Puisi

Puisi Galuh Ayara

X

kau adalah x

yang berubah menjadi suara

yang kedap di kepalaku

menjadi dengung

kau telah melintasi tujuh dimensi

mampir di setiap kelahiran

menjadi suara bayi yang menangis

menjadi jerit putus asa seorang gadis

yang diselingkuhi kekasihnya

menjadi bisik pelan sebuah rahasia yang dijaga turun temurun

hingga batas yang sudah digambar takdir

lalu hari ini,

kau berada di bawah gedung

dengan kekasihmu

kau menangis ke arahku

yang siap melompat dari ketinggian–

seratus meter lebih

tapi tak berubah

di mataku, kau hanya memburam

2024


Rum Raisin Chocolate Ice Cream

siapa yang bisa melolong seperti anjing?

kau hanya wanita yang menangis setiap kali tubuhmu patah

di braga, trotoar menunggumu

dan seorang kekasih yang baik hati sedang duduk di bawah lampu

bersama anjing dan rum raisin chocolate ice cream yang sudah meleleh menjadi sisa udara dingin di tangannya

sedalam apa masa lalu menyayat kulit tubuhmu?

di kamarmu, kau cium aroma rum dan coklat yang meleleh

kau kenali udara dingin itu lebih dari mengenali dirimu sendiri

di braga, rum raisin chocolate ice cream

tinggal berupa aroma kehilangan yang tajam

lelaki itu menuntun anjingnya pulang lebih baik dari hari sebelumnya

lalu, kau ingin melolong?

di kamarmu, kau sedang merangkak menjadi–

anjing?

2024


Bunga Sihir

you are daffodil

but i’m devil?

kelak kesedihanmu sampai ke telinga bulan

; bakung yang merintih di sajak-sajak rapuh yang menggema sepanjang sungai mengalir tanpa ampun dan tanpa maklum

melewati keras kepalanya peradaban

melewati aku

di dinding kepalamu

kau bentuk senja menjadi tubuh perempuan

kau cium keningnya sepanjang umur dan sepanjang apa pun yang tak terjangkau ujung

kau adalah bakung

tumbuh sepanjang tubuhku

bungamu mekar di dadaku seperti sihir

kau merasuki tubuhku

melampaui akal

kau bawa jiwa perempuan yang kau cintai

lalu aku jadi menderita

ingatanku jadi lorong gelap menuju matamu

aku sudah menolakmu seperti iblis

aku siapkan racun paling mematikan

apabila kuminum, tubuhmu pecah dalam tubuhku

serpihan halusmu akan mengalir melalui arteri

lalu kulihat engkau hanya berupa–

wajah yang pucat

who’s the devil?

2024


Dari Aethelflaed ke Perutku

disaksikan bulan pukul dua pagi

aku melihat ia turun dari mata aethelflaed

lalu berdiri di kaki ranjang

ke mana perginya cermin-cermin di kamarku?

lady of the mercians

di dinding, aku melihat bayangannya berwarna putih

seperti warna sayap malaikat

dan kuda-kuda berlari

lalu seluruh kecemasanku lenyap

ia memelukku sampai gelap dan

rambutku jatuh helai demi helai

menjadi hujan yang lamat-lamat hilang

di pahaku bau amis darah berganti jadi aroma bebukitan dan bau dinding tua

lihatlah, tanpa cermin aku melihat aethelflaed melalui tubuh itu

; gadis kecil yang meringkuk tanpa ibu

menahan sakit perut datang bulan

yang membuatnya kedinginan

2024


Blur

begitu jauhnya aku

hingga tak berjarak dan tak terhitung

aku kehilangan tangan dan dahimu

aku kehilangan udara hangat hingga tubuhku biru. hingga bibirku kaku.

