Sosok

Yudhi Herwibowo: Mendobrak Batas Cerita Sejarah

Oleh Wahyu Indro Sasongko

Di dunia sastra, nama laki-laki kelahiran Palembang ini tentu sudah tidak asing lagi. Memiliki nama lengkap Yudhi Herwibowo. Ia mulai mengenal dunia literasi ketika menemukan sebuah buku catatan milik ibunya. Di dalam buku itu, Yudhi  mengetahui bahwa ibunya sering menulis puisi. Terlebih sebelumnya Yudhi tahu ibunya juga seorang pembaca. Tulisan pertama Yudhi, dimuat di media massa ketika duduk di SMP kelas 2, lalu setelah itu ia semakin rajin mengirim tulisannya di media. Namun, saat itu, keinginan untuk menggeluti dunia literasi belum sepenuhnya ada dalam benaknya.

Yudhi Herwibowo / dok. pribadi

Yudhi mengatakan, belajar menulis secara otodidak. Ia mencari dan menemukannya melalui buku-buku yang ia baca. Sampai akhirnya, nasib membawanya menempuh bangku kuliah di Solo, hingga menjadi salah satu punggawa Komunitas Pawon.  Tahun 2007, novel pertamanya yang berjudul Menuju Rumah Cinta-Mu terbit. Yudhi mengaku, sebelum tahun itu, ia banyak menulis buku-buku dalam konteks menangkap yang dikehendaki pasar, seperti buku bergenre humor dan ilmu aplikasi. Keinginan untuk mengubah jenis tulisan baru benar-benar Yudhi lakukan setelah buku trilogi Seven Samurai (2008) terbit. Novel yang berlatar belakang Negeri Sakura pada tahun 1184.

Keinginan dan berubahnya idealisme untuk menulis novel berbasis sejarah ia buktikan dengan terbitnya Pandaya Sriwijaya (2009) dan Untung Surapati (2008). Ia mengaku, buku-buku itu menjadi tonggak dan titik balik segala ide menulisnya, sampai saat ini. Novel berbasis cerita sejarah lainnya yang ia tulis adalah Halaman Terakhir (2016) yang bercerita tentang sosok Hoegeng, dan yang terbaru adalah Sang Penggesek Biola (2018) yang berkisah tentang sosok W.R. Soepratman.

Menurutnya, ide dari setiap naskah-naskah novel sejarahnya muncul dari imajinasi dan film. Jika kebanyakan penulis lain mendapatkan ide tulisannya dari buku-buku yang mereka baca, ia mengaku ide-idenya banyak ia dapatkan dari film-film yang ia tonton. Menurutnya, seorang penulis fiksi harus bisa menawarkan konsep-konsep tulisan yang tidak biasa.  Sebab ia meyakini, fiksi merupakan ide yang tidak bisa ditampung di dalam non fiksi. “Ia harus melampaui ide dari non fiksi,” kata Yudhi.

Melalui fiksi, seorang penulis bisa merayu pembacanya untuk berpihak pada seorang tokoh atau karakter dalam sebuah buku dan cerita pendek, jika di dalam non fiksi hal tersebut kemungkinan akan sulit untuk dilakukan. “Kelemahan buku sejarah tidak persuasif, tetapi kehadiran seorang penulis fiksi bisa menjadikan cerita sejarah menjadi persuasif. Seorang penulis fiksi harus mampu menghadirkan pertarungan gagasan dan ide segar dalam tulisannya,”.

Apa yang dimaksud Yudhi bisa kita temukan dari banyak cerita pendek yang ia tulis. Contohnya, dari dari buku kumpulan cerita pendek Lagu Senja yang diterbitkan Balai Pustaka (2006) mengambil sudut pandang tidak biasa, uncommon. Dalam buku itu, Yudhi mengisahkan seseorang yang jatuh ke laut, kemudian ditolong oleh manusia yang hidup di dalam laut. Atau seseorang yang menemukan sebuah pena, lalu apa saja keinginannya bisa terpenuhi setelah ia seseorang itu menulisnya. Hal-hal tidak biasa seperti itulah yang kemudian Yudhi kembangkan untuk membuat sebuah ide cerita. Terkhusus cerpen, eksplorasi Yudhi berkembang pada kumpulan cerpen selanjutnya yang berjudul Mata Air Air Mata Kumari (2010).

Satu sudut pandang yang lain dalam Yudhi berkarya, juga bisa kita temukan dalam jalan cerita Novel Pandaya Sriwijaya yang ia tulis. Dalam novel itu, Yudhi memandang keagungan Kerajaan Sriwijaya dari sudut pandang tokoh-tokoh kecil, salah satunya seorang putri yang bernama Dapuntamana. Tokoh-tokoh kecil inilah yang merangkai latar cerita tentang Sriwijaya pada abad ke 7 di tengah keterbatasan data sejarah. Namun, justru dari keterbatasan data itu, Yudhi menjadi lebih bebas menulis alur kisah  sejarah Sriwijaya.

Sebuah kebebasan menulis yang tidak ditemukannya, seperti ketika ia menulis Novel Untung Surapati. Karena data sejarah tentang tokoh tersebut sudah tertulis dalam berbagai babad sejarah Jawa, salah satunya di Babad Kartasura. Meskipun, dalam novel itu Yudhi melawan gagasan penulisan sejarah versi Belanda yang menggambarkan bahwa Untung Surapati itu seorang yang licik, suka main perempuan, culas, pengkhianat, hingga oleh pihak Belanda dijuluki sebagai “Begal Surapati”. Namun, dalam proses penulisan novel itu, Yudhi tidak mungkin mengubah jalan cerita sejarah Untung Surapati yang sebenarnya.

Menulis novel berbasis sejarah memang memiliki tantangan tersendiri. Tidak saja cerita itu sudah memiliki batasan seperti alur cerita dan penggambaran tokoh yang sudah tertulis sebelumnya. Menulis novel berbasis sejarah juga harus menjalani proses riset untuk mendapatkan data yang kuat dan akurat. Seperti ketika menulis Novel Halaman Terakhir, Yudhi harus bertemu langsung dengan keluarga Hoegeng untuk mendapatkan data untuk membangun perasaan sedekat mungkin dengan sosok Hoegeng dan Yudhi membuktikan kelihaiannya dalam menciptakan tokoh-tokoh imajinasi untuk menyiasati batasan dalam penulisan novel berbasis sejarah itu. “Saya harus mendapatkan ide tentang Hoegeng di luar sudut pandang yang sudah ditulis selama ini. Misalnya, tokoh wartawan yang saya ciptakan. Apabila tidak jeli, pembaca akan menganggap tokoh wartawan tersebut benar-benar ada. Terlibat dalam kasus Sum Kuning dengan leluasa. Selain itu, tantangan lainnya adalah rasa cemas kemungkinan akan adanya intimidasi. Mengingat tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Sum Kuning juga masih hidup,” ujarnya. Dalam perjalanan profesinya sebagai seorang penulis, sampai saat ini, Yudhi telah menghasilkan 39 buku.

Cerpen

Pasar Malam

Cerpen Eko Setyawan

“Kau tak ingin pulang barang sebentar untuk menilik ibumu?”

“Tidak untuk kali ini.”

“Mengapa?”

“Aku tak punya bekal untuk ke sana.”

Jalanan riuh dengan lalu-lalang kendaraan. Ia masih duduk di bangku taman dan menikmati deru motor dan mobil yang berseliweran. Gelap mulai turun dari langit. Matanya menatap jauh. Menerawang entah ke mana. Tatapannya kosong tanpa ada tujuan. Ia melamun memikirkan percakapan dengan kekasihnya. Lebih dari itu, ia sedang memikul beban di pundaknya, bahwa ia harus segera pulang. Menemui ibunya yang sedang sakit.

Ibu Jatmika sakit. Ia tak bisa menengok barang sebentar. Paling mentok hanya bisa mengirim uang. Itu pun tak seberapa jumlahnya. Di Jogja, ia sedang berusaha merampungkan kuliahnya dan berupaya mengumpulkan uang dari bekerja paruh waktu di kafé tengah kota. Jika dipikir itu cukup, maka salah besar. Uang itu habis dalam waktu sekejap. Untuk makan, membayar sewa kamar kos, juga memenuhi kebutuhan lain yang bisa dibilang tak membutuhkan banyak uang; fotokopi atau mencetak tugas kuliah.

Jatmika sendiri sebenarnya ingin segera pulang. Menemui ibunya dan memeluk dengan erat. Tapi apa boleh buat, keinginannya itu harus ditahan selama mungkin. Dipendam dalam rasa ingin yang terus bergolak. Serupa teror yang menakutkan dan selalu terngiang di kepala. Memburu tiada henti di dalam kepala. Sebuah pertemuan akan terlaksana jika ada niat dan yang paling utama adalah bekal. Karena pertemuan tanpa bekal berarti serupa masakan yang dihidangkan tanpa bumbu. Hambar dan tak dapat dinikmati. Begitulah rumitnya keinginan dan segalanya harus dipendam sedalam mungkin. Mengubur harapan dan keinginan yang lahir di dalam kepala.

“Kau tak ingin minum? Akan kubelikan,” kata Marina.

“Tidak. Lebih baik kau di sini saja menemaniku,” jawab Jatmika dengan asal. Lamunannya buyar seketika.

Di taman itu, mereka duduk berdua. Langit mulai meremang, pertanda malam mulai mengintip mereka. Tak jauh dari sana, di lapangan yang dekat dengan kantor bank sedang digelar pasar malam. Sebuah perayaan kecil untuk manusia yang sedang merindukan dan memerlukan kebahagiaan. Di pasar malam, banyak hal yang diciptakan oleh manusia. Bahkan sebuah kebahagiaan pun diciptakan dan senjaga dijajakan kepada manusia lain.

“Aku sudah lama sekali tidak mengunjungi pasar malam. Apa kau tak ingin ke sana?” tanya Jatmika pada kekasihnya itu.

