalam puisi ini;

di mana setiap kota yang kukunjungi

hanya memberiku sentuhan kecil

yang mengingatkanku padamu.

            dan sialnya lagi, rindu terus berjalan.

            dalam kekacauan, dalam keheningan

            yang sulit kuhentikan.

2025

__________________________

BANGUN PAGI TAPI SUDAH TIDAK RINDU

aku pulih. hari-hari kelamku telah berlalu.

bekas luka tak pernah menghilang, ia adalah

pelajaran dari masa lalu. meski nanti nyerinya

bisa datang kapan saja. setidaknya aku tersenyum

saat mengelusnya. kuhela napas menyambut

pagi demi pagi yang hangat datang dari masa depan.

berjalan ke luar rumah, ke jalan-jalan yang sibuk

dengan perasaan yang baru; rindu telah lebur

dan terbang ke angkasa, ditiup angin menjauh.     

ia telah jadi burung-burung bangau. seribu bangau.

seperti doaku yang berhamburan ke langit:

semoga kebahagiaan menyertaimu, dan bangun pagiku

tak perlu lagi resah. karena rindu ini telah ikhlas melepasmu.

2025

__________________________      

MEMBASUH LUKA

aku menulis puisi

dan kulepaskan ia berlari

ke dalam hujan yang turun

pada pertengahan februari.

            ia tertawa keras sekali

            lalu melambaikan

salam perpisahan kepadaku;

aku akan merindukanmu

dengan cara lain jika nanti

masih ada waktu.

kemudian dia menghilang

selamanya. menyisakan sebuah tanda

yang tak pernah kutahu

apa namanya. tapi aku tahu itu apa.

2025

__________________________

HAL-HAL TIDAK RUTIN TAPI AKU SUKA KARENA ITU PENTING

#1

kupeluk tubuhku dan kucium berkali-kali

bocah lelaki yang bersemayam di pondok kayu

di bawah rimbun flamboyan kuning;

diriku yang lucu dan menggemaskan

pada masa silam. ia yang selalu

ingin pulang dan tidur lebih lama

di atas kasur kenangan yang mahir

menyerap luka.

dan pada beberapa pagi dalam sepekan

kutanyai ia akan mengerjakan apa

hari ini. lalu ia akan menjawab

dengan kata-kata yang sama:

menyembuhkanmu.

ya, menyembuhkanmu!

#2

aku membicarakan lagi tentang

sejumlah cinta yang hebat di dada ibu

pada petang-petang tertentu untuk episode

yang entah ke berapa aku tak pernah

menghitungnya. dan meminta ibu untuk

melepaskan kerisauannya.

sebab kesedihan ibu adalah yang paling

berbahaya di muka bumi. bila setitik saja air mata

jatuh ke pipinya, maka sebuah badai

akan datang dan menggulung semua

peradaban.

dan tiap ketika pembicaraan itu berakhir

ibu merangkai sejumlah kata sebagai penutup.

yang membuatku tersungkur

di kakinya berkali-kali saat aku

mendengarnya:

rindukanlah selalu cinta ibu nanti

rindukanlah. sebab rindu adalah

pelukan kasih sayang

berumur panjang.

#3

satu hal yang paling kusuka ketika

menutup percakapan di ruang obrolan malam

denganmu; manusia kesukaanku,

adalah saat kau mengirimiku emoji

sepasang beruang imut saling merengkuh

pelukan hangat ke dada masing-masing

lalu percikan berbentuk hati menyertainya.

kau tampaknya mahir

menghangatkan dingin malam

yang memasuki tubuhku.

dan saat kubilang aku menyukai

hal-hal lucu yang kaukatakan,

membuatku ingin terperangkap dalam

mimpi yang selalu ada kau

di dalamnya. kau justru mengirimiku

sepucuk puisi pendek

yang menggetarkan:

aku ingin memiliki sebuah pelukan

yang bernama dirimu. ya, namamu.