tapi aku tidak menangis

sejak lama dadaku sudah menjadi es

meski nyeri

dan sekelilingku menjadi mendung

lalu dingin

mengapa aku sulit menemukanmu? mengapa kamu tidak menemukanku

berikan lenganmu,

aku hampir hilang

2024


Petite Fleur

dadaku baru tumbuh sebesar kiwi

kiwi paling kecil yang pernah kumakan

kau bilang aku adalah gadis kecil yang manis

kau letakkan jarimu dengan gemetar

kelak di sini akan mekar bunga, katamu

tapi aku memelihara api

kau menggendongku seperti menggendong permen kapas

aku seakan melayang di punggungmu yang seluas gardenia

dan tidur layaknya peri kecil yang pucat

seperti vampir

lelaki besar yang tingginya mirip eiffel yang sulit kujangkau, sudah sejauh apa kau tamasya?

dadaku sudah tumbuh mekar

kau akan hirup wangi bunga yang dulu kau tanam di puting susuku

pinggangku sudah kuukir menjadi lembah

kau akan betah menjatuhkan diri di sana

seberapa jauh buku-buku membawamu lari dariku?

kuciptakan jalan pulang dari helai-helai bulu mataku yang jatuh

kau tidak mungkin tersesat bahkan jika matamu terpejam

bahkan jika kau tikam rembulan 

kau akan tetap menemukan jalan kembali

apa yang kau temui di sana?

konon harga kesetiaan lebih mahal dari mimpi, kan?

2023


Sejarah Kehilangan

di tubuhmu yang malang

waktu sudah amat matang

jarumnya berdetak ke arah maut

kau duduk saja di sana

dengan letih yang kau sembunyikan di dada

matamu menatap lurus pada ia yang berdiri di seberang jalan

di kepalamu tergambar sebuah wajah

seperti tayangan di televisi tua

dan adegan seorang gadis kecil yang menuntun chihuahua yang

kehujanan di punggung jembatan

tubuhmu menggigil

arloji berdetak lemah

ia masih bertahan di seberang jalan

sekarang wujudnya mirip seorang lelaki besar yang sedang mengawasimu

tangannya yang panjang dan gelap bergerak tak karuan

lalu cepat meraih tengkukmu yang dingin dan ungu

di kaca sebuah gedung

tak kulihat lagi wajah yang pucat

dan tak kulihat juga bayang seorang gadis mungil

yang menangis sambil menuntun chihuahua

maka aku merasakan lagi

kehilangan yang tidak asing

2023


Galuh Ayara, suka menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media. Penulis dapat ditemui di Instagram @_galuhayara

Puisi

Puisi Febriana Widyat Sari

Panggung

Babad, kiranya

percakapan yang tak kunjung usai

Babak demi babak

Berubah jadi cerita yang tak lagi kau bagi

Kita adalah tokoh utama

Panggung siap dibuka

Sorot lampu dipijarkan

Skenario dihayati

Bila saatnya tiba, tak bisa dihindari

Kisah, dirayakan

Runyam meruncingkan ingatan

Mengunci menyimpan kenangan

Simpati menjebak rasa

Kealpaan tiada dikira

Lupa, yang tak disengaja

Kesadaran,

Peredam angkara

Penawar luka

Panggung,

Arena kesadaran tiada tara

Menjalani karma, yang

tak pernah salah alamat

(Febriana – Solo, 19 Juni 2022)


Rumah

Aku adalah rumah

Tempatmu kembali

Pergilah ke manapun kau mau

Lalu pulanglah kepadaku

Aku adalah rumah

Kau boleh pergi ke mana kau mau

London, Paris, Itali

Tapi kau pulang padaku

Aku adalah rumah

Tempatmu berteduh

Dari cuaca yang mendera

Bernaunglah padaku

Aku adalah rumah

Kau boleh bersuka di manapun kau mau

Tetapi jika kau berduka

Pulanglah kepadaku

(Febriana – Solo, 25 Juni 2022)


Lebam Ruam

Lebam..ruam..