“Ya. Tentu saja,” Marina mengiyakan. Diikuti langkah kaki mereka berdua menuju pasar malam.

Langkah kaki mereka berkejaran. Tak pernah bisa berbarengan. Menandakan suatu takdir yang harus diterima, bahwa cara berjalan tak lain adalah takdir manusia. Ketika bergerak bersama, maka akan lebih menyulitkan untuk berkembang. Selalu ada yang saling mendahului antara kedua kaki. Langkah kaki menunjukkan cara belajar yang paling sederhana, bahwa sebuah usaha untuk maju haruslah mengikhlaskan dan merelakan salah satu berjalan lebih dulu.

Sesampainya di sana, Marina mengajak Jatmika membeli arum manis. Aroma arum manis selalu menahan setiap hidung yang menghirupnya. Entah mengapa hal itu bisa terjadi dan selalu saja berulang. Arum manis menerbangkan manusia dewasa pada masa kekanak yang membahagiakan.

“Sebaiknya kita beli dua untuk masing-masing atau cukup membeli satu untuk berdua?” tanya Marina dengan centil. Sebuah pertanyaan basa-basi yang digunakan untuk membuka percakapan. Sebab tentu saja jawabannya sudah diputuskan oleh dirinya sendiri, yakni mereka akan membeli satu bungkus arum manis yang ukurannya besar dan akan mereka nikmati berdua.

Naluri Marina sebagai perempuan begitu kuat. Ia merasa ada yang aneh dengan Jatmika. Ya, kekasihnya itu sangat kaku dan tidak seperti biasanya, seperti ada hal yang begitu berat dipikirannya. Marina melihat kening Jatmika mengerut dan senyum terpaksa. Perempuan tahu bagaimana perasaan lelaki. Bahkan terkadang, ia malah lebih paham dari diri lelaki sendiri. Intuisi seorang perempuan adalah intuisi seorang ibu. Dari hal itu semua orang tahu bahwa seorang ibu memahami apa yang ada dipikiran suami dan anak-anaknya. Jadi jika ada perempuan yang tak memahami hati seorang lelaki, maka pantas dipertanyakan sifat keperempuannya.

“Kau kenapa?” tanya Marina. Jatmika terkaget mendengar pertanyaan yang memecah lamunannya itu.

“Kalau sedang di pasar malam begini, aku selalu mengingat ibuku.” Jatmika menjawab datar dan sedang mencoba berpikir untuk memberikan pilihan jawaban yang dirasanya tidak salah jika terdengar Marina.

“Apa karena pertanyaanku di taman tadi?” Marina merasa bersalah. Ia mencoba menyakinkan diri bahwa memang dialah yang membuat Jatmika seperti itu.

Mereka berdua berjalan menjauhi penjaja arum manis. Menyibak kerumunan manusia yang tumbuh serupa jamur di musim penghujan. Marina memutuskan untuk mengajak Jatmika duduk di dekat bianglala. Banyak orang di sana, tapi tidak duduk melainkan memilih berdiri untuk mengantre menaiki roda besar yang berputar di ketinggian itu. Sebagian lagi, segerombol keluarga menunggu bagian dari keluarga mereka yang sedang hanyut ditelan roda-roda raksasa itu. Ibu menunggu suami dan anaknya, nenek menunggu anak dan cucunya, dan segerombol lelaki yang sedang memandangi wanita-wanita yang mereka anggap berpotensi untuk mereka dekati.

Segalanya hanyalah pelengkap bagi Marina dan Jatmika. Tidak ada kebahagian yang dapat diciptakan oleh orang lain. Segala kebahagian adalah bagi mereka yang berani melahirkannya sendiri. Kebahagiaan terlahir dari buah perjalanan yang tak menjemukan. Segalanya bisa direalisasikan dengan cara yang berbeda tiap manusia dan manusia yang lain. Tak ada kesamaan. Setiap manusia adalah penguasa penuh bagi dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia adalah tuhan bagi dirinya sendiri.

Tentu saja hal ini tidak bertujuan untuk menyombongkan diri atau melebihi kekuasaan dan kehendak Tuhan. Hal itu tak lain adalah jalan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Bahwa dalam tujuan penciptaan manusia, Tuhan memberikan kekuasaan penuh bagi manusia untuk memilih jalannya sendiri. Itu bukanlah hal yang melanggar, tetapi sudah digariskan. Kita tidak bisa memilih takdir, tapi dapat menentukan jalan.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” tanya Jatmika pada Marina. Ia mengulangi pertanyaan ibunya dulu. Hal itulah pertanyaan yang dari tadi mengusik pikiran Jatmika.

Ibu Jatmika pernah menanyakan hal itu padanya. Pada saat itu − ketika Jatmika baru saja masuk SD− bapaknya belum lama pergi dan tidak ia ketahui tujuannya. Ibunya hanya bilang jika bapaknya sembunyi dari kejaran orang-orang yang katanya mempertahankan negara. Dengan dalih itulah bapaknya memutuskan pergi dari rumah. Tapi saban ibunya menceritakan hal itu, selalu saja diiringi isakan dan berakhir dengan mata sembap.

Seperti ada yang tidak beres dari cerita yang meloncat dari mulut ibunya. Tetapi hal itu baru disadari Jatmika ketika sudah masuk ke perguruan tinggi. Kedewasaanlah yang mengajarkan dan menurunkan kesadaran itu. Bapaknya telah diculik oleh orang-orang utusan pemerintah. Atau paling buruk, ia tahu nama orang-orang itu dengan sebutan Petrus. Memang, hal itu ia tahu dari beberapa mulut yang pernah mengabarkan hingga sampai di telinganya.

Jatmika membuat kesimpulannya sendiri; bahwa bapaknya hilang diculik oleh orang-orang Petrus, dan yang paling buruk adalah bapaknya mati dan jasadnya entah dikuburkan di mana. Dan tentu saja yang paling buruk, bapaknya dibuang di tengah belantara hutan dan tidak ditemukan kembali. Semua tetangganya tahu itu. Dulu, kata mereka, bapak Jatmika adalah orang yang menguasai parkir Pasar Kliwon. Ia memeroleh uang dari sana. Selain itu, bapak Jatmika juga meminta jatah pada pedagang pasar. Tak banyak memang, tetapi meminta dengan memaksa. Jika boleh dikatakan dengan sejujurnya, bapak Jatmika memalak pedagang pasar.

Tapi hal itu tidak dipedulikan Jatmika. Yang ia tahu, kini ia hanya hidup bersama ibunya. Ia hanya berpikir cara bagaimana agar dirinya dapat menyelesaikan kuliah dan dapat mengirimkan uang ke ibunya yang sudah sepuh.  Bapaknya tak pernah kembali lagi setelah pertanyaan terakhir ibunya di pasar malam. Pertanyaan tentang apakah di pasar malam menjual bintang. Kini pertanyaan itu dilemparkan pada Marina. Dengan pertanyaan yang sama. Tanpa menambah dan mengurangi.

“Apakah di pasar malam ini ada yang menjual bintang?” Jatmika mengulangi pertanyaannya pada Marina, kekasihnya kini yang berada di tempat yang jauh dari ibunya.

“Apa kau mengigau?” Marina terheran dengan pertanyaan itu.

“Kuharap ada yang menjual bintang di pasar malam,” kata Jatmika dengan sebongkah harapan, “aku ingin membelinya lantas memanjatkan harapan agar bapak kembali. Begitulah yang kurasakan ketika ibuku mengajukan pertanyaan itu padaku. Dan kini aku menginginkannya juga. Ingin bertemu bapak dan juga mengunjungi ibu.”

***

EKO SETYAWAN, lahir di Karanganyar, 22 September 1996. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNS. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Kumpulan puisinya berjudul Merindukan Kepulangan (2017). Karya-karyanya tersiar di media lokal dan nasional. Surel: [email protected]

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Film, Resensi

Film KTP: Suara dari Kaum Klasik

Oleh: Bima Widiatiaga

Raut muka Darno, petugas dari kantor kecamatan, tampak bingung saat Mbah Karsono menjawab agamanya Kejawen. Di blangko formulir data KTP yang dibawa Darno, tak ada kolom agama Kejawen. Dia pun menawari Mbah Karsono memilih opsi agama yang ada di dalam kolom formulir, yaitu Islam, Kristen, Katolik, atau Konghucu. Mbah Karsono tetap teguh tak mau. Bahkan, hingga dibujuk oleh tetangga, Nunung, Mbah Karsono tetap enggan sambil menunjuk jarinya ke atas dan berucap ‘manunggaling kawula gusti’.

Bukan tanpa maksud Darno rela datang ke gubuk Mbah Karsono dengan menempuh jalan desa yang masih berbentuk rabat beton. Ia ditugaskan untuk mendata Mbah Karsono untuk pembuatan KTP. Adanya KTP sangat penting agar Mbah Karsono mendapatkan Kartu Sehat.

Darno dan Nunung pun bingung, berbeda dengan raut muka Mbah Karsono yang tetap kalem. Nunung pun akhirnya meminta pendapat Pak RT, Pak Karso (Ketua Badan Musyawarah Warga), hingga Mbak Sumirah, Mbokde Narti, Joni, Susi Parabola, dan Mbak Sri Krebo.

Warga pun akhirnya bersepakat bahwa urusan Kartu Sehat, Mbah Karsono tak harus dapat. Alasannya, warga Desa Rojoalas menghormati kepercayaan Kejawen Mbah Karsono. Warga dan Mbah Karsono tak mau karena hanya sekadar benda berbentuk kartu, kepercayaan pun tergadaikan. Sebagai konsekuensinya, warga rela menanggung biaya kesehatan Mbah Karsono bila-bila Mbah Karsono jatuh sakit nantinya.

