Belakang

“SEKEDAR” DAN MINGGU

Yang resah dengan sejarah malah melihat Fadli Zon sumringah. Pada 14 Desember 2024, Fadli Zon tidak libur dari tugasnya sebagai menteri. Minggu yang masih bersuasana duka bersumber bencana di Sumatra tak mengurangi gairah Fadli Zon dalam merayakan sejarah. Ia sedang menunaikan misi besar selaku menteri bertanggung jawab dalam urusan sejarah. Sosok dengan koleksi ribuan buku dan keris itu mengesahkan penerbitan serial buku sejarah resmi nasional.

Tanggal yang dipilih dalam pengesahan disesuaikan ingatan masa lalu. Yang resah dengan sejarah mengetahui 14 Desember 1957 adalah hari awal seminar sejarah yang diadakan di Jogjakarta. Seminar diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Seminar tidak sehari saja tapi beberapa hari: 14-18 Desember 1957. Pihak-pihak berkepentingan dalam acara seminar sejarah adalah Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia.

Fadli Zon sumringah itu lumrah. Ia sedang merayakan hari bersejarah sekaligus mengumumkan kepada rakyat Indonesia bahwa telah terbit buku resmi bagi yang ingin belajar sejarah Indonesia. Konon, penggarapan dan penerbitan buku itu diiringi protes dan perdebatan panas. Yang terjadi para sejarawan dalam instruksi pemerintah terus melanjutkan dan merampungkan.

Kita yang ikut resah gara-gara buku sejarah produksi pemerintah ingin mengelak sebelum berhasil membacanya. Bagaimana kita bisa mendapatkan bukunya? Apakah kita sanggup khatam, sebelum memberi kecaman atau pujian? Orang yang beruntung saja berhasil mendapatkan buku terbitan pemerintah. Yang kebelet bisa saja mencari jalan agar mendapat “file” atau edisi bajakan. Kita tentu bersalah bila menantikan peredaran edisi buku bajakan. Yang membajak dan mengedarkan bisa menyatakan bahwa buku produksi pemerintah dicetak terbatas. Peredarannya pun terbatas atau selektif.

Buku baru belum datang. Tangan kita belum membuka halaman-halamannya. Maka, peristiwa yang dapat dilakukan agar berkaitan dengan peristiwa sejarah dan pemaknaan 14 Desember 2025 adalah membaca buku (laporan) terbitan Universitas Gadjah Mada. Yang ada di hadapan kita adalah Laporan Seminar Sedjarah. Buku yang sederhana dan tipis.

Panitia acara menjelaskan: “Seminar jang baru diadakan pertama kali dalam sedjarah Indonesia ini memang dimaksudkan sekedar untuk mengumpulkan pelbagai pendapat dan saran-saran sebagai bahan-bahan jang berharga untuk menjusun dikemudian hari sedjarah nasional Indonesia jang setjara ilmiah dapat dipertanggungdjawabkan.” Kita tidak kaget bila penyelenggaraan acara tidak memiliki tujuan-tujuan akbar. Perhatikan yang tertulis di pengantar: “sekedar”. Indonesia masih berumur muda. Namun, sejarah sangat dibutuhkan demi kehormatan dan kedaulatan Indonesia.

Bagaimana suasana seminar yang “sekedar” di Jogjakarta? Kita mengutip isi laporan: “Pada waktu seminar berlangsung ternjata perhatian masjarakat besar sekali, ini terbukti dengan banjaknja pengundjung jang langsung datang dari seluruh pelosok Indonesia, misalnja dari Atjeh, Medan, Bukittinggi, Djambi, Palembang, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Makassar dan Nusa Tenggara. Dari Djawa, hampir tiap-tiap kota besar mengirimkan wakilnja.” Ingat, yang berdatangan punya kepentingan mulia.

Kita menyimak sambutan yang diberikan Menteri PP & K Prijono: “Marilah kita bersama-sama berdoa agar halaman hitam itu tidak akan kita djumpai lagi dalam kitab sedjarah modern kita.” Apa yang terjadi? Kita diajak mengingat peristiwa di Cikini, 30 November 1957. Soekarno mendapat serangan. Malapetaka yang mengagetkan. Beruntungnya, Soekarno selamat. Maka, menteri berharap peristiwa itu tidak terjadi lagi. Padahal, peristiwa itu tetap saja masuk dalam lembaran sejarah.

Selanjutnya, kita membaca peringatan yang disampaikan Sultan Hamengku Buwana IX: “Kita tahu bahwa sedjarah Indonesia jang disusun sampai sekarang pada umumnja masih mempergunakan buku-buku dan tulisan-tulisan jang berasal dari penulis-penulis pendjadjah Belanda. Padahal disamping kita harus mengakui bahwa diantara mereka ada jang berusaha menulisnja setjara objectief, tetapi pada umumnja pendjadjah Belanda itu mentjiptakan sedjarah Indonesia jang tidak lepas dari maksud politiknja, sehingga sedjarah Indonesia dibikin sedemikian rupa agar dapat menguntungkan tudjuan politik mereka.” Pembuatan buku sejarah nasional oleh para sejarawan Indonesia sangat diperlukan agar pengajaran di sekolah memberi keyakinan dapat terhindar dari dampak-dampak buruk dari kepustakaan sejarah yang disusun para sarjana Belanda.

Di Jogjakarta, acara yang diadakan tidak cuma seminar, yang mengundang para ahli. Debat-debat sempat terjadi demi munculnya saran-saran dalam penulisan buku sejarah nasional. Pameran sejarah pun diadakan. Yang melengkapi acara adalah tamasya. Para pembicara, tamu, dan panitian sejenak piknik agar tidak terlalu pusing memikirkan sejarah. Namun, piknik yang diadakan itu dicap sebagai “kunjungan ilmiah.” Mereka berdarmawisata ke Candi Prambanan.

Yang menyempurnakan adalah “malam kesenian”. Seminar yang melelahkan dihibur dengan lagu-lagu di panggung. Kita membayangkan malam itu memberi kesan “indah” setelah hari-hari memikirkan “kebenaran” dalam sejarah.

Peristiwa masa lalu itu mengajak kita menghormati para tokoh yang dihadirkan dalam usaha penulisan buku sejarah nasional meski kita sempat mengetahuinya sebagai “sekedar”. Nama-nama yang teringat dalam seminar sejarah di Jogjakarta: M Yamin, Soedjatmoko, Boejoeng Saleh, Soeri Soeroto, Poerbatjaroko, M Ali, Soegarda Perbatjaraka, Koentjaraningrat, Bahder Djohan, Soekanto, Sartono Kartodirdjo, Soedjatmoko, dan lain-lain.

Minggu telah berlalu. Minggu bukan hanya hari libur. Kita justru diminta mengingat Minggu itu peresmian buku sejarah resmi yang dibuat pemerintah, 10 jilid: 14 Desember 2025. Kita pun sudah membaca buku laporan lawas, yang memberi ingatan-ingatan atas peristiwa di Jogjakarta. Kita membaca yang telah terjadi sambil menunggu buku laporan dari tim penulisan buku sejarah nasional yang diurus Fadli Zon. Kita ingin tahu segala hal mengenai proses penulisan buku sejarah, yang kita anggap penting agar proyek itu bukan “sekedar”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

GUNUNG, BAHASA, PADI

Sejak masa muda, Adinegoro sering melakukan perjalanan. Ia mengerti pelbagai negeri. Sosok yang sibuk dalam pers tidak membiarkan perjalanan tanpa catatan atau ingatan. Maka, ia sering membuat tulisan-tulisan yang mengajak pembacanya turut dalam perjalanan. Adinegoro mahir menggerakkan kalimat-kalimat, yang bersifat memberitakan dan menceritakan. Yang ditulisnya sering memikat pembaca.

Pada masa kolonial, ia seperti “membawakan” dunia kepada para pembaca di tanah jajahan. Ia kembalai dari keliling dunia tidak membawa “globe” atau “bola dunia”. Yang ia suguhkan adalah kata-kata. Jumlah potret pun terbatas. Namun, ia mampu membuat pembacanya bergerak jauh untuk mengetahui gunung, sungai, bukit, hutan, danau, sawah, dan lain-lain. Adinegoro percaya kata-kata, yang nantinya membuat pembaca membuat “gambar” agar mengenali tempat-tempat yang diberitakan atau diceritakan.

Buku yang digarapnya selalu terkenang sampai sekarang: Melawat ke Barat. Buku yang merekam banyak negeri, yang membuat pembaca memiliki “peta-kata”. Bagaimana caranya kata-kata membentuk dan menghidupkan peta dunia? Yang pernah membuktikannya adalah Adinegoro. Ia sebenarnya memiliki beragam maksud selama perjalanan. Penguasaan bahasa membuatnya tidak menyia-nyiakan pengalaman, selain ia harus belajar pelbagai referensi agar tulisan tak sekadar selesai sebagai “pandangan mata”. Artinya, Adinegoro yang melakukan perjalanan sebenarnya mengalami petualangan pengetahuan (pustaka).

Pada 1954, terbitlah buku berjudul Pokok-Pokok Pengetahuan Ilmu Bumi susunan Adinegoro. Ingat, Adinegoro bukan guru. Sejak masa kolonial, ia kondang sebagai pengarang dan wartawan. Namun, pengalaman dan pengetahuan yang terus bertambah membuatnya pantas menjadi guru atau yang mengajari guru-guru. Buku yang dibuatnya itu sasarannya adalah guru-guru agar dalam mengajarkan geografi memiliki bekal-bekal yang memadai. Kita menyebutnya geografi tapi Adinegoro dan orang-orang masa lalu menamainya ilmu bumi. Penamaan yang akrab dan khas ketimbang kita segera mengikuti penamaan dari Barat yang berbahasa asing: geografi.

