Cerpen Ardy Kresna Crenata
Kali
ini pun perempuan itu kembali mengenakan kemeja putih. Lehernya yang terbuka
lebar jadi terlihat lebih putih, dan semakin lama mengamatinya Erina semakin
yakin ia benar-benar menyukainya. Ia bisa mencium bau laut, dan merasakan angin
yang datang membawa rahasia ikan-ikan. Ia pun bisa
mencecap asin yang berubah pahit di lidah, dan mendengar suara-suara parau yang
tersapu dari tempat-tempat jauh. Dan perempuan itu, si perempuan yang tengah
duduk di samping pengacaranya yang buruk rupa itu, berada di sana, berdiri di
sana, di pantai itu, bersamanya. Erina membayangkan ia dan perempuan itu
berdekatan, bersisian, dalam jarak yang membuat mereka bisa menangkap gumaman
masing-masing, dalam kesunyian yang membuat mereka bisa mengkhidmati degup
jantung masing-masing. Ingin sekali Erina meraih tangan perempuan itu, dan
menggenggamnya. Erat. Namun dalam bayangan sekalipun, rupanya ia masih saja
sulit melakukannya.
***
Pertama
kali Erina menyadari ia menyukai perempuan itu adalah sebelas hari yang lalu.
Ia sedang lelah dan malas melakukan apa pun, dan televisi yang dinyalakannya
menyajikan sebuah persidangan kasus pembunuhan yang sedang ramai dibahas di
mana-mana. Ia bukannya tak tahu apa pun tentang kasus ini; justru, ia tahu
cukup banyak sebab sekali waktu, karena kelewat penasaran, ia sempat
membaca-baca sejumlah tulisan di media-media daring yang
membahas kasus itu. Ia tahu seperti apa akar permasalahannya, siapa-siapa saja
yang mungkin terlibat dan siapa-siapa saja yang mungkin dirugikan—atau
diuntungkan. Bahkan, yang satu ini adalah kebiasaannya ketika sedang begitu
memikirkan sesuatu, ia sempat mencatat beberapa hal penting tentang
kasus tersebut di sebuah kertas HVS kosong, dan seperti seorang detektif amatiran ia mencari-cari
keterhubungan antara satu hal dengan hal lain, dan mengolah semua itu di dalam
benaknya sampai ia tiba pada satu kesimpulan: perempuan itu memang bersalah.
Pada saat itu Erina merasakan semacam kepuasan dan ia tersenyum. Tetapi tak
lama kemudian, senyumnya itu lenyap. Erina menyadari apa yang baru saja dilakukannya
itu tak ada gunanya; ia bukanlah siapa-siapa dalam kasus itu dan penilaiannya
sama sekali tak akan mengubah apa pun. Dan begitulah ia memutuskan untuk tak
lagi ambil pusing soal kasus tersebut.
Akan tetapi
malam itu, barangkali karena Erina sedang kehabisan tenaga
sehingga memindahkan channel pun tak
juga dilakukannya, hal-hal tentang kasus tersebut kembali
bermunculan di hadapannya, dan seperti membuncah menghampirinya. Untuk pertama
kalinya ia menyaksikan perempuan itu di sebuah persidangan, dan ia bisa melihat
betapa perempuan itu merasa tak nyaman dan terancam. Cara perempuan itu
mendekatkan tubuhnya pada si pengacara, bagaimana ia menggerakkan bibirnya yang
tebal dan sesekali menutupi dengan tangannya, serta sorot matanya yang selalu
redup seolah-olah tak lama lagi akan padam, mengarahkan Erina pada penilaiannya
itu. Dulu, saat ia masih tinggal di Jepang, ia pernah begitu menggandrungi
serial televisi Amerika berjudul Lie to
Me; sebuah film yang mengangkat penggunaan ilmu membaca gestur dan mimik
muka dalam penyelidikan suatu kasus kejahatan. Erina melakukan analisis tadi
berdasarkan apa-apa yang diingatnya dari menonton serial televisi tersebut.
Sejujurnya Erina tak peduli akan menjadi seperti apa
persidangan itu. Kendatipun memang banyak informasi terhantar begitu saja
padanya, tidak lantas berarti Erina memikirkannya. Informasi-informasi itu
datang seperti kerumunan yang tak dibutuhkannya dan tak
membutuhkannya, dan Erina bertahan di posisinya berada seakan-akan kerumunan
itu tak berarti apa-apa baginya. Kalaupun ada yang menarik perhatiannya, itu
adalah si perempuan tadi. Ya, si perempuan yang menjadi terdakwa di kasus
tersebut. Si pembunuh. Erina mendapati dirinya telah cukup lama mengamati si
perempuan, dan ia yang semula hanya membaca raut muka dan gerak-geriknya telah
tanpa disadarinya mengamati juga tampilan fisiknya. Tulang pipi perempuan itu,
misalnya, menurutnya sedikit terlalu menonjol, sementara dagunya lumayan
runcing dan rahangnya terkesan maskulin. Perempuan ini diberkahi sejumlah kekurangan, pikir Erina, saat ia memandangi
leher perempuan itu yang kurang panjang dan sedikit gemuk. Satu-satunya yang
dianggap kelebihan oleh Erina adalah buah dada perempuan itu yang tampak
menonjol dan berisi. Agaknya kemeja putih yang dikenakan perempuan itu berbahan
tipis sehingga Erina, ketika kamera difokuskan dan didekatkan pada si
perempuan, bisa melihat bra putih yang tersembunyi di baliknya.