Berteman nyamuk-nyamuk

Jalan sunyi yang ditapaki

Berkelok ke sana ke mari

Terombang-ambingkan angin

Nasib adalah kepastian

Dewasa di sebuah ruang waktu

Tahun-tahun hidup dalam bahaya

Penguasa adalah Tuhan

Membiarkan hidup segelintir manusia

Berkuasa atas hilangnya banyak nyawa

Menjadikan mereka jiwa-jiwa yang berkelana

Tahukah kau, jiwa yang malang

Bintang bersinar dalam kegelapan

Masa gelap itu kau hiasi

Dengan jiwa-jiwamu yang terus hidup

Meski ragamu dibinasakan

Jiwamu ada dalam pelangi selepas hujan

Kelembutan sinar mentari

di setiap pagi yang damai dari semesta

Tanpa rekayasa perusuh kemanusiaan

Kau adalah nyanyian indah

Tak tertandingi dari burung-burung mockingbird

(Febriana – Solo, 5 Juli 2022)


Musisi Kekal

Masa depan, tak tertulis

Ucapan dari jiwamu,

Bebas bak burung terbang

Di birunya awan-awan

Bersama para dewa

pecinta suara-suara

Pemuja lema-lema

Aku pemujamu

Pun dia dan mereka

Tapi kau di mana

Menghilang seperti udara

Menguap

Aku menghirupmu

Kau hidup dalam alam pikirku

Dia dan mereka

Aku mendengar sendu teriakmu

Kau pergi berkeliling semesta

Pesanmu kau kan menciumi harum

Makhluk-makhluk jelita

Tapi aku di mana diantara kunang-kunang

Kau mau berdansa semalaman

Kau mau lihat gemerlap kota-kota

Tapi, Joe

Kau petik gitarmu

Sendu rindu menggebu

Lakukan apapun dalam keterbatasan

Lalu kau niatkan

Mohon ampun pada semesta seru sekalian alam

Mengabdi pada Nya selamanya

(Febriana – Solo, 31 Oktober 2022)


Residu Rasa

Cipta menginisiasi temu

Temu dua jiwa yang tersesat

Tersesat di tengah rimba beton

Beton menggiring raga-raga berlarian

Berlarian kian kemari menjemput asa

Asa yang terukir atas sensasi-sensasi menggelora

Karsa meminang kisah

Kisah potongan warna-warna

Warna terpulas polesan kuas

Kuas menggores garis-garis

Garis berbaris-baris dalam pucat malis

Rasa mengembang kuasa

Kuasa menari silih berganti

Berganti jiwa dan raga

Raga mengecapi ampas terhempas

Terhempas diantara buih gelombang

Gelombang menggulung residu rasa

(Febriana – Solo, 21 November 2022)


Febriana Widyat Sari, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah tahun 1983. Menamatkan pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa (UNS) dan Ilmu Hukum (Unisri). Seorang ibu satu anak. Sedang aktif menulis ‘gig report’ musik-musik arus pinggir untuk feedbackzine.blogspot.com.

Puisi

Puisi Ian Hasan

Menara Api

aku pernah bersumpah

atas darah jalang si Dursasana

bara api yang telanjur menyala

menanam nyeri di rahim luka

sejak kehormatanku dipertaruhkan

dan kebenaran berdiri bungkam

di mulut para ksatria

wahai Sang Guru Drona

akulah Pancali yang tercipta dari api yadnya

wahai Bhisma yang Agung

akulah Parsati, sendi kehormatan yang kau usung

wahai para ksatria luhur Dinasti Kuru

adakah hak kalian merestui pertaruhan atasku?

kebenaran hanya omong kosong

dan melaksanakannya bukan lagi darma

karena kebungkaman telah menjelma iblis

yang menelanjangi kepalsuan kalian

seraya kontan memakan korban

orang kalah sepertiku

jika perempuan selalu menjadi tumbal

dan kesuciannya gampang disingkap paksa

adakah lelaki yang bisa dipercaya?

selamanya akan kuingat

segenap penjuru Bharatawarsha adalah perebutan

dan kemenangan Arjuna melucuti kemerdekaan

agar kelima Pandawa bisa berkata,

“dia kini menjadi milik kami.”

selamanya tak pernah kulupa

Rajasuya adalah pesta muslihat para ksatria Kurawa

supaya terlindung di balik tirai darma

seraya tertawa di antara mereka,

“dia kini menjadi milik kita!”

maka izinkan kubangun menara ini

kelak berdiri di tengah padang Kurusetra

adakah sumpah ini kalian terima?

