Cerpen

Yudistira Moksa

Cerpen Caligula Zaragyl

/1/ Judi Dadu

Yudistira bersama dengan rombongannya pergi ke Hastinapura untuk bermain judi dadu. Ia tak ingin kehormatannya sebagai raja dipermalukan. Apalagi tradisi zaman itu, etika kesopanan, kehormatan, keberanian juga terletak pada undangan bermain judi dadu. Yudistira yang seorang arip bijaksana pun juga sebenarnya dapat mengirimkan orang untuk menghadiri undangan itu. Namun, terlalu percaya dengan sikapnya yang arip bijaksana, merasa dapat memenangkan permainana judi dadu dengan mudah, apalagi kegemarannya bermain judi menjadi faktor utama untuk menerima undangan itu.

Duryudana menyambut rombongan Yudistira dan mempersilakan untuk beristirahat di balairung yang telah disediakan. Mereka dijamu dengan istimewa, segala aneka makanan ada, dan telah menyiapkan ratusan wanita penghibur. Keesokan harinya, rombongan Yudistira diantarkan ke balairung tempat bermain judi dadu. Ruangan yang sangat luas, seluruhnya dihiasi oleh permata yang berkilau, dindingnya tersepuh oleh emas, plafonnya terbuat dari kristal, lantainya penuh dengan corak unik, sekeliling penuh dengan lukisan tangan dalam bentuk bas-relief[1]yang menjelaskan keagungan dewa, karya mozaik dengan corak rumit, dan patung-patung berbentuk dewa. Mereka saling menyapa dan menempati tempanya masing-masing. Kurawa dan Pandawa saling berhadapan. Mereka segera ingin melihat siapa yang memenangkan judi dadu. Yama Widura, Bima, Sengkuni, Drona, Kunti, Krepa, Gendari, Dursasana, Citraksa, Karna, Citraksi, Kurawa dan Drestarata menjadi saksi permainan.

“Mari kita bermain judi dadu, Yudistira,” kata Duryudana.

“Bermain judi dadu menyebabkan permusuhan. Segala cara akan dikerahkan untuk mengalahkan lawan.”

“Apa yang salah dengan permainan judi dadu ini? Permainan ini hanya adu keterampilan dan keberuntungan saja. Semua orang dapat memainkannya.” Duryudana berusaha memancing Yudistira untuk bermain judi dadu. Ia ingin menguras segala kekayaan miliknya dan berusaha menyingkirkan Yudistira.

“Baiklah mari kita mulai permainan ini!”

Balairung penuh gemuruh penonton, segala makanan telah tersedia, dan wanita penghibur. Suasana semakin panas ketika dua pihak mulai meneriakkan caci maki. Duryudana mulai melemparkan dadu ke meja, berputar cukup lama, dan muncul angka seperti yang ia katakan. Yudistira semakin emosi setelah kalah bertaruh permata, emas, perak, dan barang yang dibawa ke Hastinapura. Ia berpikir untuk bertaruh lebih banyak dan berharap dapat mengembalikan taruhan yang telah kalah. Namun, nasib sial menimpa Yudistira, segala angka yang dikatakan olehnya tak ada yang keluar.

Duryudana tertawa terbahak-bahak. Ia telah memenangkan semua yang dibawa oleh rombongan Yudistira dan kerajaanya. “Mengapa tak mempertaruhkan saudaramu saja? Barangkali semua yang kamu pertaruhkan akan kembali lagi atau kamu akan memenangkan permainan ini!”

Yudistira terus didera kekalahan. Ia semakin tenggelam dalam tipu muslihat yang dilakukan oleh Duryudana. Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima telah dipertaruhkan. Tak ada satu pun kemenangan yang diperoleh Yudistira. Semuanya telah habis untuk dipertaruhkan. Duryudana, Sengkuni, Karna, Kurawa, dan Dursasana tertawa mengejek. Mereka ingin melihat Pandawa sengsara. Duryudana dengan segala tipu muslihatnya berusaha mengambi semua yang dimiliki oleh Yudistira.

“Semua telah kamu pertaruhkan dalam permainan dadu ini. Kau sudah tak mempunyai apapun kecuali Drupadi! Jika kau mempertaruhkan Drupadi dan memenangkan satu permainan, aku akan mengembalikan semuanya! Ini tawaran yang luar biasa!”        

Rombongan Yudistira menundukkan kepala. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Yudistira telah gelap mata dalam permainan judi dadu. Ia semakin terpancing untuk terus bermain dan berusaha untuk memenangkan permainan. Namun, Duryudana tetap yang memenangkan permainan. Ia telah mengambil kerajaan, kekayaan, prajuritnya, empat Pandawa, dan Drupadi.

Duryudana pun masih tak puas melihat Yudistira kalah. Ia tak hanya mengincar semua yang dimiliki Yudistira, tetapi juga ingin menyingkirkannya. “Aku ingin empat Pandawa mati!” kata Duryudana. Ia mengambil tumbuhan vida[2] dan menusukkannya ke jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka terkapar tak sadarkan diri. Tumbuhan vida itu tumbuh kelopak bunga berwarna merah. Setiap hari, bunga itu akan menyerap darah untuk sumber kehidupannya.

Yudistira hanya mampu menahan kesedihan. Ia tak bisa melarang Duryudana karena telah kalah taruhan. Pemenang bebas melakukan apapun terhadap barang, orang, atau hasil kemenangannya. “Kau dapat menghidupkan kembali saudara-saudaramu. Namun, kau harus mencari air suci untuk membunuh bunga itu. Jika kau mencabutnya dengan paksa atau memotongnya, saudaramu akan mati!” ucap Duryudana dengan nada mengejek dan sepersekian detik kemudian disusul oleh tawa terbahak-bahak dari Kurawa yang lain.