Itu adalah awal, dan bisa jadi awal yang buruk. Erina terus
mencermati hal-hal tentang perempuan itu dan ketika ia meraih ponsel untuk
melihat jam ia mendapati ia sudah bersandar di sofa dan tak melakukan apa-apa
selain memandangi televisi selama sembilan belas menit. Erina semakin tak ingin
melakukan apa pun. Ia hanya ingin bertahan dalam posisi itu dan tertidur, dan
mungkin bermimpi indah. Dan beberapa menit kemudian keinginan pertamanya
terkabul, meski yang kedua sayangnya tidak.
Erina bermimpi berada di sebuah pantai. Ia tak tahu nama pantai
itu, tetapi ia merasa mengenalnya. Laut sedang tenang, dan hari belum
malam; Erina masih bisa melihat sisa warna-warna terang jauh di hadapannya,
membuatnya merasakan di dalam dirinya ada semacam rasa hangat yang menjalar,
dan menular. Telapak tangannya terasa hangat, dan kehangatan ini lebih terasa
lagi ketika Erina menekankan kedua telapak tangannya ke pipinya. Telapak
kakinya pun begitu, meski itu mungkin lebih disebabkan oleh pasir yang
menyimpan apa yang telah diberikan cahaya kepadanya.
Lalu tiba-tiba,
tanpa pernah ia duga, seseorang sudah berdiri di sampingnya, di sebelah
kirinya. Dari aroma tubuh seseorang itu Erina bisa menebak ia perempuan, dan
ketika ia menoleh ia mendapati tebakannya ini benar. Satu hal yang tak pernah
terpikirkan oleh Erina: perempuan itu adalah si perempuan yang tadi dilihatnya
di televisi; si
pembunuh itu.
“Aku suka pemandangan seperti ini. Langit yang belum gelap,
laut yang belum hitam. Tak ada siapa pun di pantai ini selain kita berdua. Kita
bisa melakukan apa saja. Kita bisa meneriakkan apa saja. Sesuatu yang buruk terjadi
di sebuah tempat yang jauh dan kita tak perlu memikirkannya. Di sini, kita bisa
bahagia.”
Si perempuan di sampingnya mengatakan semua itu, dengan
tenang, dengan intonasi yang seperti membawa misi damai dan dengan suara yang
mampu mencairkan yang telah beku. Erina, dalam diam, memandangi perempuan itu.
***
Erina terlahir di sebuah keluarga yang tak menginginkannya.
Ibunya seorang politikus yang percaya terlahir sebagai perempuan di negeri itu
adalah sebuah kesalahan, sedangkan ayahnya seorang novelis gagal yang batal
menikahi ibunya dengan alasan yang hanya ia sendiri dan Tuhan yang tahu. Sejak
kecil, Erina dibesarkan oleh adik kandung ibunya, seorang perempuan penggila takarakuji—lotere—yang di masa mudanya
pernah berkarier sebagai aidoru—dari idol. Ia sebenarnya tak menyukai
perangai perempuan gemuk-pendek ini—menurutnya perempuan
ini terlalu banyak mengoceh dan hampir mengeluhkan apa saja—dan ia juga
merasa suami perempuan itu bukanlah lelaki baik-baik seperti yang
ditunjukkannya di rumah. Tetapi pasangan suami-istri
ini memiliki seorang anak perempuan yang baik; seorang anak berkulit pucat yang
setiap hari mengajaknya bicara dan menghabiskan waktu dengannya. Kelak anak ini
menjelma sesosok cahaya yang kehadirannya selalu membuat orang-orang di
sekitarnya mengamatinya; aura yang memancar darinya mengingatkan orang-orang
akan sosok ibunya semasa muda. Erina menyadari ia jatuh cinta pada perempuan
ini, di tahun keduanya di SMA. Lima tahun kemudian ia berusaha mengutarakan apa
yang dirasakannya ini dan itu adalah awal dari masa-masa paling suram dalam
hidupnya.