2024

__________________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

merawat luka

bapa, hari ini aku terberkati. surat yang kutulis merah, berubah biru. kau tahu jika sejak menemukanmu, bahagia itu sepele. tawaku bisa sekeras salak anjing. di saat yang sama, aku tersedu, persis saat air susuku tak juga keluar usai bersalin.

bapa, ganjil adalah apa yang terlanjur kuingini. sedang kau, terus saja berhasil menggenapkannya. mungkin kau kira aku akan lelah dan terkapar seperti hamster. rakus menyembunyikan remahan hingga pipi hampir meledak. tidak. tapi tidak, bapa. aku hanya butuh satu petunjuk, lalu akan tidur seperti babi.

bapa, malam ini hujan. entah kenapa hujan lebih sering jatuh saat malam. mereka bilang, agar tidur lebih lelap. bagiku, tempias membawa aroma ketiak yang lama hilang.  jika petir melantakkan sepi, aku justru beku. bukankah itu siksa?

bapa, kau hafal artimu bagiku. aku sudah belajar menjaga air suci: milikmu. kau ajarkan agar tetap hidup di kematian. mimpi adalah kehidupan. aku gagal menjadi jahat. masih tak cukup pantaskah meminta welasmu, bapa?

Desember 2025

__________________________

Kangen

Kabur dari rumah karena wifi lemot,

duduk memesan secangkir kopi di kafe

Desember 2025

__________________________

Reinkarnasi

“Jika aku hidup usai mati, maka kubunuh kau, lagi,” katamu

Angin berembus

Aku benar-benar akan mati

Desember 2025

__________________________

Septi Rusdiyana. Tinggal di Yogyakarta

Puisi

Puisi Maria Utami

Pledoi Hujan di Tanah Sumatra

Jangan tatap aku sebagai pendosa pembawa petaka,

aku hanyalah air yang patuh pada titah musim.

Datangku adalah rindu yang pulang mengetuk pintu,

namun bingung harus merebah di mana,

sebab hulu terkunci nafsu.

Jika kini aku meluap menjelma bah yang garang,

bukan karena ingin menenggelamkan harapan.

Tanyakanlah pada bukit-bukit yang berdiri telanjang:

ke mana perginya akar purba yang dulu memelukku tenang?

Aku jatuh mencari dahan serta rerimbunan daun,

tapi hanya bertemu tunggul mati yang tak lagi santun.

Tanah tak punya daya untuk menahan laju,

membiarkanku liar menerjang apa saja yang kutuju.

Berhentilah mencari kambing hitam di balik kelabu,

tengoklah jejak gergaji yang memangkas paru-paru.

Banjir ini adalah air mata hutan yang dipaksa diam;

aku hanya bertugas, kalianlah yang lupa etika meminjam.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

______________________

Gugatan dari Penghuni Belantara

Air bah ini bukan tamu yang kami undang,

ia datang menagih akar alam yang kalian buang.

Rumah kami bukan lagi rimbun yang teduh,

melainkan tanah mati yang tak mampu menahan keluh.

Kami, yang jumlahnya kini dihitung jari gemetar,

dipaksa berenang di atas air mata hutan yang liar.

Kalian rampas atap kami demi kertas dan juga meja,

membiarkan kami hanyut bersama dosa yang kalian eja.

Dulu kami lari dari moncong senapan dan jerat,

kini bingung saat tanah pijakan ikut berkhianat.

Hutan gundul tak lagi punya rahasia untuk nyawa,

tak ada dahan kokoh mendekap kami yang tersisa.

Saat kalian sibuk menghitung rugi di kota yang basah,

kami di sini menghitung detak napas yang pasrah.

Kelak, katakan pada cucumu tanpa alibi:

kami punah karena rumah ini digadaikan,

lalu kalian tenggelamkan sendiri.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

______________________

Di Bawah Kibaran Panji Seragam

Hutan yang dulu riuh dalam ribuan bahasa,

kini dipaksa berbaris rapi, lupa caranya tertawa.

Segala yang liar dan berbeda dianggap dosa,

diganti satu rupa demi deretan angka di atas meja.