/2/ Moksa

Yudistira harus mencari air suci untuk menghidupkan saudaranya. Ia harus mendaki Gunung Candramurka yang dijaga raksasa, bernama Ruhmuka dan Rukmakala. Sepanjang perjalanan, Yudistira terus menyalahkan dirinya karena telah berbuat bodoh. Namun, penyesalannya tak akan pernah membuat semua kembali seperti semula, apalagi Dewata telah mencatatnya. Yudistira harus melewati sungai, lembah, tebing curam, dan di tengah jalan bertemu dengan burung elang yang mengigit Panca Kumala yang berbentuk ular. Ia ingin membiarkan saja karena merasa itu hukum alam. Semua hewan akan saling memangsa untuk bertahan hidup. Ketika melihat mata Panca Kumala lantas teringat dengan saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Yudistira lantas mengambil ranting kayu, melemparkannya tepat di mata elang, hal itu membuatnya melepaskan mangsanya. Ia berlari untuk menangkap Panca Kumala.

“Terima kasih telah menolongku.”

“Siapakah kau sebenarnya? Apakah kau siluman ular?” Yudistira terkejut ketika mendengar Panca Kumala yang berbentuk ular dapat bicara. Ia tak pernah mengira bahwa ular yang ditolongnya adalah Panca Kumala.

Panca Kumala berusaha menjelaskan siapa dirinya. Ia mendekat ke Yudistira dan berkata, “Aku bukan siluman. Aku anak dari Batara Guru.”

“Tidak mungkin anak dari Batara Guru berwujud seekor ular!”

“Aku telah memakan buah nitya pralaya[3] dan dikutuk oleh Brahma menjadi seekor ular.”

Yudistira membawa Panca Kumala bersamanya. Mereka sampai di puncak Gunung Candramurka. Mereka telah dihadang Ruhmuka dan Rukmakala. Pertarungan tak dapat dihindari. Pertarungan terjadi tujuh hari-tujuh malam. Sampai pada akhirnya Yudistira dapat memenangkan pertarungan. Tubuh Panca Kumala berubah menjadi besar dan melilit tubuh Rukmakala sampai tak bernapas, sedangkan Yudistira dapat membunuh Ruhmuka dengan menghancurkan jantungnya.

Mereka lantas melihat ke puncak Gunung Candramurka, tetapi tak ada air suci, yang ada hanyalah magma. Yudistira menangis membayangkan nasib saudara-saudaranya yang sedang sekarat. Panca Kumala berkata, “Air suci itu hanya akan keluar pada naimittik pralaya[4].”

“Apakah itu artinya tak mungkin untuk mendapatkan air suci? Apakah saudaraku akan mati gara-gara kebodohanku?” Yudistira mendadak lemas dan menangis tersedu-sedu.

“Aku dapat memotong tumbuhan itu.”

“Aku minta tolong bantulah aku.”

Pada suatu malam, mereka menjalin tali asmara, dan hubungan intim yang mistis pun terjadi. Tubuh Panca Kumala kembali seperti semula. Kutukan itu dapat dihilangkan dengan cara hubungan intim. Ia kembali menjadi putri jelita yang mempunyai kecantikan dewi. Mereka menjalin hubungan suami istri. Hubungan berdasarkan saling suka, bersedia hidup bersama, dan itu menjadi syarat sah sebuah hubungan suami istri pada zaman itu.

***

Mereka menuju ke Hastinapura dengan waktu yang sangat cepat. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa tahun, tetapi hanya memakan waktu satu hari. Hal itu berkat kekuatan Panca Kumala yang mempunyai kekuatan mengendalikan waktu. Sesampainya di sana prajurit Duryudana menghadang mereka. Panca Kumala langsung memporak-porandakan seluruh kerajaan Duryudana. Melihat keadaan tersebut Sengkuni ikut terjun ke medan perang, dan pada akhirnya kalah di tangan Panca Kumala.

Yudistira berteriak supaya Duryudana keluar dan mengajaknya berperang. Akhirnya terjadi adu kesaktian, segala ilmu telah dikerahkan, dan semua ketangkasan memainkan senjata dikeluarkan. Namun, segala serangan tak ada yang mengenai tubuh Yudistira. Dia seakan di atas angin sedangkan Duryudana telah babak belur. Ia ingin menghancurkan kepala Duryudana. Namun, Drupadi berlari tergopoh-gopoh dan berkata, “Jangan bunuh dia!”

“Mengapa tak boleh membunuhnya, Istriku?”

“Aku mengandung anaknya. Aku tak ingin anak ini menjadi yatim!” Drupadi mengelus-elus perutnya yang sudah membuncit.

“Apa sebenarnya maksudmu?”

“Aku mengandung anak Duryudana.”

“Bukankah kau masih istriku?”

“Suami macam apa yang sudi menjadikan istrinya sebagai barang taruhan. Pergilah ke balairung, saudaramu masih berada di sana!”

Panca Kumala terkejut dengan kenyataan yang ada di depannya, mengelus-ngelus perutnya, dan berusaha untuk tabah. Ia tak pernah mengira Yudistira telah mempunyai istri. Mereka akhirnya pergi ke balairung. Yudistira tertunduk layu melihat saudaranya yang telah terbujur kaku. Ia mulai memegang jantung Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima. Mereka masih bernapas.

“Bagaimana aku harus memotong tumbuhan vida itu? Jika sembarangan maka saudaraku yang akan mati.”

Panca Kumala lantas  memotong taringnya, taring kanannya berubah menjadi senjata brahmanda astra, sedangkan taring kiri menjadi senjata nagapasham. Ia memotong tumbuhan vida dengan menggunakan senjata nagapasham. Seperdetik kemudian Nakula, Sadewa, Arjuna, dan Bima hidup kembali. Yudistira memeluk mereka dan meminta maaf atas kesalahannya.

Panca Kumala pun memberikan senjata brahmanda astra kepada Yudistira. Berharap jika ada mara bahaya dapat membantunya. Namun, Yudistira menghunjamkan senjata itu tepat di jantungnya. Ia berpikir bahwa kematian menjadi gerbang menuju kehidupan selanjutnya untuk menjalani penebusan dosa.

                                                Ruang Sang Hyang Widhi, 11 Januari  – 23 September 2021.