Itulah ringkasan singkat film pendek berjudul KTP. Film ini disutradarai oleh Bobby Prasetyo dan diproduksi oleh ASA Film. Kisah menarik dan jenaka berselimut kritik tersebut, berbuah Juara I Kategori Umum Festival Video Edukasi (FVE) 2016 yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Ya, film pendek tersebut bila disaksikan dapat mengocok perut penonton. Namun, di balik kisah jenakanya, terbalut sebuah suara kritik. Ada dua kritik di film tersebut, pertama, tentang birokrasi masih belum sepenuhnya memecahkan masalah. Hal ini bisa kita lihat di kenyataan dalam survei birokrasi pelayanan publik dari Lembaga Klimatologi Politik (LKP) di bulan November 2015, satu tahun dari jangka waktu film pendek ini ikut kompetisi. Masih ada sekitar 10,5% responden survei yang beranggapan buruk mengenai birokrasi pelayanan publik. Memang, jumlah tersebut turun dari waktu ke waktu, namun hal ini harus tetap dibenahi oleh pemerintah.

Namun, kritik sebenarnya yang disuarakan oleh film pendek KTP, menurut hemat saya adalah kritik soal kolom agama di KTP. Mbah Karsono gagal dapat KTP karena di kolom agama, tidak dapat opsi agama Kejawen. Opsi agama yang ada hanya enam agama yang katanya merupakan agama yang diakui oleh negara? Benarkah secara hukum formal, negara hanya mengakui enam agama?

Menurut Anick HT, Direktur Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), melalui bbc.com/indonesia/, tak satupun undang-undang yang secara tegas menyebut agama-agama yang dianggap resmi dan diakui negara. Menurutnya, satu-satunya peraturan yang menyebutkan nama-nama agama yang dianut rakyat Indonesia hanyalah Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama.

Teka-teki tersebut terjawab di penjelasan Pasal 1 Penpres tersebut. Enam agama yang lazim kita dengar sebagai agama yang diakui oleh Pemerintah, menurut penjelasan Pasal 1 menyebutkan “agama-agama yang dipeluk hampir seluruh penduduk Indonesia”, tidak ada penyebutan “agama yang diakui oleh pemerintah”. Dalam penjelasan Pasal 1 tersebut juga dijelaskan bahwa penduduk yang memeluk agama selain enam agama mayoritas di Indonesia, mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat 2 UUD 1945. Artinya, untuk Mbah Karsono dan penduduk lain yang bernasib sama seperti Mbah Karsono juga mendapat jaminan, termasuk jaminan administrasi, yaitu pengisian agama yang dianutnya di kolom agama KTP di luar enam agama mayoritas.

Suara Mbah Karsono di dalam film pendek KTP dan penduduk lain, khususnya penganut penghayat kepercayaan dan agama selain enam agama mayoritas, akhirnya didengar oleh badan yudikatif, yaitu Mahkamah Konstitusi (MK). Tanggal 11 November 2017, menjadi hari bersejarah bagi kaum yamg memperjuangkan hak kesetaraan, khususnya di bidang administrasi penduduk. MK mengabulkan suara mereka, meski di kolom agama di KTP, hanya ditulis “penghayat kepercayaan”, namun itu sudah cukup membuat lega para penganutnya.

Sebelumnya, hanya Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemdikbud), yang mengakui bahkan turut membina kelompok penghayat kepercayaan yang jumlahnya mencapai 187 di seluruh Indonesia. Pun di beberapa tahun terakhir, Kemdikbud memfasilitasi anak-anak penghayat kepercayaan yang bersekolah untuk mendapat fasilitas pengajaran mata pelajaran kepercayaan yang dianut. Sebelumnya, mereka ikut pelajaran agama menurut enam agama mayoritas di Indonesia.

Di akhir resensi atau entah berbentuk opini ini, bagi kita yang menganut enam agama mayoritas hendaknya berkaca lagi. Kita mungkin banyak menuntut hak beribadah, seperti menutup jalan raya atau meminta sekompi pengamanan dari aparat keamanan. Namun, bila kita melihat perjuangan para ‘kaum klasik’ yang hanya meminta hak administrasi saja yang mungkin sepele bagi kita, mereka berjuang sampai ke tingkat meja hijau berlarut-larut. Mereka tak minta lebih, cukup diakui dan dijamin segala hal yang membuat mereka tenang menjalani kehidupan sehari-hari dan beribadah. Setelah pemerintah, kita sebagai kawula alit bisa berkontribusi untuk mereka dengan merangkul mereka sebagai bagian dari rumah besar bernama Indonesia. Dan, lewat film pendek KTP, merupakan contoh cara menyuarakan suara mereka serta mengakui dan mengayomi mereka.


Bima Widiatiaga Alumnus Ilmu Sejarah FIB UNS. Penggiat sejarah musik dan kebudayaan Indonesia. Anggota komunitas sejarah Solo Societeit.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Buku, Resensi

Menikmati “Sihir” Dea Anugrah

Oleh: Erwin Setia

Dea Anugrah barangkali satu dari sedikit penulis Indonesia yang mampu menulis puisi, cerita pendek, dan esai sama baiknya. Sebelum buku kumpulan esai ini terbit, saya membaca puisi-puisinya dalam Misa Arwah (2015) dan terpikat, saya juga membaca cerpen-cerpennya dalam Bakat Menggonggong (2016) dan terpikat. Kemudian saya membaca esai-esainya dalam Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya (2019) dan terpikat. Seolah-olah penulis muda alumnus Filsafat Universitas Gadjah Mada ini menyisipkan semacam sihir di setiap tulisannya.

Namun kini bukan lagi zaman Firaun dan tulisan-tulisan Dea bukanlah sihir juga bukan tongkat Musa. Sedikit mirip—mengagumkan dan membuat takjub—tapi bukan.

Sekelumit esai dan reportase yang tercantum dalam buku tipis bersampul foto penampakan seperti gudang yang berantakan dengan latar hitam ini, terlihat betul dibuat secara sungguh-sungguh. Himpunan data yang meyakinkan, gaya penulisan subtil dan cakap, pemilihan kata yang selektif, dan bagaimana penulis menyisipkan gagasan-gagasannya soal hidup tanpa tampak menggurui.

Dalam esai “Bersantai di Komering, Kabar Burung dari Pasundan” dan “Billiton Maatschappij dalam Pusaran Sejarah” misalnya. Pada esai pertama yang berisi tentang asal mula pelbagai kata, istilah, dan isu seputar Bahasa Indonesia, penulis tampak serius dan ulet dalam mencari dan mengumpulkan data. Bukan hanya dari buku; kamus, majalah lama, jurnal, puisi, sampai status Facebook pun dijadikan acuan untuk mendukung dan memperkuat tulisan. Sedangkan pada esai kedua yang menyerupai catatan sejarah sangat-ringkas mengenai Belitung, penulis menyuguhkan banyak sekali hasil penelitian, tanggal-tanggal penting, penjelasan-penjelasan bahasa Pinyin, dan sebagainya.

Sementara dalam beberapa esai lain semisal “Terbenam dalam Waktu yang Hilang”, “Para Pembunuh Anak-Anak”, dan “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya” Dea seperti seorang sufi yang sedang menyamar sebagai peranakan Tionghoa dan menjadikan kata-kata sebagai medium mengajak umat manusia untuk merenung.

Pada tulisan pertama yang berbentuk serupa cerita pendek, penulis mengisahkan perjalanannya ke Pulau Biawak dengan manis. Alih-alih mengeksplor suatu tempat seperti sales menawarkan barang jualannya, penulis menjadikan laut, perahu, dan mercusuar yang terdapat di tempatnya berkunjung sebagai sarana merenungi dan mengenang banyak hal. “Para Pembunuh Anak-Anak” juga menggemakan gagasan yang nyaris serupa namun dalam bentuk berbeda. Pada esai ini penulis memaparkan betul betapa buruk akibat peperangan, terutama bagi kanak-kanak. “Bukan Tuhan yang membunuh anak-anak. Bukan pula nasib atau takdir yang mencincang dan menjadikan mereka makanan anjing. Kitalah yang melakukannya. Hanya kita.” (hlm. 144).

Sedang dalam “Hidup Begitu Indah…” yang sekaligus menjadi judul buku, kegelisahan tampak menjadi ide pokok. Setidaknya itu terlihat dari cara penulis menceritakan tentang kawan lamanya yang berubah menjadi seorang penganut ajaran ekstrem dan menuduhnya “kafir, vulgar, liberal” : “Saya sedih karena merasa dia terlampau mudah membuang apa-apa yang berharga di antara kami. Saya menyesal karena sayalah yang mendorongnya buat melakukan itu.” (hlm. 174) Selain itu, dalam esai yang sama, kegelisahan dan ‘penyesalan’ tampak tergambar sewaktu penulis menarasikan tentang ibu yang tega mengajak anaknya mengebom diri bersama-sama. “Kalau tak putus asa, dia bisa mengingat-ingat perasaan-perasaannya ketika mendengar kata pertama yang diucapkan putrinya; ketika tahu bahwa dirinya mengandung; ketika jatuh cinta buat pertama kali; dan ketika dia, dengan muka berlumuran bedak, bermain lompat tali dengan kawan-kawannya di teras rumah, sementara ibunya berseru-seru dari dalam: ‘Hati-hati, Nak, hati-hati, jangan sampai jatuh!’ dan bersandar pada semua itu, menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya.” (hlm.179)

Selain esai-esai bertabur data dan “renungan” yang ditampilkan secara pas dan tidak menjenuhkan, ada pula sejumlah esai yang mengangkat hal-hal sederhana dan tak banyak orang bahas sebagai ide utama. Misalkan saja “Kebebasan dan Keberanian” yang menceritakan tentang satu barbershop di bilangan Jakarta yang mencukur rambut pelanggan sesuai bentuk muka dan kepala, “Ada Apa dengan Pisang” perihal bagaimana perusahaan pisang berkelas dunia bisa mengganggu dan mengacaukan keseimbangan alam, dan “Mengutuk dan Merayakan Masturbasi” yang secara asik menjabarkan soal aktivitas merancap dan serba-serbinya.