Erina memanggil perempuan itu Mai. Kendati mereka sudah
sangat dekat, bahkan kerap melakukan hal-hal intim yang pastilah akan membuat
orang-orang menggigit bibir seandainya mereka tahu, Mai rupanya tak melihat
Erina sebagaimana Erina melihatnya. Mereka pernah tidur dalam satu ranjang dan
berpelukan, tetapi bagi Mai ini tak lebih dari sebuah upaya untuk mengatasi
dinginnya malam. Mereka juga pernah menggunakan ofuro—bak
mandi untuk berendam—bersama-sama dan tentunya
saat itu keduanya sama-sama telanjang, tetapi bagi Mai ini hanyalah sesuatu
yang dilakukan untuk membuat aktivitas mandinya sedikit berbeda. Semacam
penyegaran. Katakanlah begitu. Erina kecewa mendapati Mai berkata tak bisa
membalas perasaannya. Tetapi Erina tak membencinya, tak bisa membencinya, bahkan tak
bisa menjauhkan diri darinya, sebab Mai masihlah sosok yang sama setelah
pengungkapan tadi; seolah-olah di mata Mai pengungkapan tersebut tak pernah
ada. Erina menghabiskan waktu-waktu luangnya dengan Mai seperti biasa.
Kedekatan mereka, yang justru semakin intim saja, dianggap Erina sebuah
perangkap yang mengekangnya sekaligus membuainya.
Setidaknya sampai tiga tahun lalu, Erina menikmatinya. Tentu
ia berharap suatu hari Mai akan membalas perasaannya, tetapi
kalaupun hari itu tidak datang juga ia merasa akan bisa menerimanya. Yang
penting kami jadi semakin dekat dan melakukan hal-hal menyenangkan
bersama-sama, pikir Erina. Satu hal yang luput diperhitungkannya adalah
bagaimana seandainya Mai menemukan seseorang yang kepadanya ia ingin
menyerahkan seluruh dirinya. Dan sialnya, pada akhirnya, itulah yang terjadi.
Hari itu mereka berada di sebuah pantai. Musim panas. Mereka
mengenakan bikini dan berdiri bersisian dengan tangan saling menggenggam dan
kaki terpacak pada pasir—air laut
secara berkala menyentuhnya. Orang-orang lain di
pantai itu sibuk dengan urusannya masing-masing, dan mereka tak peduli. Ketika
mereka saling menatap satu sama lain, mereka akan tersenyum
seolah-olah itu sesuatu paling istimewa di dunia.
Lalu tiba-tiba Mai berkata, “Aku jatuh cinta pada seseorang. Dia
lelaki yang baik, dan dia mencintaiku.”
Erina merasa di dalam dirinya sebuah gelas seketika pecah dan
air yang semula mengisinya semuanya tumpah. Gelas itu sendiri, mungkin, sudah
ada di sana sejak lama.
“Aku akan menikahinya. Aku akan mendampinginya dan kami akan
membangun sebuah rumah tangga dan keluarga yang hangat. Kami akan membangun
kebahagiaan yang akan kami rasakan berdua, selamanya.”
Erina meyakini di dalam dirinya sesuatu kembali pecah, tetapi
bukan gelas itu.
“Kamu tahu, di kehidupan ini seseorang akan menyakiti seseorang yang lain.
Tak mungkin tidak, seseorang akan menyakiti seseorang yang lain.
Dengan cara itulah kita manusia bertahan. Pada akhirnya kita ini makhluk egois;
kita akan mementingkan kebahagiaan kita sendiri dan mengabaikan kebahagiaan
orang lain. Sedari
dulu, kita selalu seperti itu.”
Erina tahu, ia semestinya berhenti menatap Mai; berhenti
mendengarnya.
“Kamu mungkin akan menilai aku mempermainkanmu,
memanfaatkanmu, memperalatmu. Silakan. Aku tak keberatan. Mulai besok, kita
akan menjadi dua orang yang saling asing.”
Erina merasakan genggaman Mai yang begitu kuat di tangannya.
Perempuan itu kembali tersenyum, tetapi kali ini matanya berkaca-kaca. Erina
tak tahu apakah ia sendiri tersenyum atau tidak, apakah matanya sendiri
berkaca-kaca atau tidak. Sore itu, di perjalanan pulang, mereka tak saling
bicara dan tak saling menatap.
***
Dalam sebelas hari terakhir ini Erina sudah mengalami mimpi
itu delapan kali. Garis besarnya sama: ia mendapati dirinya berada di sebuah
pantai dan tak lama kemudian perempuan itu muncul; setelah beberapa saat
perempuan itu mengatakan beberapa hal dan ia selalu terpukau oleh apa-apa yang
dilihatnya dan dirasakannya selama itu; dan ia akan terbangun tanpa sempat
mengatakan apa pun kepada perempuan itu. Saat terbangun itu, Erina merasa
begitu lemas; seakan-akan ia baru saja melakukan sesuatu yang benar-benar menguras
pikiran dan tenaga. Ia selalu butuh waktu kira-kira setengah jam untuk
menelentang dan tak melakukan apa pun selain menatap langit-langit kamar. Tadi
pagi, ia hanya bisa melakukannya sebelas menit saja. Seorang teman yang juga
kliennya menelepon dan memintanya mengirimkan hasil terjemahan pesanannya sebelum pukul empat.