Caligula Zaragyl, berdomisili di Demak. Bergiat di Prosa Tujuh. Penulis dapat disapa melalui Instagram @khafidhinnur.


[1] Pahatan pada permukaan yang sedikit menonjol

[2] Tumbuhan penghisap darah

[3] Pohon kematian

[4] Hancurnya Alam Semesta

Cerpen

Sekuncup Bunga dalam Luka

Cerpen Reka DRamadani

Saya menjulai di atas punggungnya yang damai. Tercium oleh saya peluhnya yang basah. Semerbak seperti aroma khas mama ketika memeluk saya. Bahunya saya kecup perlahan. Ia telah terpejam seolah bayi yang baru beberapa saat terlahir. Saya kira ia kelelahan setelah semenit lalu saya menghentaknya begitu keras dalam adu cinta di atas ranjang hotel bintang lima. Di pusat kota.

Saya bangun sebentar, melepaskan himpitan pada tubuhnya. Kini ia tengkurap dengan bagian belakang terbuka. Berkilau indah diterpa lampu kamar. Saya menarik selimut dan menutup tubuhnya. Puspalita. Begitu namanya. Sekuntum bunga liar yang saya temukan di riuhnya Jakarta.

“Kau sudah tidur, sayang?” Saya bertanya sembari membelai rambutnya yang panjang sepinggul.

Sambil menggeliat kecil dan tetap memejamkan mata, Puspalita menjawab dengan malas, “Belum. Tentu saja belum.”

Kemudian saya pandangi wajahnya yang putih dan bangir hidungnya. Seperti wajah kanak-kanak. Dan bibirnya tipis. Alisnya lengkung sabit. Ia punya mata bulat penuh. Mengiris-iris dada bila ia tikam saya melalui pandangnya, terutama sewaktu bercinta. Serta pipinya kemerahan, yang semakin merah setiap usai saya ciumi.

Dengan wajah seperti itu, ditambah bentuk tubuh yang sempurna, Puspalita tidak hanya milik saya seorang. Ia milik semua lelaki. Siapa saja lelaki yang mampu membayarnya. Mengenai itulah saya risau dan galau tak sudah-sudah. Hati saya gundah oleh rasa yang sebenarnya tak pernah saya sangka. Ketika saya hanya ingin bermain-main dengan perempuan nakal untuk menyalurkan kenakalan, malah terjebak cinta.

Telah lama saya pendam rasa kepadanya. Untuk itu dua bulan terakhir saya selalu menyewanya meski beberapa kali ditolak. Kali ini perasaan saya tumpah. Saya merasa begitu khidmat dalam mencintainya dan tak ingin kehilangan sejengkal pun. Sesuatu mendorong saya begitu kuat. Meluap dan meledak tak tertahan. Saya ingin mendekapnya dalam dada dan tak ingin mengakhirinya.

Puspalita yang masih tengkurap saya pandu untuk bangun. Tangannya yang seperti porselen saya tarik lembut. Ia duduk di hadapan saya dengan dada dililit selimut. Matanya sayu, menatap saya syahdu.

“Aku mencintaimu,” kata saya spontan.

Puspalita membelalakkan mata sejenak. Sedetik kemudian bergema tawanya pada daun telinga saya. Ia terkekeh-kekeh sambil menepuk-nepuk jidatnya. Saya melongo keheranan. Mungkinkah ia telah mendengar hal yang sama dari ribuan lelaki?

Saya melanjutkan, “Kamu bisa berhenti dari pekerjaanmu saat ini dan menjadi istri saya. Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik.”

Sekali lagi, Puspalita hanya tersenyum tipis tak berserius dengan pembicaraan ini. Namun, saya mendesak. Saya ingin tahu jawaban darinya.

“Mari kita menikah.” Saya menatap matanya yang bulat bidadari itu dengan tajam. Puspalita membalas seperti biasa; tatapan yang selalu mengiris-iris dada saya.

Tiba-tiba ditepuknya pundak saya. “Masalahnya… masalahnya saya tidak mencintaimu,” jawabnya enteng bukan main.

Saya melongo keheranan untuk kedua kali. Benar-benar jawaban yang mengejutkan. Namun saya masih teguh.

“Saya tidak membutuhkan balasan cintamu. Asal kamu suka atau sekadar ada keinginanmu untuk menikah dengan saya, tak mengapa,” kata saya memastikan.

Perempuan di hadapan saya menggosok-gosok pelipisnya seperti sedang kebingungan.

“Itulah masalahnya!” Puspalita menatap saya dengan wajah paling meyakinkan yang pernah diperlihatkannya pada saya. “Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Sekadar suka atau ingin menikah. Tidak keduanya.”

Saya tercengang. Hal paling gila dalam hidup saya seolah baru terjadi. Tetapi Puspalita tetap santai, seperti itu bukan apa-apa baginya. Sedangkan saya dalam beberapa detik harus mengutuhkan kembali kesadaran saya.

“Benarkah?”

Saya melihat Puspalita turun dari ranjang dan mencari pakaiannya. Ia hendak pergi. Dipunguti pakaiannya yang berserak di lantai. Lalu ia mulai mengenakannya satu-satu. Dari celana dalam, beha, kaus, dan seterusnya.

“Beginilah saya. Saya tidak ada perasaan apapun padamu. Saya kira kamu sudah tahu. Tidak ada alasan lain. Saya tidak mencintaimu, ya, karena saya tidak cinta,” katanya seraya mengenakan potongan terakhir pakaiannya.

Puspalita kembali mendekati ranjang dan merogoh tas miliknya. Ia sudah siap untuk pergi. Saya masih menatapnya dengan tak percaya. Ia pun menjadi iba. Terlihat dari matanya. Mata yang mengiris-iris itu.

“Lagipula pelacur seperti saya tidak mengenal cinta. Kami hanya mengenal kepentingan. Mana uang saya?”