Buku ini sebagaimana buku-buku serupa yang ditulis oleh tangan terampil, masih lebih banyak menyimpan sesuatu yang tak sempat saya tulis dan mungkin sadari. Di dalamnya ada lelucon-lelucon, narasi-narasi sedih, dan hal-hal lain yang membuat saya tergelitik untuk menutup tulisan ini dengan kata-kata yang menjadi tajuk buku: Hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya. (*)

Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News. Bisa  di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Cerpen

Mimpi-Mimpi Erina

Cerpen Ardy Kresna Crenata

Kali ini pun perempuan itu kembali mengenakan kemeja putih. Lehernya yang terbuka lebar jadi terlihat lebih putih, dan semakin lama mengamatinya Erina semakin yakin ia benar-benar menyukainya. Ia bisa mencium bau laut, dan merasakan angin yang datang membawa rahasia ikan-ikan. Ia pun bisa mencecap asin yang berubah pahit di lidah, dan mendengar suara-suara parau yang tersapu dari tempat-tempat jauh. Dan perempuan itu, si perempuan yang tengah duduk di samping pengacaranya yang buruk rupa itu, berada di sana, berdiri di sana, di pantai itu, bersamanya. Erina membayangkan ia dan perempuan itu berdekatan, bersisian, dalam jarak yang membuat mereka bisa menangkap gumaman masing-masing, dalam kesunyian yang membuat mereka bisa mengkhidmati degup jantung masing-masing. Ingin sekali Erina meraih tangan perempuan itu, dan menggenggamnya. Erat. Namun dalam bayangan sekalipun, rupanya ia masih saja sulit melakukannya.

***

Pertama kali Erina menyadari ia menyukai perempuan itu adalah sebelas hari yang lalu. Ia sedang lelah dan malas melakukan apa pun, dan televisi yang dinyalakannya menyajikan sebuah persidangan kasus pembunuhan yang sedang ramai dibahas di mana-mana. Ia bukannya tak tahu apa pun tentang kasus ini; justru, ia tahu cukup banyak sebab sekali waktu, karena kelewat penasaran, ia sempat membaca-baca sejumlah tulisan di media-media daring yang membahas kasus itu. Ia tahu seperti apa akar permasalahannya, siapa-siapa saja yang mungkin terlibat dan siapa-siapa saja yang mungkin dirugikan—atau diuntungkan. Bahkan, yang satu ini adalah kebiasaannya ketika sedang begitu memikirkan sesuatu, ia sempat mencatat beberapa hal penting tentang kasus tersebut di sebuah kertas HVS kosong, dan seperti seorang detektif amatiran ia mencari-cari keterhubungan antara satu hal dengan hal lain, dan mengolah semua itu di dalam benaknya sampai ia tiba pada satu kesimpulan: perempuan itu memang bersalah. Pada saat itu Erina merasakan semacam kepuasan dan ia tersenyum. Tetapi tak lama kemudian, senyumnya itu lenyap. Erina menyadari apa yang baru saja dilakukannya itu tak ada gunanya; ia bukanlah siapa-siapa dalam kasus itu dan penilaiannya sama sekali tak akan mengubah apa pun. Dan begitulah ia memutuskan untuk tak lagi ambil pusing soal kasus tersebut.

Akan tetapi malam itu, barangkali karena Erina sedang kehabisan tenaga sehingga memindahkan channel pun tak juga dilakukannya, hal-hal tentang kasus tersebut kembali bermunculan di hadapannya, dan seperti membuncah menghampirinya. Untuk pertama kalinya ia menyaksikan perempuan itu di sebuah persidangan, dan ia bisa melihat betapa perempuan itu merasa tak nyaman dan terancam. Cara perempuan itu mendekatkan tubuhnya pada si pengacara, bagaimana ia menggerakkan bibirnya yang tebal dan sesekali menutupi dengan tangannya, serta sorot matanya yang selalu redup seolah-olah tak lama lagi akan padam, mengarahkan Erina pada penilaiannya itu. Dulu, saat ia masih tinggal di Jepang, ia pernah begitu menggandrungi serial televisi Amerika berjudul Lie to Me; sebuah film yang mengangkat penggunaan ilmu membaca gestur dan mimik muka dalam penyelidikan suatu kasus kejahatan. Erina melakukan analisis tadi berdasarkan apa-apa yang diingatnya dari menonton serial televisi tersebut.

Sejujurnya Erina tak peduli akan menjadi seperti apa persidangan itu. Kendatipun memang banyak informasi terhantar begitu saja padanya, tidak lantas berarti Erina memikirkannya. Informasi-informasi itu datang seperti kerumunan yang tak dibutuhkannya dan tak membutuhkannya, dan Erina bertahan di posisinya berada seakan-akan kerumunan itu tak berarti apa-apa baginya. Kalaupun ada yang menarik perhatiannya, itu adalah si perempuan tadi. Ya, si perempuan yang menjadi terdakwa di kasus tersebut. Si pembunuh. Erina mendapati dirinya telah cukup lama mengamati si perempuan, dan ia yang semula hanya membaca raut muka dan gerak-geriknya telah tanpa disadarinya mengamati juga tampilan fisiknya. Tulang pipi perempuan itu, misalnya, menurutnya sedikit terlalu menonjol, sementara dagunya lumayan runcing dan rahangnya terkesan maskulin. Perempuan ini diberkahi sejumlah kekurangan, pikir Erina, saat ia memandangi leher perempuan itu yang kurang panjang dan sedikit gemuk. Satu-satunya yang dianggap kelebihan oleh Erina adalah buah dada perempuan itu yang tampak menonjol dan berisi. Agaknya kemeja putih yang dikenakan perempuan itu berbahan tipis sehingga Erina, ketika kamera difokuskan dan didekatkan pada si perempuan, bisa melihat bra putih yang tersembunyi di baliknya.

Itu adalah awal, dan bisa jadi awal yang buruk. Erina terus mencermati hal-hal tentang perempuan itu dan ketika ia meraih ponsel untuk melihat jam ia mendapati ia sudah bersandar di sofa dan tak melakukan apa-apa selain memandangi televisi selama sembilan belas menit. Erina semakin tak ingin melakukan apa pun. Ia hanya ingin bertahan dalam posisi itu dan tertidur, dan mungkin bermimpi indah. Dan beberapa menit kemudian keinginan pertamanya terkabul, meski yang kedua sayangnya tidak.

Erina bermimpi berada di sebuah pantai. Ia tak tahu nama pantai itu, tetapi ia merasa mengenalnya. Laut sedang tenang, dan hari belum malam; Erina masih bisa melihat sisa warna-warna terang jauh di hadapannya, membuatnya merasakan di dalam dirinya ada semacam rasa hangat yang menjalar, dan menular. Telapak tangannya terasa hangat, dan kehangatan ini lebih terasa lagi ketika Erina menekankan kedua telapak tangannya ke pipinya. Telapak kakinya pun begitu, meski itu mungkin lebih disebabkan oleh pasir yang menyimpan apa yang telah diberikan cahaya kepadanya.

Lalu tiba-tiba, tanpa pernah ia duga, seseorang sudah berdiri di sampingnya, di sebelah kirinya. Dari aroma tubuh seseorang itu Erina bisa menebak ia perempuan, dan ketika ia menoleh ia mendapati tebakannya ini benar. Satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Erina: perempuan itu adalah si perempuan yang tadi dilihatnya di televisi; si pembunuh itu.

“Aku suka pemandangan seperti ini. Langit yang belum gelap, laut yang belum hitam. Tak ada siapa pun di pantai ini selain kita berdua. Kita bisa melakukan apa saja. Kita bisa meneriakkan apa saja. Sesuatu yang buruk terjadi di sebuah tempat yang jauh dan kita tak perlu memikirkannya. Di sini, kita bisa bahagia.”

Si perempuan di sampingnya mengatakan semua itu, dengan tenang, dengan intonasi yang seperti membawa misi damai dan dengan suara yang mampu mencairkan yang telah beku. Erina, dalam diam, memandangi perempuan itu.

***

Erina terlahir di sebuah keluarga yang tak menginginkannya. Ibunya seorang politikus yang percaya terlahir sebagai perempuan di negeri itu adalah sebuah kesalahan, sedangkan ayahnya seorang novelis gagal yang batal menikahi ibunya dengan alasan yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Sejak kecil, Erina dibesarkan oleh adik kandung ibunya, seorang perempuan penggila takarakuji—lotere—yang di masa mudanya pernah berkarier sebagai aidoru—dari idol. Ia sebenarnya tak menyukai perangai perempuan gemuk-pendek ini—menurutnya perempuan ini terlalu banyak mengoceh dan hampir mengeluhkan apa saja—dan ia juga merasa suami perempuan itu bukanlah lelaki baik-baik seperti yang ditunjukkannya di rumah. Tetapi pasangan suami-istri ini memiliki seorang anak perempuan yang baik; seorang anak berkulit pucat yang setiap hari mengajaknya bicara dan menghabiskan waktu dengannya. Kelak anak ini menjelma sesosok cahaya yang kehadirannya selalu membuat orang-orang di sekitarnya mengamatinya; aura yang memancar darinya mengingatkan orang-orang akan sosok ibunya semasa muda. Erina menyadari ia jatuh cinta pada perempuan ini, di tahun keduanya di SMA. Lima tahun kemudian ia berusaha mengutarakan apa yang dirasakannya ini dan itu adalah awal dari masa-masa paling suram dalam hidupnya.