Di sana, hijau bukan lagi rimbun yang bernyawa,

melainkan kesunyian yang ditata paksa manusia.

Tanah memikul beban akar asing yang egois,

menghisap air tanah hingga ke tetes paling krisis.

Hujan meluncur deras tanpa sempat ditepis,

sebab jejaring purba di dalam tanah telah terkikis.

Bumi tak lagi menjadi ibu yang memeluk manis,

sekadar mesin produksi yang diperas hingga tipis.

Jadi, jangan heran saat sungai meluap membawa dendam,

bukit kehilangan tangan untuk mendekap malam.

Di hamparan monokultur yang angkuh serta rapuh,

kita sedang menggali kubur sendiri, pelan dan patuh.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

________________________

Di Tepi Riwayat yang Basah

Air masuk tanpa permisi, merobek hangat ruang tamu,

menyisakan rangka rumah yang mendadak bisu.

Segala kenang juga tawa hanyut seketika,

jejak hidup dihapus arus yang datang membawa duka.

Malam pecah oleh gemuruh, tangan-tangan terlepas paksa,

teriakan ibu ditelan angin yang mendadak tuli rasa.

Ada tubuh kaku dipulangkan arus dengan kelam,

sisanya menggigil di atap, mendekap malam yang suram.

Rindu menjadi jarak yang tak terjangkau perahu karet,

hanya doa tersisa, tersangkut di ranting yang macet.

Lapar dan dingin kini memeluk tubuh tanpa sungkan,

menunggu bantuan yang datang perlahan dalam ketidakpastian.

Di bawah tenda darurat, mata nanar menatap kehancuran,

manusia kembali menjadi tumbal dari keserakahan zaman.

Inilah panen pahit dari dosa ekologis yang ditanam,

buahnya selalu berupa air mata yang terendam.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

_______________________

Di Atas Meja Transaksi

Di mata mereka, rimba hanyalah angka yang menunggu cair,

gergaji melolong merobek sepi, memutus takdir.

Segala yang bernapas dipaksa mati jadi lembar rupiah,

menukar paru-paru bumi dengan keserakahan yang pongah.

Hijau bagi Tuan bukan kehidupan, melainkan emas semata,

membangun istana megah di atas tanah yang kini buta.

Riwayat hutan dihapus demi grafik laba yang mendaki,

tak peduli pada sungai yang kering juga satwa yang lari.

Mereka tertawa riang di balik tembok gedung yang dingin,

merasa menang menaklukkan tanah, air, dan angin.

Padahal mereka sedang menggali liang lahat sendiri,

menunggu saat alam datang menagih janji yang ngeri.

Yogyakarta, 01 Desember 2025

_______________________

Maria Utami. Ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Sebagian naskah puisinya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.

Puisi

Puisi Cahaya Daffa Fuadzen

Kuyang Membeli Labubu

Di swalayan penghancur iman

aku melongo menyaksikan Kuyang

terbang dengan jeroan yang melayang

menjemput Labubu sedang mendekam

dalam blind box seperti ia saban hari

ingin melahap janin dalam kandungan.

Lalu Sang Kuyang menghampiriku

dengan kepala miang berkeluh kesah

sebab dirinya usai dirundung gelisah.

“Maharnya sungguh mahal.

Aku terpaksa menggadai

tubuhku hingga menyisakan

kepalaku demi bisa membeli

Labubu untuk anakku

tersandung FOMO, agar ia lekas

berhenti menggerutu sebab

kawan-kawannya lebih dulu

membeli Labubu limited edition.”

(2025)

_______________________

Liturgi Nasi Kuning

Dari dapur kecil tercium

molekul wangi kunyit yang

mengepul seperti aroma

bumbu habang melumat

mulut Acil Kintul.

Ia pun menguning berkat

sumpah yang dikukus oleh

rempah leluhur dengan

bau tungku memukat jelang pagi.

Bersama taburan serundeng,

disajikan di atas mini altar bagi

perjamuan kecil dari ragam ibadah.