Sekarang lain lagi. Membicarakan uang pandangannya berubah. Berbinar-binar bak kristal. Karena itu, meski perasaan saya tercerabut berderai-derai, saya memaksakan diri menggapai dompet di atas nakas. Jasa sudah usai dan datang tagihan. Saya keluarkan beberapa juta dan saya berikan padanya. Kemudian Puspalita berlalu melewati pintu setelah mengecup pipi saya. Ia meninggalkan saya di antara keramaian Jakarta, dengan tubuh telanjang bulat, di sebuah kamar hotel yang sepi. Saya tidak bisa berkata apa-apa.

Sintang, 2021


Reka DRamadani, gadis kecil kesayangan bapak yang senang membaca buku dan sedang merantau di Kalimantan Barat.

Puisi

Puisi Ilham Nuryadi Akbar

Tatkala Ruh Ditiupkan

sebelum kau berenang di badan perempuan

dan diselimuti dinding-dinding rahim

terlebih dulu kau berucap sepakat bulat

nun di alam ruh tempat segala muasal.

setelah kau siap untuk perpindahan

Tuhan menidurkanmu berpuluh-puluh hari

hingga jari-jemari, tulang serta daging berkelindan

menjadi wadah yang siap menjalani kehidupan.

tatkala ruh ditiupkan

sempurna-lah seluruh kejadian

kematian, perbuatan, kesengsaraan, kebahagiaan dan rezeki

menjelma janji-janji yang harus dijalani.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Permintaan dalam Mimpi

barangkali, malam ini kau ingin bermandikan mimpi

menemui aku yang belum tentu menjadi kekasih

pada taman terhiasi bunga-bunga tujuh rupa

tempat dahulu, kau mematahkan janji.

jika kau tersesat

aku saja yang datang menghampiri

sebab alibi-mu laiknya ayat-ayat ketiadaan

pantang untuk berpulang

cepatlah, sebelum kita menjumpai rintik-rintik embun

serta matahari yang menyapa ruas-ruas ventilasi

agar pagi tidak menggema gaung sepi

dan malam tidak menjadi wadah untuk aku merenungi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Aku Terluka Kau Tertawa

sapu tangan peninggalanmu

telah aku cuci

terbilas air mata

kering oleh luap jelaga

api kecemburuanku

mungkin ada baiknya

aku sobek menjadi dua

seperti diksi-diksi puisi

yang tempo hari

kau robek sejadi-jadinya

dendam itu abadi

abadi dalam hati

hati kini terluka

penuh retisalya

sedang kau, puas tertawa

Bekasi, 30 Agustus 2021


Dirimu adalah Celaka

sementara ombak belum menghantarkan batu-batu kecil

tulislah nama kita di pesisir basah

dengan kayu atau jari telunjukmu

dengan paku atau kau tidak mau?

mantra-mantra sudah aku ucapkan

agar burung-burung camar

datang menyederhanakan keinginan

atau kau masih ingin beralasan?

setiba di pantai kau nanar

seperti manusia gusar

bingung mendengung

apa kau sedang murung?

kau benar-benar jelmaan celaka,

tak pernah bisa aku selamatkan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Mengajari

setelah jarum dan benang bersenggama

aku akan menenun jala tua di lemari tua

setelah nirmala

ikutlah berpetualang ke sungai-sungai

menjala ikan, udang, bahkan pemikiranmu yang terhimpit

di celah batu besar.

bila terik semakin pirang

aku akan bergegas pulang ke kandang

sebab lambung pasti mengerang

mengingatkan jam makan siang

maka ikutlah ke tungku arang

menanak nasi, sayur, juga umurmu yang belum matang

di hari pernikahan.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Hasrat yang Asat

kini ia hanya sibuk

menyulam hati di malam hari

dengan begitu hasai.

memantik api di puting obor

menuluhi cahaya pada temaram malam
sebatang kara tak ada yang meminang
sunyi ditimang-timang

hanya jelaga yang menyapa
tak ada renjana
tak ada yang memantaskan
tak ada pula yang ingin memperkosa

ia wanita yang telah terpasung

juga terasing

sebab menanggalkan masa-masa muda belia

memilih jantung hidup yang pantas bagi dirinya

hingga lupa, bahwa ia telah menjadi tua.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lelaki Hibernasi

tepat di kening malam,

partikel-partikel imaji terbang ke sarang pelangi

untuk memetik bunga harapan

diracik menjadi kenyataan.

tepat di siang hari,

seluruh imaji terbungkus di bawah kasur

mantra-mantra meluap dari dinding-dinding kamar

merindukan malam yang jaraknya tidak sedepa.

sementara itu,

seorang lelaki sibuk hibernasi

berteriak bahwa kekayaan akan hinggap sebentar lagi

namun riak-riak suaranya berbiak menjadi mimpi.

Bekasi, 30 Agustus 2021


Lekaki Jemawa

bumi bulat, sosialmu saja yang datar.

langit itu biru, hatimu saja yang hitam.

wawasan sangatlah luas, pemikiranmu saja yang sempit.

kebaikan sungguh ada, kejahatanmu tampak nyata.

tergugu tapi gemar sawala

kalut tapi tak sadar

sengaja jemawa demi bangga memamerkan dasi

tapi kau tergugu dalam bersulam diksi

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ketika Para Lelaki

Suka Pada Satu Hati

aku adalah makna dan perumpamaan basi

hidup dari hal-hal yang dinujumkan

juga teori-teori gila

hingga semua yang bernyawa menuduhku

sebagai hambar paling ranum

acap kali sumpah serapah

dijadikan kotoran untuk menyertai wajahku

begitulah cara mereka menghadirkan hujan

untuk membasahi bunga-bunga mawar yang mulai layu

mensucikan pipi berdebu

serta lorong mata yang memasung pilu

perselisihan ini telah terjadi

semenjak perempuan berwajah lampion

berambut aspal dan berkulit awan

singgah di rumah yang jaraknya beberapa hasta dariku

seandainya kau yang diburu dapat mengetahui

bahwa ini adalah peperangan

kepada siapakah kau akan bersekutu?