Erina memanggil perempuan itu Mai. Kendati mereka sudah sangat dekat, bahkan kerap melakukan hal-hal intim yang pastilah akan membuat orang-orang menggigit bibir seandainya mereka tahu, Mai rupanya tak melihat Erina sebagaimana Erina melihatnya. Mereka pernah tidur dalam satu ranjang dan berpelukan, tetapi bagi Mai ini tak lebih dari sebuah upaya untuk mengatasi dinginnya malam. Mereka juga pernah menggunakan ofuro—bak mandi untuk berendam—bersama-sama dan tentunya saat itu keduanya sama-sama telanjang, tetapi bagi Mai ini hanyalah sesuatu yang dilakukan untuk membuat aktivitas mandinya sedikit berbeda. Semacam penyegaran. Katakanlah begitu. Erina kecewa mendapati Mai berkata tak bisa membalas perasaannya. Tetapi Erina tak membencinya, tak bisa membencinya, bahkan tak bisa menjauhkan diri darinya, sebab Mai masihlah sosok yang sama setelah pengungkapan tadi; seolah-olah di mata Mai pengungkapan tersebut tak pernah ada. Erina menghabiskan waktu-waktu luangnya dengan Mai seperti biasa. Kedekatan mereka, yang justru semakin intim saja, dianggap Erina sebuah perangkap yang mengekangnya sekaligus membuainya.

Setidaknya sampai tiga tahun lalu, Erina menikmatinya. Tentu ia berharap suatu hari Mai akan membalas perasaannya, tetapi kalaupun hari itu tidak datang juga ia merasa akan bisa menerimanya. Yang penting kami jadi semakin dekat dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama-sama, pikir Erina. Satu hal yang luput diperhitungkannya adalah bagaimana seandainya Mai menemukan seseorang yang kepadanya ia ingin menyerahkan seluruh dirinya. Dan sialnya, pada akhirnya, itulah yang terjadi.

Hari itu mereka berada di sebuah pantai. Musim panas. Mereka mengenakan bikini dan berdiri bersisian dengan tangan saling menggenggam dan kaki terpacak pada pasir—air laut secara berkala menyentuhnya. Orang-orang lain di pantai itu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan mereka tak peduli. Ketika mereka saling menatap satu sama lain, mereka akan tersenyum seolah-olah itu sesuatu paling istimewa di dunia.

Lalu tiba-tiba Mai berkata, “Aku jatuh cinta pada seseorang. Dia lelaki yang baik, dan dia mencintaiku.”

Erina merasa di dalam dirinya sebuah gelas seketika pecah dan air yang semula mengisinya semuanya tumpah. Gelas itu sendiri, mungkin, sudah ada di sana sejak lama.

“Aku akan menikahinya. Aku akan mendampinginya dan kami akan membangun sebuah rumah tangga dan keluarga yang hangat. Kami akan membangun kebahagiaan yang akan kami rasakan berdua, selamanya.”

Erina meyakini di dalam dirinya sesuatu kembali pecah, tetapi bukan gelas itu.

“Kamu tahu, di kehidupan ini seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Tak mungkin tidak, seseorang akan menyakiti seseorang yang lain. Dengan cara itulah kita manusia bertahan. Pada akhirnya kita ini makhluk egois; kita akan mementingkan kebahagiaan kita sendiri dan mengabaikan kebahagiaan orang lain. Sedari dulu, kita selalu seperti itu.”

Erina tahu, ia semestinya berhenti menatap Mai; berhenti mendengarnya.

“Kamu mungkin akan menilai aku mempermainkanmu, memanfaatkanmu, memperalatmu. Silakan. Aku tak keberatan. Mulai besok, kita akan menjadi dua orang yang saling asing.”

Erina merasakan genggaman Mai yang begitu kuat di tangannya. Perempuan itu kembali tersenyum, tetapi kali ini matanya berkaca-kaca. Erina tak tahu apakah ia sendiri tersenyum atau tidak, apakah matanya sendiri berkaca-kaca atau tidak. Sore itu, di perjalanan pulang, mereka tak saling bicara dan tak saling menatap.

***

Dalam sebelas hari terakhir ini Erina sudah mengalami mimpi itu delapan kali. Garis besarnya sama: ia mendapati dirinya berada di sebuah pantai dan tak lama kemudian perempuan itu muncul; setelah beberapa saat perempuan itu mengatakan beberapa hal dan ia selalu terpukau oleh apa-apa yang dilihatnya dan dirasakannya selama itu; dan ia akan terbangun tanpa sempat mengatakan apa pun kepada perempuan itu. Saat terbangun itu, Erina merasa begitu lemas; seakan-akan ia baru saja melakukan sesuatu yang benar-benar menguras pikiran dan tenaga. Ia selalu butuh waktu kira-kira setengah jam untuk menelentang dan tak melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar. Tadi pagi, ia hanya bisa melakukannya sebelas menit saja. Seorang teman yang juga kliennya menelepon dan memintanya mengirimkan hasil terjemahan pesanannya sebelum pukul empat.

Kini sambil menonton persidangan perempuan itu di televisi, Erina mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya dalam tiga tahun terakhir. Ia keluar dari perusahaan periklanan tempat ia bekerja; ia tinggalkan kamar apartemennya dan berkelana selama tiga bulan dengan berbekal tiga potong baju saja; ia bertemu beberapa orang baru namun segera melupakan mereka; ia mencoba peruntungannya di mesin pachinko dan takarakuji; ia pindah ke sebuah pedesaan dan memelihara seekor kucing yang diberinya nama Nyanko; ia mengajar bahasa Inggris di sebuah bimbel lokal dengan bayaran rendah; ia menerjemahkan tulisan-tulisan dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang dan sebaliknya; ia dikejar-kejar seorang lelaki yang adalah ayah dari seorang muridnya; ia mencoba mengiris pergelangan tangannya yang kiri; ia mencoba membekap dirinya sendiri dengan bantal di tempat tidur; ia mencoba membenamkan dirinya begitu lama di sebuah pemandian air panas yang sedang sepi; ia mencoba penampilan baru dengan memotong pendek rambut hitamnya dan mewarnainya; dan tahun lalu, ia mencoba membuka lembaran baru dengan mengambil kesempatan berkarier di negeri ini, Indonesia, sebagai pengajar bahasa Jepang dan penerjemah-awal.

Ia telah banyak berubah. Semestinya begitu. Sebelum memutuskan untuk hijrah ke Indonesia ia melakukan sejumlah penelusuran yang membawanya pada kesimpulan bahwa orang-orang di negara yang akan ditujunya itu cenderung sulit menerima hal-hal “baru”, terutama sesuatu yang dianggap bertentangan dengan norma dan agama, dan Erina melihat ini sebagai sesuatu yang menguntungkannya. Terkesan tidak toleran, memang, tetapi justru Erina berharap lingkungan seperti itu akan memaksanya berubah, menjadi normal—meski sesungguhnya ia sadar itu hanya alasan belaka sebab yang sebenarnya diinginkannya adalah melupakan apa-apa yang pernah dialaminya dulu. Kini, setelah ia lumayan menguasai bahasa Indonesia, dan setelah ia memiliki sejumlah teman dan klien orang-orang Indonesia yang kebanyakan adalah laki-laki, apa yang diinginkannya itu, semestinya, terwujud. Ia menjadi dirinya yang baru, yang normal. Namun begitulah sebelas hari yang lalu ia tersadar: ia, ternyata, masihlah sosok yang sama.

“Kamu tahu, kita manusia tak bisa bertahan hidup tanpa menyakiti manusia lain. Pada akhirnya begitu,” ujar si perempuan di televisi, dalam mimpinya tiga hari yang lalu. Ketika terbangun Erina langsung teringat pada Mai, dan ia berusaha membayangkan sosoknya, tetapi gagal; sosok yang kemudian terbayang jelas di benaknya justru si perempuan di televisi tadi, si pembunuh itu, dan ia menjadi kesal namun di saat yang sama bergairah. Erina jadi membayangkan ia dan perempuan itu di sebuah ranjang dalam keadaan telanjang, dan mereka berpelukan, dan mereka berciuman, dan mereka berciuman ….

***

Perempuan di televisi itu kembali menggigit bibir bawahnya. Saat ia menegakkan tubuh untuk membenarkan ikatan rambut, mata Erina tertuju pada buah dada perempuan itu yang membusung, lalu pada leher perempuan itu yang terbuka lebar. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menciumnya. Ingin sekali, pikir Erina. Ia lantas memejamkan mata, membayangkan ia tengah berada di pantai itu, mengkhidmati sisa siang yang kian tersamarkan kesunyian, membiarkan tubuh rapuhnya terbuka menyerap setiap warna dan suara.

“Barangkali,” gumam Erina, “hidup bagiku adalah tentang menyakiti diri sendiri. Pada akhirnya begitu.” (*)

Bogor-Cianjur, 2016-2019

Ardy Kresna Crenata, menulis cerpen, esai, dan puisi. Ia bergiat di Pembacaan Baru; sebuah komunitas ngobrol-ngobrol di Bogor.

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Film, Resensi

A Taxi Driver: Mencari Kim Sa-Bok

Oleh: Agung Setya

Di dunia nyata, Kim Sa-Bok bukan nama yang lazim di Korea Selatan. Sepanjang sisa hidupnya, seorang Jurnalis berkebangsaan Jerman, Jürgen Hinzpeter, mencari sosok pemilik nama itu dan terpaksa mengakhiri hidupnya pada 25 Januari 2016 tanpa pernah menemukannya.

Itulah jurus pamungkas yang disuntikan kepada film A Taxi Driver (2017) yang disutradarai oleh Jang Hoon. Bahwa film memusatkan pada sosok nyata pahlawan tanpa tanda jasa—yang berperan sebagai sopir taksi untuk jurnalis asing seperti disebutkan di atas—tentu bukan tanpa sebab.

