Cerpen Era Ari Astanto
Cukup sering orang-orang itu mengatai aku gila. Atau memandangku kasihan, tapi tetap dengan menambah kata ‘gila’ di ujung kalimat: “Kasihan dia, sejak ditinggal istrinya dia menjadi gila,” —atau senada dengan itu.
Sungguhkah aku telah gila? Ataukah mereka yang tidak mampu berpikir waras?
Aku hanya ingin sendiri, berbicara dengan dinding kamar, berbicara dengan anggrek atau lukisan wajah kekasihku tanpa ada yang mengganggu. Ya. Istriku sudah pergi memenuhi panggilan Ilahi bertahun lalu. Aku sadar itu, aku ingat hal itu. Tapi bagi mereka, aku telah gila. Mereka hanya tidak tahu, berbicara dengan benda-benda itu lebih menyenangkan, lebih menenangkan. Saat berbicara dengan dinding kamar, saat bicara dengan bunga anggrek itu, saat bicara dengan lukisan itulah aku merasakan kenyamanan — seolah istriku menemaniku berbincang. Mereka adalah pendengar yang baik, tidak akan menyanggah atau sok bijak menasihati seperti orang-orang itu.
Istriku meninggal ketika usia pernikahan kami belum genap dua bulan. Tidak pernah terlintas dalam benakku jika dia akan secepat itu meninggal. Dia memang keberatan saat aku pamit untuk menghadiri undangan bincang literasi dan bedah buku di luar kota dan harus menginap beberapa hari. Dia bukan melarang aku pergi, tapi dia mengeluh merasa sedikit pusing dan tidak enak badan. Aku pikir itu sekadar sakit yang sangat ringan dan akan sembuh dengan minum obat warung. Dan aku tetap pergi karena di sana aku akan bertemu dengan penulis-penulis besar dan hebat yang bisa kumintai tips-tips penting dalam menulis, dan pikirku itu adalah acara penting bagiku.
Setelah satu hari satu malam mengikuti acara itu, aku mendapat telepon dari tetanggaku bahwa istriku sakit keras dan aku harus pulang. Aku hampir tidak percaya dengan kabar itu. Pikirku, tidak mungkin hanya sedikit pusing dan tidak enak badan berubah menjadi sakit keras dalam sehari semalam. Aku sempat bersilat lidah dengan tetanggaku itu, tapi akhirnya aku memutuskan pulang setelah dia berkata: terserah kamu, Mas, jika kamu ingin menyesal seumur hidupmu.
Aku tiba di rumah dan mendapati banyak orang sedang mengurus istriku yang tinggal jasad.
Aku tak pernah mengira jika pamitku itu akan menjadi kali terakhir aku bicara dengannya. Kematian memang keniscayaan, tapi penyesalan dalam hatiku tak bisa kupungkiri. Seandainya aku mendengar keberatannya mungkin akan lain perkara. Mungkin aku tak akan semenyesal ini.
Hari-hari selanjutnya kurasakan menjadi begitu berat, begitu gelap, begitu sesak dengan sesal. Seandainya … seandainya … dan hanya ‘seandainya …’ yang terasa menyesaki dada. Sampai akhirnya kurasakan ketenangan saat bicara dengan lukisan wajah istriku. Lalu dengan dinding-dinding kamar. Lalu dengan anggrek, lalu dengan tas istriku, lalu dengan meja rias istriku. Aku memang merasakan ketenangan saat bicara dengan benda-benda itu, tapi belum kurasakan istriku mengampuniku walau aku merasa seolah dia ada di sampingku saat aku melakukannya.
Dan entah bagaimana mulanya orang-orang mengatakan aku telah gila. Mungkin salah seorang memergokiku saat aku bicara dan tertawa di hadapan anggrek. Atau ketika aku bicara dengan lukisan wajah istriku yang kubawa ke serambi. Satu atau dua dari mereka pernah mendatangiku dan menasihatiku agar bersabar bahwa kematian adalah keniscayaan. Aku tahu itu dan aku menerimanya, jawabku. Aku hanya ingin bicara dengan istriku, memohon maaf atas segala salahku, lanjutku.
“Tapi, Mas. Jika begitu terus, sampean akan dianggap gila,” kata orang itu.
“Apa peduliku. Sebaiknya Anda tidak mengganggu ketenangan saya,” kataku dengan ketus.
“Tapi, Mas …,” sahutnya.
Kulebarkan mataku sebagai jawaban sampai akhirnya dia pergi dan tak pernah kembali. Hanya kasak-kusuk yang sesekali kudengar ketika aku berada di hadapan anggrek di halaman.
Memang ada satu orang yang datang ke rumah dan memberiku makanan lantas pergi setelah aku tak bicara sepatah kata pun, kecuali terima kasih. Begitu seterusnya hingga hampir tujuh tahun berlalu. Sebenarnya aku masih bisa mengurus kebutuhan sehari-hariku, walaupun sebatas seadanya dari fee menulis. Jika sedang tidak ingin bicara dengan benda-benda itu, selain lukisan, aku menulis. Cerita fiksi yang aku pilih karena aku bermaksud untuk bercerita kepada istriku ditemani lukisan wajahnya.
Beberapa kali aku mencoba meninggalkan cara anehku itu, tapi tidak bisa. Aku akan kembali gelisah dan rasa bersalah kembali menyergap. Dan aku pun memutuskan untuk tetap menjalani cara aneh itu terus, tak peduli dianggap gila atau apa pun, hingga di sebuah pagi satu orang yang selalu datang ke rumah dan memberiku makanan itu mengajakku bicara yang mau tak mau harus kujawab.
“Apakah itu anggrek kesayangan istrimu?”
Aku mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.
“Aku punya tiga anggrek di rumah. Aku dengan senang hati akan membawanya ke sini jika sampean mau.”
Aku tak menoleh ataupun menjawab perkataannya. Tapi aku memikirkan kata-katanya. Mungkin anggrek istriku tidak akan kesepian dengan adanya anggrek lain di sebelahnya. Apalagi jika dia kutinggal untuk tidur di malam hari atau ketika aku harus meninggalkannya sendiri. Namun, aku merasa perlu meminta pendapatnya. “Apakah itu perlu? Terutama bisa membuat istriku senang?”
“Setidaknya begitulah yang kurasa saat melihat anggrek istrimu sendirian.”
“Tapi, aku tak punya apa pun sebagai gantinya.”
“Meskipun sekadar berbincang seperti ini setiap aku datang?”
Aku tak segera menjawab. Kutimbang perasaanku. Bukan hal mudah bagiku saat ini untuk menemani berbincang orang lain.
“Aku tidak bisa berjanji. Tapi aku akan berusaha,” kataku kemudian.
“Mendengar sampean akan mengusahakannya pun aku sudah senang. Baiklah, besok akan aku bawa anggrek itu.”
Pagi berikutnya dia datang membawa sarapan untukku dan anggrek yang dia janjikan. Dia meminta ingin mengurusnya, meletakkannya dengan sangat tepat di sebelah anggrek istriku. Aku perhatikan dengan saksama dan merasa apa yang dia katakan kemarin benar. Anggrek istriku tampak lebih indah dan berseri. Barangkali hanya perasaanku, tapi begitulah bagi mataku.
Hari-hari berikutnya, aku merasa lebih senang berada di depan anggrek sambil berbincang dengan orang itu. Sebenarnya, dia hanyalah lelaki setengah baya yang juga ditinggal mati istrinya sejak belasan tahun lalu. Dia bercerita bahwa dia juga pernah merasakan jiwanya terguncang hingga hampir bunuh diri. Tapi, kemudian dia sadar bahwa hidupnya harus dilanjutkan dan mengisinya dengan menemani orang-orang yang jiwanya kesepian.
“Tapi, aku tidak begitu merasa kesepian. Aku hanya merasa menyesal tidak menemani istriku di saat-saat terakhirnya. Aku juga merasa istriku belum memaafkanku karena nekat meninggalkannya walau dia telah mengatakan kondisinya waktu itu.”
“Aku yakin istri sampean akan bahagia jika melihat sampean mau menemani orang-orang yang jiwanya gelisah karena kesendirian.”
“Tapi, aku telah dianggap gila. Hanya sampean sajalah yang tidak menganggapku begitu.”
“Mereka yang menganggap begitu karena mereka tidak mau merasa bagaimana kondisi jiwa orang-orang seperti kita. Bukankah sampean sudah merasakan betapa bukan nasihat yang kita butuhkan, tapi teman; teman yang mampu menemani dan memahami meski dalam diam.”
Aku diam memikirkan kata-katanya. Menghidupkan istriku dalam diriku rasanya lebih baik daripada terus-menerus merasa istriku tak mengampuniku. Aku rasa kehadiranku untuk orang-orang yang membutuhkan bisa menjadi penebus segala sesalku karena telah meninggalkan istriku. Kurasa begitulah seharusnya aku, seperti anggrek yang meskipun dalam diam keindahannya mampu menentramkan siapa pun yang melihatnya.***

Era Ari Astanto penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di komunitas Sastra Alit. Karya tunggal yang sudah diterbitkan adalah Novel berjudul Jika sang Ahmad tanpa Mim Memilih (Najah, 2013), The Artcult of Love (Locita, 2014), Novel Bertutur Sang Gatholoco (Basabasi, 2018), Novel Riwayat Bangsat (Basabasi, 2019). Karya antologi: Memoar Bermasjid (Diomedia, 2017), kumcer Masa Depan Negara Masa Depan (Surya Pustaka Ilmu, 2019), Memoar Ramadhan dan Merantau (Diomedia, 2019), kumcer Hanya Cinta yang Kita Punya untuk Mengatasi Segalanya (Divapress, 2020). Cerpen-cerpennya juga tayang di beberapa media online. Buku terbarunya yang terbit: Novel dwilogi Nama yang Menggetarkan (Diomedia, 2020).