Bekasi, 30 Agustus 2021


Tentang Hijrah

tanpa pernah berdoa ke dada-dada langit

setengah dunia telah kudapati

kendati hal itu menjadikanku berada

aku lebih memilih misteri

ihwah kisah silam

aku telah hidup dari puing-puing cerita purba

namun memilih mati sebelum orang-orang berkata:

dia adalah legenda

semua itu aku lakukan

demi bereinkarnasi menjadi masa kini

menembus dosa-dosa yang disengaja

menuju abadi di kebun surga

Bekasi, 30 Agustus 2021


Ilham Nuryadi Akbar, lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau di Matamu Hujan di Mataku, puisi dan cerpennya telah banyak terangkum pada beberapa media.

Puisi

Puisi Dadang Ari Murtono

sehwalilanang

                sakit adalah hambaKu

                yang Kusertakan pada para kekasihKu

di atas buritan, ia kutip apa yang pernah ia ucapkan

pada sang putri, untuk dirinya sendiri, malam bulan gulita

negeri kafiri itu kian lamat, dan malaka masihlah jauh

ia ingin menoleh, seorang perempuan yang ia tinggali

benihnya – sembilan kali – berdiri mematung, menatapnya,

tapi ia tak menoleh

***

mungkin perempuan itu berkata, “jangan pergi,”

sebelum mengingatkannya tentang sebuah masa

ketika tuhan mengirimnya dari jeddah ke jawa,

ke pulau di mana surya siwabudha berkilau

dan ia terkenang sulbi subur itu, susu emas itu, lalu penyakit

yang sembuh oleh kata-kata, hanya kata-kata: bebaskan dirimu dari

bayang-bayang yang merusak, tak ada obat bagimu selain kekuatan

allah

“ingatlah nabi yang meninggalkan umatnya, ingatlah

allah mengasramakannya dalam perut seekor ikan,”

perempuan itu, bekas penyakitan itu, berkata

tapi ia bukan nabi

***

“ini hanya sulap,” ia dengar seseorang berkata,

mungkin sang prabu, mertuanya itu, atau sang patih

di atas meja jamuan, induk babi menguik dan ular sendok

melata, menyebarkan kentut dan memanjatkan syukur ke hadirat

allah yang mengembalikan mereka dari potongan daging sate

dan pepes

mungkin hanya perempuan itu, mempelainya, di ruang hajatan

yang mendengar ia berdoa, meminta tuhan mengirim peringatan

bagi kaum sesat yang merayakan pernikahannya

***

dalam tugur bulan gulita

ia cari apa yang keliru

siang harinya, sang prabu mempersembahkan

kinang sirih dan bunga kepada sebentangyoni perak

dan menyembah matahari terbit, meminta gunung

membuahi putri terkasihnya

“seperti firaun, prabu itu tak bakal tercerahkan”

dalam tugur yang sama

ia tak tahu apa yang membuatnya mesti pergi

: dakwah yang gagal, atau harga diri seorang lelaki

ia mengusap kainnya, lingganya masih berdiri

dengan ujung basah

***

“masuklah, seh,” nakhoda itu berkata

“angin malam tak baik bagi kesehatan”

ia memandang permukaan yang tenang

ia mengusap dadanya

ada sakit yang seperti tak bisa reda di sana,

bahkan oleh kata-kata yang pernah ia yakini


giri

angin tiba-tiba tak ada hari itu, hari di musim pancaroba yang ganas

ketika sebuah kapal menabrak seonggok peti yang terapung lalu terpaku

dan seorang bayi meringkuk di dalamnya, dan sang nakhoda memungutnya,

dan angin kembali berembus, tapi tidak ke bali ke mana semestinya kapal

itu menuju, melainkan kembali ke giri, ke mana kapal itu berasal, dan si janda

pemilik kapal, menjadi ibu tanpa getah susu

***

di blambangan, wabah belum berakhir

orang-orang kemasukan roh asing, dan tulang mereka membara

nyamuk berdengung sepanjang siang, mengirim balita dan lansia

ke negeri kematian

di keraton, nujum tentang seorang bayi yang akan

membakar kerajaan masih menggema

dan seorang raja mengingat tangis pertama cucu pertama

yang tak akan lagi pernah ia saksikan parasnya

telah ia tilasi cerita dari sebuah kitab

untuk memasukkan bayi itu dalam sebuah peti

dan melarungnya ke samudra luas

***

dua belas tahun kemudian, di ampel,

sang sunan menyimak laporan telik sandinya

“setiap pagi, tanah giri mendekat ke surabaya

dan setiap malam, tanah surabaya merapat ke giri

dan santri giri melompat, melompat kecil belaka,”

***

demi kitab-kitab, santri giri pada usia 16

pergi ke mekkah, dan kapal menyinggahkannya di malaka

di mana ia bertemu sehwalilanang

(dan paras mereka begitu mirip)

di mana ia mendapat wejang bahwa segala kejayaan

dan kekejian ada dalam alquran, dan apa yang ada dalam quran

ada dalam alfatihah, dan apa yang ada dalam fatihah ada

dalam bismillahirrahmanirrahim dan apa yang ada dalam basmalah

ada dalam ba dan apa yang ada dalam ba tersurat dalam

tanda titik di bawahnya

“putraku,” seh itu berkata, dan hatinya tergetar, seperti

ia dengar suara bapa yang tak pernah ia ketahui,

“sesungguhnya manusia tidur, dan terbangun ketika mati”

esok harinya, seh itu memberinya sebongkah tanah

dan menyuruhnya pulang ke jawa

***

sebongkah tanah pernah hilang dari giri

dan kini ia kembali bersama santri giri

dan tahun-tahun berlalu

dan sebuah pondok berdiri di giri

dan si santri telah menjadi sang sunan

dan kepadanya, orang-orang jawa, sunda, bugis

hingga ambon dan ternate, datang memohon ilmu

“beliau khalifatullah, dan giri memanglah negeri islamjawa”