Tak akan menanyakan silsilah,

ia hanya penasaran apakah

tanganmu ikut menyuap bersama

doa-doa yang tak seamin denganmu.

Ia adalah pesan singkat yang

ingin disampaikan bersama

kepala haruan dan dibagikan

secara nikmat yang setara.

Barangkali, itulah cara ia

bersua dengan kita yang

dibungkus daun pisang sebagai

wasiat mun tanah kita segera

menua juga langit ikut memudar.

(2025)

______________________

Dongeng Belom Bahadat

Pada sebuah lantunan sempuri purba

aku simak sangat suara Kai Piduka.

 “Belom Bahadat, anakku,

ialah tubuh adat bagai rajah iban

melekat di atas kulit dadamu.”

Kai Piduka kian masyuk membalada

kisah Belom Bahadat serupa tetua

kayu bakar datang membawa kabar.

“Belom Bahadat, anakku,

ia membentang bersama Anoi

yang telah tumbang demi

bepekat besar tanpa sempat

bicara dengan angin begasa.”

“Dan, berkat Belom Bahadat

mereka tak saling melayangkan

mandau, bukan?” Ujarnya.

“Begitulah Belom Bahadat menetaskan

kepada mereka serupa acil menguntai

erat janur dengan simpul ikat mati,

serupa kain kebat merangkul punggung

hangat tambi adat.” Pungkasnya.

(2025)

_____________________

Cahaya Daffa Fuadzen. Aktif bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Puisinya termaktub dalam antologi bersama Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025. Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 Kategori Puisi.

Puisi

Puisi Hikmalsst

Di Pelataran Hati

Pada malam yang penuh kerinduan,

aku berbaring di pelataran hati,

memandang kelopak mawar kesedihan,

yang layu karena derai air mata.

Lama tak tergoyahkan oleh senyum,

pemiliknya kini rambutnya rontok,

dan badannya layu karena badai kemo.

Tidak ada lagi kecupan di pipi,

tak ingin memicu air mata yang tak ingin jatuh.

Apa arti hidup yang tersisa begitu?

Pulanglah, tinggalkan aku di pelataran ini,

engkau butuh istirahat, malam ini dan selamanya.

Mustahil tak cemas, tapi aku tak bisa janji,

hanya berharap kau bisa tidur tenang malam ini.

(8 November 2023, Pelataran Hati)

____________________

Kota Kecil Sengsara

Terkenang masa kecilku di kota kecil sengsara,

Nembang pangkur di pagi buta bersama buyung di gendongan,

Mengantar bapak pergi bekerja dengan hati gembira.

Ombak melompat di dermaga, camar bermain di tiang sampan,

Namun, panji-panji nelayan kini rapuh seiring tarian pandan,

Samudera yang tenang tak lagi memandang segala yang berharga.

Lalu lalang perahu di laut, dulu dihantam gelombang waktu,

Si buyung kini dewasa, beristri dan beranak,

Bapak tak kembali, ibu sudah lama berpulang.

Ombak kecil tak lagi menggelitik pantai berpasir,

Laut digutik pengungkit dan peti kemas,

Tawa anak-anak yang dulu padam satu per satu.

Aku tahu tak mungkin lagi pulang ke kota yang dulu riang.

(24 Oktober 2023, Kota Kecil Sengsara)

_____________________

Dari Balik Jendela Kehidupan

Dari balik jendela kehidupan di lantai dua puluh,

Kulihat peti-peti kemas dan besi ungkit di dermaga,

Bunyi mesin, peluit, dan siren menghapus ombak dan gelombang.

Tak ada pasir, tak ada pantai, dan tarian palem sirna,

Di aspal pembatas laut hijau dan biru, kapal feri menanti berlayar.

Ingin kuciptakan puisi tentangnya,

“Gaunnya selembut awan, wajahnya semolek kembang,”

Seperti masa di mana kota belum dijajah oleh tangan-tangan pembangunan.