Adinegoro sedang mengajar, yang dimulai dengan sajian peta Indonesia di sampul buku. Yang mau belajar ilmu bumi niscaya berurusan dengan peta. Ia menjelaskan: “Ilmu bumi berisi pengetahuan tentang penjelasan gedjala-gedjala alam, hajati (biologis), ekonomi dan sosial dimuka bumi, dan memperhatikan seluk beluk gedjala-gedjala itu dengan tanah tempat keadaan dan kedjadiannja. Tjara penjelidikan dan keterangannja haruslah menurut dasar chronologis (penjebaran) dan dasar kausal (sebab-akibat).” Pada masa revolusi, belajar ilmu bumi sangat penting demi mengetahui Indonesia di peta dunia. Ilmu bumi yang dipelajari di sekolah-sekolah memberi pengetahuan dan kesenangan. Murid-murid seolah melihat Indonesia dan dunia sebelum semuanya mudah oleh televisi dan internet.

Ilmu bumi kadang mengingatkan bencana. Yang diterangkan Adinegoro: “Di Indonesia sadja ada 125 gunung berapi dan ratusan jang telah mati apinja, jang telah lama tidak berasap… Di Indonesia dan di segala tempat jang banjak gunung berapi, sering timbul gempa bumi atau lindu, kadang-kadang hampir tak terasa, kadang-kadang sangat kuat sehingga meruntuhkan rumah-rumah. Di sepandjang retakan bumi, sering terdjadi tanah runtuh dalam bumi, maka timbul pulalah gempa, jang tidak disebabkan oleh gunung meletus.” Ia menulis kalimat-kalimat supaya pembaca paham. Pengajaran lama itu pasti menyulitkan untuk murid-murid masa sekarang. Mereka butuh gambar (bergerak) agar pengetahuan itu mudah dipahami dan memberi kesan yang kuat. Pembaca boleh pula membandingkan penggunaan istilah. Dulu, Adinegoro menulis “tanah runtuh”. Pada masa berbeda, kita mengetahuinya “tanah longsor”.

Selanjutnya, kita mengutip masalah bahasa dalam ilmu bumi. Mengapa bahasa ikut dibahas dalam ilmu bumi atau geografi? Kita mendingan meminta penjelasan kepada para ahli. Adinegoro sedikit ikut menerangkan: “Bahasa adalah sjarat jang penting untuk membagi penduduk dunia ini mendjadi beberapa golongan, sjarat jang terpenting untuk perhubungan sosial antara manusia. Kata peribahasa: hilang bangsa karena bahasa. Rumpun bahasa-bahasa Indonesia termasuk pada golongan Austronesia. Nama ini adalah nama kumpulan bahasa-bahasa dari Asia Selatan dan Austronesia. Jang masuk golongan-golongan bahasa Asia Selatan ialah bahasa Munda di India-Depan, Khasi dan Mon-Khmer di Siam dan bahasa-bahasa di pula Nikobar. Jang termasuk golongan Austronesia ialah rumpun bahasa Indonesia bersama dengan rumpun bahasa Melanesia dan Polynesia. Jang chusus rumpun bahasa Indonesia ialah segala bahasa di Indonesia ketjuali sedjenis bahasa-bahasa di Halmahera Utara, Alor, dan Irian.”

Pada masa 1950-an, studi bahasa di Indonesia masih diurusi banyak orang asing. Indonesia memang memiliki lembaga bahasa nasional atau komunitas kebahasaan tapi kerja-kerja belum menunjukkan hasil besar. Kehadiran para ilmuwan asing justru memberi asupan besar saat Indonesia direpotkan revolusi. Urusan bahasa mungkin “ketinggalan” meski sudah diingatkan berperan penting dalam penjelasan negara-bangsa, setelah keberakhiran Perang Dunia II. Pada masa Orde Baru, masalah bahasa-bahasa di seantero Indonesia tetap belum mendapat perhatian besar. Maka, kepunahan bahasa-bahasa adalah kewajaran.

Ilmu bumi memuat pula perkara pangan. Perbedaan iklim dan tanah menentukan mata pencaharian. Di pelbagai negeri, kondisi-kondisi yang berbeda mengakibatkan perbedaan dalam menghasilkan pangan. Pola makan terbedakan lewat jenis makanan pokok. Adinegoro membuat beberapa kalimat mengenai nasi, yang masuk dalam pembahasan peta-pangan.

Adinegoro mengungkapkan: “Sekurang-kurangnja 700 djuta manusia didunia memakan nasi setiap hari, istimewa penghuni ‘daerah-musim’. Padi memerlukan banjak air dan suhu jang agak tinggi…” Indonesia termasuk negara yang “ketagihan” nasi. Artinya, nasi sebagai makanan pokok kadang membuat Indonesia kewalahan dalam pertanian. Yang terjadi adalah impor. Konon, Soeharto berani mengumumkan Indonesia berhasil swasembada pangan (padi) pada masa 1980-an.

Informasi penting bermasa lalu: “Tahun 1952 di Indonesia harga beras sekitar 3 rupiah, jaitu dihitung menurut angka sadja telah 60 kali lipat harganja dari sebelum perang. Harga beras diluar negeri dalam tahun 1952 mendjadi 10 kali lipat dari harga sebelum perang, hingga mendjadi salah satu barang timbunan jang paling mahal didunia, sedang produksi di Indonesia kenjataan lebih rendah dari tahun 1940.”

Pada masa 1950-an, buku buatan Adinegoro mungkin diminati para guru yang mengajar ilmu bumi dan murid-mirid yang ingin “banyak tahu”. Dulu, referensi yang dimiliki masih terbatas. Akibatnya, pengajaran ilmu di sekolah-sekolah membutuhkan buku-buku yang mudah dipelajari meski belum lengkap. Adinegoro memberi sokongan melalui buku yang diterbitkan oleh Gunung Agung. Buku yang bermutu pada masanya tetapi memerlukan banyak ralat setelah kehadiran kepustakaan yang berdatangan dari pelbagai negara.

Di Indonesia, yang berminat dengan geografi pun makin bertambah, yang memungkinkan adanya jurusan geografi di universitas. Apakah yang terus belajar geografi pada abad XXI masih mengingat Adinegoro dan buku lama yang menampilkan peta Indonesia? Buku itu boleh terbiarkan tanpa pembaca lagi saat dunia makin mudah dilihat dan dipelajari.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

MELAWAT DI BUKU HAMPIR SEABAD

Pada mulanya, ia getol menghasilkan cerita dan berita. Di kancah sastra, ia tercatat memberi novel pada masa 1920-an. Namanya tak setenar Abdoel Moeis, Noer Soetan Iskandar, atau Soetan Takdir Alisjahbana. Ia memang bergairah dalam sastra, mewujudkan cerita-cerita. Pada situasi politik dan sosial-kultural masa 1920-an, tokoh yang bernama Adinegoro makin meyakini pesona dan kekuatan kata. Maka, ia berada di jalan kata, melampaui pikat sastra dan pers.

Silam masih bisa teringat melalui tulisan-tulisan, yang dihasilkan pengarang-pengarang turut membentuk dan memajukan bahasa Indonesia, sejak awal abad XX. Di situ, ada Adinegoro yang memerlukan nama samaran untuk turut menggerakkan tulisan pada masa kolonial. Ia percaya nama itu memberi “pengenalan” dan “keberuntungan:, yang nantinya tercatat dalam lembaran sejarah Indonesia.

Siapa masih membaca tulisan-tulisan Adinegoro, setelah abad XX berlalu tergantikan abad yang “memalaskan” orang berhadapan dengan tulisan-tulisan tercetak? Ia bukan pengarang pujaan jutaan orang. Namun, buku-buku yang ditulisnya menjadi bukti keberanian orang Indonesia melakukan perlawatan jauh dan panjang ke pelbagai negeri.

Yang pernah di hadapan rak-rak memiliki buku-buku lama, Adinegoro adalah penulis yang menghasilkan novel, ensiklopedia, kisah perjalanan, kamus, dan lain-lain. Ia tidak kesulitan menulis tentang politik, geografi, atau kebudayaan. Pada masa kolonial sampai masa revolusi, ia membuktikan ketekunan yang elok.

Tulisan mengesankan yang dihasilkannya adalah Melawat ke Barat. Buku itu memikat para pembaca sejak masa kolonial. Yang membaca ikut merasakan perjalanan yang mendebarkan, menyenangkan, membingungkan, dan mengharukan. Ia naik kapal, turun ke pelbagai negeri. Sosok yang merasakan perjalanan darat di kota-kota yang sering memukau. Adinegoro menceritakannya kepada para pembaca yang ada di Indonesia.

Buku terbitan Balai Pustaka masa 1930-an, beberapa kali cetak ulang. Pada suatu hari, buku itu berada di pasar buku Gladag (Solo). Buku berada di tumpukan yang tak keruan. Di bagian bawah, buku ditemukan saat tangan makin kotor oleh debu-debu yang menempel. Buku yang hampir berusia seratus tahun. Melawat ke Barat menjadi bacaan memikat sejak 1930.

Penemuan yang menggirangkan. Kondisi buku masih bungkus. Halaman-halaman awal hilang. Artinya, data buku tidak diperoleh. Buku berhasil dibeli dengan harga murah, sangat jauh dari harga dipasang di pasar.

Setelah sampul, tangan yang membukanya langsung menemukan halaman 4, yang dijuduli “Sampai di Nederland”. Adinegoro yang naik kapal sudah sampai ke Belanda. Perjalanan dilakukan pada masa 1920-an. Kita membayangkan orang Indonesia yang berkelana di Eropa sambil mengikuti perkembangan-perkembangan politik di Tanah Air. Ia menjadi saksi sejarah tapi berada jauh dari Indonesia.