Karanganyar, 2023


Mantra Ulu-Ilir

kuikuti arah datangnya air

bening menyusuri hulu sungai

yang terjepit di antara dua tebing

kaki mendaki pundak bukit telanjang

yang ditanami kubis, wortel, sawi, dan kentang

seraya tampak berserakan di sana-sini

tumpukan botol bekas kemasan pestisida

dan jejak luka yang kerap menguap

dari wajah para petani tanpa dosa

penghujan datang

dan mata air adalah gadis perawan

yang ditinggal pergi kekasihnya

bumi telah mencatat silsilah ketamakan

yang tekun mengabadikan kabar kehilangan

cacing, humus, burung, serangga, ikan

batu logam amblas, gunung bukit dikepras

sedang sampah dan racun kian mengendap

di mimbar dan meja orang-orang beradab

kemarau datang

dan mata air adalah ingatan buram

yang menguning disengat penyesalan

rindu kali ini bermuara pagi

serupa hujan pertama disengat matahari

menguar bersama keharuman tanah basah

di halaman senja yang masih menyala

aromanya melambung di langit-langit

kepala dan sebagian darinya membatu

di ujung cangkul dan pena

Karanganyar, 2023


Selawat Bumi

riwayatmu adalah ibu

yang kini terbaring murung

dengan tangan menggenggam zikir

dan senja mengapung di bola mata

maka kesetiaan menasehatiku tentang akhir

satu bait puisi yang luluh lantak akibat kelalaian

penutur kata membubuhkan tanda baca

kelangkaan air

kekacauan musim

kerusakan genetik

kemandulan fertil

kepunahan spesies

kelanjutan hidup

aku butuh separuh lembaran langit

untuk menghapus garis ajalmu

setelah kurendam terlebih dulu dalam bejana

berisi ramuan limabelas macam bumbu:

luka, tangis, dendam, mimpi, sunyi, rasa, niat, laku,

hasrat, giat, cermat, gerak, cipta, karya, dan iman,

serta pada seduhan terakhir

—setetes nyali kutambahkan

sebelum kiamat benar-benar menjemput

di hari keberangkatan kata sekarat

aku tetap berkhidmat pada kesembuhan

dan berharap kekuatan seorang diri

mendapati sekawanan burung kenari

menumpahkan rindu yang menghijau,

menyiramkan kasih yang membiru

melukis harmoni serupa pelangi

dan kasih manusia terajut sebagai  helai kapas

selembut udara memenuhi rongga dada

—setiap makhluk ciptaan-Nya

karena tuhan mengangkat khalifah

bukan sebagai izin untuk menjarah

menghancurkan atau sekadar mengambil

tanpa memberi imbal balik yang adil

Karanganyar, 2023


Kado Pengantin

: Rasih M. Hilmy

andai putaran waktu terhenti di awal lembaran baru

nyatanya ia masih bergerak di luar sana melawan beku

air sungai mengalir ke hilir, dedaunan menua lalu gugur

awan-awan pun sedia bergilir, butiran hujan setia bertabur

sebab kini kau bukan lagi seorang diri, tapi berdua

merayakan takdir demi segenggam bahagia

seiring sejalan kalian saling menerima

semua kenyataan apa pun adanya

“denganmu, kesialan macam apa

yang membuat derita?”