Namun, keindahan hanya milik laut yang tabah dalam meditasi purba,

Tak ada yang indah dari pemandangan yang tak bersahabat ini.

(24 Oktober 2023, Jendela Kehidupan)

___________________

Langit Sore Menyapamu

Hai, apa kabar?

Sudah lima belas tahun, kita tak bersua.

Bagaimana di sana?

Semoga baik-baik saja, tanpa kurang sedikit pun.

Aku ragu kau masih mengingatku, tapi kenangan tetap di hati.

Banyak yang berubah di kota ini,

Lahan kosong yang kita lewati setelah sekolah,

Kini menjadi toko serba ada, dan rumah kita hanyalah lahan parkir.

Tapi kenangan itu tak tersentuh waktu, seperti kita.

Saat ini, melihat fotomu terjatuh di buku,

Ketika aku hendak pindah rumah, kurasakan seperti menemukan kembali

Kenangan yang pernah hilang, yang belum pernah kuingat.

Saat langit senja berubah merah, aku ingin duduk di bawah pohon mangga,

Tempat kita biasa habiskan senja bersama, tapi aku pulang.

Usia membuatku ragu, dan angin sayup saja cukup untuk mengalahkanku.

Sepasang kupu terbang di antara dahan menyambut malam yang mendekat,

Langkahku terasa berat, seperti menginjak kenangan.

(4 November 2016, Langit Sore)

___________________

Kunang-kunang Setia

Saat padam suluh bambuku,

Kau temani langkah kecilku melintasi pematang yang gelap,

Tak lagi menakutkanku, karena ada engkau.

Burung hantu di rimba kelam, pusara di ujung jalan,

Aku tak mampu mengusir cemas yang mengganggu.

Namun, kilaumu, yang tenteramkan hati, mampu menghilangkan gemetar dalam langkahku.

Saat kilaumu, kunang-kunang, terkenang lagi di relung kalbuku,

Jalanku yang hampa menjadi bermakna, berarti karena cahayamu.

Suara sungai di kejauhan terasa sejuk, seperti masa kecilku.

Pulang lagi aku padamu, di kegelapan, di pendar sunyi,

Melambai-lambai dengan sabar dalam doa menuju kepastian.

Aku rindu saat dahulu, sebelum beranjak dewasa,

Saat kunang berkilau terang, cicada bernyanyi riang.

Kini, kilaumu tetap setia, memandu langkahku yang tak pasti.

(19 September 2022, Kunang-kunang Setia)

___________________

Hikmalsst (Hikmal Yazid). Pengajar dari lembaga madrasah dari berbagai tingkat, hikmalsst nama penanya selalu mengisi cela waktu untuk menyempatkan merekam kehidupan dengan aksara. 

Puisi

Puisi Maria Utami

Hujan Asap di Langit Kami

Kami datang, kumpulan helaan napas resah

dari dapur-dapur sempit juga gang-gang basah.

Suara kami hanyalah bisikan sunyi yang ingin didengar,

tapi langitmu menjawab aneh;

kau kirimkan hujan buatan yang pedih dan perih.

Bukan air bening, tapi kabut asap menyesakkan

memaksa kami menangis untuk alasan yang salah.

Beberapa dari kami jadi daun gugur sebelum waktunya,

jatuh ke aspal kelabu sebelum sempat mekar.

Nama mereka kini hanya gema lirih,

sajak duka yang tak akan pernah selesai ditulis.

Dan di balik jendela-jendelamu yang tinggi dan dingin,

jeritan kami hanya seperti rintik hujan di kaca,

terlihat basah, tapi tak pernah terasa di dalam sana.

Negeri ini perahu kertas yang kita layarkan bersama.

Tapi kini ia akan berlayar ke arah mana?

Langit membisu, tak ada bintang petunjuk,

dan kami di dalamnya hanya bisa menunggu fajar

dengan ritme yang tersisa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Duka, Murka, Linimasa

Dulu, kubuka kau seperti jendela pagi,

mencari sapa hangat atau secangkir kopi.

Linimasa ibaratkan beranda yang teduh.