Salah satu alasan yang dikemukakan oleh Koresponden New York Times, Choe Sang-Hun, adalah karena selama ini yang selalu dielu-elukan oleh publik adalah Hinzpeter, dan tidak dimungkiri ia memang berjasa bagi perjuangan demokrasi Korsel dengan mengabarkan kondisi Korsel kepada dunia. Namun, seperti selalu ditulis oleh Hinzpeter di beberapa catatannya, ia tidak mungkin berhasil meliput peristiwa berdarah di Gwangju (Kwangju), Korsel, pada Mei 1980 tanpa bantuan seorang sopir taksi. Dan inilah saatnya pahlawan sebenarnya mendapat tempat di hati rakyat Korsel.

Menguji Prioritas

Dalam cerita film, Kim Sa-Bok (Song Kang-Ho) adalah pribadi yang pantang menyerah, teguh pendirian, dan lugu. Berkat pengalamannya menjadi sopir truk di Arab Saudi beberapa tahun sebelumnya, ia punya kemampuan berbahasa inggris yang cukup baik. Dengan begitu tanpa kesulitan ia bisa berkomunikasi dengan Peter—nama yang merujuk kepada Hinzpeter—yang diperankan oleh aktor Jerman Thomas Kretschmann, selama perjalanannya dari Seoul ke Gwangju.

Jika pada kenyataannya—seperti ditulis oleh Choe Sang-Hun—Kim diminta oleh kenalan Hinzpeter di Seoul untuk mengantarnya ke Gwangju, sementara dalam plot film, Kim berjuang untuk mendapatkan upah sebesar 100.000 Won dari tugas mengantar jurnalis asing tersebut. Meski begitu, ia melakukannya karena tuntutan ekonomi dan untuk anak perempuan semata wayangnya Eun Jeong (Yoo Eun-Mi) yang berusia 11 tahun.

Bagian konflik film memuncak saat ia harus memutuskan apakah harus selalu menemani penumpangnya selama bertugas meliput kerusuhan di Gwangju atau harus pulang menemui anaknya yang tinggal sendirian. Prioritas dan kecintaannya pada keluarga diuji.

Gwangju 1980 dan Jakarta 1998

Ada konteks kemiripan antara peristiwa Gwangju Mei 1980 dan Demonstrasi Mei 1998 di Jakarta, yaitu sama-sama melibatkan mahasiswa untuk menurunkan diktator-militeristik. Meski demikian, jika harus membandingkan antar film, penulis secara subjektif akan membandingkannya dengan salah satu film bertema Mei 1998 di Indonesia, yakni Di Balik 98 (2015).

Meski banyak pro dan kontra terkait film Di Balik 98, pembandingan ini untuk melihat visualisasi dan plot film yang mengangkat perjuangan mahasiswa untuk mendelegitimasi rezim yang saat itu berkuasa.

Di Balik 98, mahasiswa merupakan tokoh dan arus utama yang membawa plot film. Sedangkan pada A Taxi Driver, mahasiwa adalah hal di luar Kim Sa-Bok yang wajib ia masuki dan ia bela agar film bisa berjalan sesuai alurnya. Jika Di Balik 98 memunculkan banyak konflik yang nantinya berpilin jadi akhir yang manis, tapi di A Taxi Driver cukup dengan perjuangan Kim Sa-Bok, maka seluruh perjuangan mahasiswa itu akan bisa tuntas.

Dalam A Taxi Driver, Kim Sa-Bok adalah kaum marjinal di negaranya. Sementara Di Balik 98 juga memunculkan narasi kaum marjinal pada ayah dan anak berpakaian lusuh yang sehari-hari berkeliling Jakarta membawa gerobak. Bedanya, kehidupan Kim Sa-Bok dinarasikan getir namun ia bisa membuat kehidupannya riang gembira. Itu persis ciri khas humor dari film-film Korea. Sedangkan sosok ayah dan anak di film Di Balik 98, seakan dipaksa muncul dengan ironi-ironi yang ada. Namun, tanpa kesan kuat humanisme dan hanya mengeskpos kemelaratan.

Jika menonton Di Balik 98, penonton diguncang perasaan sedih dan marah atas perjuangan Diana (Chelsea Islan) dan Daniel (Boy William), sementara dalam A Taxi Driver, kita diajak untuk asyik mengikuti petualangan Kim Sa-Bok dalam misinya untuk setia mengantarkan penumpang. Tak hanya itu, ada rasa optimisme bahwa perjuangan kelompok mahasiswa tidak hanya mengesankan luapan kemarahan, tapi juga keyakinan bahwa itulah jalan yang benar sedari awal.

Adegan-adegan aparat militer menembaki mahasiswa ditampilkan secara jelas di film A Taxi Driver. Ratusan mahasiswa tanpa ampun menjadi korban peluru tajam. Dan Kim Sa-Bok akhirnya mengambil peran juga untuk membantu mahasiswa meskipun tampak aneh dan agak lucu. Barangkali di kejadian sebenarnya penembakan mahasiswa tentu amat menyeramkan, dan tindakan yang dilakukan oleh Kim Sa-Bok dalam cerita film digambarkan menjadi berani tanpa memedulikan keselamatan dirinya seakan-akan adegan epos di film-film superhero. Penggambaran yang sama juga terjadi di aksi balap-balapan di penghujung film. Meski begitu, tanpa adegan tersebut, Kim Sa-Bok justru akan menjadi figuran, kalah bersaing dengan Peter.

Hal berbeda ada pada film Di Balik 98 yang tidak terlalu menonjolkan adegan kekerasan fisik. Ia hanya membidik psikologi para tokoh dalam keruwetan masalah masing-masing. Di satu sisi itu jadi nilai tambah, tapi di sisi lain ada momen yang tidak bisa didapat seperti di film A Taxi Driver. Bisa jadi ada pertimbangan lain, tapi sangat disayangkan.

Kim Sa-Bok menghilang

Kembali kepada judul di atas, mencari sosok nyata Kim Sa-Bok bukan hal mudah. Desas-desus bermunculan pasca tragedi Gwangju 1980 dan informasi kasat mata yang diberitakan ke seluruh penjuru dunia. Ada yang mengatakan bahwa ia meninggal empat tahun setelah peristiwa itu karena sakit, ada pula yang menyatakan ia sengaja menyembunyikan diri. Terbukti dengan namanya yang aneh dan tampaknya hanya nama palsu.

Bagaimanapun, sosok Kim Sa-Bok jelas ada, dan ialah pahlawan yang sesungguhnya. Dengan tindakannya yang ada dalam versi fiksi di film A Taxi Driver, masyarakat Korea Selatan mengaku mulai mengaguminya. Bukan saja karena ia ada di balik terpukulnya rezim diktator Chun Doo-Hwan, tapi juga nilai-nilai kepribadian seperti diwartakan Hinzpeter bahwa ia jujur, setia, cerdik, pantang menyerah, dan pemberani.

Karakter positif yang tercermin dalam diri Kim Sa-Bok bisa dicontoh oleh banyak pengemudi taksi. Di kala beberapa pengemudi taksi—termasuk pengemudi kendaraan umum lainnya—banyak disorot atas kinerjanya terhadap pelayanan penumpang, Kim Sa-Bok mengajarkan bagaimana menjadi sopir taksi. Tentu bukan keberanian menerobos penjagaan aparat militer, tapi bagaimana kejujuran, kesetiaan, ramah, dan yang terpenting mengantarkan penumpang sampai kepada tujuannya.

Itulah mengapa kita pun bisa ikut mencari “Kim Sa-Bok”.

Agung Setya lahir di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada tahun 1992. Ia aktif menulis puisi dan cerpen. Buku puisinya Membaca Mata (2016) dan kumpulan cerpennya Menjelang Dingin (2018).


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

JANE

Cerpen Ken Hanggara

Aku ingin tenggelam dan hilang selamanya di sebuah kolam atau danau atau apa pun itu. Kubayangkan tubuhku mengecil tanpa ada yang tahu, lalu dengan segenap ilmu sihir, seseorang mengubahku menjadi seukuran semut. Tidakkah itu menakjubkan?

Kalau aku benar-benar menjadi sekecil semut, aku harap bisa tenggelam dan hilang selamanya karena malu. Aku tidak sanggup menatap wajah Jane. Pacar terbaikku sejauh ini dia, tapi karena kesalahan yang kulakukan, dia layak mendapat yang lebih baik.

“Aku tidak peduli walau kamu orang paling dibenci di dunia ini atau orang yang paling berpenyakit. Selama kita bisa bersama, aku tetap di sini!” katanya.

Jane sangat mencintaiku dan kurasa aku tidak bisa mengubah perasaan itu semudah orang-orang membongkar kebusukan masa laluku. Dulu aku sangat amoral dan saat ada kesempatan untuk memperbaiki diri, aku berkenalan dengannya. Ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu. Aku dan Jane berpapasan di lorong mini market, seperti dalam adegan- adegan klise murahan kegemaran remaja kebanyakan. Saat itu kami sama-sama butuh pembasmi serangga yang kebetulan tinggal sebotol di sebuah rak.

“Buatmu saja,” kataku ketika itu. “Perempuan lebih butuh. Serangga mengganggu perempuan, sedang lelaki bisa mengatasi itu tanpa pembasmi.”

“Kamu dulu yang dapat dan tidak sengaja kurebut botolnya darimu. Jadi, kamulah yang berhak,” sahutnya.

Karena kami terus menerus berdebat, sedangkan seorang pramuniaga tidak berdaya oleh karena habisnya stok pembasmi serangga tersebut, pada akhirnya kami berjalan ke kasir dengan membawa barang belanjaan masing-masing dan memutuskan untuk bicara soal siapa yang lebih berhak membawa pulang benda tadi di tempat parkir.

Aku tidak tahu bagaimana perkenalan dengan cara seaneh ini terjadi. Yang kutahu, saat itu, semua terjadi begitu saja. Mengalir seperti air dan aliran itu terasa menyegarkan, karena sejauh yang aku tahu, aku tidak pernah merasakan getaran tertentu di dada saat bicara dengan perempuan mana pun, kecuali kali itu.