Yang dirasakan Adinegoro selama mengunjungi kota-kota di Belanda: “Barang siapa jang datang ke Eropah dan tinggal disini beberapa lamanja, tjepat ia terlepas dari ketimurannja. Adat istiadat dan kebiasaan jang lazim kita pakai tiada lagi akan terbajang keluar, sesudah beberapa bulan disini. Perasaan lain datanglah kepada kita. Perasaan itu disebabkan oleh karena peraturan kita disini berlainan sekali dari dinegeri kita sendiri. Terutama sekali perasaan serba rendah dan serba pitjik sudah hilang semendjak dari Marseile, jaitu semendjak kita mendjedjak tanah benua ini. Pendek kata, pengertian kita tentang keduniaan lahir dan batin sudah bertambah luas dan pribadi bertambah kuat.”

Penjelasan itu mengingatkan kita dengan tokoh Hidjo saat belajar dan tinggal di Belanda. Pemuda asal Jawa itu mengalami beragam pengalaman saat berada di negeri penjajah. Di novel berjudul Student Hidjo gubahan Marco Kartodikromo, kita mengetahui kaum muda Jawa di Eropa mendapat guncangan dan dilema. Pengalaman seru mungkin milik Sosrokartono dan Soewardi Soerjaningrat.

Di Belanda dan pelbagai negeri, Adinegoro tak boleh lama-lama. Ia seperti dalam tergesa. Yang dinantikan di tanah jajahan adalah tulisan-tulisannya. Melawat mengandung arti pemenuhan tugas sebagai pemberi berita dan pencerita.

Pengamatan sejenak oleh Adinegoro selama di Utrecht: “Didjalan tiada pula banjak kelihatan nona-nona jang berpakaian bagus-bagus sebagai tampak di Parijs atau Den Haag. Jang lalu lintas didepan kita hanja perempuan-perempuan biasa sadja, jang pergi ketoko-toko akan membeli-beli. Jang banjak kelihatan disini ialah studenten karena dalam kota Utrecht ini adalah lebih kurang tiga ribu peladjar jang menuntut ilmu diuniversiteit. Mereka itu memodekan (mengadakan mode atau tjara) memakai topi jang lemah tepinja serta petjak diatasnja. Dasinja seboleh-bolehnja jang berwarna merah tua atau kuning langsat karena dalam masa ini warna jang seperti warna kulit anak Indonesia digemari sekali. Dan achirnja dimodekan mereka pula memakai tongkat dari rotan, besarnja sebesar ampu kaki.” Yang dilihat itu masa 1920-an, yang mungkin lekas berubah pada masa 1930-an dan 1940-an. Kita kaget mengetahui Indonesia dijadikan “sumber” bagi orang-orang sedang memodekan di Utrecht. Di situ, ada imajinasi dan politisasi warna.

Keterangan penting bertema pers pun diberikan oleh Adinegoro. Ia mendapatkan data-data yang mencengangkan. “Pers itu boleh didjadikan mata air uang,” ungkap Adinegoro. Kalimat yang cocok untuk industri pers di Eropa dan Amerika Serikat. Yang disampaikan Adinegoro: “Banjaknja surat kabar harian jang terbit dinegeri Belanda dalam bahasa Belanda adalah kira-kira serratus. Boleh dikatakan bahwa tiap-tiap koran itu rata-rata ada langganannja sepuluh ribu. Di Amsterdam sadja jang berpenduduk lebih kurang tiga perempat miliun, terbit dua belas surat kabar harian.” Kita menduga selama di sana Adinegoro sekalian belajar tentang (industri) pers, yang bisa dicontoh bila kembali ke Indonesia.

Adinegoro melanjutkan lawatannya ke Jerman. Ingat, ia tidak sekadar melakukan perjalanan. Yang sebenarnya terjadi adalah perjalanan kata-kata. Adinegoro selalu menuliskan babak-babak selama di Eropa. Yang disampaikan mirip nasihat: “Barang siapa jang pergi ke Djerman dengan maksud hendak mempeladjari kultuurnja, haruslah pandai berbahasa Djerman, sebagai kalau kita hendak pergi ke negeri Belanda. Kalau hanja mengetahui sapatah dua sadja, takkan berhasillah apa jang dimaksud, berusaha menjelami kebudajaan Djerman jang sedalam-dalamnja.” Adinegoro ke Jerman, sebelum ada lakon terbesar oleh Hitler mengguncang dunia.

Ia sampai di Berlin. Kota besar yang membawa sejarah dan mengalami petaka-petaka pada abad XX. Bagaimana orang Indonesia menilai Berlin? Adinegoro menulis: “Tetapi di Berlin boleh dikatakan tak ada anak Indonesia; djika ada anak Indonesia jang datang kesana, mereka disangka anak Korea atau Japan. Didalam kota ini ada sekolah untuk beladjar politik dan djournalistiek, tjukup dengan profesor-profesornja. Memang djournalistiek dan politik itu mesti sedjalan, supaja djangan si penulis itu djadi kuli tinta sadja, melainkan supaja dapat pula ia memandang keadaan pergaulan hidup dan pemerintah, serta segala golongan penghidupan dinegerinja dan diluar negerinja dengan pemandangan jang lebar.” Jerman memili kekuatan dalam sastra. Selama di sana, Adinegoro pun membuktikan kekuatan Jerman dalam pers.

Buku berjudul Melawat ke Barat sekadar bacaan meski memuat beberapa foto. Kini, kita yang membaca dan membayangkan akan kelelahan saat dunia bisa mudah dilihat melalui gawai. Perlawatan tak lagi harus membawa raga ke tempat-tempat jauh. Konon, perlawatan masa sekarang bisa menemukan banyak hal dengan ongkos yang murah.

Dulu, yang dilakukan Adinegoro adalah melawat yang bergelimang kata ketimbang foto. Yang ditulis adalah pengalaman dan kesaksian ikut memberi pengetahuan kepada ribuan pembaca di Indonesia, dari masa ke masa. Namun, buku itu perlahan susah terbaca oleh kaum yang bergawai. Mereka tidak lagi memerlukan halaman-halaman kertas yang sesak ribuan kalimat. Mereka tinggal menghidupkan gawai untuk melawat ke pelbagai negara.

_____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

TERPUJILAH AMERIKA SERIKAT

Mochtar Lubis, nama yang selalu teringat dengan novel berjudul Jalan Tak Ada Ujung dan Senja di Jakarta. Ia menulis beberapa novel, yang mendapat pujian dan kritik, sejak masa 1950-an. Dulu, novel-novel itu tersaji oleh beberapa penerbit. Pada suatu masa, ada terbitan yang istimewa oleh Pustaka Jaya. Para kolektor mengingat novel-novel Mochtar Lubis dalam cetakan bersampul keras dan tebal. Konon, edisi itu sengaja untuk koleksi.

Novel-novelnya cetak ulang. Pemicunya mungkin kebijakan menjadi koleksi di ribuan perpustakaan. Ada pula yang menganggap memang novel-novelnya pantas cetak ulang, mendapat ribuan pembaca. Mochtar Lubis, nama yang diakrabi oleh murid dan mahasiswa dalam pengajaran sastra.

Namanya makin menguat saat mendirikan YOI. Orang-orang mengenalinya Yayasan Obor Indonesia. Banyak buku yang diterbitkan oleh YOI. Buku-buku bertema lingkungan hidup, birokrasi, ekonomi, demokrasi, sastra, dan lain-lain. Bagi yang masih ingin membaca dan mengoleksi buku-buku Mochtar Lubis bisa membeli edisi YOI, yang mudah diperoleh ketimbang edisi Pustaka Jaya atau penerbit-penerbit masa 1950-an.

Mochtar Lubis itu nama yang disebut dalam perdebatan sengit setelah pidato dan terbitnya buku berjudul Manusia Indonesia. Buku yang akhirnya berpengaruh di Indonesia. Pada masa sekarang, buku itu tetap menantang bila dibaca sambil menandai perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia. Mochtar Lubis telanjur dianggap jurnalis dan pengarang tangguh. Manusia Indonesia menjadi buktinya. Masa lalunya memang ganas dengan kerja di jurnalistik. Ia menggerakkan Indonesia Raya yang dihabisi penguasa. Pada situasi rumit, ia dan teman-teman mendirikan majalah Horison.

Para pembaca novel-novel Mochtar Lubis memberi pujian, tak lupa menyodorkan kritik-kritik. Yang mengamati sikap dan pemikiran Mochtar Lubis mulai menguak hal-hal yang mudah menjadi polemik. Pengamat menemukan kaitan Mochtar Lubis dengan Amerika Serikat dalam urusan politik-kebudayaan. Kita diajak memikirkan masalah otoritas, dana, misi, dan lain-lain.

Ia memang memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat. Dulu, ia tidak melulu pengarang. Mochtar Lubis pun menjadi penerjemah. Teks-teks sastra dari Amerika Serikat pernah diterjemahkan oleh Mochtar Lubis, terbit sebagai buku-buku kecil dan tipis pada masa 1950-an.

Bukti kemesraan yang dapat dibaca adalah buku berjudul Perlawatan ke Amerika Serikat. Buku diterbitkan oleh Gapura, Jakarta, 1952. Siapa masih mengoleksi dan mau membahas untuk mengenang Mochtar Lubis? Selalu saja yang terbaca adalah novel-novel dan Manusia Indonesia. Buku lawas itu sebenarnya mengajak kita melek pesona atau kuasa Amerika Serikat sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Mochtar Lubis menerangkan: “Nama Amerika menimbulkan bermatjam-matjam bajangan dan gambaran. Bagi mereka yang anti Amerika, maka dibajangkan Amerika sebagai negeri berkuasa besar, hendak mendjadjah dan berkuasa didunia dan orang Amerika semata-mata materialistis, pikirnja tjuma bagaimana harus mentjari uang sebanjak-banjaknja. Bagi setengah orang lain, Amerika adalah sebagai dunia mimpi. Semuanja indah, bagus dan bertjahaja.”