***

di majapahit, brawijaya bermimpi tentang pulau-pulau

yang dijalin laut dan selat dan samudra, dan bukan dipisahkan

dan ia terbangun

darah akan mengalir

ia tahu

ia bakal kecewa

ia tak tahu

dan ia kirim sang mahapatih ke giri

tepat ketika sang sunan menyalin ayat dengan kuas

yang beberapa menit kemudian bertintakan darah

dari para penyerang yang kalah

dan begitulah kita, secara harafiah, mengerti bahwa

pena lebih tajam ketimbang pedang

***

segera sesudahnya, sang sunan membuka pintu

dan mendapati hari tak ada lagi

sulung dari sepuluh putranya

menyusul ke rahmatullah begitu diinjaknya

karpet khalifatullah

“gusti telah memilih cucu kanjeng sunan,

begitulah, begitulah”

***

sang cucu, kita menyebutnya sunan giri prapen,

kabur ke arah laut hari itu,

membiarkan orang-orang majapahit menodai

makam leluhur yang namanya ia ambil

sebelumnya, ia dengar amarah itu,

“ia bukan sunan yang mengusir kita dengan sebuah kuas

belaka, meski sebutannya mirip, mirip semata”

ketika nisan diangkat oleh sepasang juru kunci yang lumpuh

ribuan kumbang terbang menyerang, meluru dan memburu

serdadu majapahit, menciptakan tudung malam dan merenggut

matahari buda siwa dari negeri para penakluk itu selamanya

dan sepasang juru kunci itu, yang tiba-tiba sehat kedua kakinya,

sesaat sebelum menyusul sang junjungan ke arah laut, mendengar

seorang serdadu berteriak, “ia pernah mengalahkan kita dengan pena

dan kini dengan kumbang yang berasal dari huruf-huruf”

***

hari sedang senja ketika sunan muda itu tiba

dan menyaksikan puing serta abu

– hanya puing serta abu –

tapi ia tidak bahagia

ia tahu, dari lintang kebiruan yang jatuh di beringin barat halaman keputren

bahwa akan tiba masanya, tak lama lagi,

seseorang dari mataram bakal menaklukkannya

dan tak akan ada pena yang menyelamatkannya, juga huruf-huruf

“sebab pada waktu itu, seseorang yang lain

sedang menyiapkan mereka untuk menyusun sebuah kitab

agung, kitab berisi jalan kejayaan dan kekejian,

kesucian dan kecabulan

: suluk tambangraras”


perang

                bagaimana sembuh dari asmara, kecuali dengan perang?

“sanggama ini, dinda, begitu menyilaukan, begitu langka

dari batas ke batas, maut mendekapku, sebab kau hawa

dan aku tanah, maka di sinilah aku, dikurung lelah dan pahit

dan kita, hanyalah petugas dari peperangan dan birahi jawa”

lelaki itu menggumam, selasakliwon, setelah seorang ratu

dengan kuasa tak terperi kabur dari ranjangnya sebelum azan subuh,

hanya sedikit wangi melati tersisa di sprei kusut, juga nafsu yang perlahan susut

di keraton yang jauh, samar dalam hitamnya samudra padma merah,

sang ratu mengulang khaul, “tak bakal hilang keperawananku sebelum dunia

masuk ke kali yuga, dan bahwa telah kupilih raja islam paling rupawan, paling perkasa

sebagai kekasihku, juga turunannya, segenap penggantinya hingga akhir zaman”

***

siang harinya, lelaki itu, sultan para sultan, berdiri di atas permadani pasir hitam

menggelar tarung macan di alun-alun utara, di halaman selatan ia perintahkan

para punggawa memainkan adu biji kemiri dengan hukum sembelih bagi siapa

yang berlaku curang, sebuah masjid berdiri gagah di sisi barat, sekadar

berdiri dengan gagah, sebab ia lebih suka pergi ke mekah dengan pikirannya

setiap pekan menunaikan salat jumat

dengan kain putih biru, sorjan beludru hitam bermotif daun emas, serta kopiah

dan tongkat kayu pertanda kesalehan, ia titahkan adiknya, ratu pandhansari,

untuk mengirim serdadu ke giri

“sebab mereka begitu sombong, dan penguasanya merasa diri sebagai khalifatullah

tapi aku, sultan agung, tidak mengenal kalifah atau hubungan saudara, maka

sertai suamimu, pangeran pekik yang pengecut, untuk memerangi mereka”

***

menjelang subuh, pangeran dari surabaya itu tiba di giri

tepat ketika sunan prapen beserta santrinya mendaraskan ayat-ayat

alfalaq; katakanlah, aku berlindung kepada tuhan yang menguasai subuh

dari kejahatan makhluknya

hujan berat lebih dulu bertandang

dalam kilatan cahaya kilat, sang pangeran bergidig menyaksikan

bayangan bersimpuh di samping sang sunan

“namanya endrasena, china muda nan pilih tanding

putra angkat kanjeng sunan

dan ia tak gampang digertak”

***

“ini hanya persoalan duniawi, ayahanda,”

jayengresmi, putra mahkota giri itu, berkata

“dan kudengar segala keagungan, segala kemashyuran

ada dalam diri sultan dari mataram, maka sebelum setetes darah tumpah

kenapa kita tidak tunduk?”