tandasmu padanya

jika tahun ini kita ibaratkan jam di dinding kamar

pada angka dua belas, sepasang jarum terhenti sebentar

setelah melewati satu episode petualangan gamang

detik ini adalah kenyataan yang berumur panjang

dan semoga inilah pengadilan suci, ganjaran

atas kebebalan yang direstui semesta raya

puisi yang kalian terima tanpa pilihan

hanya kasih sayang, tiada penyesalan

“tanpamu, keindahan macam apa

yang bisa kunikmati?”

tegasmu padanya

aku menyaksikan langit tergelar di dadamu

dengan putik dan tunas yang segera saja bersemi

pada satu pagi yang terbit dari sepasang mata istrimu

mutiara berwarna biru, perak, kelabu, jingga, dan ungu

adalah jenis-jenis musim yang kini kau himpun

setulus mungkin tanpa kehendak melawan kepastian

dan seketika itu pula kutahu, kau telah menyerah

untuk hidup merawat puisi yang kau sebut rumahmu

Karanganyar, 2023


Menjala Angin

kita telah lama belajar terbang

membuntuti angin dari negeri tanpa musim

lesap tanah dan air diserobot maling

dan kota-kota di permulaan pagi,

melahirkan anak-anak yang tumbuh dari tumpukan sampah

masa depan berpinak dari rahim hologram ladah

arus tinggi informasi

laju kemajuan teknologi

pesat kembangnya industri

dan waktu adalah panggung perayaan

senjakala kemenangan

mimpi-mimpi di meja makan,

tak peduli gizi dihidangkan setengah matang

menimbun racun yang bersekutu dengan penawarnya

layanan medis ahli

kemujaraban farmasi

kepastian polis asuransi

dan rumahsakit-rumahsakit makin subur

ragam penyakit menjamur

kita agaknya terbiasa patuh dan tabah

menirukan kegilaan dinding-dinding sekolah

kalut menghafal larik mantra dan rajah

kita pun sejatinya kerap lalai menghitung

jala angin yang ditinggalkan sayap burung-burung

dan langit lebih murung ketimbang resah gunung

Karanganyar, 2023


Ian Hasan, lahir di Ponorogo, saat ini tinggal dan bergiat di Sanggar Pamongan Karanganyar, selain juga terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata. Buku Kumpulan Cerpen perdananya berjudul Lelaki yang Mendapatkan Jawaban Atas Kisahnya Sendiri, terpilih sebagai finalis Hadiah Sastra Ayu Utami untuk Pemula “Rasa” 2022. Penulis dapat disapa memalui akun instagram @ian_hasan

Puisi

Puisi A. Warits Rovi

KESENDIRIAN MESIN KETIK

aku melanjutkan hidup dengan paling sederhananya degup

sambil menikmati kesendirian—sepi terus menyayangi

dan pada setiap rongga tubuhku, anak laba-laba

tekun mengaji:

           mengaji dengan membaca setiap kerangka tulang

yang patah dan berdebu. bibirnya yang pucat pernah

berkali-kali menanyakan

sehelai kertas;

            kertas adalah kekasih masa laluku yang lebih

memilih printer untuk memasrahkan urusan hidup

dengan ukiran huruf-huruf;

                         huruf-huruf telah diperintah zaman

untuk meninggalkanku selamanya, dan tak boleh

interupsi kepada dunia, karena dalam langkah kemajuan

ada yang mesti ditinggalkan.

Rumah Filzaibel, 2023


LAPTOP SEDERHANA, IDE SEDERHANA, DAN

KESEDERHANAAN SEBENTUK SAJAK

1

suatu pagi yang ditinggal embun, laptop memintaku

menulis sajak dengan kedip mata kursor yang memelas

beberapa kali kucari gagasan, beberapa kali kutempuh

gugusan—yang ada hanya kekosongan yang mengakhiri

tatap mata titik di datar layar;

                                       layar dirambah jalan kepiting

yang menjepit rontoknya rambut bulan dan kuku patah

milik angin;

           angin yang mengitari kepalaku—saat diri terus berpikir

tentang sajak apa yang pantas ditulis, sedang di luar sana

sajak-sajak ditulis hanya untuk didustai.