Pada suatu hari, Mochtar Lubis berhasil tiba di New York. Manusia asal Indonesia yang mendatangi negara besar dengan kota-kota yang menawan. Yang ditulis Mochtar Lubis: “Inilah New York di Amerika Serikat. Negeri jang kita amat tjurigai di Indonesia dan ditjurigai oleh banjak bangsa-bangsa Asia jang lain. Negeri jang dituduh membantu neo-imperialisme.” Amerika Serikat memang tema yang terlalu besar bagi dunia pada masa 1950-an. Yang mau mengetahui sikap Indonesia terhadap Amerika Serikat bisa membaca tulisan dan menyimak pidato Soekarno. Yang pasti pendapat Mochtar Lubis dan Soekarno tentang Amerika Serikat (sangat) berbeda.

Selama berada di Amerika Serikat, Mochtar Lubis menemukan bukti-bukti sekaligus membuat renungan. Ia biasa meragu tapi berani membuat kepastian asal ada bukti. Yang terpenting lagi adalah argumentasi. Campuran jurnalis dan pengarang menghasilkan renungan: “Melihat kota jang terhampar dengan kilau-kilau lampunja jang redup-redup ditutup embun, maka timbul dalam hati saja pertanjaan. Saja telah djalani lebih dari separoh negeri besar ini. Telah bertemu dengan segala matjam orang, dari kalangan pers, dagang, industri, buruh, dan berbagai-bagai orang lain. Kenalkah saja sudah pada negeri dan bangsa ini? Apakah bangsa ini imperialistis sebagai dituduh oleh Sebagian bangs akita di Indonesia? Ataukah ia sungguh-sungguh demokratis dan tidak ada berkepentingan sesuatu apa diluar negerinja ketjuali untuk memelihara perdamaian dan kemerdekaan sebagai jang disebut orang-orang Amerika?”

Pada saat merenung, Mochtar Lubis bukan penguasa atau pejabat di Indonesia. Ia memiliki bukti dan arah pemikiran yang berbeda dengan elite di Indonesia yang kepikiran beragam hal besar. Mochtar Lubis mulai bingung mengamati hubungan Indonesia dan Amerika Serikat.

Selama tiga bulan, Mochtar Lubis berada di Amerika Serikat. Ia mengunjungi beberapa kota dan menghadiri acara-acara penting. Kita menyimak pendapatnya tentang manusia Amerika, sebelum ia bikin geger dengan buku berjudul Manusia Indonesia.

Yang dijelaskan Mochtar Lubis: “… orang-orang Amerika Serikat umumnja amat peramah, suka menolong dan mempunjai perasaan sportivitiet jang besar. Dan untuk mendapat tingkat penghidupan jang tinggi seperti sekarang ini, maka mereka djuga bekerdja keras.”

Buku kecil itu condong memuat kagum dan pujian. Perlawatan singkat ke Amerika Serikat menghasilkan ribuan kalimat, yang membenarkan hubungan “mesra” antara Mochtar Lubis dan Amerika Serikat. Konon, para pengamat yang menguak jalinan akrab itu berlanjut dalam babak malapetaka 1965. Mochtar Lubis tampil dengan pendapat-pendapat sesuai dengan kepentingan-kepentingan besar Amerika Serikat di Indonesia.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

YANG MEMBACA (JAWA)

Yang membahagiakan bapak dan ibu adalah mengetahui anaknya yang masih di TK atau kelas 1 SD sudah bisa membaca. Kebahagiaan yang biasanya diwujudkan dengan ucapan: “Oh, anak yang pintar!” Anak itu mendapat pujian-pujian. Bapak dan ibu pun menantangnya untuk membaca tulisan di buku, koran, poster, bungkus makanan, dan lain-lain.

Anak yang sudah bisa membaca diharapkan kelak pintar. Bapak dan ibu pun mengumumkannya kepada keluarga besar, tetangga, dan teman-teman. Nasib yang berbeda dialami anak-anak yang sudah kelas 3, 4, 5, atau 6 SD tapi belum bisa atau belum lancAr membaca. Anak akan mudah mendapat ejekan dan kutukan. Yang tidak bisa membaca seperti mendapat cicilan siksa neraka.

Di Indonesia, masalah anak bisa membaca pernah menyulut polemik. Sumbernya adalah kementerian yang mengurus pendidikan. Konon, beberapa tahun yang lalu, anak-anak di TK dan kelas-kelas awal SD belum ada kewajiban bisa membaca. Guru tidak harus memaksa untuk mengajar membaca kepada anak-anak yang masih suka bermain dan bernyanyi. Namun, masa lalu pun menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak untuk membaca di kelas 1, 2, 3 SD sangat menentukan mutu pendidikan di Indonesia.

Yang sedang kita masalahkan adalah anak-anak yang membaca dalam bahasa Indonesia. Mereka yang belajar di sekolah memang dianjurkan untuk lekas mengerti bahasa Indonesia. Yang belajar bahasa Indonesia, yang cinta tanah air dan memiliki patriotisme. Mereka belajar membaca dalam Bahasa Indonesia tapi kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa daerah.

Pada masa kolonial, anak-anak yang berhasil belajar di sekolah sangat diharapkan dapat membaca dalam bahasa Belanda dan Melayu. Dua bahasa yang akan membuatnya pintar dan mengubah nasib. Orang yang bisa membaca mudah mendapat pekerjaan. Pada awal abad XX, kemampuan dan kekuatan membaca ikut menentukan status sosial dan gaya hidup. Jumlahnya sedikit tapi menandakan bumiputra mendapat berkah modernitas.

Maka, para penggerak Indonesia yang berpengaruh adalah kaum yang membaca sekaligus menulis. Mereka mula-mula belajar membaca dalam kepentingan pendidikan. Ada yang kebablasan menggunakan kekuatan membaca dan menulis untuk melawan kolonialisme, berdakwah agama, atau merayakan imajinasi dengan novel. Dulu, ada sejenis konklusi: yang membaca, yang membentuk Indonesia. Padahal, ada kaum-kaum lain yang turut menentukan Indonesia meski tidak melek aksara.

Yang dipelajari pada masa lalu tidak hanya bahasa Belanda dan Melayu. Di Jawa, murid-murid diajar agar bisa membaca dan menulis dalam bahasa Jawa. Artinya, mereka diajar dengan dua aksara: Latin dan Jawa. Jadi, yang berusaha bisa membaca dalam bahasa Jawa mengharuskan keseriusan dan kekuatan ganda. Pada awal abad XX, bahasa Jawa itu penting bagi pemerintah kolonial dan dakwah.

Di Solo, pertengahan abad XIX, berdiri lembaga yang melakukan studi Jawa. Misi besar yang dilakukan adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa Jawa. Kerja besar yang menguat sampai awal abad XX. Di kalangan sastra, bahasa Jawa menunjukkan estetika dan pesona Jawa. Para pujanga menghasilkan kitab-kitab yang dijadikan sumber ajaran hidup. Pokoknya, bahasa Jawa itu penting dan berkhasiat, disokong pula oleh penerbitan surat kabar yang berbahasa Jawa.

Pada masa revolusi, bahasa Jawa tetap penting, sebelum mengalami pengabaian dan kebangkrutan akibat politik-bahasa nasional dan perubahan zaman. Bahasa Jawa terbukti menggerakkan dan membesarkan revolusi. Namun, perannya makin mengecil saat bahasa Indonesia adalah keutamaan dalam memajukan Indonesia.

Kita ingin mengenang anak-anak masa lalu belajar bahasa Jawa. Yang kita buka adalah buku berjudul Gelis Pinter Matja jiid II, yang disusun A Van Diijck dan R Wignjadisastra. Buku diterbitkan oleh JB Wolters, Groningen-Batavia, 1948. Yang paling menarik adalah gambar di sampul. Lihatlah, tiga bocah dalam penampilan yang berbeda! Ada yang mengenakan pakaian khas Jawa. Ada yang memilih pakaian dan peci mengesankan Islam. Ada pula anak yang mengenakan pakaian sederhana tanpa tutup kepala. Kita membayangkan tiga anak itu mewakili kaum-kaum yang berbeda tapi memiliki gairah dapat membaca dalam bahasa Jawa.

Yang dipelajari mereka adalah bahasa Jawa dalam aksara Latin. Buku untuk kelas-kelas awal di sekolah dasar. Belajar membaca tidak hanya dengan kata-kata. Penyusun buku memerlukan gambar-gambar yang menggenapi kata. Maksudnya, anak-anak agar senang dan terbantu oleh gambar, yang berpengaruh dalam kelancaran membaca kata.

Di halaman 19, ada gambar tiga anak yang bermain. Kata-kata yang dicetak untuk dieja oleh murid-murid: soer-ti ma-oe pa-sar-an/ do-dol-an-e o-ra te-me-nan/ do-dol-a-ne war-na war-na. Bermain pasaran biasa dilakukan anak-anak perempuan. Maka, yang belajar membaca bakal mudah jika sudah punya kebiasaan bermain pasaran bareng teman-teman.

Pelajaran membaca itu menyegarkan saat sampai halaman 23. Gambar orang yang berjualan es pakai pikulan. Kata-kata yang dicetak untuk dibaca: soe-ra ma-oe i-der re-ne/ do-dol-a-ne es/ a-koe ma-oe toe-koe sa-ge-las/ i-se-ne ta-pe ke-tan/ ra-sa-ne wis ta se-ger toer le-gi. Yang membaca itu membayangkan jam istirahat atau pulang untuk segera jajan es. Di situ, kita tidak menemukan kata-kata yang menyatakan minum es mengakibatkan anak akan batuk dan pilek.