sang sunan bergeming

udara dingin

dan sang putra mahkota tahu kemana ia mesti pergi

“endrasena,” sang sunan menurunkan titah

“sendika, ayahanda, kehendakmu jadilah”

maka begitulah dua ratus laskar dengan berteriak

yudhailahi dan pedang dengan gagang berukir asma allah

mengirim takut dan maut ke serdadu surabaya

“malam keburu tiba ayahanda, sebab kalau tidak,

sudah kami ringkus pangeran pekik, dan kami arak ke mataram

hingga perang ini berakhir dengan terhormat,” lapor endrasena

malam itu, di giri, zikir dan syair mengalun merdu

***

kala yang sama, bentang yang sama, merangkul duka

dan suka bersamaan, dalam dekapan pandhansari, pangeran

pekik menumpahkan airmata, juga sesal, juga malu, juga ketakutan

akan beban perang yang ia panggul

“bersabarlah pangeranku,” ratu itu berujar, “biar kubenahi

apa yang tidak bisa kau menangkan”

maka keesokan harinya, seusai sanggama terputus pukulan gong

ia nyalakan harga diri serdadu surabaya, dan dengan rambut berkibar

ia pimpin pasukan yang marah itu

di palagan, ia buntungi endrasena dengan bedilnya: mulanya tangan kanan

lalu tangan kiri, lalu kaki kiri, dan ambruklah sang naga china

sebelum tubuh lumpuhnya dihujani tombak, endrasena meraung

“ini jihad kecil belaka, ratu, dan kita belum pula menempuh gurun roh serta

jurang raga, kemenanganmu bukan penyingkapan ilahi

dan kematianku tak juga pengungkai dunia kegaiban, ini mula jihad besar belaka…”

tubuhnya luluh, seakan larut dalam sanggama agung dengan perempuan pertiwi


pengembaraan

1/ memasuki suluk, hilang dari pandangan suluk

di gunung itu, jayengresmi menyaksikan lidah api

dan ia mengerti tubuhnya membara

lalu suara; bersabar dan kuatlah putra wali

sebab segala kotoran perlu dibasuh

dan tak ada pembasuh yang lebih baik dari bara api

ia tak tahu kemana mesti menuju

ia tak tahu ia telah memasuki suluk

sendiri

sembari meratapi sepasang adik

yang tercebur ke jurang dalam

menghilang dari pandangan suluk

diiringi santri buras

2/ gathakgathuk dan ki purwa

dari sesuluran merambat bunyi

dan dua dugal keluar mengecup kaki jayengresmi

“nama kami gathak dan gathuk

dan seperti yang tersuratkan, kami hambamu belaka”

sekian hari kemudian, pada suatu magrib

mereka menyaksikan api dari gerbang yang mengurung langit

dan puing keraton, dan akar-akar gantung, dan kolam,

dan bunga-bunga

mereka mendengar tembang cangkang kerang

sewaktu bersuci dalam kolam, dan sebuah embusan muram,

setelah tiga rakaat, membimbing mereka ke candi bata susun tiga

di mana sebilah pedang menantang langit di pucuknya

seorang juru kunci menghidupkan tembang dan menyalakan kandil

lalu menyengkelah pisau dan mengepras kepala boneka yang lantas berdarah

“namaku ki purwa, penjaga apa yang tertinggal dari majapahit

dan kukorbankan boneka-boneka itu sebab budha benci persembahan manusia”

malam itu purnama raya, dan ki purwa bercerita tentang bajangratu,

seribu langkah dari situ, di mana sesiapa yang melihatnya bakal hilang

akal dan arah

“tapi aku mencari adikku, dan tak butuh hilang akal dan arah,”

jayengresmi berujar, sebelum memilih mata angin

3/ ratu mas trengganawulan

seusai gempa yang sementara

seorang perempuan yang tersakiti tembang dan sajak,

dengan telanjang dan rambut terurai

menyongsong jayengresmi

“tapamu, duafa luhur, melekatkanmu pada allah

sekaligus merapatkan bencana pada rakyatku”

ia, yang kemudian kita tahu berasma ratu mas trengganawulan,

berujar dengan bibir gemetar

dan ia ajar sang pangeran giri tentang tanda-tanda

kaok gagak, berkah kera keramat yang dianggap bijaksana

oleh kaum nabi dan wali, serta cerita tentang hutan bagor

“tak sanggup aku menerima kesempurnaan ajaran rasul,

sebab aku putri brawijaya, dan budha memberkahiku kuasa

mengatur hutan ini, juga sendang yang kunamai sugihwaras”

juga kalangwan, syair yang mampu menyelamatkan para hina,

mengangkat jiwa pendarasnya dan melarutkannya dalam samudra keindahan

“deminya jiwaku, namun bagiku, siwa menggantinya dengan kicau

burung selangit, dan segala syair kini hanya mengisi hatiku

dengan kesedihan”

menjelang pagi, semak-semak terlepas, ratu mas trengganawulan

tak lagi berbekas, dan ekor seekor kera menyentuh kaki gathakgathuk yang baru

bebas dari mimpi yang lekas

4/ ki wisma, ajisaka dan muhammad, dan penyihir yang tersihir

barangkali hanya dalam cerita ki wisma, ajisaka dan muhammadal mekkah

adalah dua muka keping tembaga, utara dan selatan, siang dan malam, laki-laki dan perempuan,

ying dan yang, senasib sehakikat, sepasang yang terikat

awalnya, seekor raja naga sekarat lantaran orang kehilangan iman kepadanya

dan seorang lelaki miskin, kikures, menghadiahinya semangkuk susu setiap hari

dan sang naga mengganjarnya setahi emas setiap kalinya,

hingga si putra orang papa yang durhaka,

suatu kali berlaku licik dan mati, dan istrinya yang bunting melahirkan anak tanpa bapa

tapi naga itu berkata, “ia putraku belaka, dan ia bernama aji, artinya penyihir, dan kelak

ia akan pergi ke barat, ke mekkah, untuk berguru pada lelaki rupawan bernama muhammad

dan ia bakal bersaudara dengan abu bakar, dengan umar, dengan usman, dengan ali,

hingga suatu kali, ketika wabah menyerang jazirah arab, malaikat yang agung menculiknya,

membawanya ke atas kealiman, ke aras ilahi, tersembunyi di saka guru masjid akbar

tepat ketika muhammad menunaikan salat

dan begitulah berakhirnya guru murid, berganti hubungan yang setara belaka

dan tuhan mengirim seorang bersebut setia untuk melayani muhammad

dan seorang berjuluk setuhu untuk mengabdi pada aji, ajisaka

dan akan tiba suatu masa ketika ajisaka beserta pengiringnya tiba

di medangkemulan, menaklukkan raja para pemangsa bernama dewatacengkar

dengan sehelai surban, sehelai saja, yang melingkupi 5/3 tanah jawa,

dan bertuliskan 20 aksara yang membentang tiada habisnya,

menampung segala ilmu, yang dihargai maupun yang tidak dihargai,

yang telah dan bakal ditemukan

dan setelahnya, seperti yang tertulis dalam kitab-kitab, akan ia kirim

setuhu untuk memungut keris yang tertinggal di mekkah, di mana muhammad

sang nabi telah memerintahkan setia menjaganya hanya untuk diambil kembarannya

belaka, dan begitulah dua abdi itu berkelahi, lalu sama kembali ke alam keabadian”