Kini sambil menonton persidangan perempuan itu di televisi,
Erina mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dilakukannya dalam
tiga tahun terakhir. Ia keluar dari perusahaan periklanan tempat ia bekerja; ia
tinggalkan kamar apartemennya dan berkelana selama tiga bulan dengan berbekal
tiga potong baju saja; ia bertemu beberapa orang baru namun segera melupakan
mereka; ia mencoba peruntungannya di mesin pachinko
dan takarakuji; ia pindah ke
sebuah pedesaan dan memelihara seekor kucing yang diberinya nama Nyanko; ia
mengajar bahasa Inggris di sebuah bimbel lokal dengan bayaran rendah; ia
menerjemahkan tulisan-tulisan dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang dan
sebaliknya; ia dikejar-kejar seorang lelaki yang adalah ayah dari seorang
muridnya; ia mencoba mengiris pergelangan tangannya yang kiri; ia mencoba
membekap dirinya sendiri dengan bantal di tempat tidur; ia mencoba membenamkan
dirinya begitu lama di sebuah pemandian air panas yang sedang sepi; ia mencoba
penampilan baru dengan memotong pendek rambut hitamnya dan mewarnainya; dan tahun
lalu, ia mencoba membuka lembaran baru dengan mengambil kesempatan berkarier di
negeri ini, Indonesia, sebagai pengajar bahasa Jepang dan penerjemah-awal.
Ia telah banyak berubah. Semestinya begitu. Sebelum
memutuskan untuk hijrah ke Indonesia ia melakukan sejumlah penelusuran yang
membawanya pada kesimpulan bahwa orang-orang di negara yang akan ditujunya itu
cenderung sulit menerima hal-hal “baru”, terutama sesuatu yang dianggap
bertentangan dengan norma dan agama, dan Erina melihat ini sebagai sesuatu yang
menguntungkannya. Terkesan tidak toleran, memang, tetapi
justru Erina berharap lingkungan seperti itu akan memaksanya berubah, menjadi normal—meski sesungguhnya ia sadar itu hanya alasan belaka sebab
yang sebenarnya diinginkannya adalah melupakan apa-apa yang pernah dialaminya
dulu. Kini, setelah ia lumayan menguasai bahasa Indonesia, dan setelah ia
memiliki sejumlah teman dan klien orang-orang Indonesia yang kebanyakan adalah
laki-laki, apa yang diinginkannya itu, semestinya, terwujud. Ia menjadi dirinya
yang baru, yang normal. Namun begitulah sebelas hari yang lalu ia tersadar: ia, ternyata,
masihlah sosok yang sama.
“Kamu tahu, kita manusia tak bisa bertahan hidup tanpa
menyakiti manusia lain. Pada akhirnya begitu,” ujar si perempuan di televisi,
dalam mimpinya tiga hari yang lalu. Ketika terbangun Erina langsung teringat pada
Mai, dan ia berusaha membayangkan sosoknya, tetapi gagal; sosok yang kemudian terbayang
jelas di benaknya justru si perempuan di televisi tadi, si pembunuh itu, dan ia
menjadi kesal namun di saat yang sama bergairah. Erina
jadi membayangkan ia dan perempuan itu di sebuah ranjang dalam keadaan
telanjang, dan mereka berpelukan, dan mereka berciuman, dan mereka
berciuman ….
***
Perempuan
di televisi itu kembali
menggigit bibir bawahnya. Saat ia menegakkan tubuh untuk
membenarkan ikatan rambut, mata Erina tertuju pada buah dada perempuan itu yang
membusung, lalu pada leher perempuan itu yang terbuka lebar. Aku ingin
memeluknya. Aku ingin menciumnya. Ingin sekali, pikir Erina. Ia lantas
memejamkan mata, membayangkan ia tengah berada di pantai itu, mengkhidmati sisa siang yang kian tersamarkan kesunyian, membiarkan tubuh
rapuhnya terbuka menyerap setiap warna dan suara.
“Barangkali,” gumam Erina, “hidup bagiku adalah tentang menyakiti
diri sendiri. Pada akhirnya begitu.” (*)
Bogor-Cianjur, 2016-2019
Ardy Kresna Crenata, menulis cerpen, esai, dan puisi. Ia bergiat di Pembacaan Baru; sebuah komunitas ngobrol-ngobrol di Bogor.
Redaksi ideide.id memberikan honorarium kepada penulis yang karyanya dimuat meskipun tidak banyak.
Kirim karyamu sekarang juga di SINI