Jane orang pertama yang menggugah hatiku. Dia cinta pertama. Saat dia datang tepat di pintu gerbang kesadaranku atas dosa-dosa masa lalu, aku mengira, “Barangkali ini yang Tuhan maksud. Barangkali aku dilahirkan untuk berbuat jahat sementara waktu, sebelum jatuh cinta kepada gadis ini dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.”

Kubayangkan itulah yang terjadi. Takdir bagus yang kudapat bukan tanpa tujuan. Mungkin Tuhan membuatnya begitu agar aku dapat berbagi kisah menakjubkan suatu hari nanti ke telinga banyak orang. Sayangnya, khayalan itu tidak nyata. Orang-orang dari masa laluku datang dan mengejarku atas bekas-bekas dosa yang dulu kukerjakan. Mereka menuntut balas, meski penjara sudah mengurangi banyak waktuku.

Balasan itu, tentu saja, kematianku. Tapi, polisi tak tinggal diam. Orang-orang lain yang juga punya masalah denganku di masa lalu, sebagian tak ingin aku tewas dihakimi pihak-pihak yang tidak puas dengan putusan hakim yang menjebloskanku ke jeruji besi selama belasan tahun. Meski kemungkinanku tidak mati dihakimi itu besar, keberadaan orang-orang itu membuat Jane membaca segala yang sejauh ini aku sembunyikan.

“Penjahat itu sebaiknya dikirim ke neraka!”

“Tidak pantas diberi kesempatan!”

Dengarlah suara-suara itu. Hampir setiap hari teror bingkisan berisi bangkai tikus, lemparan batu ke jendela kamarku, membuatku tidak lagi bisa menutup-nutupi ini dari Jane.

Ketika akhirnya gadis itu tahu masa laluku, aku merasa malu. Sejak kami kenalan, kesan baik selalu kubuat agar dia percaya aku lelaki serius yang tepat untuk dia jadikan pendamping hidup. Setelah kebusukan dari masa laluku terkuak, aku merasa tak pantas berdiri di sisinya Alangkah baiknya aku tenggelam di suatu tempat yang dalam dan tak terlacak, lalu hilang selamanya.

Hanya saja, Jane pikir masa lalu adalah lembaran yang sudah tertutup dan tak dapat dibuka untuk diisi ulang dengan tindakan-tindakan baru. Ia tahu semua yang kulalui saat itu telah lama berlalu.

“Kini saatnya bertindak untuk lembaran yang sama sekali kosong,” tutupnya, sama seperti saat kami berdebat soal siapa yang membawa pulang sebotol pembasmi serangga setahun lalu.

Jane menutup perdebatan tentang apakah aku harus pergi sejauh yang kubisa atau tetap menjalani hidupku bersamanya. Demi menjauh dari orang-orang yang dahulu anak mereka kusakiti hanya demi sedikit uang, hingga sebagian di antara mereka mendapat trauma, Jane mengajakku pindah ke luar kota.

“Kita hidup di sana. Ada rumah peninggalan almarhumah Tante. Beliau tak pernah menikah dan tentunya tak punya anak. Saat kecil, aku sering dititipkan Mama ke sana,” jelas Jane ketika mengemasi barang-barangku ke dalam koper.

Aku tidak dapat menjawab dan membisu.

“Ayolah,” lanjutnya, “jangan dipikir aku bakal mengubah pandanganku soal dirimu hanya karena masa lalumu! Bagiku kamu tetap sama. Kamu adalah kamu yang kukenal. Kecuali kamu belum benar-benar berubah.”

“Aku sudah berubah! Tidak sama seperti dulu!”

Jane memeluk dan mengecup keningku. Ia memelukku bagai sosok ibu memeluk anak remajanya yang bertubuh besar. Gadisku ini sangat kurus dan terbilang pendek jika dibandingkan denganku yang jangkung.

Saat momen pelukan ini berlangsung, aku rasa kehangatan sekaligus getaran aneh di dada, dan di kepalaku, semut yang kuharapkan hilang ditelan limpahan air di suatu kolam, selokan, atau waduk, kini berenang-renang menepi. Kubayangkan semut malang itu menjemur diri di tengah terik matahari, persis di tepian genangan air yang baru saja nyaris membunuhnya.

Itu bukan semut. Itulah aku, dalam ukuran kecilku setelah disihir oleh seseorang. Dan makhluk kecil itu membesar seiring waktu. Kembali ke ukuran normal untuk terus melanjutkan hidup.

Aku tidak tahu bagaimana cara berterima kasih pada Jane-ku. Penerimaannya pada masa laluku, juga cintanya, membuatku bersyukur pernah secara sadar membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu kubutuhkan: pembasmi serangga. Kalau saja dulu aku tak pergi membeli itu, kami tidak akan ketemu dan entah bakal berakhir dengan cara apa diriku kelak. [ ]

Gempol, 2017-2019

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).



Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

Rahasia Sepotong Rendang

Cerpen Era Ari Astanto

/1/

Istriku asli orang Padang. Dia lahir dan tumbuh di sana. Dia begitu mahir memasak masakan khas Solo-Jogja sampai ala Amrik dan Eropa, tapi selalu gagal memasak Rendang, masakan khas Padang. Berbagai cara dan resep sudah dia coba. Dari buku memasak, dari acara panduan memasak—baik dari televisi atau dari Youtube. Bahkan belajar dari koki rumah makan Padang yang terkenal. Dan, masih gagal.

Walaupun memang bisa terjadi tapi tetap aneh menurutku. Aku yakin istriku menyimpan suatu rahasia. Kecurigaanku semakin menguat dan kuputuskan untuk mengetahui sebab-musababnya setelah aku merasa ada keanehan yang layak dicurigai. Aku mengingat dan memperhatikan setelah beberapa kali aku temani, dia berhasil memasak rendang yang lezat. Padahal dengan resep dan cara yang sama.  Karena itulah aku yakin dia sengaja memasaknya sembarangan walaupun dia tahu kegemaranku akan rendang.

Tapi mengapa? Ada alasan apa? Setiap kali aku bertanya begitu dia selalu mengatakan tidak tahu mengapa bisa terjadi? Sebab itu, aku harus menemukan cara membuatnya mengaku tanpa aku paksa.

/2/

Aku tahu suamiku sangat suka rendang. Aku juga tahu dia mulai curiga tentang kepura-puraanku. Kecurigaannya itu benar. Aku memang sengaja membuat rendang yang gagal. Aku terpaksa. Ada perasaan getir, sedih, dan perih tiap kali memasak rendang. Kenangan hitam itu tak bisa kuenyahkan. Begitu pula perasaanku jika tidak menuruti permintaan suamiku untuk dimasakkan rendang. Aku sangat menyayanginya.

Aku menggagalkan kelezatan masakan rendangku dengan harapan agar suamiku memaklumi kelemahanku dan tidak memintaku memasakkannya lagi. Tapi, harapanku sekiranya akan sia-sia. Suamiku mencurigaiku dan sedang mencari cara membuatku mengatakan penyebab aku membohonginya. Bukan tidak mau mengatakan atau membohonginya, tapi itu aib. Aku khawatir dia menceraikanku setelah mengetahui siapa aku sebenarnya.

Haruskah aku mengatakannya dengan resiko dia memarahiku, lantas rumah tangga kami berantakan? Ataukah aku memasakkan rendang setiap dia minta meski hatiku tersayat tapi rahasiaku aman?

/3/

Lelaki tua pemilik rumah makan padang itu digelandang ke kantor polisi. Mereka menemukan sabu-sabu tersimpan dalam daging sapi miliknya. Pembantunya yakin barang itu bukan milik tuannya. Dia tahu tuannya itu dijadikan korban.

Lelaki tua itu tak bisa mengelak dan divonis tembak sampai mati karena tidak bisa membuktikan itu bukan miliknya. Anak perempuan lelaki itu meraung atas nasib yang menimpa ayahnya.

“Aku tahu siapa pemilik barang itu. Tapi, makanlah rendang ini dulu. Seharian kau menangis dan tak makan sedikitpun,” kata pembantunya, “Kita bisa balas dendam, jika kau mau.”

Sebentar berpikir, si gadis menyetujui ide balas dendam itu. Dia pun makan sepotong rendang itu. Beberapa jenak kemudian dia merasa pusing. “Kau beri apa rendang ini?”

“Sabu-sabu. Aku pemilik barang itu.”

Si gadis hendak marah. Tapi, pusing yang terlalu membuatnya terjatuh tak sadarkan diri. Ketika bangun dia sudah berada di kasur tanpa pakaian dan selangkangnya terasa perih.

/4/

Kita berjumpa di warung makanku dekat salah satu kampus di Jogja. Kita saling jatuh cinta dan akhirnya menikah. Hingga kau mencurigaiku menyimpan rahasia. Tapi, akan aku katakan sejujurnya rahasia sepotong rendang itu sekarang.

Kau terbelalak setelah mendengar kisahku dan tak bisa berucap. Pandanganmu lantas menunduk. Cukup lama. Aku khawatir kau tak terima, memarahiku, dan rumah tangga kita berantakan.

Ketakutanku serasa melebar dan tak terkendali. Aku khawatir kau akan selingkuh. Cerai mungkin lebih baik daripada kau menggunakan alasan tidak terima atas masa laluku.

Aku menunggumu berkata sesuatu sambil menunduk menahan air mata.

“Lihat aku, Ahli Rendang,” kau memang sering memanggilku Ahli Rendang.

Aku menatapmu sebentar lantas menunduk lagi. Kudengar kau melanjutkan bicara.

“Jangan pikirkan masa lalumu. Tapi, maukah kau memasak rendang yang lezat untukku, Sayang?”

Aku mendongak. Menatapmu nyaris tak percaya mendengar keputusan itu. Kau tersenyum.

Hujan pun turun di sudut mataku.

Nusukan, Solo.