dan barangkali hanya dalam cerita nyi wisma, ajisaka yang linglung pangling pada

naga bapanya, dan membunuhnya dalam suatu perburuan, sebelum dilihatnya

seorang perempuan bernama rarasati, lalu jatuh birahinya, lalu keluar biji maninya,

dan keluar pula sari sang perempuan, yang keduanya segera ditelan seekor ayam katai

“ajisaka sang penyihir, tersihir oleh cinta, lalu dikutuk malu dan lingganya layu”

namun karena ki wisma adalah penganut budha yang taat, penjaga medangkemulan

yang hanya muncul sewaktu kaki bromo tersungkup kabut, dan ia memberi jayengresmi

beserta gathakgathuk nira serta ketela juga air wudu yang mengucur dari tebasan

 dahan jembul, maka kita mesti percaya apa yang diucapkannya

setidaknya, begitulah sang suluk bercerita

5/  seh siti jenar

seekor anjing buduk, sembari mengusap kerak koreng

dan membatalkan wudu pangeran giri, menggonggong tentang hakikat

yang tak bisa diselaraskan dengan syariat meski hakikat tak akan

memancar tanpa syariat, dan syariat mengalir dari hakikat,

juga tentang surga yang tak berisi kali susu dan madu, melainkan

perjalanan tanpa henti belaka, dan kebangkitan kembali yang tidak

berasal dari kubur dan ditandai tiupan sangkakala, juga cinta yang bukan

ikatan, melainkan kemabukan

ia pernah menjadi manusia sebagai abdul jalil, sebelum berbuat

dosa dan dikutuk menjadi cacing, lalu tersuruk ke dalam sebongkah tanah

penambal perahu, tepat ketika sunan bonang mewedar ilmu manusia semesta

kepada kalijaga, “jagad semesta adalah orang besar, dan manusia adalah jagad kecil”

tapi ia, sebab pernah menjadi cacing, adalah yang selalu dipinggirkan,

maka ia bangun pusat di pinggirnya, dan seorang aulia turunan brawijaya

menimba sekaligus menuang ilmu pada sumurnya, “ia berkata,” katanya, “bahwa kilat

yang terkurung di pintu gerbang, yang ditangkap ki ageng sela, adalah lingga siwa

dan kukatakan kepadanya bahwa petir-pelir itu adalah nur allah, cahaya di atas cahaya

untuk membimbing siapa-siapa yang ia maui”

namun walisanga, yang terusik kekondangannya, menangkapnya pada suatu hari,

dan mengganjarnya hukum penggal, dan dari leher yang koyak, mengalir darah putih belaka,

dan mereka meletakkan jasad itu di atas kafan yang memancarakan lima warna

setiap malam menjelang serta menguarkan seribu wewangian

begitu banyak keajaiban mesti dikaburkan, maka mereka letakkan bangkai

seekor anjing kudisan di atas kafan itu, dan keesokan harinya, mereka gantung bangkai itu

“kalijaga,” katanya, “yang suci itu, kau tahu, berkata padaku bahwa segala perkataanku

benar belaka, namun kata-kata kekasih yang terlalu masyuk mesti dibungkam,

dan beginilah aku, sebagai seekor anjing kurap”

petir menggelegar; meniru ki ageng sela, gathakgathuk mengucap gantri berkali-kali

dan jayengresmi melihat bagaimana anjing itu pudar, juga bayang samar masjid demak

hujan turun, namun tak mampu membasahinya

6/ ki karang

di bekas tapak kakinya, bunga-bunga tumbuh dan mekar

di kanan kiri jalan yang ia tempuh, pohon-pohon merundukkan buah segar

tapi ia tahu, dari cerita orang lama, bahwa ia tak boleh menjamahnya

“jalan masih jauh, puncak gunung salak masih jauh

dan pengganti putra yang hilang menunggu di sana, mungkin dalam jenuh”

dan di sanalah, di balik tirai sawit,

menunggu jayengresmi, dan kata-kata tak lagi bermakna

; guru menemukan muridnya, bapa menemukan anaknya

lalu sebuah perjalanan tak terceritakan

menuju karang yang mengapung di selat sunda, ia, yang karenanya disebut ki karang

mewedar hakikat perahu, nelayan, dan laut tak bertepi

; bukan yang terlalu banyak berhitung yang bakal sampai ke pantai,

melainkan yang mengenali dirinya sendiri, mengenali keluasan samudra ilahi

7/ kembali ke dalam suluk

dengan dua keping tembaga china dari si cantik rara suci

santri buras mengiringi jayengsari dan rancangkapti

keluar dari jerat jurang, kembali ke dalam semesta suluk

di mana mereka bertemu sepasang saudagar dari blambangan

yang tak berputra

“akan kau temukan kakang kalian, jayengresmi,” saudagar itu, kihartati

berujar, dan si nyai, menyingkap rahasia sanggama kepada rancangkapti

sebelum mati keesokan paginya, dan seratus hari kemudian, seperti semua

cerita cinta sejati, menyusul kihartati, meninggalkan sepasang anak yang belum

ia kenal betul perangainya, sepasang anak yang menyedekahkan segala warisan

dan kemudian, beserta buras dan dua keping tembaga china

kembali menyusuri suluk, yang entah kapan sampai

pada tembang terakhir


Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Buku terbarunya, Cara Kerja Ingatan, merupakan naskah unggulan sayembara novel Basabasi 2019. Ia juga mendapat Anugerah Sabda Budaya dari Universitas Brawijaya tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.