Yang terakhir, kita menyimak bacaan di halaman 38. Gambar seorang bocah yang menggendong boneka. Ia sedang bermain dengan peran menjadi ibu. Kata-kata yang dibaca oleh murid: soer-ti di-toe-kok-a-ke go-lek-an/ go-lek-an-e a-pik/ ma-oe go-lek-an-e di-em-ban/ go-lek-an-e di-oe-rak-oe-rak-a-ke/ la-goe-ne a-na i-ni. Bermain yang menyenangkan: menggendong boneka sambil bersenandung.

Buku kita tutup meski masa lalu masih teringat. Kita justru susah berpikir mengenai nasib bahasa Jawa abad XXI. Kita tidak boleh mudah menyalahkan anak-anak yang tidak mahir membaca dalam bahasa Jawa saat dunia makin dikuasai bahasa Inggris. Anak-anak tampaknya dianjurkan rajin belajar bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab ketimbang bahasa Jawa dengan pertimbangan identitas, iman, nasib, dan lain-lain.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

MERAH DAN SUMPAH

Malam-malam yang sering hujan. Oktober yang basah. Oktober yang membuat tubuh kedinginan dan malas. Padahal ada mata yang merindukan bulan mesem di langit. Bulan yang tidak akan selalu purnama. Mata kadang melihat sabit, yang mengingatkan hidup dalam sisa atau cuilan. Purnama yang indah malah kadang disumpah oleh orang-orang yang kasmaran dan meratap atas hidup yang dihinakan.

Dingin yang dirasakan dan malam yang nelangsa akan sempurna dengan dangdut. Duduk atau berbaring, telinga diberikan kepada lagu yang berjudul “Tujuh Purnama”. Bergantian yang didengar adalah lagu yang dibawakan Nur Halimah dan Rita Sugiarto. Dangdut yang menyiksa ketimbang seribu puisi.

Yang mendengar dengan mata terpejam: Genaplah tujuh purnama/ diriku engkau tinggalkan/ sendiri sekeping hati/ di dalam kehampaan// Mana janji dan sumpahmu/ yang kau tulis di kalbumu/ di saat benih yang engkau taburkan/ di tanah yang rawan/ yang masih rawan. Lagu yang tidak memberi keselamatan atau kebahagiaan saat malam bertambah malam. Malam pun jahanam.

Beberapa purnama setelah Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, yang terbit adalah merah. Yang melewati purnama-purnama pada masa lalu tidak disiksa asmara tapi nasionalisme. Mereka ingin purnam-purnama menjadi saksi adanya Indonesia. Pada saat menatap purnama, yang terbayang adalah Indonesia yang mulia dan terang.

Setelah beberapa purnama, mereka yang ikut Kongres Pemuda II memang memutuskan hidup bersama. Dulu, mereka pernah membuat siasat untuk menjadi Indonesia. Siasat itu perkawinan yang mempertemukan suku-suku berbeda. Konon, siasat perkawinan itu mengesahkan persatuan atau bhinneka tunggal ika. Perkawinan yang tidak masuk dalam laril-larik Sumpah Pemuda atau diberitakan di surat kabar.

Namun, ada yang menemukan merah setelah beberapa purnama dari peristiwa yang bersejarah. Merah itu buku. Merah bukan warna bulan purnama. Pada 1929, terbit Kitab Arti Logat Melajoe susunan D Iken dan E Harahap. Buku berwarna merah diterbitkan oleh Boekhandel Visser & Co, Weltevreden-Bandoeng. Buku itu mungkin terbaca oleh kaum muda yang telanjur bersumpah demi Indonesia.

Mengapa kaum muda memilih sumpah? Yang dicantumkan dalam buku merah halaman 289 adalah “soempah”. Kita membaca arti yang berdekatan dengan peristiwa 28 Oktober 1928. Apakah sebelum mengumumkan, kaum muda sibuk buka kamus-kamus untuk akhirnya keputusan atau resolusi itu dinamakan Sumpah Pemuda?

D Ikeh dan E haraha mengartikan “soempah” adalah “koetoek, teloeh, bila melangkah djanji, kena koetoek oleh salah pengakoean.” Arti-arti yang bikin gemetar. Apakah kaum muda tidak salah pilih kata dalam sejarah? “Bersoempah” adalah “mengangkat perdjandjian dan pengakoean akan benar dan setia, akan membenarkan diri, demi Allah.” Dulu, sumpah ada dalam sejarah. Selanjutnya, sumpah diumbar dalam lagu-lagu asmara picisan. Sumpah dala lagu-lagu dangdut dan pop itu membuat kita tidak terbebani sejarah tapi dihabisi perasan-perasaan.

Kongres Pemuda II (27-28 Oktober 1928) menghasilkan keputusan yang mengandung kata-kata butuh ditilik pengertiannya setelah beberapa purnama. Di buku merah, kita membaca lema “bangsa” yang berarti “soekoe, djenis berasal moelia, sedjati, jang sebahasa seadat dan seagama.” Kita diingatkan tentang seruan bangsa Indonesia, yang membesar, dari masa ke masa.

Yang bikin pensaran adalah penyebutan “kami”. Di teks Sumpah Pemuda (1928) dan Proklamasi (1945), “kami” dicantumkan dalam deru sejarah yang penuh gairah. Siapa yang mengusulkan agar dicantumkan “kami” pada 1928? Apakah itu usulan M Yamin, yang gandrung sastra dan berhasrat memajukan bahasa? Apakah yang mengusulkan malah WR Soepratman? Namun, kita yang akrab dengan lagu berjudul “Indonesia Raya” cuma menemukan “aku” dan “kita”. Yang teringat: “Marilah kita berseru Indonesia bersatu.” Penggubah dan pengarang novel itu tidak memberi lirik: “Marilah kami berseru Indonesia bersatu.”

Di buku susunan D Iken dan E Harahap, “kami” diartikan “diri kesa lebih seorang; jang berkata dengan temannja ketjoeali pendengar, lagi dipakai ganti akoe.” Jadi, kita mengingat 1928 dengan “kami” dan “kita”. Lagu gubahan WR Soepratman itu berkaitan Sumpah Pemuda.

Yang cukup membingungkan lagi adalah sebutan pemuda, dan putra, putri. Kita yang membaca buku merah terbitan 1929 berimajinasi kata-kata digunakan dalam peristiwa 1928. Kita pilih melacak “pemuda”. Yang ditemuukan adalah “moeda” di halaman 206. Artinya: “ketjil oesia, sedikit oemoer, mentah, belia, lawan toea.” Buku lawas itu bikin kita tambah pikiran saat mengingat sejarah menyebut adanya kaum muda dan kaum tua.

Buku merah usianya akan selalu mengikuti peringatan Sumpah Pemuda. Ia bisa saja berusia melewati seratus tahun jika pemiliknya merawat secara tulus dan penuh kasih. Buku dalam kondisi agak rusak, Punggung buku hilang. Jahitan masih agak kuat. Tampilan sampul tebal pun tampak tidak mulus. Sampul itu pernah menderita oleh binatang. Bekas-bekas kerusakan terlihat.

Yang membaca pengantar sehalaman bakal mengetahui buku merah itu cetakan yang kelima. Jadi, buku itu mula-mula terbit? Yang terbaca di pengantar: 26 November 1914. Berarti buku cetakan pertama mendahului Sumpah Pemuda. Kita mulai menebak ada beberapa orang yang membaca dan menggunakannya sebelum turut Kongres Pemuda I (1926) dan Kongres Pemuda II (1928).

Pada masa lalu, Kitab Arti Logat Melajoe mungkin buku yang penting bagi orang-orang yang belajar di sekolah, bekerja di birokrasi, sibuk di pergerakan politik kebangsaan, dan pengabdian sastra di tanah jajahan. Buku yang ikut berpengaruh dalam perkembangan bahasa “Melajoe”. Pada masa yang berbeda, kita belum mendapat kabar adanya cetak ulang yang berjudul “Kitab Arti Logat Indonesia”.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

BAHASA: 1926, 1928, 1930

Yang pernah belajar bahasa dam sastra di universitas berkenalan nama-nama dari masa silam. Ada yang bisa mengingat tiga atau sebelas nama. Yang diajarkan atau tercatat dalam buku perkuliahan adalah nama-nama besar, yang memberi warisan terpenting dalam perkembangan bahasa dan sastra. Namun, tulisan-tulisan mereka membingungkan bagi orang-orang yang belajar dalam kesadaran (beda) negara.

Satu nama yang mungkin mudah teringat: Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Yang belajar masalah bahasa, sastra, atau sejarah mengetahui namanya, belum dijamin pernah memegang bukunya. Yakinlah hanya sedikit orang yang berani khatam tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji. Sejak masa 1950-an, buku-bukunya diusahakan terbit di Indonesia tapi pembacanya sedikit saat godaan sastra modern memberi pikat-pikat yang berbeda. Situasinya berbeda dengan buku yang terbit di Malaysia atau Singapura.

Pada suatu masa, tulisan-tulisan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji disajikan lagi kepada para pembaca di Indonesia, yang dibuat oleh KPG dan EFEO. Nama peneliti yang memungkinkan munculnya lagi tulisan-tulisn itu minta terbaca dengan pelbagai tambahan keterangan: Amin Sweeney. Buku tiga jilid, yang besar dan tebal. Siapa betah membaca dan sanggup khatam? 

Amin Sweeney mengatakan mengenai buku-buku Abdullah bin Abdul Kadir Munsji: “… merupakan warisan kepada seantero alam Melayu, bahkan kepada seluruh bangsa Indonesia. Orang Indonesia memilih bahasa Melayu untuk dikembangkan sebagai bahasa nasional karena bahasa itu telah berabad-abad berfungsi bukan hanya sebagai lingua franca, tetapi juga sebagai khasanah dan penyebar ilmu pengetahuan serba jenis. Bahasa Melayu yang dipilih itu bukan suatu tabula rasa atau medium yang netral dan pasif seperti dibayangkan oleh beberapa sarjana Belanda. Bahasa itu membawa sertas segala pandangan hidup, sistem pengolahan ilmu, dan warisan sesuatu budaya.”

Kita memerlukan kutipan itu membekali saat membaca buku tipis. Yang kita baca adalah buku berjudul Melajoe Oemoem, terbitan Boekhandel Visser & Co, Weltevreden, 1930. Perhatikan tahun terbit! Bayangkan buku itu masih dipelajari setelah ada peristiwa bersejarah: 28 Oktober 1928. Tahun itu terjadi persumpahan bahasa, yang dinamakan bahasa Indonesia. Namun, bahasa Melayu masih ada: diajarkan di sekolah dan mendapat pengakusan secara sosial-politik-kultural. Maka, kita menduga belum ada pengajaran bahasa Indonesia atau pembuatan buku pelajaran bahasa Indonesia setelah 1928 dan masa 1930-an. Jadi, pengajaran bahasa Melayu tetap terselenggara di sekolah-sekolah.

Buku itu sebenarnya selesai disusun pada 1926. Artinya, buku ada duluan sebelum Kongres Pemuda II (1928). Buku disusun oleh tim, yang kita tidak dapat mengetahui nama-namanya. Pada 1930, buku cetak ulang kedua, yang memuat keterangan: “Lain dari pada itoe banjak peribahasa dana pepatah jang koerang oemoem, ditinggalkan, tidak dimasoekkan lagi kedalam tjetakan jang kedoea ini. Setengahnja ada jang diganti dengan jang lebih oemoem.” Apa arti “oemoem” yang tercantum dalam kamus-kamus masa 1920-an dan 1930-an?

Buku pelajaran itu memang ramai dengan petikan-petikan dari sastra lama. Para murid yang belajar bahasa Melayu juga mendapat contoh dari  buku-buku terbitan Balai Poestaka masa 1920-an. Yang “modern” mungkin mulai diperlukan dalam pengajaran bahasa Melayu, yang belum dinamakan bahasa Indonesia.

Yang dikutip dari novel (saduran) berjudul Si Djohan dan Djamin agak mudah terbaca oleh kita yang hidup dalam abad XXI: “Pada soeatoe hari, ketika matahari hendak masoek keperadoeannja, hawa jang panaspoen bertoekarlah mendjadi agak sedjoek dan angin jang lemah lemboet bertioep sepoi-sepoi dari arah tenggara, pokok kenari jang besar-besar dengan tingginja, pada kiri kanan djalan besar menggerakkan ranting dan daoen-daoennja ditioep angin itoe gemoelai-gemoelai seolah-olah bersoeka hati karena matahari jang memantjarkan tjahajanja jang panas itoe, soedah hendak terbenam kebalik laoet Djawa jang lebar, dan hawa oedara pada waktoe petang hari itoe sedap dan njaman rasanja.” Yang belajar bahasa memang merasa asyik bila bersumber teks-teks sastra. Kita yang membaca petikan itu dibikin senewen. Peristiwa yang biasa terjadi dibahasakan secara panjang dan indah.

Setelah pemuatan bacaan, para murid diminta mengganti kata-kata. Artinya, ada ajakan belajar sinonim. Bacaan yang indah sengaja diajukan agar murid-murid berani memberi jawaban-jawaban. Yang dicantumkan dalam buku: “Kata peradoean itoe perkataan sehari-harikah? Tahoekan engkau lagi kata-kata jang seperti itoe?” Pada masa sekarang. “peradoean” atau “peraduan” masih hidup dalam bahasa Indonesia. Kita kadang tanpa sadar menggunakannya mirip dengan apa yang ada dalam bacaan di buku berjudul Melajoe Oemoem. Selanjutnya, ada pertanyaan: “Perkataan istirahat itoe perkataan apakah itoe? Tahoekah poela engkau beberapa perkataan Arab jang lain jang terpakai dalam bahasa Melajoe?”

Kita sekarang membaca kutipan yang diambil dari Hikajat Abdoellah. Bacaan lama yang memerlukan kecermatan: “Sejogianja bahwa mengabil ibarat kiranja, hai saudarakoe jang berboedi, akan segala perkara jang amat dahsjat jang terseboet itoe. Akan mendjadi soeatoe peringatanlah bagi segala orang jang hendak mentjari orang kepertjajaan dan jang boleh tempat diharap lagi amanat. Maka adalah perkara jang demikian itoe mahal dibeli soekar ditjari pada zaman ini.” Belajar bahasa, belajar “jang sama atau bersamaan” artinja. Bahasa Melajoe pada masa lalu menampilkan kata-kata yang berasal atau dipengaruhi dari bahasa Arab.

Yang kita baca adalah buku yang terbit pada 1930. Bahasa Indonesia sudah ada tapi yang dipelajri murid-murid adalah bahasa Melayu. Artinya, bahasa Indonesia adalah penamaan bagi yang berkesadaran politik dan kebudayaan “baroe”. Kaum muda itu masih menantikan waktu yang lama agar terjadi pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.

Situasi masa 1920-an dan 1930-an mungkin mengandung kebingungan dan perselihan bagi yang menyebut bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Pada akhirnya, sebutan bahasa Indonesia makin dipentingkan dan kuat saat masa pendudukan balatentara Jepang: 1942.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

SEBELUM 1945: PISANG, BAMBU, KELAPA

1942: nasib Indonesia sangat berubah. Kita percaya saja omongan dan bacaan sejarah, yang menyatakan 1942 adalah tahun getir. Indonesia tak lagi dalam cengkeraman pemerintah kolonial Belanda. Kejutan terjadi dalam hitungan hari. Indonesia berada di arus yang berbeda setelah kedatangan balatentara Nippon. Di buku pelajaran, kita mengetahui masa pendudukan Jepang, dimulai 1942 dan berakhir 1945.

Apa yang kita warisi dari masa kekuasaan Jepang yang pendek? Kita jawab saja: buku. Para pengamat sejarah biasanya menyebut Soeharto itu masuk dalam daftar warisan masa pendudukan Jepang. Ada lagi yang mencatat: upacara, rukun tetangga, berbaris, dan lain-lain. Kita menjawab warisan penting dari masa lalu itu buku. Jawaban yang sombong! Masa kekuasaan yang pendek memang menghasilkan buku-buku, yang tersisa sedikit untuk kita pegang dan pelajari.

Di kalangan peneliti sejarah dan kolektor, buku-buku terbitan masa pendudukan Jepang biasa berharga mahal. Anggapan langka digunakan gara-gara jumlah buku yang masih ada cuma sedikit. Mengapa terjadi penerbitan buku-buku? Konon, Jepang mengharuskan propaganda, yang bisa bergerak dan bertumbuh di kalangan sekolahan.

Buku yang masih bisa berada di tangan kita berjudul Ilmoe Toemboeh-Toemboehan. Buku yang diadakan oleh Kantor Pengadjaran, 1943. Buku digunakan oleh murid-murid di sekolah menengah pertama. Yang belajar di sekolah perlu mengetahui ilmu tumbuh-tumbunan, yang bagi Jepang bisa mendukung pemenuhan kebutuhan pangan atau membuat ilusi kemakmuran di Indonesia.

Siapa yang menyusun buku? Kita tidak menemukan nama-nama yang tercantum di lembaran-lembaran buku. Yang pokok adalah murid-murid masih berkutat dalam sains. Ilmu yang dipelajarinya sangat berguna dalam kepentingan akademik dan kejadian sehari-hari. Buku pelajaran yang tidak asal terbit tapi mendapat pemeriksaan dulu oleh pihak Jepang. Kita menduga buku pelajaran kadang berbahaya, yang menimbulkan perlawanan atau pemberontakan.

Kita membayangkan muri-murid yang belajar ilmu tumbuh-tumbuhan sering kelaparan. Pada masa pendudukan Jepang, pangan itu langka dan sulit. Beras disetorkan kepada tentara Jepang. Rakyat bingung mencari makanan. Imajinasi tentang Indonesia yang subur mendapatkan kebalikan-kebalikan. Murid-murid yang belajar pun menyadari penderitaan yang ditanggung banyak orang akibat perintah-perintah Jepang.

Buku dari masa kelam kita baca berbarengan Indonesia sedang berlagak sadar pangan. Kebijakan pemerintahan mengenai tumbuhan diberlakukan dengan janji-janji besar meski kita mengetahui kegagalan dan kelemahan. Tumbuhan itu tema besar abad XXI, yang menjadikan Indonesia wajib bermartabat bila mengingat warisan dan nasihat nenek moyang.

Kita berusaha menjadi murid masa 1940-an agar merasa takjub melihat isi buku pelajaran. Yang mula-mula dipelajari adalah pisang. Di buku, tercantum keterangan: “Pisang, toemboehan negeri panas ini, masoek bilangan sesoeatoe keloearga jang ketjil tapi penting. Djenisnja banjak dan sifat-sifatnjapoen sangat berlain-lainan. Pisang itoe ditanam orang baik ditanah rendah, ditanah pegoenoengan dan hampir terdapat disegenap pekarangan.”

Pisang memang mudah ditemukan di seantero Indonesia. Pisang mengisahkan rakyat yang membuat beragam olahan. Kita suka makan pisang goreng. Ada yang menggunakan untuk kolak. Orang lawas yang sakit, menggunakan pisang untuk bisa menelan obat. Segala tentang pisang menjadi sumber kebijaksanaan, bukan sekadar pangan.

Pisang mengiringi kebutuhan pangan jutaan orang di Indonesia. Pisang bukan makanan pokok tapi kita biasa menemukan adanya pisang di warung. Di hajatan pernikahan atau ritual, pisang pun dihadirkan. Pisang tidak bisa sirna dalam arus sejarah Indonesia. Namun, kita belum menemukan buku membahas sejarah (politik dan pangan) di Indonesia, yang mengandung bab-bab pisang. Yang mengalami masa Orde Baru mungkin ingat pernah diadakan lomba nasional: memasak beragam makanan berbahan pisang, yang memperebutkan Piala Tien Soeharto.

Kita melanjutkan pelajaran tentang bambu. Yang hidup di desa terkenang pelbagai benda yang dibuat dari bambu. Keluarga yang hidup miskin atau sederhana menghuni rumah yang dibuat dari bambu. Para penikmat suara seruling lekas mengingat bambu. Di babak sejarah, kita dibuat kagum adanya pasukan yang berbambu runcing. Pokoknya, bambu bergelimang cerita di Indonesia.

Di buku yang diterbitkan Kantor Pengadjaran, kita membaca keterangan: “Bamboe itoe amat bergoena kepada anak negeri, didjadikan pagar desa. Lain daripada itoe dipergoenakan oentoek pemboeat roemah, tetapi dapat poela diperboeat djadi pelbagai matjam perhiasan roemah, pakaian, perkakas, sendjata, bahkan perkakas boenji-boenjian. Daripada bamboe jang dibelah-belah diperboeat tikar, topi, kotak, kipas…” Indonesia itu negeri subur untuk pelbagai jenis bambu. Namun, julukan untuk Indonesia bukan “negeri bambu”.

Yang terkenal dari masa lalu adalah “negeri njioer melambai”. Kita biasa menemukannya dalam bacaan lawas atau lagu-lagu “tempo doeloe”. Orang-orang sekarang mungkin tidak mengetahui “njioer”. Padahal, ia biasa melihat atau mengonsumsi “njioer”. Kita membuka halaman-halaman lain dalam buku Ilmoe Toemboeh-Toemboehan.

Di halaman 97, kita membaca penjelasan: “Pohon njioer itoe sebaik-baiknja toemboeh dekat tepi pantai. Di Indonesia kelapa itoe adalah 20 matjam. Ada jang hidjau, ada jang koening atau jang kemerah-merahan boeahnja.” Nama lain dari “njioer” adalah kelapa. Kita sudah belajar banyak mengenai kelapa, yang disampaikan keluarga, guru, pengarang, dan ulama. Indonesia memang pantas belajar ribuan hikmah bersumber kelapa.

Yang kita ketahui, kelapa tidak selesai hanya berurusan kuliner. Hiasan dalam pesta pernikahan di Jawa mengingatkan pohon kelapa (janur). Alat-alat di dapur itu dibuat dari pohon kelapa. Gerakan kepanduan pun memilih simbol kelapa. Yang rajin menyapu pekarangan rumah pasti mengerti faedah pohon kelapa: sapu lidi.

Buku yang mengandung ilmu. Buku yang diipelajari saat Indonesia dijanjikan merdeka. Murid-murid belajar tapi kesusahan mendapatkan makanan. Buku yang mengumpulkan banyak keterangan tumbuhan-tumbuhan di seantero Indonesia. Yang belajar mendapatkan gambar dan foto, menguatkan keinginan paham tumbuhan, bukan kekuasaan.

Warisan dari masa pendudukan Jepang adalah buku. Pada 2025, kita membaca buku yang umurnya lebih tua dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kita boleh membayangkan murid-murid yang belajar Ilmoe Toemboeh-Toemboehan menjadi pelaku dan saksi sejarah di titik terpenting: 1945. Indonesia yang merdeka membutuhkan pangan.

Buku yang dipelajari di sekolah itu akhirnya berguna untuk Indonesia yang menghijau. Indonesia adalah album tumbuhan. Anehnya, buku yang apik itu tidak mendapat susulan atau bandingan pada masa sekarang. Murid-murid di SD, SMP, dan SMA makin enggan belajar ilmu tumbuhan. Mereka pun jarang menemukan tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah atau sekolah.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

LAGU (TIDAK) ROMANTIS

Pada masa 1990-an, kaum remaja merasa dilanda kasmaran yang merdu. Mereka ikut gemremeng ssaat mendengar radio, yang membuat daftar tangga lagu mingguan. Di situ, ada lagu “Kangen” dari Dewa 19. Mereka larut dalam perasaan-perasaan yang tidak biasa. Bayangkan mereka kangen tapi diharuskan menulis dan membaca surat.

Di keseharian, mereka memegang bolpoin dan menghadapi buku tulis. Pada situasi berbeda, mereka memilih kertas yang istimewa. Tangan itu menulis kalimat-kalimat yang penuh perasaan, bukan catatan pelajaran atau jawaban untuk tugas-tugas yang diberikan guru.

Yang menulis surat adalah yang kasmaran. Kangen ditanggapi dengan menulis di kertas. Ditulis penuh penghayatan. Yang menulis kadang meneteskan air mata bersampur gemas. Penulis surat bisa terbawa lamunan yang panjang setelah berhasil membuat satu kalimat. Di kertas, penulis surat yang sangat kangen tidak mau ada coretan. Yang tampak di kertas seharusnya menguak perasaan-perasaan, bukan asal membuat tulisan seperti saat berada di kelas.

Dulu, kangen itu menulis dan membaca surat. Orang harus sabar. Kangen malah disuruh menulis surat, yang bisa belasan halaman. Kangen yang mendebarkan adalah membaca kalimat-kalimat yang samar dari kekasih. Tangan gemetar saat terjadi mufakat sama-sama kangen yang ada di sini dan yang ada di sana. Surat itu keramat! Surat disimpan di bawah bantal, terbawa dalam tidur menjadi mimpi yang indah.

Bagaimana kangen menghasilkan ratusan dan ribuan kalimat? Yang kangen berarti sadar kata selain menitip foto dalam surat atau menaruh cap bibir di kertas? Kangen yang bermutu. Kaum remaja masa 1990-an yang tidak mau membiarkan kangen berlalu oleh angin, kentut, atau terjangan tikus. Kangen yang sebenar-benarnya adalah kertas berisi kalimat-kalimat. Kangen itu pilihan warna amplop dan gambar di perangko. Semua gara-gara lagu dari Dewa 19.

Namun, para remaja pun mendengar lagu Slank, Kahitna, Java Jive, dan lain-lain. Mereka memiliki pilihan lagu yang romantis. Ada yang tersedot lagu-lagu tragis. Ada yang berputus asa setelah kecanduan lagu-lagu sadis. Pokoknya, masa remaja adalah masa-masa mengoleksi banyak lagu, yang dianggapnya sesuai perasaaan. Maka, yang ;punya koleksi lagu pilihan masa remaja bakal dibawanya sampai tua. Pada suatu hari kelak, mereka mendengarkan lagi sebagai lagu kenangan atau nostalgia.

Masa 1990-an itu menghasilkan keuntungan besar saat penyelenggaraan konser-konser atas nama nostalgia. Yang panen duit miliran rupiah biasanya Dewa 19. Kita menuju masa 1950-an saja. Masa yang masih diramaikan lagu-lagu nasional atau kebangsaan agar revolusi tidak redup. Apakah masa itu sudah ada lagu asmara yang (paling) romantis?

Pada masa kekuasaan Soekarno, lagu atau musik bisa menjadi masalah bila tidak berpikiran sesuai revolusi atau menunjang kemuliaan Indonesia. Lagu-lagu yang memuja asmara rendahan dan ecek-ecek mungkin masuk daftar perusak kepribadian nasional. Yang diperlukan Indonesia adalah semangat bukan kangen, cinta buta, atau sumpah sehidup-semati berdua. Semua itu rendahan!

Kita mendapatkan petunjuk kecil untuk mengingat suasana berlagu masa lalu. Yang kita buka adalah buku berjudul Puspa Irama jilid II, yang disusun oleh Kasim St M Sjah, 1953. Yang menerbitkan adalah Pustaka Rakjat, yang didirikan dan dikelola oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Penerbit yang memberi perhatian pada sastra dan bahasa tapi tidak melupakan lagu.

Apakah di buku ada leluhur lagu asmara yang nantinya bercucu “Kangen” yang dibawakan Dewa 19? Sejak halaman awal sampai akhir, kita mustahil menemukan lagu bertema asmara. Buku digunakan di sekolah-sekolah (menengah), yang diajarkan bukan untuk menjadi makhluk ketagihan asmara dan merayakan cinta sampai langit ketujuh.

“Moga-moga buku ini djuga akan djadi pendorong untuk mentjapai pengetahuan musik umum sekedarnja,” pesan penyusun buku. Ia tidak mengajak murid-murid mengerti musik yang nantinya digunakan untuk merayu dan menjadikan kekasih terjerat dalam kangen seribu tahun.

Lagu yang dipelajari berjudul “Ilmu Pengetahuan”. Judul yang jauh dari perasaan-perasaan terdalam seperti remaja yang mendengar lagu Naif, Nidji, ST 12, Armada, atau Wali. Judul yang sudah menyiksa murid agar makin rajin belajar dan meraih pengetahuan sebanyak satu ton.

Beruntungnya kita tidak menjadi murid masa 1950-an. Lirik lagu yang melawan romantis: Ilmu pengetahuan itulah pakaian jang tidak pernah luntur/ Walaupun disesah dibentur/ Ilmu pengetahuan itulah harta jang guna jang tidak kundjung habis. Mengapa kata-kata itu dibuat untuk dinyanyikan oleh para remaja yang mudah kasmaran. Revolusi tidak boleh mengharamkan asmara. Di sekolah, para remaja malah terlalu diminta serius dengan ilmu pengetahuan. Perasaan-perasaan dilupakan dulu dalam siksa puluhan mata pelajaran.

Kita lanjutkan ke halaman-halaman yang memuat lagu berjudul “Kampung Tertjinta”. Judul yang salah lagi. Kenapa bukan berjudul “Kekasih Tertjinta” atau diksi-diksi yang mendekati asmara? Pada masa 1950-an, pengajaran musik di sekolah dianggap penting. Misinya bukan menjadikan murid-murid adalah perayu tapi mengerti situasi revolusi dan keindahan di dunia yang fana.

Lirik yang dibuat: “Petiklah gitar dan gesek biola pukul gendang.” Bermain musik dilakukan bersama untuk mengingat kampung halaman. Sekian alat musik yang bakal menimbulkan ingatan-ingatan saat bermain di sawah, berlarian di kebun, bermain layangan, menelusuri sungai, menangkap ayam, dan lain-lain. Pokoknya, segala cerita mengenai kampung halaman diharapkan tercakup dalam lagu.

Di situ, ada pengisahan kampung halaman yang kecil dan terpencil. Dulu, orang-orang yang ingin berpendidikan dan berhasil dalam pekerjaan memang harus meninggalkan kampung halaman. Mereka terpisah dari keluarga. Mereka tidak lagi bermain bareng teman-teman di kampung, yang belum beruntung untuk mendapat pendidikan tinggi. Di desa, mereka memilih menjadi petani, pedagang, peternak, atau buruh.

Namun, adakah yang ditinggal adalah kekasih? Artinya, kekasih yang dicintai saat masih kecil atau remaja. Pergi meninggalkan kampung halaman pasti berat tapi harus terjadi. Mereka akhirnya surat-suratan, yang memerlukan waktu lama untuk berhasil sampai di tangan dan dibaca.

Kita memilih dua lagu saja. Ingatlah bahwa kaum remaja masa lalu belajar lagu-lagu yang bermutu, bukan penikmat yang kebablasan untuk lagu-lagu asmara picisan. Masa 1950-an tidak melulu masalah demokrasi atau revolusi. Masa itu lagu-lagu yang banyak pelajaran, bukan perasaan.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

1862

Pelbagai pihak mengadakan peringatan 2 abad Perang Jawa (1825-1830). Seminar-seminar nasional atau internasional diselenggarakan yang mengundang para ahli. Maksudnya, para sejarawan dan tokoh-tokoh yang bisa omong Perang Jawa: mulai dari sastra sampai seni rupa. Apakah ada yang membahas masalah kamus berkaitan Perang Jawa?

Yakinlah perang bersejarah pasti memiliki daftar kata terpenting dalam mengobarkan hasrat menang dan menjaga kehormatan dalam kalah. Yang bertempur adalah pasukan-pasukan (Jawa) berhadapan dengan manusia-manusia Eropa bersenjata modern. Padahal ada pula Jawa berhadapan Jawa. Perhatian besar mendingan diberikan untuk senjata, busana, makanan, dan taktik. Apakah dalam Perang Jawa juga terjadi perang bahasa? Kita merasa itu mustahil bila terjadi perang bahasa Jawa melawan bahasa Belanda. Namun, pada tahun-tahun membara ada bahasa-bahasa yang lain.

Puluhan tahun berlalu dari Perang Jawa, tibalah buku tebal yang berjudul Grieksch Woordenboek. Kita percaya tidak ada hubungan antara Perang Jawa dan kamus-kamus. Adanya kamus bahasa Yunani semakin membuktikan tidak usah berpikiran kamus untuk mengenang sejarah, terutama Perang Jawa. Kamus itu ada di Nusantara tanpa ada urusan dengan Perang Jawa.

Namun, ada peristiwa besar di Banten. Di sana, ada pemberontakan petani. Dulu, Sartono Kartodirdjo meneliti dan menulis apik disertasi sejarah. Kita kepikiran lagi: peristiwa berlatar abad XIX itu memilki hubungan dengan kamus-kamus? Sekali lagi, kita terlalu memaksa adanya dan makna kamus-kamus dalam peristiwa besar masa lalu. Pemberontakan oleh petani mustahil menggunakan bahasa Yunani, yang mungkin datang di Nusantara oleh orang-orang Belanda atau para ilmuwan Eropa. Kaum petani belum butuh kamus dalam perbaikan nasib dan melawan pihak-pihak yang menghisap, menghina, dan menindas.

Di pergantian abad, kita mengetahui Politik Etis. Apakah kebijakan itu memiliki dampak bagi orang-orang yang membaca kamus-kamus. Kita tetap memaksa kamus-kamus berada dalam arus sejarah. Yang kita desakkan adalah kamus-kamus yang akhirnya mendatangkan banyak kata untuk digunakan orang-orang di tanah jajahan.

Sudahlah, usaha mencari kaitan-kaitan peristiwa bersejarah dan kamus hanya akan memberi kecewa dan sia-sia!

Pada  suatu siang, mata melihat tampilan foto buku-buku dari pelbagai pedagang di media sosial. Mata berhenti untuk foto yang tidak jelas, Buku bersampul tebal dan keras. Maka, mata beralih ke foto halaman awal. Yang meminta perhatian adalah pencantuman “woordenboek”. Pastilah itu kamus!

Di bagian keterangan harga, terlihat: 300 ribu. Pedagang tidak sedang guyonan. Ia serius menantang orang-orang agar berani menjadi pembeli. Tiga lembar merah untuk kamus yang sampul depannya hanya hitam. Mengapa kamus dihargai mahal?

Mata menghadapi kata-kata asing. Di bagian bawah, ada tahun terbit: 1862. Kamus yang sangat sulit dibaca dan memberi mimpi romantis boleh berharga mahal. Pemicunya adalah tahun terbit. Pedagang yang tidak bodoh. Pedagang yang menjual tahun. Kamus akhirnya dibeli tanpa berpikir 3 hari 3 malam. Harga yang disepakati: 275 ribu. Keputusan yang fatal untuk membeli “tahun” saat situasi hidup di Indonesia sulit banget.

Kamus berada di rumah. Tebal! Kamus yang tidak bisa dibaca. Kita cuma memandang dan menyentuh. Mata yang kembali ke abad XIX. Mata mencari masa lalu yang belum semua diceritakan. Tangan menyentuh sejarah. Tangan menemukan kertas yang belum dikalahkan waktu.

Yang menyebalkan dalam pikiran adalah pertanyaan: “Apakah kamus pernah dibaca oleh Sosrokartono, Willem Iskander, A Rivai, Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Tan Malaka, Semaoen, Hatta, dan lain-lain? Jangan pernah berharap ada yang menjawab. Kita bertanya gara-gara mengetahui para tokoh itu berani ketagihan bacaan. Bagaimana mereka mementingkan kamus-kamus dalam membaca buku-buku yang serius, yang datang dari Eropa?

Grieksch Woordenboek masih ada! Kamus masih hidup! Pada 2025, kabarkanlah ke jutaan orang bahwa kamus itu tetap membawa sejarah dan ingatan-ingatan yang berceceran.

Kamus pernah dipegang banyak orang. Kamus pastinya berpindah-pindah tempat (kota). Tanda yang masih terbaca adalah tempelan kertas di sampul belakang: Bandung-Cimahi. “Kita berkhayal saja bahwa kamus itu selamat dari peluru, letusan gunung berapi, banjir, gempa, kebakaran, dan lain-lain.

Kamus yang masih bersama matahari yang sama. Kamus berada di Indonesia dalam waktu yang lama, mendapat berkat dari bulan dan bintang. Angin semilir membuatnya betah untuk tidak berpindah ke negara-negara asing. Tanah yang subur tidak membuatnya menjadi rabuk tanaman. Kamus tetap selamat dari seribu kemungkinan kehancuran.

Hitunglah berapa tangan yang pernah memegangnya! Yang tersulit adalah menentukan nama-nama yang menjadi pemiliknya, dari masa ke masa. Di halaman awal, kita melihat stempel. Dulu, kamus dimiliki seorang Tionghoa (totok atau peranakan). Apakah kamus tergunakan oleh pelajar di STOVIA, pedagang di kota, tokoh pergerakan politik, atau pendakwah di gereja? Jawaban-jawabannya tidak pasti. Kita saja belum menemukan nama-nama yang pernah memilikinya.

Kini, pemilik kamus itu tidak bisa membacanya. Pemilik hanya membenarkan “pembuangan” uang demi mengetahui kertas-kertas terjilid yang menolak sirna. Ia kagum dengan mesin cetak yang membuatnya kuat. Mesin cetak mewujudkan pertemuan dan saling pengaruh bahasa-bahasa di Nusantara. Yakinlah bahwa Tuhan pun berperan menjadikan kamus itu selamat sampai sekarang.

Pertanyaan masih berdatangan. Apakah kamus  pernah dibaca dan dipelajari WJS Poerwadarminta yang rajin membuat kamus-kamus? Kebiasaan para pembuat kamus adalah membaca dan mempelajari kamus-kamus terdahulu dari beragam bahasa. Anggaplah kamus itu digunakan Poerwadarminta saat menggarap Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Jadi, ada pengaruh kata-kata dari bahasa Yunani yang masuk dan beredar dalam bahasa Indonesia? Yang dapat menjawab serius campur kelakar adalah Remy Sylado. Padahal, ia sudah tidak bersama kita.

Kebenaran yang kita pegang adalah Grieksch Woordenboek terbitan 1862 masih bernyawa. Kamus yang selamat dari perang dan bencana. Kamus yang tetap mau bertemu matahari pada abad XXI.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.