2

dengan sapa rahasia, laptop lalu membisikkan sesuatu

“tulislah saja tentang aku, apa pun bentuknya,” suaranya

serak, gamang, dan gemetar, tiba samar

di lubang telinga:

                 telinga hanya bisa menerjemahkan suara

rontokan daun di halaman rumah tak berpenghuni, sebab

ia berkesimpulan bahwa sajak adalah kata lain dari sepi.

huruf-huruf pun kuketik, saling dekap di balik

tarian jari-jari;

            jari-jari yang sabar menyusun tubuh sajak sederhana,

sesederhana daun jatuh menyapa tanah, sesederhana ide yang

datang tiba-tiba tapi pergi dengan tergesa, sesederhana laptop

yang—diam-diam—mencintai jari-jari dengan sajak

yang tak menemukan kata-kata.

Sumenep, 2023


DUNIA VISUAL

dunia dilahirkan kembali ke dalam cahaya

bernama “maya”—si pesolek yang mahir menutupi sisi yang asli

dengan binar kembang putih, dan usianya kian panjang

setelah orang-orang menggulir

layar gawai:

          gawai dengan wajah berparam barang-barang diskon

yang digemari kaum adam dan hawa, barang sehelai bentang rambutnya

telah ia semir dengan harga-harga, lantas ia mahir memilih

gratis ongkir jasa ekspedisi:

                     jasa ekspedisi  yang rutin mengirim paket berisi

bigorafi dunia cahaya itu sendiri, yang terus menari-nari

tapi terus menyendiri.

Gapura, 2023


SELAMAT MALAM, INSTAGRAM

selamat malam, instagram; bulan warna asam

ceking mengerucut dalam foto unggahanmu

di bawahnya ada namaku yang kautulis

dengan warna lipstikmu;

                        lipstikmu adalah warna langit

dalam mimpi-mimpiku, dalam puisi-puisiku.

karena suatu waktu saat kuoles ke bibirku,

malam jadi pergi dan matahari datang sendiri

sebab pada warna lipstik itu

cintamu-cintaku telah setubuh.

Rumah Filzaibel, 2023


PETANI DUSUN BUNGDUWAK

ia menegur dirinya sendiri dengan

seutas cemeti yang memecut

punggung sapi:

                  sapi betina yang membagi tugas dengan si jantan

                  si jantan harus tangguh membaca medan tanah karapan

                  agar di seberang alam; moyang bisa bertepuk tangan

                  sedang si betina bertugas menarik tenggala, menanam isi dada ke

                  guritan tanah:

                               tanah masih berupa sajadah pada makna yang lain

                               agar kedaulatan terus bersembahyang

                               indah berdiri tak harus berduri

                               tapi berisi seperti padi;

                                                            padi yang merelakan bijinya kepada petani

                                                            dan merelakan daunnya kepada sapi

                                                            supaya sapi dan petani

                                                            sama-sama kuat menghadapi cemeti

                                                            cemeti hakiki dan cemeti majasi

                                                            yang dilecut pelaku kapitalisasi.

Rumah Filzaibel, 2023


A.Warits Rovi. Lahir di Sumenep Madura 20 Juli. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai dan artikel dimuat di berbagai media. Buku Cerpennya yang telah terbit “Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018). Buku puisinya adalah “Kesunyian Melahirkanku Sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020), “Bertetangga Bulan” (Hyang Pustaka, 2022). Sedangkan buku puisinya yang berjudul “Ketika Kesunyian Pecah Jadi Ribuan Kaca Jendela” memenangkan lomba buku puisi Pekan Literasi Bank Indonesia Purwokerto 2020. Ia aktif di Komunitas Damar Korong dan mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Berdomisili di Jl. Raya Batang-Batang PP. Al-Huda Gapura Timur Gapura Sumenep Madura 69472.