Tapi saat ini, berandaku penuh kabar duka;

foto anak-anak negeri yang tak lagi bernyawa,

wajahnya jadi sajak paling pilu yang pernah kubaca.

Lalu wajah-wajah lain datang dari balik dasi,

mengucap kalimat hampa tak punya hati,

seperti dongeng yang dibacakan di atas bara api.

Dadaku sempit, asam lambungku naik.

Amarah dan mual bercampur di dalam benak.

Ponsel di tanganku yang dingin terasa panas juga berisik.

Jendela ini tak lagi memantulkan langit biru,

ia kini cermin retak yang menampakkan luka negeriku.

Ingin sekali kututup tirainya, tapi bagaimana aku bisa?

Jika di luar sana, di jalanan itu,

ada yang sedang bertaruh nyawa.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Payung Hitam

Payung hitam ini

bukan untuk menanti hujan.

Ia adalah atap bagi sebuah kesunyian,

langit kecil bagi doa-doa yang merana.

Di bawah naungannya, kami menjaga sebuah nama,

menjadi perisai bagi martabat yang tersisa

dari tatapan acuh juga janji-janji dusta.

Warna hitamnya adalah tinta paling pekat

untuk menuliskan dua kata yang tak akan berkarat:

“Tolak Lupa”.

Setiap kami berdiri di sini dalam diam,

kami sedang menanam benih harapan

di atas aspal yang kejam.

Jadi biarlah payung ini terus terbuka,

meski panas atau gerimis datang menyapa.

Ia akan tetap di sini, menjadi saksi yang tabah,

sampai langit di negeri ini benar-benar kembali cerah.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Doa Kekasih dari Seberang Layar

Di dalam kamar kosku yang aman,

perjuanganmu kupantau lewat layar ponsel.

Aku menghitung setiap wajah di lautan kerumunan,

berharap tak menemukan wajahmu di antara yang rubuh.

Asap tebal yang membubung di layar itu

terasa sesak hingga ke dalam dadaku.

Hatiku kini dua musim yang bertarung sengit:

musim semi yang mendukung keberanianmu,

dan musim gugur yang gemetar takut kehilanganmu.

Kupejamkan mata, kutitipkan namamu pada angin,

sebuah doa amat sederhana untukmu yang kucinta,

“Tuhan, jaga dia, kembalikan dia padaku utuh.”

Menanti kabar perubahan negeri

sama sabarnya menanti satu pesan singkat darimu nanti.

Sebuah pesan yang barangkali hanya berisi satu kata:

“Pulang.”

Dan kata itu akan jadi penyejuk hati paling berarti.

Yogyakarta, September 2025

___________________

Hanya Mata yang Berlayar

Kulihat sepasang suami-istri cemas di lorong rumah sakit,

anaknya terbaring sebab racun dari makanan gratis.

Kulihat seorang bapak menatap surat pajak

yang angkanya terasa lebih tinggi dari atap rumahnya.

Kulihat seorang ibu merapikan ijazah anaknya,

selembar kertas yang belum bisa membeli apa-apa,

doanya bagaikan gerimis yang turun setiap senja.

Kulihat seorang guru dengan kemejanya yang usang

mengajar aksara dengan semangat paling benderang.

Kulihat anak-anak muda yang berani punya suara

diikuti bayangan-bayangan gelap tanpa nama.

Mereka nyalakan api kecil di tengah malam buta

meski angin ancaman terus coba membuatnya sirna.

Aku tak di sana, tak di sini.

Aku hanya sepasang mata yang terus berlayar

di atas lautan duka negeri ini.

Yogyakarta, September 2025

____________________

Maria Utami, seorang ibu rumah tangga asal Kota Yogyakarta yang aktif menulis puisi. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Beberapa karyanya ada yang terpilih dan dimuat dalam buku antologi puisi. Sebagian naskah puisi lainnya juga sudah terbit di sejumlah media literasi digital. Dapat didukung atau disapa melalui akun Instagram: @maria.oetami.