Era Ari Astanto lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo. Aktif di komunitas Sastra Alit. Karya yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul The Artcult of Love (2014), Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (2013). Novel terbarunya “Bertutur Sang Gatholoco” terbit 2018, dan yang akan terbit “Di Pasujudan Bonang”.


Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI

Cerpen

Perona Merah di Wajah Ibu

Cerpen Tiqom Tarra

Sejak perceraiannya dengan Ayah, Ibu tak mau lagi berhias. Sekadar memulas pemerah bibir atau perona pipi pun ia enggan. Hanya sebuah sisir yang ia gunakan untuk merapikan rambut panjang, selebihnya segala macam perlengkapan rias ia singkirkan dari kamar. Bagiku, pucat wajah Ibu sama halnya dengan layu dirinya. Seperti bunga yang kehilangan warna, Ibu memudar.

“Aku berhias hanya untuk ayahmu, tapi sekarang tak ada lagi alasan bagi Ibu untuk melakukannya.”

Aku tak lagi bisa memaksanya, meski aku rindu melihat Ibu yang berlama-lama di meja rias untuk menabur bedak, menyamarkan garis-garis di kening, menghilangkan lingkaran hitam di sekitar mata, dan membuat bibir yang selalu tersenyum itu menjadi merah serupa buah stroberi. Aku rindu melihat Ibu yang sibuk mematut wajahnya di cermin dan merasa percaya diri bahwa dialah wanita paling cantik di dunia; tak ada wanita lain!

Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti dan memahami keputusan kedua orangtuaku untuk bercerai. Aku tak mau terlalu egois dengan mengharapkan sebuah keluarga utuh hanya demi status sosialku di masyarakat sedangkan aku tahu ada gejolak dalam keluargaku. Aku mengerti inilah yang terbaik. Meski itu tidak berarti aku mengerti mengapa Ayah lebih memilih wanita lain.

Kurang cantikkah Ibu? Kurang baikkah Ibu? Bagiku Ibu adalah seorang wanita yang sempurna; ibu yang baik dan istri yang teladan.

Selalu ada buah yang lebih segar. Mungkin itu yang menggoda Ayah. Usia Ibu memang tak bisa dibohongi atau ditutup dengan perias wajah, sedangkan Ayah menginjak masa pubertas kedua. Ayah berpaling pada sekretarisnya yang matang, yang senyumnya lebih menggairahkan, berkulit mulus kencang. Sejak itu begitu banyak pertengkaran, amarah yang tak lagi bisa dibendung, kekecewaan tak lagi bisa diadang. Mereka menyerah dalam persidangan.

“Tak bisa Ibu bayangkan ayahmu menghabiskan malam bersama wanita lain. Lebih baik Ibu sendiri daripada menghadapi kesakitan berbagi.”

Selepas hari persidangan Ibu menghapus riasan di wajahnya dan sejak itu tak pernah lagi aku melihat ia berhias. Ia biarkan garis-garis halus muncul di wajah. Ia biarkan pipi itu mengendur tak berperona. Ia biarkan bibir tanpa senyum itu mengering. Ibuku seperti seorang yang tengah sekarat dan sebentar lagi malaikat maut mengambilnya.

Kadang ingin aku berkata, jika bercerai adalah pilihan agar Ibu tak harus dimadu, mengapa Ibu berkabung dalam duka? Bukankah akan lebih baik jika Ibu tunjukkan pada Ayah bahwa Ibu bisa tetap bahagia, bahwa Ibu tak membutuhkan seorang laki-laki yang tak setia? Mungkin memang benar Ibu telah cinta mati pada Ayah dan sekarang Ibu tahu bahwa cinta itu tak lagi terbalas. Maka, pada sebuah kekecewaan yang mahakuat Ibu menyerah, memilih berkabung dan tak lagi bisa melihat dunia seperti dulu.

Aku teringat pada nenekku yang ditinggal mati oleh Kekek. Bagiku mereka adalah gambaran cinta sejati. Kakek dan Nenek telah melewati waktu yang teramat panjang untuk saling mencintai, saling menjaga dalam kasih dan duka. Dan ketika ajal itu merenggut Kakek, Nenek tak mampu lagi bertahan meski berulang kali ia katakan ikhlas. Tepat sebulan sejak kepergian Kakek, Nenek menyusulnya setelah menahan kesakitan rindu yang dihasilkan dari perpisahan. Mereka dimakamkan bersebelahan.

Aku yakin di surga mereka telah bahagia; menghabiskan keabadian dalam cinta selamanya. Aku pun yakin Ibu ingin memiliki cinta yang sama seperti kedua orangtuanya; menikah, hidup bersama sampai tua, mati, dan bertemu kembali di surga. Namun, Ayah berkehendak lain.

“Maafkan Ayah, Nak,” kata Ayah seusai persidangan.

Aku tak cukup dewasa untuk mengerti bagaimana seorang laki-laki yang telah bersumpah setia, mengingkari janji demi seorang wanita lain. Dan aku tak cukup dewasa untuk mengerti arti kesedihan yang ditunjukkan Ibu. Bagiku tak mengapa mereka berpisah, tapi aku berharap mereka bisa mendapat kebahagiaan satu sama lain. Bukankah itu impas?

“Kau hanya belum mengerti, Nak,” kata Ibu.

Ya, aku memang belum mengerti. Aku biarkan Ibu dalam kesedihannya; hari-hari berlalu dengan kepucatan di wajah Ibu. Ia menua lebih cepat, seperti Nenek yang menemuai ajal lebih cepat demi bertemu kakek.

Aku pikir setahun atau dua tahun cukup bagi Ibu, tapi aku salah; ia tetap melanjutkan kesedihannya. Bahkan di hari pernikahanku, putri semata wayangnya, ia tetap tak berhias. Meski terkadang menampakkan senyum di bibir, tapi tetap saja ia serupa pelayat yang mengantar jenazah ke liang lahat dengan muka pucat, baju serba hitam. Pasti karena itu ada orang yang berbisik, “Mungkin ibunya tidak merestui.”

Sejak itu aku mengenal arti kata benci. Tak seharusnya Ibu begitu keras kepala hanya untuk menunjukkan kesedihannya ditinggal kekasih hati. Bagaimanapun aku anaknya yang ingin semua sempurna di hari pernikahanku. Mau ditaruh di mana mukaku ketika mertuaku bertanya perihal Ibu? Aku hanya bisa menunduk dalam-dalam padahal aku telah menyiapkan kebaya indah berwarna merah muda untuk Ibu; kebaya yang jauh hari sudah aku wanti-wanti untuk Ibu kenakan, tapi Ibu lebih memilih pakaian pelayat.

Jika Ibu berkabung begitu lama untuk sebuah kekecewaan pada Ayah, maka aku bisa membenci dengan waktu yang sama lamanya untuk kekecewaan pada Ibu. Aku hengkang dari rumah yang membesarkanku. Mengubah kesepakatan dengan Mas Bram, suamiku, bahwa kami akan tinggal di rumah orangtuaku demi menjaga Ibu. Aku memilih tinggal jauh dari Ibu.

Aku tahu tak seharusnya aku membenci Ibu untuk keputusannya. Mas Bram selalu menasihatiku, tapi aku tak bisa. Aku terlalu kecewa.

“Mungkin kamu hanya belum mengerti arti kesedihan Ibu,” kata Mas Bram setiap aku menolak untuk mengunjungi Ibu.

Bertahun lamanya aku memelihara kekecewaan. Hingga anakku lahir, aku belum pernah sekalipun menjenguk Ibu. Aku yakin ia masih dalam perkabungannya; mengenakan pakaian serba hitam, tanpa perona di pipi, apalagi lipstik di bibir. Aku hidup bahagia dengan keluarga kecilku, hingga kusadari ada yang sedang bermain di belakangku.

Mas Bram jadi lebih jarang pulang ke rumah. Ada saja alasannya dan aku mulai curiga. Ketika kutanya ia marah, mengatakan bahwa aku tak seharusnya curiga apalagi menuduhnya macam-macam. Ia tak tahu kalau sudah memegang bukti-bukti perselingkuhannya dengan seorang klien. Bisnis katanya, padahal mereka memadu cinta di pulau seberang.

“Mari kita akhiri saja,” tukasnya.

Harusnya aku yang mengatakan itu. Sejujurnya aku mungkin bisa berbagi, tapi Mas Bram tidak mau. Ia lebih memilih menceraikanku untuk bisa bersama kekasihnya yang baru. Hingga putusan persidangan dibacakan Mas Bram tak pernah sekalipun datang; ia meninggalkan rumah besar kami, mengabaikan putra kecil kami. Rumah ini serasa kuburan yang sepi dan penuh kesedihan.

Di depan cermin di mana biasanya aku mematut diri untuk merasa menjadi yang paling cantik untuk suamimu, kuhapus lipstik di bibir, perona di pipi, dan menggerai rambutku yang panjang. Tak ada lagi cinta yang tersisa. Tak ada lagi gunanya aku merias wajah karena kekasih yang begitu aku puja memilih wanita lain.

“Pakailah.” Ibu datang dengan senyum tipis di wajah. Disodorkannya selembar baju berwarna hitam padaku.

Seperti inikah yang selama ini Ibu rasakan? Ketika kekasih hati pergi, bukan untuk Tuhan, melainkan untuk wanita lain, maka separuh jiwaku telah mati. Kini yang tersisa adalah perkabungan panjang karena aku tahu tak akan ada cinta yang lain. Bisa saja saat ini Ibu mengatakan alasannya tentang apa yang selama ini ia sikapkan, tetapi tidak ia lakukan.

***

Bojong, 29 Januari 2019

Tiqom Tarra, lahir dan tinggal di Pekalongan. Selain menulis cerpen dan novel, kini menggeluti seni doodle. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Harian Solopos, Radar Surabaya, Fajar Makassar, dan Gogirl! Web Story. Runner up lomba novelet Loka Media dengan novelet Renjana (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI