Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Merapal Getir Masa Lalu

[Aceh-26 Desember 2004]

di tanah kami

geladir palagan belum kering

dan suara rentetan api adalah memar

yang pecah dalam memori.

mata kami bersaksi, ihwal dosa-dosa

kerap menandak melewati betis kami

hingga dua pena yang dicangking Raqib-Atid

tampak patah

lantaran pundak kami bergoyang

sepanjang musim menghindari peluru.

di atas rumah-rumah nestapa

kami persilakan desir angin

membawa murka ke rahim laut

meminta peran malaikat maut;

yang memberi kematian

pada minggu paling tenang.

hari itu, Tuhan menyuguh kafan ke punggung lautan

debur ombak mengantar seribu cawan air mata

ikan-ikan yang kerap bersengkela di jala para nelayan

berjatuhan dari langit berlumpur

memenuhi ladang yang kami garap

bumi yang kami huni

sebagai neraka kecil.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Tamsil Peradaban

usai Hawa memetik hukum Tuhan

bumi menjadi tempat bagi Adam

menebus dosa-dosa

dan menggumbuk roda nasib.

tapi kini,

bumi hanya lautan merah tak bertepi

dan anak-anak Adam

menjala perkara haram di atas perahu emas

mengantarkan tanah leluhur

rumah para dulur

ke dermaga penuh abu.

nanti, setelah tanggal-tanggal terpenggal

rahim bumi akan mengandung seribu catatan

dan kita akan berlomba

mengarungi pulau-pulau sastra

menerjang ombak-ombak lini masa

menganju ajang pamer

pada sesuatu yang ciri

dengan beberapa cara.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Mengadu Nasib

: 19 tahun berlalu

dan ratusan ribu jisim

adalah bangkai tak bernisan

ladang yang dipersilakan untuk kami menanam doa

memanen perpisahan

menanak rasa sakit.

sedang di hari yang bukan Ramadan

kami berpuasa atas kerinduan

memeluk orang-orang yang hingga sekarang

tak pernah lunas kami temui

melainkan sekubit tulang

kulit dan daging hitam

berkelindan syair-syair gamang.

seraya mengadu nasib

kami menabur doa-doa paling ranum

di atas pusara yang tak lagi wangi

alangkah rasa sakit yang banglas di dada kami

adalah air mata—yang selalu tumpah

namun entah ke jasad siapa!

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dermaga Masa Depan

atas nama leluhur

kami menanam kebaikan di ladang syukur

menanak seribu doa di dapur

yang tak pernah merugi.

pun memantik nyala api—membakar nyali pada sumbu yang enggan padam

hingga pemikiran kami berkobar matang

tanpa tungku arang.

di tanah yang kami cintai ini

secangkir literasi terhidang sepanjang malam

dan kami bersumpah di dalam rumah yang sama

bahwa semangat kami enggan berbeda

meramu darah yang satu, bangsa yang satu, bahasa yang satu

menggisil perkara haram

yang sekali waktu

menjelma perkara hasai.

demi menulis peradaban

mendaras kehidupan

kami menatah perahu

mengantarkan generasi

ke dermaga masa depan

dan mengarungi

luasnya kebijaksanaan Tuhan.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Dua Kubu

sekali waktu

aku lihat geliat ibu

bersujud runcing kepada Tuhan

dan ibu bersaksi;

bahwa dirinya kerap buta

menyayangi darah daging

melebihi yang Mencipta.

di lain waktu

ayah menyergah ingatanku:

puisi tetang ibu selalu bermula dari tunggul pohon di hutan rimbun, Nak

kala desir angin menampar-nampar tubuhnya

ia berdansa penuh birahi

menyetubuhi jari-jemari di atas secarik kertas

sampai terkulai lemas, menggelinjang

mengandung benih-benih sastra

pecah sebagai bahasa

menjelma satu puisi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Falsasah Seorang Ibu

ibu adalah cinta yang setiap kali hampir mati

direinkarnasi dengan doa-doa

sedang di dada anak piatu

merindukan ibu

adalah doa paling sakit.

kendati demikian

kebohongan ibu hanyalah jujur

yang dibungkam dalam waktu sementara

ibu berkata “silahkan berkelana”

meski aku tahu

bahwa kepulangan

adalah inginnya yang paling rahasia.

di tempat berbeda

aku menghitung hari-hari yang terkelupas

sembari mengingat masa kecil

yang dahulu:

ibu mencariku di antara adzan magrib

menyapih mataku di waktu subuh

menyulam nasibku yang masih setengah jadi.

Bekasi, 29 Januari 2024.


Anasir Kehidupan

mengislah mawar

sebab suamimu yang bernama langit

takkan pulang membawa hujan

dan tubuhmu itu

begitu hasai

haus keadilan.

pun tanah di sekelilingmu

kian merengek

ingin memeluk basah paling berkelas

dari ceruk matamu yang gegas

untuk merekah

rindu bersudah.

kau pun tahu, mawar

bahwa hidup bukan tembikar

yang semakin dibakar

meraup tawar-menawar

dari tangan seorang pembeli.

hidup; hanya bangku sekolah kedua

yang di atasnya

kita duduk mengernyitkan dahi

mampus berpikir

kapan ujian ini berakhir?

Bekasi, 29 Januari 2024.


Ilham Nuryadi Akbar lahir di Banda Aceh dan saat ini sedang merantau di Kota Bekasi. Buku pertamanya diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku. Puisi dan cerpen dimuat pada beberapa media lokal dan nasional.